MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Januari 2019

Perbedaan bukanlah sebuah musuh yang dapat mencerai-beraikan hidup kita. Hidup sebagai masyarakat, hidup sebagai orang beriman dan hidup dalam berkeluarga selalu diwarnai dengan aneka ragam perbedaan. Walaupun Anaxagoras dalam filosofi cintanya mengatakan "yang sama mengenal yang sama", tapi perbedaan itu bisa menjadi persamaan bila dipahami sebagai saling membutuhkan dan saling melengkapi. Mari kita lihat Falsafah Lima Jari berikut ini:

  1. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.
  2. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.
  3. Ada si jangkung jari tengah yang sombong , paling panjang dan suka menghasut jari telunjuk.
  4. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.
  5. Dan ada kelingking yang lemah dan penurut.

Dengan perbedaan positif dan negatif yang dimiliki masing-masing jari, mereka bersatu untuk mencapai 1 tujuan (saling melengkapi). Dan karena meraka hadir dengan caranya masing-masing, akhirnya mereka dapat meraih sesuatu dengan kuat dan kokoh.

Pernahkah kita bayangkan bila tangan kita hanya terdiri dari jempol semua? Atau mungkin hanya telunjuk semua. Tidak ada yang penurut, semua mau memerintah. Falsafah ini sederhana namun sangat berarti.

Kita terlahir dengan segala perbedaan yang kita miliki dengan tujuan untuk bersatu:

  • saling menyayangi
  • saling menolong
  • saling membantu
  • saling mengisi

Bukan untuk:

  • saling menuduh
  • menunjuk atau merusak.....

Semua perbedaan dari kita adalah keindahan yang terjadi agar kita rendah hati untuk menghargai orang lain. Tidak ada satupun pekerjaan yang dapat kita kerjakan sendiri. Mungkin kelebihan kita adalah kekurangan orag lain, dan sebaliknya kelebihan orang lain bisa saja menjadi kekurangan kita. Tidak ada yang lebih bodoh atau lebih pintar, bodoh atau pintar itu relatif sesuai dengan bidang/talenta yang patut kita syukuri masing-masing menuju impian kita.

Keseluruhan yg dimiliki menjadi sempurna. Bukan individualis yg sempurna. Orang pintar bisa gagal, orang hebat bisa jatuh, tetapi orang yang rendah hati dalam segala hal akan selalu mendapat kemuliaan. Itulah keyakinan kita semua bila kita menghargai perbedaan satu sama lain. Kita akan menjadi orang paling kaya karena kita merasa dilengkapi oleh satu sama lain. Kita menjadi orang bahagia karena kita selalu berkecukupan.

Dalam hidup beriman pun kita harus menjadi orang yang selalu bergembira. Meskipun kita memiliki pengalaman dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, kita tetap dipersatukan oleh Dia yang telah lahir dan bangkit untuk kita. Bila demikian, mengapa kita perlu bersedih? Kita patut bersyukur atas keragaman yang ada di antara kita, karena itu sangat memperkaya dan memperteguh iman kita. Semoga!**Yakobus Dapa Toda, S.S.

"Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: 'Murka-KU menyala terhadap engkau dan terhadap ke dua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang AKU seperti hamba-KU Ayub.' "

Ketika seseorang teman jatuh dalam kesalahan dan dosa, seringkali kita 'berusaha' menjadi pendamping untuk dirinya. Namun Pendampingan yang diberikan seringkali salah dan hasilnya gagal. Itu terlihat ketika Elifas dan kedua temannya berusaha memberikan 'pastoral' kepada Ayub, namun bukannya membuat dan menimbulkan damai sejahtera, tapi yang terjadi murka Allah menyala-nyala terhadap mereka.

Di mana Kesalahannya?
Karena mereka TIDAK BERKATA BENAR tentang Allah. Mereka tahu tentang Allah, tapi mereka Tidak berkata benar tentang Allah. Mereka lebih cenderung menghakimi.
Bagaimana dengan kita selaku orang percaya. Apakah kita seorang pelayan Tuhan (apapun kedudukan kita). Sudahkan kita berkata benar tentang Allah? Atau justru ada yang dikecewakan oleh karena PSTORAL kita YANG GAGAL? Berkatalah yang benar tentang Allahmu, timbulkanlah dalam hati setiap orang, Damai Sejahtera Allah. **Yakobus Dapa Toda, S.S.

Kitab Suci Kristen melukiskan bahwa Allah itu Mahakuasa, Maha pengasih dan Maha penyayang. Dan Gerejapun mengajarkan hal serupa kepada umat beriman bahwa Allah itu pencipta segala yang baik dan Dia adalah penggerak pertama (Actus Purus), tidak ada kuasa yang lebih besar di luar kuasa-Nya.

Namun bila berhadapan dengan penderitaan di bumi, manusia terkadang bertanya, benarkah Allah itu mencipta baik adanya? Benarkah Tuhan itu Maha pengasih dan penyayang? Kalau memang Allah itu pengasih dan penyayang, bagaimana mungkin penderitaan itu ada di muka bumi ini? Dan yang menjadi persoalan lain yakni mengapa penderitaan itu harus dialami juga oleh orang-orang yang baik dan saleh? Dan mengapa Allah itu tidak menghukum orang jahat?

Pertanyaan-pertanyaan refleksif di atas tadi mengajak kita untuk mencoba mengerti dan memahami makna penderitaan di bumi dan bagaimana iman Gereja berbicara tentang penderitaan manusia di bumi. Penderitaan bagi kebanyakan orang selalu dihubungkan dengan dosa (hukuman Tuhan) sedangkan sebagian lagi memahami penderitaan secara positif yakni sebagai batu uji menuju keselamatan.

Beberapa Pandangan Tentang Penderitaan

Menurut Kitab Suci, penderitaan merupakan sesuatu yang tidak baik atau sesuatu yang sama sekali berlawanan dengan apa yang dikehendaki baik berhubungan dengan fisik maupun psikis. Penderitaan ini bisa mencakup penderitaan fisik, emosional, penderitaan karena orang lain atau demi orang lain. Mengapa manusia menderita? Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama melukiskan bahwa penderitaan tidak dikehendaki Allah. Dasar biblisnya yakni Kej. 3:1-24 yang mengungkapkan bahwa Allah pencipta tidak menghendaki adanya penderitaan. Demikian juga dengan Kej. 1:1-2:4.a yang mengatakan bahwa, Allah melihat bahwa semuanya baik. Penderitaan dan kematian justru ada setelah manusia jatuh dalam dosa dan diusir oleh Allah dari Taman Eden (Firdaus) Kej. 2:4.a-3:24.

Penderitaan dalam arti umum dan mendasar merupakan bagian dari penderitaan manusia. Penderitaan itu mencakup keseluruhan hidup manusia baik secara jasmani maupun rohani (somatis-psikologis karena antara keduanya tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain lain). Dari kaca mata psiko-spiritual melihat bahwa penderitaan jasmani tidak melulu hanya disebabkan oleh hal-hal atau faktor fisik melulu tetapi juga dipengaruhi sikap hidup, perasaan, relasi dan konflik.

Maka benar apa yang dikatakan Plato bahwa kesalahan besar pengobatan sakit jasmani adalah bahwa dokter melalaikan keseluruhan. Belajar dari kebijaksanaan zaman dulu bahwa kesehatan yang benar dan sejati tercapai apabila orang hidup dalam harmonis dengan dirinya, orang lain dan lingkunganya dan tetap bersikap seimbang menhadapi perubahan-perubahan dan tantangan dan mengembangkan kekuatan penyembuhan dari dalam diri sendiri. Atau dengan kata lain, sehat mencakup keseluruhan dan utuh (wholeness). Penderitaan sendiri pada dirinya tidak pernah baik tetapi menjadi tugas dan panggilan kita untuk menyembuhkannya. Penderitaan mestinya diterima sebagai sumber kekuatan untuk mentransformasi diri dan membiarkan penderitaan itu meragi diri kita.

Yesus sendiri menerima salib, penderitaan dan kematianNya dan akhirnya menjadi saluran cinta yang membebaskan. Maka bagi orang kristen salib yang diterima seharusnya menjadi sarana yang membebaskan. Dan dengan salib itu, kita juga membiarkan kekuatan yang sama mengalir. Memang tidak semua penderitaan adalah salib tetapi setiap penderitaan dapat ditebus oleh salib.
Pandangan moral katolik cenderung memahami penderitaan dalam kaitannya dengan keterlibatan Tuhan dalam kehidupan manusia. Penderitaan tidaklah semata-mata karena kelemahan biologis manusiawi tetapi juga terjadi karena dosa.

Setelah memahami beberapa pandangan tentang penderitaan di atas, apakah pandangan kita tentang penderitaan itu sendiri? Adakah kita melihat penderitaan sebagai hukuman atas dosa-dosa kita? Adakah kita melihat penderitaan sebagai sebuah ketidakadilan dari pihak Allah? Adakah penderitaan kita lihat sebagai awal sesuatu yang baru?

Apakah Tuhan menciptakan penderitaan?

Saya kira jawabannya tetap menjadi suatu misteri. Namun untuk mengerti hal ini, kita mesti memahami ungkapan dalam Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi, terang dan gelap, kebaikan dan penderitaan. Ungkapan ini hendak menunjukkan bahwa Allah adalah penguasa segala sesuatu, Allah berkuasa atas seluruh jagat raya dan yang ditekankan lagi yakni ke-Esa-an Allah. Ungkapan pohon pengetahuan yang baik dan jahat menunjukkan privelege Allah. Ini berarti penderitaan itu sendiri misteri yang hanya dapat dimengerti dan diselami dengan hati penuh iman akan kasih Tuhan yang senantiasa berlimpah untuk manusia.

Memaknai Penderitaan

Kalau penderitaan sebagai akibat dari dosa dan atau sebagai bagian dari kehidupan manusia seperti dituturkan di atas, apakah kita menerima atau menolak penderitaan begitu saja? Penderitaan tidak hanya bernilai negatif melainkan juga mengandung nilai positif. Nilai positifnya: penderitaan merupakan sarana pendidikan. Allah memakai penderitaan untuk mendidik umat-Nya. Melalui penderitaan, orang dituntun kembali pada kebahagiaan dan kesetiaan. Penderitaan juga berperan sebagai batu uji untuk memurnikan manusia dan mendekatkannya kepada Allah. Melalui pendertiaan, Allah mengharapkan manusia untuk merubah pola laku dan untuk makin paham akan nilai atau makna cinta dan kehidupan.

Lebih dari itu, setiap penderitaan, sakit dan atau musibah yang terjadi dapat menjadi koreksi bagi setiap orang. Koreksi akan apa yang pernah dilakukan di masa yang lalu demi masa depan yang lebih baik. Orang yang berpikir jernih dan profesional tidak perlu melemparkan kesalahan kepada orang lain kalau menemui kesulitan. Tidak perlu mencari tumbal, yang menjadi korban sebagai pelampiasan amarah, rasa kecewa atau sakit hati. Karena, berbuat demikian, bukannya mengurangi penderitaan tetapi malah semakin masuk ke dalam penderitaan itu dan hidup dalam kecemasan dan kegelisahan batin yang tak henti-hentinya.

Penderitaan bisa saja datang dalam berbagai bentuk yang sederhana. Saat harga diri terancam, saat keinginan kita tidak tercapai, saat ada orang yang menghambat kecenderungan kita, saat ada orang yang mengetahui dan mengorek kesalahan kita, dll. Semua itu datang dalam porsinya masing-masing. Menutup mata dan diri terhadap semua itu tidak membawa perubahan, malah akan membawa ke kehancuran yang kekal dan pada akhirnya jatuh dan malu.

Masalah, musibah, penyakit dan aneka macam hal yang merugikan dapat dilihat sebagai acuan untuk mengoreksi diri. Perlu pembuktian dan menggali maknanya. Yang disayangkan adalah bahwa tidak semua orang mempunyai pemahaman yang sama dalam melihat penderitaan.

Berhadapan dengan pengalaman derita manusia atas penderitaan, Gereja ditantang untuk menunjukkan sikap yang benar dan tepat. Gereja mesti mengikuti teladan Yesus yang dengan murah hati melayani dan menyembuhkan orang sakit dan menderita. Meneladani jiwa dan teologi kegembalaan Yesus yang mencari domba yang hilang dan membawanya kembali, bukan membiarkan atau mengusirnya. Gereja mesti menunjukkan diri sebagai sarana keselamatan dengan menjalankan Tugas Gereja Membimbing, Memimpin, dan Menguduskan melalui pelayanan sakramen-sakramen, khususnya sakramen-sakramen Penyembuhan (Pengurapan dan Tobat).

Fidelis Harefa

Sejarah Hukum Gereja


Hukum Gereja atau Hukum Kanon dalam bentuk formal pertama kali disusun oleh Dionisius Exiguus sekitar tahun 500. Dionisius mengumpulkan semua peraturan dan keputusan atau canones (= peraturan, ukuran; Yunani.) yang dikeluarkan oleh sinode, Konsili Ekumenis dalam  Corpus Canonum. Pada abab 12, Gratianus, seorang biarawan Italia, mengumpulkan dan menyelaraskan ketentuan-ketentuan yang ada. Kumpulan itu kemudian hari disebut Decretum Gratiani, yang bersama empat kumpulan lain (Liber Extra dari Gregorius IX, Liber Sextus dari Bonifasius VIII, Clementinae dari Klemens V dan Extravagantes dari Yohanes XXII) membentuk Corpus Iuris Canonici, yang diakui pada tahun 1582. Baru pada tahun 1917 semua peraturan yang dikeluarkan kemudian,  bersama dengan Corpus Iuris Canonici tersebut disusun pertama kali secara sistematis sebagai Codex Iuris Canonici yang lebih dikenal dengan sebutan Kitab Hukum 1917 dan kemudian direvisi menjadi Kitab Hukum Kanonik yang dipromulgasikan pada tahun 1983.

Yoanes XXIII mengatakan bahwa Kitab Hukum dari tahun 1917 itu perlu disesuaikan dengan kebutuhan zaman kita ini. Ajaran Konsili Vatikan II sangat mempengaruhi rumusan hukum Gereja yang baru, terutama dengan – eklesiologinya, yaitu ajarannya bahwa Gereja adalah – communio orang beriman yang dipanggil Tuhan. Selain itu ditentukan bahwa hukum baru harus (1) memperhatikan  keperluan – umat Allah, (2) menjaga hubungan dengan – tradisi, (3) mengungkapkan kedudukan dasar yang sama semua orang beriman dan status kaum awam, (4) menguatkan jabatan uskup, (5) menerapkan prinsip – subsidiaritas, (6) merumuskan batas-batas wewenang seorang pimpinan Gereja dengan jelas, (7) memperluas perlindungan hukum dan (8) merumuskan kembali serta memperpendek pasa-pasal tentang hukuman. Petunjuk-petunjuk ini kurang lebih diperhatikan walaupun belum dirumuskan secara sempurna dalam bahasa yuridis. Pada tahun 1983 Codex Iuris Canonici (CIC) yang baru atau – Kitab Hukum Kanonik (KHK) diterbitkan dan diberlakukan untuk umat Katolik – Ritus Latin.

Teologi Hukum

Ada orang yang mengatakan bahwa ‘Hukum Gereja bertentangan secara fundamental dengan hakikat Gereja’ (R. Sohm). Bagi banyak umat Protestan, Gereja yang sebenarnya bersifat rohani semata-mata dan karena itu tidak (perlu) mempunyai hukum, paling-paling ‘hukum cintakasih’. Peraturan-peraturan gerejani hanya mengatur bidang lahiriah, yang tidak penting untuk keselamatan. Bagi teologi Katolik pun tidak mudah menunjuk dengan jelas dasar teologis (!) bagi hukum Gereja. Sebab, Gereja bukan hanya masyarakat manusiawi yang ditingkatkan oleh rahmat ilahi, sehingga hukumnya dapat begitu saja didasarkan pada – kodrat sosial orang beriman (seperti hukum duniawi). Norma normatif tertinggi Gereja bukan hukum, melainkan – Roh Kudus sendiri. Maka, ada yang menolak sifat teologis hukum Gereja; ada yang mendasarkan hukum itu pada – inkarnasi Sabda Allah atau pada ‘sabda dan Sakramen’ sebagai unsur konstitutif Gereja; dan ada yang mendasarkannya pada ajaran Konsili tentang Gereja; dan ada yang yang mendasarkannya pada ajaran Konsili tentang Gereja, sebagai communio. Segi ini ditekankan kembali oleh Sinode Uskup Sedunia dua puluh tahun sesudah Konsili (1985).

Communio mengungkapkan persekutuan/persatuan adikodrati antar-orang beriman dengan Tuhan dan dengan sesama mereka yang berhubungan dengan Tuhan. Communio itu adalah datum (=pemberian; Lat) yang diterima dan sekaligus – mandatum (=tugas; Latin) yang perlu dilaksanakan. Communio mengungkapkan pengambil-bagianan dalam Tubuh Kristus yang adalah Gereja (G 7). Kedua segi communio tersebut erat berkaitan satu sama lain dan tampak dalam Perjamuan – Ekaristi yang adalah pusat kehidupan Gereja, titik tolak dan tujuan segala kegiatannya. Communio sebagai persekutuan yang kelihatan adalah persatuan yang dikerjakan Roh Kudus, yaitu umat orang beriman yang kelihatan dan tersusun. Inilah sarana bagi Roh Kudus Yang tak kelihatan, mirip Tubuh Kristus Yang dilahirkan Bunda Maria menjadi sarana tak terpisahkan bagi Sabda Allah dan perutusanNya (G 8). Ciri sakramental communio itu dipandang sebagai dasar hukum Gereja. Sebab communio itu mengungkapkan baik segi rohani-ilahi maupun segi lahiriah-manusiawi Gereja, yang adalah suatu – misteri dan sekaligus suatu organisasi. Gagasan communio sebagai persaudaraan orang beriman tidak boleh menggeser tugas hukum sebagai sarana penyelesaian konflik-konflik yang wajar dan kadang-kadang bahkan perlu. Maka, konflik dan orang yang terpaksa menimbulkannya tidak boleh begitu saja dicap perusak communio.

Bagaimanapun, hukum Gereja memperoleh isinya dari iman Kristiani, yang normanya dirumuskan secara berbeda-beda dalam situasi historis dan sosio budaya tertentu. Tentu saja, Kitab Suci lebih utama bagi kehidupan Gereja daripada Kitab Hukum Kanonik. Maka,  “Kitab Hukum sama sekali tidak bermaksud mengganti iman, rahmat, karisma dan lebih-lebih cinta kasih dalam kehidupan Gereja atau kaum beriman Kristiani. Sebaliknya, Kitab Hukum terutama bertujuan menumbuhkan ketertiban dalam masyarakat gerejani sedemikan rupa, sehingga memberikan tempat utama pada cinta, rahmat dan karisma. Maka, Kitab Hukum sekaligus juga ingin memudahkan perkembangan teratur dari semuanya itu baik dalam kehidupan masyarakat gerejani maupun dalam kehidupan tiap-tiap orang yang termasuk di dalamnya” (Yoanes Paulus II, Konstitusi Undang-Undang Tata Tertib Suci’, 1983)

Arti Hukum Gereja

Hukum Gereja yang terdapat dalam KHK dan dokumen yuridis lain hanyalah hukum - Ritus Latin saja; (lihat Kan 1). Belum ada hukum dasar seluruh Gereja Katolik. – Kitab Hukum Ritus-Ritus Timur diterbitkan pada tahun 1990 dan diberlakukan paus pada Oktober 1991. Hukum Gereja adalah hukum rohani, maka tidak dimaksudkan untuk dipaksakan dengan tindakan-tindakan kekerasan dan bantuan alat Negara. Karena sifat rohani itu, hukum Gereja mengenal – epikia atau equitas, yaitu kewajaran yang memberi kelonggaran demi peranan kerahiman (kan 19).

Dalam Hukum Gereja ini perlu dibedakan ius mere ecclesiasticum (hukum yang hanya gerejani, maka manusiawi) dan ius divinum yang berdasarkan wahyu, yakni hukum ilahi positif. (Selain itu terdapat – hukum kodrat yang berdasarkan wahyu kodrati dalam ciptaan). Hukum ilahi tidak berubah, walaupun kesadaran kita akan arti dan lingkupnya dapat berkembang, sebagaimana juga lembaga-lembaga yang diadakan atas petunjuk ilahi dapat berkembang di bawah dorongan Roh Kudus (misalnya, peranan serta kedudukan konsili, - kepausan, diakonat; peranan wanita dalam Gereja). Pernyataaan suatu hukum sebagai ketetapan ilahi harus dilakukan atas dasar yang meyakinkan dan dengan saksama. Jika suatu hukum ditetapkan oleh Gereja berkat  wewenang yang diberikan Kristus kepadanya, maka hukum itu disebut hukum gerejani (melulu) dan dapat berubah (misalnya, - selibat, aturan – puasa). Hukum Gerejani itu dapat berlaku bagi seluruh Gereja atau bagi sebagian saja. Kitab Hukum Kanonik, misalnya, hanya berlaku untuk umat Ritus Latin.

Bidang berlakunya hukum perlu dibedakan atas forum externum atau bidang lahiriah dan forum internum atau bidang batin. Peraturan dan keputusan dalam bidang batin berlangsung hanya antara pejabat gerejani dan orang beriman yang bersangkutan tanpa diketahui umum. Bidang batin tidak sama dengan bidang – suara hati atau forum conscientiae.

Relativisasi Hukum Gereja

Rupanya, cukup banyak imam tidak (bisa) mengerti hukum Gereja universal dan karenanya melalaikannya. ‘Penyakit’ ini tidak dapat disembuhkan dengan menambah peraturan baru, yang kurang dikenal dan tidak diindahkan juga. Dalam Gereja tidak mudah  memaksakan  pengamalan hukum, kadang-kadang bahkan justru menimbulkan kerugian bagi ‘keselamatan jiwa’. Hukum tertinggi dalam Gereja (Kan 1752). Manakah alasan kecenderungan relativisasi hukum dalam Gereja? Tanggungjawab pribadi yang lebih luas tidak akan memperbaiki keadaan. Agak pasti ‘hak orang yang lebih kuasa akan menang: pressure groups dalam umat,, para dermawan yang berkepentingan, imam yang vokal namun tanpa spiritualitas dan akal sehat (iudicium). Sebaliknya, gagasam pembuat hukum (Roma) dan mereka yang mengalami kesulitan pelaksanaannya dalam urusan sehari-hari, bertemu. Sebab, ‘ius sequitur vitam’ – hukum mengikuti hidup. **P. Alex Dato'L, SVD.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget