MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

2015

Pendahuluan 
Simbol air dalam Kitab suci disadari kerap mengungkapakn arti yang cukup luas, tak terbatas, dan terkandung unsur misteri di dalamnya. Air dalam injil Yohanes juga mengandung beberapa pengertian. Injil Yohaes merupakan injil tanda-tanda dan kemulian tentang diri Yesus. Air sebagai suber hidup dalam perikop inijil Yohanes ini kiranya dapat membantu kita untuk memahami lebih dekat serta mendalam tentang siapa Yesus dan apa yang diwartakan-Nya.

Simbol Air dalam Tradisi Yahudi
Wilayan di Palestina relatif kekurang air. Padalah di daerah yang cukup tandus penyediaan air mutlak diperlukan untuk hidupnya tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Oleh karena itu orang Israel harus menggunakan berbagai usaha dan saran guna mencukupi kebutuhan akan air sepanjang tahun.

Palestina memiliki sedikit aliran sungai yang dapat digunakan untuk irigasi. Hujan hanya turun beberapa bulan di musim hujan. Oleh karena itu orang-orang Israel kuno harus bergantung seluruhnya pada air tanah baik dari sumber air atau dari sumur. Cara lain untuk persediaan air yang cukup adalah dengan menyimpan air hujan pada musim hujan pada musim hujan dalam sebuah bak atau kolam.[1]

Secara garis besar kegunaan air dapat dibagi dua, yaitu: kegunaan sekular dan kegunaan religius. Pada penggunan sekular biasanya dalam bidang irigasi. Air dipakai juga untuk keperluan masak, minum dan memberi minum pada ternak-ternak oleh para gembala.[2]

Air dalam bidang religius banyak memiliki fungsi simbolis. Untuk penyucian seremonial, biasanya air dipakai untuk membersihkan tubuh. Seorang imam misalnya dituntut untuk membersihkan (menyucikan) tubuhnya atau paling tidak menyucikan tangan dan kakinya sebelum menjalankan tugas religiusnya. Ritus penyucian pakaian atau permandian atau barang-barang lain bagi semua orang Israel telah ditentukan dalam hubungannya dalam berbagai upacara penyucian. Pada kasus-kasus tertentu selain menerima pembersihan air, seseorang harus disucikan secara ritual dengan cairan khusus yang merupakan percampuran air dan abu.[3]

Tradisi Judaisme meletakkan tekanan besar pada penycian ritual. Orang-orang Farisi pada zaman Yesus termasuk teliti sekali dalam ketaatan pada pelaksanaan upacara seperti itu. Dalam Yudaisme penggunaan seremonial air merupakan bagian yang penting dalam upacara pesta Pondok Daun. Seorang imam menimba air dari kolam Siloam memakai buyung emas. Air yang telah diambil itu kemudian dibawa ke Bait Allah dalam sebuah perarakan besar. Di atas alatar dalam Bait Allah setiap hari dalam oktaf pesta ini, sebagian air dicurahkan bersama dengan anggur di dihadapan orang banyak. Penggunaan air secara religius juga tampak dalam praktek pembabtisan yang bahkan sebelum zaman Yesus telah dilaksanakan bagi para proselyt.[4]

Simbol Air dalam Kitab Suci
Kitab Suci baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru banyak mencantumkan kehadiran dan peranan air. Di sini ada beberapa contoh makna simbol air dalam Kitap Suci. Yahwe menyebut diri-Nya sendiri sebagai "Sumber Air Hidup" (Yer 2:13; 17:13). Air yang Yesus janjikan adalah hidup abadi. Gambaran ini sejajar dengan yang tertera dalam Perjanjian Lama dimana rahmat Tuhan (MZ 1:13; 12:8; 23:2) dan khususnya rahmat zaman Mesianis (Yes 11:3.9; 32:2.20) sering dituliskan dengan gambaran air yang berlimpah yang memberikan hidup dan kesuburan. Dapat dibandingkan juga dengan kerinduan Daud akan Tuhan dengan gambaran tanah kering yang merindukan air (MZ 83:2; 143:6).[5]

Gambaran seseorang yang puas dengan air minumnya sendiri di gunakan sebagai peringatan melawan perzinahan (Ams 5:15). Air yang surut memberi gambaran tentang makhluk hidup yang akan mati dan segera dilupakan (Ayb 11:16; MZ 58:8.2). Air hujan yang turun dengan lebat di musim hujan mengubah sungai kering menjadi aliran sungai yang deras yang menyeret semua benda oleh derasnya arus yang pasti menghancurkan segala yang dilaluinya (Yer 47:2; Yes 8:7). Air banjir dilihat sebagai suatu gambaran sebuah bahaya yang mematikan dan akhir kemurkaan Allah.

Dalam Perjanjian Baru Yesus sendiri menyebut dirinya sebagai air hidup (Yoh 7:37; 4:10.13). Air digunakan mulai dari pembabtisan Yesus (Yoh 1:19-34) sampai pada kematian-Nya di kayu salib ketika air dan darah ke luar dari lambungnya (Yoh 19:28-37). Hidup kekal yang diberikan Allah dilambangkan dengan air (Why 7: 17; 21:6; 22:1.7). Air juga muncul untuk menerangkan gagasan pembasuhan babtisan untuk pengampunan dosa (Ef 5:26; Ibr 10:22). Masih banyak contoh-contoh yang memakai air yang memiliki macam arti dan makna dalam Kitab Suci.

Simbol Air dalam Injil Yohanes

Memaknai Awal yang Baru
Air sebagai simbol dilihat sebagai suatu awal baru. Tentang air membawa arti baru dapat dilihat dalam kisah kesaksian Yohanes Pembabtis. Memang narasi ini sangat erat kaitannya dalam peristiwa babtisan dan perkenalan identitas Yesus oleh Yohanes Pembabtis. Ia mengatakan banwa dirinya datang untuk mempersiapkan jalan bagi seseorang yang akan datang. Ia memperkenalkan orang yang akan datang itu sebagai Yesus. Dengan kedatangan Yesus menunjukkan kehendak Bapa yang mengutus Puteran-Nya sendiri yang dikasihi. Putera yang diutus ke dunia inilah yang oleh Yohanes Pemandi akan membawa seseuatu yang baru di dunia ini. Babtisan lewat air ini melalui Yohanes Pembabtis pada diri Yesus sebagai jalan bagi kedatangan Anak Domba Allah yang telah lama dinantikan (1:23), sebagai awal keselamatan baru.

Purifikasi
Purifikasi dapat diartikan sebagai penyucian. Air sebagai simbol peruifikasi muncul dalam kisah perkawinan di Kana (2:1-11). Yesus, para murid-Nya dan Ibu-Nya hadir dalam pesta pernikahan ini. Dalam peristiwa ini Yesus melakukan tanda pertama-Nya.   Perhatian ibu Yesus pada kebutuhan orang lain dipandan sebagai suatu kesempatan untuk terjadinya tanda kemuliaan diri Yesus.

Air dalam teks ini disebut sebagai air pembasuhan kaki. Upacara pembasuhan kaki bisa meupakan hal yang cukup penting untuk kehidupan bangsa Israel. Yesus mengubah tata cara lama yaitu: adat istiadat pembasuhan kaki menjadi kelimpahan karunia rahmat mesianis, yaitu anggur. Hal ini terjadi tanpa seorangpun tahu bagaimana proses terjadinya. Ada yang mengatakan bahwa peristiwa itu menyimbolkan penciptaan kembali iman Yahudiah melalui hidup dan pelayanan Yesus.[6] Ada yang menilai bahwa hal ini merupakan penyempurnaan dan transformasi Hukum Taurat oleh Injil [7] dan penggantian institusi-institusi Yahudiah oleh keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus. Namun demikian dalam narasi tersebut air secara erat di kaitkan dengan purifikasi.[8].

Dalam tradisi ritus Yahudi, air dalam tempayan biasanya digunakan dalam ritus pencucian kaki. Walaupun nantinya air menjadi anggur, fakta bahwa anggur berasal dari tempayan-tempayan pembasuhan kaki membawa interpertasi tersendiri tentang purifikasi. Air purifikasi dalam tempayan membantu para murid untuk memiliki iman dan melihat kemuliaan Yesus. Karya air membawa kontak dengan kemuliaa-Nya. Dan apa yang Yesus tunjukkan dalam pesta nikah itu menimbulkan kegembiraan perayaan dan mewartakan lebih dari sekedar purifikasi ritual.[9]

Panggilan untuk Beriman
Fungsi air untuk kesekian kalinya muncul dalam injil Yohanes melalui peristiwa dialog antara Yesus dan orang Farisi bernama Nikodemus (3:1-21). Pada kisah itu, arti air dan fungsinya memperoleh penekanan yang penting dalam dialog Nikodemus dan Yesus. Memang air hanya muncul sekali dalam cerita itu. Namun mempunyai pengaruh hampir dalam seluruh injil Yohanes. Yesus berkata "…jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" (3:5). Untuk selanjutnya dalam setiap perkataan-Nya mengenai air bisa dikatakan hampir tidak dimunculkan lagi. Nampaknya Yesus lebih sering memunculkan karya dan peran Roh Kudus sehubungan dengan symbol air. Dari kisah ini kita dengan sendirinya mulai melihat keterkaitan yang mendalam mengenai arti lahir kembali 'dengan' lahir dari air dan Roh Kudus.[10]

Dapat kita katakan bawa air dalam konteks bukan lagi menunjuk pada sebuah purifikasi, namun secara jelas menunjukkan dan berarti mempersiapkan orang memasuki suatu hubungan baru, yaitu panggilan untuk beriman kepada Kristus.[11]

Konteks Pertentangan Kristus dan Orang Yahudi dalam Injil Yohanes
Dalam konteks cerita pada bab tujuh ini, dilukiskan pertentangan Yesus dan orng Yahudi. Di sini dikisahkan bahwa Yesus tinggal di Yerusalem dalam waktu yang cukup lama. Saat tinggl di situ, ternyata Yesus harus berhadapan dengan situasi di mana cukup banyak  orang-orang di sekitar itu yang tidak menyukai-Nya. Pertentangan itu dapat saja dari orang-orang  yang dekat dengan Yesus (7:5), bahkan mungkin dari murid-murid-Nya sendiri (8:31-33). Tetapi bisa dikatakan sebagian besar dari orang-orang yang membenci adalah orang-orang Yahudi dan para penguasa setempat. Ketegangan ini nampak akan dialami Yesus saat menjelang pesta Pondok Daun dimana beberapa peguasa ingin menangkap Yesus (7:30). Di lain pihak ternyata ada juga orang-orang yang masih mau menerima kehadiran-Nya. Ada yang menerima karena mengagumi Yesus. Adapun alasan mereka yang mengaguminya karena melihat Ia yang selalu terlepas dari usaha licik para penguasa setempat dan orang-orang Yahudi yang ingin selalu menangkap Dia (7:55-56). Perbedaan pandangan tentang kehadiran Yesus ini kerap menimbulakan perpecahan di antara orang Yahudi sendiri.  Dua kali Yesus coba untuk dibunuh dengan dilempari batu oleh orang Yahudi. Pertama terjadi setelah Yesus mengatakan diri-Nya bawa Ia sudah ada sebelum Abraham (8:58-59), dan yang kedua akibat pernyataa-Nya mengenai kesatuan-Nya dengan Bapa (10:30-31). Akibat peryataan dan perbedaan pendapat di antara orang Yahudi mengenai diri Yesus bakal akan mencapai puncaknya jika Yesus hadir pada saat pesta Pondok Daun di Yerusalem.

Penulis dalam kesempatan ini berusaha memberi penilaian yang netral. Walau demikian disadari tidak semua orang memusuhi-Nya. Ada yang menganggap-Nya sebagai Mesial (7:41). Yang lain ada juga yang melihat-Nya sebagai orang baik utusah Allah (nabi) karena kagum atas mujizat-mujizat yang diperbuat Yesus dihadapan banyak orang. (9:32-33). Di sini penulis melukiskan bahwa ada sejumlah orang yang berpihak pada Yesus, namun sebagian lagi menolak Dia. Di sini yang dituntut penulis dari para pendengar atau pembaca yatiu bahwa setiap orang yang mau beriman pada Yerus harus bisa mengambil sebuah keputusan untuk mengikuti-Nya atau sebaliknya dengan tegas meninggalkan imannya kalau tidak percaya pada Yesus. Jadi penulis tidak ingin membiarkan diri pendengar ibarat seperti suam-suam kuku dalam beriman pada Kristus.[12]

Motive air muncul dalam dua kisah. Kisah pertama terjadi pada akhir pesta Pondok Daun, ketika Yesus berdiri dan megundang orang haus untuk datang pada-Nya dan minum (7:37). Dia menjadikan diri-Nya sebagai air hidup yang mengalir kepada mereka yang menerima kedatangan-Nya. Peristiwa ini mengundang reaksi dari para pengunjung yang hadir dalam pesta Pondak Daun. Sedangkan kisah air yang kedua yaitu pada saat Yesus ke luar dari Bait Allah. Banyak orang datang hendak melempari Dia dengan batu. Peristiwa ini disebabkan ketika seorang yang buta sejak lahirnya disembuhkan karena mengikuti perintah Yesus supaya mencelupkan dirinya dalam kolam Siloam. Peristiwa penyembuhan ini ditentang oleh orang Yahudi karena peristiwa itu terjadi pada hari Sabat.[13]

Untuk sementari dari kisah ini dapat disimpulkan, bahwa pertentangan selalu ada bagi setiap mereka yang mau mengikuti Yesus. Penolakan dapat saja terjadi oleh orang-orang  di sekitar, mauupun yang disebabkan oleh keraguan yang muncul dalam diri masing-masing pribadi. Namun penulis menekankan agar mengambil sikap dan tidak tinggal dalam keragu-raguan.

Uraian Eksegese tentang Yesus Air Hidup

(7: 37-39): Menjelang pesta Pondok Daun, seperti yang dikisahkan di atas, beberapa orang Yahudi mau melempari dan membunuh Yesus. Dia membuat kejengkelan orang-orang Yahudi tentang pernyataan-Nya bawa hanya mereka yang makan daging dan minum darah-Nya akan memperoleh hidup yang kekal (6:53). Dengan situasi demikian jelas membuat ruang gerak Yesus menjadi terbatas, yaitu hanya seputar daerah Galelia. Untuk daerah Yudea Yesus akan diancam.[14]

Walaupun dalam situasi teracam, Yesus memilih untuk tetap hadir dalam pesta Pondok Daun di Yerusalem. Kisa tentang air muncul saat Yesus pergi ke pesta tersebut. Yesus mengundang orang yang haus untuk datan pada-Nya dan minum (7:37). Bahkan Ia sendiri mengatakan  diri-Nya sebagai 'aliran sungat air hidup' (7:38). Peristiwa ini kembali mengundang penyataan Yesus tentang diri-Nya sebagai air hidup, setelah pertemuan-Nya dengan wanita Samaria. Dan dalam kesempatan ini tidak ada orang Yerusalem yang dapat memahami dan menerima Yesus sebagai air hidup. Disini reaksi yang mucul yaitu pertentangan mengenai diri-Nya semakin menjadi-jadi.[15]

Dalam narasi bertemu 'air sumber hidup ini' (7: 37-40) symbol air membantu seseorang dalam memahami diri Yesus dan karya pelayanan-Nya.[16] Air menghadirkan sesuatu yang harus diterima agar orang percaya pada-Nya. Air yang menunjukkan diri-Nya sebagai  warisan tradisi Yahusi dan sekaligus mengatasi tradisi tersebut berkat hubungan dan kesatuan diri-Nya yang erat dengan Allah. Yesus memiliki pengertian dan sekaligus mengatasi tradisi Yahudi dengan mengundang orang yang haus untuk datang pada-Nya pada penutupan pesta Pondok Daun itu. Sebab dalam perayaan itu sendiri memiliki makna yang berhubungan erat dengan air dan berkat.  Mereka yang berkunjung ke pesta ini tentu bukan hanya menginginkan air  guna menyegarkan bibir-bibir dari setiap orang yang datang karena kehausan. Tetapi dalam ari haus akan rahmat eskatologis yang memlampaui pemahaman dari sekedar reitus-ritus Yahudi tersebut. Di sini penulis menekankan agar orang mengerti maksut perkataan tentang realitas simbol air hidup itu. Dan diharpkan mereka tidak lagi ragu, melainkan percaya pada yesus.[17]

Pendengar disadarkan bahwa Yesus adalah mesias dan bukan seorang penghojat. Ia adalah mesias seperti yang dijanjikan dalam Kitab Suci yang bukan seorang dari Galilea, melainkan seorang dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem.[18]

Dari kisah ini air tidak hanya menceriterakan tentang air sebagai sarana untuk menyampaikan Roh Kudus. Tetapi dari kisah ini air bermakna sebagai Roh Kudus itu sendiri. Ini menjadi poin penting tersendiri bagi penulis untuk menjelaskan dengan suatu ari dan pengandaian yang lebih.(7:39). Yesus ssendiri memberikan janji-Nya kepada setiap orang yang percaya, bukan hanya pada mereka yang hadir pada peristiwa Pondok Daun. Air kembali menjangkau dan menyapa realitas kehidupan spriritual dan kehidupan moral masyarakat Yahudi.[19]

Setiap orang yang minum dari Yesus, yatiu orang-orang yang percaya pada-Nya akan menjadi 'sumber air hidup' . Kalau pada kisah mengenai wanita Samaria Yesus hanya katakan bahwa air yang Ia berikan akan menjadi mata air dalam dirinya yang terus menerus memancar (4:14). Dalam kisah ini air mempunyai makna yang lebih berkembang. Yesus memakai pengertian air dalam dunia pemikiran Yahudi, yaitu menjadi sebuah sungai baru yang mengalir dari hati orang yang taat;. Dengan demikian air hidup yang diterima oleh orang yang percaya menjadikan orang tersebut 'sebagai pemberi air hidup' pada yang lainnya.[20]

(7:40-44): Pada ayat ini ditunjukkan bahwa ada kelompok lain yang tidak memusuhi Yesus. Ada yang menganggap-Nya sebagai Mesial (7:41). Yang lain ada juga yang melihat-Nya sebagai orang baik utusah Allah (nabi). Di antara mereka yang percaya tentu karena kagum atas mujizat-mujizat yang diperbuat Yesus dihadapan banyak orang. (9:32-33).

Di sini penulis melukiskan bahwa ada sejumlah orang yang berpihak pada Yesus, namun sebagian lagi menolak Dia. Dari sini yang mau diambil hikmahnya ialah bahwa pada masing-masing pendengar atau pembaca yang mau beriman pada Yerus harus bisa mengambil sebuah keputusan untuk mengikuti-Nya atau sebaliknya dengan tegas meninggalkan imannya kalau tidak percaya pada Yesus. Jadi penulis tidak ingin membiarkan diri pendengar ibarat seperti suam-suam kuku dalam beriman pada Kristus.[21]

Penutup
Air merupakan sebuah elemen alam yang atasnya Yesus mengungkapkan kuasaan dan kemuliaan-Nya. Penyataan mengenai siapa dan bagaimana karya Bapa dalam diri-Nya nampak pada beberapa kisah seputar 'air'. Misalnya dalam peristiwa pembabtisan oleh Yohanes Pemandi, air yang menjadi anggur dalam peristiwa pesta di desa Kana, air  dalam peristiwa penyembuhan di kolam Soloam. Di sini air menampilkan seruan yang mengajak setiap orang memasuki hidup yang baru. Hidup yang baru yaitu hidup  ditunjukkan dalam pembaptisan dalam air dan Roh.

Dalam banyak hal kehadiran air menuntut keseriusan dalam membuat sebuah keputusan, dan kesungguhan orang untuk beriman. Dan setelah memperoleh pencurahan air, setiap pribadi dengan sendirinya siap diutus menjadi saksi bagi yang lain. Demikianlan bagi setiap mereka yang telah menerima babtisan air dan Roh berhak memperoleh kebangkitan jiwa dan badan seperti yang dialami Yesus sendiri.
[1] A. Drubbel, "Water" dalam Louis F. Hartman, Encyclopedie Dictionary of the Bible (New York-Toronto-London: McGrw-Hill Book Company Inc., 1963), hlm. 2563.
[2] Ibid
[3] Ibid
[4] Yang termasuk golongan Proselyt adalah orang-orang non Yahudi yang dibabtis dan kemudian menolak agama Yahudi. Brendon Mc Garth, "Proselyt" dalam Hartman, Encyclopedie…, hlm. 1942-1943.
[5] A. Drubbel, "Water"… hlm. 2563.
[6] R. Kysar, John's Story of Yesus (Philadelphia: Fortress, 1984. Hlm. 24.
[7] R.H. Lightfood, St. Hohnes Gospel (Oxfort: Clarendon Press, 1984, hlm. 24.
[8] P.F. Ellis, The Genius of John: A Compossition-Critical Comentary on the Fourth Gospel (Collegeville: Liturgical Press, 1984), hlm. 4.
[9] Larry Paul Jones, The Symbol of Water in the Gospel of Yohn (New York: Sheffield Academic Press, 1997), hlm. 14.
[10] Ibid Hal. 74.
[11] Ibid Hal. 75
[12] Ibid Hal. 147
[13] Ibid
[14] Ibid Hal. 148.
[15] Ibid Hal. 149.
[16] Ibid
[17] Brown, The Gospel…, hlm. 323.
[18] Jones, The Symbol…, hlm. 160.
[19] T. Fawcet, The Symbolic Language of Religion (London: SCM Press, 1970), hlm. 36.
[20] Jones, The Symbol…, hlm. 161.
[21] Ibid Hal. 150-155.

Ada banyak sekali pertanyaan tentang peran Bunda Maria dalam Gereja, terutama soal penggunaan istilah dalam menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan Doa Rosario. Karena terlalu banyak pendapat tentang peran Bunda Maria menurut bahasa dan pemahaman devosional, akhirnya ada satu hal yang menjadi tidak jelas, yakni apakah Bunda Maria menjadi perantara doa atau bukan?

Yesus, Pengantara Satu-satunya

Dalam Injil Yohanes 16: 23b-28 dikatakan: "Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Mintalah, maka kamu akan menerima supaya penuhlah sukacitamu".

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tidak ada perantara doa yang lain selain Yesus Kristus, Putra Bapa. Lalu, Bunda Maria berperan sebagai apa? Inilah yang menjadi pertanyaan kebanyakan umat Katolik setiap kali berdoa Rosario dan devosi lainnya kepada Bunda Maria.

Bunda Maria, karena peranannya begitu besar dalam sejarah keselamatan, maka ia juga menjadi bunda Pengantara kita. Melalui dan dalam Maria kita memperoleh keselamatan dari Allah dalam diri Yesus Kristus Putera Allah, yang menjadi manusia dan dilahirkan dari Perawan Maria.Peranannya dalam sejarah keselamatan begitu penting, oleh karena keterpilihannya menjadi seorang Co-Redemtriks (Rekan Penebusan). Ia dirahmati secara khusus oleh Allah di dalam panggilannya menjadi Bunda Allah.[ref1]

Bunda Pengantara maksudnya adalah Bunda dari Yesus Kristus, bukan bunda yang menjadi pengantara. Ini adalah hal penting yang harus diluruskan agar umat Katolik tidak bingung memilih pengantara doa karena begitu banyak pengantara dibahasakan. Lalu, bagaimana harus membahasakan doa-doa kepada Bunda Maria dan orang kudus lainnya?

Berdoa Bersama Bunda Maria, Beda Dengan Berdoa Dengan Perantaraan Bunda Maria

Dalam pertemuan Pendalaman Iman dan juga melalui katekese, telah disampaikan bahwa Bunda Maria adalah teman berdoa. Tujuan doa adalah Bapa, dan kita berdoa melalui Putra-Nya. Agar doa-doa kita berkenan kepada Bapa, yang melalui Putra, kita mengundang Bunda Maria berdoa bersama kita. Terasa bahwa ada keyakinan terkabulnya permintaan bila kita meminta bersama Ibu. Oleh karena itu, pada umumnya, devosi kepada Bunda Maria merupakan undangan kepada Bunda Maria untuk hadir dan berdoa bersama kita.

Ad Jesum per Mariam“, adalah adagium yang sering kita dengar. Artinya adalah "Menuju Yesus Melalui Bunda Maria". Pepatah ini lebih erat hubungannya dengan Yesus, Putra Bapa. Bukan "Menuju Bapa, melalui Bunda Maria. Pepatah ini berguna bagi pemahaman akan inti penghormatan kita kepada Bunda Maria karena penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak terlepas dari penghormatan kita kepada Yesus. Kita menuju Yesus melalui Bunda Maria.[ref2]

Artikel di Katolisita.Org yang berjudul Apakah Umat Katolik Harus Berdoa melalui Bunda Maria? menggambarkan kesadaran kita bahwa satu-satunya pengantara itu adalah Yesus Kristus. Namun, tidak berarti bahwa kita juga tidak menghargai Bunda Maria yang telah mengambil bagian dalam sejarah keselamatan. Kita tetap berdoa melalui Yesus tetapi bersama Bunda Maria, doa-doa kita (bisa lebih) didengarkan. Peristiwa di Kana, ketika penyelenggara pesta kekurangan anggur, menjadi contoh konkrit bagi kita. Saat yang punya pesta mengundang Yesus dan murid-muridnya, juga mengundang Bunda Maria. Dalam kutipan teks Kitab Suci (Yoh 2: 1-11), pemilik pesta tidak memohon kepada Yesus secara langsung. Tapi, karena berkenan mengundang Bunda Maria dalam pesta, akhirnya bersama Bunda Maria, kekhawatiran menjadi hilang. Ibu selalu sangat memahami kebutuhan anak-anaknya. Oleh karena itu, memposisikan Bunda Maria sebagai teman berdoa sangatlah tepat, karena melalui Bunda Maria, kita akan semakin dekat dengan Yesus.

Tulisan ini merupakan jawaban singkat terhadap pertanyaan-pertanyaan umat di Lingkungan tentang peran Bunda Maria. Tentu masih banyak tulisan lain yang bisa memperkaya kita. Namun, dalam tulisan ini, ditegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara kepada Bapa.

Hidup sebagai keluarga Allah dalam lingkup keluarga, Gereja dan masyarakat merupakan tema pendalaman iman masa adventus 2015 di Keuskupan Palangka Raya. Tema ini didalami dan direnungkan selama tiga kali pertemuan. Dari pertemuan pertama sampai dengan pertemuan ketiga, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Allah menginginkan bahwa yang menjadi ahli waris Abram adalah anak kandungnya, dan bukan hambanya. Demikian pula Allah menginginkan bahwa yang menjadi pewaris kerajaan surga adalah anak-anak Allah, bukan hamba-hambanya. Kita, umat beriman telah diangkat Allah menjadi anak-anaknya melalui pembaptisan. Oleh karena itu, semua yang telah dibaptis dalam persekutuan Gereja, telah diangkat dan diakui menjadi anak Allah sekaligus pewaris kerajaan Allah.
  2. Allah tidak menjanjikan kehidupan yang damai dan tenang bagi keturunan Abram. Allah mengatakan bahwa keturunan Abram akan mengalami penderitaan dan mereka akan diperbudak selama 40 tahun lamanya. Demikian pula, kita yang telah menjadi anak Allah, tidak akan luput dari segala cobaan dan tantangan. Kita akan menderita dan memikul salib seperti Putra-Nya sendiri.
  3. Karena kita hidup sebagai satu keluarga, yakni keluarga Allah, kita harus menjadikan cinta kasih sebagai nafas kebersamaan. Dalam I Korintus 13: 1-3 dikatakan: Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Artinya adalah bahwa hanya kasihlah yang mampu membuat rasa kekeluargaan itu bertahan. Tanpa kasih, kehidupan sebagai keluarga akan berantakan dan hancur.
  4. Apakah kita perlu khawatir dengan semua yang telah dinubuatkan? Bahwa kita akan mengalami penderitaan? Kita tidak perlu takut. Kebersatuan kita dengan Kristus, sebagai pokok anggur yang benar menjadikan kita tetap kuat. Dengan bersatu pada pokok anggur, kita sebagai ranting akan berbuah juga. Oleh karena itu, kendati Allah telah mengatakan bahwa sebagai anak Allah, kita akan mendapatkan cobaan, kita memiliki benteng yang kuat, yakni Yesus Kristus sebagai pokok anggur. Selama kita tetap bersatu dengan Dia, kita tidak takut bahaya apa pun.
Empat poin di atas menjadi kesimpulan singkat dari 3 pertemuan pendalaman iman adventus 2015. Kesimpulan ini merupakan ringkasan dari seluruh sharing umat beriman di lingkungan. Kiranya apa yang tidak terangkum di sini, menjadi tambahan perbendaharaan iman dan mencerdaskan iman kita semua.

Pada tanggal 23 Januari 2015 yang lalu, Paus Fransiskus menuliskan pesannya bertepatan dalam perayaan Hari Komunikasi Sedunia. Pesan Bapa Paus bertemakan "Keluarga Sebagai Tempat Istimewa Terjadinya Cinta Kasih. Pesan ini persisnya mengawali menjalani tahun 2015.

Di pengunjung tahun 2015, kita diingatkan kembali tentang pentingnya sebuah keluarga yang hidup dalam iman. Melalui pendalaman iman masa Advent dan sesuai dengan tema natal 2015, kita mendalami kembali makna dari sebuah keluarga kristiani. Berbicara tentang keluarga, kita dapat menarik inspirasi dari bagian Injil yang berhubungan kunjungan Maria kepada Elisabeth (Luk 1: 39-56). "Ketika Elizabeth mendengar salam Maria, bayi melompat dalam rahimnya, dan Elisabeth, penuh dengan Roh Kudus berseru dengan suara nyaring dan mengatakan, 'Sungguh diberkati engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu'." (ay. 41-42). Peristiwa ini lebih menunjukkan bagaimana kita berkomunikasi terkait dengan bahasa tubuh. Yang pertama menanggapi salam Maria adalah anak dalam rahim Elisabeth. Ini menegaskan kepada kita bahwa kita harus belajar, bahkan sebelum kita lahir pun, kita telah diberikan model atau pola dasar sebuah komunikasi. Rahim adalah rumah pertama kita sekaligus menjadi "sekolah" komunikasi, dimana kita mendengarkan, menanggapi kontak fisik di mana kita mulai membiasakan diri dengan dunia luar dalam lingkungan yang dilindungi, dengan suara meyakinkan dari detak jantung ibu. Pertemuan antara dua orang, (ibu dan anak) sehingga berhubungan erat sementara masih berbeda satu sama lain, pertemuan yang begitu penuh janji, dan menjadi pengalaman pertama komunikasi kita. Ini adalah pengalaman kita semua, karena masing-masing dari kita lahir dari seorang ibu.

Bahkan setelah lahir ke dalam dunia, kita pun masih dalam "rahim", yakni keluarga. Sebuah rahim terdiri dari berbagai orang yang saling terkait: keluarga adalah "di mana kita belajar untuk hidup dengan orang lain meskipun banyak perbedaan di antara kita" (Evangelii Gaudium, 66). Meskipun perbedaan jenis kelamin dan usia di antara mereka, anggota keluarga menerima satu sama lain karena ada ikatan di antara mereka. Semakin lebar kisaran dari hubungan ini, dan semakin besar perbedaan usia, semakin kaya pula kita merasakan keunikan lingkungan hidup kita. Dalam keluarga kita menyadari bahwa orang lain telah mendahului kita, mereka mempersiapkan bagi kita suatu kehidupan yang akan kita jalani ketika giliran kita tiba. Dalam keluarga, kita dapat memberi karena kita telah menerima. Lingkaran saleh ini adalah jantung dari kemampuan keluarga untuk berkomunikasi di antara para anggotanya dan dengan orang lain. Lebih umum, itu adalah model untuk semua komunikasi.

Doa adalah bentuk komunikasi yang paling mendasar. Ketika orang tua menidurkan anak-anak mereka yang baru lahir, mereka sering mempercayakan mereka kepada Tuhan, meminta supaya Tuhan melindungi mereka. Ketika anak-anak sedikit lebih tua, orang tua membantu mereka untuk membaca beberapa doa sederhana, mengajari mereka untuk berbuat kasih kepada sesama, seperti kakek-nenek, saudara, orang sakit yang menderita, dan semua mereka yang membutuhkan bantuan Allah. Semua ini kita pelajari dalam keluarga.

Dalam keluarga, kita belajar untuk merangkul dan mendukung satu sama lain, untuk membedakan arti dari ekspresi wajah dan saat hening, tertawa dan menangis bersama-sama dengan orang-orang yang tidak memilih satu lainnya belum begitu penting untuk satu sama lain. Hal ini sangat membantu kita untuk memahami arti komunikasi sebagai mengenali dan menciptakan kedekatan. Ketika kita mengurangi jarak dengan tumbuh lebih dekat dan menerima satu sama lain, kita mengalami rasa syukur dan sukacita.

Lebih daripada itu, keluarga adalah tempat kita sehari-hari mengalami kekurangan kita bersama orang lain, masalah besar dan kecil dalam kebersamaan dengan orang lain. Keluarga yang sempurna tidak ada. Kita tidak perlu takut ketidaksempurnaan, kelemahan atau bahkan konflik, melainkan belajar bagaimana untuk menangani mereka secara konstruktif. Keluarga, adalah tempat kita tetap mencintai satu sama lain meskipun diwarnai oleh kelemahan dan kedosaan kita, sehingga keluarga menjadi sekolah pengampunan. Pengampunan itu sendiri merupakan proses komunikasi. Ketika penyesalan diungkapkan dan diterima, menjadi mungkin untuk memulihkan dan membangun kembali komunikasi yang rusak. Seorang anak yang telah belajar di keluarga untuk mendengarkan orang lain, untuk berbicara dengan hormat dan untuk mengekspresikan pandangannya tanpa memandang rendah orang lain, akan menjadi kekuatan untuk dialog dan rekonsiliasi di masyarakat.

Keluarga, bukanlah subyek perdebatan atau medan untuk pertempuran ideologi. Sebaliknya, keluarga adalah sebuah lingkungan di mana kita belajar untuk berkomunikasi dalam pengalaman kedekatan. Keluarga adalah sebuah komunitas yang menyediakan bantuan, yang merayakan hidup dan berbuah. Setelah kita menyadari ini, kita sekali lagi akan dapat melihat bagaimana keluarga terus menjadi sumber daya manusia yang kaya, sebagai lawan dari masalah atau lembaga dalam krisis.

Inilah isi pesan Paus Fransiskus pada awal tahun 2015. Sekarang, dipengunjung tahun 2015, pesan ini dikristalkan kembali melalui Pendalaman Iman Masa Advent dan terlebih melalui tema perayaan Natal 2015. Keluarga menjadi fokus utama memulai segala sesuatu, bahkan sekarang ini yang kita sebut-sebut "revolusi mental" harus dimulai juga dari keluarga.

Keluarga adalah "Gereja Domestik" di mana setiap anggotanya dapat bertemu Tuhan dalam kebersamaan sebagai ayah, ibu, anak, suami, istri saudara dan saudari. Pesan ini pun dikristalkan dengan permenungan kita di mana kita tahu bahwa kita akan menjadi pewaris kerajaan Allah, karena kita sudah diangkat menjadi anak Allah dan bukan hamba. Bagaimana hak dan kewajiban sebagai anak, inilah yang harus kita alami dalam keluarga terlebih dahulu, sebagai sekolah pertama bagi kita.

-------------------------------------------
Bahan Bacaan:

  • Buku Pendalaman Iman Adven 2015 Keuskupan Palangka Raya;
  • MESSAGE OF HIS HOLINESS POPE FRANCIS FOR THE 49th WORLD COMMUNICATIONS DAY, 23 January 2015

Pendalaman Iman Masa ADVEN 2015 untuk pertemuan pertama mengetengahkan tema "Hidup Bersama Sebagai Keluarga Beriman Kepada Allah". Pada pertemuan pendalaman Iman Bulan Kitab Suci Nasional 2013 yang lalu, khususnya pada pertemuan pertama, Kairos telah menulis artikel juga dengan judul "BKSN 2013 (I): Keluarga yang Beriman". Perbedaan dari tema BKSN dengan tema PIMA (Pendalaman Iman Masa Advent) adalah terletak pada teks kitab suci yang dijadikan bahan permenungan. Namun, keduanya memilih tokoh yang sama yakni Abraham sebagai bapak segala orang beriman.

Oleh karena itu, selain mengulangi dan mengajak pembaca untuk melihat kembali tulisan pada BKSN 2013 seperti tersebut di atas, Kairos menambahkan beberapa point yang kiranya menjadi inti permenungan kita bersama dalam pertemuan pertama PIMA 2015 ini.

Pertemuan pertama akan menggunakan Kitab Kejadian 15: 1-21 sebagai bahan pendalaman. Dalam Kejadian 15:4 berbunyi: Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu."
Sesungguhnya, Allah menginginkan bahwa yang menjadi ahli waris Abraham adalah anak kandung Abraham sendiri, dan bukan hambanya.
Kalau Allah sendiri menginginkan bahwa yang menjadi pewaris Abraham adalah anak kandungnya, bagaimana dengan Kerajaan Allah? Siapa yang dikehendaki Allah menjadi pewaris kerajaan-Nya.
Sebagai umat beriman, kita patut bersyukur bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah dan akan menjadi pewaris kerajaan-Nya.

Inilah yang menjadi inti permenungan kita selama masa Advent ini. Kita telah menjadi keluarga Allah. Kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya. Anak-anak Allah harus berbuat dan hidup seturut kehendak Allah. Setia menjadi anak Allah, kita akan mencapai kehidupan sejati. Kehidupan sejati tidak bisa dicapai hanya dengan mengejar kemajuan material saja, tetapi juga harus diimbangi dengan kemajuan rohani.

Karenanya, masa Adven ini adalah masa khusus bagi kita untuk memupuk kembali kehidupan rohani kita sehingga kita layak disebut sebagai Anak Kandung Allah, dan bukan lagi sebagai hamba. Dengan demikian, kita akan layak ikut bersama-sama dalam perayaan iman, menyambut kedatangan Juruselamat kita, baik pada hari Natal nanti, maupun pada akhir zaman.


Pembaca yang budiman,
Memasuki masa ADVENT 2015, kita kembali melaksanakan pendalaman iman selama 3 kali pertemuan dengan tema: "Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah". Sebagai bentuk sharing demi perkembangan kita dalam iman, kami meminta waktu anda untuk mengisi questioner seputar tema pendalaman iman berikut ini:





Bagi anda yang tidak bisa mengakses di halaman ini, silahkan kunjungi link berikut untuk mengisi questioner di atas.
Questioner Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah

Pendahuluan

Surat ini ditulis oleh sesorang yang hidup sesudah Paulus. Surat ini tidak mempunyai judul. Surat ini hanya berjudul Surat kepada Orang Ibrani, yang diduga dikirim oleh penulis yang tinggal diluar Palestina, dan ditujukan kepada orang-orang kristen yang berlatarbelakang Yahudi di Korintus. Orang kristen Yahudi ini ini sedang mengalami kebingungan karena iman mereka sedang mengalami cobaan. Mereka sedang berada pada masa sulit, banyak menderita (10:32): dipenjara, dirampas harta miliknya, diganggu seperti halnya saudara-saudara mereka di gereja-gereja yang baru didirikan (bdk I Tes 2:14). Hal ini berlangsung cukup lama, dan semakin berat dan orang-orang itu menjadi lemah dan goyah (12:3-4, 12). Masih ditambah lagi, mereka mempunyai keragu-raguan mengenai iman dan praktek-praktek keagamaan (13:9; bdk. 3:6; 4:14; 10: 22-25).

Isi Pokok Teologi Imamat Kristus dalam Surat Ibrani

Orang kristen Yahudi ini ini sedang mengalami kebingungan karena iman mereka sedang mengalami cobaan. Mereka sedang berada pada masa sulit, banyak menderita (10:32): dipenjara, dirampas harta miliknya, diganggu seperti halnya saudara-saudara mereka di gereja-gereja yang baru didirikan (bdk I Tes 2:14). Hal ini berlangsung cukup lama, dan semakin berat dan orang-orang itu menjadi lemah dan goyah (12:3-4, 12). Masih ditambah lagi munculnya keraguan dalam komunitas mereka untuk melaksanakan praktek-praktek keagamaan (13:9; bdk. 3:6; 4:14; 10: 22-25). Untuk menyakinkan umat dengan menghadirkan Kristus sebagai satu-satunya pengantara keselamatan iman, mendasari munculnya beberapa tema teologis pada surat ini.

Kedudukan Nama Yesus 1:5 - 2:18

Bagian ini, pengarang Surat Ibrani membandingkan Kristus dengan para malaikat. Tema ini diletakan pada akhir bagian pembukaan (1:1-4), yakni kietka ia  menyatakan bahwa Putera lebih tinggi dari malaikat (1:4). Afirmasi ini kemudian dibicarakan secara meluas dalam 1:5-2:18. Dinyatakan di dalamnya superioritas Yesus sebagai mediator Sabda (1:5-14), otoritas Sabda keselamatan yang disampaikan melalui Putera (2:1-4). Perbandingan Yesus dengan malaikat (2:9) bukan menjadi alasan meragukan keilahiannya. Inkarnasi Yesus (2: 5-9) dan solidaritasnya dengan manusia (2:10-18) penting bagi tercapainya penebusan. Kristus adalah Putera Allah yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dan sebagai pengantara antara Allah dengan manusia (Ibr 1:1-6).

  • Putra Allah  bertahta sebagai Raja untuk selama-lamanya (1:5-14). Di sini pengarang mengingatkan manusia untuk mengakui dan menerima kekuasaan-Nya ( 2:1-4);
  • Putera Allah Bersatu dengan Manusia melalui sengsara-Nya ( 2:5-1Dengan menderita sengsara, Ia mau mengungkapkan solidaritas-Nya dengan manusia, dan melalui kemenangan-Nya atas maut, Ia mentransformasikan kefanaan kita guna masuk ke dalam kemuliaan-Nya yang abadi.

Imam Melkisedek (Yesus melebihi Musa) (3:1-4:13)


  • Yesus, Imam Besar yang patut kita imani, karena Ia adalah Putera Allah 3:1-6. Dalam bagian ini Kristus Imam Besar dibandingkan dengan Musa. Namun Musa dikenal sebagai pelayan Allah, sementara Yesus adalah Putera Allah yang diutus Bapa ke dunia. Maka kita harus mendengar dan beriman kepada-Nya, sebab iman kepada-Nya merupakan awal pengharapan kita untuk masuk ke dalam kediaman ilahi (3:1-6);
  • Yesus Kristus adalah Imam Besar yang berbelas kasih dan peduli kepada manusia 4:15 - 5:10. Sebagai imam yang peduli dan berbelaskasihan, Kristus melaksanakan tugas-Nya lewat sengsara. Ia mengurbankan diri-Nya bagi manusia. Ia berkurban bukan untuk diri-Nya sendiri sebab Ia tidak berdosa (4:15) melainkan untuk menebus dosa manusia. Untuk mencapai kepenuhan panggilan imamat-Nya, Yesus melewatinya dengan penderitaan dan ketaatkan penuh cinta kepada Bapa (9:12).

Yesus Imam Agung yang Sempurna (Berbelas Kasih dan Setia) (5:1-10:39)

Imam yang berbelaskasih dan penuh iman menjadi kata kunci pada bagian kedua ini (3:1-5:10). Penulis mengarahkan perhatian pada kepenuhan iman Yesus (3:1-6) dan mengajak pendengar untuk menyatakan iman seperti itu juga (3:6b-4:14). Selanjutnya memaparkan peneguhan dengan menarik perhatian pendengar pada pembicaraan seputar penderitaan Yesus sebagai Imam Agung yang penuh belaskasih dan setia melayani Allah (4:15-5:10).

Otoritas Kristus sebagai Imam Agung mempunyai dua syarat utama. Pertama: Yesus mempunyai kemampuan untuk berhubungan antara manusia dan Allah. Dia adalah Imam yang menjadi pengantara antara manusia dengan Allah. Dan hanya Dialah yang berkenan dihadapan Allah. Hubungan dengan Allah hanya terjamin bila imam menjaminnya berkenan kepada-Nya. Kedua: Yesus mempunyai solidaritas dan loyalitas kepada manusia. Imam Agung sebagai wakil manusia sungguh terlibat, solider terhadap suka dan duka manusia. Dengan keterlibatan seperti itu Yesus mampu menjadi perantara manusia dengan Allah Bapa. Syarat ini diwujudkan dalam hidup Yesus dengan menanggung seluruh beban kehidupan manusia, yaitu dengan menjadikan diri-Nya sendiri sebagai "hamba" manusia, sampai wafat di salib.

Imam besar Yesus Kristus bukan hanya setia tetapi juga berbelas kasih. Ia solider terhadap derita manusia, bahkan Ia berani menanggung segala kelemahan dan dosa manusia. "Sebab imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,  sebaliknya sama dengan kita. Ia juga dicobai, hanya tidak berbuat atau jatuh kedalam dosa (4:15).

Solidaritas-Nya dengan manusia merupakan basis bagi tugas imamat, yang harus menjadi pengantara manusia dengna Allah. Syarat ini merupakan syarat utama, dan syarat ini secara istimewa dipenuhi Yesus. Imam Besar dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusi dalam hubungan mereka degan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa" (5:1).

Ciri pertama (utama) sifat imamat baru ialah solidaritas dengan manusia (5:1-2). Tragedi kehiduapn manusa telah disandang secara lahir dan batin, itulah yang menjadikan-Nya sungguh-sungguh solider dengan manusia. "Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang dideritan-Nya" (5:8).

Ciri kedua bahwa imamat-Nya bukan karena prestasi pribadi dan prakarsa manusia, melainkan ditetapkan oleh Allah, dipanggil secara khusus oleh Allah (5:4). Ciri ini terpenuhi juga dalam diri Yesus. Ia tidak menganggap diri layak pada Allah, melainkan dimuliakan oleh ketaatan-Nya (5:5-6).

Ciri ketiga adalah imamat baru terlaksana dalam silih. Bukan korban dan persembahan lahiriah yang menjadi ciri silih imami, melainkan korban pemulih dosa, kejahatan diri, dan hati yang hancur karena menyadari kegagalan di hadirat Allah. Kalau kita kenakan  pada diri Yesus Kristus, maka akan tampak dalam sengsara dan wafat-Nya.

Ciri-ciri imamat Kristus 5:11 - 10:39

  • Imamat Mesianis Kristus (7:1-28). Imamat Melkisedek sebagai model imamat Kristus: Raja Adil, Raja Damai dan Imam Abadi. Imamat Kristus dibandingkan dengan imamat kaum Levi. Imamat kaum Levi berada di bawah imamat Kristus. Kepenuhan imamat Kristus adalah berkat pengurbanan-Nya, yang karena pengurbanan itu, Kristus diangkat ke hadapan Bapa. Di sinilah kepenuhan Imamat Kristus, yaitu berkat pengurbanan-Nya, Ia menjadi pengantara manusia kepada Allah (8:1-9:28).
  • Kristus adalah pokok Keselamatan (10:1-18). Berkat pengurbanan-Nya, Kristus mempersembahkan diri-Nya secara radikal untuk membersihkan manusia dari dosa. Melalui darah-Nya yang tertumpah di kayu salib dan kematian-Nya Kristus menyelamatkan manusia. Maka hanya melalui iman kepada Kristus manusia akan sampai kepada Allah. Oleh karena itu, manusia dipanggil untuk mendekati Allah hanya melalui dan dalam diri Kristus (10:19-39). 


Kesaksian Iman Orang Kristen: Kesetiaan kepada Krsistus melalui ketekunan

Di sini dibicarakan seputar kualitas kepenuhan iman dan ketekunan yang kukuh yang diperlukan oleh jemaat dalam mempertahankan  iman Kristianinya di tengah dunia. Karakter ini dinyatakan dalam akhir bagian ketiga: “Sebab kamu memerlukan ketekunan” (10:36). Dan “Tetapi kita adalah  orang-orang percaya” (10:39). Kata kunci ketekunan  dan kepenuhan iman  dikembangkan dalam bagian keempat ini. Bagian ini terbagi atas dua uni, 11:1-40, karakter iman, dan 12: 1-13 ketekunan. Iman merupakan faktor utama dalam aktivitas religius. Penulis mengambil contoh iman dari para leluhur Israel (Abel, Henokh, Abraham, Musa dan Bapa-Bapa bangsa (11:1-40). Ketekunan mereka itu diharapkan menjadi contoh yang baik untuk putera-putera Allah dalam mengimani Kristus. Kita harus bergerak menuju tujuan, yaitu Kristus sendiri.
Keteguhan itu harus terungkap di tengah penderitaan. Iman akan Yesus berarti ikut menderita bersama Kristus. Kita harus tetap teguh dalam iman akan Kristus sebab Kristus telah memberi contoh keteguhan itu (12:1-13)

Komunitas Orang Beriman (12:14-13:21).

Merupakan kesimpulan dari kotbah berkaitan dengan pelaksanaan pastoral. Penjelasan diintegralkan dengan pengajaran serta insturksi yang mendahului dan mengikutinya. Buah-buah dari kasih dan kesetiaan
Setiap orang harus berusaha untuk memperoleh Kerajaan Kebangkita (12:14-28), yaitu hidup damai, cinta kasih dan keadilan. Selain itu, perlunya sikap-sikap penuh pengurbanan dalam hidup sebagai orang kristen yang bertitik tolak dari pengurbanan dan penderitaan Kristus (13:7-19). Hubungan yang harus dipertahankan dengan memandang kenyataan surgawi  (12: 14-29).

Penutup  (13:20-21)

Penulis surat Ibrani menginterpretasikan status Yesus sebagai Putera Allah dengan istilah imamat. Dengan interpretasinya yang dinyatakan dalam bentuk kotbah yanb berisikan p enjelasan dan nasihat/ajakan, penulis ingin meneguhkan kepercayaan umat, berani menanggung konsekuensinya. Allah tetap menyelamatkan mereka melalui Yesus Kristus yang adalah Imam Agung. Yesus Putera Allah yang adalah Imam Agung itu dapat menelamat kan mereka sekarang dan di masa datang, dalam penderitaan yang mereka alami. Dengan demikian, penulis inin agar pendengar mendengarnya sampai pada kesimpulan untuk tetap percaya dan bertekun dalam iman.

Oleh: Fidelis Harefa
 
Pendahuluan

Lebih dari satu dekade lalu, para pemimpin ASEAN sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 mendatang. Ini dilakukan agar daya saing ASEAN meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing. Penanaman modal asing di wilayah ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.[1]


Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara harus siap menghadapi MEA yang akan dimulai pada akhir tahun ini. Tidak dapat mundur dari kesepakatan ini karena telah dibicarakan sejak tahun 2003 yang lalu. Presiden Jokowi, seperti dilansir oleh KOMPAS pada hari Senin, 27 April 2015, saat ditanya seusai jamuan makan malam di Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC), Malaysia, Minggu (26/4/2015) mengatakan bahwa yang paling penting dilakukan adalah mengidentifikasi produk-produk yang mempunyai nilai saing tinggi dengan produk sejenis dari negara lain.[2]

Mempunyai daya saing maksudnya adalah bisa memasuki pasar di negara lain. Pernyataan Presiden Jokowi ini menjadi bukti bahwa Indonesia tidak bisa tidak siap dalam menghadapi MEA. Bagaimana kesiapan itu disikapi? Implementasi ASEAN Economic Blueprint dalam mewujudkan MEA akan membawa konsekuensi baru bagi dunia usaha di Indonesia. Dalam persepektif kompetisi, konsekuensi dari terbukanya pasar akibat kebebasan peredaran barang dan jasa (free flow of goods and services) adalah munculnya persaingan baru, pasar bersangkutan baru dan potensi ketersentuhan pelaku usaha Indonesia dengan hukum persaingan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.[3]

Dari perspektif kompetisi itu pula, lahir sebuah kekhawatiran sekaligus menjadi keprihatinan kita bersama yakni akan adanya efek persaingan usaha terhadap kelestarian lingkungan hidup. Karena itu, penulis memilih sub-tema opini hukum ini: “Bagaimana kesiapan hukum di Indonesia dalam menyongsong era MEA, terutama dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup?

Indonesia: Perusak Hutan Tercepat di Dunia

Sebelum melihat peraturan-peraturan yang mengatur tentang pelestarian lingkungan hidup, penting untuk diketahui bahwa pada tahun 2008, Indonesia dianugerahi Certificate Guinnes World Records sebagai Perusak Hutan Tercepat di Dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).[4] Pemberian sertifikat ini berdasar pada data-data yang telah dihimpun oleh PBB. Tahun 2000 hingga 2005, rata-rata per hari 51 km2 hutan Indonesia hilang (rusak). Dengan menghitung rata-rata kerusakan hutan Indonesia, pada tahun 2007 PBB merilis Hutan Sumatera dan Hutan Kalimantan akan punah pada tahun 2022.

Merebaknya kasus-kasus kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam merupakan dampak dari akumulasi peristiwa dalam jangka waktu yang relatif lama. Perilaku individu maupun perusahaan yang tidak peduli terhadap alam merupakan salah satu penyebab terjadinya kerusakan lingkungan. Segala cara dapat dilakukan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya sesuai dengan prinsip ekonomi. Namun, efek dari mencari keuntungan yang sebesar-besarnya adalah terjadinya eksploitasi tenaga kerja, lingkungan, konsumen dan perampasan tanah rakyat.

Di negara kita, perampasan tanah rakyat oleh perusahan telah melahirkan banyak kasus kekerasan yang melibatkan masyarakat dengan aparat keamanan (TNI, POLRI) yang secara khusus disewa oleh pihak perusahan. Sebagai contoh, di Mesuji, Lampung telah terjadi protes oleh masyarakat atas “perampasan” tanah masyarakat yang melibatkan 2 perusahaan kelapa sawit: PT Sumber Wangi Alam dan PT Barat Selatan Makmur Investindo dan perusahaan negara yang bergerak dalam penanaman kayu, Silva Inhutani yang mengakibatkan 4 orang meninggal. Korban meninggal selama periode 2009-2011 sebanyak 30 orang. Di Bima, Nusa Tenggara Barat, 3 orang ditembak mati dan 9 luka parah ketika Polisi dan Militer menembak kerumunan masa yang berdemo secara damai memprotes perampasan tanah pertanian penduduk oleh perusahaan tambang Australia, PT Sumber Mineral Nusantara. Pada bulan yang sama di Sumbawa, sekitar 50 rumah yang dihuni oleh keluarga Pekasa (penduduk asli) dilaporkan telah dibakar oleh polisi dan militer, untuk mencegah mereka menghuni lahan yang diklaim oleh pemerintah sebagai hutan lindung dan sasaran eksplorasi dari perusahaan tambang emas Newmont Nusa Tenggara.[5]

Badan Pertanahan Nasional melaporkan bahwa pada tahun 2011 telah terjadi konflik tanah sebanyak 2.791, sementara Komisi Hak Asasi Manusia mengatakan sebanyak 738 konflik tanah yang telah melahirkan 4.502 pengaduan resmi berkaitan dengan perampasan hak warga. Sementara organisasi sipil memberikan detil yang lebih lengkap mengenai perluasan dan jenis konflik tanah di Indonesia dewasa ini. Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), salah satu LSM yang menangani isu-isu agraria mencatat telah terjadi konflik agraria sebanyak 163 di seluruh negeri selama tahun 2011, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 yang berjumlah 106 konflik. 22 orang telah terbunuh dalam konflik itu yang melibatkan sebanyak 70.000 kepala keluarga dengan sengketa 500.000 hektar tanah. Kebanyakan kasus, (60%) terjadi pada bidang sawit, 22% pada hutan, 21% pada proyek infrastruktur, 4% pada tambang. Jawa Timur adalah daerah yang paling tinggi (36 kasus) untuk kasus-kasus tersebut selama thn 2011, Sumatera Utara (25 kasus), Sulawesi Tenggara (15 kasus), Jawa Tengah (12 kasus), Jambi (11 kasus), Sumatera Selatan (9 kasus), Riau (1 kasus).[6]

Perusahaan kaya di Indonesia menjadi pemain yang mengontrol kepemilikan tanah secara massive untuk proyek-proyek: sawit, pabrik kertas, tambang, minyak dan gas, logging, wisata dan properti. Di sini, saya cukup menyebutkan beberapa konglomerat yang bermain dalam sektor tersebut diatas:

  1. PT Bakrie & Brothers Tbk memiliki 7 divisi, termasuk sawit, tambang, minyak dan gas yang memiliki lokasi tanah yang sangat luas: Bakrie Sumatra Plantaions memiliki area sawit seluas 92.000 hektar, ditambah 11. 438 hektar plasma, 18.921 hektar karet di Sumatera, Kalimantan Selatan dan Tengah (data 2011); Bumi Resources yang bergerak dalam sektor batu bara menguasai lahan seluas 187. 181 hektar di Kalimantan dan Sumatra, sementara konsesi tambang non batu bara seluas 289.919 hektar di Gorontalo, Sulawesi Tengah dan Selatan, Sumatra Utara dan Nusa Tenggara Timur. Group ini juga mendapat konsesi lahan di Mauritinia dan Liberia; 
  2. PT Energi Mega Persada Tbk bergerak dalam bidang minyak dan gas, memperoleh konsesi seluas 28.000 km2 (sebagaian di lepas pantai); Bakrieland Development yang bergerak dalam bidang properti adalah Developer terbesar di pusat bisnis Jakarta yang telah mengembangkan 53,5 hektar dan mengontrol 25% supply untuk apartement. Selain itu, juga memiliki investasi dekat ibu kota dan 15. 000 hektar di lokasi-lokasi utama di daerah Jakarta, Bogor, Lampung dan Balikpapan. 
  3. Wilmar, perusahaan yang berpusat di Singapura bergerak dalam bidang sawit menguasai tanah seluas 247.081 hektar, 74% diantaranya berlokasi di Indonesia (Sumatra, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah), 24% di Malaysia Timur dan 2% di Afrika. Dalam usaha untuk menguasai tanah, perusahaan ini juga mengembangkan plasma seluas 38.021 hektar di Indonesia. 
  4. PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) menguasai lahan perkebunan sawit seluas 266.856 di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Menurut Jakarta Globe, pada tahun 2012, perusahaan ini meraup laba bersih sebanyak $15.8 miliar, naik dari tahun 2011 yang hanya $12.8 miliar, menjadikannya sebagai peraih keuntungan terbesar di Indonesia. 
  5. Royal Golden Eagle Group, dimiliki oleh Sukanto Tanoto beregrak dalam bidang agrobisnis melalui anak perusahaan Asian Agri yang menguasai lahan seluas 100. 000 hektar di Sumatra dan 60.000 ha dalam skala lebih kecil; sementara melalui anak perusahaan APRIL yang bergerak dalam pengelohan kertas, pada thn 2010 berusaha untuk menguasai hutan seluas 1.45 juta. Hutan itu termasuk 19% hutan lindung dan 25% hutan rakyat yang melauinya masyarakt menggantungkan hidupnya. Dalam bidang energi menguasai 3 blok di Sumatra: Jambi Merang, Kisaran yang mencakup area seluas 2.178 km2 dan Perlak di Aceh. 
  6. Sinar Mas Group, dipimpin oleh Eka Tjipta Widjaya menguasai lahan untuk sawit seluas 138.959 ha. Selain itu, melalui Sinarmas Forestry yang bergerak dalam bidang pengolahan kertas beroperasi di Kalimantan dan Sumatra menguasai lahan seluas 1.4 juta ha. 
  7. Salim Group menguasai lahan sawit seluas 216.837 ha, 38.152 untuk karet, gula dan tanaman lainnya. Korindo Group menguasai 56.217 ha untuk sawit dan 97.850 ha.[7] 
Data-data di atas sangat jelas menunjukkan pelaku perusak hutan di tanah air kita adalah perusahaan pemilik modal skala besar (konglomerat). Mereka mampu melobi pemerintah pusat dan daerah untuk mengeluarkan izin penguasaan lahan yang luas serta mampu membayar aparat keamanan untuk melindungi kepentingan mereka. Sebaliknya, mereka sering mempecundangi kearifan lokal masyarakat dengan mengkambinghitamkan masyarakat sebagai perusak lingkungan hidup.

Kesiapan Hukum di Indonesia

Berdasarkan data di atas, persaingan bisnis lintas nasional saja telah menimbulkan ribuan hektar lingkungan hidup rusak. Bagaiman bila persaingan itu semakin luas mencakup lintas internasional? Adakah aturan-aturan yang dapat diandalkan untuk mengatur persaingan sehat dan tidak beresiko pada lingkungan hidup di Indonesia?

Kekhawatiran ini mengajak kita semua untuk melihat bagaimana kesiapan hukum di Indonesia dalam mengatur upaya-upaya mempertahankan kelestarian lingkungan menyongsong era MEA. Produk hukum Indonesia untuk perlindungan lingkungan hidup belum bisa diandalkan. Bahkan, boleh dikatakan produk hukum yang ada masih sangat terbuka memberi peluang bagi konglomerat untuk terus-menerus melakukan perusakan lingkungan.

Ada beberapa undang-undang dan peraturan yang mengatur tentang kawasan hutan dan lingkungan hidup. Undang-Undang dan peraturan yang ada itu sering membingungkan kita semua. Sering terjadi, untuk mengatur satu objek, terdapat banyak tangan dan banyak pedoman. Adanya banyak peraturan, tersedia banyak pula celah yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan golongan, kelompok dan pribadi di atas kepentingan umum.

Dalam konteks melestarikan lingkungan hidup, berikut ini saya sebutkan beberapa Undang-Undang dan Peraturan yang mengaturnya: 

  • Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan; 
  • Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; 
  • Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup; 
  • Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan;
  • Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan; 
  • Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional; 
  • Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2012 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan; 
  • Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang; 
  • Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2012 tentang Penggunaan Kawasan Hutan; 
  • Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2013 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut; 
  • Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.33/Menhut-II/2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kehutanan; 
  • Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.49/MenhutII/2011 tentang Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) Tahun 2011 – 2030; 
  • Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.19/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Penetapan Peta Indikatif Arahan Pemanfaatan Hutan Pada Kawasan Hutan Produksi Yang Tidak Dibebani Izin Untuk Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu. 
Dari beberapa peraturan yang mengatur tentang kehutanan dan lingkungan hidup, terdapat banyak sekali pasal-pasal yang bertentangan di antara satu sama lain. Contoh: PP No. 60 Tahun 2012 dan PP No. 61 Tahun 2012 bertentangan dengan undang-undang dan peraturan lainnya sebagai berikut:

Klausul tukar menukar dan pinjam pakai kawasan hutan melanggar UUD 1945;

  • Bertentangan dengan UU No. 2006 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; 
  • Bertentangan dengan UU No. 19 Tahun 2004 tentang Kehutanan; 
  • Bertentangan dengan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara; 
  • Bertentangan dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2013 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. 
PP No. 60 Tahun 2012 dan PP No. 61 Tahun 2012 memberikan kepastian hukum bagi “pemegang izin” untuk menguasai lahan hutan dan mengolahnya sesuai peruntukan yang telah di atur, tetap menimbulkan kerugian bagi masyarakat dalam segi kelestarian lingkungan hidup.[8]

Ketidaksesuaian di atas baru ditelisik dari dua Peraturan Pemerintah saja, dan sudah tidak sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Artinya, untuk mewujudkan cita-cita masyarakat Indonesia yang adil dan makmur menuju era MEA itu sudah jauh dari harapan. Rakyat Indonesia akan lebih banyak menjadi penonton dalam panggung perekonomian yang jenis usahanya mengeksploitasi sumber daya alam. Dua Peraturan Pemerintah di atas memberi kesempatan kepada pengusaha konglomerat yang selama ini merampas tanah rakyat melanjutkan kegiataanya dalam merusak hutan dan lingkungan. Akan semakin bertambah dengan munculnya pelaku usaha baru yang didukung oleh penanam modal asing setelah MEA berlangsung.

Selain dua Peraturan Pemerintah di atas, terdapat banyak juga Peraturan Daerah yang isinya mengandung multi tafsir. Di satu sisi, ada pengharusan untuk memiliki izin, di sisi lain diberikan kesempatan mengurus izin dengan gampang bagi mereka yang memiliki banyak uang. Resikonya, masyarakat yang tidak memiliki izin sesuai dengan aturan, tidak berani mengolah lahan hutan untuk kebutuhannya sendiri. Karena perusahaan besar memiliki keuangan yang cukup untuk pengurusan izin, maka merekalah yang mendapat kesempatan untuk memanfaatkan lahan hutan.

Menyongsong era MEA, kiranya Pemerintah dan DPR perlu melakukan revisi atas Undang-Undang Kehutanan sekaligus perlu melakukan sinkronisasi peraturan di bidang kehutanan dengan bidang lainnya, seperti pertanahan dan perkebunan. Upaya ini tidak boleh menunggu lama karena era MEA sudah di depan mata. Meskipun sebenarnya sudah sangat terlambat untuk meninjau kembali peraturan perundang-undangan kita, namun tetap lebih baik melakukannya sekarang daripada tidak pernah dilakukan sama sekali. Kesiapan hukum yang belum bisa diandalkan seperti tersirat dalam opini di atas harus menjadi upaya prioritas menuju MEA agar Indonesia tidak mengalami kehilangan kelestarian lingkungan yang makin parah.


[1] http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec, (diakses 25 Oktober 2015, pkl. 09.00 WIB
[2] http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/04/27/104324426/Presiden.Jokowi.Jangan.Takut.dengan.MEA, (diakses 25 Oktober 2015, pkl. 09.30 WIB
[3] Shoffwan All Banna Coiruzzad, Sedia Payung Sebelum Hujan: Perdagangan Bebas Dampak Bagi Para Pekerja dan Bagaimana Mengahadapinya, dalam Ariawan Gunadi dan Serian Wijatno, Perdagangan Bebas dalam Persepektif Hukum Perdagangan Internasional, Jakarta: PT. Grasindo, 2014, hlm. 175.
[4] Yakobus Yulianto, “Memerdekakan Bumi Nusantara Dari Eksploitasi Sumber Daya Alam“, Jurnal Bhumiksara, Tahun 3 No. 3, Edisi Agustus 2013, Hal. 6.
[5] Pastor Dr. Iketut Adihardana, MSF, Hutan Dibabat, Masyarakat Melarat, Masa Depan Gelap, Jurnal Bhumiksara, Tahun 3 No. 3, Edisi Agustus 2013, Hal. 13.
[6] Ibid. Hal. 14.
[7] Data diambil dari The Struggle for land, DTE Special Edition Newsletter, No. 93-94, December 2012, hal. 19-20.
[8] Majelis Eksaminasi, Public Review Terhadap Peraturan Pemerintah Tentang Kawasan Hutan, Indonesian Corruption Watch, Jakarta 2013, Hal. 18.

Sore ini terasa lain topiknya dari sebelum-sebelumnya karena diskusi dipenuhi dengan canda dan tawa atas humor-humor yang menyegarkan. Topik diskusi kali ini adalah "money politic".

Ilustrasi dari diposkan.com

Saat ini politik kita memang telah rusak. "Money Politic" atau politik uang yang telah diatur dalam undang-undang itu sulit dipahami batas-batasnya. Uang memang digunakan untuk biaya kampanye. Tanpa uang, bagaimana kampanye bisa berjalan. Massa yang diundang untuk menghadiri kampanye sangat wajar bila mendapatkan uang ganti biaya transportasi mereka menuju tempat kampanye. Jadi, tidak bisa serta merta dikatakan bahwa itu politik uang. Politik uang akan lebih tepat digunakan bila pada masa tenang, di mana tidak ada lagi kampanye, para tim sukses atau para calon kandidat membagi-bagikan uang kepada masyarakat.

Saat ini, politik uang sangat mudah direkayasa. Para tim sukses atau para calon kandidat tidak memberikan uang lagi. Mereka memberikan beras, iwak karing (ikan kering), minyak goreng dan kebutuhan lainnya dalam bentuk barang. Akhirnya, pasal tentang politik uang itu tidak bisa dikenakan untuk mereka, kecuali diubah bunyi pasal itu dengan tambahan-tambahan "POLITIK IWAK KARING" atau sejenisnya.

Diskusi di atas menunjukkan bahwa begitu mudahnya kita mempelesetkan pasal-pasal undang-undang kita sehingga menjadikan kita tidak terjerat hukum saat melakukan sesuatu yang sesungguhnya telah bertentangan dengan substansi undang-undang itu sendiri. Banyak pasal undang-undang kita yang masih bisa ditafsirkan (multi tafsir) sehingga terdapat banyak sekali celah yang dapat dimanfaatkan.

***

Keberhasilan menerapkan dan menjalankan undang-undang yang sudah ada tergantung pada sistem hukum. Bila berbicara tentang sistem hukum, kita akan langsung merujuk pada sistem hukum menurut L.M. Friedman. Beliau mengemukakan bahwa efektif dan berhasil tidaknya penegakan hukum tergantung tiga unsur sistem hukum, yakni struktur hukum (struktur of law), substansi hukum (substance of the law) dan budaya hukum (legal culture). Struktur hukum menyangkut aparat penegak hukum, substansi hukum meliputi perangkat perundang-undangan dan budaya hukum merupakan hukum yang hidup (living law) yang dianut dalam suatu masyarakat.

Budaya masyarakat menjadi salah satu unsur penting dalam sebuah sistem hukum. Bila melihat fenomena yang diungkapkan dalam diskusi singkat di atas, terlihat dengan jelas bahwa masyarakat kita sudah terbiasa mengharapkan "hadiah", pemberian berupa uang atau sejenisnya yang sifatnya gratis dan tidak dapat digolongkan dalam kategori "honor" atau "upah" dari suatu pekerjaan. Bila sedikit kasar kita menggambarkan, mentalitas "sogok-menyogok" yang ada dalam masyarakat kita menjadi salah satu unsur yang menghambat terlaksananya hukum yang telah ditetapkan. ** Fidel Harefa.


Hukum adalah peraturan berupa norma dan sanksi yang dibuat dengan tujuan untuk mengatur tingkah laku manusia, menjaga ketertiban, keadilan, mencegah terjadinya kekacauan. Hukum dalam pengertian ini ditemukan dalam akar pemikiran hukum alam Aristoteles dan Thomas Aquinas. Hukum, pada konsepsi ini, harus berusaha untuk menanamkan dan melakukan kebiasaan yang baik, dan harus mendukung lingkungan sosial yang akan mendorong warga untuk mengejar tujuan yang layak, dan untuk menjalani kehidupan yang berharga. Menurut Thomas Aquinas, adalah hukum yang tidak bertentangan dengan kebebasan dan cinta kemanusiaan. Hukum yang benar memungkinkan terselenggaranya kebebasan dan cinta, sebab kebebasan tidak mungkin terjadi jika tanpa cinta pada sesama (makna kebaikan). Cinta kepada sesama juga tidak akan mungkin terlaksana jika tanpa keadilan, dan keadilan tidak mungkin terselenggara tanpa keberlakuan hukum yang legitim. Jika hukum disusun demi kebaikan umum, maka peraturan macam apa saja harus juga diarahkan demi kebaikan umum.

Dari pengertian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa sesungguhnya hukum dibuat bukan untuk semata-mata memperjuangkan hak individu, tetapi untuk mewujudkan kebaikan bersama (bonum commune). Dalam prakteknya, hukum sering dipermainkan. Ada beberapa argumen praktis seseorang melawan hukum. Inilah yang menjadi topik dari tulisan ini.

1. Hukum dan Moralitas

Moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradab. Moral juga berarti ajaran yang baik dan buruk tentang perbuatan dan kelakuan (akhlak). Moral menggiring pemikiran manusia pada tatanan nilai yang ada. Oleh karenanya, bila berbicara moral, manusia akan dibawa pada pemikiran bahwa ada tatanan nilai yang harus diperhatikan. Tatanan nilai ini menjadi pertimbangan-pertimbangan khusus dalam melaksanakan hukum. Namun demikian, sering juga diselewengkan karena terjadi kesalahan dalam penetapan nilai prioritas yang harus diperjuangkan. Keselahan dalam penetapan nilai prioritas ini, terutama bila dihubungkan dengan kebaikan bersama seperti disebutkan pada tujuan hukum di atas membuat sesorang berani untuk mengabaikan hukum.

2. Kebebasan

Kebebasan cenderung mengarah pada hak individualis. Bahkan juga akan berbicara seputar moralitas individu. Pertimbangan kadang-kadang mungkin menyarankan kebijaksanaan menahan diri dalam mengejar tujuan-tujuan pribadi. Manusia sering membiarkan bebas untuk memanjakan selera bejat atau tidak memenuhi standar lebih yang dapat diterima. Kebebasan untuk terlibat dalam perwakilan, dan kemudian mempertanyakan legitimasi keprihatinan negara dengan moralitas individu.

Dalam konteks kebebasan, kita lihat sedikit pemikiran Locke tentang keadaan alamiah. Menurut Locke, keadaan alamiah sebuah masyarakat manusia adalah situasi harmonis, di mana semua manusia memiliki kebebasan dan kesamaan hak yang sama. Dalam keadaan ini, setiap manusia bebas menentukan dirinya dan menggunakan apa yang dimilikinya tanpa bergantung kepada kehendak orang lain. Meskipun masing-masing orang bebas terhadap sesamanya, namun tidak terjadi kekacauan karena masing-masing orang hidup berdasarkan ketentuan hukum kodrat yang diberikan oleh Tuhan. Yang dimaksud hukum kodrat dari Tuhan menurut Locke adalah larangan untuk merusak dan memusnahkan kehidupan, kebebasan, dan harta milik orang lain. Dengan demikian, Locke menyebut ada hak-hak dasariah yang terikat di dalam kodrat setiap manusia dan merupakan pemberian Allah. Konsep ini serupa dengan konsep Hak Asasi Manusia (HAM) di dalam masyarakat modern.

Pandangan di atas sering disalah-artikan. Setiap orang dalam melaksanakan kebebasannya, justru membunuh kebebasan itu sendiri. Pengakuan terhadap hukum positif tidak ada. Hukum satu-satunya yang diakui adalah hukum kodrat yang berasal dari Tuhan. Kemudian, dalam keterbatasannya, manusia mulai merumuskan poin-poin penting dari hukum Tuhan tersebut. Secara subjektif mulai menafsirkannya demi keselamatan dirinya. Bahkan, zaman ini, ada individu yang berani mengakui bahwa pernah berdialog dengan Tuhan sehingga ukuran kebenaran terletak pada dirinya.

3. Generalisasi Tergesa-gesa

Dalam sebuah negara hukum, kehadiran hukum hanya dapat dikenali bila ada pelanggaran. Pelanggaran merupakan penguji bagi hukum baik tentang keadilan, kemanfaatan maupun tentang kepastiannya. Penerapan hukum atas suatu pelanggaran tidak bisa disamakan dengan pelanggaran lain, meskipun pelanggaran itu kurang lebih sama. Misalnya: mencuri untuk menyelamatkan nyawa orang lain, berbeda dengan mencuri untuk memuaskan kepentingan pribadi. Meskipun dalam bahasa hukum, mencuri tetap merupakan perbuatan melanggar hukum.

Pembedaan kasus per kasus ini sering menggoda manusia untuk melakukan pelanggaran karena berpedoman pada pelanggaran yang telah dibuat oleh orang lain. Dia mencuri, hukumannya seperti itu. Berarti, kalau saya juga mencuri, hukuman saya seperti itu.

Hal lain tentang generalisasi tergesa-gesa ini adalah ketika pemerintahan dicap tidak beres, maka kesimpulannya adalah pemerintahan harus dilawan. Contoh: ketika salah seorang aparat kepolisian melakukan pelanggaran, maka kesimpulannya adalah seluruh Korps Kepolisian melakukan pelanggaran. Ini sangat tidak tepat dan akan menimbulkan ketidakpercayaan kepada hukum karena polisi adalah aparat hukum. **Fidelis Harefa.

LEX NEMINI OPERATUR INIQUUM, NEMININI FACIT INJURIAM
Hukum tidak memberikan ketidakadilan kepada siapapun dan tidak melakukan kesalahan kepada siapapun



Foto dari penakatolik.com
Seminar Sehari yang diselenggarakan oleh Komisi Kerawam Keuskupan Palangka Raya, bertepatan pada pelaksanaan Raker Keuskupan Palangka Raya Oktober 2015 memberi manfaat bagi kaum awam, terutama dalam pengetahuan berpolitik sebagai 100% Katolik dan 100% Indonesia. Pada seminar sehari tersebut, Sekretaris Komisi Kerawam KWI Romo Guido Suprapto Pr, hadir sebagai salah satu nara sumber. Berikut adalah ringkasan materi yang dipresentasikan oleh Romo Guido Suprapto Pr.
Untuk membangun masyarakat, bangsa dan negara yang baik, bukan pertama-tama didasarkan pada tatanan kemasyarakatan (politik), tetapi pada pribadi-pribadi yang beriman dan berintegritas. (Paus Fransiskus)
Landasan dasar panggilan dan  perutusan “Gereja” dalam masyarakat

Ada beberapa landasan dasar panggilan dan perutusan "Gereja" dalam masyarakat. Landasan dasar ini harus menjadi pedoman bagi kaum beriman untuk menjadi pelayan dalam masyarakat sebagai bagian dari warga negara. Landasan dasar itu adalah:

  1. “Kamu adalah garam dan terang dunia” (bdk. Mat 5:13-16);
  2. Gereja HARUS sungguh-sungguh hadir dan terlibat aktif dalam realitas sosial dan bergumul dengan isyu-isyu aktual masyarakat (bdk. GS.1; AA.14, GS.75);
  3. Gereja dalam kehadiran dan keberadaannya HARUS relevan dengan situasi dan konteks Indonesia saat ini (SAGKI, 2005);
  4. Gereja HARUS semakin membuka  diri untuk terlibat lebih  dalam, khususnya dalam bidang sosial politik melalui para awamnya (Pleno VI 2011; VII 2013, Sidang KWI 2013).
Landasan dasar di atas mengharuskan umat Katolik mengetahui kondisi dan realitas politik Indonesia saat ini. Secara umum, kondisi tersebut dapat dikatakan sebagai berikut:

  1. Kondisi sosial politik Indonesia dewasa ini terlihat berjalan dan berkembang sangat pragmatis, oportunistik dan bahkan transaksional sehingga tidak terlihat ada nilai-nilai dasar keadaban publik yang menonjol diperjuangkan oleh aktor-aktor politik dan kekuatan-kekuatan politik utama.
  2. Banyak indikasi yang cukup kuat untuk mengarahkan pada suatu kesimpulan sementara bahwa politik Indonesia memerlukan pencerahan dan perbaikan.
  3. Momentum Pileg,  Pilpres dan Pilkada seharusnya menjadi sarana strategis pembaruan politik Iindonesia yang masih jauh dari harapan.
Selain itu, sangat perlu juga memahami isu politik sebagai berikut:
  1. Suksesi kepemimpinan (kepala daerah)  cenderung  tidak menawarkan dan menghasilkan kandidat  yang berintegritas, berwawasan, cakap dan tangguh. Selanjutnya akan menjadi sumber persoalan daerah tersebut;
  2. Korupsi yang semakin marak (legislatif, eksekutif, yudikatif, komisioner, dan kelembagaan lainnya);
  3. Agenda pilkada (serentak) akan menimbulkan dinamika dan  ketegangan politik yang tinggi melibatkan elit politik dan warga masyarakat;
  4. Kecenderungan “radikalisasi kelompok agama”, kekerasan intoleransi  karena politisasi agama dan faktor kepemimpinan yang lemah.
Dari beberapa situasi dan isu politik sebagaimana di sebutkan di atas, umat Katolik harus terlibat secara aktif dalam upaya membenahi perpolitikan di negeri ini. Kiranya ungkapan berikut menjadi inspirasi keterlibatan umat Katolik dalam dunia politik.
“….Jangan biarkan orang lain mengambil keputusan mengenai nasibmu, tanpa kamu terlibat di dalamnya…” (Mgr. Alb. Soegijapranoto, SJ.)
Bukan hanya ungkapan di atas yang mengharuskan umat Katolik terlibat secara aktif. Beberapa Dokumen Gereja juga menyebutkan bahwa umat Katolik perlu belajar secara mendalam tentang politik.
  1. “Hendaknya orang-orang Katolik, yang mahir dalam bidang politik, dan sebagaimana wajarnya berdiri teguh dalam iman serta ajaran kristiani, jangan menolak untuk menjalankan urusan “tata dunia." (Bdk. Apostolicam Actuositatem, 14).
  2. “Mereka yang “cakap atau berbakat”  hendaknya menyiapkan diri untuk mencapai “keahlian politik”, yang sukar sekaligus amat luhur, dan berusaha mengamalkannya tanpa memperhitungkan kepentingan pribadi atau keuntungan materiil” (Gaudium et Spes, 75 ).
Karena dianjurkan oleh Gereja, umat Katolik yang terlibat dalam dunia politik sangat perlu memperhatikan visi keterlibatan politik kristiani. Visi tersebut adalah:
  1. memperjuangkan kebaikan umum (bonum commune) yang merupakan tujuan politik. 
  2. membangun suatu tatanan politik yang adil, beradab dan mengabdi pada kepentingan umum.
Dalam berpolitik hendaknya berpedoman kepada kearifan yang sudah teruji dari tokoh Gereja dan Pahlawan Nasional: Mgr. Albertus Soegijapranata SJ, yangmenyatakan: In Principiis Unitas, In Dubiis Libertas, In Omnibus Caritas, yang artinya: Dalam soal prinsip: persatuan, dalam hal-hal yang masih terbuka: kebebasan, dan dalam segala hal: kasih.

Kiat dan Strategi Keterlibatan

Setelah memahami landasan dasar, situasi dan isu politik, wejangan-wejangan yang sangat bermanfaat, termasuk landasan anjuran Gereja dari Dokumen Gereja, umat Katolik sangat perlu memperhatikan beberapa hal berikut sebagai kiat dan strategi keterlibatan dalam politik. Umat Katolik tidak boleh terbawa arus. Umat Katolik harus komit dengan visi keterlibatan kristiani seperti telah disebutkan di atas. Poin-poin berikut sangat membantu untuk menentukan sikap dalam dunia politik:
  1. Membangun kesadaran dan gerakan bersama:
    • Tahu dimana berada sekarang ini, sadar lingkungan (membaca tanda-tanda zaman);
    • Tahu kemana akan menuju, sadar visi dan sasaran (tahu dengan tepat apa yang harus dibuat);
    • Tahu bagaimana mencapai tujuan, sadar potensi (strategi dan komitmen).
  2. Membangun strategi internal:
    • Konsolidasi Komitmen Kristiani melalui Pendidikan politik Umat Katolik
    • Penguatan spiritualitas (Panggilan dan perutusan)
    • Pemantapan dan pemurnian motivasi (Bonum Commune)
    • Mempersembahkan  kader terbaik Katolik (kualifikasi dan integritas)
    • Membangun  “gerakkan bersama”, membangun soliditas dengan semangat pengorbanan).
  3. Mempersiapkan Kader:
    • Memahami  Politik secara benar (bukan sekedar jabatan, kuasa dan uang)
    • Memahami  sistem dan dinamika politik di Indonesia pada umumnya.
    • Memahami kondisi masyarakat: kondisi batin-psikologis dan kecenderungan sikap/pilihan politis mereka.
    • Merebut ruang publik dan ruang hati masyarkat.
    • Mantap  dan murni dalam motivasi  (dasarnya iman: panggilan dan perutusan, “menguduskan tata dunia” (politik) demi membangun kebaikan bersama dan kesejahteraan masyarakat.
    • Menempuh  cara-cara yang tidak bertentangan dengan ketentuan hukum/aturan dan melanggar tatanan moral.
    • Mengedepankan  kesatuan, kerukunan umat dan eksistensi  Gereja Katolik, dan jangan sebaliknya karena “ambisi” pribadi hal itu dikorbankan. Ingat, kedudukan/jabatan politik, bukan tujuan tetapi sarana, oleh karena itu jadikan sarana utk  “pemuliaan hidup” dan bukan menghacurkan.
Inilah beberapa poin penting yang dapat disarikan oleh KAIROS untuk para pembaca. Kiranya yang tidak hadir pada seminar kaum awam dapat membaca dan memahami. Jangan takut! Mari kita satukan hati, tekat dan komitmen untuk melibatkan diri dalam politik demi kebaikan bersama.

Logiskah bila kebakaran hutan dihubungkan dengan masa depan generasi kita? Sebenarnya, keadaan saat ini patut kita syukuri karena kita tidak berkekurangan. Keinginan manusia untuk memiliki harta berlimpah cenderung menjadikan adanya korban. Manusia cenderung ingin menimbun harta selama berada di dunia ini, meskipun dia ketahui bahwa tidak akan dibawa pergi ketika ajalnya telah tiba.

Ketika kita dilahirkan, kita menginjakkan kaki di bumi ini sebagai tempat kita mencari nafkah. Alam telah menyediakan untuk kita. Demikian anak dan cucu kita kelak, mereka dilahirkan dan menginjakkan kaki di bumi yang sama dengan kita sekarang ini. Lalu, apa yang disediakan untuk mereka kelak, bila saat ini telah kita musnahkan?

Seruan kesadaran telah digaungkan dengan berbagai cara. Namun keserakahan manusia ternyata tidak sanggup dibendung. Bencana demi bencana pun terjadi di negeri ini. Ketika bencana terjadi, semua menyalahkan Tuhan. Tapi ketika keadaan aman-aman saja, tidak pernah sadar bahwa masing-masing punya andil dalam mengundang bencana. Lalu, dengan cara apalagi yang harus dipakai untuk membangun komitmen bersama dan kesadaran dalam memberantas mafia-mafia keserakahan di muka bumi ini?


Gerakan-gerakan untuk mepertahankan kelestarian lingkungan telah diupayakan oleh berbagai pihak. Gereja Katolik Indonesia, secara khusus telah mengemas "pembangunan kesadaran masyarakat" terhadap pentingnya memelihara lingkungan melalui seruan pastoral dan topik-topik pendalaman iman. Namun, bila kita lihat hasilnya, terasa tidak ada tindak-lanjut yang signifikan dari gerakan-gerakan kita.


Hutan kita semakin hari semakin rusak oleh kepentingan golongan tertentu. Masyarakat kita menjadi pengungsi di negeri sendiri, menjadi buruh di daerah sendiri bahkan terlantar karena tidak memiliki tetmpat untuk membangun rumah tempat kediaman. Hal ini merupakan pernik-pernik refleksi untuk menemukan solusi demi kehidupan generasi kita berikutnya. Pasti ada yang salah dalam tindakan kita saat ini. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan, tapi mari bersama-sama mengurai benang kusut yang menjadi lingkaran setan dalam pengrusakan lingkungan yang sudah terjadi dan masih terus terjadi hingga saat ini. **Fidel Harefa.


Sekarang ini, zaman telah berubah. Bila era sebelumnya, subsidi dan hadiah itu sangat diagung-agungkan, apalagi bila itu diberikan oleh tokoh pemerintah atau pejabat yang sedang menjabat. Sesungguhnya, itu adalah bagian dari pembodohan yang telah berlangsung sehingga banyak orang mendambakan subsidi dan hadiah yang gratis itu.

Bila seseorang meminta ikan, berikanlah dia pancing. Kalau langsung memberikan ikan, dia akan kembali meminta ketika ikan yang diberikan itu sudah habis. Tapi dengan memberinya pancing, dia akan berpikir bahwa untuk mendapatkan ikan, harus pergi memancing. Jadi, jika dia membutuhkan ikan lagi, dia akan pergi memancing dan tidak lagi kembali kepada pemberi pancing.

Video berikut memberikan contoh yang paling nyata. Silahkan disimak.

Latar Belakang


Keadilan merupakan nilai ideal yang selalu diperjuangkan oleh umat manusia. Sebagai nilai ideal, cita-cita menggapai keadilan tidak pernah tuntas dicari, dan tidak pernah selesai dibahas. Keadilan akan menjadi diskursus panjang dalam sejarah peradaban manusia. Dalam sebuah negara hukum seperti Indonesia, upaya untuk mencapai keadilan tidak bisa diabaikan.

Negara hukum tidak boleh apatis terhadap perjuangan dan setiap upaya untuk menegakkan keadilan. Konsepsi tentang keadilan sangat penting agar sebuah negara hukum menjadi pijakan semua pihak baik warga negara maupun pemimpin negara sebagai kepastian dalam menyelesaikan berbagai persoalan hukum yang dihadapi. Sebuah negara hukum dituntut sebuah konsep keadilan yang dapat menyentuh dan memulihkan berbagai persoalan hukum untuk memuaskan rasa keadilan semua pihak. Oleh karena itu, untuk menegaskan kepastiannya sebagai sarana untuk mencapai keadilan, sebuah negara hukum harus mampu merumuskan konsep hukumnya dalam suatu afirmasi yang bersifat konstitusional.

“Negara Indonesia adalah negara hukum”, demikian afirmasi sebuah negara hukum yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 1 ayat (3). Penegasan tersebut mengharuskan bahwa dalam sebuah negara hukum persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hukum harus diselesaikan melalui jalur hukum. Prosedur penyelesaian terhadap semua persoalan hukum melalui jalur hukum tersebut merupakan penegasan terhadap superioritas hukum. Hukum yang superior tidak pernah tunduk di bawah kepentingan apa pun selain kepentingan hukum itu sendiri yaitu mencapai keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan yang merupakan tujuan utama hukum. Tetapi hukum tidak pernah bekerja secara otomatis. Hukum dalam sebuah negara hukum selalu berhubungan dan berkaitan erat dengan aparat penegak hukum. Superior dan tegaknya keadilan hukum membutuhkan aparat penegak hukum sebagai pihak yang berperan sangat penting untuk menegakkan keadilan agar hukum memiliki kekuatan untuk mengatur ketertiban sosial, keteraturan, dan keadilan dalam masyarakat. Dengan demikian, hukum yang tegas dan berlaku adil membuat hukum tersebut menjadi superior; memiliki keunggulan, kelebihan yang dapat diandalkan dan kredibel bagi semua pihak.

Hukum yang mengarahkan diri pada keadilan tidak saja membutuhkan aparat penegak hukum tetapi lebih pada aparat penegak hukum yang bermoral dan berintegritas tinggi. Aparat penegak hukum yang bermoral tersebut diharapkan dapat menegakkan hukum sebaik mungkin sebagai upaya mencapai tujuan-tujuan hukum termasuk untuk mencapai keadilan. Tanpa aparat penegak hukum yang bermoral, sebaik apapun hukum dibuat dapat saja sia-sia (nirmakna) karena tidak mampu memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum bagi semua pihak. Oleh karena itu, kiprah aparat penegak hukum yang baik sangat dibutuhkan agar hukum tetap superior, tidak mudah diperjualbelikan dan tidak berada di bawah penindasan kepentingan politik dan ekonomi. Sesungguhnya superioritas hukum dalam sebuah negara hukum terletak pada konsistensi aparat penegak hukum untuk berpegang teguh pada aspek moralitas demi menegakkan keadilan dan kepastian hukum. Konsistensi aparat penegak hukum dapat menciptakan keunggulan (superioritas) hukum untuk lebih responsif dan mampu menuntaskan berbagai persoalan hukum.

Hukum yang superior tersebut tidak berlaku diskriminatif karena hukum tersebut berlaku adil bagi semua warga negara tanpa memandang posisi, jabatan atau status sosial tertentu. Hukum yang superior tersebut tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan kepentingan yang menyesatkan hukum karena hukum adalah sarana memperjuangkan keadilan bagi semua pihak. Hukum yang superior tersebut harus tetap dilindungi oleh benteng kokoh bernama moralitas aparat penegak hukum. Semua aparat penegak hukum harus memiliki komitmen yang teguh agar hukum tetap dijaga keluhurannya sebagai sarana untuk mencapai keadilan sosial. Moralitas aparat yang kokoh, otentik dan kredibel dibutuhkan sebagai upaya untuk membangun kembali hukum yang dipercaya dan dihargai oleh semua pihak. Oleh karena itu, jika moralitas aparat penegak hukum semakin baik, maka hukum akan semakin superior dan kredibel dalam upaya untuk memenuhi tujuan-tujuan hukum termasuk upaya untuk mencapai keadilan. Moralitas aparat penegak hukum sangat menentukan ke mana arah kepastian hukum dan keadilan akan bermuara.

Aparat penegak hukum yang tidak bermoral menyebabkan hukum berada dalam posisi yang inferior, tidak mempunyai keunggulan dan tidak dapat dipercaya oleh para pencari keadilan. Nilai keadilan dan kepastian hukum akan terdegradasi dan tidak memiliki kekuatan yang bisa diandalkan kalau hukum tidak ‘dikendarai’ oleh aparat penegak hukum yang bermoral baik. Pertanyaannya, apa yang yang menyebabkan hukum di Indonesia belum bisa menggapai nilai idealnya yakni keadilan? Mengapa aparat penegak hukum mengabaikan nilai keadilan dan moralitas sehingga membuat hukum menjadi inferior dan meragukan kehendak baik para pencari keadilan? Pertanyaanpertanyaan tersebut menurut penulis bermuara pada persoalan aparat penegak hukum yang belum memiliki integritas yang tinggi, belum bekerja secara profesional menurut kode etik aparat penegak hukum, dan belum memiliki moralitas dan kepribadian sebagai aparat yang konsisten dalam penegakan hukum seperti diharapkan oleh semua pihak. Selain itu, ketidaktegasan aparat penegak hukum untuk mengikuti prosedur hukum juga telah turut menyebabkan hukum menjadi tidak adil terhadap para pelanggar hukum yang memiliki status sosial tinggi, misalnya, atau mereka yang memiliki akses terhadap hukum. Di lain pihak hukum yang dijalankan oleh aparat penegak yang tidak konsisten tersebut bahkan menindas masyarakat biasa yang tidak mempunyai akses terhadap hukum. Bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap hukum, keberadaan hukum bahkan menjadi begitu tegas dan cenderung diskriminatif.

Masyarakat pencari keadilan tentu merasa tidak puas dan merasa ditindas oleh hukum yang diskriminatif tersebut. Perasaan tidak puas masyarakat beralasan karena dalam negara hukum setiap warga negara sama dan sederajad di hadapan hukum. Rasa tidak puas tersebut melahirkan sikap pesimis masyarakat terhadap hukum dan aparat penegak hukum. Keraguan dan ketidakpercayaan masyarakat membuat hukum semakin tidak berdaya dan tidak mampu memenuhi rasa keadilan publik dan tidak dapat merespon persoalan-persoalan hukum yang semakin kompleks dalam masyarakat. Superioritas hukum semakin dipertanyakan keberadaannya dan moralitas aparat penegak hukum semakin disangsikan oleh masyarakat. Di lain pihak Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945 secara tegas mengatur perihal keadilan di hadapan hukum untuk semua warga negara Indonesia. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa:
“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”

Selain itu Pasal 28D Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 juga menegaskan bahwa:
Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. 
Afirmasi hukum yang ideal tersebut terkesan utopis karena belum mampu dilaksanakan secara utuh dan konsisten dalam penegakan hukum di Indonesia. Hukum seolah-olah menjadi panggung sandiwara bagi aparat penegak hukum sehingga upaya mencapai keadilan masih jauh dari harapan dan cita-cita sebuah negara hukum.

Apakah hukum yang kita miliki belum layak disebut hukum yang benar? Ini menjadi pertanyaan yang menyelimuti pikiran para pencari keadilan. Seperti telah dituturkan di atas, ketiadaan konsistensi dalam menjalankan hukum yang benar menjadikan hukum itu berada di posisi inferior. Ketiadaan konsistensi dalam menjalankan hukum yang benar mempertajam makna adagium Latin yang pernah diungkapkan oleh Tacitus, Corruptissima re publica plurimae leges, semakin banyak undang-undang, semakin korupsi sebuah republik.

Konsistensi merupakan sesuatu yang sangat mahal. Oleh karenanya, sering kali dijauhi untuk dibicarakan bahkan untuk dipahami dan dilaksanakan. Ada banyak pendapat mengatakan bahwa berbicara tentang konsistensi merupakan sesuatu yang sangat idealis dan sulit untuk diwujudkan.

Sebelum dibahas lebih lanjut tentang topik di atas, perlu diketahui bahwa ada dua hal penting yang harus dipahami lebih dulu sebagai inti permasalahan yang harus ditelaah. Dua hal penting itu adalah muatan dan pengertian dari kata konsistensi dan hukum yang benar dalam persepektif filsafat hukum.

Pengertian Konsistensi

Kata konsistensi  berasal dari kata konsisten, dari bahasa Latin con-sistere yang artinya berdiri bersama . Bila diartikan, kata konsisten artinya sesuai, harmoni, atau memiliki hubungan logis. Selanjutnya, perubahan kata sifat konsisten menjadi kata benda disebut sebagai konsistensi dengan pengertian kesesuaian, keharmonisan dan keadaan memiliki hubungan logis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsistensi berarti ketetapan (tidak berubah-ubah), ketaatan terhadap azas, keselarasn, kesesuaian perbuatan dengan kata-kata dan kemantapan dalam bertindak.
Konsistensi dalam ilmu logika adalah merupakan sebuah sematik dengan sematik yang lainnya tidak mengandung kontradiksi. Tidak adanya kontradiksi dapat diartikan baik dalam hal semantik atau berhubung dengan sintaksis. Definisi semantik yang menyatakan bahwa sebuah teori yang konsisten jika ia memiliki model; ini digunakan dalam arti logika tradisional Aristoteles walaupun dalam logika matematika kontemporer terdapat istilah satisfiable yang digunakan. Berhubungan dengan pengertian sintaksis yang menyatakan bahwa sebuah teori yang konsisten jika tidak terdpat rumus P seperti yang kedua P dan penyangkalan adalah pembuktian dari axioma dari teori yang terkait di bawah sistem deduktif.
Menurut Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theologia, konsistensi adalah suatu sikap batin yang berhubungan erat dengan moral dan iman dimana seseorang dimampukan untuk melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan hati nuraninya.

Dari beberapa pengertian di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa konsistensi adalah sebuah keadaan dimana terdapat kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Sebuah keadaan dimana ada keteguhan dan kemantapan dalam bertindak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku, tidak terdapat kontradiksi antara teori dan kenyataan. Hal yang paling penting dari pengertian di atas adalah pandangan Thomas Aquinas yang menghubungkan antara konsistensi dengan hati nurani. Hati nurani atau suara hati tidak pernah salah. Ketidaksesuaian yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh ketidakpekaan manusia dalam mendengarkan suara hatinya sehingga menimbulkan suatu ketiadaan konsistensi dalam berbicara dan berbuat.

Hukum Yang Benar Dalam Perspektif Filsafat Hukum

Hukum yang benar adalah hukum yang memperjuangkan keadilan. Kita bisa memahami hukum yang benar itu dengan mengetahui beberapa pandangan para tokoh tentang hukum. Sejak zaman Yunani-Romawi, para filsuf membicarakan hukum dengan menghubungkannya pada kepentingan umum (bonum commune). Plato, seorang filsuf Yunani menegaskan adanya hubungan hukum dengan kepentingan umum melalui polis (negara kota). Sebuah polis dihuni oleh beberapa polites (warga negara). Polites bersama-sama mewujudkan politeia, yakni “bagaimana menjadi warga negara yang baik” dan “bagaimana menciptakan sebuah pemerintahan yang baik”. Untuk mewujudkan politeia itu, haruslah ada aturan yang mengatur dan harus ditaati oleh polites. Aturan inilah yang kemudian dibahasakan sebagai hukum dalam perkembangan pandangan filsafat.

Berakar dari kata polis, Aristoteles mengemukakan istilah zoon politikon yang berarti manusia polis. Manusia polis adalah manusia yang hidup dalam kebersamaan, berdampingan dengan orang lain. Hidup berdampingan antara sesame manusia polis hanya dapat terwujud bila ada sebuah keutamaan dalam memperhatikan kebaikan bersama. Kebaikan bersama ini hanya dapat tercapai bila ada peraturan yang mengaturnya.

Bila peraturan-peraturan yang dimaksud bertujuan untuk mewujudkan kebaikan bersama, kita sangat perlu mengetahui hukum yang tepat dan benar dalam mengatur kepentingan umum. Ada banyak pendapat tentang hukum yang benar. Dalam makalah ini dikemukakan dua pendapat saja yakni pendapat Hans Kelsen dan Thomas Aquinas.

Menurut Kelsen, integritas sebuah hukum yang benar didasarkan atas sebuah norma dasar atau Grundnorm, yaitu sebuah norma yang tidak tergantung pada norma-norma lain, melainkan norma dasar ini justru menjadi ukuran validitas norma-norma yang lain. Norma dasar ini berfungsi sebagai unsur hakiki pengorganisasian interpretasi teoritis terhadap aturan-aturan dan lembaga-lembaganya yang terdapat dalam sebuah sistem hukum.

Menurut Thomas Aquinas, hukum yang benar adalah hukum yang tidak bertentangan dengan kebebasan dan cinta kemanusiaan. Hukum yang benar memungkinkan terselenggaranya kebebasan dan cinta, sebab kebebasan tidak mungkin terjadi jika tanpa cinta pada sesama (makna kebaikan). Cinta kepada sesama juga tidak akan mungkin terlaksana jika tanpa keadilan, dan keadilan tidak mungkin terselenggara tanpa keberlakuan hukum yang legitim. Jika hukum disusun demi kebaikan umum, maka peraturan macam apa saja harus juga diarahkan demi kebaikan umum.

Perlunya Konsistensi Dalam Menjalankan Hukum

Konsistensi terkesan sebagai sebuah barang mahal dan cenderung dijauhi oleh manusia. Alasan dominan yang sering digunakan untuk membenarkan adagium ini adalah karena konsistensi itu sendiri terlihat sangat idealis dan susah untuk dijalankan. Walaupun demikian, bukan berarti konsistensi ini harus diabaikan dan tidak dilirik sama sekali. Konsistensi menjadikan seorang manusia bijaksana dalam bertutur dan berbuat.
Ada sebuah pepatah  Latin yang berbunyi  “nemo dat quod non habet“ (tidak seorang pun mampu memberikan apa yang dia tidak miliki). Konsistensi harus dimiliki lebih dahulu dalam diri, kemudian konsistensi itu dapat ditularkan kepada orang lain. Penularan kepada orang lain melalui ketetapan dan kesesuaian dalam menjalankan aturan-atuan yang ada secara benar. Memiliki konsistensi berarti seseorang memiliki konsistensi dalam diri terlebih dahulu. Konsistensi diri adalah representasi dari kekuatan iman, yaitu kekonsistenan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Syarat utama seorang yang menyerukan konsistensi adalah memiliki konsistensi diri terlebih dahulu. Bila kita hubungkan dengan hukum, maka syarat mutlak seorang penegak hukum yang benar harus memiliki konsistensi diri yang berhubungan erat dengan suara hatinya, kemudian dia bisa menjalankan tugasnya secara konsisten pula.

Ada banyak masalah yang timbul akibat ketiadaan konsistensi (inconsistency) dalam menjalankan hukum. Adanya upaya mementingkan kepentingan pribadi dengan cara-cara yang tidak tepat. Salah satu contoh adalah memperjualbelikan hukum demi memperkaya diri sendiri. Wujud konkritnya adalah tersirat dalam adagium yang telah menjadi konsumsi masyarakat kita yang berbunyi “hukum tumpul ke atas, menukik tajam ke bawah”. Ketiadaan konsistensi melahirkan diskriminasi sehingga azas equality before the law menjadi terabaikan bahkan bagi sebagian orang disebut-sebut sebagai lagu lama yang tidak punya makna lagi.

Adagium Corruptissima re publica plurimae leges yang diungkapkan oleh Tacitus hanya bisa dimentahkan dengan menghadirkan konsistensi dalam menjalankan hukum. Tanpa konsistensi, berbicara tentang keadilan merupakan sebuah keniscayaan. Percuma kita memiliki seribu undang-undang, tapi tidak satupun dapat dijalankan dengan benar. Oleh karena itu, konsistensi ini merupakan hal yang harus terus-menerus digaungkan sebagai salah satu pesan moral dalam menjalankan hukum.

Hukum Yang Benar adalah Hukum Yang Mengabdi Pada Kepentingan Umum

Hukum yang benar pertama-tama dilihat dari tujuannya. Hukum hanya berlaku bila terdapat dua atau lebih manusia tinggal dalam satu daerah. Hal ini mengandaikan bahwa hukum yang dimaksud tidak berlaku bila manusia itu hidup sendiri saja karena tidak ada pihak lain yang dirugikan bila dia berbuat sekehendak hatinya. Karena manusia ini adalah makhluk sosial, yang hidup dalam komunitas, hidup dalam kelompok bahkan hidup dalam sebuah negara, maka wajib ada hukum yang mengatur agar tidak terjadi kekacauan.

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa tujuan hukum adalah untuk mewujudkan kebaikan bersama sebagai makhluk sosial. Terwujudnya kebaikan bersama sangat erat kaitannya dengan keadilan. Keadilan adalah merupakan tujuan hukum selain kepastian dan kemanfaatan. Ketiga tujuan hukum ini hanya bisa terlaksana dalam kehidupan orang banyak, tidak dalam hidup menyendiri di sebuah pulau.

Karena hukum yang benar hanya dapat dilihat dari tujuan hukum itu diadakan, maka sangat tepat apa yang dikatakan oleh Thomas Aquinas bahwa hukum tidak boleh bertentangan dengan kebebasan. Dalam kebebasan, kehadiran cinta sangat dimungkinkan. Dalam cinta, kehadiran keadilan dapat terwujud. Dan dengan keadilan, kebaikan umum dapat dipelihara.

Di Indonesia, kita sudah memiliki Pancasila sebagai grundnorm seperti dikemukakan oleh Kelsen. Pancsila merupakan unsur hakiki dan menjadi tolok ukur validitas hukum yang lainnya. Karena hukum yang kita miliki memiliki kaidah dasar, hukum yang kita miliki ini adalah hukum yang benar. Tentu saja muncul pertanyaan, mengapa dalam pelaksanaan hukum terjadi ketimpangan di sana-sini? Ketiadaan konsistensi dalam menjalankan hukum yang benar menimbulkan tidak tercapainya cita-cita hukum yang adil dan benar.

Kesimpulan

Bahwa konsistensi sangat erat kaitannya dengan hati nurani. Hati nurani dapat dikenal lewat suara hati. Suara hati tidak pernah salah. Ketidaksesuaian terjadi disebabkan oleh ketidakpekaan manusia dalam mendengarkan suara hatinya sehingga menimbulkan suatu ketiadaan konsistensi dalam berbicara dan berbuat.

Bahwa hukum tidak boleh bertentangan dengan kebebasan. Dalam kebebasan, kehadiran cinta sangat dimungkinkan. Dalam cinta, kehadiran keadilan dapat terwujud. Dan dengan keadilan, kebaikan umum dapat dipelihara. Dengan demikian hukum yang benar telah terlaksana secara benar pula.

Bahan Bacaan:

  • Charles Covell, The Defence of Natural Law, (Houndmills: The Macmillan Press, 1992).
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993) 
  • E. Sumaryono, Etika Hukum: Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas, (Yogyakarta: Kanisius, 2002) . 
  • J. Stradling, Two Bookes of Constancie, ed. R. Kirk, New Brunswick, NJ: Rutgers University Press, 1939.
  • Theo Hujbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, (Yogyakarta: Kanisius, 2005).
  • Chad Hansen, in Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1.0, London: Routledge
  • Gregory H. Moore, in  Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1.0, London: Routledge

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget