MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

2012

Tahun lalu, saya pernah mengikuti salah satu group tertutup diskusi online yang membicarakan tentang Mind Therapy. Dalam diskusi yang diikuti oleh 80 orang member itu membicarakan Mind Therapy dalam konteks “Membangun Kerangka Berpikir dan Menciptakan Opsi”. Penggagas ide dasar dari diskusi ini adalah Bapak Fidelis Waruwu (Dosen di Universitas Tarumanegara). 



Membangun Kerangka Berpikir dan Menciptakan Opsi, ternyata bukan hal yang gampang. Meskipun bagi sebagian orang melihatnya sebagai gampang, namun lebih dominan gampang yang dimaksud adalah karena tidak mengerti inti permasalahan yang ingin dicapai. Perbedaan pendapat pun muncul ketika membicarakan benda yang bernama “Kerangka Berpikir” dan “Opsi” itu. Kerangka berpikir adalah sebuah pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran selanjutnya. 

Kerangka berpikir sering disebut sebagai Konsep Dasar, menjadi titik tolak sebuah pembahasan, pendalaman dan pengertian. Sedangkan pilihan (Option) atau sering juga disebut Opsi adalah pilihan dari sejumlah alternatif. Menetapkan pilihan mengandaikan sebuah konsep. Tanpa konsep, sejumlah alternatif yang ada tidak menjadi opsi yang tepat. 

Kita  sering terperangkap dalam deretan pilihan yang ada. “Jika pilih ini, maka begitu dan jika pilih itu, maka begini” merupakan langkah awal yang sering ditempuh. Keberhasil menetapkan pilihan adalah sebuah kebanggaan semu karena tidak memiliki konsep. Itulah fenomena yang hidup terutama pada generasi muda kita. 

Ilustrasi Sederhana

 Ketika ada sebuah ajakan “Ayo, ikut ber-demonstrasi!” Saat itu juga dapat dipastikan bahwa kaum muda lebih cepat dan mudah dihasut dan ikut ber-demonstrasi. Ketika ditanya, apa konsep dasar yang anda miliki tentang demonstrasi, sebagian besar menjawab "tidak tahu“. Hal-hal seperti ini menunjukkan betapa mudahnya kita terperangkap dalam sederet pilihan yang ada. Kita bisa berbicara panjang lebar dalam berorasi menolak ke-tidak-adil-an, tetapi ketika di tanya, apa "adil" sebenarnya, akan menjadi gagap dan mengungkapkan pengertian seenaknya saja. 

Tidak punya konsep, kerangka berpikir menjadi tidak benar. Apakah yang menjadi masalah dengan sebuah pilihan? Hidup di negara yang serba dilematis ini membuat kita tidak sanggup membuat pilihan. Sistem pendidikan yang kita terima sejak bertahun-tahun lamanya secara tidak langsung, bahkan hampir dapat dipastikan menggiring kita untuk memilih pilihan-pilihan yang telah dibuatkan. Pilihan sudah tersedia, kita tidak perlu membuatnya. Kita digiring untuk tidak perlu memiliki sebuah konsep. Konsep telah dibuatkan dan tugas kita adalah memilih saja. Kita tidak pernah diajak untuk membuat pilihan karena itu adalah tugas orang-orang yang juga hanya bertugas memilih dari pilihan yang telah dibuatkan. 

Kita telah membiarkan orang lain menetapkan pilihan bagi kita tanpa ada sikap kritis yang menentang hal ini. Ketika kita disadarkan dengan Mind Therapy, Membangun Kerangka Berpikir dan Menciptakan Opsi, barulah kita sadar bahwa sesungguhnya kita tidak punya pilihan. Apa yang secara gamblang kita katakana gampang, menjadi sulit dan membuat kita tak berdaya. Apakah kita tinggal “meng-amin-i” ke-tidak-berdaya-an itu?  **Fidelis Harefa.


Seorang mahasiswa, mengirim surat kepada orang tuanya dengan isi surat sebagai berikut:

Pak, Ma, minggu depan  kami mulai kegiatan KKN dan butuh uang banyak. Mohon dikirim secepatnya. Kata panitia tidak boleh ditunda-tunda lagi pembayaran dana yang diperlukan. 

Ananda 
SI GURLAP 

Di kaki suratnya, dia menggambar sebuah Pisau bermata dua, dan ditambahkannya catatan berikut: Kalau dalam dua hari ini tidak dikirim... ASLINYA MENYUSUL! 

Ayahnya membaca surat itu dengan takutnya dan secepatnya menyiapkan pesanan anaknya itu. Ayahnya langsung menuju tempat fotokopi dan memfotokopi uang lembaran 100 ribu sebanyak 20 lembar. Sang Ayah pun buru-buru memasukan fotokopian tadi ke dalam amplop sambil menyelipkan kertas kecil dengan tulisan begini:

Nak, Ayah mengerti bahwa kamu sangat membutuhkan uang ini. Ayah sudah berusaha dan ini saya kirimkan... 
ASLINYA MENYUSUL...

Kita telah mengikuti Pendalaman KS sepanjang bulan September ini. Tema pendalaman KS tahun ini adalah "Menyaksikan Mukjizat Tuhan". Kata "menyaksikan" dapat digantikan dengan kalimat "datang dan lihatlah!".

Bila belum sempat membaca sharing pertemuan-pertemuan sebelumnya, silahkan dibaca melalui link berikut ini:

  1. Menyaksikan Mukjizat Tuhan (Tema Umum)
  2. Menyembuhkan Orang Lumpuh (Pertemuan I)
  3. Mengusir Roh Jahat (Pertemuan II)
  4. Membangkitkan Anak Muda di Nain (Pertemuan III)
  5. dan Mengubah Air menjadi Anggur (Pertemuan IV)
Dari rangkaian pertemuan ini, kita diharapkan bisa "menyaksikan" dan bukan hanya sekedar "membayangkan" terjadinya mukjizat itu. Mukjizat yang dulunya telah diperbuat oleh Yesus, harus sanggup kita saksikan pada zaman sekarang melalui tindakan/aksi kita umat beriman yang telah mengaku dan menyatakan "mengimani dan mengikuti Kristus".  Bila Yesus tidak hadir secara nyata untuk membuat mukjizat saat ini, kitalah yang menjadi wakilnya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mukjizat yang pernah diperbuat oleh-Nya, masih tetap terjadi hingga kini dengan perantaraan umat beriman.

Pasti akan banyak yang tidak setuju. Pasti akan banyak yang menentang. Pasti akan banyak yang kontra. Tapi sebagai umat Allah, pengikut Kristus, kita tidak perlu takut. Bila itu kita buat untuk KEBENARAN, meskipun banyak orang berusaha untuk menenggelamkannya, KEBENARAN itu akan tetap muncul kepermukaan sebagai hakim nurani. Setelah kita melihat dan menyaksikan, mari kita pergi dan berbuat seperti apa yang kita lihat dan kita saksikan. 

Pace e Bene.

Pada pertemuan pertama, kita sudah melihat segala kelumpuhan yang ada di sekitar kita. Pada pertemuan kedua, kita diajak untuk melihat roh jahat yang menjadi penyebab terjadinya kelumpuhan itu sendiri. Pada pertemuan ketiga, kita diajak untuk bangkit kembali dari segala kelumpuhan yang ada. Pada pertemuan keempat, kita diajak untuk berani memulai sesuatu yang baru. Setelah kita disembuhkan dan kelumpuhan, roh jahat yang merasuki telah diusir, kita telah dibangkitkan dari segala kelemahan, maka pada puncak pertemuan ini kita diajak untuk memulai sebuah karya baru sebagai anak-anak Allah.

Injil Yohanes 2: 1-11, berbicara tentang peristiwa Pesta di Kana ketika Yesus mengubah Air menjadi Anggur. Ada beberapa point yang perlu kita lihat dalam peristiwa ini:

  1. Ini adalah mukjizat pertama yang digambarkan sebagai tindakan publik pertama yang dibuat Yesus.Sebagai wahyu dari campur tangan ilahi yang telah dimulai dan berlanjut sepanjang pelayanan-Nya, adalah penting bahwa itu dirasakan oleh sebagian orang dan terutama rekan-rekan terdekat Yesus (Ibu Yesus, Keluarga Yesus, Saudara-saudari Yesus).
  2. Mengubah Air menjadi Anggur menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa terdahulu yang pernah terjadi (seperti peristiwa anggur di kuil Baccus-Andros dan peristiwa penyedia anggur oleh Dionisius). Peristiwa di Kana menegaskan sebuah perubahan dari Air menjadi Anggur. Perubahan tidak dimulai dari ketiadaan, tetapi menggunakan materi yang ada yakni air.
  3. Meskipun belum tiba waktunya (makna eskatologis), Yesus tetap melakukan mukjizat ini. Anggur adalah simbol pesta meriah bagi orang-orang Yahudi. Ketiadaan Anggur sama dengan ketiadaan pesta. Dan pesta adalah simbol kegembiraan kerajaan Allah. Oleh karena itu, bagi orang Yahudi, ketiadaan anggur dapat dikatakan sebagai ketiadaan kerajaan Allah.
  4. Yesus harus memulai karyanya. Waktu yang dimaksud adalah saat ini. Kalau tidak dimulai sekarang, kelanjutannya pasti tidak ada untuk besok dan seterusnya. Meskipun maksud Yesus adalah bermakna eskatologis, namun beberapa para ahli mengatakan bahwa saat itu adalah saat sekarang yang harus dihadirkan.
Beberapa poin di atas membantu kita untuk melihat relasi pertemuan-pertemuan sebelumnya. Orang-orang yang telah diselamatkan, telah dibersihkan dan telah dibangkitkan kembali, harus sanggup untuk berbuat sesuatu untuk menghadirkan kerajaan Allah. Perubahan itu adalah mukjizat. Kalau kita merujuk pada poin pertama di atas, maka perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian merembes ke lingkungan lebih luas.

Pergolakan hidup yang kita alami sering membuat kita kehabisan anggur iman. Kita perlu mengundang Yesus agar anggur iman kita tetap penuh dan dapat dirasakan oleh banyak orang. Bejana-bejana kita harus selalu penuh. Dan itu hanya dapat kita jaga bila kita telah disembuhkan, dibersihkan dari roh jahat dan dibangkitkan kembali dari kelemahan-kelemahan yang menghambat iman kita.

Beberapa pertanyaan berikut dapat dimunculkan:

  • Adakah kita menjadi orang-orang terdekat Yesus yang menyaksikan dan menikmati mukjizat yang telah dibuat oleh Yesus?
  • Adakah kita mengantisipasi bahwa suatu ketika bejana kita kehabisan anggur? Suatu ketika kita merasakan kekeringan dalam iman?
  • Pernahkah kita mengundang Yesus untuk tetap mengisi bejana kita yang kosong?
  • Kalau kita lebih ekstrim, pernahkah kita menjadi seperti Yesus, mengisi bejana dengan anggur agar tidak terjadi kekacauan, atau malah sebaliknya kita menjadi penghabis anggur sehingga kekacauan disekitar kita tidak dipedulikan karena kenikmatan anggur?
  • Atau barangkali, seharusnya kita memberi justru berubah menjadi pemeras sehingga memicu kekeringan anggur di mana-mana?
Saatnya adalah sekarang. Harus dimulai sekarang agar ada yang bisa kita lanjutkan besok. Mari berlomba-lomba untuk berperan dalam merubah kekeringan anggur iman kita menjadi tetap penuh.

Semoga sharing ini bermanfaat. Pace e Bene.

Pertemuan yang lalu kita sudah mendalami dua mukjizat yang diperbuat oleh Yesus, yakni menyembuhkan orang lumpuh dan mengusir roh jahat. Menyembuhkan kelumpuhan dan mengusir segala roh jahat yang menghambat terjadinya segala kebaikan. Pada pertemuan ketiga ini, kita akan mendalami Bagaimana Yesus Membangkitkan Anak Muda di Nain.

Mukjizat ini adalah mukjizat yang bagi kita manusia adalah luar biasa. Hal yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia, yakni mengembalikan nyawa manusia, dilakukan oleh Yesus. Dari segi nilai dan bobotnya, mukjizat ini dapat kita katakan sesuatu yang luar biasa. Bersamaan dengan kekaguman ini, kita pasti merasa sulit membayangkan peristiwa yang sama akan terjadi pada zaman kita sekarang ini. Hampir tidak pernah kita temukan orang yang sudah meninggal dan sedang digotong ke liang kubur, hidup kembali. Oleh karena itu, jelaslah agak sedikit sulit kita membayangkan mukjizat ini dalam pendalaman kita ini.

Kendati dengan alasan di atas, jika kita memiliki iman yang teguh, tidak ada yang mustahil. Mari kita lihat kenyataan hidup kita sekarang ini. Sebagai ilustrasi, mari kita lihat kondisi Anak Muda dan Ibunya (Janda) yang kita baca dari KS Lukas 7: 11-17.

Manusia yang sudah tidak bernyawa (jenazah) jelas sudah tidak dapat kita katakan normal lagi. Hampir bisa dikatakan, dia hanyalah seonggok daging, yang tidak berjiwa. Karena tak berjiwa, jelas tak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sementara Ibunya, hanyalah seorang Janda. Janda dalam kalangan Yahudi berada dalam posisi lemah dalam masyarakat. Janda termasuk kelompok kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Dan situasi menjadi lebih parah karena anaknya meninggal. Jika anaknya tidak meninggal, kehidupannya masih lumayan kuat karena masih bisa menggantungkan hidupnya pada anaknya tersebut. Apa hendak dikata, anak tumpuan hidup itu pun meninggal. Inilah situasi yang dapat kita lihat dalam bacaan kali ini.

Yesus datang membawa kegembiraan. Yesus mengubah suasana duka menjadi kegembiraan. Yang tidak bernyawa, hidup kembali. Janda yang putus asa, berubah menjadi pribadi yang penuh harapan. Anak muda yang tak berdaya, kini menjadi berjiwa dan memiliki masa depan.

Pada masa sekarang, kita umat beriman tidak pernah luput dari kelemahan dan dosa. Namun, sekali lagi, kata-kata ini tidak boleh kita jadikan sebagai tameng untuk berpasrah. Kita perlu bangkit dari kelemahan itu. Kita perlu meninggalkan segala kelumpuhan yang ada, kita perlu mengusir roh jahat yang telah menguasai kita, dan kita perlu bangkit kembali.

Untuk bangkit kembali, memang sesuatu yang berat untuk dilakukan sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain untuk memperoleh kebangkitan. Demikian sebaliknya, orang lain membutuhkan bantuan kita untuk bangkit kembali. Oleh karena itu, mukjizat yang dapat kita lakukan saat ini adalah, membantu sesama untuk bangkit kembali dengan berbagai cara. Kita hidup sebagai umat beriman harus saling mengingatkan agar sesama kita tidak terpuruk dan tenggelam dalam kelemahannya. Dengan saling mengingatkan, kita sudah melakukan mukjizat seperti yang dilakukan oleh Yesus, yakni, membangkitkan orang mati. 

Sebagai umat beriman, yang bersaudara dalam Kristus, kita butuh untuk diingatkan, dan juga perlu untuk mengingatkan. Kita diharapkan untuk saling membangun dan menghidupkan dengan berbagai cara yang kita punya. Kita membutuhkan uluran tangan orang lain, demikian juga orang lain membutuhkan uluran tangan kita. Hanya dengan demikian, kita sudah bertindak seperti Yesus, yakni, mengubah kedukaan menjadi kegembiraan sejati. Mengubah ketakberdayaan menjadi berdaya dan memiliki masa depan.

Dari uraian di atas, beberapa pertanyaan reflesif berikut mungkin dapat membantu kita untuk mendalami tema pertemuan ketiga ini.

  1. Pernahkah kita merasa seperti anak muda, yang tak berdaya, tidak punya masa depan, tidak punya jiwa dan harapan karena tinggal seonggok daging lemas yang tidak punya pengharapan?
  2. Pernahkah kita seperti Janda yang tersingkir di kalangan masyarakat, miskin dan tidak punya apa-apa?
  3. Ketika kita membutuhkan uluran tangan orang lain membantu kita bangkit dari keterpurukan kita, adakah kita memperoleh bantuan?
  4. Pernahkah kita peka melihat situasi yang sama terjadi dengan orang lain? Apakah kita pernah bertindak seperti Yesus, yakni membantu mereka yang sedan jatuh untuk bangun dan bangkit kembali?
  5. Pernahkah kita melakukan hal sederhana sebagai umat beriman untuk saling membangkitkan dengan cara saling mengingatkan?
  6. Atau malah lebih ekstrim, pernahkah kita berperan bukan sebagai pembangkit, tapi malah sebagai pembunuh bagi sesama? Membunuh potensi sesama, membunuh kreatifitas sesama, membunuh perkembangan sesama sehingga dia menjadi jatuh tak berdaya seperti anak muda tadi yang menjadi jenazah?
Semoga sharing ini bermanfaat. Pace e Bene.

Pada pertemuan lalu, yang juga telah saya posting di sini, kita diajak untuk menyaksikan perubahan-perubahan yang terjadi disekitar kita. Kita yakin bahwa perubahan-perubahan itu merupakan mukjizat. Kelumpuhan-kelumpuhan yang sempat terjadi di mana-mana, kita saksikan disembuhkan oleh iman, itulah keajaiban atau mukjizat.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering bertanya mengapa harus ada kejahatan? Mengapa harus terjadi ketidak-adilan? Mengapa harus terjadi kelumpuhan? Mengapa harus ada kekerasan? Mengapa harus ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Dia, Sang Pencipta? Agar pertemuan pertama dalam BKSN 2012 tidak terputus sampai pada menyaksikan keajaiban "menyembuhkan kelumpuhan", pertemuan kedua ini kita diajak untuk melihat "apa penyebab utama terjadinya kelumpuhan". Meskipun tema pertemuan kedua dikatakan: "Mengusir Roh Jahat", di sini saya menegaskan bahwa: Roh Jahat menyebabkan kelumpuhan di mana-mana, oleh karena itu perlu diusir.

Setelah dihantar dengan konsep pemikiran seperti di atas, sekaligus kita sudah bisa melihat hubungan antar pertemuan pertama dengan pertemuan kedua dari BKSN 2012, mari kita melihat beberapa point berikut untuk memperkaya kita dalam pendalaman KS.

Ada orang yang mengatakan bahwa "jahat" itu relatif. Alasan dominan bila ditanya mengapa, karena setiap orang mempunyai penilaian terhadap sesuatu jahat atau tidak, tergantung pribadi yang menilainya. Namun demikian, jahat, adalah sebuah hal "yang kurang" bahkan "sebuah ketiadaan". Jahat boleh dimengerti "kurang baik, tidak baik, tidak baik sama sekali". Apakah kita sebagai umat beriman masih mengatakan "jahat itu relatif"?

Kalau pertemuan minggu lalu kita diajak untuk melihat kelumpuhan-kelumpuhan yang terjadi disekitar kita, sekarang kita diajak untuk mencari dan melihat akar terjadinya kelumpuhan itu sendiri. Contoh: Korupsi adalah sebuah kelumpuhan. Korupsi membuat segala rencana menjadi pincang. Korupsi menjadikan hukum tak berdaya. Dan kita tahu penyebab korupsi itu adalah karena kerakusan, nafsu memiliki yang berlebihan. Dalam konteks ini, roh jahat yang harus diusir adalah sikap serakah, kerakusan, nafsu memiliki yang berlebihan. Adakah roh jahat yang masih bersarang dalam keluarga kita, dalam lingkungan kita, dalam masyarakat kita, dalam Gereja kita, bahkan dalam negara kita, yang potensial menyebabkan kelumpuhan yang lebih besar atau bahkan kelumpuhan total?

Mengusir roh jahat, bukan hal yang mudah. Yesus pernah mengatakan: "Penyakit jenis ini hanya dapat diusir dengan iman dan doa". Andaikan ada penyakit dengan status stadium 100, boleh kita katakan penyakit jenis ini sudah melebihi stadium 1000, karena obatnya secara medis tidak ada lagi. Pernyataan ini, bukan melemahkan kita sebagai umat beriman. Pernyataan ini merupakan tantangan bagi kita. Banyak umat beriman dari abad ke abad tetap juga berusaha untuk mengusir roh-roh jahat yang merongrong kehidupan. Adakah kita berusaha mengusir roh jahat yang sedang mencoba, sudah, bahkan sudah lama bersarang dalam kehidupan kita?

Sebagai manusai, kita tetap tidak luput dari kelemahan. Namun, kalimat ini tidak bisa digunakan sebagai tameng. Sebagai umat beriman, kita harus selalu terarah kepada kebaikan. Pernahkah kita bertanya bahwa dalam keadaan tertentu, tanpa kita sadari kita menjadi roh jahat bagi yang lain? Atau pernahkah kita meluangkan waktu sedikit untuk melihat bahwa kita bukan sarang roh jahat yang dapat menular kepada yang lain?

Kalau dulu, Yesus yang mengusir roh jahat. Dalam iman, kita tetap percaya bahwa bersama Yesus, kita tetap bisa mengusir roh jahat. Pernahkah kita berani mengatakan bahwa sesuatu itu roh jahat penyebab kelumpuhan, atau kita banyak diam saja karena takut terkucil dari masyarakat, takut dicuekin, takut dicap penjilat dan sebagainya?

Sudah bertahun-tahun kita mengikuti pendalaman Kitab Suci. Dan sepertinya, kita harus seperti kata Ebiet G Ade dalam lagunya: "Kita mesti telanjang, dan benar-benar bersih..."Sedikit agak ekstrim dan jujur agar pendalam KS ini ada gunanya. Bila tidak demikian, pendalam KS ini hanya formalitas belaka. Mari saling memperkaya dan bertolong-tolong, semoga goresan ini bermanfaat.***

Pace e Bene.


Menyaksikan Mukjizat Tuhan, merupakan tema Umum BKSN 2012. Pada pertemuan pertama, kita diajak untuk melihat dan mendalami mukjizat Tuhan "Penyembuhan Orang Lumpuh" dalam Injil Matius 9:1-8.

Sebagaimana kita ketahui, mendalami perikop ini dalam Pendalaman Iman mungkin sudah beberapa kali. Tapi saya yakin dalam situasi dan konteks berbeda. Kali ini, kita pun mendalami perokop ini lagi dengan konteks dan situasi aktual kita saat ini sebagai umat beriman yang sudah menginjak dan sedang menjalani tahun 2012.

Oleh karena itu, bila perikop ini pernah didalami dalam pendalaman iman sebelumnya, yakinlah bahwa situasi itu berbeda dengan sekarang. Tujuan utama menegaskan hal ini adalah agar kita tidak membangun rasa bosan dalam mengikuti pendalaman Kitab Suci yang sudah tidak asing bagi kita sebagai umat Katolik.

Mari kita melihat seluruh Tokoh yang terlibat dalam Matius 9: 1-8.

Tokoh-tokoh:

  1. Yesus sendiri
  2. Orang Lumpuh
  3. Orang Yang menggotong orang lumpuh
  4. Orang banyak
  5. Ahli Taurat
Tokoh-tokoh refleksif:
  1. Anak Manusia
  2. Orang yang telah sembuh
Dengan mengenali tokoh, kita dengan gampang mendalami teks ini sesuai dengan keadaan kita saat ini. Kita diajak untuk mengamati setiap tokoh yang disebutkan di atas.

Beberapa poin berikut bisa diungkapkan sebagai contoh-contoh menarik:

Yesus, dalam hidup-Nya selalu menunjukkan teladan. Selain berkata-kata, Dia juga menunjukkan teladan lewat perbuatan-Nya. Yesus sanggup memberi perubahan yang bagi kita umat beriman sering kita yakini sebagai sebuah keajaiban. Pendosa berubah menjadi tokoh iman, si lumpuh berubah menjadi sehat kembali, yang kerasukan roh jahat berubah menjadi pewarta kerajaan Allah, adalah merupakan keajaiban-keajaiban yang dibuat oleh Yesus. Sanggupkah kita sebagai umat beriman membuat keajaiban di lingkungan kita bekerja, lingkungan masyarakat dan dalam keluarga kita?

Sebagai orang lumpuh, kita tidak berdaya. Kelumpuhan dalam teks kitab suci dijelaskan sebagai cacat fisik dan melambangkan ketidak-sanggupan untuk berbuat banyak. Dalam konteks zaman kita sekarang ini, kelumpuhan dapat diartikan secara lebih luas. Kelumpuhan itu selalu ada dalam kehidupan kita sebagai manusia. Kelumpuhan dalam diri sendiri, kelumpuhan dalam keluarga, kelumpuhan dalam masyarakat, kelumpuhan dalam gereja dan bahkan dalam bernegara pun kita menemukan kelumpuhan.

Sebagai umat beriman, kita sering mengalami kelumpuhan iman, tak berdaya dan tidak bisa berbuat banyak. Dalam teks kitab suci, kita melihat begitu besar harapan dan iman si lumpuh. Meskipun dalam keadaan tak berdaya, si lumpuh masih tetap berharap. Dan melalui bantuan orang lain, akhirnya harapannya itu tercapai. Adakah kita hanya berpasrah pada keadaan yang kita alami saat ini. Apakah kita menerima kelumpuhan kita sebagai "takdir" yang sering disebut-sebutkan oleh orang lain? Umat Katolik tidak mengenal istilah "takdir" dan atau "nasib". Peran aktif kita sebagai umat beriman untuk mendapatkan keselamatan tetap dituntut.

Atau kita bisa berperan sebagai pengantara rahmat bagi orang-orang yang membutuhkan. Orang-orang yang menggotong si lumpuh merupakan tokoh penyalur rahmat. Kehadiran kita dapat menumbuhkan keajaiban. Tidak perlu kita membayangkan hal-hal yang amat dahsyat. Dalam hal-hal sederhana pun, mukjuzat itu bisa terjadi. Apakah kita sudah berperan sebagai pendukung terjadinya keajaiban dalam kelumpuhan yang sedang terjadi di sekitar kita?

Atau kita seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak setuju dengan perubahan? Kecemburuan sosial pun dapat menghambat terjadinya keajaiban. Ada kecenderungan untuk menghalangi orang lain mendapatkan rahmat. Ada kecemburuan bila orang lain mendapatkan rezeki. Hal ini dapat kita lihat dalam peran Ahli Taurat, para cendekiawan Yahudi yang tidak menerima perubahan yang dibuat oleh Yesus. Adakah kita melihat situasi yang sama dalam kehidupan bernegara, bergereja, masyarakat dan keluarga kita saat ini?

Kita sebagai manusia dapat menjadi pendukung terjadinya keajaiban, sekaligus bisa juga menjadi pendukung terjadinya kelumpuhan. Karena situasi seperti itu, kita diajak untuk melihat dan mendalami teks ini secara cermat dan dalam, dengan melihat dari berbagai aspek kehidupan. Pendalaman Kitab Suci akan menjadi aktual bila melihat segala sesuatu secara nyata dalam kehidupan sekarang ini.

Semoga poin-poin di atas membantu kita untuk mendalami Kitab Suci, terutama pada pertemuan Pertama BKSN 2012. Pace e Bene. **

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam karya Yesus, perumpamaan dan mukjizat tidak bisa dipisahkan. Keduanya berkaitan amat erat dan saling menentukan. Keduanya menjadi unsur pokok dari karya publik Yesus. Dalam Injil, Yesus membuat dua hal dalam pelayanan publik-Nya, yakni sabda dan karya (yang Ia katakan dan yang Ia lakukan). Dari sekian banyak yang diperbuat itu, beberapa diantaranya adalah perumpamaan dan mukjizat. (Gagasan Pendukung BKSN 2012, hal.3).

Pada Bulan Kitab Suci Nasional 2012 ini, umat beriman diajak untuk melihat dan menyaksikan mukjizat-mukjizat yang telah dibuat oleh Yesus dan masih terus dibuat oleh Yesus pada zaman sekarang. Di saat-saat umat beriman mengalami "padang gurun" imannya, kecenderungan untuk tidak sanggup melihat mukjizat Tuhan lebih mudah terjadi. Oleh karena itu, BKSN 2012 mencoba mengajak umat beriman yang sedang berada dalam situasi apapun, tetap sanggup melihat dan menyaksikan mukjizat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Bulan ini, umat Katolik diajak secara khusus melihat mukjizat Tuhan yang dikemas dalam empat pertemuan dengan tema-tema sebagai berikut:

  1. Menyembuhkan Orang Lumpuh
  2. Mengusir Roh Jahat di Gerasa
  3. Anak Muda di Nain
  4. Mengubah Air Menjadi Anggur
Keempat tema di atas akan saya tuliskan dalam posting saya berikutnya sesuai dengan situasi dan konteks Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, dan tentunya secara khusus sesuai dengan situasi di Lingkungan dimana saya menjadi fasilitator selama Bulan Kitab Suci 2012. Mudah-mudahan dapat menjadi "sharing" berharga bagi kita semua.

Selamat menjalani Bulan Kitab Suci Nasional 2012"

Persiapan.
Hari Jumat 10 Agustus 2012 pukul 19.00 WIB sebagian Tim 12 (Pastor Ketut, Dwi Patma, Wahyudi, Medi, Tanto) dari pusat paroki yang berada di Palangka Raya berangkat dari Gedung Serba Guna Tarung Barasih Jl. Tjilik Riwut Km 9 untuk menyerahkan berbekalan di beberapa etape yang direncanakan sebagai tempat singgah untuk istirahat, makan dan minum. Bahan perbekalan antara lain; beras, indomie, sarden, telur, minyak goreng, gula pasir, kopi dan teh. Tempat-tempat persinggahan tsb. antara lain; Petuk Liti, Balukon, Penda Haur, Manen Paduran, Hanua-Ramang.
Peserta Napak Tilas

Kegiatan Utama.
Hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2012 dari titik Nol Tangkahen sebelum Napak Tilas 110 Km Paroki  “YGB” dimulai dengan misa pukul 04.00 WIB yang diikuti oleh Tim 12, serta 9 partisipan dari umat pusat paroki dan umat stasi Tangkahen di rumah keluarga Bapak Putri yang dipimpin oleh Pastor Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD, yaitu : Wahyudi, Dwi Patma,  Medi, Tanto, P. Ami, P. Putri,  P. Ari,  Mersi, Stephanus, P. Aldi, P. Lala, P. Maria, M. Pipin, Bu Wandeh, Helen, P. Bagus, Bagus, Ari,  Palem, M. Putri.

Setelah selesai misa Tim 12 dan 9 orang partisipan sebelum berangkat menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh keluarga Bapak Putri, sarapan pagi ini merupakan mukjizat yang pertama bahan bekal yang diserahkan dengan lauk sarden tapi berubah menjadi daging ayam, semoga Tuhan memberkati umat stasi Tangkahen dan secara khusus P. Putri sekeluarga . Setelah itu seluruh relawan bersiap-siap dengan mengenakan pakaian adat Dayak yang sudah disiapkan, lawung (ikat kepala) dan ikat pinggang warna kuning, mandau.

Start Napak Tilas 110 Km dimulai pukul 05.50 WIB dari Tangkahen dengan menyeberangi sungai Kahayan selama ± 7 menit dengan menggunakan feri kecil untuk memuat tim relawan berjumlah 21 orang ( Tim 12 dan 9 partisipan ). Yang dibawa batu, pasir dan air dari stasi Tangkahen. Perjalanan awal ini akan menuju ke desa Pangi. Barisan tim pejalan kaki menggunakan jalur kanan supaya aman.
Pukul 06.53 WIB sampai di Pangi, singgah di rumah P. Davit untuk serah terima Batu stasi Pangi yang akan dibawa ke Palangka Raya. Jarak yang ditempuh dari Tangkahen ke Pangi ± 7 km. Perjalanan dilanjutkan menuju ke desa Tumbang Tarusan.

Pukul 07.30 WIB sampai di Gereja St. Yohanes Rasul Tumbang Tarusan, di sini serah terima 2 buah batu yaitu dari stasi Pandawei dan stasi Tumbang Tarusan. Mulai dari Tumbang Tarusan tim relawan bertambah lagi 3 orang ( P. Noel, P. Tara dan P. Frin yang berusia 71 tahun) dengan demikian jumlah relawan sebanyak 24 orang. Jarak yang ditempuh dari Pangi ke Tumbang Tarusan ± 2 km. Perjalanan ini akan menuju ke desa Ramang.

Pukul 12.00 WIB sampai di Ramang etape istirahat pertama, serah terima batu patahu dari stasi Hanua kemudian istirahat untuk makan siang, makanan disediakan oleh P. Ami ketua umat Stasi Hanua-Ramang, menu makan siang sangat mengejutkan karena bahan makanan yang kita serahkan adalah lauk sarden tapi ternyata berubah menjadi daging babi, sungguh suatu mukjizat dari Tuhan melalui tangan keluarga P. Ami, Puji Syukur ya Tuhan, semoga Tuhan memberkati umat stasi Hanua-Ramang dan secara khusus untuk P. Ami sekeluarga. Ini merupakan mukjizat yang ke-2. Setelah makan siang tim relawan tidur siang sampai dengan pukul 15.00 WIB. Jarak yang ditempuh dari Tumbang Tarusan ke Ramang ± 11 km. Pukul 15.30 WIB perjalanan dimulai lagi untuk menuju desa Hanua di rute ini peserta relawan bertambah 4 orang ( M. Ami, Yeni dan M. Eman, P. Tolen) sehingga jumlah relawan menjadi 28 orang. Mengingat perjalanan yang masih panjang maka sejak start desa Ramang ke desa selanjutnya tim yang berjalan kaki mulai dibagi 2 kelompok untuk saling bergantian setiap menempuh jarak 5 km. Pada rute ini tim yang berjalan berjumlah 14 orang dan yang lain naik mobil. Perlu diketahui pula bahwa mulai perjalanan dari Tangkahen, Damang Adat Kaharingan desa Tumbang Tarusan ada di tengah-tengah barisan sampai di Ramang.

Pukul 16.30 WIB sampai di desa Hanua, di tempat ini pergantian personil yang berjalan kaki. Salut untuk kameramen Tanto yang tidak kenal lelah melakukan penyutingan perjalanan baik dari depan maupun dari belakang barisan, capek deeeh… Selamat datang Pak Wandeh dan selamat bergabung untuk melakukan pengawalan barisan tim pejalan kaki.
Pukul 17.30 WIB sampai di Lawang Uru, serah terima batu dan air dari stasi Lawang Uru, pergantian tim pejalan kaki dan personil relawan bertambah 2 orang (P. Pipin dan P. Rantau) sehingga jumlah relawan menjadi 31 orang. Perjalanan dilanjutkan menuju Manen Paduran. Dalam perjalanan ini kaki para tim pejalan kaki sebagian besar peserta sudah mulai lecet dan melepuh. Pak Palem mulai lempoh he…he… tapi semangatnya membara terus.

Pukul 18.30 WIB sampai di etape istirahat yang ke-2 yaitu stasi Manen Paduran di rumah P. Lili, perjalanan yang ditempuh sudah mencapai ± 44 km, perjalanan ini sudah melampaui target awal sehingga diputuskan malam ini tidak melanjutkan perjalanan melainkan istirahat tidur dan perjalanan malam dibatalkan. Demikian juga umat Stasi Manen Paduran menyediakan konsumsi yang sama seperti di tempat-tempat sebelumnya yang didapatkan menu daging ayam, ikan dan daging babi lagi-lagi sarden itu gak muncul lagi, apa ikan sardennya hidup lagi yaaa… Sungguh berkat Tuhan Allah benar-benar berlimpah untuk para tim relawan, semoga bekat-berkat yang lain pun akan senantiasa berlimpah untuk dimasa-masa yang akan datang untuk umat Paroki YGB pada umumnya juga untuk para relawan pada khususnya. Amiiiin. Pada malam hari ini peserta relawan ada yang datang dari pusat Paroki, yaitu: Yoseph, Donatus, Eko Priyono, Darmaji dan Aloysius Pati kedatangan mereka sungguh menambah semangat tim yang ada. Salut untuk P. Darmaji dan P. Pati ditengah-tengah kesibukan mereka masih berusaha untuk bergabung meskipun pada akhirnya harus kecewa karena yang pada malam ini diadakan perjalanan malam namun dibatalkan, maka pada malam itu juga kembali turun ke Palangka Raya karena keesokan pagi harinya harus menjalankan tugas masing-masing.

Hari Minggu tanggal 12 Agustus pukul 03.30 WIB, start dari Manen Paduran melintasi 2 (dua) desa Bereng Rambang dan desa Parahangan menuju Penda Haur, jumlah tim yang berjalan kaki secara bergantian berjumlah 34 orang. Selama sepertiga perjalanan 110 km banyak sekali kisah cerita lucu dalam bercanda dan berdoa, namun itu semua tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata hanya setiap pribadi relawan yang ikut dalam kisah perjalanan ini menjadi sesuatu kenangan yang tidak akan pernah terulang lagi selama hidupnya. Dan menjadi sebuah hiburan ketika beberapa orang mencemooh kegiatan ini sebagai kegiatan orang gila, orang yang kurang kerjaan dan lain sebagainya. Ini sebuah kisah nyata sebagai wujud keprihatianan dan perjuangan dalam doa untuk mewujudkan kepentingan orang banyak dan sebagai ziarah iman yang paling gampang bagi orang yang tidak punya apa-apa. Sungguh luuaaar biasa….dan sungguh-sungguh GILA. Senyuman, canda dan tawa menjadi jantung semangat para relawan yang pantang menyerah untuk menyelesaikan tugasnya sampai di tujuan. Hiduuup Pastor Ketut, yang tanpa lelah dan sabar mendampingi perjalanan religi ini.
Di daerah Parahangan barisan tim relawan yang jalan kaki menjadi pemandangan yang menyeramkan bagi penduduk di wilayah itu, mereka ketakutan ketika tim relawan melewatinya, penduduk yang sedang santai di luar rumah untuk bermandi cahaya mentari pagi bersama anak-anak mereka kemudian lari cepat-cepat untuk masuk rumah dan kemudian mengunci pintu dan menutup semua jendela rumah mereka rapat-rapat. Dikira kami ini adalah KAYAU atau akan membuat kerusuhan karena tim relawan menggunakan lawung warna kuning dengan mandau yang disandang. Untuk menghilangkan kegelisahan penduduk setempat kami (tim relawan) berhenti sejenak dan Pastor Ketut memberikan penjelasan yang secukupnya untuk menenangkan mereka.

Pukul 06.30 sampai di Penda Haur singgah di rumah Mama Feri untuk menerima santapan rohani dan santapan jasmani. Selamat datang Pastor Win yang mengendarai motor GL-nya, setelah beristirahat sebentar tim relawan minum teh dan kopi dilanjutkan dengan Misa Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Win yang dimulai pukul 07.30 WIB, sekali lagi para relawan harus berjuang melawan kantuk yang tidak tertahan untuk tetap mengikuti  perjamuan ekaristi, setelah misa dilanjutkan dengan sarapan pagi disaat yang sama ada salah satu umat stasi Hanua (Mama Yopi dan keluarga) yang sedang melintasi rute tim relawan berhenti sejenak juga memberikan minuman isotonik dan nasi bungkus sebanyak 30 bungkus untuk tambahan makanan, Puji Tuhan banyak sekali orang baik yang kami jumpai sepanjang perjalanan. Dan yang menarik Bu Wandeh menemukan seorang umat yang lama hilang dalam keadaan sakit dan lumpuh di pembaringan di samping rumah tempat penyelenggaraan misa pagi itu. Sekali lagi paroki Yesus Gembala Baik menemukan domba yang hilang.
Perjalanan dilanjutkan lagi pukul 09.35 WIB dari desa Penda Haur menuju desa Balukon yang sebelumnya akan melintasi 2 (dua) desa yaitu desa Tahawa dan desa Bahu Palawa, panas karena teriknya sinar matahari seakan semakin mengobarkan semangat untuk tetap bertahan, barisan tetap utuh, langkah kaki yang semakin pendek dan doa masing-masing relawan menyangga badan untuk tetap membawa batu, pasir dan air yang dibawa dari stasi-stasi Tangkahen, Pangi, Tumbang Tarusan, Hanua-Ramang, Lawang Uru dan Manen Paduran. Senyuman sebentar-sebentar mengembang diantara para relawan pada mereka yang saling berpandangan. Mulai rute ini Pastor Win mengawal perjalanan tim relawan.

Pukul 10.45 WIB sampai desa Balukon, diluar perkiraan yang seharusnya sampai pukul 12.00 WIB untuk istirahat dan makan siang di rumah P. Syerli akhirnya tim memutuskan hanya ada pergantian beberapa relawan untuk melakukan perjalanan berikutnya menuju desa Bukit Liti, sebelumnya akan melintasi desa Pamarunan terlebih dahulu, rute ini adalah perjalanan duapertiga jarak tempuh 110 km, terik sang surya membuat perjalanan relawan mulai tidak stabil jarak yang renggang antar relawan menjadi fokus untuk kebersamaan dalam rute ini, masih dengan semangat yang berkobar-kobar barisan sesekali kembali menjadi rapat, sesekali menjadi renggang dan sesekali menjadi rapat kembali. Sungguh menjadi sebuah refleksi bahwa hubungan antar pribadi harus saling menyemangati satu sama lain dalam kehidupan yang saling membutuhkan.

Pukul 12.15 WIB tiba di Bukit Liti di rumah Tukang Tambal Perempuan (mama Oping)  salah satu umat stasi Petuk Liti, di tempat ini menjadi persinggahan tim relawan untuk istirahat dan makan siang. Bahan makanan dari Balukon dikirim menuju Bukit Liti. Dengan demikian jarak yang telah ditempuh mencapai ± 82 km. Di persinggahan ini kami dikunjungi oleh Kapolsek Bukit Rawi, terima kasih untuk Pak Kapolsek yang telah ikut memantau perjalanan Napak Tilas ini. Dan di tempat yang sama telah datang juga Davit Komka dan Kevin beserta keluarga yang ikut menyemangati perjalanan ini. Tim relawan santap siang dengan menu yang penuh keajaiban kembali, ikan, daging ayam dan daging babi menjadi menu siang hari, terima kasih untuk umat di Balukon dan secara khusus keluarga P. Syerli yang telah bersusah payah menyiapkan makaan siang, jangan kecewa ya P. Syerli karena kami tidak jadi singgah di rumah, semoga Tuhan memberkati budi baik ini. Setelah makan tim relawan ada yang mandi dan ada yang tidur, sempat sesaat terjadi hujan dan petir saat itu.
Pukul 15.00 WIB rombongan dari pusat paroki Pastor Fredy, Bu Agnes, Bu Susi dan P. Darmaji tiba di Bukit Liti dengan membawa bahan makanan lagi, tim relawan makan lagi sore hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Petuk Liti. Pukul 16.00 WIB rombongan KOMKA yang dipimpin oleh Isna berjumlah 6 (enam) orang datang lagi menyusul untuk bergabung dalam perjalanan Bukit Liti ke Petuk Liti, umat stasi Petuk Liti 4 (empat) orang. Jumlah tim relawan pada rute ini berjumlah 45 orang.

Pukul 17.00 WIB perjalanan tiba di desa Petuk Liti, disambut oleh Ketua umat Stasi Petuk Liti P. Rako bersama umat, di tempat ini terjadi penyerahan batu dari Stasi Petuk Liti, berikutnya tim relawan mandi makan malam dan sekaligus tidur malam hari di beberapa rumah umat stasi Petuk Liti yaitu sebagian tim relawan di rumah P. Syerli yang baru selesai dibangun dan belum pernah ditempati dan sebagian di rumah P. Rako. Rombongan dari Palangka Raya yang dipimpin oleh Pastor Fredy kembali ke Palangka Raya pukul 17.30 WIB, terima kasih untuk rombongan Pastor Fredy yang telah mendampingi perjalanan rute Bukit Liti sampai Petuk Liti. Makan malam pukul 19.00 WIB di rumah P. Anto, lagi-lagi dengan menu yang istimewa yaitu daging ayam, pada jam yang sama umat dari stasi Hanua (P. Susi) mengantar juga nasi bungkus, buah semangka dan the gelas beberapa dos. Setelah makan rombongan KOMKA kembali ke Palangka Raya, terima kasih untuk rombongan KOMKA yang telah bergabung dalam  perjalanan rute Bukit Liti sampai Petuk Liti.

Hari Senin tanggal 13 Agustus 2012, start pukul 03.30 WIB rute Petuk Liti menuju Kathedral St. Maria Palangka Raya, diikuti tim relawan berjumlah 38 orang relawan (pertambahan personil P. Rako, P. Bungis, Mama Bungis, Mama Oping, Yohanes, Kevin dan David), rute ini akan melintasi desa Sigi, desa Bukit Rawi, desa  Danau Sanggalang, desa Tumbang Rungan, desa Pahandut Seberang, dengan jarak ± 20 km. Sampai di Bundaran Sigi barisan Napak Tilas mengelilingi satu kali. Pukul 05.30 WIB tim relawan istirahat di Bukit Rawi ± 30 menit dan melanjutkan perjalanan lagi menuju Danau Lais desa Danau Sanggalang.

Pukul 07.30 WIB sampai di Danau Lais tim Napak Tilas istirahat sebentar batu, pasir dan air  diturunkan di atas mobil ± 30 menit, sambil beristirahat dengan mendengarkan lagu adat dayak sebagian relawan menari pertanda kebahagiaan mereka untuk bisa meluangkan waktu untuk ikut bergabung dalam kegiatan religi ini.

Pukul 08.00 WIB bergerak kembali dari danau Lais pada rute ini jalan sangat sempit sehingga pengaturan lalu lintas menjadi perhatiah serius agar lalu lintas kendaraan tidak terganggu dan tetap berjalan lancar, barisan teratur, langkah-langkah kaki tetap mantap dan cepat meskipun tenaga sudah mulai terkuras, namun semangat perjuangan yang berkobar-kobar menuju titik nol Palangka Raya seperti mempunyai kekuatan yang dahsyat mendorong tim Napak Tilas untuk merangsek masuk Kota. Pukul 08.30 WIB wartawan senior Harian Kalteng Pos, P. Sensi bergabung dalam barisan tim Napak Tilas.

Pukul 10.15 tim Napak Tilas sampai di Pahandut Seberang tepatnya di tempat wisata Kum Kum, Voor Rijder Polda Kalteng mulai mengawal perjalanan menuju titik nol Palangka Raya, Pukul 11.15 WIB tim Napak Tilas memasuki pintu gerbang Gereja Kathedral St. Maria, batu, pasir dan air yang dibawa dari stasi-stasi diturunkan dan diletakkan di depan altar dalam gereja. Kemudian tim relawan makan siang dan istirahat.
Pukul 16,00 WIB, barisan mulai bergerak lagi menuju Biara SVD Jl. Tjilik Riwut Km 5,5, peserta relawan dari lingkungan-lingkungan pusat paroki dan biarawan-biarawati bergabung untuk masuk dalam barisan, tiba di Biara SVD pukul 17.05 WIB, batu, pasir dan air yang dibawa dari stasi-stasi diturunkan dan diletakkan di depan altar dalam Kapela Soverdi dan menginap semalam, termasuk para relawan dari stasi-stasi dan tim 12 yang menginap di Wisma Arnoldus Yansen.

Hari Selasa tanggal 14 Agustus 2012 pukul 16.00 WIB, barisan Napak Tilas bergerak lagi menuju Aula Keuskupan kemudian batu, pasir dan air diturunkan dan digabungkan dengan batu, pasir dan air dari Katingan, Barito dan batu dari Yerusalem, pukul 18.00 WIB misa ekaristi dipimpin oleh Bapak Uskup Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF setelah misa ramah tamah yang di jamu oleh Bapak Uskup dan sekaligus diperkenankan tim relawan bermalam di Aula Keuskupan. Terima kasih untuk Bapak Uskup atas akomodasi serta fasilitas yang diberikan kepada tim relawan. Pada hari yang sama pada surat kabar Harian Kalteng Pos, Napak Tilas 110 km menghiasi  rubrik pada salah satu halaman koran tersebut. Terima kasih Kalteng Pos semoga menjadi sosialisasi yang aktual untuk masyarakat Bumi Tambun Bungai.

Hari Rabu tanggal 15 Agustus 2012 bertepatan dengan hari ulang tahun Paroki Yesus Gembala Baik tim Napak Tilas 110 km Paroki YGB mulai bergerak kembali pada pukul 14.00 WIB start dari Aula Keuskupan Palangka Raya menuju Pusat Paroki Yesus Gembala Baik Jl. Tjilik Riwut Km 9, dengan langkah yang pasti tim membawa batu, pasir dan air yang akan digunakan sebagai peletakan batu pertama dari stasi-stasi terjauh akan masuk ke titik Finish namun itu bukan berarti akhir dari perjalanan perjuangan panjang sejauh 110 km. Barisan rute terakhir ini agak panjang dibandingkan barisan sejak awal dari titik nol km, karena selain Tim 12, relawan stasi, bergabung pula Biarawan-biarawati, anak-anak, remaja dan KOMKA yang ingin ambil bagian. Pada akhirnya pukul 13.15 WIB barisan ini memasuki pintu gerbang halaman pusat paroki Gedung Serba Guna Tarung Barasih dan terus masuk ke lokasi dimana tempat peletakan batu pertama dengan mengelilinginya sebanyak tiga kali, dilanjutkan dengan Misa Peletakan Batu Pertama yang dipimpin oleh Bp. Uskup Palangka Raya Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF dan menjadi titik awal peletakan batu pertama pembangunan Gereja Yesus Gembala Baik.
Perjalanan Napak Tilas 110 Km ini bukan merupakan gagah-gagahan atau menunjukkan kekuatan seseorang secara fisik melainkan mencoba memasuki suasana keprihatinan pada perjalanan suka dan duka berjalan pada Salib Kristus, ada sisi perjuangan, ada sisi pengorbanan yang terus menerus dalam membangun Gereja di Paroki Yesus Gembala Baik, yang menginspirasi serta mengandung filosofi yang mendalam yaitu :
1. “Satu tekad bulat secara bersama-sama berjuang membangun Gereja Yesus Gembala Baik (Hinje Hapakat Mampendeng Gereja Yesus Gembala Baik) seluruh umat Paroki Yesus Gembala Baik, baik yang di pusat paroki maupun yang tersebar di stasi-stasi, sekaligus menjadi sejarah Gereja”.
2. Sebagai bentuk ungkapan hati dan ziarah rohani bagi setiap pribadi yang mau dan berani dengan sukarela ambil bagian dalam Napak Tilas 110 Km, Tangkahen sampai Tjilik Riwut Km. 9 Palangka Raya Paroki Yesus Gembala Baik dengan berjalan kaki.
3. Barangsiapa menyediakan waktu untuk Tuhan maka ia akan mendapatkan kesempatan,
Barangsiapa memelihara nyawanya akan kehilangan nyawanya,
Barangsiapa mau memberi maka ia akan mendapatkan.

Penutup.
Dengan mengucap puji syukur kepada Allah Bapa di Surga karena Tuhan telah menyertai dan sungguh-sungguh Roh Kudus telah turun kepada masing-masing pribadi relawan, Napak Tilas 110 km dapat berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan dan para relawan dijauhkan dari sakit, semuanya tiba di titik Finish dalam keadaan selamat dan sehat.

Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah terlibat dalam kegiatan ini :
1. Pastor Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD.
2. Pastor Edi Winarto, MSF.
3. Pastor Freddi Parera, SVD.
4. Dewan Paroki YGB.
5. Bapak Uskup Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF.
6. Para Ketua Umat Stasi dan umat stasi.
7. Para Ketua Lingkungan dan umat lingkungan.
8. Instansi Kepolisian terkait Polsek, Polres dan Polda Kalteng.
9. Umat secara langsung terlibat dalam rangkaian perjalanan bersejarah ini.
10. Dll.

Umat Kristiani, terutama Umat Kristen Katolik pasti sudah mengenal istilah "Ekaristi". Perayaan Ekaristi adalah perayaan Agung dalam Gereja Katolik karena Imam Agung, Yesus Kristus hadir dalam perayaan tersebut. Oleh karena itu, Perayaan Ekaristi tidak dapat disebut sebagai perayaan kenangan akan Paskah Kristus, tetapi harus lebih pada makna "MENGHADIRKAN KEMBALI" Paskah Kristus.

Sebagai tindakan "menghadirkan" kembali, maka yang hadir pada saat itu adalah Kristus sendiri sebagai Imam dan Tubuh Kristus dalam rupa roti dan anggur yang dibagi-bagikan. Yang disambut dan sebagai materi berbagi bersama adalah makan rohani yang telah dikuduskan yakni tubuh dan darah Kristus, Sang Imam Agung itu sendiri. Beberapa catatan sebagai poin-poin praktis penghargaan terhadap Ekaristi dapat dilihat dari inspirasi terpendam berikut ini:


  1. Perayaan Ekaristi merupakan suatu perayaan yang utuh, satu dan sempurna. Oleh karena itu, perayaan ini dibuka dan ditutup sekali saja dengan Tanda Salib (tanda kemenangan Kristus) Pembuka dan diakhiri dengan Tanda Salib Penutup (Berkat). Semua ritus dalam Perayaan Ekaristi adalah satu, tidak terpisah. Ritus Pembuka, Ibadat Sabda, Ekaristi dan Ritus Penutup merupakan satu rangkaian yang utuh. Meskipun kadang-kadang kita masih menemukan "Tanda Salib" sebelum dan sesudah khotbah, pada saat DSA, pada saat penyambutan Komuni, tanda salib tersebut bukanlah tanda-tanda peralihan dari ritus ke ritus. Beberapa alasan rohani yang sering dilontarkan untuk menamakan tanda salib tersebut adalah "Tanda Devosi" lebih dikenal.
  2. Bila datang menghadiri perayaan Ekaristi, mengkuti Ritus Pembuka, namun pada saat Homili yang merupakan bagian dari Ibadat Sabda, kita meninggalkan ruang perjamuan dan keluar untuk menghilangkan ngantuk dengan merokok, atau menggerakkan badan untuk membuang kantuk, adalah lebih baik bila tidak kembali lagi ke ruang perjamuan untuk menyambut Komuni Kudus. Perayaan yang diikuti menjadi tidak utuh dan menjadi tidak bernilai.
  3. Bila terlambat dalam mengikuti perjamuan, Ritus Pembuka dan Ibadat Sabda tidak diikuti dan datang hanya untuk menyambut Komuni, alangkah baiknya bila menunggu jadwal perayaan berikutnya karena anda belum siap untuk menyambut Dia yang Kudus.
  4. Selesai Komuni, langsung beranjak pulang dan tidak menunggu berkat, adalah lebih baik berpikir sekali kali lagi untuk tidak datang karena anda tidak menyempurnakan perayaan anda dengan meninggalkan bekal yang seharusnya anda bawa pulang. Kehadiran anda menjadi sia-sia karena tidak disempurnakan dengan sebuah perutusan yang diberikan oleh Dia yang hadir sebagai Imam Agung.
  5. Anda mengikuti seluruh rangkaian perayaan, menyambut Komuni dan menerima berkat, tapi setelah keluar dari ruang perjamuan, mulut anda penuh dengan makian dan cemooh, pikirlah sekali lagi apakah anda layak untuk mengikuti perjamuan yang kudus itu di lain waktu.
Manusia pandai berdalih, tapi Tuhan tahu segalanya sebelum anda berdalih. "Kelemahan Manusiawi" sering menjadi istilah terlaris untuk memaafkan diri. Dengan istilah ini, umat beriman sering terjerumus dalam kebiasaan yang buruk dengan menghalalkan segalanya dengan dalih-dalih yang ampuh. Ingat, sebelum anda berdalih, Tuhan sudah tahu segalanya. Semoga bermanfaat.

Ini adalah bunyi SMS seorang bapak yang bertanya kepada saya. Bunyinya sebagai berikut:
Hari ini saya tidak ke Gereja. Saya tidak suka mendengar nasehat Pastor yang hari ini merayakan perayaan Ekaristi. Tidak dosakan?
Saya pun membalas seperti ini:
Aduh, maaf pak. Koq ditanya pada saya. Saya juga bukan Pastor. Pun bukan kaum biarawan. Dan meskipun Pastor juga, saya tidak berani memberi vonis untuk menentukan bahwa ini dosa.
***
Terlepas dari jawaban singkat di atas, yang menentukan dosa atau bukan dosa tindakan seperti ini bukanlah orang lain. Pribadi yang bersangkutan sudah sangat mampu menjawab pertanyaan seperti ini. Dosa atau bukan dosa, tindakan seperti di atas jelas salah. Bila tidak senang dengan pastor, mengapa tidak mau datang menghadap Tuhan di rumah-Nya? Bukankah Pastor juga adalah tamu Tuhan yang berkunjung ke rumah-Nya.

Adalah sebuah ke-salah-paham-an yang terjadi di antara umat beriman di mana tidak dapat membedakan antara Imam sebagai Pribadi yang ditahbiskan dan Imam sebagai pribadi, yang juga adalah manusia biasa seperti umat lainnya. Dalam banyak hal, umat beriman diharapkan sanggup membedakan kedua hal ini. Kelemahan manusiawi itu tidak jauh dari pribadi seorang Imam yang telah ditahbiskan. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita pun juga harus memahami bila Imam bertindak tidak sesuai dengan keinginan umat. Di sisi lain, meskipun Imam adalah manusia biasa seperti umat lainnya, Imam adalah orang yang terpilih dan terurapi. Tahbisan Imamat itulah yang kiranya tetap dipandang sebagai sebuah keistimewaan dari seorang Imam.

***
Sebagai solusi: Bila marah, kecewa, jengkel atau tidak bertegur sapa dengan seorang Imam, janganlah hal itu menjadi alasan yang membuat kita kecewa, marah dan tidak mau datang ke hadapan Tuhan.
Sebagai umat beriman yang baik, hiduplah sesuai dengan panggilan anda sebagai umat Allah yang baik. Demikian pula Imam, hidupilah pilihan hidup sebagai Imam itu sebagaimana mestinya. Baik umat, maupun Imam, bila setia pada panggilan masing-masing, kita percaya masalah seperti di atas tidak muncul. Semoga.

Prediksi, ramalan, atau apa pun yang sejenis dengan benda-benda ini tidak berlaku untuk menganalisa "kehidupan". Emosi, pribadi dan kejiwaan tidak dapat diramalkan situasinya. Tidak seorangpun dapat mengatakan bahwa hari ini saya marah, atau besok saya akan bahagia, atau lusa saya akan kecewa. Hal ini membuktikan bahwa hidup tidak dapat diukur dengan berbagai prediksi.

Kendati demikian, pasti ada hal-hal yang menjadikan hidup bermakna dan dinikmati. Banyak orang mengatakan bahwa kejujuran dan ketulusan adalah kunci keberhasilan. Ada yang mengatakan ketekunan dan percaya diri adalah kunci keberhasilan. Banyak pendapat lain yang mengatakan ini dan itu adalah kunci utama. Itu adalah sharing pribadi sesuai dengan pengalaman mereka masing-masing.
****
Mari kita baca beberapa sharing berikut:
"Saya dalam bekerja selalu jujur. Kalau benar, ya, benar. Kalau salah, ya, salah. Titik. Tapi kenyataannya, saya sering menjadi korban. Tidak semua orang suka sikap seperti itu. Bahkan pemimpin saya pun tidak suka hal itu. Mereka lebih senang pada teman saya yang pandai bersandiwara. Jadi, kejujuran bagi saya adalah tuan yang memperbudak saya sendiri".
---
"Selama ini, banyak orang mengatakan saya bodoh, polos. Karenanya, mereka dengan gampang memperlakukan saya apa adanya. Mereka bahkan mengkondisikan supaya saya terjerumus. Dan dalam situasi itu, mereka mengambil kesempatan baru untuk sesuatu yang tidak benar. Karenanya, bagi saya bertindak penuh siasat itu penting. Bersikap acuh tak acuh itu penting. Bersikap sinis itu penting".
---
"Apa yang kurang, tidak ada lagi. Saya sudah punya rumah mewah, mobil, dan investasi. Saya sudah memiliki lebih banyak dari orang lain. Itulah yang saya pakai sebagai ukuran bahwa kehidupan saya sudah lebih baik dari yang lain. Tapi, koq, mereka yang hidup pas-pasan begitu akur dan keluarga mereka susah dirongrong dengan berbagai macam kesulitan. Mereka bisa makan sambil tersenyum dan tertawa. Koq saya yang sering mengatakan "Hidup saya sudah lebih baik", terjerumus dalam frustrasi berkepanjangan. Menurut saya, kekayaan juga tidak dapat dipakai untuk mengukur kehidupan".
****
Beberapa sharing di atas, dikutip dalam sebuah Bunga Rampai "Lika-liku Kehidupan". Masih banyak lagi hal yang diungkapkan dalam buku ini, dan sudah ditulis sejak 50 tahun lalu. Dalam zaman yang serba canggih ini, kita dihadapkan dengan masalah yang lebih dari 50 tahun lalu. Oleh karena itu, menurut saya, bukanlah ini atau itu menjadi kunci kesuksesan, seperti yang digambarkan di atas. Kunci keberhasilan, kebahagiaan, sering dimengerti dengan "konsisten". Konsisten pada keyakinan, konsisten pada prinsip, konsisten pada segala hal yang telah diputuskan". Bila menjadi pribadi yang ikut-ikutan, hanyut dan melebur dalam zaman, tentu saja akan menjadi manusia yang sering mengatakan: "Hari ini saya sudah lebih baik" tapi, cemas akan hari esok akibat ke-tidak-konsisten-an".

Perasaan sedih dan kecewa menguasai saya saat mendengar beberapa teman membicarakan peristiwa naas Pesawat Sukhoi Superjet 100 pada acara perkumpulan keluarga tadi malam. Sedih, karena setiap orang mempunyai cara pandang berbeda tentang peristiwa ini, terlebih pembicaraan yang merujuk pada korban peristiwa ini. Penasaran, karena berbagai argumen ditampilkan yang merujuk pada Sukhoi "SUPER"jet 100 itu sendiri.


Seorang bapak mengangkat pembicaraan DIALOG Upin-Ipin, film kesukaan anak-anak BALITA sebagai berikut:
Ihsan, Upin dan Ipin pergi sembahyang ke mesjid. Ihsan kehilangan sepatu barunya dan saat keluar dari mesjid, Upin dan Ipin berdialog dengan Ihsan.
Upin: Mengapa kamu sedih Ihsan?
Ihsan: Sepatu aku hilang!
Ipin: Kenapa tidak pakai sandal jepit saja macam kita ini?
Ihsan: Sayanglah, aku mau menunjukkan sepatu baru aku!
Ipin: Patutlah, niat kau tak betul! Tak baik menunjuk-nunjuk.

Bapak itu mengakhiri pembicaraan tentang Sukhoi Superjet 100 dengan kalimat "NIAT TAK BETUL, TAK BAIK MENUNJUK-NUNJUK". Beberapa orang tertawa mendegar cerita bapak tua ini. Kami yang mendengar menjadi penasaran sambil bertanya "APA HUBUNGANNYA?" Bapak yang punya cerita pun mulai berkata-kata dengan gaya humornya.
Mari kita pegang kata "SUPER". Yang kita ketahui dengan kata "SUPER" merujuk pada sesuatu yang lebih dari yang biasa. Atau dengan kata lain, sesuatu yang sanga luar biasa boleh dikatakan. Mengapa ada film "Super Man", karena dalam film tersebut di tampil seorang tokoh yang lebih kuat dari manusia pada umumnya. Ada "Super Hero", ada "Super Girl" ada juga "Super Mie" yang rasanya, katanya, melebih mie instan lainnya. Dunia periklanan kita pun menyerap istilah "Super" ini. Super lezat, Kecap Super, super, super dan super. Semua penggunaan kata "super" merujuk pada "menunjukkan bahwa inilah yang terhebat, inilah yang terbaik. Menjadi heboh bila apa yang dikatakan "SUPER" itu malah menjadi "tidak super" pada waktu bersamaan.
Sukhoi Superjet 100, entah itu sebagai 'brand' atau sekedar nama untuk membedakan dari yang lain, pasti punya makna dari pemilik perusahaan yang membuat pesawat ini. Seperti diberitakan, SSJ 100 ini sudah berkunjung ke berbagai negara untuk memperkenalkan pesawat super ini. Akhirnya, tiba di Indonesia. Pilot yang dipilih, bukan pilot sembarangan, sudah di latih dan sudah teruji. Lalu mengapa harus menabrak Gunung Salak? Bukankah dari segi kemampuan, kita sudah percaya bahwa "Super" itu sudah mewakili seluruh kehebatannya?
Satu hal. Ini untuk menyadarkan manusia. Kekuatan terbesar itu ada di tangan Dia. Dan manusia tidak tau kapan Dia itu bertindak, karena hanya Dia saja yang punya hak memutuskan. Jadi saya kembali saja ke dialog Upin-Ipin: NIAT KAU TAK BETUL, TAK BAIK MENUNJUK-NUNJUK.
***
Setiap orang pasti punya cara pandang berbeda tentang setiap peristiwa dalam hidup ini. Bagi saya, peristiwa naas ini disebabkan oleh satu hal saja. KETIDAKSEMPURNAAN atau bahasa akrabnya KELEMAHAN. Itu mewakili secara keseluruhan penyebab. Dan mari kita lihat nilai positifnya. Perusahaan pembuat SSJ 100 pasti akan mempelajari kelemahan ini. Customer yang sudah sempat menyusun proposal untuk membeli pesawat ini pun pasti akan berpikir 100 kali lagi. Semua tujuannya adalah demi perkembangan dan kebaikan ke depan. Dan satu hal lagi, KITA TIDAK PUNYA KEKUATAN APA PUN. KEKUATAN KITA AKAN SERING MENJADI TIDAK BERARTI SETELAH DIA, SUMBER SEGALA KEKUATAN ITU BERTINDAK.
Sebagai Umat beriman, mari kita berdoa untuk saudara-saudari kita yang menjadi korban peristiwa ini. Untuk keluarga-keluarga yang ditinggal, semoga mereka mendapat penghiburan dan tidak menjadi korban selanjutnya karena mengalami ketidak-seimbangan jiwa menghadapi masalah ini.

Sensen adalah seorang siswi yang terkenal sedikit bandel di kelasnya. Setiap kegiatan evaluasi seperti ulangan harian, ujian semester atau sejenisnya, teman-temannya mengenal dia dengan sebutan "kopekolog sejati". Istilah kopekolog diadopsi dari kata "pengguna kope'an" alias contek'an oleh teman-temannya. Saat UN, Sensen tetap mengandalkan jurus kopekologinya. Kali ini, kedua pahanya digunakan sebagai landasan kopekologi. Tulisan yang rapi dan mudah dibaca, menempel rapi di balik rok sekolahnya.

Pengawas : (tiba-tiba berteriak saat melihat Sensen mengangkat roknya) Hei... jangan dibuka!
Peserta UN: (semua pada bingung mendengar teriakan pengawas yang tiba-tiba itu)
Pengawas: (sedikit emosi, malu, memanggil Sensen bardiri di depan kelas) Sekarang, silahkan buka!
Sensen: (pura-pura tidak tahu) Apanya yang dibuka pak?
Pengawas: Saya mau lihat yang di balik rokmu itu?
Peserta UN: (tertawa dengan keras sehingga suasana menjadi ribut mendengar perintah pengawas)
Sensen: Tidak takutkah pak? Benar mau lihat di sini?
Pengawas: Takut apa? Cepat buka sekarang!
Sensen: Pak, Undang-undang Pornografi, lho...
Pengawas: (terdiam sesaat) Sekarang ambil lembar kerjamu, kerjakan di meja saya.
Sensen: Di belakang saja pak. Biar bisa saya buka sekali-sekali. Percaya deh, bapak tidak bakalan dituntut melanggar UU Pornografi.
Peserta UN: (bingung mendegar dialog pengawas dengan Sensen, sambil terus tertawa mengikuti pembicaraan itu)
Pengawas: Kamu mau ikut ujian atau mau buka rok?
Peserta UN: (Lagi-lagi tertawa keras dalam kebingungan).
Pengawas: (keluar dari kelas dan memanggil seorang Ibu pengawas untuk mengurus masalah Sensen).
Sensen: (dengan bangga dia berkata kepada teman-temannya) Saya berhasil mengusir pak pengawas.  Kecuali ibu ini...

Sensen dibawa ke kantor untuk menyelesaikan masalahnya. Peserta UN kembali bekerja. Pak Pengawas masuk kelas menerima tatapan membingungkan dari peserta UN lainnya yang tidak mengerti apa pokok masalahnya.

Sejalan dengan Umat Katolik memasuki masa Pra-Paska, pendalaman Aksi Puasa Pembangunan pun dilaksanakan seperti biasanya. Tema Aksi Puasa Pembangunan Tahun 2012 adalah "Panggilan Hidup dan Tanggung Jawab". Tema ini akan didalami bersama umat. Di Keuskupan Palangkaraya, pendalaman akan tema ini dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dan diakhiri dengan pertemuan terakhir (keempat dengan Ibadat Tobat) sebagai wujud dari pendalaman bersama dalam terang iman.

Seperti biasanya, saya berbagi dengan teman-teman yang terlibat sebagai fasilitator dalam pendalaman APP. Di sini saya membagikan satu versi yang dapat digunakan sebagai panduan untuk melaksanakan pendalaman APP 2012 (secara khusus di Keuskupan Palangkaraya, dan tidak tertutup kemungkinan dapat digunakan juga di Keuskupan Lain). Pembedaan ini adalah disebabkan oleh penjabaran tema sesuai dengan situasi di masing-masing keuskupan.


Aksi Puasa Pembangunan 2012 - Pertemuan i

Dalam merenungkan sengsara dan wafat Kristus selama masa prapaska, umat Katolik akan lebih sering mewujudkan permenungannya dalam devosi. Salah satu devosi yang dilakukan pada masa prapaska adalah Doa Jalan Salib.Di berbagai Paroki di Indonesia memiliki cara-cara yang cocok dan tepat untuk melaksanakan Doa Jalan Salib secara bersama-sama. Teks Doa Jalan Salib pun tersedia dalam beberapa buku Ibadah dan Syukur Katolik seperti Madah Bakti dan Puji Syukur.

Meskipun demikian, di sini saya melampirkan teks Doa Jalan Salib yang sudah dikonvert dalam format PDF, dan bisa dicetak dalam bentuk buku. Dalam dokumen ini ada dua versi Doa Jalan Salib Umum. Teks Doa ini dibuat dengan tujuan agar umat Katolik memiliki teks Doa Jalan Salib yang praktis untuk dibawa saat mengikuti Doa Jalan Salib.

Silahkan Download Teks Doa Jalan Salib di sini.

Umat Katolik di seluruh dunia sebentar lagi akan memasuki Masa Prapaska atau lebih dikenal dengan istilah Masa Puasa. Masa Puasa berlangsung selama 40 hari, yakni mulai dari Hari Rabu Abu sampai dengan Hari Kamis Putih.

Setiap kali Pendalaman Iman dan atau Pendalaman APP, banyak Umat Katolik bertanya tentang model puasa yang bagaimana yang tepat dan sesuai dengan ajaran iman. Kita bisa saja memahami pantang dan puasa secara hukum yang berlaku yang diatur dalam Hukum Gereja (misalnya: Kan. 1245 s.d. Kan. 1253), tetapi, praktisnya bagaimana kita menghidupi puasa itu sendiri?

Setiap orang mewujudnyatakan puasa secara berbeda, terutama dalam cara. Yang kita kenal dalam Gereja Katolik tentang puasa adalah masa di mana kita masuk pada masa kita melakukan "sekali makan kenyang dalam sehari". Sekali makan kenyang adalah penyederhanaan dari praktek puasa. Dan ini adalah praktek lahiriah yang dapat dilakukan dan juga dapat dilihat oleh orang lain.

Apa maksud dari Sekali Makan Kenyang? Setiap orang membutuhkan energi dalam hidup kesehariannya. Energi itu dapat diperoleh melalui makan, meskipun banyak cara lain, tapi makan adalah yang terutama. Untuk mendapat energi itu, orang harus "makan kenyang". Kalau 3 kali sehari makan kenyang, selama masa puasa dimaksudkan cukup sekali makan kenyang  dan 2 kali makan dengan ukuran setengah porsi dari "makan kenyang".

Kalau demikian, semua orang bisa saja menciptakan situasi seperti ini dalam keluarga bukan? Apakah makna mengurangi porsi makanan pada "dua kali makan lainnya?" Selama masa puasa adalah saatnya kita mengambil kesempatan untuk berbagi. Berbagi dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan. Kalau dalam sehari kita dapat membelanjakan Rp. 30.000,- untuk 3 kali makan, artinya dengan melakukan puasa, kita dapat menyisihkan Rp. 10.000,- yang nantinya menjadi hasil dari puasa kita dan diserahkan dalam Amplop Aksi Puasa pada hari Jumat Agung.

Puasa kita akan lebih terasa maknanya bila kita mengumpulkan sedikit, tapi setiap hari dibandingkan kita menyerahkan besar, tapi hanya sekali. Maksudnya, ada kecenderungan untuk menyerahkan sejumlah uang pada Hari Jumat Agung sebagai Hasil Aksi Puasa, tapi itu bukan dari praktek penyisihan setiap hari. Meskipun hal itu tujuan tetap baik, yakni berbagi dengan sesama, tapi untuk diri, seperti tidak ada makna puasa itu secara batiniah. Oleh karena itu, dari uraian di atas, kita harus bisa memaknai puasa: "BERGUNA DAN BERMAKNA UNTUK DIRI SENDIRI DAN JUGA UNTUK ORANG LAIN".

Ajaran konsili Vatikan II tentang arti dan tujuan perayaan ekaristi telah memacu berbagai studi yang mendalam. Begitu banyak diskusi maupun perdebatan tentang peristilahan serta nilai-nilai essensi dari liturgi. Jika kita mau melihat semua itu secara positif, tentu akan berguna sekali.


Liturgi dan Tata Perayaan

Sakramen dari akar kata Latin sacrum, artinya yang kudus. Dikalangan umat katolik dimengerti sebagai tanda yang menguduskan. Dalam arti luas, Kristus dan Gere juga disebut sakramen. Dalam arti sempit sakramen adalah tanda atau ucapan xuci. Kristus dan Gerejanya menguduskan umat beriman dalam tahap-tahap penting hidup-Nya dari lahir sampai pada kematian. Dalam Konsili Trente (1545-1563) Gereja mengajukan  adanya tujuh sakremen, yaini Baptis atau permandian, Krisma atau penguatan, Ekaristi, Tobat, Imamat, Perkawinan dan Perminyakan Terakhir. (1. Enciklopidi Nasional, hlm. 339)


Sakramentalia

*Renungan Singkat di bulan pertama 2012*

Iman adalah sebuah misteri. Oleh karena itu, setiap umat beriman senantiasa berusaha terus mencari dan mencari dermaga tempat labuhan akhir dari peziarahan iman itu. Seandainya semua telah tersingkapkan sekarang, maka umat beriman tidak perlu lagi mencari-cari, karena toh semua sudah menjadi jelas.

Dalam perjalan iman itu, banyak umat salah arah. Umat beriman sering dibimbing, diarahkan dan dituntun dengan berbagai teori iman. Melalui khotbah-khotbah yang berapi-api dari mimbar oleh Pendeta atau Pastor, umat selalu diberi vitamin kehidupan melalui teori dan ajaran iman. Oleh karenanya, umat pun yang merasa haus akan pengetahuan iman lebih menjunjung tinggi kebenaran teori daripada kenyataan hidup sebagai umat yang beriman.

Umat beriman mulai menetapkan nilai benar dan salah dalam peziarahannya. Saya salah, saya benar, semua diukur berdasarkan teori iman. Adakah yang sanggup membuat kita benar dan salah selain Dia yang Maha Benar? Pelan-pelan umat diajak untuk ber-rasionalisasi bertolok ukur kebenaran yang dituturkan dalam teori, tetapi lupa bercermin pada KEBENARAN SEJATI yang dituturkan dan diajarkan dengan teladan. Kita patut bertanya, perlukah umat mengharapkan Sosok Figur sebagai khotbah hidup daripada hanya kata-kata semata?

Berhentilah sejenak untuk membenarkan diri, dan lihatlah kenyataan yang hidup saat ini. Menghidupi iman, bukan di masa lampau atau masa mendatang. Menghidupi iman yang benar adalah menghidupi secara tulus dan jujur saat ini dan di sini. Jangan lupa berbuat baik karena ditutupi oleh pembenaran diri yang berlebihan. Jangan pula menjadi pesimis akan iman karena merasa diri berdosa dan berdosa. Yang menjadi hakim atas diri kita adalah kita sendiri dan Tuhan. **Ann.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget