Persiapan.
Hari Jumat 10 Agustus 2012 pukul 19.00 WIB sebagian Tim 12 (Pastor Ketut, Dwi Patma, Wahyudi, Medi, Tanto) dari pusat paroki yang berada di Palangka Raya berangkat dari Gedung Serba Guna Tarung Barasih Jl. Tjilik Riwut Km 9 untuk menyerahkan berbekalan di beberapa etape yang direncanakan sebagai tempat singgah untuk istirahat, makan dan minum. Bahan perbekalan antara lain; beras, indomie, sarden, telur, minyak goreng, gula pasir, kopi dan teh. Tempat-tempat persinggahan tsb. antara lain; Petuk Liti, Balukon, Penda Haur, Manen Paduran, Hanua-Ramang.
Peserta Napak Tilas

Kegiatan Utama.
Hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2012 dari titik Nol Tangkahen sebelum Napak Tilas 110 Km Paroki  “YGB” dimulai dengan misa pukul 04.00 WIB yang diikuti oleh Tim 12, serta 9 partisipan dari umat pusat paroki dan umat stasi Tangkahen di rumah keluarga Bapak Putri yang dipimpin oleh Pastor Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD, yaitu : Wahyudi, Dwi Patma,  Medi, Tanto, P. Ami, P. Putri,  P. Ari,  Mersi, Stephanus, P. Aldi, P. Lala, P. Maria, M. Pipin, Bu Wandeh, Helen, P. Bagus, Bagus, Ari,  Palem, M. Putri.

Setelah selesai misa Tim 12 dan 9 orang partisipan sebelum berangkat menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh keluarga Bapak Putri, sarapan pagi ini merupakan mukjizat yang pertama bahan bekal yang diserahkan dengan lauk sarden tapi berubah menjadi daging ayam, semoga Tuhan memberkati umat stasi Tangkahen dan secara khusus P. Putri sekeluarga . Setelah itu seluruh relawan bersiap-siap dengan mengenakan pakaian adat Dayak yang sudah disiapkan, lawung (ikat kepala) dan ikat pinggang warna kuning, mandau.

Start Napak Tilas 110 Km dimulai pukul 05.50 WIB dari Tangkahen dengan menyeberangi sungai Kahayan selama ± 7 menit dengan menggunakan feri kecil untuk memuat tim relawan berjumlah 21 orang ( Tim 12 dan 9 partisipan ). Yang dibawa batu, pasir dan air dari stasi Tangkahen. Perjalanan awal ini akan menuju ke desa Pangi. Barisan tim pejalan kaki menggunakan jalur kanan supaya aman.
Pukul 06.53 WIB sampai di Pangi, singgah di rumah P. Davit untuk serah terima Batu stasi Pangi yang akan dibawa ke Palangka Raya. Jarak yang ditempuh dari Tangkahen ke Pangi ± 7 km. Perjalanan dilanjutkan menuju ke desa Tumbang Tarusan.

Pukul 07.30 WIB sampai di Gereja St. Yohanes Rasul Tumbang Tarusan, di sini serah terima 2 buah batu yaitu dari stasi Pandawei dan stasi Tumbang Tarusan. Mulai dari Tumbang Tarusan tim relawan bertambah lagi 3 orang ( P. Noel, P. Tara dan P. Frin yang berusia 71 tahun) dengan demikian jumlah relawan sebanyak 24 orang. Jarak yang ditempuh dari Pangi ke Tumbang Tarusan ± 2 km. Perjalanan ini akan menuju ke desa Ramang.

Pukul 12.00 WIB sampai di Ramang etape istirahat pertama, serah terima batu patahu dari stasi Hanua kemudian istirahat untuk makan siang, makanan disediakan oleh P. Ami ketua umat Stasi Hanua-Ramang, menu makan siang sangat mengejutkan karena bahan makanan yang kita serahkan adalah lauk sarden tapi ternyata berubah menjadi daging babi, sungguh suatu mukjizat dari Tuhan melalui tangan keluarga P. Ami, Puji Syukur ya Tuhan, semoga Tuhan memberkati umat stasi Hanua-Ramang dan secara khusus untuk P. Ami sekeluarga. Ini merupakan mukjizat yang ke-2. Setelah makan siang tim relawan tidur siang sampai dengan pukul 15.00 WIB. Jarak yang ditempuh dari Tumbang Tarusan ke Ramang ± 11 km. Pukul 15.30 WIB perjalanan dimulai lagi untuk menuju desa Hanua di rute ini peserta relawan bertambah 4 orang ( M. Ami, Yeni dan M. Eman, P. Tolen) sehingga jumlah relawan menjadi 28 orang. Mengingat perjalanan yang masih panjang maka sejak start desa Ramang ke desa selanjutnya tim yang berjalan kaki mulai dibagi 2 kelompok untuk saling bergantian setiap menempuh jarak 5 km. Pada rute ini tim yang berjalan berjumlah 14 orang dan yang lain naik mobil. Perlu diketahui pula bahwa mulai perjalanan dari Tangkahen, Damang Adat Kaharingan desa Tumbang Tarusan ada di tengah-tengah barisan sampai di Ramang.

Pukul 16.30 WIB sampai di desa Hanua, di tempat ini pergantian personil yang berjalan kaki. Salut untuk kameramen Tanto yang tidak kenal lelah melakukan penyutingan perjalanan baik dari depan maupun dari belakang barisan, capek deeeh… Selamat datang Pak Wandeh dan selamat bergabung untuk melakukan pengawalan barisan tim pejalan kaki.
Pukul 17.30 WIB sampai di Lawang Uru, serah terima batu dan air dari stasi Lawang Uru, pergantian tim pejalan kaki dan personil relawan bertambah 2 orang (P. Pipin dan P. Rantau) sehingga jumlah relawan menjadi 31 orang. Perjalanan dilanjutkan menuju Manen Paduran. Dalam perjalanan ini kaki para tim pejalan kaki sebagian besar peserta sudah mulai lecet dan melepuh. Pak Palem mulai lempoh he…he… tapi semangatnya membara terus.

Pukul 18.30 WIB sampai di etape istirahat yang ke-2 yaitu stasi Manen Paduran di rumah P. Lili, perjalanan yang ditempuh sudah mencapai ± 44 km, perjalanan ini sudah melampaui target awal sehingga diputuskan malam ini tidak melanjutkan perjalanan melainkan istirahat tidur dan perjalanan malam dibatalkan. Demikian juga umat Stasi Manen Paduran menyediakan konsumsi yang sama seperti di tempat-tempat sebelumnya yang didapatkan menu daging ayam, ikan dan daging babi lagi-lagi sarden itu gak muncul lagi, apa ikan sardennya hidup lagi yaaa… Sungguh berkat Tuhan Allah benar-benar berlimpah untuk para tim relawan, semoga bekat-berkat yang lain pun akan senantiasa berlimpah untuk dimasa-masa yang akan datang untuk umat Paroki YGB pada umumnya juga untuk para relawan pada khususnya. Amiiiin. Pada malam hari ini peserta relawan ada yang datang dari pusat Paroki, yaitu: Yoseph, Donatus, Eko Priyono, Darmaji dan Aloysius Pati kedatangan mereka sungguh menambah semangat tim yang ada. Salut untuk P. Darmaji dan P. Pati ditengah-tengah kesibukan mereka masih berusaha untuk bergabung meskipun pada akhirnya harus kecewa karena yang pada malam ini diadakan perjalanan malam namun dibatalkan, maka pada malam itu juga kembali turun ke Palangka Raya karena keesokan pagi harinya harus menjalankan tugas masing-masing.

Hari Minggu tanggal 12 Agustus pukul 03.30 WIB, start dari Manen Paduran melintasi 2 (dua) desa Bereng Rambang dan desa Parahangan menuju Penda Haur, jumlah tim yang berjalan kaki secara bergantian berjumlah 34 orang. Selama sepertiga perjalanan 110 km banyak sekali kisah cerita lucu dalam bercanda dan berdoa, namun itu semua tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata hanya setiap pribadi relawan yang ikut dalam kisah perjalanan ini menjadi sesuatu kenangan yang tidak akan pernah terulang lagi selama hidupnya. Dan menjadi sebuah hiburan ketika beberapa orang mencemooh kegiatan ini sebagai kegiatan orang gila, orang yang kurang kerjaan dan lain sebagainya. Ini sebuah kisah nyata sebagai wujud keprihatianan dan perjuangan dalam doa untuk mewujudkan kepentingan orang banyak dan sebagai ziarah iman yang paling gampang bagi orang yang tidak punya apa-apa. Sungguh luuaaar biasa….dan sungguh-sungguh GILA. Senyuman, canda dan tawa menjadi jantung semangat para relawan yang pantang menyerah untuk menyelesaikan tugasnya sampai di tujuan. Hiduuup Pastor Ketut, yang tanpa lelah dan sabar mendampingi perjalanan religi ini.
Di daerah Parahangan barisan tim relawan yang jalan kaki menjadi pemandangan yang menyeramkan bagi penduduk di wilayah itu, mereka ketakutan ketika tim relawan melewatinya, penduduk yang sedang santai di luar rumah untuk bermandi cahaya mentari pagi bersama anak-anak mereka kemudian lari cepat-cepat untuk masuk rumah dan kemudian mengunci pintu dan menutup semua jendela rumah mereka rapat-rapat. Dikira kami ini adalah KAYAU atau akan membuat kerusuhan karena tim relawan menggunakan lawung warna kuning dengan mandau yang disandang. Untuk menghilangkan kegelisahan penduduk setempat kami (tim relawan) berhenti sejenak dan Pastor Ketut memberikan penjelasan yang secukupnya untuk menenangkan mereka.

Pukul 06.30 sampai di Penda Haur singgah di rumah Mama Feri untuk menerima santapan rohani dan santapan jasmani. Selamat datang Pastor Win yang mengendarai motor GL-nya, setelah beristirahat sebentar tim relawan minum teh dan kopi dilanjutkan dengan Misa Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Win yang dimulai pukul 07.30 WIB, sekali lagi para relawan harus berjuang melawan kantuk yang tidak tertahan untuk tetap mengikuti  perjamuan ekaristi, setelah misa dilanjutkan dengan sarapan pagi disaat yang sama ada salah satu umat stasi Hanua (Mama Yopi dan keluarga) yang sedang melintasi rute tim relawan berhenti sejenak juga memberikan minuman isotonik dan nasi bungkus sebanyak 30 bungkus untuk tambahan makanan, Puji Tuhan banyak sekali orang baik yang kami jumpai sepanjang perjalanan. Dan yang menarik Bu Wandeh menemukan seorang umat yang lama hilang dalam keadaan sakit dan lumpuh di pembaringan di samping rumah tempat penyelenggaraan misa pagi itu. Sekali lagi paroki Yesus Gembala Baik menemukan domba yang hilang.
Perjalanan dilanjutkan lagi pukul 09.35 WIB dari desa Penda Haur menuju desa Balukon yang sebelumnya akan melintasi 2 (dua) desa yaitu desa Tahawa dan desa Bahu Palawa, panas karena teriknya sinar matahari seakan semakin mengobarkan semangat untuk tetap bertahan, barisan tetap utuh, langkah kaki yang semakin pendek dan doa masing-masing relawan menyangga badan untuk tetap membawa batu, pasir dan air yang dibawa dari stasi-stasi Tangkahen, Pangi, Tumbang Tarusan, Hanua-Ramang, Lawang Uru dan Manen Paduran. Senyuman sebentar-sebentar mengembang diantara para relawan pada mereka yang saling berpandangan. Mulai rute ini Pastor Win mengawal perjalanan tim relawan.

Pukul 10.45 WIB sampai desa Balukon, diluar perkiraan yang seharusnya sampai pukul 12.00 WIB untuk istirahat dan makan siang di rumah P. Syerli akhirnya tim memutuskan hanya ada pergantian beberapa relawan untuk melakukan perjalanan berikutnya menuju desa Bukit Liti, sebelumnya akan melintasi desa Pamarunan terlebih dahulu, rute ini adalah perjalanan duapertiga jarak tempuh 110 km, terik sang surya membuat perjalanan relawan mulai tidak stabil jarak yang renggang antar relawan menjadi fokus untuk kebersamaan dalam rute ini, masih dengan semangat yang berkobar-kobar barisan sesekali kembali menjadi rapat, sesekali menjadi renggang dan sesekali menjadi rapat kembali. Sungguh menjadi sebuah refleksi bahwa hubungan antar pribadi harus saling menyemangati satu sama lain dalam kehidupan yang saling membutuhkan.

Pukul 12.15 WIB tiba di Bukit Liti di rumah Tukang Tambal Perempuan (mama Oping)  salah satu umat stasi Petuk Liti, di tempat ini menjadi persinggahan tim relawan untuk istirahat dan makan siang. Bahan makanan dari Balukon dikirim menuju Bukit Liti. Dengan demikian jarak yang telah ditempuh mencapai ± 82 km. Di persinggahan ini kami dikunjungi oleh Kapolsek Bukit Rawi, terima kasih untuk Pak Kapolsek yang telah ikut memantau perjalanan Napak Tilas ini. Dan di tempat yang sama telah datang juga Davit Komka dan Kevin beserta keluarga yang ikut menyemangati perjalanan ini. Tim relawan santap siang dengan menu yang penuh keajaiban kembali, ikan, daging ayam dan daging babi menjadi menu siang hari, terima kasih untuk umat di Balukon dan secara khusus keluarga P. Syerli yang telah bersusah payah menyiapkan makaan siang, jangan kecewa ya P. Syerli karena kami tidak jadi singgah di rumah, semoga Tuhan memberkati budi baik ini. Setelah makan tim relawan ada yang mandi dan ada yang tidur, sempat sesaat terjadi hujan dan petir saat itu.
Pukul 15.00 WIB rombongan dari pusat paroki Pastor Fredy, Bu Agnes, Bu Susi dan P. Darmaji tiba di Bukit Liti dengan membawa bahan makanan lagi, tim relawan makan lagi sore hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Petuk Liti. Pukul 16.00 WIB rombongan KOMKA yang dipimpin oleh Isna berjumlah 6 (enam) orang datang lagi menyusul untuk bergabung dalam perjalanan Bukit Liti ke Petuk Liti, umat stasi Petuk Liti 4 (empat) orang. Jumlah tim relawan pada rute ini berjumlah 45 orang.

Pukul 17.00 WIB perjalanan tiba di desa Petuk Liti, disambut oleh Ketua umat Stasi Petuk Liti P. Rako bersama umat, di tempat ini terjadi penyerahan batu dari Stasi Petuk Liti, berikutnya tim relawan mandi makan malam dan sekaligus tidur malam hari di beberapa rumah umat stasi Petuk Liti yaitu sebagian tim relawan di rumah P. Syerli yang baru selesai dibangun dan belum pernah ditempati dan sebagian di rumah P. Rako. Rombongan dari Palangka Raya yang dipimpin oleh Pastor Fredy kembali ke Palangka Raya pukul 17.30 WIB, terima kasih untuk rombongan Pastor Fredy yang telah mendampingi perjalanan rute Bukit Liti sampai Petuk Liti. Makan malam pukul 19.00 WIB di rumah P. Anto, lagi-lagi dengan menu yang istimewa yaitu daging ayam, pada jam yang sama umat dari stasi Hanua (P. Susi) mengantar juga nasi bungkus, buah semangka dan the gelas beberapa dos. Setelah makan rombongan KOMKA kembali ke Palangka Raya, terima kasih untuk rombongan KOMKA yang telah bergabung dalam  perjalanan rute Bukit Liti sampai Petuk Liti.

Hari Senin tanggal 13 Agustus 2012, start pukul 03.30 WIB rute Petuk Liti menuju Kathedral St. Maria Palangka Raya, diikuti tim relawan berjumlah 38 orang relawan (pertambahan personil P. Rako, P. Bungis, Mama Bungis, Mama Oping, Yohanes, Kevin dan David), rute ini akan melintasi desa Sigi, desa Bukit Rawi, desa  Danau Sanggalang, desa Tumbang Rungan, desa Pahandut Seberang, dengan jarak ± 20 km. Sampai di Bundaran Sigi barisan Napak Tilas mengelilingi satu kali. Pukul 05.30 WIB tim relawan istirahat di Bukit Rawi ± 30 menit dan melanjutkan perjalanan lagi menuju Danau Lais desa Danau Sanggalang.

Pukul 07.30 WIB sampai di Danau Lais tim Napak Tilas istirahat sebentar batu, pasir dan air  diturunkan di atas mobil ± 30 menit, sambil beristirahat dengan mendengarkan lagu adat dayak sebagian relawan menari pertanda kebahagiaan mereka untuk bisa meluangkan waktu untuk ikut bergabung dalam kegiatan religi ini.

Pukul 08.00 WIB bergerak kembali dari danau Lais pada rute ini jalan sangat sempit sehingga pengaturan lalu lintas menjadi perhatiah serius agar lalu lintas kendaraan tidak terganggu dan tetap berjalan lancar, barisan teratur, langkah-langkah kaki tetap mantap dan cepat meskipun tenaga sudah mulai terkuras, namun semangat perjuangan yang berkobar-kobar menuju titik nol Palangka Raya seperti mempunyai kekuatan yang dahsyat mendorong tim Napak Tilas untuk merangsek masuk Kota. Pukul 08.30 WIB wartawan senior Harian Kalteng Pos, P. Sensi bergabung dalam barisan tim Napak Tilas.

Pukul 10.15 tim Napak Tilas sampai di Pahandut Seberang tepatnya di tempat wisata Kum Kum, Voor Rijder Polda Kalteng mulai mengawal perjalanan menuju titik nol Palangka Raya, Pukul 11.15 WIB tim Napak Tilas memasuki pintu gerbang Gereja Kathedral St. Maria, batu, pasir dan air yang dibawa dari stasi-stasi diturunkan dan diletakkan di depan altar dalam gereja. Kemudian tim relawan makan siang dan istirahat.
Pukul 16,00 WIB, barisan mulai bergerak lagi menuju Biara SVD Jl. Tjilik Riwut Km 5,5, peserta relawan dari lingkungan-lingkungan pusat paroki dan biarawan-biarawati bergabung untuk masuk dalam barisan, tiba di Biara SVD pukul 17.05 WIB, batu, pasir dan air yang dibawa dari stasi-stasi diturunkan dan diletakkan di depan altar dalam Kapela Soverdi dan menginap semalam, termasuk para relawan dari stasi-stasi dan tim 12 yang menginap di Wisma Arnoldus Yansen.

Hari Selasa tanggal 14 Agustus 2012 pukul 16.00 WIB, barisan Napak Tilas bergerak lagi menuju Aula Keuskupan kemudian batu, pasir dan air diturunkan dan digabungkan dengan batu, pasir dan air dari Katingan, Barito dan batu dari Yerusalem, pukul 18.00 WIB misa ekaristi dipimpin oleh Bapak Uskup Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF setelah misa ramah tamah yang di jamu oleh Bapak Uskup dan sekaligus diperkenankan tim relawan bermalam di Aula Keuskupan. Terima kasih untuk Bapak Uskup atas akomodasi serta fasilitas yang diberikan kepada tim relawan. Pada hari yang sama pada surat kabar Harian Kalteng Pos, Napak Tilas 110 km menghiasi  rubrik pada salah satu halaman koran tersebut. Terima kasih Kalteng Pos semoga menjadi sosialisasi yang aktual untuk masyarakat Bumi Tambun Bungai.

Hari Rabu tanggal 15 Agustus 2012 bertepatan dengan hari ulang tahun Paroki Yesus Gembala Baik tim Napak Tilas 110 km Paroki YGB mulai bergerak kembali pada pukul 14.00 WIB start dari Aula Keuskupan Palangka Raya menuju Pusat Paroki Yesus Gembala Baik Jl. Tjilik Riwut Km 9, dengan langkah yang pasti tim membawa batu, pasir dan air yang akan digunakan sebagai peletakan batu pertama dari stasi-stasi terjauh akan masuk ke titik Finish namun itu bukan berarti akhir dari perjalanan perjuangan panjang sejauh 110 km. Barisan rute terakhir ini agak panjang dibandingkan barisan sejak awal dari titik nol km, karena selain Tim 12, relawan stasi, bergabung pula Biarawan-biarawati, anak-anak, remaja dan KOMKA yang ingin ambil bagian. Pada akhirnya pukul 13.15 WIB barisan ini memasuki pintu gerbang halaman pusat paroki Gedung Serba Guna Tarung Barasih dan terus masuk ke lokasi dimana tempat peletakan batu pertama dengan mengelilinginya sebanyak tiga kali, dilanjutkan dengan Misa Peletakan Batu Pertama yang dipimpin oleh Bp. Uskup Palangka Raya Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF dan menjadi titik awal peletakan batu pertama pembangunan Gereja Yesus Gembala Baik.
Perjalanan Napak Tilas 110 Km ini bukan merupakan gagah-gagahan atau menunjukkan kekuatan seseorang secara fisik melainkan mencoba memasuki suasana keprihatinan pada perjalanan suka dan duka berjalan pada Salib Kristus, ada sisi perjuangan, ada sisi pengorbanan yang terus menerus dalam membangun Gereja di Paroki Yesus Gembala Baik, yang menginspirasi serta mengandung filosofi yang mendalam yaitu :
1. “Satu tekad bulat secara bersama-sama berjuang membangun Gereja Yesus Gembala Baik (Hinje Hapakat Mampendeng Gereja Yesus Gembala Baik) seluruh umat Paroki Yesus Gembala Baik, baik yang di pusat paroki maupun yang tersebar di stasi-stasi, sekaligus menjadi sejarah Gereja”.
2. Sebagai bentuk ungkapan hati dan ziarah rohani bagi setiap pribadi yang mau dan berani dengan sukarela ambil bagian dalam Napak Tilas 110 Km, Tangkahen sampai Tjilik Riwut Km. 9 Palangka Raya Paroki Yesus Gembala Baik dengan berjalan kaki.
3. Barangsiapa menyediakan waktu untuk Tuhan maka ia akan mendapatkan kesempatan,
Barangsiapa memelihara nyawanya akan kehilangan nyawanya,
Barangsiapa mau memberi maka ia akan mendapatkan.

Penutup.
Dengan mengucap puji syukur kepada Allah Bapa di Surga karena Tuhan telah menyertai dan sungguh-sungguh Roh Kudus telah turun kepada masing-masing pribadi relawan, Napak Tilas 110 km dapat berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan dan para relawan dijauhkan dari sakit, semuanya tiba di titik Finish dalam keadaan selamat dan sehat.

Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah terlibat dalam kegiatan ini :
1. Pastor Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD.
2. Pastor Edi Winarto, MSF.
3. Pastor Freddi Parera, SVD.
4. Dewan Paroki YGB.
5. Bapak Uskup Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF.
6. Para Ketua Umat Stasi dan umat stasi.
7. Para Ketua Lingkungan dan umat lingkungan.
8. Instansi Kepolisian terkait Polsek, Polres dan Polda Kalteng.
9. Umat secara langsung terlibat dalam rangkaian perjalanan bersejarah ini.
10. Dll.