Sr. Emirensiana Mamo Sele, KSSY
Suatu malam, orang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah pelita. Orang buta itu dengan terbahak berkata: “Buat apa aku membawa pelita, tak ada gunanya bagiku. Aku bisa pulang tanpa pelita.” Dengan lembut, sahabatnya menjawab: “Pelita ini berguna agar orang lain bisa melihat kamu sehingga tidak menabrakmu.” Orang buta itu setuju untuk membawa pelita.

Tak berapa lama dalam perjalanan pulang  seorang pejalan kaki menabrak si buta itu. Dalam rasa kagetnya si buta berteriak dengan kesalnya: “Hei... Kamukan punya mata, beri jalan untuk orang buta dong.”  Tanpa berbalas sapa, merekapun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan kaki yang lain menabrak si buta lagi. Si buta bertambah marah, katanya: “Apakah kamu buta ? Tidak bisa lihat ya...? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa  melihat.” Pejalan itu menukas: “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat pelitamu sudah padam!” Sibuta tertegun, menyadari situasinya.

Kemudian, penabrak tersebut meminta maaf, katanya: “Oh , maaf akulah  yang buta tidak melihat bahwa engkau orang buta.” Wajah si buta memerah karena malu. Dengan tersipu, ia menjawab: “Tak apa maafkan aku juga atas kata-kataku yang kasar.” Dengan tulus si penabrak menyalakan kembali pelita si buta itu. Merekapun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan  selanjutnya, seorang pejalan yang lain lagi menabrak si buta. Kali ini si buta lebih berhati-hati. Dengan santun, ia berkata: “Maaf, apakah pelita saya padam?” Penabraknya menjawab: “Lho justru aku hendak menanyakan hal yang sama.”

Hening sejenak ....

Akhirnya dengan bersamaan mereka bertanya satu sama lain: “Apakah engkau orang buta?” Dengan serempak pula mereka menjawab: “Ya ...” Mereka berdua meledak dalam tawa. Lalu, keduanya berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang jatuh sehabis tabrakan .

Saat itu seorang pejalan lewat. Dalam keremangan, nyaris saja ia menabrak  kedua orang buta yang sedang mencari pelita mereka. Ia pun berlalu tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Kemudian, timbul pikiran dalam benak orang ini, katanya, “Rasanya aku juga perlu membawa pelita, agar aku dapat melihat jalan dengan lebih jelas dan agar orang lainpun dapat terbantu melihat jalan mereka.” **(Sr. Emirensiana Mamo Sele, KSSY: Mahasiswi STIPAS Palangkaraya)