MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Dialog"

  1. Hiduplah sesuai dengan ajaran agama yang anda yakini. Karena agama tujuannya adalah BAIK dan MULIA, hiduplah dengan berbuat BAIK dan MULIA itu. Tidak ada satu pun agama yang mempunyai tujuan TIDAK BAIK dan TIDAK MULIA. Semua mengacu pada arti AGAMA itu sendiri, yakni TIDAK KACAU. Ini adalah masih arti harafiah. Kalau arti harafiah dari agama saja sudah merujuk ke hal yang sangat positif, betapa mulia lagi arti AGAMA bila ditinjau dari sudut pandang teologi, filosofi dan sudut pandang lainnya.
  2. TIDAK KACAU, berarti DAMAI, itulah yang harus diperjuangkan. Bila anda mengatakan hidup beragama, tapi menimbulkan kekacauan, apakah anda masih tetap berani mengatakan "SAYA BERAGAMA"?
  3. DAMAI, antar dan intra Agama. Kesalahan fatal bila dalam menjalankan ajaran agama, penganut kepercayaan hanya menjaga DAMAI intra agama saja. Itu artinya, dia belum mengerti dan memahami dengan benar ajaran agama yang dianutnya itu. M. Gandhi pernah mengatakan: "Semua Agama adalah Agama yang baik dan benar apabila penganut agama tersebut menjalankan dan menghidupi ajaran agamanya dengan baik dan benar pula". Dari pernyataan ini, kita harusnya bisa menyimpulkan bahwa semua AGAMA tidak ada yang paling baik atau paling benar. Kualitas penganutnyalah yang perlu dipertanyakan.
  4. MEMBELA AGAMA? Apakah itu perlu. Menurut saya, tidak perlu kita membela agama. Kita semua sepakat bahwa Agama berasal dari yang Suci dan yang Kudus. Maka, karya besar untuk pembelaan agama itu sendiri adalah Kuasa dari yang Suci dan yang Kudus itu. Tugas kita sebagai penganut agama adalah membuktikan bahwa kita pun bisa hidup SUCI dan KUDUS seperti yang telah diajarkan dalam agama.
  5. MEWARTAKAN AJARAN AGAMA. Sesuatu yang sangat mulia bila penganut agama mewartakan ajaran agamanya kepada orang lain yang tidak beragama. Tapi bila penganut salah satu agama, memaksakan sesuatu agama dengan orang lain yang sudah beragama, bukankah dia sendiri yang "me-nihil-kan" ajarang agama yang dianutnya?
  6. FANATIK TERHADAP SATU, TAPI MEMBENCI DAN MENGHANCURKAN YANG LAIN. Salah total. Bila anda hidup beragama dengan sikap fanatik, tidak usah mengaku sebagai umat beragama. Karena agama anda pun tidak membenarkan sikap anda itu. Bila anda keberatan dengan pernyataan saya, silahkan tunjukkan bukti pada saya, dimana membuktikan salah satu agama yang membenarkan sikap fanatisme.
  7. AJARAN AGAMA ANDA ADALAH BENAR. AJARAN AGAMA LAIN PUN BENAR. Ini yang harus diperhatikan. Toleransi adalah jalan satu-satunya untuk menciptakan kedamaian. Bila anda sudah menjalankan ajaran agama anda dengan benar, tidak perlu anda mengusik ketenangan agama yang lain. Karena dengan demikian, anda mementahkan semua kebenaran AJARAN AGAMA ANDA.
  8. KALAU BEGITU, APAKAH PERLU BERJUANG UNTUK AGAMA? Saya menjawab begini: Yang membuat Agama berkembang adalah Dia yang Empunya Kuasa untuk membuat ajarannya berkembang dan diyakini oleh manusia. Dia itu siapa? DIA adalah yang melebihi kuasa manusia. Usaha anda memperjuangkan AGAMA tidak sebanding dengan KUASANYA. Yang perlu anda lakukan adalah menunjukkan bahwa anda seorang yang beragama dan hidup baik menurut ajaran agama itu sendiri.
  9. OH. KALAU BEGITU SIA-SIA DONG SAYA BERJUANG MENJADI PAHLAWAN UNTUK AGAMAKU? Tidak sia-sia. Sejauh anda menunjukkan KEPAHLAWANAN anda seturut tujuan AGAMA itu sendiri. Bila anda berjuang untuk kedamaian, tapi karena perjuangan KEDAMAIAN itu menciptkan kekacauan dan ketidak-tenangan bagi orang lain, apakah DAMAI yang anda perjuangkan itu tercapai? NOL BESAR. Karena di sisi lain anda menyerukan kedamaian, tapi efeknya kamu harus membunuh kedamaian. Logika matematika saja mengatakan NOL. 1-1= 0.
  10. APAKAH USAHA ORANG-ORANG YANG MEMBENTUK ORGANISASI MEMBELA AGAMA ITU BENAR? Tergantung. Mereka harus paham dulu apa yang dibela, dan apa yang dihancurkan. Bila semua masalah kehidupan ini, direduksi dalam masalah Agama, itu adalah kesalahan fatal seorang penganut agama. Ajaran agama sangatlah mendasar dan fundamental. Bila kesalahan dalam dunia politik, ekonomi, sosial, di reduksi dalam kesalahan Beragama, itulah yang menciptakan ketidak-benaran. Agama mempunyai ajaran sendiri. Bila anda menemukan masalah politik, bicarakan dan selesaikan dalam koridor politik, bukan dalam koridor agama. Bila anda hanya mengenal koridor agama, dan tidak mengenal koridor lain, saya usulkan, kamu kembali ke Pesantren lagi untuk belajar, kembali ke seminari untuk belajar lagi, kembali ke bangku sekolah lagi untuk belajar tentang Agama dan aspek kehidupan lainnya.
  11. AH JADI PUSING, TIDAK PERNAH SELESAI BERBICARA TENTANG AGAMA INI. Ya, memang begitu adanya. Karena apa yang dipikirkan manusia, tidak sama dengan yang dipikirkan oleh Dia yang punya ajaran. Bila anda memaksakan semua air laut masuk ke dalam sebuah botol, di situlah anda akan sadar bahwa pikiranmu jauh tidak sebanding dengan pikiran Dia. Oleh karena itu, jawab sendirilah, sebutan apa yang akan dikenakan padamu bila anda mau menyamakan posisi dengan Dia yang menciptakan anda dari KETIADAAN menjadi ADA. **Kairos.
Pernyataan lain, boleh ditambahkan lagi pada edisi berikutnya.

Karena faktor satu dan lain hal, KAIROS tidak sempat menjawab beberapa pertanyaan yang masuk melalui INBOX e-mail KAIROS sejak tanggal 24 Desember 2013 s.d. 19 Januari 2014. Namun, KAIROS sangat senang bahwa ternyata ada beberapa orang yang dengan sabar menunggu jawaban dari KAIROS atas pertanyaan-pertanyaan yang telah dilayangkan. Berikut ini, KAIROS akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Pertanyaan:
Natal adalah perayaan syukur atas kasih Allah kepada manusia, yakni karena Dia telah mengutus Putra-Nya turun ke dunia. Dalam khotbah Natal, saya mendengar DAMAI didengungkan menjadi pesan Natal. Atas dasar pesan itu, saya mencoba menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, dan ini saya hubungkan langsung dengan kehidupan menggereja, di mana umat Katolik merupakan satu komunitas yang terlibat dalam lingkaran sosial. Relasi tersebut saya gambarkan sebagai berikut: Pastor dengan pastor, pastor dengan umat, umat dengan pastor, umat dengan umat dan lain sebagainya. Menurut KAIROS, DAMAI yang dimaksud seperti apa sih? Apakah DAMAI dalam arti nyata yang saya pahami ini, bisa masuk dalam kategori DAMAI yang didengungkan ini? (A/S dari Lingk. St. Bernadetta Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya).
Jawaban:

Saudari A/S, terima kasih atas pertanyaannya. Berbicara tentang DAMAI Natal, ada kecenderungan kita untuk merujuk pada DAMAI dalam relasi kita dengan orang lain. Itu tidak salah, karena memang berdamai dengan sesama adalah wujud dari DAMAI yang telah kita terima dari Allah. Namun dalam hal ini, kiranya DAMAI itu harus lebih dahulu dirasakan secara pribadi.

Relasi manusia dengan Allah sempat ternodai dan terputus karena dosa manusia. Melalui peristiwa inkarnasi, yakni NATAL, relasi yang telah rusak itu diperbaiki, diperbaharui sehingga DAMAI yang dimaksud adalah pulihnya kembali relasi manusia dengan Allah dengan perantaraan Putra-Nya yang lahir. Jadi, DAMAI yang dimaksud terutama adalah untuk kita rasakan sendiri. Adakah kita merasakan DAMAI dengan Allah melalui peristiwa Natal? Itu yang menjadi pertanyaan refleksi kita.

Berhubungan dengan relasi-relasi yang disebutkan di atas, itu juga tidak masalah. Manusia yang telah berdamai dengan Allah harus mampu berdamai dengan sesamanya, baik itu pastor, biarawan dan umat Allah. Rasakanlah dulu DAMAI dengan Allah, barulah diwujudkan secara nyata untuk berdamai dengan sesama. Damai sesungguhnya adalah ketika kita tidak memikirkan perkara orang lain menjadi penghambat bagi iman kita, tetapi bagaimana kita memikirkan apa yang dapat kita buat agar orang lain dapat lebih beriman dengan teladan-teladan yang kita berikan.

Pertanyaan:
Di halaman KAIROS saya pernah membaca sedikit tentang FMKI. Pemilihan pengurus baru dan sempat saya lihat dalam halaman forum sudah ada logo dan cap. Apa sebenarnya FMKI itu dan bagaimana kelanjutan di Keuskupan Palangka Raya? (Y/L  dari Paroki YGB)
Jawaban:

Saudara Y/L, benar sekali bahwa KAIROS pernah memuat informasi tentang FMKI, terutama dalam pemilihan kepengurusan yang baru. FMKI ini adalah Forum Masyarakat Katolik Indonesia yang dideklerasikan berdirinya 12-15 Agustus 1998 lalu di Jakarta. JejaringFMKI di seluruh Indonesia merupakan mitra KWI. Dan dalam hal ini, untuk tingkat Keuskupan, FMKI merupakan mitra Keuskupan terutama dalam melanjutkan tugas-tugas Gereja ke dunia.

Pengurus-pengurus yang telah terpilih di Keuskupan Palangka Raya akan dilantik oleh Bapa Uskup pada Mei 2014 nanti. Oleh karena itu, segala sesuatu yang berhubungan dengan FMKI di Keuskupan Palangka Raya akan lebih jelas nanti setelah pengurus-pengurus terpilih dilantik secara resmi.

Pertanyaan:
Pemilihan Dewan Pastoral Paroki yang baru, dua calon Ketua I mendapatkan perolehan suara dengan jumlah yang sama, yakni 94 suara. Pemilihan ulang tidak dilaksanakan tapi Ketua I dan Ketua II langsung ditentukan oleh Pastor Paroki. Koq bisa begitu ya? Saya sempat baca di Warta Paroki bahwa penentuan Ketua I dan II itu adalah "Atas Petunjuk Yang Maha Kuasa". Bagaimana pendapat KAIROS tentang hal ini? (S/N dari Lingk. St. Yohanes)
Jawaban:

Saudara S/N, pertama-tama kami mengajukan untuk membaca tulisan KAIROS sebelumnya yakni Pertanyaan Seputar Dewan Pastoral Paroki. Atas pertanyaan di atas, KAIROS berpendapat seperti ini:

  1. Pastor Paroki adalah Ketua Umum Dewan Pastoral Paroki. Berdasarkan Penugasan dari Bapa Uskup sebagai pemimpin tertinggi Gereja Lokal, Pastor Paroki harus mampu mengambil kebijakan untuk menentukan pilihan berdasarkan suara yang telah ada. Karena itu, "Atas Petunjuk Yang Maha Kuasa" adalah istilah yang paling tepat dan kita tidak perlu meragukan itu.
  2. Pengurus Dewan Pastoral Paroki adalah merupakan mitra kerja Pastor Paroki dalam tugas pastoral. Oleh karena itu, kiranya para pengurus terpilih adalah umat Allah yang benar-benar berniat mau bekerja, dan bukan hanya sekedar "tempel nama" di dalam kepengurusan. Dan sekali lagi, "Atas Petunjuk Yang Maha Kuasa" kita percaya pengurus-pengurus yang terpilih adalah kehendak Yang Maha Kuasa. Maju-mundurnya karya Pastoral itu adalah atas "Kehendak Yang Maha Kuasa", umat adalah hanya sebagai alat yang menjadi perpanjangan tangan-Nya.
  3. KAIROS tetap menekankan kata yang hilang dalam tradisi baru yakni "Dewan Paroki" seharus "Dewan Pastoral Paroki". Jadi yang menjadi inti di sana adalah "Pastoral", bukan "Dewan" atau "Paroki". Bagaimana tugas pastoral itu berjalan dengan baik, itulah yang menjadi tujuan yang harus dicapai.

Pertanyaan:
KAIROS adalah salah satu media online. Apakah KAIROS berkenan mempromosikan para Calon Legislatif dari Katolik agar dikenal oleh masyarakat? (V/D dari lingk. St. Sesilia).
Jawaban:

Terima kasih Saudara V/D atas pertanyaan ini. Kairos sebagai salah satu media merupakan media untuk semua. Oleh karena itu, KAIROS tetap menjaga komitmen awal yakni untuk menjadi media yang bersikap netral untuk semua. Soal politik, dan Pemilihan Umum yang akan datang, KAIROS akan berbagi informasi kepada masyarakat. Untuk mempromosikan Calon Legislatif, KAIROS membuka ruang untuk itu. Perlu diingat bahwa KAIROS tetap menjaga netralitasnya sebagai media sehingga ruang tersebut kami buka untuk semua yang telah memanfaatkan KAIROS untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat.  Semoga jawaban ini berkenan.

Pertanyaan:
Ada hal yang mengganjal di hati saya setiap hari Minggu saat berada di dalam Gereja. Hal itu adalah melihat sikap umat yang memberikan hormat saat masuk gereja, sebelum mengambil tempat duduk. Tradisi kita adalah bila masuk gereja, kita menandai diri kita dengan tanda salib dengan mencelupkan tangan pada air suci yang disediakan di pintu masuk. Kemudian kita melangkah menuju ke tempat duduk, tapi sebelum itu, kita memberi hormat dulu kepada Kristus yang tersalib dan Kristus yang hadir dalam Sakramen Maha Kudus. Penghormatan terarah kepada Tabernakel dan juga pada salib. Ada macam-macam cari penghormatan yang saya lihat. Ada yang berlutut seperti biasanya saya buat, ada yang hanya menundukkan kepala, dan yang paling membuat saya bertanya-tanya adalah cara penghormatan yang "bukan berlutut, bukan pula menundukkan kepala, tapi hanya menekuk sedikit lutut, terkesan menggoyangkan badan saja ke arah yang tidak jelas. Pertanyaan saya, bagaimana seharusnya sikap tubuh memberi penghormatan saat kita masuk ke dalam gereja?

INA Lingk. St. Anna

Jawaban:
Saudari INA, pertanyaan yang sangat bagus. Atas pertanyaan ini KAIROS menjawab sebagai berikut. Dalam Gereja Katolik, kita mengenal dua sikap tubuh yang menjadi simbol penghormatan, yakni berlutut dan menundukkan kepala. Perlu diketahui bahwa memberi penghormatan adalah sikap manusiawi yang menyadari bahwa ada yang lebih agung, ada yang lebih tinggi, ada yang lebih hebat yang sedang berhadapan dengan kita. Ketika kita masuk gereja, kita menyadari bahwa ada yang lebih tinggi di sana yakni Kristus Sang Raja sekaligus Sang Penyelamat. Bagaimana kita menunjukkan sikap hormat?

Cara wajar untuk berlutut adalah dilakukan dengan menekuk lutut kanan sampai menyentuh lantai. Ini adalah tanda sembah sujud (PUMR 274), untuk menghormati. Tentu saja hal itu bukan sekedar tindakan ritual. Ada makna yang mendalam. Berlutut mengungkapkan pengakuan iman kita akan Misteri Paskah, sekaligus menandakan kerinduan kita untuk hadir dalam misteri wafat dan kebangkitan Kristus, Tuhan kita. Gerak berlutut merupakan bentuk perendahan diri karena hadir di hadapan Tuhan. Seperti kata Paulus: “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: `Yesus Kristus adalah Tuhan,' bagi kemuliaan Allah Bapa!” (Fil 2:10-11). Kita pun melakukannya untuk meniru kesengsaraan Kristus ketika disalib, supaya boleh mengalami anugerah kebangkitan-Nya. Sikap ini mengajar kita untuk hidup sehari-hari seperti yang dilakukan Kristus. Kita diantar untuk bersatu dalam persembahan diri dan korban-Nya yang suci. [ref]

Beberapa alasan yang tidak tepat dilontarkan oleh umat mengapa tidak sanggup berlutut dengan baik. Di antaranya adalah:

  • Usia sudah lanjut, jadi agak susah untuk menekuk lutut kanan hingga menyentuh lantai.
  • Pakaian yang dikenakan tidak mendukung untuk melakukan gerakan tubuh tersebut.
  • Sedang mengalami sakit dibagian lutut dan pinggang.
  • Banyak lagi alasan yang dilontarkan untuk membela diri.
Hal itu tidak menjadi soal. Kalau berlutut tidak bisa dilakukan, buatlah sikap lain yang lebih baik. Berlutut dapat digantikan dengan menundukkan kepala. Untuk kesempatan tertentu, berlutut (juga membungkuk) bisa diganti dengan menundukkan kepala. Misalnya, ketika para pelayan misa (putera altar, lektor, diakon) sedang membawa salib, lilin, dupa, atau Kitab Injil harus menghormati Sakramen Mahakudus atau altar. Menurut PUMR 275a “menundukkan kepala” dilakukan juga ketika mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama para orang kudus yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan. Mengapa perlu diganti? Alasannya praktis saja dan mungkin juga estetis serta teologis. Pembawa benda-benda itu biasanya akan kerepotan jika harus berlutut sementara masih membawa sesuatu. Lagi pula, bisa tampak tidak indah dan kurang menarik jika salib yang mestinya tetap tegak ternyata jadi miring lantaran pemegangnya sedang berlutut atau membungkuk. Atau, lelehan lilinnya jatuh ke lantai atau ke tangan putera altar yang memegangnya karena dia harus berlutut. Khusus untuk benda-benda simbolis yang berkaitan dengan diri Kristus seperti Kitab Injil dan Salib, kita diminta tetap menunjukkan nilai kehormatannya. Maka, benda-benda simbol Kristus itu harus tetap tampak anggun, tidak tampil naik-turun, miring ke kiri-ke kanan, karena si pemegang harus berlutut dan berdiri segala. [ref]

Meskipun sikap ini ditujukkan kepada pelayan perayaan, tidak ada salahnya dilakukan oleh umat yang memiliki gangguan untuk berlutut saat masuk gereja dan menggantinya dengan menundukkan kepala. Jauh lebih berarti daripada membuat gerekan-gerakan yang tidak jelas, hanya sekedar menggoyangkan badan, tapi bukan berlutut atau menunduk. Semoga pertanyaan memuaskan. **Kairos

Pertanyaan:
Akhir-akhir ini saya merasakan suatu krisis sedang terjadi dalam Musik Liturgi. Apakah hal ini disebabkan oleh rasa bosan, tidak bersemangat atau ada hal lain yang mempengaruhi kemerosotan jiwa Musik Liturgi kita? Kadang-kadang, petugas kor dan organis melaksanakan tugas alakadarnya. Adakah hal-hal yang perlu dibenahi untuk menghidupkan kembali Musik Liturgi?

LD, Lingk. St. Arnoldus

Jawaban:
Saudara LD, pertanyaan yang sangat menarik dan sangat bermanfaat. Memang, krisis dalam Musik Liturgi tidak terjadi hanya di tempat kita ini. Terjadi hampir di seluruh dunia. Kami mengutip pendapat PML (Pusat Musik Liturgi - Yogyakarta) tentang sebab-sebab krisis dalam Musik Liturgi.

  1. Petugas kurang bersemangat, apalagi kalau itu hanya Minggu Biasa dan bukan Hari Raya. Lebih parah lagi kalau itu Misa Sore dan bukan Misa Pagi yang biasanya banyak umat. Para petugas melaksanakan tugas sebagai rutinitas saja, tanpa penghayatan.
  2. Para petugas memiliki pengetahuan yang sangat terbatas berhubungan dengan Musik Liturgi. Petugas kor, dirigen dan organis adalah sukarelawan saja. Kebetulan mereka bisa karena bakat, mereka menyumbangkannya sebagai persembahan pada Tuhan. Namun, mereka ini agak susah untuk dituntut berlatih karena sesungguhnya bukanlah itu tugas utamanya.
  3. Musik Liturgi kehilangan dayanya, kehilangan sifat sakralnya. Kita jatuh dalam perangkap sekularisasi atau anggapan bahwa kita dapat membuat diri kita selamat.
  4. Tekanan pada peraturan-peraturan yang mematikan semangat para petugas musik liturgi maupun umat.[1]
Beberapa hal yang disebutkan di atas adala pendapat PML dalam mencermati perkembangan Musik Liturgi dewasa ini. Oleh karena itu, bila Saudara LD mempertanyakan hal ini, kami pikir sangatlah wajar dan penilaian saudara sangat tepat.

Mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk menghidupkan kembali Musik Liturgi, berikut ini dapat disebutkan beberapa hal:
  1. Adanya niat dan keinginan para petugas untuk menjadikan liturgi bersuasana hidup dan bersemangat. Bukan dengan menirukan gerakan Kharismatik, tetapi dengan berusaha agar Tuhan menyentuh hati. Liturgi harus diperkaya dengan saat-saat hening. Kita harus membiarkan Tuhan menyentuh kita dalam keheningan. Meriah bukan berarti hidup dan bersemangat. Kita harus bisa membedakan kedua istilah ini. Liturgi sangat membutuhkan keheningan agar pengendapan segala sabda Tuhan lebih mudah.
  2. Meningkatkan pengetahuan tentang musik liturgi dan ketrampilan sebagai dirigen, penyanyi, organis, pemazmur. Latihan-latihan sangat dibutuhkan untuk ini. Kita harus melawan anggapan 'saya sudah cukup terlatih' atau dengan kata lain: karena malas. Semangat tidak jatuh dari langit, tetapi perlu persiapan seperti teknik nyanyi, ketrampilan jari dan sebagainya.
  3. Memperdalam dan meningkatkan faham tentang Allah. Hanya kalau kita punya faham tinggi tentang Allah, liturgi kita akan berarti dan hidup kita akan berubah. Hanya dari Tuhan nyanyian kita akan memperoleh 'isi' atau 'hidup' dan akan menjadi pewartaan sejati.\
  4. Memahami bahwa yang bertugas bukanlah 'aku', 'saya', tetapi yang bertugas adalah 'kami' atau 'kita'. Di dalamnya harus ada unsur kebersamaan sehingga tanggung jawab ini menjadi tanggung jawab bersama.
  5. Meningkatkan pengetahuan tentang lagu-lagu inkulturasi yang merupakan kekayaan tersendiri, khususnya Gereja Indonesia. 
Kesadaran untuk berliturgi di antar umat semakin menurun. Hal ini disebabkan oleh pemahaman yang sangat kurang tentang liturgi. Oleh karena itu, yang menjadi pionir untuk memperkenalkan liturgi yang baik kepada umat adalah para Pastor, Diakon, Guru Agama dan Katekis.[2]

Karena begitu pentingnya peranan Musik Liturgi dalam Gereja, maka ada sebuah Lembaga Khusus yang menyediakan pelatihan untuk musik liturgi. Adanya pengalokasian waktu khusus untuk itu adalah pertanda bahwa musik liturgi tidak dapat dipandang sebelah mata saja atau dianggap sepele. Musik liturgi harus ditata dan dikoordinir dengan baik, dan tentunya sangat berhubungan dengan manajemen stasi atau paroki.
Secara khusus untuk Saudara LD, dengan jawaban ini, kami menghimbau dan mencoba menumbuhkan ketertarikan terhadap musik liturgi. Alangkah baik bila semua umat tertarik untuk memperhatikan hal ini. Tapi tentu hanya sebagian yang memiliki minat dan bakat khusus sebagai profesional di bidang ini. Siapa tau, Saudara LD termasuk di antaranya, kami sangat mendukung. Semoga jawaban ini menjawab pertanyaan di atas. **Kairos
[1]Buku Latihan Dirigen, PML 2013
[2]Ibid

Pertanyaan:
Apakah anak kecil boleh terima Komuni? Kapan seorang anak boleh terima komuni? Anak usia berapa sudah boleh menerima Komuni?”

Jawaban:
Gambar dari: pandu.katolik.or.id
Saya memulai jawaban untuk pertanyaan tersebut di atas dengan sebuah ceritera. Ceritera ini saya ambil dari Majalah Liturgi (Komisi Liturgi KWI). Orang Katolik di sebuah desa pedalaman membangun sebuah kapel atau rumah ibadat. Karena belum mampu untuk membeli peralatan liturgi yang baik, mereka menggunakan peralatan seadanya. Tabernakel dibuat dari kayu yang sederhana. Sebagai pengganti sibori mereka menggunakan plastik kue.  Alkisah di kapel itu tinggal seekor tikus. Suatu malam tikus itu kelaparan dan mencari makanan. Rupanya tercium oleh tikus itu di dalam tabernakel ada sesuatu yang bisa dimakan. Maka tikus itu menggerogoti tabernakel itu dan menemukan hosti (sudah dikonsekrir) dalam plastik. Hosti itu dimakan habis oleh tikus. Nah, pertanyaannya, apakah tikus itu menyambut komuni seperti orang Katolik menyambut Komuni waktu menghadiri perayaan Ekaristi? Jelas, tikus itu tidak menyambut komuni alias bukan tikus Katolik. Karena, tikus itu samasekali tidak tahu bahwa hosti itu sudah menjadi Tubuh Kristus dan lagi tikus itu samasekali tidak mengimaninya. Tikus itu makan hosti sama seperti ia makan makanan yang lain. Dengan demikian hosti itu tidak punya nilai dan makna iman untuk tikus itu.

Seorang anak kecil belum/tidak tahu tentang hakekat hosti yang oleh kata-kata konsekrasi telah berubah menjadi Tubuh Kristus dan karenanya juga belum mengimaninya. Oleh sebab itu kalau kepada seorang anak kecil diberi hosti, ia bukan menyambut Komuni atau menerima Tubuh Kristus, tetapi ia hanya menerima hosti dan makan hosti. Maka nilainya kurang lebih sama dengan hosti yang dimakan tikus, yang diceriterakan di atas. Kalau demikian halnya, pemberian hosti kepada anak kecil merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap Tubuh Kristus. Karena kita merendahkannya hanya sebagai sesuatu yang bisa dimakan sama seperti biskuit atau mendesakralisasikan hosti. Kadang ada orangtua yang memberikan sepotong hosti yang disambutnya kepada anaknya yang merengek memintanya. Perbuatan orangtua seperti itu jelas sebuah pelecehan dan penghinaan terhadap Tubuh Kristus serta berpotensi melukai rasa keagamaan orang lain. Itu sebabnya di NTT pelaku pelecehan hosti sulit ditolerir orang Katolik. Pemberian hosti kepada anak kecil yang belum berhak menerimanya termasuk dosa sakrilegi yakni dosa penghinaan  barang suci.

Dengan pertimbangan seperti di atas komuni belum diberikan kepada seorang anak. Dalam sejarah Gereja pemberian komuni kepada seorang anak dimulai dengan keputusan Paus Pius X. Paus Pius X memutuskan pemberian komuni kepada anak berusia 7 tahun dan juga penerimaan komuni setiap hari. Dasar keputusan Paus Pius X adalah sabda Yesus sendiri: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepadaKu, sebab orang-orang yang seperti itulah yang mempunyai Kerajaan Surga” (Mat 19:14). Penerapan keputusan itu diberbagai tempat cukup bervariasi. Di paroki-paroki di NTT komuni pertama diberikan kepada anak usia kelas V SD atau VI SD. Di Paroki Katedral komuni pertama biasanya diberikan kepada anak usia kelas IV SD, karena banyak guru agama mengalami kesulitan untuk mempersiapkan anak usia kelas III SD.

Mengingat ada anak yang berperilaku merengek ingin tahu hosti yang diterima orangtuanya, para orangtua dimohon dengan sangat pengertiannya untuk tidak mencuil hosti yang diterimanya dan memberikannya kepada anaknya. Jangan sampai orangtua yang melakukan hal itu, sebetulnya sama dengan anaknya yakni hanya makan hosti dan tidak menyambut komuni atau menerima Tubuh Kristus. Jangan sampai banyak umat kita yang demikian kondisi imannya. Marilah kita membaharui iman kita akan Ekaristi. Semoga! **P. Alex Dato’ L., SVD

Pertanyaan:
Salib Kecil di altar itu, yang benar itu menghadap ke Pastor atau ke Umat?

Jawaban:
Gambar dari: katedraljakarta.or.id
Yang paling penting kita ketahui di sini adalah kegunaan salib dalam Gereja. Salib dengan korpus ditujukan agar setiap orang yang masuk dalam Gereja dapat mengarahkan pikiran pada Kristus yang tersalib. Salib adalah simbol saja, dan bukan hal yang utama. Ketika kita melihat salib, janganlah kita berhenti di situ, tetapi kita harus terarah pada peristiwa besar di mana Kristus berkorban demi keselamatan kita. Itulah hal yang paling utama berhubungan dengan salib.

Berhubungan dengan tata letak salib dalam gereja, terutama salib kecil seperti dipertanyakan di atas, KAIROS menjawab sebagai berikut:

Dulu, sebelum Konsili Vatikan II, Umat dan Imam menghadap ke arah yang sama, yakni menghadap ke Altar. Dengan kata lain, Imam membelakangi Umat. Oleh karenanya, pada masa itu, salib kecil menghadap ke Umat dan Imam. Setelah Konsili Vatikan II, Perayaan Ekaristi, Tata Perayaan dan Ritus Perayaan mengalami perubahan. Sakarang Imam menghadap Altar juga tetapi tidak membelakangi umat. Imam dan Umat saling berhadapan, dan Kristus menjadi Pusat Perayaan. Sebagai pemimpin perayaan, Imamlah yang lebih memerlukan salib agar pikirannya lebih terarah pada Kristus. Seperti dijelaskan dalam Pedoman Liturgi, salib kecil di altar menghadap ke imam dan bukan menghadap ke umat. Di beberapa tempat, salib kecil di altar sebenarnya tidak terlihat oleh umat. Salib tersebut ada yang sudah terukir di altar (tempat menaruh relikui), ada juga yang diletakkan dengan posisi tidur. Bila kedua jenis itu tidak ada, maka ada yang menggunakan salib dengan posisi berdiri yang dapat dilihat oleh umat tetapi salib tersebut tetap menghadap ke imam, bukan menghadap umat.

Apakah umat tidak perlu mengarahkan pikiran kepada Kristus juga? Dalam Gereja, umumnya sudah ada Salib Besar di dinding. Oleh karena itu, umat juga harus mengarahkan pikiran kepada Kristus. Namun perlu kita ketahui bahwa puncak dan inti Perayaan Ekaristi bukanlah pada salib, bukan pada mimbar, dan bukan pula di depan patung Bunda Maria yang telah dipasang lilinnya, melainkan di Altar Tuhan, dimana Kristus hadir secara nyata dalam bentuk roti dan anggur. Melalui imam, peristiwa agung itu dihadirkan kembali. Oleh karena itu, alasan mengapa salib itu lebih penting untuk imam, karena imam harus lebih terfokus pada Kristus yang dihadirkan kembali itu, agar umat juga bisa terarah kepada-Nya.

Bagaimana kalau Perayaan Ekaristi itu dilaksanakan di rumah umat, dan tidak ada salib besar di dinding. Salib Kecil menghadap kemana? Jawabannya tetap sama. Kalau dalam Perayaan Ekaristi, maka salib kecil di altar tetap menghadap ke Imam. Alasan yang sama seperti dituturkan di atas berlaku untuk ini, meskipun Perayaan Ekaristi dilaksanakan di rumah umat. Semoga hal ini dapat membantu dan menambah pengetahuan kita tentang iman. **Fidelis Harefa

Pertanyaan: 
Adakah sejarah atau sebab apa "Tanda Salib" itu bisa ada dan di pakai dalam Gereja Katolik? 

Jawaban:
Gambar dari: parokisalibsuci.org
Pertanyaan ini kelihatannya sederhana tetapi tidak mudah dijawab, sebab menyangkut sejarah. Alasan lain adalah banyak hal dari tradisi Gereja awal tidak tercatat dan tersimpan. Situasi Gereja yang dalam pengejaran menyebabkan banyak hal tidak terdokumentasikan dengan baik. Oleh karena itu, sejarah tentang tanda salib secara mendetail tidak dapat dituliskan dengan sempurna. Yang bisa dikatakan tentang tanda salib bahwa kebiasaan umat Katolik membuat tanda salib ini sudah berakar sejak lama. Berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, orang Kristen sudah menggunakan gerakan tanda salib sejak abad II, bahkan dari Alkitab Perjanjian Lama, dan juga Perjanjian Baru.

Beberapa kutipan berikut barangkali bisa memberikan pencerahan:

  1. Tertulianus (wafat 230 M), mengatakan dalam De Cor Mill, III: "In all our actions, when we come in or go out, when we dress,when we wash, at our meals, before resting to sleep,we make on our forehead the sign of the cross. These practices are not ommitted by a formal law of scripture, but tradition teaches them, custom confirms them, an faith observes them". Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita menandai dahi kita dengan tanda salib.
  2. Cyril dari Yerusalem (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36) mengajarkan, “Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat.”
  3. St. Ephrem dari Syria (373) mengajarkan, “Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar darin pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembik yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini.”
  4. St. Yohanes Damaskus (676-749) mengajarkan, “Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya.” [Ref]
Membuat tanda salib sebenarnya bukan hanya tradisi Gereja Katolik, tapi merupaka tradisi Kristen pada awalnya. Martin Luther (tokoh reformasi) sendiri sebetulnya tidak pernah bermaksud menghilangkan tradisi ini. Contohnya, dalam buku Katekismus Augsburg (dan Heidelberg) Martin Luther masih menganjurkan penggunaan tanda salib sebelum berdoa harian pada waktu pagi dan petang. Tetapi entah mengapa dalam terjemahan bahasa Indonesia, bagian ini hilang. 

Katekismus Gereja Katolik 2157.
Warga Kristen memulai harinya, doanya, dan perbuatannya dengan tandasalib: "Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin". Sebagai orang yang dibaptis ia mempersembahkan hari itu untuk kemuliaan Allah dan memohon rahmat Penebus, yang memungkinkan dia bertindak dalam Roh Kudus sebagai putera Bapa. Tanda salib menguatkan kita di dalam percobaan dan kesulitan.

Yang paling penting dari "membuat Tanda Salib" adalah memahami makna dan arti dari aksi itu. KGK 786. "Semua orang, yang dilahirkan kembali dalam Kristus, dijadikan raja oleh tanda salib, sementara urapan Roh Kudus mentahbiskan mereka menjadi imam. ..." 

Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu: 
  1. Kemanunggalan dari Allah Trinitas, 
  2. Salib menunjukkan keadilan Allah, yang menunjukkan betapa kejamnya akibat dosa kita, sehingga Allah sendiri yang menebusnya dengan wafat-Nya di salib itu (lih. Gal 3:13); 
  3. Salib menunjukkan kasih Allah yang terbesar, yaitu bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (Yoh 15:13) agar kita dapat diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16); 
  4. Salib yang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), dan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Bahkan Rasul Paulus sendiri bermegah dengan pewartaan salib Kristus (Gal 6:14), sehingga wajarlah jika kita sebagai pengikut Kristus membawa makna tanda salib ini kemanapun kita berada. [Ref].
Dalam perjalanan hidup sehari-hari, kesaksian banyak umat mengatakan bahwa membuat tanda salib merupakan doa yang sangat sempurna dan singkat bagi mereka yang oleh alasan tertentu tidak ada waktu untuk berdoa. Tentu saja hal ini tidak menjadi alasan untuk tidak memberikan waktu untuk berdoa. Namun sesulit-sulitnya menyempatkan waktu berdoa sepanjanga hari, membuat tanda salib menjadikan mereka tenang dan merasa berada "Dalam perlindungan Bapa, Putra dan Roh Kudus".

Fidelis Harefa - dari berbagai sumber.



MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget