MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

2017

RD. Patrisius Alu Tampu sedang berkatekese.
Salah satu program kerja Bidang Liturgi Paroki Katedral Santa Maria Palangka Raya, masa bakti 2017-2019 adalah melaksanakan Katekese Liturgi kepada umat dalam pertemuan lingkungan. Program ini disampaikan oleh Fidelis Harefa selaku Koordinator Bidang Liturgi pada Raker Dewan Pastoral Paroki yang dilaksanakan pada Bulan Maret 2017 yang lalu.

Program Katekese Liturgi sudah mulai berjalan. Hal yang menjadi topik katekese gelombang pertama adalah Liturgi Praktis. Liturgi Praktis dimaksudkan adalah hal-hal praktis yang harus diperhatikan dalam berliturgi, secara khusus dalam perayaan ekaristi. Menurut Fidelis, katekese tidak boleh dihentikan karena generasi-generasi Gereja tidak pernah habis. Selalu saja bertambah dan melahirkan generasi baru.

Perayaan Ekaristi, merupakan puncak yang dituju oleh seluruh kegiatan dan karya kerasulanan Gereja, sekaligus merupakan sumber segala daya kekuatannya Sacrosanctum Concilium (SC 10]. Tata cara merayakannya dengan baik telah diatur dalam Pedoman Umum Misale Romawi. Supaya kecintaan kepada liturgi itu lahir dari hati setiap umat beriman, maka liturgi itu perlu diperkenalkan bersama dengan seluruh aturan yang telah diatur oleh Gereja. Oleh karena itu, katekese sesungguhnya lebih tepat dimaknai sebagai sosialisasi aturan-aturan Gereja tentang liturgi. Dalam katekese, tidak ada yang perlu diperdebatkan. Semua umat beriman harus tunduk pada aturan yang telah ditetapkan oleh Gereja karena telah teruji selama ribuan tahun.

Katekese oleh Kord. Bid. Liturgi
Katekese Liturgi gelombang pertama dilaksanakan oleh Pastor Paroki bersama Tim Bidang Liturgi DPP Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya. Direncanakan, katekese gelombang kedua akan dilaksanakan oleh Tim Liturgi yang akan dibentuk oleh Bidang Liturgi, bekerjasama dengan Bidang Pewartaan. Materi katekese akan disusun secara baku agara Tim Katekese dapat mensosialisasikannya setelah mempelajari materi secara bersama-sama. Semoga katekese liturgi yang sedang dilaksanakan ini memberi manfaat yang besar untuk mencerdaskan iman umat Katolik pada umumnya, iman umat Katolik di Paroki St. Maria pada khususnya.

PALANGKA RAYA, KAIROS.OR.ID - Pengkaderan pelayan liturgi dalam Gereja Katolik sangat perlu dilakukan terus-menerus. Sebab, apabila ada satu masa di mana pengkaderan kosong atau tidak dilaksanakan, maka akan ada satu masa ke depan yang juga kosong pelayan liturgi yang mumpuni.

Dalam upaya itu, Koordinator Bidang Liturgi Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, Fidelis Harefa mengajak siswa-siswi Katolik, baik dari sekolah Katolik maupun sekolah negeri untuk terlibat dalam pelayanan liturgi sejak dini. Ajakan ini disampaikan melalui guru agama Katolik yang ada di sekolah-sekolah di Kota Palangka Raya.

Ajakan tersebut mendapatkan respon yang luar biasa sehingga pada Minggu, 24 September 2017, keterlibatan siswa-siswi Katolik dalam pelayanan liturgi khususnya dari sekolah negeri dimulai oleh Siswa SMA Negeri 5 Palangka Raya. Mereka menjadi pelayan liturgi sebagai kelompok koor, penggerak umat dalam bernyanyi dan sebagai petugas persembahan.

Fidelis Harefa, ketika ditemui oleh Kairos, segera setelah perayaan ekaristi mengatakan: "Ada sekitar 5 sampai 10 tahun terakhir terdapat kekosongan kegiatan pengkaderan. Efeknya sangat kita rasakan sekarang. Bidang Liturgi mengalami kesulitan untuk memilih dan menentukan petugas liturgi". Adapun selama ini, siswa-siswi yang terlibat dalam pelayanan liturgi hanya siswa-siswi yang belajar di sekolah Katolik seperti Yayasan Siswarta Cabang Palangka Raya dan Yayasan St. Maria.

"SMA Negeri 5 telah memulai, diharapkan sekolah-sekolah negeri lainnya mempersiapkan diri untuk terlibat juga dalam pelayanan liturgi", lanjut Fidelis. Beliau mengatakan bahwa pengkaderan akan dilakukan terus-menerus, termasuk program perekrutan dan pelatihan tenaga organis gereja yang akan segera dilaksanakan.

Fidelis Harefa mengakhiri pembicaraan dengan Kairos dengan sebuah kalimat: "Kesuksesan suatu generasi adalah ketika mereka mampu menciptakan kader beru untuk kebutuhan masa depan". (lc)

PALANGKA RAYA, KAIROS.OR.ID - Pertemuan Tokoh Agama Katolik, Pembimas Katolik Kalteng dan Instansi terkait dalam rangka Pembentukan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik Daerah (LP3KD) Provinsi Kalimantan Tengah dan Penetapan Pengurus LP3KD Periode 2017-2022 dilaksanakan di Aula Kemenag Provinsi Kalimantan Tengah pada Selasa, 19 September 2017.

Dalam pertemuan tersebut hadir Kakanwil Kemenag Provinsin Kalimantang Tengah H Abdul Halim, Pembimas Katolik Kalimantan Tengah Wilhelmus Y. Ndoa, Vikjen Keuskupan Palangka Raya, RD. Silvanus Subandi serta beberapa Tokoh Agama Katolik.

Dalam sambutannya, Abdul Halim menyampaikan bahwa sangat mendukung bila LP3KD Provinsi Kalteng segera dibentuk. Beliau menganjurkan agar pengurusnya segera dipilih agar pembinaan cepat dilaksanakan. Apabila susunan pengurus sudah ada, beliau mengharapkan agar segera dilaporkan kepada Gubernur untuk di SK-kan. Beliau juga menegaskan agar pengurus yang dipilih adalah personil yang benar-benar komit dalam memajukan organisasi LP3KD.

Selanjutnya, Wilhelmus selaku Pembimas Katolik Kalteng menyampaikan beberapa hal yang melatarbelakangi pembentukan LP3KD. Beliau mengatakan bahwa dasar hukum pembentukan LP3KD adalah PMA Nomor 35 tahun 2016 tentang Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik sebagai pelaksanaan Pesparani Katolik, Keputusan Dirjen Bimas Katolik Kemenag RI No. 2318 Tahun 2017 Tentang Pedoman Pembentukan dan Pengelolaan LP3K. Hal ini merupakan penegasan bahwa landasan yuridis keberadaan LP3K di Indonesia sudah diakui.

Selain daripada landasan hukum di atas, Wilhelmus juga mengatakan bahwa pembentukan LP3KD ini merupakan jawaban dari kerinduan umat Katolik yang disampaikan pada Musayawarah Luar Biasa LP3K Nasional. Musyawarah Luar Biasa ini didorong oleh semangat kegiatan Pesparani Katolik yang dilaksanakan di Ambon selama tiga tahun berturut-turut. Dari Ambon menuju Indonesia dan Kerinduan umat/masyarakat Katolik utk saling berdialog, bekerja sama dalam membangun kerukunan umat beragama untuk mewujudkan Indonesia yang damai, harmonis dan bersatu merupakan visi yang memberi warna dalam mendorong terbentuknya LP3K.

Pertemuan ini dilaksanakan selama satu hari dan diakhiri dengan pemilihan pengurus LP3KD Provinsi Kalteng. Pengurus terpilih akan melaksanakan tugas selama lima tahun berdasarkan Keputusan Dirjen Bimas Katolik. (fh)

PALANGKA RAYA, KAIROS.OR.ID - Sabtu dan Minggu, 16-17 September 2017, Misdinar St. Tarsisius Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya melaksanakan rekoleksi bersama dalam rangka menyambut anggota misdinar yang baru. Rekoleksi ini dilaksanakan di Kampus Baru STIPAS Tahasak Danum Pambelum dan diikuti oleh lima puluh tiga peserta. Rekoleksi Misdinar ini diadakan supaya anak misdinar yang baru lebih mengenal misdinar dalam sejarah maupun tata cara misdinar yang baik dan benar.

Kegiatan Rekoleksi yang berlangsung selama dua hari berturut-turut itu dipimpin oleh RD. Romanus Romas. Pada sesi pertama, kepada calon misdinar baru dijelaskan bagaimana tata cara misdinar yang baik dan benar, mulai dari sikap duduk,arah pandang,cara berjalan dan sebagainya.

Selanjutnya, acara rekoleksi ini diisi dengan renungan malam yang dipimpin oleh Mahasiswa STIPAS, dilanjutkan dengan doa Jalan Salib. Acara pada hari pertama diakhiri dengan acara api unggun. Dalam acara api unggun, seluruh peserta rekoleksi rekreasi bersama dengan bernyanyi dan bermain bersama secara terpimpin.

Keesokan harinya, acara rekoleksi dilanjutkan dan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Constatinus Gatot Wibowo. Segera setelah Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan kegiatan Outbond yang berguna untuk melatih semangat para misdinar dalam pelayanan seputar altar. Kegiatan outbond dikemas sedemikian rupa oleh panitia dengan melalui beberapa pos. Kesulitan-kesulitan yang dialami pada masing-masing pos berbeda-beda. Kegagalan dalam melewati pos tidak membuat para misdinar patah semangat, tetapi tetap ceria karena semua itu merupakan latihan.

Semoga kegiatan Rekoleksi Misdinar ini tetap dilaksanakan secara berkala dalam konteks kaderisasi, demi masa depan Gereja. Tuhan Yesus memberkati. (Dany dan Osi)

PALANGKA RAYA, KAIROS.OR.ID - Sekretaris Nasional (Seknas) Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI), Veronika Wiwiek berkunjung ke Palangka Raya (07/09/2017) dalam rangka menindaklanjutin rencana pelaksanaan PERNAS FMKI XI tahun 2018 yang akan datang. Kunjungan ini disambut baik oleh pengurus FMKI Keuskupan Palangka Raya.

Adapun rencana pelaksanaan PERNAS XI merupakan hasil PERNAS X yang dilaksanakan di Bogor, 25-27 November 2016, dan saat itu Palangka Raya ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggara PERNAS FMKI XI 2018.

Pada pertemuan dengan Seknas FMKI di Sekretariat FMKI Palangka Raya, Pengurus FMKI Palangka Raya, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksiapan FMKI Palangka Raya menjadi tuan rumah penyelenggara PERNAS XI. Ada beberapa alasan yang sangat mendasar yaitu karena pada tahun 2018, Keuskupan Palangka Raya melaksanakan beberapa kegiatan yang sangat menuntut keterlibatan seluruh umat. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah Pesparani Tingkat Keuskupan Palangka Raya dilaksanakan pada tanggal 22-24 Juni 2018 kemudian bersiap mengikuti Pesparani Tingkat Nasional di Ambon, September 2018 akan dilaksanakan Tahbisan Imamat, Oktober 2018 merupakan puncak Pesta Perak, 25 Tahun Keuskupan Palangka Raya dan PILKADA Kota Palangka Raya pun dilaksanakan pada tahun 2018.

Sekans FMKI menanggapi informasi ini dengan sangat positif dan mengatakan akan mendiskusikannya dengan TIM SETNAS untuk menentukan kembali waktu dan tempat pelaksanaan PERNAS XI yang akan datang. (LC)


Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana.[ref] Definisi sederhana ini menunjukkan bahwa pada dirinya sendiri, teknologi sangat bermanfaat bagi manusia dalam mengembangkan dirinya.

Menurut Spranger, nilai adalah suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu. Nilai-nilai Injil adalah tatanan yang terkandung dalam Injil yang dijadikan panduan oleh individu untuk membuat keputusan. Tatanan yang terkandung dalam Injil dijadikan panduan untuk menghidupi zaman teknologi yang semakin berkembang.

Salah satu teknologi yang menjadi sorotan utama dalam konteks arus zaman teknologi BKSN 2017 adalah teknologi informasi yang dapat diakses melalui teknologi elektronik yang lebih dikenal dengan istilah gadget. Dua teknologi ini saling mendukung. Informasi hampir dapat diakses kapan saja dan di mana saja berkat kehadiran teknologi gadget yang semakin hari semakin inovatif. Dan seperti telah dijelaskan sebelumnya, perkembangan teknologi ini memiliki dampak ganda, yang dapat kita sebutkan sebagai berikut:

Dampak Positif

Pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Di samping itu, informasi dan perkembangan teknologi meningkatkan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan. Penyebaran informasi terjadi begitu cepat sehingga respon yang diharapkan dapat segera diterima.

Dampak Negatif

Banyak dirasakan dampak negatif dalam bidang moral, sosial, budaya, politik dan ekonomi. Secara konkrit, semakin banyak melahirkan persoalan dalam aspek komunikasi dan relasi di dalam keluarga, gereja dan masyarakat.

Pencegahan Penyalahgunaan

Bacaan tentang kisah menara Babel menjadi nasehat untuk kita semua. Ketika manusia memanfaatkan teknologi dan kemudian menjadi sombong, melupakan siapa yang memampukan dan lupa untuk bersyukur, inilah yang pada umumnya membawa kehancuran. Kisah menara babel sangat jelas maksudnya dalam kaitan dengan teknologi. Teknologi dibuat oleh manusia dan untuk manusia. Apabila kemudian, manusia mengabdi kepada teknologi dan menjadi hamba teknologi, bahkan mendewakan teknologi, ini merupakan tindakan yang salah di era teknologi.

Apakah menggunakan teknologi dilarang? Sama sekali tidak ada larangan. Hanya saja, perlu dipikirkan dan direnungkan kembali. Ketika televisi berfungsi menjadi tabernakel, mobile phone menjadi pengganti rosario, ini berarti telah terjadi pergeseran nilai spiritual yang selama ini kita miliki. Oleh karena itu dibeberapa Gereja di Indonesia sudah memasang himbauan-himbauan dalam bentuk spanduk, banner dengan anjuran yang bervariasi. Contoh: 1 Jam saja untuk Tuhn. Ini sering ditemukan di gereja-gereja yang mengharapkan umatnya tidak menggunakan handphone selama perayaan berlangsung.

Inti dari cara mencegah penyalahgunaan adalah dengan mengenal, memahami dan mengerti fungsi dan kegunaan dari teknologi itu sendiri. Ini berhubungan dengan teknologi elektronik yang menjajikan segala kepuasan.

Selanjutnya, teknologi informasi yang juga tidak kalah berkembangnya dapat menghancurkan suatu tatanan kehidupan. Dari media cetak ke media online telah banyak menggeser nilai-nilai peradaban kita. Penyebaran isu yang tidak benar, pencemaran nama baik, pelecehan dan berbagai hal negatif lainnya dapat kita temukan dalam teknologi informasi. Bahkan pencitraan pun dapat dilakukan melalui teknologi informasi.

Bila tidak hati-hati, kita akan terhasut dan akhirnya salah mengambil keputusan. Karenanya, kembali lagi pada tiga pola di atas, yakni: kenali, pahami dan mengerti tentang sumber informsi, tujuan informasi dan manfaat dari sebuah informasi.

Solusi akhir adalah teknologi apapun tidak pernah mampu menggantikan posisi Dia yang empunya segalanya. Teknologi bisa dibeli dan bisa dibuang. Tapi Dia yang telah lebih dulu ada, tak dapat dibeli dan tak dapat dibuang. Semakin dijauhi, Dia semakin dekat untuk memberi peringatan dan penyadaran dengan caranya sendiri. Pilihlah untuk mendewakan Dia yang tidak pernah menjauh daripadamu.

Sepanjang bulan September 2017 kita akan merenungkan dan mendalami tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN): "Kabar Gembira Di Tengah Gaya Hidup Modern". Tema ini mengajak kita untuk merenungkan realitas arus zaman modern yang mempengaruhi pola hidup dan relasi manusia serta dimensi kehidupannya seperti iman, moral, sosial dan budaya. Hal yang paling konkrit dari perkembangan zaman adalah perkembangan dan perubahan teknologi dan informasi yang melesat begitu cepat. Kemudahan dan kecepatan perubahan itu menjadikan dunia bagaikan satu desa kecil. Itulah sebabnya, Gereja dianjurkan untuk menggemakan Sabda Allah melalui media-media komunikasi seperti media cetak dan yang paling mutakhir adalah internet.

Harus diakui bahwa arus perubahan zaman dengan ciri penggunaan media-media komunikasi modern dan canggih memang berdampak ganda yakni positif dan negatif. Paus Fransiskus dalam himbauan apostoliknya Evangelii Gaudium, Sukacita Injil, secara khusus mengingatkan kita masalah-masalah yang menggerogoti dunia dewasa ini yakni konsumerisme, hedonisme, individualisme, materialisme dan fundamentalisme agama. Berhadapan dengan aneka bahaya ini, Paus Fransiskus mengajak kita mawas diri dan tekun berusaha untuk menanggapinya dengan bijak dan efektif.

Menanggapi tantangan seperti itu dan menindaklanjuti himbauan apostolik Paus Fransiskus, BKSN 2017 mencoba merenungkan dan mandalaminya secara lebih serius. Oleh sebab itu, ada empat sub tema pertemuan. Pertama, arus zaman teknologi dan nilai-nilai Injili dalam kisah menara Babel (Kej. 11:1-9). Kedua, arus zaman materialisme dan nilai-nilai Injili dalam perumpamaan orang kaya yang bodoh (Luk. 12:13-21), Ketiga, arus zaman individualisme dan nilai-nilai Injili dalam kisah cara hidup jemaat perdana (Kis. 2:41-47), Keempat, arus zaman hedonisme dan nilai-nilai Injili dalam nasihat Yakobus tentang hikmat dan hawa nafsu (Yak. 3:14-4:3). Melalui keempat sub tema ini diharapkan umat kristiani khususnya umat Keuskupan Palangka Raya tidak terseret dan terhanyut oleh arus zaman modern. Dengan merenungkan tema-tema ini, kita diharapkan semakin setia menggegam dan berpegang erat pada nilai-nilai Injili.

Komisi Kitab Suci Keuskupan Palangka Raya

PALANGKA RAYA, KAIROS.OR.ID - Rasa syukur atas 72 tahun Kemerdekaan RI diperingati di seluruh tanah air. Setiap kali memperingati hari bersejarah ini, jiwa nasionalisme kita dikuatkan kembali melalui pemutaran ulang sejarah perjuangan para pahlawan dalam memperoleh kemerdekaan untuk bangsa tercinta ini. Karenanya, peringatan hari bersejarah ini merupakan peringatan bagi seluruh rakyat Indonesia, tak terbatas kalangan, golongan, suku, agama dan ras. Semuanya wajib untuk ambil bagian dalam mengisi kemerdekaan itu.




Di Keuskupan Palangka Raya, khususnya di Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, HUT Kemerdekaan diperingati dan dirayakan dalam Perayaan Ekaristi khusus. Perayaan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Agustus 2017, Pukul 17.00 WIB di Gereja Katedral St. Maria Palangka Raya. Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup Palangka Raya, Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF, didampingi oleh enam orang pastor yang ikut berkonselebrasi. Perayaan Ekaristi yang berlangsung kurang lebih 90 menit dilayani oleh Anggota TNI dan POLRI. TNI dan POLRI melaksanan tugas liturgi sebagai Lektor, Pemazmur dan sebagai penggerak umat dalam bernyanyi (Koor).

Perayaan ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai sekolah yang ada di Palangka Raya. Juga dihadiri oleh perwakilan paguyuban dengan mengenakan pakaian adat masing-masing.









Sambungan dari tes katekese hari Rabu Abu

D. PEKAN SUCI

Pekan Suci dimulai pada Hari Minggu Palma, sampai dengan Hari Kamis menjelang Misa Perjamuan Malam Terakhir. “Hari-hari dalam Pekan Suci ini, dari Senin sampai dengan Kamis, diutamakan di atas semua Hari Raya”. Sakramen Baptis dan Krisma tidak boleh diberikan pada hari-hari ini.

Dalam Pekan Suci Gereja merayakan misteri keselamatan yang diwujudkan Kristus pada hari-hari terakhir hidup-Nya, sejak Ia sebagai Al Masih memasuki Yerusalem. Masa Prapaskah berlangsung sampai dengan Kamis pekan ini. Sedangkan, Ketiga Hari Paskah: dimulai dengan Misa Perjamuan Malam Terakhir, Jumat Agung dan Sabtu Paskah, dan memuncak dalam Perayaan Malam Paskah dan berakhir dengan Ibadat Sore Minggu Paskah.

Pekan Suci dimulai pada Hari Minggu Palma, yang menghubungkan perayaan kemenangan Kristus Raja dengan pewartaan penderitaan-Nya. Pengaitan kedua aspek misteri Paskah ini harus menjadi jelas dalam perayaan dan katekese.Sejak dulu, masuknya Kristus ke Yerusalem diperingati dalam prosesi meriah; para anak-anak Ibrani menyongsong-Nya dan menyerukan “Hosana”.
Dalam setiap Gereja hanya boleh diadakan satu kali prosesi, sebelum Misa, yang dihadiri kebanyakan kaum beriman.

Dalam Prosesi Palma ini, urutannya: misdinar, Imam baru kemudian umat mengikutinya masuk ke dalam gereja, sambil mengelu-elukan, menyerukan “Hosana”. Umat mengikuti Imam, bukan sebaliknya. Menjelang gerbang/pintu masuk gereja, sekumpulan anak-anak/jemaat menyongsong sambil membawa ranting-ranting palma, dll. Sambil menyerukan hosana. Imam langsung masuk Gereja-yang masih kosong-, menuju Sakristi atau kursi imam untuk berganti pakaian. Menanti umat siap, baru melanjutkan acara..

Urutan perarakan Minggu Palma :

  1. Misdinar Pembawa wiruq/dupa bernyala
  2. Misdinar Pembawa Salib Prosesi; tanpa selubung, dihias memakai daun Palem yang telah diberkati
  3. Mengapit Salib, ada 2 orang Pembawa lilin bernyala
  4. Pembawa Evangeliarium  (bila ada)
  5. Pembawa buku Kisah Sengsara  (bila ada)
  6. Imam Selebran
  7. Umat (diawali oleh Para Petugas Liturgi Awam)

Selama prosesi hendaknya dinyanyikan oleh kor dan umat, seperti Mazmur 24 (23) dan 47 (46), atau nyanyian lain untuk menghormati Kristus Raja. Kyrie ditiadakan, perarakan ditutup dengan Doa Pembuka.

Kisah sengsara Tuhan dibawakan dengan meriah, bisa dibacakan atau dinyanyikan secara tradisional oleh tiga orang yang mengambil alih peran Kristus, Penginjil dan Umat; dalam hal ini peran Kristus dikhususkan bagi imam.

Pada pewartaan Kisah Sengsara ini tidak dinyalakan lilin, dupa, salam bagi umat dan penandaan buku tidak diadakan; hanya para diakon sebelumnya mohon berkat imam, seperti pada Injil. (Bila yang bertugas awam, tidak perlu meminta berkat. Karena ritual berkat adalah khas untuk diakon (tertahbis) sebagai petugas biasa pembaca Injil. Sedangkan bila awam yang bertugas, sebagai petugas luar biasa pembaca Injil, untuk membedakan dengan yang tertahbis tidak meminta berkat terlebih dahulu kepada selebran.

Karena manfaat rohani kaum beriman Kisah Sengsara dibawakan seutuhnya dan bacaan-bacaan sebelumnya tak boleh dilewati. Dan Setelah pembacaan Kisah Sengsara harus diadakan Homili.                          ........ bersambung

RD. Patris Alu Tampu

A. RABU ABU

Awal Prapaskah dimulai pada Hari Rabu Abu, yang tidak punya vigili. Rabu Abu itu bisa diperpanjang  sampai Sabtu sesudah Rabu abu. Dalam hitungan Masa Prapaskah, hari-hari itu, yaitu Rabu Abu, Kamis sesudah Rabu Abu, Jumat sesudah Rabu Abu dan Sabtu sesudah Rabu Abu;  dihitung sebagai satu kesatuan hari menjelang hari pertama Masa Empatpuluh Hari. Saat itulah Ritual Pemberian Abu yang dilakukan pada Rabu Abu dapat dilakukan pada tiga hari sesudah Rabu itu, bukan mendahului pada hari Selasa sebelumnya.
 
Pada Rabu Abu kaum beriman dengan menerima abu, memasuki masa yang diperuntukkan bagi pemurnian jiwa. Tanda tobat ini, yang berasal dari Tradisi Alkitabiah dan Gereja; berarti bahwa manusia itu pendosa yang mengakukan dosanya terbuka di hadapan Allah; dengan demikian ia mengungkapkan kemauannya untuk bertobat, dibimbing pengharapan agar Tuhan berbelaskasih kepadanya. Dengan tanda ini mulailah jalan tobat yang bertujuan menerima Sakramen Tobat sebelum Hari Raya Paskah.
Rabu Abu harus dijalani sebagai Hari Tobat dalam seluruh Gereja, dengan pantang dan puasa
Susunan Liturgi Misa Rabu Abu:
- Ritus Pembuka:
- Liturgi Sabda:  Bacaan – Penerimaan Abu – Doa Umat
- Liturgi Ekaristi
- Ritus Penutup
Adapun cara Penerimaan Abu pada selebran:
1) Selebran bisa memberikan abu pada dirinya sendiri, dibagian kepala atau dahinya.
2) Selebran bisa menerima abu dari diakon atau asisten imam
Minggu Prapaskah I adalah permulaan Masa Suci terhormat 40 hari. Penghitungan 40 hari Masa Prapaskah dihitung dari Minggu I Prapaskah s/d Kamis Putih (Masa berakhirnya Prapaskah) sebelum Misa Perjamuan Tuhan pada sore hari.

B.  Tentang VIGILI (= berjaga-jaga, saat Tirakatan)

Vigili, diadakan pada sore/malam hari untuk persiapan hari Minggu atau hari Raya yang akan dirayakan pada hari berikutnya. Vigili ini dalam kalender liturgi, disebut Ibadat Sore I, bacaannya diambil dari Hari yang akan dirayakannya.
Rumusan Vigili :
1. Vigili Tanpa Rumus Khusus
Bacaannya sesuai dengan hari yang akan dirayakannya. Misalnya:
a) Misa Sabtu Sore, memakai bacaan hari Minggunya
b) Misa Tgl. 31 Desember: Bacaan mengikuti Tgl. 1 Januari, yaitu HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH  (Jadi fokus ibadat penekanannya tidak hanya tutup tahun, tapi terlebih mengupas Hari Raya yang akan dirayakannya).
2. Vigili Dengan Rumus Khusus
      Bacaannya disiapkan khusus, berbeda dari hari yang dipersiapkan atau yang akan dirayakan
      Misalnya :
    a) Misa Sore Menjelang Hari Raya Natal
    b) Misa Malam Paskah
c) Misa Sore Menjelang Hari Raya Pentakosta

C.  MINGGU-MINGGU PRAPASKAH

1. Masa Prapaskah bertujuan mempersiapkan umat untuk menyongsong Perayaan Paskah; sedangkan Pekan Suci bertujuan (khusus) untuk memperingati Sengsara Kristus mulai dari peristiwa Kristus masuk Yerusalem.
2. Minggu Prapaskah I adalah permulaan Masa Suci terhormat 40 hari. Dalam Perayaan Ekaristi minggu ini, bisa diungkapkan, misalnya dengan prosesi masuk yang diiringi nyanyian Litani para Kudus.
 (Note : Hitungan 40 hari Masa Prapaskah: Minggu Prapaskah I s/d Kamis Putih sore menjelang Peringatan Perjamuan Tuhan Malam Terakhir. Sedangkan mulai Kamis Putih malam s/d Sabtu Suci Sore adalah masa puasa/tobat Tri Hari Suci).
3. Pada Minggu Prapaskah ke-4 (Laetare) dan pada Hari Raya dan Pesta, orgel dan alat-alat musik lain dapat dimainkan dan altar dapat dihias dengan bunga-bunga. Pada Minggu ini dapat juga dipakai busana berwarna merah muda. Hal ini bisa dimaknai bahwa di tengah-tengah kesedihan, duka cita selalu masih ada pengharapan dari Tuhan Allah kita.
4. Sejak Minggu Prapaskah ke-5, dapat memberi selubung kepada salib-salib dan gambar-gambar dalam gereja. Salib-salib tetap terselubung sampai akhir Liturgi Jumat Agung, tetapi gambar-gambar sampai awal Perayaan Malam Paskah.
(Note: Usai Ibadat Jumat Agung, Salib-salib sudah tidak terselubung lagi tetapi selubung  pada gambar-gambar atau patung baru dibuka sesaat sebelum Misa Malam Paskah dimulai).
………………………………  Bersambung.

RD. Patris Alu Tampu

Rapat Kerja adalah rapat atau pertemuan seluruh personil yang telibat dalam suatu tim kerja. Tujuannya adalah untuk membahas segala hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas dalam satu periode tertentu. Dari pengertian ini, maka kegiatan yang dilaksanakan oleh Dewan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya pada hari Sabtu, 25 s.d. 26 Februari 2017 di Gedung Serba Guna Tjilik Riwut, komplek Gereja Katedral Palangka Raya merupakan rapat kerja seperti dimaksudkan di atas.
Media Kairos
Foto peserta Raker Dewan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya Periode 2017-2019
Dok. Yulius I.P. Situngkir

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh P. Patris Alu Tampu, Pr selaku Pastor Paroki. Selanjutnya, kegiatan ini diisi dengan pemaparan spiritualitas pelayanan oleh Rm. Anton Rosari, SVD. Pelayanan merupakan pekerjaan Tuhan, bukan pekerjaan pastor atau pekerjaan manusia. Seluruh yang terlibat dalam Dewan Paroki merupakan pribadi yang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Oleh karena itu sangat perlu untuk memahami spiritualitas pelayanan.

Setelah materi spiritualitas pelayanan, dilanjutkan dengan kegiatan identifikasi masalah sebagai bahan untuk menyusun program kerja. Pada sesi ini, Gregorius Doni Senun tampil sebagai pemateri. Dalam materi yang disampaikan, tercakup materi membuat rancangan anggaran untuk setiap kegiatan yang telah disusun dalam bentuk program kerja.

Rapat Kerja ini dihadiri oleh seluruh Dewan Paroki yang telah dilantik pada bulan Januari lalu, ditambah dengan utusan dari kelompok kategorial. Saat tulisan ini diterbitkan, rapat sedang berlangsung hingga besok, Minggu, 26 Februari 2017.


PETUGAS LITURGI MASA PRAPASKAH, PEKAN SUCI
DAN MINGGU PASKAH


HARI RABU ABU
Rabu, 1 Maret 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahandan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Anna
  2. Lingk. St. Ignatius
  3. Lingk. St. Bernadetha
Organis Bpk. Fidelis Harefa
Lektor I Sdri. Yosefin Situngkir
Lektor II Sdri. Yolanda Putri
Pemazmur Bpk. Marsel Selamat
Komentator Bpk. Gregorius Doni Senun
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh BidangLiturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Frederikus Sukadiman
  2. Bpk. Fidelis Harefa
MINGGU PALMA (I),
Sabtu, 8 April 2017, Gereja St. Yosef
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
WKRI
Organis Bpk. Wilhelmus Y. Ndoa
Lektor I Ibu Adriana Tamo Ina
Lektor II Ibu Rosalia Udes
Pemazmur Ibu Anna Seltina
Komentator WKRI
Petugas Tatib Disampaikan Melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan Melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan Melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh Bidang Liturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Eddy Suharsono
  2. Sdra. Victor Odja
MINGGU PALMA (II),
Minggu, 9 April 2017, GerejaKatedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Sisilia
  2. Lingk. St. Clara
  3. Lingk. St. Laurentius
Organis Sdri. Bertha Rina
Lektor I Sdri. Eleonora Gandesa Putri
Lektor II Sdra. Albeth Eko
Kisah Sengsara
  1. Sdra. Victor Odja
  2. Bpk.Yeremias Ragam
Pemazmur Bpk. F.X. Manesa
Komentator Sdri. Theresia Sinulingga
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu DisiapkanolehBidangLiturgiParoki
Pendamping Koor
  1. Sdra. Victor Odja
  2. Sdri. Bertha Rina
MISA KRISMA
Selasa, 11 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahandan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Yohanes
  2. Lingk. St. Antonius
  3. Lingk. St, Maria
Organis Bpk. Frederikus Sukadiman
Lektor I Ibu Patricia Erosa
Lektor II Sdri. Paulina Ware Dani
Pemazmur Sdri. Sisilia Malau
Komentator Bpk. Yakobus Dapa Toda
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh Bidang Liturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Silvester Adinuhgra
  2. Bpk. Frederikus Sukadiman
KAMIS PUTIH
Kamis, 13 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Petrus
  2. Lingk. St. Theresia
  3. Lingk. St. Yoseph
Organis Bpk. Ino Kondamaru
Lektor I Bpk. Yustinus Hendra
Lektor II Ibu Savera Mongi
Pemazmur Ibu CherlySeke
Duabelas Rasul Akan disampaikan melalui Warta Paroki
Komentator Ibu Anna Menur
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu DisiapkanolehBidangLiturgiParoki
Pendamping Koor
  1. Bpk. MarselSelamat
  2. Bpk. SilvesterAdinuhgra
HARI JUMAT AGUNG
Jumat, 14 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Lukas
  2. Lingk. St. FransiskusXaverius
Organis Bpk. Wilhelmus Y Ndoa
Lektor I Ibu Yusti Nainggolan
Lektor II Fortunatus Mangu
Passio
  1. Pastor
  2. Bpk. Marsel Heriteluna
  3. Bpk, Frederikus Sukadiman
Pemazmur Bpk. FransicoSoares
Komentator Ibu Pioni Naviary
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkanoleh Bidang Liturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. F.X. Manesa
  2. Bpk. Wilhelmus Y Ndoa
MALAM PASKAH - SABTU SUCI (I)
Sabtu, 15 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar OMK St. Ursula
Organis Sdr. Sanjai Sembiring
PujianPaskah Bpk. Yulianus Dani Nahar
Lektor I Ibu Agustiani Evodia
Lektor II Ibu Mariane Tinse
Lektor III Bpk. Benyamin Tunti
Lektor IV Sdri. Kristina Mensi
Pemazmur Sdr. Alalanda Ludus Saingan
Bpk. Stefanus Dh. Mangu
Bpk. Feliks Rodja
Komentator Sdri. Mentari Novia
PetugasTatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh Bidang Liturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Fr. Emil, Pr
  2. Sdr. Sanjai Sembiring
MALAM PASKAH - SABTU SUCI (II)
Sabtu, 15 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
Lingk. St. Arnoldus Janssen
Organis Bpk. Fidelis Harefa
PujianPaskah Bpk. MarselSelamat
Lektor I Ibu Stephani Tri Retnaningsih
Lektor II Sdri. Tiberty P. Dayman
Lektor III Ibu Nurhayati Ginting
Lektor IV Ibu Hertine Nyta Bahan
Pemazmur
  1. Ibu Emanuela Dara
  2. Ibu Ivone Christiana
  3. Ibu Henny Every
Komentator Sdra. Yoseph A.B. Punang
PetugasTatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh BidangLiturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Stefanus Dh. Mangu
  2. Bpk. Fidelis Harefa
MINGGU PASKAH PAGI
Sabtu, 16 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
Anak SEKAMI
Organis Fr. Emil, Pr
Lektor I Sdri. AjengPaskalia
Lektor II Sdra. Gregorius Michael
Pemazmur Ibu Diana Davi
Komentator Sdri. MentariNovia
PetugasTatib Disampaikanmelalui Warta Paroki
PembagiKomuni Disampaikanmelalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu DisiapkanolehBidangLiturgiParoki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Stefanus Dh. Mangu
  2. Bpk. Fidelis Harefa

Untuk Minggu Paskah Sore, Hari Raya Kenaikan, Hari Raya Pentakosta dan Jadwal Untuk Misa Inkulturasi akan diterbitkan kemudian.


Komentator dalam Perayaan Ekaristi bukanlah hal yang baru. Hanya saja, di beberapa tempat di Indonesia tidak diperkenalkan tugas ini sejak awal. Tentang komentator sendiri telah disebutkan dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) 105 b, yang berbunyi sebagai berikut:
Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada
umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik. Petunjuk-petunjuk itu harus disiapkan dengan baik, dirumuskan dengan singkat dan jelas. Dalam menjalankan tugas itu komentator berdiri di depan umat, ditempat yang
kelihatan tetapi tidak di mimbar.
Komentator sangat berbeda dengan pemandu ibadat (caeremoniarius) seperti yang disebutkan dalam PUMR 106. Mengenai pemandu ibadat akan kami bahas pada artikel tersendiri. Sedangkan untuk komentator, dari pengertian di atas, dapat kita sebutkan beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut:

  1. Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, seorang komentator bertugas untuk mengucapkan selamat datang kepada umat yang hadir, mengajak untuk siap masuk dalam suasana perayaan, mengingatkan untuk menghindari segala gangguan yang mungkin terjadi (menonaktifkan handphone, mengingatkan untuk tidak keluar masuk gereja selama perayaan dan hal-hal penting lainnya yang berhubungan dengan tata tertib perayaan.
  2. Menyampaikan tema perayaan agar seluruh umat mengetahui nama perayaan dan tema (misal: Hari Minggu Biasa VIII dengan intensi-intensi misa yang ada, dll)
  3. Memberitahukan kepada umat siapa pemimpin perayaan dan konselebran yang ikut dalam perayaan.
  4. Pada saat pengumpulan persembahan, komentator dapat menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan ketertiban pengedaran kantong persembahan.
  5. Sebelum menyambut komuni, komentator bertugas untuk memberitahukan siapa saja yang diperkenankan untuk menerima komuni. (Komuni tidak diperkenankan untuk diterima oleh mereka yang belum diterima secara resmi ke dalam Gereja Katolik, anak-anak yang belum menerima komuni pertama, umat yang berhalangan menurut aturan dalam Gereja Katolik).
  6. Komentator juga memberitahukan tempat-tempat penyambutan komuni (bila dibantu oleh beberapa pelayan komuni).
Beberapa hal di atas merupakan penjabaran dari tugas komentator yang disesuaikan untuk Gereja Katedral, Paroki St. Maria Palangka Raya.

Seorang komentator tidak menyampaikan informasi di mimbar yang ada di panti imam. Sebaiknya ada mimbar kecil yang khusus, dan tidak berada di panti imam. Tempat duduk komentator adalah di bangku umat paling depan. Komentator tidak menggunakan jubah seperti lektor dan pemazmur. Komentator cukup berpakaian rapi, sopan dan layak untuk sebuah perayaan.

Tanya jawab tentang Dewan Pastoral Paroki (DPP) pernah dirilis oleh Media Kairos pada tanggal 18 November 2013 yang lalu. Silahkan baca artikelnya di sini. 


DPP masa bakti 2017-2019 di Paroki St. Maria Palangka Raya telah dilantik oleh Mgr. Aloysisus M. Sutrisnaatmaka, MSF pada Minggu, 29 Januari 2017. Personil DPP yang dilantik telah ditetapkan dengan Surat Keputusan Uskupa Palangka Raya Nomor: SK/USKUP/05-DP/I/2017.

Penetapan DPP berdasar pada Ketentuan Hukum Kanonik 536, 1 & 2, Anggaran Dasar Dewan Paroki yang tertuang dalam Vademecum Pasotral Keuskupan Palangka Raya dan juga atas Surat Permohonan Pastor Paroki Katedral St. Maria Palangka No. 15/SP-P.SK/DP.SM/2017. Berikut ini adalah susunan DPP Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya Periode 2017-2019.

Ketua Umum
RD. Patrisius Alu Tampu

Wakil Ketua Umum
RD. Constantius Gatot Wibowo

Ketua I
Dr. F.X. Manesa, M.Pd

Ketua II
Julius I.P. Situngkir, S.H.

Sekretaris I
Dominggos Neves, S.Hut, M.Si

Sekretaris II
Stefanus Dh. Mangu, S.E.

Bendahara I
Frans Martinus, S.E.

Bendahara II
Lamria Simamora, S.E, M.Si

B I D A N G  -  B I D A N G

Bidang Liturgi

Koordinator
Fidelis Harefa, S.H.

Seksi Misdinar
Katarina Ani Liani, S.E.
Sr. Hermina Beding, SSpS

Seksi Lektor dan Mazmur
Viktor Rinus Raja Odja, S.S.
Agustiani Evodia

Seksi Koor dan Organis
Silvester Adinugraha, S.S, M.Hum
Frederikus Sukadiman, S.Pd
Edy Dwi Suharsono

Bidang Pewartaan

Koordinator
Benyamin Tunti, S.Fil

Seksi Sekolah Minggu dan Sekami
Henny Every, S.Ag
Rosalia Udes, S.Ag
Sesilia Astuti, S.Ag
Tiur Tina Tobing, S.Ag

Seksi Litbang dan Komunikasi
Dr. Joni Pambelum, M.Si
Frida Smith, S.T, M.T
Timotius, S.Fil, M.Th
Ernes
Wilibrodus Mengandika Wicaksono

Seksi Kerasulan Keluarga
Dr. Paskalis Pendi Sinulingga, M.Si
Patrisius Manpul S.P.

Bidang Pelayanan

Koordinator
Gregorius Doni Senun, S.Pd

Seksi Pengembangan Ekonomi
Yohanes Cangking, S.E.

Seksi Sosial (Pelayanan Kepada Pengungsi, Orang Sakit dan Umat dari Luar Paroki)
dr. Theodorus Sapta Atmadja
dr. Herry Tjahyono
Carolina Wiwiek Handayani
Mariati Tukimun

Seksi Rumah Tangga (Pastoran dan Gereja)
Dra. Anna Seltina
Sesilia Sri Lingga
Veronika Sherlywati

Seksi Duka
Eduardus Beny Santoso, S.P, S.Pd
Aloysius Sudirman

Seksi Aset dan Pembangunan
Antonius Rosa Kridaleksana, S.T.
Hendra Wiriawan, S.T.

Bidang Persekutuan

Koordinator
Dr. Yosef Dudi, M.Si

Seksi Kerawam/HAK
Dr. Marselinus Heriteluna, M.Kes

Seksi Kepemudaan
Yulianus Dani Nahar, S.P.
Raden Yulius Winata, S.H.

K E T U A  -  K E T U A   L I N G K U N G A N

Lingk. St. Anna
Yohanes Nico Ilay, S.T.

Lingk. St. Ignatius
Tarsisius Budiono

Lingk. St. Bernadetha
Titin, S.T.

Lingk. St. Sisilia
Mateus Sutaryo

Lingk. St. Clara
Yustinus Hendra, S.St, M.T, M.Sc

Lingk. St. Yohanes
Dra. Mariane Tinse, M.Pd

Lingk. St. Laurentius
Laurus Yuserto, S.Pd

Lingk. St. Antonius
Mandau R.A. Kindangen

Lingk. St, Maria
Antonius Tukimun

Lingk. St. Theresia
Andreas Jonggur Sihombing, S.P.

Lingk. St. Lukas
Drs. F.A. Endro Suryanto, M.Or

Lingk. St. Fransiskus Xaverius
Arpete Pancar Gaman, S.Pd

Lingk. St. Arnoldus Jansesn
David Hartono

Lingk. St. Yosef
Andreas Rahmat Susiandi, S.T.

Lingk. St. Petrus
Andreas R. Djumianto, BBA

Stasi St. Antonius Klampangan
Antonius Supardjono

Minggu, 5 Februari 2017


Bacaan I: Yes. 58:7-10;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 112:4-5,6-7,8a,9;
Bacaan II: 1Kor. 2:1-5;
Injil: Mat. 5:13-16.
Warna Liturgi: Hijau

"Kamu adalah garam dunia..."

Madah Bakti:
162, 236, 293, 459, 528, Regio Kalimantan: 621, 638, 688

Puji Syukur:
324, 544, 545, 549, 683, 694, 859, 955.

Minggu, 12 Februari 2017


Bacaan I: Sir. 15:15-20;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 119:1-2,4-5,17-18,33-34;
Bacaan II: 1Kor. 2:6-10;
Injil: Mat. 5:17-37.
Warna Liturgi: Hijau

"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak."

Madah Bakti:
159, 228, 294,  Regio Kalimantan: 618, 732

Puji Syukur:
326, 364, 368, 376, 585, 603, 657, 684, 852, 952

Minggu, 19 Februari 2017


Bacaan I: Im. 19:1-2,17-18;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 103:1-2,3-4,8,10,12-13;
Bacaan II: 1Kor. 3:16-23;
Injil:Mat. 5:38-48.
Warna Liturgi: Hijau

"Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu".

Madah Bakti:
171, 236, 293, 295, 529,  Regio Kalimantan: 624, 733, 738

Puji Syukur:
322, 661, 662, 663, 823, 952

Minggu, 26 Februari 2017


Bacaan I: Yes. 49:14-15;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 62:2-3,6-7,8-9ab;
Bacaan II: 1Kor. 4:1-5;
Warna Liturgi: Hijau

"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu".

Madah Bakti:
172, 235, 285, 302  Regio Kalimantan: 638, 727.

Puji Syukur:
323, 380, 541, 647, 697, 842, 961


(Pembukaan Pekan Doa Sedunia: Doa Untuk Persatuan Umat Kristen)


Ibr 7:1-3.15-17, Mrk 3:1-6

Hari sabat kembali menjadi kontroversi antara Yesus dan orang Farisi. Sabat adalah hari ketujuh dalam satu pekan. Pada hari itulah Allah beristirahat ketika menciptakan dunia. Sabat berarti “istirahat”. Beristirahat untuk pemulihan bagi raga yang enam hari penuh bekerja, namun juga pemulihan bagi jiwa dengan menempatkan waktu yang lebih dalam peribadatan dan doa-doa kepada Allah dari pada hari-hari biasanya.

Walaupun Yesus secara nyata berbuat kasih kebaikan kepada sesama dengan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya, terkena stroke, tetapi dianggap salah dan melanggar hukum Taurat menurut orang Farisi. Begitu kesalnya orang Farisi karena Yesus berulang kali dianggap melanggar hukum Taurat secara terbuka dan pada akhirnya mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus.
Apakah untuk berbuat kasih atau kebaikan ada aturannya? Bagaimana dengan ketulusan kasih jika dalam tindakan nyata kasih itu ada maksud serta tujuan tertentu? Bukankah kasih itu universal dan tidak mengenal sekat-sekat perbedaan satu dengan yang lainnya?

Ada pepatah Jawa mengatakan “Sing bener durung mesti pener” yang artinya sesuatu yang dianggap benar belum tentu cocok-pas bagi kebanyakan orang. Hal ini dimaksudkan bahwa dalam setiap tindakan yang kita lakukan selain diarahkan pada kebenaran juga pada hal yang cocok, pas, cukup, dan sesuai. Lebih ke arah pener. Hal yang baik dan pas menurut kita pun belum tentu itu baik dan benar menurut orang lain. Melakukan kasih dan kebaikan pun diarahkan pada yang pener-nya. Memberikan sedekah pada yang miskin benar adanya, tetapi ketika diberikan di perempatan jalan kepada orang yang meminta-minta maka menjadi tidak pener.

Bukan berarti tindakan Yesus menyembuhkan orang yang stroke ringan tersebut tidak bener dan pener. Justru Yesus mau mem-pener-kan pemahaman keliru dari orang Farisi. Yesus Sang Imam Agung menurut tata imamat Melkisedek senantiasa menghendaki agar hidup kita selalu bener dan pener seturut kehendak-Nya. Ragam peristiwa yang kita alami bisa menjadi cara Yesus yang mau mem-pener¬-kan kehidupan kita. Menyegarkan jiwa kita yang layu dan terutama menyembuhkan segala kelemahan dalam jiwa kita. Tuhan memberkati. Rm. Penta Lima

Media Kairos
Mgr. Yulius Aloysius Husin, MSF lahir di Asa, Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur pada tanggal 15 Agustus 1937. Pada tanggal 25 Juli 1964, ditahbiskan menjadi imam dalam Kongregasi Keluarga Kudus. Karena perkembangan umat katolik di Provinsi Kalimantan Tengah begitu pesat, Tahta Suci Roma menetapkan Palangka Raya sebagai satu keuskupan baru yang dimekarkan dari Keuskupan Banjarmasin.
 
Pada tanggal 14 Agustus 1993, Tahta Suci Roma mengumumkan secara resmi bawa Pastor Julius Aloysius Husin, MSF diangkat menjadi Uskup Pertama Keuskupan Palangka Raya. Mgr.Julius Aloysius Husin, MSF ditahbiskan pada tanggal 17 Oktober 1993. Uskup Banjarmasin, Mgr Fransiskus Xaverius Rocharjanta Prajasuta, MSF merupakan pentahbis utama didampingi oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM Cap dan Uskup Emeritus Banjarmasin, Mgr Wilhelmus Joannes (Guillaume Jean) Demarteau, MSF. Hari pentahbisan ini menjadi hari jadi Keuskupan Palangka Raya dan Paroki Palangka Raya menjadi Paroki Uskup atau Paroki Katedral.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai uskup, beliau didampingi oleh Pastor Martin M. Anggut, SVD sebagai Vikjen. Seiring dengan semakin berkembangnya jumlah umat Palangka Raya dan Gereja yang sudah ada (sekarang gedung Serba Guna Tjilik Riwut) tidak sanggup lagi menampung umat yang ada, dalam masa tugas Mgr. Husni menetapkan untuk membangun gereja yang baru (Gereja Katedral saat ini). Dalam pertemuan antara Mgr. J.A.Husin MSF dengan Dewan Paroki Katedral St. Maria pada tanggal 2 Februari 1994,gagasan tentang Pembangunan Gereja Katedral baru semakin jelas. Gagasi ini kemudian diperkuat dengan terbitnya Surat Keputusan Uskup Palangka Raya tanggal 28 Mei 1994 Nomor : 139/KP-PPGK/V/1994 tentang Pembentukan Panitia Pembangunan Gereja Katedral Palangka Raya.

Pembenahan keuskupan baru ini terus dilaksanakan. Pada tanggal 4-8 Oktober 1994, beliau mengundang semua petugas Pastoral, utusan-utusan komunitas suster dan beberapa wakil umat untuk ikut serta dalam Raker. Pedoman Kerja Keuskupan Palangka Raya dihasilkan oleh Raker ini.

Dalam proses pemantapan rencana pembangunan Gereja Katedral baru dan dalam proses mengaktualisasikan PPKK yang baru saja ditetapkan, Tuhan mempunyai rencana yang lain. Pada hari Kamis, 13 Oktober 1994, pukul
08.00 WIB, Mgr. Julius Aloysius Husin, MSF (57 tahun) meninggal dunia di rumah Kediaman Uskup, tepatnya 5 (lima) hari setelah Raker. Setelah beliau wafat,  P. Martin M. Anggut, SVD (Vikjen) diangkat sebagai Administrator Diosesan Palangka Raya.

Meskipun Mgr. Husin, MSF hanya menggembalakan Keuskupan Palangkaraya selama setahun, beliau sempat menjadi Uskup Pentahbis Utama bagi Mgr Florentinus Sului Hajang Hau, MSF sebagai Uskup Samarinda pada tanggal 21 November 1993. **Kairos.

Media Kairos

Ritus Liturgi Sabda dibagi menjadi dia struktur : Allah yang bersabda dan Umat yang menanggapi. Liturgi Sabda merupakan dialog perjumpaan antara Allah yang bersabda dan umat yang menanggapi melalui Mazmur Tanggapan. (Baca Artikel: Syarat dan Hal Teknis Menjadi Lektor Dalam Perayaan Ekaristi). Liturgi Sabda terdiri dari:

  1. Bacaan Pertama (umat duduk); Dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu dan Hari-hari Raya dibacakan tiga bacaan dari Kitab Suci. Bacaan pertama biasanya diambil dari Perjanjian Lama (kecuali masa-masa khusus, misalnya Masa Paska: Bacaan Pertama diambil dari Kisah Para Rasul). Tujuannya adalah memberi latar belakang sehingga menambah pengertian/ pemahaman sejarah keselamatan Allah dari perjanjian lama dan berpuncak pada Yesus yang di wartakan dalam Injil.
  2. Mazmur Tanggapan (duduk); Merupakan tanggapan umat atas Sabda Allah yang baru diwartakan. Biasanya dinyanyikan yang diilhami oleh Allah sendiri karena diambil dari Kitab Mazmur dan umat menyanyikan dibagian refren. Setelah umat mendengarkan Sabda Allah kemudian merenungkan serta membatinkan dalam hatinya, maka umat diajak untuk menanggapi sabda Allah tersebut. Sesuai namanya maka bagian ini diambil dari kitab Mazmur. Mengapa harus kitab Mazmur? Menarik apa yang dikatakan oleh Berthold Anton Pareira: “Pertama, Kitab Mazmur merupakan puisi dan nyanyian yang diilhami oleh Roh Allah. Kedua, Mazmur dapat dikatakan merupakan rangkuman dari PL (sebagai jawaban iman terhadap Allah). Ketiga, Mazmur telah dinyanyikan oleh Yesus Kristus sendiri (Mazmur mengantar kita memahami misteri Allah yang menjadi manusia). Ia telah menjadi sama seperti kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa. Ia bersedih, mengeluh, takut, kecewa, difitnah, dsb). Mazmur Tanggapan tidak boleh diganti dengan lagu antarbacaan seperti yang tersedia dalam Buku Nyanyian Gereja. Ritus Liturgi Sabda dalam Perayaan Ekaristi merupakan ritus yang telah diatur sedemikian sehingga boleh dikatakan sudah menjadi "kanon". Apabila tidak dinyanyikan, Mazmur Tanggapan dibacakan saja dengan bagian refrein diulangi oleh umat.
  3. Bacaan Kedua (duduk); Bacaan Kedua biasanya diambil dari tulisan/surat di perjanjian baru, misalnya salah satu surat Rasul Paulus, dll. Bacaan kedua mewartakan iman akan Yesus menurut konteks Gereja Perdana. Bacaan kedua bertujuan mempersiapkan umat pada puncak perayaan sabda yakni Injil.
  4. Bait Pengantar Injil (berdiri); PUMR No. 62 mengatakan: "Sesudah bacaan yang langsung mendahului Injil, dilagukan bait pengantar Injil, dengan atau tanpa alleluya, seturut ketentuan rubrik, dan sesuai dengan masa liturgi yang sedang berlangsung. Aklamasi ini merupakan ritus atau kegiatan tersendiri. Dengan aklamasi ini jemaat beriman menyambut dan menyapa Tuhan yang siap bersabda kepada mereka dalam Injil, dan sekaligus menyatakan iman. Seluruh jemaat berdiri dan melagukan bait pengantar Injil, dipandu oleh paduan suara atau solis". Bait pengantar Injil merupakan sambutan atau sapaan terhadap Allah yang hendak bersabda kepada mereka. Bait pengantar Injil menggunakan kata: “Alleluya” הללויה (kecuali selama masa Prapaska. Kata “Alleluya” ini berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “Terpujilah YHWH” dan digunakan dalam ibadat bangsa Yahudi. Sesuai dengan sifat dasarnya seruan ini merupakan ungkapan pujian sukacita kepada Tuhan yang bangkit, karena kata Halel berarti nyanyian pujian. Pada saat menyanyikan bait pengantar Injil umat berdiri, sebagai tanda kesiapsediaan untuk menyambut Tuhan Yesus Kristus yang akan bersabda dalam Injil.
  5. Injil (berdiri); Merupakan puncak Liturgi Sabda. Gereja percaya bahwa Kristus "hadir dalam sabda-Nya, karena Ia sendirilah yang bersabda ketika Kitab Suci dibacakan di gereja". Oleh karena itu, bacaan injil mempunyai beberapa keistimewaan : (1) Dibacakan oleh imam/diakon dan umat berdiri; (2) Injil di hormati dengan pendupaan (untuk hari raya/ pesta); (3) Sebelum bacaan injil ada dialog antara imam & umat : "Tuhan bersamamu” dan umat menjawab “Dan bersama rohmu”; (4) Kemudian Imam berkata, "Inilah Injil Yesus Kristus menurut (Lukas / Matius / Markus /Yohanes)” dan umat menjawab “Dimuliakanlah Tuhan”, sambil membuat tanda salib kecil di kening, bibir dan hati dengan ibu jarinya. Makna salib kecil ini adalah  kita bisa ungkapkan dalam hati “SabdaMu, ya Tuhan kami pikirkan dan renungkan (tanda salib dikening), kami wartakan (tanda salib dimulut), dan kami resapkan dalam hati (tanda salib didada/hati).
  6. Homili (duduk); Homili dimaksudkan untuk mewartakan dan mendalami sabda Allah / misteri iman yang bertolak dari bacaan / tema yang baru dibacakan, dengan bahasa / situasi umat yang dihadapi saat ini sehingga dapat memperteguh iman umat. Hal penting yang perlu diketahui tentang homili: Perbedaan Homili dengan khotbah: Homili merupakan penjelasan tentang isi Kitab Suci (Bdk. PUMR no. 65) sedangkan khotbah tidak selalu menjelaskan isi Kitab Suci. Dalam langkah praksis pastoral, Homili biasanya disampaikan oleh imam selebran utama tetapi tidak menutup kemungkinan pemberi homili digantikan dengan imam konselebran atau kepada diakon, atau juga dengan alasan yang khusus kepada seorang imam yang tidak ikut konselebran tetapi tidak pernah diberikan kepada seorang awam (Bdk. PUMR no. 66). Seorang imam wajib memberikan homili pada hari minggu dan pesta-pesta wajib dan hanya boleh ditiadakan dengan alasan yang berat. Homili sangat dianjurkan pada hari-hari biasa dalam masa-masa khusus (PUMR no. 66).
  7. Syahadat – Doa Aku Percaya (berdiri); Merupakan pernyataan iman seluruh umat, sekaligus meng-AMIN kan bacaan dan homili yang telah kita dengarkan sebelumnya.
  8. Doa Umat (berdiri); Merupakan doa seluruh umat beriman bukan hanya untuk kepenting diri sendiri dan kelompok, melainkan doa untuk seluruh Gereja semesta. Biasanya doa umat mencakup: doa bagi Gereja, negara dan pemimpin masyarakat, bagi orang-orang dengan kepentingan khusus dan bagi kepentingan umat paroki. Jika di beri waktu hening, kita pun dapat mendoakan doa kita dalam hati. Pada setiap doa, umat menjawab “Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan." Biasanya doa dibuka & ditutup oleh imam/prodiakon, kemudian tiap doa didoakan oleh lector/pembaca.
Dari urutan di atas, sangat jelas terungkap di dalam Liturgi Sabda kehadiran Allah sendiri. Jadi Allah tidak hanya hadir pada saat Liturgi Ekaristi dimulai, melainkan pada saat Perayaan Ekaristi dimulai. Mengakhiri seluruh pembahasan ini, baiklah kita melihat Yoh. 1: 1,14 yang merupakan inti/puncak dari Liturgi Sabda: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita.”

Media Kairos
Kelompok Paduan Suara Misa 50 Tahun Paroki St. Maria Palangka Raya

Lagu dalam Perayaan Ekaristi merupakan bagian dari musik liturgi. Musik Liturgi adalah musik yang digunakan untuk ibadat/liturgi, mempunyai kedudukan yang integral dalam ibadat, serta mengabdi pada kepentingan ibadat. Dalam Sacrosanctom Concilium (SC) art. 112 dikatakan: “Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”

Dari pengertian di atas, diandaikan bahwa kita sudah memahami dengan benar apa pengertian liturgi. (Silahkan baca artikel: Pengetahuan Dasar Liturgi dan Pengertian Liturgi Secara Umum). Karena liturgi merupakan karya bersama, dibaktikan untuk kepentingan bersama dalam memuliakan Tuhan, maka lagu pembukaan sangat perlu dinyanyikan oleh seluruh umat.

Peranan petugas liturgi, secara khusus pemilih dan pemimpin lagu sangat menentukan. Seorang pemilih dan pemimpin lagu harus memahami secara benar tentang makna lagu pembukaan dalam perayaan yang dibaktikan bersama dan dilakukan secara bersama. Yang lebih sering terjadi adalah bahwa seluruh lagu dalam perayaan ekaristi, dari pembukaan hingga penutup hanya dinyanyikan oleh kelompok paduan suara yang duduk di salah satu tempat dalam gereja.

Kehadiran kelompok paduan suara tidak menjadi masalah karena mereka juga disebut sebagai pelayan liturgi. Kesalahan muncul apabila kelompok paduan suara mengabaikan keterlibatan seluruh umat dalam lagu liturgi. Kesuksesan sebuah perayaan liturgi bukan terletak pada kesuksesan kelompok paduan suara dalam melayani lagu liturgi tetapi terletak pada bagaimana seluruh umat yang hadir terlibat secara aktif dalam karya yang dibaktikan bersama itu.

Salah satu solusi yang tepat dalam memilih lagu pembukaan yang liturgis adalah dengan menggunakan lagu-lagu yang telah disediakan dalam Buku Nyanyian Liturgi seperti Madah Bakti, Kidung Agung, Puji Syukur dan buku nyanyian liturgi lainnya yang telah diakui oleh Gereja. Perlu diusahakan pula agar umat mengetahui lagu yang dipilih. Bila belum diketahui, perlu diselenggarakan pelatihan bersama untuk mengetahui lagu-lagu liturgi.

Ingat, makna liturgi lebih banyak hilang karena petugas liturgi ingin hasil yang cepat, tidak melalui prosedur yang perlu, misalnya sosialisasi lagu-lagu liturgi. Karena minimnya sosialisasi lagu liturgi, akhirnya kita mewariskan kesalahan yang sama sehingga liturgi yang kita rayakan semakin lama semakin hilang makna kebersamaannya.

Media Kairos
Perarakan Pada Misa 50 Tahun Paroki St. Maria

Perayaan Ekaristi merupakan suatu perayaan yang bersifat satu kesatuan dan utuh. Perayaan terdiri dari Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi dan Ritus Penutup. Artikel berikut membahas secara khusus urutan dan makna Ritus Pembuka dalam Perayaan Ekaristi.

Ritus Pembuka bertujuan mempersatukan umat yang berkumpul dan mempersiapkan umat untuk mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. Ritus pembuka terdiri atas beberapa bagian :

  1. Perarakan masuk (berdiri): tujuan untuk membuka misa, membina kesatuan umat, mengantar masuk misteri iman sesuai dengan masa liturgi, mengiringi perarakan imam beserta pembantunya. Perarakan diiringi dengan Lagu Pembukaan yang melibatkan seluruh umat (Baca Artikel: Pentingnya Partisipasi Umat Menyanyikan Lagu Pembukaan)
  2. Pendupaan & Penghormatan Altar oleh Imam dengan makna: Imam (mewakili umat) menghormati altar dengan mencium altar; pendupaan diadakan untuk hari-hari besar / hari khusus. Imam mengisi dupa & memberkati dengan membuat tanda salib. Pendupaan itu untuk penghormatan pada Sakramen Mahakudus, reliqui salib/patung Tuhan, bahan persembahan, Kitab Injil, lilin paskah, imam dan jemaat.
  3. Tanda Salib: Imam mulai perayaan ekaristi dengan membuat tanda salib “Dalam (Demi) nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”. Umat membuat tanda salib dan menjawab “Amin”. Dengan tanda salib kita menyadari bahwa kita di bawah sumpah untuk menjadi bagian dari keluarga Allah dan umat yang hadir. Tanda salib mengingatkan kembali akan pembaptisan kita, saat kita ditandai dengan salib dan masuk dalam hitungan keluarga Allah. Dengan tanda salib ini , kita juga mengakui iman Trinitas, yaitu hubungan keluarga, kehidupan batiniah dan persekutuan abadi dari Allah.
  4. Salam Pembuka: Imam menyampaikan salam dengan mengatakan “Tuhan bersamamu” dan umat menjawab “ Dan bersama rohmu". Hal ini menyatakan bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah umat yang hadir.
  5. Pengantar: Imam mengarahkan umat kepada inti bacaan, liturgi yang akan dirayakan saat itu. Dalam pengantar, imam juga dapat menyebutkan beberapa hal yang menjadi intensi perayaan terutama bila perayaan itu didedikasikan untuk perayaan tematis.
  6. Tobat (berlutut) : dalam ritus tobat, biasanya umat menepuk dada saat mengucapkan "saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa" dalam doa saya mengaku. Gerakan ini merupakan simbol rasa sesal dan tobat. Dalam doa ini, umat menyampaikan penyesalan dan pertobatan atas dosa dan kesalahan pada Tuhan dan sesama. Mengakhiri doa tobat, imam memberikan ABSOLUSI / PENGAMPUNAN dengan menjawab “Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal”. Absolusi/Pengampunan ini tidak memiliki kuasa yang sama dengan absolusi pengampunan pada Sakramen Tobat.
  7. Tuhan Kasihanilah: seruan/litani untuk mohon belas kasih Tuhan, yang diteladankan dua orang buta yang di sembuhkan Yesus (lih Mat 9:27). Bagian ini lebih sering dinyanyikan terutama dalam perayaan hari Minggu dan hari raya. 
  8. Kemuliaan (berdiri): Untuk misa Natal dan Paskah, biasanya ketika Madah Kemuliaan dinyanyikan, lonceng dibunyikan. Sesuai dengan namanya, Madah Kemuliaan bertujuan untuk memuliakan Allah. Dalam menyanyikan Madah Kemuliaan, harus sesuai dengan sikap tubuh yang memuliakan penuh kemeriahan. 
  9. Doa Pembukaan : diawali dengan waktu hening untuk menyadari kehadiran Tuhan, mengungkapan permohonan kita dalam hati, kemudian Imam menggabungkan seluruh doa dengan ujud doa pada misa tersebut.
Ketika Imam mengatakan: Marilah Berdoa, saat itu pula petugas Lektor dan Pemazmur harus bersiap-siap untuk menuju mimbar. Hal ini diperlukan agar dalam Perayaan Ekaristi tidak terlalu banyak "waktu jedah" atau "menunggu". Setelah imam mengakhiri Doa Pembukaan dengan jawaban "Amin" dari umat, para petugas sabda sudah siap untuk membacakan Sabda Allah.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget