MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Maret 2007

Saat duduk santai sesudah doa bersama di sebuah lingkungan, seorang ibu yang duduk di dekatku mengungkapkan pernyataan ‘berkabut’ yang sempat membuatku terkejut. “Sulit menemukan seorang Pastor di keuskupan kita ini. Imam sich banyak.”. Aku yang lagi tercenung menimpali secara sekedarnya, “Oh, ya?”.

Sepulang dari doa lingkungan, aku termenung di dalam kamar. Kata-kata ibu tadi terngiang-ngiang di benak. Menggugah aku? Entahlah. Tetapi yang pasti, aku menjadi tertarik. “Tentu ada sesuatu di baliknya,” aku membathin. Apa maksud sebenarnya dari pernyataan itu? Bukankah menyebut Pastor atau Imam berarti kita dengan sendirinya menunjuk pada orang yang sama yang ditahbiskan oleh Bapa Uskup untuk tugas imamat Tuhan kita Yesus Kristus? Mengapa ibu itu membedakannya? Bahkan kesannya, cenderung menonjolkan sapaan yang satu dan meminggirkan sapaan yang lain.

Dalam keheningan kamarku, tanpa sengaja aku meraih Alkitab dan membolak-balik lembar demi lembar untuk mencari rujukan pengertian kedua kata itu. Kata “Pastor” menurut guru bahasa Latinku di Seminari Menengah dulu berarti gembala. Sementara kata “Imam” sendiri sudah begitu jelas tertera di dalam Alkitab. Gambaran yang kuperoleh adalah sebagai berikut.

Gembala memiliki kisah yang cukup manis dalam Alkitab. Hal ini tidak heran karena sejarah nenek-moyang bangsa Israel sangat dikenal sebagai kisah para gembala. Kita bisa lihat bagaimana Abraham, Ishak, dan Yakub hidup. Begitu juga dengan Daud dalam petualangan masa mudanya sebelum menjadi raja Israel. Yesus dalam Injil Yohanes pun (Yoh 10:1-12) memberikan gambaran yang akurat dan lengkap mengenai kehidupan seorang gembala.

Gembala adalah orang yang hidup dekat dengan ternak. Ia adalah seorang pemelihara dan penjaga kambing domba. Ia mencurahkan seluruh diri dan hidup untuk mereka. Melindungi mereka dari serangan binatang buas. Membimbing mereka menuju sumber air ketika haus dan menuntun menuju hijaunya padang rumput waktu mereka lapar. Dengan demikian, seorang gembala adalah orang yang tidak pernah takut dan gentar terhadap resiko apapun atas jalan yang telah dipilih untuk ternaknya. Sekalipun hujan guntur angin badai membayangi dan menghadang perjalanannya, ia tidak akan pernah meninggalkan ternaknya. Ia melakukan semuanya itu sedemikian rupa, bukan hanya karena ia mengenal dan memahami mereka menurut namanya masing-masing, tetapi karena ia sungguh mencintai mereka. Di mata seorang gembala, prinsip kehidupannya adalah kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan ternaknya. Lantas, keselamatan kawanan gembalaan adalah di atas segalanya dalam hidupnya.

Sementara itu, imam merujuk pada kelompok atau orang yang dikhususkan untuk mempersembahkan persembahan kepada Allah. Dalam tradisi Yahudi, imam adalah pengantara umat dengan Allah di dalam ibadah di Bait Allah. Maksudnya, kurban persembahan umat disampaikan kepada Allah melalui imam. Perannya dalam kehidupan spiritualitas umat menjadi begitu penting karena imam mewakili umat untuk masuk ke ruang Maha Kudus. Di sana, imam tidak saja mempersembahkan kurban tetapi serentak juga berdoa memohon pengampunan dari Allah atas dosa dan kesalahan umat. Dalam tradisi Nasrani, peran ini tetap wariskan pada kelompok yang sama namun dijiwai oleh hidup Yesus Kristus, sang Imam Agung abadi. Menurut surat Ibrani, Kristus adalah Imam Agung abadi karena ketuntasan hidupNya. Ia tidak hanya bertindak sebagai pengantara umat kepada Allah yang disebutNya sebagai Bapa, melainkan juga menjadikan diriNya sebagai kurban penebus dosa di altar (Ibr. 4:14-5:10, 7:1-10:18). Inilah yang membuat kurban persembahanNya lebih mulia, tidak bercacat serta mendatangkan pengampunan dosa dan keselamatan kekal untuk semua umat manusia. Oleh karena itu, imam dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus (Pastores Dabo Vobis, art. 12, bdk juga, Presbyterorum Ordinis art. 2).

Saya mungkin dapat memahami maksud dari pernyataan ibu tadi kalau dirunut dari konteks ini. Kata Pastor (gembala) lebih mengena pada kepedulian dan keterlibatan sosial untuk hidup umat (kawanan gembalaan). Sejauh mana kehadirannya menjawab kebutuhan dan masalah umat. Ini mengatakan soal aksi, tindakan praktis dalam pelayanan pastoral. Sedangkan kata Imam lebih menyentuh pada ibadah dan persembahan dalam kurban altar. Sejauh mana kehadirannya membawa hidup umat di hadapan Allah. Ini mengatakan soal kontemplasi, penghayatan ke-pengantara-annya dalam doa. Namun, sesunggunya kedua kata ini menegaskan satu hal yang sama. Sejauh mana keutuhan hidup Kristus sebagai Gembala dan Imam Agung yang diikutinya diwujudkan dalam hidup, diaktualkan dalam kata serentak perbuatan. Bukankah Yesus sendiri sudah mengingatkan kita bersama bahwa seringkali khotbah di mimbar lebih mudah daripada kesaksian hidup di tengah masyarakat dalam kisahNya tentang “Orang Samaria yang Baik Hati”. Sebab ketika terjadi ketimpangan dalam kenyataan “Surat Gembala” akan dibalik dengan “Surat Domba”. Bisa jadi “Litani serba salah sang Pastor” merupakan dalih yang aman untuk berlindung. Ataukah semangat inkarnasi Kristus telah menjadi “padang bayang kelabu” dalam menghayati RELASI kita satu sama lain? **Ehe Atatukan._

Dulu, ada pepatah mengatakan bahwa “banyak anak, banyak rezeki”. Istilah ini sudah lama sekali ada di Indonesia. Dalam perjalanan waktu, orang mulai merasa kekurangan lahan pekerjaan, lokasi tempat tinggal dan kebutuhan lain. Menurut para ahli, salah satu penyebabnya adalah perkembangan penduduk yang semakin tahun semakin meningkat mencapai angka tertinggi.

Berdasarkan pendapat ini pulalah dulu program KB dicanangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat. Karena pada dasarnya KB bertujuan baik, banyak orang mendukung dan menggemari untuk melaksanakannya. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, mulai ditantang oleh beberapa pihak dan tidak setuju dengan program KB. Misalnya Gereja Katolik. Alasannya adalah karena nampak-nampaknya KB bertujuan untuk mematikan sel telur dalam rahim seorang wanita dengan berbagai cara. Bahkan zigot (sel telur yang sudah dibuahi oleh sel sperma pun dimatikan). Tindakan-tindakan itu akhirnya bertentangan dengan pandangan moral Katolik sehingga program KB seperti itu tidak disetujui dalam Gereja Katolik.

Kesulitan ini menimbulkan banyak reaksi dan tentunya untuk mencari jalan keluar dari pro dan kontra terhadap program KB tersebut. Pada tahun 1978 KWI mengambil inisiatif dan mengirim satu delegasi yang terdiri dari staf medis dan seorang moralis ke Australia. Tujuannya adalah untuk mempelajari MOB (Metode Ovulasi Billings) salah satu bagian dari KB alamiah. Berdasarkan laporan dan hasil penelitian berbagai pihak tentan MOB ini, akhirnya pada tahun 1990 diakui berlaku untuk Indonesia dengan SK.BKKBN No.6668/K.S.002/E2/90.

Apa sebenarnya MOB itu? MOB adalah salah satu metode KBA yang dikembangkan oleh Dr. John J. Billings dan istrinya Dr. Evelyn L. Billings. Metode ini dapat membantu perermpuan mengenal secara tepat hari-hari suburnya, khususnya hari ovulasi yakni lepasnya sel telur dari ovarium dan masuknya ke dalam saluran telur untuk dibuahi oleh sel sperma. Dengan mengetahui hari-hari subur ini, kehamilan dapat dikendalikan asal suami istri sanggup berpantang dan tidak melakukan hubungan suami-istri.

Berdasarkan penelitian para ahli dan hasil esperimen yang telah diperoleh, masa subur seorang wanita berkisar satu minggu lamanya. Penjelasan lebih lanjut tentang MOB ini dapat dilihat melalui gambar berikut ini.


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget