MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Agustus 2015

Pengantar


Rm. I Ketut Adi Hardana, MSF
Setiap pembicaraan, keputusan dan tindakan yang menyangkut orang banyak dalam arti luas dapat disebut sebagai pembicaraan, keputusan dan tindakan politik. Itu kalau kita mendasarkan istilah itu pada asal-usul munculnya kata itu dalam bahasa Yunani. Istilah Politik berasal dari bahasa Yunani 'polis' yang artinya negara-kota. Dalam negara-kota di zaman Yunani, orang saling berinteraksi guna mencapai kesejahteraan dan kebaikan dalam hidupnya. Ketika manusia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika mereka berusaha meraih kesejahteraan pribadi melalui sumber daya yang ada, atau ketika mereka berupaya mempengaruhi orang lain agar menerima pandangannya, maka mereka sibuk dengan suatu kegiatan yang kita namai 'politik'. Hal itulah yang mendasari terbentuknya pengertian politik. Dengan Pemahaman seperti itu, dapat dikatakan bahwa kita tengah berpolitik ketika bersaing dengan tetangga sebelah rumah untuk jabatan sekertaris RT, atau sopir angkot berdebat dengan oknum LLAJ bahwa pungli yang mereka lakukan sudah tidak bisa lagi ditolerir. Pengertian politik memiliki cakupan atau muatan yang sangat luas.

Leksikal Politik

Menurut buku A  New Handbook of Political Science,  politik adalah penggunaan kekuasaan sosial yang dipaksakan. Kata kekuasaan sosial ditekankan unuk membedakannya dengan kekuasaan individual, sebab politik berkenaan dengan pengaturan hidup suatu masyarakat secara keseluruhan, melampuai batasan individual. Masyarakat sebagai entitas sosial mengesahkan sekelompok individu melalui Pemilihan Umum untuk memiliki kekuasaan sosial. Aplikasi kekuasaan ini dapat dipaksakan, jika diperlukan, atas setiap individu untuk menjamin keteraturan di dalam masyarakat. Dalam kaitan dengan hal ini, kita mengenal adanya undang-undang darurat sipil atau militer yang dikeluarkan oleh penguasa untuk memulihkan kembali ketertiban dan keamanan masyarakat.

Lebih jauh, menurut Gabriel A. Almond,  politik adalah kegiatan yang berhubungan dengan kendali pembuatan keputusan publik dalam masyarakat tertentu di wilayah tertentu, di mana kendali ini disokong lewat instrumen yang sifatnya otoritatif (berwenang secara sah) dan koersif (bersifat memaksa). Dalam nosi ini, politik mengacu pada penggunaan instrumen otoritatif dan koersif: siapa yang berhak menggunakannya dan dengan tujuan apa? Kata otoritatif merupakan konsep yang ditekankan dalam masalah politik. Otoritatif adalah kewenangan yang absah, diakui oleh seluruh masyarakat yang ada di suatu wilayah untuk menyelenggarakan kekuasaan. Otoritas tersebut ada di suatu lembaga bernama "pemerintah". Bukan suatu kekuasaan politik jika lembaga yang melaksanakannya tidak memiliki otoritas. Pemerintah juga dapat kehilangan otoritasnya tatkala mereka sudah tidak memiliki kekuasaan atas masyarakatnya.

Di dalam perkembangannya, memang istilah politik cenderung digunakan dalam arti sempit. Jadi politik itu bukan masalah lima tahunan, atau masalah pemilihan presiden dan para anggota legislatif saja, melainkan masalah sehari-hari. Dalam arti itu, politik merupakan panggilan dan kewajiban setiap warga Negara. Selaku pemegang kekuasaan, pemerintah mempunyai kewajiban untuk memperjuangkan nilai-nilai seperti: kesejahteraan, keadilan, keamanan, kebudayaan, dan sejenisnya untuk seluruh warga masyarakat. Dalam arti itu, politik dapat dipahami sebagai seni mengatur pemerintahan, artinya bagaimana pemegang kekuasaan mengatur jalannya pemerintahan sehingga tercipta kesejahteraan bersama (bonum commune) bagi seluruh warga masyarakat, tanpa memandang perbedaan agama, suku, bahasa dan budaya.

Dalam Pengertian yang lebih luas, seperti dipahami oleh Aristoteles, politik dimaknai sebagai hubungan publik. Menurut Aristoteles, dalam bukunya Politics, ditegaskan bahwa manusia adalah binatang politik, artinya secara kodrati manusia hanya dapat memperoleh kehidupan yang baik lewat suatu komunitas politik, baik dalam ruang lingkup publik maupun privat. Dalam ruang lingkup publik terletak institusi seperti pengadilan, aparat pemerintah, polisi, tentara, sistem kesejahteraan sosial, dan sejenisnya; sementara dalam 'civil society' yang ranahnya lebih bersifat privat, terletak institusi seperti keluarga, kekerabatan, bisnis swasta, serikat kerja, klub-klub, komunitas dan sejenisnya.
Dalam pemahaman semacam ini, politik mengandung komponen yang disebut dengan kompromi dan konsensus. Sharing atau pembagian kekuasaan antara lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif adalah asumsi politik sebagai kompromi dan konsensus. Dalam kompromi dan konsensus disepakati pembagian kekuasaan, sehingga kekuasaan tidak dipegang oleh satu otoritas, tetapi oleh otoritas lainnya; dengan demikian, terhindarkan apa yang disebut dengan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). 

Kompromi dan konsensus dilawankan dengan brutalitas, pertumpahan darah dan kekerasan. Dalam politik, tidak ada pihak yang kepentingannya terselenggarakan 100 %. Masing-masing pihak berusaha memoderasi tuntutannya agar tercapai persetujuan dengan pihak lain. Ketika pergesekan kepentingan diantara semua pihak diselesaikan lewat kompromi dan konsensus di atas meja dan bukan dengan pertumpahan darah, saat itu dapat dikatakan bahwa politik suatu negara adalah baik atau para politikusnya sudah dewasa dalam berpolitik.

Dalam politik kita senantiasa berbicara mengenai “seni” dan cara, bagaimana masyarakat di suatu wilayah menegosiasikan kepentingan masing-masing untuk melahirkan kesepakatan, agar kepentingan-kepentingan tersebut dapat terselenggara tanpa merugikan pihak lain. Dalam perspektif ini, politik disebut sebagai “seni” untuk mengatur kehidupan bersama agar tercipta kesejahteraan, keadilan, kedamaian, perlindungan terhadap pihak yang lemah serta penghormatan terhadap setiap pribadi manusia dan kepentingan semua pihak serta golongan dilindungi.

Pendasaran Keterlibatan Gereja/Awam dalam Politik 

Setiap orang beriman dipanggil dan diutus untuk mewujudkan imannya melalui perbuatannya (bdk. Yak 2:14, 17). Dengan demikian setiap orang beriman dalam panggilan dan martabatnya masing-masing dipanggil dan diutus untuk mewujudkan imannya. Lebih jauh dekrit tentang kerasulan awam menyebut bahwa panggilan kristiani menurut hakekatnya adalah panggilan untuk merasul. ''Seperti dalam tata susunan tubuh yang hidup tidak satupun anggota bersifat pasif melulu, melainkan beserta kehidupan tubuh juga ikut menjalankan kegiatannya, begitu pula dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja, seluruh tubuh menurut kadar pekerjaan masing-masing anggotanya mengembangkan tubuh. Sehingga anggota yang tidak berperan menurut kadarnya demi pertumbuhan tubuh juga harus dipandang tidak berguna bagi Gereja atau bagi dirinya sendiri.'' (Apostolicam Actuositatem, Bab I art. 2.) 

Bentuk keterlibatan kaum awam dalam dunia politik lebih leluasa dibandingkan dengan hirarki, karena justru panggilan khas mereka adalah terlibat dalam tata dunia. Secara kongkrit keterlibatan kaum awam dalam politik adalah keterlibatan dalam bermasyarakat. Kaum awam menyatu dengan masyarakat sebagai makhluk sosial yang peduli dengan sesama dan lingkungannya serta lebih jauh berani mengambil bagian dalam setiap kesempatan sosial dan politik yang terbuka bagi mereka. Misalnya terlibat dalam organisasi  RT atau RW, organisasi kemasyarakatan, terlibat dalam partai politik dan lain-lainnya.

Konsili Vatikan II dalam Dekrit tentang Kerasulan Awam, Apostolicam Actuositatem, no. 14 menyatakan: “Terdorong oleh cinta akan bangsanya dan oleh rasa tanggungjawab akan tugas-tugas sebagai warga negara, orang Katolik harus merasa dirinya bertanggungjawab untuk memajukan kesejahteraan bersama dalam arti kata yang sebenarnya. Mereka berusaha memperbesar pengaruh mereka, supaya perundang-undangan sejalan dengan hukum-hukum kesusilaan dan dengan kesejahteraan bersama...Hendaknya orang-orang Katolik, yang mahir dalam bidang politik, dan sebagaimana wajarnya berdiri teguh dalam iman serta ajaran kristiani, jangan menolak untuk menjalankan urusan-urusan umum”.

Dalam pernyataan ini tampak dengan jelas pandangan Gereja Katolik tentang politik. Keterlibatan dalam bidang politik berpangkal dari cinta akan bangsa dan rasa tanggungjawab akan tugas-tugas sebagai warga negara. Dalam arti ini, keterlibatan dalam dunia politik adalah wujud tanggung jawab dari setiap warga negara untuk memajukan kesejahteraan bersama dan mencapai cita-cita bersama, yakni masyarakat yang adil dan makmur. Untuk itu, diperlukan keterlibatan secara aktif dan menggunakan segala kemampuan atau pengaruh yang dimiliki untuk memastikan bahwa setiap undang-undang yang dibuat sejalan dengan hukum-hukum kesusilaan dan bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Tanpa partisipasi aktif dari seluruh warga, khususnya mereka yang berkecimpung dalam dunia politik ada bahaya bahwa undang-undang yang dibuat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal seperti keadilan, perlakuan dan perlindungan terhadap semua golongan, penghormatan terhadap martabat dan hidup manusia serta jaminan terhadap mereka yang lemah.

Dari pandangan ini menjadi jelas bahwa orang Katolik, baik kaum awam maupun para imam, biarawan/wati bukan hanya boleh ikut terlibat dalam dunia politik, tetapi merupakan suatu keharusan. Tentu saja “porsi” keterlibatannya berbeda antara Imam/Biarwan/ti dibandingkan dengan awam sesuai dengan mandat dan tugas masing-masing. Konsep Gereja sebagai umat Allah membuka pintu sangat lebar bagi keterlibatan umat dalam politik. Hal ini dipertegas oleh sejumlah Dokumen Konsili Vat II.

Apostolicam Actuositatem, no. 2, secara khusus menekankan ciri keduniaan dari kehidupan kaum awam beriman kristiani. Dengan ciri khas status hidup awam di tengah masyarakat dan urusan-urusan duniawi, mereka dipanggil Allah untuk dijiwai semangat kristiani, ibarat ragi, menunaikan kerasulan mereka di dunia. Dari dekrit yang sama, no. 9 ditegaskan mengenai pentingnya kerasulan kaum awam, baik internal Gereja maupun dalam masyarakat: “Kaum awam menunaikan kerasulan mereka yang bermacam-ragam dalam Gereja maupun masyarakat. Dalam kedua tatanan hidup itu terbukalah pelbagai bidang kegiatan merasul.” Demikian juga dalam Konstitusi Pastoral tentang Gereja dalam dunia dewasa ini, Gaudium et Spes, no. 52, ditegaskan tentang tanggungjawab semua umat beriman dalam urusan kesejahteraan umum, keamanan, politik, ekonomi, kebudayaan dan hidup berkeluarga, baik dalam menanggung beban keluarga, maupun dalam mendidik anak menuju kepada kesempurnaan.

Lebih jauh Johanes Paulus II, dalam Ensiklik Christi Fideles Laici menyebut bahwa dunia kerasulan kaum beriman kristiani adalah bidang sosial ekonomi, politik, kebudayaan dan pendidikan. Hal ini menemukan pendasaran biblisnya dalam Kis. 2:1-40 yang memberikan inspirasi kepada umat Katolik untuk bergerak keluar dari persembunyian dan berani mewartakan kabar baik kepada semua bangsa. Bagi kita, umat Katolik pada umumnya, usaha kita terlibat dalam politik praktis bukanlah sebagai sarana atau kendaraan untuk melebarkan sayap Gereja. Ekspansionisme dan Proselitisme (mencari kawan sebanyak-banyaknya) sudah bukan waktunya. Tugas utama kita adalah ikut menyumbangkan jasa agar Indonesia semakin menjadi negara dan masyarakat yang lebih baik.

Namun di pihak lain Gereja tetap melarang keterlibatan para uskup, imam, serta rohaniwan dan rohaniwati dalam arena politik praktis. Hukum Kanonik, kan. 287, misalnya mengatakan bahwa para klerus tidak diperbolehkan terlibat dalam dan memimpin partai politik tertentu. Konferensi Wali Gereja Indonesia (2008) membuat pernyataan bahwa demi menjaga objektivitas dan netralitas pelayanan gerejawi, maka pimpinan Gereja tidak dapat merangkap sebagai pengurus partai politik. Mengapa larangan seperti ini dibuat dan terus dipertahankan?

Larangan ini dibuat atas pertimbangan bahwa para Uskup, Imam dan bahkan kaum religious merupakan simbol dan kekuatan yang mempersatukan komunitas umat beriman. Karena itu, apabila terlibat dalam politik praktis dan pada suatu ketika harus berseberangan dengan umat beriman katolik lainnya karena tuntutan politik partisan, maka hal ini akan memperlemah otoritas pengajaran serta posisi mereka sebagai penyatu, pelindung dan pembimbing umat beriman. Kalau demikian, maka pertanyaannya ialah apakah para hirarkis harus tutup mulut terhadap kegelisahan, penderitaan, kemiskinan dan ketidakadilan sosial yang terjadi ditengah masyarakat sebagai akibat dari struktur politik dan ekonomi yang tidak adil?

Ajaran Konsili Vatikan II tentang Gereja di dunia dewasa ini (GS), menyiratkan penegasan yang mengajak seluruh umat beriman untuk mulai bertindak. Adalah saatnya tiba untuk bertindak dan beraksi, bukan berbicara dan berwacana saja. Tindakan dan aksi itu, secara khusus menyasar pada dunia politik dengan komitmen untuk memperjuangkan kesejahteraan bersama. Hal itu ditegaskan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam sambutannya pada tgl 1 Januari 1985: “Sudah saatnya kita mengubah kata-kata menjadi tindakan. Tiap individu, masyarakat dan keluarga, penganut agama, organisasi-organisasi nasional dan internasional, hendaknya mengakui bahwa mereka terpanggil untuk memperbaharui komitmen mereka: bekerja bagi perdamaian”. Dalam hal itu Paus sudah menyuarakan bahwa Gereja harus membawa perdamaian, atau Gereja mengajak semua orang untuk merubah dunia agar lebih damai. Inilah seruan politik dari pemimpin Gereja Katolik bagi dunia.

Keterlibatan dan Pendampingan Hirarki dalam Politik

Berkaitan dengan wujud keterlibatan dan pendampingan Hirarki dalam bidang politik, ajaran Sosial Gereja Octogesima Adveniens, no. 48 mengungkapkan dengan jelas: “Hirarki mengemban tugas untuk mengajar dan menafsirkan secara otentik norma moralitas. Setiap umat awam mengemban tanggungjawab pribadi yang berdasarkan iman dan pengharapan, untuk meresapi tata-dunia dengan semangat kristiani”. Memang ada pembatasan keterlibatan para anggota hirarki dalam dunia politik praktis. Mengingat saratnya dunia politik praktis dengan berbagai macam kepentingan partai, kelompok bahkan pribadi, maka para uskup dan imam hendaknya tidak terlibat langsung dalam dunia politik praktis dalam arti mencalonkan diri dalam pemilihan anggota legislatif maupun eksekutif. Ada pembagian tanggung jawab. Para imam bertanggung jawab memberikan pedoman yang dijabarkan dari norma moralitas, kaum awam bertanggung jawab untuk mewujudkannya dalam keterlibatan nyata.

Keterlibatan pimpinan Gereja dalam urusan politik tentunya tidak bisa dimengerti dalam arti keterlibatan politik praktis seperti mendirikan dan memimpin sebuah partai politik atau gerakan politik tertentu. Demikian pula tidak menduduki posisi atau jabatan legislatif, yudikatif atau eksekutif dalam kehidupan politik. Kalaupun terpaksa menduduki jabatan politis tertentu, maka harus terlebih dahulu mendapatkan izin resmi dari institusi Gereja.  Lebih jauh, keterlibatan para hirarkis dalam urusan sosial-politik lebih dimengerti dalam arti memfasilitasi dialog bersama awam dan masyarakat tentang realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya sehari-hari dalam rangka membangun suatu budaya dan struktur sosial, politik, ekonomi baru yang lebih adil dan manusiawi. Tanggungjawab dalam urusan sosial-politik terungkap lewat usaha menghimpun dan memberi pendampingan iman, ilmu dan pembentukan karakter kristiani kepada awam supaya menjadi terang dan garam dunia melalui kegiatan sosial, politik dan ekonomi serta budaya yang ditekuni.

Pendapingan terhadap para awam itu dimulai dengan upaya membangun sebuah komunio bersama awam dengan tujuan melakukan refleksi bersama secara berkala dan kontinu tentang kenyataan-kenyataan sosial-politik sehari-hari.Refleksi ini dipertajam dengan membaca dan merenungkan bersama Kitab Suci, khususnya refleksi atas pribadi Yesus sebagai penyelamat dan  pembebas. Refleksi itu kemudian diikuti oleh tindakan konkrit bersama demi suatu perubahan sosial-politik yang lebih adil dan manusiawi. Gustavo Gutierez (1983)  menekankan peranan hirarkis sebagai pengajar dan motivator bagi umat beriman supaya tetap setia mengabdikan diri kepada masyarakat kecil, mengupayakan keadilan dan perdamaian serta kesejahteraan dan kebaikan bersama.

Gereja terpanggil untuk merumuskan suatu eklesiologi baru dimana Gereja tidak lagi dilihat sebagai suatu institusi sosial yang terisolir, malainkan bagian integral dari pengalaman hidup umat beriman dan masyarakat umumnya. Gereja adalah bagian dari pengalaman umat manusia akan kegembiraan, sukacita, harapan serta duka dan kecemasan sehari-hari. Gereja adalah umat Allah. Konsep Gereja sebagai umat Allah ini, dirumuskan secara sangat baik dalam GS 1: “Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga”.

Pernyataan Konsili Vatikan II ini mereflesikan adanya keterbukaan luar biasa dari pihak Gereja terhadap kehidupan publik. Konsep Gereja sebagai Umat Allah mendorong kita supaya  lebih aktif mengintegrasikan diri dengan pengalaman hidup umat manusia dan lebih terbuka terhadap situasi politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, perumahan, keadilan sosial, kesejahteraan serta lingkungan hidup masyarakat. Ketika negara dan masyarakat diselimuti oleh situasi ketidakadilan, pelanggaran hak asasi manusia dan penindasan, maka Gereja perlu tampil membantu dan mendidik masyarakat supaya bisa mendefinisikan dirinya sendiri sebagai agen profetis dan pembaharu yang mampu membebaskan diri dari situasi yang dihadapi dengan kekuatan sendiri.

Dalam kaitan dengan situasi dunia yang demikian itu, Gereja dihadapkan dengan suatu tugas yang mahaberat, yakni tugas untuk memberikan ciri manusiawi dan kristiani kepada peradaban modern, kepada situasi perpolitikan; suatu ciri yang diminta dan hampir dituntut oleh peradaban itu sendiri untuk perkembangannya lebih lanjut, agar peradaban itu tidak musnah. Gereja memenuhi tugas ini terutama melalui putra-putri awamnya, yang harus sanggup melaksanakan kegiatan-kegiatan jabatan tersebut, sebagai penunaian atas suatu kewajiban dan sebagai suatu pengabdian dalam persatuan batiniah dengan Allah dan dengan Kristus dan demi untuk kemuliaan-Nya (bdk. Mater et Magistra, no. 56-57). Ciri manusiawi dan kristiani itu menjadi nampak manakala kaum awam yang terlibat dalam dunia politik sungguh-sungguh menjadikan keterlibatan itu sebagai medan karya perutusan, artinya menjadi kesempatan untuk ikut secara aktif merancang, merumuskan dan memutuskan setiap regulasi dan keputusan politik dengan mendasarkannya pada nilai-nilai kemanusiaan: keadilan, kejujuran, pelayanan, pengorbanan dan perjuangan bagi kesejahteraan bersama.

Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatis tentang Gereja (Lumen Gentium), no. 1, menegaskan fungsi sebagai pemberi ciri kristinai itu dengan merujuk Kristus sebagai Terang para bangsa yang menerangi semua orang, agar para bangsa mampu hidup dalam kebenaran dan keadilan serta berani memperjuangkan kebaikan bagi banyak orang: “Terang Bangsalah Kristus itu. Maka Konsili suci yang terhimpun dalam Roh Kudus, ingin sekali menerangi semua orang dengan cahaya Kristus, yang bersinar dalam wajah Gereja, dengan mewartakan Injil kepada semua makhluk (bdk. Markus 16: 15)”. Pernyataan ini mau mengatakan kepada kita, bahwa Gereja dalam Kristus adalah tanda dan sarana, saluran rahmat Allah yang menyelamatkan. Gereja bermaksud menyatakan kepada umat manusia dan dunia, hakekat dan tugas perutusannya di dalam dunia, yakni menjadi Sakramen bagi dunia, tanda dan sarana keselamatan bagi dunia.

Sebagai anggota tubuh Kristus, Gereja dengan caranya masing-masing mengemban tri-tugas Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja. Itu berarti Gereja ada di dalam dunia dan bertugas menggarami dan menerangi dunia dengan Injil Kristus (bdk. Mrk. 16, 15). Gereja berhubungan erat dengan dunia dewasa ini yang dalam ajaran Konsili Vatikan II tentang Gereja di dunia dewasa ini, Gaudium et Spes, no. 1 dinyatakan bahwa “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga”. Dengan penegasan itu, menjadi jelas bahwa Gereja (kaum Awam dan Hirarki) tidak bisa menempatkan diri sebagai kelompok yang terpisah dari dunia, seolah-olah urusan dunia dan perkara-perkara duniawi berada di luar tanggungjawabnya; sebaliknya, Gereja harus “membenamkan” diri di dalamnya sebab “urusan” dunia adalah “urusan” Gereja.

Konsolidasi Komitmen

Gereja Katolik memandang politik sebagai salah satu bidang pelayanan demi perwujudan kasih Allah. Bentuk pelayanan ini mengambil wujudnya paling kongkrit dalam upaya setiap umat beriman memajukan kesejahteraan umum. Kitab Suci mengatakan, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (bdk. Yeremia 29:7). Politik merupakan hak, tanggungjawab dan panggilan semua anggota Gereja. Oleh karena itu, kehidupan politik tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.
Sebagai warganegara yang baik, umat Katolik memiliki kewajiban ikut terlibat dalam memperjuangkan kebaikan umum (bonum commune) yang merupakan tujuan politik (bdk. Kan. 747, § 2). Sebagai insan politik yang mengimani Kristus sudah sepantasnya nilai-nilai Injili  mewarnai cara berpolitik umat Katolik (bdk. Kan. 747, § 1). Nilai-nilai itu adalah: inklusif (nondiskriminatif), preferential option for the poor, HAM, solidaritas, subsidiaritas dan bonum publicum/bonum commune. Nilai – nilai tersebut merupakan dasar visi politik umat Katolik yaitu membangun suatu tatanan politik yang adil, beradab dan mengabdi pada kepentingan umum, terutama kelompok masyarakat yang dirugikan.

Alasan mendasar yang membuat umat Katolik terus terlibat aktif dalam urusan politik terletak pada panggilan Ilahi untuk mempertegas moral politik yang benar yaitu politik demi keadilan, perdamaian, kesejahteraan dan kebaikan bersama serta penghormatan terhadap hak-hak asasi dan martabat manusia. Moral politik ini bertentangan dengan mentalitas individualistik dan etika individualisme. Etika ini mengagung-agungkan kebebasan dan pilihan hidup berdasarkan kepentingan individu semata-mata, tetapi mengabaikan kepentingan dan kebaikan kolektif. Sambil menolak etika individualisme ini, Gereja mengajak semua umat beriman supaya bersikap kritis terhadap setiap idiologi dan etika serta berani menolak idiologi dan etika kehidupan yang berpotensi menghancurkan prinsip kebaikan, kesejahteraan, keadilan, kesatuan dan keselamatan kolektif  yang menjadi tujuan politik yang sesungguhnya.

Merebut Jabatan Publik

Ruang publik dalam kancah perpolitikan adalah ruang yang harus direbut oleh mereka yang ingin berkiprah dalam dunia politik. Kesempatan ditawarkan kepada semua pihak, tetapi tentu saja tidak semua pihak mampu meraihnya. Selain karena kursi atau jabatan yang ditawarkan jumlahnya sangat terbatas dibandingkan dengan pihak “pelamar”, dari lain pihak tiadanya strategi yang tepat dan jitu, ikut menjadi faktor pendukung yang menyebabkan seseorang gagal meraih jabatan publik, baik pada level eksekutif maupun legislatif. Untuk itu perlu dibangun jejaring sosial berupa penguatan dan pemantapan jejaring untuk memupuk modalitas dalam berorganisasi, bersosialisasi dan dalam berwacana. Organisasi menjadi penting karena lewat organisasi seseorang dapat terus mengelola diri secara terpelihara dan berkelanjutan. Melalui modalitas sosialisasi orang mengembangkan kepekaan terhadap lingkungan sosial politik di sekitar, sehingga semakin dikenal oleh pihak lain, dan melalui wacana yang dibangun orang memperkuat kemampuan artikulasi sosial politik, sehingga mampu mengekpresikan diri dan ide-ide politik secara matang dan meyakinkan yang pada akhirnya mampu mempengaruhi pihak lain.

Pilihan Strategi

Menghadapi persaingan yang demikian ketat dalam upaya merebut jabatan publik, selain membangun jejaring sosial serta mengartikulasikan diri melalui modalitas organisasi dan sosialisasi, diperlukan juga sebuah strategi yang tepat. Strategi yang dimaksud adalah cara-cara serta kia-kiat yang diterapkan untuk mencapai tujuan yang dimaksud. Sebelum menentukan pilihan strategi, tentu perlu melakukan pemetaan terhadap kekuatan “lawan” serta kekuatan sendiri beserta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sebagai contoh: banyak caleg dianggap memenuhi kriteria-kriteria seperti yang dituntut oleh publik: berasal dari  keluarga yang harmonis, rukun-damai dan tetap bersatu padu, mempunyai kompetensi, integritas dan moralitas/kepribadian yang baik, bukan tipe peminum dan pemabuk, bebas narkoba, dikenal sebagai tokoh yang suka dan mampu menyelesaikan masalah, baik, rajin, aktif sebaga orang beragama, mempunyai hubungan atau kerja sama yang baik dengan pemuka agama dan pemerintah, mempunyai kepedulian sosial, komitment dalam memperjuangkan kesejahteraan umum, jujur, memenuhi janji dan konsisten, terbebas dari kebiasaan KKN, mempunyai dukungan yang signifikan dan peluang untuk menang; sementara jumlah kursi legislatif yang diperebutkan terbatas.

Berhadapan dengan realita yang demikian itu, perlu dibangun konsensus bersama antara para caleg dengan pilihan mengedepankan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi. Di sinilah, pada titik ini dituntut sikap serta kerelaan dari para calon untuk melepaskan hak untuk dipilih ketika kemungkinan untuk menang tidak sebesar yang dimiliki oleh calon lainnya. Dalam perspektif ini, diperlukan keberanian untuk menyatukan sikap, visi, misi dan komitmen untuk mengusung hanya calon-calon yang memiliki peluang besar untuk menang; sementara itu, para calon lainnya yang peluang keterpilihannya lebih kecil diminta dengan sukarela untuk mengundurkan diri.
Dengan terbangunnya komitmen semacam ini, maka seluruh daya dan kemampuan yang ada diarahkan sepenuhnya untuk mendukung calon yang memiliki peluang besar itu, sehingga peluang keberhasilan akan menjadi lebih besar daripada mengajukan banyak calon dengan konsekuensi suara terbagi, sehingga tidak ada yang berhasil menang. Strategi semacam ini telah terbukti ampuh. Di daerah-daerah seperti di Bali dan Pangkal Pinang dimana jumlah umat Katolik minoritas, tetapi berhasil menempatkan cukup banyak wakilnya di lembaga legislatif. Keberhasilan ini terjadi, karena semua pihak sepakat untuk mengedepankan kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan Gereja daripada kepentingan pribadi.

Di sinilah diperlukan adanya kerjasama antara semua pihak, baik antar kaum awam maupun antara hirarki dan kaum awam. Kehadiran hirarki menjadi penting sebagai tonggak pedoman arah bagi kaum awam yang terlibat dalam dunia politik. Dengan memberikan arahan serta pedoman-pedoman etis yang menjadi dasar pijakan dalam pengambilan setiap keputusan, dapat diharapkan bahwa kaum awam yang terlibat dalam dunia politik dapat membangun komitmen bersama untuk menempatkan kepentingan Gereja sebagai kepentingan yang lebih  besar daripada kepentingan pribadi. Untuk itu, diperlukan adanya kenosis, pengosongan diri dan pertobatan yang sejati yang mengandung tuntutan kerendahan hati serta kerelaan untuk berkorban demi kepentingan umum. Bila hal ini dapat diusahakan dan diwujudkan, tentu kehadiran kaum awam dalam dunia politik tidak hanya besar dalam hal kuantitas, tetapi juga berarti dalam kualitas.

Penutup

Kerasulan awam, yang menukik secara sempit kepada kerasulan dalam dunia politik adalah sakramen, yakni jalan menuju kepada keselamatan. Bidang politik sebagai salah satu bentuk kerasulan awam, dalam arti luas, adalah wujud konkret dari keberpihakan kita demi kesejahteraan bersama dengan keterlibatan sepenuh hati dalam usaha mewujudkan kepentingan umum yang adil, damai dan sejahtera. Gereja Katolik melihat politik sebagai sesuatu yang pada hakekatnya baik, sebagai “seni” untuk mengatur kehidupan bersama dan megusahakan kesejahteraan umum. Oleh karena itu, Gereja sebagai entitas yang berjuang bagi terwujudnya keselamatan dan syaloom, tidak bisa bersikap indifferent dalam dunia politik. Gereja, melalui kaum awam harus terlibat secara aktif dalam dunia politik agar kesejahteraan umum yang diperjuangkan itu secara perlahan tetapi pasti dapat terwujud.

Berhadapan dengan kenyataan politik yang tidak sesuai dengan hakekatnya, Gereja Katolik mengajak semua pihak untuk kembali kepada visi dan misi politik yang sebenarnya, yakni sebagai medium bagi perjuangan kesejahteraan umum dengan berlandaskan pada nilai-nilai keadilan, kejujuran, hormat terhadap martabat pribadi manusia, solidaritas dan subsidiaritas. Untuk itu, Gereja Katolik memperjuangkan pembaharuan politik dengan menekankan perubahan dari politik yang bersifat pencitraan dan politik uang  menjadi politik kompetensi dan pengabdian; dari politik sektarian dan primordialis menjadi politik yang terbuka dan pluralistik; dari politik yang bersifat “top down” menjadi politik yang berpola “bottom up”; dari politik struktural authoritatif menjadi politik konstitusional fungsional dan demokratis; dan dari politik kroni menjadi politik yang terbuka bagi persaingan publik.

Untuk ikut menentukan jalannya politik, Gereja, dalam hal ini kaum awam harus secara aktif terlibat dan ikut mewarnai dunia politik. Hanya dengan terlibat secara aktif, Gereja ikut berperan mengubah dunia politik kearah yang lebih baik. Keterlibatan secara aktif dalam dunia politik melalui perebutan jabatan publik (legislatif dan eksekutif) memerlukan suatu strategi yang jitu. Konsolidasi komitmen adalah salah satu strategi yang telah terbukti ampuh dan dapat diterapkan di tempat lain dalam upaya meraih jabatan publik.

Untuk mewujudkan perubahan tersebut di atas, setiap anggota Gereja perlu berperan aktif sebagai “garam dan terang dunia”, sesuai tugas tanggungjawab, situasi dan kemampuannya masing-masing, serta sesuai aturan yang berlaku. Dalam hal ini semua anggota Gereja: kaum klerus, biarawan-biarawati dan kaum awam dapat dan perlu memainkan peranannya sesuai hak dan kewajibannya sebagai warga masyarakat/negara dan serentak warga Gereja. Secara khusus, kaum klerus serta biarawan dan biarawati dapat berperan secara formatif dan tidak langsung, yakni sebagai pembina, pengawal dan pengontrol dunia politik; sedangkan kaum awam berperan secara praktis dan langsung, sebagai politisi, pemimpin eksekutif dan birokrat.

Bila hal itu tidak dilakukan, maka nasib dan masa depan kita akan ditentukan oleh orang lain seperti yang dikatakan oleh Mgr. Soegijapranata kepada politikus Katolik Indonesia I.J. Kasimo:  ''Jangan biarkan orang lain mengambil keputusan mengenai nasibmu, tanpa kamu terlibat di dalamnya.'' Ini merupakan ajakan kepada setiap orang beriman untuk peka akan kecemasan dan harapan, penderitaan dan kegembiraan bangsa ini. Ini merupakan ajakan bagi segenap insan Katolik untuk teribat secara aktif dalam dunia politik, ikut menentukan masa depan diri dan bangsa. Menjadi orang Katolik Indonesia berarti 100 % Katolik dan 100% Indonesia (Rm I Ketut Adi Hardana, MSF)

Bahan Bacaan:

  1. Robert E. Goodin and Hans-Dieter Klingemann, A New Handbook of Political Science, Oxford University, Oxford 1998.
  2. Gustavo Gutierez,  Reflections from a Latin American perspective: finding our way to talk about God," in V. Fabella & S. Torres (eds.) Irruption of the Third World: Challenge to Theology (Maryknoll NY: Orbis, 1983).

Saya bangga menjadi bagian dari Keluarga Besar Yesus Gembala Baik, dalam perjalanan pelayanan gereja selama 5 (lima) tahun ini, saya merasa diperkaya dengan pengalaman iman yang belum pernah saya dapatkan. Sesekali bisa ikut bersama pastor atau frater dalam memberikan pelayanan ke stasi-stasi, sehingga saya bisa becermin pada kehidupan umat stasi dalam perjuangan mengembangkan gereja di tempat masing-masing.

Kadangkala saya juga tertegun pada semangat mereka dalam gotong royong misalnya, disitulah nampak bahwa pengorbanan total dilakukan oleh mereka, yach bagaimana tidak...mereka hanya punya waktu untuk mengahasilkan uang untuk makan hari ini, ketika mereka ambil bagian bergotong royong maka tidak ada waktu untuk mendapatkan uang sementara untuk besok mereka harus mencari lagi untuk makan esok. Lalu bila dibandingkan seandainya aku dalam sehari mendapat uang Rp. 150.000,- lalu kusumbangkan Rp. 100.000,- untuk gereja ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan mereka karena aku masih punya Rp. 50.000,- yang masih bisa kugunakan untuk makan.

Sungguh saya merasakan begitu besar ganjaran kasih Tuhan ketika kita mau meluangkan waktu untuk Tuhan. Proficiat untuk Paroki YGB yang merayakan Lustrum Unum 15 Agustus 2015, semoga semangat para gembalanya selalu berkobar-kobar untuk menemukan domba-domba yang tercecer dan selalu membutuhkan perhatian.

Menginjak usia lima tahun ini, Paroki YGB masih dalam proses pembenahan dan masih membutuhkan kerja keras dari umat terutama dalam menyelesaikan pembangunan gedung gereja. Disela-sela kesibukan pembangunan tersebut, Paroki YGB merayakan Lustrum Perdana dengan berbagai kegiatan yang sangat membangun persaudaraan umat. Berbagai perlombaan dilaksanakan untuk menghimpun umat dalam kegembiraan bersama. Rangkaian acara tersebut berpuncak pada tanggal 16 Agustus 2015 yang dilaksanakan di pusat paroki.

Kisah belum selesai. Pekerjaan belum selesai. Masih banyak yang harus dituturkan dan masih banyak yang sangat perlu dikerjakan. Kiranya, sejarah singkat ini dapat diteruskan dalam perjalanan waktu sehingga menjadi sebuah sejarah yang sempurna bersama kehadiran Sang Empunya Sejarah, Allah yang selalu menyertai umat-Nya.

Informasi Paroki Saat Ini

Pelindung         : Yesus Gembala Baik
Pastor Paroki         : Pastor Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD
          Pastor Damianus Ediwinarto, SJ
Keuskupan : Palangka Raya
Alamat Surat : Jl. Tjilik Riwut Km. 9,
Kelurahan : Bukit Tunggal
Nama Daerah : Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan
                                  Tengah 73112
Sejarah Dibentuk : 15 Agustus 2010

Statistik
Stasi          : 8 Stasi
Jumlah Lingkungan : 6 Lingkungan (sebelumnya 5 lingkungan)
Jumlah Imam : 2 Orang (sebelumnya 3 orang)
Jumlah Umat : 178 KK

Lingkungan
Sebaran jumlah Kepala Keluarga (KK) dalam lingkungan:
1. Lingkungan Markus : 27 KK
2. Lingkungan Matius : 35 KK
3. Lingkungan Mikael : 35 KK
4. Lingkungan Gabriel : 45 KK
5. Lingkungan Paulus : 36 KK (sekarang dibagi dua, yakni Paulus 1 dan Paulus 2).

Stasi
Sebelumnya semua stasi, terletak di Kabupaten Pulang Pisau, tersebar di dua kecamatan dan dikelompokkan menjadi 3 blok:
1. Kecamatan Kahayan Tengah seperti Bukit Rawi, Petuk Liti, Bukit Liti dan Tahawa;
2. Kecamatan Banama Tingang : Tumbang Tarusan, Pandawei, Bawan, Pangi dan Tangkahen;
3. Kecamatan Banama Tingang : Hanua, Ramang, Lawang Uru, Manen Paduran, Bereng Rambang
        Saat ini terdapat tambahan satu stasi baru yaitu Stasi Babugus yang terdapat di Kabupaten Kapuas.

Berawal dari bantuan 500 juta rupiah dari Pemerintah Kota Palangka Raya, Paroki YGB memulai pembangunan gedung gereja. Peletakan batu pertama gereja dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2012. Batu-batu pertama gereja ini diambil dari berbagai sumber, dari berbagai suku dayak  Kalimantan Tengah. Batu-batu tersebut  dihantar ke pusat paroki dengan melaksanakan ‘napak tilas’ dengan jarak 110 kilometer. Jarak sejauh itu ditempuh dengan berjalan kaki sambil berdoa. Perjalanan itu dimulai dari titik nol pada hari pertama, yakni di  Tangkahen (stasi paling ujung di Paroki YGB). Dari sanalah para pejalan kaki ini menggendong batu-batu pertama dan air dari berbagai sumber untuk digunakan sebagai materi pada peletakan batu pertama. Sambil melakukan perjalanan yang luar biasa ini, mereka mampir di setiap stasi untuk menjemput sumbangan stasi-stasi, menginap di jalanan dan di rumah-rumah umat. Hari ketiga, sesuai dengan rencana, rombongan semakin besar, biarawan-biarawati, tua muda, bahkan anak-anak, tiba di pusat paroki, bertepatan dengan upacara peletakan batu pertama gereja yang saat ini pembangunannya sedang berlangsung.

Pembangunan ini, masih harus dilanjutkan karena baru sampai tahap pondasi. Swadaya umat berupa 1.000 rit tanah urugan, dibantu oleh pemerintah kota dan berbagai kalangan lain. Dana sebesar 1 milyar sudah ada dan sedang dikelola untuk melanjutkan pembangunan ini. Diperkirakan, bangunan gereja ini selesai dengan biaya 7,5 M.

Paroki YGB di usia menuju lima tahun, terus-menerus membina diri dengan tenaga-tenaga pastoral awam intern, dan berusaha menyelesaikan pembangunan gedung untuk sarana peribadatan. Paroki YGB diabdikan untuk menjadi areal terbuka bagi segala suku dan agama dihimpun menjadi satu sambil memperhatikan budaya setempat. Cita-cita ini tertuang dalam visi dan misi yakni “menjadi gereja yang inkulturatif dan ekumenis.

Saat tulisan ini diluncurkan, pembangunan Gedung Gereja masih terus berlangsung. Gambar di atas adalah rekaman terakhir saat sejarah ini diluncurkan.

Paroki Yesus Gembala Baik  lahir tanpa gedung gereja, tanpa rumah pastoran, tanpa sekretariat, tanpa dana, tanpa sarana dan prasarana pastoral. Sesuai dengan lampiran SK Uskup Nomor SK/USKUP/30.PP/VII/2010,  pada saat dilahirkan, paroki ini diserahi umat sejumlah 178 KK menurut rincian jumlah KK di lingkungan paroki induk tanpa perincian jumlah jiwa di dalamnya.

Sejak berdirinya paroki, para pastor yang bertugas belum memiliki rumah tinggal (pastoran) sehingga mereka menempati rumah SVD Soverdi Palangka Wacana di Jl. Tjilik Riwut Km 5,5 Palangka Raya (depan kantor Walikota Palangka Raya). Rumah tinggal sementara tersebut sekaligus difungsikan sebagai Sekretariat Paroki. Karena belum memiliki gereja (gedung), perayaan liturgis / misa dipusatkan di Gereja Santo Yosep, Jl. Kakatua – Perumnas Palangka Raya, yang merupakan wilayah Paroki Katedral Palangka Raya. Sedangkan untuk misa harian menggunakan kapel rumah retret milik Soverdi Palangka Wacana.

Dalam pembicaraan tidak resmi bersama P. Frederikus  Parera, SVD, tercetuslah sebuah ungkapan yang ternyata sampai saat ini terbukti keberhasilannya. Beliau mengatakan bahwa yang paling pertama harus dilakukan dalam membenahi paroki baru ini adalah “menggembleng” manusianya. Maksudnya adalah bahwa kualitas SDM umat Paroki YGB harus dibina dulu agar kekompakkan dan kebersamaan tetap terpelihara. Tentu saja, dalam upaya pembinaan tersebut, kualitas keberimanan tetap menjadi perhatian utama sehingga segala yang dicita-citakan dapat tercapai dengan baik.

Ternyata, bukan hanya umat Paroki YGB yang memperhatikan keadaan awal paroki ini. Dukungan dari berbagai pihak pun datang bergantian. Dukungan moril dan materil pun mulai diterima. Kendaraan operasional, peralatan liturgis dan peralatan pendukung lainnya.  Ada yang mengantar komputer, kulkas, dan lain-lain, sehingga perlahan-lahan semakin banyak pihak yang berpartisipasi demi kemajuan paroki baru ini.

Sejak tahun 2003 Bapak uskup Palangka Raya, Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF, sudah mencanangkan pemekaran Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya. Wacana pemekaran Paroki itu ditindaklanjuti dengan Surat No. 01/K-PK-02/04-05 tertanggal 01 April 2005 tentang Pengembangan/Pemekaran Paroki Katedral yang ditujukan kepada Dewan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya.

Setelah mempelajari isi surat bapak Uskup tersebut, Dewan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya memberi Surat Tugas No. 18/DP/VII/2005 tanggal 26 Juli 2005 kepada bapak Albert C. Dahan untuk menjajaki segala sesuatu yang berkaitan dengan pemekaran Paroki Katedral St. Maria, termasuk personalia Panitia Pemekaran Paroki Katedral St. Maria. Berdasarkan usulan dari bapak Albert C. Dahan lewat suratnya tertanggal 31 Agustus 2005, Dewan Paroki Katedral St. Maria mengeluarkan Surat Keputusan tertanggal 26 September 2005 tentang pembentukan Kepengurusan/Tim Pengembangan /Pemekaran Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya. Tim Pengembangan/Pemekaran mulai bekerja mencari tanah/lokasi untuk pembangunan gereja paroki yang baru.

Setelah menjajaki beberapa alternatif tanah yang ditawarkan, akhirnya diputuskan untuk membeli sebidang tanah seluas 20.662 m2 yang terletak di Km 9, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya. Transaksi jual beli tanah dilakukan oleh pihak Keuskupan dengan pemilik tanah pada tgl. 19 Mei 2008 di hadapan PPAT Pioni Noviari, SH. Selanjutnya dimantapkan persiapan untuk pemekaran Paroki Katedral yakni penetapan tanggal Deklarasi Lahirnya Paroki Baru yakni 15 Agustus 2010, Hari Raya SP Maria Diangkat Kesurga, yang didahului dengan penetapan batas Paroki (Jl. Tingang), pemilihan Pengurus Lingkungan dan Dewan Paroki.

Pada tanggal 15 Agustus 2010 dalam perayaan Ekaristi di Gereja Katedral St. Maria Palangka Raya, dideklarasikan Lahirnya Paroki Yesus Gembala Baik dengan Pastor Parokinya P. Laurentius Ketut Supriyanto, SVD dan dibantu oleh P. Frederikus Parera, SVD dan P. Damianus Ediwinarto, SJ. Dalam perayaan itu juga dilantik Pengurus Dewan Paroki yang perdana. Paroki Yesus Gembala Baik meliputi lima Lingkungan yakni Ling. Sto. Paulus, Sto.Mikael, Sto. Gabriel, Sto. Mateus dan Sto. Markus dan semua Stasi yang berada di wilayah bagian Utara Kabupaten Pulang Pisau yakni Wilayah Kecamatan Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, dan Kecamatan Banama Tingang.

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Bapa yang maharahim atas berkat dan karunia-Nya, kita bersama-sama diperkenankan memasuki tahun kelima (Lustrum I) Paroki Yesus Gembala Baik (YGB) Palangka Raya. Berbagai suka duka telah mewarnai perjalanan paroki kita. Begitu banyak umat kita yang dengan caranya sendiri-sendiri telah berusaha untuk memberikan yang terbaik sesuai kemampuan, fungsi, tugas dan peran masing-masing.

Pada moment penting ini, kita semua diajak untuk berefleksi berhubungan dengan peran Gereja di masa-masa yang akan datang. Kita berharap, Gereja semakin dewasa dalam mengembangkan misinya secara langsung untuk pembangunan masyarakat Palangka Raya pada umumnya, dan umat katolik pada khususnya. Perjalanan 5 tahun tidaklah dilalui tanpa tantangan. Semua tantangan itu telah dilewati berkat penyertaan Tuhan.

Pada kesempatan yang baik ini, kami ingin melaporkan kepada Dewan Paroki serta kepada seluruh umat, bahwa kami Panitia telah bekerja sama dengan Seksi, Kelompok Kategorial serta beberapa Komunitas dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Berbagai kegiatan telah kita lalui sejak tanggal 25 juli 2015, baik kegiatan olah raga, donor darah dan kegiatan sosial lainnya.

Sebagai ungkapan syukur kita, atas semua rahmat Tuhan yang telah tercurah kepada seluruh umat di Paroki YGB, Lustrum I Paroki kita, bertepatan dengan pencanangan tahun 2015 sebagai “TAHUN LITURGI”. Maka dengan melibatkan beberapa Komunitas, pada puncak rangkaian kegiatan dipersembahkan MISA INKULTURASI secara penuh dengan harapan dapat menumbuhkan keakraban dan kedalaman persaudaraan, saling mengenal Budaya antar Umat, sebagai Keluarga Besar Paroki YGB.

Di tengah kegembiraan dan sukacita umat dalam merayakan Lustrum I paroki kita, hendaklah kita bermenung sejenak untuk merefleksi makna sebuah ulang tahun. Dalam berbagai makna, evaluasi hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Di satu sisi, ulang tahun dapat menjadi momentum untuk menilai kembali rentang waktu perjalananyang telah kita lalui bersama, baik keberhasilan maupun rintangan. Dengan memaknai kedua makna tersebut maka dalam merayakan Lustrum I ini kita tidak terperangkap pada kegiatan-kegiatan seremonial lahiriah belaka melainkan memanfaatkan moment ini untuk melihat sejauhmana keterlibatan dan peran kita masing-masing dalam membangun paroki ini menuju kedewasaan melaui doa dan karya kita.

Akhirnya atas nama Panitia Lustrum I Paroki YGB Palangka Raya, kami sampaikan terima kasih kepada para pastor, suster, ketua lingkungan dan seluruh umat yang telah turut memberikan bantuan dan perhatian dengan berbagai cara dan perannya masing-masing sehingga perayaan Lustrum I ini dapat berlangsung dengan lancar. Selamat HUT ke 5 Paroki YGB, Tuhan memberkati kita senantiasa.

Yohanes Bambang Wiguno
Ketua Panitia Lustrum I Paroki YGB



Pertama-tama, mewakili Pengurus Dewan Paroki dan seluruh umat Paroki Katedral Sta. Maria Palangka Raya, kami ucapkan Proficiat kepada para Pastor, pengurus Dewan Paroki dan seluruh umat Paroki Yesus Gembala Baik! Selamat merayakan Lustrum Pertama paroki Yesus Gembala Baik.

Usia 5 tahun, dibandingkan dengan usia manusia, dikatakan sudah melewati usia balita (bawah lima tahun) dan akan memasuki usia alita (atas lima tahun). Kata para ahli, usia balita merupakan fondasi untuk perkembangan kepribadian selanjutnya. Seperti apa perkembangan kepribadian seorang anak manusia selanjutnya sangat ditentukan oleh apa yang sudah dibentuk pada usia balita. Dalam analogi seperti itu, ketika Paroki Yesus Gembala Baik merayakan Lustrum pertama, boleh dikatakan paroki Yesus Gembala baik sudah selesai membangun fondasi yang koko untuk perkembangan selanjutnya dalam segala aspek.

Perayaan Lustrum pertama merupakan perayaan syukur atas karya Tuhan bersama seluruh umat membangun fondasi bagi perkembangan Paroki selanjutnya. Dibalik syukur atas apa yang sudah dilakukan Tuhan, terbentang sebuah tugas baru untuk bekerja keras membangun Paroki baik fisik maupun iman. Sambil melihat jejak-jejak karya Tuhan sepanjang lima tahun, Paroki Yesus Gembala baik dapat penuh optimis menatap masa depan.

Sebagai paroki induk yang telah bersama memekarkan Paroki Yesus Gembala Baik, kami pun ikut bergembira dan berbangga atas kemajuan yang sudah diraih dan kami doakan semoga Tuhan memberkati upaya para pastor, Dewan Paroki dan seluruh umat membangun Paroki sesuai dengan visi dan misi yang telah dicanangkan.

Proficiat! Selamat merayakan Lustrum pertama.

Rm. Alexius Dato'L, SVD

Paroki pemekaran yang menjadi paroki kedua di ibu kota propinsi Kalimantan Tengah ini mendapat nama pelindung Yesus Gembala Baik (YGB). Tak terasa, paroki ini sudah menginjak usianya pada tahun kelima, sehingga diadakankah Perayaan Lustrum Perdana (I). Tepat pada tgl, 15 Agustus 2010, Dewan Paroki yang pertama diantik di Paroki Katedral sebagai tanda resmi dimulainya pemekaran paroki YGB. Seluruh umat bersyukur atas perkembangan yang terjadi dalam Gereja lokal Keuskupan Palangka Raya pada umumnya dan secara khusus umat di kota Palangka Raya.

Memang kadang bisa disalah-mengerti bahwa pemekaran diartikan sama dengan pemisahan. Itulah yang ditangkap beberapa umat ketika dalam khotbah HUT Paroki Katedral yang ke-40, saya menyampaikan gagasan perlunya pemekaran paroki di kota Tambun Bungai ini. Ketika itu saya melemparkan gagasan untuk memekarkan katedral menjadi dua paroki, sehingga di Palangka Raya, ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah ini ada dua paroki. Sebagai langkah awal, dibentuk tim dan diadakan macam-macam pembicaraan. Wacana demi wacana pembagian wilayah dua paroki dipaparkan dan mendapatkan macam-macam tanggapan. Sesudah dipertimbangkan macam-macam seginya, maka dimantapkanlah pembagian wilayah yang sampaikan sekarang berlaku untuk kedua paroki kota ini.

Jauh sebelum pembagian itu ditetapkan, Panitia sudah mencari lokasi  untuk mendirikan gereja, pastoran dan bangunan-bangunan lain yang diperlukan. Beberapa lokasi dijajaki. Persyaratan yang diajukan antara lain: lokasinya harus strategis, di pinggir jalan yang mudah dijangkau oleh kendaraan umum, luas tanah sekitar 2 Ha, dan untuk pembangunannya tak terlalu mahal, misalnya karena tanah rendah, rawa-rawa, sehingga perlu tanah timbunan banyak. Setelah mempertimbangkan beberapa kemungkinan, akhirnya didapatlah tanah yang berada di Jl. Tjilik Riwut Km 9. Pembelian dilaksanakan dengan saksama didampingi  oleh notaris. 

Setelah dibeli secara sah dan resmi dengan sertifikat yang sudah diselidiki di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) semua beres, ternyata masih bisa timbul masalah. Ada pihak yang menuntut sejumlah uang  karena merasa juga memiliki tanah tersebut. Bahkan pihak-pihak itu pernah mengirim somasi kepada uskup sampai tiga kali, ditembuskan ke pelbagai pihak sampai tingkat nasional, seperti Menteri Agama, Dirjen Bimas Katolik, juga Gubernur, Walikota, dll. Setelah mengadakan pertemuan para tokoh umat dan staf  BPN serta  pihak-pihak yang mengerti soal hukum pertanahan, akhirnya diputuskan agar somasi itu dibiarkan saja. Bahkan ada yang mengirim surat ke kantor walikota, agar IMB tidak dikeluarkan dengan alasan masalah kepemilikan tanah masih disengketakan. Setelah petugas yang memeriksa surat-surat kelengkapan yang menjadi syarat-syarat untuk IMB sudah terpenuhi, IMB yang ditunggu oleh tim kerja pembangunan Gereja YGB diterbitkan. Nomor IMB segera dipancangkan pada papan nama di lokasi pembangunan, dan sejak saat itu berhentilah somasi itu. 

Ketika dicari nama untuk paroki yang baru, ada banyak masukan diterima oleh Dewan Keuskupan dan Panitia Pemekaran. Tiap usulan dipertimbangkan, dan akhirnya disepakati bahwa digunakan nama Yesus Gembala Baik. Beberapa pertimbangan yang muncul: Katedral menggunakan nama pelindung Bunda Maria, Gereja di perumnas dengan nama Gereja St. Yosef, maka tepatlah kalau Gereja baru itu diberi nama pelindung Yesus, dengan gelar Gembala Baik. Nama itu belum dipakai oleh paroki lain di keuskupan Palangka Raya. Memang di tempat lain ada Gereja dengan nama pelindung Yesus, tapi dengan gelar Raja Semesta Alam (Nanga Bulik). 

Nama Yesus Gembala Baik juga dikaitkan dengan visi-misi Gereja baru itu. Gagasan yang muncul antara lain: Gereja ini dimaksudkan sebagai representasi umat beriman yang berkehendak untuk mengadakan dialog-ekumenis dengan saudara-saudari beriman lainnya, seperti Gereja-gereja Kristen, Muslim, Kaharingan, dll. Yesus menjadi Gembala Baik untuk semua umat beriman, yang tentunya semuanya berkehendak baik. 

Gereja Paroki YGB juga dimaksudkan untuk menjadi Gereja yang inkulturatif. Umat beriman pada Kristus yang tergabung dalam paroki ini diharapkan bisa menghargai budaya, adat-istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang ada di sekitar kita. Istilah yang menjadi kearifan lokal berbunyi: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itulah cermin kebersamaan hidup yang saling menghargai. Umat beriman diharapkan mampu menemukan nilai-nilai yang baik, luhur dan suci  pada unsur-unsur budaya lokal, tempat umat hidup bersama dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan menghargai hal-hal yang ditemukan pada budaya dan agama setempat itulah, maka umat juga ikut mendukung budaya rumah betang, hidup bersama saling menghormati, tolong menolong, saling mengasihi dan saling mendukung di bawah satu atap yang sama yang disebut rumah betang.   

Untuk mewujudkan visi-misi itu, perlulah dipraktekkan semboyan Gereja sebagai umat beriman yang ramah lingkungan. Dua arti dimaksudkan dalam istilah ramah lingkungan, yaitu: pertama, pelestarian lingkungan hidup yang mewarnai gaya membangun lingkungan, penanaman pohon yang menghijaukan sekitar, pengelolaan sampah yang berdaya guna, seperti daur ulang sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan lagi. Kedua, ramah lingkungan berarti bersikap ramah terhadap tetangga dan orang-orang di sekitarnya. Gaya pengaturan kompleks bangunan dan penataan ruang-ruang diharapkan bisa memberi suasana terbuka, menjadikan masyarakat di sekitar berani untuk datang, dimungkinkan adanya tempat untuk olah raga, bermain bagi anak-anak, dll. Di kompleks itu terjadi interaksi yang sehat dan ramah bagi siapa saja yang berkunjung, berkumpul, mengadakan acara-acara bersama, baik di kalangan umat sendiri maupun bersama umat dari agama lain dan siapa saja yang tinggal di dekatnya.

Tak terasa, pemekaran itu telah berjalan 5 tahun. Bangunan pertama yang sudah selesai dibangun terdiri dari: ruang serba guna yang sekaligus berfungsi sebagai tempat untuk beribadat, beberapa kamar dan ruangan untuk para pastor yang berkarya dan sejumlah fasilitas telah tersedia dan dimanfaatkan dengan baik. Konsolidasi dan penggalangan kesatuan umat dan membentuk paguyuban umat beriman secara teritorial kiranya sudah berjalan dengan baik sekali. Antara umat di pusat paroki dan lingkungan-lingkungannya dengan umat di stasi-stasi telah terjadi interaksi dan kerjasama yang erat dan kompak. 

Bangunan berikutnya yaitu gedung Gereja yang sedang dan terus dikerjakan. Kerjasama pastor paroki, pastor rekan, pengurus dewan paroki, ketua-ketua lingkungan dan stasi serta unsur-unsur lain kelihatan cukup intens dan menampakkan hasil-hasil yang nyata. Hal inilah yang perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan. Tentu saja masih ada yang perlu diusahakan lebih lanjut, seperti misalnya: kemandirian dalam pelbagai bidang: sumber daya manusia (panggilan untuk menjadi petugas tertahbis dan non tertahbis, biarawan-biarawati, masih perlu ditingkatkan), bidang finansial, bidang managerial yang makin transparan dan akuntabel. Pada kesempatan merayakan lustrum I ini layaklah seluruh umat bersyukur atas anugerah dan bimbingan Tuhan yang bijaksana terarah demi kemuliaan-Nya. Sekaligus menjadi momen untuk evaluasi dan introspeksi dalam menyongsong masa depan Gereja agar umat beriman makin berkenan kepada Allah dengan iman yang dewasa dan makin berdedikasi melayani umat pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Selamat dan proficiat atas Lustrum I Paroki Yesus Gembala Baik, Tuhan memberkati.

+ Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka MSF.
Uskup Palangka Raya.

Usia lima tahun atau panca warsa atau lustrum I (prima) dies natalis Paroki Yesus Gembala Baik (YGB) jatuh pada tanggal 15 Agustus 2015. Hari kelahiran Paroki ini bertepatan dengan Perayaan Pelindung Paroki Induknya, yakni Paroki Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Pada tanggal yang bersamaan tersebut, kedua paroki yang berkedudukan di Kota Palangka Raya ini merayakan hari istimewa secara bersamaan.

Diintensikan untuk menjadi Gereja yang menghimpun segala macam golongan, budaya, latar belakang bahkan juga semua orang tanpa memandang agama, maka selama lima tahun, Paroki YGB berusaha menghidupi semangat Sang Pelindung Utama yakni Yesus Gembala Baik. Menjadi seperti Yesus Gembala Baik tentu bukan perkara mudah. Meneladani Yesus Gembala Baik itu menjadi panggilan dan upaya terus menerus bagi segenap Keluarga Besar YGB. 

Walau tak mungkin menyetarakan diri dengan Yesus Sang Gembala Baik,  dalam usia menginjak lima tahun, tanpa disadari, jejak-jejak Yesus Gembala Baik semakin nyata tertular kepada setiap anggota Keluarga YGB. Rupa nyata tertampak dalam bagaimana semangat Yesus Gembala Baik menjadi jiwa kehidupan menggereja. Sebagaimana Yesus sendiri, dari segenap Keluarga Besar YGB, muncullah semangat menghimpun mereka yang terlupakan, saling memelihara dan merawat dalam iman, saling meneguhkan dengan dialog terbuka, saling bantu dalam hal ekonomi, sehingga tidak diperbolehkan satupun anggota YGB yang merasa berjuang sendirian. Tidaklah salah bila paroki ini menyebut diri dengan Keluarga Besar, yang juga memiliki kegiatan rutin tahunan berupa “Pesta Keluarga”. Pesta yang jatuh pada setiap Pekan IV Paskah, bertepatan dengan Pesta Minggu Panggilan atau Minggu Gembala Baik, yang sekaligus menjadi ajang animasi panggilan khusus. Pesta Keluarga ini juga dilengkapi dengan piala bergilir antar lingkungan dan stasi yang diperebutkan menjelang Ulang Tahun Kelahiran Paroki ini. 

Lingkungan di pusat Paroki yang pada awalnya berjumlah lima (Matius, Markus, Gabriel, Mikael dan Paulus), kini sudah mekar menjadi enam lingkungan dengan mekarnya Lingkungan Paulus menjadi Paulus 1 dan Paulus 2. Lingkungan lain pun akan mekar karena jumlah umat masih sedang didata dan proses pemekaran lingkungan juga sedang berjalan. Masing-masing lingkungan memiliki akselerasi dan setiap lingkungan memiliki tanggung jawab memelihara saudaranya di satu atau dua stasi. Petuk Liti, Bukit Liti, Bereng Rambang, Manen Paduran, Lawang Uru, Hanua, Ramang, Bawan, Pandawei, Tumbang Tarusan, Pangi dan Tangkahen menjadi stasi-stasi tempat mampir dan merayakan ekaristi. Meskipun tidak semua desa atau stasi memiliki tempat ibadat, rumah-rumah keluarga juga menjadi tempat yang pantas untuk berkumpul. Kegiatan berkumpul bersama yang terjadi rutin di lingkungan, juga terjadi di beberapa stasi. Kini jumlah stasi bertambah  dengan ditemukannya pada 25 Desember 2014, sekelompok umat yang bermukim di perkebunan sawit di desa Bagugus dan Tabore kecamatan Mentangai, Kabupaten Kuala Kapuas. Seyogyanya wilayah ini termasuk dalam administrasi Paroki Santo Matius Kuala Kapuas. Sejak 25 Desember 2014, kelompok umat ini diserahkan untuk menjadi bagian Keluarga Besar YGB, setelah delapan tahun tak terjangkau pelayanan rohani.  Bertambahnya anggota keluarga ini menjadi kekuatan dan semangat nyata dari seluruh umat YGB yang mencari.

Menemani perkembangan Paroki ini sejak berdirinya bersama RD. Damianus Ediwinarta, kami bersyukur karena menjadi saksi nyata seluruh perkembangan jasmani dan rohani Keluarga Besar YGB hingga usia lima tahun ini. RP. Frederikus Pareira, SVD yang turut membidani lahirnya Paroki ini dari induknya dan memperkuat semangat umat di saat-saat awal berdirinya, juga memberi warna dasar bagi hidup Paroki ini, bersama dengan RP. Alexander Dato Lelangwayan, SVD dan Dewan Paroki Katedral Palangka Raya. 

Sejak awal berdiri, Paroki ini diperkuat oleh barisan para biarawan-biarawati: KSSY, TMM, PI, SFD, SND, MC, MSF dan SVD. Tentu ini menjadi kekuatan tersendiri dengan keterlibatan para biarawan-biarawati. Komunitas PI telah menarik diri ke Tamiyang Layang, namun kini anggota biara bertambah dengan kedatangan biarawati SMMI dari India yang akan menangani Rumah Sakit Keuskupan di pal 6. Kehadiran biarawan-biarawati menjadi pupuk bagi perkembangan umat mulai dari SEKAMI, Orang Muda Katolik, Legio Mariae, Misdinar, Dewasa, bahkan Lansia dan Warga Binaan. 

Juga pada awal berdirinya, Keluarga Besar YGB belum memiliki tempat ibadah dan rumah pusat yang tetap. Selama dua tahun pertama, gedung gereja Santo Yoseph di Perumnas dan Kapela SOVERDI Palangka Wacana menjadi tempat berkumpul dan aneka kegiatan. Keluarga Besar YGB juga berterima kasih kepada Societas Verbi Divini (SVD) yang sudah mengakomodir segala keperluan di saat tidak memiliki apa-apa sampai segala proses yang menyertai dalam urusan tanah dan pembangunan awal di pal 9 menunjukkan titik terang.

Pantaslah pada usia kelima, lustrum pertama Paroki YGB, kita para Dewan Paroki selama dua periode ini dan juga segenap panitia yang pernah ada, untuk saling berterima kasih karena saling memelihara, saling merawat dalam suka dan duka walau hanya ada ubi rebus dalam setiap perayaan besar karena sukacita bukanlah soal ubi rebus. Pun pula, terima kasih kepada Pemerintah Daerah melalui Pemerintah Kota Palangka Raya dan para donatur yang turut memberi perhatian pada perkembangan dan pembinaan iman umat. Masih terbentang usia yang panjang dan segala perjuangan untuk menjadi Keluarga Besar sebagaimana diintensikan pada awal berdirinya. 

Proficiat Keluarga Besar YGB. Selamat Ulang Tahun. Mari menjadi Gembala Baik bagi diri dan siapapun. Tuhan memberkati.

RP. Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD
Pastor Paroki YGB

Rangkaian kegiatan LUSTRU Paroki YGB, berbagai perlombaan diselenggarakan. Salah satu yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Agustus 2015 adalah Lomba Paduan Suara. Masing-masing lingkungan berusaha menampilkan yang terbaik. Berikut ini foto peserta lomba.

Lingk. St. Matius
Lingk. St. Markus
Lingk. St. Mikael
Lingk. St. Paulus I
Lingk. St. Paulus II

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget