Perasaan sedih dan kecewa menguasai saya saat mendengar beberapa teman membicarakan peristiwa naas Pesawat Sukhoi Superjet 100 pada acara perkumpulan keluarga tadi malam. Sedih, karena setiap orang mempunyai cara pandang berbeda tentang peristiwa ini, terlebih pembicaraan yang merujuk pada korban peristiwa ini. Penasaran, karena berbagai argumen ditampilkan yang merujuk pada Sukhoi "SUPER"jet 100 itu sendiri.


Seorang bapak mengangkat pembicaraan DIALOG Upin-Ipin, film kesukaan anak-anak BALITA sebagai berikut:
Ihsan, Upin dan Ipin pergi sembahyang ke mesjid. Ihsan kehilangan sepatu barunya dan saat keluar dari mesjid, Upin dan Ipin berdialog dengan Ihsan.
Upin: Mengapa kamu sedih Ihsan?
Ihsan: Sepatu aku hilang!
Ipin: Kenapa tidak pakai sandal jepit saja macam kita ini?
Ihsan: Sayanglah, aku mau menunjukkan sepatu baru aku!
Ipin: Patutlah, niat kau tak betul! Tak baik menunjuk-nunjuk.

Bapak itu mengakhiri pembicaraan tentang Sukhoi Superjet 100 dengan kalimat "NIAT TAK BETUL, TAK BAIK MENUNJUK-NUNJUK". Beberapa orang tertawa mendegar cerita bapak tua ini. Kami yang mendengar menjadi penasaran sambil bertanya "APA HUBUNGANNYA?" Bapak yang punya cerita pun mulai berkata-kata dengan gaya humornya.
Mari kita pegang kata "SUPER". Yang kita ketahui dengan kata "SUPER" merujuk pada sesuatu yang lebih dari yang biasa. Atau dengan kata lain, sesuatu yang sanga luar biasa boleh dikatakan. Mengapa ada film "Super Man", karena dalam film tersebut di tampil seorang tokoh yang lebih kuat dari manusia pada umumnya. Ada "Super Hero", ada "Super Girl" ada juga "Super Mie" yang rasanya, katanya, melebih mie instan lainnya. Dunia periklanan kita pun menyerap istilah "Super" ini. Super lezat, Kecap Super, super, super dan super. Semua penggunaan kata "super" merujuk pada "menunjukkan bahwa inilah yang terhebat, inilah yang terbaik. Menjadi heboh bila apa yang dikatakan "SUPER" itu malah menjadi "tidak super" pada waktu bersamaan.
Sukhoi Superjet 100, entah itu sebagai 'brand' atau sekedar nama untuk membedakan dari yang lain, pasti punya makna dari pemilik perusahaan yang membuat pesawat ini. Seperti diberitakan, SSJ 100 ini sudah berkunjung ke berbagai negara untuk memperkenalkan pesawat super ini. Akhirnya, tiba di Indonesia. Pilot yang dipilih, bukan pilot sembarangan, sudah di latih dan sudah teruji. Lalu mengapa harus menabrak Gunung Salak? Bukankah dari segi kemampuan, kita sudah percaya bahwa "Super" itu sudah mewakili seluruh kehebatannya?
Satu hal. Ini untuk menyadarkan manusia. Kekuatan terbesar itu ada di tangan Dia. Dan manusia tidak tau kapan Dia itu bertindak, karena hanya Dia saja yang punya hak memutuskan. Jadi saya kembali saja ke dialog Upin-Ipin: NIAT KAU TAK BETUL, TAK BAIK MENUNJUK-NUNJUK.
***
Setiap orang pasti punya cara pandang berbeda tentang setiap peristiwa dalam hidup ini. Bagi saya, peristiwa naas ini disebabkan oleh satu hal saja. KETIDAKSEMPURNAAN atau bahasa akrabnya KELEMAHAN. Itu mewakili secara keseluruhan penyebab. Dan mari kita lihat nilai positifnya. Perusahaan pembuat SSJ 100 pasti akan mempelajari kelemahan ini. Customer yang sudah sempat menyusun proposal untuk membeli pesawat ini pun pasti akan berpikir 100 kali lagi. Semua tujuannya adalah demi perkembangan dan kebaikan ke depan. Dan satu hal lagi, KITA TIDAK PUNYA KEKUATAN APA PUN. KEKUATAN KITA AKAN SERING MENJADI TIDAK BERARTI SETELAH DIA, SUMBER SEGALA KEKUATAN ITU BERTINDAK.
Sebagai Umat beriman, mari kita berdoa untuk saudara-saudari kita yang menjadi korban peristiwa ini. Untuk keluarga-keluarga yang ditinggal, semoga mereka mendapat penghiburan dan tidak menjadi korban selanjutnya karena mengalami ketidak-seimbangan jiwa menghadapi masalah ini.