MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Falsafah Lima Jari

Perbedaan bukanlah sebuah musuh yang dapat mencerai-beraikan hidup kita. Hidup sebagai masyarakat, hidup sebagai orang beriman dan hidup dalam berkeluarga selalu diwarnai dengan aneka ragam perbedaan. Walaupun Anaxagoras dalam filosofi cintanya mengatakan "yang sama mengenal yang sama", tapi perbedaan itu bisa menjadi persamaan bila dipahami sebagai saling membutuhkan dan saling melengkapi. Mari kita lihat Falsafah Lima Jari berikut ini:

  1. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.
  2. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.
  3. Ada si jangkung jari tengah yang sombong , paling panjang dan suka menghasut jari telunjuk.
  4. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.
  5. Dan ada kelingking yang lemah dan penurut.

Dengan perbedaan positif dan negatif yang dimiliki masing-masing jari, mereka bersatu untuk mencapai 1 tujuan (saling melengkapi). Dan karena meraka hadir dengan caranya masing-masing, akhirnya mereka dapat meraih sesuatu dengan kuat dan kokoh.

Pernahkah kita bayangkan bila tangan kita hanya terdiri dari jempol semua? Atau mungkin hanya telunjuk semua. Tidak ada yang penurut, semua mau memerintah. Falsafah ini sederhana namun sangat berarti.

Kita terlahir dengan segala perbedaan yang kita miliki dengan tujuan untuk bersatu:

  • saling menyayangi
  • saling menolong
  • saling membantu
  • saling mengisi

Bukan untuk:

  • saling menuduh
  • menunjuk atau merusak.....

Semua perbedaan dari kita adalah keindahan yang terjadi agar kita rendah hati untuk menghargai orang lain. Tidak ada satupun pekerjaan yang dapat kita kerjakan sendiri. Mungkin kelebihan kita adalah kekurangan orag lain, dan sebaliknya kelebihan orang lain bisa saja menjadi kekurangan kita. Tidak ada yang lebih bodoh atau lebih pintar, bodoh atau pintar itu relatif sesuai dengan bidang/talenta yang patut kita syukuri masing-masing menuju impian kita.

Keseluruhan yg dimiliki menjadi sempurna. Bukan individualis yg sempurna. Orang pintar bisa gagal, orang hebat bisa jatuh, tetapi orang yang rendah hati dalam segala hal akan selalu mendapat kemuliaan. Itulah keyakinan kita semua bila kita menghargai perbedaan satu sama lain. Kita akan menjadi orang paling kaya karena kita merasa dilengkapi oleh satu sama lain. Kita menjadi orang bahagia karena kita selalu berkecukupan.

Dalam hidup beriman pun kita harus menjadi orang yang selalu bergembira. Meskipun kita memiliki pengalaman dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, kita tetap dipersatukan oleh Dia yang telah lahir dan bangkit untuk kita. Bila demikian, mengapa kita perlu bersedih? Kita patut bersyukur atas keragaman yang ada di antara kita, karena itu sangat memperkaya dan memperteguh iman kita. Semoga!**Yakobus Dapa Toda, S.S.

Posting Komentar

[blogger]

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget