MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

2011

Tulisan ini berinspirasikan sebuah pertemuan remaja yang berlangsung di salah satu daerah di Kalimantan Tengah, yang kebetulan pada saat itu saya diminta sebagai salah satu  pembicara  dalam topik Remaja dan Teknologi. Yang sangat berkesan bagi saya, bukanlah pembahasan topik demi topik, tapi acara perkenalan yang mengawali seluruh kegiatan. 

Peserta yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan budaya itu memperkenalkan diri masing-masing. Perkenalan yang sangat mengundang tawa itu begitu dinikmati oleh peserta karena mereka meperkenalkan diri sambil menyelipkan kalimat-kalimat yang lucu berbau humor dalam perkenalannya. 

Seorang pemuda pun berdiri dan memperkenalkan diri. Salah satu kalimat yang terungkap adalah bahwa status perkawinannya: Sudah Kawin tapi Belum Nikah. Pemuda ini mengakuinya dengan bangga dalam perkenalan itu. Banyak dari peserta tertawa dengan kalimat tersebut sehingga memicu peserta lain yang memperkenalkan diri berikutnya menggunakan kalimat yang sama, 

Sudah Kawin tapi Belum Nikah

Tulisan ini secara khusus mentengahkan topik: Kebanggaan Muda-Mudi dalam Konteks, Sudah Kawin tapi Belum Nikah? Ternyata yang dipahami oleh para remaja ini tentang kata KAWIN dan NIKAH adalah: Kawin, apabila pernah melakukan hubungan suami-istri, berhubungan kelamin di luar pernikahan atau pra-pernikahan; Nikah, apabila telah mengikat janji untuk membentuk keluarga sehingga sah menurut hukum, agama dan adat. 

Pengakuan-pengakun seperti ini menurut saya bukanlah sebuah kebanggaan, tetapi menunjukkan kemerosotan moral. Di negara Indonesia, sebagai negara hukum dan juga negara beragama, hubungan suami-istri hanya diakui sebagai sah bila hal itu terjadi dalam sebuah pernikahan. Hubungan suami-istri di luar pernikahan yang sah dinyatakan sebagai pelanggaran dan dosa. 

Dengan berbagai cara, Gereja Katolik telah melaksanakan kegiatan pemahaman kehidupan keluarga kepada umat, secara khusus bagi remaja yang akan melangsungkan pernikahan. Kursus Pra Perkawinan sangat memegang peran sentral dalam hal ini. 

Ajaran Gereja Katolik mengharuskan seseorang untuk tidak melakukan "kawin" sebelum menerima sakramen perkawinan. Ini secara tegas disebutkan dalam Perintah Allah, "Jangan Berzinah". Oleh karena itu, meskipun hanya sebatas "guyon" demi sebuah tawa, perkenalan seperti di atas tidak bermuatan positif, apalagi dalam pertemuan remaja.


Membicarakan dan bahkan memperjuangkan keadilan rasanya tidak mengenal batas waktu. Dari zaman para filsuf Yunani kuno hingga sekarang, banyak orang memberikan definisi tentang keadilan. Setiap orang mendefinisikan dan membuat pemahaman tetntang tentangnya. Anaximander (Seorang Filsuf Yunani Kuno) menyebut keadilan dengan istilah “DIKE” yang artinya: Keteraturan hidup bersama sesuai dengan keharusan alamiah. Saat itu keadilan dimengerti sebagai suatu suasana seimbang antara berlangsungnya kehidupan manusia dalam hukum manusiawi dan hukum alam. Pengertian ini erat kaitannya dengan Polis atau tempat terjadinya hidup bersama anatara manusia itu sendiri.

Pandangan tentang keadilan berkembang terus-menerus dengan pengertian yang sangat berbobot. Hingga pada zamannya, Thomas Aquinas mengelompokkan keadilan dalam tiga kelompok yakni iustitia distributive, iustitia commutative dan iustitia legalis (Keadilana distributive, tuka-menukar dan legal). Ini adalah sebuah bukti nyata bahwa “keadilan” merupakan kebutuhan yang paling penting dalam kehidupan manusia. Keadilan distributif adalah keadilan yang menyangkut hal-hal umum seperti jabatan, pajak dan sebagainya yang harus dibagi menurut kesamaan geometris. Keadilan tukar-menukar menyangkut transaksi-transaksi jual-beli yang ukurannya bersifat aritmetris. Keadilan legal menyangkut keseluruhan hukum sehingga dapat dikatakan bahwa kedua keadilan tadi termasuk dalam keadilan legal ini.

Usaha para tokoh mendefinisikan keadilan sesungguhnya merupakan bukti bahwa kerinduan akan suasana adil sungguh melekat dalam hati manusia. Dalam Kitab Suci, baik PB maupun PL, keadilan seringkali disamakan dengan kesetiaan dan cinta Allah yang teguh dan tidak goyah (Mi 7:8-20). Dalam PB, keadilan dinyatakan oleh Yesus Kristus (Raja Mesias) dalam penyelamatan yang dianugerahkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Pendek kata, keadilan lebih sering digambarkan sebagai sebuah situasi di mana setiap orang mengalami kasih dan keselamatan. Dalam tradisi kristiani, keadilan merupakan salah satu bagian dari keutamaan dasar selain kebijaksanaan, ugahari dan keberanian.

Dalam pendidikan Pancasila di Negara kita, keadilan lebih dimengerti sebagai suatu upaya membiarkan orang lain menerima apa yang menjadi haknya. Keadilan lebih sering dipermasalahkan bila bersinggungan dengan hak. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi di antara kita? Sekarang ini rakyat kita sering dipenuhi perasaan cemas, gusar dan bingung dengan berbagai laga atraksi permainan elit politik. Kita sering khawatir bila para wakil rakyat tidak menyuarakan suara rakyat, maka yang terjadi adalah pertumpahan darah. Banyak di antara kita yang telah bosan dengan kekerasan terus-menerus yang menghantui mereka. Kita semua mengharapkan agar keadaan seperti ini cepat berakhir agar terwujud perdamain sejati di mana setiap orang bisa mengungkapkan ekspresi kebebasan dan jati dirinya sebagai manusia. Tidak ada lagi perasaan yang satu dipinggirkan dan yang lain diuntungkan. Namun, harapan ini kelihatan menjadi tipis karena ada rumor bahwa wakil rakyat kita tidak lagi mendengarkan suara rakyat. Mereka mulai lupa akan janjinya. Janji tinggal janji dan rakyat hanya tinggal menagih janji. Mengapa rakyat harus turun ke jalan lagi? Karena wakil rakyat tidak memiliki hati nurani, mereka hanya mencari kedudukan, kekuasaan dan harta. Rakyat tidak bisa lagi ditipu dan dijebak dengan retorika yang indah. Justri inti persoalan sekarang telah dikaburkan oleh elit politik kita.

Pengalaman rakyat terus-menerus dijebak untuk memilih pilihan yang serba sulit ibarat buah simalakama. Kerap kali pilihan rakyat dikalahkan dengan proses di ruang sidang. Dan sering persoalan ini diselesaikan secara mudah dengan logika “demokrasi system voting” suatu pilihan yang penuh dengan jebakan.

Yesuspun pernah mengalami hal yang sama untuk memilih dua pilihan yang sulit yakni antara boleh dan tidak boleh membayar pajak kepada kaisar. Kalau Yesus mengatakan boleh membayar pajak, maka Yesus yang pertama-tama melanggar perintah agama karena Raja satu-satunya adalah Allah. Yang dipersoalkan bukan besarnya uang yang diberikan, tetapi pengakuan terhadap kaisar ini yang melanggar perintah agama. Elit politik Yahudi yang terdiri dari ahli taurat, kaum sandhedrin dan mahkamah agama akan menggunakan dalil bahwa Yesus melanggar perintah agama. Alasan politisnya, Yesus dituduh makar, sebab mengajak masyarakat untuk membangkang terhadap kekuasaan Romawi. Dalam kondisi terjepit Yesus memberikan jawaban yang tepat: “Berikanlah kepada kaisar yang menjadi hak kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”. Dengan sikap ini, Yesus ingin mendudukan persoalan bagaimana sikap orang Kristen terhadap pemerintah. Yesus mengajar umatnya untuk membiarkan orang lain menerima apa yang menjadi haknya. Sekaligus Yesus memberi teladan menempatkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan tugas, kewajiban dan hak masing-masing tanpa mengorbankan orang lain. Dengan demikian, sekarang menjadi tugas kita umat kristiani, secara khusus umat katolik menghadirkan kembali ketegasan Yesus dalam menempatkan segala sesuatu pada tempatnya menurut hak, kewajiban dan peranan masing-masing baik dalam lingkungan masyarakat maupun dalam keluarga kita sendiri.

Untuk mewujudkan keadilan di antara kita, kita harus sanggup bersikap kritis seperti Yesus. Kita harus kritis menilai kekuasaan itu tidak bebas kepentingan. Kita harus sanggup meletakkan kekuasaan itu dalam kerangka milik Tuhan. Apa yang menjadi hak Allah harusnya dihormati oleh penguasa. Hak Allah itu adalah adanya jaminan kebebasan, baik berpendapat, berkespresi dan beribadat. Dan hak Allah itu nyata hadir dalam hidup manusia sendiri. Hak hidup dan hak untuk memiliki merupakan hak Allah yang diabadikan dalam setiap manusia. Bila hak itu dirampas dari manusia, itu berarti hak Allah tidak dihargai dan dilecehkan.

Kita tidak perlu berteriak soal keadilan bila kita tidak sanggup meletakkan moralitas agama dalam kerangka nilai kemanusiaan. Karena keadilan merupakan keutamaan yang didambakan oleh setiap orang tanpa batas waktu. Untuk itu, umat kristiani khususnya umat katolik dipanggil untuk mengusahakan pemerintahan yang menjamin keadilan, kemanusiaan dan kesejahteraan. Panggilan ini akan terwujud bila kita semua berani menjadi saksi kebenaran, kejujuran dan keadilan. Iman kita harus menjadi iman yang membebaskan segala belenggu tersebut. Dan tentunya kita harus memulainya dari gereja kecil yakni keluarga kita masing-masing, kemudian kita teruskan ke lingkungan masyarakat dan Negara kita. Kita harus sanggup menjadi teladan seturut teladan Tuhan kita Yesus Kristus. Kita harus tetap menghargai usaha para tokoh memberi definisi akan keadilan dengan melaksanakannya dalam kehidupan kita saat ini. Kapan dan di mana semuanya ini akan terwujud? Kini, tugas dan tanggung jawab diserahkan kepada kita.

1. Pengantar

Memasuki era industri seperti sekarang ini, Gereja dihadapkan dengan satu tantangan baru; dunia Perburuhan. Panggilan Gereja untuk “mendahulukan orang-orang miskin”, semakin mendapat tantangan. Di setiap tempat di dunia ini terdapat banyak sekali orang miskin yang membutuhkan perhatian Gereja. Berhadapan dengan kaum buruh yang merupakan bagian dari kaum miskin dan yang terpinggirkan, maka peran aktif Gereja senantiasa dituntut. Solidaritas Gereja terhadap mereka yang miskin itu hendaknya dikonkritkan lewat keprihatinan-keprihatinan dan pendampingan-pendampingan yang dapat meningkatkan harkat dan martabat mereka.


2. Siapa Kaum Buruh?

Arti Buruh Secara Umum



Buruh adalah orang yang menjual tenaganya demi kelangsungan hidupnya. Ia tidak memiliki sarana atau faktor produksi selain tenaganya sendiri. Ia bekerja untuk menerima upah. Buruh adalah sumber daya manusia yang diperlukan dalam produksi selain pengusaha dan pemilik modal. Buruh dapat dibedakan melalui jenis-jenis kerjanya antara lain; buruh industri, buruh tani, bangunan, dan melalui perjanjian buruh lepas dan buruh tetap. Mereka bekerja sesuai dengan kemampuannya, bahkan mengabdi sebuah industri dengan tujuan mendapatkan upah yang pantas. Kalau jasa mereka tidak setimpal dengan upah yang diberikan ini akan menimbulkan masalah antara buruh dan pengusaha/pemilik modal. Karena kaum buruh sering diartikan sebagai faktor produksi semata-mata, maka timbul masalah-masalah sosial sehingga diperlukan perlindungan hukum tentang upah, jaminan kerja serta jaminan lainnya agar martabat buruh sebagai manusia tetap diperhatikan.

Untuk melindungi martabatnya, di Indonesia istilah buruh diganti dengan istilah pekerja. Tujuannya ialah mengembalikan citra buruh yang sering kali tidak diperhatikan secara manusiawi dalam kaitannya dengan produksi. Pola hubungan kerja disebut hubungan perburuhan Pancasila yang kemudian diganti dengan hubungan industri Pancasila.

Tahun 1944 di Philadelphia diadakan ikrar bersama oleh Organisasi Perburuhan Internasional yang disebut Declaration of Philadelphia. Isi dari pertemuan itu ialah sebagai berikut:

- Buruh bukan barang dagangan

- Setiap orang tanpa perbedaan ras, kulit, kepercayaan dan jenis kelamin, mempunyai hak untuk mengejar kehidupan yang layak secara material dan Spiritual.

Rumusan di atas merupakan salah satu dari banyak rumusan yang mengetengahkan pengertian dan pemahaman tentang siapa itu buruh. Dua rumusan ini menggambarkan situasi dan kondisi pribadi manusia yang termasuk golongan pekerja yang mendapat upah dari hasil karyanya. Buruh bukan barang dagangan; dari pengertian ini mau ditekankan bahwa para buruh merupakan pribadi manusia yang bekerja sesuai dengan nilai kemanusiaannya bukan atas dasar barang dagangan yang dapat ditawar-tawarkan.

Kaum buruh, mulai dikenal sejak munculnya paham marxisme dan liberalisme serta memuncak pada revolusi industri di Perancis; mewakili potret situasi keterkungkungan dari penindasan kaum pekerja oleh para majikan. Banyak hal yang mengarahkan para buruh untuk menuntut keadilan bagi diri mereka. Tuntutan itu diarahkan kepada para pemilik modal perusahaan, agar memberikan keadilan bagi kesejahteraan mereka.

Perjuangan kaum buruh menuntut upah yang pantas, merupakan salah satu jalan agar para pengusaha memperhatikan mereka. Dewasa ini di bawah organisasi buruh dunia (ILO) bahkan di tingkat negara-negara banyak orang yang memperjuangkan nasib para buruh agar diberi kelayakan hidup dari hasil jerih payah mereka.

3. Arti Buruh Menurut Kitab Suci:

3.1 . Perjanjian Lama

Istilah buruh tak dapat dilepaskan dari kerja. Kerja dalam KS PL amat dihormati. Khususnya para Buruh/pekerja keahlian yang mempunyai kemampuan untuk membuat barang-barang; misalnya tukang perak, pengasah batu, tukang kayu, tukang tenun. Di seluruh PL prinsip-prinsip berikut amat menonjol:

- Buruh/pekerja adalah Bagian yang Utuh dari kehidupan

Konsep ini muncul dari pandangan yang penuh penghargaan terhadap tanggung jawab kepada keluarga. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan mereka membuat seseorang tersingkir dari masyarakatnya. Setiap anak Yahudi dituntut belajar melakukan pekerjaan manual. William Barclay menuliskan bahwa: Bagi seorang Yahudi kerja amatlah penting, kerja adalah intisari kehidupan. Orang-orang Yahudi mengenal ungkapan “orang yang tidak mengajar anak lelakinya berusaha, mengajarnya mencuri”. Seorang nabi Yahudi sama kedudukannya dengan seorang dosen atau profesor di perguruan tinggi, tetapi menurut hukum Yahudi ia tak boleh menerima satu sen pun dari tugas mengajarnya; ia harus menguasai suatu bidang usaha yang dilakuknnya dengan tangannya dan dengan demikian ia memenuhi kebutuhannya sendiri. Karena itu ada rabi yang menjadi tukang jahit, tukang sepatu, tukang cukur atau tukang roti dan bahkan pula menjadi aktor. Bekerja bagi seorang Yahudi adalah kehidupan. Kejatuhan manusia mengubah tingkat kesukaran buruh, tetapi nilainya tetap. Banyak orang Kristen mengira bahwa jatuhnya manusia di Taman Eden membuat kerja/buruh jadi terkutuk. Baiklah kita memeriksa nas itu secara lebih teliti (lih. Kej 3: 13, 16-19). Ayat-ayat itu tidak mengajarkan bahwa buruh/kerja itu sendiri kena kutuk atau merupakan hasil dari kutukan. Tetapi yang jauh lebih penting lagi ialah, sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Allah menetapkan bahwa kerja itu baik. Dalam kej 2:15, kita membaca, ” Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkan dan memelihara taman itu”.

Hal yang pertama sekali Allah berikan kepada manusia adalah tugas atau kerja. Ia mempunyai kerja mengusahakan dan memelihara taman itu. Sebelum Allah memberikan Hawa kepadanya, ia memberikannya kerja. Kerja adalah bagian dari rencana Allah sejak awal mulanya.

- Setiap Orang Harus Bekerja

Kerja berarti kemuliaan. Kel 34:21 memberikan perintah seperti berikut: “Enam harilah lamanya engkau bekerja tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga”. Biasanya tekanannya diberikan pada istirahat satu hari dalam seminggu. Tetapi perhatikanlah bahwa ayat ini mengatakan bahwa “enam hari lamanya engkau bekerja.” Itu adalah perintah, bukan pilihan. Kemalasan dikutuk. Setiap orang memberikan sumbangannya dalam mendukung keluarganya. Dalam Amsal 3:6-8, Allah memerintahkan kita mengamati semut dan belajar: semut bekerja keras untuk mengumpulkan makanan agar dapat hidup terus. Ingatlah bahwa kerja di masa kini mencakup segala sesuatu yang dilakukan untuk melangsungkan kehidupan keluarga, bukan sekadar kerja dalam suatu usaha. Karena itu pada zaman sekarang ini enam hari mencakup pula tugas memotong rumput di halaman, mengecat rumah dan memperbaiki mobil. Kerja jelas merupakan bagian penting dari kehidupan.

- Kerja Keras Memberikan Kepuasan

Kitab Amsal penuh dengan peringatan tentang kerja keras yang sangat erat kaitannya dengan perburuhan. Misalnya dalam 18:9, dikatakan bahwa ” Orang yang bermalas-malas dalam pekerjaannya sudah menjadi saudara dari si perusak”. Lalu “kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar” (19:15). PL mencela kemalasan dan memuji kerja keras.

Manusia tidak boleh menjauhi kerja, melainkan dipuaskan oleh hasil kerja tangan atau pikirannya. “Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak” (Pkh 5:11), dan “dalam tiap jerih payah ada keuntungan” (Ams 14:23). “Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih bagi manusia daripada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya” (Pkh 3:22).

- Setiap Pekerjaan yang Halal Patut Dihormati

Kita melihat segala jenis pekerjaan mendapatkan pujian:

· Kerja Buruh (1 Raja 5:7-18)

· Pekerjaan Manual (Kel 36:1-2)

· Usaha dagang/kepemimpinan (Kitab Daniel & Musa)

· Usaha yang membutuhkan pikiran/ilmiah (Kitab Daniel).

Sejumlah pekerjaan tertentu dianggap “tidak halal” atau tidak dihormati. Antara lain adalah: Pelacuran, memberikan pinjaman dengan bunga yang tinggi, setiap usaha yang dilakukan dengan menipu atau mengambil keuntungan dari orang miskin, atau setiap usaha yang dilakukan secara tidak jujur.

3.2 . Perjanjian Baru

Dalam PB, kerja diasumsikan sebagai cara yang normal bagi kehidupan setiap orang. Tak satupun dari konsep-konsep PL dibuang, melainkan justru dikuatkan, dengan penekanan tambahan pada sikap orang yang bersangkutan terhadap kerjanya dan majikannya. Jadi bahkan dalam konteks anugerah, orang tidak dapat lolos dari tanggungjawabnya untuk bekerja. Malah, kini bukan hanya kerja, tetapi seberapa baik ia melaksanakan tugasnya. Beberapa prinsip kunci yang perlu kita pertimbangkan sehubungan dengan kerja/buruh dari PB yakni:

- Tidak Bekerja, Tidak Makan

Surat 2 Tesalonika 3:10 mengatakan, “jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”. Pernyataan ini Keras. Di manakah belas kasihan sosial kita? Di masa ketika kompensasi bagi pengangguran dan subsidi-subsidi sosial dijamin, dengan sikap demikian, Paulus mungkin tidak akan begitu populer pada pemilihan umum bahkan juga di antara orang-orang Kristen sendiri. Tetapi surat itu mengatakan, “Jika seorang tidak mau bekerja”. Hal ini menandakan tidak ada pilihan. Paulus tidak berbicara tentang orang-orang sakit, lanjut usia atau cacat, yang tidak punya pilihan. Aturan ini berlaku bagi orang-orang yang memilih untuk tidak kerja (yang terlalu malas), terlalu rewel memilih, atau terlalu tidak bisa diandalkan untuk memegang suatu pekerjaan. Ayat 14 melanjutkan bahwa kita tidak boleh bergaul dengan orang yang menolak untuk bekerja dan menjadi benalu bagi masyarakat. Ada alasan-alasan yang kuat bagi seseorang untuk tidak bisa bekerja, dan kita tetap bertanggungjawab untuk saling mendukung dalam keadaan-keadaan seperti itu.

- Cukupilah kebutuhan keluarga anda; lih. 1 Tim 5:8

- Jadilah Pegawai yang taat dan penurut; Lih. Kolose 3:22, Bdk. Kis 24:16; cukupkanlah dirimu dengan gajimu (hak) – Lk 3:14; lih. juga 1 Petrus 2:23 , jangan membalas dan memaki.

- Jadilah Majikan yang adil; lih. Kol 4:1.

- Jadilkan kesempurnaan tolok ukur pekerjaan anda; lih. 1 Tes 4:11-12.

4. Kaum Buruh dan Gereja

Fenomena hidup kaum pekerja yang sejak dulu mendapat perhatian yang serius dari pihak Gereja. Dalam memperjuangkan prinsip keadilan terhadap pekerja, patut diteropong pandangan dan sikap simpati Paus Leo XIII, yang mengeluarkan Ensiklik Rerum Novarum; yang memaparkan masalah-masalah yang hidup di tengah kaum buruh. Ensiklik ini pertama-tama ditujukan bukan kepada kaum buruh, melainkan pada pemimpin-pemimpin Gereja.

Buruh dan usahawan yang dimaksudkan di dalam Ensiklik adalah orang Katolik dan karenanya masalah sosial menjadi juga masalah Gereja. Gereja tidak boleh berpangku tangan melihat kenyataan yang hidup dan mewarnai kehidupan manusia.

Uraian Ensiklik RN ini mengetengahkan dua golongan yang berbeda yakni buruh dan usahawan. Masalah buruh bukan sekadar masalah harta dan pembagian kekayaan; kemelaratan kaum buruh adalah masalah kebebasan kaum buruh dan penghargaan terhadap pribadi manusia.

Di samping itu juga, dihadirkan oleh pihak Gereja lewat Rerum Novarum mengenai upah; keseimbangan antara kemajuan ekonomi dan perkembangan sosial di kalangan buruh. Begitu juga buruh katolik diberi persetujuan dari Paus untuk berpartisipasi dalam keorganisasian bukan katolik. Kebebasan ini merupakan tawaran yang terbuka dari pihak Gereja agar para buruh katolik dapat menempatkan diri sesuai dengan nama yang berlaku.

Yang paling utama dalam membela hak para buruh ini terletak pada pengakuan martabat mereka sebagai manusia. Pada dasarnya; perlakuan para pemilik modal terhadap buruh adalah memandang buruh sebagai barang dagangan yang harus mempunyai daya jual. Hal inilah yang dipandang Gereja terhadap para buruh; bahwa hak mereka tidak dihargai. Untuk itulah kaum buruh karena lemah berhak mencari kekuatan dalam kesatuan dengan membentuk serikat buruh. Perwujudan ke arah perserikatan ini di dukung oleh Gereja.

Dukungan Gereja bagi kaum buruh merupakan tanda partisipasi pihak Gereja yang terkait di mana para buruh berdomisili. Sikap Gereja/optio terhadap kaum buruh menjadikan kaum buruh sebagai pribadi manusia yang punya martabat. Nilai kemanusiaan kaum buruh untuk mendapat kelayakan dari hasil kerja mereka harus sesuai dengan standard yang mensejahterakan hidup mereka.

5. Spiritualitas Kerja/Buruh

Pengaruh globalisasi menuntut industri-industri menghasilkan produk-produk atau jasa yang bermutu prima. Suatu perusahaan akan kalah saing bila tidak mendatangkan produk-produk bermutu. Sehubungan dengan ini majikan dan para buruh dituntut untuk mampu bekerja secara profesional. Dari pihak majikan tuntutan yang berlebihan tanpa kesesuaian dengan hak dan kewajiban meningkatkan kasus-kasus perburuhan. Selain tuntutan majikan, kemauan kaum buruh sendirilah yang sering tidak menunjukkan harga dirinya melampaui alat-alat produksi dan imbalan yang diterima tidak lebih berharga daripada dirinya sendiri. Misalnya seorang buruh begitu sering lembur dengan tujuan untuk mendapatkan upah yang besar.

Berdasarkan kenyataan ini dapat dilihat bahwa spiritualitas kaum buruh adalah suatu panggilan untuk mendekatkan diri dengan Allah melalui pekerjaan yang dijalankannya. Dengan bekerja para buruh terlibat dalam karya penciptaan Allah. Mereka menjadi rekan kerja Allah dalam menata karya keselamatan di dunia ini. Karena itu para buruh dalam balam bekerja bukan karena terpaksa, melainkan untuk menyempurnakan kehidupan di dunia. Dengan bekerja mereka membuka diri bagi perspektif keselamatan.

Bekerja secara baik dan tetap menjaga kesehatan dalam bekerja merupakan upaya mengindahkan martabatnya sebagai ciptaan yang paling luhur di antara ciptaan. Cara bekerja yang baik dengan memperhatikan aspek kemanusiaannya sebagai buruh, membuktikan bahwa dirinya berharga, dirinya sendiri bukan alat-alat produksi. Atas dasar inilah para buruh seharusnya tetap menyadari makna kerja sebagai sumber kebutuhannya dan sekaligus tanda partisipasi bersama Allah dalam menyempurnakan dunia.

6. Hak dan Kewajiban Kaum Buruh

6.1 . Hak Istirahat

Untuk bekerja secara bertanggungjawab para buruh menggunakan waktu dan tenaga. Meskipun demikian Vat. II dalam GS 67 menyoroti agar dengan istirahat mereka menghayati kehidupan keluarga, budaya, sosial dan keagamaan serta mengembangkan daya kemampuan yang berangkali tidak bertumbuh dalam kerja profesionalnya. Hak untuk istirahat tidak hanya menyangkut tujuan ini, tetapi sangat erat kaitannya dengan penghargaan terhadap kemanusiaan para buruh. Mereka bukanlah alat produksi, sehingga perlu menjaga mertabatnya dengan istirahat. Karena itu istirahat merupakan salah satu sektor perlindungan terhadap kemanusiaan mereka.

Hak untuk istirahat merupakan hak setiap orang. Karena itu hak istirahat tersebut perlu diperjuangkan dalam kesepakatan bersama pemohon yang bersangkutan. Dalam kesepakatan kerja bersama (KKB) semua hal yang bersangkutan dengan hak-hak buruh perlu jelas demi keadilan.

Waktu istirahat sebagai jaminan perlindungan seperti dalam Peraturan Pemerintah Indonesia ditunjukkan dengan lamanya jam kerja (40 jam seminggu 7 jam sehari, lebih dari waktu ini termasuk lembur) dan lamanya istirahat dalam waktu satu minggu dan pada periode tertentu, termasuk cuti tahunan. Khusus untuk buruh perempuan, ada hak atas cuti karena haid, hamil, dan melahirkan. Kemudian buruh perempuan berhak untuk beristirahat sejenak untuk menyusui anaknya pada waktu kerja.

6.2 . Upah yang Adil

Dalam hubungan buruh dan majikan upah yang adil menjamin penghargaan terhadap martabat Buruh. Memberi upah merupakan kewajiban moril bagi majikan atau badan hukum yang mempekerjakan seseorang. Upah adalah imbalan bagi kerja yang dijalankan. Upah tidak boleh ditentukan sesuka hati. Pengupahan harus mempertimbangkan kehidupan pribadi dan kelayakan kebutuhan keluarga.

Pemerintah RI menetapkan Upah Minimum Regional (UMR), yaitu gaji pokok dan tunjangan. Ketetapan ini mewajibkan majikan memberi upah tidak di bawah UMR. Mengenai hak buruh dikatakan bahwa imbalan atas pekerjaan atau jasa dinyatakan atau dinilai dalam bentuk pengupahan yang berdasarkan kepada persetujuan atau peraturan perundang-undangan. Pengupahan dilakukan dengan mengikuti perjanjian kerja, termasuk tunjangan baik untuk buruh sendiri maupun keluarga, keamanan dan keselamatan ketika melaksanakan kerja.

Perlindungan pengupahan mencakup bahwa seorang berhak atas UMR, berhak atas upah kerja lembur, berhak atas upah selama tidak masuk kerja baik karena sakit maupun melaksanakan kegiatan lain di luar pekerjaannya. Berhak atas upah karena mengambil cuti. Perlindungan pengupahan juga berarti bahwa upah tidak boleh dipotong tanpa sebab yang jelas. Dengan demikian untuk menjamin upah yang adil senantiasa tergantung dari komponen pengupahan yang terletak dalam perjanjian antara buruh dan majikan atau sekurang-kurangnya mengindahkan perundang-undangan.

6.3 . Hak untuk Berserikat

Menyangkut serikat kerja, Kon. Vat. II menyatakan, di antara hak asasi manusia, hak para pekerja untuk membentuk secara bebas serikat-serikat yang sungguh-sungguh mewakili mereka dan dapat memberi sumbangan dalam mengatur kehidupan ekonomi. Mereka berhak untuk ikut serta dalam kegiatan serikat tanpa ancaman resiko kerugian. Hak berserikat atau bersekutu merupakan konsekwensi logis dari usaha-usaha memperjuangkan hak mereka secara adil. Artinya perserikatan dimaksudkan demi pembelaan kepentingan-kepentingan yang menyangkut mereka semua.

Perserikatan dapat didirikan berdasarkan jenis kerja, serikat buruh tani, karyawan-karyawati kantor, serikat buruh pabrik atau perusahaan dan lain-lain. Tugasnya ialah membela kepentingan mereka di setiap sektor terhadap kaum usahawan atau pemilik modal. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa serikat buruh merupakan unsur kehidupan sosial yang mutlak perlu, terutama dalam masyarakat industri modern. Serikat kaum buruh adalah corong perjuangan keadilan sosial yang tidak bertujuan melawan dan mengikis pihak-pihak lain. Oleh karena itu serikat buruh berbeda dengan pertarungan politik, di mana kekuasaan direbut. Serikat bertujuan untuk melindungi hak-hak yang adil dalam rangka kesejahteraan umum. Serikat buruh perlu melihat apa yang menentukan bagi martabat khas pelaksana kerja. Dalam hal ini kegiatan organisasi buruh membuka berbagai kemungkinan, misalnya penyelenggaraan pendidikan, penyuluhan, dan mendukung pengembangan diri mereka. Dengan serikat diharapkan kaum buruh semakin menyadari kemanusiaannya dalam segala segi.

Mengenai hak berserikat UUD’ 45, pasal 28 berbunyi demikian, “kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan maupun tulisan dan sebagainya, ditetapkan dalam undang-undang”.

Lebih konkret dari apa yang diundang-undangkan oleh pemerintah perihal hak kaum buruh ini, Gereja juga merumuskannya dalam kapasitas kepedulian. Paus Leo XIII pada tahun 1891 mengeluarkan sebuah ensiklik Rerum Novarum. Ensiklik ini berbicara dan menyoroti dua hal penting dalam hubungannya dengan Sosial ekonomi:

· Ditentukan adanya kewajiban bagi orang kaya untuk memakai kekayaannya guna menolong sesama.

· Ditentukan adanya hak para kaum buruh untuk bersatu mendirikan perserikatan-perserikatan guna memperjuangkan kepentingan-kepentingan anggota serta memperbaiki nasibnya.

Serikat kaum buruh ini didirikan dengan tujuan untuk memperjuangkan nasib sesama kaum buruh. Bidang-bidang yang diperjuangkan adalah:

· Upah dan cara perhitungannya.

· Lamanya waktu kerja.

· Waktu istirahat dan cuti.

· Pengawasan tatatertib.

· Pemeliharaan kesehatan dan jaminan sosial.

· Tunjangan keluarga.

· Dana hari Tua.

6.4 . Hak atas Jaminan Keluarga

Upah yang adil bagi buruh yang berkeluarga berarti memperoleh imbalan yang cukup untuk menghidupi keluarga secara wajar. Upah dapat diberikan melalui apa yang disebut kebutuhan-kebutuhan keluarga tanpa suami atau istri berpenghasilan lain. Selain itu tunjangan sosial dapat dimaksudkan sebagai jaminan kehidupan dan kesehatan buruh beserta keluarganya.

Di samping mempunyai hak dan perlakuan-perlakuan yang adil terhadap haknya, kaum buruh mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Setiap buruh wajib bekerja dengan baik, tidak menggunakan kekerasan, memelihara dan tidak membahayakan kekayaan majikan dan bersikap hemat.

6.5 . Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Jaminan sosial adalah suatu program guna mencegah dan mengatasi resiko-resiko sosial dari golongan buruh (pekerja), yang lemah dalam bidang ekonomi. Jaminan sosial ini berlaku dengan perusahaan dengan pekerja di perusahaan.

Adapun resiko-resiko tersebut antara lain: Dana Hari Tua (DHT), Sakit (Kesehatan), Kecelakaan, Kematian, Bersalin, Pengangguran dll. Tetapi, dengan adanya jaminan sosial, maka masalah sosial dapat diatasi dengan segera.

I. Lapangan tanggungan sosial:

- Tanggungan pensiun, Janda, anak yatim.

- Tanggungan sakit (kesehatan).

- Tanggungan kecelakaan.

- Tanggungan Pengangguran.

II. Bantuan Sosial (Social Assistance);

- Pemberian uang kepada badan-badan yang menyelenggarakan karya-karya sosial, seperti panti asuhan, asrama, tempat titip bayi.

- Penyelenggaraan usaha-usaha sosial yang tidak didasarkan pada tanggungan sosial.

7. Masalah-masalah Kaum Buruh

7.1 . Perendahan Terhadap harkat dan Martabat Manusia

Kalau kita tinjau ulang 50 tahun yang silam, sudah banyak hal yang patut dibanggakan. Banyak perkembangan yang sesuai dengan kemanusiaan. Namun tidak juga hal itu menutup kemungkinan bahwa banyak aspek yang perlu di renovasi dalam dalil-dalil kemanusiaan tersebut.

Cukup banyak praktek perendahan harkat dan martabat manusia, khususnya mereka yang berkecimpung di bidang jasa. Sering perusahaan-perusahaan mem-PHK karyawan dengan sepihak, tanpa terlebih dahulu mengkonfirmasikannya kepada pihak terkait (buruh). Upah yang sangat rendah sebagai imbalan jasa mereka. Pelecehan terhadap manusia seperti ini merupakan gambaran bahwa harkat dan martabat manusia direndahkan.

Persamaan derajat rasanya kurang diakui dalam suatu sistem kerja, sehingga banyak pekerja menuntut pengakuan hak mereka sebagai manusia. Konkretnya, demonstrasi.

Memperjuangkan hak berarti memperjuangkan kemanusiaan. Jadi setiap orang harus diperlakukan berdasarkan martabat kemanusiaannya. Hak kemanusiaan ini terwujud melalui penghormatan kepada setiap orang dalam bidang kerjanya masing-masing sesuai profesi, jabatan dan statusnya, tingkat pendidikan serta keterampilannya. Namun yang terpenting dari semuanya itu adalah bahwa martabat mereka diakui dengan sepantasnya.

7.2 . Keadilan (Upah, Jamsos, DHT, Tunjangan Kesehatan)

Setiap orang yang bekerja berhak untuk menerima balas jasa. Balas jasa yang diterima itu harus sesuai dengan jasa yang diberikan. Itulah keadilan. Yang sering terjadi adalah bahwa balas jasa (upah) tidak sesuai dengan jasa yang diberikan kepada perusahaan. Dari rasa keadilan tersebut ada beberapa kaidah yang tetap mesti diperhatikan:

· Balas jasa itu harus cukup untuk hidup menurut kedudukan dan martabat

manusia bersama dengan keluarganya.

· Balas jasa itu harus kurang lebih seimbang dengan hasil kerja (jas yang diberikan). Tentu di sini harus disesuaikan dengan pendidikan dan keterampilan seseorang.

· Balas jasa itu harus ditambah dengan keuntungan perusahaan.

Ketidakadilan sering menjadi awal perendahan martabat manusia. Di pelbagai bidang kerja, muncul sorotan-sorotan menuntut hak. Tetapi tidak jarang sorotan itu kurang dipedulikan oleh pihak terkait. Sebenarnya banyak aspek yang dapat mengangkat harkat dan martabat manusia asalkan semua pihak dapat melihat nilai itu di dalam kerjanya. Memang sering terjadi sikap-sikap yang merugikan kemanusiaa itu. Sebagai usaha-usaha konkret dapat dimulai dari diri setiap orang. Contoh konkret dari ketidakadilan tersebut: Upah rendah (tidak memenuhi UMR), Jamsos tidak diberikan, DHT tidak diberikan demikin juga dengan tunjangan kesehatan, dan lain-lain.

8. Tujuan Pendampingan Kaum Buruh

Tujuan pendampingan kaum buruh yang diusahakan Gereja adalah dengan mengambil keberpihakannya terhadap perjuangan nilai-nilai luhur pribadi manusia dalam proses kerja. Tujuan pendampingan ini dapat disoroti dari dua bagian besar yang berkaitan dengan sikap Gereja dan pernik-pernik kehidupan kaum buruh.

8.1 . Mengangkat Harkat Martabat Kaum Buruh

Keluhuran dan martabat manusia terdapat dalam kemampuan untuk menjadi aktif, untuk bekerja pada dan dunia yang material dan inderawi itu. Manusia tidak sama dengan kesadarannya, manusia yang bekerja produk hasil kerja manusia bukan semata-mata obyek usaha. Kalau benar bahwa manusia bekerja maka manusia mengejawantahkan diri dengan produk kerjanya dan produk kerja menjadi bagian dirinya sendiri.

8.2 . Gereja melihat masalah kaum Buruh adalah masalah pastoral karitatif

Solidaritas sungguh merupakan kebajikan kristiani. Seruan solidaritas dan aksi serentak yang ditunjukkan kepada para buruh khususnya mereka yang dipekerjakan di cabang yang terspesialisasi, sangat sempit, bersifat monoton, dan tidak mengacukan pribadi manusia, dalam perusahaan-perusahaan industri, tempat mesin cadang untuk mendominasi manusia, seruan itu ditinjau dari sudut etika sosial memang penuh arti dan menyentuh hati. Itulah reaksi menantang merosotnya manusia sebagai pelaksana kerja, dan melawan penghisapan keterlaluan yang mengiringinya dalam hal penyajian, kondisi-kondisi kerja dan jaminan sosial bagi Buruh. Reaksi itu menghimpun dunia perburuhan menjadi satu persekutuan yang ditandai solidaritas yang kuat. Dengan menganut seruan yang tercantum dalam ensiklik “RN” dan sekian banyak dokumen magisterium Gereja sesudahnya, perlu diakui dengan terus terang bahwa reaksi melawan sistem ketidakadilan yang sangat merugikan dan berteriak kepada Allah, menyerukan pembalasan dan yang merupakan beban berat dalam periode industrialisasi yang begitu pesat, memang dari sudut pandang moralitas sosial dapat dibenarkan. Situasi itu mendapat dukungan sistem sosio politik liberal yang berdasarkan kaidah-kaidah ekonomistisnya, mengukuhkan dan melindungi prakarsa ekonomi oleh para pemilik modal tertentu tetapi kurang mengindahkan hak-hak kaum buruh dengan alasan bahwa kerja manusiawi merupakan alat produksi belaka, lagi pula modalnya dilandasi faktor efisien dan tujuan produksi.

Sejak itu solidaritas kaum buruh ditunjang oleh pihak-pihak lain yang lebih jelas menyadari hak pekerja itu dan mau lebih penuh melibatkan diri, dalam banyak hal, menimbulkan perubahan-perubahan yang mendalam. Gerakan-gerakan solidaritas di bidang kerja – solidaritas itu tidak pernah berarti sikap tertutup bagi dialog dengan pihak-pihak lain – dapat diperlakukan juga dengan kondisi kelompok sosial yang semula tidak termasuk gerakan-gerakan itu, tetapi dengan berubah-ubahnya sistem sosial dan kondisi-kondisi hidup sedang mengalami yang seharusnya merupakan “proletarianisasi” atau yang menurut kenyataan berada dalam situasi “proletariat”.

Oleh karena itu dibutuhkan studi terus menerus tentang subyek kerja dan tentang kondisi-kondisi hidup bekerja. Untuk mencapai keadilan sosial di pelbagai kawasan dunia, dan dalam hubungan dengan mereka, diperlukan gerakan-gerakan solidaritas yang setiap baru di kalangan kaum buruh. Solidaritas itu harus ada kapan saja dibutuhkan karena pelaku kerja mengalami kemorosotan sosial, karena penghisapan kaum buruh dan karena mungkin makin meluasnya medan kemiskinan dan kelaparan. Gereja mempunyai komitmen yang mantap terhadap perkara itu, sebab Gereja menganggap itulah misinya, pelayanannya, bukti kesetiaannya terhadap Kristus, sehingga sungguh dapat menjadi “Gereja kaum miskin”. Dan “kaum miskin” tampil dalam pelbagai bentuk. Cukup sering pula “kaum miskin” itu tampil sebagai akibat pelanggaran kerja manusiawi.

Gereja dapat memainkan peranannya dalam menangani kaum buruh, seperti misalnya;

- Gereja mempunyai hak untuk menyatakan pendapatnya, karena masalah-masalah ini mempengaruhi agama dan moralitas.

- Dengan menggunakan prinsip-prinsip injili Gereja dapat membantu memperdamaikan dan manyatukan pertentangan antar kelas.

- Tujuan yang mau dicapai Gereja adalah memperdamaikan dan menyatukan kelas-kelas yang saling bertentangan.

- Gereja dapat mendidik masyarakat untuk bertindak secara adil.

- Gereja bukan saja pewarta keadilan, tetapi juga harus menjadi pelaksananya.

9. Bentuk-Bentuk Pendampingan / Pastoral Kaum Buruh

Di setiap keuskupan-paroki, idealnya disediakan tenaga (imam & non-imam) sebagai pendamping dari orang-orang yang terpinggirkan dalam hal ini khususnya untuk kaum buruh. Dengan cara ini, Gereja ikut ambil bagian secara aktif untuk menyelamatkan mereka yang membutuhkan pertolongan, jadi tidak tinggal pada keprihatinan saja, tetapi sungguh diterapkan dalam tindakan. Di sini kami memaparkan beberapa model pendampingan dari sekian banyak model yang dapat diberikan kepada kaum buruh, untuk dilaksanakan oleh pihak Gereja:

9.1 . Pendengar

Melalui wakil-wakil yang dipercayakan oleh lembaga (keuskupan-paroki) untuk menangani kaum buruh dan permasalahannya, diharapkan Gereja pertama-tama mendengar keluh kesah yang disampaikan oleh para buruh. Dari mendengar kemudian mengerti masalah yang ada setelah itu mungkin ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh kaum buruh.

9.2 . Pembimbing Rohani

Dalam karya pastoralnya, Imam & non imam yang ditunjuk sebagai pendamping kaum buruh juga dapat berfungsi sebagai pembimbing rohani. Bimbingan rohani ini secara khusus bagi mereka yang seiman tetapi tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang beragama lain. Bimbingan rohani ini dapat dilakukan secara personal lewat pembicaraan pribadi, tetapi dapat juga dilakukan secara komunal, lewat pertemuan-pertemuan, retret, rekoleksi dll.

9.3 . Konselor

Sering terjadi bahwa para petugas pastoral menjadi konselor bagi para buruh meskipun secara khusus mereka tidak ahli dalam bidang ini. Dituntut dari mereka yang khusus terjun dalam perburuhan ini untuk sekurang-kurangnya memahami masalah-masalah yang hidup di kalangan kaum buruh dan punya minat untuk menangani masalah-masalah yang ada.

9.4 . Membela hak kaum buruh:

Sebagai pekerja, kaum buruh sering mendapat perlakuan yang tidak adil; dari soal gaji yang tidak layak, perlakuan yang tidak semestinya, masalah tunjangan yang tidak jelas dll. Berhadapan dengan situasi ini Gereja harus dengan sadar dan dengan rela berbuat sesuatu sebagai wujud keberpihakannya terhadap kaum miskin. Lewat tindakannya baik secara konkrit maupun dalam karya pewartaannya, Gereja harus berusaha memperjuangkan hak dan martabat kaum buruh. Contoh konkrit misalnya:

- Ikut ambil bagian dalam menyuarakan perjuangan nasib kaum buruh yang diajukan ke lembaga-lembaga pemerintahan.

- Menyisipkan dalam khotbah atau katekese mengenai masalah-masalah perburuhan, sehingga umat disadarkan bahwa ada masalah yang hidup di kalangan para buruh.

10. Penutup

Bersamaan dengan industrialisasi yang tak terelakan, dunia kaum buruh di tanah air semakin meluas. Masalah-masalah perburuhan semakin mendesak. Seluruh bangsa ditantang untuk mewujudkan hubungan kerja yang sesuai dengan martabat manusia – kaum buruh, dan sekaligus menjamin keberhasilan pembangunan. Berhadapan dengan situasi ini, Gereja terpanggil untuk menunjukkan perannya sebagai bagian dari tugas perutusannya untuk menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini. Apa saja panggilan Gereja berhadapan dengan masalah Perburuhan?

- Gereja perlu menyadari bahwa memang ada masalah, bahwa stabilitas, kemajuan ekonomi dan mutu etis pembangunan di negara kita tergantung juga pada keberhasilan kita memecahkan masalah perburuhan secara adil dan masuk akal.

- Gereja Katolik harus turut secara aktif memecahkan masalah perburuhan ini tidak dengan berjalan sendiri, tetapi turut dalam kelompok kerjasama dalam mengatasi masalah perburuhan nasional dan internasional.

Jalan Keluar:

Apa yang dapat dibuat berhadapan dengan masalah ini?

- Perspektif ke dalam; Kita (Gereja) pertama-tama harus mulai dengan diri kita sendiri dalam lingkungan dan tanggung jawab masing-masing. Kita menjadi orang yang munafik jika kita tahu banyak tentang perburuhan tetapi kita sendiri memperlakukan karyawan-pekerja sendiri secara tidak adil. Hal ini kena pada orang-orang katolik (yang memiliki perusahaan memegang tanggung jawab dari dalamnya) dan lembaga-lembaga katolik keuskupan, paroki, rumah sakit katolik, sekolah-sekolah katolik dan biara-biara…. Apakah upah, syarat kerja, assuransi kesehatan dan jaminan hari tua sudah diperhatikan dengan wajar-layak?

- Perspektif keluar; Jika kita telah berlaku adil-wajar terhadap pekerja yang ada di sekitar lingkungan kita, barulah kita dapat ikut berpartisipasi dalam mengatasi masalah perburuhan secara luas;

· Tergantung dari kapasitas masing-masing orang-lembaga. Jika sulit untuk berbuat secara langsung terhadap kaum buruh sekurang-kurangnya ikut memberikan perhatian dengan mempengaruhi masyarakat (lewat kehadiran, khotbah, pengajaran) bahwa ada masalah.

· Lembaga-lembaga kerasulan kita, terutama paroki, hendaknya memberikan orang (imam/non- imam) dan waktu kepada kaum buruh di wilayahnya.

Pertemuan Keempat ini memberikan kepada kita gambaran bagaimana seharusnya mengampuni. Allah adalah Maha Pengampun. Oleh karena Dia telah mengampuni kita terlebih dahulu, maka kita pun harus mengampuni sesama kita.

Perumpamaan yang digunakan sebagai dasar permenungan pada pertemuan keempat ini adalah perumpamaan yang hanya terdapat pada Injil Matius (Mat. 18: 21-35) dan diberi konteks pertanyaan Petrus tentang "berapa kali orang harus mengampuni sesama yang bersalah kepadanya".
Konteks pertanyaan Petrus ini adalah situasi yang telah hidup dalam tradisi Yahudi saat itu. Para rabbi Yahudi pada waktu itu mengajarkan bahwa batas wajib untuk mengampuni hanya tiga kali. Jika lebih dari tiga kali disebut sebagai keutamaan. Petrus dalam Injil sudah melebihkan jumlah kemungkinan untuk mengampuni, yaitu sampai tujuh kali. Namun Yesus menanggapinya dengan nasihat yang mengejutkan, "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali". Artinya, pengampunan kita tidak terbatas.

Saudara-saudara terkasih,

Kemanusiaan kita memiliki kecenderungan balas dendam. Ada kecenderungan kita menginginkan orang yang berbuat salah kepada kita cepat-cepat mendapat hukuman. Bila hukuman dari Allah terlambat, kita cenderung ingin menghakimi sendiri. Bahkan ada kecenderungan kita senang bila orang yang berbuat salah itu mati saja dan lenyap dari muka bumi.

Tidaklah demikian bila kita mencari Kerajaan Allah. Allah menginginkan kita memiliki daya pengampunan sejati. Kita diharapkan memiliki kemurahan untuk mengampuni. Kita harus mengetahui bahwa Allah telah memperhitungkan semua ganjaran baik bagi orang baik maupun orang jahat. Jadi, kita sebagai ciptaan tidak boleh mengambil hak Allah untuk menghakimi sesama, karena kita adalah sama-sama ciptaan.

Semoga pendalaman kali ini semakin meneguhkan iman kita akan Allah.

Kehilangan rasa aman dalam menjalani kehidupan adalah hal yang sering kita alami. Peristiwa-peristiwa seperti korupsi, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan berbagai kejahatan lainnya adalah hal-hal yang sering membuat kita merasa kehilangan rasa aman.

Dalam situasi ini, kita acap kali mempertanyakan kehadiran Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan putus asa keluar dari perbendaharaan hati kita seperti: Mengapa Tuhan membiarkan orang-orang jahat? Mengapa orang-orang itu tidak dimusnahkan saja?

Pertemuan Ketiga Pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional 2011 mengajak kita untuk melihat bagaimana sikap Allah terhadap kenyataan hidup yang adalah adanya kebaikan dan adanya kejahatan.

Perumpamaan Lalang di Ladang Gandum (Mat. 13:24-30, 36-43) lebih cocok disebut sebagai alegori. Masing-masing unsur dari alegori menunjuk pada orang, barang atau realitas tertentu.
  • Orang yang menabur benih = Anak Manusia
  • Ladang = dunia
  • Benih = anak-anak Kerajaan
  • Lalang = anak-anak si jahat
  • Musuh = Iblis
  • Waktu menuai = akhir zaman
  • Para Penuai = Malaikat
Sang Penabur, menaburkan benih pada siang hari dan si jahat menabur Lalang pada malam hari. Lalang adalah sejenis tanaman beracun yang merusak tanaman gandum. Antara gandum dan lalang sulit dipisahkan pada waktu masih kecil atau ketika bibit mulai bertunas. Inilah yang menjadi alasan kuat bagi Sang Penabur untuk membiarkannya tumbuh bersama. Tujuannya adalah agar tidak terjadi kesalahan dalam upaya menyingkirkannya. Menghindari agar gandum tidak ikut tercabut bersama lalang.

Pada saat panen, barulah pemisahan itu terjadi. Lalang dipisahkan dari gandum. Gandum dikumpulkan untuk mengisi lumbung, sedangkan lalang dikumpulkan untuk dibakar.

Persoalan yang digambarkan dalam alegori ini secara tepat memotret persoalan di zaman kita. Orang baik dan orang jahat hidup bersama. Keduanya gampang dibedakan tetapi sulit dipisahkan. Mengapa sulit dipisahkan? Bila orang-orang jahat dimusnahkan, misalnya melalui perang senjata, mestinya ada orang-orang baik yang ikut jadi korban.

Jika demikian, apakah yang perlu dilakukan? Bukankah sepintas perumpamaan ini membawa kita ke cakrawala berpikir pesimis atas kejahatan? Sikap Sang Pemilik Ladang dalam perumpamaan ini mengemukakan pemecahan masalah. "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Saat menuai, akan ada pengadilan". Kejahatan akan dihukum dan kebaikan akan diberi tempat di kediaman Allah.

Pengadilan terakhir tidak bertujuan menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan umat beriman agar waspada terhadap pengaruh kejahatan yang ada di sekitar kita. Keyakinan kita adalah bahwa kejahatan tetap diadili di hadapan Allah. Tapi soal kapan waktu itu tiba, tidak ada yang tahu. Hanya Bapa yang tahu. Inilah misteri iman yang harus kita jawab dengan cara terus-menerus berbuat baik agar kita layak hidup bersama Allah kelak.

Secara berbeda dapat dijelaskan bahwa Kerajaan Allah bukanlah peristiwa keselamatan yang otomatis terjadi tanpa keterlibatan pihak manusia. Setiap manusia diundang untuk terlibat pada perjuangan menciptakan keselamatan dengan bertekun berbuat baik. Juga, Kerajaan Allah bukanlah peristiwa yang baru akan terjadi di masa datang, tetapi sudah mulai terjadi dan hadir dalam dunia ini di mana semua orang beriman hidup. Oleh karena itu, solusi lain adalah bahwa "pertobatan" merupakan kesempatan bagi orang jahat untuk memperbaiki diri. Dalam hal pertobatan, orang-orang baik pun dituntut keterlibatannya untuk mengajak mereke yang berdosa untuk bertobat. Pertobatan tidak membersihkan yang hitam menjadi putih secara langsung, tetapi membuat yang hitam berkurang dan pudar. Dengan pertobatan, kejahatan dapat berkurang walau tidak hilang seratus persen.

Pada pertemuan II ini, kita akan mendalami bagaimana Allah itu adalah Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Dalam perumpamaan ANAK YANG HILANG (LUK. 15: 11 - 32), seorang Ayah menggambarkan Allah Bapa yang berlimpah pengampunan, Anak sulung menjadi lambang bagi begitu banyak orang yang merasa diri sudah bersih dan merasa berhak mengadili dan menghukum orang lain yang dia anggap berdosa. Anak bungsu dihadirkan sebagai teladan pertobatan untuk mendapatkan belas kasih Allah.

Kita bisa mencatat beberapa tahap penting dalam perumpamaan ini:
  1. Anak bungsu meminta warisan;
  2. Pergi dan memboroskan warisan;
  3. Proses pertobatan dan pertobatan itu sendiri;
  4. Kembali ke rumah Bapa;
  5. Bapa yang baik;
  6. Sikap anak sulung.
Latar belakang dari perumpamaan di atas adalah Keangkuhan dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang dengan kesombongan spiritua, mereka mengkritik sikap Yesus yang menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka. SikapYesus merupakan hal yang bertentangan dengan kebiasaan orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Bagi mereka, menerima dan makan bersama dengan orang berdosa adalah najis. Karena dengan berbagai cara mereka mengkritik Yesus, akhirnya Yesus mengajar dalam bentuk perumpamaan di atas.

Untuk menanggapi kritikan dari kaum Farisi dan ahli Taurat, Yesus mengajar dengan beberapa perumpamaan. Anak Yang Hilang adalah perumpamaan ketiga setelah perumpamaan: DOMBA YANG HILANG dan DIRHAM YANG HILANG. Perbedaan antara perumpamaan-perumpamaan tersebut adalah bahwa perumpamaan ANAK YANG HILANG tidak mengatakan bahwa Bapa mencari anaknya yang hilang, tetapi menunggu kedatangannya kembali.

Tindakan meminta warisan saat orang tua masih hidup adalah suatu tindakan durhaka dalam tradisi Yahudi. Inilah letak keberdosaan anak bungsu. Terlebih lagi, setelah mendapat warisan, dia pergi dari rumah, menghabiskan warisan itu dengan berfoya-foya, judi, minum-minum dengan para pelacur dan lain sebagainya.

Setelah warisan yang dia miliki habis, penderitaan mulai tiba. Kelaparan dan haus menjadi teman hariannya. Dalam keadaan itu, anak bungsu sadar bahwa di rumah Bapa berlimpah kebaikan dan makanan. Dan akhirnya memutuskan untuk kembali walaupun tidak akan disebut sebagai anak lagi. Dia siap menjadi hamba atau budak di rumah Bapa yang berlimpah kebaikan itu.

Bapa yang baik hati, malah bersikap di luar dugaan anak bungsu. Bapa mengadakan pesta besar menyambut kedatangan anaknya kembali. Adalah sebuah suka cita bagi Bapa ketika anak yang hilang kembali dengan sendirinya berdasarkan pada kesadarannya. Beda dengan anak sulung, yang merasa diri sudah benar, tidak berdosa, marah melihat sikap Bapa yang baik itu dan jengkel kepada adiknya yang tidak tau diri. Anak sulung menunjukkan dua sikap dasar yakni benci pada Sikap Baik Sang Bapa karena kecemburuan, dan juga pada Sikap Adiknya Yang Tidak Tahu Diri.

Apa yang menjadi kesimpulan pada pertemuan kedua ini? Yesus sendiri tidak memberikan kesimpulan atas perumpamaan ini. Yesus menyerahkan kepada pendengarnya untuk menarik kesimpulan sendiri. Dan kepada kita pun pada zaman sekarang, kesempatan itu diberikan oleh Yesus. Oleh karena itu, dalam pertemuan kedua, telah disediakan beberapa pertanyaan penununtun agar kita yang mendengarkan Tuhan Bercerita sanggup menempatkan diri dalam setiap alur cerita Tuhan.
  1. Andaikan aku adalah anak bungsu yang hilang seperti dalam perumpamaan tadi, bagaimana sikap dan tindakanku?
  2. Andaikan aku adalah anak yang sulung seperti dalam perumpamaan tadi, hal apa saja yang perlu aku perbaiki?
  3. Berani dan mampukah saya bertindak seperti sang ayah dalam perumpamaan tadi?
  4. Sebagai umat Katolik, apa saja yang harus saya perbaiki dalam hidupku setelah mendengar perumpamaan tadi?
Semoga kita semua sanggup menarik kesimpulan yang bermanfaat dalam pertumbuhan hidup iman kita.

Pada Pertemuan I Pendalaman Kitab Suci 2011, Yesus mengajar kita melalui perumpamaan "ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI, (LUK. 10:25-37). Gagasan Pokok dari Pertemuan ini adalah: BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA BERTINDAK SEBAGAI SESAMA.

Masyarakat di zaman kita sekarang mudah dikotak-kotakan berdasarkan etnis, agama, kedudukan, status, kekayaan, pendidikan dan sebagainya. Situasi terkotak-kotak ini sering membuat orang bertanya tentang SIAPAKAH LAWAN DAN SIAPAKAH KAWAN. Perumpamaan ini mengajak kita untuk keluar dari pertanyaan di atas dan beralih kepada pertanyaan BAGAIMANA AKU DAPAT MENJADI SESAMA, MENJADI KAWAN, MENJADI SAUDARA BAGI ORANG LAIN? Dengan kata lain, kita diajak untuk meruntuhkan tembok pemisah yang membuat kita selama ini terkotak-kotakan.

Kalau kita membaca Injil Lukas 10:25-37, Ahli Taurat hadir sebagai seorang yang mempertanyakan "siapakah sesamaku manusia?" kepada Yesus. Ahli Taurat bukannya tidak tahu jawabannya, sebab sesungguhnya segala sesuatunya sudah diatur juga dalam Taurat. Tujuannya bertanya kepada Yesus adalah untuk mencobai Yesus.

Bagaimana Yesus harus menjawab? Dalam Injil, Yesus menjawab melalui perumpamaan. Sebelum kita masuk dalam Perumpamaan, ada baiknya kita mengetahui lebih dulu situasi masyarakat pada zaman itu.

Yang biasa dianggap sesama oleh orang Yahudi pada waktu itu adalah mereka yang sebangsa atau sesuku. Meskipun demikian, kaum Farisi dan Komunitas Eseni mempersempit definisi sesama hanya pada kelompok mereka sendiri. Bagi orang Farisi, orang di luar kelompoknya dianggap sebagai "anak negeri" (" am ha-ares") atau orang kebanyakan. Demikian pula kaum Eseni yang hidup dalam komunitas di pinggir Laut Mati, menganggap mereka yang ada di luar komunitasnya sebagai "anak-anak kegelapan". Orang Yahudi pada umumnya tidak menganggap Orang Samaria (karena merupakan keturunan campurang Israel-Asyur) dan bangsa asing sebagai sesama. Selain itu, di kalangan Yahudi ada beberapa kelompok yang tidak dianggap sebagai sesama seperti para pemungut cukai, kaum pendosa dan orang kusta. Inilah situasi masyarakat pada zaman itu.

Yesus menyampaikan perumpamaan dengan tujuan untuk menghancurkan batas-batas di atas. Dalam perumpamaannya, Yesus menghadirkan Orang Samaria sebagai gambaran sikap perlawanan secara ekstrim dari sikap Seorang Imam dan Seorang Lewi. Seorang Imam dan Seorang Lewi adalah merupakan tokoh agama. Tetapi ketika mereka melihat seseorang yang tergeletak di tanah, korban perampokan, mereka hanya lewat saja. Imam dan Orang Lewi terikat oleh aturan NAJIS DAN TAHIR yang mereka hayati secara kaku. Orang Samaria, yang justru dianggap bukan sesama oleh Orang Yahudi, itulah yang menolong dengan kasih.

Bagaimana Perumpamaan ini kita hayati pada zaman kita sekarang ini? Sanggupkah kita bertindak seperti orang Samaria bila berhadapan dengan situasi yang menuntut pertolongan kita? Masihkah kita memelihara tembok pemisah yang membuat kita tidak memiliki sesama dalam arti yang luas seperti dimaksudkan oleh Yesus? Mudah-mudahan pada diskusi kelompok Pertemuan pertama kita dapat berbagi bersama untuk menemukan jawabannya.

Pada Bulan Kitab Suci Nasional 2011 ini, Lembaga Bibilika Indonesia mengajak seluruh umat Katolik di Indonesia untuk mendengarkan sabda Tuhan, khususnya yang berupa perumpamaan. Walaupun mungkin sudah sering mendengarkan cerita-cerita itu dibacakan dalam Liturgi Sabda, kita diajak untuk secara pribadi dan sebagai komunitas membaca dan merenungkan ajaran Tuhan yang disampaikan-Nya secara ringan dan menarik karena berbentuk cerita.

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, maka Lembaga Biblika Indonesia mengetengahkan Tema Umum Bulan Kitab Suci Nasional 2011 yakni: MENDENGARKAN TUHAN BERCERITA. Tema ini akan diperdalam selama empat kali pertemuan dengan tema-tema sebagai berikut:
  1. Pertemuan pertama: Orang Samaria Yang Baik Hati
  2. Pertemuan kedua: Anak Yang Hilang
  3. Pertemuan ketiga: Belas Kasih Allah
  4. Pertemuan keempat: Pengampunan

Keempat pertemuan ini dibungkus dalam perumpamaan yang pernah diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya. Mari kita menyukseskan Bulan Kitab Suci Nasional 2011 dengan ikut berpartisipasi dalam setiap pertemuan.

Pengantar


Pada tulisan saya yang lalu, saya sudah membicarakan tentang Liturgi Yang Menyembuhkan (I) yakni Sakrament Tobat. Pada topik ini, saya membicarakan tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit dalam rangka mendalami topik Bulan Liturgi Nasional 2011, yakni Liturgi Yang Menyembuhkan (II).

Di mana pun juga kita akan berjumpa dengan kesakitan atau kematian. Ada orang yang sakit dan sudah beberapa waktu sembuh kembali. Ada juga orang yang sakit berat dan tidak sembuh lagi sampai menghadapi maut.

Bila mana kita sendiri sakit, maka kita mencari penyembuhan dengan berbagai cara, sebab kita ingin hidup terus. Siapa yang ingin cepat meninggal? Dalam keadaan sakit berat, dunia sekitar kita pandang secara lain. Beberapa kondisi berikut yang kita hadapi:
  • Kita harus melepaskan tugas sehari-hari sedangkan teman-teman masih bersekolah, bekerja, bermain terus dan lain-lain.
  • Kita dapat merasa kesepian, hanya terikat pada tempat tidur.
  • Kita akan bergantung pada orang lain, yang membawa makanan dan minuman.
  • Kita menantikan kedatangan orang, sebab kita butuh perhatian.

Kalau demikian, kita manaruh pengharapan dari mana? Mana yang terutama, dari sesama atau dari Tuhan?[ref name="Buku Katekese Liturgi"]Buku Katekese Liturgi 2011, hlm. 53-54[/ref]

Sakramen Pengurapan Orang Sakit


Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dari Sakramen Pengurapan Orang Sakit:
  1. Pengurapan Orang Sakit dalam Perjanjian Lama sering dimaksudkan sebagai obat yang dapat menyembuhkan. Oleh karenanya, tidak mengherankan kalau para rasul dalam perjanjian baru, meneruskan tradisi itu dengan mengoleskan minyak kepada orang sakit untuk menyembuhkan mereka.
  2. Sakramen Pengurapan Orang Sakit biasa diberikan kepada orang yang berada dalam bahaya maut karena sakit keras, luka berat dan lanjut usia. Sakramen ini bukan diperuntukkan bagi mereka yang ada di ambang kematian saja, tetapi juga kepada orang-orang yang mengalami sakit akibat hal-hal tertentu. Oleh karenanya, setiap umat beriman, mendapatkan kemungkinan menerima sakramen ini beberapa kali dalam hidupnya.
  3. Sakramen ini sama dengan sakramen yang lain yakni bukan suatu jimat yang mengandung kesaktian untuk menangkis bahaya maut. Sakramen ada tanda dari Kristus yang hadir sebagai Penyelamat.

Berdasarkan hal-hal di atas, maka alangkah baiknya pengertian yang salah terhadap sakramen ini selama ini dihilangkan. Masih banyak umat yang menganggap bahwa dengan menerima sakramen pengurapan orang sakit, ia akan segera meninggal dunia. Tidaklah demikian harus dimengerti. Mari kita mengartikannya sebagai sakramen penyembuhan yang bisa menyelamatkan jiwa.

P. Frieds Meko, SVD
Seorang imam muda dari Limpopo– Afrika Selatan ketika menjelang acara penerimaan salib misi, perasaannya haru-biru. Ia begitu bahagia, terharu dan sedikit gelisah. Untuk meredam haru-biru perasaannya itu, ia mencoba menulis dalam buku hariannya, “…Tuhan, bagaimana aku dapat melukiskan keajaiban cinta-Mu kepadaku? Bagaimana Engkau mengenal aku dari kumpulan anak-anak kampung, yang setiap hari hanya menghabiskan waktu di pinggir danau untuk memancing ikan buat rejeki keluarga kami?

Engkau sungguh menakjubkan Tuhan. Aku sangka Engkau memanggilku bukan karena aku berasal dari keluarga sederhana, tetapi karena Engkau berkenan melihat sepotong potensi pengabdian dalam hatiku yang bakal berguna untuk karya di medan misi-Mu.

Aku sudah Kau urapi melalui tangan Imam Agung–Uskup kami. Sebentar lagi aku akan menerima salib misi dan akan diutus ke medan karya. Aku tidak tahu, apakah aku akan menjadi seorang gembala yang setia dan tekun dalam mengemban tugas perutusan ini?

Aku gelisah Tuhan, tetapi di balik kegelisahanku aku masih ingat pesan nenekku ketika pertama kali aku melangkahkan kaki di SMP Seminari. Ia mengatakan, cucuku kemungkinan suatu saat engkau ditahbiskan aku sudah tidak ada lagi, tetapi ingatlah, bila kelak engkau menjadi seorang gembala, di mana saja engkau ditugaskan teruhan pertama yang harus engkau berikan adalah HATI-mu. Bila engkau melayani dengan hati yang mengasihi, lemah lembut, penuh pengertian dan rela memaafkan, maka pasti engkau akan dicintai dan dikasihi oleh umatmu dan Tuhan pun tentu akan berkenan padamu….”

Perasaan haru biru sang imam muda Afrika ini sangat eksistensial. Ia mencoba mengandai, mungkinkah ia akan menempatkan diri di medan misi sesuai dengan pesan dan harapan sang nenek-nya, yaitu menjadi gembala yang memiliki HATI bagi umatnya. Harapan itu begitu mulia dan pasti akan terus aktual sampai kapan pun.

Segugus harapan yang mirip dengan harapan sang nenek ini, juga ada pada setiap umat terhadap para gembalanya. Umat sadar bahwa dewasa ini pemandangan dunia sekitar diwarnai dengan kekerasan, perlakuan yang tidak manusiawi dan ketidak-adilan. Ini disebabkan karena manusia moderen begitu mendewakan kekuatan rasionalitas dari pada kekuatan hati nurani. Akibatnya orang lebih mementingkan nilai “kepintaran” dari pada nilai “kebenaran”.

Dalam situasi seperti ini, orang cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Machiavellian). Seorang gembala misalnya, akan menggunakan cara-cara yang tidak terpuji (keras-kaku, kasar, tidak ramah, masa bodoh, main kuasa, tidak mau dikoreksi, mau menang sendiri, merasa paling benar, dll) dalam pelayanannya, sehingga menyebabkan umatnya mengalami kesulitan. Akibatnya umat akan masa bodoh dan tidak tertarik lagi untuk terlibat dalam kehidupan menggereja.

Umat merasa dan mengalami bahwa ternyata pemandangan hidup dalam Gereja juga “sama saja” dengan pemandangan hidup dunia luar. Sang gembala yang diharapkan menjadi oase rohani, yang dapat membersitkan keteduhan dan suka cita bagi umatnya, ternyata amat jauh dari harapan mereka. Akhirnya akumulasi sakit hati dan ketidak-puasan yang ditahan umat, melahirkan deretan keluhan, tumpukan kekesalan, onggokan isyu dan hujatan terhadap sang gembala. Lalu mungkin umat akan bertanya sambil menggugat: Mutu hati seperti apakah yang dimiliki oleh gembala kita? Allahu ’alam. **

P. Frieds Meko, SVD

Apa itu hidup ? Ah, ternyata sudah sejak dahulu begitu banyak orang berusaha untuk memberikan penjelasan tentang pertanyaan ini. Ada yang mengatakan, hidup adalah sebuah buku putih yang harus ditulis dengan baik dan rapi. Yang lain yang mengartikan, hidup adalah perjuangan yang harus dimenangkan. Lain lagi mengatakan, hidup adalah sebuah mimpi yang harus diwujudkan.

Semua pengertian ini, lebih merupakan rumusan tentang permenungan atas realitas hidup yang dijalankan setiap hari. Namun bila mengacu pada hakekat hidup dengan bertanya “Hidup itu milik siapa dan apakah artinya?”, maka tentunya jawaban kita tidak terlepas dari peran Sang Pemberi kehidupan.

Dalam konteks inilah dapat dikatakan, hidup adalah sebuah anugerah atau hadiah yang sangat istimewa dari Tuhan melalui kandungan seorang ibu. Atau dengan bahasa yang agak simbolis, hidup adalah pemberian istimewa yang diturunkan dari langit suci.

Untuk melengkapi suatu kehidupan, Sang pemberi hidup, telah menitipkan sekurang-kurangnya dua potensi dasar bagi setiap orang yang pernah dilahirkan. Kedua potensi itu adalah : Pikiran dan hati nurani. Dengan berbekal dua potensi dasar inilah, seorang anak manusia dapat mengembangkan hidupnya di dunia ini.

Karena hidup itu “anugerah” maka ia bersifat suci. Ini berarti awal dan akhir dari kehidupan berada dalam tangan Tuhan. Jadi setiap orang yang mengalami kehidupan, diberikan keleluasaan untuk menghayati hidupnya dengan bebas dan bertanggungjawab, namun tetap menyadari bahwa suatu saat hidupnya akan berakhir melalui peristiwa kematian.

Tuhan tidak bisa disogok untuk memperpanjang kehidupan ini. Hidup itu tidak tergantung pada panjang pendeknya, tetapi tergantung pada sejauh mana seseorang membuat hidupnya bermutu.

Sering orang begitu takut menghadapi kematian. Padahal baik lahir maupun mati keduanya memiliki nilai yang luhur dan suci. Kelahiran adalah pintu gerbang untuk memasuki dunia kehidupan yang fana, sedangkan kematian adalah pintu gerbang untuk memasuki dunia kehidupan yang kekal.

Namun dalam kenyataan, terjadi bahwa manusia mencoba untuk mengambil alih kekuasaan Tuhan, melalui upaya membatalkan sebuah kelahiran dengan cara aborsi dan mengakhiri sebuah kehidupan dengan cara membunuh atau dibunuh.

Keberanian manusia untuk memasuki bidang kekuasaan Tuhan seperti ini, jelas membuktikan bahwa manusia telah mengalami tragedi “kematian hati nurani”. Ia tidak lagi menyadari esensi ungkapan iman : “Timor Domini est Initium Sapientia”. (Takut akan Tuhan adalah Permulaan Kebijaksanaan).

Manusia moderen yang begitu menjunjung tinggi peran ilmu pengetahuan justru cenderung untuk bertindak “mengkhianati” Tuhan dengan cara-cara mengintervensi hak Tuhan. Keberanian “konyol” ini ternyata mendatangkan berbagai macam malapetaka dan tragedi yang silih berganti “menghajar” manusia.

Ironisnya, manusia moderen boleh dikenal sebagai manusia “super atau jenius” tetapi sayang, mereka tidak “takut akan Tuhan” untuk bisa menjadi bijaksana dalam banyak hal. Makanya tidak heran kalau terkesan, perkembangan teknologi dan Ilmu pengetahuan ternyata bukanlah jaminan kebahagiaan dan keselamatan manusia.

Jaminan kebahagiaan dan keselamatan manusia justru terletak pada sejauh mana seseorang menghayati hidupnya dengan berusaha menjaga keseimbangan antara kekuatan pikiran dan hati nurani, yang dititipkan Tuhan sejak ia memasuki gerbang kehidupan melalui kelahirannya.
Bagaimana pun, Timor Domini est Initium Sapientia mesti menjadi pegangan dalam menanggapi berbagai peristiwa hidup.**

P. Frieds Meko, SVD

Setiap orang Kristen dipanggil kepada kekudusan, untuk menjadi kudus seperti Allah yang kudus ada-Nya. Dalam pengalaman hidup umat beriman, sering terjadi penyangkalan atau pengingkaran terhadap panggilan tersebut, dengan adanya dosa. Dosa menjauhkan manusia dari kekudusan, Allah sendiri dan mendekatkannya kepada maut atau kebinasan. Dalam hal ini, tujuan pertobatan orang beriman adalah kembali kepada kudus, kembali kepada jalur keselamatan. [ref name="Lumen Gentium"]Lumen Gentium, art. 40[/ref]

Ketika manusia berbuat dosa, ia melukai relasi pribadinya dengan Allah. Luka akibat dosa itu menggerogoti kehidupan manusia dan merugikan dirinya sendiri. Ia menjauhkan diri dari keselamatan dan mendekatkan diri kepada kebinasaan. Jiwa yang terluka membutuhkan penyembuhan agar mampu menerima rahmat dari Allah.

Dalam Gereja Katolik, terdapat sarana yang mampu menyembuhkan jiwa dengan rahmat yang lahir dari kerahiman Allah, yakni SAKRAMEN TOBAT. Sakramen Tobat bahkan mampu memberikan kesembuhan secara fisik, psikis, sosial dan pelepasan dari kuasa roh jahat. [ref name="bkl"]Bahan Katekese Liturgi, Bulan Liturgi Nasional 2011, hlm. 37[/ref]

Inilah yang menjadi gagasan pokok dalam mendalami Liturgi Yang Menyembuhkan Bagian I. Topik ini secara khusus mengambil misi: Mensosialisasikan Sakramen Tobat. Sakrament Tobat bukanlah hal yang baru dalam Gereja Katolik. Sakramen Tobat adalah salah satu sakramen dari ketujuh sakramen yang ada dalam Gereja Katolik.

Meskipun Sakramen Tobat bukan hal yang baru, Gereja tetap harus memberikan pemahaman tentang Sakramen Tobat ini kepada umat. Masih banyak umat yang mengerti Sakramen Tobat, tetapi jarang menerimanya. Banyak umat yang tahu Sakramen Tobat, tapi tidak memahaminya sebagai bagian dari Liturgi.

Karena begitu pentingnya Sakramen Tobat, Gereja mewajibkan setiap umat beriman menerimanya melalui 5 Perintah Gereja: Setiap umat beriman wajib mengakui dosanya sekurang-kurangnya sekali dalam setahun. Dalam Katekismus Gereja Katolik, Sakrament Tobat dikenal juga sebagai Sakramen Penyembuhan. Sakrament Tobat atau Sakramen Penyembuhan merupakan sarana yang diberikan Gereja bagi umatnya untuk memperoleh kesembuhan dari luka-luka dirinya sendiri, luka gereja dan luka dalam hubungannya dengan Tuhan akibat dosa-dosanya. [ref name="kgk"]Katekismus Gereja Katolik 1421[/ref].

Bagaimana Cara Mengaku Dosa

Ada dua unsur penting dalam Sakramen Tobat, yakni, tindakan orang yang datang dan bertobat melalui karya Roh Kudus dan pengampunan dosa dari Imam yang bertindak atas nama Kristus untuk memberikan pengampunan, menentukan cara untuk berbuat silih atas dosa-dosa yang diperbuatnya.

Orang yang datang dan bertobat melalui karya Roh Kudus dikenal dengan sebutan peniten. Seorang peniten  harus melakukan pemeriksaan batin yang saksama, melakukan pengakuan dosa, baik dosa berat maupun dosa ringan. Sebagai buah dari tindakan ini, peniten mendapatkan absolusi dari imam. Dengan absolusi, peniten berdamai kembali dengan Allah, karena itu juga berarti pengampunan dosa-dosa, dan berdamai kembali dengan Gereja; pemulihan keadaan rahkmat jika keadaan itu hilang karena dosa, penghapusan hukuman kekal karena dosa-dosa berat dan penghapusan , paling sedikit untuk sebagian, hukuman sementara akibat dosa. Sakramen ini juga memberikan kedamaian, ketenangan suara hati, penghiburan rohani, dan bertambahnya kekuatan rohani untuk berjuang dalam kehidupan Kristen.

Mengapa Harus di Hadapan Imam?

Mengakui kesalahan atau dosa dapat dilakukan di mana dan kapan saja. Tentu saja pengertian ini mengarah pada pengakuan pribadi di hadapan Tuhan. Dalam Gereja Katolik, kuasa untuk "mengikat" dan "melepaskan" orang dari hukuman akibat dosa hanya diberikan kepadakaum tertahbis, yakni tahbisan imamat. Yesus telah memberi kuasa untuk "mengikat" dan "melepaskan" kepada Petrus, yakni kuasa untuk menghukum dan melepaskan orang dari hukuman. Wewenang dan tugas para rasul ini dilanjutkan oleh para Uskup. Para Uskup memberikan mandat, berkat tahbisan dan yurisdiksi, kepada para imam untuk memberi absolusi dalam Sakramen Tobat.[ref name="kgk"]Kitab Hukum Kanonik, Kanon 966[/ref]. Dalam Sakramen Tobat, imam bertindak sebagai hakim, dokter atau tabib. [ref name="khk"]Kitab Hukum Kanonik, Kanon 978[/ref].

Berdasarkan uraian di atas, Sakrament Tobat dianggap sah bila ada peniten, imam dan absolusi. Tanpa absolusi, Sakramen Tobat tidak sah. Inilah yang menjadi alasan utama, mengapa pengakuan dosa harus di hadapan Imam.

Apa hubungannya dengan Liturgi

Sebagaimana telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya bahwa orang yang sehat tidak mempunyai hambatan untuk melakukan apa saja di hadapan Allah. Orang yang mendapatkan penyembuhan, berarti orang sehat. Sakramen Tobat adalah salah satu cara untuk mendapatkan penyembuhan agar sehat dalam segi psikis dan rohani/spiritual. Dengan Kesehatan yang dimilik, umat beriman dapat berpartisipasi dalam Liturgi dengan baik.

Setelah kita memahami apa yang dimaksud dengan liturgi pada pertemuan kedua Bulan Liturgi Nasional 2011, kita membicarakan hubungan antara Liturgi dan Kesehatan.

Kesehatan manusia bukan sekedar vitalitas badaniah atau hanya dipahami dalam arti kesehatan badan. Konsep tentang kesehatan mesti dipahami secara holistik sebagai kesejahteraan badan, mental, spiritual dan sosial yang seutuhnya dan sepenuhnya. Dengan konsep ini kita dapat memahami bahwa liturgi berhubungan erat dengan dengan masalah kesehatan.[ref name="liturgi dan kesehatan"]Bahan Katekese Liturgi Bulan Liturgi Nasional 2011, hal. 24[/ref]


Sebelum kita melanjutkan pendalaman ini, kita melihat sejenak apa yang dimaksud dengan kesehatan.

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. [ref name="wiki"]Wikipedia: Definisi Kesehatan[/ref]

Orang yang sehat berarti tidak sakit atau tidak mempunyai hambatan untuk melakukan sesuatu. Orang yang sehat pasti dapat meraih segala keinginannya karena dia tidak mempunyai kesulitan ekonomi, gangguan jiwa, keterasingan dan bahkan dia mampu menciptakan sesuatu yang baru demi memenuhi kebutuhannya. Sebalikanya, bila orang tidak sehat, dia akan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam aspek-aspek yang disebutkan di atas.

Tentu kita bertanya, apa hubungannya dengan Liturgi yang sedang kita dalami bersama. Ada tiga hal yang dapat kita lihat berhubungan dengan Liturgi dan Kesehatan.

1. Kesehatan Peraya Liturgi   -------->  Liturgi
Seperti telah kita ketahui bahwa "Liturgi merupakan partisipasi kita dalam doa Kristus". Oleh karena itu, partisipasi kita menuntut pengorbanan, kesanggupan, kelayakan dan keinginan kita untuk melakukannya. Dari uraian ini, kita dapat melihat bahwa kesehatan peraya liturgi sangat mendukung kegiatan liturgi. Karena peraya liturgi tidak mempunyai gangguan dalam jiwanya, tidak mempunya beban dalam pikirannya, tidak mempunyai masalah pada fisiknya, tentu saja dia dapat berpartisipasi dengan baik dalam liturgi. Sebagai contoh: dia sanggup bernyanyi dengan baik, sanggup berdoa dengan lantang, sanggup menjadi pelayan liturgi, sanggup menempatkan diri dan mengambil sikap liturgi seperti berdiri, berlutut, membungkuk dan lain sebagainya.

Kalau demikian, bagaimana dengan orang sakit? Gangguan kesehatan yang dimiliki pun sangat berpengaruh terhadap liturgi. Peraya liturgi yang sakit mempunyai kerinduan tinggi untuk mendekatkan diri kepada Tuhan lewat liturgi. Mereka percaya bahwa dengan demikian mereka akan memperoleh kesembuhan berkat penyelenggaraan ilahi, kemurahan ilahi dan peneguhan ilahi.

Baik orang sehat, maupun orang tidak sehat tetap mempunyai peranan dan pengaruh penting dalam liturgi itu sendiri. Dan tentu saja, semua harus bertitik tolak dari kesegaran, kesehatan dan kedalaman imannya.

2. Liturgi   ------->  Kesehatan
Liturgi menyajikan "santapan" yang "bergizi tinggi"  bagi umat beriman. Liturgi adalah sumber dan puncak kehidupan Gereja. Dari padanyalah umat menimba kekuatan, buah-buah rahmat yang dibutuhkan untuk kesehatan jiwa dan raganya. [ref name="sc"]Sancrosanctum Concilium (SC), art. 13[/ref] Dalam liturgi, umat beriman mendapatkan santapan "Sabda" yakni Firman Tuhan dan santapan dengan menu Tubuh dan Darah Krsitus.

Selain itu, liturgi juga menyajikan kesembuhan bagi umat beriman yang ditandakan dalam Sakramen Tobat dan Pengurapan orang sakit. Begitu kayanya liturgi kita sehingga kebutuhan kita pun terjawab di dalamnya bila kita ber-liturgi dengan baik dan tepat.

3. Kesehatan Peraya   <------->  Liturgi   <---------> Peraya Liturgi
Orang yang mereyakan liturgi, menimba kesehatan dari liturgi itu sendiri. Dan akhirnya, kesehatan itu membuat dia mampu untuk melakukan usaha-usaha yang tepat untuk mendapatkan kesehatan yang sempurna. Liturgi menjadi inspirasi untuk usaha-usaha kesehatan peraya. Pola hidup, pola pikir, pola tingkah laku dapat diobah ketika dalam liturgi disajikan santapan "Sabda" yang mencerahkan, menyadarkan dan mewartakan. "Nemo dat quot non habet" adalah istilah dalam bahasa Latin yang mengatakan bahwa "tidak ada seorang pun sanggup memberikan sesuatu yang dia tidak miliki". Agar kita dapat memberikan sesuatu tentang kesehatan bagi umat beriman, kita harus terlebih dahulu memiliki kesehatan itu. Karena kita sudah dianugerahi kesehatan oleh Dia Sang Pemberi Kesehatan, maka kita pun wajib membagikan kesehatan itu kepada orang lain. Semua usaha-usaha yang kita tempuh dalam mendapatkan dan membagikan kesehatan, berinsiparisikan Liturgi yang baik dan tepat.

Berdasarkan tiga hal di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa betapa pentingnya Kesehatan untuk Liturgi dan Liturgi untuk Kesehatan. Kesehatan dalam pengertian "kesempurnaan" ini hanya diperoleh dengan cara berpartisipasi dalam doa dan karya Kristus.

Beberapa kalimat singkat berikut dapat menjadi insipirasi dalam mengembangkan materi ini:
  1. Kerusakan yang terjadi di mana-mana, bertentangan dengan kehendak Allah saat dia menciptakannya "baik adanya". Oleh karena itu, mari kita perbaiki dengan mengambil bagian dalam usaha dan karya Allah itu sendiri melalui Liturgi.
  2. Perpecahan, peperangan, saling mengucilkan dan lain-lain yang berhubungan dengan kehidupan sosial, adalah akibat dari kelalaian kita. Marilah kita membangun kembali kesatuan itu dengan berpartisipasi dalam kebersamaan seturut teladan Kristus, melalui Liturgi. Dalam Liturgi, kita dipersatukan. Kita menjadi satu dan tidak ada pembedaan golongan, kelas, kasta dan lain-lain.
  3. Bila anda ekstrim menerima istilah "Sakit adalah akibat dari dosa", marilah sekarang kita mendapatkan penyembuhan yang datang dari pada-Nya, melalui Liturgi yang baik dan benar.

Ilustrasi dari jpicofmindonesia.com
"Saudara-saudaraku, marilah kita melihat alam sebagai saudara juga, karena dalam alam, kita dapat melihat kehadiran Allah Sang Pencipta".[ref name="Frans"]St. Fransiskus Assisi, Pelindung Ekologi[/ref]  Kurang lebih demikianlah ajakan St. Fransiskus dari Assisi kepada pengikut-pengikutnya untuk menghargai alam sebagai saudara. Sikap penghargaan terhadap lingkungan ini, St. Fransiskus Assisi, Pelindung Lingkungan Hidup, mengarang sebuah lagu "Gita Sang Surya" yang seluruh pesannya menempatkan alam, api, matahari, bulan, bintang, bahkan maut sebagai saudara. St. Fransiskus tidak menempatkannya sebagai sesuatu yang harus dilawan, harus ditaklukan, atau harus dilawan. [ref name="Kapusin"]Ada baiknya anda membaca tulisan pada website Kapusin Propinsi Pontianak. Klik di sini.[/ref]

Bahan Pendalaman BLN 2011, pada sub-tema kedua, mengetengahkan tema Liturgi dan Ekologi. Setelah kita memahami banyak tentang Liturgi, pasti kita mampu melihat nilai-nilai liturgi itu dalam hubungannya dengan ekologi.  Kalau demikian, kita pun perlu mengetahui arti ekologi itu. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914)[ref name="ekologi"] Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm: 20-27.[/ref]  Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. [ref name="wiki"]Wikipedia, Ensiklopedi Bebas[/ref]

Dengan pengertian di atas, dalam Ekologi kita dapat melihat secara keseluruhan cakupan-cakupan yang masuk dalam Lingkungan Hidup kita. Lingkungan Hidup tidak boleh kita terjemahkan pada satu ekosistem saja. Tetapi kita harus melihat secara keseluruhan jagat raya ini sebagai Lingkungan Hidup. Lingkungan Hidup sanggup memberikan kepada kita simbol-simbol kehadiran Allah. Simbol-simbol itu dapat membantu kita dalam usaha mendekatkan diri kepada Dia sang Pencipta.

Hubungan Liturgi dan Ekologi pada pendalaman tema BLN 2011 lebih menekankan Lingkungan Hidup sebagai Sarana Berliturgi yang baik dan berkenan kepada Allah. Simbol-simbol yang disediakan oleh alam seperti air, bunga, pohon, batu dan lain sebagainya merupakan sarana bagi kita untuk melihat kehadiran Allah dalam karya penyelamatan. Sebagai contoh: air adalah sebagai tanda mutlak dalam "Sakramen Pembabtisan". Bila anda dibaptis dengan air yang tidak bersih dan kena polusi, apakah anda bisa melihat kehadiran Allah dalam air tersebut? Jawabannya pasti "tidak" bukan?

Sama halnya dengan simbol-simbol alam yang lainnya. Bila simbol-simbol tersebut rusak, kotor, bahkan jorok dan tidak layak menurut pandangan kita manusia, bagaimana mungkin simbol-simbol tersebut sanggup membawa kita dalam suasana bersatu dengan Allah. Bila bunga-bunga yang menghiasi Altar disusun dalam bunga-bunga imitasi, bunga plastik, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa ciptaan Allah itu indah dan segar?

Kalau demikian, apakah umat Kristiani harus menyembah batu atau air, karena Allah ada disana? Tidak demikian. Manusia religius tidak menyembah batu atau pohon sebagai yang Kudus, tetapi manusia religius harus sanggup melihat bahwa batu atau pohon itu memanifestasikan yang Kudus.[ref name="buku"]Bahan Katekese Liturgi, Bulan Kitab Suci Nasional 2011, hal. 11[/ref]

Pendalaman Bulan Liturgi Nasional 2011, mengajak seluruh umat memperhatikan lingkungan hidup karena di dalam lingkungan hidup Allah pun tinggal. "Jagat raya merupakan jejak kaki Allah, yang menandakan kehadiran Allah di antara manusia".[ref name="bona"]St. Bonaventura, Pengikut St. Fransiskus dari Assisi[/ref]

Dengan pengantar singkat di atas, mari kita mendalami lagi Liturgi dan Ekologi melalui pertanyaan berikut:
  1. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, apakah yang ditugaskan Allah bagi manusia?
  2. Sebutkan beberapa contoh kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di sekitar lingkungan anda?
  3. Apa yang dapat kita lakukan untuk ikut serta dalam menciptakan lingkungan hidup yang bersih dan sehat?
  4. Apakah lingkungan hidup yang kita diami saat ini mampu mengantar kita untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam alam ciptaan-Nya?

Rapat Dewan Pleno Komisi Liturgi KWI Tahun 2001, sebelas tahun yang lalu, memutuskan perlunya pendalaman liturgi dengan program yang teratur. Komisi Liturgi KWI menetapkan bulan Mei sebagai Bulan Liturgi Nasional. Bahan pendalaman katekese liturgi untuk kegiatan pada bulan ini di susun oleh Komisi Liturgi KWI dan Komisi Liturgi Keuskupan-keuskupan secara bergantian.

Tema katekese liturgi untuk Bulan Liturgi Nasioanl 2011 adalah "Liturgi dan Kesehatan". Bahan katekese liturgi ini disiapkan oleh Komisi Liturgi Keuskupan Agung Merauke. Persiapan bahan tahun ini secara khusus diprakarsai oleh P. Bernardus Boli Ujan, SVD dan Tim Komlit K.A Merauke.[ref name="1"]Bahan Katekese Liturgi Nasional 2011, LITURGI DAN KESEHATAN, Komisi Liturgi KWI[/ref]

Bahan tahun ini mengetengahkan tema : LITURGI DAN KESEHATAN, yang kemudian dibagi dalam beberapa sub-tema yakni:
  1. Lingkungan dan Lingkungan Hidup (Ekologi)
  2. Litrugi dan Kesehatan
  3. Liturgi Yang Menyembuhkan I (Sosialisasi tentang Sakramen Tobat)
  4. Liturgi Yang Menyembuhkan II (Sosialisasi tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit)

Melihat struktur pembagian tema tahun ini, sebagai salah satu Tim Pastoral di Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya mengatakan bahwa tema ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pengetahuan umat tentang liturgi dan kesehatan. Namun, berdasarkan latar belakang pengetahuan umat di Paroki Katedral Palangkaraya tentang liturgi yang masih sangat kurang, saya mencemaskan nantinya bahan ini tidak sesui dengan harapan. Alasan saya adalah bila pemahaman tentang liturgi itu sendiri sangat kurang, bagaimana mungkin bisa melihat relevansi liturgi itu ke ekologi, kesehatan dan penyembuhan.

Karena pertimbangan ini, Tim Pastoral Paroki Katedral Palangka Raya menyetujui untuk menerjemahkan bahan dari KWI ini sesuai dengan kebutuhan umat setempat. Kalau bahan dari KWI menyediakan 4 sub-tema, Tim Pastoral Paroki Katedral Palangka Raya harus menyiapkan satu sub-tema lagi sebelum pertemuan pertama. Isi dari sub-tema yang dimaksud adalah : memperkenalkan liturgi secara umum kepada umat, termasuk komponen-komponen litrugi itu sendiri. Setelah umat mempunyai pemahaman yang cukup tentang liturgi, barulah mulai mendalami bahan yang dibuat oleh KWI.

Semoga Bulan Kitab Suci Nasional 2011 membawa dampak besar bagi kehidupan iman umat Katolik di seluruh Indonesia, secara khusus di Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya.

"Segala sesuatu di dunia ini, tidak ada yang tinggal "tetap". Semua berubah ibarat air mengalir. Hanya satu yang tetap yaitu "perubahan" itu sendiri.

Ketika saya mengikuti rekoleksi rohani yang mengetengahkan tema "Memaknai Hidup", saya sedikit heran bahwa yang lebih banyak disebutkan dalam konferensi adalah "perubahan". Dan ternyata, setelah melalui proses diskusi yang panjang hingga akhirnya tiba pada pleno, orang yang sanggup "Memaknai Hidup" adalah orang yang menghargai "perubahan".


Hidup kita di masa lalu adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat diingkari. Tidak dapat pula dipungkiri bahwa pengalaman masa lalu itu telah meninggalkan bekas dalam perjalanan hidup kita. Pengalaman-pengalaman itu ada yang baik, ada yang buruk. Semuanya mempunyai peran dalam polanya sendiri membentuk kehidupan kita yang real saat sekarang.

Adalah sebuah kesalah besar bila seseorang menutup buku masa lalunya. Tidak bersedia mengulasnya kembali, apalagi kalau pengalaman itu merupakan hal yang tidak baik atau menyakitkan. Ada ketakutan  kalau-kalau kepedihan, rasa sakit itu berulang sehingga tidak mampu untuk dikenang lagi. Lalu, bagaimana sekarang? Apakah jejak dari masa lalu itu tidak ada pengaruhnya pada kehidupan sekarang? Jelas ada. Rasa takut untuk mengenang itu sendiri sudah menjadi bukti bahwa pengalaman masa lalu masih membekas.

Suatu sikap bijak bila seseorang mengolah kembali pengalaman masa lalunya. Menggali kembali narasi-narasi kehidupan yang dialami pada waktu-waktu yang lewat. Tidak boleh menutup mata untuk itu. Mengapa? Narasi-narasi kehidupan di masa lalu itu adalah ramuan paling mujarab untuk menyembuhkan segala "trauma" di masa lalu dan membangun pola pikir baru yang lebih bersemangat saat ini. Menata kehidupan yang lebih baik saat ini dan mengatur rencana untuk menata masa depan.

Bagaimana kalau pengalaman masa lalu melulu baik? Pasti setiap orang senang mengingatnya. Dan ada kecenderungan untuk mempertahankan suasana baik itu. Itu tidak salah. Itu adalah tindakan yang tepat. Tetapi hal ini bukan berarti kita harus tetap pada "status quo". Kita harus menerima perubahan demi perubahan agar hidup yang kita miliki ini dapat lebih bermakna lagi.

Memaknai hidup memang tidak terlepas dari kehendak Sang Ilahi. Dialah yang empunya hidup. Dan ini pun tidak berarti bahwa segala sesuatunya tergantung pada Dia. Tidak berarti bahwa hanya Dia saja yang dapat membuat baik atau tidak. Partisipasi kita manusia dituntut untuk membuat perubahan. Partisipasi inilah yang terbungkus dalam tindakan kita "Memaknai Hidup". **Fidelis Harefa

Sepotong doa dari Sang Musafir, merupakan ungkapan permohonan kepada Tuhan atas hal-hal besar yang luar biasa dan hal-hal sederhana yang juga luar biasa.
AJARKAN AKU TUHAN

Tuhanku....
Engkau Maha Besar,
Karya-Mu sungguh mengagumkan
Menjulang lebih tinggi dari pencakar langit,
dan menembus dalamnya samudra.

Aku adalah bagian dari karya-Mu,
Mencoba memahami Engkau dalam segalanya,
Mencoba mengerti Engkau dalam segalanya,
Mencoba mengenal Engkau dalam segalanya,
bukan karena Engkau menuntut demikian,
tapi karena dengan aku melakukan itu,
aku bahagia.

Oh Tuhanku...
Ajarkan aku hal-hal yang sederhana,
yang lebih mudah untuk kupahami,
yang lebih mudah untuk kumengerti,
yang lebih mudah untuk kucerna,
Singkapkanlah semua kebutaan hatiku, kebutaan pikiranku,
yang terkurung dalam idealisme semu,
dan tak sanggup melihat engkau dalam selembar daun talas,
yang hijau dan memberi warna kesegaran,
ajari aku Tuhan.

Aku terkurung dalam perdebatan ilmu,
aku terkurung pada batas pembuktian kebenaran,
sementara aku tidak bisa melihat kebenaranmu dalam hal-hal sederhana,
tak sanggup melihat kebenaranmu dalam sehelai selasi.

Aduh Tuhan, ajarkan aku hal-hal yang kecil saja.

Pada Hari Raya Paskah, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Perayaan agung ini dirayakan secara meriah dan disambut dengan cara yang khas. Ini adalah suatu tanda bahwa Perayaan akan Kebangkita Kristus mengambil posisi tertinggi dalam kehidupan iman Kristiani.

Kalau kita mengajukan pertanyaan kecil tentang pernyataan di atas, mengapa Kebangkitan Kristus ditempatkan pada posisi tertinggi kehidupan Iman Kristiani? Adakah Kebangkitan Kristus dari antara orang mati itu benar? Ataukah Kebangkitan tersebut hanya mitos yang diceritakan turun-temurun dan akhirnya direduksi menjadi sebuah kepercayaan keagamaan?

Beberapa fakta sejarah yang berhubungan dengan Kebangkitan Kristus:
  • Yesus Kristus adalah seorang manusia yang pernah hidup bersama manusia lainnya yakni para murid-Nya pada permulaan abad pertama tahun masehi.
  • Dalam perjalanan misinya mewartakan "Cinta Kasih", Yesus menghadapi pro dan kontra, bahkan dalam menjalankan misi-Nya itu, Dia ditentang dan dianiaya hingga pada usia-Nya yang masih tergolong muda, 33 tahun, Dia dibunuh dan disalibkan di Bukit Golgota.
  • Dia dikuburkan seperti layaknya manusia. Lokasi Geografik kubur Yesus dapat ditemukan yakni di Perbukitan Yerusalem.
  • Banyak tulisan yang mencatat bahwa Yesus adalah orang yang benar-benar hidup, tinggal di antara manusia, tinggal dalam masyarakat, tanpa memandang bagaimana tulisan-tulisan itu  menganggap siapa Yesus.
  • Banyak tulisan juga mencatat bahwa murid-murid yang memberitakan Tuhan yang bangkit adalah juga tinggal di dalam masyarakat, makan, minum, tidur, menderita, bekerja dan mati.
  • Kata kunci yang menjadikan Kebangkita Yesus gempar ke seluruh dunia adalah "Kubur Kosong". Setelah Dia dikuburkan, pada hari ketiga Kubur Kosong. Mayat-Nya tidak ditemukan.

Fakta di atas bukanlah tulisan yang berisikan ajaran, tetapi memang benar-benar tulisan sejarah. Dari sejarah ini, kemudian lahirlah ajaran, yakni ajaran tentang sebuah kebangkitan.

Penegasan lainnya adalah:

Kebangkitan Yesus Kristus adalah fakta sejarah.
Penyaliban Yesus Kristus untuk menanggung dosa manusia adalah fakta sejarah.

Banyak tulisan lain yang membuktikan fakta-fakta di atas. Beberapa tokoh, ilmuwan dan teolog berusaha menjelaskan tentang KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH SUATU PERISTIWA YANG BENAR-BENAR TERJADI. Pada tulisan ini saya tidak membicarakan tentang benar atau tidaknya KEBANGKITAN KRISTUS ITU.

Saya saat ini pada posisi menyetujui dan menerima fakta sejarah yang telah dipaparkan di atas. Dan sekarang, bila saya menerima fakta sejarah itu, saya melangkah untuk memaknai KEBANGKITAN KRISTUS sebagai kelanjutan dari tindakan afirmasi atas sejarah kehidupan-Nya.

Kebangkitan Kristus merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam dimensi ruang dan waktu sejarah manusia. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa dalam sejarah, dimana Tuhan bekerja di dalam waktu dan ruang tertentu. Jika kebangkitan bukan peristiwa sejarah, maka kuasa kematian tetap tidak dikalahkan; Kematian Kristus menjadi tidak ada artinya, dan umat yang percaya kepada-Nya tetap mati dalam dosa; Keadaannya akan tidak berbeda dengan sebelum mendengar nama-Nya.

Oleh karena itu, sesungguhnya Kebangkitan yang dirayakan oleh umat Kristiani di seluruh dunia adalah perayaan Kemenangan atas kuasa maut dan dosa. Bersama Dia kita ikut bangkit dari segala kelemahan dan kedosaan kita. Bersama Dia yang bangkit dengan mulia, kita bangkit dan memperoleh hidup yang baru. Dan sebagai orang yang memperoleh hidup baru di dalam Dia, kita pun harus menunjukkan perilaku sebagai manusia baru dalam hidup keseharian kita. Dalam masyarakat, dalam lingkungan kerja dan pelayanan kita dan dalam seluruh aspek kehidupan yang kita jalani.

Umat Kristiani yang merayakan Kebangkitan, namun tetap tinggal dalam kebiasaannya yang lama tanpa berusaha menghidupi pola hidup baru dalam Dia yang telah bangkit dari antara orang mati, tidak layak disebut telah bangkit bersama Dia. Kalau kebiasaan lama, kita umat Kristiani hanya berani menantang segala bentuk kejahatan sebatas ucap dan kata saja, dalam pola hidup baru bersama Dia yang bangkit dari antara orang mati kita harus berani menunjukkan segala bentuk penolakan atas kejahatan itu dalam sikap dan perilaku. Adakah kita sanggup? Adakah Kebangkitan Kristus itu benar-benar milik kita? Semoga.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget