MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Frame"

Arti Kata Spiritual

Spiritualitas berasal dari bahasa Latin, dari akar kata Spiritus yang berarti Roh Kudus. Kata sifatnya spiritual yang berhubungan atau menunjuk kepada ‘yang rohani’ atau kepada Roh Kudus. Spiritual berarti juga penasehat dan/atau pembimbing rohani atau Bapa rohani. Spiritualitas pada umumnya diartikan sebagai hubungan pribadi seorang beriman dengan Allahnya dan aneka perwujudannya dalam sikap dan perbuatan. Hubungan pribadi itu dibangun atas dasar rangkaian pengalaman iman seseorang dengan Allah dalam bimbingan atau dorongan Roh Kudus. Sehingga spiritualitas dapat dirumuskan juga sebagai ‘hidup berdasarkan kekuatan Roh Kudus dan secara metodis mengembangkan iman, harapan dan cinta kasih atau sebagai usaha mengembangkan segala segi kehidupan ke arah pola hidup yang bertumpu pada iman akan Yesus Kristus atau sebagai pengalaman iman Kristiani dalam situasi konkrit masing-masing orang.

Dokumen: Rm. Alex Dato'L, SVD
Dalam relasi pribadi dengan Allah seseorang mengalami kasih Allah yang begitu besar dan karena itu ia terpanggil untuk membagikan kasih Allah itu kepada orang lain. Allah lebih dahulu memberikan kasih-Nya dan kemudian memanggil orang iut untuk membagikannya kepada orang lain. Karena orang tidak akan mungkin memberikan apa yang dia tidak punya. Kata sebuah pepatah Latin, “Nemo dat quod non habet”. Ibarat upah, sebelum bekerja Allah sudah memberikan upah kepada orang yang ditawar untuk  bekerja di kebun anggur-Nya. Hal ini sangat berbeda dengan dunia bisnis manusia di mana orang harus bekerja terlebih dahulu baru diberikan upah.

Kasih Tuhan amat sangat berbeda  dan tak dapat dibandingkan dengan segala yang lain. Segala yang lain mungkin pernah habis, kalau dibagi-bagikan atau diberikan kepada orang lain. Kasih Allah tidak. Semakin dibagi, semakin orang diberi sampai meluap-luap. Sehingga orang tidak bisa berhenti untuk membagikannya. Bahkan orang akan semakin bersemangat untuk membagikannya.

Relasi pribadi dengan Allah seperti itu akan menjiwai dan memberikan roh atau semangat kepada segala kegiatan yang dilakukan seseorang dalam hidupnya, khususnya yang yang bersifat rohani. Orang akan melakukan kegiatan apa saja dengan penuh gairah, sukacita dan terlebih dengan penuh kasih. Ibu Teresa pernah berkata, “Pada hari akhirat Tuhan tidak akan bertanya, berapa banyak kebaikan yang anda lakukan, tetapi berapa banyak kasihmu dalam apa yang anda lakukan.” Kasih membuat orang melakukan sesuatu dengan penuh sukacita.

Dipanggil Untuk Melayani

Pada perjamuan malam terakhir Yesus melakukan suatu tindakan yang sangat dramatis yakni membasuh kaki para murid-Nya. Tindakan seperti itu biasanya dilakukan oleh para pelayan terhadap para tamu undangan dalam sebuah pesta perjamuan. Dengan melakukan tindakan seorang pelayan Yesus ingin memberikan pelayanan kepada para murid-Nya. Lewat tindakan seperti itu Yesus mau mengajarkan para murid-Nya untuk saling melayani. Tindakan nyata memang lebih meyakinkan daripada kata-kata (Verba movent exempla trahunt).

Di akhir pelayanan-Nya Yesus bersabda: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:14-15). Yesus mewajibkan para murid-Nya termasuk kita untuk saling melayani. Melayani adalah suatu keharusan bagi setiap orang yang mau menjadi murid Kristus. Karena kita menjadi murid Kristus yang telah datang ke dunia “bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mt 20:28).

Kita dipanggil untuk menjadi murid Kristus. Itu berarti kita dipanggil untuk melayani seperti Kristus yang telah lebih dahulu melayani kita. Maka pertanyaan penting yang harus dijawab, “apakah Anda pernah mengalami dilayani Kristus?” Apakah Anda punya pengalaman pribadi dengan Kristus? Pengalaman relasi pribadi dengan Kristus itulah yang menjadi roh, jiwa dan semangat dari setiap tindakan pelayanan. Itulah yang dimaksudkan dengan spiritualitas pelayanan.

Dipanggil Untuk Melayani Sebagai Lektor, Pemazmur, Dirigen dan Organis

Tindakan pelayanan dapat dilakukan dalam bentuk apa saja dan di mana saja. Namun Anda dipanggil untuk memberikan pelayanan secara khusus yakni sebagai lector, pemazmur, dirigen dan organis. Untuk itu perlu disadari bahwa panggilan untuk pelayanan khusus seperti ini tidak direncanakan Tuhan dari kemarin, melainkan semenjak dari dalam kandungan, bahkan semenjak dari kekal. Tuhan punya sebuah rencana atau bisa dikatakan sebuah visi tentang diri setiap kita. Untuk itu semenjak dari dalam kandungan Tuhan telah melengkapi setiap orang dengan bakat atau talenta serta kemampuan agar terealisasi visi-Nya itu. Talenta itu diberikan Tuhan semata-mata karena kemurahan hati-Nya dan bukan karena hak kita untuk mendapatkannya. Karena itu manusia tidak punya alasan untuk menggugat Tuhan dan untuk merasa irihati. Sebaliknya manusia harus bersyukur atas apa yang diterimanya dan berusaha mengembangkannya serta memanfaatkannya untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama.

Tuhan mempunyai sebuah visi atau mimpi tentang Anda yakni anda menjadi seorang lector, pemazmur, dirigen yang handal di Gereja Katedral St. Maria Palangka Raya. Untuk itu Tuhan telah memberikan talenta itu untuk Anda. Anda harus bersyukur dan wajib Anda kembangkan serta manfaatkan untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesame. Kalau Anda simpan untuk diri sendiri, Anda tahu konsekuensinya seperti terungkap dalam perumpamaan tentang talenta (Mt 25:14-30) yakni hidup yang tidak bahagia. Sebaliknya, kalau Anda memperkembangkannya dan memanfaatkannya semaksimalnya untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada sesama, Anda akan diberi kepercayaan yang lebih besar lagi sekarang ini di dunia dan nanti di akhirat. Siapa tahu di akhirat Anda pun terpilih menjadi lector, pemazmur, dirigen dan organis di surga. Karena di surga hanya ada liturgi.

Komitmen Untuk Melayani

Bunda Teresa pernah berkata, “Pada hari akhirat Tuhan tidak akan bertanya, apakah Anda sukses (sebagai lektor, pemazmur, dirigen atau organis), tetapi apakah Anda setia?”  Menjadi seorang lektor, pemazmur, dirigen dan organis yang terkenal itu baik, namun yang terpenting adalah komitmen atau kesetiaan untuk melayani. Untuk itu perlu disadari penyakit keturunan kita yakni cepat loyo atau kurang darah atau kehilangan semangat untuk melayani, cepat kecewa dan mutung atau ngambek. Kita kurang atau tidak bertanggungjawab atas apa kepercayaan yang telah diberikan kepada kita.

Orang mengatakan, kita menjalani hidup ini atau sebagai orang yang bertanggungjawab atau sebagai korban; sebagai lokomotif atau gerbong. Orang yang bertanggungjawab adalah orang yang tahu dan menyadari nilai dari sebuah pelayanan. Nilai pelayanan itulah yang direspons dalam setiap tindak pelayanannya sebagai lektor, pemazmur, dirigen dan organis.  Nilai pelayanan menjadi panglima atau pengarah utama sikap dan perilaku hidupnya. Perilaku hidupnya tidak ditentukan oleh orang lain, situasi dan kondisi tertentu. Orang yang bertanggungjawab pasti akan berusaha agar pelayanan itu dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya dan tidak ada alasan apa pun yang dapat menghambatnya seperti hujan, panas, kemacetan dlsb.

Komitmen atau kesetiaan dalam pelayanan harus dibangun atas dasar kesadaran dan keyakinan akan nilai dari sebuah pelayanan. Nilai dari sebuah pelayanan terletak dalam kasih Kristus dan kasih akan Kristus. Kasih Kristus dan kasih akan Kristus harus membakar hati dan pikiran kita, sehingga kita komit dan setia kepada pelayanan yang dipercayakan kepada kita. Dalam komitmen untuk melayani kita menjadi pelayan yang luarbiasa.

Faktor-faktor Pendukung Komitmen

Sekarang Anda berada pada jalan yang bercabang. Cabang yang satu yakni “menjadi  pelayan yang biasa-biasa saja”. Dan cabang yang lain yakni “menjadi pelayan yang luar biasa”. Anda dipersilakan untuk memilih jalan cabang yang mana. Orang harus memilih secara bebas agar tidak mengalami konflik batin antara apa yang ia lakukan dan apa yang harus ia lakukan. Menjadi apa dan siapa kita harus jadi pilihan kita sendiri. Dwight D. Eisenhower pernah mengatakan: “Sejarah orang bebas tidak pernah ditulis secara kebetulan. Sejarah itu ditulis dengan pilihan – yaitu pilihan mereka sendiri”. Setiap kita harus memilih sejarah macam apa yang mau kita tulis tentang diri kita sendiri.

Anda bisa memilih jalan cabang yang namanya “menjadi pelayan yang biasa-biasa saja”. Pilihan seperti itu memang syah-syah saja. Namun dengan memilih jalan cabang yang satu ini kita sebetulnya mematikan suara panggilan Tuhan dalam hati kita masing-masing. Tuhan sebetulnya memberikan kepada setiap kita talenta, bakat atau kemampuan untuk memilih arah kehidupan yang mengarah kepada hidup yang agung, hebat dan memberikan sumbangan atau kontribusi sebesar-besarnya untuk Tuhan dan sesama. Ingat perumpamaan Yesus tentang talenta (Mat 25:14-30).

Kiranya menjadi sebuah kebanggan bagi kita bahwa kita berani memilih jalan cabang yang baru. Kita tidak mau “menjadi pelayan yang biasa-biasa saja”. Menjadi pelayan yang luar biasa harus menjadi visi, mimpi, cita-cita setiap kita yang harus kita perjelas secara pribadi. Visi berarti dengan mata batin melihat kemungkinan yang terdapat dalam diri sendiri, orang lain, organisasi dlsb. Dengan mata batin saya melihat secara jelas kemungkinan yang begitu besar dalam diri bapa dan ibu untuk menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang handal seprti yang dikehendaki Tuhan.

Dan untuk mewujudkan visi itu dibutuhkan disiplin . Disiplin itu harga yang harus dibayar untuk sebuah visi. Disiplin berarti kemampuan untuk mengalahkan suatu yang baik demi sesuatu yang lebih baik. Untuk melaksanakan disiplin dengan baik dibutuhkan gairah. Gairah itu api, hastrat berkobar-kobar untuk mempertahankan disiplin agar terus berjuang guna mencapai visi. Gairah itu tumbuh dari pertemuan antara kebutuhan dan kemampuan. Kita melihat kebutuhan Gereja Katolik akan  pelayan-pelayan yang handal dan anda memiliki kemampuan untuk menjadi seperti itu. Kita masih butuh kekuatan lain yakni nurani untuk mendayagunakan disiplin dan gairah guna mewujudkan visi. Kita tekun dan punya komitmen untuk mewujudkan visi itu karena kesadaraan moral bahwa apa yang kita lakukan itu baik dan benar.

Albert Schweitzer pernah mengatakan: “Dalam hidup setiap orang, pada suatu saat, padamlah api dalam diri. Api itu kembali menyala karena pertemuan dengan orang lain. Kita semua seharusnya berterima kasih kepada orang-orang yang kembali mengobarkan semangat dalam diri kita.”  Setiap kita suatu saat mungkin berkobar-kobar untuk menjadi pelayan-pelayan Tuhan yang luarbiasa, namun harus kita sadari bahwa api itu bisa padam. Kita butuh orang lain untuk menyalakan kembali api itu dalam diri kita. Itu perlu pertemuan berkala untuk saling meneguhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan kita menjadi palayan-pelayan Tuhan yang handal.

Penutup

Perlu kita sadari factor-faktor yang dapat melemahkan komitmen kita untuk menjadi pelayan yang luabiasa. Faktor-faktor penghambat itu akan berkurang dampaknya, kalau kita mengembangkan factor-faktor pendukung tersebut di atas. Kita manusia tidak akan pernah berhenti berdosa. Maka hal yang terpenting adalah perbanyak perbuatan kasih, supaya dosa kita berkurang. Semoga lewat pelayanan kasih yang kita berikan sebagai lector, pemazmur, dirigen dan organis, kita mengurangi dosa yang ingin bercokol dalam diri kita. Semoga!

P. Alex Dato'L, SVD

Pertama-tama, mewakili Pengurus Dewan Paroki dan seluruh umat Paroki Katedral Sta. Maria Palangka Raya, kami ucapkan Proficiat kepada para Pastor, pengurus Dewan Paroki dan seluruh umat Paroki Yesus Gembala Baik! Selamat merayakan Lustrum Pertama paroki Yesus Gembala Baik.

Usia 5 tahun, dibandingkan dengan usia manusia, dikatakan sudah melewati usia balita (bawah lima tahun) dan akan memasuki usia alita (atas lima tahun). Kata para ahli, usia balita merupakan fondasi untuk perkembangan kepribadian selanjutnya. Seperti apa perkembangan kepribadian seorang anak manusia selanjutnya sangat ditentukan oleh apa yang sudah dibentuk pada usia balita. Dalam analogi seperti itu, ketika Paroki Yesus Gembala Baik merayakan Lustrum pertama, boleh dikatakan paroki Yesus Gembala baik sudah selesai membangun fondasi yang koko untuk perkembangan selanjutnya dalam segala aspek.

Perayaan Lustrum pertama merupakan perayaan syukur atas karya Tuhan bersama seluruh umat membangun fondasi bagi perkembangan Paroki selanjutnya. Dibalik syukur atas apa yang sudah dilakukan Tuhan, terbentang sebuah tugas baru untuk bekerja keras membangun Paroki baik fisik maupun iman. Sambil melihat jejak-jejak karya Tuhan sepanjang lima tahun, Paroki Yesus Gembala baik dapat penuh optimis menatap masa depan.

Sebagai paroki induk yang telah bersama memekarkan Paroki Yesus Gembala Baik, kami pun ikut bergembira dan berbangga atas kemajuan yang sudah diraih dan kami doakan semoga Tuhan memberkati upaya para pastor, Dewan Paroki dan seluruh umat membangun Paroki sesuai dengan visi dan misi yang telah dicanangkan.

Proficiat! Selamat merayakan Lustrum pertama.

Rm. Alexius Dato'L, SVD

Masa Prapaskah yang lamanya 40 hari sudah lama dikenal sebagai masa Retret Agung. Pada masa Prapaskah kita diajak untuk mengikuti bimbingan Roh Kudus pergi ke padang gurun kehidupan kita, seperti Yesus yang dibimbing Roh Kudus menuju padang gurun, untuk mengadakan retret, meninjau kembali hidup yang kita hidupi sampai saat ini. Maksud tujuannya adalah agar "hidup kita mencapai kepenuhan atau kelimpahan" sesuai dengan maksud kedatangan Yesus: "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan" (Yoh 10:10). Visi atau mimpi Yesus adalah supaya manusia hidup dalam kelimpahan, terutama bukan kelimpahan harta duniawi, melainkan terutama kelimpahan kasih, sukacita dan damai sejahtera. Untuk itu kita perlu belajar menjalani hidup ini dengan cara yang baru dan tidak fanatik dengan cara lama atau dengan kata lain meninggalkan masa lalu hidup kita.

Stephen R. Covey dalam bukunya Principle Centered Leadership mengemukakan salah satu prinsip bagi terwujudnya keberhasilan dalam kepemimpinan adalah "meninggalkan masa lalu". Menurut beliau, hampir setiap terobosan penting merupakan hasil perubahan yang berani dari cara-cara berpikir tradisional". Tidak akan ada terobosan baru dalam hidup kita yang dapat membawa kita kepada hidup dalam kelimpahan, kalau kita tidak berani mencari paradigma baru dan membiarkan diri terkurung dalam cara hidup lama. Kata sebuah ungkapan: "Sesungguhnya para pemenang tidak melakukan hal yang baru, tetapi melakukan hal yang sama dengan cara yang baru.

Meninggalkan masa lalu merupakan ajakan utama masa Prapaskah ini. Tentu saja kita diajak untuk meninggalkan cara hidup di masa lalu, yang tidak sejalan dengan apa yang dikehendaki Yesus dari para murid-Nya. Lewat puasa dan pantang kita diajak untuk meninggalkan kelekatan pada materi dan kesenangan serta kenikmatan duniawi, yang kadang membuat kita jadi egois, menutup diri terhadap sesama, terlebih yang sangat membutuhkan uluran tangan kasih kita. Dengan kata lain, lewat puasa dan pantang kita diajak untuk berbelarasa (compassion) dengan sesama. Belarasa, peduli kasih kiranya menjadi paradigma hidup baru, meskipun sudah lama dicanangkan oleh Yesus sendiri agar hidup kita berkelimpahan.

Dalam masa Prapaskah ini kita diajak untuk mengeluarkan energi positif dari dalam diri kita dan menyingkirkan energi negatif. Kata Stephen R. Covey, kalau anda ingin mempunyai perkawinan yang bahagia, jadilah orang yang memancarkan energi positif dan menyingkirkan energi negatif (Principle Centered Leadership). Apabila anda ingin mempunyai seorang anak remaja yang lebih menyenangkan dan kooperatif, jadilah orang tua yang berpengertian, berempati, konsisten, dan penuh cinta kasih. Energi positif yang kita keluarkan dari dalam diri kita, akan menarik keluar energi positif yang ada dalam diri anak.

Prinsip ini tentu berlaku pada hidup pada umumnya. Energi positif yang kita keluarkan dari dalam diri kita, akan memancing energi positif dalam diri orang lain untuk keluar. Energi negatif yang dikeluarkan seperti kemarahan, akan memancing energi negatif pada orang lain untuk dikeluarkan. Ketika seorang anak melakukan kesalahan dan anda memarahi, dalam diri anak akan bergejolak energi negatif seperti sedih, kesal, jengkel dan mungkin juga benci. Tetapi ketika anda mengeluarkan energi positif seperti pengertian, yakni berusaha mengerti mengapa anak sampai melakukan kesalahan, anda mendorong anak untuk belajar dari kesalahan untuk tidak mengulanginya lagi. Sang anak akan mengeluarkan energi positif. Dan itu berarti anda telah berhasil membangun pola relasi menang vs menang dan bukan kalah vs menang. Pola relasi seperti itu akan membuat hidup kita berkelimpahan kasih, sukacita dan damai sejahtera. Karena itu, mari kita meneliti pola hidup kita, dan berusaha meninggalkan apa yang patut ditinggalkan agar di hari raya Paskah kita pun bangkit menjadi manusia yang hidup dalam kelimpahan. Semoga. **P. Alex Dato'L, SVD.

Dalam Injil (Lk 2:36-40) kita baca kisah tentang Hana, seorang nabi perempuan, yang menghabiskan sisa hidup pada senja usianya dengan berpuasa dan berdoa di kenisah Yerusalem. Dengan berpuasa dan berdoa, Hana menantikan kedatangan Sang Mesias yang akan membawa kelepasan bagi Yerusalem. Hana mendapatkan karunia Allah untuk boleh menyaksikan kedatangan Yesus yang dinanti-nantikan banyak orang dan ikut bersyukur kepada Allah. Hana telah memberi kita sebuah teladan yang patut dihidupi dan hidup yang patut diteladani.

Kita hidup di zaman yang ditandai oleh arus konsumerisme dan hedonisme yang amat dahsyat. Apalagi menjelang akhir tahun. Dunia penuh gemerlap kenikmatan duniawi. Media massa, baik cetak dan terlebih media elektronik sangat gencar mempromosikan hidup yang serba wah dan nikmat. Orang diiming-iming untuk memiliki produk-produk teknologi modern, yang akan menawarkan sejuta kesenangan dan kenikmatan. Kalau kita tidak awas, kita bisa terbius dan hanyut di dalamnya. Orang bisa lupa dan mengira kebutuhan manusia hanya materi. Hanya materi yang dapat membahagiakan manusia. Bahayanya, orang bisa cenderung menjadi materialis. Kita sering dengar ungkapan cewek matri atau cowok matri. Carpe diem (nikmat hidup) yang adalah falsafah hidup orang Roma zaman dahulu, dapat juga menjadi falsafah orang seperti itu di zaman ini. Maka dengan cara apa saja, entah halal atau tidak, orang berusaha mendapatkan apa yang menjadi sumber kesenangan dan kenikmatan. Sering orang tidak peduli dengan nasib orang lain. Orang jadi egois dan kadang tega mengorbankan orang lain dan kepentingan banyak orang.

Tindakan korupsi tiada hentinya meramaikan kehidupan publik bangsa kita. Tiada hari tanpa berita tentang kasus korupsi. Korupsi telah merampas hak rakyat untuk mendapatkan hidup yang lebih baik dan menyebabkan kesengsaraan rakyat yang luar biasa. Hati nurani orang telah menjadi buta untuk melihat kesengsaraan orang lain. Orang hanya memikirkan kesenangan dan kepentingan dirinya dan tidak peduli terhadap penderitaan orang lain.

Kita menyaksikan sebuah lingkaran setan yang sedang mencengkram bangsa kita. Bagaimana kita bisa ikut membantu bangsa kita keluar dari lingkaran setan ini? Kita harus mulai dari diri sendiri, yakni dengan mengikuti teladan Hana, mulai berpuasa dan berdoa. Dengan berpuasa kita mengendalikan kecenderungan konsumerisme dan hedonis dalam diri kita. Kita mengarahkan hidup kita tidak hanya pada materi, kesenangan dan kenikmatan dunia, tetapi kepada yang non materi, hal-hal yang rohaniah yang akan memberikan kepuasan sejati. Kita menyadarkan diri bahwa "manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Kalau kita berhasil mengendalikan diri dari kecenderungan konsumerisme dan hedonis, kita juga dapat mengendalikan kecenderungan negatif yang lain seperti egois, serakah, korup, tidak adil, tidak jujur dan lain sebagainya. Kita beroleh kelepasan dari belenggu dosa yang dibawa oleh Yesus sang Penyelamat kita.

Kita juga perlu banyak berdoa agar diberi kekuatan untuk dapat mengatasi bujuk rayu kesenangan dan kenikmatan duniawi. Kita harus sadar akan kelemahan dan kecenderungan kita untuk mengikuti bujuk rayuan gombal dunia ini. Semoga kita diberi anugerah ketahanan iman yang kokoh, sehingga kita pun dapat mengalahkan dunia dengan segala kekuatannya. "Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita". Dengan berdoa dan berpuasa kita juga melapangkan jalan bagi kedatangan Yesus ke dalam hati kita, sehingga seperti Hana, kitapun siap menyambut kedatangan Yesus khususnya di hari Natal. Semoga. **P.Alex Dato L', SVD.

Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian,... (Lk 10:2)

Almarhum Mgr. Leo Soekoto pernah mengatakan bahwa idealnya dalam satu paroki umat berjumlah tidak lebih dari 5.000 orang. Dan satu paroki idealnya dilayani oleh dua orang imam. Karena hanya dengan ratio jumlah umat dan imam seperti itu dapat memperoleh pelayanan yang memadai. Pelayanan yang memadai adalah kata lain dari pelayanan yang adil. Dalam kenyataan di banyak Keuskupan di tanah air kita, khususnya di Keuskupan Palangka Raya terdapat kepincangan atau ketidakseimbangan di antara jumlah umat dan jumlah imam. Tidak hanya itu, ada kepincangan di antara luasnya wilayah dan jumlah imam. Wilayah pelayanan seluas satu kabupaten, tetapi imamnya hanya seorang. Kepincangan itu menyebabkan banyak umat menjadi domba seperti terlantar tanpa gembala. Banyak umat yang tidak tersapa oleh pelayanan Bunda Gereja atau kurang mendapatkan perhatian dari Gereja sebagai seorang ibu terhadap anaknya. Banyak umat yang tidak mendapatkan pelayanan dan sebetulnya menjadi haknya entah itu pelayanan sakramental, perhatian yang meneguhkan, atau kunjungan yang menguatkan. Mungkin terlalu berlebihan kalau dikatakan ada suatu ketidakadilan dalam pelayanan Gereja.

Agar tercipta pelayanan pastoral yang memadai untuk umat, Yesus dalam Injilnya mengajak kita untuk melihat kenyataan yang ada dalam Gereja kita dan berdoa memohon kepada Tuhan yang empunya tuaian, agar mengirim pekerja-pekerja ke kebun anggurnya. Sebagai gembala, Yesus sangat prihatin akan nasib umat-Nya. Namun, Yesus juga tidak mau memaksa orang untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Karena itu, Yesus mengajak kita untuk berdoa agar orang mau dengan sukarela membaktikan hidupnya sebagai pekerja kebun anggur Tuhan. Tentu saja, pekerja yang dimaksudkan Yesus, pertama adalah imam, suster dan bruder. Kita berdoa agar anak-anak kita mau mendengarkan suara panggilan Tuhan. Namun, terasa tidak adil kalau orang tua berdoa agar anak orang lain dipanggil Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya, tapi jangan anaknya sendiri.

Kedua, pekerja di kebun anggur Tuhan yang dikehendaki Yesus adalah rasul-rasul awam yang aktif. Maka kita harus berdoa agar semakin banyak awam yang mendengarkan suara panggilan Tuhan dan melibatkan diri dalam pelayanan Gereja. Di sini dapat timbul ketidakadilan kalau kita hanya ingin orang lain yang melayani, tapi kita sendiri tidak mau melayani dan hanya ingin dilayani. Gereja membutuhkan awam-awam yang aktif melayani entah sebagai pengurus Dewan Paroki, Seksi-seksi dalam DP dan Ketua-ketua Lingkungan atau melayani lewat kelompok-kelompok kategorial yang ada di dalam paroki. Awam yang aktif dalam kerasulan Gereja dapat memberikan sapaan kasih dari Gereja bagi mereka yang sangat membutuhkan. Dengan demikian umat memperoleh pelayanan dan mendapatkan apa yang menjadi haknya dari bunda Gereja.

Sebagai pertanyaan untuk renungan : apakah saya merasa prihatin terhadap sesama saya? Atau seperti Kain yang tidak peduli dengan nasib sesam? Apakah saya siap menjawab panggilan Tuhan untuk mengabdikan sedikit waktu saya untuk Tuhan dan sesama?**P. Alex Dato'L, SVD


Pada tanggal 1 November Gereja Katolik sejagat merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Hari raya ini mula-mula dirayakan di lingkungan Gereja Katolik Timur untuk menghormati semua saksi iman yang mati bagi Kristus dalam usahanya menyebarkan iman Katolik. Di lingkungan Gereja Katolik Barat, khususnya Roma, pesta ini bermula pada tahun 609 ketika Paus Bonifasius IV merombak Pantheon, yaitu tempat ibadat untuk dewa-dewi Romawi, menjadi sebuah gereja yang dipersembahkan kepada St Maria bersama para rasul. Pesta ini kemudian berkembang dan menjadi populer dengan “Hari Raya Semua Orang Kudus”, yang dimaksudkan untuk menghormati para Kudus, baik mereka yang sudah diakui resmi oleh Gereja maupun mereka yang belum dan yang tidak diakui secara resmi oleh Gereja.

Dalam Perjanjian Baru semua orang Kristen disebut “kudus”. Sebab rahmat ilahi mengikutsertakan mereka dalam kekudusan ilahi berkat iman akan Yesus Kristus dam pembaptisan dalam Roh Kudus (bdk Lk 3,16;Kis 1:5.9.13; Rm 8:27, 1Kor 1:2; Ef 1:1). Sejak abad ke 2 gelar “orang kudus” dikenakan pada para martir yang mati syahid demi iman akan Yesus Kristus. Pada abad ke 4 gelar itu juga diberikan kepada para pertapa, uskup yang hidupnya saleh. Baru pada abad ke 10 penggelaran seseorang menjadi kudus (kanonisasi) harus melewati sebuah proses dalam Kuria Roma. Proses itu terus berlanjut sampai saat ini.

Proses kanonisasi didahului dengan proses beatifikasi dan penyelidikan secara seksama menyangkut kesucian, keutamaan-keutamaan yang patut diteladani, dan mukijzat-mukjizat yang terjadi dengan perantaraannya. Ketika calon orang kudus itu diunggulkan karena keutamaan-keutamaan yang ia miliki dan karenanya ia pantas dihormati, maka calon itu diberi sebutan “venerabilis” yang berarti patut dihormati. Namun penghormatan kepada calon tersebut masih terbatas dalam lingkungan tertentu, entah Keuskupan atau biara. Selanjutnya calon itu diberi gelar “beato” (pria) atau “beata” (wanita), kalau terjadi minimal dua mukjizat dengan perantaraannya. Beatifikasi seseorang dilakukan oleh Sri Paus setelah sebuah penelitian saksama terhadap peristiwa yang dilaporkan sebagai mukjizat (minimal dua). Tentu saja peristiwa itu harus dibuktikan oleh ahli dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan bahwa peristiwa itu terjadi tanpa campur tangan manusia atau dengan kata lain peristiwa itu terjadi semata-mata karena kuasa Allah berkat doa dari calon orang kudus itu. Beatifikasi itu telah terjadi begitu cepat terhadap ibu Teresa dari Kalkuta dan Paus Yohanes Paulus II. Langkah terakhir adalah kanonisasi atau penggelaran kudus setelah terjadi minimal empat mukjizat dengan perantaraannya.

Banyak orang kudus dihormati sebagai pelindung biara, gereja, keuskupan, kota dan negara tertentu. Waktu dibaptis dan juga waktu diterimakan Skr. Krisma setiap orang Katolik memilih seorang kudus sebagai pelindung yang menjadi panutan dan pendoa. Ketika lahir, setiap orang menerima sebuah nama. Pada umumnya orangtua memberikan sebuah nama yang pasti punya makna tertentu. Pada waktu seseorang dilahirkan kembali dalam pembaptisan dan penerimaan Skr. Krisma, setiap orang memilih nama seorang kudus menjadi namanya.

Nama orang kudus itu diharapkan menjadi idola, yang kepribadian serta keutamaan-keutamaan yang dimilikinya pantas diteladani. Untuk itu tiap orang diharapkan mengenal biografi orang kudus itu teristimewa kebajikan-kebajikan yang menghias kepribadiannya guna menjadi inspirasi bagi pengembangan kepribadiannya. Selain itu orang kudus itu kiranya dijadikan sebagai pendoa. Kita bisa berdoa langsung kepada Tuhan, tapi dapat juga meminta orang kudus pelindung kita untuk mendoakan kita. Semoga para kudus mendoakan kita agar kita pun dapat mempertahankan iman kita sampai akhir pertandingan di dunia ini dan kelak bersatu dengan mereka di surga. Semoga!  **P. Alex Dato’ L., SVD - Sumber: 1. Orang Kudus Sepanjang Tahun. 2. Ensiklopedi Gereja, 3. The Catholic Encyclopedia

Bulan Mei sudah lama dijuluki sebagai Bulan Maria. Bulan ini dibaktikan untuk penghormatan kepada St Perawan Maria. Sebuah bentuk penghormatan yang amat lazim dilakukan dalam kehidupan umat Katolik adalah berdoa Rosario. Doa Rosario boleh dikatakan merupakan doa yang amat diminati oleh umat Katolik. Dibandingkan dengan kegiatan spiritual yang lain seperti pendalaman iman atau pendalaman Kitab Suci, doa Rosario  masih lebih diminati. Lihat saja jumlah umat yang hadir tiap malam sepanjang bulan Mei, luar biasa banyak dibanding jumlah umat yang hadir sewaktu pendalaman iman / Kitab Suci yang diadakan hanya sekali dalam seminggu.

Kalau bulan Mei dikenal sebagai bulan Maria, bulan Oktober lebih dikenal sebagai bulan Rosario. Bulan Oktober sebagai bulan Rosario merupakan warisan spiritual dari Paus Leo XIII (1878 – 1903). Paus Leo XIII mendeklarasikan bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Deklarasi bulan Oktober sebagai bulan Rosario sejarahnya bermula dari keputusan Paus Pius V menetapkan tgl. 7 Oktober sebagai pesta Santa Maria Ratu Rosario. Pesta ini ditetapkan Paus Pius V sebagai tanda syukur atas kemenangan pasukan Kristen di bawah pimpinan Don Johanes dari Austria dalam perang melawan pasukan Turki di Lepanto pada tgl. 7 Oktober 1571 berkat doa Rosario yang diserukan Paus Pius V.

Pada tahun 1571 Eropa terancam oleh agresi pasukan Turki. Paus Pius V sebagai pemimpim umat Katolik pada masa itu sangat menyadari bahaya ancaman itu bagi iman umat Katolik di Eropa. Sebagai pemimpin spiritual Paus berkeyakinan bahwa ancaman seperti itu tidak cukup dihadapi hanya dengan kekuatan tangan manusia, tetapi harus juga dengan tangan ilahi. Karena itu Paus Pius V menyerukan umat Katolik di Eropa untuk berdoa Rosario, memohon perlindungan Bunda Maria dari ancaman agresi pasukan Turki. Paus Pius V sangat yakin akan ampuhnya Rosario sebagai senjata iman untuk mengalahkan musuh. Keyakinan itu telah terbukti dengan kemenangan pasukan Kristen pada tgl. 7 Oktober 1571. Peristiwa sejarah yang sekaligus menjadi peristiwa iman itulah yang mendorong penetapan tgl. 7 Oktober oleh Paus Pius V sebagai pesta St Maria Ratu Rosario. Mulanya hanya dirayakan di Eropa. Paus Klemens IX (1667 – 1669) merasa perlu untuk mengukuhkan pesta ini bagi seluruh dunia, maka pesta St. Maria Ratu Rosario ditetapkan sebagai pesta yang wajib dirayakan oleh Gereja Katolik sejagat. Paus Leo XIII lebih meningkatkan nilai pesta ini dengan menetapkan seluruh bulan Oktober sebagai Bulan Rosario untuk menghormati Bunda Maria.

Penetapan bulan Oktober sebagai Bulan Rosario tidak hanya untuk menghormati Bunda Maria, tetapi juga untuk lebih menyadarkan umat Katolik bahwa Rosario sesungguhnya merupakan senjata iman yang sangat ampuh dalam menghadapi musuh iman. Sesuai dengan nama julukan sebagai bulan Rosario, bulan Oktober pantas diisi dengan doa Rosario. Kebiasaan berdoa Rosario setiap malam sepanjang bulan Oktober dan bulan Mei patut dilestarikan. Namun perlu dicamkan bahwa Bunda Maria tidak boleh menjadi tujuan akhir segala bentuk aktivitas rohani. Per Mariam ad Yesum. Secara harafiah ungkapan bahasa Latin ini diterjemahkan sebagai berikut: Melalui Maria kepada Yesus. Ungkapan ini kiranya menjadi pedoman dalam penghormatan kita kepada Bunda Maria. Dengan demikian penghormatan kita kepada Bunda Maria tidak berhenti pada Bunda Maria, tetapi lewat Bunda Maria kita harus sampai kepada Yesus puteranya. Tanpa Yesus Bunda Maria tidak pernah mendapatkan posisi sedemikian dalam kehidupan iman umat. Penghormatan kita kepada Bunda Maria kiranya tidak dipisahkan dari Yesus puteranya.

Kalau kita berpegang pada pedoman tersebut di atas, idealnya harus tercipta keseimbangan dalam aktivitas rohani umat yang berkaitan dengan Bunda Maria dan Yesus puteranya. Konsekuensinya, umat tidak hanya mengandrungi doa Rosario, tetapi juga aktif dalam pendalaman iman dan Kitab Suci. Dalam kedua bentuk kegiatan rohani itu, kita sebetulnya sedang berhadapan dengan Allah dan Yesus Putera-Nya yang sedang berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. Mestinya semakin kita rajin berdoa Rosario, semakin rajin pula kita mengikuti pendalaman iman dan Kitab Suci. Itu baru seimbang. Semoga! **P. Alex Dato’ L., SVD
Sumber: Orang Kudus Sepanjang Tahun, hal. 602.

Dalam kaitan dengan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen, kali lalu sudah diturunkan tulisan tentang Gereja Ortodoks yang telah memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma. Dalam edisi ini akan diturunkan tulisan tentang Gereja reformasi. Gereja reformasi kemudian hari lebih dikenal dengan sebutan Gereja Protestan.

Bicara tentang Gereja Reformasi mau tidak mau kita harus mengawalinya dengan pembicaraan tentang reformasi yang bergulir dalam Gereja Katolik dan akhirnya berbuntut pada lahirnya Gereja reformasi. Reformasi pada umumnya berarti memberi bentuk (Latin = forma) yang lebih baik, atau kembali ( = re ) ke bentuk yang semestinya, karena keadaan telah merosot dan kurang memuaskan. Maksud reformasi lain daripada restorasi ( = kembali pada yang lama saja ), karena reformasi mau membaharui dengan mengacu kepada yang asli. Semua yang manusiawi sewaktu-waktu perlu diperbaharui, direformasi, antara lain karena kesalahan yang telah dibuat sebelumnya.

Istilah “Reformasi” mulai digunakan sejak abad ke-17 untuk usaha membaharui seluruh Gereja “dari atas ke bawah”  selama abad ke- 15 dan ke- 16. Konsili-Konsili mengeluarkan banyak dekret pembaharuan yang baik (- Konsili Ekumenis di Pisa, Konstanz, Basel, Firenze, Lateran V), tetapi tidak ada yang mempedulikan pelaksanaannya. Terdapat usaha di kalangan biarawan, misalnya “Saudara-Saudara Hidup Bersama” berikhtiar memperdalam dan menyegarkan hidup rohani di antara mereka, antara lain oleh Thomas dari Kempen. Ada yang memprotes kebiasaan-kebiasaan buruk, khususnya sistem fiskal Gereja. Tokoh-tokoh humanis seperti Erasmus dari Rotterdam (+ 153) dan Kardinal G. Contarini (+ 1542) berikhtiar memperbaharui Gereja. Banyak orang awam mulai membaca Kitab Suci sendiri. Tetapi semua usaha itu terbatas pada kelompok atau daerah tertentu saja dan kurang mempengaruhi Gereja seluruhnya.

Gerakan reformasi menggeliat dalam Gereja tentu berkaitan dengan gejala kebobrokan yang sedang menggerogoti Gereja Katolik akibat ulah pejabat tinggi Gereja (abas, prelat uskup, kardinal dan paus) yang bertanggungjawab atas keluhuran dan keagungan Gereja Kristus. Catatan sejarah mengingatkan kita bahwa mereka hanya mengejar kepentingan duniawi, memajukan kesenian serta sastra dan memikirkan sanak-saudara (nepotisme). Peristiwa seperti Skisma Barat (1378-1417) waktu tiga paus menyalahgunakan wewenang rohani mereka, pemilihan paus yang tidak pantas seperi Alexander VI (1492-1503) dan Leo IX (1513-1521), lalu korupsi serta komersialisasi jabatan gerejani yang begitu hebat sehingga membuat orang baik dan saleh pun hampir putus asa. Banyak pejabat Gereja menjadi pangeran duniawi namun melalaikan tugas rohani mereka, imam-imam paroki tidak terdidik, hidup dengan isteri gelap, seringkali bodoh dan tidak mampu berkotbah dan mengajar umat. Teologi skolastik menjadi mandul dan malah dogmatis dianggap sebagai perdebatan tentang hal sepele antara aneka aliran teologis. Humanisme antiklerikal dan konsiliarisme mengaburkan wewenang Roma, karena sering disalahgunakan demi kepentingan dan kekuasaan duniawi.

Gerakan reformasi tidak berhasil memperbaharui keadaan yang begitu bobrok di dalam Gereja. Akibatnya timbul konflik di antara banyak Gereja, yang saling menuduh meninggalkan iman yang benar. Faktor pemicu yang lain adalah banyak masalah teologis pada permulaan abad ke- 16 belum terputuskan, banyak kebiasaan dalam umat yang tidak seragam. Penghayatan iman dicampuradukan dengan takhayul, urusan agama berbaur dengan kepentingan duniawi. Praktek agama sering hanya sekedar rutinitas sehari-hari.

Dalam situasi Gereja seperti itu tampil Martin Luther seorang biarawan dari Ordo St. Agustinus (OSA) mengeritik ajaran dan kebiasaan yang tidak sejalan dengan Kitab Suci. Luther didukung oleh para pengikutnya. Sampai tahun 1530 Luther dan para pengikutnya belum menganggap dirinya sudah berada di luar Gereja Katolik, karena semua kritik dianggap tidak diarahkan kepada Gereja Katolik, tetapi kepada kelompok tertentu di dalam Gereja. Pada saat itu terdapat beberapa pokok ajaran Gereja yang belum dirumuskan secara pasti. Dalam keadaan yang kurang pasti itu, Luther mencanangkan semboyan yang sudah dikemukakan orang lain sebelumnya: “Dalam kebingunan teologi, hanya Kitab Sucilah sumber dan norma ajaran Gereja!” Pandangan itu tersebar luas, juga di antara Reformator Katolik di Italia yang merasa putus asa terhadap pimpinan Gereja. Maka, mau tak mau orang memandang Kitab Suci sebagai sarana pembaharuan Gereja, karena para gembala sudah menjadi “orang upahan” yang tidak peduli (Yoh 10:12).

Luther mula-mula menyerang penjualan indulgensi oleh biarawan Tetzel OP (1517). Kemudian ia membela beberapa pandangan baru, khususnya ajaran tentang pembenaran hanya karena iman (sola fide). Lalu Luther menyerang wewenang paus dan menolak beberapa ajaran para teolog sebelumnya dengan bertumpu pada Alkitab sesuai dengan tafsirannya sendiri.

Luther semula pasti tidak menginginkan perpecahan. Ia ingin memelopori pembaharuan. Tetapi, ia terseret oleh arus yang disebabkan oleh rasa tidak puas yang umum dalam umat yang mendambakan pembaharuan yang bentuknya masih kurang jelas. Dan Luther terbawa juga oleh sikapnya yang amat emosional dan kasar terhadap siapa pun yang menantangnya.

Luther didukung oleh banyak kelompok dengan alasan yang bervariasi, misalnya, oleh para bangsawan yang mengingini milik biara, oleh warga kota yang mendambakan kebebasan berpikir, oleh para tani yang mau lepas dari kerja rodi dan pajak, oleh kaum nasionalis yang membenci privilege Roma, oleh kalangan humanis yang mau membuang kungkungan teologi skolastik, oleh pemerintahan kota-kota kerajaan yang mecium kesempatan memperluas wewenang mereka di dalam kota. Maka, Luther tampil sebagai pahlawan pembebasan. Ia disambut dengan antusias. Orang mengira akhirnya pembaharuan sungguh-sungguh dimulai. Mula-mula Roma kurang menyadari apa yang terjadi, kemudian bereaksi salah, sehingga tidak mampu lagi mengarahkan perkembangan.

Luther pada tahun 1517 menulis 95 dalil dalam bahasa Latin yang dikirim kepada dua uskup sebagai masukan untuk pembaharuan dalam Gereja. Tanpa sepengetahuan Luther ada orang yang menerjemahkan ke 95 dalil itu dalam bahasa Jerman dan kemudian menempelkannya di gereja Wittenberg. Hal itu menimbulkan reaksi keras dari pimpinan Gereja. Luther dituduh sebagai heretikus atau bidaah. Pandangan-pandangan Luther menimbulkan goncangan iman umat. Akhirnya, pada tahun 1520 pimpinan Gereja lewat dokumen Exsurge Domine mengutuk pandangan Luther dan mengumumkan ekskomunikasi (pengucilan) bagi Luther. Itulah awal terjadinya perpecahan baru dalam Gereja dengan lahirnya Gereja Reformasi atau Gereja Protestan, yang kemudian melahirkan ratusan sekte baru dalam Gereja. ** P. Alex Dato’ SVD Sumber: Ensiklopedi Gereja No. 7 

Sejak tanggal 18 Januari 2013 yang lalu, Gereja Katolik sejagat memulai Pekan Doa Sedunia untuk persatuan umat Kristen. Pekan doa ini diadakan berkaitan dengan bencana perpecahan yang menimpa Gereja Katolik dalam perjalanan sejarah Gereja Katolik. Perpecahan itu tentu bertentangan dengan kerinduan Yesus akan persatuan di antara para murid-Nya seperti diungkapkan Yesus dalam doa-Nya pada perjamuan malam terakhir. Gereja yang pertama memisahkan diri dari Gereja Katolik Roma adalah Gereja Ortodoks pada tahun 1054. Untuk itu kita perlu mengenalnya dan karena itu kami turunkan dalam tulisan ini.

Gereja Ortodoks merupakan federasi Gereja-Gereja otokefal (bhs Yunani = mempunyai “kepala sendiri”) di negara-negara Eropa Timur, khususnya Rusia dan negara-negara di pesisir timur Laut Tengah. Pada masa pertentangan kristologis abad ke-4 dan ke-5 Gereja-Gereja ini tetap berpegang pada iman yang benar (bhs.Yunani = orthodox). Iman yang benar (ortodoks) itu berkaitan dengan ajaran tentang Kristus seperti tercantum dalam Syahadat yang dihasilkan oleh Konsili Nikea I (thn 325) dan kemudian ditegaskan kembali dalam Konsili Kalsedon I (thn 381). Syahadat ini kita kenal sampai saat ini sebagai Syahadat panjang atau Syahadat Nikea-Kalsedon. Pada konsili Efesus tahun 431 para bapa Konsili menetapkan bahwa rumusan Syahadat Nikea-Kalsedon itu sudah final dan dilarang untuk dirubah dengan ancaman anathema (bhs. Latin: kutukan)  atau ekskomunikasi (= pengucilan seseorang dari Gereja Katolik).

Pada Konsili Toledo III di Spanyol pada tahun 589 para bapak Konsili merubah Syahadat Nikea-Kalsedon dengan tambahan “Filioque” (bhs Latin: “dan Putera”). Tambahan itu pada kalimat: “Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan, Ia berasal dari Bapa “dan Putra”. Tambahan itu dimaksudkan untuk menekankan keilahian dan kesetaraan Putra dan Bapa guna menentang ajaran sesat Arianisme yang mengajarkan bahwa Yesus adalah firman yang diciptakan oleh Bapa. Sri Paus meskipun pada awalnya menentang tambahan itu, akhirnya setuju dan mendukungnya. Tambahan itu dilawan dengan keras oleh Gereja Timur, khususnya ketika Photius menjadi Batrik Konstantinopel selama akhir abad 9, baik atas dasar teologi maupun karena penambahan itu melanggar larangan Konsili Efesus untuk mengubah Syahadat. Penambahan itu menjadi alasan utama terjadinya skisma – perpecahan – antara dua Gereja pada abad 11 dan sejak itu tetap merupakan halangan utama untuk terjadinya penyatuan kembali. Gereja Timur menamakan diri Gereja Ortodoks karena anggapan bahwa merekalah yang masih berpegang pada ajaran benar atau asli tentang Kristus seperti tercantum dalam Syahadat Nikea-Kalsedon.

Sebab-sebab lain terjadinya perpecahan pada abad 11 sangat kompleks, antara lain teologi di bagian timur lebih spekulatif; kristologinya cenderung bersifat mistik; ibadat menekankan ritus dan doa dalam bahasa tertentu. Gereja-Gereja Partikular di bagian timur erat hubungannya dengan kekuasaan duniawi (kaisar, tsar…), sehingga cenderung menjadi Gereja-Gereja nasional: Simfonia antara agama dan pemerintahan dijaga dan dijalin selalu. Sebab perpecahan juga bercorak politis: Perkembangan ini dimulai dengan meningkatnya kedudukan Uskup Byzantium, setelah kota ini menjadi ibukota Kekaisaran Romawi (326). Para kaisar menggunakan Uskup ibukota sebagai alat untuk memanfaatkan Gereja demi kepentingan politik kekaisaran. Akhirnya Uskup Konstantinopel menjadi yang paling tinggi kedudukannya di bagian timur, walaupun masih mengakui bahwa Paus di Roma memiliki kedudukan terhormat dalam seluruh Gereja. Namun demikian, perbedaan dalam banyak bidang semakin luas (cara hidup rohaniwan, bahasa ibadat, tgl hari-hari raya…), sehingga hal-hal sepele menjadi dalih untuk perpecahan total dalam Skisma Timur pada tahun 1054. Paus dan Batrik sama-sama salah. Keadaan itu dikuatkan oleh berbagai anti-Konstantinopel para kesatria barat dalam Perang Salib (abad-13).

Sejak tahun 1054 Gereja Ortodoks tidak lagi mengakui kepemimpinan Uskup Roma atau Paus atas Gereja seluruhnya. Gereja Ortodoks terdiri dari empat Gereja Batrik kuno (Konstantinopel, Aleksandria, Antiokia dan Yerusalem), Batrik baru (Moskow, Belgrad, Sofia dan Bukarest), beberapa Gereja otokefal (Yunani, Georgia, Siprus, Ceko, Slowakia, Polandia, Albania dan Sinai), beberapa Gereja otonom, yang belum seluruhnya independen (Tiongkok, Jepang dan Finlandia) serta banyak propinsi gerejani di seLuruh dunia. Sebagian besar umat Kristen ini (k.l. 150 juta) terpaksa puluhan tahun lamanya hidup di bawah tekanan penganiayaan rezim komunis-ateis di Rusia dan negara-negara Balkan.

Dalam hal ajaran, seluruh Gereja Ortodoks mengakui tujuh Konsili Ekumenis pertama (325-787), - Syahadat Nikea-Konstantinopel dan berpegang pada ajaran-ajaran Bapa-Bapa Gereja, khususnya yang berbahasa Yunani. Maka, dalam hal pokok tiada perbedaan dengan Katolik. Perbedaan sekunder yang mencolok adalah: penolakan (1) ajaran bahwa “Roh Kudus tidak hanya berasal dari Bapa melainkan juga dari Putra” (= filioque; latin), (2) ajaran tentang Maria yang terkandung tanpa noda, (3) ajaran tentang primat dan yurisdiksi Uskup Roma atas seluruh Gereja dan sifat kebal-salahnya bila secara resmi menegaskan ajaran tentang iman dan susila yang mengikat Gereja, (4) Tiada pimpinan Gereja universal, baik dalam hal ajaran maupun dalam hal tata-tertib gerejani.

Perbedaan-perbedaan sekunder dapat kami kemukakan beberapa sebagai berikut. Hari Raya Natal dirayakan pada Hari Raya Penampakan Tuhan (bukan pada 25 Desember), rohaniwannya boleh menikah, tanda salib dari bahu kanan ke kiri (bukan kiri ke kanan), kedua kaki Yesus pada salib lurus atau tidak silang di atas yang lain. Semoga dengan tulisan ini kita dapat lebih memahami bencana perpecahan pertama dalam sejarah Gereja Katolik dan semoga kita tak henti-hentinya berdoa untuk penyatuan kembali. ** P. Alex  Dato’ L., SVD Sumber:1.  Ensiklopedi Gereja; 2. Konsili-Konsili Gereja.

Perjalanan iman Abraham ditampilkan kepada kita secara khusus pada bulan Kitab Suci Nasional ini agar menjadi model bagi setiap kita. Sama seperti Abraham dipanggil dan diberi janji akan menjadi berkat bagi segala bangsa, kita juga dipanggil dan diberi janji oleh Allah untuk menjadi berkat bagi sesama kita. Bagaimana kita menanggapi dan mewujudkan panggilan serta janji Allah itu?

Hal yang paling pertama adalah iman. Karena iman Abraham berani menanggapi panggilan Allah dan menerima janji yang diberikan kepadanya. Iman artinya berani meloncat ke dalam ketidak pastian, karena yakin Allah tidak pernah berbohong dan dalam Allah ada kepastian. Dan karena yakin Abraham hidup seolah sudah menerima apa yang dijanjikan. Ia hidup dalam harapan akan pemenuhan janji itu. Harapan berarti menanti dengan pasti. Abraham menanti dengan pasti akan mendapatkan apa yang dijanjikan. Meskipun tidak segera terpenuhi, Abraham tetap menanti penuh kepastian. Sedikitpun ia tidak merasa kecewa dan putus asa. Dan sekalipun tidak ada dasar untuk percaya dan berharap, karena ia dan isterinya Sara sudah lanjut usia, ia tetap percaya dan berharap juga. Itu sebabnya ia akhirnya mendapatkan apa yang ia percaya dan harapkan.

Iman merupakan tuntutan utama agar dapat menanggapi dan mewujudkan panggilan dan janji Allah. Kita dipanggil Allah dan dijanjikan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Pertama-tama menjadi berkat bagi keluarga kita masing-masing dan Lingkungan kita. Untuk itu seperti Abraham kita harus meninggalkan “negeri” kita yang boleh dikatakan simbol dari “ego” kita yang memberi kita rasa nyaman, enak, senang dan lain sebagainya.

Memang tidak mudah meninggalkan “ego” kita, karena semua orang pasti mau hidup enak dan kalau perlu tanpa pengorbanan. Kita butuh iman yang memberi kekuatan pendorong sehingga kita berani tinggalkan ego dan siap berkorban. Kita yakin akan kepastian janji Allah bagi kita.bahwa hidup kita pasti diberkati Allah (dalam berbagai wujud sep. kesehatan) dan kita menjadi berkat bagi sesama kita. Iman menjadi dasar untuk berharap bahwa janji itu pasti terpenuhi. Semoga!**P. Alex Dato’ L., SVD

Gambar dari Hidup Katolik
Perkawinan Katolik dan lebih lagi Sakramen Perkawinan adalah suatu yang sakral, suci dan karena itu Gereja Katolik mengajak seluruh umat Katolik untuk menghormati kesucian perkawinan itu. Untuk membantu umat menghormati kesucian perkawinan, Gereja Katolik menetapkan seperangkat hukum yang kiranya menjadi pedoman bagi setiap umat Katolik ketika akan melangsungkan perkawinan. Hukum yang mengatur seluk-beluk perkwinan Katolik itu dimuat dalam Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici). Pasalnya disebut sebagai 'kanon'.

Kanon 1066 menetapkan: "Sebelum perkawinan diteguhkan, haruslah pasti bahwa tiada suatu hal menghalangi peneguhan yang sah dan hala". Kepastian tentang halangan peneguhan perkawinan diperoleh lewat Penyelidikan Kanonik, yang harus dilakukan oleh Pastor Paroki tempat calon pasangan berdomisili (bukan berdasarkan KTP), utamanya Pastor Paroki dari calon mempelai wanita (kecuali kalau tidak Katolik). Dalam penyelidikan kanonik, Pastor Paroki menyelidiki segala persyaratan menurut Hukum Kanonik bagi sahnya sebuah perkawinan dan hal-hal yang dapat menggagalkan sebuah perkawinan.

Dalam Kanon 1073-1094 diatur tentang halangan-halangan yang menggagalkan perkawinan pada umumnya dan pada khususnya. Halangan-halangan itu dapat membuat seseorang tidak mampu untuk menikah secara sah. Halangan pada umumnya seperti halangan beda agama atau beda Gereja, hubungan darah dan lain-lain. Halangan-halangan yang bersifat umum seperti itu masih ada solusinya yakni dengan memintakan dispensasi dari Uskup setempat.

Ada halangan-halangan khusus yang menyebabkan seseorang tidak dapat menikah secara sah dan tidak ada dispensasinya dari Uskup yakni halangan usia (pria 16 tahun dan wanita 14 tahun), impotensi untuk melakukan hubungan suami-isteri, kasus perceraian bagi salah satu calon pasangan yang pernah menikah secara Katolik, tahbisan (bagi mereka yang mengundurkan diri dari imamat) dan kaul kekal (bagi mereka yang mengundurkan diri dari Lembaga Hidup Bakti).

Kanon 1095-1107 mengatur hal-hal yang berkaitan dengan Kesepakatan Nikah. Secara khusus Kanon 1103 menetapkan: "Perkawinan adalah tidak sah bila dilangsungkan karena paksaan atau ketakutan besar yang dikenakan dari luar, meskipun dengan sengaja, sehingga untuk melepaskan diri dari ketakutan itu seseorang terpaksa memilih perkawinan". Kebebasan untuk membuat kesepakatan menikah merupakan persyaratan mutlak dalam sebuah perkawinan Katolik. Kebebasan yang dijiwai oleh kasih akan melanggengkan sebuah perkawinan. Orang yang menikah secara bebas saja masih bisa kandas di tengah jalan, apalagi yang menikah karena terpaksa.

Gereja Katolik tidak dapat meneguhkan perkawinan yang jelas-jelas tidak sah, karena kalau Gereja melakukannya, maka Gereja melecehkan perkawinan yang sangat dijunjung tinggi kesakralannya. Kasus seperti itu dapat dan sudah terjadi dalam Gereja Katolik. Tentu saja hal itu tidak dapat diumumkan untuk diketahui oleh seluruh umat. Karena itu, bila terjadi hal seperti ini, umat diharapkan tidak terlalu cepat berprasangka buruk terhadap sikap Gereja Katolik. Bilamana keputusan seperti itu dilakukan, tentu ada alasannya dan sudah dikonsultasikan dengan Uskup sebagai Ordinaris Wilayah yang berwewenang dalam hal ini. Semoga umat dapat memakluminya. ** P. Alex Dato'L, SVD.

Pada tahun 2012, setahun menjelang perayaan 50 Tahun Paroki Katedral, Pengurus Harian Dewan Pastoral Paroki Katedral telah membentuk Panitia Perayaan 50 Tahun Paroki Katedral, yang diteguhkan dan diberkati oleh bapak Uskup dalam perayaan Ekaristi hari Minggu, 4 Maret 2012, bertepatan dengan perayaan Ulang Tahun Paroki Katedral yang ke-49. Perayaan 50 Tahun Paroki Katedral direncanakan akan diselenggarakan selama enam bulan atau setengah tahun, yang dibuka pada tgl. 1 Maret 2013 dan berpuncak pada pesta Pelindung Paroki, hari Minggu tgl. 8 September 2013. Untuk mengarahkan rangkaian kegiatan sepanjang perayaan ini, Panitia merasa perlu menetapkan tema dan sub tema Perayaan 50 Tahun Paroki Katedral. Tema perayaan 50 Tahun Paroki Katedral yang diusung Panitia diambil dari kata-kata inspiratif rasul Paulus: “Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” (Ef 4:13). Berdasarkan tema tersebut kemudian dirumuskan sub tema untuk mengoperasionalkan tema tersebut di atas yakni: “Satu Hati, Satu Komunitas, Satu Pelayanan Menuju Pemantapan Kedewasaan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya”.

Kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus kiranya menjadi cita-cita atau mimpi seluruh umat Paroki Katedral yang harus diwujudkan bersama. Cita-cita itu diwujudkan pertama-tama dengan membangun kesatuan yakni satu iman aneka wajah. Umat Paroki Katedral saat berasal dari aneka suku dan bahasa di tanah air dengan status sosial yang sangat bervariasi. Karena sangat diharapkan seluruh umat dapat saling merangkul dalam bingkai iman Katolik dengan merobohkan semua sekat yang memisahkan entah suku, budaya, status sosial atau sekat apa pun juga. Keanekaan wajah umat Paroki Katedral Palangka Raya harus diterima dengan penuh syukur sebagai anugerah Tuhan dan kiranya menjadi kekuatan dan modal atau aset berharga bagi paroki Katedral. Kesatuan umat Paroki Katedral dalam keanekaan wajah merupakan buah dan sekaligus indikator kedewasaan iman umat paroki Katedral.

Tahun persiapan 2012 dan tahun pelaksanaan pesta emas Paroki 2013, kiranya menjadi kesempatan emas bagi seluruh warga Paroki untuk secara aktif membangun iman agar semakin mantap, sehingga menghasilkan buah dalam aneka bentuk yakni semakin mantap persatuan dan kesatuan sebagai satu komunitas, semakin aktif dan kreatif dalam pelayanan baik dalam kehidupan menggereja mulai dari Lingkungan sampai tingkat Paroki maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Kita berharap kesadaran iman umat akan mendorong semakin banyak orang yang mau terlibat dalam pelayanan. Kita mendengar keluhan tentang kurangnya orang yang mau terlibat dalam kegiatan koor pada perayaan Ekaristi di gereja. Misa hari Minggu sore sering dianaktirikan karena absennya petugas liturgi seperti lektor dan pemazmur. Padahal misa hari Minggu sore itu sama dengan misa pagi untuk memuji dan memuliakan Allah. Kurangnya motivasi iman menyebabkan orang begitu mudah melalaikan tugas yang dipercayakan kepadanya. Ini menjadi tantangan bagi kita semua yang harus kita atas bersama.

Dalam lingkaran satu iman aneka wajah itu, seluruh umat berjuang membangun sebuah komunitas yang solid guna meningkatkan pelayanan / pengabdian kepada Gereja dan masyarakat sehingga Gereja Katedral St. Maria dapat menjadi tanda dan sarana keselamatan yang efektif. Tiga aspek ini kiranya menjadi indikator untuk mengukur kemantapan kedewasaan Paroki atau Gereja Katedral St. Maria Palangka Raya.

Sub tema dari Perayaan 50 Tahun Paroki Katedral adalah “Satu Hati, Satu Komunitas, Satu Pelayanan Menuju Pemantapan Kedewasaan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya”. Rasul Yohanes mengungkapkan refleksi imannya atas peristiwa inkarnasi dengan mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Rasul Yohanes meyakini bahwa Yesus adalah Sang Sabda yang telah menjadi manusia dan dengan cara itu Allah dalam diri Yesus Kristus dapat tinggal di tengah kita manusia. Yesus datang untuk merajut kembali kebersamaan yang telah tercabik-cabik oleh dosa manusia pertama, Adam dan Hawa. Yesus datang untuk memulihkan relasi cinta dengan Allah dan merangkul seluruh umat manusia dalam bingkai kesatuan sebagai satu keluarga, satu komunitas dan satu kerajaan yakni Kerajaan Allah yang dijiwai oleh kasih persaudaraan. Dalam kesatuan kasih persaudaraan dan lewat kesatuan kasih persaudaraan kita mewujudkan kebahagiaan bersama.

Kebersamaan atau persaudaraan harus diyakini sebagai perangkat perkasa untuk membuat semua impian menjadi kenyataan. Ibarat sapu lidi. Dengan satu batang sapu lidi orang bisa menyapu membersihkan sesuatu yang kotor, namun kurang efektif dibandingkan dengan banyak lidi yang diberkaskan dengan ikatan kuat menjadi satu berkas. Dengan satu berkas sapu lidi orang dapat menyapu jauh lebih bersih dan lebih efektif. Kita dapat juga mengggunakan perbadingan lilin bernyala. Satu lilin bernyala dapat menerangi satu ruangan yang gelap gelita. Namun cahaya dalam ruangan itu akan lebih cemerlang bila banyak lilin yang dinyalakan bersama dalam satu kebersamaan. Demikian juga kita sebagai satu persekutuan / komunitas umat beriman. Secara individual kita dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan bersama, tapi pasti jauh lebih efisien dan efektif kalau kita dapat berbuat sesuatu bersama-sama dan bersama-sama berbuat sesuatu.

Kebersamaan dalam perbandingan seperti disebut di atas selalu membuat sesuatu menjadi lain dan punya nilai lebih. “Together to make difference”. Sebuah semboyan yang sangat inspiratif. “ “Bersama Mewujudkan Perubahan”. Dalam kebersamaan pasti dapat tercipta sebuah perubahan. Perubahan menjadi sebuah jargon yang selalu menjadi tema yang menarik dalam kampanye pemilihan presiden. Kita masih ingat kampanye presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengusung perubahan sebagai tema yang berhasil menggerakkan hati banyak pemilih untuk menjatuhkan pilihannya pada beliau. Dan yang masih amat segar dalam ingatan kita adalah kemenangan Barack Obama yang juga mengusung tema perubahan dan secara cemerlang telah menjadikan Obama sebagai presiden kulit hitam pertama di Amerika Serikat. “Change we believe in”.

Kalau kita mau agar terjadi perubahan dalam Paroki Katedral yang tercinta ini, tidak bisa tidak kita harus mulai dengan “membangun kebersamaan” (sense of belonging). Rasul Paulus mengajak umat di Filipi dan tentu juga umat Paroki Katedral untuk membangun kebersamaan, satu hati, satu komunitas dan satu pelayanan dengan kata-kata indah “….hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (Flp 2:2-4).

Hal pertama, harus ditumbuhkan kesadararan (konsientisasi) bahwa setiap kita adalah bagian dari perubahan itu. Di saat kita mengikatkan diri dalam kebersamaan sebagai satu Lingkungan dan satu Paroki, saat itu perubahan sudah mulai terjadi. Kesadaran itu harus disusul dengan komitmen untuk aktif berpartisipasi dalam bingkai kebersamaan sesuai kemampuan atau talenta yang kita terima dari Tuhan.  Sebuah ungkapan mengatakan, “Kalau komitmen 100% hasilnya pun 100%”. Selanjutnya seperti efek domino, satu perubahan akan menggerakkan perubahan berikutnya dan seterusnya.

Perubahan itu sedang terjadi dan perlu kita tingkatkan dalam segala aspek kehidupan menggereja yakni pewartaan (kerugma), liturgi (liturgia), pelayanan (diakonia) dan persekutuan (koinonia / martiria). Keempat bidang pokok itu merupakan soko guru Gereja yang akan menopang seluruh kehidupan Gereja. Perubahan dalam keempat bidang itu akan menjadi lokomotif yang membawa Paroki Katedral terus berubah dan Paroki Katedral betul-betul tampak beda karena kebersamaan kita. Kita percaya, perubahan itu bisa terjadi karena kebersamaan kita. “Together to make difference! Change we believe in!” “Bersama mewujudkan perubahan!” “Kita yakin akan perubahan!” Satu hati, satu komunitas, satu pelayanan! Semoga ! ** P. Alex Dato'L, SVD

Seri Dokumen Gerejawi No. 76 yang dikeluarkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI  dengan judul "Larangan Komuni" menyajikan ajaran Gereja khusus menyangkut larangan pemberian komuni dan penerimaan komuni. Dokumen itu memuat apa yang sudah disampaikan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik "Familiaris Consortio", ketentuan yang diatur dalam Kitab Hukum Kanonik, dan Surat Kongregasi Ajaran Iman serta Katekismus Gereja Katolik.

Larangan komuni yang diatur dalam dokumen itu ditujukan secara khusus kepada pasangan suami istri atau mereka yang cerai dan nikah lagi. Pasangan suami istri yang menikah sah secara Katolik dan bercerai, dilarang untuk menerima komuni. Di satu pihak, Gereja, khususnya para gembala menurut Kongregasi Ajaran Iman, "dipanggil untuk membantu mereka mengalami kasih Kristus dan kedekatan keibuan Gereja, seraya menerima mereka dengan kasih, mengajak mereka untuk percaya pada kerahiman Allah dan menyarankan kepada mereka dengan arif dan peka jalan konkrit pertobatan dan partisipasi dalam hidup komunitas Gereja" (hal. 8). Gereja sebagai Ibu tidak menolak orang-orang yang telah bercerai dan tetap menunjukkan kasih kepada mereka. Namun, di lain pihak, kasih sejati tidak boleh mengabaikan kebenaran obyektif menyangkut ajaran Gereja tentang perayaan sakramen-sakramen, khususnya penerimaan komuni suci.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Kongregasi Ajaran Iman menegaskan sebagai berikut: "Gereja menegaskan bahwa persatuan baru tak dapat diakui sebagai sah bila perkawinan sebelum itu sah. Bila orang-orang yang cerai menikah sipil, mereka berada dalam situasi yang obyektif melanggar hukum Allah. Maka dari itu mereka tak dapat menerima komuni suci selama situasi ini berlangsung" (hal.10). Dengan mengabaikan ajaran dan hukum Gereja tentang perkawinan, secara obyektif mereka telah menempatkan diri dalam status dan keadaan hidup yang bertentangan dengan persatuan kasih antara Kristus dan Gereja yang diwujudkan  oleh ekaristi. Ekaristi adalah tanda atau wujud nyata persatuan kasih antara Kristus dan Gereja. Sakramen perkawinan juga adalah simbol persatuan Kristus dan Gereja. Dengan merusak makna dan nilai Sakramen Perkawinan, mereka juga telah merusak persatuan dengan Kristus. Dengan demikian mereka sendiri yang menghalangi penerimaan komuni suci. Kongregasi Ajaran Iman menegaskan, "Mereka sendiri menghalangi penerimaan komuni suci, karena status dan kondisi kehidupan mereka obyektif bertentangan dengan perjanjian kasih antara Kristus dan Gereja, yang membuat ekaristi tampak dan hadir" (hal. 10).

Larangan ini tidak bermaksud memberikan hukum atau diskriminasi bagi pasangan cerai dan nikah lagi, melainkan untuk mengingatkan mereka akan situasi yang mereka ciptakan sendiri dan bertentangan dengan makna dan nilai ekaristi. Larangan ini tak boleh diartikan bahwa pasangan seperti itu tidak boleh mengikuti perayaan ekaristi. Mereka tetap diajak untuk mengikuti perayaan ekaristi, namun tidak boleh menerima komuni. Kongregasi Ajaran Iman menegaskan, "mereka ini tidak dikucilkan dari persekutuan gerejawi. Gereja mengusahakan pastoral mereka dan mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam hidup menggereja dalam batas-batas tertentu, sejauh dapat siserasikan dengan hukum ilahi, yang tidak termasuk kompetensi Gereja" (hal. 11).

Pasangan yang telah bercerai dapat mengajukan permohonan kepada bapak Uskup lewat pastor paroki untuk meninjau kembali perkawinannya yang pertama guna melihat apa ada kemungkinan bapak Uskup melalui Tribunal membatalkan perkawinan mereka, sehingga mereka dapat menikah lagi secara katolik. Gereja Katolik tidak mengenal perceraian tetapi PEMBATALAN atau ANULASI PERKAWINAN. Sebuah perkawinan katolik dapat dibatalkan kalau ditemukan adanya unsur atau faktor yang membuat perkawinan itu tidak sah sejak awalnya. Unsur atau faktor itu harus ditelusuri dalam proses perkawinan mereka. Hal terpenting yang diperhatikan adalah proses sebelum menikah di gereja. Apa ada kebebasan? Bisa jadi bahwa sang istri terpaksa menikah, karena sudah hamil akibat pergaulan bebas. Ini berarti tidak ada kebebasan penuh untuk membuat kesepakatan nikah. Faktor ini dapat membuat perkawinan itu tidak sah, meskipun dilangsungkan di gereja. Perkawinan yang tidak sah seperti itu dapat dibatalkan oleh bapak Uskup melalui lembaga Tribunal. ** P. Alex Dato' L, SVD

Dalam rangka mengikuti tahibsan imamat ponakan saya di Budapest, Hongaria, saya berkesempatan untuk menyaksikan hidup keagamaan umat Katolik di Hongaria. Saya ingin mensharingkan satu pengalaman kecil ketika mengikuti perayaan Ekaristi di gereja Katolik Hongaria. Beberapa kali saya mengikuti perayaan Ekaristi bersama umat. Meskipun saya tidak mengerti bahasanya, namun saya bisa menghayati isi dan makna perayaannya. Satu hal yang bagi saya mengesankan adalah mereka “bersama berdoa dan juga berdoa bersama”.

Kesan pertama adalah mereka bersama berdoa. Semua orang yang hadir dalam gereja terlibat aktif dalam segala doa yang melibatkan umat (demikian jga dalam menyanyi). Seperti misalnya“Saya mengaku” yang diucapkan sebagai pernyataan tobat di awal misa, “Aku Percaya”, “Bapa Kami” dlsb. Mereka bersama berdoa dengan suara yang lantang. Tidak ada yang cuek atau ngobrol dengan teman atau asal buka mulut tanpa suara yang kedengaran. Mereka sungguh berpartisipasi aktif dalam setiap bagian perayaan. Mereka menghayati liturgi Ekaristi dalam arti yang sesungguhnya yakni sebagai perayaan atau tindakan umat. Ekaristi bukan hanya perayaan seorang imam melainkan perayaan seluruh umat. Umat adalah peraya Ekaristi. Karena itu partisipasi aktif umat adalah suatu keharusn. Umat tidak sekedar hadir dalam perayaan liturgi Ekaristi dan hanya menjadi pendengar atau penonton, bersikap acuh tak acuh. Yang penting, sudah memenuhi kewajiban hukum, setiap hari Minggu ke gereja. Tidak penting arti dan maknanya bagi hidup sehari-hari.

Kesan kedua adalah mereka berdoa bersama. Mereka mengucapkan doa secara perlahan dan bersama-sama, tidak saling mengejar atau berlomba siapa yang bisa lebih dahulu selesai. Mereka sepertinya mengikut semboyan bus kota, “Sesama bus kota jangan saling mendahului”. Dalam berdoa bersama terkesan mereka ingin menghayati makna setiap kata yang diucapkan. Kata-kata yang diucapkan tidak sekedar sebagai rangkaian bunyi tanpa makna, tetapi bunyi yang penuh makna untuk kehidupan.

Dengan “bersama berdoa dan berdoa bersama”, mereka menunjukkan kadar penghayatan imannya. Karena perayaan Ekaristi sesungguhnya adalah sebuah perayaan iman. Dalam perayaan Ekaristi kita merayakan misteri iman kita akan wafat dan kebangkitan Kristus. Kristus yang telah mengorbankan dan menyerahkan diri-Nya bagi kita yang kita sambut dalam Komuni kudus. Sehingga setiap kita kembali dari Gereja membawa Kristus dalam diri kita dan kita berada dalam Kristus. Hidup kita menjadi hidup Kristus dan hidup Kristus harus menjadi hidup kita juga.

Saya sharingkan pengalaman ini sebagai suatu inspirasi bagi kita agar kita pun dapat “bersama berdoa dan berdoa bersama” dan dengan demikian dapat merayakan Ekaristi kudus dengan penuh makna. Kita terlibat aktif dalam perayaan Ekaristi, tetapi juga aktif bersama-sama. Jangan sampai selama perayaan Ekaristi berlangsung ada yang sibuk ngobrol dengan teman atau main sms atau diam membisu, cuek, tidak peduli.

Saya pernah menyaksikan dari altar dua orang ibu yang sepanjang misa berada di depan pintu gerbang gereja, membelakangi altar dan asyik ngobrol. Samasekali tidak peduli dengan apa yang sedang berlangsung dalam gereja. Terlebih pada saat konsekrasi ketika Kristus sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur, mereka sedikit pun tidak bergeming untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap Kristus. Pemandangan seperti itu sungguh melukai rasa keagamaan saya. Saya harus tahan diri agar tidak sampai berdosa pada saat yang paling sacral seperti itu.

Tindakan seperti itu menyalahi maksud dan tujuan kita datang ke gereja. Kalau untuk ngobrol, main sms, orang tidak harus ke gereja. Di rumah pun hal itu dapat dilakukan. Kita datang ke gereja untuk memuji dan memuliakan Allah. Kalau begitu kita harus terlibat aktif. Selanjutnya keterlibatan kita juga harus dilakukan bersama-sama. Setiap kata yang diucapkan harus bisa dihayati maknanya. Dan itu hanya mungkin kalau diucapkan secara perlahan, tidak seperti orang yang sedang berlomba. Bagaimana kita hadir dalam perayaan Ekaristi akan sangat berpengaruh terhadap penghayatan iman kita dan sekaligus menujukkan kualitas iman kita. Semoga mutu iman kita ditingkatkan lewat keterlibatan kita secara aktif dalam perayaan Ekaristi.
** P. Alex Dato’ L., SVD

Gambar dari: commons.wikimedia.org
Kadang orang bertanya, “Kenapa di tengah meja altar ditaruh salib kecil, padahal sudah ada salib besar yang bergantung di dinding altar?” Jawaban sederhana yang biasa disampaikan, “salib di tengah meja altar itu untuk imam, supaya dalam merayakan Ekaristi seorang imam selalu berfokus pada salib Kristus. Sedangkan salib besar yang bergantung di dinding altar itu untuk umat.”  Namun sesungguhnya salib di tengah meja altar itu mempunyai makna teologis dan liturgis yang dalam.

Dalam pembahasan tentang “Perayaan Misteri Kristen” Katekismus Gereja Katolik mengajukan sebuah pertanyaan: “Apa itu liturgi?” dan jawabannya: Liturgi adalah perayaan misteri Kristus, dan secara khusus misteri kebangkitan-Nya. Liturgi juga dipandang sebagai pelaksanaan imamat Yesus Kristus; di situ pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; di situ pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus yakni Kepala beserta para anggota-Nya. (no. 1069)

Dari definisi tersebut di atas, dapat kita mengerti bahwa Kristus Imam Agung Mahatinggi dan Misteri Paskah: Sengsara, wafat dan Kebangkitan-Nya adalah pusat dari tindakan liturgis Gereja. Nah, Liturgi harus menjadi perayaan yang menampakkan kebenaran teologis ini secara jelas. Dengan kata lain kebenaran teologis ini harus ditampakkan secara jelas dalam setiap perayaan liturgis dalam wujud tanda yang bisa dilihat orang guna mengarahkan tubuh, hati dan pikiran umat selama perayaan atau dengan kata lain salib menjadi kiblat imam dan umat selama perayaan ekaristi. Selama berabad-abad simbol yang dipilih oleh Gereja untuk mengarahkan hati dan tubuh selama liturgi adalah Yesus yang Tersalib atau salib Yesus Kristus.

Sebelum Konsili Vatikan II misa dirayakan oleh imam membelakangi umat. Pada masa itu di depan meja altar selalu diletakkan sebuah salib kecil dan di atasnya tergantung sebuah salib besar yang dapat dipandang oleh semua umat. Dengan demikian misteri paska: sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus tetap menjadi pusat perayaan ekaristi yang dihadirkan dalam tanda “salib”. Ke arah salib itu seluruh umat mengarahkan tubuh, hati dan pikirannya selama perayaan ekaristi. Dalam perkembangan selanjutnya salib digantungkan di atas dinding altar. Setelah Konsili Vatikan II terjadi perubahan. Imam dalam merayakan misa kudus tidak lagi membelakangi umat, tetapi menghadapi umat. Nah, supaya misteri paska tetap menjadi pusat atau sentrum dari perayaan liturgis, diletakkan salib kecil di tengah meja altar yang menjadi kiblat imam dan umat.

Teolog dan kardinal Joseph Ratzinger kemudian hari berulang kali menegaskan bahwa “salib harus dipertahankan posisinya di tengah, karena sangat tidak mungkin menggambarkan korban salib Kristus yang dihadirkan dalam perayaan ekaristi tanpa kehadiran sebuah salib di tengah altar. Setelah menjadi Paus, Benediktus XVI menyarankan: “Ketika menghadap ke “timur”,  tidak mungkin dilakukan bersama-sama. Karena itu salib dapat berperan sebagai interior “timur” dari iman. Salib harus berdiri di tengah altar dan menjadi titik fokus bersama baik bagi imam dan komunitas yang sedang berdoa”. Dengan pernyataan itu Sri Paus menegaskan kiblat Gereja Katolik dalam perayaan liturgis. Kiblat kita harus ke arah timur, karena dari timur terbit sang Cahaya sejati yakni Yesus Kristus. Kita tidak mungkin selalu berkiblat ke timur, karena itu kiblat kita dalam segala perayaan liturgi adalah Salib Kristus. Karena itu kapan dan di mana saja kita mengadakan perayaan liturgi salib harus selalu di tempatkan di tengah meja altar, kalau kita merayakan ekaristi atau kalau kita mengadakan doa lingkungan, salib harus ditempatkan di sebuah tempat yang memungkinkan setiap orang yang hadir dapat mengarahkan badan, hati dan pikiran kita. Singkat kata, “Salib” harus menjadi kiblat kita bersama dalam setiap tindakan liturgi. “Terpisah dari salib, tidak ada tangga lainnya yang olehnya kita dapat masuk ke surga”. ** P. Alex Dato’ SVD - Sumber: Salib Di Tengah Meja Altar, Kongregasi Liturgi Suci/Lux Veritatis.

Kita semua tahu bahwa iman mengandung tiga aspek/ranah yakni kognitif (pengetahuan/pemahaman), affektif (penghayatan) dan konatif-psikomotoris (perwujudan/pengamalan). Ketiga aspek iman ini sudah pernah dibahas dalam rubrik Suara Gembala ini. Pada kesempatan ini saya ingin mengajak kita sekalian untuk menggali lebih dalam aspek kedua yakni affektif (penghayatan) dalam kaitan dengan upaya membangun rasa keagamaan (sensus religiosus) dalam diri anak.

Dalam diri seorang anak khususnya usia balita aspek yang memainkan peran paling penting adalah aspek affektif. Hal ini disebabkan karena aspek kognitifnya belum cukup berkembang. Seorang anak belajar mengenal sesuatu lewat perasaannya. Itu sebabnya kita menyaksikan perilaku anak yang selalu mencoba sesuatu dengan menggunakan mulutnya. Semua yang dijumpai, coba dimasukkan ke dalam mulut. Dengan mulutnya seorang anak belajar mengenal segala sesuatu lewat cita rasa dalam mulutnya. Seorang anak mengenal / mengeksplorasi segala sesuatu lewat perasaannya (ranah affektif).

Hal yang sama berlaku dalam iman. Seorang anak mengenal iman agama lewat perasaannya. Anak tidak atau belum memahami semua aktivitas keagaman yang dilakukannya, tetapi apa yang dilakukan anak, membekaskan perasaan tertentu khususnya rasa tenteram dan damai dalam dirinya. Dengan kata lain tindak keagamaan yang dilakukan terhadap anak atau oleh seorang anak, membangun rasa keagamaan (sensus religius) dalam dirinya. Aspek affektif sangat berperan pada usia anak dan karena itu ikut menentukan kepribadian (iman) seorang anak di kemudian hari. Sehingga ada sebuah pepatah yang mengatakan, “apa yang kita taburkan pada usia anak, akan dituai ketika dewasa”. Dalam artian apa yang kita tanamkan pada usia anak akan sangat berpengaruh terhadap kepribadiannya ketika dewasa nanti.

Kita menaburkan iman dalam ranah affektif atau perasaan seorang anak dan apa yang kita tanamkan dalam perasaan, akan tertanam dalam bawah sadarnya dan nanti secara otomatis tanpa disadari akan berpengaruh terhadap kepribadiannya. Karena itu pada usia anak kita tidak memberi pengetahuan tentang iman, tetapi membangun rasa keagamaan lewat pembiasaan aktivitas iman tertentu. Anak memang tidak memahami apa yang dilakukan terhadapnya atau dilakukannya, tetapi apa yang dilakukan pasti menyentuh perasaannya dan akan mengembangkan rasa keagamaan di dalam hati sang anak. Membuat tanda salib pada dahi anak, mengajak anak berdoa di hadapan patung bunda Maria atau Hati Kudus Yesus dan lain-lain aktivitas iman, kalau dibiasakan secara terus-menerus akan menanamkan rasa keagamaan pada diri anak. Rasa keagamaan itu akan menciptakan kedamaian dan ketenteraman dalam diri seorang anak dan tanpa disadari akan terus mendorong sang anak untuk mengulangnya demi terciptanya rasa tenteram dan damai di hatinya.

Sejauh mana dampak rasa kegamaan terhadap iman seseorang dapat kita saksikan dari sharing pengalaman iman orang yang pernah meninggalkan Gereja Katolik. Ada seorang ibu yang meninggalkan Gereja Katolik dan pindah ke agam lain karena mengikuti sang suami. Menurut pengakuannya, dia tidak pernah merasa tenang dan damai karena meninggalkan bunda Maria. Perasaan negatif itulah yang kemudian mendorong ibu itu dan suaminya untuk kembali ke Gereja Katolik. Masih banyak pengalaman orang Katolik yang berpindah agama dan tidak menemukan kebahagiaan, akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam Gereja Katolik. Pengalaman iman seperti itu membuktikan betapa rasa keagamaan punya makna dan peran yang amat penting terhadap iman seseorang. Kiranya hal ini kita maklumi bersama dan mendorong kita untuk mengembangkan rasa keagamaan itu dalam diri anak-anak kita lewat pembiasaan berbagai aktivitas iman untuk anak-anak kita. Apa yang kita taburkan dalam diri anak, akan dituai ketika ia dewasa. Semoga! P. Alex Dato’, SVD

Foto dari hidupkatolik.com
Perkawinan merupakan bentuk hidup yang meliputi aneka nilai yang perlu dilindungi. Perlindungan itu diupayakan antara lain dengan menetapkan persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat menikah dengan sah, yakni halangan-halangan perkawinan. Maka orang yang ingin menikah harus bebas dari halangan-halangan nikah. Beberapa halangan nikah dikemukakan di bawah ini.

1. Umur

Untuk dapat menikah secara sah, pria harus berumur 16 tahun penuh, sedang wanita berumur 14 tahun penuh (kan. 1083.1). Dengan ketentuan umur ini Gereja berusaha menjamin kedewasaan seseorang demi kepentingan hidup pernikahan selanjutnya. Perlu diperhatikan bahwa Undang-Undang Perkawinan 1974 Ps 7 ayat 1 menentukan bahwa pria dituntut minimal berumur 19 tahun dan wanita 16 tahun untuk bisa menikah secara sah. Ketentuan ini penting diperhatikan supaya tidak menimbulkan kesulitan berhadapan dengan Negara.

2. Impotensi

Merupakan gangguan pada alat kelamin yang menyebabkan pasangan tidak dapat melakukan persetubuhan. Sebuah perkawinan menjadi sah secara sempurna (consumatum), bila setelah upacara pernikahan di gereja, pasangan itu melakukan hubungan sebagai suami-isteri. Impotensi menyebabkan perkawinan menjadi tidak sah.  Kanon 1084 menetapkan:
§ 1 “Impotensi untuk melakukan persetubuhan yang ada sejak sebelum nikah dan bersifat tetap, entah dari pihak pria ataupun dari pihak wanita, entah bersifat mutlak ataupun relatif, menyebabkan pernikahan tidak sah dari kodratnya sendiri.”
§ 2 “Jika halangan impotensi itu diragukan, entah karena keraguan hukum atau keraguan faktum, sementara dalam keraguan, pernikahan tidak boleh dinyatakan batal.
§ 3 Kemandulan tidak melarang ataupun menggagalkan pernikahan, dengan tetap berlaku ketentuan kanon 1098 (bila ada penipuan dari salah satu pasangan, perkawinan itu tidak sah dan dapat dibatalkan).
Menurut poin 1 di atas hanyalah impotensi yang ada sejak sebelum pernikahan dan tidak dapat disembuhkan yang merupakan halangan nikah. Impotensi yang timbul setelah pernikahan dan hanya bersifat sementara serta dapat disembuhkan, tidak merupakan halangan untuk sahnya pernikahan.

Impotensi merupakan halangan nikah, sebab dalam pernikahan dituntut kemampuan untuk membangun hidup sebagai suami-isteri yang saling menyerahkan diri seutuhnya dan terarah pada kelahiran dan pendidikan anak.

3. Perbedaan Agama

 Kanon 1086 menetapkan:
§ 1. “Perkawinan antara dua orang, yang di antaranya satu telah dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya dan tidak meninggalkannya secara resmi, sedangkan yang lain tidak dibaptis, adalah tidak sah.”
Perbedaan agama dan juga perbedaan Gereja merupakan halangan nikah, sebab dapat menjadi hambatan untuk penghayatan iman Katolik. Halangan ini dapat didispensasi, asal syarat-syaratnya dipenuhi (Kanon 1125 dan 1126).

4.  Tahbisan Suci dan Kaul Kekal

 Kanon 1087 menetapkan: “Adalah tidak sah pernikahan yang coba dilangsungkan oleh mereka yang telah menerima tahbisan suci. Kanon 1088 menetapkan: “Adalah tidak sah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh mereka yang terikat kaul kemurnian yang bersifat publik dan kekal dalam suatu lembaga religius”.  Untuk halangan ini hanya Takhta Suci yang berwewenang memberikan dispensasi yang dikenal juga dengan istilah laisasi.

5. Kejahatan (Crimen)

Kanon 1090 menetapkan:
§1. “Tidak sahlah pernikahan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang dengan maksud untuk menikahi orang tertentu melakukan pembunuhan terhadap suami/isteri orang itu, atau terhadap suami/isterinya sendiri.
§2. “Juga tidak sahlah pernikahan yang dicoba dilangsungkan oleh mereka yang dengan kerjasama fisik atau moril melakukan pembunuhan terhadap suami/isteri.

6. Hubungan Darah

 Kanon 1091 menetapkan:
§1. “Tidak sahlah pernikahan antar mereka yang berhubungan darah dalam garis keturunan ke atas dan ke bawah, baik yang sah maupun yang tidak sah.”
§2. Dalam garis menyamping, pernikahan tidak sah sampai dengan tingkat keempat” (saudara sepupu).
Atas halangan ini tidak bisa diberikan dispensasi jika pasti atau mungkin bersifat kodrati. Lebih sulit diberikan dispensasi jika jaraknya makin dekat (misalnya, garis samping tingkat 3). Halangan hubungan garis samping tingkat 4 (saudara sepupu) bisa didispensasi kalau ada alasan-alasan yang cukup untuk permohonan dispensasi tersebut.

7. Adopsi

Kanon 1094 menetapkan: “Tidak dapat menikah satu sama lain dengan sah mereka yang mempunyai pertalian hukum yang timbul dari adopsi dalam garis lurus atau garis menyamping tingkat kedua.”

Kami mengemukakan beberapa halangan perkawinan seperti diatur dalam hokum Kanon. Kami hanya mengutip hukun Kanon yang mengatur perihal halangan tersebut tanpa banyak penjelasan. Kami hanya ingin memberikan sedikit informasi tentang halangan perkawinan agar umat dapat mengetahuinya. P. Alex Dato’ L., SVD

Keluarga merupakan basis dari Gereja. Keluarga disebut Gereja basis atau Gereja domestik. Keluarga Katolik yang missioner akan memberikan kontribusi besar bagi terciptanya Paroki Misioner.

Yang dimaksudkan dengan keluarga missioner adalah keluarga Katolik yang hidup berkeluarganya dijiwai semangat Injil Kristus, yang membuatnya memikat dan menggerakkan hati orang untuk datang kepada Kristus. Kisah berikut ini kiranya memberi kita inspirasi untuk dapat lebih memahami makna sebuah keluarga missioner. 
Suatu sore saya didatangi sebuah keluarga terdiri dari suami-isteri dan tiga orang anak. Di akhir obrolan sang ayah mengatakan kepada saya, “Romo, kami ingin menjadi Katolik. Bagaimana caranya?” Spontan saya katakan, “Sebetulnya bapak sekeluarga selama ini beragama apa?” “Romo, kami sebetulnya tidak beragama Katolik. Tetangga kami adalah sebuah keluarga Katolik yang baik sekali. Hidup mereka sangat rukun dan damai. Mereka sepertinya tidak pernah ribut dalam keluarga dan juga dengan tetangganya. Keluarga itu sangat ringan tangan untuk menolong orang yang berkesusahan. Kami sangat tertarik dengan keluarga Katolik itu. Kami mulai bertanya-tanya di antara kami, ‘kenapa keluarga Katolik itu menjadi seperti itu? Apakah agama mereka yang menjadikan mereka seperti itu?’ Kami ingin keluarga kami menjadi seperti keluarga Katolik itu. Akhirnya, kami sampai pada kesimpulan bahwa rupanya agama mereka yang menjadikan mereka seperti itu. Karena itu kalau kami mau keluarga kami menjadi seperti keluarga Katolik itu, kami harus menjadi Katolik. Kami lalu memutuskan untuk mencari tahu bagaimana menjadi Katolik dan kami diberitahu untuk menemui Romo.”
Kisah tersebut di atas kiranya menjadi sebuah kesaksian tentang sebuah keluarga yang missioner. Cara hidup keluarga itu sungguh memikat dan perlahan menggerakkan keluarga tetangganya untuk mengenal siapa di balik keluarga itu yakni Yesus Kristus. Dari kisah ini dapat dikatakan bahwa kalau kita mau membangun sebuah keluarga misioner, mau tidak mau kita harus membangun keluarga kita dasar Kristus dan sabda-Nya. Yesus pernah bersabda: “Setiap orang yang menddengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.” Mat 7:24.

Keluarga Katolik yang missioner harus dibangun di atas dasar sabda Tuhan, mendengar dan melaksanakannya. Sabda Tuhan harus dibaca dalam setiap keluarga Katolik. Untuk maksud itu dalam setiap upacara pernikahan pasti ada penyerahan Kitab Suci, Salib, Patung Keluarga Kudus dan Rosario. Setiap keluarga baru harus membangun keluarganya di atas dasar Kristus dan sabda-Nya. Itu berarti setiap keluarga Katolik harus meluangkan waktu untuk berdoa bersama. Dalam doa bersama Yesus hadir di tengah sebuah keluarga sesuai dengan sabda-Nya. “Di mana dua atau tida orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Mat 18:20. Kalau setiap hari setiap keluarga Katolik selalu meluangkan waktu untuk berdoa bersama, membaca dan merenungkan sabda-Nya, hidup keluarga Katolik itu pasti akan selalu bersatu dan berpusat pada Kristus dan sabda-Nya. Keluarga Katolik seperti itu pantas disebut “Keluarga Kristen Katolik” atau “Keluarga yang beriman Kristen Katolik”. Bila Kristus senantiasa hadir dan menjiwai hidup keluarga Katolik seperti itu, hidup keluarga Katolik itu pasti akan memancarkan Kristus cahaya dunia kepada msayarakat sekitarnya seperti yang terjadi dengan keluarga Katolik yang diceriterakan di atas. Keluarga Katolik seperti itu sudah membangun keluarganya menjadi “Keluarga Katolik yang Misioner”.

Akhirnya, secara singkat dapat dikatakan bahwa membangun keluarga Katolik yang misioner dimulai dengan meluangkan waktu untuk berdoa bersama, membaca dan merenungkan sabda Tuhan bersama. Kami sangat menganjurkan agar setiap keluarga Katolik dalam Paroki Katedral St. Maria untuk meluangkan waktu kalau tidak bisa setiap hari, sekurang-kurangnya seminggu sekali atau dua kali untuk berdoa bersama, merenungkan dan membaca Kitab Suci bersma. Mudah-mudahan keluarga kita bertumbuh dan berkembang menjadi sebuah Keluarga Katolik yang missioner. Rm. Alex Dato’ L., SVD

Pendahuluan

Lewat Rubrik ini pernah dimuat tulisan tentang “Perkawinan Ekumenis”. Setelah membaca tulisan tersebut ada umat yang meminta untuk ditulis tentang “Halangan Perkawinan” sebagaimana diumumkan dalam pengumuman perkawinan. Menanggapi permintaan itu lewat Rubrik ini kami ingin mengupas hal-hal yang berkaitan dengan perkawinan. Hal yang paling pertama adalah “Penyelidikan Kanonik”.

Pengertian

Penyelidikan Kanonik adalah sebuah proses penelitian yang dilakukan oleh seorang pastor Paroki menyangkut pribadi calon pasangan yang akan menikah sesuai dengan ketentuan hukum kanon Gereja Katolik tentang perkawinan. Penelitian itu hanya mencakup hal ikhwal yang berkaitan dengan perkawinan seperti agama / Gereja, pengertian tentang hakekat dan hukum perkawinan Katolik, status bebas (status liber) dll.

Hukum Gereja

Hukum Gereja Katolik sudah mengatur hal ikhwal menyangkut penyelidikan kanonik seperti dicantumkan di bawah ini. Hal ini perlu diperhatikan oleh mereka yang akan menikah supaya tidak bingung. Karena pernah terjadi ada calon pasangan yang berdomisili di Jawa, minta penyelidikan kanonik di Palangka Raya. Bahkan ada pastor yang meminta izin kepada Pastor Paroki Palangka Raya untuk mengadakan penyelidikan kanonik untuk calon pasangan yang berdomisili di parokinya, hanya karena pasangan itu mau menikah di gereja Katedral Palangka Raya. Nah, untuk mencegah kerancuan seperti itu baiklah kita perhatikan ketentuan menurut hukum kanon Gereja (kanon 1066-1067; 1070) seperti tercantum di bawah ini.

  1. Sebelum mengizinkan para calon mempelai melangsungkan pekawinan, pastor hendaknya melakukan penyelidikan kanonik dengan mempergunakan formulir Penyelidikan Kanonik.
  2. Penyelidikan kanonik hendaknya dilakukan oleh pastor secara pribadi demi pastoral persiapan perkawinan yang lebih individual dan intensif, maka jangan diserahkan kepada awam.
  3. Penyelidikan mengenai status bebas para calon mempelai dilakukan oleh pastor dari pihak wanita sebagai prioritas, jika calon mempelai keduanya katolik; atau oleh pastor pihak katolik, jika pihka yang lain bukan katolik.
  4. Kewajiban untuk melakukan penyelidikan kanonik itu tetap pada pastor dari tempat kediaman mempelai, meskipun perkawinan dilangsungkan di tempat lain. Untuk menghindarkan kesulitan yang sering timbul, hendaknya para pastor menaruh perhatian atas pedoman ini.
  5. Jika salah seorang dari calon mempelai sulit untuk dapat menghadap pastor tersebut, penyelidikan kanonik diserahkan kepada pastor dari tempat ia sedang berada. Pastor tersebut hendaknya selekas mungkin mengirimkan formulir penyelidikan kanonik yang telah diisi itu.


Tidak semua ketentuan hukum kanon tentang penyelidikan kanonik kami cantumkan, hanya yang perlu diketahui umat.

Tujuan Penyelidikan Kanonik

Penyelidikan kanonik, yang dilakukan sebelum perkawinan, dimaksudkan untuk:

  1. Sebagai persiapan terakhir untuk perkawinan. Persiapan itu sudah dimulai dengan Kursus Persiapan Perkawinan dan disempurnakan dalam penyelidikan kanonik. Penyelidikan kanonik tidak cukup dengan mengisi formulir, tetapi harus diawali dengan bimbingan pastor untuk lebih memahami hakekat perkawinan katolik sehingga dapat menghayati dengan baik dan dapat mencapai apa yang dicita-citakan yakni kebahagiaan dalam keluarga.
  2. Memastikan bahwa calon mempelai tahu dan dengan sadar serta penuh tanggungjawab menerima ketentuan-ketentuan hukum Gereja Katolik menyangkut perkawinan (perkawinan tak terpisahkan, seumur hidup, hanya satu pasangan dll). Perkawinan adalah sebuah keputusan dan kesepakatan pribadi yang bersifat bebas dan bertanggungjawab.
  3. Memastikan bahwa calon mempelai bebas dari halangan untuk perkawinan. Bilamana ada halangan, diusahakan untuk mendapatkan dispensasi dari Uskup seperti halangan beda agama, beda Gereja. Hal ini akan dibicarakan pada kesempatan lain.

Penutup

Calon pasangan yang mau menikah sangat diharapkan untuk memperhatikan hal-hal tersebut di atas. Penyelidikan kanonik idealnya dilakukan paling lambat dua bulan sebelum perkawinan. Dengan demikian tersedia waktu yang memadai untuk persiapan perkawinan lebih lanjut. Jauh sebelum itu sebaiknya mengambil formulir di sekretariat  paroki agar dapat mengetahui persyaratan yang dituntut untuk melangsungkan perkawinan. Semoga calon pasangan lebih siap untuk memasuki hidup baru. Rm. Alex Dato, SVD

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget