MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Filsafat"

Perbedaan bukanlah sebuah musuh yang dapat mencerai-beraikan hidup kita. Hidup sebagai masyarakat, hidup sebagai orang beriman dan hidup dalam berkeluarga selalu diwarnai dengan aneka ragam perbedaan. Walaupun Anaxagoras dalam filosofi cintanya mengatakan "yang sama mengenal yang sama", tapi perbedaan itu bisa menjadi persamaan bila dipahami sebagai saling membutuhkan dan saling melengkapi. Mari kita lihat Falsafah Lima Jari berikut ini:

  1. Ada si gendut jempol yang selalu berkata baik dan menyanjung.
  2. Ada telunjuk yang suka menunjuk dan memerintah.
  3. Ada si jangkung jari tengah yang sombong , paling panjang dan suka menghasut jari telunjuk.
  4. Ada jari manis yang selalu menjadi teladan, baik, dan sabar sehingga diberi hadiah cincin.
  5. Dan ada kelingking yang lemah dan penurut.

Dengan perbedaan positif dan negatif yang dimiliki masing-masing jari, mereka bersatu untuk mencapai 1 tujuan (saling melengkapi). Dan karena meraka hadir dengan caranya masing-masing, akhirnya mereka dapat meraih sesuatu dengan kuat dan kokoh.

Pernahkah kita bayangkan bila tangan kita hanya terdiri dari jempol semua? Atau mungkin hanya telunjuk semua. Tidak ada yang penurut, semua mau memerintah. Falsafah ini sederhana namun sangat berarti.

Kita terlahir dengan segala perbedaan yang kita miliki dengan tujuan untuk bersatu:

  • saling menyayangi
  • saling menolong
  • saling membantu
  • saling mengisi

Bukan untuk:

  • saling menuduh
  • menunjuk atau merusak.....

Semua perbedaan dari kita adalah keindahan yang terjadi agar kita rendah hati untuk menghargai orang lain. Tidak ada satupun pekerjaan yang dapat kita kerjakan sendiri. Mungkin kelebihan kita adalah kekurangan orag lain, dan sebaliknya kelebihan orang lain bisa saja menjadi kekurangan kita. Tidak ada yang lebih bodoh atau lebih pintar, bodoh atau pintar itu relatif sesuai dengan bidang/talenta yang patut kita syukuri masing-masing menuju impian kita.

Keseluruhan yg dimiliki menjadi sempurna. Bukan individualis yg sempurna. Orang pintar bisa gagal, orang hebat bisa jatuh, tetapi orang yang rendah hati dalam segala hal akan selalu mendapat kemuliaan. Itulah keyakinan kita semua bila kita menghargai perbedaan satu sama lain. Kita akan menjadi orang paling kaya karena kita merasa dilengkapi oleh satu sama lain. Kita menjadi orang bahagia karena kita selalu berkecukupan.

Dalam hidup beriman pun kita harus menjadi orang yang selalu bergembira. Meskipun kita memiliki pengalaman dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, kita tetap dipersatukan oleh Dia yang telah lahir dan bangkit untuk kita. Bila demikian, mengapa kita perlu bersedih? Kita patut bersyukur atas keragaman yang ada di antara kita, karena itu sangat memperkaya dan memperteguh iman kita. Semoga!**Yakobus Dapa Toda, S.S.

Korupsi merujuk pada pembusukan atau penyimpangan.  Mark Philp, dalam bukunya Defining Political Corruption (1996) mengatakan bahwa korupsi dapat dimengerti sebagai penyimpangan  fungsi atau perilaku dari sesuatu yang alami dan sesuatu standar normal. Seorang koruptor, bukan hanya  sekedar  melanggar hukum, tapi  lebih dari pada itu, norma-norma dasar etika tidak lagi berarti sama sekali untuk dia. Korupsi menyerang pada akar dari suatu hal.

Pernyataan Mark Philp ini membawa kita pada dua cara utama mengidentifikasi keadaan korupsi. Cara pertama adalah berusaha mencari tahu segala sesuatu fungsi atau perilaku alami atau fungsi dari sesuatu yang normal. Sesuatu yang ideal, sesuatu yang telah diakui sebagai kebenaran umum. Untuk melakaksanakan cara pertama ini, kita membutuhkan banyak tools sesuai dengan sudut pandang yang dipakai. Contoh: ketika kita mencari tahu keadaan korupsi dari sudut pandang moral, maka kita harus mengidentifikasi segala sesuatu yang alami atau standar normal menurut ukuran moral. Demikian halnya bila menggunakan sudut pandang hukum, politik dan lain sebagainya.

Setelah melakukan cara pertama di atas, kita diwajibkan untuk melakukan cara kedua sebagai tindak lanjut dari cara pertama. Cara kedua tersebut adalah mengidentifikasi segala penyimpangan yang terjadi. Karena telah dikemukakan semua fungsi atau perilaku dari sesuatu yang alami dan standar normal, maka segala penyimpangan dari keadaan tersebut kita sepakati sebagai suatu keadaan korupsi.

Pendapat Mark Philp di atas membawa kita pada pemikiran yang luas tentang korupsi. Dalam pengertian ini, korupsi tidak hanya dipakai untuk mendefinisikan keadaan pencurian uang negara, tetapi merujuk pada segala penyimpangan yang dilakukan. Selanjutnya, karena korupsi potensial terjadi atas keadaan apa pun, maka kita tidak boleh terarah hanya untuk mengkritisi keadaan korupsi yang terjadi di luar keterlibatan kita. Dalam konteks pandangan Mark, kita pun merupakan bagian dari pelaku korupsi tersebut.

Di Indonesia, pengertian korupsi direduksi begitu sempit sebatas tindakan pencurian uang negara. Maka dibentuklah komisi untuk menangani kasus pencurian uang negara tersebut yakni KPK. Hadir pula meraka yang menjadi mata-mata atau pemantau tindakan pencurian uang negara yang disebut sebagai ICW. Bermunculan LSM dan Media yang lagi ngetrend meminjam kata korupsi untuk diselipkan dalam nama organiasasinya. Tapi, semuanya bergerak hanya memantau korupsi dalam pengertian “pencurian uang negara”.

***

Hanya Satu Contoh dari Sekian Banyak Tempat Terjadinya Korupsi

Bertolak dari pandangan Mark Philp di atas, penulis mencoba mengemukakan kejanggalan yang ada dalam dunia jurnalistik. Pers adalah pilar ke empat demokrasi. Pers harus bersifat netral, tidak berpihak kepada salah satu pihak. Pers harus menjadi fasilitator untuk terus-menerus memberikan pendidikan publik (public education). Pers dalam bekerjanya harus menempatkan diri sebagai anjing penjaga (watch dog) bukan sebagai anjing pelacak apalagi sebagai anjing pembunuh. Pers harus bebas dari intervensi dan lebih berupaya mengkristalkan makna independensi dalam setiap pergerakkannya.

Sesungguhnya para jurnalis tidak perlu berpikir berapa besar mereka dibayar oleh pihak-pihak yang membutuhkan publikasi karena para jurnalis tergabung dalam perusahaan pers yang memikirkan upah mereka. Ini semua adalah standar normal dalam dunia jurnalistik. Namun, terdapat sebagian dari para jurnalis melakukan penyimpangan. Pers bukan lagi sebagai pilar tapi sering menjadi penghasut, provokator, memperlebar jurang perbedaan yang membawa pada kehancuran. Oleh mereka yang sebagian kecil ini, pers jarang lagi kita lihat yang “netral” karena banyak digunakan sebagai tunggangan atas kepentingan. Tidak kita temukan lagi makna pendidikan publik dalam setiap pemberitaan pers yang dikelola oleh mereka ini. Lebih banyak menyajikan hal-hal yang tidak layak dikonsumsi publik. Contoh: kasus pemerkosaan, surat kabar kita lebih banyak mengulas tentang modus, cara, teknik yang digunakan dalam kejahatan pemerkosaan. Untuk lebih serunya, dituliskan juga bagaimana kondisi korban saat diperkosa, histeris, mendesah, merintih dan lain sebagainya.

Mereka, yang jumlahnya kecil ini tidak  memahami independensi. Mereka lebih banyak berbicara soal “kue”. Ada kasus, ada kue. Mereka lebih senang membangun ATM berjalan hasil kasak-kusuk ke sana kemari sebagai muara akhir dari pelacakan. Dengan sedikit intimidasi, dengan alasan nama baik, banyak juga pejabat publik yang menjadi ATM para jurnalis ini. Penyimpangan dari standar normal Pers atau jurnalisme dalam konteks ini kita sebut sebagai korupsi para jurnalis.

***

Dalam konteks korupsi sebagai “penyimpangan”, maka sebagai koreksi internal, refleksi pribadi para pengkritik korupsi harus berdiri tetap pada standar normal yang berlaku.  Penyimpangan banyak sekali kita temukan. Penyimpangan dari tata manajemen, penyimpangan dalam menjalankan organiasasi, penyimpangan  dalam menggunakan profesi. Semua itu harus kita lihat sebagai tindakan korupsi. Mereduksi pengertian korupsi sebatas pencurian uang negera membuat mata kita buta melihat potensi korupsi lainnya yang sedang terjadi.

Bahan Bacaan:
Dobel, J.P. (1978) ‘Corruption of a State’, American Political Science Review;
Friedrich, C.J. (1966) ‘Political Pathology’, Political Quarterly;
Philp, M. (1996) ‘Defining Political Corruption’, Political Studies.

Pendahuluan 
Simbol air dalam Kitab suci disadari kerap mengungkapakn arti yang cukup luas, tak terbatas, dan terkandung unsur misteri di dalamnya. Air dalam injil Yohanes juga mengandung beberapa pengertian. Injil Yohaes merupakan injil tanda-tanda dan kemulian tentang diri Yesus. Air sebagai suber hidup dalam perikop inijil Yohanes ini kiranya dapat membantu kita untuk memahami lebih dekat serta mendalam tentang siapa Yesus dan apa yang diwartakan-Nya.

Simbol Air dalam Tradisi Yahudi
Wilayan di Palestina relatif kekurang air. Padalah di daerah yang cukup tandus penyediaan air mutlak diperlukan untuk hidupnya tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Oleh karena itu orang Israel harus menggunakan berbagai usaha dan saran guna mencukupi kebutuhan akan air sepanjang tahun.

Palestina memiliki sedikit aliran sungai yang dapat digunakan untuk irigasi. Hujan hanya turun beberapa bulan di musim hujan. Oleh karena itu orang-orang Israel kuno harus bergantung seluruhnya pada air tanah baik dari sumber air atau dari sumur. Cara lain untuk persediaan air yang cukup adalah dengan menyimpan air hujan pada musim hujan pada musim hujan dalam sebuah bak atau kolam.[1]

Secara garis besar kegunaan air dapat dibagi dua, yaitu: kegunaan sekular dan kegunaan religius. Pada penggunan sekular biasanya dalam bidang irigasi. Air dipakai juga untuk keperluan masak, minum dan memberi minum pada ternak-ternak oleh para gembala.[2]

Air dalam bidang religius banyak memiliki fungsi simbolis. Untuk penyucian seremonial, biasanya air dipakai untuk membersihkan tubuh. Seorang imam misalnya dituntut untuk membersihkan (menyucikan) tubuhnya atau paling tidak menyucikan tangan dan kakinya sebelum menjalankan tugas religiusnya. Ritus penyucian pakaian atau permandian atau barang-barang lain bagi semua orang Israel telah ditentukan dalam hubungannya dalam berbagai upacara penyucian. Pada kasus-kasus tertentu selain menerima pembersihan air, seseorang harus disucikan secara ritual dengan cairan khusus yang merupakan percampuran air dan abu.[3]

Tradisi Judaisme meletakkan tekanan besar pada penycian ritual. Orang-orang Farisi pada zaman Yesus termasuk teliti sekali dalam ketaatan pada pelaksanaan upacara seperti itu. Dalam Yudaisme penggunaan seremonial air merupakan bagian yang penting dalam upacara pesta Pondok Daun. Seorang imam menimba air dari kolam Siloam memakai buyung emas. Air yang telah diambil itu kemudian dibawa ke Bait Allah dalam sebuah perarakan besar. Di atas alatar dalam Bait Allah setiap hari dalam oktaf pesta ini, sebagian air dicurahkan bersama dengan anggur di dihadapan orang banyak. Penggunaan air secara religius juga tampak dalam praktek pembabtisan yang bahkan sebelum zaman Yesus telah dilaksanakan bagi para proselyt.[4]

Simbol Air dalam Kitab Suci
Kitab Suci baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru banyak mencantumkan kehadiran dan peranan air. Di sini ada beberapa contoh makna simbol air dalam Kitap Suci. Yahwe menyebut diri-Nya sendiri sebagai "Sumber Air Hidup" (Yer 2:13; 17:13). Air yang Yesus janjikan adalah hidup abadi. Gambaran ini sejajar dengan yang tertera dalam Perjanjian Lama dimana rahmat Tuhan (MZ 1:13; 12:8; 23:2) dan khususnya rahmat zaman Mesianis (Yes 11:3.9; 32:2.20) sering dituliskan dengan gambaran air yang berlimpah yang memberikan hidup dan kesuburan. Dapat dibandingkan juga dengan kerinduan Daud akan Tuhan dengan gambaran tanah kering yang merindukan air (MZ 83:2; 143:6).[5]

Gambaran seseorang yang puas dengan air minumnya sendiri di gunakan sebagai peringatan melawan perzinahan (Ams 5:15). Air yang surut memberi gambaran tentang makhluk hidup yang akan mati dan segera dilupakan (Ayb 11:16; MZ 58:8.2). Air hujan yang turun dengan lebat di musim hujan mengubah sungai kering menjadi aliran sungai yang deras yang menyeret semua benda oleh derasnya arus yang pasti menghancurkan segala yang dilaluinya (Yer 47:2; Yes 8:7). Air banjir dilihat sebagai suatu gambaran sebuah bahaya yang mematikan dan akhir kemurkaan Allah.

Dalam Perjanjian Baru Yesus sendiri menyebut dirinya sebagai air hidup (Yoh 7:37; 4:10.13). Air digunakan mulai dari pembabtisan Yesus (Yoh 1:19-34) sampai pada kematian-Nya di kayu salib ketika air dan darah ke luar dari lambungnya (Yoh 19:28-37). Hidup kekal yang diberikan Allah dilambangkan dengan air (Why 7: 17; 21:6; 22:1.7). Air juga muncul untuk menerangkan gagasan pembasuhan babtisan untuk pengampunan dosa (Ef 5:26; Ibr 10:22). Masih banyak contoh-contoh yang memakai air yang memiliki macam arti dan makna dalam Kitab Suci.

Simbol Air dalam Injil Yohanes

Memaknai Awal yang Baru
Air sebagai simbol dilihat sebagai suatu awal baru. Tentang air membawa arti baru dapat dilihat dalam kisah kesaksian Yohanes Pembabtis. Memang narasi ini sangat erat kaitannya dalam peristiwa babtisan dan perkenalan identitas Yesus oleh Yohanes Pembabtis. Ia mengatakan banwa dirinya datang untuk mempersiapkan jalan bagi seseorang yang akan datang. Ia memperkenalkan orang yang akan datang itu sebagai Yesus. Dengan kedatangan Yesus menunjukkan kehendak Bapa yang mengutus Puteran-Nya sendiri yang dikasihi. Putera yang diutus ke dunia inilah yang oleh Yohanes Pemandi akan membawa seseuatu yang baru di dunia ini. Babtisan lewat air ini melalui Yohanes Pembabtis pada diri Yesus sebagai jalan bagi kedatangan Anak Domba Allah yang telah lama dinantikan (1:23), sebagai awal keselamatan baru.

Purifikasi
Purifikasi dapat diartikan sebagai penyucian. Air sebagai simbol peruifikasi muncul dalam kisah perkawinan di Kana (2:1-11). Yesus, para murid-Nya dan Ibu-Nya hadir dalam pesta pernikahan ini. Dalam peristiwa ini Yesus melakukan tanda pertama-Nya.   Perhatian ibu Yesus pada kebutuhan orang lain dipandan sebagai suatu kesempatan untuk terjadinya tanda kemuliaan diri Yesus.

Air dalam teks ini disebut sebagai air pembasuhan kaki. Upacara pembasuhan kaki bisa meupakan hal yang cukup penting untuk kehidupan bangsa Israel. Yesus mengubah tata cara lama yaitu: adat istiadat pembasuhan kaki menjadi kelimpahan karunia rahmat mesianis, yaitu anggur. Hal ini terjadi tanpa seorangpun tahu bagaimana proses terjadinya. Ada yang mengatakan bahwa peristiwa itu menyimbolkan penciptaan kembali iman Yahudiah melalui hidup dan pelayanan Yesus.[6] Ada yang menilai bahwa hal ini merupakan penyempurnaan dan transformasi Hukum Taurat oleh Injil [7] dan penggantian institusi-institusi Yahudiah oleh keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus. Namun demikian dalam narasi tersebut air secara erat di kaitkan dengan purifikasi.[8].

Dalam tradisi ritus Yahudi, air dalam tempayan biasanya digunakan dalam ritus pencucian kaki. Walaupun nantinya air menjadi anggur, fakta bahwa anggur berasal dari tempayan-tempayan pembasuhan kaki membawa interpertasi tersendiri tentang purifikasi. Air purifikasi dalam tempayan membantu para murid untuk memiliki iman dan melihat kemuliaan Yesus. Karya air membawa kontak dengan kemuliaa-Nya. Dan apa yang Yesus tunjukkan dalam pesta nikah itu menimbulkan kegembiraan perayaan dan mewartakan lebih dari sekedar purifikasi ritual.[9]

Panggilan untuk Beriman
Fungsi air untuk kesekian kalinya muncul dalam injil Yohanes melalui peristiwa dialog antara Yesus dan orang Farisi bernama Nikodemus (3:1-21). Pada kisah itu, arti air dan fungsinya memperoleh penekanan yang penting dalam dialog Nikodemus dan Yesus. Memang air hanya muncul sekali dalam cerita itu. Namun mempunyai pengaruh hampir dalam seluruh injil Yohanes. Yesus berkata "…jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" (3:5). Untuk selanjutnya dalam setiap perkataan-Nya mengenai air bisa dikatakan hampir tidak dimunculkan lagi. Nampaknya Yesus lebih sering memunculkan karya dan peran Roh Kudus sehubungan dengan symbol air. Dari kisah ini kita dengan sendirinya mulai melihat keterkaitan yang mendalam mengenai arti lahir kembali 'dengan' lahir dari air dan Roh Kudus.[10]

Dapat kita katakan bawa air dalam konteks bukan lagi menunjuk pada sebuah purifikasi, namun secara jelas menunjukkan dan berarti mempersiapkan orang memasuki suatu hubungan baru, yaitu panggilan untuk beriman kepada Kristus.[11]

Konteks Pertentangan Kristus dan Orang Yahudi dalam Injil Yohanes
Dalam konteks cerita pada bab tujuh ini, dilukiskan pertentangan Yesus dan orng Yahudi. Di sini dikisahkan bahwa Yesus tinggal di Yerusalem dalam waktu yang cukup lama. Saat tinggl di situ, ternyata Yesus harus berhadapan dengan situasi di mana cukup banyak  orang-orang di sekitar itu yang tidak menyukai-Nya. Pertentangan itu dapat saja dari orang-orang  yang dekat dengan Yesus (7:5), bahkan mungkin dari murid-murid-Nya sendiri (8:31-33). Tetapi bisa dikatakan sebagian besar dari orang-orang yang membenci adalah orang-orang Yahudi dan para penguasa setempat. Ketegangan ini nampak akan dialami Yesus saat menjelang pesta Pondok Daun dimana beberapa peguasa ingin menangkap Yesus (7:30). Di lain pihak ternyata ada juga orang-orang yang masih mau menerima kehadiran-Nya. Ada yang menerima karena mengagumi Yesus. Adapun alasan mereka yang mengaguminya karena melihat Ia yang selalu terlepas dari usaha licik para penguasa setempat dan orang-orang Yahudi yang ingin selalu menangkap Dia (7:55-56). Perbedaan pandangan tentang kehadiran Yesus ini kerap menimbulakan perpecahan di antara orang Yahudi sendiri.  Dua kali Yesus coba untuk dibunuh dengan dilempari batu oleh orang Yahudi. Pertama terjadi setelah Yesus mengatakan diri-Nya bawa Ia sudah ada sebelum Abraham (8:58-59), dan yang kedua akibat pernyataa-Nya mengenai kesatuan-Nya dengan Bapa (10:30-31). Akibat peryataan dan perbedaan pendapat di antara orang Yahudi mengenai diri Yesus bakal akan mencapai puncaknya jika Yesus hadir pada saat pesta Pondok Daun di Yerusalem.

Penulis dalam kesempatan ini berusaha memberi penilaian yang netral. Walau demikian disadari tidak semua orang memusuhi-Nya. Ada yang menganggap-Nya sebagai Mesial (7:41). Yang lain ada juga yang melihat-Nya sebagai orang baik utusah Allah (nabi) karena kagum atas mujizat-mujizat yang diperbuat Yesus dihadapan banyak orang. (9:32-33). Di sini penulis melukiskan bahwa ada sejumlah orang yang berpihak pada Yesus, namun sebagian lagi menolak Dia. Di sini yang dituntut penulis dari para pendengar atau pembaca yatiu bahwa setiap orang yang mau beriman pada Yerus harus bisa mengambil sebuah keputusan untuk mengikuti-Nya atau sebaliknya dengan tegas meninggalkan imannya kalau tidak percaya pada Yesus. Jadi penulis tidak ingin membiarkan diri pendengar ibarat seperti suam-suam kuku dalam beriman pada Kristus.[12]

Motive air muncul dalam dua kisah. Kisah pertama terjadi pada akhir pesta Pondok Daun, ketika Yesus berdiri dan megundang orang haus untuk datang pada-Nya dan minum (7:37). Dia menjadikan diri-Nya sebagai air hidup yang mengalir kepada mereka yang menerima kedatangan-Nya. Peristiwa ini mengundang reaksi dari para pengunjung yang hadir dalam pesta Pondak Daun. Sedangkan kisah air yang kedua yaitu pada saat Yesus ke luar dari Bait Allah. Banyak orang datang hendak melempari Dia dengan batu. Peristiwa ini disebabkan ketika seorang yang buta sejak lahirnya disembuhkan karena mengikuti perintah Yesus supaya mencelupkan dirinya dalam kolam Siloam. Peristiwa penyembuhan ini ditentang oleh orang Yahudi karena peristiwa itu terjadi pada hari Sabat.[13]

Untuk sementari dari kisah ini dapat disimpulkan, bahwa pertentangan selalu ada bagi setiap mereka yang mau mengikuti Yesus. Penolakan dapat saja terjadi oleh orang-orang  di sekitar, mauupun yang disebabkan oleh keraguan yang muncul dalam diri masing-masing pribadi. Namun penulis menekankan agar mengambil sikap dan tidak tinggal dalam keragu-raguan.

Uraian Eksegese tentang Yesus Air Hidup

(7: 37-39): Menjelang pesta Pondok Daun, seperti yang dikisahkan di atas, beberapa orang Yahudi mau melempari dan membunuh Yesus. Dia membuat kejengkelan orang-orang Yahudi tentang pernyataan-Nya bawa hanya mereka yang makan daging dan minum darah-Nya akan memperoleh hidup yang kekal (6:53). Dengan situasi demikian jelas membuat ruang gerak Yesus menjadi terbatas, yaitu hanya seputar daerah Galelia. Untuk daerah Yudea Yesus akan diancam.[14]

Walaupun dalam situasi teracam, Yesus memilih untuk tetap hadir dalam pesta Pondok Daun di Yerusalem. Kisa tentang air muncul saat Yesus pergi ke pesta tersebut. Yesus mengundang orang yang haus untuk datan pada-Nya dan minum (7:37). Bahkan Ia sendiri mengatakan  diri-Nya sebagai 'aliran sungat air hidup' (7:38). Peristiwa ini kembali mengundang penyataan Yesus tentang diri-Nya sebagai air hidup, setelah pertemuan-Nya dengan wanita Samaria. Dan dalam kesempatan ini tidak ada orang Yerusalem yang dapat memahami dan menerima Yesus sebagai air hidup. Disini reaksi yang mucul yaitu pertentangan mengenai diri-Nya semakin menjadi-jadi.[15]

Dalam narasi bertemu 'air sumber hidup ini' (7: 37-40) symbol air membantu seseorang dalam memahami diri Yesus dan karya pelayanan-Nya.[16] Air menghadirkan sesuatu yang harus diterima agar orang percaya pada-Nya. Air yang menunjukkan diri-Nya sebagai  warisan tradisi Yahusi dan sekaligus mengatasi tradisi tersebut berkat hubungan dan kesatuan diri-Nya yang erat dengan Allah. Yesus memiliki pengertian dan sekaligus mengatasi tradisi Yahudi dengan mengundang orang yang haus untuk datang pada-Nya pada penutupan pesta Pondok Daun itu. Sebab dalam perayaan itu sendiri memiliki makna yang berhubungan erat dengan air dan berkat.  Mereka yang berkunjung ke pesta ini tentu bukan hanya menginginkan air  guna menyegarkan bibir-bibir dari setiap orang yang datang karena kehausan. Tetapi dalam ari haus akan rahmat eskatologis yang memlampaui pemahaman dari sekedar reitus-ritus Yahudi tersebut. Di sini penulis menekankan agar orang mengerti maksut perkataan tentang realitas simbol air hidup itu. Dan diharpkan mereka tidak lagi ragu, melainkan percaya pada yesus.[17]

Pendengar disadarkan bahwa Yesus adalah mesias dan bukan seorang penghojat. Ia adalah mesias seperti yang dijanjikan dalam Kitab Suci yang bukan seorang dari Galilea, melainkan seorang dari keturunan Daud dan dari desa Betlehem.[18]

Dari kisah ini air tidak hanya menceriterakan tentang air sebagai sarana untuk menyampaikan Roh Kudus. Tetapi dari kisah ini air bermakna sebagai Roh Kudus itu sendiri. Ini menjadi poin penting tersendiri bagi penulis untuk menjelaskan dengan suatu ari dan pengandaian yang lebih.(7:39). Yesus ssendiri memberikan janji-Nya kepada setiap orang yang percaya, bukan hanya pada mereka yang hadir pada peristiwa Pondok Daun. Air kembali menjangkau dan menyapa realitas kehidupan spriritual dan kehidupan moral masyarakat Yahudi.[19]

Setiap orang yang minum dari Yesus, yatiu orang-orang yang percaya pada-Nya akan menjadi 'sumber air hidup' . Kalau pada kisah mengenai wanita Samaria Yesus hanya katakan bahwa air yang Ia berikan akan menjadi mata air dalam dirinya yang terus menerus memancar (4:14). Dalam kisah ini air mempunyai makna yang lebih berkembang. Yesus memakai pengertian air dalam dunia pemikiran Yahudi, yaitu menjadi sebuah sungai baru yang mengalir dari hati orang yang taat;. Dengan demikian air hidup yang diterima oleh orang yang percaya menjadikan orang tersebut 'sebagai pemberi air hidup' pada yang lainnya.[20]

(7:40-44): Pada ayat ini ditunjukkan bahwa ada kelompok lain yang tidak memusuhi Yesus. Ada yang menganggap-Nya sebagai Mesial (7:41). Yang lain ada juga yang melihat-Nya sebagai orang baik utusah Allah (nabi). Di antara mereka yang percaya tentu karena kagum atas mujizat-mujizat yang diperbuat Yesus dihadapan banyak orang. (9:32-33).

Di sini penulis melukiskan bahwa ada sejumlah orang yang berpihak pada Yesus, namun sebagian lagi menolak Dia. Dari sini yang mau diambil hikmahnya ialah bahwa pada masing-masing pendengar atau pembaca yang mau beriman pada Yerus harus bisa mengambil sebuah keputusan untuk mengikuti-Nya atau sebaliknya dengan tegas meninggalkan imannya kalau tidak percaya pada Yesus. Jadi penulis tidak ingin membiarkan diri pendengar ibarat seperti suam-suam kuku dalam beriman pada Kristus.[21]

Penutup
Air merupakan sebuah elemen alam yang atasnya Yesus mengungkapkan kuasaan dan kemuliaan-Nya. Penyataan mengenai siapa dan bagaimana karya Bapa dalam diri-Nya nampak pada beberapa kisah seputar 'air'. Misalnya dalam peristiwa pembabtisan oleh Yohanes Pemandi, air yang menjadi anggur dalam peristiwa pesta di desa Kana, air  dalam peristiwa penyembuhan di kolam Soloam. Di sini air menampilkan seruan yang mengajak setiap orang memasuki hidup yang baru. Hidup yang baru yaitu hidup  ditunjukkan dalam pembaptisan dalam air dan Roh.

Dalam banyak hal kehadiran air menuntut keseriusan dalam membuat sebuah keputusan, dan kesungguhan orang untuk beriman. Dan setelah memperoleh pencurahan air, setiap pribadi dengan sendirinya siap diutus menjadi saksi bagi yang lain. Demikianlan bagi setiap mereka yang telah menerima babtisan air dan Roh berhak memperoleh kebangkitan jiwa dan badan seperti yang dialami Yesus sendiri.
[1] A. Drubbel, "Water" dalam Louis F. Hartman, Encyclopedie Dictionary of the Bible (New York-Toronto-London: McGrw-Hill Book Company Inc., 1963), hlm. 2563.
[2] Ibid
[3] Ibid
[4] Yang termasuk golongan Proselyt adalah orang-orang non Yahudi yang dibabtis dan kemudian menolak agama Yahudi. Brendon Mc Garth, "Proselyt" dalam Hartman, Encyclopedie…, hlm. 1942-1943.
[5] A. Drubbel, "Water"… hlm. 2563.
[6] R. Kysar, John's Story of Yesus (Philadelphia: Fortress, 1984. Hlm. 24.
[7] R.H. Lightfood, St. Hohnes Gospel (Oxfort: Clarendon Press, 1984, hlm. 24.
[8] P.F. Ellis, The Genius of John: A Compossition-Critical Comentary on the Fourth Gospel (Collegeville: Liturgical Press, 1984), hlm. 4.
[9] Larry Paul Jones, The Symbol of Water in the Gospel of Yohn (New York: Sheffield Academic Press, 1997), hlm. 14.
[10] Ibid Hal. 74.
[11] Ibid Hal. 75
[12] Ibid Hal. 147
[13] Ibid
[14] Ibid Hal. 148.
[15] Ibid Hal. 149.
[16] Ibid
[17] Brown, The Gospel…, hlm. 323.
[18] Jones, The Symbol…, hlm. 160.
[19] T. Fawcet, The Symbolic Language of Religion (London: SCM Press, 1970), hlm. 36.
[20] Jones, The Symbol…, hlm. 161.
[21] Ibid Hal. 150-155.

Latar Belakang


Keadilan merupakan nilai ideal yang selalu diperjuangkan oleh umat manusia. Sebagai nilai ideal, cita-cita menggapai keadilan tidak pernah tuntas dicari, dan tidak pernah selesai dibahas. Keadilan akan menjadi diskursus panjang dalam sejarah peradaban manusia. Dalam sebuah negara hukum seperti Indonesia, upaya untuk mencapai keadilan tidak bisa diabaikan.

Negara hukum tidak boleh apatis terhadap perjuangan dan setiap upaya untuk menegakkan keadilan. Konsepsi tentang keadilan sangat penting agar sebuah negara hukum menjadi pijakan semua pihak baik warga negara maupun pemimpin negara sebagai kepastian dalam menyelesaikan berbagai persoalan hukum yang dihadapi. Sebuah negara hukum dituntut sebuah konsep keadilan yang dapat menyentuh dan memulihkan berbagai persoalan hukum untuk memuaskan rasa keadilan semua pihak. Oleh karena itu, untuk menegaskan kepastiannya sebagai sarana untuk mencapai keadilan, sebuah negara hukum harus mampu merumuskan konsep hukumnya dalam suatu afirmasi yang bersifat konstitusional.

“Negara Indonesia adalah negara hukum”, demikian afirmasi sebuah negara hukum yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 1 ayat (3). Penegasan tersebut mengharuskan bahwa dalam sebuah negara hukum persoalan-persoalan yang berkaitan dengan hukum harus diselesaikan melalui jalur hukum. Prosedur penyelesaian terhadap semua persoalan hukum melalui jalur hukum tersebut merupakan penegasan terhadap superioritas hukum. Hukum yang superior tidak pernah tunduk di bawah kepentingan apa pun selain kepentingan hukum itu sendiri yaitu mencapai keadilan, kepastian hukum dan kemanfaatan yang merupakan tujuan utama hukum. Tetapi hukum tidak pernah bekerja secara otomatis. Hukum dalam sebuah negara hukum selalu berhubungan dan berkaitan erat dengan aparat penegak hukum. Superior dan tegaknya keadilan hukum membutuhkan aparat penegak hukum sebagai pihak yang berperan sangat penting untuk menegakkan keadilan agar hukum memiliki kekuatan untuk mengatur ketertiban sosial, keteraturan, dan keadilan dalam masyarakat. Dengan demikian, hukum yang tegas dan berlaku adil membuat hukum tersebut menjadi superior; memiliki keunggulan, kelebihan yang dapat diandalkan dan kredibel bagi semua pihak.

Hukum yang mengarahkan diri pada keadilan tidak saja membutuhkan aparat penegak hukum tetapi lebih pada aparat penegak hukum yang bermoral dan berintegritas tinggi. Aparat penegak hukum yang bermoral tersebut diharapkan dapat menegakkan hukum sebaik mungkin sebagai upaya mencapai tujuan-tujuan hukum termasuk untuk mencapai keadilan. Tanpa aparat penegak hukum yang bermoral, sebaik apapun hukum dibuat dapat saja sia-sia (nirmakna) karena tidak mampu memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum bagi semua pihak. Oleh karena itu, kiprah aparat penegak hukum yang baik sangat dibutuhkan agar hukum tetap superior, tidak mudah diperjualbelikan dan tidak berada di bawah penindasan kepentingan politik dan ekonomi. Sesungguhnya superioritas hukum dalam sebuah negara hukum terletak pada konsistensi aparat penegak hukum untuk berpegang teguh pada aspek moralitas demi menegakkan keadilan dan kepastian hukum. Konsistensi aparat penegak hukum dapat menciptakan keunggulan (superioritas) hukum untuk lebih responsif dan mampu menuntaskan berbagai persoalan hukum.

Hukum yang superior tersebut tidak berlaku diskriminatif karena hukum tersebut berlaku adil bagi semua warga negara tanpa memandang posisi, jabatan atau status sosial tertentu. Hukum yang superior tersebut tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan kepentingan yang menyesatkan hukum karena hukum adalah sarana memperjuangkan keadilan bagi semua pihak. Hukum yang superior tersebut harus tetap dilindungi oleh benteng kokoh bernama moralitas aparat penegak hukum. Semua aparat penegak hukum harus memiliki komitmen yang teguh agar hukum tetap dijaga keluhurannya sebagai sarana untuk mencapai keadilan sosial. Moralitas aparat yang kokoh, otentik dan kredibel dibutuhkan sebagai upaya untuk membangun kembali hukum yang dipercaya dan dihargai oleh semua pihak. Oleh karena itu, jika moralitas aparat penegak hukum semakin baik, maka hukum akan semakin superior dan kredibel dalam upaya untuk memenuhi tujuan-tujuan hukum termasuk upaya untuk mencapai keadilan. Moralitas aparat penegak hukum sangat menentukan ke mana arah kepastian hukum dan keadilan akan bermuara.

Aparat penegak hukum yang tidak bermoral menyebabkan hukum berada dalam posisi yang inferior, tidak mempunyai keunggulan dan tidak dapat dipercaya oleh para pencari keadilan. Nilai keadilan dan kepastian hukum akan terdegradasi dan tidak memiliki kekuatan yang bisa diandalkan kalau hukum tidak ‘dikendarai’ oleh aparat penegak hukum yang bermoral baik. Pertanyaannya, apa yang yang menyebabkan hukum di Indonesia belum bisa menggapai nilai idealnya yakni keadilan? Mengapa aparat penegak hukum mengabaikan nilai keadilan dan moralitas sehingga membuat hukum menjadi inferior dan meragukan kehendak baik para pencari keadilan? Pertanyaanpertanyaan tersebut menurut penulis bermuara pada persoalan aparat penegak hukum yang belum memiliki integritas yang tinggi, belum bekerja secara profesional menurut kode etik aparat penegak hukum, dan belum memiliki moralitas dan kepribadian sebagai aparat yang konsisten dalam penegakan hukum seperti diharapkan oleh semua pihak. Selain itu, ketidaktegasan aparat penegak hukum untuk mengikuti prosedur hukum juga telah turut menyebabkan hukum menjadi tidak adil terhadap para pelanggar hukum yang memiliki status sosial tinggi, misalnya, atau mereka yang memiliki akses terhadap hukum. Di lain pihak hukum yang dijalankan oleh aparat penegak yang tidak konsisten tersebut bahkan menindas masyarakat biasa yang tidak mempunyai akses terhadap hukum. Bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap hukum, keberadaan hukum bahkan menjadi begitu tegas dan cenderung diskriminatif.

Masyarakat pencari keadilan tentu merasa tidak puas dan merasa ditindas oleh hukum yang diskriminatif tersebut. Perasaan tidak puas masyarakat beralasan karena dalam negara hukum setiap warga negara sama dan sederajad di hadapan hukum. Rasa tidak puas tersebut melahirkan sikap pesimis masyarakat terhadap hukum dan aparat penegak hukum. Keraguan dan ketidakpercayaan masyarakat membuat hukum semakin tidak berdaya dan tidak mampu memenuhi rasa keadilan publik dan tidak dapat merespon persoalan-persoalan hukum yang semakin kompleks dalam masyarakat. Superioritas hukum semakin dipertanyakan keberadaannya dan moralitas aparat penegak hukum semakin disangsikan oleh masyarakat. Di lain pihak Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945 secara tegas mengatur perihal keadilan di hadapan hukum untuk semua warga negara Indonesia. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa:
“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya”

Selain itu Pasal 28D Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 juga menegaskan bahwa:
Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum. 
Afirmasi hukum yang ideal tersebut terkesan utopis karena belum mampu dilaksanakan secara utuh dan konsisten dalam penegakan hukum di Indonesia. Hukum seolah-olah menjadi panggung sandiwara bagi aparat penegak hukum sehingga upaya mencapai keadilan masih jauh dari harapan dan cita-cita sebuah negara hukum.

Apakah hukum yang kita miliki belum layak disebut hukum yang benar? Ini menjadi pertanyaan yang menyelimuti pikiran para pencari keadilan. Seperti telah dituturkan di atas, ketiadaan konsistensi dalam menjalankan hukum yang benar menjadikan hukum itu berada di posisi inferior. Ketiadaan konsistensi dalam menjalankan hukum yang benar mempertajam makna adagium Latin yang pernah diungkapkan oleh Tacitus, Corruptissima re publica plurimae leges, semakin banyak undang-undang, semakin korupsi sebuah republik.

Konsistensi merupakan sesuatu yang sangat mahal. Oleh karenanya, sering kali dijauhi untuk dibicarakan bahkan untuk dipahami dan dilaksanakan. Ada banyak pendapat mengatakan bahwa berbicara tentang konsistensi merupakan sesuatu yang sangat idealis dan sulit untuk diwujudkan.

Sebelum dibahas lebih lanjut tentang topik di atas, perlu diketahui bahwa ada dua hal penting yang harus dipahami lebih dulu sebagai inti permasalahan yang harus ditelaah. Dua hal penting itu adalah muatan dan pengertian dari kata konsistensi dan hukum yang benar dalam persepektif filsafat hukum.

Pengertian Konsistensi

Kata konsistensi  berasal dari kata konsisten, dari bahasa Latin con-sistere yang artinya berdiri bersama . Bila diartikan, kata konsisten artinya sesuai, harmoni, atau memiliki hubungan logis. Selanjutnya, perubahan kata sifat konsisten menjadi kata benda disebut sebagai konsistensi dengan pengertian kesesuaian, keharmonisan dan keadaan memiliki hubungan logis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsistensi berarti ketetapan (tidak berubah-ubah), ketaatan terhadap azas, keselarasn, kesesuaian perbuatan dengan kata-kata dan kemantapan dalam bertindak.
Konsistensi dalam ilmu logika adalah merupakan sebuah sematik dengan sematik yang lainnya tidak mengandung kontradiksi. Tidak adanya kontradiksi dapat diartikan baik dalam hal semantik atau berhubung dengan sintaksis. Definisi semantik yang menyatakan bahwa sebuah teori yang konsisten jika ia memiliki model; ini digunakan dalam arti logika tradisional Aristoteles walaupun dalam logika matematika kontemporer terdapat istilah satisfiable yang digunakan. Berhubungan dengan pengertian sintaksis yang menyatakan bahwa sebuah teori yang konsisten jika tidak terdpat rumus P seperti yang kedua P dan penyangkalan adalah pembuktian dari axioma dari teori yang terkait di bawah sistem deduktif.
Menurut Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theologia, konsistensi adalah suatu sikap batin yang berhubungan erat dengan moral dan iman dimana seseorang dimampukan untuk melakukan sesuatu yang tidak bertentangan dengan hati nuraninya.

Dari beberapa pengertian di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa konsistensi adalah sebuah keadaan dimana terdapat kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Sebuah keadaan dimana ada keteguhan dan kemantapan dalam bertindak sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku, tidak terdapat kontradiksi antara teori dan kenyataan. Hal yang paling penting dari pengertian di atas adalah pandangan Thomas Aquinas yang menghubungkan antara konsistensi dengan hati nurani. Hati nurani atau suara hati tidak pernah salah. Ketidaksesuaian yang terjadi lebih banyak disebabkan oleh ketidakpekaan manusia dalam mendengarkan suara hatinya sehingga menimbulkan suatu ketiadaan konsistensi dalam berbicara dan berbuat.

Hukum Yang Benar Dalam Perspektif Filsafat Hukum

Hukum yang benar adalah hukum yang memperjuangkan keadilan. Kita bisa memahami hukum yang benar itu dengan mengetahui beberapa pandangan para tokoh tentang hukum. Sejak zaman Yunani-Romawi, para filsuf membicarakan hukum dengan menghubungkannya pada kepentingan umum (bonum commune). Plato, seorang filsuf Yunani menegaskan adanya hubungan hukum dengan kepentingan umum melalui polis (negara kota). Sebuah polis dihuni oleh beberapa polites (warga negara). Polites bersama-sama mewujudkan politeia, yakni “bagaimana menjadi warga negara yang baik” dan “bagaimana menciptakan sebuah pemerintahan yang baik”. Untuk mewujudkan politeia itu, haruslah ada aturan yang mengatur dan harus ditaati oleh polites. Aturan inilah yang kemudian dibahasakan sebagai hukum dalam perkembangan pandangan filsafat.

Berakar dari kata polis, Aristoteles mengemukakan istilah zoon politikon yang berarti manusia polis. Manusia polis adalah manusia yang hidup dalam kebersamaan, berdampingan dengan orang lain. Hidup berdampingan antara sesame manusia polis hanya dapat terwujud bila ada sebuah keutamaan dalam memperhatikan kebaikan bersama. Kebaikan bersama ini hanya dapat tercapai bila ada peraturan yang mengaturnya.

Bila peraturan-peraturan yang dimaksud bertujuan untuk mewujudkan kebaikan bersama, kita sangat perlu mengetahui hukum yang tepat dan benar dalam mengatur kepentingan umum. Ada banyak pendapat tentang hukum yang benar. Dalam makalah ini dikemukakan dua pendapat saja yakni pendapat Hans Kelsen dan Thomas Aquinas.

Menurut Kelsen, integritas sebuah hukum yang benar didasarkan atas sebuah norma dasar atau Grundnorm, yaitu sebuah norma yang tidak tergantung pada norma-norma lain, melainkan norma dasar ini justru menjadi ukuran validitas norma-norma yang lain. Norma dasar ini berfungsi sebagai unsur hakiki pengorganisasian interpretasi teoritis terhadap aturan-aturan dan lembaga-lembaganya yang terdapat dalam sebuah sistem hukum.

Menurut Thomas Aquinas, hukum yang benar adalah hukum yang tidak bertentangan dengan kebebasan dan cinta kemanusiaan. Hukum yang benar memungkinkan terselenggaranya kebebasan dan cinta, sebab kebebasan tidak mungkin terjadi jika tanpa cinta pada sesama (makna kebaikan). Cinta kepada sesama juga tidak akan mungkin terlaksana jika tanpa keadilan, dan keadilan tidak mungkin terselenggara tanpa keberlakuan hukum yang legitim. Jika hukum disusun demi kebaikan umum, maka peraturan macam apa saja harus juga diarahkan demi kebaikan umum.

Perlunya Konsistensi Dalam Menjalankan Hukum

Konsistensi terkesan sebagai sebuah barang mahal dan cenderung dijauhi oleh manusia. Alasan dominan yang sering digunakan untuk membenarkan adagium ini adalah karena konsistensi itu sendiri terlihat sangat idealis dan susah untuk dijalankan. Walaupun demikian, bukan berarti konsistensi ini harus diabaikan dan tidak dilirik sama sekali. Konsistensi menjadikan seorang manusia bijaksana dalam bertutur dan berbuat.
Ada sebuah pepatah  Latin yang berbunyi  “nemo dat quod non habet“ (tidak seorang pun mampu memberikan apa yang dia tidak miliki). Konsistensi harus dimiliki lebih dahulu dalam diri, kemudian konsistensi itu dapat ditularkan kepada orang lain. Penularan kepada orang lain melalui ketetapan dan kesesuaian dalam menjalankan aturan-atuan yang ada secara benar. Memiliki konsistensi berarti seseorang memiliki konsistensi dalam diri terlebih dahulu. Konsistensi diri adalah representasi dari kekuatan iman, yaitu kekonsistenan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Syarat utama seorang yang menyerukan konsistensi adalah memiliki konsistensi diri terlebih dahulu. Bila kita hubungkan dengan hukum, maka syarat mutlak seorang penegak hukum yang benar harus memiliki konsistensi diri yang berhubungan erat dengan suara hatinya, kemudian dia bisa menjalankan tugasnya secara konsisten pula.

Ada banyak masalah yang timbul akibat ketiadaan konsistensi (inconsistency) dalam menjalankan hukum. Adanya upaya mementingkan kepentingan pribadi dengan cara-cara yang tidak tepat. Salah satu contoh adalah memperjualbelikan hukum demi memperkaya diri sendiri. Wujud konkritnya adalah tersirat dalam adagium yang telah menjadi konsumsi masyarakat kita yang berbunyi “hukum tumpul ke atas, menukik tajam ke bawah”. Ketiadaan konsistensi melahirkan diskriminasi sehingga azas equality before the law menjadi terabaikan bahkan bagi sebagian orang disebut-sebut sebagai lagu lama yang tidak punya makna lagi.

Adagium Corruptissima re publica plurimae leges yang diungkapkan oleh Tacitus hanya bisa dimentahkan dengan menghadirkan konsistensi dalam menjalankan hukum. Tanpa konsistensi, berbicara tentang keadilan merupakan sebuah keniscayaan. Percuma kita memiliki seribu undang-undang, tapi tidak satupun dapat dijalankan dengan benar. Oleh karena itu, konsistensi ini merupakan hal yang harus terus-menerus digaungkan sebagai salah satu pesan moral dalam menjalankan hukum.

Hukum Yang Benar adalah Hukum Yang Mengabdi Pada Kepentingan Umum

Hukum yang benar pertama-tama dilihat dari tujuannya. Hukum hanya berlaku bila terdapat dua atau lebih manusia tinggal dalam satu daerah. Hal ini mengandaikan bahwa hukum yang dimaksud tidak berlaku bila manusia itu hidup sendiri saja karena tidak ada pihak lain yang dirugikan bila dia berbuat sekehendak hatinya. Karena manusia ini adalah makhluk sosial, yang hidup dalam komunitas, hidup dalam kelompok bahkan hidup dalam sebuah negara, maka wajib ada hukum yang mengatur agar tidak terjadi kekacauan.

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa tujuan hukum adalah untuk mewujudkan kebaikan bersama sebagai makhluk sosial. Terwujudnya kebaikan bersama sangat erat kaitannya dengan keadilan. Keadilan adalah merupakan tujuan hukum selain kepastian dan kemanfaatan. Ketiga tujuan hukum ini hanya bisa terlaksana dalam kehidupan orang banyak, tidak dalam hidup menyendiri di sebuah pulau.

Karena hukum yang benar hanya dapat dilihat dari tujuan hukum itu diadakan, maka sangat tepat apa yang dikatakan oleh Thomas Aquinas bahwa hukum tidak boleh bertentangan dengan kebebasan. Dalam kebebasan, kehadiran cinta sangat dimungkinkan. Dalam cinta, kehadiran keadilan dapat terwujud. Dan dengan keadilan, kebaikan umum dapat dipelihara.

Di Indonesia, kita sudah memiliki Pancasila sebagai grundnorm seperti dikemukakan oleh Kelsen. Pancsila merupakan unsur hakiki dan menjadi tolok ukur validitas hukum yang lainnya. Karena hukum yang kita miliki memiliki kaidah dasar, hukum yang kita miliki ini adalah hukum yang benar. Tentu saja muncul pertanyaan, mengapa dalam pelaksanaan hukum terjadi ketimpangan di sana-sini? Ketiadaan konsistensi dalam menjalankan hukum yang benar menimbulkan tidak tercapainya cita-cita hukum yang adil dan benar.

Kesimpulan

Bahwa konsistensi sangat erat kaitannya dengan hati nurani. Hati nurani dapat dikenal lewat suara hati. Suara hati tidak pernah salah. Ketidaksesuaian terjadi disebabkan oleh ketidakpekaan manusia dalam mendengarkan suara hatinya sehingga menimbulkan suatu ketiadaan konsistensi dalam berbicara dan berbuat.

Bahwa hukum tidak boleh bertentangan dengan kebebasan. Dalam kebebasan, kehadiran cinta sangat dimungkinkan. Dalam cinta, kehadiran keadilan dapat terwujud. Dan dengan keadilan, kebaikan umum dapat dipelihara. Dengan demikian hukum yang benar telah terlaksana secara benar pula.

Bahan Bacaan:

  • Charles Covell, The Defence of Natural Law, (Houndmills: The Macmillan Press, 1992).
  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993) 
  • E. Sumaryono, Etika Hukum: Relevansi Teori Hukum Kodrat Thomas Aquinas, (Yogyakarta: Kanisius, 2002) . 
  • J. Stradling, Two Bookes of Constancie, ed. R. Kirk, New Brunswick, NJ: Rutgers University Press, 1939.
  • Theo Hujbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, (Yogyakarta: Kanisius, 2005).
  • Chad Hansen, in Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1.0, London: Routledge
  • Gregory H. Moore, in  Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1.0, London: Routledge

Kalimat ini adalah sebuah komentar atas sebuah poster seorang anak Angola yang ditinggal orangtuanya karena peperangan. Ia terisak sambil menatap sebongkah tulang sapi yang sudah tak punya dagingnya. Entah ia menangis karena ingat akan orangtuanya? Entah ia menangis karena kelaparan? Tak seorangpun tahu. Komentar itu seolah menggugah nurani kepedulian siapapun yang memilikinya.

Kalau bocah ini kesendirian, apakah aku yang membacanya bisa merasakan apa yang dirasakannya? Kalau bocah ini menjerit karena kelaparan, apakah aku bisa merasakan apa yang dirasakannya? Ah Tuhan, ini hanya sebuah permainan kalimat. Seorang fotografer, tapi jika ini kutemukan terjadi disebelah rumahku, apakah aku bisa menjadi dirinya dalam arti yang utuh, berempati dengan dirinya?

Seorang pemuda, dalam Injil hari ini (Minggu Biasa XIV) bertanya kepada Yesus, siapa sesamanya yang sebenarnya? Seharusnya pertanyaaan ini tidak pernah terjadi kalau pemuda ini benar-benar melepaskan kalimat-kalimat hukum cinta kasih dri buku yang kita namakan Kitab Suci. "Aku sudah membacanya..." Ini sebuah pertanda, sebagai hukum tertulis dalam kitab, siapapun bisa menghafalnya di luar kepala sebagai bahan untuk menyerang orang lain dan mempertontonkan kebolehan dalam menghafal Kitab Suci, tetapi ketika, menyaksikan bocah Angola ini, itu kita alami dan terjadi dalam perjalanan hidup kita, apakah apa yang kita baca tentang hukum ini bisa menjadi hidup dalam sikap kepedulian kita? Ataukah kita akan menjadi seorang imam, yang tidak mau kehilangan jatah membuat Misa jika mereka yang minta itu adalah orang kaya lalu membiarkan nurani orang susah yang meminta bantuan di depan kita? Ataukah kita akan menjadi Lewi yg mencari aman karena takut dirampok karena mempertahankan sekarung uang "jarahan" dengan hanya menatap orang susah dari "seberang?" Yesus ji
ka hari ini dan seterusnya kujumpai orang-orang seperti ini, apakah aku adalah Engkau yang memiliki kepedulian penuh terhadap sesama? Apakah aku bisa menjadi mereka yg menderita? Kuatkanlah aku Tuhan.

Deretan kalimat-kalimat di atas diungkapkan secara puitis. Boleh saya katakan sebagai ungkapan permenungan yang sangat menyentuh hati dari P. Dominikus Kefi, SVD, pemimpin Perayaan Ekaristi yang saya ikuti hari ini. Ternyata, kalimat demi kalimat yang diungkapkan membuat saya terdiam dan merenungkan sikap saya selama ini. Terbayanglah di depan saya sebuah ketidak-sanggupan menjadi Dia yang Maha Kasih bila berhadapan dengan penderitaan dan tantangan.

Kadang kita pandai berteori. Pandai dalam perdebatan karena kita sudah punya dasar yang diperoleh secara ilmiah. Tapi ketika kita menghadapi kenyataan yang sesungguhnya, ada kecenderungan kita untuk membela diri dan mencari jalan pintas. Semoga renungan sederhana Minggu ini menumbuhkan kepedulian kita terhadap sesama yang membutuhkan bantuan kita. **Yuli Ana, S.Ag.

"Segala sesuatu di dunia ini, tidak ada yang tinggal "tetap". Semua berubah ibarat air mengalir. Hanya satu yang tetap yaitu "perubahan" itu sendiri.

Ketika saya mengikuti rekoleksi rohani yang mengetengahkan tema "Memaknai Hidup", saya sedikit heran bahwa yang lebih banyak disebutkan dalam konferensi adalah "perubahan". Dan ternyata, setelah melalui proses diskusi yang panjang hingga akhirnya tiba pada pleno, orang yang sanggup "Memaknai Hidup" adalah orang yang menghargai "perubahan".


Hidup kita di masa lalu adalah sebuah kenyataan yang tidak dapat diingkari. Tidak dapat pula dipungkiri bahwa pengalaman masa lalu itu telah meninggalkan bekas dalam perjalanan hidup kita. Pengalaman-pengalaman itu ada yang baik, ada yang buruk. Semuanya mempunyai peran dalam polanya sendiri membentuk kehidupan kita yang real saat sekarang.

Adalah sebuah kesalah besar bila seseorang menutup buku masa lalunya. Tidak bersedia mengulasnya kembali, apalagi kalau pengalaman itu merupakan hal yang tidak baik atau menyakitkan. Ada ketakutan  kalau-kalau kepedihan, rasa sakit itu berulang sehingga tidak mampu untuk dikenang lagi. Lalu, bagaimana sekarang? Apakah jejak dari masa lalu itu tidak ada pengaruhnya pada kehidupan sekarang? Jelas ada. Rasa takut untuk mengenang itu sendiri sudah menjadi bukti bahwa pengalaman masa lalu masih membekas.

Suatu sikap bijak bila seseorang mengolah kembali pengalaman masa lalunya. Menggali kembali narasi-narasi kehidupan yang dialami pada waktu-waktu yang lewat. Tidak boleh menutup mata untuk itu. Mengapa? Narasi-narasi kehidupan di masa lalu itu adalah ramuan paling mujarab untuk menyembuhkan segala "trauma" di masa lalu dan membangun pola pikir baru yang lebih bersemangat saat ini. Menata kehidupan yang lebih baik saat ini dan mengatur rencana untuk menata masa depan.

Bagaimana kalau pengalaman masa lalu melulu baik? Pasti setiap orang senang mengingatnya. Dan ada kecenderungan untuk mempertahankan suasana baik itu. Itu tidak salah. Itu adalah tindakan yang tepat. Tetapi hal ini bukan berarti kita harus tetap pada "status quo". Kita harus menerima perubahan demi perubahan agar hidup yang kita miliki ini dapat lebih bermakna lagi.

Memaknai hidup memang tidak terlepas dari kehendak Sang Ilahi. Dialah yang empunya hidup. Dan ini pun tidak berarti bahwa segala sesuatunya tergantung pada Dia. Tidak berarti bahwa hanya Dia saja yang dapat membuat baik atau tidak. Partisipasi kita manusia dituntut untuk membuat perubahan. Partisipasi inilah yang terbungkus dalam tindakan kita "Memaknai Hidup". **Fidelis Harefa

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget