MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Februari 2015

Ilustrasi dari st285069.sitekno.com
Dari tahun ke tahun, kurikulum pendidikan kita semakin diperbaharui. Namun bagi seorang guru, sebagai ujung tombak pelaku pendidikan, harus tetap konsisten untuk menanamkan pendidikan nilai bagi anak didik. Ada 9 (sembilan) contoh yang paling memungkinkan mendukung tercapainya tujuan ini.
  1. Problem solving: Bila ada masalah, misalnya terjadinya perkelahian atau prestasi kelas merosot, bahkan juga prestasi sekolah merosot, siswa diajak atau dilibatkan dalam memecahkan persoalan ini.
  2. Reflective thinking/critical thinking: Siswa diajak untuk membuat catatan refleksi atau tanggapan atas bahan-bahan yang dibuat dalam kelompok. Misalnya artikel, foto, peristiwa, kasus, dan lain-lain.
  3. Group dynamic: siswa dibimbing untuk kerja kelompok secara kontinu dalam mengerjakan suatu proyek tertentu.
  4. Community building: siswa satu kelas diajak untuk membangun komunitas atau masyarakat mini dengan aturan-aturan, tugas-tugas, hak dan kewajiban, yang mereka atur sendiri secara demokratis.
  5. Responsibility building: siswa diberi tugas yang konkret dan diminta membuat laporan pertanggungjawaban secara jujur.
  6. Picnic: siswa harus diberi kesempatan untuk merancang kegiatan santai di luar sekolah. Ini juga mampu membangkitkan daya kreatif siswa untuk merencanakan sesuatu, termasuk membiasakan mereka untuk merencanakan dana, misalnya dengan menabung.
  7. Camping study: siswa diajak untuk melakukan camping dalam rangka belajar. Kegiatan ini paling dimungkinkan bila siswa mengikuti kegiatan gerakan Pramuka.
  8. Retret/Rekoleksi: siswa dibimbing mengambil waktu khusus untuk mengambil jarak dari kesibukannya sehari-hari guna secara intensif mengolah kehidupan rohaninya.
  9. Live-in: siswa diajak atau diberi kesempatan untuk tinggal dan hidup bersama dalam jangka waktu tertentu di tengah masyarakat kecil di desa. Selama waktu itu, mereka dibiarkan mengikuti ritme kehidupan masyarakat, kemudian mereka membuat laporan dan hasil refleksi terhadapnya.
Kegiatan-kegiatan seperti ini harus terprogram. Tentu saja ini bukan hanya tanggung jawab seorang guru, tapi sebagai tim, sekolah harus memikirkan hal ini. Guru-guru yang dikoordinir oleh Kepala Sekolah harus mampu menjadikan kegiatan-kegiatan tersebut di atas menjadi program tahunan sekolah. Ini akan sangat membantu dalam mendukung tercipta dan tersalurnya pendidikan nilai dengan baik. Semoga bermanfaat.

Palangka Raya, 22 Februari 2015
Savera Mongi, S.Ag


Narkoba telah menimbulkan keresahan bagi masyarakat. Orang tua memiliki kecemasan tinggi terhadap keadaan ini, takut kalau anak-anak mereka terpengaruh untuk menggunakan narkoba. Oleh karena itu, melalui organisasi dan juga lembaga-lembaga sosial lainnya dalam masyarakat, yang menjadi pemerhati keadaan ini menyelenggarakan seminar penanggulanan narkoba di kalangan remaja usia sekolah.

Dua hari yang lalu, Seminar Penanggulangan Penggunaan Narkoba dilaksanakan di Aula Serba Guna Tjilik Riwut Palangka Raya (03/02/2015) yang ditujukkan untuk anak sekolah. Seminar ini dihadiri oleh anak sekolah tingkat SLTP dan SLTA, Guru-guru dan beberapa orang tua.

Dampak Narkoba 

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa saya sarikan dari materi yang disampaikan. Saya golongkan dalam dua kelompok, yakni Dampak Narkoba dan Strategi Penanggulangannya. Dampak Narkoba menurut penuturan pemateri adalah sebagai berikut:

Terhadap Pribadi Pengguna

Narkoba akan mengalami beberapa perubahan kepribadian secara drastis. Kalau sebelumnya sebagai pribadi yang ceria, akan berubah menjadi pemurung dan tidak ada gairah hidup. Sikap masa bodoh dan tidak peduli terhadap situasi apa pun akan mendominasi. Semangat kerja turun. Tidak ada kontrol diri sehingga gampang untuk terjerumus dalam menikmati seks bebas. Menjadi pemalas dan tidak sayang pada diri sehingga dengan gampang melakukan hal-hal buruk terhadap diri sendiri.

Terhadap Keluarga

Untuk memenuhi kebutuhan mendapatkan narkoba, seorang yang sudah kecanduan tidak segan mencuri dalam keluarga sendiri. Dengan menggunakan narkoba sendiri, pelaku telah mencemarkan nama baik keluarga terutama karena tidak ada lagi kontrol moral yang bisa dipahami. Tentu saja, tidak bisa diharapkan untuk menuntut sopan santun dan etika. Penghargaan kepada anggota keluarga, orang tua sendiri tidak ada bahkan lebih sering, pengguna narkoba menjadi pembangkang bagi orang tuanya.

Terhadap Masyarakat

Tidak malu untuk melakukan hal-hal yang tidak pantas terhadap orang lain. Bahkan, pengguna narkoba bisa juga menjadi bahaya yang ditakuti oleh masyarakat, terutama bila kejahatan yang dilakukan dapat membahayakan jiwa. Perampokan dan premanisme adalah perbuatan-perbuatan yang sering mereka lakukan dalam kelompok. Mereka sering mengganggu ketertiban umum, terlibat dalam perkelahian dan bahkan dalam berlalu-lintas, mereka lebih sering menjadi pemicu terjadinya kecelakaan lalu-lintas.

Strategi Penanggulangan 

Ada beberapa strategi yang disampaikan oleh pemateri dalam menanggulangi penggunaan narkoba.

  1. Preemtive, yaitu pencegahan dini. Jangan pernah memberi peluang untuk narkoba menguasai kehidupan. Berhubungan dengan strategi pertama ini, saya teringat satu petuah orang tua yang hidup di daerah saya (Nias) yang berbunyi begini: fangago mböröta wamelai, famelai mböröta wangusu, fangusu mböröta wa'ato'ölö. Kalau diterjemahkan secara lugas: mencium adalah awal untuk mencicipi, mencicipi adalah awal untuk menggigit, menggigit adalah awal kerusakan karena ketagihan. Jadi, peluang untuk menggunakan narkoba jangan pernah dibangun, sedetik pun, jangan. 
  2. Preventive, kerja sama untuk mencegah produksi narkoba. Masyarakat harus bekerja sama untuk mengawasi orang-orang yang berusaha untuk memproduksi hal-hal yang dapat menimbulkan kecanduan. 
  3. Represive, penegakan hukum. Perlu ditindak secara hukum mereka yang telah berusaha menjadi pemroduksi dan pengedar narkoba itu sendiri. Sudah sangat banyak modus yang digunakan oleh para pelaku dalam mengedarkan narkoba. Sasaran mereka lebih banyak pada anak remaja usia sekolahan. Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk bekerja sama menjadi pengawal bagi anak-anak dan remaja agar tidak terjerumus dalam menggunakan narkoba. 
  4. Treatment/Rehabilitasi, adalah upaya untuk menolong dan merehabilitasi korban. Banyak pihak yang harus dilibatkan di sini. Dokter, psikolog bahkan penegak hukum juga harus terlibat dalam memberikan efek jera dalam konteks penyembuhan sang korban. 
Seminar yang dihadiri oleh kurang lebih 600 pelajar dan 200 orang guru dan orang tua ini diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk penanggulangan terhadap narkoba. Penanggulangan yang dimaksud adalah memberikan pengertian dan pemahaman terhadap bahaya narkoba sehingga setiap yang hadir terdorong untuk menjadi penyelamat bagi yang lain. Bila setiap peserta seminar bersedia menyelamatkan satu orang, maka dengan angka di atas tadi, sudah 800 orang yang bisa diselamatkan. Semoga bermanfaat.

ANGGARAN DASAR
FORUM MASYARAKAT KATOLIK INDONESIA

BAB I
NAMA, TEMPAT, KEDUDUKAN, SIFAT DAN WAKTU
Pasal  1

(1) Forum bernama : Forum Masyarakat Katolik Indonesia yang disingkat dengan  sebutan  FMKI
(2) Berkedudukan di Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah yaitu Palangka Raya
(3) Bersifat otonom dan mandiri yang merupakan mitra kerja Keuskupan Palangka Raya
(4) Adapun yang dimaksud dengan bersifat otonom dan mandiri dengan tetap melakukan koordinasi dengan Keuskupan Palangka Raya dan Sekretaris Nasional FMKI Keuskupan Agung Jakarta
(5) Dalam kiprahnya tetap memperhatikan saran dan pendapat hirarki
(6) Dibentuk untuk jangka waktu yang tidak ditentukan

BAB II
AZAS, MAKSUD, FUNGSI DAN TUJUAN
Pasal 2

(1) FMKI berdasarkan pada ;
a. Pancasila
b. Undang Undang Dasar 1945
c. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
d. Bhinneka Tunggal Ika
e. Nilai-nilai Kekatolikan

Pasal 3
(1) Adapun maksud tujuan mendirikan FMKI adalah sebagai wadah forum komunikasi, informasi, pemberdayaan, advokasi, pengkajian, diskusi, dan  menganalisa berbagai permasalahan aktual
(2) Dengan semangat selalu mengembangkan, menjunjung tinggi spiritualitas, etika sosial kristiani dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya yang bermoral dan demokratis

Pasal 4
FMKI berfungsi juga  sebagai ;
(1) Wadah berhimpun umat katolik tanpa membedakan status sosial
(2) Wadah berhimpun ormas katolik yang ada
(3) Sebagai mitra kerja Dewan Paroki di wilayah Keuskupan Palangka Raya dalam pembahasan dan pengkajian kehidupan social kemasyarakatan dalam konteks berbangsa dan bernegara

Pasal 5
FMKI dibentuk  bertujuan sebagai :
(1) Tempat menyatukan pendapat atau kesamaan persepsi umat katolik  dalam menyikapi suatu permasalahan dari sudut pandang kekatolikan
(2) Tempat menyatukan pendapat atau  persepsi diantara organisasi kemasyaratan (ormas -ormas) katolik
(3) Tempat melakukan forum diskusi, pengkajian dan mediasi  dalam setiap permasalan yang dihadapi gereja, umat katolik
(4) Sebagai fasilitator terhadap penyelesaian sengketa  antara umat katolik dengan masyarakat luar, pemerintah, ormas-ormas, perusahaan
(5) Melakukan kajian kajian terhadap kebijakan pemerintah, perusahaan  dan merekomendasikan hasil kesimpulan kajian kepada yang membutuhkan
(6) Adapun yang dimaksud dengan kebijakan dalam ayat  (5) lima adalah segala  keputusan, peraturan perundang undangan, penetapan arel kehutanan, perkebunan, pertambangan yang tidak melibatkan peran serta masyarakat dll
(7) Untuk mewujudkan masyarakat katolik yang selalu menjunjung tinggi martabat manusia, demokratis, berkepastian hukum dalam kehidupan masyarakat yang pluralistik, adil, damai dan sejahtera berdasarkan Pancasila
(8) Sumber informasi dan jaringan pekerjaan bagi dunia luar untuk memberi kesempatan berusaha bagi perorangan atau badan
(9) Berperan aktif memberikan bimbingan dan bantuan pembentukan organisasi berbasis katolik
                                 
Pasal 6
FMKI beranggotakan seluruh umat katolik yang berada di wilayah Keuskupan Palangka Raya propinsi Kalimantan tengah.

BAB III
KEGIATAN- KEGIATAN

Pasal 7

Guna mewujudkan yang menjadi maksud dan tujuan maka di pandang perlu melakukan kegiatan antara lain ;
(1)  Seminar, kajian dan forum diskusi
(2)  Pendidikan dan pelatihan yang berlandaskan ajaran katolik dan I. J. Kasimo dan menjadi dasar kepemimpinan
(3)  Advokasi terhadap umat atas permasalahan  yang muncul di masyarakat
(4) Penghubung dengan pemerintah, ormas, tokoh masyarakat dan perusahaan
(5) Kajian terhadap kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan
(6) Dalam melakukan seminar, kajian dan forum diskusi selalu mempersiapkan pemakalah, pemeteri dan pembanding
(7) Hubungan kemasyarakatan dengan masyarakat umum tentang keberadaan FMKI dan mensosialisasikan setiap keputusan untuk menghindari terjadinya miskomunikasi di tengah masyarakat
(8)  Dalam setiap melakukan kegiatan, mengedepankan perilaku sopan santun   yang mencerminkan nilai nilai kekatolikan baik dalam berbicara, bertindak dan dalam bentuk opini/tulisan ilmiah
(9)  Guna lebih fokusnya program kerja FMKI maka dipandang perlu menyusun Visi dan Misi sebagai dasar perjuangan

BAB IV
STRUKTUR ORGANISASI,LAMBANG DAN CAP

Pasal 8
(1) Dalam menjalankan  kegiatan  diperlukan sebuah kepengurusan, demi jalannya roda organisasi
 (2) Dalam struktur organisasi dibentuk sampai ketingkat bawah
(3)Dalam pembentukan struktur sampai tingkat bawah dapat dilakukan berdasarkan  struktur pemerintahan atau gereja.

Pasal 9
Logo FMKI Palangka Raya
FMKI memiliki lambang dan logo sebagai sumber kebesaran dan kebanggaan yang dijabarkan sebagai berikut:
(1) Forum Masyarakat Katolik Indonesia yang didelekrasikan di Jakarta pada tahun 1998 dengan ketentuan FMKI bukan organisasi massal. Penting sebagai forum di mana segala aliran yang ada dalam umat katolik dapat saling berkomunikasi tentang peranan mereka dalam dimensi public di Negara kita. FMKI tidak berwenang untuk menentukan sikap umat katolik, melainkan ia merupakan tempat pemikiran bersama untuk melihat alternative-alternatif dan kalau mungkin, menunjukkan arah. FMKI tidak menyaingi hirarki karena tidak berwenang atas ajaran Gereja, baik dalam bidang iman maupun dalam bidang moral. Akan tetapi, FMKI menjadi mitra KWI dan bekerjasama erat dengannya. Gagasan FMKI termasuk agenda sebuah reformasi kehidupan umat katolik Indonesia juga.
(2) Palangka Raya: Wilayah Gereja Lokal Keuskupan Palangka Raya. FMKI yang ada di Wilayah Keuskupan Palangka Raya merupakan mitra KWI wilayah di Palangka Raya.
(3) Rumah Betang: Bangunan untuk tempat tinggal yang dihuni oleh keluarga besar. Meskipun mereka berbeda-beda keyakinan, mereka tetap saling menghargai. Dalam rumah betang, persamaan derajat sangat ditekankan.
(4) Balanai (Guci): Tempat Karuhei Tatau (Sumber Kehidupan) karena dari sana terdapat: Sumber Danum Pambelum (air kehidupan); Sumber Tuah Rajaki (kesejahteraan); Sumber Kapintar Kaharati (Cerdas dan berbudi pekerti); Sumber Karigas (kesehatan); Sumber budaya (etika, adat istiadat).
(5) Salib: Tanda keselamatan (tanda kemenangan) bagi Umat yang percaya kepada Kristus. Dalam hal ini menggambarkan keyakinan dan kepercayaan umat Katolik.
(6) Batang Garing: Simbol kesuburan dalam usaha perkebunan/pertanian. Dengan kesuburan, orang-orang yang hidup di tanah yang subur akan sejahtera.
(7) Burung Tingang: Melambangkan kekuatan pewartaan yang mampu menyuarakan eksistensi dan elektabilitas Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) ke masyarakat luas.
(8) Padi dan Kapas: Melambangkan keadilan yang merata.
(9) Lingkaran: Melambangkan persatuan dan kesatuan Masyarakat Katolik Indonesia.

Pasal 10
FMKI juga memiliki cap sebagai legalitas administrasi dan surat menyurat organisasi

Pasal 11
(1) FMKI  dalam melakukan aktifitasnya juga memiliki sistim keuangan organisasi yang jelas, transparan, dan akuntabilitas
(2) Setiap dana yang diperoleh atau yang diterima wajib dipertanggung jawabkan setiap tahun melalui pengurus setiap tahun buku
(3) FMKI adalah organisasi Nirlaba.

BAB V
PERUBAHAN ANGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 12
Dalam melakukan perubahan Anggaran Dasar dilakukan melalui rapat yang dihadiri anggota, utusan, pengurus, penasehat, pembina dan moderator  dengan mekanisme yang telah disepakati dalam rapat

Pasal 13
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Rumah Tangga akan diatur lebih lanjut dalam rapat penggurus

ANGGARAN RUMAH TANGGA
FORUM MASAYARAKAT KATOLIK INDONESIA KEUSKUPAN PALANGKA RAYA

BAB I
STRUKTUR ORGANISASI DAN SYARAT PENGGURUS

Pasal 1

(1) Struktur organisasi FMKI terdiri dari yaitu
A. Penasehat
B. Penggurus terdiri dari :
a. Ketua dan beberapa wakil ketua
b. Seketaris dn wakil sekeretaris
c. Bendara dan wakil bendahara
d. Bidang- bidang : - Bidang Advokasi
- Bidang Organisasi
- Bidang Pengembangan Sumber Daya Maniusia
- Bidang Humas dan Edukasi
(2) Dalam  pembentukan struktur kepengurusan selalu memperhatikan efektip dan efisien dengan semangat hemat struktur kaya fungsi dengan memperhatikan keterwakilan Perempuan
(3) Struktur kepengurusan untuk keuskupan Palangka Raya Propinsi Kalimantan Tengah dibuat dalam Surat Keputusan hirarki
(4) Surat keputusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) tiga dalam hal ini adalah sebagai kelengkapan administrasi.
(5) Untuk surat keputusan kepengurusan di bawahnya dibuat atau ditetapkan dengan  surat keputusan FMKI Keuskupan Palangka Raya Kalimantan tengah.
Pasal 2
(1) Adapun persyaratan untuk dapat dipilih menjadi pengurus adalah umat katolik .
(2) Telah berkeluarga dan kecuali untuk kalangan missioner.
(3) Dengan memiliki semangat organisasi untuk kemajuan FMKI.
(4) Dalam Pemilihan pengurus dilakukan  dalam rapat terbuka.
(5) Masa kepengurusan FMKI selama (3) tiga tahun.
(6) Apabila dalam masa kepengurusan ada pengurus mengundurkan diri atau berhalangan tetap dapat diganti melalui rapat pengurus dengan penashat.
                                   

BAB II
KEANGGOTAAN DAN KEGIATAN

Pasal 3
(1) Anggota FMKI adalah semua umat katolik yang berada di Kalimantan tengah yang telah berusia minimal 18 tahun.
(2) Setiap Anggota harus memahami makna perjuangan FMKI terutama nilai-nilai kekatolikan.

Pasal 4
Dalam setiap pelaksanaan kegiatan selalu berorientasi dalam pemberdayaan, pemahaman dengan   melakukan pendidikan dan tidak bersifat profokatif atau sejenisnya dan selalu menjujung tinggi  nilai nilai semangat kekatolikan

Pasal 5
Keuangan FMKI bersumber dari :
(1)Iuran anggota dan Pengurus
(2)Sumbangan dari donatur
(3)dan dari beberapa simpatisan dan pemerintah yang tidak mengikat

Pasal 6
Dalam segala keputusan rapat selalu mengutamakan masyawarah untuk mupakat tetapi apabila hal itu tidak dapat dicapai dapat dilakukan dengan suara terbanyak

Pasal 7 
Rapat pengurus
1. Rapat pengurus  dipimpin oleh ketua dan atau salah satu pengurus sesuai dengan kesepakatan
2. Rapat pengurus sekurang-kurangnya  sekali dalam satu sebulan dan dapat diadakan sewaktu-waktu menurut kebutuhan 
3. Rapat pengurus sah mengambil keputusan apabila dihadiri olehsetengah plus satu jumlah pengurus dan disetujui  2/3 pengurus yang hadir

Pasal 8
Laporan keuangan
1. Pengurus membuat laporan keuangan sekali dalam setahun dan sewaktu-waktu jika diperlukan.
2. Laporan keuangan disampaikan kepada Forum dan tembusan disampaikan kepada Keuskupan melaui Moderator

Pasal 9
Masa pengurusan
1. Periode kepengurusan adalah 3 tahun dan dapat dipilih kembali
2. Kepengurusan ditetapkan melalui surat keputusan Uskup Keuskupan Palangka Raya.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget