MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Agustus 2016

Oleh: Fidelis Harefa

Pada 30-31 Mei 1998 diselenggarakan Pertemuan Eksponen Umat Katolik Regio Jawa di Muntilan. Pertemuan tersebut menelorkan Deklarasi Muntilan “Membangun Indonesia Masa Depan”. Deklarasi Muntilan tersebut merekomendasikan didirikannnya Komite Nasional Umat Katolik Indonesia. Gagasan ini disambut positif oleh para tokoh dan umat Katolik Indonesia.

Pada 12-15 Agustus 1998 diselenggarakan Sarasehan di Jakarta mengenai “Keterlibatan Umat Katolik dalam Kehidupan Sosial Politik – Visi, Tantangan, Kemungkinan”. Sarasehan tersebut pada tgl. 15 Agustus 1998 mendeklarasikan Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI). Selanjutnya FMKI menyelenggarakan Pertemuan Nasional setiap tahun:

Pernas FMKI I di Yogyakarta, 28-30 Juli 2000.
Tema: “Peranan Awam Katolik dalam Gerakan Sosial Politik Menuju Masyarakat Indonesia Baru”.

Pernas FMKI II di Bali, 13-15 Juli 2001.
Tema “Menumbuhkan Otonomi Masyarakat Daerah dalam Kerangka Persatuan Bangsa”.

Pernas FMKI III di Palembang, 18-21 Juli 2002.
Tema: “Meningkatkan Partisipasi Masyarakat untuk Memperkuat Negara Bangsa”, dengan sub-tema:

  • Meningkatkan partisipasi politik umat melalui penguatan komunitas basis
  • Meningkatkan kedewasaan bermasyarakat melalui kesadaran terhadap perbedaan agama dan bernegara.

Dalam Pernas tersebut FMKI mendesak Pemerintah untuk mencabut Dua SKB. FMKI menolak paradigma kehidupan politik yang hanya mementingkan golongan tertentu saja. Pelayanan publik harus bersifat adil untuk semua golongan masyarakat. Untuk itu, FMKI mendesak pemerintah mencabut SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan Nasional Tahun 1999 dan SKB Mendagri dan Menteri Agama No. 1 Tahun 1979 tentang Pendidikan Rumah Ibadah.

Konsorsium Sosialisasi Ajaran Sosial Gereja (FMKI Wil. Jawa Tengah dan DI Yogyakarta bersama dengan Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan KAS) menerbitkan buku “Sosialisasi ASG, Pergumulan Kesadaran Sosial Menuju Gereja yang Berkeadilan” (2002). Buku tersebut diterbitkan dalam rangka menjadikan bulan Agustus bulan Ajaran Sosial Gereja.

Sejak 2002 FMKI Jawa Tengah menggagas perlunya menggulirkan Gerakan Apresiasi Pancasila. Gerakan itu dipandang penting dalam menghadapi kondisi masyarakat yang alergi terhadap Pancasila, agar terpelihara ruang bersama yang disebut res publica yang punya dasar yang sama bagi seluruh warga bangsa ini. Gerakan ini diintegrasikan dalam Civic Education tahun 2003.

Pernas FMKI IV di Jakarta, 23-26 Oktober 2003.
Tema: “Kesadaran, Panggilan dan Keterlibatan Umat dalam Kehidupan Sosial Politik di Era Globalisasi”. Hadir 121 peserta mewakili spektrum umat Katolik Indonesia. Tema tersebut dibagi dalam sub-tema:

  1. Kerasulan Awam di Bidang Sosial Politik, Kelompok ini menghasilkan rumusan bahwa perlu menghadirkan Gereja agar ikut ambil bagian dalam keputusan untuk menentukan nasib bangsa, khususnya demi tujuan kesejahteraan umum, dan demi martabat manusia yang luhur.
  2. Pendidikan Kader dan Pendidikan Politik dalam Mewujudkan Civil Society, Kelompok ini menekankan pentingnya pelaksanaan kaderisasi secara terstruktur, sistematis, terukur, dan berkesinambungan. 
  3. Revitalisasi Wawasan Keadilan dalam Konteks Bhinneka Tunggal Ika untuk Mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Warga Bangsa.

Kelompok ini mengemukakan pandangan bahwa masalah wawasan kebangsaan merupakan masalah yang serius akibat globalisasi, ketidakadilan, fundamentalisme baik di bidang agama, ras, suku, dan etnis, yang mengarah pada disintegrasi bangsa. Kajian dari masing-masing kelompok ini diperkaya dengan masukan yang diberikan panelis: Prof. Dr. Franz Magnis Suseno, SJ, Rm. Is. Warno Binarja, SJ; dan Krissantono.

Pernas FMKI V di Makassar, 24-27 Agustus 2005.
engolah tema: “Pengembangan Komunitas Yang Mandiri dengan Memberdayakan Pluritas Budaya Nusantara Secara Adil”.

Pernas FMKI VI di Surabaya, 27-30 September 2007.
Menelaah keadaan bangsa, masyarakat, dan negara dewasa ini, menyampaikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Rasa prihatin terhadap penderitaan sebagian besar masyarakat, akibat kondisi kemiskinan dan pengangguran yang bersifat struktural yang semakin mengkhawatirkan. Kendati demikian tidak terlihat kesungguhan langkah-langkah penyelenggara negara dan kekuasaan pemerintahan untuk mengatasinya;
  2. Rasa muak terhadap praktek korupsi dan penyalah gunaan kekuasaan (abuse of power) yang semakin ekstensif dan intensif. Kendati ada langkah-langkah pencegahan dan pemberantasan, namun diragukan kesungguhan untuk menuntaskan, diantaranya karena masih bersifat diskriminatif (tebang pilih);
  3. Kendati terlihat adanya kemajuan dalam kehidupan demokrasi menyangkut aspek sistem dan formalitas prosedural, namun jiwa, semangat batin, spiritualitas, dan budaya demokrasi ternyata semakin mengalami degradasi. Akibatnya demokratisasi politik ternyata tidak membawa manfaat bagi upaya mengatasi penderitaan rakyat di bidang sosial ekonomi, kesejahteraan rakyat, dan keadilan sosial;
  4. Neo-liberalisme yang beroperasi secara global, semakin mengancam eksistensi Negara-Bangsa, menghancurkan potensi masyarakat, baik di tingkat nasional maupun di tingkat lokal. Keadaan ini mengakibatkan keterpurukan di semua bidang kehidupan masyarakat. Sementara itu rambu-rambu konstitusional dan peraturan perundang-undangan tidak ampuh menghadapi penerobosan Neo-liberalisme. Apalagi Amandemen atas UUD 1945 (yang asli) menjadi UUD Baru (UUD 2002) justru memberikan peluang yang lebih leluasa bagi beroperasinya Neo-liberalisme.
  5. Dalam pada itu nilai-nilai dasar otentik, diantaranya: Negara-Bangsa (Nation-State), Pancasila, kebhinekaan / keanekaragaman (pluralitas) dalam persatuan dan kesatuan bangsa yang menghadapi gangguan dan ancaman. Sudah berlangsung perubahan jati diri Negara-Bangsa menjadi Negara-Agama, antara lain dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) yang di dasarkan pada syariah agama di sejumlah kabupaten / kota madya. Padahal nilai-nilai dasar otentik tersebut adalah hasil perenungan dan pergolakan batin yang mendalam dari para pendiri Republik (Founding Fathers) dalam masa perjuangan dan pergerakan kemerdekaan, dalam masa yang lama. Konflik antar kelompok yang bersifat sektorian, primodialisme, keyakinan agamis dan ideologis, pengelompokan politis serta kepincangan sosial-ekonomi memerlemah, bahkan mengancam persatuan dan kesatuan dan kesatuan bangsa. Sementara itu penyelenggara negara dan kekuasaaan pemerintahan, seolah-olah membiarkan faktor-faktor disintegratif tersebut terus beroperasi.


Melihat keadaan seperti dikemukakan di atas, ancaman terhadap eksistensi Negara-Bangsa hasil perjuangan kemerdekaan yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 dapat terjadi. Dalam kaitan ini, Forum Masyarakat Katolik Indonesia:

  1. Mendesak penyelenggara Negara dan kekuasaan pemerintahan untuk mengambil langkah-langkah terobosan mengatasi pengangguran dan kemiskinan struktural;
  2. Mendesak penyelenggara Negara mencegah dan memberantas korupsi secara konsisten dan konsekuen;
  3. Mendesak penyelenggara Negara menegah kecenderungan terjadinya pengaburan bahkan perubahan jati diri Negara-Bangsa, serta pengaburan nilai dasar dan penyimpangan implementasi Pancasila;
  4. Mendesak penyelenggara Negara, baik eksekutif, MPR, dan DPR untuk meninjau kembali rambu-rambu konstitusional dan peraturan perundang-undangan guna menghadapi arus Neo-liberalisme;
  5. Mengajak semua komponen bangsa dan semua komunitas dari berbagai latar belakang guna bekerja sama memelihara dan mempertahankan Negara-Bangsa, Pancasila, pluralitas dalam persatuan dan kesatuan bangsa serta mengeliminasi faktor-faktor disintegratif bangsa;
  6. Mendesak partai-partai politik dan mengajak masyarakat menjadikan Pilkada sebagai sarana memperbaiki kehidupan rakyat, bukan sebagai transaksi bisnis dan pemburu kekuasaan. Mengkondisikan penyelenggaraan Pemilihan Umum 2009, baik pemilu legislatif maupun pemilu Presiden/ Wakil Presiden menghasilkan penyelenggara negara (wakil-wakil rakyat dan pimpinan eksekutif) yang berwawasan kenegaraan dan mengabdi pada kepentingan rakyat. Surabaya, 29 September 2007


Pernas FMKI VII di Solo, 20-23 Agustus 2009.
Tema: “Penegasan Peran FMKI Sebagai Mitra Gereja Di Bidang Sosial Politik Kemasyarakatan”, dengan sub tema sbb.:

  1. Mengangkat Masa Depan Politik Islam di Indonesia Dr. Yudi Latief (Direktur Reform Institute Jakarta)
  2. Budaya Politik dan Peranan Umat Beragama dalam Kebhinekaan Bangsa Indonesia Prof. Dr. Azyumardi Azra (Direktur ProgramPascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta)
  3. Perkembangan Politik Indonesia di Tengah Globalisasi Politik Dunia Dr. J. Kristiadi (Peniliti di CSIS Jakarta)
  4. Peranan Umat Katolik dan FMKI dalam Memperbarui Politik Kebangsaan Indonesia Dr. Daniel Dhakidae (Mantan Litbang Harian KOMPAS Jakarta)
  5. Ke-Katolikan dan Ke-Indonesiaan ajaran/tuntunan Mgr. Sugiyopranoto Dr. G. Subanar, SJ (Dosen di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
  6. Kelahiran FMKI Sebagai Proses Pendewasaan Kerasulan Awam (Kerawam) Menjadi Mitra Hirarki Gereja dalam Menghadapi Tantangan Zaman Mgr. Dr. Johannes Pujasumarta (Uskup Bandung

Pernas FMKI VIII di Manado 27-30 Oktober 2011.
“FMKI menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi kebangsaan Indonesia, khususnya nilai-nilai eksistensi kebhinekaan yang mulai luntur di tengah masyarakat".

Pernas FMKI IX di Medan, Mei 2015.
Pembahasan lebih lanjut tentang Hasil Pernas FMKI VIII di Manado.

Pernas FMKI X di Cibubur, 25-27 November 2016.
Tema: "Membangun Habitus Anti Korupsi demi Keberlanjutan dan Kemajuan Peradaban Bangsa Indonesia".

Oleh: Fidelis Harefa

Pengurus FMKI Keuskupan Palangka Raya akan mengutus perwakilannya untuk mengikuti PERNAS FMKI X yang akan dilaksanakan pada tanggal 25-27 November 2016 di Taman Waladatika, Cibubur. Dalam pertemuan bersama Pasator Moderator FMKI Keuskupan Palangka Raya, Rm. Timotius I Ketut Adihardana, MSF mengatakan bahwa sangat perlu FMKI Keuskupan Palangka Raya mengikuti kegiatan tersebut. Hal ini menjadi sangat penting mengingat FMKI Palangka Raya masih sedang berada dalam tahap membenahi organisasi dan program kerjanya.

Atas dasar itu, maka FMKI Keuskupan Palangka Raya akan mengutus 5 orang dari kalangan pengurus untuk mengikuti PERNAS dan ditemani oleh Pastor Moderator.

Selanjutnya, FMKI Keuskupan Palangka Raya akan melaksanakan Rapat Konsolidasi dan Sosialisasi FMKI kepada Ormas Katolik yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah pada Hari Sabtu, 29 Oktober 2016. Tujuan kegiatan ini adalah agar Ormas Katolik di Provinsi Kalteng mengutus perwakilannya ke Pernas FMKI X nanti.


Maria Jeny Elsiana
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling istimewa. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia diberikan kebebasan, akal budi, hati nurani, serta manusia juga diberikan tanggung jawab untuk merawat bumi dan segala sumber daya yang ada di bumi.

Ketika manusia memenuhi bumi dengan populasi yang lebih besar, mereka diharapkan mampu mengatur sumber daya yang ada di planet bumi ini. Manusia memiliki kemampuan merawat bumi, dan kemampuan itu menjadi alasan untuk kreatif merencanakan dan bekerja sama sehingga bumi sungguh menjadi hunian yang nyaman bagi semua makhluk hidup.

Sebagaimana makhluk hidup lainnya manusia memiliki kemiripan baik secara morfologis maupun anatomis termasuk mekanisme organis yang secara signifikan memiliki kesamaan biologis. Demikian juga kebutuhan akan makan/minum (nutrisi), kebutuhan bernafas, berkembang biak, menerima rangsangan, bergerak dan lain-lain yang merupakan ciri-ciri makhluk hidup. Tetapi, dibandingkan makhluk hidup yang lain, manusia memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yakni rasa ingin tahunya.

Manusia dapat melakukan sesuatu yang dapat membuat mereka berbeda dari pada hewan lainnya. Mereka dapat menyelesaikan sesuatu yang menakjubkan, yang makhluk lain tidak dapat lakukan. Manusia memiliki ide-ide baru, membangun rencana, bersiap untuk menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan muncul, dan menjalankan rencana-rencana mereka sampai tujuannya tercapai. Kemampuan manusia merencanakan, berpikir, dan menyelesaikan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya adalah keunikan lain yang dimiliki manusia.

Keunikan  lainnya adalah kemampuan berbicara. Tidak ada di antara hewan lain yang mempunyai kemampuan berbicara seperti manusia. Komunikasi yang jelas dengan berbicara adalah penting untuk menguraikan rencana yang rumit agar dapat dikoordinasikan dan diselesaikan. Berbicara dan bahasa memungkinkan ide dapat dibagikan, didiskusikan, dan dievaluasi. Jika manusia tidak dapat berbicara, bagaimana mungkin mereka bisa berkomunikasi dan menjalin relasi yang baik dengan sesama manusia.

Hal unik yang lain adalah perpaduan kesadaran diri dan kebebasan kehendak. Sebagai manusia kita mampu mengenali diri kita sendiri sebagai satu individu dan membuat keputusan sehubungan dengan tingkah laku kita.

Bersyukurlah dan berbahagialah kita yang diciptakan sebagai manusia, karena kita adalah ciptaan Tuhan yang paling istimewa dan berharga. Tanggung jawab masing-masing kita adalah menghargai anugerah istemewa yang telah diterima dari Sang Pemberi hidup. **(Maria Jeny Elsiana: Mahasiswa STIPAS Palangka Raya)

Meinitia
Seorang wanita yang memiliki warna kulit gelap atau sedikit berbeda dengan teman-teman lainnya cenderung tidak percaya diri karena warna kulit wajahnya pun hitam. Oleh karena itu,  ia berusaha untuk tampil cantik dengan wajah yang putih dan segar. Pada umumnya, cara yang digunakan untuk menimbulkan rasa percaya diri adalah memakai berbagai kosmetik. (red).

Pengaruh pemakaian berbagai kosmetik tidak secara langsung dapat rasakan oleh seorang wanita. Pemakaian kosmetik perlu waktu untuk mendapatkan hasil yang diingin oleh seorang wanita. Oleh karena itu seorang wanita yang menggunakan kosmetik untuk kecantikannya perlu kesabaran untuk mendapatkan hasilnya.

Menggunakan berbagai macam jenis kosmetik untuk memutihkan wajah baik untuk membuat wajah segar dan bersih. Namun, perlu diperhatikan kondisi kulit. Pemakaian kosmetik yang bermacam-macam juga berbahaya bagi  wanita. Jika kosmetik yang digunakan tidak cocok dengan kondisi kulitnya, maka akan membuat wajahnya menjadi merah atau flek hitan.

Pemakaian kosmetik memang baik untuk seorang wanita agar tampil percaya diri. Dengan kosmetik, kulit muka tampak segar, mulus dan halus. Hanya tetap berhati-hati menggunaan berbagai macam kosmetik dan harus memperhatikan situasi kulit agar tidak mendapatkan dampak buruk dari kosmetik. Dan yang paling penting sebenarnya adalah mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan, karena pada mulanya, Dia menciptakan segalanya baik, cantik, manis.(red). **(Meinitia: Mahasiswi STIPAS Palangka Raya)

Brigita Mika
Negara Indonesia terkenal dengan keanekaragamannya. Keanekaragaman ini terdiri dari berbagai macam suku, budaya, ras, bahasa dan sebagainya. Dari keanekaragaman ini, yang dapat dilihat dengan jelas adalah setiap suku memiliki berbagai macam tradisi dan budaya yang berbeda. Setiap suku memiliki budaya yang unik dan tentunya memiliki kelebihan dan keunggulannya masing-masing.

Pada zaman modern ini begitu banyak hal-hal baru yang kini hadir dan berkembang di negara Indonesia hingga kini mempengaruhi pola hidup masyarakat. Dalam perkembangan ini, keunggulan budaya sendiri pun secara perlahan ditinggalkan. Contoh nyata yang dapat kita lihat semakin tenggelamnya tarian tradisional.

Hal yang menjadi trend modis, yang sedang terjadi di masyarakat adalah banyaknya kaum muda lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat modern. Budaya asli kini dianggap sebagai masa lalu belaka yang tenggelam dimakan waktu. Bagi kaum muda, mengikuti hal-hal yang bersifat tradisional dianggap sebagai orang yang “jadul” dan “tidak gaul.” Maka, tidak mengherankan,  yang tampak dalam masyarakat sekarang adalah banyak orang yang bergaya dengan mengikuti gaya-gaya orang luar negeri.

Perkembangan mengikuti zaman memang hal yang baik karena dengan perkembangan tersebut tentunya memberi hal-hal yang baru di dalam masyarakat. Namun, perlu diingat, sebagai bangsa Indonesia, kita perlu mencintai tanah air dengan mencintai budaya kita sendiri dan mampu mengembangkannya. Dengan kecintaan kita terhadap budaya, kita membuktikan bahwa kita mencintai bangsa Indonesia.

Menanamkan nilai-nilai budaya bagi setiap individu sangatlah perlu sebagai bentuk pelestarian budaya. Tugas kita sebagai generasi penerus hendaknya melestarikan budaya dan bukan sebaliknya. Budaya sendiri merupakan bagian dari hidup kita, kita juga hidup dari dan dalam budaya. Budaya merupakan salah satu kekayaan yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia.

Nilai budaya adalah nilai yang tidak dapat dibeli dan tentu tidak akan pernah habis. Akan tetapi, nilai ini bisa saja semakin lama dapat hilang ditelan waktu karena perkembangan zaman. Maka, agar nilai budaya ini tidak hilang, perlu ditanamkan bagi setiap masyarakat, khususnya kaum muda juga anak-anak untuk melestarikan budaya. Pelestarian budaya dapat dilakukan di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

Manusia dan budaya adalah satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena budaya itu sendiri lahir dari manusia dan manusia juga hidup dari sebuah budaya. Hanya manusia yang mampu mengembangkan budaya dan tanpa budaya manusia tidak dapat hidup. Oleh karena itu, mengikuti perkembangan zaman bukan berarti kita meninggalkan budaya kita.

Kita bisa menjaga tradisi dengan tetap mengikuti perkembangan zaman. Misalnya dengan mengkolaborasikan atau menginkulturasi unsur tradisional ke dalam unsur modern. Seperti sebuah tarian tradisional dapat dibuat konsep yang menyeimbangkan dengan kebiasaan yang lebih modern. Dengan demikian, antara tradisioal dan modern tetap memiliki kedudukan yang sama di tengah masyarakat kita. **(Brigita Mika: Mahasiswi STIPAS Palangka Raya)

Sr. Emirensiana Mamo Sele, KSSY
Suatu malam, orang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah pelita. Orang buta itu dengan terbahak berkata: “Buat apa aku membawa pelita, tak ada gunanya bagiku. Aku bisa pulang tanpa pelita.” Dengan lembut, sahabatnya menjawab: “Pelita ini berguna agar orang lain bisa melihat kamu sehingga tidak menabrakmu.” Orang buta itu setuju untuk membawa pelita.

Tak berapa lama dalam perjalanan pulang  seorang pejalan kaki menabrak si buta itu. Dalam rasa kagetnya si buta berteriak dengan kesalnya: “Hei... Kamukan punya mata, beri jalan untuk orang buta dong.”  Tanpa berbalas sapa, merekapun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan kaki yang lain menabrak si buta lagi. Si buta bertambah marah, katanya: “Apakah kamu buta ? Tidak bisa lihat ya...? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa  melihat.” Pejalan itu menukas: “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat pelitamu sudah padam!” Sibuta tertegun, menyadari situasinya.

Kemudian, penabrak tersebut meminta maaf, katanya: “Oh , maaf akulah  yang buta tidak melihat bahwa engkau orang buta.” Wajah si buta memerah karena malu. Dengan tersipu, ia menjawab: “Tak apa maafkan aku juga atas kata-kataku yang kasar.” Dengan tulus si penabrak menyalakan kembali pelita si buta itu. Merekapun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan  selanjutnya, seorang pejalan yang lain lagi menabrak si buta. Kali ini si buta lebih berhati-hati. Dengan santun, ia berkata: “Maaf, apakah pelita saya padam?” Penabraknya menjawab: “Lho justru aku hendak menanyakan hal yang sama.”

Hening sejenak ....

Akhirnya dengan bersamaan mereka bertanya satu sama lain: “Apakah engkau orang buta?” Dengan serempak pula mereka menjawab: “Ya ...” Mereka berdua meledak dalam tawa. Lalu, keduanya berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang jatuh sehabis tabrakan .

Saat itu seorang pejalan lewat. Dalam keremangan, nyaris saja ia menabrak  kedua orang buta yang sedang mencari pelita mereka. Ia pun berlalu tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Kemudian, timbul pikiran dalam benak orang ini, katanya, “Rasanya aku juga perlu membawa pelita, agar aku dapat melihat jalan dengan lebih jelas dan agar orang lainpun dapat terbantu melihat jalan mereka.” **(Sr. Emirensiana Mamo Sele, KSSY: Mahasiswi STIPAS Palangkaraya)

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget