MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Januari 2017"

(Pembukaan Pekan Doa Sedunia: Doa Untuk Persatuan Umat Kristen)


Ibr 7:1-3.15-17, Mrk 3:1-6

Hari sabat kembali menjadi kontroversi antara Yesus dan orang Farisi. Sabat adalah hari ketujuh dalam satu pekan. Pada hari itulah Allah beristirahat ketika menciptakan dunia. Sabat berarti “istirahat”. Beristirahat untuk pemulihan bagi raga yang enam hari penuh bekerja, namun juga pemulihan bagi jiwa dengan menempatkan waktu yang lebih dalam peribadatan dan doa-doa kepada Allah dari pada hari-hari biasanya.

Walaupun Yesus secara nyata berbuat kasih kebaikan kepada sesama dengan menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya, terkena stroke, tetapi dianggap salah dan melanggar hukum Taurat menurut orang Farisi. Begitu kesalnya orang Farisi karena Yesus berulang kali dianggap melanggar hukum Taurat secara terbuka dan pada akhirnya mereka bersekongkol untuk membunuh Yesus.
Apakah untuk berbuat kasih atau kebaikan ada aturannya? Bagaimana dengan ketulusan kasih jika dalam tindakan nyata kasih itu ada maksud serta tujuan tertentu? Bukankah kasih itu universal dan tidak mengenal sekat-sekat perbedaan satu dengan yang lainnya?

Ada pepatah Jawa mengatakan “Sing bener durung mesti pener” yang artinya sesuatu yang dianggap benar belum tentu cocok-pas bagi kebanyakan orang. Hal ini dimaksudkan bahwa dalam setiap tindakan yang kita lakukan selain diarahkan pada kebenaran juga pada hal yang cocok, pas, cukup, dan sesuai. Lebih ke arah pener. Hal yang baik dan pas menurut kita pun belum tentu itu baik dan benar menurut orang lain. Melakukan kasih dan kebaikan pun diarahkan pada yang pener-nya. Memberikan sedekah pada yang miskin benar adanya, tetapi ketika diberikan di perempatan jalan kepada orang yang meminta-minta maka menjadi tidak pener.

Bukan berarti tindakan Yesus menyembuhkan orang yang stroke ringan tersebut tidak bener dan pener. Justru Yesus mau mem-pener-kan pemahaman keliru dari orang Farisi. Yesus Sang Imam Agung menurut tata imamat Melkisedek senantiasa menghendaki agar hidup kita selalu bener dan pener seturut kehendak-Nya. Ragam peristiwa yang kita alami bisa menjadi cara Yesus yang mau mem-pener¬-kan kehidupan kita. Menyegarkan jiwa kita yang layu dan terutama menyembuhkan segala kelemahan dalam jiwa kita. Tuhan memberkati. Rm. Penta Lima

12 Januari  2017, Aelredus, Bernardus dr Carleone, Antonius Maria Pucci

Bacaan I: Ibr. 3:7-14; 
Mazmur Tanggapan: Mzm. 95:6-7,8-9,10-11; 
Injil: Mrk. 1:40-45.
Bacaan Offisi 2:17-29


Media Kairos

Injil hari ini memberikan penegasan bahwa Tuhan Yesus sungguh berkuasa. Sungguh berkuasa untuk menyembuhkan. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan-Nya. Penegasan akan kuasa Yesus yang luar biasa itu dapat dilihat dari perkataan penderita kusta pada perikop Mrk 1:40 yang berbunyi: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Penderita kusta tidak meragukan sedikitpun kuasa Yesus sehingga dia mengatakan "Kalau Engkau mau ... ".

Karena keyakinan dan iman penderita kusta, akhirnya Yesus pun mentahirkan dia sehingga sembuh dari penyakit kustanya. Imannya kepada Yesus telah menyembuhkan dia dan kemudian ia sangat bersukacita penuh syukur, kemudian mewartakan kepada orang lain apa yang telah dialami, walaupun Yesus melarang dia untuk memberitahukannya.

Refleksi

Keraguan sering menjadi penghambat tercapainya segala sesuatu yang telah direncanakan. Meskipun pernah kita dengar bahwa "keraguan adalah awal dari kebenaran", dalam hal iman dan kebenaran tidak perlu ada keraguan. Keraguan hanya akan memperpanjang penderitaan dan kekhawatiran. Keraguan tidak akan menjadi solusi dalam menghadapi segala sesuatu.

Masalah di dunia ini terjadi ketika orang bodoh terlalu yakin dan orang pintar penuh dengan keraguan. (Bertrand Russel)


11 Januari 2017: Hari Biasa

Bacaan I: Ibr. 2:14-18; 
Mazmur Tanggapan: Mzm. 105:1-2, 3-4, 6-7, 8-9;
Injil: Mrk. 1:29-39.
Bacaan Offisi Rm 2:1-16

Yesus adalah Tabib Terbaik

Perikop Injil hari ini merupakan sebuah gambaran kepada kita bahwa Yesus adalah tabib baik bagi jiwa maupun bagi raga manusia di zamannya. Seyogianya, tugas Yesus itu tetap dihidupkan di segala zaman, mengingat keselamatan yang diwartakan Gereja adalah keselamatan integral, jiwa dan raga.

Zaman sekarang, penyakit yang paling ditakuti adalah penyakit rohani. Penyakit jasmani sudah dapat ditolong dengan perkembangan pesat dalam bidang medis. Penyakit rohani tidak memiliki tabib khusus di dunia ini. Bagi orang Kristen, tabib untuk penyakit rohani adalah Yesus Kristus.

Yesus disebut tabib penyakit rohani yang terbaik karena Dia menyembuhkan dengan teladan hidup, dengan doa dan dengan karya. Tentu saja, Yesus juga memiliki resep khusus dalam setiap pengobatan yang dilakukan. Resep yang utama adalah Cinta Kasih.

Refleksi

Umat Katolik harus menjadi pejuang terdepan untuk menggerakan orang untuk menjadikan manusia itu sehat baik jiwa maupun raganya. Tugas umat Katolik sebagai rasul awam dan juga sebagai manusia adalah terutama memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan jasmani. Pendampingan kepada karya pertanian, pendampingan keuangan, pendampingan terhadap karya sosial dan lain sebagainya merupakan lahan menghadirkan teladan kuasa penyembuhan. Maka, kita pun harus hadir dengan teladan, doa dan aksi.

Urusan surgawi bukanlah hal yang terpisah dari urusan duniawi. Tugas sebagai murid adalah menghadirkan hal-hal surgawi ke dalam dunia dalam aspek-aspek kehidupan.

10 Januari 2017: Gregerius Bussa Guilielmus Bituricensis

Bacaan I: Ibr. 2:5-12;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 8:2a,5, 6-7, 8-9;
Injil: Mrk. 1:21b-28.
Bacaan Offisi: Rm 1:18-32



"Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya."

Kutipan di atas merupakan ungkapan yang dijiwai dengan rasa heran luar biasa. Pengakuan tersebut datang setelah membuka mata untuk melihat, membuka telinga untuk mendengar dan membuka hati untuk disirami dengan Sabda Allah. Pernyataan yang dijiwai oleh iman ini terjadi dalam peristiwa di mana Yesus mengusir roh jahat dalam diri orang yang kerasukan.

Mengapa orang yang kerasukan roh jahat datang dan mendengarkan Yesus? Keadaan kerasukan sesungguhnya tidak disadari oleh mereka sebelumnya. Keadaan kerasukan barulah diketahui dan disadari setelah pertemuan dengan Yesus. Maka, Injil hari ini mengajak kita untuk selalu bertemu Yesus. Dengan demikian, segala yang tersembunyi di bawah alam sadar kita sekalipun, disingkapkan dan diperlihatkan dengan jelas oleh Yesus dengan siraman Sabda Allah.

Refleksi

Apa pun keadaan yang kita alami jarang kita sadari sebagai baik atau buruk. Sebagai manusia, kita selalu menganggap bahwa kita sedang baik-baik saja. Tidak ada cacat cela yang sedang terjadi pada kita. Cacat cela yang dimiliki oleh orang lain justru menjadi lebih jelas untuk kita lihat.

Cacat cela yang kita miliki hanya mampu kita sadari dalam pertemuan dengan Yesus. Oleh karena itu, pertemuan dengan Yesus sangat penting karena segala sesuatu yang jahat dalam diri kita akan diusir oleh-Nya.

Lebih baik menemui kesulitan karena berbagai cobaan dan ribuan kepalsuan, daripada harus menolak mati-matian setitik kebenaran. (Horace Greeley)

9 Januari 2017

Bacaan I: Yes. 42:1-4,6-7;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 29:1a-2,3ac-4.3b,9b-10;
Bacaan II: Kis. 10:34-38;
Injil: Mat. 3:13-17.
Bacaan Offisi: Yes 42:1-8; 48:1-9


Injil hari ini membawa kita pada pertanyaan dan sekaligus menjadi pendalaman iman kita akan Kristus yang baru saja kita rayakan kelahirannya. Pertanyaan sederhana yang mungkin sulit kita jawab adalah pertanyaan-teologis yang umumnya berkisar pada pertanyaan, "Mengapa Yesus perlu dibaptis oleh Yohanes? Jika dia tidak perlu dibaptis oleh Yohanes, mengapa dia tunduk kepada baptisan Yohanes?

Baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan. Hal ini berulang kali dijelaskan di dalam Perjanjian Baru. Ketika seseorang bertobat atas dosa- dosanya, setelah mendengar pemberitaan Yohanes tentang Kerajaan Allah, maka orang itu akan dibaptis sebagai tanda pembersihannya. Tanda bahwa dia telah diampuni oleh Allah dan telah dibersihkan dari dosa- dosanya.

Pertanyaan yang timbul adalah, "Yesus tidak berdosa, mengapa dia memberi diri untuk dibaptis?" Mengapa dia perlu dibaptis? Jika dia tidak butuh dibaptis karena tidak ada dosa untuk dipertobatkan, lalu mengapa dia menerima baptisan ini? Inilah persoalan yang  akan membawa kita ke dalam suatu diskusi teologi yang sangat dalam.

Dalam Injil hari ini dijawab secara tegas dan jelas oleh Yesus. "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Yang sedang ditunjukkan di sini adalah bahwa Kehendak Allah harus menjadi pertama dan terutama terlaksana.

Refleksi

Kehendak Allah harus terlaksana. Lagi-lagi, peristiwa pembaptisan Yesus mengajarkan kita kerendahan hati. Dialog antara Yohanes dan Yesus menunjukkan kerendahan hati itu. Dengan rendah hati, Yesus, yang berasal dari surga, tidak berdosa, tunduk dan memberi diri dibaptis oleh seorang manusia yang tidak luput dari dosa. Di sisi lain, Yohanes yang menyadari kerendahannya, ditinggikan oleh Allah, dan harus membaptis Tuhan.

Dunia mempunyai batas-batasnya, tetapi kebodohan manusia tidak ada batasnya. (Gustave Flaubert)

8 Januari 2017:  Hari Anak Misioner Sedunia

Bacaan I: Yes. 60:1-6; 
Mazmur Tanggapan: Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13; 
Bacaan II: Ef. 3:2-3a,5-6; 
Injil: Mat. 2:1-12.
Baccaan Offisi: Yes 60:1-22




Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani dirayakan oleh Gereja Katolik ritus Latin pada 6 Januari, namun Gereja memperbolehkan Konferensi Uskup setempat untuk menggeser hari raya ini ke hari Minggu terdekat. Sebagai mana kata-kata serapan lain dalam kosakata gerejawi (ekaristi, liturgi, epiklese, dsb), kata Epifani berasal dari bahasa Yunani, dan berarti “manifestasi” atau “pewahyuan”. Hari Raya Penampakan Tuhan mulai dirayakan pada abad III di Gereja Timur. (Fr. Michael A. Aritonang,  OFM Cap - Kapusin Sibolga).

Melalui Injil hari ini, kita bisa belajar dari tokoh yang disebutkan dalam Kitab Suci. Herodes, Orang Majus dari Timur. Herodes seorang penguasa di daerah di mana Yesus lahir tidak mengetahui apa-apa tentang Yesus. Orang-orang Majus yang tinggal di tempat jauh justru mendengarkan dan melihat bintang kelahiran Yesus. Bagi mereka ditampakan semuanya karena mereka membuka hati untuk menerima terang Yesus. Bagi Herodes, segalanya disembunyikan karena lebih mementingkan kekuasaannya dan tidak membuka hati untuk terang yang datang.

Refleksi

Menjadi seperti Herodes dan seperti Orang Majus merupakan pilihan bagi setiap manusia. Pilihan yang melibatkan hati nurani. Umat Kristen diharapkan memilih seperti Orang Majus karena dengan kehadiran Kristus, kehadiran mereka sebagai umat beriman menjadi berarti. Namun, dalam hari-hari hidup sebagai manusia, tidak jarang kita berlaku seperti Herodes. Semoga tidak menjadi seorang pembunuh terang yang sudah ada.

Bila anda tidak sanggup memberi terang bagi yang lain, paling tidak janganlah menciptakan kegelapan.


7 Januari 2017: Raimundus dari Penyafori, Lindalva

Bacaan I: 1Yoh. 5:14-21;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 149:1-2,3-4,5,6a,9b;
Injil: Yoh. 2:1-11.
Bacaan Offisi: Yes 61:1-11


Injil hari ini mengajarkan kita beberapa hal dalam hidup. Perkawinan di Kana memberikan kita beberapa hal yang patut kita renungkan bersama. Pada peristiwa ini, terjadi mukzijat dimana air berubah menjadi anggur. Perubahan air menjadi anggur terjadi karena setiap orang yang terlibat di sana mengikuti apa perintah Yesus. Maria sebagai pengantara kepada Yesus, membantu para pelayan dan tuan yang punya pesta. Para pelayan melaksanakan apa yang diperintahkan Yesus tanpa banyak bertanya.

Mukzijat selalu terjadi dalam hidup kita selama kita bersedia melaksanakan perintah Yesus dan meyakini bahwa yang kita laksanakan diberkati. Kita akan mengalami pembebasan bila kita percaya pada Yesus. Pembebasan dari rasa malu seperti yang dialami oleh pemilik pesta yang hampir kehabisan anggur. Kehadiran Yesus di sana menjadi berkat untuk pemilik pesta, para pelayan dan semua orang yang mengikuti perjamuan.

Refleksi

Banyak peristiwa serupa terjadi dalam hidup ini, meski dalam bentuk yang berbeda. Setiap kita bisa berada dalam posisi mana saja, apakah sebagai pelayan yang mentaati perintah Yesus untuk menuang air ke tempayan yang ada di situ, ataukah sebagai mempelai yang menerima mujizat tanpa pernah disangka-sangka.

6 Januari 2017:  Didakus Yosef dr Sadiz

Bacaan I: 1Yoh. 5:5-13;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 147:12-13,14-15.,19-20; 
Injil: Mrk. 1:7-11 atau Luk. 3:23-38.
Bacaan Offisi: Yes 42:1-9



Injil hari ini mengajarkan kita bagaimana harus rendah hati. Dalam kerendahan hati, Yohanes menyatakan siapakah sesungguhnya Yesus itu; “”membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak”. Meskipun Yohanes sudah terkenal sebelum Yesus, namun karena kuasa Yesus sungguh agung, Yohanes harus menyatakan siapa Yesus.

Sebaliknya, Yesus yang sungguh-sungguh anak Allah, sesungguhnya lebih besar daripada Yohanes, dengan rendah hati pula, Ia memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Kedua tokoh dalam perikop ini, Yesus dan Yohanes sama-sama memberi kita pelajaran bagaimana harus rendah hati.


Dalam Injil Lukas, sangat jelas dituturkan bagaimana Yesus harus lahir sebagai sungguh-sungguh manusia. Sebagai manusia, Dia mempunyai silsilah yang harus dituturkan. Meskipun Dia sungguh Allah, namun berkenan hadir di tengah-tengah kita sebagai manusia yang mengalami apa yang dialami oleh manusia lainnya. Yesus sama dengan manusia, kecuali dalam hal dosa. Ini menunjukkan sikap kerendahan hati Yesus. Dia tidak mempertahankan statusnya sebagai Allah. Tetapi Dia harus turun ke dunia, dan lahir di tengah keluarga manusia.

Refleksi

Godaan bagi manusia adalah mempertahankan status quo. Dalam banyak hal, manusia sering tidak bisa bekerjasama dengan orang lain hanya karena tidak ada pengakuan status, gelar, ketokohan dan lain sebagainya. Hari ini, kita diingatkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan rendah hati akan menghasilkan buah yang berlimpah. Justru dengan kerendahan hati, kita akan lebih dihargai dan diakui oleh sesam kita.

Kerendahan hatimu tidak akan membuatmu terhina, justru kerendahan hatimu akan membuatmu lebih terhormat dihadapan orang lain.

5 Januari 2017: Karolus Houben, Yohanes Neumann

Bacaan I: 1Yoh. 3:11-21;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 100:2,3,4,5;
Injil: Yoh. 1:43-51. 
Bacaan Offisi: Kol 4:2-18

Injil Yohanes hari ini masih melanjutkan kisah pertemuan dengan Yesus. Dalam Injil kita lihat bahwa pertemuan para tokoh yang disebutkan dalam perikop ini merupakan pertemuan yang membawa perubahan. Salah satu yang ingin ditegaskan kepada kita adalah bahwa perlunya seorang teman yang menemani dalam pertemuan dengan Yesus. Filipus adalah model seorang teman yang dibutuhkan untuk bertemu dengan Yesus.

Tidak semua teman mampu menjelaskan kepada kita tentang siapa Yesus. Juga, tidak semua teman mampu mengajak kita untuk bertemu dengan Yesus. Filipus berperan sebagai teman yang memampukan Natanael untuk memutuskan sesuatu yang fundamental bagi hidupnya. 
Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!"
Refleksi 

Sabda Tuhan selalu menawarkan kepada kita berbagai pertemuan yang mengubah hidup. Tetapi seperti Natanael, kebanyakan kita tak langsung menanggapinya. Banyak yang mengikuti tahap seperti halnya Natanael, yakni, butuh orang lain yang menemani dalam perjalanan.

Mampukah kita menjadi seorang Filipus bagi yang lain, yang berperan untuk menjelaskan tentang Yesus sekaligus menghantar orang lain pada pertemuan dengan Yesus.

4 Januari 2017: Elisabeth Ana Bayley Seton, Angela dari Foligno

Bacaan I: 1Yoh. 3:7-10; 
Mazmur Tanggapan: Mzm. 98:1,7-8,9;
Injil: Yoh. 1:35-42
Bacaan Offisi: Kol 3:17-4:1


Pengakuan terhadap sebuah kebenaran adalah sangat penting. Sebuah pengakuan mengandaikan ada hati yang terbuka untuk menerima, ada telinga yang mau mendengarkan dan ada mata untuk melihat. Pengakuan terhadap kebenaran selalu terhambat oleh sikap tidak peduli. Oleh karena itu, kebenaran selalu tersembunyi bila mata, telinga dan hati manusia tidak digunakan untuk memahami dan mengerti tentang kebenaran.

Injil hari ini menyampaikan kepada kita tentang pengakuan atas kebenaran, yakni tentang Mesias. Pengakuan Andreas diawali dengan mendengarkan kabar dari Yohanes Pembapti, kemudian mencari Yesus. Setelah bertemu dengan Yesus, ia mengikuti dan mendengarkan semua apa yang disampaikan oleh Yesus. Setelah mendengarkan, dalam hatinya, ia semakin percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Kemudian ia mewartakannya kepada orang lain, yakni kepada Simon, dan mengajaknya untuk datang kepada Yesus pula.

Refleksi

Segala sesuatu bermula dari kesediaan. Kesediaan untuk mendengar dan menerima kabar. Percaya dan bersedia mencari tahu tentang kebenaran. Setelah yakin atas kebenaran, lahir keberanian untuk mengakui dan mewartakan kebenaran itu. Ini menjadi bagian penting yang menjadi permenungan kita hari ini.

Manusia, kadang terlalu cepat memberi kesaksian tanpa mengalami sesuatu. Kadang terlalu cepat mempengaruhi orang lain tanpa meyakini lebih dulu. Dan yang paling sering terjadi adalah manusia tidak mau tahu, tapi ingin menjadi sumber informasi.

Informasi yang tidak melalui verifikasi, check and recheck, umumnya lebih tepat dikatakan sebagai kabar burung.

3 Januari 2017: Fulgensius, Kuriakos Elias Chavara

Bacaan I: 1Yoh. 2:29 - 3:6;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 98:1,3cd-4,5-6;
Injil: Yoh. 1:29-34.
Bacaan Offisi: Kol 3:5-16


Hari ini, kita diberitahukan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Ayat ini merupakan pernyataan dari Yohanes Pembaptis. Pada hari ini, kepada kita dipertegas oleh Yohanes Pembaptis bahwa Yesus lahir ke dunia untuk menebus dosa manusia. Dan itu akan terjadi melalui peristiwa penyaliban. Yesus akan dikorbankan sebagai Anak Domba yang dikurbankan untuk menghapus dosa kita.

Meskipun kita baru saja merayakan hari kelahiran Yesus, bacaan Injil pada hari ini menegaskan kepada kita bahwa segala yang akan terjadi telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus akan menjalankan tugas-Nya untuk menjadi penebus kita seperti telah ditetapkan oleh Bapa.

Refleksi

Kita diajak belajar dari Yohanes Pembabtis, bahwa Allah sudah membenarkan kita dan kita sudah mengerti kebenaran itu. Marilah, dengan penuh kerendahan hati, kita mau menjadi "suara" yang berseru-seru supaya banyak orang mau menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, mau bertobat dan memberi diri di babtis. Kita pun mau menjadi berkat untuk orang lain supaya orang lain pun diberkati. Mereka dapat melihat juga karya Anak Domba Allah yang terpaku di kayu salib untuk menebus dosa kita semua.

Saya ingin memberi Tuhan sesuatu yang sangat indah dan melakukannya tanpa ragu. Kaul atau Sumpah ini, sebuah bukti bahwa cinta itu buta. (Mother Teresa)

2 Januari 2017,  Peringatan Wajib St. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze

Bacaan I: 1Yoh. 2:22-28;
Mazmur Tanggapan: Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4;
Injil: Yoh. 1:19-28.
Bacaan Offisi: Kol 2:16-2:3.



Hari ini kita diajak untuk menjadi rendah hati dalam menjalankan tugas dan panggilan kita. Kita merupakan utusan untuk mewartakan Kerajaan Allah. Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas kita, kita harus membiarkan Sang Pengutus kita lebih besar dan kita menjadi lebih kecil. Hal ini sangat jelas disampaikan kepada kita melalui kesaksian Yohanes Pembaptis.
"Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."
Yohanes Pembaptis sudah lebih dulu terkenal sebelum Yesus. Namun, Yohenes tetap rendah hati dan mengakui bahwa dia hanya mempersiapkan jalan bagi-Nya. Yohanes tidak mewartakan dirinya tetapi mewartakan Dia yang telah mengutusnya.

Refleksi

Godaan besar bagi manusia adalah ingin diakui, ingin dikenal, ingin disebut sebagai tokoh. Godaan ini sering membuat manusia lupa akan tugas perutusannya. Terkadang lupa untuk mewartakan Dia yang telah mengutus karena lebih banyak mewartakan diri sendiri.

Teladan Yohanes Pembaptis menjadi contoh yang sangat layak menjadi permenungan kita. Biarlah kita semakin kecil asalkan Dia semakin besar.

Tujuan khusus kita adalah membawa Kristus ke rumah-rumah, ke jalan-jalan di kawasan kumuh di antara kaum miskin yang sakit, sekarat, para pengemis, dan anak-anak jalanan yang masih kecil. Mereka yang sakit akan dirawat sedapat mungkin di rumah miskin mereka. Anak-anak kecil akan bersekolah di kawasan kumuh. Pengemis akan dicari dan dikunjungi sampai ke lubang-lubang mereka di luar koa atau di jalanan. (MISI Mother Teresa). 

1 JANUARI 2017: HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH 
Hari Perdamaian Sedunia

Bacaan I: Bil. 6:22-27; 
Mazmur Tanggapan: Mzm. 67:2-3,5,6,8; 
Bacaan II: Gal. 4:4-7; 
Injil: Luk. 2:16-21
Bacaan Offisi: Ibr2:9-17



Setiap awal tahun kita merayakan Santa Maria Bunda Allah. Hal ini merupakan satu bentuk penghormatan kepada peranan Bunda Maria yang telah bersedia menjadi ibu dari Putra Allah, penebus kita. Kesediaan Bunda Maria memungkinkan terlaksananya rencana keselamatan Allah.

Penyerahan diri secara total pada penyelenggaraan ilahi telah dilaksanakan oleh Bunda Maria. Banyak perkara yang menjadi pertanyaan besar baginya. Namun, dalam peristiwa yang penuh misteri itu, Bunda Maria tidak terlalu banyak bertanya, berkomentar atau membantah. Bunda Maria percaya bahwa semuanya terjadi atas kehendak Allah. Segala perkara yang terjadi disimpan dalam hatinya dan menjadi renungan dalam perjalanan hidupnya.
Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya (Luk. 2:19)
 Refleksi

Bunda Maria setia atau konsisten dalam menanggapi panggilan Allah. Kepasrahan hati Bunda Maria dalam menanggapi panggilan Tuhan menjadi teladan bagi kita. Kepekaannya memahami dan melaksanakan panggilannya sebagai ibu Tuhan mengajak kita untuk senantiasa peka mendengarkan dan memahami kehendak Allah dalam hidup kita. Kita senantiasa diajak untuk setia pada panggilan kita masing-masing.

Konsistensi kita dalam menjalani panggilan kita seturut kehendak Allah akan membawa damai dalam kehidupan kita sendiri dan kehidupan banyak orang.

Inkonesistensi menghasilkan banyak penyimpangan. Penyimpangan adalah musuh besar perdamaian.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget