MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "BOX"

Kalau kita mencermati berbagai persoalan korupsi, yang marak di Tanah Air tercinta khususnya, kita kadang berdecak kagum. Kagum karena walaupun korupsi selalu disoroti bahkan dikutuki public tetapi masih  ada yang berani “bermain” dengan-nya. Anehanya, orang begitu nekat korupsi, walau akibatnya secara moral ia akan mengalami keluluhan harga diri. Sementara itu ada yang katakan, lebih baik kehilangan sekantong emas dari pada kehilangan harga diri. Ini berarti harga diri jauh lebih mahal (suci)  dari pada emas sekantong. Tapi, mengapa korupsi terus-menerus terjadi?

Di batas pertanyaan ini, muncul suatu kesadaran bahwa setiap orang, siapapun dia-kaya atau miskin memiliki harga diri yang suci. Kesuciaan harga diri itu tidak bisa diukur secara materil karena ia adalah harta terberi sejak lahir. Oleh harta terberi itu, setiap orang mengalami bahwa ia berharga di mata sesamanya. Akibat dari rasa berharga, ia akan menerima sikap dihormati, disayangi, dicintai dan dikagumi.

Kesadaran ini secara alamiah ada dalam diri setiap orang. Sementara itu setiap orang pun menyadari bahwa ia memiliki sederetan kelemahan yang berpotensi untuk melukai atau meluluhkan harga dirinya. Akibat dari kesadaran ini, orang selalu berhati-hati dan  penuh pertimbangan sebelum melakukan suatu perbuatan yang berakibat  melukai atau meluluhkan harga dirinya sendiri.
Herannya walau kesadaran ini terus melekat pada setiap orang,  tetapi begitu berhadapan dengan setumpuk “duit” orang   seperti  “rabun mata”. Semua kesadaran moralnya, (takut akan rasa malu, takut nanti dicerca, takut bila dimaki)  pun hilang seketika. Prinsip menyesal selalu datangnya terlambat  seperti  tidak terlintas  lagi dalam benaknya. Yang ada hanya, rencana-rencana “liar” tentang apa yang akan dibeli dan  mau melancong ke mana nanti setelah “merogoh” uang milik rakyat,  yang kebetulan dipercayakan padanya untuk dikelola demi kesejahteraan bersama.

Inilah dinamika jiwa orang yang menatap langsung setumpuk duit di hadapnnya. Dilemma antara mau ambil atau tidak biasanya sangat kuat. Karena begitu kuat dilemma yang dirasakan, orang lalu membuat proyeksi-proyeksi positif dengan membangun prinsip imbangan untuk menetralisir rasa ragunya dalam berbuat salah, seperti “ Ah…kalau orang lain bisa korupsi mengapa saya tidak ?“

Ketika prinsip ini  begitu dominant dalam dirinya, ia makin berani untuk bertindak. Ia tidak akan berpikir tentang konsekuensi  yang akan menyusul menimpa dirinya. Yang ada hanya sejuta bayangan tentang bentuk dan gaya hidupnya nanti, setelah mengantongi ratusan juta atau milliaran rupiah.
Di sinilah orang memiliki keberanian yang salah letak. Tetapi keberaniannya bagaikan sepotong belati yang kelak menyayat dan melukai dirinya, ketika namanya diobok-obok sebagai KORUPTOR dalam TV, radio, koran dan lebih keji lagi kalau  ia didemo rame-rame  sambil diumpat, dimaki dan  dihojat oleh masyarakat yang dulu sangat menghormati dan mencintai dia.
Perlu di sadari juga bahwa realitas tercemplung dan hidup dalam masyarakat dengan ragam sistemnya, juga menjadi satu ujian terberat untuk tetap mempertahankan kesucian sebuah harga diri. Fakta diseretnya wakil wali kota Bogor, menjadi contoh untuk hal ini. Secara pribadi ia katakan, mengapa aku saja yang harus dipersalahkan,  padahal persoalan ini (Korupsi) merupakan persoalan komunal – melibatkan beberapa orang.

Kasat benar, bahwa secara pribadi wakil wali kota Bogor mempunyai kesadaran akan kesucian harga dirinya, tetapi karena ia berada dalam sistem komunal, yang sama-sama memiliki kesepakatan untuk “bermain api”, maka ia pun  berani mempertaruhkan kesucian harga dirinya.
Akibatnya, ia ditangkap sendiri tanpa teman-teman sekongkolannya. Ia sendiri mengalami dirinya dihujat, dicerca, dimaki dan dibenci. Tak terbayangkan betapa tersayat hatinya ketika sebelumnya, ia dihormati, dipuja dan disegani tetapi sekarang ia seperti orang yang tidak ada harganya. Apalagi membayangkan, bagaimana perasaan istri / keluarga bila berhadapan dengan tetangga dan masyarakat sekitarnya dan perasaan anak-anak bila berada di lingkungan sekolah. Singkatnya terlalu banyak angan kelam di hati orang yang sedang dilanda luka dan luntur harga dirinya.

Untuk menghindari keberanian yang salah letak memang tidak gampang segampang membalik telapak tangan. Perlu dicari mengapa orang nekat memiliki keberaniaan yang salah letak ? Barangkali salah satu sebabnya adalah adanya budaya SOGOK atau UPETI sebelum menjadi seorang aparat pemerintah. Rasa rugi yang ia berikan dalam bentuk sogokan ketika berjuang menjadi seorang pegawai negeri akan  menjadi semacam satu “sindrom balas dendam” yang tersimpan rapi di bawa alam sadarnya. Suatu saat ketika ia sudah menjadi “orang” dalam jajaran kepemimpinan structural, ia akan berusaha untuk mengembalikan kerugiannya dalam bentuk KORUPSI.

Ini adalah suatu “penyakit” yang bersifat tangga pilin – tak berujung. Penyakit ini sudah menjadi heredit. Lalu siapa yang harus dan berani menyembuhkan atau memberantasnya ? Yang pasti untuk memberantasnya, perlu seorang pemimpin yang berani “BANTING STIR” dan tidak takut  untuk mengubah sistem yang selama ini memberi peluang bagi orang untuk korupsi.  Jelas, upaya pemberantasan penyakit ini tidak mudah. Pemimpin yang berani menjadi “dokter penyembuh” haruslah pemimpin yang memiliki ketangguhan moral dan spiritual. Tanpa ketangguhan moral dan spiritual, semua apaya pemberantasan hanya akan bersifat kamuflase belaka.
Memang factor eksternal – pengawasan dari luar,  sesungguhnya tetap diperlukan. Namun justeru yang paling menentukan adalah factor internal – kesadaran dari dalam diri orang yang kebetulan memegang jabatan public. Kalau ia menyadari bahwa dirinya sebagai seorang yang bermoral dan bermartabat,  lalu “kebetulan” dipercayakan negara  untuk mengatur suatu sistem demi kesejahteraan bersama, maka ia akan lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan-tindakan yang salah letak.

Sebagai seorang pejabat, ia bagaikan “lentera” di atas bukit yang senantiasa dipandang semua orang. Terang dan redupnya cahaya lentera itu akan langsung dilihat secara kasat mata oleh khalayak ramai. Pejabat yang bermoral baik, tentu tidak akan membiarkan “cahaya lentera” jabatannya redup,  hanya karena “silau”  oleh kucuran-kucuran dana yang diperuntukan bagi rakyat.

Secara pribadi, saya sungguh  sangat yakin bahwa setiap pejabat mempunyai kehendak baik untuk mengabdi masyarakatnya. Karena itu  mereka yang sedang  dan kini  memangku sebuah jabatan public, pasti memiliki kesadaran moral untuk menghindari keberanian yang salah letak,  apalagi didukung dengan program Presiden Bambang untuk memberantas penyakit korupsi dalam masa kepemimpinannya. Tentunya program presiden akan sangat membantu menjernihkan kesadaran moral para pejabat dalam meciptakan suatu kondisi pemerintahan yang bersih.

Lalu sebagai warga masyarakat, sebaiknya kita tidak hanya menunggu di “tikungan kelemahan” para pejabat untuk menyerang tanpa ampun bila mereka terjebak dalam kesalahan, tetapi hendaknya kita tetap  mendoakan mereka, agar selalu dilindungi dan dihindarkan dari berbagai cobaan, sehingga mereka tidak terjebak dalam keberanian yang salah letak.**

Oleh: P. Frieds Meko, SVD

Francois Voltaire (1431-1465) adalah seorang filsuf berkebangsaan Prancis. Pikiran-pikirannya banyak dikenal oleh orang-orang kaum intelek. Ia banyak bicara soal politik, filsafat, sastra dll. Begitu pandainya Voltaire, sampai ia sangat mendewakan peran ratio dan berani berkata: “saya tidak percaya akan adanya Allah”. Sikap atheisnya begitu mendalam sehingga pada suatu saat ia berani meramal, “Alkitab adalah sebuah buku yang akan musnah”. Ketika ia mengatakan demikian, waktu itu Alkitab baru diterjemahkan dalam beberapa bahasa. Kini setelah 5 abad kematiannya,  Alkitab beredar lebih luas menjangkau berbagai bangsa dan diterjemahkan dalam ribuan bahasa yang dapat memudahkan untuk dipahami dan dihayati dalam hidup.

Dengan adanya kenyataan ini, jelas terbukti bahwa Voltaire bukanlah segala-galanya untuk semua. Ia ternyata begitu gegabah meramal dan berani menentukan suatu kepastian terhadap kemusnahan Alkitab. Ternyata ia dipermalukan oleh ungkapan sendiri. Bukanlah Alkitab yang musnah, tetapi justru teori-teorinya tentang politik dan sebagainya yang perlahan menjadi samar-samar dan hampir musnah tergusur oleh adanya teori-teori modern yang lebih aktual dan akurat. Voltaire menjadi tumbal untuk ungkapannya sendiri. Ia peramal yang gagal membuktikan kebenaran ramalannya.

Dia rupanya ia begitu enteng menyejajarkan Alkitab dengan roman-roman klasik, sehingga ia seperti cukup yakin bahwa sebagaimana roman karya sastra klasik suatu saat dapat musnah, begitupun halnya dengan Alkitab. Voltaire agaknya lupa satu hal yang dilukiskan begitu bagus oleh Yohanes dalam prolognya yakni,  “Pada mulanya adalah sabda, sabda itu bersama-sama dengan Allah, dan sabda itu adalah Allah.” (Yoh 1:1).

Kalau seandainya Voltaire tidak lebih dahulu “muak” mendalami Alkitab, barangkali ayat ini tidak akan lepas dari perhatiannya. Ayat ini tentu akan menjadi sapaan mesra yang dapat menyadarkan dia bahwa,  “Sabda itu menjadi manusia, memberi daya hidup untuk manusia dan sabda itu tetap hidup sepanjang masa”. Kalau ia sempat memahami seperti ini, ia pasti tidak gegabah untuk berani berkata yakin bahwa Alkitab adalah sebuah buku yang akan musnah.

Voltaire sudah lama meninggal. Kitalah yang masih hidup dan menjadi saksi untuk ungkapannya yang nampak “ngawur”. Kini tinggal satu pertanyaan untuk kita, mungkinkah dalam dunia yang serba gemerlap dapat muncul kembali Voltaire modern ? Hanya anda dan Tuhan yang tahu pasti !! ** Frieds Meko, SVD

Ternyata waktu berlari begitu cepat. Rentangan Januari hingga Desember sepertinya hanya sejengkal. Tigaratus enam puluh lima hari berlalu begitu ”enteng”,  se-enteng  deras air mengalir ke hilirnya. Tumpukan hari – hari yang terkemas dalam ”setahun” sepertinya terlewati tanpa merasa terengah-engah dan tanpa merasa bosan menanti berlalunya guliran waktu. Toh sekarang mau tidak mau, kita mesti mengayunkan langkah menapaki satu babak waktu yang penuh dengan tanda tanya. Babak waktu itu adalah tahun 2014.

Melangkah masuk ke dalam tahun 2014

Melangkah masuk ke dalam babak waktu yang baru ini,  nampak sangat otomatis terjadi  karena di ujung tahun 2013 kita toh masih  “dipinjami“ kesempatan untuk hidup.  Jadi sepertinya tanpa canggung kita melangkah masuk di gerbang 2014. Walaupun langkah kita ke dalam rentang waktu tahun yang baru ini berlangsung otomatis, namun sebetulnya “otomatisasi langkah“ kita, tidak serta-merta menjadi garansi kemudahan dan keselamatan saat menyusuri ruas-ruas waktu yang terbentang dalam tahun 2014.

Ketika kita beranjak masuk pada tepi tahun 2014, sebetulnya langkah kita langsung ”terhadang” sebuah tanda tanya yang paling besar. Soalnya kita tidak tahu pasti, warna hidup seperti apakah yang akan kita alami di tahun 2014. Kita juga tidak tahun persis, apakah kita masih bisa menikmati hidup pada akhir tahun 2014 nanti. Yang tahu pasti hanya Tuhan. Dan tentunya Tuhan tidak bisa ”disogok” untuk membuka semua rahasia yang tersimpan rapi dalam lambung tahun yang baru ini. Kita hanya bisa melakoni hidup dengan menggunakan semua potensi yang kita miliki, sambil tetap mengandalkan Tuhan sebagai Sang Pemilik semesta dan hidup kita.

Warna hidup seperti apa yang akan terjadi nanti, jelas kita tidak ketahui. Namun yang paling pasti, bahwa semua rentetan peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah peradaban manusia akan selalu terulang dalam setiap babak waktu yang baru. Dari segi politik, selalu ada harapan untuk mewujudkan kehidupan demokratis yang didukung dengan kesadaran untuk memperjuangkan nilai keadilan dan kebenaran, namun kadang kita terpaksa sesak dada menerima bergitu banyak kasus ketidakadilan yang terjadi.

Dari segi ekonomi, selalu ada impian untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang sejahtera dan hidup layak, namun kita pun pada akhirnya terpaksa menerima kenyataan, begitu banyak orang yang tega merampas ”hak bersama” menjadi ”hak pribadi” dengan memperkaya diri sendiri. Dari segi agama, ada harapan untuk mewujudkan rasa takwa dan beriman,  agar dapat menghayati hidup ini sesuai dengan kehendak Tuhan, namun kita bisa lihat begitu banyak orang ”beragama” yang saling membunuh karena sangat berani me-monopoli kebenaran bahwa ”ia saja yang paling pantas di hadapan Allah”. Dari segi sosial, diharapkan suatu kehidupan bersama yang guyup, saling mengandalkan antara satu – sama yang lain dan mewujudkan solidaritas dalam kebersamaan untuk mengatasi kegetiran hidup yang menekan. Namun, semua impian ini nampak sayup tercapai, karena semangat individualisme dan materialisme menjadi junjungan masyarakat moderen.

Inilah ragam warna hidup yang tentunya otomatis terjadi dan akan  kita alami lagi di tahun 2014. Sementara dari rangkaian peristiwa – peristiwa lama yang selalu terulang ini, kita secara pribadi akan tetap dihadang tanda tanya yang sulit ditebak,  kira – kira apa yang akan terjadi secara pasti atas hidup kita sendiri.

Mungkinkah berubah di tahun yang baru (?)

Memang tidak gampang untuk menebak apa yang akan persis terjadi atas hidup kita di tahun 2014 ini. Tetapi kata orang, wajah masa depan ditentukan oleh apa yang anda lakukan pada saat sekarang. Prinsip ini mengandung makna ganda.

Di satu pihak, bila masa pada masa sekarang,  setiap orang berusaha untuk membangun niat dan maksud yang baik bagi hidupnya, maka wajah masa depan pasti akan lebih ceriah dan orang akan mengalami kehidupan yang baik dan kondusif sesuai dengan harapannya. Di lain pihak, bila masa sekarang ini, diisi dengan pola dan cara hidup yang tidak teratur bahkan cenderung bersikap ”liar”, jelas orang tidak akan menikmati masa depan yang baik. Ketenteraman hidupnya akan terusik oleh efek – efek perilakunya sendiri yang senantiasa merisaukan.

Yang paling pasti, kita selalu mengharapkan agar hidup ini semakin hari – semakin baik. Bertambahnya waktu – mestinya juga membawa kesadaran untuk belajar dari masa lalu, bagaimana menata masa yang akan datang tanpa harus mengulangi lagi kesalahan masa lalu. Kita sama – sekali tidak mempunyai potensi menjadi ”keledai dungu” yang dapat berulang kali jatuh dalam lubang yang sama, sebab  kita mempunyai pikiran dan hati nurani untuk menjadi bijak dalam merancang hidup ini,  sebagai anugerah yang mesti disyukuri sepanjang hidup.

Tetapi dunia yang sudah semakin tua – renta ini, ternyata dari waktu ke waktu tidak pernah sepi dari persoalan – persoalan lama, yang selalu terjadi berulang kali. Persoalan lama ini ibarat lubang – lubang menganga yang ada di sepanjang jalan yang kita lintasi. Hanya keledai dungu yang dapat terus – menerus jatuh dalam lubang yang sama. Tetapi hal itu mestinya tidak terjadi pada kita – manusia,  yang mempunyai pikiran dan hatinurani.

Paradoks terjadi, ketika manusia yang mempunyai pikiran dan hati nurani, terus – menerus jatuh dalam lubang – lubang  masalah yang sama, yang senantiasa menjadi panorama buram dan memuakan dari abad yang satu ke abad yang lain. Sepertinya,  kita manusia bingung dan hilang akal di depan berbagai potensi yang kita miliki untuk membuat hidup ini lebih baik, damai, tenteram, adil dan benar.

Mungkin supaya kita tidak bingung dan hilang akal secara akut dari tahun lama ke tahun yang baru, kita mesti lebih banyak mendengar apa kata ”Sang Pemilik” hidup tentang bagaimana menata diri dan hidup ini,  agar selalu menjadi baru sesuai dengan datangnya tahun baru;  yang selalu membawa tanda tanya untuk dijawab oleh setiap orang  yang terbingakai di dalamnya. **

P. Fritz Meko, SVD
Ketua Komisi Komunikasi Provinsi SVD Jawa 
Tinggal di Soverdi Surabaya 










Merayakan ulang tahun seorang yang bernama Yesus, sejak dulu membuat banyak orang bertanya-tanya kagum bahkan cenderung iri hati. Siapakah Dia sehingga perayaan ulang tahun-Nya menggemparkan dunia dan membuat para seniman menggubah lagu-lagu yang syahdu dan indah, untuk mengekspresikan sukacita dan kegirangan menyongsong ulang tahun Dia yang terlahir dalam sebuah kandang domba?

Katanya, Napoleon Bonaparte pernah mencoba merenungkan peristiwa ini dengan bertanya, “Siapakah Yesus itu sehingga ulang tahunnya selalu menggemparkan dunia? Aku, seorang raja besar dan hampir menguasai seluruh Eropa, koq ulang tahunku tidak pernah dirayakan semeriah perayaan ulang tahun Yesus?”  Sungguh,  Napoleon sangat jujur bertanya dan kagum walau terkesan iri hati dan berusaha untuk menyamai Yesus sekurang-kurangnya dari segi perayaan ulang tahun saja.

Tetapi siapapun, entahkah para filsuf, raja atau ilmuan seperti Plato, Aristoteles, Napoleon, Karel Agung, Newton, Einstein, dll. Ulang tahun mereka tidak pernah dirayakan semeriah ulang tahun Yesus – padahal pengaruh mereka terhadap perkembangan dunia pun sangat besar dan dihormati sepanjang zaman.

Yesus memang beda. Kalau para ahli dan raja di atas terlahir di rumah sakit atau di tempat yang layak, Yesus justru lahir di kandang domba atau di tempat yang tidak layak. Tapi herannya, tempat yang tidak layak sama sekali tidak mempengaruhi mutu rasa hormat yang sangat tinggi terhadap Yesus. Yesus dilihat sebagai pribadi agung dan mulia yang mampu menjadi kekasih jiwa setiap orang.

Pikiran dan ajaran-ajaran-Nya tidak hanya menembusi kebekuan dan kepongahan wawasan manusia, tetapi lebih dari itu mampu menerangi kegelapan hidup dan kerabunan mata hati setiap orang. Pikiran dan ajaran-Nya bukan hanya seperangkat regulasi  dan hukum yang ditaati karena merasa takut disiksa atau dicambuk, tetapi lebih dari itu karena orang sungguh merasakan bahwa kekuatan pikiran dan ajaran-Nya mampu membersitkan kasih, sukacita dan damai bagi sebuah hati yang rentan kerontang, rentang gelisah dan rentan kerkah bathin.

Pikiran dan ajaranNya adalah cita-cita dan bahasa langit yang ingin di-bumi-kan di antara manusia yang berpijak dan diam di dunia ini. Bahasa dan cita-cita langit itu berbeda dan cenderung kontra dengan bahasa dan cita-cita bumi. Bahasa dan cita-cita langit nampak dalam, cinta, kasih, adil, damai, benar dan jujur. Sedangkan bahasa dan cita-cita bumi nampak dalam, benci, dendam, iri hati, culas, congkak.

Yesus datang untuk membuka pikiran dan menggugah hati manusia agar menyadari bahwa ziarah hidup ini menuju dan berakhir di depan takhta Sang Pencipta. Untuk menikmati perjumpaan dengan Sang Pencipta, setiap peziarah diminta membuka hati dan membiarkan hidupnya diwarnai dengan cita-cita dan bahasa langit. Hanya dengan itu manusia menemukan penyempurnaan martabat sebagai mahkota ciptaan yang mulia di dunia ini.

Natal, moment datangnya Yesus di dunia. Anda dan saya tak perlu menjadi Napoleon Bonaparte yang tidak hanya kagum tapi agak “iri hati” atas semarak yang anggun terhadap perayaan Natal. Anda bisa saja menyamai Yesus dalam soal perayaan HUT anda, sejauh anda mampu membiarkan hidupmu dipimpin dan diwarnai oleh cita-cita langit yang diperjuangkan Yesus yakni, cinta, kasih, adil, damai, benar, jujur.

Kalau anda telah merelakan hidup agar diwarnai cita-cita langit, maka sudah pasti anda akan menjadi manusia yang namanya tetap terpahat di hati setiap orang. Namamu bukan hanya ditulis di atas pasir yang mudah disapu angin, tetapi tertulis di atas batu wadas yang dikenang selamanya. Dengan itu “natalmu” pun mampu menggugah orang untuk dikenang walau tidak se-semarak  Natal-nya Yesus. ** P. Frieds Meko, SVD

Suatu saat di tahun 1998 dalam perjalanan ke salah satu kampung di pedalaman Kalimantan Tengah, saya bertemu dengan seorang bapak yang mengaku bernama Jagau. Ia seorang petani tulen. Setiap hari ia menoreh karet, kadang berburu babi hutan dan dagingnya dijual untuk membayar uang sekolah anaknya yang sedang kuliah di Universitas Palangka Raya.
Dari ceriteranya, ketahuan bahwa ia pernah sekolah di SGB Kuala Kapuas, tetapi tidak selesai karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Ia akhirnya pulang kampung dan memilih menjadi seorang petani karet.

Semakin banyak orang pintar semakin banyak masalah (?)

Dari sekian banyak ceritera, saat menyinggung tentang  peran guru dan sistem pendidikan sekarang ini, ia spontan mengatakan ”...wah...payah, sekarang ini dunia pendidikan kita makin canggih dan menghasilkan banyak orang pintar, tetapi coba lihat,  semakin banyak orang pintar – semakin banyak masalah yang membuat dunia ini lebih  kacau. Mestinya, kalau ada banyak orang pintar justru dunia kita harus lebih baik dan damai. Tetapi ini semua terbalik seratus persen. Di mana-mana orang saling mengibuli satu sama lain, banyak orang pintar tega memperdaya masyarakat kecil yang bodoh. Sepertinya semakin pintar seseorang semakin ia kehilangan hati nurani – nya.  Mereka memang pintar berpikir tetapi tidak benar dalam bertindak”.

Mendengar pernyataan pak Jagau ini, diam – diam saya mengagumi karena ternyata ia sangat kritis menilai realitas paradoks yang terjadi di zaman kita ini. Pendapat Jagau hampir sama dengan pendapat Jacob Sumardjono dalam artikelnya di Kompas yang ditulis beberapa tahun lalu. Sumardjono mengatakan ”Orang zaman sekarang lebih suka dibilang pintar daripada dibilang benar”.

Sumardjono pasti punya alasan mengatakan demikian. Dalam arti tertentu ia benar. Kecemerlangan dunia pendidikan saat ini, sungguh menghasilkan begitu banyak orang pintar yang diharapkan mampu membawa perubahan dan kemajuan  dalam masyarakat dengan wajah yang manusiawi. Namun dalam kenyataan muncul banyak persoalan yang ironisnya dilakukan oleh orang – orang yang mempunyai sederatan titel, baik di depan maupun di belakang namanya. Orang – orang model inilah yang biasanya lebih suka disebut pintar daripada dibilang benar. Kesadaran akan tata nilai moral, seolah hilang ditelan kejeniusan pikiran mereka (?).

Sekolah atau lingkungan yang salah  

Di batas kenyataan ini, kita ingin bertanya : Siapa yang salah ? Sekolah atau lingkungan ? Kalau sekolah yang salah maka tudingan Ivan Illich benar, bahwa sebenarnya tidak perlu ada sekolah karena sekolah menciptakan banyak orang ”pembuat masalah”. Tetapi kalau dibilang lingkungan yang salah, maka benarlah si Erich Fromm,  bahwa masyarakat moderen adalah masyarakat yang tidak waras, karena sulit dimengerti bagaimana mungkin masyarakat yang penuh dengan berbagai orang macam pintar,  tetapi justru semakin banyak masalah yang nampaknya tidak dapat diatasi dengan kemampuan para orang pintar itu sendiri (?). Masyarakat sebagai lahan ekspresi kemampuan yang diperoleh dari sekolah ternyata dijadikan sebagai tempat ekspresi perilaku yang menyimpang dan menyulitkan hidup orang lain.

Kita lalu ”terhempas” dalam persimpangan kebimbangan sambil ”mengelus” dada dan bertanya dalam hati  ”kalau demikan wajah dunia menjadi suram seperti ini, maka apa yang mesti kita lakukan ?  Toh.....kita sendiri menyaksikan betapa begitu banyak muncul ribuan sekolah berlebel  Nasional Plus dan Internasional dengan konstruksi kurikulum yang sangat mencengangkan tetapi sekaligus membingungkan. Para orang tua menjadi bingung memilih sekolah untuk putera – puterinya.

Yang jelas, semua sekolah pasti punya tawaran ”transferensi nilai” yang khas untuk para muridnya, makanya para orang tua mesti jeli memilih agar anaknya yang ”tamatan” sekolah itu dapat menjadi manusia yang pintar tetapi sekaligus benar. Ini mengandaikan sekolah itu sungguh mempunyai konstruksi kurikulum yang berimbang dalam mentransferensi nilai – nilai eksakta, sosial maupun humaniora. Kecenderungan meniadakan  atau mengurangi nilai – nilai humaniorna akan menyebabkan anak –anak menjadi pintar tetapi bisa menjadi tidak benar dalam perilakunya kelak sebagai seorang sarjana di tengah masyarakat.

Seperti apakah wajah generasi muda kita kelak 

Kalau mau supaya generasi kita kelak menjadi ”Generasi yang pintar dan benar”  maka baik keluarga maupun sekolah harus bekerjasama. Kalau di sekolah, sudah pasti bahwa para guru telah berusaha untuk membuat anak-anak menjadi pintar dengan  metode penyajian ilmu yang canggih, maka diharapkan setiap keluarga perlu membantu menanamkan nilai – nilai humaniora berupa etika, moral, agama, budi pekerti kepada anak-anaknya untuk mengimbangi kurikulum sekolah yang cenderung mengurangi ilmu – ilmu humaniora yang dapat membentuk karakter anak – anak didik.

Memang disadari bahwa keluarga – keluarga moderen, saat ini hampir tidak mempunyai waktu untuk lebih lama bersama anak karena tuntutan karier. Mereka bekerja mulai pagi sampai malam, akibatnya anak- anak lebih banyak ditemani nenek, opa atau para pembantu rumah tangga. Ini kesulitan sekaligus masalah  yang menuntut ke-arifan orang tua untuk menentukan waktu yang tepat agar ada kesempatan bersama anak - anak sambil memberikan bimbingan dan nasehat yang bertujuan untuk membentuk karakter dasar mereka.

Hanya dengan cara ini maka bisa  ditebak, generasi masa depan tentu akan memiliki kecerdasan (pintar) tetapi sekaligus juga beriman dan memiliki karakter serta integritas moral yang baik dan benar. Dan justru generasi seperti inilah yang kita harapkan di dalam dunia moderen yang serba kompleks dan lumayan membingungkan ini.

Para orang tua hendaknya berusaha membangun ke-arifan dalam menentukan sekolah dan mengatur waktu bersama anak – anak agar mereka tetap merasa, bahwa walaupun orang tua jarang ada bersama, namun  detak kehangatan mereka tetap dialami dalam ”kesendirian” yang hanya ditemani seorang opa, oma atau pembantu rumah tangga. **P. Frieds Meko, SVD

Ilustrasi dari: photopanorama.wordpress.com
Damai, macam apakah sosoknya? Apakah ia adalah sebuah harga yang sangat mahal sehingga jutaan orang membicarakannya hanya sampai taraf ideal? Dan apakah damai itu begitu penting sehingga orang tak habis-habisnya mempersoalkannya, bahkan sampai ada badan internasional (PBB) yang dibentuk untuk mewujudkan sosok damai itu?

Damai yang menjadi ideal memang sejak dahulu hingga saat ini, semakin dikejar oleh setiap orang dan setiap bangsa di muka bumi ini. Ia didambakan karena memiliki daya yang memberi ketenteraman bagi setiap orang.

Bila kita menengok sejenak situasi dunia saat ini, maka ada alasan kuat kalau orang begitu merindukan terciptanya kedamaian. Soalnya, dimana-mana terutama di kawasan-kawasan  sentral seperti, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin, kini dicabik-cabik oleh pertikaian menahun dengan acaman kekuatan militer yang konfrontatif. Situasi demikian tentu tidak hanya menjadi keprihatinan lokal, melainkan lebih merupakan keprihatinan mondial. Sebab pertikaian yang semakin hari semakin brutal, justru akan dapat membawa pengaruh yang berjangkau luas dan berkecambah, menyulut reaksi frontal dari bangsa lain yang merasa ikut bertanggungjawab. Apalagi pertikaian itu dimotivasi oleh pandangan etnis dan agama yang seringkali dapat menjaring bangsa lain yang merasa (meminjam istilah Khairil Anwar) berasal dari “Kemah” yang sama, seperti kemah Agama atau kemah Ras.

Contoh paling nyata untuk hal ini, dapat dilihat dalam tragedi Bosnia yang tidak hanya dipandang melulu dari soal kemanusiaan, tetapi juga orang lalu menginterpretasikan masalah ini berdasarkan kemah agama. Itu makanya tragedi Bosnia yang nota bene lebih banyak penduduknya beragama Islam, mengundang perhatian OKI selain PBB untuk segera mengambil langkah-langkah praktis, kongkrit dalam menegakan perdamaian di sana.

***
Problem yang menarik perhatian para politisi dalam menangani perdamaian, memang selalu menarik untuk disimak. Sebab semakin intens pertemuan yang diselenggarakan oleh para pemimpin bangsa, untuk membicarakan bagaimana kedamaian ditegakkan, semakin damai menjadi semacam bayangan yang menggoda untuk melanggengkan konflik.  Akibatnya pertemuan-pertemuan dan perundingan-perundingan yang diadakan lebih banyak bersifat lingkaran setan dari pada menampakkan wujud damai yang sesungguhnya. Dalam perspektif ekonomis, pertemuan dan perundingan model ini, mengundang cap terhadap PBB hanya sebagai “Lembaga Bursa” yang lebih banyak menularkan ragam masalah dan penderitaan ketimbang kedamaian.

Memang kita tidak menyangkal fungsi kontrol PBB, tetapi de facto ada pihak tertentu yang mengendalikan PBB dalam rel “kepentingan diri”, sehingga citra sejati PBB tercoreng, lalu orang cenderung meragukan fungsi dan peran PBB. Bila fungsi kontrol dan peran PBB semakin hari diragukan, maka jelas persatuan para bangsa pun akan mulai terganggu.
***

Bila demikian maka kecemasan kita akan menjadi lebih majemuk. Sebab kalau PBB sebagai satu-satunya medium efektif yang diharapkan menjadi penegak damai telah kehilangan keampuhannya, maka agaknya sulit untuk menegakkan damai yang diimpikan oleh semua bangsa. Melihat kenyataan demikian kita boleh bertanya, untuk apa PBB tetap mempertahankan status quonya?

Kita memang tidak menghendaki PBB dibubarkan, tetapi barangkali yang sangat perlu dibuat PBB saat ini adalah kembali menyadari “tujuan tunggal” yang disandangnya, sambil berusaha “melimbah” diri dari pengaruh negara-negara adi kuasa yang cenderung mempertaruhkan kepentingannya dengan memperalat PBB.

Selama PBB masih dijadikan sebagai ajang kepentingan dan keuntungan negara-negara tertentu, damai yang dirindukan akan tetap menjadi utopia. Dan kalau damai tetap menjadi utopia, maka kita akan tetap berduka sambil menyanyikan lagu-lagu requiem untuk mereka yang tewas dalam peperangan, dari pada menyanyikan lagu-lagu gembira ria lantaran damai telah merajai segala-galanya. **P. Frieds Meko, SVD

.....Wah…pastor, saya tidak setuju dengan kotbah pastor. Masa kami diminta hidup sederhana, padahal pastor kan tahu,  zaman sekarang kalau hidup sederhana berarti kita bisa mati konyol... 

Inilah sepenggal komplain dari seorang ibu, ketika mendengar kotbah saya tentang pentingnya hidup sederhana dalam keluarga. Sejenak saya bingung karena komplain spontan ini. Saya lalu bertanya dalam hati, seperti apakah pemahaman ibu ini tentang hidup sederhana?  Saya mencoba untuk mengandai-andai, kemungkinan pengertian tentang sederhana menurut si ibu ini,  sama dengan hidup miskin yang direncanakan. Makanya, tidak heran kalau ia spotan mendatangi saya dan komplain atas gagasan pola hidup sederhana seperti yang saya sampaikan dalam kotbah saat itu.

Bergesernya arti  hidup sederhana karena materi jadi takaran utama

Dari keberanian si ibu ini untuk complain, kita dapat menilai kwalitas pemahaman manusia moderen atas warna hidup aktual yang dijalani saat ini.  Nampak jelas bahwa kita manusia moderen begitu tengelam dalam arus materialisme, sehingga seolah-olah tidak ada lagi ruang dalam pikiran dan hati untuk memahami dengan jelas apa itu :  ke-sederhana-an. Orang sepertinya merasa takut sekali terhadap ajakan untuk hidup sederhana. Kesederhanaan dipahami sebagai ajakan untuk menerima dengan realistis keadaan hidup miskin yang sedang dialami. Padahal hidup sederhana berarti usaha menghayati hidup sesuai dengan kebutuhan yang wajar. Hidup tanpa membiarkan diri didorong oleh keinginan yang meluap-luap,  untuk memiliki segala-galanya dalam seketika. Jadi hidup sederhana itu mengandung suatu nilai bajik yang merupakan pantulan dari jiwa yang ugahari.

Memang kita tidak bisa menyangkal, bahwa kita sedang hidup dalam suatu dunia yang sangat mendewakan materi. Hampir segala aspek kehidupan kita diukur secara nominal. Arus materialisme yang sangat kental ternyata dapat mematikan begitu banyak nilai bajik yang justeru penting untuk membentuk mutu hidup manusia. Misalnya, hilangnya makna pelayanan karena setiap jenis tugas yang mau dijalankan, orang selalu mengharapkan imbalan jasa dengan bersandar pada prinsip uang bensin, uang rokok, uang lelah, uang administrasi, dll. Sepertinya orang sudah tidak dapat membedakan pekerajaan mana yang memang seharusnya mendapat imbalan,  dan pekerjaan mana yang memang merupakan kesempatan untuk melayani/membantu. Atau dengan bahasa orang yang beriman, kesempatan untuk menciptakan pintu-pintu kecil menuju surga.

Kentalnya arus materialisme pun membuat kita tidak realistis dalam hidup. Kita hidup dalam kompetisi yang tidak sehat. Kita berlomba-lomba mengumpulkan materi lalu akhirnya bingung di atas tumpukan barang yang kita kumpulkan. Kita menjadi seperti seorang peminum air asin. Semakin diminum semakin kita merasa haus. Akibat dari kenyataan seperti ini, realitas  hidup sosial sekarang diwarnai dengan panorama kriminalis.  Di mana-mana ada persoalan kriminal (korupsi, merampok, membunuh, menipu, mencuri, dll) hanya gara-gara duit atau materi.

Hidup sederhana demi kebahagiaan hidup(?)

Di dalam situasi dunia yang begitu tergila-gila dengan materi, ternyata masih ada orang yang sadar. Banyak orang  masih melihat bahwa ”cinta akan uang / materi adalah akar dari segala kejahatan” . Kesadaran inilah yang membuat orang untuk berani menghayati pola hidup sederhana. Hidup sederhana membantu ”menjinakan” hasrat memuaskan diri berdasarkan gelora nafsu memiliki dan nafsu menumpuk.

Hidup sederhana juga membantu kita untuk tidak merasa gelisah sekali melihat orang lain tampil lebih dari kita dalam hal memiliki, entah memiliki bakat dan kepribadian yang baik dan menarik,  atau memiliki banyak harta.  Kalau kita telanjur terperangkap dalam ”hasrat” untuk memiliki segala - galanya, maka kita pasti akan mengalami rasa tidak tenang. Kita akan mudah mengidap penyakit hati seperti, sakit hati atau iri hati melihat orang lain mengalami kesuksesan dalam hidupnya.

Kalau seperti inilah situasi batin, tentu kita tidak bisa bermimpi untuk mengalami kebahagiaan dalam hidup. Karena kebahagiaan itu harus diciptakan oleh sebuah hati yang damai dan tenteram. Hati yang penuh gelora benci dan iri, jelas tidak akan mampu menghadirkan  rasa damai dan bahagia dalam hidup kita.

Hidup menurut kebutuhan bukan selera yang meluap-luap 

Memang kita tidak bisa menyangkal bahwa, zaman sekarang ini berwajah ”materialistis” dan kita pun mau tidak mau bergulir di dalamnya. Panorama kehidupan sosial membuat kita sepertinya  ”tidak tahan berdiri” di dalam kesederhanaan. Kita terpacu untuk menampilkan sebuah kehidupan yang berwajah material, karena kita sangka hanya dengan cara inilah, martabat dan gengsi kita akan menjulang dan mendapat pengakuan secara sosial.

Namun tak dapat disangkal bahwa begitu banyak orang yang menderita karena ingin hidup menurut tuntutan seperti ini. Orang mau supaya memenuhi tuntutan seleranya, tetapi cara yang ia pakai adalah cara yang ”kotor”. Akibatnya, walupun penampilan hidupnya kelihatan mewah, tetapi ia sendiri tidak memiliki  rasa damai dan rasa bahagia. Ia merasa seolah sejuta pasang bola mata memandang sambil menuding dia, sebagai orang yang bermain kotor untuk mencapai apa yang ia inginkan.

Dengan demikian ia sama seperti seorang pangeran atau permaisuri yang hidup di atas menara gading berlantai duri. Melukai dan menyakitkan sehingga menghalau kebagiaan dari hidupnya. Kalau sampai tidak bisa merasa bahagia di atas menara kelimpahan itu, berarti sangat jelas bahwa menara itu telah dibangun dengan cara yang kotor atau tidak wjar. Pilihan bijaksana untuk dapat mengecap kebahagiaan di tengah dunia yang  berlimpah dalam segalanya adalah hidup menurut kebutuhan yang nampak sederhana tetapi mampu membersitkan rasa bahagia dalam hidup ini.** Rm. Frieds Meko, SVD

Pendahuluan

Satu keunikan yang disandang Negara Indonesia dan sempat menyita kekaguman Negara lain di dunia ini adalah: kemampuan menciptakan harmoni dalam keragaman. Indonesia yang terdiri dari 13.000 pulau, berbagai suku bangsa, ragam kepercayaan dan ragam budaya berhasil meredusir perbedaan-perbedaan ini dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika dengan dasar Persatuannya Pancasila.

De facto, adanya persatuan dalam perbedaan ini tidak hanya sebagai proses evolusi alami yang memang mesti terjadi menurut ordo natura, melainkan merupakan suatu “kenyataan” yang tercipta melalui suatu refleksi historis berdasarkan matra keberadaan bangsa Indonesia di atas Nusantara ini.
Refleksi historis yang diramu sejak awal berdirinya Negara Indonesia, terseling antara gejolak dan perjuangan yang Nampak dalam wajah kolonialisme dan gerakan-gerakan ekstrim yang pernah ada. Kemapanan refleksi historis ini ditunjang oleh adanya perasaan solider sebagai satu bangsa yang ingin bebas dan mau menentukan nasib sendiri.

Modal kesadaran sebagai satu bangsa yang senasib, lalu mendorong untuk memikirkan bagaimana menciptakan iklim persatuan langgeng dalam realita keragamaan yang ada. Disamping itu, perbedaan budaya dan perbedaan kepercayaan menjadi unsur hakiki yang mesti mendapat tempat khusus untuk dipikirkan dan direfleksikan sebagai kenyataan riil yang dapat dijadikan modal penunjang persatuan.

Pandangan  Gereja Katolik  Tentang Solidaritas Beragama

Pandangan Gereja Katolik tentang solidaritas beragama di Indonesia, berangkat dari suatu kesadaran akan keragaman agama yang secara historis berkembang sejak abad-abad permulaan. Karena itu, Gereja Katolik dalam menghadapi kenyataan seperti ini tidak menganggap diri sebagai institusi single fighter, melainkan selalu menyadari kehadirannya dalam konteks teologis, historis dan sosial. Berdasarkan refleksi atas kehadirannya, gereja Katolik dapat mengambil sikap dan berusaha bagaimana mewujudkan solidaritas dengan agama-agama lain yang ada di Indonesia.

1. Gereja Katolik dan Fungsi Profetisnya.
Pandangan Gereja Katolik atas fungsi profetisnya dalam masyarakat, bertolak dari pra-andaian, mungkinkah umat Katolik mencapai konsensus menyangkut soal-soal sosial, dan politik untuk mewujudkan pernyataan profetis atas nama Gereja?

Kebutuhan akan dasar eksplisit umat bagi kegiatan Gereja dalam masyarakat, menurut teolog kemasyarakatan Katolik. J.B. Metz, berdasarkan janji eskatologis kedatangan Kerajaan Allah. Ini sekaligus merupakan motif teologis sentral dan pedoman untuk menafsirkan hubungan Gereja dalam masyarakat.
Gereja Katolik berpegang teguh pada pandangan tentang masa depan mutlak manusia, tentang kerajaan Allah yang jauh dari hanya suatu ide Formalistis. Gereja berusaha untuk mewujudkan secara kongkrit keadilan dan cinta kasih dalam dunia ini. Makna dunia yang terdalam terletak dalam kenyataan bagaimana keadilan dan cinta kasih diwujudkan. Di sini Gereja terpanggil untuk berjalan menuju Kerajaan Allah yang belum penuh diwujudkan, dan menjanjikan kepada umat manusia bahwa Ia akan menepati janjiNya tentang keadilan dan cinta kasih.

Untuk mewujudkan janji ini, Gereja berperan sebagai nabi yang menjaga, agar umat manusia dalam guliran sejarah, tetap terbuka bagi pemenuhan janji ini. Jadi peran Gereja secara hakiki adalah menggembalakan situasi dan kondisi masyarakat dalam cahaya kerajaan Allah dan menuntut kebulatan tekad untuk menegakkan norma-norma hidup dalam masyarakat yang mengkonkritkan pandangan Gereja Katolik tentang hidup sosial.

Di sini, peran profetis tidak hanya harus dijalankan oleh orang perorangan, melainkan oleh Gereja atau umat secara keseluruhan sambil menyadari bahwa fungsi profetis memerlukan kemampuan untuk mengidentifikasikan matra-matra pengalaman yang menyangkut seluruh umat.

2.Umat Katolik adalah Warga Masyarakat Indonesia
Gereja Katolik menyadari bahwa ia ada dalam Negara Indonesia, bukan sebaliknya Negara Indonesia ada dalam Gereja Katolik. Kesadaran laten ini, mengandung suatu dorongan untuk bertanggungjawab bersama mewujudkan apa yang menjadi Program Nasional yang harus dijalankan setiap warga Negara.

Umat Katolik in se adalah warga negara Indonesia, bertanggung jawab untuk memenuhi apa yang diharapkan dari semua warga masyarakat menurut kemampuan, tidak dalam arti restriktif, melainkan positif maksimal. Sebagai warga masyarakat, umat Katolik ikut berbakti dan cinta kepada tanah air dengan jiwa patriotik dan kesatria.

Partisipasi umat Katolik tidak mengandung pretensi untuk mengklaim keahlian yang lebih besar, akan tetapi percaya bahwa pandangan-pandangan agama Kristen Katolik dapat menghasilkan daya pendorong yang konstruktif dan dapat menolong agar nilai-nilai dasar hidup manusia dilihat dengan lebih jelas.
Dengan kata lain, sumbangan khusus sebagai umat Katolik ialah: ikut berpartisipasi dalam pembangunan dengan perspektif iman, memandang diri dan sesame dalam rangka panggilan keselamatan, yakni persatuan dengan Allah. Kebahagiaan sempurna ini, harus dirintis dalam dunia berupa kesejahteraan manusiawi. Pandangan ini lalu menjadi landasan dialog antara Gereja Katolik dan masyarakat beriman yang umumnya sepakat bahwa segala sesuatu di dunia ini ditujukan kepada manusia sebagai mahkota ciptaan.

3.Panggilan Gereja mempunyai arti yang riil bagi masyarakat Indonesia
Gereja Katolik di Indonesia merefleksikan kehadirannya dengan pertanyaan: “Seberapa jauh Gereja Katolik mampu memberi pedoman, dalam soal kemasyarakatan?” Ini merupakan pertanyaan mendasar yang mesti dijawab sekaligus diwujudkan dalam realitas hidup bermasyarakat.

Tentang hal ini, Teologi Katolik Karl Rahner, SJ berpendapat: “Cinta akan sesama harus terungkap dalam tindakan praktis kongkrit. Ini menjadi kewajiban moril orang Katolik. Bentuk kongkrit itu tidak dan tak dapat terbawa kepada Pimpinan Gereja selaku lembaga dan tidak dapat merupakan karya langsung apalagi eksklusip dari Gereja sebagai Institusi. Gereja sadar bahwa, masyarakat dengan kemungkinan dan sasaran-sasarannya beserta pluralism dan lembaga-lembaganya tidak terbawa kepada pengawasan langsung gereja, melainkan bersifat otonom. Maka bukan wewenang Gereja untuk mengatur usaha pembangunan. Tetapi Gereja tetap berusaha meyakinkan masyarakat akan makna dunia yang terdalam dan akan tanggungjawab warga masyarakat atas Negara demi keselamatannya”.

Gereja sebagai lembaga dapat membantu lembaga-lembaga masyarakat sejauh sasaran kegiatannya menyangkut martabat manusia. Gereja dapat menyumbangkan jasanya yang khas membangun, berfungsi sebagai “Critical court of appeal”, berperan kritis terhadap apapun yang dalam masyarakat memerlukan perubahan.

Melalui peran kritisnya, Gereja mempertegas tugas profetisnya, terutama mengembangkan asas-asas dan menawarkan perspektif-perspektif Katolik untuk ikut membentuk keputusan-keputusan warga Negara dan Tokoh-Tokoh masyarakat dari hari ke hari.

Kehadiran Gereja Katolik dan Solidaritasnya dalam Pluralisme Agama di Indonesia

1.Gereja Katolik di Indonesia
Keberadaan Gereja Katolik di Indonesia hingga saat ini sudah berusia 461 tahun. Kehadirannya dalam gulir waktu empat setengah abad di Indonesia, tentu berawal dari satu titik historis-obyektif yakni, saat masuknya bangsa Portugis di Indonesia. Matra kesejarahan Gereja Katolik di Indonesia tentu dipahami tidak sebagai arloji yang sedang menghabiskan putaran fernya, akan tetapi sebagai kumpulan endapan dari berbagai keberhasilan dan kegagalan Gereja Katolik di masa lampau.

Ini berarti, Gereja Katolik menerima kehadirannya di Indonesia sebagai yang dibawa oleh kaum kolonial, suatu kepastian obyektif yang mesti diakui sebagai kebenaran. Tetapi dalam derap langkah sejarah selanjutnya Gereja Katolik dirasakan dan diterima sebagai milik segelintir warga Indonesia di seluruh Nusantara yang dengan rela hati menerima ajaran Kristus. Ajaran Kristus ini lalu membatin dalam hati umat Katolik dan dianggap penting untuk dihayati dan diamalkan dalam hidup sebagai warga Negara.

Iman Katolik tidak memisahkan umatnya dari kebersamaan hidup dalam masyarakat dengan warga Negara lain sebangsa dan setanah air, melainkan berperan serta sebagai bagian integral untuk memikirkan bagaimana menata wajah bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermoral Pancasila. Iman Katolik mewajibkan umatnya memberikan pelayanan cinta kasih persaudaraan kepada siapa saja, tanpa memandang golongan dan suku.

Peran serta umat Katolik dalam menata dan membangun bangsa dan Negara ini, selain ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan, juga dalam usaha mencerdaskan bangsa melalui lembaga-lembaga pendidikan mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi, melalui karya karitatif (kesehatan) dan melalui karya-karya sosial ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat terutama masyarakat pedesaan.

2.Gereja Katolik mendukung dan menerima Pancasila
Gereja Katolik telah menjelajahi sejarah sejak keberadaannya. Gereja Katolik tidak mengidentifikasikan diri dengan salah satu ideologi atau pola pemerintahan tertentu, melainkan berusaha untuk mewujudkan ajaran Kristus dalam dunia berdasarkan Cinta Kasih dan Cinta Perdamaian.

Dalam arti ini, umat Katolik di Indonesia, sangat bersyukur bahwa para fundator negara telah memilih Pancasila sebagai Falsafah dan Dasar Negara. Di dalam Pancasila terkandung nilai-nilai luhur yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama Katolik, sehingga secara moril nilai-nilai itu perlu diwujudkan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Karena itu, umat Katolik dengan senang hati menerima dan mendukung Pancasila dan berdoa agar pengamalan Pancasila semakin hari semakin murni dan taat pada nilai-nilai Pancasila tanpa manipulasi. Sebab Pancasila bukanlah tongkat ajaib yang bisa menjawab segala-galanya dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa. Ini sangat tergantung kepada kita yang mengartikan dan menerapkannya. Ada tiga alasan fundamental yang membuat umat Katolik menerima Pancasila yakni :

a. Demi Bhineka Tunggal Ika.
Suatu kenyataan obyektif yang tak terpungkir dalam Negara Indonesia adalah masyarakat Indonesia bersatu dalam kemajemukan. Realitas majemuk itu Nampak dalam suku, bahasa, budaya dan kepercayaan. Oleh sebab itu, para Fundator Negara sepakat untuk: “membentuk satu Negara kesatuan yang melindungi dan meliputi segenap bangsa, yang mengatasi segala paham golongan dan perorangan”. (penjelasan UUD’45).
Negara yang meliputi segenap bangsa didasarkan atas satu filsafat yang secara consensus disepakati bersama yaitu Pancasila, yang mengandung nilai-nilai manusiawi yang terungkap dalam realitas hidup dan sejarah bangsa dan dapat diterima serta didukung semua golongan dan semua pihak masyarakat kita yang majemuk ini.
Gereja yakin dan percaya bahwa Pancasila yang telah teruji dan terbukti keampuhannya dalam sejarah bangsa Indonesia, merupakan Forma kesatuan dan persatuan nasional, asal tidak digunakan sebagai topeng untuk melindungi kepentingan individu (oknum), kelompok atau golongan tertentu.

b. Demi Nilai-nilai Dasar Kehidupan
Gereja Katolik menerima dan mendukung Pancasila bukan hanya sebagai Forma dan sarana pemersatu, melainkan juga sebagai ungkapan nilai-nilai dasar hidup bernegara yang sejati dari budaya otentik dan sejarah suku-suku bangsa kita. Pancasila baik secara integral maupun ditinjau sila demi sila, mengandung nilai-nilai dasar manusiawi yang sejajar dan sejalan dengan nilai-nilai yang dikemukakan oleh ajaran dan pandangan Gereja Katolik.

c. Demi Ketuhanan Yang Maha Esa
Keterbukaan menerima sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengungkapkan suatu keinsafan iman (sensus religious) yakni negara Indonesia terbentuk berdasarkan kesadaran kodrati bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan. Konsekuensi logisnya, sebagai orang beriman setiap warga Negara wajib menciptakan dan membangun hidup kenegaraan yang berkenan kepada Tuhan dan sesuai dengan kehendakNya.
Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita lakukan di bidang apapun dan dengan cara apapun harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

3.Gereja Katolik menghargai kebebasan beragama
Gereja Katolik, sebelum konsili vatikan II, menganut faham teologi yang cenderung mengingkari adanya wahyu keselamatan pada golongan lain. Dengan adagium Extra Ecclesiam Nulla Salus-nya, Gereja justru terperangkap dalam suatu mekanisme fanatis yang kaku. Kenyataan semacam ini lalu direfleksikan kembali berdasarkan pluralism agama dan kepercayaan lain yang juga merupakan para musafir yang sedang mengembara dan mencari Realitas Asali. Jalan mereka sungguh benar dan suci, karena pasti dan terarah kepada Allah, Sang Penyebab yang tidak disebabkan (Causa Prima).

Refleksi ini akhirnya bermuara dalam Konsisli Vatikan II. Dan tentang penganut agama dan kepercayaan lain, Konsili Vatikan II dalam Deklarasi Nostra Aetate (sikap Gereja terhadap agama-agama lain) menandaskan, Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci dalam agama-agama dan kepercayaan lain. Gereja memandang dengan penghargaan yang jujur, cara tindak dan cara hidup, peraturan dan ajarannya yang kendati dalam banyak hal berbeda dengan apa yang dipahami dan dianjurkannya, toh tidak jarang memantulkan cahaya Kebenaran, yang menerangi semua manusia.

Namun tak henti-hentinya Gereja mewartakan dan harus mewartakan Kristus, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan (Yoh 14:6), dalam Siapa manusia mendapat kepenuhan hidup keagamaan dan dalam Siapa Allah mendamaikan semua dengan DiriNya. Oleh karena itu Gereja mengajak Putera-puterinya, agar dengan bijaksana dan cinta kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan penganut agama dan kepercayaan lain, memberikan kesaksian iman dan kehidupan Kristen, lalu mengakui dan mengabdi dan memajukan hal-hal baik dibidang  rohani dan moral demikian pula nilai-nilai sosio-kultural yang terdapat pada mereka”.
Berdasarkan Ensiklik Nostra Aetate, Gereja Katolik menyadari bahwa setiap orang beriman yang mengakui Sang Pencipta, justru terangkum dalam rencana keselamatan Ilahi. Maka agama yang mereka anut dapat membawa mereka kepada kebahagiaan dalam Tuhan, sebab Tuhan menuntun dan menerangi semua umatNya, supaya kelak mencapai kebahagiaan dalam hidup abadi bersamaNya.

Perkembangan berbagai agama lalu dilihat gereja sebagai suatu kewajaran dan bersifat Ilahi. Kenyataan ini tidak perlu menjadi sebab  yang merisaukan. Karena realitas perkembangan keberagaman agama bukanlah problem yang tergantung pada kemauan dan rencana manusia, melainkan itu adalah bidang kekuasaan Sang Pencipta yang terberi dalam jiwa tiap orang beriman. Semua agama punya andil yang berharga dan luhur bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, karena agama-agama menanamkan kebajikan-kebajikan sosial, rasa menghargai dan rasa protektif terhadap segala ciptaan, serta rasa tanggungjawab untuk ikut meningkatkan hidup sesams manusia supaya semakin sesuai dengan kemanusiaan yang beradab.

4.Makna Solidaritas Beragama
Solidaritas beragama pertama-tama berarti menerima isi mengenai keterarahan agama-agama kepada Sang Pencipta, juga menerima visi yang benar dan sejati dalam tanggungjawab bersama terhadap gerakan-gerakan dinamis yang menuntun perjuangan hidup antar umat beragama dalam mengejar kebahagiaan hidup dengan pandai memanfaatkan peluang-peluang yang memungkinkan setiap umat beragama mengalami kebebasan sejati.

Solidaritas beragama juga berarti bertanggungjawab bersama dengan umat beragama lain yang mendukung dengan kritis pandangan mengenai sejarah jaman sekarang, sambil berusaha mengatasi berbagai masalah yang mengancam kehancuran citra dan martabat manusia. Dipihak lain, solidaritas juga berarti bersama-sama memperlihatkan keprihatinan praktis terhadap realitas social yang terpampang dalam pemandangan penderitaan. Ini merupakan terjemahan kongkrit dari Injil yakni “Membalut luka” sesam manusia, tanpa memandang golongan yang terlunta dalam penderitaan.

Dalam konteks Negara Pancasila, solidaritas beragama pertama-tama berarti, mengakui keragaman beragama yang de facto ada di Indonesia, sambil bersama-sama mencari titik temu kebenaran Ilahi yang diyakini oleh setiap agama dan segera usaha itu dibawa keluar sebagai perilaku public dan merupakan ungkapan bersama dengan pemeluk agama lain, wujudnya sejauh mengungkapkan sikap ber-Ketuhanan dan bukan dengan cara-cara khas keagamaan.

Syukurlah bahwa yang menjadi pemersatu kokoh bagi bangsa kita yang berciri multi religious dan mengakui pluralism agama adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”, bukannya agama-agama yang ada. Bila ada orang yang ingin mengisi Ketuhanan Yang Maha Esa dengan salah satu faham agama, maka pemeluk agama dan kepercayaan lainnya kehilangan tempat berpijak bersama lagi.

Solidaritas beragama juga berarti upaya antara umat beragama untuk mengisi kemerdekaan. Kehadiran agama-agama di Indonesia memiliki potensi besar untuk tampil sebagai kekuatan pembangunan masyarakat. Ada banyak kesempatan dalam pembangunan masyrakat yang terbuka bagi keikutsertaan agama-agama. Yang dilakukan di Indonesia adalah membangun bangsa demi agama dan membangun agama demi bangsa. Perlu disadari bahwa tidak mungkin melakukan pembangunan yang berarti tanpa keikutsertaan agama, begitu pula sebaliknya tidak mungkin melakukan pembangunan agama tanpa tujuan membangun bangsa. Ini berarti agama perlu menyuarakan komitmennya yang jernih dan ikhlas untuk memperjuangkan terpenuhinya hak dan kewajiban manusia sebagaimana mestinya.

5.Solidaritas Gereja Katolik
Bekerja dengan semangat seorang hamba dalam solidaritas manusiawi
Sumber inspirasi bagi solidaritas Gereja Katolik adalah Yesus Kristus. Ia datang ke dunia untuk hidup dan mengalami kesejahteraan umat manusia. Prinsip,  Mesereor Super Turbam (Hatiku tergerak oleh belas kasihan terhadap orang banyak) adalah meterai pelayanan Yesus bagi umat manusia. KehadiranNya untuk melayani dan menyelamatkan manusia tanpa memandang batas demarkasi yang memilah umat manusia dalam sekat suku atau golongan. Oleh karena itu, spiritrualitas pelayanan Yesus bercorak pelayanan seorang hamba. Ia membuktikan ini dengan peristiwa mencuci kaki para muridnya yang sekaligus ditetapkan sebagai Dasar Pelayanan Gereja sepanjang masa dalam segala segi kehidupan manusia.

Format kenegaraanpun menjadi kepedulian Yesus dalam pelayananNya. Kepada orang Farisi dan murid-muridNya ia mengatakan, “Berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah dan kepada kaisar apa yang menjadi hak kaisar”. Amanat ini, mengisyaratkan bahwa Gereja dalam pelayanannya mesti memperhatikan Matra kemanusiaan secara integral. Sebab manusia baru dikatakan manusiawi apabila bidang-bidang pendukung proses kemanusiaannya sungguh-sungguh mendapat kepedulian ekstra atas dasar cinta kasih dan pengorbanan.

Dengan demikian, pelayanan Gereja Katolik sesungguhnya berangkat dari keiklasan karitatif yang dapat menjangkau setiap orang, tanpa harus berpegang pada hukum “Do ut des” (saya memberi supaya engkau memberi kepada saya). Atau dengan kata lain, tanpa harus memberi dengan tangan kanan sementara itu dengan tangan kiri menarik orang kepada Gereja Katolik.

6. Solidaritas Gereja Katolik Indonesia dengan Agama lain
Bagaimana wajah dan bentuknya Gereja Katolik yang hadir diantara agama-agama lain di Indonesia mempunyai persepsi bahwa disamping agama-agama lain, Gereja Katolik Indonesia pun mempunyai kekuatan transformatif. Pendukung kekuatan transformatif adalah solidaritas yang tulus dengan agama lain, sehingga sebagai kekuatan yang transformatif agama Katolik dan agama-agama lain tidak bisa mengucilkan dirinya terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Sebaliknya, sebagai kekuatan transformatif, agama-agama yang ada harus mampu menjadi pengikat solidaritas dan penumbuh kesadaran tentang kesamaan dan kemitraan yang mempersatukan segenap warga masyarakat untuk membangun dirinya. Sebagai kekuatan transformatif, kepekaan dan keprihatinan agama-agama terhadap penderitaan manusia merupakan sebuah prasyarat. Keprihatinan religious semacam ini merupakan akar bagi kekuatan agama sebagi agen perubahan.

Sebagai kekuatan transformatif, agama-agama yang harus selalu tampil sebagai isyarat yang kuat di masyarakat bahwa upaya pembangunan bangsa harus selalu didukung sekaligus diawasi. Secara langsung atau tidak langsung, setiap agama mesti solider dan terlibat dalam penataan yang dapat dipertanggungjawabkan secara moril, demi menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.
Perlu disadari bahwa, setiap keputusan dalam pembangunan selalu melahirkan dilemma etis. Kesadaran akan dilemma etis ini, menolong untuk menentukan corak keterlibatan agama dalam pembangunan. Kesamaan dalam menanggung beban pembangunan akan merupakan prasyarat bagi fungsi transformatif agama dan sekaligus untuk menjaga kelangsungan upaya pembangunan itu sendiri.

A. Solidaritas mulai dari mana?

Solidaritas dalam arti tertentu merupakan suatu lahan utopia yang mesti diperjuangkan untuk digapai. Ia menjadi ideal karena untuk menggapainya membutuhkan korban dan perjuangan terus menerus, serta membutuhkan kejernihan hati untuk mempertahankannya setelah berhasil digapai.
Agama-agama di Indonesia yang secara fundamental memiliki konsep teologis dan dogma yang berbeda, sadar bahwa tanpa solidaritas dalam perbedaan seperti ini, jelas akan berakibat masing-masing mencari arah jalan sendiri. Sindrom perpecahan justru terletak pada kondisi separatis seperti ini. Dalam hal ini, Pancasila merupakan “Naungan Sakti” yang mempersatukan kita. Berdasarkan Pancasila, umat beragama lalu mempunyai kesadaran untuk bersama menegakkan solidaritas demi mencapai tujuan yang diidamkan oleh setiap warga Negara yaitu Adil dan Makmur. Untuk dapat menciptakan solidaritas sejati, therapy yang dibutuhkan adalah :


  1. Dialog dalam konsep pluralism agama berarti, hubungan antar agama yang positif dan konstruktif dengan pribadi-pribadi dan umat dari agama lain yang diarahkan untuk saling memahami dan saling memperkaya ketaatan kepada kebenaran dan hormat terhadap kebebasan. Jadi, dialog dalam arti ini bukan dialog taktis-strategis yang manipulative, melainkan dialog yang penuh rasa cinta dan ketulusan terhadap umat beragama lain.
  2. Membangun persaudaraan dan persatuan. Kesadaran akan upaya membangun persaudaraan dan persatuan mesti berangkat dari keinsafan iman (sensus religiosus) bahwa setiap orang diberi tempat pada asal muasalnya yang paling dasar dan paling tinggi. Bukan pasa asal tanah kelahiran, suku atau bangsa, melainkan asal-usul dasariah. Bahwa manusia diciptakan oleh Allah sendiri dan tujuan akhir hidupnya menuju Allah dalam kemuliaanNya. Meskipun berbeda suku, bahasa, kebudayaan serta agamanya, semua sama-sama makluk ciptaan Tuhan kita semua menjadi satu saudara.
  3. Sependeritaan - sepenanggungan, Kasih persaudaraan yang dibangun di antara sesame manusia mencakup keprihatinan kolektif dalam mengusahakan kesejahteraan hidup di dunia ini. Masalah keprihatinan kepada penderitaan sesame harus mengatasi perbedaan suku dan agama.
  4. Saling menghargai dan menghormati, Penghargaan disini mencakup hati nurani dan keyakinan imannya. Bagi Gereja Katolik Konsili Vatikan II menyerukan agar “menjunjung tinggi kebebasan beragama”, dengan dasarnya adalah martabat manusia yang tinggi sebagai ciptaan Allah. Iman mengandaikan suatu kebebasan. Tanpa kebebasan bersikap menurut suara hatinya, tidak ada iman itu sendiri. Ini pembatasan sekaligus sopan santun bagi penyiaran agama Katolik.
  5. Saling mengakui ada pancaran kebenaran, kebaikan pada agama lain. Ini berarti setiap umat beragama perlu belajar dari kebaikan agama lain. Tak perlu ekstrim dan menolak apapun yang dalam agama-agama itu benar dan suci. 
Semua therapy ini merupakan tawaran iklas yang membantu kita menggalang solidaritas sejatu dalam tanggung jawab bersama membangun Negara kita yang tercinta ini.

B. Solidaritas umat beragama antara harapan dan kenyataan

Kenyataan yang tak dapat dipungkiri adalah bahwa setiap orang mengakui adanya Allah. Pengakuan ini secara tidak langsung menunjukkan kerinduan setiap orang untuk memiliki rasa damai dan rasa cinta dalam hatinya. Ini merupakan Aksioma Teologis yang tercakup dalam agama-agama atau aliran apapun. Karena itu, logika keyakinan seperti ini seharusnya ditampakkan dalam kesaksian hidup dengan sungguh-sungguh menunjukkan bahwa orang tersebut yang terbingkai dalam agama manapun, memiliki kerinduan (apetitus) untuk menciptakan rasa damai dan rasa cinta dalam hatinya. Ini berarti orang tersebut memiliki tanggung jawab iman yang memang bercorak Ilahi. Kenyataan seperti ini merupakan “harapan dan kerinduan” setiap umat beriman.

Tetapi tak dapat disangkal pula, bahwa realita penghayatan terhadap iman baik secara individu maupun secara kolektif, sering menampilkan wajah-wajah borok yang dapat meresahkan umat beriman yang lain. Lalu apakah ini boleh dikatakan sebagai kegagalan penghayatan atas iman yang dikaruniakan oleh Allah, ataukah dilihat sebagai kebajikan yang mesti dibanggakan karena berhasil meresahkan umat yang lain? Saya kira Allah sungguh tidak pernah mengehndaki agara umatNya saling menghunus pedang besi dan pedang kata untuk saling mengadu kekuatan. Dalam konteks ini, perlu dipahami bahwa,  Allah tidak membutuhkan pembelaan manusia atas diriNya, tetapi justru manusia yang harus memohon pembelaan dari Allah atas dirinya yang lemah.

C. Solidaritas beragama di Indonesia membutuhkan plester karena luka (?)

Secara historis solidaritas antar umat beragama di Indonesia, sejak jaman penjajahan hingga saat ini, relatif terjaga baik. Kenyataan kemerdekaan kita sebetulnya sudah merupakan suatu kesimpulan logis, bahwa ini berkat buah solidaritas antar suku, golongan dan antar umat beragama yang sehati dan setekad memperjuangkan kemerdekaannya.

Fakta historis ini perlu dijadikan modal bagi kita untuk merefleksikan keutuhan solidaritas yang terbina dengan baik sejak dulu, sambil bertanya diri: apakah solidaritas kita masih utuh dan terjalin baik tanpa syakwasangka, curiga dan dendam, ataukah solidaritas kita telah “luka” karena pedang fanatisme sempit, karena menyalahi etika penyiaran agama, atau karena aksi-aksi keagamaan yang cenderung infasif dan frontal dengan sengaja memojokkan umat beragama lain.
Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini, sering kita dengar adanya banyak kasus yang membuat solidaritas antara umat beragama menjadi luka. Akhirnya umat beragama lain yang diperlakukan sebagai subyek penderita mengalami rasa sakit. Justru sikap ini memperlemah kemauan baik untuk bias menegakkan kembali rasa solidaritas yang sejati.

De facto, solidaritas beragama di Indonesia sering luka oleh kasus-kasus yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara moral. Ini tentu membutuhkan plester untuk disembuhkan. Plester kita tidak lain adalah perlunya kesadaran untuk melihat kembali Pancasila sebagai Naungan Teduh yang dibawahnya kita semua berlindung sambil berangkul sebagai satu saudara, yang berasal dari kemah yang sama yaitu kemah Allah. Selanjutnya menciptakan iklim dialog yang lebih diwarnai kasih persaudaraan sejati diantara kita. Dengan kesadaran seperti ini, tidak mustahil solidaritas kita akan tetap sejati kendatipun tercipta diatas ragam agama, budaya dan suku. **P. Fritz Meko, SVD

P. Frieds Meko, SVD
Saat ini kita terlilit erat oleh kesulitan dan krisis yang hampir merampas segala harapan yang kita miliki. Optimisme kita menjadi samar-samar. Soalnya kita sudah merasa lelah menjangkau harga pasar yang sudah menjulang, terutama rakyat jelata yang setiap hari bekerja sebagai tukang sapu, penarik becak, buruh dan sebagainya. Dan saya kira orang-orang pintar pun sudah terlalu muak dengan berbagai retorika yang tidak selaras dengan kenyataannya.

Di mana-mana orang yang pandai, baik dalam bidang politik maupun ekonomi, ramai-ramai membuka forum diskusi dari kelas teri hingga kelas elite dengan tema-tema hebat seputar politik dan lapar. Lucunya diskusi itu lebih banyak berakhir dengan hasil yang membingungkan. Bahkan pertentangan, bukan hanya untuk orang kecil tetapi termasuk juga mereka yang merancang diskusi itu sendiri.

Sementara kita masih bingung tak keruan, ramai-ramai lagi orang mendirikan partai. Mereka melihat partai sebagai terapi ampuh untuk menyelamatkan diri dari krisis yang dahsyat ini. Semua perlombaan dan keramaian itu hanya membuat pemandangan kita menjadi rabun dan samar-samar untuk melihat secara jelas jalan keluar mana yang paling baik kita tempuh, menuju stabilitas hidup yang aman dan sejahtera.

Cukup pasti bahwa kita tidak mungkin terus mempertaruhkan terapi mendirikan posko-posko untuk membantu mereka yang lapar. Juga kita tidak mungkin puas dan merasa enak kalau tiap hari keluar-masuk gedung LBH untuk mengadukan segala perkara ketidakadilan.

Di samping itu pula, kita tidak mungkin mempertahankan kondisi saling tuding- menuding, menyangkut Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN) yang selalu menjadi topik hangat dalam media-cetak maupun elektronik. Kita pun tidak harus puas dengan cepat memaafkan diri dan begitu mudah mengkambinghitamkan orang lain. Lagi pula kita tidak mungkin mencari keselamatan yang nyaman dalam partai politik yang arahnya tidak jelas, hanya bersifat asal tampil untuk membuat sensasi tanpa isi.

Hidup dalam pertentangan seperti ini, tanpa berupaya mencari jalan keluar yang dilandasi sikap moderasi, hanya akan menciptakan Etika Rimba. Lalu kita lupa bahwa kita adalah manusia yang mempunyai pikiran dan hati. Kita seolah merampas dengan keji hak asasi para penghuni rimba dan dengan bangga menganggapnya sebagai penemuan etika baru. Ironisnya, justru ditemukan oleh orang-orang bijak-cendekia yang pernah bertahun-tahun menjadi penghuni civitas academica.

Pada batas ini, mungkin kita perlu tunduk dan sesal dalam-dalam sambil bertanya mengapa semua ini terjadi di saat hidup kita diliputi panorama modernitas dengan revolusi ilmu pengetahuan yang hampir membawa manusia memasuki bidang kekuasaan Allah. Mengapa kita yang begitu sarat dengan berbagai pengetahuan, menjadi rapuh dan takluk tak berdaya di hadapan sebuah persoalan yang muncul hanya dari satu sisi yaitu politik?

Sungguh pasti bahwa Allah  tidak melarang kita manusia menggunakan otak untuk mendiskusikan hidup kita bahkan mendiskusikan keberadaan-Nya. Tetapi ketika manusia berani mencoba untuk menggantikan posisi Allah dengan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai juru selamat sejati dalam menyelesaikan segala macam masalah hidupnya, maka persis di situlah letak kejatuhan manusia moderen. Ilmu pengetahuan yang ia miliki mengalami kepasrahan.

Lantas kalau begitu, kita harus berpaling kepada siapa, dan dari mana kita harus mulai? Kita tidak mungkin mulai dari hal-hal yang tahyul dengan mencari dukun kelas kakap, tetapi dengan rendah hati membungkukkan diri merenungkan kebenaran ajaran ini,  bahwa Allah pada dasarnya memihak kepada semua orang, baik yang pintar maupun yang bodoh.

Tetapi ketika si pintar menggunakan kepintarannya untuk merancang dan menyulap kebenaran menjadi kepalsuan, kebaikan menjadi kefasikan, keadilan menjadi penindasan, kedamaian menjadi kekacauan, maka pada batas itulah Allah akan menarik kembali potensi kepandaian yang diberikan padanya. Penarikan itu nampak dalam bentuk sikap bingung, kelabakan, bodoh dan terkesan seperti orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan.

Para pemimpin dan orang-orang bijak-cendekia yang kita harapkan menjadi penyelamat dalam situasi krisis ini, justru kelihatan bingung dan tak berdaya. Dalam kebingungan, mereka memilih membuat spekulasi penawaran ide-ide gemilang tetapi justru semakin kompleks dan problematik. Mereka lupa untuk melihat pokok permasalahannya yang sebenarnya. Mereka terus mencoba mencari solusi dalam kebisingan dan hingar-bingar pertentangan konsep. Mereka mencari solusi di atas kebisingan yang memekikan telinga dan menggelisahkan hati.

Maka tepatlah apa yang dikatakan filsuf Bertrand Russell, bahwa segala macam persoalan dan kasus yang begitu hebat melanda dunia modern, disebabkan bukan karena orang tidak lagi mengunjungi tempat-tempat ibadah dan bukan karena orang tidak percaya lagi kepada dalil-dalil teologi, tetapi karena orang telah kehilangan suasana hening dalam hidupnya. **Rm. Frieds Meko, SVD

Suatu hari dalam perjalanan ke kota Malang, di salah satu lampu merah seorang anak cewek berusia kira-kira 8 tahun mendekat ke mobil kami, sambil menyodorkan kaleng memohon sepeser uang. Karena sayalah yang menyetir, maka spontan saya menurunkan kaca mobil dan memberi Rp. 4.000. Setelah saya kembali menaikan kaca, salah seorang teman yang persis duduk di belakang saya mengatakan, "Fritz... lain kali jangan mengulangi cara itu lagi, karena dengan itu engkau ikut mendukung orang menjadi malas dan tidak berjuang untuk hidupnya".

Mendengar protes temanku, saya merasa sedih karena berbuat baik koq diprotes. Saya membayangkan kalau saya menolak untuk berbuat baik, apakah ia juga akan protes? Kalau ia juga protes atas sikapku untuk menolak berbuat baik, maka itu berarti saya terperangkap dalam situasi "maju kena, mundur kena". Saya berada dalam persimpangan kebimbangan untuk menyatakan dorongan hati supaya berbuat baik atau menolak untuk berbuat baik.

Saya selalu berpikir apakah berbuat baik itu mempunyai daya desktruktif (merusakkan) orang yang menerima kebaikan kita? Maka, model kebaikan seperti apakah yang membuat orang menjadi rusak saat menerima kebaikan itu? Apakah model kebaikan seperti yang saya lakukan terhadap anak perempuan di lampu merah tadi dikategorikan dalam kebaikan desktruktif?

Kalau memang kebaikan itu mempunyai daya desktruktif, maka saya memang berdosa berat. Saya bisa dicap penjahat "berhati rembulan". Berbuat baik seperti pancaran sinar bulan purnama yang memberi cahaya bagi orang yang berjalan di dalam kegelapan, tetapi oleh orang lain sinar itu dinilai mengandung daya laser yang mematikan. Apa memang demikian?

Kalau direfleksikan lebih dalam, semua bentuk perbuatan baik mempunyai daya konstruktif (membangun), membuat orang yang menerima kebaikan itu mengalami suatu bentuk "hidup baru". Sebab orang yang sedang malang hidupnya dan mengharapkan bantuan kita, ibarat orang yang sedang dalam keadaan "mati suri". Dalam keadaan mati suri, ia mengalami hidupnya bagaikan tirai gelap yang membentang dan menghadang langkahnya, untuk berjuang normal seperti orang lain lakukan dalam hidupnya.

Ketika orang dalam keadaan malang seperti ini, lalu kita membiarkan hati menjadi beku dan tidak tergerak oleh belaskasihan, maka jelas tangan tidak akan terulur bagi dia yang barangkali sedang menatap kita dengan penuh harapan, sambil meneteskan airmata deritanya. Apakah kita tega menyaksikan pemandangan kemanusiaan yang buram seperti ini? Kalau kita tega, orang lain mungkin akan bertanya, mutu hati seperti apakah yang dimiliki oleh orang itu? Sejauh mana nilai iman tentang "kasih" yang telah mengalir dalam sekujur tubuhnya menggugah hatinya?

Konon, Muder Teresa Calcuta dicelah oleh seorang wartawan dengan mengatakan "Ibu Teresa adalah malaikat suci yang ke luar dari neraka". Beberapa tahun kemudian si wartawan itu berkunjung ke Calcuta dan bertemu secara pribadi dengna Ibu Teresa. Dalam pertemuan itu, ia bertanya kepada Ibu Teresa, "Mengapa Ibu tidak memberikan kail kepada orang miskin, tetapi justru memilih memberikan ikan asin? Apakah itu tidak membuat mereka semakin malas dan tidak kreatif untuk berjuang sendiri?" Mendengar pertanyaan yang jujur dan polos dari sang wartawan itu, Ibu Teresa hanya menjawab singkat "Kewajiban saya adalah memberikan roti kepada mereka yang hampir mati di depan saya. Setelah mereka kenyang, silahkan anda atau pemerintah boleh memberikan pacul bagi mereka untuk bisa bekerja seperti yang anda harapkan".

Ibu Teresa selalu berpegang teguh pada prinsip "Bis dat qui cito dat" (orang yang memberi dengan cepat memberi dua kali). Prinsip ini mengandung makna spiritual yang dalam. Ketika kita tidak merasa berat (enggan) dan cepat bertindak memberi bantuan kepada sesama, sebetulnya nilai perbuatan baik kita bersifa ganda. Dengan tulus memberi bantuan, kita sudah bertindak dua kali. Pertama, kita menyelamatkan orang yang menerima bantuan kita dengan ancaman "kematian" karena tindihan kesulitan dan penderitaannya. Kedua, kita memberi makna kepada kehadiran kita sebagai hadiah bagi sesama. Jadi, sekali memberi selalu membawa efek timbal-balik. Baik yang menerima bantua, maupun yang memberi, sama-sama mengalami kepuasan dan rasa bahagia.

Saat ini kita hidup dalam suatu dunia yang sangat menjunjung tinggi individualisme. Ketika orang menjadi individualis, muncul sikap ekstrim yakni egois, sehingga kadar kepedulian terhadap sesama pun akan rendah bahkan tidak ada sama sekali. Orang egois akan membangun rasionalisasi sebelum memberikan bantuan.

Seorang yang memprotes bantuan adalah contoh paling nyata dari pribadi egois yang membangun rasionalisasi, yang tampak masuk akal tetapi justru itu sama dengan membiarkan orang "mati" dengan tahu dan mau. Kita tentu bukanlah pribadi yang merasa nikmat menyaksikan orang lain menderita tanpa mengulurkan tangan kasih bagi mereka bukan?"**Rm. Fritz Meko, SVD

Suasana kemodernan  saat ini sungguh luar biasa. Siapapun, pasti berdecak kagum dan mengakui bahwa kemodernan yang  tengah    berkembang   disebabkan oleh  keberhasilan  teknologi sebagai  buah sejati ilmu pengetahuan. Teknologi yang  meletakan dasar modernitas mempunyai hubungan dengan asal dan perkembangannya di dunia barat. Dan bagaimana  bangsa Indonesia tersinggung kemodernan, tentu tidak lain melalui ilmu pengetahuan dan  relasi dengan bangsa-bangsa lain, terutama dengan bangsa-bangsa barat.

Pengaruh yang  kuat ini,  membawa kesadaran   bahwa  de facto  bangsa kita tidak akan pernah berdiri sendiri. Urgensi kebutuhan  menuntut kita  untuk  tetap memerlukan  bangsa yang lain. Kontak dengan bangsa lain menjadi tuntutan  yang tidak mungkin dihindari. Melalui kontak itu, terciptalah peluang untuk menerima pengaruh-pengaruh  dari pengetahuan-pengetahuan baru yang berguna  untuk mengubah kondisi hidup sosial kita. Penerimaan pengetahuan - pengetahuan  yang baru, jelas membawa kemungkinan  bagi perkembangan bangsa dalam berbagai bidang kehidupan.

Dalam rangka perubahan sosial yang merupakan akibat logis dari kontak dengan   bangsa lain,  perlu diperhatikan dua akibat penting yang dikenal sebagai difusi dan  akulturasi. Suatu akibat dengan bentuk difusi terjadi apabila kontak dengan bangsa lain mengakibatkan salah satu sektor dalam kehidupan sosial  yang berubah  dan berkembang, mengikuti model yang dimasukan dari bangsa lain. Sebagai  misal, bila kita mengambil alih sistem pertanian dengan penggunaan teknologi seperti  traktor, bolduser, eskafator, maka ini kita kwalifikasikan sebagai difusi dari unsur kebudayaan lain yang kita terima dalam kehidupan sosial kita.

Sedangkan apabila kontak dengan bangsa lain, mengakibatkan pengambilalihan model budaya kita hampir dalam semua bidang, maka ini disebut akulturasi. Seperti hubungan dengan dunia barat yang melahirkan teknologi dengan segala sistem dan corak bangsa yang dibawa sebagai akibat teknologi itu.

Teknologi yang diterima memang  berguna untuk meningkatkan taraf hidup  bangsa kita.  Tetapi tidak semua proses penerimaan itu mendatangkan akibat positif. Di pihak lain melalui penerimaan itu, ada pula akibat negatif yang dapat mencemari dan merugikan budaya bangsa. Sebab transformasi budaya yang disebabkan oleh teknologi maju  justeru akan menimbulkan semakin karibnya hubungan kita dengan teknologi. Dan apabila hubungan itu berakibat kita  dikendalikan oleh teknologi maka nilai-nilai dasar budaya yang ada akan mengalami erosi. Akhirnya dengan mudah kita dikuasai oleh teknologi dan bukan sebaliknya.

Kita lalu tenggelam dalam ciptaan sendiri dan menggantungkan nasib keberuntungan pada kondisi yang  kita bentuk sendiri. Keadaan seperti ini dapat menimbulkan suasana confuse yang  menurut  Frank Lloyd,  akan membuat kita seperti “ternak goblok” atau kawanan semut yang berputar-putar bingung mencari lubangnya. Kita bingung karena kehilangan pegangan. Kita terperosok di antara  simpang nilai-nilai lama dan nila-nilai baru yang kita terima, sementara itu laju dan kepesatan teknologi semakin menggulir  dalam arus  waktu yang terus mengalir.

Mempertimbangkan kemungkinan  ini,  maka sikap selektif terhadap teknologi yang  kita terima perlu dipertajam dengan tetap bertumpu pada perspektif nilai budaya yang kita sandang.  Kita  tetap perlu mencermati   dampak teknologi yang memang sulit  dielaki. Kecermatan dapat membantu kita untuk tidak gegabah  mengambil teknologi yang dapat mencemarkan citra budaya bangsa sendiri.

Sikap kritis dalam menerima teknologi, menurut J. Sudarminta,  sungguh sangat dibutuhkan, karena teknologi dapat membawa dampak negatif. Di satu pihak kemajuan teknologi dapat membebaskan kita dari kungkungan determinasi alam lingkungan dan susah payah kerja fisik, sehingga martabat kita dapat diangkat. Di lain pihak, potensi dan ketidak seimbangan alam lingkungan menimbulkan masalah-masalah yang sulit dipecahkan.

Fisika dan teknologi nuklir di satu pihak telah memberi tenaga listrik yang relatif murah, tetapi di lain pihak menciptakan tenaga nuklir yang mengancam keberadaan kita sendiri. Rekayasa genetika membantu meyejahterakan hidup kita  melalui bidang pertanian, peternakan dan pengobatan, dilain pihak memungkinkan kita untuk memanipulasi hidup sesama. Jadi dengan teknologi kita  bisa menolong diri, tetapi sekaligus bisa menghancurkan diri sendiri.
           
Terhadap dampak teknologi yang dapat menimbulkan problem majemuk, Budi Hardiman lebih jauh  melihat bahwa teknologi  adalah produk rasionalisasi sistem yang merupakan hasil persetujuan dengan dunia kehidupan (Lebenswelt). Ia mencakup sistem kerja, sistem informasi dan iklim tehnis yang terangkum dalam rasionalitas instrumental dan sistem-sistem administratif. Ia tidak berjalan sendirian.  Ia muncul karena ada persetujuan dari dunia sekitar dan karena adanya apresiasi masyarakat sehari-hari yang menyetujuinya.

Karena itu apabila teknologi yang in se  produk dunia barat, begitu saja diterima tanpa menyadari kharakteristiknya yang memuat imperatif-imperatif obyektif dan tanpa memperthitungkan kondisi bangsa kita, maka akan muncul patologi-patologi sosial. Sebagai contoh, teknologi yang berkembang saat ini, mulai mendikte moral kehidupan masyarakat. Teknologi yang berlogikakan “kalau mungkin…berarti bisa” akhirnya menerjang dunia moral dengan logika lebih lanjut “ kalau bisa….berarti boleh”.     Dengan demikian bidang kehidupan dan bidang moralita masyarakat  seolah hanya mengadaptasi terhadap  perkembangan teknologi yang demikian pesat.

Akibat yang muncul  Pertama,  krisis seperti : krisis moralitas, krisis makna, krisis kebudayaan, desintegrasi sosial, muncul utilitarianisme, individulisme, hedonisme dan eksploitasi berlebihan yang membawa keterasingan pada bangsa kita serta penghancuran  lingkungan atau sumber alam ( natural resources).

Kedua, kalau pada masyarakat muncul dan mengakar  apa yang disebut “Mentalitas Teknologi” yaitu sikap percaya yang berlebihan pada teknologi, seolah-olah  segala sesuatu bisa dipecahkan olehnya dan sesuatu akan lebih meyakinkan kalau dilakukan dengan peralatan yang canggih  dan perhitungan kwantitatif. Di sini ilmu pengetahuan dan tehnologi dalam arti tertentu menjadi agama sekular.

Ketiga, mentalitas seperti ini menurut sinyalemen Prof. T. Jacob, cepat tertular pada kaum muda. Kaum muda lebih mudah terkesan oleh prestasi-prestasi riil yang disumbang oleh teknologi. Kadang-kadang mereka cepat menilai dan menganggap ilmu dan teknologi sebagai juruselamat sejati yang dapat memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.

Jadi dalam situasi kebimbangan  teknologis seperti ini, apresiasi terhadap kepesatan tehnologi menjadi conditio sine qua non untuk bangsa yang sementara membangun di Indonesia. Sebab kita tidak bisa menyangkal bahwa di balik pesatnya  teknologi muncul implikasi-implikasi praktikal. Karena itu, diharapkan agar para konseptor pendidikan dan   pembangunan, mengusahakan langkah-langkah kebijakan dengan bertolak  dari pertimbangan-pertimbangan etis, moral  dan keagamaan.  Sehingga walaupun perkembangan teknologi semakin pesat dan kita pun  bergulir bersamanya, namun masih dapat dimbangi dengan suatu pegangan regulatif yang memungkinkan citra budaya bangsa kita tetap terlindung di tengah arus teknologi yang de facto melingkupi kita.

Secara garis besar langkah-langkah  kebijakan yang mungkin  adalah : Pertama, menanamkan dan mengembangkan consientisasi (proses penyadaran) historis  (secara objektif) melalui media-media edukatif yang dapat memberikan keinsafan kepada masyarakat khususnya generasi muda, bahwa  sejak dahulu bangsa Indonesia  bertumbuh dan berkembang dalam suatu tataran budaya yang mengandung potensi-potensi  tehnologis, yang telah  menghantarnya   menuju suatu puncak keberhasilan  dan bahkan tercatat dalam lembaran sejarah masa lalu sebagai bangsa yang  pernah mengalami masa-masa keemasan. Consientisasi historis ini dimaksudkan agar walaupun adaptasi bangsa kita dengan perkembangan teknologi semakin kuat, namun masyarakat tetap memiliki landasan historis yang  kokoh sehingga tidak mudah tercabut dari akar budaya sendiri.

Kedua, perlu dikembangkan sikap saling menghargai diantara kaum elite bangsa, para penentu kebijakan dan para pengelola administrasi publik, karena   mereka semua adalah agen komplementer yang memiliki latar belakang pengetahuan dan keahlian spesifik untuk saling melengkapi dalam rangka menghantar bangsa ini kepada suasana  bonum commune (kesejahteraan bersama).   Sedapat mungkin dihindari pemaksaan keahlian teknologis tanpa komunikasi disipliner antar para subyek penentu bangsa. Pemaksaan keahlian teknologis yang dinilai belum urgen menjawabi kebutuhan bangsa, hanya dapat mengakibatkan lilitan problem yang penyelesaiannya bagaikan mengurai benang basah. Dan karena itu, terpaksa diintervensi “orang luar” yang bayarannya seringkali  bersifat mempertaruhkan harga diri bangsa.

Ketiga, menanamkan nilai-nilai religius sebagai bingkai sejati bagi aklak bangsa.  Nilai religius dapat mempertajam kesadaran diri sebagai  ciptaan yang bercitra luhur, sebab di dalam diri manusia tertitip percikan daya Ilahi  berupa  “suara hati nurani” yang memberi kemampuan baginya untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam hal ini, bangsa yang memilik landasan religius yang kokoh  tidak akan merasa takut   untuk membuka diri terhadap perubahan, karena nilai-nilai religius yang digenggamnya dapat membantu untuk bersikap selektif terhadap nilai-nilai baru yang terkandung dalam arus perkembangan tehnologi.**  Rm. Frieds Meko, SVD

Ilustrasi dari: jpmi.or.id
Dalam suatu kesempatan, saya bertanya kepada seorang ibu “berapa anak dalam keluarga?” Ia menjawab, ada dua anak, putera dan puteri. Lalu saya katakan, mestinya tambah lagi tiga supaya menjadi lima anak dalam keluarga. Spontan sang ibu membantah “gak bisa dong, sekarang segala-galanya sangat mahal. Sekolah mahal, biaya rumah sakit mahal, sembilan bahan pokok mahal dan segala yang lainnya mahal.

Saya tertegun mendengar bantahan si ibu itu. Sambil bertanya dalam hati, mengapa di zaman moderen yang melimpah dengan berbagai materi dan  penuh dengan segala kemajuan,  yang sebetulnya dapat membuat hidup ini lebih mudah, tetapi orang begitu cemas mempunyai anak lebih dari tiga?  Lalu mengapa dahulu orang memiliki anak sampai sepuluh bahkan lebih, tetapi mereka merasa aman dan baik saja? Malah mereka bangga dengan prinsip “banyak anak banyak rejeki”. Padahal mereka hidup dalam keterbatasan dan kekurangan, tanpa ditopang dengan kelimpahan materi, kemajuan teknologi yang canggih seperti yang kita alami sekarang ini.

Terbukti bahwa rata-rata generasi tua sekarang ini adalah produk keluarga besar, yang mampu menempuh pendidikan baik dalam negeri maupun di luar negeri, dan juga merancang hidupnya dengan baik sampai sekarang ini. Maka pertanyaannya, mengapa manusia moderen sangat cemas kalau mempunyai anak lebih dari tiga?

Tenang atau takut memiliki keturunan 

Nampaknya memang sulit diterima bahwa zaman moderen yang memungkinkan kita memperoleh segalanya dengan cepat bahkan mudah, tetapi orang-orang yang hidup di dalam zaman ini sepertinya tidak aman dan tidak tenang. Mereka selalu merasa cemas, takut dan bimbang. Mereka mudah stress, frustrasi dan sepertinya tidak mampu menerima tantangan yang berat. Kalau tantangan terlalu berat mereka mudah mencari jalan pintas entah dengan pergi ke dukun sim salabim atau dengan memutuskan nadi kehidupan mereka (bunuh diri). Lagi–lagi, mengapa manusia moderen sangat cemas dalam hidup dan takut memiliki keturunan yang banyak ?

Berbeda dengan generasi yang hidup di tahun 50–an hingga tahun 70–an. Mereka nampak tenang dalam keterbatasan hidup, mereka tidak gulau, cemas dan takut menghadapi hidup yang tidak cemerlang, secemerlang zaman moderen ini. Hidup mereka mengalir saja, selaras dengan mengalirnya waktu dan bergulirnya usaha–usaha mereka tanpa suatu manajemen yang canggih seperti sekarang ini,  tetapi ada saja rejeki dan berkat yang mereka nikmati. Pertanyaannya, mengapa orang dulu begitu aman, tenang menghayati hidupnya dan tidak cemas mendapat keturunan yang banyak ?

Mengapa takut dan cemas? 

Tentang dua kenyataan yang paradoks ini, saya tertarik dengan pernyataan penulis buku Heart and Soul for Europe,  Edy Korthals Altes dalam ceramahnya di Aula Kairos Institut Maynooth – Irlandia pada bulan Juni 2004. Ia mengatakan, yang membuat manusia moderen merasa cemas terus-menerus (walaupun mereka hidup dalam kecemerlangan teknolgi yang canggih yang memudahkan segalanya) karena mereka telah ”merampas bidang kekuasaan Allah”. Mereka berani menakar kelahiran seorang anak secara ekonomis, misalnya anak cukup satu atau dua karena biaya hidup mahal. Mereka berani membuat aborsi karena takut menanggung kelanjutan hidup anak yang mau dilahirkan, mereka membuat diri seperti sebuah ”kelinci percobaan” yang meragukan penyelenggaraan Allah atas hidup, dsb.

Dalam arti tertentu pendapat Edy Korthals ini sangat benar. Soalnya sulit dimengerti, kita hidup dalam suatu zaman yang serba mudah karena kemajuan dalam berbagai bidang, tetapi sepertinya kita tidak pernah merasa puas. Kita cemas dan takut sekali terhadap berbagai bentuk kehidupan dan peristiwa yang kita alami. Kita jelas-jelas menggusur peran Allah sebagai penopang dan pelindung kehidupan dari pusat hidup kita.

Kalau Allah sudah digusur jauh-jauh, betapapun hidup dalam kelimpahan, kita akan tetap merasa takut dan cemas. Semua kemajuan tidak menjadi jaminan yang menenteramkan batin kita, malah sebaliknya kita seperti melangkah di atas duri yang membuat kita merintih kesakitan dan tertatih-tatih dalam menapaki setiap cita hidup yang kita miliki.

Sementara itu, kalau melihat kehidupan orang zaman dulu, mereka justru bertumbuh dalam keterbatasan, tetapi karena mereka tetap mengandalkan Allah sebagai penyelenggara kehidupan atau mereka masih memiliki kepasrahan untuk berjalan dalam hadirat Allah (coram Deo ambulamus) maka biar hidup terbatas, miskin, tanpa ditopang teknologi canggih namun mereka merasa aman dan tenang mendidik anak – anaknya sampai sukses.

Yang pasti,  generasi yang lahir di tahun 50 – an sampai tahun 70 – an, rata – rata berasal dari keluarga besar, namun ternyata orang tua,  mampu menghantar mereka menemukan masa depan yang baik. Mereka bangga menjadi generasi keluarga besar. Biar lusinan bersaudara, sumpek – sumpekan dalam rumah yang sempit, namun hampir semua bisa jadi manusia sukses karena orang tua berjuang dalam keterbatasan, tetapi tidak pernah merampas bidang kekuasaan Allah. Mereka tetap sadar,  banyak tidaknya anak dalam keluarga, adalah kehendak Allah melalui hak pro-creasi (hak mencipta manusia baru) yang telah diberikan kepada mereka sebagai suami – isteri.

Kegelisahan di balik keberhasilan KB

Contoh keberhasilan KB dapat dilihat pada negara – negara di kawasan Eropa barat dan tengah. Sekarang mereka merasa cemas dan takut karena menjadi minoritas dalam negeri sendiri. Ini semua terjadi karena keberhasilan program KB. Ada yang menyindir, keluarga-keluarga muda Eropa lebih suka memelihara anjing dari pada melahirkan dan membesarkan seorang anak. Fakta ini sungguh meresahkan generasi tua yang masih hidup. Mereka heran mengapa banyak keluarga muda takut mempunyai anak? Atau mengapa orang tenggelam dalam prinsip ”birth control” sampai begitu takut kalau punya anak lebih dari dua atau tiga.

Sementara itu, begitu banyak orang luar (migran) mengalir masuk ke sana dan hampir semua bidang kehidupan mulai dikuasai orang – orang luar, terutama bidang perdagangan, kesehatan, pendidikan, dll. Disinyalir, kemungkinan 30 – 40  tahun lagi seluruh Eropa tengah dan barat akan dikuasai oleh kaum migran. Populasi kaum migran meningkat, sementara populasi penduduk asli drastis menurun.
Dalam konteks Indonesia misalnya, nampak keluarga – keluarga muda Katolik cukup berhasil dalam program KB. Rata – rata kalau mereka ditanya, ”mau kah anda punya anak lima atau lebih dari lima ?” Mereka pasti spontan menjawab ”waduh...gak bisa dong, sekarang segalanya serba mahal”. Ini suatu jawaban seragam yang dapat kita dengar mulai dari Sabang sampai Merauke.

Kita menyadari bahwa prinsip perkawinan Katolik itu  monogam dan tak terceraikan, jelas tidak memberi kemungkinan bagi setiap pria Katolik untuk boleh mengambil pasangan lebih dari satu.  Seandainya Gereja bisa memberi kemungkinan untuk mengambil seorang istri lebih dari satu, walau tidak mengikuti KB tetapi bila masing – masing istri dapat melahirkan dua anak atau lebih,  maka pasti akan muncul banyak keturunan.
Tetapi karena perkawinan Katolik sifatnya monogam, lagi pula setiap pasangan telah memutuskan untuk mengikuti program KB, maka jelas populasi orang Katolik di Indonesia pasti semakin hari semakin menurun. Efek dari semua ini nampak dalam tetaran peran sosial kelak.  Misalnya, 20 atau 30 tahun yang akan datang, panggilan hidup membiara atau  hidup selibat akan semakin drastis menurun, akan minim pejabat publik - formal dari pihak Katolik dan juga akan minim orang Katolik dalam bidang – bidang pelayan publik swasta. Makanya tidaklah heran kalau suatu saat orang Katolik akan seperti orang Eropa yang merasa resah dan gelisah karena ternyata populasi mereka semakin hari semakin berkurang.

Menghadapi kenyataan seperti ini, apa yang perlu kita lakukan ? Menolak progam KB ? Mungkin tidak, tetapi  kita tetap mengalir saja dalam program ini,  sambil mengatur jarak kelahiran dan  selalu berusaha berjalan dalam hadirat Allah (Coram Deo Ambulamus) serta percaya bahwa kalau hidup berkeluarga merupakan suatu panggilan yang suci dari Allah, maka Ia pasti akan menuntun setiap keluarga dalam belaskasihan-Nya.

Hanya orang beriman yang berani bertahan dalam prinsip ini. Kalau orang tidak beriman, ia akan menjadi orang yang tega merampas bidang kekuasaan Allah. Makanya tidaklah heran bila kecemasan dan ketakutan akan tetap mengusik ketenteraman hidupnya, walaupun mungkin ia hidup dalam kelimpahan dan hanya punya seorang anak atau bahkan tidak punya anak sama sekali. **


Fritz Meko, SVD 
Ketua Komisi Komunikasi SVD Jawa 
Tinggal di Biara Soverdi Surabaya




MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget