MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

September 2012

Kita telah mengikuti Pendalaman KS sepanjang bulan September ini. Tema pendalaman KS tahun ini adalah "Menyaksikan Mukjizat Tuhan". Kata "menyaksikan" dapat digantikan dengan kalimat "datang dan lihatlah!".

Bila belum sempat membaca sharing pertemuan-pertemuan sebelumnya, silahkan dibaca melalui link berikut ini:

  1. Menyaksikan Mukjizat Tuhan (Tema Umum)
  2. Menyembuhkan Orang Lumpuh (Pertemuan I)
  3. Mengusir Roh Jahat (Pertemuan II)
  4. Membangkitkan Anak Muda di Nain (Pertemuan III)
  5. dan Mengubah Air menjadi Anggur (Pertemuan IV)
Dari rangkaian pertemuan ini, kita diharapkan bisa "menyaksikan" dan bukan hanya sekedar "membayangkan" terjadinya mukjizat itu. Mukjizat yang dulunya telah diperbuat oleh Yesus, harus sanggup kita saksikan pada zaman sekarang melalui tindakan/aksi kita umat beriman yang telah mengaku dan menyatakan "mengimani dan mengikuti Kristus".  Bila Yesus tidak hadir secara nyata untuk membuat mukjizat saat ini, kitalah yang menjadi wakilnya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mukjizat yang pernah diperbuat oleh-Nya, masih tetap terjadi hingga kini dengan perantaraan umat beriman.

Pasti akan banyak yang tidak setuju. Pasti akan banyak yang menentang. Pasti akan banyak yang kontra. Tapi sebagai umat Allah, pengikut Kristus, kita tidak perlu takut. Bila itu kita buat untuk KEBENARAN, meskipun banyak orang berusaha untuk menenggelamkannya, KEBENARAN itu akan tetap muncul kepermukaan sebagai hakim nurani. Setelah kita melihat dan menyaksikan, mari kita pergi dan berbuat seperti apa yang kita lihat dan kita saksikan. 

Pace e Bene.

Pada pertemuan pertama, kita sudah melihat segala kelumpuhan yang ada di sekitar kita. Pada pertemuan kedua, kita diajak untuk melihat roh jahat yang menjadi penyebab terjadinya kelumpuhan itu sendiri. Pada pertemuan ketiga, kita diajak untuk bangkit kembali dari segala kelumpuhan yang ada. Pada pertemuan keempat, kita diajak untuk berani memulai sesuatu yang baru. Setelah kita disembuhkan dan kelumpuhan, roh jahat yang merasuki telah diusir, kita telah dibangkitkan dari segala kelemahan, maka pada puncak pertemuan ini kita diajak untuk memulai sebuah karya baru sebagai anak-anak Allah.

Injil Yohanes 2: 1-11, berbicara tentang peristiwa Pesta di Kana ketika Yesus mengubah Air menjadi Anggur. Ada beberapa point yang perlu kita lihat dalam peristiwa ini:

  1. Ini adalah mukjizat pertama yang digambarkan sebagai tindakan publik pertama yang dibuat Yesus.Sebagai wahyu dari campur tangan ilahi yang telah dimulai dan berlanjut sepanjang pelayanan-Nya, adalah penting bahwa itu dirasakan oleh sebagian orang dan terutama rekan-rekan terdekat Yesus (Ibu Yesus, Keluarga Yesus, Saudara-saudari Yesus).
  2. Mengubah Air menjadi Anggur menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa terdahulu yang pernah terjadi (seperti peristiwa anggur di kuil Baccus-Andros dan peristiwa penyedia anggur oleh Dionisius). Peristiwa di Kana menegaskan sebuah perubahan dari Air menjadi Anggur. Perubahan tidak dimulai dari ketiadaan, tetapi menggunakan materi yang ada yakni air.
  3. Meskipun belum tiba waktunya (makna eskatologis), Yesus tetap melakukan mukjizat ini. Anggur adalah simbol pesta meriah bagi orang-orang Yahudi. Ketiadaan Anggur sama dengan ketiadaan pesta. Dan pesta adalah simbol kegembiraan kerajaan Allah. Oleh karena itu, bagi orang Yahudi, ketiadaan anggur dapat dikatakan sebagai ketiadaan kerajaan Allah.
  4. Yesus harus memulai karyanya. Waktu yang dimaksud adalah saat ini. Kalau tidak dimulai sekarang, kelanjutannya pasti tidak ada untuk besok dan seterusnya. Meskipun maksud Yesus adalah bermakna eskatologis, namun beberapa para ahli mengatakan bahwa saat itu adalah saat sekarang yang harus dihadirkan.
Beberapa poin di atas membantu kita untuk melihat relasi pertemuan-pertemuan sebelumnya. Orang-orang yang telah diselamatkan, telah dibersihkan dan telah dibangkitkan kembali, harus sanggup untuk berbuat sesuatu untuk menghadirkan kerajaan Allah. Perubahan itu adalah mukjizat. Kalau kita merujuk pada poin pertama di atas, maka perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian merembes ke lingkungan lebih luas.

Pergolakan hidup yang kita alami sering membuat kita kehabisan anggur iman. Kita perlu mengundang Yesus agar anggur iman kita tetap penuh dan dapat dirasakan oleh banyak orang. Bejana-bejana kita harus selalu penuh. Dan itu hanya dapat kita jaga bila kita telah disembuhkan, dibersihkan dari roh jahat dan dibangkitkan kembali dari kelemahan-kelemahan yang menghambat iman kita.

Beberapa pertanyaan berikut dapat dimunculkan:

  • Adakah kita menjadi orang-orang terdekat Yesus yang menyaksikan dan menikmati mukjizat yang telah dibuat oleh Yesus?
  • Adakah kita mengantisipasi bahwa suatu ketika bejana kita kehabisan anggur? Suatu ketika kita merasakan kekeringan dalam iman?
  • Pernahkah kita mengundang Yesus untuk tetap mengisi bejana kita yang kosong?
  • Kalau kita lebih ekstrim, pernahkah kita menjadi seperti Yesus, mengisi bejana dengan anggur agar tidak terjadi kekacauan, atau malah sebaliknya kita menjadi penghabis anggur sehingga kekacauan disekitar kita tidak dipedulikan karena kenikmatan anggur?
  • Atau barangkali, seharusnya kita memberi justru berubah menjadi pemeras sehingga memicu kekeringan anggur di mana-mana?
Saatnya adalah sekarang. Harus dimulai sekarang agar ada yang bisa kita lanjutkan besok. Mari berlomba-lomba untuk berperan dalam merubah kekeringan anggur iman kita menjadi tetap penuh.

Semoga sharing ini bermanfaat. Pace e Bene.

Pertemuan yang lalu kita sudah mendalami dua mukjizat yang diperbuat oleh Yesus, yakni menyembuhkan orang lumpuh dan mengusir roh jahat. Menyembuhkan kelumpuhan dan mengusir segala roh jahat yang menghambat terjadinya segala kebaikan. Pada pertemuan ketiga ini, kita akan mendalami Bagaimana Yesus Membangkitkan Anak Muda di Nain.

Mukjizat ini adalah mukjizat yang bagi kita manusia adalah luar biasa. Hal yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia, yakni mengembalikan nyawa manusia, dilakukan oleh Yesus. Dari segi nilai dan bobotnya, mukjizat ini dapat kita katakan sesuatu yang luar biasa. Bersamaan dengan kekaguman ini, kita pasti merasa sulit membayangkan peristiwa yang sama akan terjadi pada zaman kita sekarang ini. Hampir tidak pernah kita temukan orang yang sudah meninggal dan sedang digotong ke liang kubur, hidup kembali. Oleh karena itu, jelaslah agak sedikit sulit kita membayangkan mukjizat ini dalam pendalaman kita ini.

Kendati dengan alasan di atas, jika kita memiliki iman yang teguh, tidak ada yang mustahil. Mari kita lihat kenyataan hidup kita sekarang ini. Sebagai ilustrasi, mari kita lihat kondisi Anak Muda dan Ibunya (Janda) yang kita baca dari KS Lukas 7: 11-17.

Manusia yang sudah tidak bernyawa (jenazah) jelas sudah tidak dapat kita katakan normal lagi. Hampir bisa dikatakan, dia hanyalah seonggok daging, yang tidak berjiwa. Karena tak berjiwa, jelas tak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sementara Ibunya, hanyalah seorang Janda. Janda dalam kalangan Yahudi berada dalam posisi lemah dalam masyarakat. Janda termasuk kelompok kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Dan situasi menjadi lebih parah karena anaknya meninggal. Jika anaknya tidak meninggal, kehidupannya masih lumayan kuat karena masih bisa menggantungkan hidupnya pada anaknya tersebut. Apa hendak dikata, anak tumpuan hidup itu pun meninggal. Inilah situasi yang dapat kita lihat dalam bacaan kali ini.

Yesus datang membawa kegembiraan. Yesus mengubah suasana duka menjadi kegembiraan. Yang tidak bernyawa, hidup kembali. Janda yang putus asa, berubah menjadi pribadi yang penuh harapan. Anak muda yang tak berdaya, kini menjadi berjiwa dan memiliki masa depan.

Pada masa sekarang, kita umat beriman tidak pernah luput dari kelemahan dan dosa. Namun, sekali lagi, kata-kata ini tidak boleh kita jadikan sebagai tameng untuk berpasrah. Kita perlu bangkit dari kelemahan itu. Kita perlu meninggalkan segala kelumpuhan yang ada, kita perlu mengusir roh jahat yang telah menguasai kita, dan kita perlu bangkit kembali.

Untuk bangkit kembali, memang sesuatu yang berat untuk dilakukan sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain untuk memperoleh kebangkitan. Demikian sebaliknya, orang lain membutuhkan bantuan kita untuk bangkit kembali. Oleh karena itu, mukjizat yang dapat kita lakukan saat ini adalah, membantu sesama untuk bangkit kembali dengan berbagai cara. Kita hidup sebagai umat beriman harus saling mengingatkan agar sesama kita tidak terpuruk dan tenggelam dalam kelemahannya. Dengan saling mengingatkan, kita sudah melakukan mukjizat seperti yang dilakukan oleh Yesus, yakni, membangkitkan orang mati. 

Sebagai umat beriman, yang bersaudara dalam Kristus, kita butuh untuk diingatkan, dan juga perlu untuk mengingatkan. Kita diharapkan untuk saling membangun dan menghidupkan dengan berbagai cara yang kita punya. Kita membutuhkan uluran tangan orang lain, demikian juga orang lain membutuhkan uluran tangan kita. Hanya dengan demikian, kita sudah bertindak seperti Yesus, yakni, mengubah kedukaan menjadi kegembiraan sejati. Mengubah ketakberdayaan menjadi berdaya dan memiliki masa depan.

Dari uraian di atas, beberapa pertanyaan reflesif berikut mungkin dapat membantu kita untuk mendalami tema pertemuan ketiga ini.

  1. Pernahkah kita merasa seperti anak muda, yang tak berdaya, tidak punya masa depan, tidak punya jiwa dan harapan karena tinggal seonggok daging lemas yang tidak punya pengharapan?
  2. Pernahkah kita seperti Janda yang tersingkir di kalangan masyarakat, miskin dan tidak punya apa-apa?
  3. Ketika kita membutuhkan uluran tangan orang lain membantu kita bangkit dari keterpurukan kita, adakah kita memperoleh bantuan?
  4. Pernahkah kita peka melihat situasi yang sama terjadi dengan orang lain? Apakah kita pernah bertindak seperti Yesus, yakni membantu mereka yang sedan jatuh untuk bangun dan bangkit kembali?
  5. Pernahkah kita melakukan hal sederhana sebagai umat beriman untuk saling membangkitkan dengan cara saling mengingatkan?
  6. Atau malah lebih ekstrim, pernahkah kita berperan bukan sebagai pembangkit, tapi malah sebagai pembunuh bagi sesama? Membunuh potensi sesama, membunuh kreatifitas sesama, membunuh perkembangan sesama sehingga dia menjadi jatuh tak berdaya seperti anak muda tadi yang menjadi jenazah?
Semoga sharing ini bermanfaat. Pace e Bene.

Pada pertemuan lalu, yang juga telah saya posting di sini, kita diajak untuk menyaksikan perubahan-perubahan yang terjadi disekitar kita. Kita yakin bahwa perubahan-perubahan itu merupakan mukjizat. Kelumpuhan-kelumpuhan yang sempat terjadi di mana-mana, kita saksikan disembuhkan oleh iman, itulah keajaiban atau mukjizat.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering bertanya mengapa harus ada kejahatan? Mengapa harus terjadi ketidak-adilan? Mengapa harus terjadi kelumpuhan? Mengapa harus ada kekerasan? Mengapa harus ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Dia, Sang Pencipta? Agar pertemuan pertama dalam BKSN 2012 tidak terputus sampai pada menyaksikan keajaiban "menyembuhkan kelumpuhan", pertemuan kedua ini kita diajak untuk melihat "apa penyebab utama terjadinya kelumpuhan". Meskipun tema pertemuan kedua dikatakan: "Mengusir Roh Jahat", di sini saya menegaskan bahwa: Roh Jahat menyebabkan kelumpuhan di mana-mana, oleh karena itu perlu diusir.

Setelah dihantar dengan konsep pemikiran seperti di atas, sekaligus kita sudah bisa melihat hubungan antar pertemuan pertama dengan pertemuan kedua dari BKSN 2012, mari kita melihat beberapa point berikut untuk memperkaya kita dalam pendalaman KS.

Ada orang yang mengatakan bahwa "jahat" itu relatif. Alasan dominan bila ditanya mengapa, karena setiap orang mempunyai penilaian terhadap sesuatu jahat atau tidak, tergantung pribadi yang menilainya. Namun demikian, jahat, adalah sebuah hal "yang kurang" bahkan "sebuah ketiadaan". Jahat boleh dimengerti "kurang baik, tidak baik, tidak baik sama sekali". Apakah kita sebagai umat beriman masih mengatakan "jahat itu relatif"?

Kalau pertemuan minggu lalu kita diajak untuk melihat kelumpuhan-kelumpuhan yang terjadi disekitar kita, sekarang kita diajak untuk mencari dan melihat akar terjadinya kelumpuhan itu sendiri. Contoh: Korupsi adalah sebuah kelumpuhan. Korupsi membuat segala rencana menjadi pincang. Korupsi menjadikan hukum tak berdaya. Dan kita tahu penyebab korupsi itu adalah karena kerakusan, nafsu memiliki yang berlebihan. Dalam konteks ini, roh jahat yang harus diusir adalah sikap serakah, kerakusan, nafsu memiliki yang berlebihan. Adakah roh jahat yang masih bersarang dalam keluarga kita, dalam lingkungan kita, dalam masyarakat kita, dalam Gereja kita, bahkan dalam negara kita, yang potensial menyebabkan kelumpuhan yang lebih besar atau bahkan kelumpuhan total?

Mengusir roh jahat, bukan hal yang mudah. Yesus pernah mengatakan: "Penyakit jenis ini hanya dapat diusir dengan iman dan doa". Andaikan ada penyakit dengan status stadium 100, boleh kita katakan penyakit jenis ini sudah melebihi stadium 1000, karena obatnya secara medis tidak ada lagi. Pernyataan ini, bukan melemahkan kita sebagai umat beriman. Pernyataan ini merupakan tantangan bagi kita. Banyak umat beriman dari abad ke abad tetap juga berusaha untuk mengusir roh-roh jahat yang merongrong kehidupan. Adakah kita berusaha mengusir roh jahat yang sedang mencoba, sudah, bahkan sudah lama bersarang dalam kehidupan kita?

Sebagai manusai, kita tetap tidak luput dari kelemahan. Namun, kalimat ini tidak bisa digunakan sebagai tameng. Sebagai umat beriman, kita harus selalu terarah kepada kebaikan. Pernahkah kita bertanya bahwa dalam keadaan tertentu, tanpa kita sadari kita menjadi roh jahat bagi yang lain? Atau pernahkah kita meluangkan waktu sedikit untuk melihat bahwa kita bukan sarang roh jahat yang dapat menular kepada yang lain?

Kalau dulu, Yesus yang mengusir roh jahat. Dalam iman, kita tetap percaya bahwa bersama Yesus, kita tetap bisa mengusir roh jahat. Pernahkah kita berani mengatakan bahwa sesuatu itu roh jahat penyebab kelumpuhan, atau kita banyak diam saja karena takut terkucil dari masyarakat, takut dicuekin, takut dicap penjilat dan sebagainya?

Sudah bertahun-tahun kita mengikuti pendalaman Kitab Suci. Dan sepertinya, kita harus seperti kata Ebiet G Ade dalam lagunya: "Kita mesti telanjang, dan benar-benar bersih..."Sedikit agak ekstrim dan jujur agar pendalam KS ini ada gunanya. Bila tidak demikian, pendalam KS ini hanya formalitas belaka. Mari saling memperkaya dan bertolong-tolong, semoga goresan ini bermanfaat.***

Pace e Bene.


Menyaksikan Mukjizat Tuhan, merupakan tema Umum BKSN 2012. Pada pertemuan pertama, kita diajak untuk melihat dan mendalami mukjizat Tuhan "Penyembuhan Orang Lumpuh" dalam Injil Matius 9:1-8.

Sebagaimana kita ketahui, mendalami perikop ini dalam Pendalaman Iman mungkin sudah beberapa kali. Tapi saya yakin dalam situasi dan konteks berbeda. Kali ini, kita pun mendalami perokop ini lagi dengan konteks dan situasi aktual kita saat ini sebagai umat beriman yang sudah menginjak dan sedang menjalani tahun 2012.

Oleh karena itu, bila perikop ini pernah didalami dalam pendalaman iman sebelumnya, yakinlah bahwa situasi itu berbeda dengan sekarang. Tujuan utama menegaskan hal ini adalah agar kita tidak membangun rasa bosan dalam mengikuti pendalaman Kitab Suci yang sudah tidak asing bagi kita sebagai umat Katolik.

Mari kita melihat seluruh Tokoh yang terlibat dalam Matius 9: 1-8.

Tokoh-tokoh:

  1. Yesus sendiri
  2. Orang Lumpuh
  3. Orang Yang menggotong orang lumpuh
  4. Orang banyak
  5. Ahli Taurat
Tokoh-tokoh refleksif:
  1. Anak Manusia
  2. Orang yang telah sembuh
Dengan mengenali tokoh, kita dengan gampang mendalami teks ini sesuai dengan keadaan kita saat ini. Kita diajak untuk mengamati setiap tokoh yang disebutkan di atas.

Beberapa poin berikut bisa diungkapkan sebagai contoh-contoh menarik:

Yesus, dalam hidup-Nya selalu menunjukkan teladan. Selain berkata-kata, Dia juga menunjukkan teladan lewat perbuatan-Nya. Yesus sanggup memberi perubahan yang bagi kita umat beriman sering kita yakini sebagai sebuah keajaiban. Pendosa berubah menjadi tokoh iman, si lumpuh berubah menjadi sehat kembali, yang kerasukan roh jahat berubah menjadi pewarta kerajaan Allah, adalah merupakan keajaiban-keajaiban yang dibuat oleh Yesus. Sanggupkah kita sebagai umat beriman membuat keajaiban di lingkungan kita bekerja, lingkungan masyarakat dan dalam keluarga kita?

Sebagai orang lumpuh, kita tidak berdaya. Kelumpuhan dalam teks kitab suci dijelaskan sebagai cacat fisik dan melambangkan ketidak-sanggupan untuk berbuat banyak. Dalam konteks zaman kita sekarang ini, kelumpuhan dapat diartikan secara lebih luas. Kelumpuhan itu selalu ada dalam kehidupan kita sebagai manusia. Kelumpuhan dalam diri sendiri, kelumpuhan dalam keluarga, kelumpuhan dalam masyarakat, kelumpuhan dalam gereja dan bahkan dalam bernegara pun kita menemukan kelumpuhan.

Sebagai umat beriman, kita sering mengalami kelumpuhan iman, tak berdaya dan tidak bisa berbuat banyak. Dalam teks kitab suci, kita melihat begitu besar harapan dan iman si lumpuh. Meskipun dalam keadaan tak berdaya, si lumpuh masih tetap berharap. Dan melalui bantuan orang lain, akhirnya harapannya itu tercapai. Adakah kita hanya berpasrah pada keadaan yang kita alami saat ini. Apakah kita menerima kelumpuhan kita sebagai "takdir" yang sering disebut-sebutkan oleh orang lain? Umat Katolik tidak mengenal istilah "takdir" dan atau "nasib". Peran aktif kita sebagai umat beriman untuk mendapatkan keselamatan tetap dituntut.

Atau kita bisa berperan sebagai pengantara rahmat bagi orang-orang yang membutuhkan. Orang-orang yang menggotong si lumpuh merupakan tokoh penyalur rahmat. Kehadiran kita dapat menumbuhkan keajaiban. Tidak perlu kita membayangkan hal-hal yang amat dahsyat. Dalam hal-hal sederhana pun, mukjuzat itu bisa terjadi. Apakah kita sudah berperan sebagai pendukung terjadinya keajaiban dalam kelumpuhan yang sedang terjadi di sekitar kita?

Atau kita seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak setuju dengan perubahan? Kecemburuan sosial pun dapat menghambat terjadinya keajaiban. Ada kecenderungan untuk menghalangi orang lain mendapatkan rahmat. Ada kecemburuan bila orang lain mendapatkan rezeki. Hal ini dapat kita lihat dalam peran Ahli Taurat, para cendekiawan Yahudi yang tidak menerima perubahan yang dibuat oleh Yesus. Adakah kita melihat situasi yang sama dalam kehidupan bernegara, bergereja, masyarakat dan keluarga kita saat ini?

Kita sebagai manusia dapat menjadi pendukung terjadinya keajaiban, sekaligus bisa juga menjadi pendukung terjadinya kelumpuhan. Karena situasi seperti itu, kita diajak untuk melihat dan mendalami teks ini secara cermat dan dalam, dengan melihat dari berbagai aspek kehidupan. Pendalaman Kitab Suci akan menjadi aktual bila melihat segala sesuatu secara nyata dalam kehidupan sekarang ini.

Semoga poin-poin di atas membantu kita untuk mendalami Kitab Suci, terutama pada pertemuan Pertama BKSN 2012. Pace e Bene. **

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam karya Yesus, perumpamaan dan mukjizat tidak bisa dipisahkan. Keduanya berkaitan amat erat dan saling menentukan. Keduanya menjadi unsur pokok dari karya publik Yesus. Dalam Injil, Yesus membuat dua hal dalam pelayanan publik-Nya, yakni sabda dan karya (yang Ia katakan dan yang Ia lakukan). Dari sekian banyak yang diperbuat itu, beberapa diantaranya adalah perumpamaan dan mukjizat. (Gagasan Pendukung BKSN 2012, hal.3).

Pada Bulan Kitab Suci Nasional 2012 ini, umat beriman diajak untuk melihat dan menyaksikan mukjizat-mukjizat yang telah dibuat oleh Yesus dan masih terus dibuat oleh Yesus pada zaman sekarang. Di saat-saat umat beriman mengalami "padang gurun" imannya, kecenderungan untuk tidak sanggup melihat mukjizat Tuhan lebih mudah terjadi. Oleh karena itu, BKSN 2012 mencoba mengajak umat beriman yang sedang berada dalam situasi apapun, tetap sanggup melihat dan menyaksikan mukjizat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Bulan ini, umat Katolik diajak secara khusus melihat mukjizat Tuhan yang dikemas dalam empat pertemuan dengan tema-tema sebagai berikut:

  1. Menyembuhkan Orang Lumpuh
  2. Mengusir Roh Jahat di Gerasa
  3. Anak Muda di Nain
  4. Mengubah Air Menjadi Anggur
Keempat tema di atas akan saya tuliskan dalam posting saya berikutnya sesuai dengan situasi dan konteks Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, dan tentunya secara khusus sesuai dengan situasi di Lingkungan dimana saya menjadi fasilitator selama Bulan Kitab Suci 2012. Mudah-mudahan dapat menjadi "sharing" berharga bagi kita semua.

Selamat menjalani Bulan Kitab Suci Nasional 2012"

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget