MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Edukasi"

Kitab Suci Kristen melukiskan bahwa Allah itu Mahakuasa, Maha pengasih dan Maha penyayang. Dan Gerejapun mengajarkan hal serupa kepada umat beriman bahwa Allah itu pencipta segala yang baik dan Dia adalah penggerak pertama (Actus Purus), tidak ada kuasa yang lebih besar di luar kuasa-Nya.

Namun bila berhadapan dengan penderitaan di bumi, manusia terkadang bertanya, benarkah Allah itu mencipta baik adanya? Benarkah Tuhan itu Maha pengasih dan penyayang? Kalau memang Allah itu pengasih dan penyayang, bagaimana mungkin penderitaan itu ada di muka bumi ini? Dan yang menjadi persoalan lain yakni mengapa penderitaan itu harus dialami juga oleh orang-orang yang baik dan saleh? Dan mengapa Allah itu tidak menghukum orang jahat?

Pertanyaan-pertanyaan refleksif di atas tadi mengajak kita untuk mencoba mengerti dan memahami makna penderitaan di bumi dan bagaimana iman Gereja berbicara tentang penderitaan manusia di bumi. Penderitaan bagi kebanyakan orang selalu dihubungkan dengan dosa (hukuman Tuhan) sedangkan sebagian lagi memahami penderitaan secara positif yakni sebagai batu uji menuju keselamatan.

Beberapa Pandangan Tentang Penderitaan

Menurut Kitab Suci, penderitaan merupakan sesuatu yang tidak baik atau sesuatu yang sama sekali berlawanan dengan apa yang dikehendaki baik berhubungan dengan fisik maupun psikis. Penderitaan ini bisa mencakup penderitaan fisik, emosional, penderitaan karena orang lain atau demi orang lain. Mengapa manusia menderita? Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama melukiskan bahwa penderitaan tidak dikehendaki Allah. Dasar biblisnya yakni Kej. 3:1-24 yang mengungkapkan bahwa Allah pencipta tidak menghendaki adanya penderitaan. Demikian juga dengan Kej. 1:1-2:4.a yang mengatakan bahwa, Allah melihat bahwa semuanya baik. Penderitaan dan kematian justru ada setelah manusia jatuh dalam dosa dan diusir oleh Allah dari Taman Eden (Firdaus) Kej. 2:4.a-3:24.

Penderitaan dalam arti umum dan mendasar merupakan bagian dari penderitaan manusia. Penderitaan itu mencakup keseluruhan hidup manusia baik secara jasmani maupun rohani (somatis-psikologis karena antara keduanya tak dapat dipisahkan satu dengan yang lain lain). Dari kaca mata psiko-spiritual melihat bahwa penderitaan jasmani tidak melulu hanya disebabkan oleh hal-hal atau faktor fisik melulu tetapi juga dipengaruhi sikap hidup, perasaan, relasi dan konflik.

Maka benar apa yang dikatakan Plato bahwa kesalahan besar pengobatan sakit jasmani adalah bahwa dokter melalaikan keseluruhan. Belajar dari kebijaksanaan zaman dulu bahwa kesehatan yang benar dan sejati tercapai apabila orang hidup dalam harmonis dengan dirinya, orang lain dan lingkunganya dan tetap bersikap seimbang menhadapi perubahan-perubahan dan tantangan dan mengembangkan kekuatan penyembuhan dari dalam diri sendiri. Atau dengan kata lain, sehat mencakup keseluruhan dan utuh (wholeness). Penderitaan sendiri pada dirinya tidak pernah baik tetapi menjadi tugas dan panggilan kita untuk menyembuhkannya. Penderitaan mestinya diterima sebagai sumber kekuatan untuk mentransformasi diri dan membiarkan penderitaan itu meragi diri kita.

Yesus sendiri menerima salib, penderitaan dan kematianNya dan akhirnya menjadi saluran cinta yang membebaskan. Maka bagi orang kristen salib yang diterima seharusnya menjadi sarana yang membebaskan. Dan dengan salib itu, kita juga membiarkan kekuatan yang sama mengalir. Memang tidak semua penderitaan adalah salib tetapi setiap penderitaan dapat ditebus oleh salib.
Pandangan moral katolik cenderung memahami penderitaan dalam kaitannya dengan keterlibatan Tuhan dalam kehidupan manusia. Penderitaan tidaklah semata-mata karena kelemahan biologis manusiawi tetapi juga terjadi karena dosa.

Setelah memahami beberapa pandangan tentang penderitaan di atas, apakah pandangan kita tentang penderitaan itu sendiri? Adakah kita melihat penderitaan sebagai hukuman atas dosa-dosa kita? Adakah kita melihat penderitaan sebagai sebuah ketidakadilan dari pihak Allah? Adakah penderitaan kita lihat sebagai awal sesuatu yang baru?

Apakah Tuhan menciptakan penderitaan?

Saya kira jawabannya tetap menjadi suatu misteri. Namun untuk mengerti hal ini, kita mesti memahami ungkapan dalam Perjanjian Lama yang menyatakan bahwa Allah menjadikan langit dan bumi, terang dan gelap, kebaikan dan penderitaan. Ungkapan ini hendak menunjukkan bahwa Allah adalah penguasa segala sesuatu, Allah berkuasa atas seluruh jagat raya dan yang ditekankan lagi yakni ke-Esa-an Allah. Ungkapan pohon pengetahuan yang baik dan jahat menunjukkan privelege Allah. Ini berarti penderitaan itu sendiri misteri yang hanya dapat dimengerti dan diselami dengan hati penuh iman akan kasih Tuhan yang senantiasa berlimpah untuk manusia.

Memaknai Penderitaan

Kalau penderitaan sebagai akibat dari dosa dan atau sebagai bagian dari kehidupan manusia seperti dituturkan di atas, apakah kita menerima atau menolak penderitaan begitu saja? Penderitaan tidak hanya bernilai negatif melainkan juga mengandung nilai positif. Nilai positifnya: penderitaan merupakan sarana pendidikan. Allah memakai penderitaan untuk mendidik umat-Nya. Melalui penderitaan, orang dituntun kembali pada kebahagiaan dan kesetiaan. Penderitaan juga berperan sebagai batu uji untuk memurnikan manusia dan mendekatkannya kepada Allah. Melalui pendertiaan, Allah mengharapkan manusia untuk merubah pola laku dan untuk makin paham akan nilai atau makna cinta dan kehidupan.

Lebih dari itu, setiap penderitaan, sakit dan atau musibah yang terjadi dapat menjadi koreksi bagi setiap orang. Koreksi akan apa yang pernah dilakukan di masa yang lalu demi masa depan yang lebih baik. Orang yang berpikir jernih dan profesional tidak perlu melemparkan kesalahan kepada orang lain kalau menemui kesulitan. Tidak perlu mencari tumbal, yang menjadi korban sebagai pelampiasan amarah, rasa kecewa atau sakit hati. Karena, berbuat demikian, bukannya mengurangi penderitaan tetapi malah semakin masuk ke dalam penderitaan itu dan hidup dalam kecemasan dan kegelisahan batin yang tak henti-hentinya.

Penderitaan bisa saja datang dalam berbagai bentuk yang sederhana. Saat harga diri terancam, saat keinginan kita tidak tercapai, saat ada orang yang menghambat kecenderungan kita, saat ada orang yang mengetahui dan mengorek kesalahan kita, dll. Semua itu datang dalam porsinya masing-masing. Menutup mata dan diri terhadap semua itu tidak membawa perubahan, malah akan membawa ke kehancuran yang kekal dan pada akhirnya jatuh dan malu.

Masalah, musibah, penyakit dan aneka macam hal yang merugikan dapat dilihat sebagai acuan untuk mengoreksi diri. Perlu pembuktian dan menggali maknanya. Yang disayangkan adalah bahwa tidak semua orang mempunyai pemahaman yang sama dalam melihat penderitaan.

Berhadapan dengan pengalaman derita manusia atas penderitaan, Gereja ditantang untuk menunjukkan sikap yang benar dan tepat. Gereja mesti mengikuti teladan Yesus yang dengan murah hati melayani dan menyembuhkan orang sakit dan menderita. Meneladani jiwa dan teologi kegembalaan Yesus yang mencari domba yang hilang dan membawanya kembali, bukan membiarkan atau mengusirnya. Gereja mesti menunjukkan diri sebagai sarana keselamatan dengan menjalankan Tugas Gereja Membimbing, Memimpin, dan Menguduskan melalui pelayanan sakramen-sakramen, khususnya sakramen-sakramen Penyembuhan (Pengurapan dan Tobat).

Fidelis Harefa

Dalam situasi dan kondisi tertentu setiap orang pasti menjadi bagian dari suatu bentuk kebersamaan atau organisasi seperti keluarga, di mana mau tidak mau orang harus memainkan peran sebagai pemimpin. Ada beberapa proses tampilnya soerang pemimpin. (1) Seseorang bisa tampil sebagai pemimpin karena ia lahir dengan bakat untuk menjadi pemimpin. (2) Seseorang bisa tampil sebagai pemimpin sebagai hasil pendidikan dan pelatihan. (3) Seorang pemimpin itu “dibuat sendiri” (self-made).

Menurut Stephen R. Covey dan banyak penulis terkenal lainnya, “Pemimpin tidak dibuat dan tidak dilahirkan, tetapi dibuat sendiri”. Kepemimpinan adalah sebuah “fungsi” dari pilihan; dengan kata lain, kepemimpinan terkait erat dengan pilihan. Seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik, kalau ia sendiri dapat memimpin dirinya sendiri berdasarkan pilihan-pilihan yang dibuatnya. 

Ada beberapa paham tentang kepemimpinan sebagai berikut:

1. Ken Blanchard & Phil Hodges: Kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi (cara berpikir, perilaku, perkembangan orang) untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan mencakup bimbingan dan dorongan kepada orang lain. Kepemimpinan berusaha mengembangkan karakter yang dibutuhkan dalam diri orang. Dua hal terpenting adalah pertama, mempengaruhi orang lain entah secara positif maupun negatif. Kedua, pilihan personal tentang cara dan untuk apa pengaruh itu digunakan. Dalam pilihan yang dibuat, terletak mutu dan moralitas dari kepemimpinan seseorang, apakah untuk kepentingan dirinya sendiri atau kepentingan orang yang dipimpin (self-centered atau other-centered), melayani atau dilayani.

2. Stephen R.Covey: Kepemimpinan  adalah mengkomunikasikan kepada orang lain nilai dan potensi mereka secara amat jelas sehingga mereka bisa melihat hal itu dalam diri mereka. Pandangan seperti itu sudah lama dihayati dan diamalkan oleh banyak orangtua dalam mendidik anaknya. Pendidikan atau education berasal dari bahasa latin educatio. Educatio berasal daari kata kerja educare yang secara harafiah berarti menghantar (ducere) keluar (ex). Pendidikan berarti membantu anak didik mengetahui dan mengeluarkan potensi yang dimilikinya. 

Kepemimpin berarti membantu orang lain untuk mengenal seperangkat nilai yang menjadi arah hidupnya dan sekaligus memberdayakan untuk dapat memimpin diri sendiri. Orang seperti itu adalah orang yang bertanggungjawab atas hidupnya sendiri. Tanggungjawab (responsible): dapat memberikan jawab terhadap nilai tertentu atau dapat memperhitungkan (accountable) nilai tertentu dalam setiap sikap dan perilakunya. 

Kepemimpinan berarti memberdayakan orang lain. Kepemimpinan itu membantu orang lain untuk menentukan arah hidupnya sendiri (menjadi lokomotif) berdasarkan potensi yang ia miliki. Ia tidak lagi menjadi korban (victim) masa lampaunya, lingkungannya atau situasinya saat ini. Ia dapat dan harus menjadi lain (to make difference). 

Kepemimpinan berarti mengilhami orang lain untuk menemukan suara panggilannya yakni kerinduan terdalam untuk menjalani kehidupan yang hebat, yang agung, dan memberi sumbangan nyata – untuk sungguh-sungguh merasa penting, untuk membuat perbedaan yang benar-benar nyata. Bandingkan Yoh 10:10. Orang menjalani hidupnya sesuai dengan arah (visi) yang dipilihnya sendiri. Kepemimpinan model ini adalah kepemimpinan yang melayani.

3. Kepemimpinan Kristiani: adalah memberdayakan orang dengan teladan, bimbingan, kepedulian, pengertian, kepekaan, kepercayaan, penghargaan, dorongan, peneguhan dan berbagi visi (Robert Greenleaf). Kepemimpin Kristiani berawal dari hati dan pikiran (=sikap). Kepemimpinan Kristiani adalah kepemimpinan pelayanan (servant leadership) mengikuti teladan Kristus. Dengan kata lain seorang yang mau menjadi pemimpin, ia harus memimpin seperti Yesus (Lead like Jesus). Inti dari kepemimpinan Kristiani adalah pelayanan yang rendah hati dan sikap yang paling penting adalah sikap seorang pelayan. 

Menurut Dr. Paul J. Meyer: “Sikap terpenting adalah sikap seorang pelayan. Orang yang mencapai sukses besar dalam bisnis adalah mereka yang secara konsisten mengembangkan sikap seorang pelayan … Mengembangkan sikap pelayan di segala bidang kehidupan, merubah diri anda. Ia merubah cara anda berhubungan dengan orang lain di rumah, dalam bisnis anda, dalam semua kontak sosial dan dalam hidup rohani anda” (Developing a Servant Heart).

Pemimpin-pemimpin yang sangat efektif dinilai sangat berhasil karena mereka secara konsisten menganggap dirinya sebagai pelayan. Mereka ingin melayani orang lain karena mereka mencintai orang lain. 

Ada beberapa ciri pemimpin yang mempunyai hati seorang pelayan:
  1. merasa disemangati oleh apa yang mereka lakukan.
  2. senantiasa penuh entusias terhadap hasil yang dicapai oleh pelanggan atau anggota teamnya.
  3. menatap hari esok penuh pengharapan.
  4. selalu berusaha membangun suatu organisasi yang aktif.
  5. selalu dikelilingi oleh anggota team yang positif dan produktif

Seorang pemimpin pelayan yang efektif berfokus pada:
  1. memberdayakan (empowering) orang lain dengan memberi mereka tanggungjawab yang jelas, mengkomunikasian arti pekerjaan yang dilakukan, menyediakan kesempatan bagi pengembangan pribadi dan peningkatan ketrampilan, mengakui nilai dan pentingnya setiap anggota team.
  2. membebaskan (freeing) orang untuk menggunakan talenta, pemikiran, pandangan dan ketrampilan problem-colving yang kreatif.
  3. melayani (serving) orang lain dengan memberikan kontribusi bagi pertumbuhan dan perkembangan dirinya (people-oriented quiet power).

Refleksi:

Kasih adalah fondasi dari kepemimpinan pelayanan – kasih kepada Allah yang tercermin dalam pelayanan kepada sesama. Kasih yang telah mendorong Yesus untuk membasuh kaki para murid-Nya. Kasih juga telah mendorong Yesus untuk menderita di Taman Zaitun dan Kalvari. Kepemimpinan Kristiani yang sejati tidak pernah memperhitungkan ongkos yang harus dibayar dan tidak punya ukuran pembatas.

Robert Greenleaf: Pemimpin pelayan pertama-tama adalah seorang pelayan. Itu mulai dengan perasaan alami bahwa ia ingin melayani. Melayani adalah paling pertama. Kemudian secara sadar ia memilih untuk menjadi memimpin. Orang seperti itu pasti jauh berbeda dengan orang yang lebih dahulu menjadi pemimpin karena dorong untuk mendapatkan kuasa atau meteri. Untuk orang seperti itu melayani merupakan pilihan kedua sesudah kepemimpinan dibangun.

P. Alex Dato'L, SVD

Setiap tanggal 22 Desember, kita memperingati Hari Ibu. Hari ini menjadi hari di mana kita mengingat dan mendoakan seorang ibu yang telah berperan dalam kehidupan kita. Ibu yang hidup dan hadir dalam peradaban. Peradaban dengan aneka tradisi dan adat istiadat. Meskipun penghargaan terhadap peran Ibu ditentukan oleh sebagian adat dan tradisi, ada satu hal yang perlu dipahami bahwa "sama seperti seorang pria" demikian juga wanita memiliki hak untuk menikmati kebebasan dan kebahagiaan.

Paus Yohanes Paulus II pernah memberikan pengajaran tentang martabat dan panggilan perempuan dalam keluarga, Gereja dan dunia, dalam surat Apostoliknya, Mulieris Dignitatem (MD) dan Familiaris Consortio (FC). Hal berikut adalah merupakan poin penting dari kedua Surat Apostolik di atas:

Dalam kisah penciptaan, wanita diciptakan dari tulang rusuk, bukan dari tulang kaki atau tulang lainnya. Dalam kursu persiapan perkawinan sering dijelaskan bahwa hal ini sangat menunjukkan kesepadanan antara keduanya. Pria dan wanita saling melengkapi, bukan saling menguasai. (bdk. MD 6).
Pria maupun wanita sama-sama diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, yang artinya adalah diciptakan sebagai mahluk yang berakal budi dan mempunyai kehendak bebas sehingga mampu mengenali dan mengasihi Allah (lih. MD 7). Selain itu, kesejajaran pria dan wanita menunjukkan bahwa keduanya diciptakan untuk kesatuan agar mereka dapat hidup dalam persekutuan kasih, dan dengan demikian mencerminkan persekutuan kasih di dalam Allah Trinitas (lih. MD 7). Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus di dalam kesatuan-Nya terdiri dari Tiga Pribadi yang saling mengasihi dengan kasih ilahi, sebab Allah adalah kasih (lih. 1Yoh 4:16). Maka manusia juga dipanggil ke dalam persekutuan kasih ini, yang realisasinya dipenuhi “melalui pemberian diri yang tulus” (MD 7). Jadi jika dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, artinya adalah bahwa manusia dipanggil untuk menjadi ‘pemberian' bagi orang lain. 
Tugas dasar keluarga adalah untuk melayani kehidupan- termasuk di sini adalah menyalurkan kehidupan, pada saat persatuan kasih suami istri, dan dengan demikian pasangan turut mengambil bagian di dalam misteri penciptaan Allah (lih. FC 28). Sebagai pasangan, baik suami maupun istri meneruskan karunia kehidupan yang dipercayakan kepada Allah kepada mereka dan karena itu dalam perencanaan keluarga, cara yang diperkenankan adalah perencanaan KB alamiah (lih. FC 33).
Kesepadanan antara pria dan wanita kiranya menjadi acuan permenungan dalam memperingati hari Ibu. Bila menelisik kembali bagaimana status seorang Ibu dalam rumah tangga dari masa ke masa, di beberapa daerah masih terlihat ada diskriminasi. Peran seorang ibu selalu dinomorduakan. Oleh karena itu, alasan tradisi atau adat istiadat tidak lagi dibenarkan setelah dijiwai oleh iman kepada Kristus.

Penghargaan terhadap peran Ibu merupakan jawaban atas realitas yang selama ini telah terjadi. Ada banyak pahlawan perempuan yang memperjuangkan nasib kaumnya. Perjuangan Emansipasi Wanita (tidak ada Emansipasi Pria) adalah wujud dari keprihatinan masa lalu, dan hingga saat ini masih meninggalkan jejak oleh batas tradisi dan adat istiadat. Dalam UU HAM, pengaturan tentang perlindungan terhadap wanita diatur secara khusus, dan tidak ada aturan yang mengatur tentang hak laki-laki. Ini merupakan bukti bahwa di masa lalu, kaum ibu masih mendapat perlakuan yang berbeda.

Kini, dengan berbagai upaya, baik dari pemerintah maupun Gereja, peran perempuan semakin dihargai dan ditempatkan setara dengan pria.

Berikut ini adalah pernik refleksi, dari P. Frieds Meko, SVD, yang ditulis di halaman facebook pribadinya, menyentuh hati kita bagaimana peran seorang ibu dalam hidup kita.

PADA HARI IBU

Ibu adalah dia yang saat dipinang ayah, rindu membangun harapan untuk menenun hidupku dalam rahimnya.
Selama delapan atau sembilan bulan di rahimnya, aku begitu bahagia menikmati kebebasan yang tak ternoda.
Begitu aku keluar dari sana dan menikmati dunia ini, aku otonom dan mencoba hidup dengan kebebasan yang terbatas.
Namun ibu tetap berjuang dengan derai keringat dan air mata, hanya untuk menghantar aku menggapai masa depanku.
Setiap tetes keringat dan airmatanya adalah untaian mutiara yang kelak dikalungkan pada leherku.
Ibuku adalah kisah tiada akhir dan cinta tak bertepi. Bersama ayahku, mereka menggubah melodi harmonis dalam gubuk kami.
Di sana kami mengalami "sekeping surga" yang tak akan terlupakan.
Terimakasih ibu. Dan SELAMAT UNTUKMU di hari ini. Hari yang dibaktikan untuk menghargai KENYAMANAN KANDUNGANMU saat engkau menatang kami di sana.

SELAMAT HARI IBU 

Bulan-bulan terakhir, negara Indonesia dihinggapi kecemasan luar biasa. Cemas akan kehilangan pengakuan atas kebhinekaannya, cemas akan hilangnya pengakuan adanya perbedaan, cemas akan kehilangan harta dalam aksi-aksi demonstrasi bahkan ada yang cemas kehilangan nyawa di bumi yang sangat menjamin kebebasan beragama ini.

Kecemasan lainnya, adanya razia "atribut natal" yang digelar oleh orang-orang yang mengaku memiliki hukum yang lebih tinggi di atas Pancasila, UUD 1945 dan Undang-Undang lainnya yang dibuat oleh lembaga resmi negara. Bukan main gaduhnya Indonesia, dengan hadirnya ORMAS yang levelnya terkesan lebih berkuasa dari negara. Mereka menganggap bahwa negara ini berdiri karena kelompoknya saja, dan yang lainnya adalah perantau, imigran dan lain sebagainya.

Om Telolet Om

Dari aneka kegundahan yang terpatri di hati rakyat, apa lagi menjelang akhir tahun 2016, hadirlah "Om Telolet Om" menjadi benang panyambung dari sekian kekusutan. Paling tidak, bersama "Om Telolet Om" rakyat yang tadinya diliputi kecemasan masih mampu menikmati hiburan "Om Telolet Om", masih mampu tertawa bersama, masih mampu beraksi bersama untuk memperkenalkan "Om Telolet Om".

Mengapa mendadak enjoy bersama "Om Telolet Om? Hal sesungguhnya yang ada dibalik tawa dan senyum hambar itu adalah sebuah kejenuhan. Jenuh mendengar isu politik yang makin tak mendidik. Jenuh menyaksikan panggung di mana nilai-nilai moral dipermainkan seperti bola sepak. Jenuh menyaksikan di mana Tuhan diklaim oleh sekelompok orang, dan yang lainnya adalah KAFIR. Jenuh melihat para penuntut keadilan "penista agama" dengan "menista agama" itu sendiri. Dan akhir dari kejenuhan itu, beralih sejenak bersama "Om Telolet Om".

Barangkali yang menjadi pertanyaan, mampukah "Om Telolet Om" ini mengembalikan keceriaan para penganut agama yang sedang dan akan merayakan hari raya keagamaannya di Negara Indonesia yang "menjamin kebebasan beragama" ini? Ini adalah nilai yang menohok kemerosotannya menjelang akhir tahun 2016. Mampukah sederet refleksi tanpa aksi memberi solusi atas ketidaknyamanan yang telah diciptakan akhir-akhir ini?

Ddiantara beberapa kecemasan dan pertanyaan diatas, yang bisa kita tarik kesimpulan adalah masyarakat telah jenuh melihat, mendengar, dan mengkhawatirkan persoalan negara ini sampai sampai masyarakat mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal yang menghibur, meskipun itu terkesan konyol. Fenomena 'Om Telolet Om" setidaknya mengobati rasa rindu masyarakat terhadap persatuan dan kesatuan serta kesejahteraan negeri ini. Kendatipun pemerintah tidak bisa mewujudkan impian masyarakat, bunyi klakson telolet memberikan harapan baru. Merajut tawa bersama meskipun banyak perbedaan di masyarakat, namun persatuan dan kesatuan tetap "TELOLET!". [fh]

Ilustrasi dari newsth.com

Wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy untuk menghapus Ujian Nasional (UN) menggoda penulis untuk menyebutkan beberapa kejadian yang menjadi rahasia umum dalam dunia pendidikan kita selama diberlakukannya UN. Rahasia Umum yang dimaksud adalah suatu kejadian yang eksistensinya berada antara diakui dan tidak, tergantung siapa pendengarnya dan siapa pelakunya.

Sebelum menuliskan beberapa kejadian dimaksud di atas, kita harus sepakat lebih dulu bahwa UN bertujuan untuk menguji komptensi siswa menggunakan standard nasional. Dengan istilah lain, UN merupakan evaluasi tahap akhir yang harus ditempuh oleh siswa dalam desain ujian berstandar nasional. Sejak tahun 1950-an, istilah yang digunakan untuk menyebut evaluasi tahap akhir ini sangat berbeda-beda. Selain dipengaruhi oleh perubahan kurikulum, juga dipengaruhi oleh beberapa kebijakan antara pemerintah dan sekolah.

Kalau kita sebut istilah-istilah itu: Ujian Penghabisan (UP) sekitar tahun 1950-an, Ujian Sekolah (US) pada tahun 1970-an, Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) dan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS) sekitar tahun 1980-an, Ujian Nasional (UNAS) pada tahun 2000 dan Ujian Nasional (UN) sejak tahun 2005. Semua istilah itu merujuk pada evaluasi akhir yang harus ditempuh oleh siswa ditiap jenjang pendidikan, SD, SLTP dan SLTA. Apalah arti sebuah nama atau istilah bila semuanya merujuk pada hal yang sama yakni Standar Nasional.

Ujian Berstandar Nasional harus menggunakan standar yang telah ditetapkan secara nasional. Untuk ini, kita harus merujuk pada 8 (delapan) standar yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai berikut: Standar Kompetensi Lulusan Standar Isi Standar Proses Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Standar Sarana dan Prasarana Standar Pengelolaan Standar Pembiayaan Pendidikan Standar Penilaian Pendidikan Karena standar nasional telah ditetapkan, maka evaluasi akhir pun harus mengikuti kriteria tersebut sehingga sesuailah istilahnya dengan Ujian Nasional yang diwacanakan akan dihapus. Berdasar pada standar di atas penulis menyebutkan beberapa hal yang menjadikan UN layak dihapus.

UN Jadi Momok

Beberapa penulis telah menyebutkan muatan-muatan negatif dari UN seperti biaya mahal, tingkat kesukaran tinggi, sarat dengan kecuarangan dan lain sebagainya. Apakah benar demikian? Kejadian-kejadian ini memang harus dilihat dari sudut pandang masyarakat di pedalaman, yang jauh dari kelengkapan sarana dan prasarana, jauh dari kriteria mutu yang diharapkan secara nasional.

Agar hasil sesuai standar, maka ada istilah Pengawasan Silang yang menggunakan biaya besar. Seorang Guru tidak boleh mengawas di sekolahnya sendiri. Biaya akomodasi dan transportasi ditanggung oleh pemerintah. Lagi-lagi, agar hasil sesuai standar maka ujian diselenggarakan dengan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang kemudian memunculkan standar ganda. Standar pertama adalah hasil UN yang diperoleh melalui UNBK dan hasil UN yang diperoleh dengan cara biasa yakni melalui LKS yang diisi di selembar kertas. Terjadilah sulap-menyulap nilai. Siswa yang sama sekali tidak memenuhi standar nasional dari segi sarana dan prasarana atau siswa yang mengisi LKS dalam bentuk kertas terkadang memperoleh nilai lebih tinggi daripada siswa yang mengikuti UNBK. Anehkan? Inilah yang disebut sebagai kecurangan.

Akhirnya beberapa kemungkinan mulai diramalkan. Ada bocoran soal, guru membantu siswa, guru bisa mengubah jawaban siswa dan lain sebagainya menjadi isu menarik. Lagi-lagi, agar sesuai standar, maka bagi mereka yang memperoleh nilai tidak baik, boleh mengikuti Ujian Nasional Perbaikan (UNP). Berbagai kemungkinan kepentingan potensial muncul di sana. Andai saja Pasukan SABER Pungli sudah ada sejak diberlakukan UN, mungkin sudah banyak juga yang tersapu bersih dan diseret ke pengadilan.

Kegunaan Nilai UN

Nilai UN kemudian dicatat dalam sebuah Surat Keterangan Hasil Unjian Nasional (SKHUN) atau nama lain juga dikenal dengan Sertifikat Hasil Ujian Nasional (SHUN) yang dulu sering dikenal dengan isitlah Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) ditambah dengan Daftar Nilai EBTANAS Murni (DANEM) atau lebih krennya ijazah. Dalam konteks UN, sejauhmana SKHUN dapat digunakan sebagai acuan mengukur kompetensi siswa? Nyaris tak digunakan selain sebagai syarat formalitas belaka. Hal ini terbukti dengan beberapa seleksi yang diberlakukan saat masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Seleksi masuk PTN didasarkan pada hasil prestasi siswa yang dicatat dalam rapor siswa oleh sekolah. Nilai rapor selama 5 (lima) semester menjadi syarat utama, bukan SHUN yang merupakan hasil ujian di semester terakhir. Kalau demikian, UN diselenggarakan untuk apa? Makna standar nasionalnya di mana?

Pengaruh UN dalam Sistem Pendidikan 

Kembali ke judul di atas, dan beberapa kejadian yang tidak terlalu banyak diketahui oleh publik, maka sesungguhnya UN hanya menjawab kebutuhan formalitas belaka. Tujuannya untuk memperbaiki mutu pendidikan nasional, tidak terlihat dalam proses seperti diuraikan di atas. Standar Nasional hanya dapat diberlakukan bila pembangunan sarana dan prasarana di seluruh wilayah Indonesia sudah merata, dalam hal ini merujuk pada sarana dan prasarana pendidikan yang memadai seperti di Ibu Kota. Bila kemudian, ada pro dan kontra terhadap penghapusan UN, itu wajar-wajar saja karena sudut pandang dan kepentingan yang berbeda terhadap UN menjadi taruhannya. Penulis sendiri lebih setuju UN dihapus demi terselenggaranya pendidikan yang lebih kontekstual. **(Fidelis Harefa).

"Soempah Pemuda 28 Okt 1928" adalah hasil jerih payah perjuangan masyarakat daerah yang saat itu memiliki kesamaan nasib, kesamaan sejarah, dan kesamaan cita-cita untuk hidup bersatu, mewujudkan kemerdekaan. Kemerdekaan pun tercapai pada 17 Ags 1945. Bangsa Indonesia telah mengalami beberapa masa transisi. Dari ORLA ke ORBA, dari ORBA ke Reformasi. Dan sekarang kita ditantang untuk merealisasikan Revolusi Mental. 
Kira-kira, KESAMAAN APA yg bisa kita jadikan basis kekuatan saat ini untuk mewujudkan CITA-CITA YG SAMA? Fenomena yg ada: Alasan otonomi daerah, masing-masing prov dan kabupaten punya kepentingan dan cita-cita. Alasan Independensi, masing-masing kelompok memiliki cita-cita dan kepentingan yg harus diperjuangkan. Alasan HAM, pemikiran primordialisme diakomodir sebagai salah satu poin penting dalam deretan perjuangan kekinian.
Kalau "kebersatuan" kita direduksi dalam "perang kepentingan", makna kekinian Soempah Pemoeda yang hari ini kita peringati seperti apa? 
Palangka Raya, 28 Oktober 2016 (88 Tahun Soempah Pemoeda). 

Teks di atas merupakan catatan lepas saya bertepatan dengan peringatan 88 tahun Sumpah Pemuda beberapa hari yang lalu yang saya tuliskan di halaman facebook pribadi. Catatan lepas ini menjadi acuan saya untuk melayangkan opini tentang topik Pemuda Di Era Digital. 

***

Ilustrasi dari codepolitan.com

Pemuda dulu sebelum kemerdekaan memang berbeda dengan pemuda sekarang. Ini harus disadari dan diakui. Pandangan ini sedikit kontra dengan pendapat kebanyakan orang. Tapi tidak apa, kita anggap saja sebagai salah satu pengingat di saat kita sedang terlena dalam kebanggaan kemajuan peradaban bangsa. Pendapat kontra tidak selamanya bermuatan negatif tetapi merupakan salah satu pandangan dari sudut berbeda tentang satu topik. Dari catatan lepas di atas, terlihat jelas perbedaan "tujuan" pemuda sebelum kemerdekaan, bukan perbedaan "instrumen" atau alat yang digunakan. Pemuda sebelum kemerdekaan membangun kesadaran bahwa ada kesamaan cita-cita, ada kesamaan tujuan, ada kesamaan sejarah, ada kesamaan nasib yang harus diobah, kemudian bermuara pada mewujudkan kemerdekaan".

Dari segi kecanggihan teknologi untuk penyebaran informasi, radio transistor merupakan instrumen paling canggih yang dapat menyebarkan informasi secara cepat di masa itu. Tapi karena keyakinan mereka begitu kuat untuk mewujudkan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain, akhirnya tercapailah tujuan itu dalam konteks persatuan dan kebersamaan. Pemuda yang dulu ikut mengikrarkan "Sumpah Pemuda" terlibat aktif hingga ada di antara mereka yang menumpahkan darah di medan pertempuran. Bertempur dengan "darah", mempertaruhkan "nyawa" demi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka.

Siapa pemuda saat ini? Apa peran mereka untuk bangsa Indonesia? Ini sebuah pertanyaan kritis di era digital. Bertanya tentang "siapa", ada kecenderungan sebagian orang mengeluarkan diri dari kelompok yang dimaksud. Ada yang merasa bukan pemuda karena memahami dalam konotasi harafiah, ada pula yang keluar dari zona pemuda karena merasa tidak mampu berbuat sesuatu atau melakonkan salah satu peran. Setuju atau tidak, pemuda dalam konteks ini adalah setiap orang yang potensial mampu berbuat untuk bangsa ini. Potensi untuk mepersatukan, potensi untuk memecah-belah, mewarnai kehadiran pemuda zaman sekarang. Dalam konteks digital, kita semua masuk di dalamnya, para pakar IT, para jurnalis dan semua orang yang memanfaatkan teknologi digital. Apa peran mereka untuk bangsa Indonesia? Mari kita lihat fenomena yang ada. Mari kita identifikasi realitas yang ada. Hal ini tidak berarti kita terkurung dalam sikap pesimis berlebihan. Kesempatan ini menjadi titik beranjak, titik tolak untuk sebuah perubahan.

Devide et Impera 

Rakyat Indonesia yang plural, multikultur sangat mudah dihasut, dan gampang menjadi penghasut. Ini merupakan catatan hitam dalam perjuangan bangsa Indonesia. Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun karena memanfaatkan politik devide et impera. Apakah Belanda yang menghasut? Jelas, bukan. Belanda hanya menawarkan sejumlah rupiah agar sesama rakyat Indonesia saling menghasut. Pola perilaku "gampang terhasut dan senang menghasut" merupakan sifat yang sudah ada sejak lama. Di saat kita sedang menikmati kemerdekaan dari tangan penjajah, bermunculan tokoh-tokoh rupiah baru yang ingin memecah-belah bangsa ini. Dalam konteks "era digital" senjata ampuh yang digunakan adalah teknologi digital ini. Media sosial, web portal informasi, video content dan lain sebagainya menjadi media untuk menghasut.

Peran Media Informasi

Pembentukan opini publik adalah tugas dan tanggung jawab media informasi. Oleh karenanya, dari dulu selalu ditekankan bahwa para jurnalis harus selalu netral. Ketika para jurnalis dalam menyampaikan informasi berada pada status "berat sebelah", opini publik pun "oleng", jalan menyamping seperti kapal yang nyaris tenggelam. Masih hangat diingatan kita istilah "Lonceng Kematian Keadilan, yang disampaikan oleh Otto Hasibuan dalam proses sidang Jessica, bukan?" Peran media dalam menyampaikan informasi bisa menggiring kita pada pembunuhan karakter dan menenggelamkan keadilan. Media informasi terkadang jauh lebih kuat daripada hukum.

Digitalisasi Tuhan 

Ini mungkin lebih parah. Tuhan yang dari 'adanya" tidak terbatas pada ruang dan waktu diseret-seret dalam dunia digital. Direduksi dalam gambar-gambar tak senonoh, dikomersilkan dalam potongan video, digunakan sebagai alat untuk saling menghujat bahkan diseret pula dalam dunia politik. Ini semua adalah konsekuensi era digital yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Tuhan, yang dari sononya "memampukan" kita untuk berpikir, kini kita berbuat seolah-olah "lebih mampu dari Tuhan".

***

Beberapa hal di atas adalah fenomena yang sedang terjadi saat ini. Masih banyak lagi realitas yang dapat kita identifikasi dalam era digital. Dalam dunia politik dan birokrasi, teknologi digital lebih sering digunakan untuk menggelindingkan isu. Kita boleh saja bangga atas perkembangan teknologi yang begitu pesat, namun hal-hal yang fundamental dalam hidup berbangsa dan bernegara jangan dirusak.

Penipuan dan pencurian melalui teknologi digital bukan lagi hal langka. Kejahatan fisik di dunia nyata berpindah ke dunia maya menggunakan teknologi digital. Carding, Cracking, penyebaran video-video porno, pencemaran nama baik, prostitusi dari darat ke udara, pemerasan dan lain sebagainya merupakan efek penyalahgunaan teknologi digital.

Peran Pemuda di Era digital?

Bila kembali pada makna Sumpah Pemuda, seharusnya teknologi digital dimanfaatkan untuk senantiasa menjaga persatuan bangsa. Teknologi digital dipakai sebagai senjata untuk mengisi kemerdekaan, bukan mencemari kemerdekaan. Teknologi digital digunakan sebagai senjata untuk menyatukan, bukan memecah-belah. Teknologi digital dipakai untuk membangun keadilan, bukan mematikannya. Teknologi digital dipakai untuk MEMBESARKAN NAMA TUHAN, bukan merendahkan dan menghinanya, teknologi digital dipakai untuk ...

Fidelis Harefa

8:17 AM
Di suatu senja, seorang pastor yang sedang melakukan kunjungan ke rumah umat singgah di rumah seorang ibu yang baru saja pulang berjualan lemper. Si ibu mempersilahkan pastor masuk dan segera membuatkan secangkir kopi hitam. Si ibu senang sekali karena dalam kurun waktu 9 (sembilan) tahun terakhir, hari ini pertama sekali pastor parokinya berkunjung ke rumahnya. Di teras rumah si ibu masih diparkir gerobak jualan dan terlihat masih ada sisa lemper yang belum habis terjual. Sang pastor pun mengawali percakapan.

Pastor:  Sejak kapan ibu berjualan lemper? tanya seorang Pastor.
Ibu:       Sejak anak-anak saya belum bisa cari rejeki sendiri! Jawabnya.
Pastor:  O Begitu, jadi sekarang mereka sudah bekerja! Tanya Pastor.
Ibu:       Sudah, yang pertama di Kantor Gubernuran, yang kedua di Rumah sakit, yang ketiga di kantor   Walikota dan yang bungsu di kantor Pajak! Jawab si ibu.
Pastor:  Wah hebat sekali, ibu termasuk orang yang sukses dalam mendidik anak-anak, pasti mereka sudah punya jabatan ya? Tanya Pastor sambil manggut-manggut kagum.
Ibu:       Apanya yang hebat, yang penting mereka mau bekerja saja itu sudah cukup! Jawabnya lagi.
Pastor:  Sebaiknya ibu istirahat saja di rumah, gantianlah,  anak-anak yang bertanggung jawab terhadap orang tuanya! Saran Pastor.
Ibu:       Kalau saya tidak ikut kerja, mana cukup dengan penghasilan kami berlima ini. Sanggahnya si ibu.
Pastor:  Lho,  mereka berempat sudah bekerja di kantor pemerintah bukan? Punya jabatan, tentunya sangat cukup untuk biaya hidup berlima?Tanya Pastor heran.
Ibu:      Ah Pastor ini ngeledek, mereka berempat tidak punya jabatan, selain sebagai penjual lemper seperti saya. Jawabnya malu-malu.
Pastor:  Duh Gusti nyuwun kawelasan Dalem! Doa Pastor karena baru paham.


Karena telah 15 menit mengobrol dengan si ibu, pastor pun segera menghabiskan kopi dan lemper yang disuguhkan si ibu. Kemudian pastor pamit untuk melanjutkan kunjungan ke rumah umat yang lain. Pada hari itu sang pastor telah mengatur jadwal kunjungannya paling lama 15 menit di setiap rumah. Dalam perjalanan, sang pastor yang baru saja bertugas di paroki ini menyadari bahwa masih banyak umatnya yang hidupnya sederhana dan membutuhkan motivasi untuk tetap berjuang dalam menjalani hidup keseharian dan juga hidup rohani mereka. **Yusuf Wahyu Purwanto

Maria Jeny Elsiana
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling istimewa. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia diberikan kebebasan, akal budi, hati nurani, serta manusia juga diberikan tanggung jawab untuk merawat bumi dan segala sumber daya yang ada di bumi.

Ketika manusia memenuhi bumi dengan populasi yang lebih besar, mereka diharapkan mampu mengatur sumber daya yang ada di planet bumi ini. Manusia memiliki kemampuan merawat bumi, dan kemampuan itu menjadi alasan untuk kreatif merencanakan dan bekerja sama sehingga bumi sungguh menjadi hunian yang nyaman bagi semua makhluk hidup.

Sebagaimana makhluk hidup lainnya manusia memiliki kemiripan baik secara morfologis maupun anatomis termasuk mekanisme organis yang secara signifikan memiliki kesamaan biologis. Demikian juga kebutuhan akan makan/minum (nutrisi), kebutuhan bernafas, berkembang biak, menerima rangsangan, bergerak dan lain-lain yang merupakan ciri-ciri makhluk hidup. Tetapi, dibandingkan makhluk hidup yang lain, manusia memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yakni rasa ingin tahunya.

Manusia dapat melakukan sesuatu yang dapat membuat mereka berbeda dari pada hewan lainnya. Mereka dapat menyelesaikan sesuatu yang menakjubkan, yang makhluk lain tidak dapat lakukan. Manusia memiliki ide-ide baru, membangun rencana, bersiap untuk menghadapi masalah-masalah yang mungkin akan muncul, dan menjalankan rencana-rencana mereka sampai tujuannya tercapai. Kemampuan manusia merencanakan, berpikir, dan menyelesaikan sesuatu yang baru, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya adalah keunikan lain yang dimiliki manusia.

Keunikan  lainnya adalah kemampuan berbicara. Tidak ada di antara hewan lain yang mempunyai kemampuan berbicara seperti manusia. Komunikasi yang jelas dengan berbicara adalah penting untuk menguraikan rencana yang rumit agar dapat dikoordinasikan dan diselesaikan. Berbicara dan bahasa memungkinkan ide dapat dibagikan, didiskusikan, dan dievaluasi. Jika manusia tidak dapat berbicara, bagaimana mungkin mereka bisa berkomunikasi dan menjalin relasi yang baik dengan sesama manusia.

Hal unik yang lain adalah perpaduan kesadaran diri dan kebebasan kehendak. Sebagai manusia kita mampu mengenali diri kita sendiri sebagai satu individu dan membuat keputusan sehubungan dengan tingkah laku kita.

Bersyukurlah dan berbahagialah kita yang diciptakan sebagai manusia, karena kita adalah ciptaan Tuhan yang paling istimewa dan berharga. Tanggung jawab masing-masing kita adalah menghargai anugerah istemewa yang telah diterima dari Sang Pemberi hidup. **(Maria Jeny Elsiana: Mahasiswa STIPAS Palangka Raya)

Sekarang ini, zaman telah berubah. Bila era sebelumnya, subsidi dan hadiah itu sangat diagung-agungkan, apalagi bila itu diberikan oleh tokoh pemerintah atau pejabat yang sedang menjabat. Sesungguhnya, itu adalah bagian dari pembodohan yang telah berlangsung sehingga banyak orang mendambakan subsidi dan hadiah yang gratis itu.

Bila seseorang meminta ikan, berikanlah dia pancing. Kalau langsung memberikan ikan, dia akan kembali meminta ketika ikan yang diberikan itu sudah habis. Tapi dengan memberinya pancing, dia akan berpikir bahwa untuk mendapatkan ikan, harus pergi memancing. Jadi, jika dia membutuhkan ikan lagi, dia akan pergi memancing dan tidak lagi kembali kepada pemberi pancing.

Video berikut memberikan contoh yang paling nyata. Silahkan disimak.

Ilustrasi dari st285069.sitekno.com
Dari tahun ke tahun, kurikulum pendidikan kita semakin diperbaharui. Namun bagi seorang guru, sebagai ujung tombak pelaku pendidikan, harus tetap konsisten untuk menanamkan pendidikan nilai bagi anak didik. Ada 9 (sembilan) contoh yang paling memungkinkan mendukung tercapainya tujuan ini.
  1. Problem solving: Bila ada masalah, misalnya terjadinya perkelahian atau prestasi kelas merosot, bahkan juga prestasi sekolah merosot, siswa diajak atau dilibatkan dalam memecahkan persoalan ini.
  2. Reflective thinking/critical thinking: Siswa diajak untuk membuat catatan refleksi atau tanggapan atas bahan-bahan yang dibuat dalam kelompok. Misalnya artikel, foto, peristiwa, kasus, dan lain-lain.
  3. Group dynamic: siswa dibimbing untuk kerja kelompok secara kontinu dalam mengerjakan suatu proyek tertentu.
  4. Community building: siswa satu kelas diajak untuk membangun komunitas atau masyarakat mini dengan aturan-aturan, tugas-tugas, hak dan kewajiban, yang mereka atur sendiri secara demokratis.
  5. Responsibility building: siswa diberi tugas yang konkret dan diminta membuat laporan pertanggungjawaban secara jujur.
  6. Picnic: siswa harus diberi kesempatan untuk merancang kegiatan santai di luar sekolah. Ini juga mampu membangkitkan daya kreatif siswa untuk merencanakan sesuatu, termasuk membiasakan mereka untuk merencanakan dana, misalnya dengan menabung.
  7. Camping study: siswa diajak untuk melakukan camping dalam rangka belajar. Kegiatan ini paling dimungkinkan bila siswa mengikuti kegiatan gerakan Pramuka.
  8. Retret/Rekoleksi: siswa dibimbing mengambil waktu khusus untuk mengambil jarak dari kesibukannya sehari-hari guna secara intensif mengolah kehidupan rohaninya.
  9. Live-in: siswa diajak atau diberi kesempatan untuk tinggal dan hidup bersama dalam jangka waktu tertentu di tengah masyarakat kecil di desa. Selama waktu itu, mereka dibiarkan mengikuti ritme kehidupan masyarakat, kemudian mereka membuat laporan dan hasil refleksi terhadapnya.
Kegiatan-kegiatan seperti ini harus terprogram. Tentu saja ini bukan hanya tanggung jawab seorang guru, tapi sebagai tim, sekolah harus memikirkan hal ini. Guru-guru yang dikoordinir oleh Kepala Sekolah harus mampu menjadikan kegiatan-kegiatan tersebut di atas menjadi program tahunan sekolah. Ini akan sangat membantu dalam mendukung tercipta dan tersalurnya pendidikan nilai dengan baik. Semoga bermanfaat.

Palangka Raya, 22 Februari 2015
Savera Mongi, S.Ag

Maraknya dan kompleksnya masalah perkawinan dalam abad ini membuat kaum muda merasa bimbang dan ragu tentang peluang mereka untuk mencapai sukses dalam perkawinan. Di satu pihak mereka merasa cinta kasih sudah cukup untuk menjamin kelanggengan  hidup perkawinan. Di lain pihak mereka menghadapi kenyataan bahwa penyelewengan terhadap perkawinan semakin meluas di tengah  masyarakat bahkan sering diakhiri dengan perceraian.

Zaman berubah dengan pesatnya di seluruh kawasan dunia, juga di Indonesia. Sedemikian pesat perubahan zaman, sehingga manusia belum sempat menyesuaikan diri dengan satu situasi baru. Perubahan tersebut melanda pemahaman, pengkhayatan dan pola laku individu dan masyarakat. Kehidupan seks, perkawinan dan hidup berkeluarga tidak luput dari lindasan perubahan tersebut. Besarnya pengaruh perubahan jaman itu, juga diungkapkan oleh J. Riberu:
Tadi kehidupan seks, kehidupan nikah  dan kehidupan keluarga dianggap sesuatu yang sacral, yang tidak dibicarakan begitu saja di depan umum. Sekarang dipertontonkan, malahan direkayasakan dan diperjualbelikan. Adegan-adegan seks sampai yang paling berani disajikan dalam film-film […]. Yang lebih merisaukan ialah beredarnya pelbagai paham yang merubah citra seks, citra nikah dan citra kehidupan keluarga di dalam tata pikir manusia.
Melihat reaksi masyarakat seperti itu, Gereja lewat kursus persiapan perkawinan melayani kebutuhan anggota Gereja, khususnya kaum muda. Gereja melalui kursus persiapan perkawinan memberikan pemahaman dan pandangan kristiani tentang perkawinan. Oleh karena itu kursus persiapan perkawinan sebagai salah satu bentuk pelayanan bagi kaum muda hendaknya menyentuh seluruh lapisan kaum muda.

Dengan kata lain, mereka yang sederhana dan secara formal kurang berpendidikan jangan diabaikan.
Oleh karena itu kursus persiapan perkawinan bagi kaum muda sangat penting dan tidak perlu disangsikan lagi.  Kursus persiapan perkawinan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan perkawinan yang stabil dan langgeng  yang merupakan faktor mutlak untuk tercapainya kebahagiaan suami istri, masyarakat dan Gereja. Dengan demikian nilai-nilai luhur hidup perkawinan yang sudah diterima lewat kursus  persiapan perkawinan akan  menjiwai pemahaman kaum muda tentang perkawinan.

Kaum muda memandang perkawinan tidak lagi sebatas legalisasi hubungan seks, tetapi perkawinan akan mereka pahami  juga sebagai sesuatu yang luhur dan agung itu, nilai-nilai luhur perkawinan yang menentukan pandangan hidup mereka tentang perkawinan. Bahkan, menurut pengalaman pembinaan kursus, kaum muda yang dibina lewat kursus persiapan perkawinan akan lebih berhasil dalam hidup perkawinannya dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mengikuti kegiatan ini. **Fidelis Harefa.

Dalam keluarga tradisional, kegiatan seksual diharapkan dapat berlangsung berdasarkan cinta kasih antar suami istri. Apakah cinta kasih tersebut dapat dijual dan dibeli di pasar seks komersial?

Kita coba melihat beberapa data yang berhubungan dengan konteks ini:
  1. Ratusan (ribu) manusia (perempuan) telah dijadikan komoditas. Mereka dianggap sebagai “sumber daya alam” yang perlu dieksploitasi. Wanita telah dijadikan pelacur oleh pelaku perdagangan. (Bisnis Indonesia, 13 Febr 2005).
  2. Transaksi bisnis perempuan ini dikenal dengan istilah trafficking yang berarti pergerakan manusia lintas batas, mengandung konotasi pemaksaan, kekerasan atau pekerjaan semacam perbudakan, termasuk juga prostitusi yang dipaksakan serta bentuk-bentuk lain dari eksploitasi (Bisnis News, 30 Juli 2003, hal.8).
  3. Prosedur trafficking meliputi:
    • Perekrutan
    • Pengiriman
    • Penampungan
    • Penerimaan
    • Melalui penipuan, kecurangan atau pun kekerasan untuk tujuan eksploitasi.
  4. Trafficking adalah kegiatan kriminal internasional yang berkembang sangat.
  5. Alasan seks menjadi komoditi industri:
    • Globalisasi menjadi alasan kecenderungan komoditas seks. Kegiatan pasar jenis ini tidak memerlukan ketrampilan bahasa atau ketrampilan lain.
    • Trend: pembeli lebih kuat daripada penjual. Produsen/penyuplai yang berprodksi efisien dengan harga paling rendah akan bertahan. Akibat trend ini: ekploitasi sumber daya manusia sehingga pelacur menjadi “budak seks” (sex slaves).
  6. Legalitas Industri Seks
    • Sebagai suatu industri yang berkembang, industri seks harus menghadapi persoalan regulasi oleh pemerintah, aktivis sosial dan industri seks.
    • Ada unsur yang sangat jelek yang harus dihapus dari industri ini adalah penjualan wanita yang menjadi pelacur.

Data di atas adalah merupakan data yang sudah ada beberapa tahun yang lalu. Seiring dengan perkembangan waktu, perkembangan dibidang ini pun semakin pesat. Alasan utama mengatakan demikian adalah karena sampai saat ini, usaha-usaha yang dilakukan, baik pemerintah maupun organisasi lainnya dalam mencegah komoditi seks tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Fakta dan Dilema
  1. Prostitusi adalah bentuk perbudakan modern karena para pelacur berada di bawah kontrol muncikari. Dalam hal ini terdapat perdebatan hebat.
  2. Pihak yang menghendaki legalisasi industri seks menghadapi masalah:
    • Kalau prostitusi dilarang, maka kegiatan ini akan dikurangi walaupun tidak dapat dihapus sama sekali.
    • Apakah UU mengenai prostitusi akan menghapus para muncikari yang jahat?
  3. Kondisi Prostitusi di Indonesia
    • Depnaker tidak mengakui pelacuran sebagai jenis pekerjaan sehingga mengecualikannya dari perlindungan tenaga kerja.
    • Depnaker juga enggan menggunakan istilah “pekerja seks komersial” untuk para pelacur karena mengisyaratkan pengakuan “pelacuran” sebagai alternatif jenis kesempatan kerja.
    • Dep.Kes mengakui keberadaan pelacuran merupakan salah satu kelompok sasaran yang dijadikan target untuk mensukseskan program pencegahan penyakit kelamin.
    • Dep.Sos menerima legalitas pelacuran  ini setengah-setengah, dan adanya lokalisasi prostitusi digunakan untuk memuluskan program rehabilitasi.
    • Mentri Negara Urusan Peranan Wanita mempromosikan perkawinan yang sah dan menentang pelacuran.
    • Pada tingkat pemda, pengakuan diam-diam diberikan bersamaan dengan adanya kegiatan pemungutan pajak, biaya dan uang ijin usaha.

Inilah fakta yang dapat kita lihat dalam konteks Seks sebagai Komoditas. Kendati industri seks di Indonesia disangkal dan dikutuk secara moral, pelacuran merupakan bisnis jasa yang nilai ekonominya amat besar. Budaya perdagangan wanita dan anak (yang nanti menjadi pekerja seks komersial) di Indonesia masih dianggap wajar karena budaya yang masih dianut sebagian besar masyarakat yang menganggap wanita dan anak sebagai aset.

Berhubungan dengan dilema ini, pemerintah tetap bersikap mendua: di satu pihak pelacuran dianggap mengganggu ketertiban umum, tetapi di lain pihak pelacuran juga dilindungi dan ada lokalisasi resmi. Nampaknya sangat sulit untuk memperkirakan berapa banyak uang yang beredar selama setahun karena praktek prostitusi. Namun yang pasti, pelacuran memainkan peranan cukup besar dalam perekonomian Indonesia dan memberi kontribusi pendapatan cukup besar pada pemerintah setempat.

Beberapa data yang memperkuat pernyataan di atas adalah sebagai berikut:
  • Data dari Dr. Terence H. Hull dan Dr. Endang Sulistyaaningsih: Pelacuran di Indonesia, Sejarah dan Perkembangannya menunjukkan: Terdapat 140.000-230.000 dengan penghasilan per tahun sekitar: US$1.180 ( 2,95 triliun rupiah).
  • Penelitian tahun 2004: Bali mempunyuai 3.000 PSK; 90.000 klien yang berbeda; terjadi 300.000 transaksi seks pertahun (=821 transaksi per-hari!).
  • Dari Menteri Kesehatan: Terdapat 7.000 pelacur (terdafat sebagai PSK) tetapi jumlah aktual mencapai 20.000 PSK.
  • Catatan Prof. Dr. J. Spillance SJ: “Pelacuran mungkin lebih mungkin dijumpai di kota besar karena memang itu yang menjadi ciri kota besar, di mana daya tariknya membuat orang orang merelakan segalanya, termasuk seksualitas yang bisa dikomoditas….”
  • Allison J. Murray (menulis mengenai Dolly Surabaya): mengatakan bahwa pada tahun-tahun belakangan ini masyarakat Jakarta menjadi semakin “terseksualisasi” dan “terkomodifikasi”…. Kalangan kaya yang dengan keasyikannya dengan seks dan konsumerisme, mengaburkan perbedaan-perbedaan antara jalan yang “lurus” dan jalan yang “sesat”.

Statistik perkembangan Sex sebagai komoditas pada tahun 2011 ini masih belum dapat dikumpulkan. Secara pribadi, saya berharap, bahkan kita bisa berharap bahwa hal ini bukan menjadi berkembang, tetapi menurun. ** Kairos - Dari Berbagai Sumber

Akhir-akhir ini, dunia pendidikan kita diramaikan oleh ide-ide cemerlang dari pengamat pendidikan, pelaku pendidikan dan para pengelola pendidikan di negeri ini. Pendidikan Karakter menjadi “trend topic” dalam menentukan arah dan pola pendidikan saat ini. Pendekatan-pendekatan pengetahuan pun dipilih berdasarkan kebutuhan. Pembahasan mengenai NILAI PRIORITAS yang harus dijalankan dan diseminarkan di sana-sini. Koridor moral, psikologis, budi pekerti, kepribadian menjadi tempat dan lahan galian para ahli untuk menyukseskan topik yang sedang popular ini.


Setelah dibekali dengan berbagai teori, dasar-dasar pengajaran dan metode yang sudah terpola, tenaga kependidikan di dunia pendidikan menemukan satu masalah vital dalam melaksanakan Pendidikan Karakter ini. Mulai terasa bahwa ada ruang kosong yang tak terisikan, ada sisi gelap yang tak diterangi, ada komponen yang hilang dan susah mencari gantinya. KEHADIRAN FIGUR atau keteladanan menjadi masalah utama.

Kita sanggup berteriak dengan lantang tentang KEJUJURAN, MORAL YANG SEHAT, BUDI PEKERTI, dan hal lainnya yang berhungan dengan perkembangan kepribadian, tetapi susah untuk menyebutkan satu pribadi yang menjadi FIGUR sebagai sarana mempertajam bahan ajaran. Menemukan figur yang real, dekat, hidup yang hadir KINI DAN DI SINI, adalah sebuah kesulitan yang hampir tak punya solusi. Apa yang akan terjadi?

Peserta didik mulai berimajinasi sendiri. Menciptakan angan tanpa model. Peserta didik bingung menentukan idola. Ujung-ujungnya, mulailah mengatakan Persetan dengan Pendidikan Karakter.

Siapa peserta didik itu? Kita, anak-anak kita dan cucu kita adalah peserta didik yang dimaksud. Pola-pola pengajaran baru berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Akan tetapi, pola-pola itu pun menemukan masalah dalam dirinya sendiri karena diantara kekayaan sarana dan prasarana yang menunjang, ada satu sisi yang hilang dan sangat vital yakni FIGUR.

Idola Anak-anak Kita

Saya pernah bertanya kepada seorang anak, yang sedang duduk di bangku SD, Kelas I, tentang cita-citanya kelak kalau sudah besar. Spontanitas anak ini membuat saya terkejut ketika dia menyebutkan salah satu nama artis yang sering tampil di Layar Televisi. Artis yang dia maksud adalah seorang bintang Televisi Indonesia, yang bila tampil selalu didampingi oleh gadis-gadis cantik dan pelakon karakter campuran pria-wanita. Tanpa menyebut nama artis itu dan juga tanpa membahas lebih dalam tentang alasan sang anak tadi memilih idolanya, mari kita melirik sejenak apa yang sedang terjadi.

Dari sekian banyak acara Televisi yang disuguhkan, kita susah menemukan acara yang mengajarkan tentang semangat patriotisme, wawasan nusantara, tokoh-tokoh pembela kebenaran yang real dalam sejarah dan acara-acara yang langsung menyentuh perkembangan pribadi anak. Kita lebih banyak disuguhkan dengan masalah-masalah yang didramatisir berlebihan, masalah putus cinta dan sambung lagi, masalah cerai kawin dan kawin lagi, masalah tipu muslihat yang susah masuk logika. Bintang publik kita mulai didominasi oleh pelakon pria-wanita. Program suguhan bagi pemirsa lebih bertujuan ke hal-hal  euphoria semata tanpa memperhitungkan nilai pendidikan apa yang disampaikan. Secara tegas bahwa televisi kita tidak memiliki ideologi sehingga membangun karakter bangsa yang hancur lebur. Sanggup melarang anak untuk tidak menonton?

Dalam gambaran di atas, mampukah sang anak menemukan idolanya? Di saat kita susah menyebutkan nama seorang tokoh yang dikenal oleh anak, acara televisi kita sudah berlomba masuk lebih duluan. Di saat kita mengalami ambiguitas menyebutkan tokoh sejarah bangsa ini, tokoh-tokoh baru bermunculan dengan berbagai penyimpangan. Di saat kita sedang berteriak tentang budi pekerti, kejujuran, moral dan sebagainya, pelaku-pelaku pelanggaran pun tampil mengaburkan segala makna pendidikan kita. **Fidelis Harefa

Seringkali suatu peristiwa yang terjadi merupakan produk dari peristiwa sebelumnya. Inilah yang disebut hukum “mata rantai” atau hukum “sebab akibat”. Jarang ada suatu peristiwa yang terjadi tersendiri lepas dari peristiwa-peristiwa lainnya. Berdasarkan hukum ini marilah kita mulai penyelidikan kita dengan pertanyaan “Dari manakah idenya datang?”

Tentunya pelaku kejahatan selalu memulainya dari suatu “IDE AWAL” yang datang di dalam pikirannya. Perhatikanlah sebuah contoh pengakuan yang diberikan oleh Ted Bundy, seorang pemerkosa dan pembunuh bertopeng yang telah dihukum mati karena kejahatannya. “Dari manakah idenya datang?” dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Dr. James Dobson, hanya beberapa jam sebelum ia dieksekusi, Ted Bundy mengaku:
Berdasarkan pengalaman prantairibadi saya, pornografi yang melibatkan kekerasan adalah yang paling merusak. Saya tahu benar gabungan keduanya akan mengakibatkan suatu tindakan yang sulit dijelaskan. Ada banyak orang seperti saya dalam masyarakat. Mereka mempunyai dorongan hati yang berbahaya, yang dipupuk setiap hari oleh kekerasan yang mereka lihat di berbagai media, khususnya kekerasan seksual. Itulah yang saya konsumsi selama 20-30 tahun terakhir. Namun, masa yang akan datang menakutkan lagi. Sekarang film-film kekerasan, bahkan yang tidak layak diputar digedung bioskop 30 tahun yang lalu, kini memasuki rumah-rumah melalui televisi, siaran normal maupun televisi kabel. Janganlah heran kalau banyak anak-anak yang sekarang bermain di jalan, besok lusa atau bulan depan akan mati oleh perbuatan anak–anak lain yang rajin menonton tayangan media sekarang ini.
Mendengar pengkuan Ted Bundy di atas, setujukah saudara bahwa sesungguhnya kita memiliki masalah serius yang akan dihadapi oleh anak-anak, generasi penerus kita di masa yang akan datang?

Betapa khawatirnya kita saat ini. Pendidikan Karakter dan Budi Pekerti semakin tidak mendapat perhatian khusus di Lembaga Pendidikan Formal. Sebaliknya, media-media kita semakin menyuguhkan tontonan-tontonan yang tidak mendidik. Pesan-pesan kekerasan dikemas dalam sajian drama televisi. Penyimpangan-penyimpangan “gender” (wanita pria, pria wanita) yang dikemas dalam lelucon yang tidak mendidik menyebabkan anak-anak sulit menentukan dan membedakan karakter seorang pria dan seorang wanita itu seperti apa. Hampir semua stasiun televisi kita didominasi oleh hal-hal yang lucu, yang sering kita sebut dalam bahasa sehari-hari (maaf) “bencong”, “tomboy”, “terbelakang mental”, “kelainan fisik” dan lain sebagainya.

Bukankan sikap media ini merupakan akibat dari keterpurukan masa lalu? Tidakkah keadaan sekarang ini mengakibatkan sesuatu yang buruk pada generasi berikutnya?

Sebuah Telaahan Sosiologis, Antropologis, Filosofis dan Teolgis Terhadap Argumen Pro dan Contra

Dua anak saja, CUKUP! Demikianlah adagium yang sering kita dengar, terutama dalam upaya-upaya mensosialisasikan Program Keluarga Berencana. Kita tidak bisa serta-merta menerima adagium ini sebagai sebuah kebenaran. Kita butuh pembanding, sekurang-kurangnya kita harus melihat dari berbagai sudut pandang. Dengan pembanding-pembanding ini, kita bisa mengatakan bahwa ternyata ini salah, atau ternyata itu benar. Berikut ini kami menuliskan resensi buku yang sangat bagus untuk kita gunakan sebagai pembanding opini, dan bila perlu membantu kita untuk memutuskan sesuatu dengan baik.

Buku ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai problematika kependudukan yang dihadapi oleh dunia ke-3 beserta persoalan-persoalan yang muncul. Persoalan kependudukan tidak bisa direduksi hanya kepada persoalan jumlah atau angka yang seringkali dipakai sebagai alat pembenaran atau justifikasi untuk kebijakan kependudukan oleh pemerintah dunia ke-3.

Persoalan kependudukan terkait erat dengan pelbagai faktor: pendidikan, kesehatan, budaya, emansipasi antara pria dan wanita, warisan kebijakan kolonialisme, politik global serta kepentingan ekonomi negara-negara maju yang secara langsung maupun tidak langsung ikut berperan dalam memunculkan persoalan kependudukan. Berhadapan dengan persoalan yang demikian kompleks itu, apakah dirasa cukup hanya menggunakan pendekatan angka/jumlah, dalam pengertian asal saja jumlah kelahiran bisa ditekan - yang berarti jumlah penduduk makin berkutrang - maka kemakmuran akan terwujud? Apakah semudah itu persoalannya? Itulah pendekatan yang selama ini dianut oleh pemerintah dunia ke-3 dan didukung oleh pemerintah dunia maju yang sangat berkepentingan untuk penyediaan sumber bahan mentah (raw materials) bagi lokomotif industri mereka.

Buku ini hadir dengan pendekatan yang komprehensif dan mengajak pembaca untuk melihat persoalan kependudukan dari sudut pandang yang lebih luas, yang lebih manusiawi dan lebih dapat dipertanggungjawabkan secara antropologis, sosiologis, teologis, maupun moral. Kemiskinan tidak serta merta sebagai akibat langsung dari pertumbuhan jumlah penduduk. Ada begitu banyak faktor yang ikut berperan yang baik secara langsung atau tidak yang ikut menciptakan kemiskinan. Ketidakadilan dalam distribusi kekayaaan alam dan poltik perdagangan yang hanya menguntungkan negara-negara maju adalah faktor-faktor real yang mendukung terjadinya kemisiknan di negara-negara dunia ke-3. Karena itu pendekatan sepihak dengan menekan tingkat pertumbuhan penduduk bukanlah solusi yang tepat terhadap kemisiknan.

Pendekatan yang diambil harus bersifat integral dengan memperhatikan semua faktor yang “terlibat” dalam proses kemisikinan itu. Buku ini memberikan wawasan yang komprehensif mengenai problematika kependudukan dengan pendekatan yang bersifat integral dan lintas dispilin ilmu. Kehadiran buku ini diharapkan dapat membuka wawasan baru dan memberikan solusi alternatif bagi para pemangku kekuasaan dalam menentukan kebijakan kependudukan di negara Indonesia; karena itu, buku ini layak untuk dibaca oleh para akademisi, doesn, mahasiswa, para pengambil keputusan yang berkecimpung dalam persoalan kependudukan dan pengentasan kemiskinan.**Redaksi.

Ilustrasi dari williamresort.blogspot.com
"Jalan-jalan di kota Tomohon di masa natal kali ini, memberi satu pengalaman yang berharga untuk direnungkan. Saya terkesan dengan pernyataan seorang bapak, berusia kira-kira 50 tahun, yang bekerja sebagai kusir bendi, mengatakan: "Natal di sini punya banyak nama. Masa natal adalah masa berpestapora, masa berlibur, kesempatan untuk minum-minum deng tamang-tamang, dan banyak lagi depe nama. Tapi bagi saya, natal adalah kesempatan untuk mensyukuri kesuksesan dalam hidup. Saya termasuk orang yang sukses. Saat ini, dengan penghasilan bersih Rp. 75.000 per hari, saya sudah bisa menafkahi keluarga. Kesuksesan yang paling di syukuri adalah ketika saya tidak lagi bergantung pada orang lain, termasuk pada orang tua dan saudara untuk kebutuhan makan. Ketika saya tidak jadi peminta-minta dari pintu ke pintu untuk urusan perut, saya sudah menjadi orang sukses. Inilah alasan utama mengapa natal merupakan masa untuk bersyukur".

Ternyata, percakapan dengan paman kusir ini memberi satu permenungan yang sangat berharga. Ada kalanya kita tidak menghargai kesuksesan yang pernah kita raih, karena ukuran kesuksesan yang kita harapkan sangat tinggi. Hal ini juga membuat kita tidak menghargai orang lain yang ukuran kesuksesan mereka berbeda dengan kita. Namun, paman kusir di atas mengingatkan kita bahwa kesuksesan yang pernah kita raih adalah rahmat kehidupan, di mana setiap orang masih sanggup mempertahankan hidupnya dengan baik dan tidak menjadi beban untuk orang lain.

Pada masa-masa natal ini, patutlah kita bersyukur atas rahmat kehidupan yang telah kita terima. Dan lebih penting lagi, kita harus bersyukur atas kehidupan baru, yang dianugerahkan kepada kita melalui kelahiran baru, bersama dengan kelahiran Sang Juruselamat, Putra Tunggal Bapa. Inilah yang harus menjadi makna natal. "Carilah dahulu kerajaan Allah dan semua akan ditambahkan kepadamu" (bdk. Mat 6:33).

Banyak keluarga yang merasa cemas, bahkan bersedih hati karena tidak bisa merayakan Natal seperti yang lainnya. Akhirnya, enggan menerima orang untuk berkunjung dan cenderung menutup diri. Alasan satu-satunya adalah tidak dapat merayakan natal dengan menyediakan berbagai macam kebutuhan natal seperti minuman, kue natal dan lain sebagainya. Karena kekhawatiran ini, mereka lupa akan rahmat paling besar yang sudah diterima, dan harus disyukuri.

Kembali ke pernyataan paman kusir di atas, inilah sesungguhnya rahmat yang patut disyukuri. Setiap orang pasti beda kemampuannya. Tapi dalam hal "rahmat kehidupan" semua memiliki posisi yang sama dengan ukuran dan kualitas yang sama, yakni hidup sebagai anak-anak Allah. Karenanya, kita tidak perlu berkecil hati. Kita semua adalah anak-anak Allah dan mempunyai berkat yang sama. Semua kita menerima kado yang sama di hari natal ini. Kado berisi cinta dari Allah. Semoga setiap hati mampu memaknai natal ini sehingga beroleh semangat baru dalam menata kehidupan. **Fidelis Harefa @ Tomohon

Dalam sebuah diskusi sederhana, seorang sahabat melontarkan kalimat berikut ini: "Urusan iman, biarkanlah orang-orang yang ditugaskan untuk itu mengurusnya. Kita ini hidup di dunia, dan kita punya urusan lain soal kehidupan". Sepotong kalimat ini sedikit menggugah hati saya. Tergambar di dalamnya bahwa urusan iman seolah-oleh terpisah dalam urusan kehidupan. Pada akhirnya, kalimat ini dapat saya mengerti setelah konteksnya dijelaskan lebih lanjut oleh si empunya pernyataan sebagai berikut: "Iman yang saya maksud adalah berbicara tentang hidup abadi, hidup kekal dan kebenaran sejati. Sementara kehidupan di dunia adalah kehidupan yang fana, hanya sementara, penuh tipu muslihat dan lain sebagainya". 

Iman Harus Menjadi Titik Berangkat Awal

Dalam dunia pendidikan, sering sekali kita mendengarkan istilah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Pada zamannya, kecerdasan intelektual pernah menjadi hal yang lebih diperhatikan, kemudian dalam perkembangannya ketiganya menjadi lebih penting. Bicara soal iman, kiranya menjadi bagian dari kecerdasan spiritual yang dimaksud. Kepekaan manusia untuk melihat hubungannya dengan yang ilahi kiranya menjadi bahan permenungan dan pemikiran dalam lingkup kecerdasan spiritual.

Tidak dapat dipungkiri, dalam melihat kenyataan yang terjadi dalam kehidupan ini, iman menjadi salah satu sisi yang terlupakan. Masih banyak orang melihat segala kenyataan dari sudut pandang logika manusiawi. Sudut pandang intelektual lebih diutamakan. Di sana terdapat permainan kata dan argumen dengan berbagai rasionalisasi. Ada kesan bahwa segala sesuatu hanya dapat dimengerti dengan mengandalkan "apa yang dipikirkan manusia" dan tidak membangun kepekaan untuk mendengar "apa yang kehendaki Allah".

Katakanlah, dalam beberapa bidang kehidupan, politik, hukum, sosial dan aspek kehidupan lainnya. Kita mencari pengetahuan yang berhubungan dengan keahlian di bidang ini. Kemudian, kita menjadi pakar hukum, pakar politik, pakar sosial, pakar ekonomi dan lain sebagainya. Untuk semuanya itu, kita patut berbangga sebagai apresiasi atas keberhasilan yang dicapai. Tapi, terkesan sedikit memprihatinkan ketika kita berhadapan dengan benda yang bernama "iman", kita terlihat bingung dan kesulitan mencernanya. Satu alasan yang pasti adalah karena hampir separoh baya kehidupan kita, iman menjadi salah satu sisi yang kita lupakan. Sebagai kompensasi dari itu, kita menjauhi hal-hal yang berbicara tentang spiritual, moral dan ilahi. Topik-topik seperti itu tidak menarik, tidak asyik.

Iman Berbicara Tentang Kebenaran dan Keadilan

Banyak peristiwa yang membuat hati pilu akhir-akhir ini. Ketidakadilan terjadi di mana-mana dalam berbagai bidang kehidupan. Hukum yang sebelumnya dianggap sebagai dewa penyelamat akhirnya dilumpuhkan oleh manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab. Politik yang masih dipandang sebagai pintu masuk menuju keadilan dipermainkan dan disiasati. Moral menjadi salah satu hal yang disepelekan dan bahkan diinjak-injak. Adakah sedikit tempat untuk "iman" dalam koridor-koridor perjuangan demi keadilan, kebenaran yang sering menjadi slogan menarik akhir-akhir ini?

Dengan adanya sedikit pengetahuan iman, setiap orang akan dituntun untuk melibatkan hati nurani dalam segala upaya memperjuangkan keadilan. Oleh karena itu, harusnya, iman harus menjadi titik awal untuk melihat kenyataan. Hanya dengan demikian, moral tidak akan tercabik-cabik dan diinjak-injak. Setiap orang akan menjadi lebih peka mendengar suara hatinya yang selalu diterangi dengan iman. Setiap orang akan terus melihat dan memahami keadilan ilahi, kebenaran ilahi, lebih dari sekedar keadilan dan kebenaran yang dimengerti oleh manusia itu sendiri.**Fidelis Harefa


Dalam kamus bahasa Inggris kita temukan kata “Gossip” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan arti: gunjing, kabar angin, penggunjing, tukang fitnah. Gosip adalah sebuah kabar angin atau kabar burung yang sering sulit ditelusuri asal muasalnya. Kabar burung atau kabar angin itu beredar dari mulut ke mulut, tetapi sekarang lebih canggih lagi yakni lewat sms dan terus berkembang dengan bumbu-bumbu yang baru, sehingga lebih sedap disajikan dan lebih enak didengar kuping orang lain. 

Gosip biasanya dimulai dengan kata-kata: “Kamu sudah dengar, nggak? Tapi rahasia lho, jangan diceritain kepada orang lain.” Itu sudah menjadi rumusan baku untuk mengawali penyebaran sebuah gosip. Mari kita lihat proses perkembangan cerita berikut: 

  1. Fakta Pak Lurah akan pergi keluar kota. Agar kepergiannya tidak menghambat kelancaran tugas di kelurahan, beliau menitip beberapa memo pada istrinya untuk disampaikan kepada Pak Gurlap, sekretarisnya. Sebelum beliau berangkat, dia mengirimkan SMS kepada Pak Gurlap agar besok pagi setelah keberangkatannya, Pak Gurlap mengambil memo yang dititip pada istrinya. 
  2. Esok Pagi, Pak Gurlap ke rumah Pak Lurah, dilihat oleh tetangga Pak Lurah, Mak Lodeh, dan cerita pertama di mulai: “Kamu sudah tau nggak? Tapi ini rahasia lho, jangan diceritain kepada orang lain. Tadi pagi saya melihat Pak Gurlap di rumah Pak Lurah. Padahal Pak Lurah baru saja berangkat keluar kota. Entah kenapa tiba-tiba istri Pak Lurah menerima Pak Gurlap bertamu di rumahnya. Masih pagi lagi”. 
  3. Mak Ucik, temannya Mak Lodeh pun bercerita kepada temannya, Mak Lonoh: “Kamu sudah dengar gak? Tapi ini rahasia lho, jangan diceritain kepada orang lain. Kata Mak Lodeh, tadi pagi dia melihat Pak Gurlap berduaan dengan istri Pak Lurah di rumahnya Pak Lurah. Kebetulan Pak Lurah lagi keluar kota. Ah, tidak nyangka, istri Pak Lurah begitu ya”. 
  4. Mak Lonoh pun bercerita kepada Pak Koro: “Kamu sudah dengar gak? Tapi ini rahasia lho, jangan diceritain kepada orang lain. Selama ini kita digosipin oleh warga, selingkuh. Ternyata selain kita dua, istri Pak Lurah pun selingkuh dengan Pak Gurlap. Tadi pagi, Mak Lodeh melihat Pak Gurlap bermesraan dengan istri Pak Lurah di rumah Pak Lurah, bertepatan 20 menit setelah Pak Lurah berangkat tadi pagi. Mungkin istri Pak Lurah sudah buat janji sebelumnya dengan Pak Gurlap kali ya”. 
  5. Pak Koro tidak tinggal diam. Dia ingin membalas sakit hati. Hari itu dia ke kantor kelurahan mengurus Kartu Keluarganya, sambil bercerita dengan salah satu pegawai di Kelurahan: “Kamu sudah dengar gak? Tapi ini rahasia lho, jangan diceritain kepada orang lain. Pak Gurlap itu ternyata diam-diam menghanyutkan. Keberangkatan Pak Lurah keluar kota dimanfaatkan untuk berduaan dengan istri Pak Lurah. Tadi pagi, ada yang melihat dia berduaan dengan istri Pak Lurah di rumah Pak Lurah. Katanya sih, Pak Gurlap masuk ke rumah dan tidak bertamu di ruang tamu. Mungkin karena masih pagi, Pak Gurlap merasa aman bila bertamu dan menuju kamar pribadi istri Pak Lurah. Ah, mau dikemanakan Kelurahan kita ini?“ 
Sudah sampai pada cerita kelima dan perkembangan cerita pun semakin panas. Bayangkan bila cerita ini berkembang sampai kepada orang kesepuluh atau kelimapuluh. Yang namanya rahasia tadi, sudah menjadi rahasia umum, dan akhirnya bukan rahasia lagi. Namanya juga kabar angin atau kabar burung, dia menjadi media yang empuk bagi orang tertentu untuk mewujudkan maksud atau rencananya. Isi sebuah gosip bisa dari sebuah fakta kecil yang dikembangkan dengan interpretasi pribadi dan terus dikembang-biakan, atau boleh juga berasal dari sebuah berita bohong belaka tanpa didasarkan atas fakta.

Pada umumnya sebuah gosip berisikan kabar buruk tentang kelompok tertentu atau pribadi tertentu. Karena kabar buruk pasti akan menimbulkan keresahan pada kelompok bersangkutan atau kegelisahan dalam diri orang yang digosipin. Akibat lebih lanjut tergantung dari bagaimana orang merespons dan sejauh mana berita tersebar dan tanggapan orang lain terhadap gosip itu. Kalau masyarakat atau orang banyak mulai menanggapi dengan sikap dan aksi yang negatif maka dapat terjadi kehancuran pada pihak yang digosipin. 

Seminggu kemudian, berita itupun sampai ke telinga Pak Lurah. Akhirnya dia bertanya kepada istrinya. Istri Pak Lurah terkejut mendengar berita itu dan menjelaskan kedatangan Pak Gurlap ke rumah saat itu. Karena Pak Lurah sudah tahu alasan kedatangan Pak Gurlap ke rumah, Pak Lurah hanya bisa meminta istrinya untuk bersabar dan bersikap tenang. Tapi karena gossip itu semakin berkembang dan makin panas, akhirnya istri Pak Lurah resah juga. Karena merasa diserang tanpa fakta yang jelas, istri Pak Lurah mengalami stress berat dan harus dirawat di Rumah Sakit. Pada waktu mendengar berita bahwa istri Pak Lurah sakit berat, Mak Lodeh, yang menjadi pencetus gosip itu disadarkan akan kesalahannya yang sangat fatal itu. Meskipun diliputi rasa malu, ia memberanikan diri datang kepada istri Pak Lurah yang sedang sakit itu dan meminta maaf. Apa tanggapan istri Pak Lurah? Istri Pak Lurah berkata kepada Mak Lodeh: 

“ Coba sekarang Anda bawa sekarung kapas ke atas puncak gunung atau ke atas sebuah pohon yang tinggi lalu taburkan kapas itu dari atas. Serta merta angin itu akan menerbangkan kapas itu ke mana-mana. Apakah Anda bisa mengumpulkan kembali kapas yang sudah tersebar itu? Pasti sulit untuk mengumpulkan kembali kapas yang sudah tercecer itu. Demikian juga dengan nama baik saya. Nama baik saya sudah anda hancurkan berkeping-keping dan sudah Anda taburkan ke mana-mana untuk memuaskan nafsu egomu. Apakah sekarang Anda bisa memulihkan kembali nama baik saya secara utuh seperti semula? Pasti sulit kan?”

 Mak Lodeh hanya tunduk diam. Tidak bisa bicara, hanya menyesal dan menyesal, tetapi nasi sudah menjadi bubur. Nama baik Keluarga Pak Lurah sudah sulit untuk dipulihkan kembali. Meskipun cerita ini dibuat seolah-olah fiksi, cerita seperti ini nyata hadir dalam kehidupan kita. Akibat lebih fatal bisa saja terjadi karena sebuah gosip. Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap menanggapi sebuah berita yang tidak jelas kebenarannya? **Kairos


Apakah Gereja Katolik menjanjikan kesuksesan bagi anda? Pertanyaan ini mengundang perhatian khusus ketika seorang teman melontarkannya. Dan saya berpikir, anda akan berhenti sejenak memikirkan pertanyaan ini bila dilontarkan kepada anda. Mengapa tidak? Pertanyaan ini sangat aktual mewarnai proses pencarian manusia akan kebahagiaan di zaman ini. Ketika media-media cetak, media cyber dan media lainnya menyajikan berbagai tawaran menarik tentang kebahagiaan, tidak tertutup kemungkinan bahwa agama pun mulai dipertanyakan berhubungan dengan kesuksesan dan kebahagiaan.

Pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tidak boleh dijawab secara langsung. Pertanyaan seperti ini mengandaikan sebuah permenungan karena hal ini sangat menyentuh dasar religiositas kita. Dalam sebuah diskusi perlu sebuah pertanyaan pembantu: Sukses dalam bidang apa? Pertanyaan ini akan menghantar kita untuk mengidentifikasi lebih spesifik akan apa yang akan kita wartakan.

Seperti telah saya duga, pertanyaan di atas dilatarbelakangi oleh hal-hal yang materialistis, kejayaan secara finansial dan kesuksesan meraih popularitas. Kita tidak dapat menutup mata menyaksikan peristiwa yang terjadi baru-baru ini dimana begitu banyak pihak yang mengatasnamakan agama dan kepercayaan untuk mendapatkan kesuksesan. Dengan berbagai doktrin, pikiran manusia dirasuki oleh sebuah kesuksesan yang hanya ditandai dengan kelimpahan materi. Oleh karena itu, tidak ada rasa malu sedikit pun untuk membangun sensasi, seperti promosi barang dagangan dengan mengendarai ritual keagamaan.

Dua ribu tahun yang lalu Gereja Katolik didirikan di atas dasar Rasul Petrus, pilihan Yesus sendiri. Petrus diganti oleh para paus yang dipilih sampai sekarang. Dalam hal menafsirkan Kitab Suci, para paus selalu berpegang teguh pada kebenaran Kitab Suci dan Tradisi para Rasul. Hingga saat ini, Gereja Katolik yang tetap kokoh dan kuat itu tidak pernah menjanjikan kesuksesan untuk menjadi seorang milioner, untuk menjadi penguasa atau menjadi orang terkenal. Gereja Katolik melihat kesuksesan tersebut sebagai kesuksesan sementara dan akan hilang di dunia ini. Gereja Katolik, melalui ajaran-ajarannya meyakinkan umatnya dalam terang iman bahwa ada kebahagiaan besar yang harus dicapai dan harus diperjuangkan selama hidup di dunia ini. Kebahagiaan itu adalah kebahagiaan abadi, dan dalam konteks "kesuksesan" kita sebut sebagai kesuksesan abadi. Tafsiran ini berlaku sama, satu, utuh dan merata untuk seluruh umat Katolik. Hal ini disebabkan oleh adanya tafsiran yang sama yang hanya diberikan kepada Bapa-bapa Gereja yakni Magisterium. 

Saya yakin, usia Gereja Katolik yang begitu panjang tidak pernah salah dalam pengajarannya, terutama dalam cita-cita hidup sebagai orang beriman yakni hidup kekal dan bahagia. Pertanyaan di atas lahir setelah kehadiran gereja-gereja baru, yang boleh dikatakan lahir seumur jagung. Pembentukan gereja-gereja tersebut dilatarbelakangi oleh situasi-situasi yang sangat duniawi. Popularitas, kekuasaan, keuangan yang tidak transparan menimbulkan perpecahan-perpecahan dan melahirkan aliran-aliran baru. Aliran-aliran tersebut memberi kebebasan menafsirkan Kitab Suci sesuka hati. Akibatnya, kehadiran nabi-nabi palsu bertopeng agama semakin merajalela. Sasaran-sasaran mereka adalah orang-orang yang tidak punya pendirian teguh akan imannya. Orang-orang yang selalu diliputi kecemasan dalam hidupnya dan orang-orang yang dikuasai oleh kekhawatiran dunia tentang kuasa, kekayaan dan hawa nafsu.

Apakah kehadiran gereja-gereja baru, yang hanya seumur jagung ini merongrong keyakinan anda yang selama ini telah dihidupi dan tidak pernah menyengsarakan? Apakah tawaran kesuksesan dari segi material membuat anda berpaling dari keyakinan anda selama ini? Semuanya ini tergantung pada pribadi masing-masing. Pertanyaan ketiga yang barangkali dapat membantu arah kita adalah: Sejauhmana anda mengenal Gereja Katolik, dan ajaran-ajarannya? Semoga memberi pencerahan. **Fidelis Harefa

Setelah Paus Fransiskus I memegang jabatan Kepausan, teladan-teladan kepemimpinan baru dimaklumkan. Pesan-pesan dan kecaman-kecaman yang disampaikan menjadi kerikil tajam dan sangat mengusik kebiasaan buruk yang selama ini terjadi. Salah satu pesan Bapa Suci yang akhir-akhir ini menginspirasi banyak umat, termasuk para gembala atau kaum hirarki adalah pesan untuk hidup sederhana.

Hidup sederhana menurut Bapa Suci adalah hidup seturut Injil. Pemborosan adalah tindakan menyia-nyiakan rahmat Tuhan yang telah kita terima. Membuang-buang makanan dan gaya hidup konsumerisme tidak luput dari perhatian Bapa Suci. Bahkan beberapa bulan lalu, Bapa Suci mengingatkan agar para gembala tidak menuntut mobil mewah dalam melaksanakan tugas pelayanan.

Pesan Bapa Suci di atas membawa kita pada sebuah permenungan tentang bagaimana praktek hidup kita sebagai umat beriman yang saat ini jauh dari semangat kesederhanaan. Gaya hidup mewah telah merasuki kehidupan kita, tak terbatas kalangan. Tuntuntan akan kebutuhan ini dan itu, kadang tidak berdasarkan pertimbangan perlu, sangat perlu, atau amat sangat perlu. Ada sebuah kecenderungan untuk menikmati perkembangan teknologi ini tanpa batas.

Kadang, di kota besar, di mana pelayanan sudah dapat dilaksanakan dengan mudah karena transportasi sudah sangat lancar disediakan mobil-mobil yang bagus, mahal yang tidak kalah model. Sementara, di beberapa daerah, yang medan pastoralnya sangat sulit dan berat, tersedia mobil-mobil sederhana yang hampir tak dapat digunakan untuk mengarungi medan-medan berat. Demikian halnya dengan sepeda motor. Kenyataan ini dapat kita saksikan diberbagai daerah pastoral di Indonesia. Pengadaan-pengadaan sarana transportasi yang tidak berimbang.

Adalah sangat tepat bila Bapa Suci mengecam gaya hidup konsumerisme di kalangan gereja. Kenyataan seperti di atas tidak hanya terjadi di Indonesia. Hampir di seluruh dunia, dalam Gereja terjadi kehilangan prioritas berhubungan dengan pembiayaan-pembiayaan. Sederhana, bukan berarti melarat. Juga tidak berarti sembrono. Nilai prioritas harus menjadi keutamaan. Bapa Suci tidak mengecam mobil mahal dan kuat bila itu digunakan untuk kebutuhan pastoral yang diperuntukan dalam pelayanan yang medan pastoralnya berat. Akan tetapi, Bapa Suci akan kecewa bila mobil mahal, mewah diperuntukan tidak sesuai dengan fungsinya dan bertentangan dengan semangat kesederhanaan.

Demikian juga untuk sarana dan fasilitas yang lain. Pilihan berkualitas tidak menjadi masalah. Tetapi perlu diingat kriteria-kriteria tingkat kebutuhan sehingga tidak terkesan pemborosan yang sia-sia. Kita akan menghasilkan banyak buah dengan polah hidup sederhana. Kita bisa menyalurkan banyak bantuan bagi yang membutuhkan, kita dapat mengembangkan banyak hal yang mendukung karya pastoral dan lain sebagainya. Dengan gaya hidup mewah, kita akan lebih terarah pada pemborosan. Jalan tak berujung dan ide buntu adalah menjadi teman setia bila pola hidup ini tidak dirombak. Rencana-rencana jangka panjang, yang seharusnya dibenahi dari sekarang akan menjadi impian semu yang tidak pernah tercapai. Semoga pesan-pesan Bapa Suci baru-baru ini membawa perubahan dalam pola hidup kita sebagai orang beriman. Berikut ini adalah berita-berita menarik tentang pesan-pesan Bapa Suci berhubungan dengan Hidup Sederhana.  **Fidelis Harefa

1. Paus Fransiskus Menginspirasi Seorang Imam Menjual Marcedesnya
2. Pedoman Hidup Bagi Para Imam, terinspirasi dari Pesan Bapa Suci
3. Paus Prihatin Konsumerisme di Kalangan Gereja






MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget