MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Katekese"

"Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: 'Murka-KU menyala terhadap engkau dan terhadap ke dua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang AKU seperti hamba-KU Ayub.' "

Ketika seseorang teman jatuh dalam kesalahan dan dosa, seringkali kita 'berusaha' menjadi pendamping untuk dirinya. Namun Pendampingan yang diberikan seringkali salah dan hasilnya gagal. Itu terlihat ketika Elifas dan kedua temannya berusaha memberikan 'pastoral' kepada Ayub, namun bukannya membuat dan menimbulkan damai sejahtera, tapi yang terjadi murka Allah menyala-nyala terhadap mereka.

Di mana Kesalahannya?
Karena mereka TIDAK BERKATA BENAR tentang Allah. Mereka tahu tentang Allah, tapi mereka Tidak berkata benar tentang Allah. Mereka lebih cenderung menghakimi.
Bagaimana dengan kita selaku orang percaya. Apakah kita seorang pelayan Tuhan (apapun kedudukan kita). Sudahkan kita berkata benar tentang Allah? Atau justru ada yang dikecewakan oleh karena PSTORAL kita YANG GAGAL? Berkatalah yang benar tentang Allahmu, timbulkanlah dalam hati setiap orang, Damai Sejahtera Allah. **Yakobus Dapa Toda, S.S.

Sejarah Hukum Gereja


Hukum Gereja atau Hukum Kanon dalam bentuk formal pertama kali disusun oleh Dionisius Exiguus sekitar tahun 500. Dionisius mengumpulkan semua peraturan dan keputusan atau canones (= peraturan, ukuran; Yunani.) yang dikeluarkan oleh sinode, Konsili Ekumenis dalam  Corpus Canonum. Pada abab 12, Gratianus, seorang biarawan Italia, mengumpulkan dan menyelaraskan ketentuan-ketentuan yang ada. Kumpulan itu kemudian hari disebut Decretum Gratiani, yang bersama empat kumpulan lain (Liber Extra dari Gregorius IX, Liber Sextus dari Bonifasius VIII, Clementinae dari Klemens V dan Extravagantes dari Yohanes XXII) membentuk Corpus Iuris Canonici, yang diakui pada tahun 1582. Baru pada tahun 1917 semua peraturan yang dikeluarkan kemudian,  bersama dengan Corpus Iuris Canonici tersebut disusun pertama kali secara sistematis sebagai Codex Iuris Canonici yang lebih dikenal dengan sebutan Kitab Hukum 1917 dan kemudian direvisi menjadi Kitab Hukum Kanonik yang dipromulgasikan pada tahun 1983.

Yoanes XXIII mengatakan bahwa Kitab Hukum dari tahun 1917 itu perlu disesuaikan dengan kebutuhan zaman kita ini. Ajaran Konsili Vatikan II sangat mempengaruhi rumusan hukum Gereja yang baru, terutama dengan – eklesiologinya, yaitu ajarannya bahwa Gereja adalah – communio orang beriman yang dipanggil Tuhan. Selain itu ditentukan bahwa hukum baru harus (1) memperhatikan  keperluan – umat Allah, (2) menjaga hubungan dengan – tradisi, (3) mengungkapkan kedudukan dasar yang sama semua orang beriman dan status kaum awam, (4) menguatkan jabatan uskup, (5) menerapkan prinsip – subsidiaritas, (6) merumuskan batas-batas wewenang seorang pimpinan Gereja dengan jelas, (7) memperluas perlindungan hukum dan (8) merumuskan kembali serta memperpendek pasa-pasal tentang hukuman. Petunjuk-petunjuk ini kurang lebih diperhatikan walaupun belum dirumuskan secara sempurna dalam bahasa yuridis. Pada tahun 1983 Codex Iuris Canonici (CIC) yang baru atau – Kitab Hukum Kanonik (KHK) diterbitkan dan diberlakukan untuk umat Katolik – Ritus Latin.

Teologi Hukum

Ada orang yang mengatakan bahwa ‘Hukum Gereja bertentangan secara fundamental dengan hakikat Gereja’ (R. Sohm). Bagi banyak umat Protestan, Gereja yang sebenarnya bersifat rohani semata-mata dan karena itu tidak (perlu) mempunyai hukum, paling-paling ‘hukum cintakasih’. Peraturan-peraturan gerejani hanya mengatur bidang lahiriah, yang tidak penting untuk keselamatan. Bagi teologi Katolik pun tidak mudah menunjuk dengan jelas dasar teologis (!) bagi hukum Gereja. Sebab, Gereja bukan hanya masyarakat manusiawi yang ditingkatkan oleh rahmat ilahi, sehingga hukumnya dapat begitu saja didasarkan pada – kodrat sosial orang beriman (seperti hukum duniawi). Norma normatif tertinggi Gereja bukan hukum, melainkan – Roh Kudus sendiri. Maka, ada yang menolak sifat teologis hukum Gereja; ada yang mendasarkan hukum itu pada – inkarnasi Sabda Allah atau pada ‘sabda dan Sakramen’ sebagai unsur konstitutif Gereja; dan ada yang mendasarkannya pada ajaran Konsili tentang Gereja; dan ada yang yang mendasarkannya pada ajaran Konsili tentang Gereja, sebagai communio. Segi ini ditekankan kembali oleh Sinode Uskup Sedunia dua puluh tahun sesudah Konsili (1985).

Communio mengungkapkan persekutuan/persatuan adikodrati antar-orang beriman dengan Tuhan dan dengan sesama mereka yang berhubungan dengan Tuhan. Communio itu adalah datum (=pemberian; Lat) yang diterima dan sekaligus – mandatum (=tugas; Latin) yang perlu dilaksanakan. Communio mengungkapkan pengambil-bagianan dalam Tubuh Kristus yang adalah Gereja (G 7). Kedua segi communio tersebut erat berkaitan satu sama lain dan tampak dalam Perjamuan – Ekaristi yang adalah pusat kehidupan Gereja, titik tolak dan tujuan segala kegiatannya. Communio sebagai persekutuan yang kelihatan adalah persatuan yang dikerjakan Roh Kudus, yaitu umat orang beriman yang kelihatan dan tersusun. Inilah sarana bagi Roh Kudus Yang tak kelihatan, mirip Tubuh Kristus Yang dilahirkan Bunda Maria menjadi sarana tak terpisahkan bagi Sabda Allah dan perutusanNya (G 8). Ciri sakramental communio itu dipandang sebagai dasar hukum Gereja. Sebab communio itu mengungkapkan baik segi rohani-ilahi maupun segi lahiriah-manusiawi Gereja, yang adalah suatu – misteri dan sekaligus suatu organisasi. Gagasan communio sebagai persaudaraan orang beriman tidak boleh menggeser tugas hukum sebagai sarana penyelesaian konflik-konflik yang wajar dan kadang-kadang bahkan perlu. Maka, konflik dan orang yang terpaksa menimbulkannya tidak boleh begitu saja dicap perusak communio.

Bagaimanapun, hukum Gereja memperoleh isinya dari iman Kristiani, yang normanya dirumuskan secara berbeda-beda dalam situasi historis dan sosio budaya tertentu. Tentu saja, Kitab Suci lebih utama bagi kehidupan Gereja daripada Kitab Hukum Kanonik. Maka,  “Kitab Hukum sama sekali tidak bermaksud mengganti iman, rahmat, karisma dan lebih-lebih cinta kasih dalam kehidupan Gereja atau kaum beriman Kristiani. Sebaliknya, Kitab Hukum terutama bertujuan menumbuhkan ketertiban dalam masyarakat gerejani sedemikan rupa, sehingga memberikan tempat utama pada cinta, rahmat dan karisma. Maka, Kitab Hukum sekaligus juga ingin memudahkan perkembangan teratur dari semuanya itu baik dalam kehidupan masyarakat gerejani maupun dalam kehidupan tiap-tiap orang yang termasuk di dalamnya” (Yoanes Paulus II, Konstitusi Undang-Undang Tata Tertib Suci’, 1983)

Arti Hukum Gereja

Hukum Gereja yang terdapat dalam KHK dan dokumen yuridis lain hanyalah hukum - Ritus Latin saja; (lihat Kan 1). Belum ada hukum dasar seluruh Gereja Katolik. – Kitab Hukum Ritus-Ritus Timur diterbitkan pada tahun 1990 dan diberlakukan paus pada Oktober 1991. Hukum Gereja adalah hukum rohani, maka tidak dimaksudkan untuk dipaksakan dengan tindakan-tindakan kekerasan dan bantuan alat Negara. Karena sifat rohani itu, hukum Gereja mengenal – epikia atau equitas, yaitu kewajaran yang memberi kelonggaran demi peranan kerahiman (kan 19).

Dalam Hukum Gereja ini perlu dibedakan ius mere ecclesiasticum (hukum yang hanya gerejani, maka manusiawi) dan ius divinum yang berdasarkan wahyu, yakni hukum ilahi positif. (Selain itu terdapat – hukum kodrat yang berdasarkan wahyu kodrati dalam ciptaan). Hukum ilahi tidak berubah, walaupun kesadaran kita akan arti dan lingkupnya dapat berkembang, sebagaimana juga lembaga-lembaga yang diadakan atas petunjuk ilahi dapat berkembang di bawah dorongan Roh Kudus (misalnya, peranan serta kedudukan konsili, - kepausan, diakonat; peranan wanita dalam Gereja). Pernyataaan suatu hukum sebagai ketetapan ilahi harus dilakukan atas dasar yang meyakinkan dan dengan saksama. Jika suatu hukum ditetapkan oleh Gereja berkat  wewenang yang diberikan Kristus kepadanya, maka hukum itu disebut hukum gerejani (melulu) dan dapat berubah (misalnya, - selibat, aturan – puasa). Hukum Gerejani itu dapat berlaku bagi seluruh Gereja atau bagi sebagian saja. Kitab Hukum Kanonik, misalnya, hanya berlaku untuk umat Ritus Latin.

Bidang berlakunya hukum perlu dibedakan atas forum externum atau bidang lahiriah dan forum internum atau bidang batin. Peraturan dan keputusan dalam bidang batin berlangsung hanya antara pejabat gerejani dan orang beriman yang bersangkutan tanpa diketahui umum. Bidang batin tidak sama dengan bidang – suara hati atau forum conscientiae.

Relativisasi Hukum Gereja

Rupanya, cukup banyak imam tidak (bisa) mengerti hukum Gereja universal dan karenanya melalaikannya. ‘Penyakit’ ini tidak dapat disembuhkan dengan menambah peraturan baru, yang kurang dikenal dan tidak diindahkan juga. Dalam Gereja tidak mudah  memaksakan  pengamalan hukum, kadang-kadang bahkan justru menimbulkan kerugian bagi ‘keselamatan jiwa’. Hukum tertinggi dalam Gereja (Kan 1752). Manakah alasan kecenderungan relativisasi hukum dalam Gereja? Tanggungjawab pribadi yang lebih luas tidak akan memperbaiki keadaan. Agak pasti ‘hak orang yang lebih kuasa akan menang: pressure groups dalam umat,, para dermawan yang berkepentingan, imam yang vokal namun tanpa spiritualitas dan akal sehat (iudicium). Sebaliknya, gagasam pembuat hukum (Roma) dan mereka yang mengalami kesulitan pelaksanaannya dalam urusan sehari-hari, bertemu. Sebab, ‘ius sequitur vitam’ – hukum mengikuti hidup. **P. Alex Dato'L, SVD.

Asal-Usul dan Perkembangan Awal


  1. Kata “liturgi” berasal dari bahasa Yunani leitourgia, terbentuk dari akar kata ergon yang berarti “karya, ”, dan leitos, yang merupakan kata sifat untuk kata benda laos yang berarti bangsa. Kata laos dan ergon diambil dari kehidupan masyarakat Yunani kuno sebagai kerja nyata rakyat kepada bangsa atau negara. Secara praktis hal ini berupa membayar pajak, membela Negara dari ancaman musuh atau wajib militer. Namun leitourgia juga digunakan untuk menunjuk pelayan rumah tangga dan pegawai pemerintah semisal menarik pajak.  Secara harfiah, leitourgia berarti kerja atau pelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa.[ref name="1"]James F.White, Introduction to Christian Worship (Nashville: Revised Edition, Abingdon Press,  1990),  22-23.[/ref]
  2. Menurut asal-usulnya, istilah leitourgia memiliki arti profan-politis, dan bukan arti kultis sebagaimana biasa dipahami. Baru sejak abad keempat sebelum masehi, pemakaian kata leitourgia diperluas,yakni untuk menyebut berbagai macam karya pelayanan. [ref name="2"]E.Martasudjita, Pengantar Liturgi : Makna, Sejarah dan Teologi Liturgi (Yogyakarta: Kanisius 1999), 18.[/ref]
  3. Sejak abad kedua sebelum masehi para penerjemah Alkitab dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta) menggunakan kata Yunani leitourgia untuk menerjemah kata Ibrani abodah yang berarti “pelayanan” khususnya pelayanan para Imam dan orang-orang Lewi di hadapan Tuhan.
Istilah Liturgi dalam Perjanjian Lama


  1. Dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani kata liturgi dijumpai sebanyak 170 kali dari kata abodah. Kata ini mengandung dua pengertian dengan memakai istilah sher`et yang menekankan ungkapan perasaan dalam pengabdian diri serta kesetiaan kepada majikan dan abh`ad  lebih menekankan ketaatan kerja seorang hamba (budak, abdi) kepada tuannya. Kedua istilah ini juga dipakai dalam pengertian profan tetapi dalam pengertian religius selalu dimaksudkan dengan ibadah yang diarahkan kepada Allah oleh para imam Lewi di Bait Suci.[ref name="3"]bdk. Bosco Da Cunha,O.Carm, Teologi Liturgi dalam Hidup Gereja (Madang: Dioma, 2004)  16.[/ref]
  2. Istilah sher`et dan abh`ad tidak dimaksudkan untuk ibadah umum oleh seluruh umat tetapi secara khusus yang dilaksanakan oleh suku Lewi kepada Allah untuk kepentingan seluruh umat Israel (Bil.16: 9). Istilah yang digunakan untuk menggambarkan ibadah yang dilakukan oleh seluruh umat Israel ialah kata latreia dan douleia terpisah dan berbeda dari peribadahan suku Lewi yang dipandang lebih tinggi dan terhormat dengan corak perayaan yang khusus.
  3. Dalam Perjanjian Lama terjemahan Septuaginta istilah leitourgia digunakan untuk pelayanan ibadah para imam kaum Lewi. Sedangkan tindakan kultis umat biasanya diungkapkan dengan istilah latreia (penyembahan).
Istilah Liturgi dalam Perjanjian Baru


  1. Kata leitourgia dan leitourgein mengalami perkembangan dalam Perjanjian Baru. Dalam Luk.1: 23,  leitourgia masih memiliki makna yang sama dengan penggunaannya dalam LXX (Septuaginta) yaitu pelayanan imam. Dibandingkan dengan tulisan Perjanjian Baru yang lain, surat Ibrani merupakan kitab yang sering menggunakan kata leitourgia dan leitourgein (Ibr.8: 6, 9: 21, 10: 11) dengan konteks yang sama sekali baru. Penulis Ibrani menggunakan kata leitourgia untuk menjelaskan makna imamat Yesus Kristus sebagai satu-satunya Imamat Perjanjian Baru. Imamat Kristus merupakan pelayanan yang jauh lebih agung dan berdaya guna dibandingkan dengan pelayanan imam Perjanjian Lama.
  2. Pada tulisan Perjanjian Baru yang lain, penggunaan kata leitougia atau leitourgein memiliki makna yang berbeda-beda. Kis.13: 2 merupakan satu-satunya teks yang menggunakan kata liturgi menunjuk ibadah. Dalam Rm.15: 16 Paulus disebut pelayan (leitourgos) Yesus Kristus melalui pemberitaan Injil. Dalam 2Kor.9, 12 dan Rm.15: 27 kata “liturgi” berarti sumbangan yang merupakan tindakan amal kasih bagi saudara-saudara seiman di tempat lain. Dalam teks-teks seperti Flp.2: 25, 30, Rm.13: 6, Ibr.1: 7, kata liturgi memiliki arti melayani dalam arti yang biasa.
  3. Selanjutnya G.Riemer mengungkapkan bahwa istilah leitourgia dalam Perjanjian Baru terdapat 15 kali dengan makna yang berbeda-beda. Luk.1: 23, Ibrani 9: 21, Ibr.10: 11 merujuk kepada tugas imam. Ibr.8: 2, Ibr.8: 6 menguraikan pelayanan Kristus sebagai imam. Rm.15: 16 merujuk kepada pekerjaan rasul dalam pekabaran Injil kepada orang kafir. Flp.2: 17 sebagai kiasan untuk hal percaya. Ibr.1: 7, 14 merujuk kepada pekerjaan malaikat-malaikat melayani. Rm.13: 6 mengacu kepada jabatan pemerintah. Rm.15: 27, Flp.2: 25, Flp.2: 30, Flp.4: 18 merujuk kepada pengumpulan persembahan untuk orang miskin. Kis.13: 2 mengacu kepada kumpulan orang yang berdoa dan berpuasa.
  4. Perjanjian Baru menggunakan pelbagai istilah untuk ibadah. Kata latreia yang diterjemahkan sebagai pelayanan atau ibadah. Kata ini digunakan untuk menyatakan kewajiban menerapkan hidup beribadah bagi umat (Flp.3: 3). Kata proskunein yang diterjemahkan untuk merebahkan diri, menyembah atau bersujud (Mat.4: 10; Luk.4: 8). Kata thusia yang diterjemahkan sebagai persembahan kurban dalam bentuk perayaan yang ditunjukkan melalui perbuatan (1Kor.10: 20, Ibr.13: 15). Kata prosphora sama dengan kata thusia menyatakan tindakan mempersembahkan kurban yang ditujukan kepada Kristus (Ibr.10: 10). Kata threskeia yang diterjemahkan sebagai pelayanan keagamaan atau ibadah (Kis.26: 5, Kol.2: 18). Kata sebein diterjemahkan untuk menunjuk ke ibadah (Mat.15: 9, Mrk.7: 7). Kata homologein mempunyai sejumlah arti seperti pengakuan dosa (1Yoh.1: 9), mengaku dengan mulut atau ucapan bibir (Rm.10: 9, Ibr.13: 15).

Istilah Liturgi dalam Sejarah Gereja Selanjutnya
  1.  Dalam masa pasca para rasul, kata liturgi sudah digunakan untuk menunjuk kegiatan ibadat atau doa Kristiani. Klemen dalam suratnya (1Klemen 41: 1) menyebut istilah liturgi untuk menunjuk pelayanan ibadat baik kepada Allah maupun kepada jemaat yang dilakukan oleh uskup, imam, dan diakon. Akan tetapi, sejak abad-abad pertengahan, kata “liturgi” hanya terbatas digunakan untuk menyebut perayaan Ekaristi saja. Pebatasan ini terjadi di Gereja Timur dan Gereja Barat.
  2. Penggunaan kata “liturgi” bagi penyebutan Ekaristi hingga kini tetap dipertahankan di Gereja Timur, sedangkan untuk perayaan-perayaan ibadat lainnya dipakai sebutan doa atau tata perayaan (Yunani: taxis, Latin: ordo). Dalam Gereja Barat, istilah “liturgi” lama menghilang, baru mulai abad ke-16 istilah “liturgi” kembali dikenal. Gereja-gereja Reformasi menggunakan kata Liturgi mulai pada abad ke-17 dan 18 dengan arti ibadat Gereja.
  3. Kemudian Gereja Katolik Roma mulai memakai kata sifat liturgicus untuk menunjuk hal-hal yang berkaitan dengan ibadat. Kata benda liturgia baru digunakan dalam dokumen resmi Gereja Katolik Roma pada abad ke-18. Akhirnya, Konsili Vatikan II membakukan istilah “liturgi” untuk menyebut “peribadahan Gereja” dalam Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium (SC).

Istilah Liturgi pada Masa Kini


  1. Dewasa ini kata liturgi adalah sebutan yang khas untuk perayaan ibadah Kristen. Kata ibadah berasal dari bahasa Arab, yakni ebdu atau abdu (abdi = hamba). Kata ini sejajar dengan bahasa Ibrani, yakni abodah (ebed = hamba). Artinya perbuatan untuk untuk menyatakan bakti kepada Tuhan. Ibadah terkait seerat-eratnya dengan suatu kegiatan manusia kepada Allah, yakni dengan pelayanan kepada Tuhan. Rasul Paulus dalam Rm.12: 1 menuliskan tentang “ibadah sejati” dalam kaitan dengan persembahan hidup. Liturgi sebagaimana pemahaman Paulus adalah juga sikap beriman sehari-hari tidak terbatas pada perayaan Gereja.
  2. Selain liturgi, kata dalam bahasa Indonesia yang sejajar ialah kebaktian. Bhakti (Sansekerta) ialah perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, sikap memperhambakan diri, perbuatan baik. Bakti dapat ditujukan baik untuk seseorang, Negara, maupun untuk Tuhan yang dilakukan dengan sukarela. Pada pihak lain kebaktian mempunyai makna luas, yakni sikap hidup sebagai pelayan Tuhan menyangkut tabiat, perbuatan, karakter, atau pola pikir yang ditujukan secara utuh dan nyata oleh orang percaya di dalam dunia.
  3. Ketiga kata dalam bahasa Indonesia tersebut, yaitu: liturgi, kebaktian dan ibadah, digunakan secara sama dan sejajar. Namun sekalipun demikian dalam pemahaman sehari-hari ada perbedaannya. Kata liturgi sering digunakan dalam kaitan dengan disiplin ilmu, teologi, atau cara resmi dan agung sebagaimana dalam Gereja Roma Katolik. Di seminari ada mata kuliah liturgi, tetapi tidak disebut mata kuliah kebaktian atau ibadah. Kata kebaktian lebih sering digunakan untuk menunjuk perayaan peribadahan. Sementara kata ibadah cenderung digunakan untuk perayaan agama apapun, bahkan agama-agama tradisi dan agama suku. Lazimnya orang menyebut ibadah Yahudi atau ibadah di Masjid, tetapi tidak kebaktian Yahudi atau liturgi di Masjid.[ref name="4"]Sumber Online sebagian besar diambi di sini[/ref]

Dari beberapa pengertian di atas, kita dapa mengambil kesimpulan sementara: "Liturgi adalah kerja atau karya pelayanan yang dibaktikan kepada Tuhan". Meskipun demikian, dalam Katekismus Gereja Katolik dikatakan bahwa liturgi pada awalnya berarti “karya publik”. Dalam sejarah perkembangan Gereja, liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Di dalam liturgi, Kristus melanjutkan karya Keselamatan di dalam, dengan dan melalui Gereja-Nya. Pada jaman Gereja awal seperti dijabarkan di dalam surat rasul Paulus, para pengikut Kristus beribadah bersama di dalam liturgi (dikatakan sebagai “korban dan ibadah iman” di dalam Flp 2:17). Termasuk di sini adalah pewartaan Injil “(Rom 15:16); dan pelayanan kasih (2 Kor 9:12). Maka, dalam Perjanjian Baru, kata ‘liturgi’ mencakup tiga hal, yaitu ibadat, pewartaan dan pelayanan kasih yang merupakan partisipasi Gereja dalam meneruskan tugas Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Secara khusus, liturgi merupakan wujud pelaksanaan tugas Kristus sebagai Imam Agung. Dalam hal ini, liturgi merupakan penyembahan Kristus kepada Allah Bapa, namun dalam melakukan penyembahan ini, Kristus melibatkan TubuhNya, yaitu Gereja; sehingga liturgi merupakan karya bersama antara Kristus (Sang Kepala) dan Gereja (Tubuh Kristus). Oleh karena itu tidak ada kegiatan Gereja yang lebih tinggi nilainya daripada liturgi  karena di dalam liturgi terwujudlah persatuan yang begitu erat antara Kristus dengan Gereja sebagai ‘mempelai’-Nya dan Tubuh-Nya sendiri.[ref name="KGK"]Katekismus Gereja Katolik, 1066, 1069, 1070 dan Sacrosanctum Concillium, 7.[/ref]

Allah Bapa: Sumber dan Tujuan Liturgi

Alkitab mengatakan, “Terpujilah Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia yang dikasihi-Nya” (Ef 1:3-6). Dari sini kita mengetahui bahwa Allah Bapalah yang memberikan rahmat sorgawi kepada kita, melalui Kristus dan di dalam Kristus. Dan karena rahmat itu diberikan di dalam sakramen melalui liturgi, maka sumber liturgi adalah Allah Bapa, dan tujuan liturgi adalah kemuliaan Allah.

Kristus Bekerja di dalam Liturgi

Karena Kristus telah bangkit mengalahkan maut, maka, Ia yang telah duduk di sisi kanan Allah Bapa, pada saat yang sama dapat terus mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada Tubuh-Nya, yaitu Gereja-Nya, melalui sakramen-sakramen. Karena Yesus sendiri yang bertindak dengan kuasa Roh Kudus-Nya, maka kita tidak perlu meragukan efeknya, karena pasti Kristus mencapai maksud-Nya.

Puncak karya Kristus adalah Misteri Paska-Nya, maka Misteri Paska inilah yang dihadirkan di dalam liturgi Gereja.Jadi Misteri Paska yang sungguh-sungguh telah terjadi di masa lampau dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus. Karena Kristus telah menang atas kuasa dosa dan maut, maka Misteri Paska-Nya tidak berlalu begitu saja ditelan waktu, namun dapat dihadirkan kembali oleh kuasa Ilahi, yang mengatasi segala tempat dan waktu. Hal ini dilakukan Allah karena besar kasih-Nya kepada kita, sehingga kita yang tidak hidup pada masa Yesus hidup di dunia dapat pula mengambil bagian di dalam kejadian Misteri Paska Kristus dan menerima buah penebusan-Nya.

Kristus selalu hadir di dalam Gereja, terutama di dalam perayaan liturgi. Pada perayaan Ekaristi/ Misa kudus, Kristus tidak hanya hadir di dalam diri imam-Nya, namun juga di dalam wujud hosti kudus (lihat artikel: Sudahkah kita pahami arti Ekaristi?). Liturgi di dunia menjadi gambaran liturgi surgawi di mana Yesus duduk di sisi kanan Allah Bapa, dan kita semua sebagai anggota Gereja memuliakan Allah bersama seluruh isi surga.

Roh Kudus dan Gereja di dalam Liturgi

Jika Roh Kudus bekerja di dalam diri seseorang, maka Ia akan menggerakkan hati orang tersebut untuk bekerjasama dengan Allah. Kita dapat melihat hal ini pada teladan Bunda Maria dan para Rasul. Demikian halnya liturgi menjadi hasil kerjasama Roh Kudus dengan kita sebagai anggota Gereja. Kerjasama Roh Kudus dan Gereja ini menghadirkan Kristus dan karya keselamatan-Nya di dalam liturgi, sehingga liturgi bukan sekedar ‘kenangan’ akan Misteri Kristus, melainkan adalah kehadiran Misteri Kristus yang satu-satunya itu.

Peran Roh Kudus dinyatakan pada saat pembacaan Sabda Allah, karena Roh Kudus menjadikan Sabda itu dapat diterima dan dilaksanakan di dalam hidup umat. Kemudian Roh Kudus memberikan pengertian rohani terhadap Sabda Tuhan itu, yang menghidupkan perkataan doa, tindakan dan tanda-tanda lahiriah yang dipergunakan dalam liturgi, dan dengan demikian Roh Kudus menghidupkan hubungan antara umat (beserta para imam) dengan Kristus.

Kristus mengajak kita ikut serta mengambil bagian dalam Misteri Keselamatan-Nya

Yesus mengajak kita semua ikut mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya, terutama dalam Misteri Paska-Nya yang dihadirkan kembali di dalam Liturgi. Karena kuasa kasih dan kebangkitan-Nya, Kristus memberikan kita kesempatan yang sama dengan orang-orang yang hidup pada zaman Ia hidup di dunia 2000 tahun yang lalu, yaitu menyaksikan dan ikut mengambil bagian dalam peristiwa yang mendatangkan keselamatan kita, yaitu wafatNya di salib, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga. Secara khusus penghadiran Misteri Paska ini nyata dalam Ekaristi, yang merupakan penghadiran kurban Kristus yang sama dan satu-satunya itu oleh kuasa Roh Kudus. Kuasa Roh Kudus yang dulu menghadirkan Yesus dalam rahim Maria, kini hadir untuk menghadirkan Yesus di altar. Kuasa Roh Kudus yang dulu hadir pada hari Pentakosta kini hadir di dalam setiap perayaan Ekaristi, untuk mengubah kita menjadi seperti para rasul, dipenuhi kasih dan semangat yang berkobar untuk ikut serta melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah di dunia ini.

Jika kita menghayati kebenaran ini, kita seharusnya tidak bosan dan mengantuk dalam mengikuti misa. Sebab jika demikian, kita seumpama mereka yang hidup di jaman Yesus, hadir di bawah kaki salib Yesus, tetapi malah melamun dan tidak mempunyai perhatian akan apa yang sedang terjadi di hadapan mata mereka. Sungguh tragis, bukan? Memang Misteri Paska itu tidak hadir persis secara fisik seperti 2000 tahun lalu, namun secara rohani, Misteri Kristus yang sama dan satu-satunya itu hadir dan membawa efek yang sama seperti pada 2000 tahun yang lalu. Betapa dalamnya makna dari misteri ini, namun kita perlu menilik ke dalam hati kita yang terdalam untuk melihatnya dengan mata rohani dan menghayatinya dengan sikap tunduk dan kagum.

Bagaimana sikap kita di dalam liturgi

Bayangkan jika anda secara pribadi diundang pesta oleh Bapak Presiden. Tentu anda akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya bukan? Anda akan berpakaian yang sopan, bersikap yang pantas, mempersiapkan apa yang akan anda bicarakan, dan anda akan datang tidak terlambat, jika perlu siap sebelum waktunya. Mari kita memeriksa diri, sudahkah kita bersikap demikian di dalam ‘pertemuan’ kita dengan Tuhan di dalam liturgi. Karena Tuhan jauh lebih mulia dan lebih penting daripada Bapak Presiden, seharusnya persiapan kita jauh lebih baik daripada persiapan bertemu dengan Presiden.

Mempersiapkan diri sebelum mengikuti liturgi dan mengarahkan hati sewaktu mengikuti liturgi


Untuk menyadari kedalaman arti misteri ini, kita harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh sebelum mengambil bagian di dalam liturgi. Persiapan ini dapat berbentuk: membaca dan merenungkan ayat kitab suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang di gereja lebih awal, berpuasa ( 1 jam sebelum menyambut Ekaristi dan terutama berpuasa sebelum menerima sakramen Pembaptisan dan Penguatan), memeriksa batin, mengaku dosa dalam sakramen Tobat sebelum menerima Ekaristi.

Lalu, sewaktu mengikuti liturgi, kitapun harus senantiasa mengarahkan sikap hati yang benar. Jika terjadi ‘pelanturan’, segeralah kita kembali mengarahkan hati kepada Tuhan. Kita harus mengarahkan akal budi kita untuk menerima dengan iman bahwa Yesus sendirilah yang bekerja melalui liturgi, dan bahwa Roh KudusNya menghidupkan kata-kata doa dan teks Sabda Tuhan yang diucapkan di dalam liturgi, sehingga menguduskan tanda-tanda lahiriah yang dipergunakan di dalam liturgi untuk mendatangkan rahmat Tuhan.

Sikap hati ini dapat diwujudkan pula dengan berpakaian yang sopan, tidak ‘ngobrol’ pada saat mengikuti liturgi, dan tidak menyalakan hp/ mengangkat telpon di gereja. Sebab jika demikian dapat dipastikan bahwa hati kita tidak sepenuhnya terarah pada Tuhan.

Bersikap aktif: jangan hanya menerima tetapi juga memberi kepada Tuhan

St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa penyembahan yang sempurna itu mencakup dua hal, yaitu menerima dan memberikan berkat-berkat ilahi.Di dalam liturgi, penyembahan kita kepada Tuhan mencapai puncaknya, saat kita kita turut memberikan/ mempersembahkan diri kita kepada Tuhan dan pada saat kita menerima buah dari penebusan Kristus melalui Misteri Paska-Nya. Puncak liturgi adalah Ekaristi, di mana di dalam Misteri Paska yang dihadirkan kembali itu, Kristus menjadi Imam Agung, dan sekaligus Kurban penebus dosa.

Dalam liturgi Ekaristi, kita sebagai anggota Tubuh Kristus seharusnya tidak hanya ‘menonton’ atau sekedar menerima, tetapi ikut mengambil bagian dalam peran Kristus sebagai Imam Agung dan Kurban tersebut. Caranya adalah dengan turut mempersembahkan diri kita, beserta segala ucapan syukur, suka duka, pergumulan, dan pengharapan, untuk kita persatukan dengan kurban Kristus. Setiap kali menghadiri misa, kita bawa segala kurban persembahan diri kita untuk diangkat ke hadirat Tuhan, terutama pada saat konsekrasi , yaitu saat kurban roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Dengan demikian kurban kita akan menjadi satu dengan kurban Yesus. Oleh karena itu, liturgi menjadi penyembahan yang sempurna karena Kristus yang adalah satu-satunya Imam Agung dan Kurban yang sempurna, menyempurnakan segala penyembahan kita. Bersama Yesus di dalam liturgi kita akan sungguh dapat menyembah Allah Bapa di dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24), karena di dalam liturgi kuasa Roh Kudus bekerja menghadirkan Kristus yang adalah Kebenaran itu sendiri.

Hal kehadiran Yesus tidak hanya terjadi dalam Ekaristi, tetapi juga di dalam liturgi yang lain, yaitu Pembaptisan, Penguatan, Pengakuan Dosa, Perkawinan, Tahbisan suci, dan Pengurapan orang sakit. Dalam liturgi tersebut, kita harus berusaha untuk aktif berpartisipasi agar dapat sungguh menghayati maknanya. Partisipasi aktif ini bukan saja dari segi ikut menyanyi, atau membaca segala doa yang tertulis, melainkan terutama partisipasi dari segi mengangkat hati dan jiwa untuk menyembah dan memuji Tuhan, dan meresapkan segala perkataan yang diucapkan di dalam hati.

Jangan memusatkan perhatian pada diri sendiri tetapi pada Kristus

Jadi, agar dapat menghayati liturgi, kita harus memusatkan perhatian kita kepada Kristus, dan pada apa yang telah dilakukanNya bagi kita, yaitu: oleh kasihNya yang tak terbatas, Kristus tidak menyayangkan nyawa-Nya dan mau wafat bagi kita untuk menghapus dosa-dosa kita. Kita bayangkan Yesus sendiri yang hadir di dalam liturgi dan berbicara sendiri kepada kita. Dengan berfokus pada Kristus, kita akan memperoleh kekuatan baru, sebab segala pergumulan kita akan nampak tak sebanding dengan penderitaan-Nya. Kitapun akan dikuatkan di dalam pengharapan karena percaya bahwa Roh Kudus yang sama, yang telah membangkitkan Yesus dari kubur akan dapat pula membangkitkan kita dari pengaruh dosa dan segala kesulitan kita.

Jika kita memusatkan hati dan pikiran pada Kristus, maka kita tidak akan terlalu terpengaruh jika musik atau penyanyi di gereja kurang sempurna, khotbah kurang bersemangat, kurang keakraban ataupun hawa panas dan banyak nyamuk. Walaupun tentu saja, idealnya semua hal itu sedapat mungkin diperbaiki. Kita bahkan dapat mempersembahkan kesetiaan kita disamping segala ketidak sempurnaan itu- sebagai kurban yang murni bagi Tuhan. Langkah berikutnya adalah, apa yang dapat kita lakukan untuk turut membantu memperbaiki kondisi tersebut. Inilah salah satu cara menghasilkan ‘buah’ dari penerimaan rahmat Tuhan yang kita terima melalui liturgi.

Liturgi adalah sumber kehidupan

Jadi sebagai karya Kristus, liturgi menjadi kegiatan Gereja di mana Kristus hadir dan membagikan rahmat-Nya,yang menjadi sumber kehidupan rohani kita. Walaupun demikian, liturgi harus didahului oleh pewartaan Injil, iman dan pertobatan, sebab tanpa ketiga hal tersebut akan sangat sulit bagi kita untuk menghayati perayaan liturgi, apalagi menghasilkan buahnya dalam kehidupan sehari-hari. Ibaratnya tak kenal maka tak sayang, maka jika kita ingin menghayati liturgi, maka sudah selayaknya kita mengetahui makna liturgi, menerimanya dengan iman dan menanggapinya dengan pertobatan.

Liturgi yang bersumber pada Allah menjadi sumber dan puncak kegiatan Gereja. Bersumber pada liturgi ini, Gereja menimba kekuatan untuk melaksanakan pembaharuan di dalam Roh, misi perutusan, dan menjaga persatuan umat. Maka jika kita mengalami ‘kemacetan ataupun percekcokan’ di dalam kegiatan paroki, petunjuk praktis untuk memeriksa adalah: Sudah cukupkah keterlibatan anggota dalam Ekaristi -tiap minggu atau jika mungkin setiap hari? Adakah kedisiplinan anggota untuk mengaku dosa di dalam Sakramen Tobat secara teratur, misalnya sebulan sekali? Walaupun demikian, kehidupan rohani kita tidak terbatas hanya dari keikutsertaan dalam liturgi, tetapi juga dari kehidupan doa yang benar (doa pribadi (Mat 6:6) dan doa tanpa henti (1Tes 5:17)).

Kesimpulan

Seperti telah diuraikan di atas: liturgi merupakan partisipasi kita di dalam doa Kristus kepada Allah Bapa oleh kuasa Roh Kudus. Liturgi terutama Ekaristi yang menghadirkan Misteri Paska Kristus merupakan peringatan akan karya Allah Tritunggal untuk mendatangkan keselamatan bagi dunia. Maka liturgi merupakan puncak kegiatan Gereja, dan sumber di mana kuasa Gereja dicurahkan, yaitu kehidupan baru di dalam Roh, keikutsertaan di dalam misi perutusan Gereja dan pelayanan terhadap kesatuan Gereja.Jadi bagi kita umat beriman, terutama yang ikut ambil bagian di dalam karya kerasulan awam, keikutsertaan di dalam liturgi merupakan sesuatu yang utama. Tidak bisa kita melayani umat, jika kita sendiri tidak diisi dan diperbaharui oleh rahmat Tuhan sendiri. Prinsipnya, “kita tidak bisa memberi, jika kita tidak terlebih dahulu menerima” rahmat yang dari Allah.

Rahmat Allah ini secara nyata kita terima melalui liturgi. Dalam hal ini, Ekaristi memegang peranan penting karena di dalamnya rahmat yang diberikan adalah Kristus sendiri. Kini tinggal giliran kita untuk memeriksa diri dan mempersiapkan hati untuk menerima berkat rahmat itu. Jika kita mempunyai sikap hati yang benar dan berpartisipasi aktif di dalam liturgi, maka Tuhan sendiri akan memberkati dan menjadikan kita anggota TubuhNya yang menghasilkan buah bagi kemuliaan nama-Nya. Menimba bekal rohani melalui liturgi merupakan salah satu cara yang paling nyata untuk menjawab undangan Tuhan Yesus, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:4-5).[ref name="katolik"]Lihat sumber lainnya di sini[/ref]

Ilustrasi dari sathora.or.id
Kata "Pastor" berasal dari Bahasa Latin "pastōr", yang berarti gembala. Dalam Gereja Katolik, pastor merupakan sebutan bagi mereka yang telah ditahbiskan menjadi imam. Imamat merupakan salah satu sakramen yang hanya diterimakan kepada mereka yang dengan sungguh-sungguh mau mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan dengan cara yang khas yakni hidup dalam selibat (tidak menikah) seumur hidup untuk menjadi pelayan.

Syarat menjadi imam telah diatur dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK), merupakan sistem hukum yang berlaku dalam Gereja Katolik. Waktu yang dibutuhkan untuk pendidikan seorang imam tergantung pada kebijakan Ordinaris Gereja setempat. Namun dalam KHK Kanon 250 telah diatur dengan jelas bahwa calon imam harus belajar Filsafat selama 4 (empat) tahun dan belajar Teologi selama 2 (dua) tahun. Di Indonesia, pendidikan imam berlangsung selama 8 tahun, bahkan ada yang sampai 10 atau 11 tahun. Yang umum berlaku adalah 4 (empat) tahun setelah perguruan tinggi yakni dua tahun belajar teologi, satu tahun masa Orientasi Pastoral, yakni melaksanakan praktek berpastoral dan satu tahun masa Diakonat yakni berpraktek untuk menjadi gembala sebelum ditahbiskan jadi imam.

Banyak Yang Dipanggil, Sedikit Yang Dipilih 

Mengikuti panggilan khusus menjadi Imam bukanlah hal yang gampang. Secara manusiawi agak susah digambarkan rahmat kekuatan yang dimiliki oleh seorang calon imam yang sedang mempersiapkan diri. Tidak sedikit di antara para calon mengundurkan diri di tengah jalan. Mereka yang dipilih adalah sebagian dari mereka yang dipanggil sejak awal untuk bersama-sama mempersiapkan diri melalui proses pendidikan. Ada empat bidang studi utama dan pengembangan dalam pendidikan calon imam yaitu kemanusiaan, spiritual, karya pastoral dan akademik. Semua bidang studi ini dikombinasikan agar kelak, seseorang yang menjadi imam dapat menjadi teladan bagi gembalaannya. Bukan hanya itu, seorang imam bertanggung jawab pada ajaran iman dan moral bagi umat yang digembalakannya.

Konsekuensi Yuridis Sebagai Orang 'Yang Dipilih' dalam Hubungannya dengan Politik 

Konsekuensi Yuridis mejadi seorang yang "dipilih" menjadi imam telah diatur pula dalam KHK. Konsekuensi ini telah menjadi perjanjian awal yang harus disepakati oleh dua pihak sebelum terjadinya tahbisan. Pihak yang dimaksud adalah Gereja dan Calon Imam yang akan menerim tahbisan. Berikut adalah sebagian dari beberapa konsekuensi yuridis yang harus ditaati seorang calon imam setelah ditahbiskan:

  1. Taat kepada Takhta Apostolik, yakni Tahta Paus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, dan Ordinaris Setempat, yaitu Uskup yang menjadi ordinaris di wilayah keuskupan. Kata "taat" bukanlah sebuah istilah yang bisa dikonfrotir karena "ketaatan" tersebut sudah menjadi kesepakatan awal, bukan kesepakatan yang baru dibuat setelah menjadi imam. (Kan. 273). 
  2. Para klerikus (imam) dilarang menerima jabatan-jabatan publik yang membawa serta partisipasi dalam pelaksanaan kuasa sipil. Kan. 285 § 3. 
Mengingkari Status Sebagai Orang 'Yang Dipilih" 

Konsekuensi dari perbuatan yang dilarang di atas (tidak taat, menerima jabatan publik), seorang imam mendapatkan "suspensi". Suspensi diberikan setelah semua peringatan dan teguran tidak dihiraukan. Penarikan Yurisdiksi adalah wujud dari suspensi yang dimaksud. Penarikan yurisdiksi mengandung muatan hukum yakni: pembebasan dari semua hak dan kewajiban yang melekat pada tahbisan imamat yang diberikan oleh Ordinaris Setempat (Uskup).

***

Larangan bagi Pastor [Katolik] menerima jabatan publik bukan sesuatu yang baru ditegaskan setelah jadi Imam. Segala sesuatu telah terang di awal dan dalam keadaan sadar menerima segala konsekuensi yuridis tersebut pada saat mengucapkan 'janji' pada upacara pentahbisan. Namanya hukum, tidak ada istilah "multitafsir" karena segalanya telah menjadi jelas. Penjelasan tentang konsekuensi-konsekuensi ini telah disampaikan selama masa pendidikan 8-10 tahun seperti disebutkan di atas.

Bagaimana bila kemudian ada Pastor menerima tawaran untuk menjadi anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif dalam pemerintahan? Secara pribadi, person, dia boleh-boleh saja menerima tawaran tersebut. Namun, dia tidak disebut sebagai 'pastor' lagi. Kalau kemudian, seorang pastor menyadari bahwa dia terpanggil untuk melayani masyarakat melalui jabatan publik, maka haruslah dia meninggalkan jabatan Gereja karena telah diatur demikian. Tidak diperkenankan untuk mengabdi pada dua tuan. Meninggalkan jabatan Gereja pun adalah pilihan yang memiliki konsekuensi yuridis.

Berdasar pada landasan yuridis di atas, tidak dibenarkan bahwa seorang pastor membawa serta jabatan imamatnya dalam menjalankan tugas sebagai pejabat publik. "Revolusi Mental" bukanlah merupakan alasan yang dapat digunakan sebagai cara untuk mengobah segala aturan yang telah teruji dan terbukti mampu mengayomi banyak orang. Revolusi mental merupakan misi yang lebih ditujukan pada perubahan sikap, pola perilaku dan gaya berpikir manusianya, bukan aturannya.

Larangan bagi pastor menjadi pejabat publik tidak menunjukkan sikap egoisnya "Gereja". Gereja Katolik hanya memberi penegasan pilihan dari deretan 'opsi'. Ketika anda memilih "A", maka tinggalkan "B". Gereja Katolik pun bukan tidak peduli terhadap kebutuhan masyarakat. Adakalanya masyarakat membutuhkan figur pemimpin seperti pastor. Masyarakat pun harus tahu bahwa pastor yang telah memilih untuk menjadi imam terikat pada aturan. Ketika permintaan masyarakat sangat kuat, Gereja tetap mengabulkan permintaan tersebut dengan catatan pastor yang bersedia menjadi pejabat publik harus meninggalkan seluruh hak dan kewajibannya sebagai pastor. **(Fidelis Harefa)

Hidup rukun adalah saling menghormati dan menyayangi antar sesama manusia. Hidup rukun merupakan keharusan dalam sebuah komunitas, baik komunitas kecil maupun besar. Suatu komunitas, berarti tempat berkumpulnya manusia yang di dalamnya dihiasi oleh perbedaan-perbedaan. Munculnya perbedaan inilah yang menjadi tujuan yang harus didalami pada pertemuan kedua pendalaman Aksi Puasa Pembangunan II tahun 2018, dengan topik "Hidup Rukun Sesama Ciptaan Allah".

Pertemuan pertama menegaskan kepada kita bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dalam keutuhan. Keutuhan yang  dimaksud adalah bahwa sesuatu diciptkan tidak terpisah dari yang lainnya. Keberadaan sesuatu merupakan pelengkap bagi keberadaan yang lain. Namun, apakah Allah meciptakan segala sesuatunya sama?

Kita mengenal adanya "yang hitam" sebagai pembeda bahwa ada "yang putih". Kita mengenal adanya "yang keras" sebagai pembeda bahwa ada "yang lembut", demikian seterusnya sehingga kita dapat melihat perbedaan yang ada sebagai pengakuan keberadaan yang lain. Tanpa keberadaan pembeda, keberadaan yang lainnya tidak atau sulit diakui.

Pada pertemuan kedua, Allah menegaskan kepada kita bahwa segala ciptaan-Nya diberikan kemampuan yang berbeda-beda. Manusia diciptakan dengan segala akal budinya untuk membedakan bahwa ada makhluk ciptaan lain yang tidak memiliki akal budi. Ciptaan yang memiliki akal budi mampu berpikir dan memilih yang baik dan buruk untuk diri-Nya. Oleh karena kemampuan berpikir itu, sasaran pertemuan kedua ini lebih ditujukan kepada manusia sebagai ciptaan yang berakal budi.

Bagaimana manusia diciptakan? Allah memberikan akal budi dengan dibekali oleh talenta yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuannya. Bacaan Kitab Suci, Matius 25:14-30, Perumpamaan Tentang Talenta menjadi contoh yang sangat jelas bagi manusia sehingga pada akhirnya harus mengakui perbedaan. Keragaman yang ada diciptakan untuk menyempurnakan satu sama lain. Seorang dokter diberi keahlian yang tidak dimiliki oleh seorang notaris. Sorang pastor diberi keahlian yang tidak dimiliki oleh seorang akuntan. Demikian seterusnya hingga semua diberi keahlian sesuai dengan pembawaan atau bakat sejak lahir. Tidak pernah ada yang sama. Masing-masing memiliki tingkatnya.

Mengapa harus hidup rukun? Ketiadaan kerukunan akan menimbulkan sikap-sikap yang tidak membangun. Seseorang bisa saja melihat perbedaan yang lain sebagai musuh atau saingan yang harus dihancurkan, dimusnahkan. Kelebihan orang lain dilihat sebagai musuh utama dalam kehidupannya. Sebaliknya, bila kerukunan ada, maka setiap orang melihat kelebihan yang dimiliki oleh orang lain sebagai berkat dalam hidupnya. Kehadiran orang-orang yang memiliki keahlian merupakan sarana untuk memperoleh keahlian juga. Intinya, kehadiran orang lain yang berbeda dengan kita merupakan penyempurna keberadaan kita.

Maka, sangat tepatlah pendalaman APP II ini mengetengahkan tema "hidup rukun". Hanya dengan hidup rukun, manusia mampu memaknai keutuhan ciptaan dalam kasih Allah. Manusia akan menghargai segala ciptaan meskipun ada perbedaan diantara mereka. Dengan menghargai satu sama lain, berarti manusia pun telah menghargai Allah sebagai sumber segala ciptaan.

Tema pertama pendalaman APP 2018 adalah "Kasih Allah dalam Keutuhan Ciptaan". Pertemuan ini mengajak kita untuk menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari Allah. Segalanya diciptakan untuk saling melengkapi. Kesadaran yang mendalam akan hal ini menumbuhkan rasa syukur. Oleh karena itu, sembari mensyukuri rahmat itu, kita diajak untuk memelihara ciptaan Allah demi kelangsungan hidup kita dan generasi berikutnya.

Pendalaman APP Lingkungan St. Fransiskus Xaverius
Pertemuan pertama ini membawa kita pada sebuah permenungan bahwa tidak seorang pun di antara manusia mampu menciptakan sesuatu seperti keagungan karya cipta. Tuhan benar-benar menunjukkan kebaikan yang maha agung melalui keindahan, kedamaian, ketentraman, keamanan dan kenyamanan dalam dunia yang diciptakan-Nya. Semua kebaikan ini digambarkan dalam kisah penciptaan dimana Tuhan menyediakan sebuah taman Eden sebagai gambaran tempat yang sangat baik untuk didiami.

Pendalaman APP Lingk. St. Arnoldus Janssen
Melalui bacaan Kejadian 2:8-14, Tuhan mau mengatakan kepada kita bahwa pada mulanya telah diciptakan dengan sempurna. Dia mengalirkan mata air sebagai sumber kehidupan yang menyejukkan. Di sana tersedia emas, damar, batu krisopras sebagai lambang kejayaan. Tersedia tumbuh-tumbuhan yang hijau sebagai lambang kesuburan. Melalui bacaan ini, Tuhan menyampaikan kepada kita bahwa tugas kita adalah memelihara segala sesuatu itu. Memelihara dan menjaganya serta menggunakannya sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan yang proporsional tanpa didominasi oleh jiwa serakah.

Ada beberapa hal yang harus disadari dan dipahami oleh manusia melalui pendalaman APP I, Tahun 2018 ini:

  1. Bumi dalah rumah kita bersama. Diciptakan Tuhan untuk semua, bukan untuk satu orang, satu kelompok atau satu suku tertentu.
  2. Penciptaan ini merupakan pemakluman Kerahiman Allah kepada manusia. Allah merahimi, melindungi, menjaga dan mengayomi manusia, seperti seorang ibu menjaga bayi dalam rahimnya.
  3. Manusia wajib mensyukuri semua itu dengan melakukan hal-hal yang baik. Dengan berbuat baik dan benar, manusia sudah membalas kasih Allah.
  4. Dengan menyadari bahwa semua diciptakan secara sama, manusia harus membangun relasi sosial yang saling melengkapi dan saling membantu.Solidaritas sosial merupakan sebuah pemakluman nyata bahwa semua manusia berasal dari tempat yang sama, yakni dari Sang Pencipta. Kesadaran ini akan meretas segala perbedaan yang ada. Meretas segala pemikiran primordial. Semuanya sama dan satu dihadapan Allah.


Pendalaman APP I di Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya telah terlaksana di lingkungan-lingkungan. Beberapa dokumentasi yang ada bersama tulisan ini menjadi bukti antusiasme umat dalam mengikuti pendalaman APP.

Seperti biasa, ketika umat Katolik memasuki masa Prapaska atau lebih dikenal dengan masa pantang dan puasa, ada satu kegiatan rohani yang rutin dilakukan yakni mendalami secara bersama dalam kelompok Tema Aksi Puasa Pembangunan. Tema APP ditentukan secara nasional oleh Komisi Keteketik KWI, kemudian dijabarkan oleh Komisi Keteketik Keuskupan setempat untuk menyesuaikan dengan situasi Gereja setempat.

Tema APP 2017-2019 merupakan tema umum yang didalami selama tiga tahun berturut-turut. Tema umum tersebut adalah Penghormatan dan Penghargaan Keutuhan Ciptaan demi Kesehatan Hidup Bersama. Tema ini merupakan kelanjutan dari tema APP 2012-2016, Mewujudkan Hidup Sejahtera. Tema-tema ini merupakan satu kesatuan yang tidak boleh terputus pemahamannya. Artinya, konteks umumnya tetap diingatkan agar pemahaman setiap tahunnya tidak terpisah dan berdiri sendiri.

Tema APP 2017-2019 diuraikan dalam tiga Sub-Tema Umum yakni:

  • Tahun 2017: Keluarga Berwawasan Ekologis
  • Tahun 2018: Membangun Solidaritas Sosial (Kesetiakawanan Sosial) demi Keutuhan Ciptaan
  • Tahun 2019: Literasi Teknologi dan Keutuhan Ciptaan.
Tahun 2018, Membangun Solidaritas Sosial demi Keutuhan Ciptaan merupakan Sub-Tema Umum kedua dari Tema Umum 2017-2019. Karenanya, sangat baik dan tepat bila Tim Pastoral yang menjadi fasilitator Pendalaman APP mengingatkan kembali tentang tema tahun lalu, yakni Keluarga Berwawasan Ekologis supaya ada kesinambungan pemahaman dengan tema tahun ini.

Tema APP 2018, dibagi lagi dalam 4 tema kecil yang merupakan tema setiap kali pertemuan selama masa prapaska. Tema-tema tersebut adalah:
  1. Kasih Allah dalam Keutuhan Ciptaan
  2. Manusia Mitra Kasih Allah
  3. Kegagalan Manusia Menjadi Mitra Allah
  4. Aksi Solidaritas Sosial
Tema-tema ini akan dituliskan secara terpisah dalam artikel KAIROS selama masa prapaska 2018. Semoga pendalaman APP ini memberi  pengetahuan iman baru dan memperkuat keyakinan kita semua pada Keutuhan Ciptaan yang ada di dunia ini. (fh)

RD. Patrisius Alu Tampu sedang berkatekese.
Salah satu program kerja Bidang Liturgi Paroki Katedral Santa Maria Palangka Raya, masa bakti 2017-2019 adalah melaksanakan Katekese Liturgi kepada umat dalam pertemuan lingkungan. Program ini disampaikan oleh Fidelis Harefa selaku Koordinator Bidang Liturgi pada Raker Dewan Pastoral Paroki yang dilaksanakan pada Bulan Maret 2017 yang lalu.

Program Katekese Liturgi sudah mulai berjalan. Hal yang menjadi topik katekese gelombang pertama adalah Liturgi Praktis. Liturgi Praktis dimaksudkan adalah hal-hal praktis yang harus diperhatikan dalam berliturgi, secara khusus dalam perayaan ekaristi. Menurut Fidelis, katekese tidak boleh dihentikan karena generasi-generasi Gereja tidak pernah habis. Selalu saja bertambah dan melahirkan generasi baru.

Perayaan Ekaristi, merupakan puncak yang dituju oleh seluruh kegiatan dan karya kerasulanan Gereja, sekaligus merupakan sumber segala daya kekuatannya Sacrosanctum Concilium (SC 10]. Tata cara merayakannya dengan baik telah diatur dalam Pedoman Umum Misale Romawi. Supaya kecintaan kepada liturgi itu lahir dari hati setiap umat beriman, maka liturgi itu perlu diperkenalkan bersama dengan seluruh aturan yang telah diatur oleh Gereja. Oleh karena itu, katekese sesungguhnya lebih tepat dimaknai sebagai sosialisasi aturan-aturan Gereja tentang liturgi. Dalam katekese, tidak ada yang perlu diperdebatkan. Semua umat beriman harus tunduk pada aturan yang telah ditetapkan oleh Gereja karena telah teruji selama ribuan tahun.

Katekese oleh Kord. Bid. Liturgi
Katekese Liturgi gelombang pertama dilaksanakan oleh Pastor Paroki bersama Tim Bidang Liturgi DPP Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya. Direncanakan, katekese gelombang kedua akan dilaksanakan oleh Tim Liturgi yang akan dibentuk oleh Bidang Liturgi, bekerjasama dengan Bidang Pewartaan. Materi katekese akan disusun secara baku agara Tim Katekese dapat mensosialisasikannya setelah mempelajari materi secara bersama-sama. Semoga katekese liturgi yang sedang dilaksanakan ini memberi manfaat yang besar untuk mencerdaskan iman umat Katolik pada umumnya, iman umat Katolik di Paroki St. Maria pada khususnya.

Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Penggunaan teknologi oleh manusia diawali dengan pengubahan sumber daya alam menjadi alat-alat sederhana.[ref] Definisi sederhana ini menunjukkan bahwa pada dirinya sendiri, teknologi sangat bermanfaat bagi manusia dalam mengembangkan dirinya.

Menurut Spranger, nilai adalah suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu. Nilai-nilai Injil adalah tatanan yang terkandung dalam Injil yang dijadikan panduan oleh individu untuk membuat keputusan. Tatanan yang terkandung dalam Injil dijadikan panduan untuk menghidupi zaman teknologi yang semakin berkembang.

Salah satu teknologi yang menjadi sorotan utama dalam konteks arus zaman teknologi BKSN 2017 adalah teknologi informasi yang dapat diakses melalui teknologi elektronik yang lebih dikenal dengan istilah gadget. Dua teknologi ini saling mendukung. Informasi hampir dapat diakses kapan saja dan di mana saja berkat kehadiran teknologi gadget yang semakin hari semakin inovatif. Dan seperti telah dijelaskan sebelumnya, perkembangan teknologi ini memiliki dampak ganda, yang dapat kita sebutkan sebagai berikut:

Dampak Positif

Pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Di samping itu, informasi dan perkembangan teknologi meningkatkan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan pendidikan. Penyebaran informasi terjadi begitu cepat sehingga respon yang diharapkan dapat segera diterima.

Dampak Negatif

Banyak dirasakan dampak negatif dalam bidang moral, sosial, budaya, politik dan ekonomi. Secara konkrit, semakin banyak melahirkan persoalan dalam aspek komunikasi dan relasi di dalam keluarga, gereja dan masyarakat.

Pencegahan Penyalahgunaan

Bacaan tentang kisah menara Babel menjadi nasehat untuk kita semua. Ketika manusia memanfaatkan teknologi dan kemudian menjadi sombong, melupakan siapa yang memampukan dan lupa untuk bersyukur, inilah yang pada umumnya membawa kehancuran. Kisah menara babel sangat jelas maksudnya dalam kaitan dengan teknologi. Teknologi dibuat oleh manusia dan untuk manusia. Apabila kemudian, manusia mengabdi kepada teknologi dan menjadi hamba teknologi, bahkan mendewakan teknologi, ini merupakan tindakan yang salah di era teknologi.

Apakah menggunakan teknologi dilarang? Sama sekali tidak ada larangan. Hanya saja, perlu dipikirkan dan direnungkan kembali. Ketika televisi berfungsi menjadi tabernakel, mobile phone menjadi pengganti rosario, ini berarti telah terjadi pergeseran nilai spiritual yang selama ini kita miliki. Oleh karena itu dibeberapa Gereja di Indonesia sudah memasang himbauan-himbauan dalam bentuk spanduk, banner dengan anjuran yang bervariasi. Contoh: 1 Jam saja untuk Tuhn. Ini sering ditemukan di gereja-gereja yang mengharapkan umatnya tidak menggunakan handphone selama perayaan berlangsung.

Inti dari cara mencegah penyalahgunaan adalah dengan mengenal, memahami dan mengerti fungsi dan kegunaan dari teknologi itu sendiri. Ini berhubungan dengan teknologi elektronik yang menjajikan segala kepuasan.

Selanjutnya, teknologi informasi yang juga tidak kalah berkembangnya dapat menghancurkan suatu tatanan kehidupan. Dari media cetak ke media online telah banyak menggeser nilai-nilai peradaban kita. Penyebaran isu yang tidak benar, pencemaran nama baik, pelecehan dan berbagai hal negatif lainnya dapat kita temukan dalam teknologi informasi. Bahkan pencitraan pun dapat dilakukan melalui teknologi informasi.

Bila tidak hati-hati, kita akan terhasut dan akhirnya salah mengambil keputusan. Karenanya, kembali lagi pada tiga pola di atas, yakni: kenali, pahami dan mengerti tentang sumber informsi, tujuan informasi dan manfaat dari sebuah informasi.

Solusi akhir adalah teknologi apapun tidak pernah mampu menggantikan posisi Dia yang empunya segalanya. Teknologi bisa dibeli dan bisa dibuang. Tapi Dia yang telah lebih dulu ada, tak dapat dibeli dan tak dapat dibuang. Semakin dijauhi, Dia semakin dekat untuk memberi peringatan dan penyadaran dengan caranya sendiri. Pilihlah untuk mendewakan Dia yang tidak pernah menjauh daripadamu.

Sepanjang bulan September 2017 kita akan merenungkan dan mendalami tema Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN): "Kabar Gembira Di Tengah Gaya Hidup Modern". Tema ini mengajak kita untuk merenungkan realitas arus zaman modern yang mempengaruhi pola hidup dan relasi manusia serta dimensi kehidupannya seperti iman, moral, sosial dan budaya. Hal yang paling konkrit dari perkembangan zaman adalah perkembangan dan perubahan teknologi dan informasi yang melesat begitu cepat. Kemudahan dan kecepatan perubahan itu menjadikan dunia bagaikan satu desa kecil. Itulah sebabnya, Gereja dianjurkan untuk menggemakan Sabda Allah melalui media-media komunikasi seperti media cetak dan yang paling mutakhir adalah internet.

Harus diakui bahwa arus perubahan zaman dengan ciri penggunaan media-media komunikasi modern dan canggih memang berdampak ganda yakni positif dan negatif. Paus Fransiskus dalam himbauan apostoliknya Evangelii Gaudium, Sukacita Injil, secara khusus mengingatkan kita masalah-masalah yang menggerogoti dunia dewasa ini yakni konsumerisme, hedonisme, individualisme, materialisme dan fundamentalisme agama. Berhadapan dengan aneka bahaya ini, Paus Fransiskus mengajak kita mawas diri dan tekun berusaha untuk menanggapinya dengan bijak dan efektif.

Menanggapi tantangan seperti itu dan menindaklanjuti himbauan apostolik Paus Fransiskus, BKSN 2017 mencoba merenungkan dan mandalaminya secara lebih serius. Oleh sebab itu, ada empat sub tema pertemuan. Pertama, arus zaman teknologi dan nilai-nilai Injili dalam kisah menara Babel (Kej. 11:1-9). Kedua, arus zaman materialisme dan nilai-nilai Injili dalam perumpamaan orang kaya yang bodoh (Luk. 12:13-21), Ketiga, arus zaman individualisme dan nilai-nilai Injili dalam kisah cara hidup jemaat perdana (Kis. 2:41-47), Keempat, arus zaman hedonisme dan nilai-nilai Injili dalam nasihat Yakobus tentang hikmat dan hawa nafsu (Yak. 3:14-4:3). Melalui keempat sub tema ini diharapkan umat kristiani khususnya umat Keuskupan Palangka Raya tidak terseret dan terhanyut oleh arus zaman modern. Dengan merenungkan tema-tema ini, kita diharapkan semakin setia menggegam dan berpegang erat pada nilai-nilai Injili.

Komisi Kitab Suci Keuskupan Palangka Raya

Sambungan dari tes katekese hari Rabu Abu

D. PEKAN SUCI

Pekan Suci dimulai pada Hari Minggu Palma, sampai dengan Hari Kamis menjelang Misa Perjamuan Malam Terakhir. “Hari-hari dalam Pekan Suci ini, dari Senin sampai dengan Kamis, diutamakan di atas semua Hari Raya”. Sakramen Baptis dan Krisma tidak boleh diberikan pada hari-hari ini.

Dalam Pekan Suci Gereja merayakan misteri keselamatan yang diwujudkan Kristus pada hari-hari terakhir hidup-Nya, sejak Ia sebagai Al Masih memasuki Yerusalem. Masa Prapaskah berlangsung sampai dengan Kamis pekan ini. Sedangkan, Ketiga Hari Paskah: dimulai dengan Misa Perjamuan Malam Terakhir, Jumat Agung dan Sabtu Paskah, dan memuncak dalam Perayaan Malam Paskah dan berakhir dengan Ibadat Sore Minggu Paskah.

Pekan Suci dimulai pada Hari Minggu Palma, yang menghubungkan perayaan kemenangan Kristus Raja dengan pewartaan penderitaan-Nya. Pengaitan kedua aspek misteri Paskah ini harus menjadi jelas dalam perayaan dan katekese.Sejak dulu, masuknya Kristus ke Yerusalem diperingati dalam prosesi meriah; para anak-anak Ibrani menyongsong-Nya dan menyerukan “Hosana”.
Dalam setiap Gereja hanya boleh diadakan satu kali prosesi, sebelum Misa, yang dihadiri kebanyakan kaum beriman.

Dalam Prosesi Palma ini, urutannya: misdinar, Imam baru kemudian umat mengikutinya masuk ke dalam gereja, sambil mengelu-elukan, menyerukan “Hosana”. Umat mengikuti Imam, bukan sebaliknya. Menjelang gerbang/pintu masuk gereja, sekumpulan anak-anak/jemaat menyongsong sambil membawa ranting-ranting palma, dll. Sambil menyerukan hosana. Imam langsung masuk Gereja-yang masih kosong-, menuju Sakristi atau kursi imam untuk berganti pakaian. Menanti umat siap, baru melanjutkan acara..

Urutan perarakan Minggu Palma :

  1. Misdinar Pembawa wiruq/dupa bernyala
  2. Misdinar Pembawa Salib Prosesi; tanpa selubung, dihias memakai daun Palem yang telah diberkati
  3. Mengapit Salib, ada 2 orang Pembawa lilin bernyala
  4. Pembawa Evangeliarium  (bila ada)
  5. Pembawa buku Kisah Sengsara  (bila ada)
  6. Imam Selebran
  7. Umat (diawali oleh Para Petugas Liturgi Awam)

Selama prosesi hendaknya dinyanyikan oleh kor dan umat, seperti Mazmur 24 (23) dan 47 (46), atau nyanyian lain untuk menghormati Kristus Raja. Kyrie ditiadakan, perarakan ditutup dengan Doa Pembuka.

Kisah sengsara Tuhan dibawakan dengan meriah, bisa dibacakan atau dinyanyikan secara tradisional oleh tiga orang yang mengambil alih peran Kristus, Penginjil dan Umat; dalam hal ini peran Kristus dikhususkan bagi imam.

Pada pewartaan Kisah Sengsara ini tidak dinyalakan lilin, dupa, salam bagi umat dan penandaan buku tidak diadakan; hanya para diakon sebelumnya mohon berkat imam, seperti pada Injil. (Bila yang bertugas awam, tidak perlu meminta berkat. Karena ritual berkat adalah khas untuk diakon (tertahbis) sebagai petugas biasa pembaca Injil. Sedangkan bila awam yang bertugas, sebagai petugas luar biasa pembaca Injil, untuk membedakan dengan yang tertahbis tidak meminta berkat terlebih dahulu kepada selebran.

Karena manfaat rohani kaum beriman Kisah Sengsara dibawakan seutuhnya dan bacaan-bacaan sebelumnya tak boleh dilewati. Dan Setelah pembacaan Kisah Sengsara harus diadakan Homili.                          ........ bersambung

RD. Patris Alu Tampu

A. RABU ABU

Awal Prapaskah dimulai pada Hari Rabu Abu, yang tidak punya vigili. Rabu Abu itu bisa diperpanjang  sampai Sabtu sesudah Rabu abu. Dalam hitungan Masa Prapaskah, hari-hari itu, yaitu Rabu Abu, Kamis sesudah Rabu Abu, Jumat sesudah Rabu Abu dan Sabtu sesudah Rabu Abu;  dihitung sebagai satu kesatuan hari menjelang hari pertama Masa Empatpuluh Hari. Saat itulah Ritual Pemberian Abu yang dilakukan pada Rabu Abu dapat dilakukan pada tiga hari sesudah Rabu itu, bukan mendahului pada hari Selasa sebelumnya.
 
Pada Rabu Abu kaum beriman dengan menerima abu, memasuki masa yang diperuntukkan bagi pemurnian jiwa. Tanda tobat ini, yang berasal dari Tradisi Alkitabiah dan Gereja; berarti bahwa manusia itu pendosa yang mengakukan dosanya terbuka di hadapan Allah; dengan demikian ia mengungkapkan kemauannya untuk bertobat, dibimbing pengharapan agar Tuhan berbelaskasih kepadanya. Dengan tanda ini mulailah jalan tobat yang bertujuan menerima Sakramen Tobat sebelum Hari Raya Paskah.
Rabu Abu harus dijalani sebagai Hari Tobat dalam seluruh Gereja, dengan pantang dan puasa
Susunan Liturgi Misa Rabu Abu:
- Ritus Pembuka:
- Liturgi Sabda:  Bacaan – Penerimaan Abu – Doa Umat
- Liturgi Ekaristi
- Ritus Penutup
Adapun cara Penerimaan Abu pada selebran:
1) Selebran bisa memberikan abu pada dirinya sendiri, dibagian kepala atau dahinya.
2) Selebran bisa menerima abu dari diakon atau asisten imam
Minggu Prapaskah I adalah permulaan Masa Suci terhormat 40 hari. Penghitungan 40 hari Masa Prapaskah dihitung dari Minggu I Prapaskah s/d Kamis Putih (Masa berakhirnya Prapaskah) sebelum Misa Perjamuan Tuhan pada sore hari.

B.  Tentang VIGILI (= berjaga-jaga, saat Tirakatan)

Vigili, diadakan pada sore/malam hari untuk persiapan hari Minggu atau hari Raya yang akan dirayakan pada hari berikutnya. Vigili ini dalam kalender liturgi, disebut Ibadat Sore I, bacaannya diambil dari Hari yang akan dirayakannya.
Rumusan Vigili :
1. Vigili Tanpa Rumus Khusus
Bacaannya sesuai dengan hari yang akan dirayakannya. Misalnya:
a) Misa Sabtu Sore, memakai bacaan hari Minggunya
b) Misa Tgl. 31 Desember: Bacaan mengikuti Tgl. 1 Januari, yaitu HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH  (Jadi fokus ibadat penekanannya tidak hanya tutup tahun, tapi terlebih mengupas Hari Raya yang akan dirayakannya).
2. Vigili Dengan Rumus Khusus
      Bacaannya disiapkan khusus, berbeda dari hari yang dipersiapkan atau yang akan dirayakan
      Misalnya :
    a) Misa Sore Menjelang Hari Raya Natal
    b) Misa Malam Paskah
c) Misa Sore Menjelang Hari Raya Pentakosta

C.  MINGGU-MINGGU PRAPASKAH

1. Masa Prapaskah bertujuan mempersiapkan umat untuk menyongsong Perayaan Paskah; sedangkan Pekan Suci bertujuan (khusus) untuk memperingati Sengsara Kristus mulai dari peristiwa Kristus masuk Yerusalem.
2. Minggu Prapaskah I adalah permulaan Masa Suci terhormat 40 hari. Dalam Perayaan Ekaristi minggu ini, bisa diungkapkan, misalnya dengan prosesi masuk yang diiringi nyanyian Litani para Kudus.
 (Note : Hitungan 40 hari Masa Prapaskah: Minggu Prapaskah I s/d Kamis Putih sore menjelang Peringatan Perjamuan Tuhan Malam Terakhir. Sedangkan mulai Kamis Putih malam s/d Sabtu Suci Sore adalah masa puasa/tobat Tri Hari Suci).
3. Pada Minggu Prapaskah ke-4 (Laetare) dan pada Hari Raya dan Pesta, orgel dan alat-alat musik lain dapat dimainkan dan altar dapat dihias dengan bunga-bunga. Pada Minggu ini dapat juga dipakai busana berwarna merah muda. Hal ini bisa dimaknai bahwa di tengah-tengah kesedihan, duka cita selalu masih ada pengharapan dari Tuhan Allah kita.
4. Sejak Minggu Prapaskah ke-5, dapat memberi selubung kepada salib-salib dan gambar-gambar dalam gereja. Salib-salib tetap terselubung sampai akhir Liturgi Jumat Agung, tetapi gambar-gambar sampai awal Perayaan Malam Paskah.
(Note: Usai Ibadat Jumat Agung, Salib-salib sudah tidak terselubung lagi tetapi selubung  pada gambar-gambar atau patung baru dibuka sesaat sebelum Misa Malam Paskah dimulai).
………………………………  Bersambung.

RD. Patris Alu Tampu

Kitab Hukum Kanonik atau Codex Juris Canonici, yang sekarang berlaku di – Ritus Latin Gereja Katolik, diumumkan oleh Paus Yoanes Paulus II pada tahun 1983 dengan wewenang kepausan, walaupun hanya berlaku untuk Ritus Latin. Segi ini kurang dipegang secara konsekuen. Kadang-kadang Ritus Latin masih secara diam-diam disamakan begitu saja dengan Gereja Katolik seluruhnya. Hukum Gereja yang umum untuk semua ritus pernah diusahakan juga, yaitu Lex Ecclesiae Fundamentalis, tetapi penyusunannya gagal. Karena suatu komisi khusus memutuskan untuk tidak mempromulgasikan Lex Fundamentalis bagi seluruh Gereja, maka banyak kanon dari rancangan Lex ini dipindahkan ke dalam KHK pada revisi terakhir (1981) sebelum promulgasinya. Kejadian ini ikut bertanggungjawab atas sifat kHK yang ganda, yaitu hukum ritus tertentu dengan sekaligus memuat kanon-kanon hukum yang menyangkut Gereja universal. KHK mengikat hanya orang-orang Katolik yang dibaptis dalam Gereja Katolik atau kemudian diterima ke dalamnya, berusia 7 tahun ke atas dan berakal sehat (kan 11).

Hukum untuk Ritus Timur dikenal dengan sebutan Kitab Kanon-Kanon Gereja Timur atau Codex Canonum Ecclesiarum Orientalium (CCEO) diumumkan oleh paus dalam Sidang Sinode para uskup pada tahun 1990 dan diberlakukan untuk para anggota-anggota (jadi bukan untuk suatu wilayah terbatas) dari 21 Ritus Timur pada peraturan khas beberapa Gereja Timur yang bersatu dengan Roma. Kedudukan dan wewenang khusus pada  batrik Ritus – Kopt (Mesir), - Maronit (Libanon), Siria, - Melkit (Timur Tengah), Armenia dan Khaldea (Irak) diakui. Diharapkan bahwa CCEO akan mendukung usaha ekumneis dengan Gereja-Gereja  - Ortodox yang sama bahasa dan ritusnya. Kitab ini merupakan suatu ‘alternatif Katolik’ atas Kitab Hukum Kanonik (KHK) dengan memperlihatkan, bahwa masalah-masalah dapat diatur secara berbeda di suatu – communio Gereja-Gereja Partikular Katolik, bahkan termasuk masalah penting yang menyangkut struktur dasar, misalnya pengangkatan Uskup bukan oleh Paus, melainkan oleh batrik yang mengepalai suatu ritus atau – klerus yang tidak wajib berselibat.

1. Revisi KHK

Atas prakarsa Yoanes XXIII (1959) dan sebebagai tugas yang diberikan Konsili Vatikan II, maka suatu komisi khusus dibentuk sejak tahun 1965 mulai merevisi Kitab Hukum Kanonik 1917 untuk membaharui tata kehidupan gerejani. Revisi ini bukan hanya merupakan koreksi (Paulus VI) atas Kitab Hukum yang lama, melainkan suatu pembaharuan mendalam berdasarkan semangat Injil sesuai dengan ajaran Konsili. Namun demikian, KHK menggunakan beberapa dokumen Konsili dengan menerapkannya secara sempit. Komisi menggunakan nasihat dan usul – Konperensi-Konperensi Uskup seluruh dunia, khususnya beberapa uskup dan ahli hukum terpilih. KHK tidak bermaksud meneruskan pembaharuan Konsili, melainkan merealisasikan pembaharuan itu sejauh mungkin melalui jalur hukum. Mengenai maksud Kitab Hukum ini Yoanes Paulus II mengatakan dalam Konstitusi Apostolik Sacrae disciplinae leges:
Tuhan Kristus sama sekali tidak ingin menghapus warisan amat kaya dari Hukum Taurat dan para nabi, yang perlahan-lahan berkembang berkat pengalaman – umat Allah PL dalam peredaran sejarah. Ia sedemikian menggenapinya (bdk Mt 5:17), sehingga secara baru dan lebih luhur masuk ke dalam warisan PB. Memang waktu S. Paulus menerangkan – misteri Paskah, ia mengajarkan bahwa manusia tidak dibenarkan karena perbuatannya menurut Hukum, melainkan karena iman (bdk Rom 3:28; lih. Gal 2:16). Namun demikian, Paulus tidak menyangkal bahwa Kesepuluh Perintah Allah tetap berlaku dan mengikat (bdk Rom 13:8-10; lih. Gal 5:13-25; 6:2); juga ia tidak menyangkal pentingnya disiplin di Gereja Tuhan (1Kor 5 dan 6)…
Sama sekali bukan maksud Kitab Hukum ini untuk menggantikan iman, rahmat, - karisma dan terlebih-lebih cintakasih dalam kehidupan Gereja atau umat beriman. Sebaliknya, tujuan utama Kitab Hukum adalah: Menumbuhkan semacam teta-tertib dalam umat, yang memberikan tempat utama pada cinta kasih, rahmat dan karisma, dan sekaligus memudahkan perkembangan yang teratur dari semuanya itu, baik dalam kehidupan umat seluruhnya maupun  dalam kehidupan tiap-tiap anggotanya.

Kitab Hukum merupakan dokumen legislatif Gereja yang utama. Kitab ini bersandar pada warisan hukum dan perundangan dari wahyu serta – tradisi, dan harus dipandang sebagai sarana tak tergantikan untuk menegakkan ketertiban, yang seyogyanya terjaga baik dalam hidup pribadi maupun –sosial, seperti juga dalam kegiatan Gereja itu sendiri. Maka, Kitab Hukum ini terutama menetapkan unsur-unsur fundamental yang menyangkut struktur hierarkis serta organis Gereja, - entah yang ditetapkan oleh Pendiri Ilahi atau berdasar pada tradisi para Rasul ataupun pada tradisi lain yang sudah sangat tua. Lalu, di samping norma-norma pokok yang menyangkut pelaksanaan tiga macam tugas yang dipercayakan kepada Gereja, Kitab Hukum perlu juga menetpakan beberapa aturan dan norma untuk tindakan-tindakan.

Kitab Hukum sebagai sarana, sepenuhnya sesuai dengan hakikat Gereja. Hakikat ini terutama diajarkan secara umum oleh Konsili Vatikan II dan khususnya dalam ajarannya mengenai Gereja. Dalam batas tertentu, Kitab Hukum baru ini dapat dipandang sebagai usaha besar untuk mengalihbahasakan ajaran Konsili mengenai Gereja ke dalam bahasa kanonik. Walupun tidak mungkin mengalihkan citra Gereja, seperti digambarkan dalam ajran Konsili, ke dalam bahasa kanonik secara sempurna, namun Kitab Hukum harus selalu dikembalikan pada citra tadi sebagai polanya yang utama. Sebab sejauh itu mungkin – dengan mengingat sifat Kitab Hukum itu,  - Kitab itu harus mengungkapkan garis-garis besar citra tadi.”

Menurut Paus, KHK 1983 mencerminkan ajaran Konsili tentang Gereja, khususnya tentang Gereja sebagai Umat Allah (G 2) dan – communio atau persekutuan, tentang otoritas hierarkis sebagai pengabdian (G 3), lalu juga tentang hubungan antara Gereja Universal dan Gereja-Gereja Partikular, tentang semua orang beriman yang mengambil bagian dalam jabatan Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja (Kan 204, 1), yang menjadi dasar kewajiban dan hak orang beriman. Namun demikian, pandangan lama yang hierarkis-klerikal tentang Gereja tetap mempengaruhi perumusan hukum kanonik ‘baru’ ini (a.l. karena ‘perbaikan beberapa ahli’ pada menit terakhir).

KHK terdiri dari 1.752 kanon yang terbagi atas 7 buku, yaitu:

  1. Norma-Norma Umum
  2. Umat Allah
  3. Tugas Mengajar Gereja
  4. Tugas Menguduskan Gereja
  5. Harta Benda Gereja
  6. Hukuman Dalam Gereja
  7. Proses-Proses

Para gembala kini memiliki norma-norma yang pasti untuk mengarahkan kegiatan pelayanan suci mereka secara tepat. Dengan Kitab Hukum itu diberikan kesempatan kepada setiap orang untuk mengenal hak dan kewajiban masing-masing, dan ditutup jalan untuk bertindak sewenang-wenang. Penyalahgunaan yang mungkin timbul dalam tata-tertib gerejani karena tidak adanya undang-undang, kini dengan lebih mudah dapat dicegah dan dilenyapkan. Semua karya kerasulan, lembaga dan prakarsa memperoleh dasar untuk maju dan berkembang …. (Pendahuluan KHK).

2. Perkembangan KHK

Perkembangan baik yang terdapat dalam KHK menurut komentar American Canon Law Society adalah a.l.:

  • Pandangan tentang Gereja sebagai Umat Allah mengandung pandangan bahwa semua anggotanya, berdasarkan Pembaptisan mereka, diutus untuk menjalankan misi Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. 
  • Semua orang beriman pada dasarnya sama kedudukannya berdasarkan Sakramen Pembaptisan dan Penguatan.
  • Peranan aktif orang awam sebagai khas awam menjadi lebih jelas.
  • Tekanan bukan pada kedudukan pejabat, tetapi pada pelayanan mereka terhadap umat.
  • Penerimaan prinsip subsidiaritas dengan pluarisme struktural.
  • Penekanan wajar pada Gereja Partikular dan Uskup.
  • Tekanan pada tanggungjawab terhadap harta benda
  • Prioritas yang diberikan pada reksa  pastoral dan kelongggaran mengenai lembaga-lembaga kanonik untuk memudahkan misi Gereja (mis. Strukutr paroki, perayaan Sakramen-Sakramen…).

Memang, KHK jauh berbeda dari Kitab Hukum tahun 1917, yang memandang Gereja terutama sebagai suatu ‘masyarakat sempurna’ mirip dengan Negara, sehingga hukum gerejani dipikirkan, disusun dan diinterpretasikan menurut teori hukum yang umum (bukan khas keagamaan, apalagi injili.). Idealnya: suatu sistem hukum yang lengkap tanpa pertentangan. KHK 1983 lain: Gereja dipandang sebagai Umat Allah, suatu misteri atau sakramen yang mengandung unsur ilahi. Maka, bahasanya tidak semata-mata yuridis, tetapi juga bercorak teologis, khususnya jika mengutip dokumen-dokumen Konsili (walalupun tidak selalu dengan tepat). Ruang luas yang diberikan kepada para pejabat Gereja untuk menerapkan kanon-kanon umum secara supel dan manusiawi dimaksudkan demi keselamatan orang beriman (berbeda dengan hukum kenegaraan).

3. Pada Kehendak Allah: Walaupun Tidak (Mungkin) Sempurna

Setiap hukum bersifat manusiawi dan karenanya kurang sempurna. Beberapa kemajuan besar KHK dibanding Kitab Hukum 1917 sudah dicatat di atas. Namun demikian, tidak semua harapan yang antara lain diungkapkan juga dalam Konsili, terpenuhi. Ketentuan KHK mengenai kerjasama dan ikut bertanggungjawabnya kaum awam serta tugas-tugas resmi mereka dalam Ibadat, kurang mendukung perkembangan yang lebih lanjut. Hal ini berhubungan dengan gejala-gejala klerikalisme, khususnya kecenderungan sentralistis yang menguatkan kedudukan – batrik di Ritus Latin, yaitu uskup Roma atau Paus. Walaupun kedudukan uskup diosesan dalam Gereja Partikular ditonjolkan, namun dalam Konsili Ekumenis tidak dibicarakan sebagai lembaga kanonik dalam Gereja, dan Sinode Uskup Sedunia tetap lembaga konsultatif semata (Kan 342 – 348).

Dalam hukum konstitusional Negara tiga kekuasaan – legislatif, yudikatif dan eksekutif – jelas-jelas dibedakan dan saling mengimbangi, supaya para warganegera terlindung dari kekuasaan pemerintah yang raksasa. Dalam KHK, ketiga kekuasaan tersebut berpusat pada paus untuk Gereja seluruhnya, dan pada uskup diosesan untuk Gereja Partikular (bdk Kan 135, 331, 391). Memang, hukum kanonik tidak berdasarkan mandat umat beriman, dan tidak menopang keseimbangan ketiga kekuasaan. Inspirasi hukum gerejani harus dicari dalam Injil dan tradisi Gereja (yang dilihat secara kristis). Akan tetapi, keyakinan itu tidak mengharuskan KHK bercorak begitu hierarkis, artinya vertikal saja sehingga segi horisontal hampir tidak ada; misalnya, pengadilan administratif tersendiri tidak ada lagi (walaupun dalam konsep 1980, Kan 1689 – 1692, masih terdapat). Maka, naik banding terpaksa harus diajukan di dalam jalur administrasi itu sendiri (bdk Kan 1400). Sehatnya pola itu pantas diragukan dan tidak dapat dikatakan ‘seharusnya demikian’ dalam Gereja karena itu Gereja. Maka, daftar hak-hak dasar orang beriman (Kan 208 – 223 ) masih perlu dilengkapi. Berhubungan dengan sifat itu: KHK agak sering mengizinkan bahwa ‘ dispensasi’ atau ‘eksemsi’ diberikan oleh mereka yang berwewenang (bdk Kan 85-93).

Berlakunya KHK tergantung dari penerimaan oleh Gereja seluruhnya. Memang, menurut teori pengumuman, hukum berlaku dengan diumumkan, tetapi menurut teori – resepsi, hukum berlaku sesudah diterima oleh seluruh Gereja. Roma berpegang pada teori pertama; kenyataan mendukung teori kedua. Para ahli hukum sesudah berhasil meyakinkan umat bahwa KHK cukup transparan terhadap hukum ilahi, dan dengan demikian akhirnya pada kehendak Allah, walaupun tidak (mungkin) secara sempurna.

P. Alex Dato'L, SVD

Tema Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2016 adalah Keluarga yang Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah. Tema umum ini akan ditutup dengan sub tema pada pertemuan terakhir yaitu Bersaksi dan Mewartakan di Tengah Masyarakat. Tugas utama seorang murid Kristus adalah ikut ambil bagian dan dalam tugas pewartaan kabar gembira di tengah masyarakat. Oleh karena itu, marilah kita dalami tema ini bersama melalui teks Kitab Suci yang diambil dari Injil Matius 5:13-16, yaitu tentang Garam dan Terang Dunia. Pesan Yesus dalam perikop ini sangat sederhana, namun mengandung makna yang sangat mendalam. Yesus mengharuskan kita semua sebagai murid-murid-Nya untuk menjadi garam dan terang dunia.

Menjadi garam dunia. Dalam kehidupan sehari-hari tentu kita sudah akrab dengan garam. Garam mengandung banyak fungsi yang membawa kebaikan. Garam biasa digunakan sebagai bumbu dasar untuk memberi rasa yang enak pada masakan. Garam bisa digunakan untuk mengawetkan bahan makanan. Dalam Kitab Suci ditunjukkkan juga berbagai fungsi dari garam, antara lain: Garam menjadi bahan utama dalam persembahan (Im. 2:13 dan Yeh. 43:24). Garam disebut dalam “pernjanjian garam” (Bil. 18:19; Im. 2:13; 2Taw. 13:5), hal ini berkaitan dengan fungsi garam sebagai pengawet dan membuat makanan bertahan lama. Garam berguna untuk menyucikan air (2Raj. 2:19-23). Garam juga dihubungkan dengan perdamaian (Mrk. 9:50), hal ini berhubungan dengan perjanjian garam, orang diikat dalam janji untuk saling setia. Mungkin masih banyak fungsi lain yang belum kita ketahui dalam penggunaan garam. Dalam konteks kemuridan Yesus, menjadi garam dunia berati berani menunjukkan identitas sebagai murid Yesus kepada masyarakat luas. Setiap murid Yesus harus menjadi tanda kehadiran Tuhan dan menghantar orang kepada untuk semakin dekat Tuhan.

Menjadi terang dunia. Terang bisa dikatakan menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Kita tidak akan bisa melakukan banyak hal bisa berada dalam kegelapan. Semua orang menginginkan dan membutuhkan terang dalam hidupnya agar dapat melakukan banyak hal yang berguna. Kitab Suci juga sering kali mengunakan kata terang. Terang menjadi ciptaan pertama yang diciptakan Tuhan (Kej. 1:3). Ketika di padang gurun, Tuhan datang dalam bentuk tiang api untuk menerangi dan menuntun umat Israel (Kel. 13:21). Ketika dalam kekelaman, umat Israel juga dijanjikan raja damai yang akan lahir sebagai terang yang besar (Yes. 9:1). Injil Yohanes juga secara eksplisit menyebut Yesus sebagai Terang (Yoh. 1:9). Terang memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan sehari-hari. Terang mampu membuat kita melihat segala sesuatu. Esensi dari terang adalah menampakkan hal-hal yang tersembunyi. Terang membuat kegelapan sirna. Terang bisa menjadi penuntun dalam kegelapan. Orang yang berada dalam kegelapan akan mencari penerangan yang dapat menuntun mereka kepada tujuan yang benar. Dalam konteks sebagai murid Yesus, menjadi terang dunia berarti berani memberikan kesaksian hidup yang baik, yang jauh lebih berdaya guna dari pada kata-kata. Tindakan dan praktek hidup yang ditunjukan harus mampu membawa orang lain kepada keselamatan.

Yesus berharap agar kita sebagai pengikut-Nya dapat menjadi garam dan terang di tengah dunia. Jangan sampai garam menjadi tawar dan terang yang kita miliki ditempatkan di bawah gantang. Esensi dari garam adalah asin. Jika garam menjadi tawar tentu akan kehilangan rasa asin, berarti kehilangan identitasnya. Penginjil memakai kata moraino untuk menggambarkan garam yang menjadi tawar. Selain berarti “menjadi hambar” kata moraino juga berarti “menunjukkan kebodohan” atau “menjadi bodoh.” Seorang pengikut Kristus yang tidak menjadi garam di tengah dunia sama dengan orang yang “menjadi bodoh” dan kehilangan identitas kemuridannya. Dalam hal terang, Yesus mengambarkannya dengan pelita yang bernyala. Sangat ironis jika pelita yang bernyala diletakan di bawah tempayan. Yesus menggunakan kata modios untuk mengambarkan tempayan. Modios biasa digunakan sebagai tempat untuk mengukur gandum. Meletakan pelita di bawah modios merupakan sebuah tindakan yang bodoh karena tidak membawa kegunaan apa pun. Pelita akan berguna jika diletakan di atas kaki pelita dan menerangi seluruh isi rumah. Inilah yang Yesus harapkan dari para pengikut-Nya.

Pada akhir perikop, Yesus memberi kesimpulan atas wejangannya dengan mengatakan: “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat.5:16). Ada dua hal yang dapat dipetik dari kesimpulan Yesus tersebut. Pertama, menjadi garam dan terang dunia harus diwujudkan dalam bentuk perbuatan baik. Setiap orang adalah orang yang baik. Perbuatan baik harus ditampakkan kepada sesama. Menjadi pengikut Yesus berarti berani menunjukkan dan mempromosikan perbuatan-berbuatan baik yang telah diajarkan Yesus. Jika semua orang menunjukkan kebaikan tentu dunia akan terasa damai dan menenangkan. Sebaliknya jika kebaikan yang dimiliki tidak ditampakkan maka dunia akan terasa suram, penuh kecurigaan dan kejahatan. Kedua, ketika seorang pengikut Kristus mampu setia dalam menunjukkan perbuatan baik kepada sesama, maka orang yang melihat dan merasakannya akan memuliakan Bapa yang di surga. Tujuan dari menjunjukkan kebabaikan adalah agar orang semakin merasakan kasih dan kebaikan dari Bapa sendiri, sehingga nama Bapa semakin dimuliakan. Sebagai pengikut Kristus, kita telah menerima kebaikan yang bagitu besar dari-Nya oleh karena itu kita harus memantulkan cahaya kebaikan itu kepada semua orang. Inti dari perumpamaan garam dan terang dunia yaitu bagaimana keterlibatan kita sebagai pengikut Kristus dalam mewujudkan kebaikan dan nilai cinta kasih di tengah dunia. Tuhan memberkati.

Tanpa terasa kita telah memasiki pekan ketiga dalam Bulan Kitab Suci Nasional. Tema yang akan direnungkan dalam pertemuan ketiga ini yaitu: Bersaksi dan Mewartakan dalam Gereja. Tema tersebut merupakan kelanjutan dari tema-tema pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan pertama dengan tema “Yesus Model Pewarta Sejati”, kita diajak untuk melihat dan menjadikan Yesus sebagai model dan pusat pewartaan kita di tengah dunia. Pertemua kedua dengan tema “Bersaksi dan Mewartakan dalam Keluarga”, kita diajak untuk menyadari tugas dan tanggung jawab masing-masing, sehingga mampu menjadi teladan yang menghadirkan dan mewartakan Kristus di dalam keluarga.

Dalam pertemuan ketiga ini, kita diajak untuk bersama-sama merenungkan kisah pelayanan dan pewartaan Paulus di Korintus melalui teks Kitab Suci yang diambil dari Kis. 18:1-8. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari kisah pewartaan yang dilakukan Paulus di Korintus. Paulus dapat kita jadikan teladan dalam bersaksi dan mewartakan Kristus di tengah dunia. Situasi Korintus pada jaman Paulus mungkin berbeda dengan situasi saat ini, namun semangat pewartaan Paulus dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk memberikan kesaksian dan pewartaan kepada sesama. Ada pun hal-hal yang dapat diteladani dari pelayanan dan pewartaan Paulus, antara lain:

1. Sadar akan panggilan sebagai pewarta.
Fakta yang dapat ditangkap dari situasi umat beriman saat ini yaitu kurangnya kesadaran akan panggilan dan tanggung jawabnya sebagai pewarta kabar sukacita. Umat beriman sering kali beranggapan bahwa tugas untuk mewartakan hanyalah tanggung jawab para klerus, biarawan-biarawati dan katekis. Kalau pun ada umat awam yang terlibat dalam pelayanan hanya sebatas agen pastoral terstuktur, seperti Dewan Pastoral Paroki (DPP), Tim Pastoral Lingkungan (TPL), Ketua Lingkungan, dan lain sebagainya. Akhirnya, umat beriman kurang memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk mewartakan dan bersaksi tentang Kristus. Seharusnya setiap umat beriman yang telah dipersatukan dan diteguhkan melalui sakramen baptis dan krisma, berusaha mewujudnyatakan dan menghidupi rahmat Roh Kudus yang telah diterima. Setiap umat beriman dituntut untuk  membantu karya misi Gereja dengan mewartakan dan bersaksi tentang Kristus di mana saja berada. Kesadaran ini harus tumbuh dari dalam diri setiap individu. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam menumbuhkan kesadaran untuk bersaksi dan mewartakan Kristus.

2. Pewaertaaan dimulai dari dalam Komunitas (Keluarga)
Komunitas (keluarga) merupakan tempat berhimpunnya orang-orang beriman yang menjadi rekan untuk menimba pengalaman, kekuatan dan kehidupan rohani. Inilah yang dialami oleh Paulus, ketika Paulus ingin memulai pewartaan dan kesaksiannya di tengah jemaat Korintus, ia menumpang di rumah keluarga Akwila dan Priskila. Paulus menumpang di rumah keluarga ini karena mereka seiman dan seprofesi sebagai tukan tenda. Tentu hal ini memudahkan Paulus untuk memperoleh kekuatan rohani dan bantuan finansial sebab mereka bekerja bersama. Kita sebagai umat beriman yang pada umumnya hidup dan dibesarkan dalam keluarga tentu telah memperoleh kekuatan iman yang baik melalui orang tua dan saudara-saudara kita lainnya. Kita juga memporoleh dukungan finansial yang cukup untuk kehidupan kita. Oleh karena itu, merupakan sebuah keharusan bagi kita untuk dapat menjadi pewarta dan bersaksi tentang Kristus kepada sesama.

3. Pelayanan tanpa upah
Paulus memberikan contoh dan teladan yang baik bagi kita dalam pelayanan dan pewartaannya di Korintus. Paulus sama sekali tidak ingin membebani orang lain dengan kedatanganya untuk mewartakan Kristus. Ia berusaha untuk terus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Bahkan maksudnya untuk tinggal di rumah Akwila dan Priskila adalah agar dapat bekerja bersama karena mereka seprofesi sehingga ia tidak membebani orang lain. Paulus pun mempunyai misi untuk mewartakan dan bersaksi tentang Yesus tanpa upah. Semangat Paulus ini tentu dapat kita teladani dalam menjalankan tugas pewartaan kita di tengah umat beriman. Jangan sampai tanggung jawab kita sebagai umat beriman untuk mewartaan dan bersaksi tentang Kristus dihalangi oleh kesibukan untuk mencari harta dunia. Jangan sampai pula pelayanan dan perwartaan yang kita lakukan hanya bertujuan untuk menumpuk kekayaan sehingga membebani orang lain dan menyulitkan orang lain.

4. Tidak pernah putus asa
Dalam menjalankan misi pewartaanya di Korintus, Paulus juga mengalami penolakan oleh jemaat setempat. Namun, Paulus tidak pernah putus asa, ia keluar dari rumah ibadat tersebut dan kembali mencari tempat lain yang dekat dengan tempat ibadah sehingga ia dapat mewartakan dan bersaksi tentang Kristus. Kegigihan dan semangat pantang menyerah Paulus ini patut diteladani. Dalam melakukan karya pelayanan dan pewartaan pasti akan ada pro dan kontra. Ada orang yang mungkin menolak karena iri hati. Ada orang yang mungkin membuang kata-kata yang kurang mengenakan kepada kita. Tentu ini semua merupakan tantangan yang bukan untuk dihindari tetapi harus dihadapi mungkin dengan metode dan cara pewartaan yang berbeda. Tuhan pasti punya rencana yang baik agar karya pewartaan-Nya terus berlanjut. Dalam keadaan sulit dan mengalami penolakan berarti usaha dan semangat kita diuji untuk memperoleh ketahanan yang lebih dan melihat besarnya karya Tuhan dalam pelayanan dan pewartaan.

Berkaitan dengan pewartaan dan kesaksian iman tentu Allah tidak pernah tinggal diam. Dia melihat semua usaha dan perjuangan kita dalam bersaksi dan mewartakan Kristus kepada semua bangsa. Ia akan memberikan ganjaran yang setimpal yaitu dengan hadirnya bantuan-bantuan dan semakin banyaknya orang-rang yang menerima dan meymberikan diri untuk melayani Kristus.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget