MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Mei 2011

"Segala sesuatu di dunia ini, tidak ada yang tinggal "tetap". Semua berubah ibarat air mengalir. Hanya satu yang tetap yaitu "perubahan" itu sendiri.

Ketika saya mengikuti rekoleksi rohani yang mengetengahkan tema "Memaknai Hidup", saya sedikit heran bahwa yang lebih banyak disebutkan dalam konferensi adalah "perubahan". Dan ternyata, setelah melalui proses diskusi yang panjang hingga akhirnya tiba pada pleno, orang yang sanggup "Memaknai Hidup" adalah orang yang menghargai "perubahan".


Hidup kita di masa lalu adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat diingkari. Tidak dapat pula dipungkiri bahwa pengalaman masa lalu itu telah meninggalkan bekas dalam perjalanan hidup kita. Pengalaman-pengalaman itu ada yang baik, ada yang buruk. Semuanya mempunyai peran dalam polanya sendiri membentuk kehidupan kita yang real saat sekarang.

Adalah sebuah kesalah besar bila seseorang menutup buku masa lalunya. Tidak bersedia mengulasnya kembali, apalagi kalau pengalaman itu merupakan hal yang tidak baik atau menyakitkan. Ada ketakutan  kalau-kalau kepedihan, rasa sakit itu berulang sehingga tidak mampu untuk dikenang lagi. Lalu, bagaimana sekarang? Apakah jejak dari masa lalu itu tidak ada pengaruhnya pada kehidupan sekarang? Jelas ada. Rasa takut untuk mengenang itu sendiri sudah menjadi bukti bahwa pengalaman masa lalu masih membekas.

Suatu sikap bijak bila seseorang mengolah kembali pengalaman masa lalunya. Menggali kembali narasi-narasi kehidupan yang dialami pada waktu-waktu yang lewat. Tidak boleh menutup mata untuk itu. Mengapa? Narasi-narasi kehidupan di masa lalu itu adalah ramuan paling mujarab untuk menyembuhkan segala "trauma" di masa lalu dan membangun pola pikir baru yang lebih bersemangat saat ini. Menata kehidupan yang lebih baik saat ini dan mengatur rencana untuk menata masa depan.

Bagaimana kalau pengalaman masa lalu melulu baik? Pasti setiap orang senang mengingatnya. Dan ada kecenderungan untuk mempertahankan suasana baik itu. Itu tidak salah. Itu adalah tindakan yang tepat. Tetapi hal ini bukan berarti kita harus tetap pada "status quo". Kita harus menerima perubahan demi perubahan agar hidup yang kita miliki ini dapat lebih bermakna lagi.

Memaknai hidup memang tidak terlepas dari kehendak Sang Ilahi. Dialah yang empunya hidup. Dan ini pun tidak berarti bahwa segala sesuatunya tergantung pada Dia. Tidak berarti bahwa hanya Dia saja yang dapat membuat baik atau tidak. Partisipasi kita manusia dituntut untuk membuat perubahan. Partisipasi inilah yang terbungkus dalam tindakan kita "Memaknai Hidup". **Fidelis Harefa

Sepotong doa dari Sang Musafir, merupakan ungkapan permohonan kepada Tuhan atas hal-hal besar yang luar biasa dan hal-hal sederhana yang juga luar biasa.
AJARKAN AKU TUHAN

Tuhanku....
Engkau Maha Besar,
Karya-Mu sungguh mengagumkan
Menjulang lebih tinggi dari pencakar langit,
dan menembus dalamnya samudra.

Aku adalah bagian dari karya-Mu,
Mencoba memahami Engkau dalam segalanya,
Mencoba mengerti Engkau dalam segalanya,
Mencoba mengenal Engkau dalam segalanya,
bukan karena Engkau menuntut demikian,
tapi karena dengan aku melakukan itu,
aku bahagia.

Oh Tuhanku...
Ajarkan aku hal-hal yang sederhana,
yang lebih mudah untuk kupahami,
yang lebih mudah untuk kumengerti,
yang lebih mudah untuk kucerna,
Singkapkanlah semua kebutaan hatiku, kebutaan pikiranku,
yang terkurung dalam idealisme semu,
dan tak sanggup melihat engkau dalam selembar daun talas,
yang hijau dan memberi warna kesegaran,
ajari aku Tuhan.

Aku terkurung dalam perdebatan ilmu,
aku terkurung pada batas pembuktian kebenaran,
sementara aku tidak bisa melihat kebenaranmu dalam hal-hal sederhana,
tak sanggup melihat kebenaranmu dalam sehelai selasi.

Aduh Tuhan, ajarkan aku hal-hal yang kecil saja.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget