MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Juli 2013

Oleh: Fidelis Harefa

Sabtu,  27 Juli 2013, bertempat di Aula Gedung Serba Guna Tjilik Riwut, dilaksanakan rapat pembentukan Forum Komunikasi Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) Keuskupan Palangka Raya, Rapat tersebut dihadiri oleh P. Timotius I Ketut Adihardana, MSF dan beberapa tokoh Gereja Katolik Keuskupan Palangka Raya. Rapat tersebut menghasilkan keputusan-keputusan sebagai berikut:

1. Membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Katolik Indonesia Keuskupan Palangka Raya yang berkedudukan di Palangka Raya.
2. Memilih Pengurus untuk pertama kalinya dengan struktur kepengurusan sebagai berikut:

Pembina : P. Dr. Timotius I Ketut Adihardana, MSF

Penasehat:
Napa J. Awat, S.U.
Martoyo, S.E.
Dr. Yosef Dudi, M.Si.
Dr. Drs. Marsel Selamat, S.H, M.H.

Pengurus:
Drs. Yudinantir, M.Si. (Ketua)
Walden M. Sihaloho, S.H, M.H. (Wakil Ketua)
Fidelis Harefa (Sekretaris I)
Eleonora Gandesa Putri, S.T. (Sekretaris II)
Frans Martinus (Bendahara)

Bidang-Bidang:

Julius I.P. Situngkir, S.H. (Koordinator Bid. Advokasi)
Inocentius Celinoty Kondamaru, S.H, M.H. (Anggota)

Yohanes Wibowo, S.E. (Koordinator Bid. Organisasi)
Drh. Alex Uria Atmadja (Anggota)

Drs. Wilhlemus Y. Ndoa, M.Pd. (Koordinator Bid. Humas dan Edukasi)
Yakobus Dapa Toda, S.S. (Anggota)
Drs. Aston Pakpahan, M.M. (Anggota)

Cory Pramita Sartianan, S.H. (Koordinator Bid. Pemberdayaan Sumber Daya Manusia).

3. Memberikan kuasa kepada Ketua terpilih untuk menyampaikan keputusan rapat pembentukan FMKI kepada Bapa Uskup Keuskupan Palangka Raya.
4. Memberikan kuasa kepada Ketua terpilih untuk datang dan menghadap di hadapan Notaris membuat akta pendirian FMKI.
5. Memberi kuasa kepada Ketua terpilih untuk mendaftarkan FMKI pada instansi pemerintah yang berwenang.

Kita telah sepakat dan menyetujui serta mengakui bahwa kita beriman. Konsekuensi dari pengakuan itu adalah dengan ikut dan taat pada segala perintah-perintah yang telah diberikan kepada kita. Seperti kita ketahui bahwa kita memiliki hukum dalam beriman, di antara semuanya itu, hukum yang terutama adalah "kasih". Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.

Dalam Perayaan Ekaristi di Basilika Bunda Kita Yang Dikandung Tanpa Noda di Aparecida (Shrine of Our Lady of Aparecida, Brasil (24/7), Paus Fransiskus dalam homilinya mengingatkan umat beriman bahwa ada banyak godaan-godaan yang menggeregoti iman kita saat ini. Lebih tepat disebutkan dengan istilah berhala-berhala zaman sekarang. Berhala-berhala yang di maksud adalah uang, kesuksesan, kekuasaan dan kesenangan. (bdk. Homili Bapa Suci dalam teks Bahasa Inggris). Berhala-berhala ini telah menggantikan posisi Allah sehingga menimbulkan rasa kesepian dan kekosongan hati. Kesepian dan kekosongan hati membawa manusia pada keputusasaan berkepanjangan dan lupa untuk kembali kepada Allah yang adalah sumber harapan.

Paus Fransiskus, pada kunjungannya ke Brasil dalam rangka penyelenggaraan Hari Pemuda Sedunia dengan tegas mengingatkan bahwa Kaum Muda kita jauh lebih cepat terpengaruh sehingga lupa diri dan kehilangan masa depan. Oleh karena itu, orang tua dan Gereja harus memberi perhatian khusus, pendampingan dan dukungan untuk selalu mengarahkan mereka ke jalan Tuhan.

Meskipun homili ini disampaikan oleh Bapa Suci di Brasil dengan situasi yang sedang bergulir di sana, homili ini berlaku untuk semua umat beriman, termasuk kita yang ada di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa berhala-berhala yang disebutkan di atas pun telah menggerogoti iman kita. Hal ini dapat dilihat indikasinya dalam setiap gerak, pelayanan dan tindakan-tindakan dalam hidup sehari-hari, dalam keluarga, lingkungan masyarakat, dalam Gereja dan bernegara. Begitu kuat berhala-berhala ini menarik perhatian kita sehingga lupa akan keutamaan yang harus kita perjuangkan.

Sebagai orang beriman, mari kita menjadi "mediator cahaya iman", meskipun kita mengalami derita dan kesulitan-kesulitan (bdk. Lumen Fidei, 57). Ini bukanlah madat atau candu yang membuat kita seolah-olah dininabobokan oleh istilah-istilah menarik yang menjanjikan masa depan yang abadi. Hal ini adalah sebuah keharusan bagi kita sebagai orang beriman. **Kairos

Pertanyaan:
Ada hal yang mengganjal di hati saya setiap hari Minggu saat berada di dalam Gereja. Hal itu adalah melihat sikap umat yang memberikan hormat saat masuk gereja, sebelum mengambil tempat duduk. Tradisi kita adalah bila masuk gereja, kita menandai diri kita dengan tanda salib dengan mencelupkan tangan pada air suci yang disediakan di pintu masuk. Kemudian kita melangkah menuju ke tempat duduk, tapi sebelum itu, kita memberi hormat dulu kepada Kristus yang tersalib dan Kristus yang hadir dalam Sakramen Maha Kudus. Penghormatan terarah kepada Tabernakel dan juga pada salib. Ada macam-macam cari penghormatan yang saya lihat. Ada yang berlutut seperti biasanya saya buat, ada yang hanya menundukkan kepala, dan yang paling membuat saya bertanya-tanya adalah cara penghormatan yang "bukan berlutut, bukan pula menundukkan kepala, tapi hanya menekuk sedikit lutut, terkesan menggoyangkan badan saja ke arah yang tidak jelas. Pertanyaan saya, bagaimana seharusnya sikap tubuh memberi penghormatan saat kita masuk ke dalam gereja?

INA Lingk. St. Anna

Jawaban:
Saudari INA, pertanyaan yang sangat bagus. Atas pertanyaan ini KAIROS menjawab sebagai berikut. Dalam Gereja Katolik, kita mengenal dua sikap tubuh yang menjadi simbol penghormatan, yakni berlutut dan menundukkan kepala. Perlu diketahui bahwa memberi penghormatan adalah sikap manusiawi yang menyadari bahwa ada yang lebih agung, ada yang lebih tinggi, ada yang lebih hebat yang sedang berhadapan dengan kita. Ketika kita masuk gereja, kita menyadari bahwa ada yang lebih tinggi di sana yakni Kristus Sang Raja sekaligus Sang Penyelamat. Bagaimana kita menunjukkan sikap hormat?

Cara wajar untuk berlutut adalah dilakukan dengan menekuk lutut kanan sampai menyentuh lantai. Ini adalah tanda sembah sujud (PUMR 274), untuk menghormati. Tentu saja hal itu bukan sekedar tindakan ritual. Ada makna yang mendalam. Berlutut mengungkapkan pengakuan iman kita akan Misteri Paskah, sekaligus menandakan kerinduan kita untuk hadir dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus, Tuhan kita. Gerak berlutut merupakan bentuk perendahan diri karena hadir di hadapan Tuhan. Seperti kata Paulus: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: `Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah Bapa!” (Fil 2:10-11). Kita pun melakukannya untuk meniru kesengsaraan Kristus ketika disalib, supaya boleh mengalami anugerah kebangkitan-Nya. Sikap ini mengajar kita untuk hidup sehari-hari seperti yang dilakukan Kristus. Kita diantar untuk bersatu dalam persembahan diri dan korban-Nya yang suci. [ref]

Beberapa alasan yang tidak tepat dilontarkan oleh umat mengapa tidak sanggup berlutut dengan baik. Di antaranya adalah:

  • Usia sudah lanjut, jadi agak susah untuk menekuk lutut kanan hingga menyentuh lantai.
  • Pakaian yang dikenakan tidak mendukung untuk melakukan gerakan tubuh tersebut.
  • Sedang mengalami sakit dibagian lutut dan pinggang.
  • Banyak lagi alasan yang dilontarkan untuk membela diri.
Hal itu tidak menjadi soal. Kalau berlutut tidak bisa dilakukan, buatlah sikap lain yang lebih baik. Berlutut dapat digantikan dengan menundukkan kepala. Untuk kesempatan tertentu, berlutut (juga membungkuk) bisa diganti dengan menundukkan kepala. Misalnya, ketika para pelayan misa (putera altar, lektor, diakon) sedang membawa salib, lilin, dupa, atau Kitab Injil harus menghormati Sakramen Mahakudus atau altar. Menurut PUMR 275a “menundukkan kepala” dilakukan juga ketika mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama para orang kudus yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan. Mengapa perlu diganti? Alasannya praktis saja dan mungkin juga estetis serta teologis. Pembawa benda-benda itu biasanya akan kerepotan jika harus berlutut sementara masih membawa sesuatu. Lagi pula, bisa tampak tidak indah dan kurang menarik jika salib yang mestinya tetap tegak ternyata jadi miring lantaran pemegangnya sedang berlutut atau membungkuk. Atau, lelehan lilinnya jatuh ke lantai atau ke tangan putera altar yang memegangnya karena dia harus berlutut. Khusus untuk benda-benda simbolis yang berkaitan dengan diri Kristus seperti Kitab Injil dan Salib, kita diminta tetap menunjukkan nilai kehormatannya. Maka, benda-benda simbol Kristus itu harus tetap tampak anggun, tidak tampil naik-turun, miring ke kiri-ke kanan, karena si pemegang harus berlutut dan berdiri segala. [ref]

Meskipun sikap ini ditujukkan kepada pelayan perayaan, tidak ada salahnya dilakukan oleh umat yang memiliki gangguan untuk berlutut saat masuk gereja dan menggantinya dengan menundukkan kepala. Jauh lebih berarti daripada membuat gerekan-gerakan yang tidak jelas, hanya sekedar menggoyangkan badan, tapi bukan berlutut atau menunduk. Semoga pertanyaan memuaskan. **Kairos

Pemahaman yang benar tentang Liturgi akan memberi warna tersendiri dalam segala perayaan yang kita laksanakan. Pada tulisan-tulisan yang lalu, telah dijelaskan satu persatu tentang Liturgi. Kali ini, kita diajak untuk melihat perbedaan antara Lagu Liturgi dengan Lagu Rohani. Ada kalanya, kita memilih lagu-lagu dalam Perayaan Ekaristi berdasarkan cita rasa "lagunya enak", "meriah" dan kriteria lainnya.

Lagu Liturgi adalah lagu yang diciptkan khusus untuk liturgi. Lagu Rohani adalah lagu yang diciptakan untuk kegiatan non liturgis seperti pertemuan karismatik, hiburan rohani, lagu pentas dan lain-lain. Pusat Pelatihan Musik Liturgi (PML) memberikan beberapa gambaran perbedaan Lagu Liturgi dan Lagu Rohani sebagai berikut:

  • Lagu Rohani mirip dengan manisan, dapat dinikmati namun tak cukup untuk memberi makan pada badan kita. Lagu Liturgi mirip dengan makanan bergizi, tidak selalu enak, namun perlu agar badan kita sehat dan kuat.
  • Lagu Rohani lebih banyak berbicara tentang dirinya sendiri atau situasi manusia daripada ingin mendengar suara Tuhan. Lagu Liturgi mengutamakan Sabda Allah dan menjawabnya dalam melaksanakan kehendak Allah secara nyata.
  • Lagu Rohani mengutamakan pujian kepada Allah (sering hanya di bibir) tanpa ambil pusing tentang konsekuensinya. Lagu Liturgi berpangkal dari hormat kepada Allah, dari kepentingan Allah (Kerajaan Allah) dan pelaksanaannya.
  • Lagu Rohani tak jarang termasuk "kitsch" atau seni palsu yang memberi kesan seni namun ternyata murahan. Lagu Liturgi tak jarang merupakan suatu tantangan, lagu dan syair yang kurang enak di telinga merangsang suatu tanggapan dari kita, dan inilah seni yang sejati.
  • Lagu Rohani praktis selalu berbentuk bait (monolog). Lagu Liturgi memakai juga bentuk sahut-menyahut, aklamasi, bentuk khusus misalanya "Kemuliaan" (dialog.
Pembedaan-pembedaan di atas tentu berdasarkan kriteria. Kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

Kriteria Lagu Liturgi:
  1. Harus main peranan dalam liturgi, merupakan bagian Liturgi meriah yang penting atau integral. (SC 112).
  2. "Adalah Liturgi" atau "mengiringi liturgi".
  3. Mengikutsertakan umat karena Liturgi "memupuk kesatuan hati". (SC 113, 114, 121; MS 5, 15, 16)
  4. Syair terutama tentan penyelamatan Allah, maka diambil/diolah dari Kitab Suci atau dari teks Liturgi (SC 121).
  5. Syair sebagai pegangan untuk hidup sebagai orang Kristen; dipupuk iman para peserta dan hati mereka diangkat kepada Allah, untuk mempersembahkan penghormatan yang wajar kepada-Nya dan menerima rahmat-Nya secara lebih melimpah. (SC 33).
  6. Syair lebih penting daripada lagu. (SC 112)
  7. Khidmat, bermutu tinggi/seni sejati (Paus Pius X), merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. (SC 7).
  8. Bersifat Gerejani ("kami"/"kita") atau dengan kata lain "lagu umat".
  9. Liturgi dan lagu liturgi sering "menantang", memuat kejutan, karena Allah memang lain dengan manusia. Perbedaan ini menuntut konsentrasi/serius dan sikap sopan dari manusia.
Kriteria Lagu Rohani:
  1. Diciptakan untuk keperluan perorangan/devosi/pentas/pertemuan rohani/pendidikan (Sekolah Minggu) atau sebagai backgroun musik (MS 53).
  2. Syair berpangkal dari/dan membahas pengalaman atau perasaan manusia.
  3. Syairnya bebas (ungkapan sikap hati).
  4. Bersifat perorangan ("aku"/"saya").
  5. Tujuan untuk menghibur, melepaskan ketegangan.
  6. Dihindari tema yang berat ("salib", "menyangkal diri")
  7. Bagus namun sering tak bermutu.
  8. Melodi musik lebih penting daripada syair.
  9. "The singer" (penyanyi) jauh lebih penting dari pada lagu, "not the song". Dengan kata lain lebih bertujuan untuk komersial.
Kita sadar bahwa pengetahuan akan Liturgi tidaklah sama dan merata untuk seluruh umat. Oleh karena itu perlu diberi penjelasan agar ada keseragaman pengetahuan dalam hal ini. Sering kita melihat dalam Perayaan Ekaristi zaman ini, yang lebih ditonjolkan adalah "paduan suaranya" atau "kelompok koornya" bukanlah keterlibatan umat dalam liturgi. Jelas ini sangat jauh dari pengertian liturgi yang sesungguhnya. Semoga dengan tulisan ini kita semakin diperkaya lagi terutama bagaimana ber-Liturgi dengan baik.

Sumber: Panduan Menjadi Dirigen Yang Baik, PML Yogyakarta 2013.

Ensiklik pertama Paus Fransikus I "Lumen Fidei" membuka cakralawa pemikiran kita tentang pemahaman iman yang dewasa. Setelah sekian lama kita mengaku sebagai orang beriman, ada celah-celah yang sepenuhnya tidak kita mengerti berhubungan dengan iman. Hal ini dapat dibuktikan dengan keyakinan kita akan kebenaran yang cenderung sangat subjektif. Kebenaran subjektif yang dimaksud adalah kebenaran yang tidak dipahami oleh semua umat beriman secara seragam dan sama. Zaman modernisasi sekarang ini menganggap bahwa kebenaran yang nyata dan dapat dilihat wujudnya adalah teknologi. Keyakinan ini didukung oleh pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa kebenaran itu harus dapat membahagiakan, harus mampu meringankan beban, harus dapat dibagikan dan mampu memberi ketenangan. Kebenaran ini mengaburkan langkah kita untuk sampai kepada "kebenaran sejati" kebenaran yang sudah ada sejak dulu dan kebenaran yang tetap untuk masa depan dan selamanya.

Pengetahuan akan kebenaran merupakan pusat iman. Kita harus memiliki pemahaman yang benar tentang kebenaran. Apa yang kita mengerti tentang kebenaran adalah hasil dari terang iman. Iman yang benar akan membawa kita kepada kebenaran. Kalimat ini terkesan seolah-oleh permainan kata belaka. Akan tetap, memang demikianlah faktanya. Iman dan kebenaran tidak dapat dipisahkan. Ketika kita salah memahami kebenaran, itu menunjukkan bahwa kita pun salah memahami iman.

Sering muncul pertanyaan, 'apa yang benar?' dan 'bagaimana harus beriman?' Teks kenabian mengarah pada satu kesimpulan: kita membutuhkan pengetahuan, kita perlu kebenaran, karena tanpa ini kita tidak bisa berdiri teguh, kita tidak bisa bergerak maju. Iman tanpa kebenaran tidak abadi, tidak memberikan pijakan yang pasti. Iman tanpa kebenaran akan menjadi sebuah cerita yang indah, hanya akan menjadi madat yang mampu mengelabui kita untuk melewati segala penderitaan dan kesulitan hidup. Iman akan menjadi sebuah cerminan mimpi akan kebahagiaan yang tidak pasti. Dengan bahasa sederhana, Iman tanpa kebenaran akan menjadi sebuah kesanggupan kita membohongi diri dari kenyataan yang sedang terjadi. Sebuah kepura-puraan berkepanjangan.[1]
Adalah tidak mudah memahami kata-kata ini. Terasa akan menjadi sulit dicerna kalau kita berpijak pada dasar yang tidak kuat tentang iman. Oleh karena itu, berbicara mengenai "Dewasa dalam Iman" yang sering dikumandangkan pada Tahun Iman yang sedang berlangsung ini, haruslah berdasar pada hal-hal yang fundamental berhubungan dengan kebenaran iman. Pada intinya, ketika kita berpijak pada pondasi dan dasar yang kuat, iman dan kebenaran yang kita yakini tidak akan mudah digoncang oleh godaan-godaan nyata yang sedang bergulir saat ini. Kita tidak akan mudah tergiur dengan janji "Keyakinan Hidup Sukses" sebelum kita meyakini bahwa kesuksesan itu dicapai karena campur tangan Allah. Allah yang hidup dari awal hingga akhir, Ada melampaui ruang dan waktu, bukan allah yang telah direduksi kedalam kebahagiaan semu, yang diperoleh dari teknologi dan hura-hura. **Fidelis Harefa


[1] bdk. Encyclical Letter LUMEN FIDEI of... art. 24.

Pertanyaan:
Akhir-akhir ini saya merasakan suatu krisis sedang terjadi dalam Musik Liturgi. Apakah hal ini disebabkan oleh rasa bosan, tidak bersemangat atau ada hal lain yang mempengaruhi kemerosotan jiwa Musik Liturgi kita? Kadang-kadang, petugas kor dan organis melaksanakan tugas alakadarnya. Adakah hal-hal yang perlu dibenahi untuk menghidupkan kembali Musik Liturgi?

LD, Lingk. St. Arnoldus

Jawaban:
Saudara LD, pertanyaan yang sangat menarik dan sangat bermanfaat. Memang, krisis dalam Musik Liturgi tidak terjadi hanya di tempat kita ini. Terjadi hampir di seluruh dunia. Kami mengutip pendapat PML (Pusat Musik Liturgi - Yogyakarta) tentang sebab-sebab krisis dalam Musik Liturgi.

  1. Petugas kurang bersemangat, apalagi kalau itu hanya Minggu Biasa dan bukan Hari Raya. Lebih parah lagi kalau itu Misa Sore dan bukan Misa Pagi yang biasanya banyak umat. Para petugas melaksanakan tugas sebagai rutinitas saja, tanpa penghayatan.
  2. Para petugas memiliki pengetahuan yang sangat terbatas berhubungan dengan Musik Liturgi. Petugas kor, dirigen dan organis adalah sukarelawan saja. Kebetulan mereka bisa karena bakat, mereka menyumbangkannya sebagai persembahan pada Tuhan. Namun, mereka ini agak susah untuk dituntut berlatih karena sesungguhnya bukanlah itu tugas utamanya.
  3. Musik Liturgi kehilangan dayanya, kehilangan sifat sakralnya. Kita jatuh dalam perangkap sekularisasi atau anggapan bahwa kita dapat membuat diri kita selamat.
  4. Tekanan pada peraturan-peraturan yang mematikan semangat para petugas musik liturgi maupun umat.[1]
Beberapa hal yang disebutkan di atas adala pendapat PML dalam mencermati perkembangan Musik Liturgi dewasa ini. Oleh karena itu, bila Saudara LD mempertanyakan hal ini, kami pikir sangatlah wajar dan penilaian saudara sangat tepat.

Mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk menghidupkan kembali Musik Liturgi, berikut ini dapat disebutkan beberapa hal:
  1. Adanya niat dan keinginan para petugas untuk menjadikan liturgi bersuasana hidup dan bersemangat. Bukan dengan menirukan gerakan Kharismatik, tetapi dengan berusaha agar Tuhan menyentuh hati. Liturgi harus diperkaya dengan saat-saat hening. Kita harus membiarkan Tuhan menyentuh kita dalam keheningan. Meriah bukan berarti hidup dan bersemangat. Kita harus bisa membedakan kedua istilah ini. Liturgi sangat membutuhkan keheningan agar pengendapan segala sabda Tuhan lebih mudah.
  2. Meningkatkan pengetahuan tentang musik liturgi dan ketrampilan sebagai dirigen, penyanyi, organis, pemazmur. Latihan-latihan sangat dibutuhkan untuk ini. Kita harus melawan anggapan 'saya sudah cukup terlatih' atau dengan kata lain: karena malas. Semangat tidak jatuh dari langit, tetapi perlu persiapan seperti teknik nyanyi, ketrampilan jari dan sebagainya.
  3. Memperdalam dan meningkatkan faham tentang Allah. Hanya kalau kita punya faham tinggi tentang Allah, liturgi kita akan berarti dan hidup kita akan berubah. Hanya dari Tuhan nyanyian kita akan memperoleh 'isi' atau 'hidup' dan akan menjadi pewartaan sejati.\
  4. Memahami bahwa yang bertugas bukanlah 'aku', 'saya', tetapi yang bertugas adalah 'kami' atau 'kita'. Di dalamnya harus ada unsur kebersamaan sehingga tanggung jawab ini menjadi tanggung jawab bersama.
  5. Meningkatkan pengetahuan tentang lagu-lagu inkulturasi yang merupakan kekayaan tersendiri, khususnya Gereja Indonesia. 
Kesadaran untuk berliturgi di antar umat semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh pemahaman yang sangat kurang tentang liturgi. Oleh karena itu, yang menjadi pionir untuk memperkenalkan liturgi yang baik kepada umat adalah para Pastor, Diakon, Guru Agama dan Katekis.[2]

Karena begitu pentingnya peranan Musik Liturgi dalam Gereja, maka ada sebuah Lembaga Khusus yang menyediakan pelatihan untuk musik liturgi. Adanya pengalokasian waktu khusus untuk itu adalah pertanda bahwa musik liturgi tidak dapat dipandang sebelah mata saja atau dianggap sepele. Musik liturgi harus ditata dan dikoordinir dengan baik, dan tentunya sangat berhubungan dengan manajemen stasi atau paroki.
Secara khusus untuk Saudara LD, dengan jawaban ini, kami menghimbau dan mencoba menumbuhkan ketertarikan terhadap musik liturgi. Alangkah baik bila semua umat tertarik untuk memperhatikan hal ini. Tapi tentu hanya sebagian yang memiliki minat dan bakat khusus sebagai profesional di bidang ini. Siapa tau, Saudara LD termasuk di antaranya, kami sangat mendukung. Semoga jawaban ini menjawab pertanyaan di atas. **Kairos
[1]Buku Latihan Dirigen, PML 2013
[2]Ibid

Kalimat ini adalah sebuah komentar atas sebuah poster seorang anak Angola yang ditinggal orangtuanya karena peperangan. Ia terisak sambil menatap sebongkah tulang sapi yang sudah tak punya dagingnya. Entah ia menangis karena ingat akan orangtuanya? Entah ia menangis karena kelaparan? Tak seorangpun tahu. Komentar itu seolah menggugah nurani kepedulian siapapun yang memilikinya.

Kalau bocah ini kesendirian, apakah aku yang membacanya bisa merasakan apa yang dirasakannya? Kalau bocah ini menjerit karena kelaparan, apakah aku bisa merasakan apa yang dirasakannya? Ah Tuhan, ini hanya sebuah permainan kalimat. Seorang fotografer, tapi jika ini kutemukan terjadi disebelah rumahku, apakah aku bisa menjadi dirinya dalam arti yang utuh, berempati dengan dirinya?

Seorang pemuda, dalam Injil hari ini (Minggu Biasa XIV) bertanya kepada Yesus, siapa sesamanya yang sebenarnya? Seharusnya pertanyaaan ini tidak pernah terjadi kalau pemuda ini benar-benar melepaskan kalimat-kalimat hukum cinta kasih dri buku yang kita namakan Kitab Suci. "Aku sudah membacanya..." Ini sebuah pertanda, sebagai hukum tertulis dalam kitab, siapapun bisa menghafalnya di luar kepala sebagai bahan untuk menyerang orang lain dan mempertontonkan kebolehan dalam menghafal Kitab Suci, tetapi ketika, menyaksikan bocah Angola ini, itu kita alami dan terjadi dalam perjalanan hidup kita, apakah apa yang kita baca tentang hukum ini bisa menjadi hidup dalam sikap kepedulian kita? Ataukah kita akan menjadi seorang imam, yang tidak mau kehilangan jatah membuat Misa jika mereka yang minta itu adalah orang kaya lalu membiarkan nurani orang susah yang meminta bantuan di depan kita? Ataukah kita akan menjadi Lewi yg mencari aman karena takut dirampok karena mempertahankan sekarung uang "jarahan" dengan hanya menatap orang susah dari "seberang?" Yesus ji
ka hari ini dan seterusnya kujumpai orang-orang seperti ini, apakah aku adalah Engkau yang memiliki kepedulian penuh terhadap sesama? Apakah aku bisa menjadi mereka yg menderita? Kuatkanlah aku Tuhan.

Deretan kalimat-kalimat di atas diungkapkan secara puitis. Boleh saya katakan sebagai ungkapan permenungan yang sangat menyentuh hati dari P. Dominikus Kefi, SVD, pemimpin Perayaan Ekaristi yang saya ikuti hari ini. Ternyata, kalimat demi kalimat yang diungkapkan membuat saya terdiam dan merenungkan sikap saya selama ini. Terbayanglah di depan saya sebuah ketidak-sanggupan menjadi Dia yang Maha Kasih bila berhadapan dengan penderitaan dan tantangan.

Kadang kita pandai berteori. Pandai dalam perdebatan karena kita sudah punya dasar yang diperoleh secara ilmiah. Tapi ketika kita menghadapi kenyataan yang sesungguhnya, ada kecenderungan kita untuk membela diri dan mencari jalan pintas. Semoga renungan sederhana Minggu ini menumbuhkan kepedulian kita terhadap sesama yang membutuhkan bantuan kita. **Yuli Ana, S.Ag.

Pertanyaan:

Saya seorang gadis, sekarang berusia 34 tahun, tapi belum berkeluarga. Saya memiliki trauma dalam hidup berkeluarga sehingga membentuk rasa takut yang luar biasa dalam diri saya. Rasa takut tersebut bersumber dari sikap keras ayah saya. Ceritanya begini: Ayah saya seorang agamawan, boleh dikatakan rajin ke gereja dan aktif di kegiatan lingkungan. Ayah saya memperlakukan kami, Ibu, saya dan saudara-saudari saya layaknya seorang raja atau tuan besar memperlakukan hamba-hambanya. Nilai-nilai tradisi budaya kerajaan atau kasta masih terlalu kental dipegang oleh ayahku. Akhirnya kebersamaan kami sangat sedikit. Makan bersama tidak ada. Kalau waktu makan, kami semua tidak boleh makan kalau ayah belum makan duluan. Dominannya, ayah punya tempat kehormatan di rumah, di mana kami semua tidak boleh ada di situ. Hal inilah yang membentuk rasa takut dalam hidupku. Melihat keadaan rumah tangga kami seperti ini, rasa takut bertemu dengan orang pun terbentuk secara pelan-pelan dalam diri saya. Alasan utamanya adalah rasa malu karena keluarga Kristen lainnya tidak seperti keluarga kami, meskipun berasal dari tradisi budaya yang sama. Kalau dalam iman Katolik dikatakan bahwa Kristuslah Kepala Rumah tangga, apakah dalam rumah tangga seperti saya gambarkan di atas, kami sudah membiarkan Kristus menjadi kepalanya? Mengapa kami terbentuk oleh rasa takut yang luar biasa, bukan rasa hormat dan rasa segan pada sosok ayah yang kami miliki?

AA dari Lingk. St. Sisilia

Jawaban:

AA, kami sangat mengerti permasalahan anda. Rasa takut yang terbentuk sejak kecil bukanlah hal gampang untuk dihilangkan. Tentu membutuhkan perjuangan keras untuk menghilangkannya, dan biasanya melalui konsultasi dan bimbingan serta pendampingan secara psikologi dapat membantu. Hidup keluarga masing-masing orang tentu memiliki pola yang berbeda-beda. Ada keluarga yang feodalistik, ada juga yang egaliter. Dan ini sangat dipengaruhi oleh tradisi budaya di mana kita berasal.

Apakah Kristus sudah menjadi Kepala Rumah Tangga anda? Kairos menjawab seperti ini: Bukan karena rajin ke gereja atau aktif dalam doa lingkungan yang membuat secara otomatis Kristus hadir sebagai Kepala Rumah Tangga. Cara kita menghidupi nilai-nilai Injil dan pesan-pesan Kristus dalam hidup sehari-hari, terutama dalam keluarga sebagai Gereja basis, itulah yang menunjukkan seberapa besar peranan Kristus menjadi Kepala Rumah Tangga.

Seharusnya, keluarga Katolik tidak boleh didominasi oleh tradisi kerajaan yang sudah ada ratusan tahun yang lalu. Keluarga Katolik harus didominasi oleh tradisi baru yakni tradisi keluarga Katolik. Keluarga Katolik harus bahagia seluruhnya. Ayah dan Ibu tidak boleh mendominasi anak, demikian pula sebaliknya. Walaupun seorang Ayah berasal dari keturunan Raja, dalam garis keturunan tradisi, dalam Kristus, tidaklah berlaku hal seperti itu. Keluarga Katolik harus menjadikan Keluarga Kudus Nazaret menjadi teladan. Nilai-nilai Kristiani sebagai pengikut Kristus lebih terlihat di sana.

Untuk AA, buanglah rasa takut yang sekarang ini ada. Bukalah diri dan bergaul dengan orang seperti lazimnya orang percaya. Berdoalah agar kamu kuat sebelum kamu mendapatkan trauma baru. Kami curiga, karena rasa malu bergaul dengan yang lain, itu yang membuat AA tidak bertemu dengan pasangan yang siap menjadi teman hidup AA. Dan berdoa juga untuk ayah, agar menyadari bahwa pola yang dihidupi selama ini tidak sesuai dengan polah hidup Keluara Katolik. Kelurga Katolik harus didominasi oleh Kristus sebagai Kepala Keluarga. Dalam keluarga itu, tidak ada batas-batas kasih, cinta yang menjadi benteng pembuat jarak antara suami dan istri, ayah dengan anak, dan lain sebagainya. Dalam Kristus, haruslah semua bahagia. Tidak ada yang merasa tertekan dan tidak ada yang merasa sebagai tuan besar. Walaupun secara lahiriah anak harus menghormati orang tua, tapi ingat, rasa hormat beda dengan rasa takut.

Semoga jawaban kami bisa membantu. Kami sarankan, AA harus memilih pembimbing rohani yang tepat agar rasa takut yang terbentuk sejak lama itu bisa dihilangkan, walaupun tidak seratus persen. Salam damai. **Kairos

Hari Komunikasi Sedunia ke-44, 16 Mei 2010 yang lalu mengetengahkan sebuah tema menarik yakni, "Imam dan Pelayan Pastoral di dunia digital: Media Baru demi pelayanan Sabda". Dalam perayaan itu, Bapa Suci Benediktus XVI berpendapat: "Komunikasi digital, adalah suatu bidang pastoral yang peka dan penting, yang memberikan kemungkinan baru bagi para Imam dalam menunaikan pelayanan kegembalaannya demi dan untuk Sabda. Menyangkut kita semua, di zaman globalisasi seperti sekarang, kita adalah konsumen dan operator komunikasi sosial".[1]

Menjadi konsumen dan operator komunikasi sosial pada era multimedia saat ini bukanlah hal yang langka. Hampir semua orang dapat melakukannya tidak terbatas waktu dan tempat. Pertukaran informasi terjadi bukan dalam hitungan bulan, minggu, hari dan jam lagi. Sekarang boleh dikatakan semua terjadi dalam hitungan detik antara banyak orang sebagai komunikator (informan) dan banyak orang sebagai sasaran komunikasi (pengguna informasi).

Permasalahan ditemukan ketika sebuah pertanyaan diajukan. Sejauh mana iman menerangi hidup kita sebagai konsumen dan operator komunikasi sosial? Dampak dari perkembangan pesat piranti media baru, terjadilah pergeseran nilai-nilai budaya dan gelombang ini lebih banyak melanda kaum muda. Kecemasan orang tua menjadi bertambah. Bukan itu saja, selain kaum muda, orang dewasa pun diterpa oleh dampak perkembangan ini. Keretakan sebuah keluarga diawali oleh sebuah komunikasi yang salah. Komunikasi jarak jauh melalui facebook, twitter dan jejaring sosial lainnya jauh lebih menarik dan mengasikkan dibandingkan berkomunikasi secara langsung dengan anggota keluarga yang duduk berhadapan muka. Keakraban keluarga menjadi berkurang karena tercipta sebuah dunia baru dimana jarak yang jauh menjadi dekat, yang dekat semakin tidak jelas.

Menghadapi situasi seperti ini, Gereja harus mampu menjembatani Media Sosial ini untuk meneranginya dengan terang iman. Paus Beneditktus XVI menegaskan: "Menggunakan teknologi komunikasi baru merupakan hal yang perlu, dalam menjawab secara tepat tantangan-tantangan yang dirasakan kaum muda di tengah pergeseran budaya masa kini. Dengan demikian, Sabda Allah dapat berjalan melintasi berbagai persimpangan yang tercipta oleh simpang siurnya aneka ragam 'jalan tol' yang membentuk 'ruang maya', dan menunjukkan bahwa Allah memiliki tempat-Nya yang tepat pada setiap zaman, termasuk di zaman kita ini"[2].

Konvergensi media tengah terjadi pada zaman kita ini. Teknologi multimedia dan internet memungkinkan media cetak dan elektronik (radio dan TV) berfusi menjadi ujud baru. Mendengarkan radio dan menonton TV dapat dilakukan dengan media mini yang satu dan sama seperti selular, gadget dan komputer. Media cetak, kini dapat diakses lewat 'iPad'. Siaran radio dan TV dapat diakses secara online (audio dan video streaming). Pendek kata, konvergensi media merupaka terobosan luar biasa yang melahirkan model media baru.

Pelayanan Pastoral harus bisa masuk dengan caranya sendiri melalui media-media ini. Imam dan pelayan pastoral lainnya tidak boleh menutup mata terhadap perkembangan media. Mereka harus punya waktu untuk menyesuaikan keahlian dengan perkembangan era multimedia. Pandangan yang dulu "internet adalah tabu" harus disingkirkan karena istilah ini tidaklah tepat. Media-media ini akan sangat bermanfaat untuk pewartaan Sabda Allah bila digunakan sesuai dengan fungsinya. Kita harus menjadi konsumen dan operator komunikasi yang berdasarkan pada keimanan. Dengan demikian, kita akan masuk ke dalam sebuah tradisi baru komunikasi yang semakin luas, masuk ke dalam komunitas yang semaki besar dalam terang iman yang dalam. **Fidelis Harefa

[1]Errol Jonathans, IMAN DAN PEWARTAAN DI ERA MULTIMEDIA, Seri Filsafat Teologi Widya Sasana No. 19
[2]Ibid

Pertanyaan:
Apakah anak kecil boleh terima Komuni? Kapan seorang anak boleh terima komuni? Anak usia berapa sudah boleh menerima Komuni?”

Jawaban:
Gambar dari: pandu.katolik.or.id
Saya memulai jawaban untuk pertanyaan tersebut di atas dengan sebuah ceritera. Ceritera ini saya ambil dari Majalah Liturgi (Komisi Liturgi KWI). Orang Katolik di sebuah desa pedalaman membangun sebuah kapel atau rumah ibadat. Karena belum mampu untuk membeli peralatan liturgi yang baik, mereka menggunakan peralatan seadanya. Tabernakel dibuat dari kayu yang sederhana. Sebagai pengganti sibori mereka menggunakan plastik kue.  Alkisah di kapel itu tinggal seekor tikus. Suatu malam tikus itu kelaparan dan mencari makanan. Rupanya tercium oleh tikus itu di dalam tabernakel ada sesuatu yang bisa dimakan. Maka tikus itu menggerogoti tabernakel itu dan menemukan hosti (sudah dikonsekrir) dalam plastik. Hosti itu dimakan habis oleh tikus. Nah, pertanyaannya, apakah tikus itu menyambut komuni seperti orang Katolik menyambut Komuni waktu menghadiri perayaan Ekaristi? Jelas, tikus itu tidak menyambut komuni alias bukan tikus Katolik. Karena, tikus itu samasekali tidak tahu bahwa hosti itu sudah menjadi Tubuh Kristus dan lagi tikus itu samasekali tidak mengimaninya. Tikus itu makan hosti sama seperti ia makan makanan yang lain. Dengan demikian hosti itu tidak punya nilai dan makna iman untuk tikus itu.

Seorang anak kecil belum/tidak tahu tentang hakekat hosti yang oleh kata-kata konsekrasi telah berubah menjadi Tubuh Kristus dan karenanya juga belum mengimaninya. Oleh sebab itu kalau kepada seorang anak kecil diberi hosti, ia bukan menyambut Komuni atau menerima Tubuh Kristus, tetapi ia hanya menerima hosti dan makan hosti. Maka nilainya kurang lebih sama dengan hosti yang dimakan tikus, yang diceriterakan di atas. Kalau demikian halnya, pemberian hosti kepada anak kecil merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap Tubuh Kristus. Karena kita merendahkannya hanya sebagai sesuatu yang bisa dimakan sama seperti biskuit atau mendesakralisasikan hosti. Kadang ada orangtua yang memberikan sepotong hosti yang disambutnya kepada anaknya yang merengek memintanya. Perbuatan orangtua seperti itu jelas sebuah pelecehan dan penghinaan terhadap Tubuh Kristus serta berpotensi melukai rasa keagamaan orang lain. Itu sebabnya di NTT pelaku pelecehan hosti sulit ditolerir orang Katolik. Pemberian hosti kepada anak kecil yang belum berhak menerimanya termasuk dosa sakrilegi yakni dosa penghinaan  barang suci.

Dengan pertimbangan seperti di atas komuni belum diberikan kepada seorang anak. Dalam sejarah Gereja pemberian komuni kepada seorang anak dimulai dengan keputusan Paus Pius X. Paus Pius X memutuskan pemberian komuni kepada anak berusia 7 tahun dan juga penerimaan komuni setiap hari. Dasar keputusan Paus Pius X adalah sabda Yesus sendiri: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu, sebab orang-orang yang seperti itulah yang mempunyai Kerajaan Surga” (Mat 19:14). Penerapan keputusan itu diberbagai tempat cukup bervariasi. Di paroki-paroki di NTT komuni pertama diberikan kepada anak usia kelas V SD atau VI SD. Di Paroki Katedral komuni pertama biasanya diberikan kepada anak usia kelas IV SD, karena banyak guru agama mengalami kesulitan untuk mempersiapkan anak usia kelas III SD.

Mengingat ada anak yang berperilaku merengek ingin tahu hosti yang diterima orangtuanya, para orangtua dimohon dengan sangat pengertiannya untuk tidak mencuil hosti yang diterimanya dan memberikannya kepada anaknya. Jangan sampai orangtua yang melakukan hal itu, sebetulnya sama dengan anaknya yakni hanya makan hosti dan tidak menyambut komuni atau menerima Tubuh Kristus. Jangan sampai banyak umat kita yang demikian kondisi imannya. Marilah kita membaharui iman kita akan Ekaristi. Semoga! **P. Alex Dato’ L., SVD

Tulisan saya sebelumnya tentang "Siapa Gembala bagi Umat Katolik Pengguna Internet?", sangat erat hubungannya dengan tulisan saya kali ini. Adalah patut kita berterima kasih karena dalam era Digital Mobile saat ini, kita memiliki aplikasi-aplikasi yang membangun iman. Seraya berterima kasih, dengan ini dianjurkan kepada Umat Katolik yang sudah memiliki Mobile Digital yang sudah menggunakan android untuk menginstal aplikasi ini. Beberapa aplikasi yang sudah siap pakai:

  • Doa Katolik
  • Kompendium Katekismus
  • Doa Novena
  • Pengakuan Dosa
  • Jalan Salib
Aplikasi-aplikasi ini dikembangakan oleh Decima Vita Maxima. Saat ini, mereka sedang mengembangkan dan memogramkan aplikasi Buku Doa Harian (Brevier). Mari kita lihat apa kata mereka memotivasi umat Katolik untuk menggunakan aplikasi ini.
  1. Dunia di genggaman tangan: Dengan berbagai macan gagdet yang beredar, dunia terasa sangat mudah dijangkau. Bahkan dunia ada dalam genggaman tangan. Semua informasi bisa diperoleh hanya dengan dengan ‘klik’. Begitu banyak aplikasi membuat hidup lebih indah.
  2. Gereja di genggaman tangan: Bayangkan saja, dimanapun kita berada, dalam kesempatan apapun, kita masih bisa punya akses belajar tentang iman Katolik, kita punya bahan-bahan belajar tentang iman Katolik. Ehm…nampaknnya menyenangkan. Cukup membawa gadget, gak perlu membawa setumpuk buku.
  3. Mudah Terhubung: Banyaknya layanan koneksi internet di Indonesia, memungkinkan setiap orang terhubung satu dengan yang lain. Demikian juga mudahnya kini, mencari infomasi di dunia maya.
  4. Bayar Gak?: “Free? Gratis? Beneran?” Yess, betul sekali. Kerap kali, kita jumpai, Aplikasi yang baik pasti berbayar, atau ada konten premium, ada iklan, ada freemium (kalau mau tambah konten kudu bayar) dll. Walau belum tentu aplikasi-aplikasi ini bisa disebut baik, paling tidak ada jaminan, bahwa semuanya gratis. So…bagikan ke yang lain juga.
  5. Susah Mencari Aplikasi Katolik: Ditengah riuhnya dunia mobile, ternyata tidak mudah menemukan aplikasi Katolik berbahasa Indonesia. Maka kami memberanikan diri untuk mencoba mengadakannya.
  6. Berminat?: Pengembangan pelayanan di bidang mobile aplikasi, masih terbuka seluas samudera. Masih dibutuhkan banyak tangan, banyak pemikiran, banyak ide/gagasan, dari smua pihak yang punya keprihatinan sama. Apakah kamu mau gabung? Yuuuk…..
Ternyata, Gereja memiliki duta-duta yang luar biasa di dunia gadget. Adalah sangat disayangkan bila umat Katolik yang sudah memiliki perangkat-perangkat Mobile berbasis android tidak menggunakan aplikasi yang sangat bermanfaat ini. Semoga informasi ini bermanfaat. **Fidelis Harefa

Dalam rangka mengikuti tahibsan imamat ponakan saya di Budapest, Hongaria, saya berkesempatan untuk menyaksikan hidup keagamaan umat Katolik di Hongaria. Saya ingin mensharingkan satu pengalaman kecil ketika mengikuti perayaan Ekaristi di gereja Katolik Hongaria. Beberapa kali saya mengikuti perayaan Ekaristi bersama umat. Meskipun saya tidak mengerti bahasanya, namun saya bisa menghayati isi dan makna perayaannya. Satu hal yang bagi saya mengesankan adalah mereka “bersama berdoa dan juga berdoa bersama”.

Kesan pertama adalah mereka bersama berdoa. Semua orang yang hadir dalam gereja terlibat aktif dalam segala doa yang melibatkan umat (demikian jga dalam menyanyi). Seperti misalnya“Saya mengaku” yang diucapkan sebagai pernyataan tobat di awal misa, “Aku Percaya”, “Bapa Kami” dlsb. Mereka bersama berdoa dengan suara yang lantang. Tidak ada yang cuek atau ngobrol dengan teman atau asal buka mulut tanpa suara yang kedengaran. Mereka sungguh berpartisipasi aktif dalam setiap bagian perayaan. Mereka menghayati liturgi Ekaristi dalam arti yang sesungguhnya yakni sebagai perayaan atau tindakan umat. Ekaristi bukan hanya perayaan seorang imam melainkan perayaan seluruh umat. Umat adalah peraya Ekaristi. Karena itu partisipasi aktif umat adalah suatu keharusn. Umat tidak sekedar hadir dalam perayaan liturgi Ekaristi dan hanya menjadi pendengar atau penonton, bersikap acuh tak acuh. Yang penting, sudah memenuhi kewajiban hukum, setiap hari Minggu ke gereja. Tidak penting arti dan maknanya bagi hidup sehari-hari.

Kesan kedua adalah mereka berdoa bersama. Mereka mengucapkan doa secara perlahan dan bersama-sama, tidak saling mengejar atau berlomba siapa yang bisa lebih dahulu selesai. Mereka sepertinya mengikut semboyan bus kota, “Sesama bus kota jangan saling mendahului”. Dalam berdoa bersama terkesan mereka ingin menghayati makna setiap kata yang diucapkan. Kata-kata yang diucapkan tidak sekedar sebagai rangkaian bunyi tanpa makna, tetapi bunyi yang penuh makna untuk kehidupan.

Dengan “bersama berdoa dan berdoa bersama”, mereka menunjukkan kadar penghayatan imannya. Karena perayaan Ekaristi sesungguhnya adalah sebuah perayaan iman. Dalam perayaan Ekaristi kita merayakan misteri iman kita akan wafat dan kebangkitan Kristus. Kristus yang telah mengorbankan dan menyerahkan diri-Nya bagi kita yang kita sambut dalam Komuni kudus. Sehingga setiap kita kembali dari Gereja membawa Kristus dalam diri kita dan kita berada dalam Kristus. Hidup kita menjadi hidup Kristus dan hidup Kristus harus menjadi hidup kita juga.

Saya sharingkan pengalaman ini sebagai suatu inspirasi bagi kita agar kita pun dapat “bersama berdoa dan berdoa bersama” dan dengan demikian dapat merayakan Ekaristi kudus dengan penuh makna. Kita terlibat aktif dalam perayaan Ekaristi, tetapi juga aktif bersama-sama. Jangan sampai selama perayaan Ekaristi berlangsung ada yang sibuk ngobrol dengan teman atau main sms atau diam membisu, cuek, tidak peduli.

Saya pernah menyaksikan dari altar dua orang ibu yang sepanjang misa berada di depan pintu gerbang gereja, membelakangi altar dan asyik ngobrol. Samasekali tidak peduli dengan apa yang sedang berlangsung dalam gereja. Terlebih pada saat konsekrasi ketika Kristus sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur, mereka sedikit pun tidak bergeming untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap Kristus. Pemandangan seperti itu sungguh melukai rasa keagamaan saya. Saya harus tahan diri agar tidak sampai berdosa pada saat yang paling sacral seperti itu.

Tindakan seperti itu menyalahi maksud dan tujuan kita datang ke gereja. Kalau untuk ngobrol, main sms, orang tidak harus ke gereja. Di rumah pun hal itu dapat dilakukan. Kita datang ke gereja untuk memuji dan memuliakan Allah. Kalau begitu kita harus terlibat aktif. Selanjutnya keterlibatan kita juga harus dilakukan bersama-sama. Setiap kata yang diucapkan harus bisa dihayati maknanya. Dan itu hanya mungkin kalau diucapkan secara perlahan, tidak seperti orang yang sedang berlomba. Bagaimana kita hadir dalam perayaan Ekaristi akan sangat berpengaruh terhadap penghayatan iman kita dan sekaligus menujukkan kualitas iman kita. Semoga mutu iman kita ditingkatkan lewat keterlibatan kita secara aktif dalam perayaan Ekaristi.
** P. Alex Dato’ L., SVD

Gambar dari: commons.wikimedia.org
Kadang orang bertanya, “Kenapa di tengah meja altar ditaruh salib kecil, padahal sudah ada salib besar yang bergantung di dinding altar?” Jawaban sederhana yang biasa disampaikan, “salib di tengah meja altar itu untuk imam, supaya dalam merayakan Ekaristi seorang imam selalu berfokus pada salib Kristus. Sedangkan salib besar yang bergantung di dinding altar itu untuk umat.”  Namun sesungguhnya salib di tengah meja altar itu mempunyai makna teologis dan liturgis yang dalam.

Dalam pembahasan tentang “Perayaan Misteri Kristen” Katekismus Gereja Katolik mengajukan sebuah pertanyaan: “Apa itu liturgi?” dan jawabannya: Liturgi adalah perayaan misteri Kristus, dan secara khusus misteri kebangkitan-Nya. Liturgi juga dipandang sebagai pelaksanaan imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; di situ pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus yakni Kepala beserta para anggota-Nya. (no. 1069)

Dari definisi tersebut di atas, dapat kita mengerti bahwa Kristus Imam Agung Mahatinggi dan Misteri Paskah: Sengsara, wafat dan Kebangkitan-Nya adalah pusat dari tindakan liturgis Gereja. Nah, Liturgi harus menjadi perayaan yang menampakkan kebenaran teologis ini secara jelas. Dengan kata lain kebenaran teologis ini harus ditampakkan secara jelas dalam setiap perayaan liturgis dalam wujud tanda yang bisa dilihat orang guna mengarahkan tubuh, hati dan pikiran umat selama perayaan atau dengan kata lain salib menjadi kiblat imam dan umat selama perayaan ekaristi. Selama berabad-abad simbol yang dipilih oleh Gereja untuk mengarahkan hati dan tubuh selama liturgi adalah Yesus yang Tersalib atau salib Yesus Kristus.

Sebelum Konsili Vatikan II misa dirayakan oleh imam membelakangi umat. Pada masa itu di depan meja altar selalu diletakkan sebuah salib kecil dan di atasnya tergantung sebuah salib besar yang dapat dipandang oleh semua umat. Dengan demikian misteri paska: sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus tetap menjadi pusat perayaan ekaristi yang dihadirkan dalam tanda “salib”. Ke arah salib itu seluruh umat mengarahkan tubuh, hati dan pikirannya selama perayaan ekaristi. Dalam perkembangan selanjutnya salib digantungkan di atas dinding altar. Setelah Konsili Vatikan II terjadi perubahan. Imam dalam merayakan misa kudus tidak lagi membelakangi umat, tetapi menghadapi umat. Nah, supaya misteri paska tetap menjadi pusat atau sentrum dari perayaan liturgis, diletakkan salib kecil di tengah meja altar yang menjadi kiblat imam dan umat.

Teolog dan kardinal Joseph Ratzinger kemudian hari berulang kali menegaskan bahwa “salib harus dipertahankan posisinya di tengah, karena sangat tidak mungkin menggambarkan korban salib Kristus yang dihadirkan dalam perayaan ekaristi tanpa kehadiran sebuah salib di tengah altar. Setelah menjadi Paus, Benediktus XVI menyarankan: “Ketika menghadap ke “timur”,  tidak mungkin dilakukan bersama-sama. Karena itu salib dapat berperan sebagai interior “timur” dari iman. Salib harus berdiri di tengah altar dan menjadi titik fokus bersama baik bagi imam dan komunitas yang sedang berdoa”. Dengan pernyataan itu Sri Paus menegaskan kiblat Gereja Katolik dalam perayaan liturgis. Kiblat kita harus ke arah timur, karena dari timur terbit sang Cahaya sejati yakni Yesus Kristus. Kita tidak mungkin selalu berkiblat ke timur, karena itu kiblat kita dalam segala perayaan liturgi adalah Salib Kristus. Karena itu kapan dan di mana saja kita mengadakan perayaan liturgi salib harus selalu di tempatkan di tengah meja altar, kalau kita merayakan ekaristi atau kalau kita mengadakan doa lingkungan, salib harus ditempatkan di sebuah tempat yang memungkinkan setiap orang yang hadir dapat mengarahkan badan, hati dan pikiran kita. Singkat kata, “Salib” harus menjadi kiblat kita bersama dalam setiap tindakan liturgi. “Terpisah dari salib, tidak ada tangga lainnya yang olehnya kita dapat masuk ke surga”. ** P. Alex Dato’ SVD - Sumber: Salib Di Tengah Meja Altar, Kongregasi Liturgi Suci/Lux Veritatis.

Pertanyaan yang sangat menarik sekaligus menantang untuk zaman sekarang ini. Media KOMSOS Keuskupan Sibolga memberikan gambaran lebih jelas betapa pesatnya perkembangan teknologi digital yang saat ini akrab digunakan oleh banyak orang. Bersamaan dengan perkembangan ini, tantangan-tantangan baru juga muncul, terlebih tantangan dalam pembinaan iman agar menjadi dewasa.

Baru-baru ini, Paroki Katedral St. Maria Palangkaraya membuka kegiatan-kegiatan baik perayaan-perayaan maupun kegiatan yang bersifat rekreatif dalam rangka memperingati hari jadinya yang kelimapuluh. Ini bukanlah usia yang pendek. Bila diumpamakan dengan usia seorang manusia, usia ini sudah sangat dewasa. Oleh karena itu, beberapa kegiatan seperti sarasehan iman dan perayaan-perayaan liturgis yang telah dilaksanakan mengetengahkan tema “Dewasa dalam Iman”.

Kembali pada pertanyaan di atas, menurut saya perlu juga kita pikirkan tantangan baru yang sedang bergulir saat ini. Umat Katolik, usia dewasa hingga usia anak-anak yang masih berkecimpung di bangku Sekolah Dasar sudah mengenal Media Sosial. Media-media tersebut adalah twitter, facebook, myspace dan jejaring sosial lainnya. Pertukaran informasi akibat dari media-media ini boleh dikatakan terjadi hampir setiap detik, tidak lagi dalam hitungan jam. Hal ini didukung oleh perangkat-perangkat digital mobile yang sangat canggih. Adalah menjadi sebuah tugas baru Paroki Katedral St. Maria Palangkaraya, dalam usianya yang ke-50 ini memikirkan sebuah cara untuk dapat bertemu dengan umat yang menggunakan media-media sosial di dunia cyber.

Mendewasakan iman bukanlah hal yang gampang dicapai. Ini merupakan tugas panggilan Gereja. Dalam SAGKI 2005 dikatakan bahwa untuk dapat melaksanakan tugas panggilan ini, Gereja perlu senantiasa “menganalisis secara objectif” situasi yang khas bagi negeri sendiri, menyinarinya dengan terang Injil yang tidak dapat diubah, dan dengan Ajaran Sosial Gereja menggali asas-asas untuk refleksi, norma-norma untuk penilaian serta pedoman-pedoman untuk bertindak. Dengan kata lain, Gereja harus sanggup melihat realitas.

Salah satu realitas yang sedang bergulir saat ini adalah pertukaran informasi yang begitu cepat lewat "dunia maya" (cyber). Dunia informasi ini haruslah disentuh oleh Karya Pastoral Gereja. Gereja harus "meng-update" keahlian agar bisa masuk dalam realitas baru ini. Hanya dengan demikian Gereja dapat menyinarinya dengan terang Injil demi pendewasaan iman. Bila ada sekian ribu umat Katolik pengguna internet setiap hari, Gereja harus memiliki duta untuk menjadi gembala di sana. Adakah hal ini terpikirkan oleh Gereja masa kini? Meskipun secara umum dapat kita lihat bahwa Gereja telah memulai karyanya dalam bentuk peluncuran Media Informasi berupa website, forum diskusi di dunia Cyber, tetapi masih perlu ditingkatkan. Perlu dilakukan secara merata dan perlu dianggap sebagai salah satu yang penting. Gereja harus mempunyai duta sebagai Gembala untuk umat Katolik pengguna internet, meskipun disebut "dunia maya". **Fidelis Harefa

Pertanyaan:
Salib Kecil di altar itu, yang benar itu menghadap ke Pastor atau ke Umat?

Jawaban:
Gambar dari: katedraljakarta.or.id
Yang paling penting kita ketahui di sini adalah kegunaan salib dalam Gereja. Salib dengan korpus ditujukan agar setiap orang yang masuk dalam Gereja dapat mengarahkan pikiran pada Kristus yang tersalib. Salib adalah simbol saja, dan bukan hal yang utama. Ketika kita melihat salib, janganlah kita berhenti di situ, tetapi kita harus terarah pada peristiwa besar di mana Kristus berkorban demi keselamatan kita. Itulah hal yang paling utama berhubungan dengan salib.

Berhubungan dengan tata letak salib dalam gereja, terutama salib kecil seperti dipertanyakan di atas, KAIROS menjawab sebagai berikut:

Dulu, sebelum Konsili Vatikan II, Umat dan Imam menghadap ke arah yang sama, yakni menghadap ke Altar. Dengan kata lain, Imam membelakangi Umat. Oleh karenanya, pada masa itu, salib kecil menghadap ke Umat dan Imam. Setelah Konsili Vatikan II, Perayaan Ekaristi, Tata Perayaan dan Ritus Perayaan mengalami perubahan. Sakarang Imam menghadap Altar juga tetapi tidak membelakangi umat. Imam dan Umat saling berhadapan, dan Kristus menjadi Pusat Perayaan. Sebagai pemimpin perayaan, Imamlah yang lebih memerlukan salib agar pikirannya lebih terarah pada Kristus. Seperti dijelaskan dalam Pedoman Liturgi, salib kecil di altar menghadap ke imam dan bukan menghadap ke umat. Di beberapa tempat, salib kecil di altar sebenarnya tidak terlihat oleh umat. Salib tersebut ada yang sudah terukir di altar (tempat menaruh relikui), ada juga yang diletakkan dengan posisi tidur. Bila kedua jenis itu tidak ada, maka ada yang menggunakan salib dengan posisi berdiri yang dapat dilihat oleh umat tetapi salib tersebut tetap menghadap ke imam, bukan menghadap umat.

Apakah umat tidak perlu mengarahkan pikiran kepada Kristus juga? Dalam Gereja, umumnya sudah ada Salib Besar di dinding. Oleh karena itu, umat juga harus mengarahkan pikiran kepada Kristus. Namun perlu kita ketahui bahwa puncak dan inti Perayaan Ekaristi bukanlah pada salib, bukan pada mimbar, dan bukan pula di depan patung Bunda Maria yang telah dipasang lilinnya, melainkan di Altar Tuhan, dimana Kristus hadir secara nyata dalam bentuk roti dan anggur. Melalui imam, peristiwa agung itu dihadirkan kembali. Oleh karena itu, alasan mengapa salib itu lebih penting untuk imam, karena imam harus lebih terfokus pada Kristus yang dihadirkan kembali itu, agar umat juga bisa terarah kepada-Nya.

Bagaimana kalau Perayaan Ekaristi itu dilaksanakan di rumah umat, dan tidak ada salib besar di dinding. Salib Kecil menghadap kemana? Jawabannya tetap sama. Kalau dalam Perayaan Ekaristi, maka salib kecil di altar tetap menghadap ke Imam. Alasan yang sama seperti dituturkan di atas berlaku untuk ini, meskipun Perayaan Ekaristi dilaksanakan di rumah umat. Semoga hal ini dapat membantu dan menambah pengetahuan kita tentang iman. **Fidelis Harefa

Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh (Galatia 5:25)

Saya bersharing sedikit tentang buah-buah Roh Kudus. Kadang kita berpikir bahwa buah-buah Roh Kudus akan secara otomat dihasilkan oleh pengakuan kita sebagai orang beriman. Ilustrasi berikut ini, barangkali bisa memberikan sedikit gambaran tentang buah-buah Roh Kudus itu.

J. Stuart Holdenn  memberikan suatu perumpamaan yang indah tentang buah-buah Roh Kudus. Ia berkata, "Saya memiliki rumah yang dikelilingi oleh kebun. Dalam kebun itu saya meiliki pemikiran tentang alam sekitar manusia. Misalnya, saya mengenal tanah dan apa yang akan dihasilkan oleh benih, juga berbagai jenis kembang dan buah. Saya telah membaca buku-buku pertanian, dan adalah sesuatu yang mengagumkan untuk tahu bahwa kebun itu memberikan hasilnya. Tetapi perhatikan, bunga dan buah dihasilkan hanya dengan bekerja, dengan ketaatan kepada hukum-hukum alam. Ketika kebun menghasilkan keindahan dan kelimpahan hasil, maka hal tersebut hanya bisa terjadi dengan kerja sama yang cermat dengan alam.

Orang Kristen pun demikian. Kita memang memiliki pikiran Kristus dan kita tahu benar bagaimana seharusnya kehidupan Kristen itu. Tetapi ingat, buah-buah Roh kudus hanya dapat dihasilkan jika kita secara tulus bekerja sama dengan Allah dalam ketaatan dan kepatuhan yang utuh, dengan membiarkan Roh kudus-Nya mengontrol kita, baik tubuh, jiwa dan roh kita.

Sekarang telah jelas, bahwa sekalipun kita memiliki pikiran Allah yang kemudian membuat kita memiliki pelayanan yang luar biasa, serta tahu dan sangat paham kebenaran firman, semua itu tidak bisa membuat kita memiliki buah-buah Roh kudus. Karena hanya melalui ketaatan dan kepatuhan yang utuh kepada Roh Kudus dan Allahlah buah-buah Roh Kudus itu dapat kita hasilkan.

Jadi kesimpulannya, buah-buah Roh Kudus hanya dapat dihasilkan dari ketaatan dan kepatuhan yang sungguh-sungguh, bukan karena besar kecilnya pelayanan kita atau juga karena karunia-karunia yang kita miliki.  Allah lah yang menumbuhkan buah-buah kebenaranmu, yaitu buah-buah Roh Kudus. (1 Korintus 9:10b). ** Yakobus Dapa Toda, S.S.

Pertanyaan: 
Adakah sejarah atau sebab apa "Tanda Salib" itu bisa ada dan di pakai dalam Gereja Katolik? 

Jawaban:
Gambar dari: parokisalibsuci.org
Pertanyaan ini kelihatannya sederhana tetapi tidak mudah dijawab, sebab menyangkut sejarah. Alasan lain adalah banyak hal dari tradisi Gereja awal tidak tercatat dan tersimpan. Situasi Gereja yang dalam pengejaran menyebabkan banyak hal tidak terdokumentasikan dengan baik. Oleh karena itu, sejarah tentang tanda salib secara mendetail tidak dapat dituliskan dengan sempurna. Yang bisa dikatakan tentang tanda salib bahwa kebiasaan umat Katolik membuat tanda salib ini sudah berakar sejak lama. Berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, orang Kristen sudah menggunakan gerakan tanda salib sejak abad II, bahkan dari Alkitab Perjanjian Lama, dan juga Perjanjian Baru.

Beberapa kutipan berikut barangkali bisa memberikan pencerahan:

  1. Tertulianus (wafat 230 M), mengatakan dalam De Cor Mill, III: "In all our actions, when we come in or go out, when we dress,when we wash, at our meals, before resting to sleep,we make on our forehead the sign of the cross. These practices are not ommitted by a formal law of scripture, but tradition teaches them, custom confirms them, an faith observes them". Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita menandai dahi kita dengan tanda salib.
  2. Cyril dari Yerusalem (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36) mengajarkan, “Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat.”
  3. St. Ephrem dari Syria (373) mengajarkan, “Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar darin pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembik yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini.”
  4. St. Yohanes Damaskus (676-749) mengajarkan, “Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya.” [Ref]
Membuat tanda salib sebenarnya bukan hanya tradisi Gereja Katolik, tapi merupaka tradisi Kristen pada awalnya. Martin Luther (tokoh reformasi) sendiri sebetulnya tidak pernah bermaksud menghilangkan tradisi ini. Contohnya, dalam buku Katekismus Augsburg (dan Heidelberg) Martin Luther masih menganjurkan penggunaan tanda salib sebelum berdoa harian pada waktu pagi dan petang. Tetapi entah mengapa dalam terjemahan bahasa Indonesia, bagian ini hilang. 

Katekismus Gereja Katolik 2157.
Warga Kristen memulai harinya, doanya, dan perbuatannya dengan tandasalib: "Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin". Sebagai orang yang dibaptis ia mempersembahkan hari itu untuk kemuliaan Allah dan memohon rahmat Penebus, yang memungkinkan dia bertindak dalam Roh Kudus sebagai putera Bapa. Tanda salib menguatkan kita di dalam percobaan dan kesulitan.

Yang paling penting dari "membuat Tanda Salib" adalah memahami makna dan arti dari aksi itu. KGK 786. "Semua orang, yang dilahirkan kembali dalam Kristus, dijadikan raja oleh tanda salib, sementara urapan Roh Kudus mentahbiskan mereka menjadi imam. ..." 

Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu: 
  1. Kemanunggalan dari Allah Trinitas, 
  2. Salib menunjukkan keadilan Allah, yang menunjukkan betapa kejamnya akibat dosa kita, sehingga Allah sendiri yang menebusnya dengan wafat-Nya di salib itu (lih. Gal 3:13); 
  3. Salib menunjukkan kasih Allah yang terbesar, yaitu bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (Yoh 15:13) agar kita dapat diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16); 
  4. Salib yang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), dan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Bahkan Rasul Paulus sendiri bermegah dengan pewartaan salib Kristus (Gal 6:14), sehingga wajarlah jika kita sebagai pengikut Kristus membawa makna tanda salib ini kemanapun kita berada. [Ref].
Dalam perjalanan hidup sehari-hari, kesaksian banyak umat mengatakan bahwa membuat tanda salib merupakan doa yang sangat sempurna dan singkat bagi mereka yang oleh alasan tertentu tidak ada waktu untuk berdoa. Tentu saja hal ini tidak menjadi alasan untuk tidak memberikan waktu untuk berdoa. Namun sesulit-sulitnya menyempatkan waktu berdoa sepanjanga hari, membuat tanda salib menjadikan mereka tenang dan merasa berada "Dalam perlindungan Bapa, Putra dan Roh Kudus".

Fidelis Harefa - dari berbagai sumber.



1. Pengertian KATEKIS

Gambar dari: indonesia.ucanews.com
Katekis secara sederhana dapat dimengerti sebagai orang yang ber-katekese. Katekese sendiri, dalam anjuran apostolik Cathecesi Tradendae, Paus Yohanes Paulus II didefinisikan sebagai berikut:
Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT 28).

Apakah semua anggota Gereja dapat disebut katekis? Setiap anggota Gereja, karena pembaptisan mereka, mereka menjadi nabi, imam dan raja. Oleh sebab itu, adalah kewajiban seluruh anggota Gereja untuk mengajar iman katolik. Akan tetapi, tidak semua orang sanggup membina dalam ajaran iman Katolik. Karena itulah Gereja mengutus katekis-katekisnya. Para katekis itu seharusnya para imam (Bdk. Kitab Hukum Kanonik, Kanon 773). Akan tetapi, karena kekurangan imam, dan juga karena lingkup pewartaan yang terbatas (tidak dapat menyentuh hal-hal detail seluruh aspek kehidupan) maka dipilihlah para katekis dari lingkungan kaum awam:
Para pastor paroki, demi jabatannya harus mengusahakan pembinaan katekis orang-orang dewasa, kaum remaja dan anak-anak; untuk tujuan itu hendaknya ia mempergunakan bantuan tenaga para klerikus yang diperbantukan kepada paroki, tenaga para anggota tarekat hidup bakti dan serikat hidup kerasulan [...] serta tenaga orang beriman kristiani awam, terutama para katekis [...] (KHK 776)
Gereja membatasi bahwa yang disebut katekis adalah para awam, baik pria maupun wanita, yang diberi kursus agama atau apabila mungkin diusahakan agar mereka mengikuti pendidikan formal seperti Pendidikan Guru Agama, Sekolah Tinggi Katekatik, Institut Pastoral, dan sejenisnya. Demikian Kitab Hukum Kanonik (KHK) dianjurkan agar para Ordinaris Wilayah (Uskup) memiliki katekis-katekis yang dipersiapkan dengan baik dan yang dibina terus-menerus (Kanon 780).

2. Kedudukan Katekis dalam Gereja

Merujuk pada pengertian di atas, maka dapatlah ditentukan kedudukan katekis di dalam Gereja. Katekis, merupakan rekan kerja para hirarki dalam pelayanan yang berguna untuk membangun Gereja. Setiap kebijakan misioner para katekis harus berada di bawah kebijakan ordinaris wilayah (uskup) dan para pembantunya (para imam). Karena kekhasan fungsinya, kaum hirarki menjadi isimewa dalam pelayanan pewartaan. Akan tetapi, katekis bukan hanya sebagai pelengkap penyerta saja. Ia, dengan fungsinya yang khas pula (yakni bertugas di tengah tata dunia) menjadi teman seperjuangan yang patut diperhatikan nasehat dan tindakannya sejauh demi kepentingan Gereja.

Di tengah kaum awam sendiri, seorang katekis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan para awam lainnya. Pewartaan dalam tata dunia dilaksanakan secara bersama-sama. Akan tetapi, tidak semua hal dalam pewartaan itu dapat dilaksanakan oleh semua awam. Dalam tugas-tugas khusus, di sinilah katekis menjadi bentara Gereja.

3. Spiritualitas

Sejatinya, spiritualitas katekis adalah hidup dalam Roh Kudus. Roh Kudus membantu dan memperbarui katekis terus-menerus dalam identitas khusus, dalam panggilan dan tugas perutusannya. Dengan bantuan dan pembaruan dari Roh Kudus, seorang katekis mengalami suatu motivasi yang baru dan khusus, suatu panggilan kepada kesucian hidup.

Katekis adalah misionaris. Paus Yohanes Paulus II berkata, “Misionaris sejati adalah santo” (Redemptoris Missio 90 [RM 90]). Sama seperti para kudus yang mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidup mereka, katekis juga mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidupnya. Itu berarti bahwa pewartaan katekis bukan hanya melalui ucapan kata saja, melainkan juga melalui seluruh aspek kehidupannya. Dengan demikian seorang katekis bukan saja pewarta katekismus, tetapi dia sendiri adalah katekismus.

Bunda Maria adalah teladan iman. Sikap menyerah pada penyelenggaraan ilahi menuntunnya pada misteri penyelamatan. Sikap yang demikian lah yang merasuki semangat kerasulan seorang katekis, yakni membiarkan karya Allah terlaksana melalui dan dalam diri mereka.

Oleh sebab itu, spiritualitas katekis memiliki ciri-ciri: terbuka terhadap sabda Tuhan, terhadap Gereja dan dunia; mempunyai kehidupan yang autentik, bersemangat misioner, dan menaruh hormat dan devosi kepada Bunda Maria.

4. Tugas

Tugas khusus katekis adalah mengajarkan katekese. Tugas ini mencakup pendidikan kaum muda dan orang dewasa dalam hal iman, menyiapkan para calon dan keluarganya untuk menerima sakramen-sakramen inisiasi dalam Gereja, dan membantu memberikan retret dan pertemuan-pertemuan lainnya yang terkait dengan katekese (Bdk. RM 74).

Katekis bekerjasama dalam berbagai bentuk kerasulan dengan kaum hirarki. Bimbingan dan pengarahan dari para petugas Gereja ini akan diterima dengan senang hati oleh para katekis. Tugas mereka dalam hal ini antara lain: mengajar orang-orang bukan kristen; memberi katekese kepada para katekumen dan mereka yang sudah dibaptis; memimpin doa dalam kelompok, terutama pada liturgi dan hari Minggu ketika tidak ada imam; membantu orang sakit dan mempimpin upcara penguburan; memberi pelatihan kepada katekis lainnya di pusat-pusat khusus atau bimbingan katekis relawan dalam karya mereka; mengambil inisiatif-inisiatif pastoral dan mengorganisir tugas-tugas paroki; membantu orang miskin dan bekerja untuk penbangunan manusia dan keadilan.

5. Persiapan menjadi seorang katekis

Menjadi katekis tidaklah mudah, mengingat tugas yang dipercayakan kepada mereka sangat sukar. Oleh sebab itu, para katekis perlu dipersiapkan sedemikian rupa melalui pembinaan dan pendidikan yang tepat, sehingga menjadi pejuang-pejuang misi yang tangguh.
Beberapa hal patut diperhatikan berkenaan dengan hal itu:

  • Memupuk semangat bertanggung jawab, bersukacita di dalam tugas pelayanan yang diberikan kepadanya.
  • Memiliki motivasi yang baik dan tidak mencari kedudukan sebagai katekis hanya karena tidak tersedia pekerjaan lain yang lebih disukai. Kualitas yang harus dimiliki: iman yang terungkap dalam kesalehannya dan kehidupannya sehari-hari; cinta akan Gereja dan menjalin hubungan erat dengan para imam; cinta akan saudara-saudarinya dan bersedia memberi pelayanan dengan murah hati; memiliki pendidikan yang memadai; hormat akan umat; mempunyai kualitas manusiawi, moral, dan teknis yang diperlukan sebagai seorang katekis.


6. Penutup: sebuah refleksi

Akan jadi apakah Gereja apabila katekis melupakan arah dan tujuan panggilannya? Umat prihatin apabila ucapan dan tindakan katekis tidak sejalan. Seharusnya katekis pertama-tama bukan mengajar dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan di dalam hidupnya. Apabila ini dipahami sedemikian rupa, maka umat tidak akan melihat katekis yang duduk di warung kopi sambil bermain judi, alkoholik, dan sebagainya.

Para calon katekis di dalam pendidikan kelak harus mampu mengimplementasikan ilmu-ilmu dari diktat ke dalam kehidupannya. Menjaga hubungan kerjasama dengan otoritas hirarki akan jauh lebih baik menjadi dasar membangun Gereja daripada menjadikan para hirarki itu ‘saingan’. Katekis tidak akan mampu berkarya tanpa singgungan langsung dengan kebijakan pimpinan Gereja.

Kaum muda yang berkeinginan kuat menjadi seorang katekis hendaknya memupuk semangat iman sejak dini, sehingga memiliki kepekaan mewartakan imannya. Yakinlah, bila ada keinginan baik di dalam hati maka segala kekurangan akan tertutupi. Tidak semuanya sempurna, tetapi penting untuk terus berusaha sampai kepada kesempurnaan itu. **Tingang Tomun

Kita semua tahu bahwa iman mengandung tiga aspek/ranah yakni kognitif (pengetahuan/pemahaman), affektif (penghayatan) dan konatif-psikomotoris (perwujudan/pengamalan). Ketiga aspek iman ini sudah pernah dibahas dalam rubrik Suara Gembala ini. Pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita sekalian untuk menggali lebih dalam aspek kedua yakni affektif (penghayatan) dalam kaitan dengan upaya membangun rasa keagamaan (sensus religiosus) dalam diri anak.

Dalam diri seorang anak khususnya usia balita aspek yang memainkan peran paling penting adalah aspek affektif. Hal ini disebabkan karena aspek kognitifnya belum cukup berkembang. Seorang anak belajar mengenal sesuatu lewat perasaannya. Itu sebabnya kita menyaksikan perilaku anak yang selalu mencoba sesuatu dengan menggunakan mulutnya. Semua yang dijumpai, coba dimasukkan ke dalam mulut. Dengan mulutnya seorang anak belajar mengenal segala sesuatu lewat cita rasa dalam mulutnya. Seorang anak mengenal / mengeksplorasi segala sesuatu lewat perasaannya (ranah affektif).

Hal yang sama berlaku dalam iman. Seorang anak mengenal iman agama lewat perasaannya. Anak tidak atau belum memahami semua aktivitas keagaman yang dilakukannya, tetapi apa yang dilakukan anak, membekaskan perasaan tertentu khususnya rasa tenteram dan damai dalam dirinya. Dengan kata lain tindak keagamaan yang dilakukan terhadap anak atau oleh seorang anak, membangun rasa keagamaan (sensus religius) dalam dirinya. Aspek affektif sangat berperan pada usia anak dan karena itu ikut menentukan kepribadian (iman) seorang anak di kemudian hari. Sehingga ada sebuah pepatah yang mengatakan, “apa yang kita taburkan pada usia anak, akan dituai ketika dewasa”. Dalam artian apa yang kita tanamkan pada usia anak akan sangat berpengaruh terhadap kepribadiannya ketika dewasa nanti.

Kita menaburkan iman dalam ranah affektif atau perasaan seorang anak dan apa yang kita tanamkan dalam perasaan, akan tertanam dalam bawah sadarnya dan nanti secara otomatis tanpa disadari akan berpengaruh terhadap kepribadiannya. Karena itu pada usia anak kita tidak memberi pengetahuan tentang iman, tetapi membangun rasa keagamaan lewat pembiasaan aktivitas iman tertentu. Anak memang tidak memahami apa yang dilakukan terhadapnya atau dilakukannya, tetapi apa yang dilakukan pasti menyentuh perasaannya dan akan mengembangkan rasa keagamaan di dalam hati sang anak. Membuat tanda salib pada dahi anak, mengajak anak berdoa di hadapan patung bunda Maria atau Hati Kudus Yesus dan lain-lain aktivitas iman, kalau dibiasakan secara terus-menerus akan menanamkan rasa keagamaan pada diri anak. Rasa keagamaan itu akan menciptakan kedamaian dan ketenteraman dalam diri seorang anak dan tanpa disadari akan terus mendorong sang anak untuk mengulangnya demi terciptanya rasa tenteram dan damai di hatinya.

Sejauh mana dampak rasa kegamaan terhadap iman seseorang dapat kita saksikan dari sharing pengalaman iman orang yang pernah meninggalkan Gereja Katolik. Ada seorang ibu yang meninggalkan Gereja Katolik dan pindah ke agam lain karena mengikuti sang suami. Menurut pengakuannya, dia tidak pernah merasa tenang dan damai karena meninggalkan bunda Maria. Perasaan negatif itulah yang kemudian mendorong ibu itu dan suaminya untuk kembali ke Gereja Katolik. Masih banyak pengalaman orang Katolik yang berpindah agama dan tidak menemukan kebahagiaan, akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam Gereja Katolik. Pengalaman iman seperti itu membuktikan betapa rasa keagamaan punya makna dan peran yang amat penting terhadap iman seseorang. Kiranya hal ini kita maklumi bersama dan mendorong kita untuk mengembangkan rasa keagamaan itu dalam diri anak-anak kita lewat pembiasaan berbagai aktivitas iman untuk anak-anak kita. Apa yang kita taburkan dalam diri anak, akan dituai ketika ia dewasa. Semoga! P. Alex Dato’, SVD

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget