MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Februari 2007

Oleh Toto SupartoJika seseorang, yang suka mengganggu dan mengesalkan masyarakat yang cinta damai, akhirnya menerima cambukan secukupnya, hal ini menyakitkan tetapi tiap orang menyetujui dan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik dalam dirinya, meski selanjutnya tak sesuatu pun dihasilkan darinya."

Begitu pandangan klasik filsuf Imanuel Kant yang belakangan ini sering diungkit lagi saat hukum tak lagi mengikuti asas kesetimpalan.Acapkali hukum melahirkan ironi. Meminjam istilah John Evan Seery saat menulis Political Return, ironi merupakan kecenderungan yang dicirikan dengan berbagai cakupan sifat: kontradiktif, inkonsistensi, anomali, janggal, abnormalitas, berlebihan, dan ada di luar garis. Hukum kita penuh kejanggalan.

Kejanggalan itu bisa dilihat pada kasus Tommy Soeharto. Ia ditahan sejak 29 November 2001 di Rutan Polda Metro Jaya setelah menjadi buron selama satu tahun. Tommy dicari-cari polisi karena terlibat pembunuhan
hakim agung Syafiuddin Kartasasmita. Di PN Jakarta Pusat, Tommy divonis 15 tahun penjara. Estimasi awal sebelum dipotong remisi, Tommy harus mendekam di penjara hingga 29 November 2016 (Kompas, 31/10).
Namun, publik dibuat tercengang karena sejak Senin (30/10) Tommy dibebaskan bersyarat.

Mata ganti mata

Hukum tidak janggal jika diberlakukan apa yang oleh para filsuf moral disebut "pembayaran kembali". Mereka yang terbukti melakukan kejahatan layak dikenai "pembayaran kembali" atas tindakannya yang mengabaikan
kepantasan moral. Ibarat pepatah kuno "mata ganti mata, gigi ganti gigi", pandangan itu membenarkan hukuman setimpal kepada pelaku kejahatan. Inilah yang dikenal sebagai teori retributivisme.

Kant merupakan salah satu penganut retributivisme. Kant memahami, menghukum orang bisa menambah jumlah kemalangan di dunia. Akan tetapi, itu baik-baik saja karena terhukum layak menanggung penderitaan tambahan. Semangat ini terbaca pada pandangan Kant yang dikutip pada awal tulisan ini.

Banyak orang setuju dengan Kant, orang harus dihukum karena melakukan kejahatan, bukan karena alasan lain. Dalam kapasitas ini sanksi hukum tetap menganut proportionately (setimpal) sesuai beratnya kejahatan.
Sayang, masih ada pelaku kejahatan yang menerima keistimewaan. Bayangkan, vonis 15 tahun cukup dijalani lima tahun. Itu pun bisa memilih sel yang berfasilitas, mudah keluar masuk atas dalih berobat, dan bisa mangkir dari aneka kewajiban seorang narapidana.Menumpulkan kesadaran moralJika negara dijalankan tanpa menyandarkan pada teori retributivisme, masyarakat akan mengalami ketumpulan terhadap kesadaran moral. Mereka yang berkesadaran moral adalah mereka yang mempunyai suara hati. Mereka mempertimbangkan dengan hati.Sebagaimana pernah dikemukakan teolog John Henry Newman dalam suara hati menyadari, kita wajib melakukan yang baik dan benar serta menolak yang tidak baik dan tidak benar. Suara hati bagai panggilan dari suatu realitas personal yang berkuasa atas diri yang, jika kita mengikutinya, membuat kita merasa bernilai, aman dan sedia untuk menyerah (Franz Magnis-Suseno, 2006:175).Magnis menjelaskan, manusia berkesadaran moral sama dengan mempunyai suara hati. Kesadaran moral dalam bahasa sehari-hari disebut suara hati. Ciri khas suara hati, di antaranya, ia tidak dapat ditawar-tawar oleh pertimbangan untung-rugi. Ciri ini disebut mutlak. Suara hati adalah mutlak.

Bagi orang bersuara hati, ia akan malu jika melakukan perbuatan tak bermoral. Tentu saja bisa dibalik, orang yang suka atas perbuatan tak bermoral berarti tak bersuara hati. Inilah yang sering disebut ketumpulan suara hati. Ibarat pisau, ketumpulan ini terjadi karena jarang digunakan atau enggan diasah. Jika setiap tindakan selalu dipertimbangkan dengan suara hati, seseorang sedang mengasah diri untuk menuju keutamaan moral.

Keutamaan moral, kata Aristoteles dalam Nicomachean Ethics, dibentuk oleh kebiasaan, etos, dan istilah etik. Di sini norma, termasuk norma hukum, merupakan elemen penting. Namun, jika norma hukum itu dijalankan tidak semestinya, semisal tanpa asas kesetimpalan, hukum menjadi tak berwibawa. Orang masih terbiasa melanggar norma hukum karena prinsip dasar retributivisme bisa dipelesetkan dari "mata ganti mata" menjadi "mata ganti uang". Maka, jangan berharap akan terbangun kesadaran moral. Jangan pula berharap dekadensi moral yang melanda bangsa ini bisa segera diatasi.

Perlu refleksi

Pemikir Paul Ricoeur memberikan solusi untuk bisa keluar dari kondisi itu. Ia memandang perlunya refleksi, yaitu semacam tindakan untuk kembali ke diri sendiri, sehingga subyek memahami dirinya dalam kejernihan intelektual dan tanggung jawab moral. Refleksi ini melahirkan sebuah kontrol dari dalam diri. Baik buruknya amal perbuatan seseorang ditentukan oleh kualitas hatinya. Inilah kontrol nurani, yang lebih kuat dibanding kontrol dari luar berupa sistem pengawasan dan sistem hukum. Kontrol nurani diperlukan agar aparat negara bisa mencapai tahap kejernihan intelektual. Dari sini diharapkan melahirkan sanksi setimpal tanpa dicampuri elemen lain.
Jika kondisi ini tercapai, orang tak lagi dibuat tercengang atas keputusan hukum terhadap seseorang, sekalipun ia anak seorang mantan presiden.

Toto Suparto Peneliti Puskab, Belajar di Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Pengantar
Sakramen merupakan suatu tindakan pengudusan yang diselenggarakan Allah terhadap umt-Nya. Gereja Katolik merayakan tindakan pengudusan tersebut dengan beberapa tanda atau bentuk. Pembentukan tindak perayaan tersebut dibakukan seturut perkembangan jaman dengan tetap mengacu pada karya, sabda Yesus, tradisi, dan konteks religiositas zaman.
Berikut ini akan dipaparkan secara ringkas perihal perkembangan pemahaman Gereja tentang sakramen.


1. Paham Antropologi Budaya

Sudah sejak lama manusia mengalami adanya suatu realitas yang tak kelihatan, yakni suatu realitas transenden, realitas yang melampaui pengamatan dan dunia yang dialami manusia. Berhadapan dengan realitas tersebut, manusia berusaha menjalin relasi dengannya melalui aneka ragam "simbol/lambang" dan "tanda" keagamaan/religius.



Dalam pemahaman antropologi budaya, simbol/lambang tersebut merupakan suatu realitas konkret dan kelihatan yang dapat menghadirkan sesuatu yang lain yang tidak kelihatan (realitas transenden) ke dalam kesadaran manusia. Jadi, melalui simbol/lambang, manusia dapat mengalami "yang lain" (yang religius) tersebut. Secara ringkas dapat dipaparkan bentuk simbol/lambang dan/atau tanda pengungkapan relasi tersebut, sbb:



  • Simbol EkspresifSimbol ekspresif merupakan sebuah realitas fisik (benda atau perbuatan) menjadi ekspresi atau ungkapan dari suatu pengalaman subjektif batiniah (keyakinan, perasaan, dsb.) terhadap Yang Transenden. Simbol ini dapat menuntun orang kepada pengalaman batiniah yang sama.

  • Simbol RepresentatifSimbol representatif adalah sebuah lambang yang menunjuk dan menghadirkan suatu relitas yang melampaui segala pengalaman biasa dan hanya tercapai melalui dan dalam simbol itu.

  • Tanda Kausatif
    Tanda kausatif merupakan realitas yang sebagai efek (hasil) dan akibat menunjuk kepada sebab (causa).

  • Tanda Signifikatif
    Tanda signifikatif adalah realitas yang dengan disengaja dibuat dam disepakati untuk dengan jelas menunjuk kepada sesuatu yang lain diluar tanda itu dan yang juga tanpa tanda itu tercapai.


Dari keempat cara pengungkapan religi ini yang dekat dengan pola pikir sakramen kita adalah simbol representatif.
2. Sakramentalisme dalam Perjanjian Lama

Dalam PL, Kata "sakramen" hampir tidak tertemukan. Baru kemudian dalam karangan-karangan yang disalin dengan pengaruh Hellenis, kata Yunani "misterion" muncul untuk mengaratikan sakramen. Meskipun demikian bukan berarti bahwa PL tidak berpikir secara sakramental. PL cukup jelas juga melukiskan penampakan Allah dalam aneka bentuk, entah yang berkenan dengan salah satu obyek kultus atau juga dalam bentuk firman Allah. Cara penampakan tersebut dilukiskan sbb:

  • Hierofani: penampakan "yang ilahi" (Tuhan/Yahwe) dalam gejala-gejala material atau benda-benda tertentu (benda keramat). Biasanya "yang ilahi" yang ditampakkan dalam benda-benda itu tidak punya nama. Maka, yang nampak dalam benda-benda tersebut adalah suatu daya yang meresap ke dalam segala sesuatu sehingga segala sesuatu dapat menjadi suatu "hierofani". Pengalaman/pemahaman macam ini lazim dialami bangsa-bangsa di sekitar Israel.

  • Epifani: Penampakan diri Allah melalui alam semesta. Bangsa Israel juga dapat mengartrikan gejala-gejala kosmik/metereologis sebagai penampakan Allah. Kosmos, jagat raya benar-benar menjadi sebuah epifani pencipta-Nya, Allah. Manusia dapat mengalami Allah melalui alam raya.

  • Teofani: Penyataan diri Allah sendiri dalam perjalanan sejarah umat-Nya sehingga manusia dapat mengalami-Nya dalam sejarah hidupnya dan alam semesta. Maka, teofani dimengerti sebagai sejarah kehadiran Allah dalam rupa perbuatan/kejadian yang mesti dibarengi dengan keterangan, firman Yahwe yang disampaikan melalui hamba-hamba-Nya. Dengan demikian, perpaduan peristiwa dan firman menjadi sakramen bagi umat Israel.

Sakramentalisme PL pertama-tama terdapat dalam sejarah. Allah menampakkan diri dalam sejarah bangsa Israel dalam rupa perbuatan/tindakan dan firman (teofani). Penampakan diri Allah itu kemudian dirayakan dalam kultus yang kemudian dihistorisasikan dalam KS sehingga menjadi peringatan akan "tindakan" penyelamatan Allah. Peringatan kultis tersebut bukan hanya peringatan akan masa lampau tetapi juga peringatan akan kehadiran Allah kini dan kelak.

3. Sakramentalisme dalam Perjanjian Baru
Ciri khas sakramentalisme dalam PB: "Sakramentalisme dalam perbuatan". Tokoh sentralnya adalah Yesus, Penyataan diri Allah. Ia menyatakan diri Allah lewat perbuatan konkret dan firman. Hal itu direkam dalam injil sinoptik, Injil Yohanes, dan Surat-surat Paulus.


  • Injil Sinoptik
    Sinoptik mencatat bahwa mukjizat Yesus dalam PB merupakan penyataan efektif realitas transenden yang disebut sebagai "Kerajaan Allah". Mukjizat itu menyalurkan daya ilahi (Kerajaan Allah) yang ada pada Yesus sendiri. Kejadian material itu memang tidak membuktikan bahwa Kerajaan Allah sudah ada dan sedang menembus dunia, namun hal itu sudah merupakan suatu penampakan kekuatan ilahi.

  • Injil Yohanes
    Yohanes lebih nyata melukiskan aspek sakramental seluruh kehidupan Yesus. Hal itu dinyatakan dalam "tanda-tanda" yang dihubungkan dengan Yesus sendiri, bukan dengan Kerajaan Allah. Dengan tanda-tanda itu Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Penyelamatan dari Allah. Orang yang menyaksikan Yesus sebenarnya menyaksikan daya penyelamatan ilahi. Yesus sendiri menekankan firman dalam setiap tanda yang dilakukan-Nya. Makam Yesus sendiri meerupakan "sakramen utama", penampakan aktif Allah di dunia.

  • Surat-surat PaulusPaulus memahami bahwa pandangan sakramental tampil juga kalau Kristus dikatakan "kepenuhan Allah"; bahwa didalam Dia tinggal "keallahan berupa tubuh" atau bahwa Kristus menjadi "gambar Allah yang tak kelihatan". Paulus juga menekankan bahwa jemaah Kristus sendiri menjadi "tempat" daya penyelamatan Allah karena dikuduskan oleh Yesus sendiri.

4. Sakramentalisme pada masa Patristik

Pemikiran Bapa-bapa Gereja tentang misterion (sacramentum,symbolicum) dipengaruhi oleh KS, agama-agama miskterik, dan filsafat Neo-Platonisme. Melalui KS, para Bapa Gereja memahami sakramen sebagai bentuk kehadiran Allah dalam sejarah hidup manusia. Wujud kehadiran itu terjadi melalui benda-benda, perbuatan/tindakan, dan firman yang kemudian secara nyata tampak dalam diri Yesus. Yesus menjadi pokok sakramen dalam Gereja. Dari situ para Bapa Gereja menyatakan bahwa sakramentalisme mempunyai segi eskatologis dan menjadi antisipasi simbolik-real parousia. Dan itu kemudia dirayakan dalam ibadat atau tindakan kultis.

Munculnya sakramen-sakramen dalam kekristenan sangat dipengaruhi oleh agama-agama misterik yang subur berkembang di dunia Yunani. Sakramen dilihat sebagai tempat keselamatan eskatologis yang sudah meulai menyentuh dunia. Orang-orang yang mnejalani sakramen mendapat jaminan keselamatan definitif. Dalam agama-agama misterik, "mysterion" memiliki arti "rahasia". Orang yang diinisiasikan wajib merahasiakan lambang-lambang yang nisingkapkan kepadanya.

Filsafat Neo-Plato mengartikan mysterion sebagai ajaran tentang cara mengenal yang ilahi sehingga orang dengan "pengetahuan" itu diilahikan. Pengenalan itu dikhususkan dalam peribadatan. Maka mysterion dimengerti sebagai "perayaan suci". Berdasarkan pemikiran ini, mysterion didefinisikan sebagai pembaktian ritual kepada seorang dewa/dewi dengan jalan inisiasi perihal lambang-lambang yang dipakai dalam ibadat guna memija dewa/dewi itu.

5. Sakramentalisme pada Abad Pertengahan
Pemahaman Gereja tentang saktamen banyak juga dipengaruhi oleh filsafat Aristotelisme (hylemorfisme). Filsafat Aristoteles tidak terutama menonjolkan "misteri Kristus", melainkan "rahmat". Rahmat itu dilambangkan oleh sakramen baik yang berupa perbuatan (upacara) maupun yang berupa benda/barang. Hubungan yang dilambangkan (rahmat) dengan yang lambangnya (sakramen) dijelaskan dengan kategoriu pemikiran Aristoteles: Sebab-Akibat.

Rahmat yang dimaksud adalah gratia creata (rahmat tercipta) bukan gratia incrata (rahmat tak tercipta:Allah, Roh Kudus). Rahmat dipikirkan sebagai benda/barang, yang menjadi sebuah accidens (sifat tambahan) pada manusia. Rahmat dipersonalisasikan, sedangkan sakramen menjadi alat atau wadah rahmat. Padahal, rahmat adalah suatu relasi personal antara Allah dengan manusia yang terjadi melalui Yesus Kristus.

6. Sakramentalisme Reformasi
Para reformator mengatakan bahwa "sakramen tidak memberi rahmat". Pemahaman ini mereka lontarkansebagai kritik atas sakramentalisme Gereja Katolik tentang "rahmat" dan bagaimana manusia dibenarkan oleh Allah. Menurut mereka, Gereja Katolik menjadikan sakramen seolah-olah suatu sarana di tangan manusia untuk menuruhkan rahmat. Bagi mereka, hal yang membenarkan manusia bukanlah sakramen-sakramen melainkan hanya iman (sola fides). Sakramnen merupakan "meterai". Iman dan sakramen menjadi terpisah, sehingga sakramen juga tidak benar-benar perlu. Sebab, sakramen hanya menunjuk kepada misteri penyelamatan, ialah firmat Allah yang menjadikan keselamatan. Jadi, sakramen bukan tanda penerimaan rahmat sebab mereka menolak tindakan penerimaan aktif dari pihak manusia.

7. Teologi Skolastik: "Ek opere operato"
Teolog skolastik, Wilhelm dari Auxerre, memaparkan pemahaman tentang sakramen berdasarkan Hukum Baru: "ex opere operato" (karena apa yang dikerjakan). Artinya, sakramen itu membenarkan karena apa yang dibuat atau dilaksanakan/dirayakan. Istilah "ex opere operato" berarti bahwa daya guna sakramen tidak tergantung pada mereka yang mengadakannya; atau rahmat terikan pada upacara tersebut. Asal upacara itu dirayakan semestinya, maka rahmat ditawarkan oleh Allah. **Fidelis Harefa: Dari berbagai sumber.

Migggu, 6 Desember 1992, saat tiga ratus peserta - sebagian besar wanita - terpana saat menyaksikan film "The Silent of Scream" (Jeritan Bisu) di sebuah seminar yang diadakan oleh Unit Kerohanian Katolik UGM Yogyakarta. Ada yang terkejut dan tertunduk malu, dan ada yang terenyuh meneteskan air mata menyaksikan adegan film dari suatu kisah nyata yang menggambarkan proses direngutnya nyawa jabang bayi melalui abortus (BUSOS) no. 201 Th. XX 1993).

"Jeritan Bisu" sang janin yang dalam kelemahannya masih menunjukkan keinginan untuk menghindari alat yang akan membunuhnya - membuktikan bahwa kehidupan "miliknya".Kisah di atas, hanyalah salah satu dari begitu banyak peristiwa nyata tentang ketidakadilan yang dialami oleh janin melalui tindakan pengguguran. Masalah pengguguguran merupakan persoalan kita bersama sebagai umat manusia, yang selalu berhubungan erat dengan hak hidup dan nilai moral.

Dunia dewasa ini, mengalami banyak perkembangan yang sungguh pesat baik dalam bidang teknologi, medis yang memukau manusia, orang mempergunakannya sebaik-baiknya, tetapi ada juga yang mempergunakan hal itu bertentangan dengan tuntutan moral. Orang sering tidak melihat lagi nilai dan arti hidup sesamanya. Bahkan ada juga orang yang sengaja menggugurkan janin yang ada dalam kandungannya, untuk melarikan diri dari suatu tanggung jawab sebagai seorang ibu. Padahal kewajiban moral mengharuskan untuk menghormati hidup sesama manusia termasuk juga janin yang ada dalam kandungan.Pengguguran merupakan tindakan yang sengaja mengeluarkan buah kandungan dari rahim seorang ibu, sehingga mematikan proses perkembangan dan pertumbuhan janin sebelum tiba saat kelahirannya.

Tindakan yang tidak menaruh rasa hormat terhadap nilai kehidupan janin diakibatkan oleh mereka yang hanya melihat segi kepentingan pribadi saja dan tidak memandang bahwa janin itu adalah manusia yang utuh dan mempunyai hak untuk hidup, merupakan suatu kejahatan durhaka. Tindakan dekadensi moral yang tidak hanya melanda para ibu rumah tangga, tetapi juga telah melanda kaum remaja.Dewasa ini dengan adanya kemajuan teknologi yang canggih dan pesat, beredarnya obat-obatan di pasaran yang begitu bebas praktek dokter, bidan, dukun, dan peralatan lainnya mengakibatkan jumlah pengguguran (abortus "provocatus") semakin tinggi. Tindakan ini dengan sengaja menggugurkan janin, mematikan proses kehidupan dan perkembangan sebelum tiba saat kelahirannya.

Menggugurkan kandungan berarti "mengakhiri hidup janin dalam tubuhnya sendiri, ibu sebenarnya membunuh sesuatu yang ada dalam hatinya yaitu sikap keibuan. Unsur psykologi-sosial kerap mendukung keputusan tersebut, yang kerap bersikap kurag adil terhadap jani. Kita yakin bahwa tindakan pengguguran itu sendiri membawa banyak akibat pada wanita tersebut antara lain:Secara psikologis menggugurkan kandungan itu akan tetap meninggalkan bekas rasa bersalah, dan bagi orang yang beragama rasa bersalah itu juga berarti religiusnya, artinya wanita yang bersangkutan akan merasa berdosa.

Pengguguran dapat dikatakan memperkosa suatu yang hakiki bagi seorang wanita. Sebab pada umumnya wanita mempunyai naluri "pemberi hidup". Kebanyakan wanita yang sedang hamil mempunyai kesadaran kuat bahwa ia telah membunuh anaknya sendiri. Bahkan tidak jarang terjadi perasaan itu begitu mendalam sehingga tidak mungkin dihilangkan lagi.Pada dasarnya tindakan abortus provocatus dinilai sebagai dosa yang berat karena membunuh janin yang tidak bersalah.

Bayi yang masih dalam kandungan yang belum matang fisik dan mentalnya hendaknya dilindungi serta diperhatikan secara khusus termasuk perlindungan yang sah. Setiap orang yang bertindak berlawanan dengan hak hidup merupakan tindakan yang biadap, suatu penindasan dan merupakan perbuatan jahat. Selain itu tindakan tersebut melanggar hak hidup janin, juga melanggar kewajiban etik hormat terhadap hidup orang lain termasuk manusia yang belum lahir.

Bagaimanapun pengguguran yang dilakukan secara langsung dan sengaja tidak dibenarkan sebab merampas hak janin. Dan setiap pengguguran yang disengaja apa pun bentuknya merupakan suatu tindakan yang tidak dapat diizinkan, sebab memperkosa hak fetus atas kehiduapan. Setiap orang percaya bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan Allah dan memperoleh kehidupan dari-Nya.

Kewajiban untuk menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi hidup, bukan saja hidup diri sendiri, tetapi juga hidup sesama manusia baik yang masih ada dalam kandungan maupun yang sudah dilahirkan. Bagaimanapun juga hidup janin yang masih dalam kandungan statusnya bukanlah lebih rendah jika dibandingkan dengan hidup yang sudah dilahirkan. Oleh karena itu ia juga harus dihormati dan sebagaimana layaknya seorang manusia pada umumnya sebagai pribadi yang sedang berkembang dan bertumbuh. Maka dari itu tidak seorang pun berhak menghabisi hidup sesamanya, baik itu hidup yang sudah dilahirkan atau hidup yang masih dalam kandungan. Hidup manusia perlu dilindungi dan dijaga serta dijunjing tinggi sebab terkandung nilai-nilai yang luhur. Sebab hidup merupakan anugerah dan kedaulatan cinta yang berasal dari Allah sendiri.

Bisikan Hati Nurani Hati nurani manusia perlu dibentuk dan dididik agar semakin mampu melahirkan pertimbangan yang matang, sehingga seseorang tahu apa yang harus dan apa yang wajib dan apa yang diizinkan dilakukan dalam situasi konkrit.Bila hati nurani telah dibentuk dan dididik untuk lakukan perbuatan baik akan lebih membantu seseorang dalam bertindak dan menjalankan hal-hal yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu agar suara hati dapat memberikan keputusan dan penilaian yang tepat perlu dididik dengan baik. Hati nurani biasanya dipengaruhi perasaan moral yang terbentuk akan melakukan yang baik dan mampu untuk bersikap kritis.


Membentuk dan mendidik suara hati berarti: "Bahwa kita terus menerus bersikap terbuka, mau belajar, mau mengerti seluk beluk masalah yang kita hadapi, mau memahami pertimbangan etis yang tepat dan seperlunya membaharui pandangan-pandangan kita.Peranan hati nurani dalam diri manusia adalah sebagai pedoman, pengontrol, memutuskan apa yang baik, atau yang tidak baik, yang boleh atau yang tidak boleh untuk dilakukan seseorang. Selain itu hati nurani berperan sebagai penentu bagi prbuatan yang akan datang, menolong kita untuk mengerjakannya atau menghindarinya dan juga merupakan hakin atas perbuatan yang telah lalu. Hati nurani merupakan sumber pembinaan dan juga sumber rasa sesal.


Hati nurani akan memutuskan sebagai baik hal-hal yang benar-benar buruk.Tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa hati nurani yang terbina dan terdidik membuat pribadi seseorang (ibu yang mengandung) lebih tahu dan sadar akan kewajiban terhadap hidup manusia yang masih berada dalam kandungan maupun terhadap hidup manusa yang sudah dilahirkan. Sehingga seorang wanita atau pribadi lain tidak sekehendak hatinya menggugurkan kandungan itu, tetapi tetap berusaha mencari jalan lain yang lebih baik. Kesuali sudah tiada jalan yang lebih baik lagi untuk menyelamatkan hidup kedua-duanya. Untuk itu orang perlu pertimbangan dan matang. Sehingga orang tidak melarikan diri dari kesulitan sebagai orang yang pengecut, melainkan menghadapinya dengan tanggung jawab. Sebab "Manusia harus dihormati dan diperlakukan sebagai priadi sejak saat pembuahan".


Hati nurani berperan mempertimbangkan apa yang harus dipilih dan dijalankan oleh manusia. Dan biasanya jalan yang ditunjukkan oleh hati nurani itu baik. Oleh karena itu diharapkan baik wanita, ahli medis tetap memerhatikan bisikan hati nurani. Khususnya para dokter mempunyak kewajiban sbb:"Agar setiap para dokter dan tenaga medis lainnya tetap mempunyai kebebasan hati nurani dan kebenaran untuk menolak (membantu) menggugurkan, apa bila berdasarkan pertimbangan-pertimbangan lengkap meneluruh yakni bahwa pengguguran tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan karena masih ada jalan lain untuk mengatasi persoalan-persoalan lain yang mungkin muncul apabila kandaungan tetap dipertahankan.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget