MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Forum Katekis"

Selasa, 27 Agustus 2013, Team Pastoral Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya melaksanakan pertemuan yang dikoordinir oleh Pastor Paroki, P. Alex Dato L, SVD dan Koordinator Seksi Pewartaan Paroki, Bapak Wilhelmus Y. Ndoa. Pertemuan dilaksanakan di Aula Nazareth dan dihadiri oleh kurang lebih 20 orang Team Pastoral yang terdiri dari para Katekis, Guru Agama dan para Suster.

Dalam pertemuan ini, Team Pastoral melaksanakan pendalaman bersama Tema Pendalaman Bulan Kitab Suci Nasional yakni "Keluarga Bersekutu Dalam Sabda". Tema ini merupakan bagian dari tema umum, "Sabda Allah dalam Keluarga" hasil Pernas LBI pada tahun 2012 yang telah menetapkan satu tema besar yang menjadi bahan permenungan bagi seluruh umat Katolik di Indonesia selama tahun 2013-2016.

P. Alex Dato, SVD mengatakan bahwa salah satu bidang pastoral yang harus tetap diperhatikan adalah Pastoral Keluarga. Pastoral Keluarga dapat dilaksanakan secara bertahap seperti pelaksanaan Kursus Pra Perkawinan, Pendampingan Keluarga Muda, Pendampingan Usia Lanjut dan juga pendampingan dalam Pendalaman Iman Keluarga. Oleh karena itu, Bulan Kitab Suci Nasional 2013 ini adalah salah satu moment yang tepat untuk melaksanakan kegiatan Pastoral Keluarga dalam bentuk pendalaman Kitab Suci.

Sie Pewartaan Paroki, Bapak Wilhelmus Y. Ndoa menyampaikan jadwal dan pembagian tugas Team Pastoral yang akan bertugas menjadi fasilitator di Lingkungan-lingkungan di wilayah paroki. Selain itu, beliau juga menyampaikan pembekalan singkat kepada Team Pastoral agar tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan Pendalaman Bulan Kitab Suci ini dapat tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan. **Kairos.

Selamat Memasuki Bulan Kitab Suci, September 2013


“....Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Filipi 2:4). Sepenggal teks Kitab Suci ini mendorong, menuntun dan mengarahkan langkah para pekerja kebuh anggur Tuhan untuk berkumpul bersama dalam satu kegiatan Temu Guru Agama Katolik Kabupaten Lamandau. Pertemuan yang dimotori oleh Pembimas Katolik Kabupaten Lamandau menyuguhkan sebuah tema,”Peran Tokoh & Pemuda Katolik dalam mewujudkan Kesejahteraan Umum”. Tema ini direfleksikan secara bersama-sama selama tiga hari (29-31Juli 2013) di aula Kecamatan Bulik Kabupaten Lamandau.

Kegiatan ini dibuka oleh Drs. H. Ahmad Yahya sebagai Kepala Kemenag Kabupaten Lamandau. Dalam arahannya, beliau mengatakan bahwa sebagai tokoh dan pemuda katolik sekaligus sebagai guru Agama Katolik harus betul-betul menjadi pelita di tengah umatnya. Guru agama bukan menjadi provokator di tengah jemaatnya tetapi menjadi panutan dan teladan jemaatnya. Ia bahkan menegaskan bahwa kita harus menciptakan suasana persaudaraan di antara sesama umat beragama. Dalam hal ini toleransi antar dan inter umat beragama harus ditegakkan. Dengan demikian maka terciptalah kedamaian di antara kita.

Di lain pihak panitia pelaksana kegiatan Bapak Bedi Dahaban,S.S dalam kata sambutannya mengajak semua rekan kerja guru agama katolik agar dalam rentang waktu tiga hari (29-31Juli 2013) Forum diharapkan menghasilkan beberapa rekomendasi ke future oriented, dan berusaha mengambil bagian untuk kemaslahatan di tempat tugas masing-masing dimanapun berada. Hasil pergumulan selama tiga hari melahirkan sesuatu yang dipandang urgen oleh tokoh-tokoh umat Katolik, pastor Paroki dan Pembimas Katolik Kabupaten Lamandau. Team Kerja Guru Agama Katolik Kabupaten Lamandau merupakan sebuah rekomendasi fiture oriented. Diharapkan bahwa dengan terbentuknya Team Kerja ini akan tercetus terobosan-terobosan baru untuk kemajuan guru agama dan katekis itu sendiri, tercipta kesejahteraan bersama di tengah masyarakat dan membangun iman umat yang lebih mandiri di hari-hari yang akan datang.

Dengan terbentuknya Team Kerja Guru Agama Katolik, maka para pekerja kebun anggur Tuhan ini tidak akan berjalan sendiri-sendiri (baca memikirkan dirinya sendiri). Tetapi senantiasa bergerak dalam satu lingkaran KASIH persaudaran demi mewujudkan karya keselamatan di tengah dunia ini. Dengan demikian Team ini senantiasa belajar dari Prinsip Ajaran Sosial Gereja dalam Laborem Exercens untuk selalu menciptakan kebaikan bersama. Bahwa setiap orang adalah bagian dari masyarakat. Tidak ada orang yang bisa hidup sendiri. Oleh karena itu setiap orang memiliki kewajiban untuk membantu mewujudkan kesejahteraan bersama di masyarakat, dan berhak juga untuk hidup sejahtera sebagai manusia yang bermartabat. Prinsip ini berlaku untuk semua orang di segala tempat.** Martinus Sanit, SF - Lamandau

1. Pengertian KATEKIS

Gambar dari: indonesia.ucanews.com
Katekis secara sederhana dapat dimengerti sebagai orang yang ber-katekese. Katekese sendiri, dalam anjuran apostolik Cathecesi Tradendae, Paus Yohanes Paulus II didefinisikan sebagai berikut:
Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (CT 28).

Apakah semua anggota Gereja dapat disebut katekis? Setiap anggota Gereja, karena pembaptisan mereka, mereka menjadi nabi, imam dan raja. Oleh sebab itu, adalah kewajiban seluruh anggota Gereja untuk mengajar iman katolik. Akan tetapi, tidak semua orang sanggup membina dalam ajaran iman Katolik. Karena itulah Gereja mengutus katekis-katekisnya. Para katekis itu seharusnya para imam (Bdk. Kitab Hukum Kanonik, Kanon 773). Akan tetapi, karena kekurangan imam, dan juga karena lingkup pewartaan yang terbatas (tidak dapat menyentuh hal-hal detail seluruh aspek kehidupan) maka dipilihlah para katekis dari lingkungan kaum awam:
Para pastor paroki, demi jabatannya harus mengusahakan pembinaan katekis orang-orang dewasa, kaum remaja dan anak-anak; untuk tujuan itu hendaknya ia mempergunakan bantuan tenaga para klerikus yang diperbantukan kepada paroki, tenaga para anggota tarekat hidup bakti dan serikat hidup kerasulan [...] serta tenaga orang beriman kristiani awam, terutama para katekis [...] (KHK 776)
Gereja membatasi bahwa yang disebut katekis adalah para awam, baik pria maupun wanita, yang diberi kursus agama atau apabila mungkin diusahakan agar mereka mengikuti pendidikan formal seperti Pendidikan Guru Agama, Sekolah Tinggi Katekatik, Institut Pastoral, dan sejenisnya. Demikian Kitab Hukum Kanonik (KHK) dianjurkan agar para Ordinaris Wilayah (Uskup) memiliki katekis-katekis yang dipersiapkan dengan baik dan yang dibina terus-menerus (Kanon 780).

2. Kedudukan Katekis dalam Gereja

Merujuk pada pengertian di atas, maka dapatlah ditentukan kedudukan katekis di dalam Gereja. Katekis, merupakan rekan kerja para hirarki dalam pelayanan yang berguna untuk membangun Gereja. Setiap kebijakan misioner para katekis harus berada di bawah kebijakan ordinaris wilayah (uskup) dan para pembantunya (para imam). Karena kekhasan fungsinya, kaum hirarki menjadi isimewa dalam pelayanan pewartaan. Akan tetapi, katekis bukan hanya sebagai pelengkap penyerta saja. Ia, dengan fungsinya yang khas pula (yakni bertugas di tengah tata dunia) menjadi teman seperjuangan yang patut diperhatikan nasehat dan tindakannya sejauh demi kepentingan Gereja.

Di tengah kaum awam sendiri, seorang katekis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan para awam lainnya. Pewartaan dalam tata dunia dilaksanakan secara bersama-sama. Akan tetapi, tidak semua hal dalam pewartaan itu dapat dilaksanakan oleh semua awam. Dalam tugas-tugas khusus, di sinilah katekis menjadi bentara Gereja.

3. Spiritualitas

Sejatinya, spiritualitas katekis adalah hidup dalam Roh Kudus. Roh Kudus membantu dan memperbarui katekis terus-menerus dalam identitas khusus, dalam panggilan dan tugas perutusannya. Dengan bantuan dan pembaruan dari Roh Kudus, seorang katekis mengalami suatu motivasi yang baru dan khusus, suatu panggilan kepada kesucian hidup.

Katekis adalah misionaris. Paus Yohanes Paulus II berkata, “Misionaris sejati adalah santo” (Redemptoris Missio 90 [RM 90]). Sama seperti para kudus yang mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidup mereka, katekis juga mewartakan hidup Yesus Kristus di dalam hidupnya. Itu berarti bahwa pewartaan katekis bukan hanya melalui ucapan kata saja, melainkan juga melalui seluruh aspek kehidupannya. Dengan demikian seorang katekis bukan saja pewarta katekismus, tetapi dia sendiri adalah katekismus.

Bunda Maria adalah teladan iman. Sikap menyerah pada penyelenggaraan ilahi menuntunnya pada misteri penyelamatan. Sikap yang demikian lah yang merasuki semangat kerasulan seorang katekis, yakni membiarkan karya Allah terlaksana melalui dan dalam diri mereka.

Oleh sebab itu, spiritualitas katekis memiliki ciri-ciri: terbuka terhadap sabda Tuhan, terhadap Gereja dan dunia; mempunyai kehidupan yang autentik, bersemangat misioner, dan menaruh hormat dan devosi kepada Bunda Maria.

4. Tugas

Tugas khusus katekis adalah mengajarkan katekese. Tugas ini mencakup pendidikan kaum muda dan orang dewasa dalam hal iman, menyiapkan para calon dan keluarganya untuk menerima sakramen-sakramen inisiasi dalam Gereja, dan membantu memberikan retret dan pertemuan-pertemuan lainnya yang terkait dengan katekese (Bdk. RM 74).

Katekis bekerjasama dalam berbagai bentuk kerasulan dengan kaum hirarki. Bimbingan dan pengarahan dari para petugas Gereja ini akan diterima dengan senang hati oleh para katekis. Tugas mereka dalam hal ini antara lain: mengajar orang-orang bukan kristen; memberi katekese kepada para katekumen dan mereka yang sudah dibaptis; memimpin doa dalam kelompok, terutama pada liturgi dan hari Minggu ketika tidak ada imam; membantu orang sakit dan mempimpin upcara penguburan; memberi pelatihan kepada katekis lainnya di pusat-pusat khusus atau bimbingan katekis relawan dalam karya mereka; mengambil inisiatif-inisiatif pastoral dan mengorganisir tugas-tugas paroki; membantu orang miskin dan bekerja untuk penbangunan manusia dan keadilan.

5. Persiapan menjadi seorang katekis

Menjadi katekis tidaklah mudah, mengingat tugas yang dipercayakan kepada mereka sangat sukar. Oleh sebab itu, para katekis perlu dipersiapkan sedemikian rupa melalui pembinaan dan pendidikan yang tepat, sehingga menjadi pejuang-pejuang misi yang tangguh.
Beberapa hal patut diperhatikan berkenaan dengan hal itu:

  • Memupuk semangat bertanggung jawab, bersukacita di dalam tugas pelayanan yang diberikan kepadanya.
  • Memiliki motivasi yang baik dan tidak mencari kedudukan sebagai katekis hanya karena tidak tersedia pekerjaan lain yang lebih disukai. Kualitas yang harus dimiliki: iman yang terungkap dalam kesalehannya dan kehidupannya sehari-hari; cinta akan Gereja dan menjalin hubungan erat dengan para imam; cinta akan saudara-saudarinya dan bersedia memberi pelayanan dengan murah hati; memiliki pendidikan yang memadai; hormat akan umat; mempunyai kualitas manusiawi, moral, dan teknis yang diperlukan sebagai seorang katekis.


6. Penutup: sebuah refleksi

Akan jadi apakah Gereja apabila katekis melupakan arah dan tujuan panggilannya? Umat prihatin apabila ucapan dan tindakan katekis tidak sejalan. Seharusnya katekis pertama-tama bukan mengajar dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan di dalam hidupnya. Apabila ini dipahami sedemikian rupa, maka umat tidak akan melihat katekis yang duduk di warung kopi sambil bermain judi, alkoholik, dan sebagainya.

Para calon katekis di dalam pendidikan kelak harus mampu mengimplementasikan ilmu-ilmu dari diktat ke dalam kehidupannya. Menjaga hubungan kerjasama dengan otoritas hirarki akan jauh lebih baik menjadi dasar membangun Gereja daripada menjadikan para hirarki itu ‘saingan’. Katekis tidak akan mampu berkarya tanpa singgungan langsung dengan kebijakan pimpinan Gereja.

Kaum muda yang berkeinginan kuat menjadi seorang katekis hendaknya memupuk semangat iman sejak dini, sehingga memiliki kepekaan mewartakan imannya. Yakinlah, bila ada keinginan baik di dalam hati maka segala kekurangan akan tertutupi. Tidak semuanya sempurna, tetapi penting untuk terus berusaha sampai kepada kesempurnaan itu. **Tingang Tomun

Palangkaraya, KAIROS

Sabtu, 22 Juni 2013, di Bukit Doa Karmel-Tangkiling, Forum Katekis Kota Palangkaraya menyelenggarakan rekoleksi bersama. Rekoleksi yang berlangsung selama dua hari itu (22-23), mengetangahkan tema "The Man of Others". Sesama untuk yang lain, teman untuk yang lain, manusia untuk manusia lain, kurang lebih begitulah tema ini bila diterjemahkan secara harafiah.

Dalam rekoleksi tersebut, P. Novem, O.Carm menegaskan bahwa menjadi The Man of Others tidaklah mudah. Di kalangan umat beriman, hal ini kadang dilihat sebagai sesuatu yang mustahil. Akan tetapi, karena panggilan sebagai Katekis, menjadi The Man of Others haruslah menjadi prioritas untuk direnungkan dan dipikirkan. P. Novem menegaskan: "Manusia (Katekis) harus gelisah memikirkan orang lain untuk berbagi keselamatan. Itulah panggilan dasar seorang Katekis yakni siap menderita demi Kerajaan Allah.

Para Katekis se kota Palangkaraya yang ikut rekoleksi tersebut merasa tertantang dan diingatkan kembali akan tugas dan tanggung jawab menjadi seorang Katekis. Tentu saja, selain menjadi manusia untuk diri sendiri, harus menjadi manusia yang berkorban untuk yang lain. Itu yang menggaung dan menggema setelah mengikuti rekoleksi yang sangat menyegarkan ini. Harapan kita, semoga para katekis senantiasa diberi kekuatan agar mereka juga bisa tetap bertahan dalam pelayanan dan panggilannya. **Yakobus Dapa Toda, S.S.

Tangkiling, Bukit Karmel - Kairos. 
Rekoleksi Forum Katekis Se-Kota Palangka Raya yang dilaksanakan mulai tanggal 22-23 Juni 2013, yang seharusnya dihadiri sekitar 60 katekis, namun karena pelbagai aktivitas dan kesibukan hanya dihadiri sekitar 28 katekis. Jumlah yang demikian tidak menyurutkan semangat dari para Katekis yang hadir untuk terus dengan setia mengikuti rekoleksi hingga selesai. Dalam rekoleksi ini dihadirkan 2 (dua) pembicara, yakni Drs. willhelmus Y.Ndoa, M.Pd, selaku Pembimas Agama Katolik dari Kementrian Agama Propinsi Kalimantan Tengah, dan Pastor Andreas Novem M.W, O.Carm dari Paroki Maria Bunda KarmelKasongan.

Rekoleksi Forum Katekis ini mengangkat sebuah tema yang sangat menarik yaitu Peningkatan dan Penghayatan Panggilan sebagai Katekis/Guru Agama Katolik se-Kota Palangka Raya. Dalam rekoleksi yang dibagi menjadi 2 (dua) sesi ini, membahas dua tema yang sangat menarik dan bermanfaat. Drs. Willhelmus Y. Ndoa, M.Pd yang akrab disapa (Pak Wil), lebih menekankan kepada para Katekis untuk menyadari indentitas dirinya, bahwa Katekis adalah figur/contoh yang baik bagi umat dan keluarga, sehingga diharapkan melalui Rekoleksi ini, para Katekis bangkit kembali menjadi garam dan terang dunia ditengah masyarakat. Diharapkan pula pembinaan-pembinaan yang hendaknya diikuti oleh katekis adalah: Meningkatkan kualitas katekis, baik hidup pribadi maupun tugas perutusannya, meningkatkan kerjasama antar katekis, mewujudkan regenerasi dan kaderisasi katekis dengan cara membuka diri dan hati terhadap keterlibatan katekis yang masih muda dan belum berpengalaman. Dimana pembinaan tersebut bisa terjadi bilamana katekis mempunyai kesetaraan, keterbukaan dan tanggungjawab.

Dalam sesi lain, Pastor Andreas Novem M.W, O.Carm yang akrab di sapa Pastor Novem, O. Carm, mengajak Katekis untuk tidak berdiam diri, dalam arti, jangan menunggu tugas baru melaksanakan. "Katekis itu harus gelisah", ungkap P. Novem, O, Carm dengan nada lantang. Kegelisahan yang dimaksud mau terbuka tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan terbuka untuk memikirkan hidup orang lain. Keterbukaan untuk memikirkan hidup orang lain, bisa dilaksanakan dengan sikap peduli, saling membantu, peka terhadap permasalahan yang dihadapi umat. Tantangan yang besar ini harus benar-benar di jalankan, agar tidak menjadi permasalahan dalam pribadi sebagai Katekis. Momentum ini pula dimanfaatkan oleh para Katekis untuk salingn sharing, berbagi pengalaman, keluh kesah, yang mencapai satu komitmen bersama, bahwa menjadi katekis adalah panggilan hidup, tidak semua manusia mendapat panggilan tersebut, hendaknya pula untuk dapat terlibat aktif dalam kegiatan Gereja, terbuka terhadap sesama, karena Katekis adalah ujung tombak Gereja. ** MORITA B. ELIANANDA,S.Ag

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget