MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Desember 2012

Tahun lalu, saya pernah mengikuti salah satu group tertutup diskusi online yang membicarakan tentang Mind Therapy. Dalam diskusi yang diikuti oleh 80 orang member itu membicarakan Mind Therapy dalam konteks “Membangun Kerangka Berpikir dan Menciptakan Opsi”. Penggagas ide dasar dari diskusi ini adalah Bapak Fidelis Waruwu (Dosen di Universitas Tarumanegara). 



Membangun Kerangka Berpikir dan Menciptakan Opsi, ternyata bukan hal yang gampang. Meskipun bagi sebagian orang melihatnya sebagai gampang, namun lebih dominan gampang yang dimaksud adalah karena tidak mengerti inti permasalahan yang ingin dicapai. Perbedaan pendapat pun muncul ketika membicarakan benda yang bernama “Kerangka Berpikir” dan “Opsi” itu. Kerangka berpikir adalah sebuah pemahaman yang melandasi pemahaman-pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang paling mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran selanjutnya. 

Kerangka berpikir sering disebut sebagai Konsep Dasar, menjadi titik tolak sebuah pembahasan, pendalaman dan pengertian. Sedangkan pilihan (Option) atau sering juga disebut Opsi adalah pilihan dari sejumlah alternatif. Menetapkan pilihan mengandaikan sebuah konsep. Tanpa konsep, sejumlah alternatif yang ada tidak menjadi opsi yang tepat. 

Kita  sering terperangkap dalam deretan pilihan yang ada. “Jika pilih ini, maka begitu dan jika pilih itu, maka begini” merupakan langkah awal yang sering ditempuh. Keberhasil menetapkan pilihan adalah sebuah kebanggaan semu karena tidak memiliki konsep. Itulah fenomena yang hidup terutama pada generasi muda kita. 

Ilustrasi Sederhana

 Ketika ada sebuah ajakan “Ayo, ikut ber-demonstrasi!” Saat itu juga dapat dipastikan bahwa kaum muda lebih cepat dan mudah dihasut dan ikut ber-demonstrasi. Ketika ditanya, apa konsep dasar yang anda miliki tentang demonstrasi, sebagian besar menjawab "tidak tahu“. Hal-hal seperti ini menunjukkan betapa mudahnya kita terperangkap dalam sederet pilihan yang ada. Kita bisa berbicara panjang lebar dalam berorasi menolak ke-tidak-adil-an, tetapi ketika di tanya, apa "adil" sebenarnya, akan menjadi gagap dan mengungkapkan pengertian seenaknya saja. 

Tidak punya konsep, kerangka berpikir menjadi tidak benar. Apakah yang menjadi masalah dengan sebuah pilihan? Hidup di negara yang serba dilematis ini membuat kita tidak sanggup membuat pilihan. Sistem pendidikan yang kita terima sejak bertahun-tahun lamanya secara tidak langsung, bahkan hampir dapat dipastikan menggiring kita untuk memilih pilihan-pilihan yang telah dibuatkan. Pilihan sudah tersedia, kita tidak perlu membuatnya. Kita digiring untuk tidak perlu memiliki sebuah konsep. Konsep telah dibuatkan dan tugas kita adalah memilih saja. Kita tidak pernah diajak untuk membuat pilihan karena itu adalah tugas orang-orang yang juga hanya bertugas memilih dari pilihan yang telah dibuatkan. 

Kita telah membiarkan orang lain menetapkan pilihan bagi kita tanpa ada sikap kritis yang menentang hal ini. Ketika kita disadarkan dengan Mind Therapy, Membangun Kerangka Berpikir dan Menciptakan Opsi, barulah kita sadar bahwa sesungguhnya kita tidak punya pilihan. Apa yang secara gamblang kita katakana gampang, menjadi sulit dan membuat kita tak berdaya. Apakah kita tinggal “meng-amin-i” ke-tidak-berdaya-an itu?  **Fidelis Harefa.


Seorang mahasiswa, mengirim surat kepada orang tuanya dengan isi surat sebagai berikut:

Pak, Ma, minggu depan  kami mulai kegiatan KKN dan butuh uang banyak. Mohon dikirim secepatnya. Kata panitia tidak boleh ditunda-tunda lagi pembayaran dana yang diperlukan. 

Ananda 
SI GURLAP 

Di kaki suratnya, dia menggambar sebuah Pisau bermata dua, dan ditambahkannya catatan berikut: Kalau dalam dua hari ini tidak dikirim... ASLINYA MENYUSUL! 

Ayahnya membaca surat itu dengan takutnya dan secepatnya menyiapkan pesanan anaknya itu. Ayahnya langsung menuju tempat fotokopi dan memfotokopi uang lembaran 100 ribu sebanyak 20 lembar. Sang Ayah pun buru-buru memasukan fotokopian tadi ke dalam amplop sambil menyelipkan kertas kecil dengan tulisan begini:

Nak, Ayah mengerti bahwa kamu sangat membutuhkan uang ini. Ayah sudah berusaha dan ini saya kirimkan... 
ASLINYA MENYUSUL...

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget