MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Juli 2012

Umat Kristiani, terutama Umat Kristen Katolik pasti sudah mengenal istilah "Ekaristi". Perayaan Ekaristi adalah perayaan Agung dalam Gereja Katolik karena Imam Agung, Yesus Kristus hadir dalam perayaan tersebut. Oleh karena itu, Perayaan Ekaristi tidak dapat disebut sebagai perayaan kenangan akan Paskah Kristus, tetapi harus lebih pada makna "MENGHADIRKAN KEMBALI" Paskah Kristus.

Sebagai tindakan "menghadirkan" kembali, maka yang hadir pada saat itu adalah Kristus sendiri sebagai Imam dan Tubuh Kristus dalam rupa roti dan anggur yang dibagi-bagikan. Yang disambut dan sebagai materi berbagi bersama adalah makan rohani yang telah dikuduskan yakni tubuh dan darah Kristus, Sang Imam Agung itu sendiri. Beberapa catatan sebagai poin-poin praktis penghargaan terhadap Ekaristi dapat dilihat dari inspirasi terpendam berikut ini:


  1. Perayaan Ekaristi merupakan suatu perayaan yang utuh, satu dan sempurna. Oleh karena itu, perayaan ini dibuka dan ditutup sekali saja dengan Tanda Salib (tanda kemenangan Kristus) Pembuka dan diakhiri dengan Tanda Salib Penutup (Berkat). Semua ritus dalam Perayaan Ekaristi adalah satu, tidak terpisah. Ritus Pembuka, Ibadat Sabda, Ekaristi dan Ritus Penutup merupakan satu rangkaian yang utuh. Meskipun kadang-kadang kita masih menemukan "Tanda Salib" sebelum dan sesudah khotbah, pada saat DSA, pada saat penyambutan Komuni, tanda salib tersebut bukanlah tanda-tanda peralihan dari ritus ke ritus. Beberapa alasan rohani yang sering dilontarkan untuk menamakan tanda salib tersebut adalah "Tanda Devosi" lebih dikenal.
  2. Bila datang menghadiri perayaan Ekaristi, mengkuti Ritus Pembuka, namun pada saat Homili yang merupakan bagian dari Ibadat Sabda, kita meninggalkan ruang perjamuan dan keluar untuk menghilangkan ngantuk dengan merokok, atau menggerakkan badan untuk membuang kantuk, adalah lebih baik bila tidak kembali lagi ke ruang perjamuan untuk menyambut Komuni Kudus. Perayaan yang diikuti menjadi tidak utuh dan menjadi tidak bernilai.
  3. Bila terlambat dalam mengikuti perjamuan, Ritus Pembuka dan Ibadat Sabda tidak diikuti dan datang hanya untuk menyambut Komuni, alangkah baiknya bila menunggu jadwal perayaan berikutnya karena anda belum siap untuk menyambut Dia yang Kudus.
  4. Selesai Komuni, langsung beranjak pulang dan tidak menunggu berkat, adalah lebih baik berpikir sekali kali lagi untuk tidak datang karena anda tidak menyempurnakan perayaan anda dengan meninggalkan bekal yang seharusnya anda bawa pulang. Kehadiran anda menjadi sia-sia karena tidak disempurnakan dengan sebuah perutusan yang diberikan oleh Dia yang hadir sebagai Imam Agung.
  5. Anda mengikuti seluruh rangkaian perayaan, menyambut Komuni dan menerima berkat, tapi setelah keluar dari ruang perjamuan, mulut anda penuh dengan makian dan cemooh, pikirlah sekali lagi apakah anda layak untuk mengikuti perjamuan yang kudus itu di lain waktu.
Manusia pandai berdalih, tapi Tuhan tahu segalanya sebelum anda berdalih. "Kelemahan Manusiawi" sering menjadi istilah terlaris untuk memaafkan diri. Dengan istilah ini, umat beriman sering terjerumus dalam kebiasaan yang buruk dengan menghalalkan segalanya dengan dalih-dalih yang ampuh. Ingat, sebelum anda berdalih, Tuhan sudah tahu segalanya. Semoga bermanfaat.

Ini adalah bunyi SMS seorang bapak yang bertanya kepada saya. Bunyinya sebagai berikut:
Hari ini saya tidak ke Gereja. Saya tidak suka mendengar nasehat Pastor yang hari ini merayakan perayaan Ekaristi. Tidak dosakan?
Saya pun membalas seperti ini:
Aduh, maaf pak. Koq ditanya pada saya. Saya juga bukan Pastor. Pun bukan kaum biarawan. Dan meskipun Pastor juga, saya tidak berani memberi vonis untuk menentukan bahwa ini dosa.
***
Terlepas dari jawaban singkat di atas, yang menentukan dosa atau bukan dosa tindakan seperti ini bukanlah orang lain. Pribadi yang bersangkutan sudah sangat mampu menjawab pertanyaan seperti ini. Dosa atau bukan dosa, tindakan seperti di atas jelas salah. Bila tidak senang dengan pastor, mengapa tidak mau datang menghadap Tuhan di rumah-Nya? Bukankah Pastor juga adalah tamu Tuhan yang berkunjung ke rumah-Nya.

Adalah sebuah ke-salah-paham-an yang terjadi di antara umat beriman di mana tidak dapat membedakan antara Imam sebagai Pribadi yang ditahbiskan dan Imam sebagai pribadi, yang juga adalah manusia biasa seperti umat lainnya. Dalam banyak hal, umat beriman diharapkan sanggup membedakan kedua hal ini. Kelemahan manusiawi itu tidak jauh dari pribadi seorang Imam yang telah ditahbiskan. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita pun juga harus memahami bila Imam bertindak tidak sesuai dengan keinginan umat. Di sisi lain, meskipun Imam adalah manusia biasa seperti umat lainnya, Imam adalah orang yang terpilih dan terurapi. Tahbisan Imamat itulah yang kiranya tetap dipandang sebagai sebuah keistimewaan dari seorang Imam.

***
Sebagai solusi: Bila marah, kecewa, jengkel atau tidak bertegur sapa dengan seorang Imam, janganlah hal itu menjadi alasan yang membuat kita kecewa, marah dan tidak mau datang ke hadapan Tuhan.
Sebagai umat beriman yang baik, hiduplah sesuai dengan panggilan anda sebagai umat Allah yang baik. Demikian pula Imam, hidupilah pilihan hidup sebagai Imam itu sebagaimana mestinya. Baik umat, maupun Imam, bila setia pada panggilan masing-masing, kita percaya masalah seperti di atas tidak muncul. Semoga.

Prediksi, ramalan, atau apa pun yang sejenis dengan benda-benda ini tidak berlaku untuk menganalisa "kehidupan". Emosi, pribadi dan kejiwaan tidak dapat diramalkan situasinya. Tidak seorangpun dapat mengatakan bahwa hari ini saya marah, atau besok saya akan bahagia, atau lusa saya akan kecewa. Hal ini membuktikan bahwa hidup tidak dapat diukur dengan berbagai prediksi.

Kendati demikian, pasti ada hal-hal yang menjadikan hidup bermakna dan dinikmati. Banyak orang mengatakan bahwa kejujuran dan ketulusan adalah kunci keberhasilan. Ada yang mengatakan ketekunan dan percaya diri adalah kunci keberhasilan. Banyak pendapat lain yang mengatakan ini dan itu adalah kunci utama. Itu adalah sharing pribadi sesuai dengan pengalaman mereka masing-masing.
****
Mari kita baca beberapa sharing berikut:
"Saya dalam bekerja selalu jujur. Kalau benar, ya, benar. Kalau salah, ya, salah. Titik. Tapi kenyataannya, saya sering menjadi korban. Tidak semua orang suka sikap seperti itu. Bahkan pemimpin saya pun tidak suka hal itu. Mereka lebih senang pada teman saya yang pandai bersandiwara. Jadi, kejujuran bagi saya adalah tuan yang memperbudak saya sendiri".
---
"Selama ini, banyak orang mengatakan saya bodoh, polos. Karenanya, mereka dengan gampang memperlakukan saya apa adanya. Mereka bahkan mengkondisikan supaya saya terjerumus. Dan dalam situasi itu, mereka mengambil kesempatan baru untuk sesuatu yang tidak benar. Karenanya, bagi saya bertindak penuh siasat itu penting. Bersikap acuh tak acuh itu penting. Bersikap sinis itu penting".
---
"Apa yang kurang, tidak ada lagi. Saya sudah punya rumah mewah, mobil, dan investasi. Saya sudah memiliki lebih banyak dari orang lain. Itulah yang saya pakai sebagai ukuran bahwa kehidupan saya sudah lebih baik dari yang lain. Tapi, koq, mereka yang hidup pas-pasan begitu akur dan keluarga mereka susah dirongrong dengan berbagai macam kesulitan. Mereka bisa makan sambil tersenyum dan tertawa. Koq saya yang sering mengatakan "Hidup saya sudah lebih baik", terjerumus dalam frustrasi berkepanjangan. Menurut saya, kekayaan juga tidak dapat dipakai untuk mengukur kehidupan".
****
Beberapa sharing di atas, dikutip dalam sebuah Bunga Rampai "Lika-liku Kehidupan". Masih banyak lagi hal yang diungkapkan dalam buku ini, dan sudah ditulis sejak 50 tahun lalu. Dalam zaman yang serba canggih ini, kita dihadapkan dengan masalah yang lebih dari 50 tahun lalu. Oleh karena itu, menurut saya, bukanlah ini atau itu menjadi kunci kesuksesan, seperti yang digambarkan di atas. Kunci keberhasilan, kebahagiaan, sering dimengerti dengan "konsisten". Konsisten pada keyakinan, konsisten pada prinsip, konsisten pada segala hal yang telah diputuskan". Bila menjadi pribadi yang ikut-ikutan, hanyut dan melebur dalam zaman, tentu saja akan menjadi manusia yang sering mengatakan: "Hari ini saya sudah lebih baik" tapi, cemas akan hari esok akibat ke-tidak-konsisten-an".

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget