MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Memaknai Penderitaan

Kitab Suci Kristen melukiskan bahwa Allah itu Mahakuasa, Maha pengasih dan Maha penyayang. Dan Gerejapun mengajarkan hal serupa kepada umat beriman bahwa Allah itu pencipta segala yang baik dan Dia adalah penggerak pertama (Actus Purus), tidak ada kuasa yang lebih besar di luar kuasa-Nya.

Namun bila berhadapan dengan penderitaan di bumi, manusia terkadang bertanya, benarkah Allah itu mencipta baik adanya? Benarkah Tuhan itu Maha pengasih dan penyayang? Kalau memang Allah itu pengasih dan penyayang, bagaimana mungkin penderitaan itu ada di muka bumi ini? Dan yang menjadi persoalan lain yakni mengapa penderitaan itu harus dialami juga oleh orang-orang yang baik dan saleh? Dan mengapa Allah itu tidak menghukum orang jahat?

Pertanyaan-pertanyaan refleksif di atas tadi mengajak kita untuk mencoba mengerti dan memahami makna penderitaan di bumi dan bagaimana iman Gereja berbicara tentang penderitaan manusia di bumi. Penderitaan bagi kebanyakan orang selalu dihubungkan dengan dosa (hukuman Tuhan) sedangkan sebagian lagi memahami penderitaan secara positif yakni sebagai batu uji menuju keselamatan.

Beberapa Pandangan Tentang Penderitaan

Menurut Kitab Suci, penderitaan merupakan sesuatu yang tidak baik atau sesuatu yang sama sekali berlawanan dengan apa yang dikehendaki baik berhubungan dengan fisik maupun psikis. Penderitaan ini bisa mencakup penderitaan fisik, emosional, penderitaan karena orang lain atau demi orang lain. Mengapa manusia menderita? Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama melukiskan bahwa penderitaan tidak dikehendaki Allah. Dasar biblisnya yakni Kej. 3:1-24 yang mengungkapkan bahwa Allah pencipta tidak menghendaki adanya penderitaan. Demikian juga dengan Kej. 1:1-2:4.a yang mengatakan bahwa, Allah melihat bahwa semuanya baik. Penderitaan dan kematian justru ada setelah manusia jatuh dalam dosa dan diusir oleh Allah dari Taman Eden (Firdaus) Kej. 2:4.a-3:24.

Penderitaan dalam arti umum dan mendasar merupakan bagian dari penderitaan manusia. Penderitaan itu mencakup keseluruhan hidup manusia baik secara jasmani maupun rohani (somatis-psikologis karena antara keduanya tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain lain). Dari kaca mata psiko-spiritual melihat bahwa penderitaan jasmani tidak melulu hanya disebabkan oleh hal-hal atau faktor fisik melulu tetapi juga dipengaruhi sikap hidup, perasaan, relasi dan konflik.

Maka benar apa yang dikatakan Plato bahwa kesalahan besar pengobatan sakit jasmani adalah bahwa dokter melalaikan keseluruhan. Belajar dari kebijaksanaan zaman dulu bahwa kesehatan yang benar dan sejati tercapai apabila orang hidup dalam harmonis dengan dirinya, orang lain dan lingkunganya dan tetap bersikap seimbang menhadapi perubahan-perubahan dan tantangan dan mengembangkan kekuatan penyembuhan dari dalam diri sendiri. Atau dengan kata lain, sehat mencakup keseluruhan dan utuh (wholeness). Penderitaan sendiri pada dirinya tidak pernah baik tetapi menjadi tugas dan panggilan kita untuk menyembuhkannya. Penderitaan mestinya diterima sebagai sumber kekuatan untuk mentransformasi diri dan membiarkan penderitaan itu meragi diri kita.

Yesus sendiri menerima salib, penderitaan dan kematianNya dan akhirnya menjadi saluran cinta yang membebaskan. Maka bagi orang kristen salib yang diterima seharusnya menjadi sarana yang membebaskan. Dan dengan salib itu, kita juga membiarkan kekuatan yang sama mengalir. Memang tidak semua penderitaan adalah salib tetapi setiap penderitaan dapat ditebus oleh salib.
Pandangan moral katolik cenderung memahami penderitaan dalam kaitannya dengan keterlibatan Tuhan dalam kehidupan manusia. Penderitaan tidaklah semata-mata karena kelemahan biologis manusiawi tetapi juga terjadi karena dosa.

Setelah memahami beberapa pandangan tentang penderitaan di atas, apakah pandangan kita tentang penderitaan itu sendiri? Adakah kita melihat penderitaan sebagai hukuman atas dosa-dosa kita? Adakah kita melihat penderitaan sebagai sebuah ketidakadilan dari pihak Allah? Adakah penderitaan kita lihat sebagai awal sesuatu yang baru?

Apakah Tuhan menciptakan penderitaan?

Saya kira jawabannya tetap menjadi suatu misteri. Namun untuk mengerti hal ini, kita mesti memahami ungkapan dalam Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi, terang dan gelap, kebaikan dan penderitaan. Ungkapan ini hendak menunjukkan bahwa Allah adalah penguasa segala sesuatu, Allah berkuasa atas seluruh jagat raya dan yang ditekankan lagi yakni ke-Esa-an Allah. Ungkapan pohon pengetahuan yang baik dan jahat menunjukkan privelege Allah. Ini berarti penderitaan itu sendiri misteri yang hanya dapat dimengerti dan diselami dengan hati penuh iman akan kasih Tuhan yang senantiasa berlimpah untuk manusia.

Memaknai Penderitaan

Kalau penderitaan sebagai akibat dari dosa dan atau sebagai bagian dari kehidupan manusia seperti dituturkan di atas, apakah kita menerima atau menolak penderitaan begitu saja? Penderitaan tidak hanya bernilai negatif melainkan juga mengandung nilai positif. Nilai positifnya: penderitaan merupakan sarana pendidikan. Allah memakai penderitaan untuk mendidik umat-Nya. Melalui penderitaan, orang dituntun kembali pada kebahagiaan dan kesetiaan. Penderitaan juga berperan sebagai batu uji untuk memurnikan manusia dan mendekatkannya kepada Allah. Melalui pendertiaan, Allah mengharapkan manusia untuk merubah pola laku dan untuk makin paham akan nilai atau makna cinta dan kehidupan.

Lebih dari itu, setiap penderitaan, sakit dan atau musibah yang terjadi dapat menjadi koreksi bagi setiap orang. Koreksi akan apa yang pernah dilakukan di masa yang lalu demi masa depan yang lebih baik. Orang yang berpikir jernih dan profesional tidak perlu melemparkan kesalahan kepada orang lain kalau menemui kesulitan. Tidak perlu mencari tumbal, yang menjadi korban sebagai pelampiasan amarah, rasa kecewa atau sakit hati. Karena, berbuat demikian, bukannya mengurangi penderitaan tetapi malah semakin masuk ke dalam penderitaan itu dan hidup dalam kecemasan dan kegelisahan batin yang tak henti-hentinya.

Penderitaan bisa saja datang dalam berbagai bentuk yang sederhana. Saat harga diri terancam, saat keinginan kita tidak tercapai, saat ada orang yang menghambat kecenderungan kita, saat ada orang yang mengetahui dan mengorek kesalahan kita, dll. Semua itu datang dalam porsinya masing-masing. Menutup mata dan diri terhadap semua itu tidak membawa perubahan, malah akan membawa ke kehancuran yang kekal dan pada akhirnya jatuh dan malu.

Masalah, musibah, penyakit dan aneka macam hal yang merugikan dapat dilihat sebagai acuan untuk mengoreksi diri. Perlu pembuktian dan menggali maknanya. Yang disayangkan adalah bahwa tidak semua orang mempunyai pemahaman yang sama dalam melihat penderitaan.

Berhadapan dengan pengalaman derita manusia atas penderitaan, Gereja ditantang untuk menunjukkan sikap yang benar dan tepat. Gereja mesti mengikuti teladan Yesus yang dengan murah hati melayani dan menyembuhkan orang sakit dan menderita. Meneladani jiwa dan teologi kegembalaan Yesus yang mencari domba yang hilang dan membawanya kembali, bukan membiarkan atau mengusirnya. Gereja mesti menunjukkan diri sebagai sarana keselamatan dengan menjalankan Tugas Gereja Membimbing, Memimpin, dan Menguduskan melalui pelayanan sakramen-sakramen, khususnya sakramen-sakramen Penyembuhan (Pengurapan dan Tobat).

Fidelis Harefa

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget