MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Februari 2012

Sejalan dengan Umat Katolik memasuki masa Pra-Paska, pendalaman Aksi Puasa Pembangunan pun dilaksanakan seperti biasanya. Tema Aksi Puasa Pembangunan Tahun 2012 adalah "Panggilan Hidup dan Tanggung Jawab". Tema ini akan didalami bersama umat. Di Keuskupan Palangkaraya, pendalaman akan tema ini dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan dan diakhiri dengan pertemuan terakhir (keempat dengan Ibadat Tobat) sebagai wujud dari pendalaman bersama dalam terang iman.

Seperti biasanya, saya berbagi dengan teman-teman yang terlibat sebagai fasilitator dalam pendalaman APP. Di sini saya membagikan satu versi yang dapat digunakan sebagai panduan untuk melaksanakan pendalaman APP 2012 (secara khusus di Keuskupan Palangkaraya, dan tidak tertutup kemungkinan dapat digunakan juga di Keuskupan Lain). Pembedaan ini adalah disebabkan oleh penjabaran tema sesuai dengan situasi di masing-masing keuskupan.


Aksi Puasa Pembangunan 2012 - Pertemuan i

Dalam merenungkan sengsara dan wafat Kristus selama masa prapaska, umat Katolik akan lebih sering mewujudkan permenungannya dalam devosi. Salah satu devosi yang dilakukan pada masa prapaska adalah Doa Jalan Salib.Di berbagai Paroki di Indonesia memiliki cara-cara yang cocok dan tepat untuk melaksanakan Doa Jalan Salib secara bersama-sama. Teks Doa Jalan Salib pun tersedia dalam beberapa buku Ibadah dan Syukur Katolik seperti Madah Bakti dan Puji Syukur.

Meskipun demikian, di sini saya melampirkan teks Doa Jalan Salib yang sudah dikonvert dalam format PDF, dan bisa dicetak dalam bentuk buku. Dalam dokumen ini ada dua versi Doa Jalan Salib Umum. Teks Doa ini dibuat dengan tujuan agar umat Katolik memiliki teks Doa Jalan Salib yang praktis untuk dibawa saat mengikuti Doa Jalan Salib.

Silahkan Download Teks Doa Jalan Salib di sini.

Umat Katolik di seluruh dunia sebentar lagi akan memasuki Masa Prapaska atau lebih dikenal dengan istilah Masa Puasa. Masa Puasa berlangsung selama 40 hari, yakni mulai dari Hari Rabu Abu sampai dengan Hari Kamis Putih.

Setiap kali Pendalaman Iman dan atau Pendalaman APP, banyak Umat Katolik bertanya tentang model puasa yang bagaimana yang tepat dan sesuai dengan ajaran iman. Kita bisa saja memahami pantang dan puasa secara hukum yang berlaku yang diatur dalam Hukum Gereja (misalnya: Kan. 1245 s.d. Kan. 1253), tetapi, praktisnya bagaimana kita menghidupi puasa itu sendiri?

Setiap orang mewujudnyatakan puasa secara berbeda, terutama dalam cara. Yang kita kenal dalam Gereja Katolik tentang puasa adalah masa di mana kita masuk pada masa kita melakukan "sekali makan kenyang dalam sehari". Sekali makan kenyang adalah penyederhanaan dari praktek puasa. Dan ini adalah praktek lahiriah yang dapat dilakukan dan juga dapat dilihat oleh orang lain.

Apa maksud dari Sekali Makan Kenyang? Setiap orang membutuhkan energi dalam hidup kesehariannya. Energi itu dapat diperoleh melalui makan, meskipun banyak cara lain, tapi makan adalah yang terutama. Untuk mendapat energi itu, orang harus "makan kenyang". Kalau 3 kali sehari makan kenyang, selama masa puasa dimaksudkan cukup sekali makan kenyang  dan 2 kali makan dengan ukuran setengah porsi dari "makan kenyang".

Kalau demikian, semua orang bisa saja menciptakan situasi seperti ini dalam keluarga bukan? Apakah makna mengurangi porsi makanan pada "dua kali makan lainnya?" Selama masa puasa adalah saatnya kita mengambil kesempatan untuk berbagi. Berbagi dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan. Kalau dalam sehari kita dapat membelanjakan Rp. 30.000,- untuk 3 kali makan, artinya dengan melakukan puasa, kita dapat menyisihkan Rp. 10.000,- yang nantinya menjadi hasil dari puasa kita dan diserahkan dalam Amplop Aksi Puasa pada hari Jumat Agung.

Puasa kita akan lebih terasa maknanya bila kita mengumpulkan sedikit, tapi setiap hari dibandingkan kita menyerahkan besar, tapi hanya sekali. Maksudnya, ada kecenderungan untuk menyerahkan sejumlah uang pada Hari Jumat Agung sebagai Hasil Aksi Puasa, tapi itu bukan dari praktek penyisihan setiap hari. Meskipun hal itu tujuan tetap baik, yakni berbagi dengan sesama, tapi untuk diri, seperti tidak ada makna puasa itu secara batiniah. Oleh karena itu, dari uraian di atas, kita harus bisa memaknai puasa: "BERGUNA DAN BERMAKNA UNTUK DIRI SENDIRI DAN JUGA UNTUK ORANG LAIN".

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget