MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

2007

Yesaya: 7:10-14; Roma 1:1-7; Mat 1:18-24
“Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikan Tuhan kepadanya.”

Seperti Maria yang menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel, demikian juga Jusuf. Yusuf juga menerima kabar gembira tentang kelahiran Yesus Kristus. Kalau Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung Yesus sang Juruselamat dari Roh Kudus tanpa mengenal seorang suami, Yusuf menerima kabar dari Malaikat bahwa ia akan menjadi ayah dari sang Juruselamat tanpa menyentuh Maria yang menjadi ibu anak itu. Kalau kita perhatikan baik-baik, kita akan menyaksikan bahwa reaksi Yusuf dalam kisah Injil hari ini tidak banyak berbeda dengan reaksi Maria. Yusuf pasti bingung sekali mendengar kata-kata Malaikat itu: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” Meskipun bingung, Yusuf bangun dari tidurnya dan “berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya.”

Karena kesediaan Maria dan Yusuf menerima rencana kehendak Tuhan, maka terwujudlah janji Tuhan, lahirlah sang Juruselamat, Yesus Kristus, Immanuel, Tuhan beserta kita. “Menerima kehendak Tuhan” merupakan kata-kata kunci yang ikut menentukan kelahiran Yesus Kristus. Dengan menerima dan melaksanakan kehendak Tuhan, Maria dan Yusuf telah memberi kita contoh dan teladan dalam mempersiapkan dari bagi kedatangan Yesus Kristus, Juruselamat ke dalam hati kita masing-masing tidak hanya pada hari Natal, tetpai juga kedatangan Yesus dalam hidup kita sehari-hari.

Menerima dan melaksanakan kehendak Tuhan, bukan suatu perkara yang mudah. Memahami kehendak Tuhan saja sudah sulit setengah mati, apalagi kalau harus menerima dan melaksanakannya. Kalau kehendak Tuhan bahwa saudara atau saudari mendapat undian berhadiah entah sebuah mobil mewah atau uang ratusan juta rupiah, tidak ada yang berkeberatan. Hal itu sangat mudah dipahami apalagi diterima dan dilaksanakan. Semua orang pasti mau. Tetapi bagaimana kalau kehendak Tuhan itu terungkap dalam sesuatu yang tidak enak, bahkan yang sangat menyakitkan seperti derita karena penyakit atau kegagalan dalam mencari pekerjaan dlsb. Kalau dapat undian, orang tidak bertanya, kenapa Tuhan membiarkan saya menerima undian ini? Apa jasa saya? Tetapi kalau menghadapi suatu derita, orang pasti akan bertanya, “kenapa Tuhan membiarkan saya mengalami derita seperti ini? Apa dosa saya sehingga Tuhan membiarkan derita ini menimpa saya?” Dan mungkin masih ada pertanyaan yang lain. Orang bisa menggugat dan bahkan menghojat Tuhan, namun pasti Tuhan tidak akan kirim sms untuk menjawab semua pertanyaan itu. Jawabannya sudah jelas dan tanggapan kita pun sudah sangat jelas seperti diperlihatkan oleh Maria dan Yusuf. Mungkin derita yang harus ditanggung oleh Maria dan Yusuf tidak sebanding dengan derita yang kita tanggung saat ini. Namun baik Maria maupun Yusuf sedikitpun tidak mengeluh dan berontak kepada Tuhan. Kehendak Tuhan harus diterima dan dilaksanakan tanpa kompromi. Karena tidak seorangpun yang berkuasa untuk membatalkan kehendak Tuhan. Tuhan itu mahakuasa, tapi Tuhan pun mahabaik dan mahakasih.

Ada orang Katolik yang mogok ke gereja dan tidak mau berdoa lagi, karena doa-doanya tidak pernah dikabulkan. Mereka ngambek kepada Tuhan. Apakah dengan ngambek, lalu Tuhan bilang, “udahlah jangan ngambek. Nih, Aku kasih kamu apa yang kamu minta.” Jangan kita mencobai Tuhan, karena Tuhan adalah seorang pendidik ulung.  Tuhan tidak akan memanjakan umatNya. Tuhan menuntut kesetiaan iman umatNya. Yesus pernah bersabda: “Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 24:13). Juruselamat pasti akan datang untuk membawa selamat kepada orang yang setia menantinya. Mari kita menghayati semangat Adven ini juga dalam hidup kita sehari-hari. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan pasti akan datang segera. Amin.

Bacaan: Yes 11:1- 10; Rm 15: 4 - 9; Mat 3: 1 -12
“Persiapkan jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Dalam sebuah peristiwa kebakaran di Jakarta, ada seorang bapak ditemukan mati bersama barang-barang yang mau diselamatkan. Pada hal sebelumnya orang sudah berteriak memanggil bapak itu untuk segera keluar, karena api sudah makin membesar dan hanya dalam hitungan detik rumah itu akan dilalap habis oleh si jago merah. Saat begitu kritis ia masih memikirkan harta bendanya. Akibatnya tidak hanya harta bendanya, tapi nyawanya pun ikut melayang. 
Ilustrasi dari covesia.com
Pada hari Minggu kedua Adven kita ditempatkan pada saat dan situasi yang amat kritis. Kita berada dalam situasi seperti bapa yang diceritakan tadi. Pilih harta atau selamat. Bagi Yohanes Pembaptis situasinya sudah amat kritis. Karena itu Yohanes Pembaptis tidak main-main dalam memperingatkan bangsa Israel. Kapak sudah tersedia pada batang pohon. Kalau tidak menghasilkan buah pertobatan berarti binasa. Pisau sudah ditodongkan di batang leher kita. Mau bertobat atau mati. Tobat atau nyawa. Itu berarti tobat sudah tidak bisa ditunda lagi.

Yohanes Pembaptis tidak sekedar mengancam. Seruannya itu lahir dari sebuah hati yang penuh kasih, karena betapa Yohanes Pembaptis sangat mendambakan supaya kita pun menikmati Kerajaan Allah yang akan segera datang itu. Kerajaan Allah adalah Kerajaan kasih, sukacita dan damai sejahtera. Nah, kerajaan Allah dalam artinya yang demikian hanya bisa terwujud dalam hidup kita, dalam keluarga kita, kalau kita sungguh-sungguh bertobat atas dosa-dosa kita.

Kerajaan Allah akan terwujud dalam keluarga kita, kalau kita berusaha memperbaiki sikap dan perilaku kita terhadap satu sama lain. Boleh jadi selama ini kita begitu emosional entah terhadap suami, isteri atau anak-anak. Sehingga dalam keluarga kita sering terjadi keributan yang menyebabkan Kerajaan Allah tidak bisa hadir dalam keluarga kita. Nah, sekarang waktunya untuk bertobat, berusaha mengendalikan emosi supaya terhindar keributan dan pertengkaran. Maka kerajaan Allah akan terwujud dalam keluarga kita. Akan tercipta suasana penuh damai seperti dilukiskan oleh nabi Yesaya hari ini. Serigala tinggal bersama domba. Macan tutul tidur bersama kambing. Anak bisa bermain dengan ular biludak dlsb.

Dalam Lingkungan dan Paroki Kerajaan Allah itu akan hadir di tengah kita, kalau ada paritisipasi aktif setiap kita. Di lingkungan pasti akan tercipta suasana yang dinamis, penuh ketawa dan optimisme kalau ada kebersamaan, ada partisipasi aktif semua warga Lingkungan. Begitu juga di Paroki kita, pasti akan tercipta suasana yang menggembirakan kalau umat ikut berpartisipasi aktif misalnya dalam koor, tatib dan tugas-tugas liturgi yang lain. Partisipasi itu hanya mungkin terjadi kalau kita mau bertobat, meninggalkan kepentingan ego kita dan tidak membiarkan diri terus dicengkeram ego kita, tanpa mau berkorban dan mengorbankan sedikit waktu untuk kepentingan bersama.

Pada tingkat masyarakat dan nasional akan terwujud kesejahteraan dan kedamaian kalau kita sebagai orang Katolik, murid Kristus terus-menerus bertobat, membaharui sikap dan perilaku kita, menegakkan kejujuran dan keadilan, disiplin dan tanggungjawab. Kalau demikian kita sudah memberikan kontribusi bagi hadirnya Kerajaan Allah di tengah masyarakat dan bangsa kita. Mari kita tanggapi seruan Yohanes Pembaptis: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan. Luruskanlah jalan bagi-Nya”. Amin. **P. Alex Dato'L, SVD

Bacaan: Yes2:1- 5; Rm 13:11- 14a; Mat 24:37 - 44
“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.”

Kita memasuki masa Adven, masa penantian kedatangan Yesus. Adven biasanya dimaknai dan dihayati sebagai masa untuk menantikan kelahiran Yesus atau kedatangan Yesus di hari raya Natal. Penghayatan makna Adven seperti itu memang benar. Namun perlu diingat juga bahwa Yesus sebetulnya datang setiap saat dalam hidup kita. Dan kalau Yesus datang pasti membawa berkat dan keajaiban. Keajaiban itu tidak harus terjadi dalam hal-hal yang luar biasa atau spektakuler, tetapi bisa juga dalam hal-hal yang biasa, namun bisa dialami secara luar biasa. Ada sebuah kisah tentang Maria Ratna yang mungkin bisa membantu kita untuk lebih memahaminya.
Maria Ratna (65 tahun), ibu dari 6 anak dan nenek dari 13 cucu, tinggal sendiri sejak suaminya meninggal. Rumahnya berukuran 2,5 x 2,5 m di daerah Pendongkelan, Jakarta, yang disewanya dengan harga Rp. 125.000 / bulan. Ruangannya sangat sederhana, ada kasur lusuh dengan beberapa bantal dan guling. Di atas meja pendek dekat kasur, ada Kitab Suci yang katanya ia baca setiap malam. “Saya sering merasa bahagia tak berhingga belakangan ini. Saya sangat bersyukur karena keadaan saya sekarang ini jauh lebih baik dari waktu-waktu yang lalu. Saya merasa mukjizat datang setiap hari dalam hidup saya. Mukjizat itu ialah kesehatan, kedamaian hati, dan menerima dengan ikhlas apa yang harus  saya jalani saat ini. Memang hanya itu yang saya minta dari Tuhan”, katanya. Maria menyambung hidupnya sehari-hari dengan mengemis di perempatan Coca-cola, Jakarta Pusat. (“Ketika Natal Tiba”, Kompas, 26 Des 2004).
Maria Ratna mengalami mukjizat dari Tuhan bukan dalam hal yang luar biasa, tetapi dalam hal-hal keseharian yang biasa. Kesehatan, kedamaian, menerima kenyataan, itu hal-hal yang amat biasa. Namun dalam terang iman ia mengalaminya secara luar biasa. Dalam terang iman ia melihatnya sebagai mukjizat dari Tuhan. Kenyataan iman itu punya makna, ibu Maria Ratna setiap hari mengalami kedatangan Tuhan dalam gubuknya yang sederhana, membawa berkat dan melakukan mukjizat. Pengalaman keajiban Tuhan itu hanya bisa terjadi, karena ibu Maria Ratna selalu berjaga-jaga, senantiasa menanti kedatangan Tuhan dalam keseharian hidupnya. Sikap berjaga-jaga itu terutama ia lakukan dengan meluangkan waktu membaca Kitab Suci setiap malam. Dengan membaca Kitab Suci setiap malam, ia mempertajam kepekaan imannya. Sehingga ia semakin peka terhadap kedatangan dan karya kasih Tuhan dalam hidupnya sehari-hari.

Menanti berarti berjaga-jaga. Kalau kita menanti kedatangan Yesus, kita harus berjaga-jaga. Yesus datang pada waktu yang tidak dapat diduga seorang pun. Yesus juga datang dalam wujud yang tidak dapat dipahami. Karena itu hal yang sangat dibutuhkan adalah kepekaan iman. Kepekaan iman akan kedatangan Yesus dalam hidup kita sehari-hari harus dibina atau ditempa secara terus-menerus. Caranya pun bisa bermacam-macam. Kita bisa melakukannya dengan meluangkan waktu setiap hari untuk berdoa, membaca dan merenungkan sabda-Nya, mengikuti kegiatan di lingkungan. Sehingga mata iman kita semakin sensitif terhadap kehadiran dan karya Tuhan dalam keseharian hidup kita, namun kita bisa mengalami dan menghayatinya secara luar biasa dengan penuh sukacita. Hari baru dan matahari yang terbit setiap hari, meskipun sangat biasa, namun dalam terang iman dapat kita terima dengan penuh sukacita sebagai satu mukjizat dari Tuhan. Begitu juga dengan kesehatan, kedamaian batin dan pengalaman lainnya dapat kita terima dan hayati secara luar biasa.

Kepekaan iman dapat dibina dan ditempa lewat perbuatan amal kasih, karena Yesus datang dalam wujud sesama yang membutuhkan kepedulian kasih kita. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Mat 25:40. Perbuatan amal kasih kita lakukan dengan suatu kesadaran iman bahwa sesungguhnya perbuatan itu kita lakukan untuk Yesus sendiri. Kalau demikian, kita sebetulnya sudah menyambut kedatangan Yesus dalam hidup kita. Kalau kita memberi dengan penuh rasa syukur dan sukacita, kita juga pasti akan mengalami berkat dan keajaiban kasih-Nya dalam hidup kita.

Hal terpenting dalam masa penantian atau Adven adalah menanti kedatangan Yesus dalam hidup sehari-hari. Kalau setiap hari kita menanti kedatangan Yesus, kita juga siap untuk menyambut kedatangan Yesus di hari raya Natal dan kedatangan-Nya kedua di hari akhirat. Semoga di hari Natal ketika Yesus datang mengunjungi hati setiap kita, Ia menemukan pintu hati yang terbuka siap menyambut kedatangan-Nya. Semoga kita tidak menolaknya seperti bangsa Israel di Betlehem yang menutup pintu rumahnya bagi Maria dan Yosef. Semoga Yesus lahir di hati kita masing-masing. Selamat menantikan kedatangan dan kelahiran Yesus! ** P. Alex Dato'L, SVD.

Narkoba atau NAPZA adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan / psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi. Yang termasuk dalam NAPZA adalah: Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya.


NARKOTIKA :
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.
Narkotika terdiri dari 3 golongan :

1. Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Heroin, Kokain, Ganja.
2. Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
3. Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Codein.

PSIKOTROPIKA :
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah : zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku.

Psikotropika terdiri dari 4 golongan :
1. Golongan I : Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Ekstasi.
2. Golongan II : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalan terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Amphetamine.
3. Golongan III : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Phenobarbital.
4. Golongan IV : Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh : Diazepam, Nitrazepam ( BK, DUM ).

ZAT ADIKTIF LAINNYA :
Yang termasuk Zat Adiktif lainnya adalah : bahan / zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi :
1. Minuman Alkohol : mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari - hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan memperkuat pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman beralkohol :

a. Golongan A : kadar etanol 1 – 5 % ( Bir ).
b. Golongan B : kadar etanol 5 – 20 % ( Berbagai minuman anggur )
c. Golongan C : kadar etanol 20 – 45 % ( Whisky, Vodca, Manson House, Johny Walker ).

2. Inhalasi ( gas yang dihirup ) dan solven ( zat pelarut ) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah : Lem, Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin.
3. Tembakau : pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.
Dalam upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang berbahaya.

Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi 3 golongan :

1. Golongan Depresan ( Downer ).
Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi : tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri. Contohnya : Opioda ( Morfin, Heroin, Codein ), sedative ( penenang ), Hipnotik ( obat tidur ) dan Tranquilizer (anti cemas ).
2. Golongan Stimulan ( Upper ).
Adalah jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh : Amphetamine ( Shabu, Ekstasi ), Kokain.
3. Golongan Halusinogen.
Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu. Contoh : Kanabis ( ganja ).

II. PENYALAHGUNAAN NAPZA :

Di dalam masyarakat NAPZA / NARKOBA yang sering disalahgunakan adalah :
1. Opiada, terdapat 3 golonagan besar ;

a. Opioda alamiah ( Opiat ) : Morfin, Opium, Codein.
b. Opioda semisintetik : Heroin / putauw, Hidromorfin.
c. Opioda sintetik : Metadon.

Nama jalanan dari Putauw : ptw, black heroin, brown sugar.
Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan yang tidak murni berwarna putih keabuan.
Dihasilkan dari getah Opium poppy diolah menjadi morfin dengan proses tertentu dihasilkan putauw, yang kekuatannya 10 kali melebihi morfin.Sedangkan opioda sintetik mempunyai kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. Morfin, Codein, Methadon adalah zat yang digunakan oleh dokter sebagai penghilang sakit yang sangat kuat, misalnya pada opreasi, penderita cancer.
Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian menimbulkan perasaan ingin menyendiri untuk menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri hingga tak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Pemakai akan membentuk dunianya sendiri, mereka merasa bahwa lingkungannya menjadi musuh.
2. KOKAIN :
Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih mudah larut
Nama jalanan : koka, coke, happy dust, chalie, srepet, snow / salju.
Cara pemakainnya : membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus diatas permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama dengan tembakau. Penggunaan dengan cara dihirup akan beresiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung bagian dalam.
Efek pemakain kokain : pemakai akan merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya diri, dan dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
3. KANABIS :
Nama jalanan : cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, grass, bhang.
Berasal dari tanaman kanabis sativa atau kanabis indica.
Cara penggunaan : dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok atau dengan menggunakan pipa rokok.
Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai cenderung merasa lebih santai, rasa gembira berlebihan ( euphoria ), sering berfantasi / menghayal, aktif berkomunikasi, selera makan tinggi, sensitive, kering pada mulut dan tenggorokan.
4. AMPHETAMINE :
Nama jalanan : seed, meth, crystal, whiz.
Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan dan juga tablet.
Cara penggunaan : dengan cara dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air.
Ada 2 jenis Amphetamine :

a. MDMA ( methylene dioxy methamphetamine )
Nama jalanan : Inex, xtc.
Dikemas dalam bentuk tablet dan capsul.
b. Metamphetamine ice
Nama jalanan : SHABU, SS, ice.
Cara pengunaan dibakar dengan mengunakan alumunium foil dan asapnya dihisap atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus ( boong ).

5. LSD ( Lysergic Acid ).
Termasuk dalam golongan halusinogen.
Nama jalanan : acid, trips, tabs, kertas.
Bentuk : biasa didapatkan dalam bentuk kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar. Ada juga yang berbentuk pil dan kapsul.
Cara penggunaan : meletakan LSD pada permukaan lidah, dan bereaksi setelah 30 - 60 menit kemudian, menghilang setelah 8 – 12 jam.
Efek rasa : terjadi halusinasi tempat, warna, dan waktu sehingga timbul obsesi yang sangat indah dan bahkan menyeramkan dan lama – lama menjadikan penggunaanya paranoid.
6. SEDATIF – HIPNOTIK ( BENZODIAZEPIN ) :
Termasuk golongan zat sedative ( obat penenang ) dan hipnotika ( obat tidur ).
Nama jalanan : Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp.
Cara pemakaian : dengan diminum, disuntikan, atau dimasukan lewat anus.
Digunakan di bidang medis untuk pengobatan pada pasien yang mengalami kecemasan, kejang, stress, serta sebagai obat tidur.
7. SOLVENT / INHALASI :
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup. Contohnya : Aerosol, Lem, Isi korek api gas, Tiner, Cairan untuk dry cleaning, Uap bensin.
Biasanya digunakan dengan cara coba – coba oleh anak di bawah umur, pada golongan yang kurang mampu.
Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala berputar, halusinasi ringan, mual, muntah gangguan fungsi paru, jantung dan hati.
8. ALKOHOL :
Merupakan zat psikoaktif yang sering digunakan manusia
Diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi – umbian yang mengahasilkan kadar alkohol tidak lebih dari 15 %, setelah itu dilakukan proses penyulingan sehingga dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi, bahkan 100 %.
Nama jalanan : booze, drink.
Efek yang ditimbulkan : euphoria, bahkan penurunan kesadaran.

PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN :
Penyalahguanaan adalah : penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial.
Ketergatungan adalah : keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah ( toleransi ), apabila pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus obat ( withdrawal symptom ).

PENYEBAB PENYALAHGUNAAN NAPZA :
Penyebabnya sangatlah kompleks akibat interaksi berbagai faktor :
1. Faktor individual :
Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat.
Ciri - ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan NAPZA :

a. Cenderung memberontak
b. Memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.
c. Perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada
d. Kurang percaya diri
e. Mudah kecewa, agresif dan destruktif
f. Murung, pemalu, pendiam
g. Merasa bosan dan jenuh
h. Keinginan untuk bersenang – senang yang berlebihan
i. Keinginan untuk mencaoba yang sedang mode
j. Identitas diri kabur
k. Kemampuan komunikasi yang rendah
l. Putus sekolah
m. Kurang menghayati iman dan kepercayaan.

2. Faktor Lingkungan :
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat.
Lingkungan Keluarga :

a. Komunikasi orang tua dan anak kurang baik
b. Hubungan kurang harmonis
c. Orang tua yang bercerai, kawin lagi
d. Orang tua terlampau sibuk, acuh
e. Orang tua otoriter
f. Kurangnya orang yang menjadi teladan dalam hidupnya
g. Kurangnya kehidupan beragama.

Lingkungan Sekolah :

a. Sekolah yang kurang disiplin
b. Sekolah terletak dekat tempat hiburan
c. Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif
d. Adanya murid pengguna NAPZA.

Lingkungan Teman Sebaya :

a. Berteman dengan penyalahguna
b. Tekanan atau ancaman dari teman.

Lingkungan Masyrakat / Sosial :

a. Lemahnya penegak hukum
b. Situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.

Faktor – faktor tersebut diatas memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi penyalahguna NAPZA. Akan tetapi makin banyak faktor – faktor diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna NAPZA.

GEJALA KLINIS PENYALAHGUNAAN NAPZA :
1. Perubahan Fisik :

- Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo ( cadel ), apatis ( acuh tak acuh ), mengantuk, agresif.
- Bila terjadi kelebihan dosis ( Overdosis ) : nafas sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin, bahkan meninggal.
- Saat sedang ketagihan ( Sakau ) : mata merah, hidung berair, menguap terus, diare, rasa sakit seluruh tubuh, malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
- Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak perduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi keropos, bekas suntikan pada lengan.

2. Perubahan sikap dan perilaku :

- Prestasi di sekolah menurun, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab.
- Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk di kelas atau tempat kerja.
- Sering berpergian sampai larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin.
- Sering mengurung diri, berlama – lama di kamar mandi, menghidar bertemu dengan anggota keluarga yang lain.
- Sering mendapat telpon dan didatangi orang yang tidak dikenal oleh anggota keluarga yang lain.
- Sering berbohong, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau keluarga, mencuri, terlibat kekerasan dan sering berurusan dengan polisi.
- Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan, pencurigaan, tertutup dan penuh rahasia.

III. PENGARUH PENYALAHGUNAAN NAPZA :

NAPZA berpengaruh pada tubuh manusia dan lingkungannya :
1. Komplikasi Medik : biasanya digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama. Pengaruhnya pada :
a. Otak dan susunan saraf pusat :

- gangguan daya ingat
- gangguan perhatian / konsentrasi
- gangguan bertindak rasional
- gagguan perserpsi sehingga menimbulkan halusinasi
- gangguan motivasi, sehingga malas sekolah atau bekerja
- gangguan pengendalian diri, sehingga sulit membedakan baik / buruk.

b. Pada saluran napas : dapat terjadi radang paru ( Bronchopnemonia ). pembengkakan paru ( Oedema Paru )
c. Jantung : peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung.
d. Hati : terjadi Hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan seksual.
e. Penyakit Menular Seksual ( PMS ) dan HIV / AIDS.

Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan seksual demi mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit Menular Seksual yang terjadi adalah : kencing nanah ( GO ), raja singa ( Siphilis ) dll. Dan juga pengguna NAPZA yang mengunakan jarum suntik secara bersama - sama membuat angka penularan HIV / AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV / AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain melalui tranfusi darah dan penularan dari ibu ke janin.
f. Sistem Reproduksi : sering terjadi kemandulan.
g. Kulit : terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik, sehingga mereka sering menggunakan baju lengan panjang.
h. Komplikasi pada kehamilan :

- Ibu : anemia, infeksi vagina, hepatitis, AIDS.
- Kandungan : abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati
- Janin : pertumbuhan terhambat, premature, berat bayi rendah.

2. Dampak Sosial :
a. Di Lingkungan Keluarga :

- Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu, sering terjadi pertengkaran, mudah tersinggung.
- Orang tua resah karena barang berharga sering hilang.
- Perilaku menyimpang / asosial anak ( berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas ) dan menjadi aib keluarga.
- Putus sekolah atau menganggur, karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan.
- Orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi.

b. Di Lingkungan Sekolah :

- Merusak disiplin dan motivasi belajar.
- Meningkatnya tindak kenakalan, membolos, tawuran pelajar.
- Mempengaruhi peningkatan penyalahguanaan diantara sesama teman sebaya.

c. Di Lingkungan Masyarakat :

- Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna / mangsanya.
- Pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi ketergantungan.
- Meningkatnya kejahatan di masyarakat : perampokan, pencurian, pembunuhan sehingga masyarkat menjadi resah.
- Meningkatnya kecelakaan.

IV. UPAYA PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NAPZA :

Upaya pencegahan meliputi 3 hal :

1. Pencegahan primer : mengenali remaja resiko tinggi penyalahgunaan NAPZA dan melakukan intervensi.
Upaya ini terutama dilakukan untuk mengenali remaja yang mempunyai resiko tinggi untuk menyalahgunakan NAPZA, setelah itu melakukan intervensi terhadap mereka agar tidak menggunakan NAPZA.
Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik.
2. Pencegahan Sekunder : mengobati dan intervensi agar tidak lagi menggunakan NAPZA.
3. Pencegahan Tersier : merehabilitasi penyalahgunaan NAPZA.

Yang dapat dilakukan di lingkungan keluarga untuk mencegah penyalahgunaan NAPZA :
1. Mengasuh anak dengan baik.

- penuh kasih sayang
- penanaman disiplin yang baik
- ajarkan membedakan yang baik dan buruk
- mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggung jawab
- mengembangkan harga diri anak, menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu.

2. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat
Hal ini membuat anak rindu untuk pulang ke rumah.
3. Meluangkan waktu untuk kebersamaan.
4. Orang tua menjadi contoh yang baik.
Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak.
5. Kembangkan komunikasi yang baik
Komunikasi dua arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak.
6. Memperkuat kehidupan beragama.
Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari - hari.
7. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat berdiskusi dengan anak

Yang dilakukan di lingkungan sekolah untuk pencegahan penyalahgunaan NAPZA :
1. Upaya terhadap siswa :

- Memberikan pendidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat penyalahgunaan NAPZA.
- Melibatkan siswa dalam perencanaan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di sekolah.
- Membentuk citra diri yang positif dan mengembangkan ketrampilan yang positif untuk tetap menghidari dari pemakaian NAPZA dan merokok.
- Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa ( ekstrakurikuler ).
- Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling.
- Membantu siswa yang telah menyalahgunakan NAPZA untuk bisa menghentikannya.
- Penerapan kehidupan beragama dalam kegiatan sehari – hari.

2. Upaya untuk mencegah peredaran NAPZA di sekolah :

- Razia dengan cara sidak
- Melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan sekolah
- Melarang siswa ke luar sekolah pada jam pelajaran tanpa ijin guru
- Membina kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
- Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang sekolah.

3. Upaya untuk membina lingkungan sekolah :

- Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina huibungan yang harmonis antara pendidik dan anak didik.
- Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah
- Sikap keteladanan guru amat penting
- Meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah.

Yang dilakukan di lingkungan masyarakat untuk mencegah penyalahguanaan NAPZA :

1. Menumbuhkan perasaan kebersamaan di daerah tempat tinggal, sehingga masalah yang terjadi di lingkungan dapat diselesaikan secara bersama- sama.
2. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyalahguanaan NAPZA sehingga masyarakat dapat menyadarinya.
3. Memberikan penyuluhan tentang hukum yang berkaitan dengan NAPZA.
4. Melibatkan semua unsur dalam masyarakat dalam melaksanakan pencegahan dan penanggulangan penyalahguanaan NAPZA.

V. KESIMPULAN

Masalah penyalahguanaan NARKOBA / NAPZA khususnya pada remaja adalah ancaman yang sangat mencemaskan bagi keluarga khususnya dan suatu bangsa pada umumnya. Pengaruh NAPZA sangatlah buruk, baik dari segi kesehatan pribadinya, maupun dampak sosial yang ditimbulkannya.
Masalah pencegahan penyalahgunaan NAPZA bukanlah menjadi tugas dari sekelompok orang saja, melainkan menjadi tugas kita bersama. Upaya pencegahan penyalahgunaan NAPZA yang dilakukan sejak dini sangatlah baik, tentunya dengan pengetahuan yang cukup tentang penanggulangan tersebut.
Peran orang tua dalam keluarga dan juga peran pendidik di sekolah sangatlah besar bagi pencegahan penaggulangan terhadap NAPZA.

Oleh : dr Theodorus Sapta Atmadja
PERDHAKI Wilayah Kalimantan Tengah.

Saat duduk santai sesudah doa bersama di sebuah lingkungan, seorang ibu yang duduk di dekatku mengungkapkan pernyataan ‘berkabut’ yang sempat membuatku terkejut. “Sulit menemukan seorang Pastor di keuskupan kita ini. Imam sich banyak.”. Aku yang lagi tercenung menimpali secara sekedarnya, “Oh, ya?”.

Sepulang dari doa lingkungan, aku termenung di dalam kamar. Kata-kata ibu tadi terngiang-ngiang di benak. Menggugah aku? Entahlah. Tetapi yang pasti, aku menjadi tertarik. “Tentu ada sesuatu di baliknya,” aku membathin. Apa maksud sebenarnya dari pernyataan itu? Bukankah menyebut Pastor atau Imam berarti kita dengan sendirinya menunjuk pada orang yang sama yang ditahbiskan oleh Bapa Uskup untuk tugas imamat Tuhan kita Yesus Kristus? Mengapa ibu itu membedakannya? Bahkan kesannya, cenderung menonjolkan sapaan yang satu dan meminggirkan sapaan yang lain.

Dalam keheningan kamarku, tanpa sengaja aku meraih Alkitab dan membolak-balik lembar demi lembar untuk mencari rujukan pengertian kedua kata itu. Kata “Pastor” menurut guru bahasa Latinku di Seminari Menengah dulu berarti gembala. Sementara kata “Imam” sendiri sudah begitu jelas tertera di dalam Alkitab. Gambaran yang kuperoleh adalah sebagai berikut.

Gembala memiliki kisah yang cukup manis dalam Alkitab. Hal ini tidak heran karena sejarah nenek-moyang bangsa Israel sangat dikenal sebagai kisah para gembala. Kita bisa lihat bagaimana Abraham, Ishak, dan Yakub hidup. Begitu juga dengan Daud dalam petualangan masa mudanya sebelum menjadi raja Israel. Yesus dalam Injil Yohanes pun (Yoh 10:1-12) memberikan gambaran yang akurat dan lengkap mengenai kehidupan seorang gembala.

Gembala adalah orang yang hidup dekat dengan ternak. Ia adalah seorang pemelihara dan penjaga kambing domba. Ia mencurahkan seluruh diri dan hidup untuk mereka. Melindungi mereka dari serangan binatang buas. Membimbing mereka menuju sumber air ketika haus dan menuntun menuju hijaunya padang rumput waktu mereka lapar. Dengan demikian, seorang gembala adalah orang yang tidak pernah takut dan gentar terhadap resiko apapun atas jalan yang telah dipilih untuk ternaknya. Sekalipun hujan guntur angin badai membayangi dan menghadang perjalanannya, ia tidak akan pernah meninggalkan ternaknya. Ia melakukan semuanya itu sedemikian rupa, bukan hanya karena ia mengenal dan memahami mereka menurut namanya masing-masing, tetapi karena ia sungguh mencintai mereka. Di mata seorang gembala, prinsip kehidupannya adalah kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan ternaknya. Lantas, keselamatan kawanan gembalaan adalah di atas segalanya dalam hidupnya.

Sementara itu, imam merujuk pada kelompok atau orang yang dikhususkan untuk mempersembahkan persembahan kepada Allah. Dalam tradisi Yahudi, imam adalah pengantara umat dengan Allah di dalam ibadah di Bait Allah. Maksudnya, kurban persembahan umat disampaikan kepada Allah melalui imam. Perannya dalam kehidupan spiritualitas umat menjadi begitu penting karena imam mewakili umat untuk masuk ke ruang Maha Kudus. Di sana, imam tidak saja mempersembahkan kurban tetapi serentak juga berdoa memohon pengampunan dari Allah atas dosa dan kesalahan umat. Dalam tradisi Nasrani, peran ini tetap wariskan pada kelompok yang sama namun dijiwai oleh hidup Yesus Kristus, sang Imam Agung abadi. Menurut surat Ibrani, Kristus adalah Imam Agung abadi karena ketuntasan hidupNya. Ia tidak hanya bertindak sebagai pengantara umat kepada Allah yang disebutNya sebagai Bapa, melainkan juga menjadikan diriNya sebagai kurban penebus dosa di altar (Ibr. 4:14-5:10, 7:1-10:18). Inilah yang membuat kurban persembahanNya lebih mulia, tidak bercacat serta mendatangkan pengampunan dosa dan keselamatan kekal untuk semua umat manusia. Oleh karena itu, imam dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus (Pastores Dabo Vobis, art. 12, bdk juga, Presbyterorum Ordinis art. 2).

Saya mungkin dapat memahami maksud dari pernyataan ibu tadi kalau dirunut dari konteks ini. Kata Pastor (gembala) lebih mengena pada kepedulian dan keterlibatan sosial untuk hidup umat (kawanan gembalaan). Sejauh mana kehadirannya menjawab kebutuhan dan masalah umat. Ini mengatakan soal aksi, tindakan praktis dalam pelayanan pastoral. Sedangkan kata Imam lebih menyentuh pada ibadah dan persembahan dalam kurban altar. Sejauh mana kehadirannya membawa hidup umat di hadapan Allah. Ini mengatakan soal kontemplasi, penghayatan ke-pengantara-annya dalam doa. Namun, sesunggunya kedua kata ini menegaskan satu hal yang sama. Sejauh mana keutuhan hidup Kristus sebagai Gembala dan Imam Agung yang diikutinya diwujudkan dalam hidup, diaktualkan dalam kata serentak perbuatan. Bukankah Yesus sendiri sudah mengingatkan kita bersama bahwa seringkali khotbah di mimbar lebih mudah daripada kesaksian hidup di tengah masyarakat dalam kisahNya tentang “Orang Samaria yang Baik Hati”. Sebab ketika terjadi ketimpangan dalam kenyataan “Surat Gembala” akan dibalik dengan “Surat Domba”. Bisa jadi “Litani serba salah sang Pastor” merupakan dalih yang aman untuk berlindung. Ataukah semangat inkarnasi Kristus telah menjadi “padang bayang kelabu” dalam menghayati RELASI kita satu sama lain? **Ehe Atatukan._

Dulu, ada pepatah mengatakan bahwa “banyak anak, banyak rezeki”. Istilah ini sudah lama sekali ada di Indonesia. Dalam perjalanan waktu, orang mulai merasa kekurangan lahan pekerjaan, lokasi tempat tinggal dan kebutuhan lain. Menurut para ahli, salah satu penyebabnya adalah perkembangan penduduk yang semakin tahun semakin meningkat mencapai angka tertinggi.

Berdasarkan pendapat ini pulalah dulu program KB dicanangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat. Karena pada dasarnya KB bertujuan baik, banyak orang mendukung dan menggemari untuk melaksanakannya. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, mulai ditantang oleh beberapa pihak dan tidak setuju dengan program KB. Misalnya Gereja Katolik. Alasannya adalah karena nampak-nampaknya KB bertujuan untuk mematikan sel telur dalam rahim seorang wanita dengan berbagai cara. Bahkan zigot (sel telur yang sudah dibuahi oleh sel sperma pun dimatikan). Tindakan-tindakan itu akhirnya bertentangan dengan pandangan moral Katolik sehingga program KB seperti itu tidak disetujui dalam Gereja Katolik.

Kesulitan ini menimbulkan banyak reaksi dan tentunya untuk mencari jalan keluar dari pro dan kontra terhadap program KB tersebut. Pada tahun 1978 KWI mengambil inisiatif dan mengirim satu delegasi yang terdiri dari staf medis dan seorang moralis ke Australia. Tujuannya adalah untuk mempelajari MOB (Metode Ovulasi Billings) salah satu bagian dari KB alamiah. Berdasarkan laporan dan hasil penelitian berbagai pihak tentan MOB ini, akhirnya pada tahun 1990 diakui berlaku untuk Indonesia dengan SK.BKKBN No.6668/K.S.002/E2/90.

Apa sebenarnya MOB itu? MOB adalah salah satu metode KBA yang dikembangkan oleh Dr. John J. Billings dan istrinya Dr. Evelyn L. Billings. Metode ini dapat membantu perermpuan mengenal secara tepat hari-hari suburnya, khususnya hari ovulasi yakni lepasnya sel telur dari ovarium dan masuknya ke dalam saluran telur untuk dibuahi oleh sel sperma. Dengan mengetahui hari-hari subur ini, kehamilan dapat dikendalikan asal suami istri sanggup berpantang dan tidak melakukan hubungan suami-istri.

Berdasarkan penelitian para ahli dan hasil esperimen yang telah diperoleh, masa subur seorang wanita berkisar satu minggu lamanya. Penjelasan lebih lanjut tentang MOB ini dapat dilihat melalui gambar berikut ini.


Oleh Toto SupartoJika seseorang, yang suka mengganggu dan mengesalkan masyarakat yang cinta damai, akhirnya menerima cambukan secukupnya, hal ini menyakitkan tetapi tiap orang menyetujui dan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dalam dirinya, meski selanjutnya tak sesuatu pun dihasilkan darinya."

Begitu pandangan klasik filsuf Imanuel Kant yang belakangan ini sering diungkit lagi saat hukum tak lagi mengikuti asas kesetimpalan.Acapkali hukum melahirkan ironi. Meminjam istilah John Evan Seery saat menulis Political Return, ironi merupakan kecenderungan yang dicirikan dengan berbagai cakupan sifat: kontradiktif, inkonsistensi, anomali, janggal, abnormalitas, berlebihan, dan ada di luar garis. Hukum kita penuh kejanggalan.

Kejanggalan itu bisa dilihat pada kasus Tommy Soeharto. Ia ditahan sejak 29 November 2001 di Rutan Polda Metro Jaya setelah menjadi buron selama satu tahun. Tommy dicari-cari polisi karena terlibat pembunuhan
hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. Di PN Jakarta Pusat, Tommy divonis 15 tahun penjara. Estimasi awal sebelum dipotong remisi, Tommy harus mendekam di penjara hingga 29 November 2016 (Kompas, 31/10).
Namun, publik dibuat tercengang karena sejak Senin (30/10) Tommy dibebaskan bersyarat.

Mata ganti mata

Hukum tidak janggal jika diberlakukan apa yang oleh para filsuf moral disebut "pembayaran kembali". Mereka yang terbukti melakukan kejahatan layak dikenai "pembayaran kembali" atas tindakannya yang mengabaikan
kepantasan moral. Ibarat pepatah kuno "mata ganti mata, gigi ganti gigi", pandangan itu membenarkan hukuman setimpal kepada pelaku kejahatan. Inilah yang dikenal sebagai teori retributivisme.

Kant merupakan salah satu penganut retributivisme. Kant memahami, menghukum orang bisa menambah jumlah kemalangan di dunia. Akan tetapi, itu baik-baik saja karena terhukum layak menanggung penderitaan tambahan. Semangat ini terbaca pada pandangan Kant yang dikutip pada awal tulisan ini.

Banyak orang setuju dengan Kant, orang harus dihukum karena melakukan kejahatan, bukan karena alasan lain. Dalam kapasitas ini sanksi hukum tetap menganut proportionately (setimpal) sesuai beratnya kejahatan.
Sayang, masih ada pelaku kejahatan yang menerima keistimewaan. Bayangkan, vonis 15 tahun cukup dijalani lima tahun. Itu pun bisa memilih sel yang berfasilitas, mudah keluar masuk atas dalih berobat, dan bisa mangkir dari aneka kewajiban seorang narapidana.Menumpulkan kesadaran moralJika negara dijalankan tanpa menyandarkan pada teori retributivisme, masyarakat akan mengalami ketumpulan terhadap kesadaran moral. Mereka yang berkesadaran moral adalah mereka yang mempunyai suara hati. Mereka mempertimbangkan dengan hati.Sebagaimana pernah dikemukakan teolog John Henry Newman dalam suara hati menyadari, kita wajib melakukan yang baik dan benar serta menolak yang tidak baik dan tidak benar. Suara hati bagai panggilan dari suatu realitas personal yang berkuasa atas diri yang, jika kita mengikutinya, membuat kita merasa bernilai, aman dan sedia untuk menyerah (Franz Magnis-Suseno, 2006:175).Magnis menjelaskan, manusia berkesadaran moral sama dengan mempunyai suara hati. Kesadaran moral dalam bahasa sehari-hari disebut suara hati. Ciri khas suara hati, di antaranya, ia tidak dapat ditawar-tawar oleh pertimbangan untung-rugi. Ciri ini disebut mutlak. Suara hati adalah mutlak.

Bagi orang bersuara hati, ia akan malu jika melakukan perbuatan tak bermoral. Tentu saja bisa dibalik, orang yang suka atas perbuatan tak bermoral berarti tak bersuara hati. Inilah yang sering disebut ketumpulan suara hati. Ibarat pisau, ketumpulan ini terjadi karena jarang digunakan atau enggan diasah. Jika setiap tindakan selalu dipertimbangkan dengan suara hati, seseorang sedang mengasah diri untuk menuju keutamaan moral.

Keutamaan moral, kata Aristoteles dalam Nicomachean Ethics, dibentuk oleh kebiasaan, etos, dan istilah etik. Di sini norma, termasuk norma hukum, merupakan elemen penting. Namun, jika norma hukum itu dijalankan tidak semestinya, semisal tanpa asas kesetimpalan, hukum menjadi tak berwibawa. Orang masih terbiasa melanggar norma hukum karena prinsip dasar retributivisme bisa dipelesetkan dari "mata ganti mata" menjadi "mata ganti uang". Maka, jangan berharap akan terbangun kesadaran moral. Jangan pula berharap dekadensi moral yang melanda bangsa ini bisa segera diatasi.

Perlu refleksi

Pemikir Paul Ricoeur memberikan solusi untuk bisa keluar dari kondisi itu. Ia memandang perlunya refleksi, yaitu semacam tindakan untuk kembali ke diri sendiri, sehingga subyek memahami dirinya dalam kejernihan intelektual dan tanggung jawab moral. Refleksi ini melahirkan sebuah kontrol dari dalam diri. Baik buruknya amal perbuatan seseorang ditentukan oleh kualitas hatinya. Inilah kontrol nurani, yang lebih kuat dibanding kontrol dari luar berupa sistem pengawasan dan sistem hukum. Kontrol nurani diperlukan agar aparat negara bisa mencapai tahap kejernihan intelektual. Dari sini diharapkan melahirkan sanksi setimpal tanpa dicampuri elemen lain.
Jika kondisi ini tercapai, orang tak lagi dibuat tercengang atas keputusan hukum terhadap seseorang, sekalipun ia anak seorang mantan presiden.

Toto Suparto Peneliti Puskab, Belajar di Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Pengantar
Sakramen merupakan suatu tindakan pengudusan yang diselenggarakan Allah terhadap umt-Nya. Gereja Katolik merayakan tindakan pengudusan tersebut dengan beberapa tanda atau bentuk. Pembentukan tindak perayaan tersebut dibakukan seturut perkembangan jaman dengan tetap mengacu pada karya, sabda Yesus, tradisi, dan konteks religiositas zaman.
Berikut ini akan dipaparkan secara ringkas perihal perkembangan pemahaman Gereja tentang sakramen.


1. Paham Antropologi Budaya

Sudah sejak lama manusia mengalami adanya suatu realitas yang tak kelihatan, yakni suatu realitas transenden, realitas yang melampaui pengamatan dan dunia yang dialami manusia. Berhadapan dengan realitas tersebut, manusia berusaha menjalin relasi dengannya melalui aneka ragam "simbol/lambang" dan "tanda" keagamaan/religius.



Dalam pemahaman antropologi budaya, simbol/lambang tersebut merupakan suatu realitas konkret dan kelihatan yang dapat menghadirkan sesuatu yang lain yang tidak kelihatan (realitas transenden) ke dalam kesadaran manusia. Jadi, melalui simbol/lambang, manusia dapat mengalami "yang lain" (yang religius) tersebut. Secara ringkas dapat dipaparkan bentuk simbol/lambang dan/atau tanda pengungkapan relasi tersebut, sbb:



  • Simbol EkspresifSimbol ekspresif merupakan sebuah realitas fisik (benda atau perbuatan) menjadi ekspresi atau ungkapan dari suatu pengalaman subjektif batiniah (keyakinan, perasaan, dsb.) terhadap Yang Transenden. Simbol ini dapat menuntun orang kepada pengalaman batiniah yang sama.

  • Simbol RepresentatifSimbol representatif adalah sebuah lambang yang menunjuk dan menghadirkan suatu relitas yang melampaui segala pengalaman biasa dan hanya tercapai melalui dan dalam simbol itu.

  • Tanda Kausatif
    Tanda kausatif merupakan realitas yang sebagai efek (hasil) dan akibat menunjuk kepada sebab (causa).

  • Tanda Signifikatif
    Tanda signifikatif adalah realitas yang dengan disengaja dibuat dam disepakati untuk dengan jelas menunjuk kepada sesuatu yang lain diluar tanda itu dan yang juga tanpa tanda itu tercapai.


Dari keempat cara pengungkapan religi ini yang dekat dengan pola pikir sakramen kita adalah simbol representatif.
2. Sakramentalisme dalam Perjanjian Lama

Dalam PL, Kata "sakramen" hampir tidak tertemukan. Baru kemudian dalam karangan-karangan yang disalin dengan pengaruh Hellenis, kata Yunani "misterion" muncul untuk mengaratikan sakramen. Meskipun demikian bukan berarti bahwa PL tidak berpikir secara sakramental. PL cukup jelas juga melukiskan penampakan Allah dalam aneka bentuk, entah yang berkenan dengan salah satu obyek kultus atau juga dalam bentuk firman Allah. Cara penampakan tersebut dilukiskan sbb:

  • Hierofani: penampakan "yang ilahi" (Tuhan/Yahwe) dalam gejala-gejala material atau benda-benda tertentu (benda keramat). Biasanya "yang ilahi" yang ditampakkan dalam benda-benda itu tidak punya nama. Maka, yang nampak dalam benda-benda tersebut adalah suatu daya yang meresap ke dalam segala sesuatu sehingga segala sesuatu dapat menjadi suatu "hierofani". Pengalaman/pemahaman macam ini lazim dialami bangsa-bangsa di sekitar Israel.

  • Epifani: Penampakan diri Allah melalui alam semesta. Bangsa Israel juga dapat mengartrikan gejala-gejala kosmik/metereologis sebagai penampakan Allah. Kosmos, jagat raya benar-benar menjadi sebuah epifani pencipta-Nya, Allah. Manusia dapat mengalami Allah melalui alam raya.

  • Teofani: Penyataan diri Allah sendiri dalam perjalanan sejarah umat-Nya sehingga manusia dapat mengalami-Nya dalam sejarah hidupnya dan alam semesta. Maka, teofani dimengerti sebagai sejarah kehadiran Allah dalam rupa perbuatan/kejadian yang mesti dibarengi dengan keterangan, firman Yahwe yang disampaikan melalui hamba-hamba-Nya. Dengan demikian, perpaduan peristiwa dan firman menjadi sakramen bagi umat Israel.

Sakramentalisme PL pertama-tama terdapat dalam sejarah. Allah menampakkan diri dalam sejarah bangsa Israel dalam rupa perbuatan/tindakan dan firman (teofani). Penampakan diri Allah itu kemudian dirayakan dalam kultus yang kemudian dihistorisasikan dalam KS sehingga menjadi peringatan akan "tindakan" penyelamatan Allah. Peringatan kultis tersebut bukan hanya peringatan akan masa lampau tetapi juga peringatan akan kehadiran Allah kini dan kelak.

3. Sakramentalisme dalam Perjanjian Baru
Ciri khas sakramentalisme dalam PB: "Sakramentalisme dalam perbuatan". Tokoh sentralnya adalah Yesus, Penyataan diri Allah. Ia menyatakan diri Allah lewat perbuatan konkret dan firman. Hal itu direkam dalam injil sinoptik, Injil Yohanes, dan Surat-surat Paulus.


  • Injil Sinoptik
    Sinoptik mencatat bahwa mukjizat Yesus dalam PB merupakan penyataan efektif realitas transenden yang disebut sebagai "Kerajaan Allah". Mukjizat itu menyalurkan daya ilahi (Kerajaan Allah) yang ada pada Yesus sendiri. Kejadian material itu memang tidak membuktikan bahwa Kerajaan Allah sudah ada dan sedang menembus dunia, namun hal itu sudah merupakan suatu penampakan kekuatan ilahi.

  • Injil Yohanes
    Yohanes lebih nyata melukiskan aspek sakramental seluruh kehidupan Yesus. Hal itu dinyatakan dalam "tanda-tanda" yang dihubungkan dengan Yesus sendiri, bukan dengan Kerajaan Allah. Dengan tanda-tanda itu Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Penyelamatan dari Allah. Orang yang menyaksikan Yesus sebenarnya menyaksikan daya penyelamatan ilahi. Yesus sendiri menekankan firman dalam setiap tanda yang dilakukan-Nya. Makam Yesus sendiri meerupakan "sakramen utama", penampakan aktif Allah di dunia.

  • Surat-surat PaulusPaulus memahami bahwa pandangan sakramental tampil juga kalau Kristus dikatakan "kepenuhan Allah"; bahwa didalam Dia tinggal "keallahan berupa tubuh" atau bahwa Kristus menjadi "gambar Allah yang tak kelihatan". Paulus juga menekankan bahwa jemaah Kristus sendiri menjadi "tempat" daya penyelamatan Allah karena dikuduskan oleh Yesus sendiri.

4. Sakramentalisme pada masa Patristik

Pemikiran Bapa-bapa Gereja tentang misterion (sacramentum,symbolicum) dipengaruhi oleh KS, agama-agama miskterik, dan filsafat Neo-Platonisme. Melalui KS, para Bapa Gereja memahami sakramen sebagai bentuk kehadiran Allah dalam sejarah hidup manusia. Wujud kehadiran itu terjadi melalui benda-benda, perbuatan/tindakan, dan firman yang kemudian secara nyata tampak dalam diri Yesus. Yesus menjadi pokok sakramen dalam Gereja. Dari situ para Bapa Gereja menyatakan bahwa sakramentalisme mempunyai segi eskatologis dan menjadi antisipasi simbolik-real parousia. Dan itu kemudia dirayakan dalam ibadat atau tindakan kultis.

Munculnya sakramen-sakramen dalam kekristenan sangat dipengaruhi oleh agama-agama misterik yang subur berkembang di dunia Yunani. Sakramen dilihat sebagai tempat keselamatan eskatologis yang sudah meulai menyentuh dunia. Orang-orang yang mnejalani sakramen mendapat jaminan keselamatan definitif. Dalam agama-agama misterik, "mysterion" memiliki arti "rahasia". Orang yang diinisiasikan wajib merahasiakan lambang-lambang yang nisingkapkan kepadanya.

Filsafat Neo-Plato mengartikan mysterion sebagai ajaran tentang cara mengenal yang ilahi sehingga orang dengan "pengetahuan" itu diilahikan. Pengenalan itu dikhususkan dalam peribadatan. Maka mysterion dimengerti sebagai "perayaan suci". Berdasarkan pemikiran ini, mysterion didefinisikan sebagai pembaktian ritual kepada seorang dewa/dewi dengan jalan inisiasi perihal lambang-lambang yang dipakai dalam ibadat guna memija dewa/dewi itu.

5. Sakramentalisme pada Abad Pertengahan
Pemahaman Gereja tentang saktamen banyak juga dipengaruhi oleh filsafat Aristotelisme (hylemorfisme). Filsafat Aristoteles tidak terutama menonjolkan "misteri Kristus", melainkan "rahmat". Rahmat itu dilambangkan oleh sakramen baik yang berupa perbuatan (upacara) maupun yang berupa benda/barang. Hubungan yang dilambangkan (rahmat) dengan yang lambangnya (sakramen) dijelaskan dengan kategoriu pemikiran Aristoteles: Sebab-Akibat.

Rahmat yang dimaksud adalah gratia creata (rahmat tercipta) bukan gratia incrata (rahmat tak tercipta:Allah, Roh Kudus). Rahmat dipikirkan sebagai benda/barang, yang menjadi sebuah accidens (sifat tambahan) pada manusia. Rahmat dipersonalisasikan, sedangkan sakramen menjadi alat atau wadah rahmat. Padahal, rahmat adalah suatu relasi personal antara Allah dengan manusia yang terjadi melalui Yesus Kristus.

6. Sakramentalisme Reformasi
Para reformator mengatakan bahwa "sakramen tidak memberi rahmat". Pemahaman ini mereka lontarkansebagai kritik atas sakramentalisme Gereja Katolik tentang "rahmat" dan bagaimana manusia dibenarkan oleh Allah. Menurut mereka, Gereja Katolik menjadikan sakramen seolah-olah suatu sarana di tangan manusia untuk menuruhkan rahmat. Bagi mereka, hal yang membenarkan manusia bukanlah sakramen-sakramen melainkan hanya iman (sola fides). Sakramnen merupakan "meterai". Iman dan sakramen menjadi terpisah, sehingga sakramen juga tidak benar-benar perlu. Sebab, sakramen hanya menunjuk kepada misteri penyelamatan, ialah firmat Allah yang menjadikan keselamatan. Jadi, sakramen bukan tanda penerimaan rahmat sebab mereka menolak tindakan penerimaan aktif dari pihak manusia.

7. Teologi Skolastik: "Ek opere operato"
Teolog skolastik, Wilhelm dari Auxerre, memaparkan pemahaman tentang sakramen berdasarkan Hukum Baru: "ex opere operato" (karena apa yang dikerjakan). Artinya, sakramen itu membenarkan karena apa yang dibuat atau dilaksanakan/dirayakan. Istilah "ex opere operato" berarti bahwa daya guna sakramen tidak tergantung pada mereka yang mengadakannya; atau rahmat terikan pada upacara tersebut. Asal upacara itu dirayakan semestinya, maka rahmat ditawarkan oleh Allah. **Fidelis Harefa: Dari berbagai sumber.

Migggu, 6 Desember 1992, saat tiga ratus peserta - sebagian besar wanita - terpana saat menyaksikan film "The Silent of Scream" (Jeritan Bisu) di sebuah seminar yang diadakan oleh Unit Kerohanian Katolik UGM Yogyakarta. Ada yang terkejut dan tertunduk malu, dan ada yang terenyuh meneteskan air mata menyaksikan adegan film dari suatu kisah nyata yang menggambarkan proses direngutnya nyawa jabang bayi melalui abortus (BUSOS) no. 201 Th. XX 1993).

"Jeritan Bisu" sang janin yang dalam kelemahannya masih menunjukkan keinginan untuk menghindari alat yang akan membunuhnya - membuktikan bahwa kehidupan "miliknya".Kisah di atas, hanyalah salah satu dari begitu banyak peristiwa nyata tentang ketidakadilan yang dialami oleh janin melalui tindakan pengguguran. Masalah pengguguguran merupakan persoalan kita bersama sebagai umat manusia, yang selalu berhubungan erat dengan hak hidup dan nilai moral.

Dunia dewasa ini, mengalami banyak perkembangan yang sungguh pesat baik dalam bidang teknologi, medis yang memukau manusia, orang mempergunakannya sebaik-baiknya, tetapi ada juga yang mempergunakan hal itu bertentangan dengan tuntutan moral. Orang sering tidak melihat lagi nilai dan arti hidup sesamanya. Bahkan ada juga orang yang sengaja menggugurkan janin yang ada dalam kandungannya, untuk melarikan diri dari suatu tanggung jawab sebagai seorang ibu. Padahal kewajiban moral mengharuskan untuk menghormati hidup sesama manusia termasuk juga janin yang ada dalam kandungan.Pengguguran merupakan tindakan yang sengaja mengeluarkan buah kandungan dari rahim seorang ibu, sehingga mematikan proses perkembangan dan pertumbuhan janin sebelum tiba saat kelahirannya.

Tindakan yang tidak menaruh rasa hormat terhadap nilai kehidupan janin diakibatkan oleh mereka yang hanya melihat segi kepentingan pribadi saja dan tidak memandang bahwa janin itu adalah manusia yang utuh dan mempunyai hak untuk hidup, merupakan suatu kejahatan durhaka. Tindakan dekadensi moral yang tidak hanya melanda para ibu rumah tangga, tetapi juga telah melanda kaum remaja.Dewasa ini dengan adanya kemajuan teknologi yang canggih dan pesat, beredarnya obat-obatan di pasaran yang begitu bebas praktek dokter, bidan, dukun, dan peralatan lainnya mengakibatkan jumlah pengguguran (abortus "provocatus") semakin tinggi. Tindakan ini dengan sengaja menggugurkan janin, mematikan proses kehidupan dan perkembangan sebelum tiba saat kelahirannya.

Menggugurkan kandungan berarti "mengakhiri hidup janin dalam tubuhnya sendiri, ibu sebenarnya membunuh sesuatu yang ada dalam hatinya yaitu sikap keibuan. Unsur psykologi-sosial kerap mendukung keputusan tersebut, yang kerap bersikap kurag adil terhadap jani. Kita yakin bahwa tindakan pengguguran itu sendiri membawa banyak akibat pada wanita tersebut antara lain:Secara psikologis menggugurkan kandungan itu akan tetap meninggalkan bekas rasa bersalah, dan bagi orang yang beragama rasa bersalah itu juga berarti religiusnya, artinya wanita yang bersangkutan akan merasa berdosa.

Pengguguran dapat dikatakan memperkosa suatu yang hakiki bagi seorang wanita. Sebab pada umumnya wanita mempunyai naluri "pemberi hidup". Kebanyakan wanita yang sedang hamil mempunyai kesadaran kuat bahwa ia telah membunuh anaknya sendiri. Bahkan tidak jarang terjadi perasaan itu begitu mendalam sehingga tidak mungkin dihilangkan lagi.Pada dasarnya tindakan abortus provocatus dinilai sebagai dosa yang berat karena membunuh janin yang tidak bersalah.

Bayi yang masih dalam kandungan yang belum matang fisik dan mentalnya hendaknya dilindungi serta diperhatikan secara khusus termasuk perlindungan yang sah. Setiap orang yang bertindak berlawanan dengan hak hidup merupakan tindakan yang biadap, suatu penindasan dan merupakan perbuatan jahat. Selain itu tindakan tersebut melanggar hak hidup janin, juga melanggar kewajiban etik hormat terhadap hidup orang lain termasuk manusia yang belum lahir.

Bagaimanapun pengguguran yang dilakukan secara langsung dan sengaja tidak dibenarkan sebab merampas hak janin. Dan setiap pengguguran yang disengaja apa pun bentuknya merupakan suatu tindakan yang tidak dapat diizinkan, sebab memperkosa hak fetus atas kehiduapan. Setiap orang percaya bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan Allah dan memperoleh kehidupan dari-Nya.

Kewajiban untuk menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi hidup, bukan saja hidup diri sendiri, tetapi juga hidup sesama manusia baik yang masih ada dalam kandungan maupun yang sudah dilahirkan. Bagaimanapun juga hidup janin yang masih dalam kandungan statusnya bukanlah lebih rendah jika dibandingkan dengan hidup yang sudah dilahirkan. Oleh karena itu ia juga harus dihormati dan sebagaimana layaknya seorang manusia pada umumnya sebagai pribadi yang sedang berkembang dan bertumbuh. Maka dari itu tidak seorang pun berhak menghabisi hidup sesamanya, baik itu hidup yang sudah dilahirkan atau hidup yang masih dalam kandungan. Hidup manusia perlu dilindungi dan dijaga serta dijunjing tinggi sebab terkandung nilai-nilai yang luhur. Sebab hidup merupakan anugerah dan kedaulatan cinta yang berasal dari Allah sendiri.

Bisikan Hati Nurani Hati nurani manusia perlu dibentuk dan dididik agar semakin mampu melahirkan pertimbangan yang matang, sehingga seseorang tahu apa yang harus dan apa yang wajib dan apa yang diizinkan dilakukan dalam situasi konkrit.Bila hati nurani telah dibentuk dan dididik untuk lakukan perbuatan baik akan lebih membantu seseorang dalam bertindak dan menjalankan hal-hal yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu agar suara hati dapat memberikan keputusan dan penilaian yang tepat perlu dididik dengan baik. Hati nurani biasanya dipengaruhi perasaan moral yang terbentuk akan melakukan yang baik dan mampu untuk bersikap kritis.


Membentuk dan mendidik suara hati berarti: "Bahwa kita terus menerus bersikap terbuka, mau belajar, mau mengerti seluk beluk masalah yang kita hadapi, mau memahami pertimbangan etis yang tepat dan seperlunya membaharui pandangan-pandangan kita.Peranan hati nurani dalam diri manusia adalah sebagai pedoman, pengontrol, memutuskan apa yang baik, atau yang tidak baik, yang boleh atau yang tidak boleh untuk dilakukan seseorang. Selain itu hati nurani berperan sebagai penentu bagi prbuatan yang akan datang, menolong kita untuk mengerjakannya atau menghindarinya dan juga merupakan hakin atas perbuatan yang telah lalu. Hati nurani merupakan sumber pembinaan dan juga sumber rasa sesal.


Hati nurani akan memutuskan sebagai baik hal-hal yang benar-benar buruk.Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa hati nurani yang terbina dan terdidik membuat pribadi seseorang (ibu yang mengandung) lebih tahu dan sadar akan kewajiban terhadap hidup manusia yang masih berada dalam kandungan maupun terhadap hidup manusa yang sudah dilahirkan. Sehingga seorang wanita atau pribadi lain tidak sekehendak hatinya menggugurkan kandungan itu, tetapi tetap berusaha mencari jalan lain yang lebih baik. Kesuali sudah tiada jalan yang lebih baik lagi untuk menyelamatkan hidup kedua-duanya. Untuk itu orang perlu pertimbangan dan matang. Sehingga orang tidak melarikan diri dari kesulitan sebagai orang yang pengecut, melainkan menghadapinya dengan tanggung jawab. Sebab "Manusia harus dihormati dan diperlakukan sebagai priadi sejak saat pembuahan".


Hati nurani berperan mempertimbangkan apa yang harus dipilih dan dijalankan oleh manusia. Dan biasanya jalan yang ditunjukkan oleh hati nurani itu baik. Oleh karena itu diharapkan baik wanita, ahli medis tetap memerhatikan bisikan hati nurani. Khususnya para dokter mempunyak kewajiban sbb:"Agar setiap para dokter dan tenaga medis lainnya tetap mempunyai kebebasan hati nurani dan kebenaran untuk menolak (membantu) menggugurkan, apa bila berdasarkan pertimbangan-pertimbangan lengkap meneluruh yakni bahwa pengguguran tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan karena masih ada jalan lain untuk mengatasi persoalan-persoalan lain yang mungkin muncul apabila kandaungan tetap dipertahankan.

Dr. R.C. Sproul
Ketika kita harus memilih di dalam bidang moral maka nyatalah fungsi hati nurani sangat rumit. Hukum Allah memang tidak berubah untuk selamanya. Namun disamping taat kepada hukum-hukum ini kita juga perlu mengusahakan agar hukum-hukum ini mencapai keharmonisan dalam hati kita. Standar dari organ intern ini disebut "hati nurani". Ada orang melukiskan suara intern yang samar-samar ini sebagai suara Allah di dalam diri manusia.

Di dalam hati nurani manusia, yaitu tempat yang sangat tersembunyi terdapat keberadaan pribadi, karena ini bersifat tersembunyi sehingga kita sangat sulit mengenal fungsinya. Freud telah memasukkan psikologi ke dalam istana ilmiah sehingga manusia mulai menyelidiki alam bawah sadar, menggali lubang-lubang yang paling dalam di dalam pribadi manusia.

Sehingga manusia takut dan kagum waktu menghadapi hati nurani. Apa yang dinyatakan oleh suara intern ini mungkin seperti komentar seorang psikolog sebagai "menemukan neraka." Namun kita harus memandang hati nurani sebagai sesuatu yang bersifat surgawi, sesuatu yang berhubungan dengan Allah dan bukanlah organ yang berasal dari neraka. Mari kita membayangkan tokoh di dalam film karton, pada waktu ia diperhadapkan untuk memilih dalam bidang moral maka ada malaikat dan setan, yang masing-masing hinggap di kiri kanan bahunya.
Keduanya berusaha manarik dia seperti menarik gergaji untuk memperoleh otak manusia yang malang ini. Hati nurani dapat merupakan suara dari surga dan juga dapat berasal dari neraka. Dia mungkin berbohong, juga mungkin mendorong kita mencapai kebenaran. Dua macam hal yang dapat keluar dari satu mulut. Jika bukan melakukan tuduhan maka ia melakukan pengampunan. Slogan Walt Disney yang terkenal: "Biarlah hati nuranimu memimpin engkau" sangat populer.

Namun ini paling banyak hanya bisa dipandang sebagai teologi untuk anak kecil. Sedangkan terhadap orang Kristen hati nurani bukanlah pengadilan tertinggi untuk memutuskan kelakukan yang benar. Hati nurani sangat penting tetapi tidak cukup sebagai standar, dia selalu berkemungkinan untuk menjadi bengkok dan salah memimpin. Di dalam Perjanjian Baru 31 kali menyebut tentang hati nurani sepenuhnya menyatakan kemungkinan terjadi perubahan hati nurani. Hati nurani juga mungkin telah digerogoti menjadi keropos atau karena kerap kali berdosa sehingga kebal. Yeremia melukiskan orang Israel dengan istilah "bermuka pelacur." Ini disebabkan orang Israel terus menerus berdosa sehingga kehilangan perasaan malu di dalam hatinya. Mereka menegarkan tengkuk, membekukan hati, sehingga hati nurani mereka tidak berfungsi lagi. Demikian juga orang-orang yang anti masyarakat mungkin setelah membunuh manusia tetap tidak merasa menyesal dan hilanglah fungsi teguran hati nurani yang normal.

Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya. Ingatlah pada waktu Martin Luther di dalam sidang Worms menghadapi tekanan moral yang luar biasa besarnya dan gentar di tengah kepahitan yang optimal itu. Ada orang menganjurkan untuk menyerahkan iman, maka di antara jawabannya terdapat, "Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Allah." Melakukan sesuatu
yang melanggar hati nurani adalah tidak benar dan merupakan hal yang tidak aman dan berbahaya sekali. Begitu hidup Luther melukiskan dinamika emosi semacam ini pada waktu ia mempergunakan istilah "ditawan." Hati nurani dapat bekerja secara penuh di dalam diri manusia. Pada saat manusia dipegang oleh suara hati nurani
sehingga menghasilkan kekuatan maka dengan sendirinya timbul keberanian yang luarbiasa. Hati nurani yang ditawan oleh Firman Allah adalah hati nurani yang anggun dan berdinamika. "Bertindak melanggar hati nurani adalah tidak benar dan
bahaya." Benarkah kalimat Luther ini? Kita harus berhati-hati menjelajahinya sehingga dapat mencegah langkah-langkah yang dapat melukai jari kaki kita yang berjalan di tepi pisau cukur kriteria moral ini. Jikalau hati nurani mungkin disalahtafsirkan atau salah arah mengapa kita harus tidak berani bertindak melanggarnya? Apakah kita harus masuk ke dalam dosa karena mengikuti hati nurani? Kita berada di tengah-tengah kedua bahaya ini sehingga bergerak, maju maupun mundur. Jikalau kita dikatakan berdosa menurut hati nurani, perlu
diingat meskipun sudah bertobat hati nurani tetap memerlukan Firman Tuhan untuk memberikan pimpinan yang benar. Namun jikalau kita bertindak melanggar hati nurani kita tetap telah melakukan dosa. Dosa ini mungkin tidak tergantung apa yang sudah kita perbuat tetapi tergantung fakta bahwa kita yang sudah mengetahui dengan jelas sesuatu yang jahat tetap terjun ke dalamnya, ini menyangkut prinsip Alkitab yang menyatakann "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa." Misalnya (sekali lagi misalnya) ada orang diajar dan percaya bahwa memakai lipstick adalah berdosa tetapi ia tetap memakainya maka orang ini sudah berbuat dosa. Sebenarnya dosa bukan tergantung pada lipstick itu tetapi tergantung pada usahanya untuk melanggar perintah Allah.

Penguasaan terhadap hati nurani merupakan semacam kekuatan dengan daya pemusnahan di dalam gereja. Orang legalis selalu menitikberatkan penguasaan dosa, sedangkan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Hati nurani adalah semacam alat yang rumit yang harus kita hargai. Jikalau seseorang mau mempengaruhi hati nurani orang lain maka ia menghadapi tugas berat, ia harus memelihara kepribadian orang lain menjadi sempurna seperti pada saat diciptakan Allah. Jikalau kita mempersalahkan orang lain dengan penghakiman yang bersifat memaksa dan tidak benar maka kita mengakibatkan tetangga kita terikat kaki tangannya berarti kita memberikan rantai kepada mereka yang sudah dibebaskan Allah. Tetapi jikalau kita secara paksa mengakibatkan orang berdosa, menganggap diri tidak bersalah maka kita akan mendorong mereka lebih terjerumus ke dalam dosa. Dan akan menerima hukum Allah yang seharusnya dapat dihindarkan.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget