Tulisan ini berinspirasikan sebuah pertemuan remaja yang berlangsung di salah satu daerah di Kalimantan Tengah, yang kebetulan pada saat itu saya diminta sebagai salah satu  pembicara  dalam topik Remaja dan Teknologi. Yang sangat berkesan bagi saya, bukanlah pembahasan topik demi topik, tapi acara perkenalan yang mengawali seluruh kegiatan. 

Peserta yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan budaya itu memperkenalkan diri masing-masing. Perkenalan yang sangat mengundang tawa itu begitu dinikmati oleh peserta karena mereka meperkenalkan diri sambil menyelipkan kalimat-kalimat yang lucu berbau humor dalam perkenalannya. 

Seorang pemuda pun berdiri dan memperkenalkan diri. Salah satu kalimat yang terungkap adalah bahwa status perkawinannya: Sudah Kawin tapi Belum Nikah. Pemuda ini mengakuinya dengan bangga dalam perkenalan itu. Banyak dari peserta tertawa dengan kalimat tersebut sehingga memicu peserta lain yang memperkenalkan diri berikutnya menggunakan kalimat yang sama, 

Sudah Kawin tapi Belum Nikah

Tulisan ini secara khusus mentengahkan topik: Kebanggaan Muda-Mudi dalam Konteks, Sudah Kawin tapi Belum Nikah? Ternyata yang dipahami oleh para remaja ini tentang kata KAWIN dan NIKAH adalah: Kawin, apabila pernah melakukan hubungan suami-istri, berhubungan kelamin di luar pernikahan atau pra-pernikahan; Nikah, apabila telah mengikat janji untuk membentuk keluarga sehingga sah menurut hukum, agama dan adat. 

Pengakuan-pengakun seperti ini menurut saya bukanlah sebuah kebanggaan, tetapi menunjukkan kemerosotan moral. Di negara Indonesia, sebagai negara hukum dan juga negara beragama, hubungan suami-istri hanya diakui sebagai sah bila hal itu terjadi dalam sebuah pernikahan. Hubungan suami-istri di luar pernikahan yang sah dinyatakan sebagai pelanggaran dan dosa. 

Dengan berbagai cara, Gereja Katolik telah melaksanakan kegiatan pemahaman kehidupan keluarga kepada umat, secara khusus bagi remaja yang akan melangsungkan pernikahan. Kursus Pra Perkawinan sangat memegang peran sentral dalam hal ini. 

Ajaran Gereja Katolik mengharuskan seseorang untuk tidak melakukan "kawin" sebelum menerima sakramen perkawinan. Ini secara tegas disebutkan dalam Perintah Allah, "Jangan Berzinah". Oleh karena itu, meskipun hanya sebatas "guyon" demi sebuah tawa, perkenalan seperti di atas tidak bermuatan positif, apalagi dalam pertemuan remaja.