MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Ekaristi"

Media Kairos

Ritus Liturgi Sabda dibagi menjadi dia struktur : Allah yang bersabda dan Umat yang menanggapi. Liturgi Sabda merupakan dialog perjumpaan antara Allah yang bersabda dan umat yang menanggapi melalui Mazmur Tanggapan. (Baca Artikel: Syarat dan Hal Teknis Menjadi Lektor Dalam Perayaan Ekaristi). Liturgi Sabda terdiri dari:

  1. Bacaan Pertama (umat duduk); Dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu dan Hari-hari Raya dibacakan tiga bacaan dari Kitab Suci. Bacaan pertama biasanya diambil dari Perjanjian Lama (kecuali masa-masa khusus, misalnya Masa Paska: Bacaan Pertama diambil dari Kisah Para Rasul). Tujuannya adalah memberi latar belakang sehingga menambah pengertian/ pemahaman sejarah keselamatan Allah dari perjanjian lama dan berpuncak pada Yesus yang di wartakan dalam Injil.
  2. Mazmur Tanggapan (duduk); Merupakan tanggapan umat atas Sabda Allah yang baru diwartakan. Biasanya dinyanyikan yang diilhami oleh Allah sendiri karena diambil dari Kitab Mazmur dan umat menyanyikan dibagian refren. Setelah umat mendengarkan Sabda Allah kemudian merenungkan serta membatinkan dalam hatinya, maka umat diajak untuk menanggapi sabda Allah tersebut. Sesuai namanya maka bagian ini diambil dari kitab Mazmur. Mengapa harus kitab Mazmur? Menarik apa yang dikatakan oleh Berthold Anton Pareira: “Pertama, Kitab Mazmur merupakan puisi dan nyanyian yang diilhami oleh Roh Allah. Kedua, Mazmur dapat dikatakan merupakan rangkuman dari PL (sebagai jawaban iman terhadap Allah). Ketiga, Mazmur telah dinyanyikan oleh Yesus Kristus sendiri (Mazmur mengantar kita memahami misteri Allah yang menjadi manusia). Ia telah menjadi sama seperti kita dalam segala hal kecuali dalam hal dosa. Ia bersedih, mengeluh, takut, kecewa, difitnah, dsb). Mazmur Tanggapan tidak boleh diganti dengan lagu antarbacaan seperti yang tersedia dalam Buku Nyanyian Gereja. Ritus Liturgi Sabda dalam Perayaan Ekaristi merupakan ritus yang telah diatur sedemikian sehingga boleh dikatakan sudah menjadi "kanon". Apabila tidak dinyanyikan, Mazmur Tanggapan dibacakan saja dengan bagian refrein diulangi oleh umat.
  3. Bacaan Kedua (duduk); Bacaan Kedua biasanya diambil dari tulisan/surat di perjanjian baru, misalnya salah satu surat Rasul Paulus, dll. Bacaan kedua mewartakan iman akan Yesus menurut konteks Gereja Perdana. Bacaan kedua bertujuan mempersiapkan umat pada puncak perayaan sabda yakni Injil.
  4. Bait Pengantar Injil (berdiri); PUMR No. 62 mengatakan: "Sesudah bacaan yang langsung mendahului Injil, dilagukan bait pengantar Injil, dengan atau tanpa alleluya, seturut ketentuan rubrik, dan sesuai dengan masa liturgi yang sedang berlangsung. Aklamasi ini merupakan ritus atau kegiatan tersendiri. Dengan aklamasi ini jemaat beriman menyambut dan menyapa Tuhan yang siap bersabda kepada mereka dalam Injil, dan sekaligus menyatakan iman. Seluruh jemaat berdiri dan melagukan bait pengantar Injil, dipandu oleh paduan suara atau solis". Bait pengantar Injil merupakan sambutan atau sapaan terhadap Allah yang hendak bersabda kepada mereka. Bait pengantar Injil menggunakan kata: “Alleluya” הללויה (kecuali selama masa Prapaska. Kata “Alleluya” ini berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “Terpujilah YHWH” dan digunakan dalam ibadat bangsa Yahudi. Sesuai dengan sifat dasarnya seruan ini merupakan ungkapan pujian sukacita kepada Tuhan yang bangkit, karena kata Halel berarti nyanyian pujian. Pada saat menyanyikan bait pengantar Injil umat berdiri, sebagai tanda kesiapsediaan untuk menyambut Tuhan Yesus Kristus yang akan bersabda dalam Injil.
  5. Injil (berdiri); Merupakan puncak Liturgi Sabda. Gereja percaya bahwa Kristus "hadir dalam sabda-Nya, karena Ia sendirilah yang bersabda ketika Kitab Suci dibacakan di gereja". Oleh karena itu, bacaan injil mempunyai beberapa keistimewaan : (1) Dibacakan oleh imam/diakon dan umat berdiri; (2) Injil di hormati dengan pendupaan (untuk hari raya/ pesta); (3) Sebelum bacaan injil ada dialog antara imam & umat : "Tuhan bersamamu” dan umat menjawab “Dan bersama rohmu”; (4) Kemudian Imam berkata, "Inilah Injil Yesus Kristus menurut (Lukas / Matius / Markus /Yohanes)” dan umat menjawab “Dimuliakanlah Tuhan”, sambil membuat tanda salib kecil di kening, bibir dan hati dengan ibu jarinya. Makna salib kecil ini adalah  kita bisa ungkapkan dalam hati “SabdaMu, ya Tuhan kami pikirkan dan renungkan (tanda salib dikening), kami wartakan (tanda salib dimulut), dan kami resapkan dalam hati (tanda salib didada/hati).
  6. Homili (duduk); Homili dimaksudkan untuk mewartakan dan mendalami sabda Allah / misteri iman yang bertolak dari bacaan / tema yang baru dibacakan, dengan bahasa / situasi umat yang dihadapi saat ini sehingga dapat memperteguh iman umat. Hal penting yang perlu diketahui tentang homili: Perbedaan Homili dengan khotbah: Homili merupakan penjelasan tentang isi Kitab Suci (Bdk. PUMR no. 65) sedangkan khotbah tidak selalu menjelaskan isi Kitab Suci. Dalam langkah praksis pastoral, Homili biasanya disampaikan oleh imam selebran utama tetapi tidak menutup kemungkinan pemberi homili digantikan dengan imam konselebran atau kepada diakon, atau juga dengan alasan yang khusus kepada seorang imam yang tidak ikut konselebran tetapi tidak pernah diberikan kepada seorang awam (Bdk. PUMR no. 66). Seorang imam wajib memberikan homili pada hari minggu dan pesta-pesta wajib dan hanya boleh ditiadakan dengan alasan yang berat. Homili sangat dianjurkan pada hari-hari biasa dalam masa-masa khusus (PUMR no. 66).
  7. Syahadat – Doa Aku Percaya (berdiri); Merupakan pernyataan iman seluruh umat, sekaligus meng-AMIN kan bacaan dan homili yang telah kita dengarkan sebelumnya.
  8. Doa Umat (berdiri); Merupakan doa seluruh umat beriman bukan hanya untuk kepenting diri sendiri dan kelompok, melainkan doa untuk seluruh Gereja semesta. Biasanya doa umat mencakup: doa bagi Gereja, negara dan pemimpin masyarakat, bagi orang-orang dengan kepentingan khusus dan bagi kepentingan umat paroki. Jika di beri waktu hening, kita pun dapat mendoakan doa kita dalam hati. Pada setiap doa, umat menjawab “Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan." Biasanya doa dibuka & ditutup oleh imam/prodiakon, kemudian tiap doa didoakan oleh lector/pembaca.
Dari urutan di atas, sangat jelas terungkap di dalam Liturgi Sabda kehadiran Allah sendiri. Jadi Allah tidak hanya hadir pada saat Liturgi Ekaristi dimulai, melainkan pada saat Perayaan Ekaristi dimulai. Mengakhiri seluruh pembahasan ini, baiklah kita melihat Yoh. 1: 1,14 yang merupakan inti/puncak dari Liturgi Sabda: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita.”

Media Kairos
Kelompok Paduan Suara Misa 50 Tahun Paroki St. Maria Palangka Raya

Lagu dalam Perayaan Ekaristi merupakan bagian dari musik liturgi. Musik Liturgi adalah musik yang digunakan untuk ibadat/liturgi, mempunyai kedudukan yang integral dalam ibadat, serta mengabdi pada kepentingan ibadat. Dalam Sacrosanctom Concilium (SC) art. 112 dikatakan: “Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat berhubungan dengan upacara ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak.”

Dari pengertian di atas, diandaikan bahwa kita sudah memahami dengan benar apa pengertian liturgi. (Silahkan baca artikel: Pengetahuan Dasar Liturgi dan Pengertian Liturgi Secara Umum). Karena liturgi merupakan karya bersama, dibaktikan untuk kepentingan bersama dalam memuliakan Tuhan, maka lagu pembukaan sangat perlu dinyanyikan oleh seluruh umat.

Peranan petugas liturgi, secara khusus pemilih dan pemimpin lagu sangat menentukan. Seorang pemilih dan pemimpin lagu harus memahami secara benar tentang makna lagu pembukaan dalam perayaan yang dibaktikan bersama dan dilakukan secara bersama. Yang lebih sering terjadi adalah bahwa seluruh lagu dalam perayaan ekaristi, dari pembukaan hingga penutup hanya dinyanyikan oleh kelompok paduan suara yang duduk di salah satu tempat dalam gereja.

Kehadiran kelompok paduan suara tidak menjadi masalah karena mereka juga disebut sebagai pelayan liturgi. Kesalahan muncul apabila kelompok paduan suara mengabaikan keterlibatan seluruh umat dalam lagu liturgi. Kesuksesan sebuah perayaan liturgi bukan terletak pada kesuksesan kelompok paduan suara dalam melayani lagu liturgi tetapi terletak pada bagaimana seluruh umat yang hadir terlibat secara aktif dalam karya yang dibaktikan bersama itu.

Salah satu solusi yang tepat dalam memilih lagu pembukaan yang liturgis adalah dengan menggunakan lagu-lagu yang telah disediakan dalam Buku Nyanyian Liturgi seperti Madah Bakti, Kidung Agung, Puji Syukur dan buku nyanyian liturgi lainnya yang telah diakui oleh Gereja. Perlu diusahakan pula agar umat mengetahui lagu yang dipilih. Bila belum diketahui, perlu diselenggarakan pelatihan bersama untuk mengetahui lagu-lagu liturgi.

Ingat, makna liturgi lebih banyak hilang karena petugas liturgi ingin hasil yang cepat, tidak melalui prosedur yang perlu, misalnya sosialisasi lagu-lagu liturgi. Karena minimnya sosialisasi lagu liturgi, akhirnya kita mewariskan kesalahan yang sama sehingga liturgi yang kita rayakan semakin lama semakin hilang makna kebersamaannya.

Media Kairos
Perarakan Pada Misa 50 Tahun Paroki St. Maria

Perayaan Ekaristi merupakan suatu perayaan yang bersifat satu kesatuan dan utuh. Perayaan terdiri dari Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi dan Ritus Penutup. Artikel berikut membahas secara khusus urutan dan makna Ritus Pembuka dalam Perayaan Ekaristi.

Ritus Pembuka bertujuan mempersatukan umat yang berkumpul dan mempersiapkan umat untuk mendengarkan sabda Allah dan merayakan Ekaristi dengan layak. Ritus pembuka terdiri atas beberapa bagian :

  1. Perarakan masuk (berdiri): tujuan untuk membuka misa, membina kesatuan umat, mengantar masuk misteri iman sesuai dengan masa liturgi, mengiringi perarakan imam beserta pembantunya. Perarakan diiringi dengan Lagu Pembukaan yang melibatkan seluruh umat (Baca Artikel: Pentingnya Partisipasi Umat Menyanyikan Lagu Pembukaan)
  2. Pendupaan & Penghormatan Altar oleh Imam dengan makna: Imam (mewakili umat) menghormati altar dengan mencium altar; pendupaan diadakan untuk hari-hari besar / hari khusus. Imam mengisi dupa & memberkati dengan membuat tanda salib. Pendupaan itu untuk penghormatan pada Sakramen Mahakudus, reliqui salib/patung Tuhan, bahan persembahan, Kitab Injil, lilin paskah, imam dan jemaat.
  3. Tanda Salib: Imam mulai perayaan ekaristi dengan membuat tanda salib “Dalam (Demi) nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”. Umat membuat tanda salib dan menjawab “Amin”. Dengan tanda salib kita menyadari bahwa kita di bawah sumpah untuk menjadi bagian dari keluarga Allah dan umat yang hadir. Tanda salib mengingatkan kembali akan pembaptisan kita, saat kita ditandai dengan salib dan masuk dalam hitungan keluarga Allah. Dengan tanda salib ini , kita juga mengakui iman Trinitas, yaitu hubungan keluarga, kehidupan batiniah dan persekutuan abadi dari Allah.
  4. Salam Pembuka: Imam menyampaikan salam dengan mengatakan “Tuhan bersamamu” dan umat menjawab “ Dan bersama rohmu". Hal ini menyatakan bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah umat yang hadir.
  5. Pengantar: Imam mengarahkan umat kepada inti bacaan, liturgi yang akan dirayakan saat itu. Dalam pengantar, imam juga dapat menyebutkan beberapa hal yang menjadi intensi perayaan terutama bila perayaan itu didedikasikan untuk perayaan tematis.
  6. Tobat (berlutut) : dalam ritus tobat, biasanya umat menepuk dada saat mengucapkan "saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa" dalam doa saya mengaku. Gerakan ini merupakan simbol rasa sesal dan tobat. Dalam doa ini, umat menyampaikan penyesalan dan pertobatan atas dosa dan kesalahan pada Tuhan dan sesama. Mengakhiri doa tobat, imam memberikan ABSOLUSI / PENGAMPUNAN dengan menjawab “Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan menghantar kita ke hidup yang kekal”. Absolusi/Pengampunan ini tidak memiliki kuasa yang sama dengan absolusi pengampunan pada Sakramen Tobat.
  7. Tuhan Kasihanilah: seruan/litani untuk mohon belas kasih Tuhan, yang diteladankan dua orang buta yang di sembuhkan Yesus (lih Mat 9:27). Bagian ini lebih sering dinyanyikan terutama dalam perayaan hari Minggu dan hari raya. 
  8. Kemuliaan (berdiri): Untuk misa Natal dan Paskah, biasanya ketika Madah Kemuliaan dinyanyikan, lonceng dibunyikan. Sesuai dengan namanya, Madah Kemuliaan bertujuan untuk memuliakan Allah. Dalam menyanyikan Madah Kemuliaan, harus sesuai dengan sikap tubuh yang memuliakan penuh kemeriahan. 
  9. Doa Pembukaan : diawali dengan waktu hening untuk menyadari kehadiran Tuhan, mengungkapan permohonan kita dalam hati, kemudian Imam menggabungkan seluruh doa dengan ujud doa pada misa tersebut.
Ketika Imam mengatakan: Marilah Berdoa, saat itu pula petugas Lektor dan Pemazmur harus bersiap-siap untuk menuju mimbar. Hal ini diperlukan agar dalam Perayaan Ekaristi tidak terlalu banyak "waktu jedah" atau "menunggu". Setelah imam mengakhiri Doa Pembukaan dengan jawaban "Amin" dari umat, para petugas sabda sudah siap untuk membacakan Sabda Allah.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget