MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "BKSN"

Kita telah melalui dua pertemuan pendalaman Kitab Suci, bertepatan dengan BKSN 2013. Pertemuan-pertemuan yang lalu telah mengingatkan kita bagaimana harus beriman dengan meneladani Abraham, dan bagaimana harus menjunjung tinggi Sabda Allah di atas segalanya dengan meneladani Zakharia dan Elisabet. Pertemuan-pertemuan dalam pendalaman Kitab Suci ini merupakan satu kesatuan sehingga tema-tema yang dihadirkan saling mendukung untuk mencapai sebuah tujuan.

Pertemuan ketiga ini menuntut kita untuk menunjukkan aksi nyata dari pertemuan pertama dan kedua. Bukti nyata dari seorang yang beriman dan seorang yang menjunjung tinggi Sabda Allah adalah harus mampu bersekutu dalam keluarga, dalam masyarakat, dalam bergereja dan bernegara. Inilah yang menjadi alasan, mengapa pertemuan ketiga ini mengetengahkan tema Keluarga yang Bersekutu: Keluarga Nazareth.

Keluarga Kristiani sering disebut Ecclesia Domestica (Gereja Domestik atau Gereja Rumah Tangga). Ini berarti keluarga-keluarga kristiani diharapkan menjadi perwujudan Gereja, persekutuan hidup dalam iman akan Yesus Kristus yang menghadirkan nilai-nilai Injili, yakni cinta kasih, ketaatan kepada Allah dan sesama, serta kerendahan hati. Tiga pilar itu menjadi tiang penyangga persatuan hidup berkeluarga. (BKSN 2013: Keluarga Bersekutu Dalam Sabda, hal. 18).

Beriman dan menjunjung tinggi sabda Allah tidak menginginkan perpecahan, perceraian. Menghayati iman dan berakar pada sabda harus berhasil menjalin persatuan dan kebersamaan. Inilah yang sering disalah artikan oleh sebagian besar umat Katolik. Demi iman, demi sabda Allah, persekutuan dikorbankan. Bukankah dengan mengorbankan persekutuan mementahkan apa yang selama ini kita anut, kita aminkan, kita iakan, yakni beriman dan berakar pada sabda?

Tentu saja ini tidak mudah. Ini menjadi perjuangan kita juga. Pertemuan ketiga ini mencoba memberikan solusi aman dalam pertentangan ini. Cinta kasih, ketaatan dan kerendahan hati menjadi pilar utama dalam membangun persekutuan sejati. Tanpa tiga pilar ini, kita akan mengalami kebingungan karena dalam melaksanakan Sabda Tuhan, banyak hal yang rasa-rasanya tidak menarik, tidak manis dari segi rasa manusiawi kita. St. Fransiskus Assisi pernah mengatakan: Apa yang dulunya pahit, kini menjadi manis? St, Fransiskus Assisi mengatakan ini sebagai ungkapan imannya yang telah mengalami Sabda Tuhan sebagai pedoman hidupnya. St. Fransiskus Assisi yang dulunya adalah anak seorang kaya, berlimpah harta, seorang yang dihargai dalam masyarakat dan tidak banyak terlibat dalam kegiatan sosial (berbagi dengan sesama, merawat orang sakit kusta, dll) berubah menjadi penganut pola hidup miskin dan sederhana, menjadi orang kusta bersama orang kusta, rela berbagi dengan sesama setelah menjalani dan menggunakan Sabda Tuhan sebagai pedoman hidup satu-satunya.

Pertemuan ketiga ini menghadirkan Keuarga Kudus Nazaret sebagai teladan kita dalam bersekutu. Beberapa poin berikut merupakan pesan penting dari pertemuan ketiga ini:

  1. Keluarga kristian dipanggil untuk melayani hal-hal jasmani dan sekaligus hal-hal rohani (bdk. Yesus ditemukan di Bait Allah, Luk. 2:41-52).
  2. Keluarga beriman adalah keluarga yang selalu membangun persekutuan hidup datau kebersamaan dalam hidup harian (ibadah bersama, makan bersama, dan lain sebagainya).
  3. Keluarga beriman adalah keluarga yang patuh pada peraturan peribadatan dan senantiasa menghargai tradisi iman (tidak mengambil sikap seolah-olah berada di luar aturan yang berlaku).
  4. Keluarga beriman adalah keluarga yang mewariskan harta iman dan tradisi-tradisi yang luhur kepada anak dan anggota keluarganya.
  5. Keluarga beriman adalah keluarga yang dalam menghadapi tantangan dan pergumulan hidup beriman tetap bersekutu dan bersama untuk kembali mencari Yesus, menjumpai-Nya dan berdialog dengan-Nya. (bdk. Yosef dan Maria mencari Yesus di Bait Allah).
  6. Keluarga beriman harus bisa bersikap seperti Maria: menyimpan semua perkara dalam hatinya dan merenungkannya. (harus punya waktu untuk merenungkan Sabda Allah).
  7. Keluarga beriman adalah keluarga yang memberikan kesaksian hidup dalam kehangatan kasih sayang dan kesalehan hidup (dalam keluarga terutama, kemudian dalam masyarakat dan Gereja).
  8. Keluarga beriman harus sanggup mengatakan: Apa yang dulunya pahit, kini menjadi manis, seperti St. Fransiskus Assisi.
Poin-poin di atas menjadi sangat penting. Kita tidak cukup beriman saja. Juga tidak cukup hanya menjunjung tinggi Sabda Allah lewat perkataan. Kita harus mewujudkannya secara nyata dalam hidup bersekutu. Persekutuan itu haruslah dimulai dari keluarga sebagai Gereja Kecil. Tidak mungkinlah seseorang sanggup hidup bersama dalam lingkungan yang luas kalau dalam hidup berkeluarga dia tidak sanggup bersekutu, mengalami broken home, tidak searah, tidak kompak dan lain sebagainya.

Beberapa pertanyaan refleksif dapat membantu kita untuk mendalami tema pertemuan ketiga ini:
  1. Adakah keluarga kita menjadikan Yesus sebagai pokok dan pusat perhatian bersama?
  2. Pernahkah kita, dalam keluarga secara bersama-sama mencari Yesus? Atau lebih sering kita mencari Yesus sendiri-sendiri? Barangkali ini bisa kita sharingkan?
  3. Imanmu telah menyelamatkan engkau. Kalimat ini kadang dipahami bahwa iman seseorang tidak mempengaruhi keselamatan orang lain. Bagaimana kita mengartikan kalimat ini dalam konteks hidup bersekutu?
  4. Mari kita mulai sekali lagi, karena sampai saat ini kita belum berbuat apa-apa (St. Fransiskus Assisi). Apakah yang paling tepat kita lakukan saat ini (dalam keluarga, dalam masyarakat dan dalam menggereja) agar persekutuan dapat tercipta?
Semoga pertemuan ketiga pendalam Kitab Suci dengan tema "Keluarga Bersekutu yang Bersekutu: Keluarga Nazaret" memberikan semangat baru bagi kita untuk memperbaharui pola hidup kita sebagai umat kristiani. Kita menjadi orang yang bersekutu, pelaksana sabda dan menjunjung tinggi kebersamaan. Menjadi umat yang mengutamakan bonum comune (kebaikan bersama) dalam menghayati dan melaksanakan sabda Tuhan.**Fidelis Harefa.

Pada pertemuan pertama pendalaman Kitab Suci BKSN 2013 yang lalu, kita sudah mendalami bagaimana seharusnya keluarga yang beriman itu. Dalam pertemuan pertama, Abraham dihadirkan sebagai figur dan teladan bagi kita dalam beriman. Abraham memilih sikap mendengar dan siap sedia melaksanakan panggilan Tuhan tanpa tawar-menawar.

Pertemuan kedua ini mempertegas tema pertemuan pertama. Kiranya pertanyaan lain muncul yakni: Bagaimanakah seharusnya keluarga yang beriman itu? Pertemuan kedua mencoba menjawabnya dengan tema: Keluarga beriman adalah keluarga yang berakar pada Sabda Allah. Pertemuan kedua ini menghadirkan keluarga Zakharia dan Elisabet sebagai teladan keluarga yang berakar pada Sabda Allah.

Setiap keluarga Katolik diharapkan hidup berdasarkan pada Sabda Allah. Namun, Sabda Allah sering kali tidak begitu jelas dan sering dikaburkan oleh suara-suara lain. Sebagai pegangan hidup, Sabda Allah harus bersaing dengan norma-norma, aturan-aturan, atau tradisi yang ada dan berlaku dalam masyarakat, sehingga tidak mengherankan jika keluarga-keluarga katolik kurang taat dan melanggar Sabda Allah, namunt tak menyadarinya (BKSN 2013, Keluarga Bersekutu Dalam Sabda, hal. 11).

Dengan pertanyaan di atas dan diperkuat oleh gagasan pokok pertemuan kedua ini, kita semua diajak untuk merenungkan sejauhmana kita mengutamakan Sabda Allah sebagai pedoman hidup. Tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan kita di dunia ini diatur oleh hukum, norma, peraturan dan adat istiadat. Oleh karenanya, dalam menjalani hidup kita harus bertarung untuk mempertimbangkan banyak hal agar apa yang kita putuskan, apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan hukum, norma, peraturan dan adat istiadat. Sebagai orang Katolik yang beriman, pernahkah kita mempertimbangkan sesuatu, lebih mengutamakan kehendak Tuhan daripada kehendak manusia? Ini yang selalu menjadi pertanyaan berulang dalam pertemuan kedua ini.

Keluarga Zakharia dan Elisabet dengan tegas dan berani mengatakan bahwa semua yang mereka lakukan haruslah berdasarkan Sabda Allah. Contoh: ketika Zakharia dan Elisabet mendapatkan seorang anak, mereka harus menamainya Yohanes karena demikianlah disabdakan oleh Allah. Meskipun banyak pertimbangan budaya, adat dari sanak saudara yang tidak mendukung pemberian nama Yohanes, dengan berbagai alasan yang masuk akal, Zakharia dan Elisabet tetap menjunjung tinggi apa yang telah dikatakan oleh Tuhan.

Bagaimana dengan kita yang mengaku beriman? Adakah kita memiliki ciri khas sebagai umat beriman dalam setiap kegiatan kita? Misalnya dalam hidup bernegara, adakah kita menunjukkan ciri khas orang beriman dalam menjalani kehidupan bernegara, berpolitik, berorganisasi dan lain sebagainya? Atau kita tidak berani karena takut kehilangan perhatian negara (pemerintah), takut kehilangan perhatian publik, takut kehilangan pengaruh, sehingga meskipun kebijakan dan peraturan yang berlaku sesungguhnya bertentangan dengan suara hati kita, lalu kita diam saja dan mengaminkannya sebagai kebijakan yang benar?

Apakah kita terlalu menjunjung tinggi tradisi, baik dalam keluarga maupun masyarakat sehingga nilai-nilai kebenaran Sabda Allah menjadi tidak jelas lagi? Atau kita hanya sanggup melebur dalam bias berbagai macam aturan agar kita mendapatkan posisi aman, sehingga kita tidak berani mengatakan apa yang sebenarnya menurut Sabda Tuhan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak mudah untuk dijawab. Inilah perjuangan kita sebagai orang beriman. Inilah pertarungan kita sebagai orang yang telah menerima pembaptisan dalam Kristus. Inilah tugas kita sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam mewartakan Sabda-Nya.

Semoga dengan pendalaman Kitab Suci pertemuan kedua ini, kita memperoleh semangat baru dalam memaknai keberadaan/kehadiran kita sebagai umat Katolik yang beriman dalam hidup bernegara, bermasyarakat, bergereja dan terutama dalam kehidupan keluarga kita. **Fidelis Harefa

Pertemuan pertama, Pendalaman Kitab Suci, Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2013 mengetengahkan topik “Keluarga yang Beriman”. Topik ini merupakan penjabaran dari tema BKSN 2013 yakni “Keluarga Bersekutu dalam Sabda”. Pertemuan pertama ini berusaha mengingatkan sekaligus mengajak keluarga-keluarga Katolik untuk menyadari arti pentingnya panggilan keluarga beriman yang berakar dan bersumber serta berpedoman pada sabda Allah dan senantiasa bersekutu sebagai satu saudara dalam melaksanakan sabda Allah.

Keluarga adalah kelompok manusia yang anggotanya disatukan oleh hubungan darah: semuanya berasal dari orangtua atau nenek moyang yang sama. Selain itu, keluarga adalah kelompok manusia yang anggotanya disatukan oleh iman dan misi serta ajaran dan tradisi yang sama. Dalam konteks iman, keluarga Katolik adalah kelompok manusia yang disatukan dalam ajaran iman Katolik, disatukan oleh Sabda dan tradisi Katolik.

Pertemuan pertama menghadirkan kembali seorang tokoh besar, tokoh beriman, yang lebih dikenal sebagai bapak semua orang beriman yakni Abraham. Kitab Kejadian 12: 1-6, memberikan gambaran bagaimana Abraham menjadi figur yang tepat dalam menjawab panggilan Tuhan. Abraham mendengarkan Tuhan dan tidak mengenal tawar-menawar dalam melaksanakannya. Tuhan memerintahkan, Abraham melaksanakan.
Karena Abraham sangat setia pada Tuhan, akhirnya Abraham pun menerima mukzijat dari Tuhan. Sesuatu yang menurut manusia tidak mungkin, Abraham menerimanya dari Tuhan. Di usia yang sudah lanjut, Abraham mendapatkan keturunan karena kesetiaannya. Abraham memilih dan melaksanakan pilihan yang tepat. Mendengar dan melaksanakan adalah dua hal besar yang dapat kita lihat dalam keteladanan Abraham. Abraham tidak perlu berbicara, juga tidak perlu membuat penawaran. Abraham menaruh kepercayaan pada apa yang didengarnya, kemudian dilaksanakan.

Bagi kita, umat beriman, khususnya umat Katolik yang saat ini bersama-sama merenungkan tema yang sama di Bulan Kitab Suci Nasional ini, sering kali kita lebih banyak berbicara daripada mendengarkan. Oleh karenanya, inti dari pesan Tuhan melalui Sabda-Nya menjadi luput dari perhatian kita. Ada kecenderungan untuk menerjemahkannya sesuai dengan situasi dan kondisi kita. Pada hal, Sabda Tuhan tidak demikian. Sabda Tuhan tidak membutuhkan penjelasan dan pengertian dari kita. Sabda Tuhan memberi penjelasan dan pengertian untuk kita. Kita dituntut untuk mendengarkan dan melaksanakan. Sabda Tuhan sudah kaya makna dan arti. Kita tinggal memetik makna dan arti itu, dan tidak perlu menambahkannya.

Abraham menjadi teladan yang tepat bagi kita dalam hal beriman.  Dalam melaksanakan Sabda Tuhan, Abraham bersekutu dengan orang lain. Dia bersekutu dengan istrinya, Sarai, Lot anak saudaranya dan orang-orang yang menjadi pengikutnya (pekerja, budak). Abraham tidak dapat melaksanakan kehendak Tuhan tanpa orang lain. Keterlibatan bersama sesama adalah sangat penting dalam menghidupi dan menjalani perintah Tuhan.

Kita pun dapat menjadi seperti Abraham. Karena kita adalah keluarga yang disatukan oleh ajaran iman, Sabda Tuhan dan tradisi yang sama, kita mempunyai peluang besar untuk menjadi seperti Abraham dalam keluarga kita. Keluarga yang berpegang teguh pada Sabda Tuhan adalah keluarga beriman. Kita tidak boleh mengaku "beriman" sementara kita tidak mengindahkan "Sabda Tuhan". Pengakuan keberimanan kita senantiasa tidak lepas dari sejauhmana kita bergantung pada Sabda dan Perintah Tuhan.

Pertemuan pertama ini mau menegaskan kepada kita bahwa dalam melaksanakan perintah Tuhan yang disampaik lewat Sabda-Nya, kita diharkapkan mendengarkan dan kesiapsediaan untuk melaksanakannya. Dua hal ini yang paling penting. Dua hal inilah yang diharapkan oleh Tuhan karena Tuhan tidak membuka dialog dalam rencana penyelamatan-Nya. Tuhan sudah tahu apa yang kita butuhkan. Oleh karena itu, Tuhan, atas keinginannya sendiri mau menyelamatkan kita, bukan karena kita butuh diselamatkan. Tuhan bersabda bukan karena kita mempunyai kepentingan, tetapi, Tuhanlah yang punya kepentingan untuk bersabda dan kita harus mendengarkan dan melaksanakan.

Semoga pendalaman Kitab Suci di Bulan Kitab Suci Nasional 2013 memberi kesegaran iman bagi kita semua, terutama dalam memperbaharui sikap kita terhadap Sabda dan perintah-perintah Tuhan. **Kairos.

Kita telah mengikuti Pendalaman KS sepanjang bulan September ini. Tema pendalaman KS tahun ini adalah "Menyaksikan Mukjizat Tuhan". Kata "menyaksikan" dapat digantikan dengan kalimat "datang dan lihatlah!".

Bila belum sempat membaca sharing pertemuan-pertemuan sebelumnya, silahkan dibaca melalui link berikut ini:

  1. Menyaksikan Mukjizat Tuhan (Tema Umum)
  2. Menyembuhkan Orang Lumpuh (Pertemuan I)
  3. Mengusir Roh Jahat (Pertemuan II)
  4. Membangkitkan Anak Muda di Nain (Pertemuan III)
  5. dan Mengubah Air menjadi Anggur (Pertemuan IV)
Dari rangkaian pertemuan ini, kita diharapkan bisa "menyaksikan" dan bukan hanya sekedar "membayangkan" terjadinya mukjizat itu. Mukjizat yang dulunya telah diperbuat oleh Yesus, harus sanggup kita saksikan pada zaman sekarang melalui tindakan/aksi kita umat beriman yang telah mengaku dan menyatakan "mengimani dan mengikuti Kristus".  Bila Yesus tidak hadir secara nyata untuk membuat mukjizat saat ini, kitalah yang menjadi wakilnya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mukjizat yang pernah diperbuat oleh-Nya, masih tetap terjadi hingga kini dengan perantaraan umat beriman.

Pasti akan banyak yang tidak setuju. Pasti akan banyak yang menentang. Pasti akan banyak yang kontra. Tapi sebagai umat Allah, pengikut Kristus, kita tidak perlu takut. Bila itu kita buat untuk KEBENARAN, meskipun banyak orang berusaha untuk menenggelamkannya, KEBENARAN itu akan tetap muncul kepermukaan sebagai hakim nurani. Setelah kita melihat dan menyaksikan, mari kita pergi dan berbuat seperti apa yang kita lihat dan kita saksikan. 

Pace e Bene.

Pada pertemuan pertama, kita sudah melihat segala kelumpuhan yang ada di sekitar kita. Pada pertemuan kedua, kita diajak untuk melihat roh jahat yang menjadi penyebab terjadinya kelumpuhan itu sendiri. Pada pertemuan ketiga, kita diajak untuk bangkit kembali dari segala kelumpuhan yang ada. Pada pertemuan keempat, kita diajak untuk berani memulai sesuatu yang baru. Setelah kita disembuhkan dan kelumpuhan, roh jahat yang merasuki telah diusir, kita telah dibangkitkan dari segala kelemahan, maka pada puncak pertemuan ini kita diajak untuk memulai sebuah karya baru sebagai anak-anak Allah.

Injil Yohanes 2: 1-11, berbicara tentang peristiwa Pesta di Kana ketika Yesus mengubah Air menjadi Anggur. Ada beberapa point yang perlu kita lihat dalam peristiwa ini:

  1. Ini adalah mukjizat pertama yang digambarkan sebagai tindakan publik pertama yang dibuat Yesus.Sebagai wahyu dari campur tangan ilahi yang telah dimulai dan berlanjut sepanjang pelayanan-Nya, adalah penting bahwa itu dirasakan oleh sebagian orang dan terutama rekan-rekan terdekat Yesus (Ibu Yesus, Keluarga Yesus, Saudara-saudari Yesus).
  2. Mengubah Air menjadi Anggur menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa terdahulu yang pernah terjadi (seperti peristiwa anggur di kuil Baccus-Andros dan peristiwa penyedia anggur oleh Dionisius). Peristiwa di Kana menegaskan sebuah perubahan dari Air menjadi Anggur. Perubahan tidak dimulai dari ketiadaan, tetapi menggunakan materi yang ada yakni air.
  3. Meskipun belum tiba waktunya (makna eskatologis), Yesus tetap melakukan mukjizat ini. Anggur adalah simbol pesta meriah bagi orang-orang Yahudi. Ketiadaan Anggur sama dengan ketiadaan pesta. Dan pesta adalah simbol kegembiraan kerajaan Allah. Oleh karena itu, bagi orang Yahudi, ketiadaan anggur dapat dikatakan sebagai ketiadaan kerajaan Allah.
  4. Yesus harus memulai karyanya. Waktu yang dimaksud adalah saat ini. Kalau tidak dimulai sekarang, kelanjutannya pasti tidak ada untuk besok dan seterusnya. Meskipun maksud Yesus adalah bermakna eskatologis, namun beberapa para ahli mengatakan bahwa saat itu adalah saat sekarang yang harus dihadirkan.
Beberapa poin di atas membantu kita untuk melihat relasi pertemuan-pertemuan sebelumnya. Orang-orang yang telah diselamatkan, telah dibersihkan dan telah dibangkitkan kembali, harus sanggup untuk berbuat sesuatu untuk menghadirkan kerajaan Allah. Perubahan itu adalah mukjizat. Kalau kita merujuk pada poin pertama di atas, maka perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga, kemudian merembes ke lingkungan lebih luas.

Pergolakan hidup yang kita alami sering membuat kita kehabisan anggur iman. Kita perlu mengundang Yesus agar anggur iman kita tetap penuh dan dapat dirasakan oleh banyak orang. Bejana-bejana kita harus selalu penuh. Dan itu hanya dapat kita jaga bila kita telah disembuhkan, dibersihkan dari roh jahat dan dibangkitkan kembali dari kelemahan-kelemahan yang menghambat iman kita.

Beberapa pertanyaan berikut dapat dimunculkan:

  • Adakah kita menjadi orang-orang terdekat Yesus yang menyaksikan dan menikmati mukjizat yang telah dibuat oleh Yesus?
  • Adakah kita mengantisipasi bahwa suatu ketika bejana kita kehabisan anggur? Suatu ketika kita merasakan kekeringan dalam iman?
  • Pernahkah kita mengundang Yesus untuk tetap mengisi bejana kita yang kosong?
  • Kalau kita lebih ekstrim, pernahkah kita menjadi seperti Yesus, mengisi bejana dengan anggur agar tidak terjadi kekacauan, atau malah sebaliknya kita menjadi penghabis anggur sehingga kekacauan disekitar kita tidak dipedulikan karena kenikmatan anggur?
  • Atau barangkali, seharusnya kita memberi justru berubah menjadi pemeras sehingga memicu kekeringan anggur di mana-mana?
Saatnya adalah sekarang. Harus dimulai sekarang agar ada yang bisa kita lanjutkan besok. Mari berlomba-lomba untuk berperan dalam merubah kekeringan anggur iman kita menjadi tetap penuh.

Semoga sharing ini bermanfaat. Pace e Bene.

Pertemuan yang lalu kita sudah mendalami dua mukjizat yang diperbuat oleh Yesus, yakni menyembuhkan orang lumpuh dan mengusir roh jahat. Menyembuhkan kelumpuhan dan mengusir segala roh jahat yang menghambat terjadinya segala kebaikan. Pada pertemuan ketiga ini, kita akan mendalami Bagaimana Yesus Membangkitkan Anak Muda di Nain.

Mukjizat ini adalah mukjizat yang bagi kita manusia adalah luar biasa. Hal yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia, yakni mengembalikan nyawa manusia, dilakukan oleh Yesus. Dari segi nilai dan bobotnya, mukjizat ini dapat kita katakan sesuatu yang luar biasa. Bersamaan dengan kekaguman ini, kita pasti merasa sulit membayangkan peristiwa yang sama akan terjadi pada zaman kita sekarang ini. Hampir tidak pernah kita temukan orang yang sudah meninggal dan sedang digotong ke liang kubur, hidup kembali. Oleh karena itu, jelaslah agak sedikit sulit kita membayangkan mukjizat ini dalam pendalaman kita ini.

Kendati dengan alasan di atas, jika kita memiliki iman yang teguh, tidak ada yang mustahil. Mari kita lihat kenyataan hidup kita sekarang ini. Sebagai ilustrasi, mari kita lihat kondisi Anak Muda dan Ibunya (Janda) yang kita baca dari KS Lukas 7: 11-17.

Manusia yang sudah tidak bernyawa (jenazah) jelas sudah tidak dapat kita katakan normal lagi. Hampir bisa dikatakan, dia hanyalah seonggok daging, yang tidak berjiwa. Karena tak berjiwa, jelas tak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Sementara Ibunya, hanyalah seorang Janda. Janda dalam kalangan Yahudi berada dalam posisi lemah dalam masyarakat. Janda termasuk kelompok kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Dan situasi menjadi lebih parah karena anaknya meninggal. Jika anaknya tidak meninggal, kehidupannya masih lumayan kuat karena masih bisa menggantungkan hidupnya pada anaknya tersebut. Apa hendak dikata, anak tumpuan hidup itu pun meninggal. Inilah situasi yang dapat kita lihat dalam bacaan kali ini.

Yesus datang membawa kegembiraan. Yesus mengubah suasana duka menjadi kegembiraan. Yang tidak bernyawa, hidup kembali. Janda yang putus asa, berubah menjadi pribadi yang penuh harapan. Anak muda yang tak berdaya, kini menjadi berjiwa dan memiliki masa depan.

Pada masa sekarang, kita umat beriman tidak pernah luput dari kelemahan dan dosa. Namun, sekali lagi, kata-kata ini tidak boleh kita jadikan sebagai tameng untuk berpasrah. Kita perlu bangkit dari kelemahan itu. Kita perlu meninggalkan segala kelumpuhan yang ada, kita perlu mengusir roh jahat yang telah menguasai kita, dan kita perlu bangkit kembali.

Untuk bangkit kembali, memang sesuatu yang berat untuk dilakukan sendiri. Kita membutuhkan bantuan orang lain untuk memperoleh kebangkitan. Demikian sebaliknya, orang lain membutuhkan bantuan kita untuk bangkit kembali. Oleh karena itu, mukjizat yang dapat kita lakukan saat ini adalah, membantu sesama untuk bangkit kembali dengan berbagai cara. Kita hidup sebagai umat beriman harus saling mengingatkan agar sesama kita tidak terpuruk dan tenggelam dalam kelemahannya. Dengan saling mengingatkan, kita sudah melakukan mukjizat seperti yang dilakukan oleh Yesus, yakni, membangkitkan orang mati. 

Sebagai umat beriman, yang bersaudara dalam Kristus, kita butuh untuk diingatkan, dan juga perlu untuk mengingatkan. Kita diharapkan untuk saling membangun dan menghidupkan dengan berbagai cara yang kita punya. Kita membutuhkan uluran tangan orang lain, demikian juga orang lain membutuhkan uluran tangan kita. Hanya dengan demikian, kita sudah bertindak seperti Yesus, yakni, mengubah kedukaan menjadi kegembiraan sejati. Mengubah ketakberdayaan menjadi berdaya dan memiliki masa depan.

Dari uraian di atas, beberapa pertanyaan reflesif berikut mungkin dapat membantu kita untuk mendalami tema pertemuan ketiga ini.

  1. Pernahkah kita merasa seperti anak muda, yang tak berdaya, tidak punya masa depan, tidak punya jiwa dan harapan karena tinggal seonggok daging lemas yang tidak punya pengharapan?
  2. Pernahkah kita seperti Janda yang tersingkir di kalangan masyarakat, miskin dan tidak punya apa-apa?
  3. Ketika kita membutuhkan uluran tangan orang lain membantu kita bangkit dari keterpurukan kita, adakah kita memperoleh bantuan?
  4. Pernahkah kita peka melihat situasi yang sama terjadi dengan orang lain? Apakah kita pernah bertindak seperti Yesus, yakni membantu mereka yang sedan jatuh untuk bangun dan bangkit kembali?
  5. Pernahkah kita melakukan hal sederhana sebagai umat beriman untuk saling membangkitkan dengan cara saling mengingatkan?
  6. Atau malah lebih ekstrim, pernahkah kita berperan bukan sebagai pembangkit, tapi malah sebagai pembunuh bagi sesama? Membunuh potensi sesama, membunuh kreatifitas sesama, membunuh perkembangan sesama sehingga dia menjadi jatuh tak berdaya seperti anak muda tadi yang menjadi jenazah?
Semoga sharing ini bermanfaat. Pace e Bene.

Pada pertemuan lalu, yang juga telah saya posting di sini, kita diajak untuk menyaksikan perubahan-perubahan yang terjadi disekitar kita. Kita yakin bahwa perubahan-perubahan itu merupakan mukjizat. Kelumpuhan-kelumpuhan yang sempat terjadi di mana-mana, kita saksikan disembuhkan oleh iman, itulah keajaiban atau mukjizat.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sering bertanya mengapa harus ada kejahatan? Mengapa harus terjadi ketidak-adilan? Mengapa harus terjadi kelumpuhan? Mengapa harus ada kekerasan? Mengapa harus ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Dia, Sang Pencipta? Agar pertemuan pertama dalam BKSN 2012 tidak terputus sampai pada menyaksikan keajaiban "menyembuhkan kelumpuhan", pertemuan kedua ini kita diajak untuk melihat "apa penyebab utama terjadinya kelumpuhan". Meskipun tema pertemuan kedua dikatakan: "Mengusir Roh Jahat", di sini saya menegaskan bahwa: Roh Jahat menyebabkan kelumpuhan di mana-mana, oleh karena itu perlu diusir.

Setelah dihantar dengan konsep pemikiran seperti di atas, sekaligus kita sudah bisa melihat hubungan antar pertemuan pertama dengan pertemuan kedua dari BKSN 2012, mari kita melihat beberapa point berikut untuk memperkaya kita dalam pendalaman KS.

Ada orang yang mengatakan bahwa "jahat" itu relatif. Alasan dominan bila ditanya mengapa, karena setiap orang mempunyai penilaian terhadap sesuatu jahat atau tidak, tergantung pribadi yang menilainya. Namun demikian, jahat, adalah sebuah hal "yang kurang" bahkan "sebuah ketiadaan". Jahat boleh dimengerti "kurang baik, tidak baik, tidak baik sama sekali". Apakah kita sebagai umat beriman masih mengatakan "jahat itu relatif"?

Kalau pertemuan minggu lalu kita diajak untuk melihat kelumpuhan-kelumpuhan yang terjadi disekitar kita, sekarang kita diajak untuk mencari dan melihat akar terjadinya kelumpuhan itu sendiri. Contoh: Korupsi adalah sebuah kelumpuhan. Korupsi membuat segala rencana menjadi pincang. Korupsi menjadikan hukum tak berdaya. Dan kita tahu penyebab korupsi itu adalah karena kerakusan, nafsu memiliki yang berlebihan. Dalam konteks ini, roh jahat yang harus diusir adalah sikap serakah, kerakusan, nafsu memiliki yang berlebihan. Adakah roh jahat yang masih bersarang dalam keluarga kita, dalam lingkungan kita, dalam masyarakat kita, dalam Gereja kita, bahkan dalam negara kita, yang potensial menyebabkan kelumpuhan yang lebih besar atau bahkan kelumpuhan total?

Mengusir roh jahat, bukan hal yang mudah. Yesus pernah mengatakan: "Penyakit jenis ini hanya dapat diusir dengan iman dan doa". Andaikan ada penyakit dengan status stadium 100, boleh kita katakan penyakit jenis ini sudah melebihi stadium 1000, karena obatnya secara medis tidak ada lagi. Pernyataan ini, bukan melemahkan kita sebagai umat beriman. Pernyataan ini merupakan tantangan bagi kita. Banyak umat beriman dari abad ke abad tetap juga berusaha untuk mengusir roh-roh jahat yang merongrong kehidupan. Adakah kita berusaha mengusir roh jahat yang sedang mencoba, sudah, bahkan sudah lama bersarang dalam kehidupan kita?

Sebagai manusai, kita tetap tidak luput dari kelemahan. Namun, kalimat ini tidak bisa digunakan sebagai tameng. Sebagai umat beriman, kita harus selalu terarah kepada kebaikan. Pernahkah kita bertanya bahwa dalam keadaan tertentu, tanpa kita sadari kita menjadi roh jahat bagi yang lain? Atau pernahkah kita meluangkan waktu sedikit untuk melihat bahwa kita bukan sarang roh jahat yang dapat menular kepada yang lain?

Kalau dulu, Yesus yang mengusir roh jahat. Dalam iman, kita tetap percaya bahwa bersama Yesus, kita tetap bisa mengusir roh jahat. Pernahkah kita berani mengatakan bahwa sesuatu itu roh jahat penyebab kelumpuhan, atau kita banyak diam saja karena takut terkucil dari masyarakat, takut dicuekin, takut dicap penjilat dan sebagainya?

Sudah bertahun-tahun kita mengikuti pendalaman Kitab Suci. Dan sepertinya, kita harus seperti kata Ebiet G Ade dalam lagunya: "Kita mesti telanjang, dan benar-benar bersih..."Sedikit agak ekstrim dan jujur agar pendalam KS ini ada gunanya. Bila tidak demikian, pendalam KS ini hanya formalitas belaka. Mari saling memperkaya dan bertolong-tolong, semoga goresan ini bermanfaat.***

Pace e Bene.


Menyaksikan Mukjizat Tuhan, merupakan tema Umum BKSN 2012. Pada pertemuan pertama, kita diajak untuk melihat dan mendalami mukjizat Tuhan "Penyembuhan Orang Lumpuh" dalam Injil Matius 9:1-8.

Sebagaimana kita ketahui, mendalami perikop ini dalam Pendalaman Iman mungkin sudah beberapa kali. Tapi saya yakin dalam situasi dan konteks berbeda. Kali ini, kita pun mendalami perokop ini lagi dengan konteks dan situasi aktual kita saat ini sebagai umat beriman yang sudah menginjak dan sedang menjalani tahun 2012.

Oleh karena itu, bila perikop ini pernah didalami dalam pendalaman iman sebelumnya, yakinlah bahwa situasi itu berbeda dengan sekarang. Tujuan utama menegaskan hal ini adalah agar kita tidak membangun rasa bosan dalam mengikuti pendalaman Kitab Suci yang sudah tidak asing bagi kita sebagai umat Katolik.

Mari kita melihat seluruh Tokoh yang terlibat dalam Matius 9: 1-8.

Tokoh-tokoh:

  1. Yesus sendiri
  2. Orang Lumpuh
  3. Orang Yang menggotong orang lumpuh
  4. Orang banyak
  5. Ahli Taurat
Tokoh-tokoh refleksif:
  1. Anak Manusia
  2. Orang yang telah sembuh
Dengan mengenali tokoh, kita dengan gampang mendalami teks ini sesuai dengan keadaan kita saat ini. Kita diajak untuk mengamati setiap tokoh yang disebutkan di atas.

Beberapa poin berikut bisa diungkapkan sebagai contoh-contoh menarik:

Yesus, dalam hidup-Nya selalu menunjukkan teladan. Selain berkata-kata, Dia juga menunjukkan teladan lewat perbuatan-Nya. Yesus sanggup memberi perubahan yang bagi kita umat beriman sering kita yakini sebagai sebuah keajaiban. Pendosa berubah menjadi tokoh iman, si lumpuh berubah menjadi sehat kembali, yang kerasukan roh jahat berubah menjadi pewarta kerajaan Allah, adalah merupakan keajaiban-keajaiban yang dibuat oleh Yesus. Sanggupkah kita sebagai umat beriman membuat keajaiban di lingkungan kita bekerja, lingkungan masyarakat dan dalam keluarga kita?

Sebagai orang lumpuh, kita tidak berdaya. Kelumpuhan dalam teks kitab suci dijelaskan sebagai cacat fisik dan melambangkan ketidak-sanggupan untuk berbuat banyak. Dalam konteks zaman kita sekarang ini, kelumpuhan dapat diartikan secara lebih luas. Kelumpuhan itu selalu ada dalam kehidupan kita sebagai manusia. Kelumpuhan dalam diri sendiri, kelumpuhan dalam keluarga, kelumpuhan dalam masyarakat, kelumpuhan dalam gereja dan bahkan dalam bernegara pun kita menemukan kelumpuhan.

Sebagai umat beriman, kita sering mengalami kelumpuhan iman, tak berdaya dan tidak bisa berbuat banyak. Dalam teks kitab suci, kita melihat begitu besar harapan dan iman si lumpuh. Meskipun dalam keadaan tak berdaya, si lumpuh masih tetap berharap. Dan melalui bantuan orang lain, akhirnya harapannya itu tercapai. Adakah kita hanya berpasrah pada keadaan yang kita alami saat ini. Apakah kita menerima kelumpuhan kita sebagai "takdir" yang sering disebut-sebutkan oleh orang lain? Umat Katolik tidak mengenal istilah "takdir" dan atau "nasib". Peran aktif kita sebagai umat beriman untuk mendapatkan keselamatan tetap dituntut.

Atau kita bisa berperan sebagai pengantara rahmat bagi orang-orang yang membutuhkan. Orang-orang yang menggotong si lumpuh merupakan tokoh penyalur rahmat. Kehadiran kita dapat menumbuhkan keajaiban. Tidak perlu kita membayangkan hal-hal yang amat dahsyat. Dalam hal-hal sederhana pun, mukjuzat itu bisa terjadi. Apakah kita sudah berperan sebagai pendukung terjadinya keajaiban dalam kelumpuhan yang sedang terjadi di sekitar kita?

Atau kita seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang tidak setuju dengan perubahan? Kecemburuan sosial pun dapat menghambat terjadinya keajaiban. Ada kecenderungan untuk menghalangi orang lain mendapatkan rahmat. Ada kecemburuan bila orang lain mendapatkan rezeki. Hal ini dapat kita lihat dalam peran Ahli Taurat, para cendekiawan Yahudi yang tidak menerima perubahan yang dibuat oleh Yesus. Adakah kita melihat situasi yang sama dalam kehidupan bernegara, bergereja, masyarakat dan keluarga kita saat ini?

Kita sebagai manusia dapat menjadi pendukung terjadinya keajaiban, sekaligus bisa juga menjadi pendukung terjadinya kelumpuhan. Karena situasi seperti itu, kita diajak untuk melihat dan mendalami teks ini secara cermat dan dalam, dengan melihat dari berbagai aspek kehidupan. Pendalaman Kitab Suci akan menjadi aktual bila melihat segala sesuatu secara nyata dalam kehidupan sekarang ini.

Semoga poin-poin di atas membantu kita untuk mendalami Kitab Suci, terutama pada pertemuan Pertama BKSN 2012. Pace e Bene. **

Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam karya Yesus, perumpamaan dan mukjizat tidak bisa dipisahkan. Keduanya berkaitan amat erat dan saling menentukan. Keduanya menjadi unsur pokok dari karya publik Yesus. Dalam Injil, Yesus membuat dua hal dalam pelayanan publik-Nya, yakni sabda dan karya (yang Ia katakan dan yang Ia lakukan). Dari sekian banyak yang diperbuat itu, beberapa diantaranya adalah perumpamaan dan mukjizat. (Gagasan Pendukung BKSN 2012, hal.3).

Pada Bulan Kitab Suci Nasional 2012 ini, umat beriman diajak untuk melihat dan menyaksikan mukjizat-mukjizat yang telah dibuat oleh Yesus dan masih terus dibuat oleh Yesus pada zaman sekarang. Di saat-saat umat beriman mengalami "padang gurun" imannya, kecenderungan untuk tidak sanggup melihat mukjizat Tuhan lebih mudah terjadi. Oleh karena itu, BKSN 2012 mencoba mengajak umat beriman yang sedang berada dalam situasi apapun, tetap sanggup melihat dan menyaksikan mukjizat Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Bulan ini, umat Katolik diajak secara khusus melihat mukjizat Tuhan yang dikemas dalam empat pertemuan dengan tema-tema sebagai berikut:

  1. Menyembuhkan Orang Lumpuh
  2. Mengusir Roh Jahat di Gerasa
  3. Anak Muda di Nain
  4. Mengubah Air Menjadi Anggur
Keempat tema di atas akan saya tuliskan dalam posting saya berikutnya sesuai dengan situasi dan konteks Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, dan tentunya secara khusus sesuai dengan situasi di Lingkungan dimana saya menjadi fasilitator selama Bulan Kitab Suci 2012. Mudah-mudahan dapat menjadi "sharing" berharga bagi kita semua.

Selamat menjalani Bulan Kitab Suci Nasional 2012"

Pertemuan Keempat ini memberikan kepada kita gambaran bagaimana seharusnya mengampuni. Allah adalah Maha Pengampun. Oleh karena Dia telah mengampuni kita terlebih dahulu, maka kita pun harus mengampuni sesama kita.

Perumpamaan yang digunakan sebagai dasar permenungan pada pertemuan keempat ini adalah perumpamaan yang hanya terdapat pada Injil Matius (Mat. 18: 21-35) dan diberi konteks pertanyaan Petrus tentang "berapa kali orang harus mengampuni sesama yang bersalah kepadanya".
Konteks pertanyaan Petrus ini adalah situasi yang telah hidup dalam tradisi Yahudi saat itu. Para rabbi Yahudi pada waktu itu mengajarkan bahwa batas wajib untuk mengampuni hanya tiga kali. Jika lebih dari tiga kali disebut sebagai keutamaan. Petrus dalam Injil sudah melebihkan jumlah kemungkinan untuk mengampuni, yaitu sampai tujuh kali. Namun Yesus menanggapinya dengan nasihat yang mengejutkan, "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali". Artinya, pengampunan kita tidak terbatas.

Saudara-saudara terkasih,

Kemanusiaan kita memiliki kecenderungan balas dendam. Ada kecenderungan kita menginginkan orang yang berbuat salah kepada kita cepat-cepat mendapat hukuman. Bila hukuman dari Allah terlambat, kita cenderung ingin menghakimi sendiri. Bahkan ada kecenderungan kita senang bila orang yang berbuat salah itu mati saja dan lenyap dari muka bumi.

Tidaklah demikian bila kita mencari Kerajaan Allah. Allah menginginkan kita memiliki daya pengampunan sejati. Kita diharapkan memiliki kemurahan untuk mengampuni. Kita harus mengetahui bahwa Allah telah memperhitungkan semua ganjaran baik bagi orang baik maupun orang jahat. Jadi, kita sebagai ciptaan tidak boleh mengambil hak Allah untuk menghakimi sesama, karena kita adalah sama-sama ciptaan.

Semoga pendalaman kali ini semakin meneguhkan iman kita akan Allah.

Kehilangan rasa aman dalam menjalani kehidupan adalah hal yang sering kita alami. Peristiwa-peristiwa seperti korupsi, pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan berbagai kejahatan lainnya adalah hal-hal yang sering membuat kita merasa kehilangan rasa aman.

Dalam situasi ini, kita acap kali mempertanyakan kehadiran Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan putus asa keluar dari perbendaharaan hati kita seperti: Mengapa Tuhan membiarkan orang-orang jahat? Mengapa orang-orang itu tidak dimusnahkan saja?

Pertemuan Ketiga Pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional 2011 mengajak kita untuk melihat bagaimana sikap Allah terhadap kenyataan hidup yang adalah adanya kebaikan dan adanya kejahatan.

Perumpamaan Lalang di Ladang Gandum (Mat. 13:24-30, 36-43) lebih cocok disebut sebagai alegori. Masing-masing unsur dari alegori menunjuk pada orang, barang atau realitas tertentu.
  • Orang yang menabur benih = Anak Manusia
  • Ladang = dunia
  • Benih = anak-anak Kerajaan
  • Lalang = anak-anak si jahat
  • Musuh = Iblis
  • Waktu menuai = akhir zaman
  • Para Penuai = Malaikat
Sang Penabur, menaburkan benih pada siang hari dan si jahat menabur Lalang pada malam hari. Lalang adalah sejenis tanaman beracun yang merusak tanaman gandum. Antara gandum dan lalang sulit dipisahkan pada waktu masih kecil atau ketika bibit mulai bertunas. Inilah yang menjadi alasan kuat bagi Sang Penabur untuk membiarkannya tumbuh bersama. Tujuannya adalah agar tidak terjadi kesalahan dalam upaya menyingkirkannya. Menghindari agar gandum tidak ikut tercabut bersama lalang.

Pada saat panen, barulah pemisahan itu terjadi. Lalang dipisahkan dari gandum. Gandum dikumpulkan untuk mengisi lumbung, sedangkan lalang dikumpulkan untuk dibakar.

Persoalan yang digambarkan dalam alegori ini secara tepat memotret persoalan di zaman kita. Orang baik dan orang jahat hidup bersama. Keduanya gampang dibedakan tetapi sulit dipisahkan. Mengapa sulit dipisahkan? Bila orang-orang jahat dimusnahkan, misalnya melalui perang senjata, mestinya ada orang-orang baik yang ikut jadi korban.

Jika demikian, apakah yang perlu dilakukan? Bukankah sepintas perumpamaan ini membawa kita ke cakrawala berpikir pesimis atas kejahatan? Sikap Sang Pemilik Ladang dalam perumpamaan ini mengemukakan pemecahan masalah. "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Saat menuai, akan ada pengadilan". Kejahatan akan dihukum dan kebaikan akan diberi tempat di kediaman Allah.

Pengadilan terakhir tidak bertujuan menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan umat beriman agar waspada terhadap pengaruh kejahatan yang ada di sekitar kita. Keyakinan kita adalah bahwa kejahatan tetap diadili di hadapan Allah. Tapi soal kapan waktu itu tiba, tidak ada yang tahu. Hanya Bapa yang tahu. Inilah misteri iman yang harus kita jawab dengan cara terus-menerus berbuat baik agar kita layak hidup bersama Allah kelak.

Secara berbeda dapat dijelaskan bahwa Kerajaan Allah bukanlah peristiwa keselamatan yang otomatis terjadi tanpa keterlibatan pihak manusia. Setiap manusia diundang untuk terlibat pada perjuangan menciptakan keselamatan dengan bertekun berbuat baik. Juga, Kerajaan Allah bukanlah peristiwa yang baru akan terjadi di masa datang, tetapi sudah mulai terjadi dan hadir dalam dunia ini di mana semua orang beriman hidup. Oleh karena itu, solusi lain adalah bahwa "pertobatan" merupakan kesempatan bagi orang jahat untuk memperbaiki diri. Dalam hal pertobatan, orang-orang baik pun dituntut keterlibatannya untuk mengajak mereke yang berdosa untuk bertobat. Pertobatan tidak membersihkan yang hitam menjadi putih secara langsung, tetapi membuat yang hitam berkurang dan pudar. Dengan pertobatan, kejahatan dapat berkurang walau tidak hilang seratus persen.

Pada pertemuan II ini, kita akan mendalami bagaimana Allah itu adalah Maha Pengasih dan Maha Pengampun. Dalam perumpamaan ANAK YANG HILANG (LUK. 15: 11 - 32), seorang Ayah menggambarkan Allah Bapa yang berlimpah pengampunan, Anak sulung menjadi lambang bagi begitu banyak orang yang merasa diri sudah bersih dan merasa berhak mengadili dan menghukum orang lain yang dia anggap berdosa. Anak bungsu dihadirkan sebagai teladan pertobatan untuk mendapatkan belas kasih Allah.

Kita bisa mencatat beberapa tahap penting dalam perumpamaan ini:
  1. Anak bungsu meminta warisan;
  2. Pergi dan memboroskan warisan;
  3. Proses pertobatan dan pertobatan itu sendiri;
  4. Kembali ke rumah Bapa;
  5. Bapa yang baik;
  6. Sikap anak sulung.
Latar belakang dari perumpamaan di atas adalah Keangkuhan dari orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang dengan kesombongan spiritua, mereka mengkritik sikap Yesus yang menerima orang-orang berdosa dan makan bersama mereka. SikapYesus merupakan hal yang bertentangan dengan kebiasaan orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Bagi mereka, menerima dan makan bersama dengan orang berdosa adalah najis. Karena dengan berbagai cara mereka mengkritik Yesus, akhirnya Yesus mengajar dalam bentuk perumpamaan di atas.

Untuk menanggapi kritikan dari kaum Farisi dan ahli Taurat, Yesus mengajar dengan beberapa perumpamaan. Anak Yang Hilang adalah perumpamaan ketiga setelah perumpamaan: DOMBA YANG HILANG dan DIRHAM YANG HILANG. Perbedaan antara perumpamaan-perumpamaan tersebut adalah bahwa perumpamaan ANAK YANG HILANG tidak mengatakan bahwa Bapa mencari anaknya yang hilang, tetapi menunggu kedatangannya kembali.

Tindakan meminta warisan saat orang tua masih hidup adalah suatu tindakan durhaka dalam tradisi Yahudi. Inilah letak keberdosaan anak bungsu. Terlebih lagi, setelah mendapat warisan, dia pergi dari rumah, menghabiskan warisan itu dengan berfoya-foya, judi, minum-minum dengan para pelacur dan lain sebagainya.

Setelah warisan yang dia miliki habis, penderitaan mulai tiba. Kelaparan dan haus menjadi teman hariannya. Dalam keadaan itu, anak bungsu sadar bahwa di rumah Bapa berlimpah kebaikan dan makanan. Dan akhirnya memutuskan untuk kembali walaupun tidak akan disebut sebagai anak lagi. Dia siap menjadi hamba atau budak di rumah Bapa yang berlimpah kebaikan itu.

Bapa yang baik hati, malah bersikap di luar dugaan anak bungsu. Bapa mengadakan pesta besar menyambut kedatangan anaknya kembali. Adalah sebuah suka cita bagi Bapa ketika anak yang hilang kembali dengan sendirinya berdasarkan pada kesadarannya. Beda dengan anak sulung, yang merasa diri sudah benar, tidak berdosa, marah melihat sikap Bapa yang baik itu dan jengkel kepada adiknya yang tidak tau diri. Anak sulung menunjukkan dua sikap dasar yakni benci pada Sikap Baik Sang Bapa karena kecemburuan, dan juga pada Sikap Adiknya Yang Tidak Tahu Diri.

Apa yang menjadi kesimpulan pada pertemuan kedua ini? Yesus sendiri tidak memberikan kesimpulan atas perumpamaan ini. Yesus menyerahkan kepada pendengarnya untuk menarik kesimpulan sendiri. Dan kepada kita pun pada zaman sekarang, kesempatan itu diberikan oleh Yesus. Oleh karena itu, dalam pertemuan kedua, telah disediakan beberapa pertanyaan penununtun agar kita yang mendengarkan Tuhan Bercerita sanggup menempatkan diri dalam setiap alur cerita Tuhan.
  1. Andaikan aku adalah anak bungsu yang hilang seperti dalam perumpamaan tadi, bagaimana sikap dan tindakanku?
  2. Andaikan aku adalah anak yang sulung seperti dalam perumpamaan tadi, hal apa saja yang perlu aku perbaiki?
  3. Berani dan mampukah saya bertindak seperti sang ayah dalam perumpamaan tadi?
  4. Sebagai umat Katolik, apa saja yang harus saya perbaiki dalam hidupku setelah mendengar perumpamaan tadi?
Semoga kita semua sanggup menarik kesimpulan yang bermanfaat dalam pertumbuhan hidup iman kita.

Pada Pertemuan I Pendalaman Kitab Suci 2011, Yesus mengajar kita melalui perumpamaan "ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI, (LUK. 10:25-37). Gagasan Pokok dari Pertemuan ini adalah: BAGAIMANA SEHARUSNYA KITA BERTINDAK SEBAGAI SESAMA.

Masyarakat di zaman kita sekarang mudah dikotak-kotakan berdasarkan etnis, agama, kedudukan, status, kekayaan, pendidikan dan sebagainya. Situasi terkotak-kotak ini sering membuat orang bertanya tentang SIAPAKAH LAWAN DAN SIAPAKAH KAWAN. Perumpamaan ini mengajak kita untuk keluar dari pertanyaan di atas dan beralih kepada pertanyaan BAGAIMANA AKU DAPAT MENJADI SESAMA, MENJADI KAWAN, MENJADI SAUDARA BAGI ORANG LAIN? Dengan kata lain, kita diajak untuk meruntuhkan tembok pemisah yang membuat kita selama ini terkotak-kotakan.

Kalau kita membaca Injil Lukas 10:25-37, Ahli Taurat hadir sebagai seorang yang mempertanyakan "siapakah sesamaku manusia?" kepada Yesus. Ahli Taurat bukannya tidak tahu jawabannya, sebab sesungguhnya segala sesuatunya sudah diatur juga dalam Taurat. Tujuannya bertanya kepada Yesus adalah untuk mencobai Yesus.

Bagaimana Yesus harus menjawab? Dalam Injil, Yesus menjawab melalui perumpamaan. Sebelum kita masuk dalam Perumpamaan, ada baiknya kita mengetahui lebih dulu situasi masyarakat pada zaman itu.

Yang biasa dianggap sesama oleh orang Yahudi pada waktu itu adalah mereka yang sebangsa atau sesuku. Meskipun demikian, kaum Farisi dan Komunitas Eseni mempersempit definisi sesama hanya pada kelompok mereka sendiri. Bagi orang Farisi, orang di luar kelompoknya dianggap sebagai "anak negeri" (" am ha-ares") atau orang kebanyakan. Demikian pula kaum Eseni yang hidup dalam komunitas di pinggir Laut Mati, menganggap mereka yang ada di luar komunitasnya sebagai "anak-anak kegelapan". Orang Yahudi pada umumnya tidak menganggap Orang Samaria (karena merupakan keturunan campurang Israel-Asyur) dan bangsa asing sebagai sesama. Selain itu, di kalangan Yahudi ada beberapa kelompok yang tidak dianggap sebagai sesama seperti para pemungut cukai, kaum pendosa dan orang kusta. Inilah situasi masyarakat pada zaman itu.

Yesus menyampaikan perumpamaan dengan tujuan untuk menghancurkan batas-batas di atas. Dalam perumpamaannya, Yesus menghadirkan Orang Samaria sebagai gambaran sikap perlawanan secara ekstrim dari sikap Seorang Imam dan Seorang Lewi. Seorang Imam dan Seorang Lewi adalah merupakan tokoh agama. Tetapi ketika mereka melihat seseorang yang tergeletak di tanah, korban perampokan, mereka hanya lewat saja. Imam dan Orang Lewi terikat oleh aturan NAJIS DAN TAHIR yang mereka hayati secara kaku. Orang Samaria, yang justru dianggap bukan sesama oleh Orang Yahudi, itulah yang menolong dengan kasih.

Bagaimana Perumpamaan ini kita hayati pada zaman kita sekarang ini? Sanggupkah kita bertindak seperti orang Samaria bila berhadapan dengan situasi yang menuntut pertolongan kita? Masihkah kita memelihara tembok pemisah yang membuat kita tidak memiliki sesama dalam arti yang luas seperti dimaksudkan oleh Yesus? Mudah-mudahan pada diskusi kelompok Pertemuan pertama kita dapat berbagi bersama untuk menemukan jawabannya.

Pada Bulan Kitab Suci Nasional 2011 ini, Lembaga Bibilika Indonesia mengajak seluruh umat Katolik di Indonesia untuk mendengarkan sabda Tuhan, khususnya yang berupa perumpamaan. Walaupun mungkin sudah sering mendengarkan cerita-cerita itu dibacakan dalam Liturgi Sabda, kita diajak untuk secara pribadi dan sebagai komunitas membaca dan merenungkan ajaran Tuhan yang disampaikan-Nya secara ringan dan menarik karena berbentuk cerita.

Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, maka Lembaga Biblika Indonesia mengetengahkan Tema Umum Bulan Kitab Suci Nasional 2011 yakni: MENDENGARKAN TUHAN BERCERITA. Tema ini akan diperdalam selama empat kali pertemuan dengan tema-tema sebagai berikut:
  1. Pertemuan pertama: Orang Samaria Yang Baik Hati
  2. Pertemuan kedua: Anak Yang Hilang
  3. Pertemuan ketiga: Belas Kasih Allah
  4. Pertemuan keempat: Pengampunan

Keempat pertemuan ini dibungkus dalam perumpamaan yang pernah diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridnya. Mari kita menyukseskan Bulan Kitab Suci Nasional 2011 dengan ikut berpartisipasi dalam setiap pertemuan.

Ilustrasi dari jpicofmindonesia.com
"Saudara-saudaraku, marilah kita melihat alam sebagai saudara juga, karena dalam alam, kita dapat melihat kehadiran Allah Sang Pencipta".[ref name="Frans"]St. Fransiskus Assisi, Pelindung Ekologi[/ref]  Kurang lebih demikianlah ajakan St. Fransiskus dari Assisi kepada pengikut-pengikutnya untuk menghargai alam sebagai saudara. Sikap penghargaan terhadap lingkungan ini, St. Fransiskus Assisi, Pelindung Lingkungan Hidup, mengarang sebuah lagu "Gita Sang Surya" yang seluruh pesannya menempatkan alam, api, matahari, bulan, bintang, bahkan maut sebagai saudara. St. Fransiskus tidak menempatkannya sebagai sesuatu yang harus dilawan, harus ditaklukan, atau harus dilawan. [ref name="Kapusin"]Ada baiknya anda membaca tulisan pada website Kapusin Propinsi Pontianak. Klik di sini.[/ref]

Bahan Pendalaman BLN 2011, pada sub-tema kedua, mengetengahkan tema Liturgi dan Ekologi. Setelah kita memahami banyak tentang Liturgi, pasti kita mampu melihat nilai-nilai liturgi itu dalam hubungannya dengan ekologi.  Kalau demikian, kita pun perlu mengetahui arti ekologi itu. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834 - 1914)[ref name="ekologi"] Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm: 20-27.[/ref]  Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. [ref name="wiki"]Wikipedia, Ensiklopedi Bebas[/ref]

Dengan pengertian di atas, dalam Ekologi kita dapat melihat secara keseluruhan cakupan-cakupan yang masuk dalam Lingkungan Hidup kita. Lingkungan Hidup tidak boleh kita terjemahkan pada satu ekosistem saja. Tetapi kita harus melihat secara keseluruhan jagat raya ini sebagai Lingkungan Hidup. Lingkungan Hidup sanggup memberikan kepada kita simbol-simbol kehadiran Allah. Simbol-simbol itu dapat membantu kita dalam usaha mendekatkan diri kepada Dia sang Pencipta.

Hubungan Liturgi dan Ekologi pada pendalaman tema BLN 2011 lebih menekankan Lingkungan Hidup sebagai Sarana Berliturgi yang baik dan berkenan kepada Allah. Simbol-simbol yang disediakan oleh alam seperti air, bunga, pohon, batu dan lain sebagainya merupakan sarana bagi kita untuk melihat kehadiran Allah dalam karya penyelamatan. Sebagai contoh: air adalah sebagai tanda mutlak dalam "Sakramen Pembabtisan". Bila anda dibaptis dengan air yang tidak bersih dan kena polusi, apakah anda bisa melihat kehadiran Allah dalam air tersebut? Jawabannya pasti "tidak" bukan?

Sama halnya dengan simbol-simbol alam yang lainnya. Bila simbol-simbol tersebut rusak, kotor, bahkan jorok dan tidak layak menurut pandangan kita manusia, bagaimana mungkin simbol-simbol tersebut sanggup membawa kita dalam suasana bersatu dengan Allah. Bila bunga-bunga yang menghiasi Altar disusun dalam bunga-bunga imitasi, bunga plastik, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa ciptaan Allah itu indah dan segar?

Kalau demikian, apakah umat Kristiani harus menyembah batu atau air, karena Allah ada disana? Tidak demikian. Manusia religius tidak menyembah batu atau pohon sebagai yang Kudus, tetapi manusia religius harus sanggup melihat bahwa batu atau pohon itu memanifestasikan yang Kudus.[ref name="buku"]Bahan Katekese Liturgi, Bulan Kitab Suci Nasional 2011, hal. 11[/ref]

Pendalaman Bulan Liturgi Nasional 2011, mengajak seluruh umat memperhatikan lingkungan hidup karena di dalam lingkungan hidup Allah pun tinggal. "Jagat raya merupakan jejak kaki Allah, yang menandakan kehadiran Allah di antara manusia".[ref name="bona"]St. Bonaventura, Pengikut St. Fransiskus dari Assisi[/ref]

Dengan pengantar singkat di atas, mari kita mendalami lagi Liturgi dan Ekologi melalui pertanyaan berikut:
  1. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi beserta isinya, apakah yang ditugaskan Allah bagi manusia?
  2. Sebutkan beberapa contoh kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di sekitar lingkungan anda?
  3. Apa yang dapat kita lakukan untuk ikut serta dalam menciptakan lingkungan hidup yang bersih dan sehat?
  4. Apakah lingkungan hidup yang kita diami saat ini mampu mengantar kita untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam alam ciptaan-Nya?

Bulan September 2009 ini, Gereja Katolik memasuki Bulan Kitab Suci Nasioanl. Sebagaimana biasanya, para pemimpin Gereja mengajukan agar umat meluangkan waktu yang lebih banyak lagi dibandingkan dengan hari-hari lainnya untuk mendalami Kitab Suci. Tema BKSN 2009 mengetengahkan "Pergulatan Yakub dengan Allah dan Manusia".

Pergulatan Yakub dengan Allah dan Manusia dijabarkan lagi dalam empat sub-tema. Dan seperti kebiasaan umat katolik, keempat sub-tema itu didalami secara bersama dalam kelompok melalui pendalaman Kitab Suci.

Pertemuan pertama dengan mengetengahkan tema: "Pergumulan Yakub dengan Esau". Topik ini ingin mengatakan kepada kita bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan BERKAT itu. Yang menjadi soal adalah bagaimana kita menanggapi berkat itu, apakah menganggapnya sepele atau biasa-biasa saja. Bagaimana partisipasi kita untuk menyambut rahmat tersebut dan bagaimana kita menjaga agar berkat tersebut berbuah. Tokoh Yakub dan Esau adalah dua tokoh yang menanggapi BERKAT itu secara berbeda. Diawali dari sebuah tindakan "menganggap tidak berguna hak kesulungan" yang dimiliki oleh Esau dan akhirnya dijual kepada Yakub demi semangkok kacang merah. Hak kesulungan membawa serta paket-paket rahmat lainnya yang dalam topik ini disampaikan oleh Ishak pada Yakub.

Pertemuan kedua, mengajak kita untuk ikut dalam pengalaman Yakub bertemu dengan Allah. Pertemuan dengan Allah boleh terjadi di mana saja. Tetapi ada tempat-tempat tertentu di mana kita mengalami Allah secara lebih kuat. Yakub memberikan model bagi kita untuk melihat hal itu lebih jelas dalam kehidupan kita sekarang ini. Rumah Tuhan, Gereja tempat kita mengalami Allah secara lebih kuat. Meskipun ada tempat lain yang bisa memungkinkan kita mengalami Allah.

Pertemuan ketiga, Yakub mengalami kesulitan dan tantangan dalam kehidupan sosial. Pengalaman cinta, hak dan pengakuan yang menuntut pengorbanan. Segala sesuatu harus diperjuangkan dan dalam perjuangan itu kita tetap diingatkan pada janji Allah, yakni sebuah tempat idaman, tanah terjanji yang telah disediakan oleh-Nya.

Pertemuan keempat menegaskan kemanuasiaan Yakub. Rasa takut tidak terobati dengan menghindar atau melarikan diri. Rasa takut tetap ada kalau dihadapi hanya dengan cara melarikan diri dari kenyataan. Segala persoalan harus dihadapi dan diselesaikan dalam dan bersama Allah.

Beberapa butir pendalaman diatas adalah salah satu bentuk refleksi yang masih mungkin lebih kaya, bila bapak, ibu, saudara sendiri yang bergumul dengan Allah bersama pengalamannya Yakub, bapak segala bangsa.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget