MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Desember 2015

Pendahuluan 
Simbol air dalam Kitab suci disadari kerap mengungkapakn arti yang cukup luas, tak terbatas, dan terkandung unsur misteri di dalamnya. Air dalam injil Yohanes juga mengandung beberapa pengertian. Injil Yohaes merupakan injil tanda-tanda dan kemulian tentang diri Yesus. Air sebagai suber hidup dalam perikop inijil Yohanes ini kiranya dapat membantu kita untuk memahami lebih dekat serta mendalam tentang siapa Yesus dan apa yang diwartakan-Nya.

Simbol Air dalam Tradisi Yahudi
Wilayan di Palestina relatif kekurang air. Padalah di daerah yang cukup tandus penyediaan air mutlak diperlukan untuk hidupnya tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Oleh karena itu orang Israel harus menggunakan berbagai usaha dan saran guna mencukupi kebutuhan akan air sepanjang tahun.

Palestina memiliki sedikit aliran sungai yang dapat digunakan untuk irigasi. Hujan hanya turun beberapa bulan di musim hujan. Oleh karena itu orang-orang Israel kuno harus bergantung seluruhnya pada air tanah baik dari sumber air atau dari sumur. Cara lain untuk persediaan air yang cukup adalah dengan menyimpan air hujan pada musim hujan pada musim hujan dalam sebuah bak atau kolam.[1]

Secara garis besar kegunaan air dapat dibagi dua, yaitu: kegunaan sekular dan kegunaan religius. Pada penggunan sekular biasanya dalam bidang irigasi. Air dipakai juga untuk keperluan masak, minum dan memberi minum pada ternak-ternak oleh para gembala.[2]

Air dalam bidang religius banyak memiliki fungsi simbolis. Untuk penyucian seremonial, biasanya air dipakai untuk membersihkan tubuh. Seorang imam misalnya dituntut untuk membersihkan (menyucikan) tubuhnya atau paling tidak menyucikan tangan dan kakinya sebelum menjalankan tugas religiusnya. Ritus penyucian pakaian atau permandian atau barang-barang lain bagi semua orang Israel telah ditentukan dalam hubungannya dalam berbagai upacara penyucian. Pada kasus-kasus tertentu selain menerima pembersihan air, seseorang harus disucikan secara ritual dengan cairan khusus yang merupakan percampuran air dan abu.[3]

Tradisi Judaisme meletakkan tekanan besar pada penycian ritual. Orang-orang Farisi pada zaman Yesus termasuk teliti sekali dalam ketaatan pada pelaksanaan upacara seperti itu. Dalam Yudaisme penggunaan seremonial air merupakan bagian yang penting dalam upacara pesta Pondok Daun. Seorang imam menimba air dari kolam Siloam memakai buyung emas. Air yang telah diambil itu kemudian dibawa ke Bait Allah dalam sebuah perarakan besar. Di atas alatar dalam Bait Allah setiap hari dalam oktaf pesta ini, sebagian air dicurahkan bersama dengan anggur di dihadapan orang banyak. Penggunaan air secara religius juga tampak dalam praktek pembabtisan yang bahkan sebelum zaman Yesus telah dilaksanakan bagi para proselyt.[4]

Simbol Air dalam Kitab Suci
Kitab Suci baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru banyak mencantumkan kehadiran dan peranan air. Di sini ada beberapa contoh makna simbol air dalam Kitap Suci. Yahwe menyebut diri-Nya sendiri sebagai "Sumber Air Hidup" (Yer 2:13; 17:13). Air yang Yesus janjikan adalah hidup abadi. Gambaran ini sejajar dengan yang tertera dalam Perjanjian Lama dimana rahmat Tuhan (MZ 1:13; 12:8; 23:2) dan khususnya rahmat zaman Mesianis (Yes 11:3.9; 32:2.20) sering dituliskan dengan gambaran air yang berlimpah yang memberikan hidup dan kesuburan. Dapat dibandingkan juga dengan kerinduan Daud akan Tuhan dengan gambaran tanah kering yang merindukan air (MZ 83:2; 143:6).[5]

Gambaran seseorang yang puas dengan air minumnya sendiri di gunakan sebagai peringatan melawan perzinahan (Ams 5:15). Air yang surut memberi gambaran tentang makhluk hidup yang akan mati dan segera dilupakan (Ayb 11:16; MZ 58:8.2). Air hujan yang turun dengan lebat di musim hujan mengubah sungai kering menjadi aliran sungai yang deras yang menyeret semua benda oleh derasnya arus yang pasti menghancurkan segala yang dilaluinya (Yer 47:2; Yes 8:7). Air banjir dilihat sebagai suatu gambaran sebuah bahaya yang mematikan dan akhir kemurkaan Allah.

Dalam Perjanjian Baru Yesus sendiri menyebut dirinya sebagai air hidup (Yoh 7:37; 4:10.13). Air digunakan mulai dari pembabtisan Yesus (Yoh 1:19-34) sampai pada kematian-Nya di kayu salib ketika air dan darah ke luar dari lambungnya (Yoh 19:28-37). Hidup kekal yang diberikan Allah dilambangkan dengan air (Why 7: 17; 21:6; 22:1.7). Air juga muncul untuk menerangkan gagasan pembasuhan babtisan untuk pengampunan dosa (Ef 5:26; Ibr 10:22). Masih banyak contoh-contoh yang memakai air yang memiliki macam arti dan makna dalam Kitab Suci.

Simbol Air dalam Injil Yohanes

Memaknai Awal yang Baru
Air sebagai simbol dilihat sebagai suatu awal baru. Tentang air membawa arti baru dapat dilihat dalam kisah kesaksian Yohanes Pembabtis. Memang narasi ini sangat erat kaitannya dalam peristiwa babtisan dan perkenalan identitas Yesus oleh Yohanes Pembabtis. Ia mengatakan banwa dirinya datang untuk mempersiapkan jalan bagi seseorang yang akan datang. Ia memperkenalkan orang yang akan datang itu sebagai Yesus. Dengan kedatangan Yesus menunjukkan kehendak Bapa yang mengutus Puteran-Nya sendiri yang dikasihi. Putera yang diutus ke dunia inilah yang oleh Yohanes Pemandi akan membawa seseuatu yang baru di dunia ini. Babtisan lewat air ini melalui Yohanes Pembabtis pada diri Yesus sebagai jalan bagi kedatangan Anak Domba Allah yang telah lama dinantikan (1:23), sebagai awal keselamatan baru.

Purifikasi
Purifikasi dapat diartikan sebagai penyucian. Air sebagai simbol peruifikasi muncul dalam kisah perkawinan di Kana (2:1-11). Yesus, para murid-Nya dan Ibu-Nya hadir dalam pesta pernikahan ini. Dalam peristiwa ini Yesus melakukan tanda pertama-Nya.   Perhatian ibu Yesus pada kebutuhan orang lain dipandan sebagai suatu kesempatan untuk terjadinya tanda kemuliaan diri Yesus.

Air dalam teks ini disebut sebagai air pembasuhan kaki. Upacara pembasuhan kaki bisa meupakan hal yang cukup penting untuk kehidupan bangsa Israel. Yesus mengubah tata cara lama yaitu: adat istiadat pembasuhan kaki menjadi kelimpahan karunia rahmat mesianis, yaitu anggur. Hal ini terjadi tanpa seorangpun tahu bagaimana proses terjadinya. Ada yang mengatakan bahwa peristiwa itu menyimbolkan penciptaan kembali iman Yahudiah melalui hidup dan pelayanan Yesus.[6] Ada yang menilai bahwa hal ini merupakan penyempurnaan dan transformasi Hukum Taurat oleh Injil [7] dan penggantian institusi-institusi Yahudiah oleh keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus. Namun demikian dalam narasi tersebut air secara erat di kaitkan dengan purifikasi.[8].

Dalam tradisi ritus Yahudi, air dalam tempayan biasanya digunakan dalam ritus pencucian kaki. Walaupun nantinya air menjadi anggur, fakta bahwa anggur berasal dari tempayan-tempayan pembasuhan kaki membawa interpertasi tersendiri tentang purifikasi. Air purifikasi dalam tempayan membantu para murid untuk memiliki iman dan melihat kemuliaan Yesus. Karya air membawa kontak dengan kemuliaa-Nya. Dan apa yang Yesus tunjukkan dalam pesta nikah itu menimbulkan kegembiraan perayaan dan mewartakan lebih dari sekedar purifikasi ritual.[9]

Panggilan untuk Beriman
Fungsi air untuk kesekian kalinya muncul dalam injil Yohanes melalui peristiwa dialog antara Yesus dan orang Farisi bernama Nikodemus (3:1-21). Pada kisah itu, arti air dan fungsinya memperoleh penekanan yang penting dalam dialog Nikodemus dan Yesus. Memang air hanya muncul sekali dalam cerita itu. Namun mempunyai pengaruh hampir dalam seluruh injil Yohanes. Yesus berkata "…jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" (3:5). Untuk selanjutnya dalam setiap perkataan-Nya mengenai air bisa dikatakan hampir tidak dimunculkan lagi. Nampaknya Yesus lebih sering memunculkan karya dan peran Roh Kudus sehubungan dengan symbol air. Dari kisah ini kita dengan sendirinya mulai melihat keterkaitan yang mendalam mengenai arti lahir kembali 'dengan' lahir dari air dan Roh Kudus.[10]

Dapat kita katakan bawa air dalam konteks bukan lagi menunjuk pada sebuah purifikasi, namun secara jelas menunjukkan dan berarti mempersiapkan orang memasuki suatu hubungan baru, yaitu panggilan untuk beriman kepada Kristus.[11]

Konteks Pertentangan Kristus dan Orang Yahudi dalam Injil Yohanes
Dalam konteks cerita pada bab tujuh ini, dilukiskan pertentangan Yesus dan orng Yahudi. Di sini dikisahkan bahwa Yesus tinggal di Yerusalem dalam waktu yang cukup lama. Saat tinggl di situ, ternyata Yesus harus berhadapan dengan situasi di mana cukup banyak  orang-orang di sekitar itu yang tidak menyukai-Nya. Pertentangan itu dapat saja dari orang-orang  yang dekat dengan Yesus (7:5), bahkan mungkin dari murid-murid-Nya sendiri (8:31-33). Tetapi bisa dikatakan sebagian besar dari orang-orang yang membenci adalah orang-orang Yahudi dan para penguasa setempat. Ketegangan ini nampak akan dialami Yesus saat menjelang pesta Pondok Daun dimana beberapa peguasa ingin menangkap Yesus (7:30). Di lain pihak ternyata ada juga orang-orang yang masih mau menerima kehadiran-Nya. Ada yang menerima karena mengagumi Yesus. Adapun alasan mereka yang mengaguminya karena melihat Ia yang selalu terlepas dari usaha licik para penguasa setempat dan orang-orang Yahudi yang ingin selalu menangkap Dia (7:55-56). Perbedaan pandangan tentang kehadiran Yesus ini kerap menimbulakan perpecahan di antara orang Yahudi sendiri.  Dua kali Yesus coba untuk dibunuh dengan dilempari batu oleh orang Yahudi. Pertama terjadi setelah Yesus mengatakan diri-Nya bawa Ia sudah ada sebelum Abraham (8:58-59), dan yang kedua akibat pernyataa-Nya mengenai kesatuan-Nya dengan Bapa (10:30-31). Akibat peryataan dan perbedaan pendapat di antara orang Yahudi mengenai diri Yesus bakal akan mencapai puncaknya jika Yesus hadir pada saat pesta Pondok Daun di Yerusalem.

Penulis dalam kesempatan ini berusaha memberi penilaian yang netral. Walau demikian disadari tidak semua orang memusuhi-Nya. Ada yang menganggap-Nya sebagai Mesial (7:41). Yang lain ada juga yang melihat-Nya sebagai orang baik utusah Allah (nabi) karena kagum atas mujizat-mujizat yang diperbuat Yesus dihadapan banyak orang. (9:32-33). Di sini penulis melukiskan bahwa ada sejumlah orang yang berpihak pada Yesus, namun sebagian lagi menolak Dia. Di sini yang dituntut penulis dari para pendengar atau pembaca yatiu bahwa setiap orang yang mau beriman pada Yerus harus bisa mengambil sebuah keputusan untuk mengikuti-Nya atau sebaliknya dengan tegas meninggalkan imannya kalau tidak percaya pada Yesus. Jadi penulis tidak ingin membiarkan diri pendengar ibarat seperti suam-suam kuku dalam beriman pada Kristus.[12]

Motive air muncul dalam dua kisah. Kisah pertama terjadi pada akhir pesta Pondok Daun, ketika Yesus berdiri dan megundang orang haus untuk datang pada-Nya dan minum (7:37). Dia menjadikan diri-Nya sebagai air hidup yang mengalir kepada mereka yang menerima kedatangan-Nya. Peristiwa ini mengundang reaksi dari para pengunjung yang hadir dalam pesta Pondak Daun. Sedangkan kisah air yang kedua yaitu pada saat Yesus ke luar dari Bait Allah. Banyak orang datang hendak melempari Dia dengan batu. Peristiwa ini disebabkan ketika seorang yang buta sejak lahirnya disembuhkan karena mengikuti perintah Yesus supaya mencelupkan dirinya dalam kolam Siloam. Peristiwa penyembuhan ini ditentang oleh orang Yahudi karena peristiwa itu terjadi pada hari Sabat.[13]

Untuk sementari dari kisah ini dapat disimpulkan, bahwa pertentangan selalu ada bagi setiap mereka yang mau mengikuti Yesus. Penolakan dapat saja terjadi oleh orang-orang  di sekitar, mauupun yang disebabkan oleh keraguan yang muncul dalam diri masing-masing pribadi. Namun penulis menekankan agar mengambil sikap dan tidak tinggal dalam keragu-raguan.

Uraian Eksegese tentang Yesus Air Hidup

(7: 37-39): Menjelang pesta Pondok Daun, seperti yang dikisahkan di atas, beberapa orang Yahudi mau melempari dan membunuh Yesus. Dia membuat kejengkelan orang-orang Yahudi tentang pernyataan-Nya bawa hanya mereka yang makan daging dan minum darah-Nya akan memperoleh hidup yang kekal (6:53). Dengan situasi demikian jelas membuat ruang gerak Yesus menjadi terbatas, yaitu hanya seputar daerah Galelia. Untuk daerah Yudea Yesus akan diancam.[14]

Walaupun dalam situasi teracam, Yesus memilih untuk tetap hadir dalam pesta Pondok Daun di Yerusalem. Kisa tentang air muncul saat Yesus pergi ke pesta tersebut. Yesus mengundang orang yang haus untuk datan pada-Nya dan minum (7:37). Bahkan Ia sendiri mengatakan  diri-Nya sebagai 'aliran sungat air hidup' (7:38). Peristiwa ini kembali mengundang penyataan Yesus tentang diri-Nya sebagai air hidup, setelah pertemuan-Nya dengan wanita Samaria. Dan dalam kesempatan ini tidak ada orang Yerusalem yang dapat memahami dan menerima Yesus sebagai air hidup. Disini reaksi yang mucul yaitu pertentangan mengenai diri-Nya semakin menjadi-jadi.[15]

Dalam narasi bertemu 'air sumber hidup ini' (7: 37-40) symbol air membantu seseorang dalam memahami diri Yesus dan karya pelayanan-Nya.[16] Air menghadirkan sesuatu yang harus diterima agar orang percaya pada-Nya. Air yang menunjukkan diri-Nya sebagai  warisan tradisi Yahusi dan sekaligus mengatasi tradisi tersebut berkat hubungan dan kesatuan diri-Nya yang erat dengan Allah. Yesus memiliki pengertian dan sekaligus mengatasi tradisi Yahudi dengan mengundang orang yang haus untuk datang pada-Nya pada penutupan pesta Pondok Daun itu. Sebab dalam perayaan itu sendiri memiliki makna yang berhubungan erat dengan air dan berkat.  Mereka yang berkunjung ke pesta ini tentu bukan hanya menginginkan air  guna menyegarkan bibir-bibir dari setiap orang yang datang karena kehausan. Tetapi dalam ari haus akan rahmat eskatologis yang memlampaui pemahaman dari sekedar reitus-ritus Yahudi tersebut. Di sini penulis menekankan agar orang mengerti maksut perkataan tentang realitas simbol air hidup itu. Dan diharpkan mereka tidak lagi ragu, melainkan percaya pada yesus.[17]

Pendengar disadarkan bahwa Yesus adalah mesias dan bukan seorang penghojat. Ia adalah mesias seperti yang dijanjikan dalam Kitab Suci yang bukan seorang dari Galilea, melainkan seorang dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem.[18]

Dari kisah ini air tidak hanya menceriterakan tentang air sebagai sarana untuk menyampaikan Roh Kudus. Tetapi dari kisah ini air bermakna sebagai Roh Kudus itu sendiri. Ini menjadi poin penting tersendiri bagi penulis untuk menjelaskan dengan suatu ari dan pengandaian yang lebih.(7:39). Yesus ssendiri memberikan janji-Nya kepada setiap orang yang percaya, bukan hanya pada mereka yang hadir pada peristiwa Pondok Daun. Air kembali menjangkau dan menyapa realitas kehidupan spriritual dan kehidupan moral masyarakat Yahudi.[19]

Setiap orang yang minum dari Yesus, yatiu orang-orang yang percaya pada-Nya akan menjadi 'sumber air hidup' . Kalau pada kisah mengenai wanita Samaria Yesus hanya katakan bahwa air yang Ia berikan akan menjadi mata air dalam dirinya yang terus menerus memancar (4:14). Dalam kisah ini air mempunyai makna yang lebih berkembang. Yesus memakai pengertian air dalam dunia pemikiran Yahudi, yaitu menjadi sebuah sungai baru yang mengalir dari hati orang yang taat;. Dengan demikian air hidup yang diterima oleh orang yang percaya menjadikan orang tersebut 'sebagai pemberi air hidup' pada yang lainnya.[20]

(7:40-44): Pada ayat ini ditunjukkan bahwa ada kelompok lain yang tidak memusuhi Yesus. Ada yang menganggap-Nya sebagai Mesial (7:41). Yang lain ada juga yang melihat-Nya sebagai orang baik utusah Allah (nabi). Di antara mereka yang percaya tentu karena kagum atas mujizat-mujizat yang diperbuat Yesus dihadapan banyak orang. (9:32-33).

Di sini penulis melukiskan bahwa ada sejumlah orang yang berpihak pada Yesus, namun sebagian lagi menolak Dia. Dari sini yang mau diambil hikmahnya ialah bahwa pada masing-masing pendengar atau pembaca yang mau beriman pada Yerus harus bisa mengambil sebuah keputusan untuk mengikuti-Nya atau sebaliknya dengan tegas meninggalkan imannya kalau tidak percaya pada Yesus. Jadi penulis tidak ingin membiarkan diri pendengar ibarat seperti suam-suam kuku dalam beriman pada Kristus.[21]

Penutup
Air merupakan sebuah elemen alam yang atasnya Yesus mengungkapkan kuasaan dan kemuliaan-Nya. Penyataan mengenai siapa dan bagaimana karya Bapa dalam diri-Nya nampak pada beberapa kisah seputar 'air'. Misalnya dalam peristiwa pembabtisan oleh Yohanes Pemandi, air yang menjadi anggur dalam peristiwa pesta di desa Kana, air  dalam peristiwa penyembuhan di kolam Soloam. Di sini air menampilkan seruan yang mengajak setiap orang memasuki hidup yang baru. Hidup yang baru yaitu hidup  ditunjukkan dalam pembaptisan dalam air dan Roh.

Dalam banyak hal kehadiran air menuntut keseriusan dalam membuat sebuah keputusan, dan kesungguhan orang untuk beriman. Dan setelah memperoleh pencurahan air, setiap pribadi dengan sendirinya siap diutus menjadi saksi bagi yang lain. Demikianlan bagi setiap mereka yang telah menerima babtisan air dan Roh berhak memperoleh kebangkitan jiwa dan badan seperti yang dialami Yesus sendiri.
[1] A. Drubbel, "Water" dalam Louis F. Hartman, Encyclopedie Dictionary of the Bible (New York-Toronto-London: McGrw-Hill Book Company Inc., 1963), hlm. 2563.
[2] Ibid
[3] Ibid
[4] Yang termasuk golongan Proselyt adalah orang-orang non Yahudi yang dibabtis dan kemudian menolak agama Yahudi. Brendon Mc Garth, "Proselyt" dalam Hartman, Encyclopedie…, hlm. 1942-1943.
[5] A. Drubbel, "Water"… hlm. 2563.
[6] R. Kysar, John's Story of Yesus (Philadelphia: Fortress, 1984. Hlm. 24.
[7] R.H. Lightfood, St. Hohnes Gospel (Oxfort: Clarendon Press, 1984, hlm. 24.
[8] P.F. Ellis, The Genius of John: A Compossition-Critical Comentary on the Fourth Gospel (Collegeville: Liturgical Press, 1984), hlm. 4.
[9] Larry Paul Jones, The Symbol of Water in the Gospel of Yohn (New York: Sheffield Academic Press, 1997), hlm. 14.
[10] Ibid Hal. 74.
[11] Ibid Hal. 75
[12] Ibid Hal. 147
[13] Ibid
[14] Ibid Hal. 148.
[15] Ibid Hal. 149.
[16] Ibid
[17] Brown, The Gospel…, hlm. 323.
[18] Jones, The Symbol…, hlm. 160.
[19] T. Fawcet, The Symbolic Language of Religion (London: SCM Press, 1970), hlm. 36.
[20] Jones, The Symbol…, hlm. 161.
[21] Ibid Hal. 150-155.

Ada banyak sekali pertanyaan tentang peran Bunda Maria dalam Gereja, terutama soal penggunaan istilah dalam menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan Doa Rosario. Karena terlalu banyak pendapat tentang peran Bunda Maria menurut bahasa dan pemahaman devosional, akhirnya ada satu hal yang menjadi tidak jelas, yakni apakah Bunda Maria menjadi perantara doa atau bukan?

Yesus, Pengantara Satu-satunya

Dalam Injil Yohanes 16: 23b-28 dikatakan: "Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Mintalah, maka kamu akan menerima supaya penuhlah sukacitamu".

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tidak ada perantara doa yang lain selain Yesus Kristus, Putra Bapa. Lalu, Bunda Maria berperan sebagai apa? Inilah yang menjadi pertanyaan kebanyakan umat Katolik setiap kali berdoa Rosario dan devosi lainnya kepada Bunda Maria.

Bunda Maria, karena peranannya begitu besar dalam sejarah keselamatan, maka ia juga menjadi bunda Pengantara kita. Melalui dan dalam Maria kita memperoleh keselamatan dari Allah dalam diri Yesus Kristus Putera Allah, yang menjadi manusia dan dilahirkan dari Perawan Maria.Peranannya dalam sejarah keselamatan begitu penting, oleh karena keterpilihannya menjadi seorang Co-Redemtriks (Rekan Penebusan). Ia dirahmati secara khusus oleh Allah di dalam panggilannya menjadi Bunda Allah.[ref1]

Bunda Pengantara maksudnya adalah Bunda dari Yesus Kristus, bukan bunda yang menjadi pengantara. Ini adalah hal penting yang harus diluruskan agar umat Katolik tidak bingung memilih pengantara doa karena begitu banyak pengantara dibahasakan. Lalu, bagaimana harus membahasakan doa-doa kepada Bunda Maria dan orang kudus lainnya?

Berdoa Bersama Bunda Maria, Beda Dengan Berdoa Dengan Perantaraan Bunda Maria

Dalam pertemuan Pendalaman Iman dan juga melalui katekese, telah disampaikan bahwa Bunda Maria adalah teman berdoa. Tujuan doa adalah Bapa, dan kita berdoa melalui Putra-Nya. Agar doa-doa kita berkenan kepada Bapa, yang melalui Putra, kita mengundang Bunda Maria berdoa bersama kita. Terasa bahwa ada keyakinan terkabulnya permintaan bila kita meminta bersama Ibu. Oleh karena itu, pada umumnya, devosi kepada Bunda Maria merupakan undangan kepada Bunda Maria untuk hadir dan berdoa bersama kita.

Ad Jesum per Mariam“, adalah adagium yang sering kita dengar. Artinya adalah "Menuju Yesus Melalui Bunda Maria". Pepatah ini lebih erat hubungannya dengan Yesus, Putra Bapa. Bukan "Menuju Bapa, melalui Bunda Maria. Pepatah ini berguna bagi pemahaman akan inti penghormatan kita kepada Bunda Maria karena penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak terlepas dari penghormatan kita kepada Yesus. Kita menuju Yesus melalui Bunda Maria.[ref2]

Artikel di Katolisita.Org yang berjudul Apakah Umat Katolik Harus Berdoa melalui Bunda Maria? menggambarkan kesadaran kita bahwa satu-satunya pengantara itu adalah Yesus Kristus. Namun, tidak berarti bahwa kita juga tidak menghargai Bunda Maria yang telah mengambil bagian dalam sejarah keselamatan. Kita tetap berdoa melalui Yesus tetapi bersama Bunda Maria, doa-doa kita (bisa lebih) didengarkan. Peristiwa di Kana, ketika penyelenggara pesta kekurangan anggur, menjadi contoh konkrit bagi kita. Saat yang punya pesta mengundang Yesus dan murid-muridnya, juga mengundang Bunda Maria. Dalam kutipan teks Kitab Suci (Yoh 2: 1-11), pemilik pesta tidak memohon kepada Yesus secara langsung. Tapi, karena berkenan mengundang Bunda Maria dalam pesta, akhirnya bersama Bunda Maria, kekhawatiran menjadi hilang. Ibu selalu sangat memahami kebutuhan anak-anaknya. Oleh karena itu, memposisikan Bunda Maria sebagai teman berdoa sangatlah tepat, karena melalui Bunda Maria, kita akan semakin dekat dengan Yesus.

Tulisan ini merupakan jawaban singkat terhadap pertanyaan-pertanyaan umat di Lingkungan tentang peran Bunda Maria. Tentu masih banyak tulisan lain yang bisa memperkaya kita. Namun, dalam tulisan ini, ditegaskan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara kepada Bapa.

Hidup sebagai keluarga Allah dalam lingkup keluarga, Gereja dan masyarakat merupakan tema pendalaman iman masa adventus 2015 di Keuskupan Palangka Raya. Tema ini didalami dan direnungkan selama tiga kali pertemuan. Dari pertemuan pertama sampai dengan pertemuan ketiga, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Allah menginginkan bahwa yang menjadi ahli waris Abram adalah anak kandungnya, dan bukan hambanya. Demikian pula Allah menginginkan bahwa yang menjadi pewaris kerajaan surga adalah anak-anak Allah, bukan hamba-hambanya. Kita, umat beriman telah diangkat Allah menjadi anak-anaknya melalui pembaptisan. Oleh karena itu, semua yang telah dibaptis dalam persekutuan Gereja, telah diangkat dan diakui menjadi anak Allah sekaligus pewaris kerajaan Allah.
  2. Allah tidak menjanjikan kehidupan yang damai dan tenang bagi keturunan Abram. Allah mengatakan bahwa keturunan Abram akan mengalami penderitaan dan mereka akan diperbudak selama 40 tahun lamanya. Demikian pula, kita yang telah menjadi anak Allah, tidak akan luput dari segala cobaan dan tantangan. Kita akan menderita dan memikul salib seperti Putra-Nya sendiri.
  3. Karena kita hidup sebagai satu keluarga, yakni keluarga Allah, kita harus menjadikan cinta kasih sebagai nafas kebersamaan. Dalam I Korintus 13: 1-3 dikatakan: Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Artinya adalah bahwa hanya kasihlah yang mampu membuat rasa kekeluargaan itu bertahan. Tanpa kasih, kehidupan sebagai keluarga akan berantakan dan hancur.
  4. Apakah kita perlu khawatir dengan semua yang telah dinubuatkan? Bahwa kita akan mengalami penderitaan? Kita tidak perlu takut. Kebersatuan kita dengan Kristus, sebagai pokok anggur yang benar menjadikan kita tetap kuat. Dengan bersatu pada pokok anggur, kita sebagai ranting akan berbuah juga. Oleh karena itu, kendati Allah telah mengatakan bahwa sebagai anak Allah, kita akan mendapatkan cobaan, kita memiliki benteng yang kuat, yakni Yesus Kristus sebagai pokok anggur. Selama kita tetap bersatu dengan Dia, kita tidak takut bahaya apa pun.
Empat poin di atas menjadi kesimpulan singkat dari 3 pertemuan pendalaman iman adventus 2015. Kesimpulan ini merupakan ringkasan dari seluruh sharing umat beriman di lingkungan. Kiranya apa yang tidak terangkum di sini, menjadi tambahan perbendaharaan iman dan mencerdaskan iman kita semua.

Pada tanggal 23 Januari 2015 yang lalu, Paus Fransiskus menuliskan pesannya bertepatan dalam perayaan Hari Komunikasi Sedunia. Pesan Bapa Paus bertemakan "Keluarga Sebagai Tempat Istimewa Terjadinya Cinta Kasih. Pesan ini persisnya mengawali menjalani tahun 2015.

Di pengunjung tahun 2015, kita diingatkan kembali tentang pentingnya sebuah keluarga yang hidup dalam iman. Melalui pendalaman iman masa Advent dan sesuai dengan tema natal 2015, kita mendalami kembali makna dari sebuah keluarga kristiani. Berbicara tentang keluarga, kita dapat menarik inspirasi dari bagian Injil yang berhubungan kunjungan Maria kepada Elisabeth (Luk 1: 39-56). "Ketika Elizabeth mendengar salam Maria, bayi melompat dalam rahimnya, dan Elisabeth, penuh dengan Roh Kudus berseru dengan suara nyaring dan mengatakan, 'Sungguh diberkati engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu'." (ay. 41-42). Peristiwa ini lebih menunjukkan bagaimana kita berkomunikasi terkait dengan bahasa tubuh. Yang pertama menanggapi salam Maria adalah anak dalam rahim Elisabeth. Ini menegaskan kepada kita bahwa kita harus belajar, bahkan sebelum kita lahir pun, kita telah diberikan model atau pola dasar sebuah komunikasi. Rahim adalah rumah pertama kita sekaligus menjadi "sekolah" komunikasi, dimana kita mendengarkan, menanggapi kontak fisik di mana kita mulai membiasakan diri dengan dunia luar dalam lingkungan yang dilindungi, dengan suara meyakinkan dari detak jantung ibu. Pertemuan antara dua orang, (ibu dan anak) sehingga berhubungan erat sementara masih berbeda satu sama lain, pertemuan yang begitu penuh janji, dan menjadi pengalaman pertama komunikasi kita. Ini adalah pengalaman kita semua, karena masing-masing dari kita lahir dari seorang ibu.

Bahkan setelah lahir ke dalam dunia, kita pun masih dalam "rahim", yakni keluarga. Sebuah rahim terdiri dari berbagai orang yang saling terkait: keluarga adalah "di mana kita belajar untuk hidup dengan orang lain meskipun banyak perbedaan di antara kita" (Evangelii Gaudium, 66). Meskipun perbedaan jenis kelamin dan usia di antara mereka, anggota keluarga menerima satu sama lain karena ada ikatan di antara mereka. Semakin lebar kisaran dari hubungan ini, dan semakin besar perbedaan usia, semakin kaya pula kita merasakan keunikan lingkungan hidup kita. Dalam keluarga kita menyadari bahwa orang lain telah mendahului kita, mereka mempersiapkan bagi kita suatu kehidupan yang akan kita jalani ketika giliran kita tiba. Dalam keluarga, kita dapat memberi karena kita telah menerima. Lingkaran saleh ini adalah jantung dari kemampuan keluarga untuk berkomunikasi di antara para anggotanya dan dengan orang lain. Lebih umum, itu adalah model untuk semua komunikasi.

Doa adalah bentuk komunikasi yang paling mendasar. Ketika orang tua menidurkan anak-anak mereka yang baru lahir, mereka sering mempercayakan mereka kepada Tuhan, meminta supaya Tuhan melindungi mereka. Ketika anak-anak sedikit lebih tua, orang tua membantu mereka untuk membaca beberapa doa sederhana, mengajari mereka untuk berbuat kasih kepada sesama, seperti kakek-nenek, saudara, orang sakit yang menderita, dan semua mereka yang membutuhkan bantuan Allah. Semua ini kita pelajari dalam keluarga.

Dalam keluarga, kita belajar untuk merangkul dan mendukung satu sama lain, untuk membedakan arti dari ekspresi wajah dan saat hening, tertawa dan menangis bersama-sama dengan orang-orang yang tidak memilih satu lainnya belum begitu penting untuk satu sama lain. Hal ini sangat membantu kita untuk memahami arti komunikasi sebagai mengenali dan menciptakan kedekatan. Ketika kita mengurangi jarak dengan tumbuh lebih dekat dan menerima satu sama lain, kita mengalami rasa syukur dan sukacita.

Lebih daripada itu, keluarga adalah tempat kita sehari-hari mengalami kekurangan kita bersama orang lain, masalah besar dan kecil dalam kebersamaan dengan orang lain. Keluarga yang sempurna tidak ada. Kita tidak perlu takut ketidaksempurnaan, kelemahan atau bahkan konflik, melainkan belajar bagaimana untuk menangani mereka secara konstruktif. Keluarga, adalah tempat kita tetap mencintai satu sama lain meskipun diwarnai oleh kelemahan dan kedosaan kita, sehingga keluarga menjadi sekolah pengampunan. Pengampunan itu sendiri merupakan proses komunikasi. Ketika penyesalan diungkapkan dan diterima, menjadi mungkin untuk memulihkan dan membangun kembali komunikasi yang rusak. Seorang anak yang telah belajar di keluarga untuk mendengarkan orang lain, untuk berbicara dengan hormat dan untuk mengekspresikan pandangannya tanpa memandang rendah orang lain, akan menjadi kekuatan untuk dialog dan rekonsiliasi di masyarakat.

Keluarga, bukanlah subyek perdebatan atau medan untuk pertempuran ideologi. Sebaliknya, keluarga adalah sebuah lingkungan di mana kita belajar untuk berkomunikasi dalam pengalaman kedekatan. Keluarga adalah sebuah komunitas yang menyediakan bantuan, yang merayakan hidup dan berbuah. Setelah kita menyadari ini, kita sekali lagi akan dapat melihat bagaimana keluarga terus menjadi sumber daya manusia yang kaya, sebagai lawan dari masalah atau lembaga dalam krisis.

Inilah isi pesan Paus Fransiskus pada awal tahun 2015. Sekarang, dipengunjung tahun 2015, pesan ini dikristalkan kembali melalui Pendalaman Iman Masa Advent dan terlebih melalui tema perayaan Natal 2015. Keluarga menjadi fokus utama memulai segala sesuatu, bahkan sekarang ini yang kita sebut-sebut "revolusi mental" harus dimulai juga dari keluarga.

Keluarga adalah "Gereja Domestik" di mana setiap anggotanya dapat bertemu Tuhan dalam kebersamaan sebagai ayah, ibu, anak, suami, istri saudara dan saudari. Pesan ini pun dikristalkan dengan permenungan kita di mana kita tahu bahwa kita akan menjadi pewaris kerajaan Allah, karena kita sudah diangkat menjadi anak Allah dan bukan hamba. Bagaimana hak dan kewajiban sebagai anak, inilah yang harus kita alami dalam keluarga terlebih dahulu, sebagai sekolah pertama bagi kita.

-------------------------------------------
Bahan Bacaan:

  • Buku Pendalaman Iman Adven 2015 Keuskupan Palangka Raya;
  • MESSAGE OF HIS HOLINESS POPE FRANCIS FOR THE 49th WORLD COMMUNICATIONS DAY, 23 January 2015

Pendalaman Iman Masa ADVEN 2015 untuk pertemuan pertama mengetengahkan tema "Hidup Bersama Sebagai Keluarga Beriman Kepada Allah". Pada pertemuan pendalaman Iman Bulan Kitab Suci Nasional 2013 yang lalu, khususnya pada pertemuan pertama, Kairos telah menulis artikel juga dengan judul "BKSN 2013 (I): Keluarga yang Beriman". Perbedaan dari tema BKSN dengan tema PIMA (Pendalaman Iman Masa Advent) adalah terletak pada teks kitab suci yang dijadikan bahan permenungan. Namun, keduanya memilih tokoh yang sama yakni Abraham sebagai bapak segala orang beriman.

Oleh karena itu, selain mengulangi dan mengajak pembaca untuk melihat kembali tulisan pada BKSN 2013 seperti tersebut di atas, Kairos menambahkan beberapa point yang kiranya menjadi inti permenungan kita bersama dalam pertemuan pertama PIMA 2015 ini.

Pertemuan pertama akan menggunakan Kitab Kejadian 15: 1-21 sebagai bahan pendalaman. Dalam Kejadian 15:4 berbunyi: Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu."
Sesungguhnya, Allah menginginkan bahwa yang menjadi ahli waris Abraham adalah anak kandung Abraham sendiri, dan bukan hambanya.
Kalau Allah sendiri menginginkan bahwa yang menjadi pewaris Abraham adalah anak kandungnya, bagaimana dengan Kerajaan Allah? Siapa yang dikehendaki Allah menjadi pewaris kerajaan-Nya.
Sebagai umat beriman, kita patut bersyukur bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah dan akan menjadi pewaris kerajaan-Nya.

Inilah yang menjadi inti permenungan kita selama masa Advent ini. Kita telah menjadi keluarga Allah. Kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya. Anak-anak Allah harus berbuat dan hidup seturut kehendak Allah. Setia menjadi anak Allah, kita akan mencapai kehidupan sejati. Kehidupan sejati tidak bisa dicapai hanya dengan mengejar kemajuan material saja, tetapi juga harus diimbangi dengan kemajuan rohani.

Karenanya, masa Adven ini adalah masa khusus bagi kita untuk memupuk kembali kehidupan rohani kita sehingga kita layak disebut sebagai Anak Kandung Allah, dan bukan lagi sebagai hamba. Dengan demikian, kita akan layak ikut bersama-sama dalam perayaan iman, menyambut kedatangan Juruselamat kita, baik pada hari Natal nanti, maupun pada akhir zaman.


Pembaca yang budiman,
Memasuki masa ADVENT 2015, kita kembali melaksanakan pendalaman iman selama 3 kali pertemuan dengan tema: "Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah". Sebagai bentuk sharing demi perkembangan kita dalam iman, kami meminta waktu anda untuk mengisi questioner seputar tema pendalaman iman berikut ini:





Bagi anda yang tidak bisa mengakses di halaman ini, silahkan kunjungi link berikut untuk mengisi questioner di atas.
Questioner Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget