Sensen adalah seorang siswi yang terkenal sedikit bandel di kelasnya. Setiap kegiatan evaluasi seperti ulangan harian, ujian semester atau sejenisnya, teman-temannya mengenal dia dengan sebutan "kopekolog sejati". Istilah kopekolog diadopsi dari kata "pengguna kope'an" alias contek'an oleh teman-temannya. Saat UN, Sensen tetap mengandalkan jurus kopekologinya. Kali ini, kedua pahanya digunakan sebagai landasan kopekologi. Tulisan yang rapi dan mudah dibaca, menempel rapi di balik rok sekolahnya.

Pengawas : (tiba-tiba berteriak saat melihat Sensen mengangkat roknya) Hei... jangan dibuka!
Peserta UN: (semua pada bingung mendengar teriakan pengawas yang tiba-tiba itu)
Pengawas: (sedikit emosi, malu, memanggil Sensen bardiri di depan kelas) Sekarang, silahkan buka!
Sensen: (pura-pura tidak tahu) Apanya yang dibuka pak?
Pengawas: Saya mau lihat yang di balik rokmu itu?
Peserta UN: (tertawa dengan keras sehingga suasana menjadi ribut mendengar perintah pengawas)
Sensen: Tidak takutkah pak? Benar mau lihat di sini?
Pengawas: Takut apa? Cepat buka sekarang!
Sensen: Pak, Undang-undang Pornografi, lho...
Pengawas: (terdiam sesaat) Sekarang ambil lembar kerjamu, kerjakan di meja saya.
Sensen: Di belakang saja pak. Biar bisa saya buka sekali-sekali. Percaya deh, bapak tidak bakalan dituntut melanggar UU Pornografi.
Peserta UN: (bingung mendegar dialog pengawas dengan Sensen, sambil terus tertawa mengikuti pembicaraan itu)
Pengawas: Kamu mau ikut ujian atau mau buka rok?
Peserta UN: (Lagi-lagi tertawa keras dalam kebingungan).
Pengawas: (keluar dari kelas dan memanggil seorang Ibu pengawas untuk mengurus masalah Sensen).
Sensen: (dengan bangga dia berkata kepada teman-temannya) Saya berhasil mengusir pak pengawas.  Kecuali ibu ini...

Sensen dibawa ke kantor untuk menyelesaikan masalahnya. Peserta UN kembali bekerja. Pak Pengawas masuk kelas menerima tatapan membingungkan dari peserta UN lainnya yang tidak mengerti apa pokok masalahnya.