MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Kelompok Kategorial"

KURIA BUNDA PEMERSATU KEUSKUPAN PALANGKA RAYA, KALTENG
DAN KURIA RATU ROSARI KEUSKUPAN BANJARMASIN, KALSEL

Aula Palangka Wacana, Soverdi  Senin, 31 Maret pk. 07.30 WIB dipenuhi para legioner dari dua keuskupan Banjarmasin lebih kurang 70 legioner  dan Keuskupan Palangka Raya Kurang lebih 210 legioner. Para legioner ini bukannya mau unjuk rasa, melainkan meluapkan rasa syukur dan kegembiraannya  dalam misa Acies  yang dipimpin oleh Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF, uskup Palangka Raya  didampingi Mgr. Petrus Bodeng Timang, Pr, uskup Banjarmasin dan 6 pastor pemimpin rohani  Legio Maria yaitu RD. Simon Edi Kabul, RP. Andy Savio Mering, MSF, RP. Ariston, SMM, RP. Damianus Juin, CP, RP. Alex Dato, SVD dan RD. Lucius, SVD.  Dalam kotbahnya Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF diantaranya
menyampaikan nasihat dan keutamaan St. Paulus bahwa kesengsaraan menimbulkan ketekunan dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan dan pengharapan yang disampaikan oleh Yesus tidak mengecewakan. Lebih lanjut Bapa Uskup menekankan tentang ajaran resmi gereja tentang Bunda Maria yang pertama adalah Bunda Maria sebagai Bunda Allah yang dirayakan setiap permulaan tahun yaitu pada tanggal 1 Januari. Bunda Maria Bunda Allah sekaligus dikaitkan dengan hari perdamaian sedunia.

Legio Maria dengan cara yang khusus ingin mencontoh dan meneladani Bunda Maria tentu harus merenung lebih jauh, tentang peranan Bunda Maria, seperti yang diajarkan oleh gereja itu. Ajaran resmi gereja yang ke-2 yaitu bahwa Santa Perawan Maria diangkat ke surga dengan mulia dirayakan pada tanggal 15 Agustus dan itu dimaklumkan pada tanggal 1 November 1950.
Ajaran resmi ini relatif masih agak baru untuk gereja. Di sana banyak bahan yang perlu direnungkan, bagaimana mungkin santa Perawan Maria itu diangkat ke surga. Apakah Bunda Maria tidak wafat. Bunda Maria diangkat ke surga dengan pakaian seperti apa, ketika diangkat ke surga dengan mulia itu. Setelah mempelajari dengan seksama, maka rupa-rupanya ada hal yang mau ditegaskan oleh gereja dengan arti sejiwa raga.  Ajaran resmi gereja yang ke-3 adalah Hari Raya Santa Perawan Maria yang dikandung tanpa noda yang jatuh pada tanggal 8 Desember. Percaya bahwa Maria dikandung tanpa noda dosa asal apapun. Bunda Maria dijaga oleh Tuhan agar kekudusannya tidak hilang dan dipenuhi dengan rahmat ilahi.

Sebelum berkat penutup, Mgr. Petrus Bodeng Timang, Uskup Banjarmasin mengungkapkan rasa bangganya kepada para legioner yang hadir dari 2 keuskupan dan mengingatkan bahwa acies adalah gelar pasukan Romawi yang siap pergi bertempur. Setiap tahun acies diselenggarkan untuk menggelorakan semangat bahwa iblis itu masih berkeliaran di dunia ini dan tidak perlu takut, tapi ia harus dikalahkan. Para legioner berjanji di hadapan Bunda Maria “Aku adalah milikmu, ya ratu dan bundaku dan segala milikku adalah kepunyaan-Mu”, baik itu waktunya, pikirannya, hatinya, kemauannya dan apapun yang ada pada kita bahkan tabungannya kalau perlu jangan sampai menjadi halangan. Macam-macam hambatan itu adalah milik bunda Maria, sekali lagi untuk menandakan kesetiaan kita bersama bunda Maria dan Puteranya memerangi macam-macam kejahatan. Legio Maria tampil sebagai tangan kanan Pastor. Semoga janji tadi tidak hanya kepada Bunda Maria, tapi katakanlah kepada para pastor paroki “kami siap untuk bertempur di medan apapun yang ditunjukan Uskup dan Pastor Paroki bagi kami”.
Misa acies ini diakhiri dengan makan siang bersama pk. 11.00 WIB

Sebelum misa acies acara ini telah dimulai sejak sabtu, 29 Maret sore sampai Minggu, 30 Maret pk. 21.30 WIB diisi pembinaan oleh  senatus Bejana Rohani Jakarta dengan tema “Bertumbuh dalam cinta, bertumbuh dalam kebijaksanaan”.

Sabtu malam usai pembinaan diadakan temu dewan terdiri dari  perwira presidium , pembina Rohani dan dewan  kuria Bunda Pemersatu dengan Dewan Senatus Bejana Rohani Jakarta membicarakan seputar Katekismus Gereja Katolik dan pembentukan Dewan Pra Kuria di Palangka Raya.
Dengan berbagai macam pertimbangan diantaranya perluasan/ perkembangan legio yang diluar dugaan di wilayah keuskupan Palangka Raya, terutama dekenat Barito dan Palangka Raya, serta demi efektifitas pendampingan dan didukung semangat para perwira dan legionernya, maka Dewan Senatus Jakarta setelah berkonsultasi dengan Bapa Uskup Palangka Raya merestui dan mengijinkan dibentuknya Pra Kuria di Palangka Raya yang meliputi wilayah Barito dan Palangka Raya. Diambil kesepakatan Minggu, 4 Mei 2014 Rapat bersama Dewan Kuria di Palangka Raya untuk mewujudkan hal tersebut. Pertemuan ini berakhir pk. 23. 10 WIB.
Minggu siang pk. 13.30 – 15.30 Rapat kuria Bunda Pemersatu di aula komisi dihadiri sdra. Elang dari Senatus Jakarta dan para perwira dari presidium dalam wilayah keuskupan Palangka Raya berjumlah 66 orang. Dalam rapat diresmikan 3 presidium, Maria dari Fatima, trans Anjir Pulang Pisau, Maria Gaudalupe, Sei Kayu Kuala Kapuas & Maria Ratu Para Rasul Palangka Raya. Disampaikan pula surat dari RD. Thomas Ehe Tukan, Rektor Seminari prihal divakumkan/dibekukannya 2 presidium di seminari. Usai makan malam, para legioner kuria Bunda Pemersatu berkumpul bersama saling bertukar pengalaman, dialog, sharing dan rekreasi bersama s.d. pk. 21.45 WIB.

Terimakasih kepada Bapa Uskup dan Dewan Keuskupan Palangka Raya yang telah mengijinkan aula Magna (walau masih dalam proses finishing) untuk bermalam para legioner dari paroki-paroki luar kota yang jumlahnya mencapai 150-an legioner. (Wiwik)

Fr. Penta Lima
Bunda Maria sebagai teladan Iman dan perbuatan umat Kristiani, terutama bagi para anggota Legio. Legioner harus memiliki jiwa Maria yang luhur. Hal itu disebabkan bukan karena kita menggunakan nama Maria dalam kelompok ini, tetapi karena kita menggunakan spiritualitas dan kerasulan berdasarkan prinsip kesatuan dengan Bunda Maria sendiri.

Legio merupakan kata dari bahasa Latin yang memiliki arti tentara atau pasukan. Tentara dan senjata anggota Legio Maria bukan dari dunia ini, tetapi semuanya berasal dari Allah, melalui bimbingan Roh KudusNya, dan doa Bunda kita tercinta. Maka dari itu sudah sepatutnyalah di dalam jiwa para Legioner tertanam kepasrahan kepada Allah bersama Bunda Maria, tumbuh dan berkembang semangat untuk senantiasa memuji dan meluhurkan Allah dalam doa-doa, serta berkobar semangat untuk menyebarkan cinta kasih, kebaikan di tengah-tengah dunia.

Jika kita ingin mengubah dunia melalui kebaikan, maka ubahlah diri kita terlebih dahulu menjadi baik adanya dengan cara membina, menepa, mengasah suara hati yang merupakan tempat dimana Allah menyapa di kedalaman  hidup kita. Allah sebagai pilar, pondasi, dasar, dan pegangan hidup para Legioner dalam menghadapi tawaran kenikmatan dunia. Sementara Bunda Maria sebagai teladan hidup dalam ketajaman menggunakan hati nurani dan mendengarkan kehendak Allah. Kita semua tanpa terkecuali diajak untuk senantiasa mewartakan Injil dalam setiap detik kehidupan tingkah laku. Mempengaruhi, merasuki, menularkan orang-orang yang dijumpai dengan suatu virus, yaitu virus cinta kasih, semangat Injili, dan spiritualitas Bunda Maria. Legioner sebagai agen utama penyebaran virus itu di tengah keluarga, Gereja, lingkungan sekitar, bangsa, dan akhirnya dunia secara umum. Agar semua orang diajak untuk bisa sampai menuju Yesus Kristus melalui dan bersama Bunda Maria (Per Mariam ad Jesum).

Cinta kasih, kebaikan, semangat injili, dan spiritualitas Maria jangan dipendam seorang diri. Jika hal itu yang terjadi maka segalanya akan menguap dan menghilang ditelan waktu dan zaman serta tanpa menghasilkan buah. Tetapi semuanya itu harus diungkapkan, dibagikan, dicurahkan, dituangkan, disebarkan ke semua orang dan seluruh dunia tanpa terkecuali. Legioner sejati senantiasa berusaha meneladani Bunda Maria sebagai teladan utama beriman kepada Yesus dan bersikap sebagai seorang Kristiani sejati. Seperti yang Bunda katakan “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut kehendakMu”. Semangat Legio Maria adalah semangat/spiritualitas Maria itu sendiri. Di dalamnya terdapat kerendahan hati, ketaatan dan kepasrahan kepada Allah, hidup doa yang konstan dan mantap, bermati raga-puasa, kemurnian hati, pengorbanan, dan kepercayaan penuh hanya kepada Allah. Teladan Bunda Maria hanya kita dapatkan dalam refleksi yang bersumber dari Kitab Suci.

Kita mencoba merenungkan teladan Bunda Maria dalam salah satu perikop Kitab Suci yaitu Pengalaman Iman Bunda Maria Pada Pesta Perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Mukjizat yang terjadi pada peristiwa perkawinan di Kana adalah mukjizat yang pertama kali dilakukan oleh Yesus. Perkawinan dapat kita artikan sebagai suatu lambang suci, persatuan antara Allah dan manusia, serta persatuan antara Bunda Maria dan Puteranya Yesus dengan Gereja dan umat. Pesta perkawinan merupakan suatu suasana sukacita. Identik dengan itu, Kerajaan Surga adalah suatu tempat yang membahagiakan manusia dan menjadi tujuan yang dirindukan oleh semua manusia.
Si empunya pesta kekurangan anggur. Mereka menjadi panik, cemas, dan gelisah. Kalau zaman sekarang bisa dikatakan sedang galau. Kejadian tersebut sesungguhnya mewakili kita sebagai manusia yang banyak memiliki kekurangan. Tiada manusia yang sempurna. Kedatangan Yesus membawa pengharapan nyata yang mengubah hidup manusia menjadi lebih baik. Tokoh sentral pada perkawinan di Kana adalah Yesus yang tampil perdana di depan umum bersama murid-muridNya. Posisi Maria berada di antara Yesus dengan para tamu undangan di pesta. Yesus adalah sang pemeran utama.

Kehadiran kaum wanita/ibu-ibu dalam suatu pesta perkawinan biasanya bukan sekedar duduk sebagai undangan yang terhormat. Mereka hadir untuk ikut membantu tuan rumah dalam urusan dapur, masak-memasak, menghias tempat pesta, menghias kamar pengantin, penerima tamu, merias pengantin. Ibu-ibu biasanya terlibat dalam seksi konsumsi dan seksi sibuk lainnya. Bunda Maria pun turut hadir dan terlibat dalam seksi sibuk pada pesta tersebut. Bunda Maria yang sebagai Bunda Allah, ibu dari Yesus Sang Penyelamat Manusia mau hadir dan berkotor tangan mengurusi urusan dapur. Maria jika mengedepankan status dan kedudukannya sebagai Bunda Allah pasti tidak akan hadir dalam pesta tersebut. Seandainya hadir pun Maria pasti hanya duduk manis menikmati jamuan pesta. Tapi semua hal itu tidak dilakukan Maria. Ia dengan segala ketulusan dan kerendahan hatinya mau membantu dan terlibat penuh. Bunda Maria hadir sebagai wujud solidaritas sosial kepada sesama.

Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada Yesus: “Mereka kekurangan Anggur” (Yoh 2:3). Minuman  anggur bagi orang Yahudi adalah minuman pokok. Kehabisan anggur adalah suatu aib. Mencoreng kehormatan keluarga besar kedua mempelai. Maria sebagai seorang ibu selalu peka memperhatikan kesulitan dan kebutuhan di sekelilingnya. Sifat keibuan Maria mendorongnya untuk mengambil inisiatif meminta kepada Yesus agar melakukan suatu tindakan yang dapat menolong si empunya pesta. Maria memiliki keyakinan dan iman bahwa Puteranya yang terkasih itu dapat melakukannya. Ia mengambil inisiatif menjadi pengantara  untuk mempersatukan kita dengan Yesus.
Ia berpaling kepada Yesus untuk mengatakan, “Mereka kekurangan anggur”. Perkataan Maria kepada Yesus dilakukannya untuk meminta perhatian Yesus bagi si empunya pesta. Si empunya pesta itu mewakili kita manusia. Sebaliknya Maria berpaling kepada kita manusia agar meminta pertolongan  kepada Yesus Sang Juru selamat. Jawaban Yesus pertama kali jika kita tafsirkan secara bebas mengartikan suatu penolakan Yesus untuk mengabulkan permohonan ibuNya.  “Mau apakah engkau daripada-Ku ibu? SaatKu belum tiba” (Yoh 2:4). Namun karena yang meminta permohonan adalah ibu tercinta, maka hati Yesus luluh dan mengabulkannya. Hal ini sebagai cerminan doa permohonan yang kita sampaikan kepada Tuhan bersama dengan Bunda Maria. Kita percaya bahwa doa-doa kita sebagai seorang Legio bersama Bunda Maria tercinta, akan disampaikan kepada Yesus PutraNya terkasih.

Perkataan “penolakan” Yesus itu dapat kita lihat dari dua sisi berbeda. Pertama, Maria sebagai ibu Yesus melaporkan kepada Yesus bahwa tuan rumah kekurangan anggur dan dengan itu mengharapkan agar Yesus mau berbuat sesuatu untuk menyelamatkan situasi krisis yang sedang dihadapi manusia. Kedua, sesungguhnya Yesus mau menjelaskan bahwa Dia hanya dan harus menjalankan kehendak BapakNya di surga. “SaatKu belum tiba”, menunjukkan bahwa masih terlalu dini mengerjakan mujizat ini. Akan tiba saatnya Ia membuktikan Kerajaan Allah sudah datang diantara mereka dan Ia akan membuat banyak mukjizat. Mukjizat terbesar adalah kebangkitanNya setelah wafat dan penebusan umat manusia.
Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu“  Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu, “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air. Dan mereka pun mengisinya sampai penuh”. Maria dengan caranya sendiri telah menanam benih kepercayaan dalam diri para pelayan (kita umat manusia) kepada Yesus dalam hati mereka. Mukjizat menuntut iman dan kepercayaan dan harus dimulai dengan tindakan aktif dari manusia. Tanpa usaha yang digabungkan dengan doa dari manusia, maka mukjizat tidak akan terjadi.

Lalu kata Yesus kepada mereka  “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta”. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air yang telah menjadi anggur itu dan ia juga tidak tahu darimana datangnya, tetapi pelayan-pelayan yang mencedok air itu  mengetahuinya. Para tamu memanggil mempelai laki-laki dan berkata kepadanya, “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik, akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik ini sampai sekarang“.
Hanya Maria, para pelayan, dan beberapa murid Yesus yang tahu bagaimana Yesus baru saja menyelamatkan si empunya pesta dari situasi kritis. Mukjizat juga terjadi sehari-hari dalam kehidupan umat manusia. Kita memiliki keyakinan bahwa Bunda Maria senantiasa berdoa bagi kita anak-anaknya yang berada dalam kesusahan. Bagaimana Kita menanggapi cinta kasih Bunda Maria sebagai seorang Legioner?

Kita mendalami spiritualitas Bunda Maria dalam perikop Kitab Suci ini dengan beberapa pertanyaan penuntun dan disharingkan bersama.  
1. Apa yang menarik dari peristiwa pesta pernikahan di Kana ?
2. Pengalaman iman dan sikap bijak apa yang dapat kita tarik dari Bunda Maria dalam peristiwa ini?
3. Carilah dan tuliskan secara singkat suatu pengalaman ketika kita memberikan pertolongan kepada orang yang kesusahan/miskin? Sudahkah pertolongan itu kita berikan dengan tulus? Atau masih ada keinginan untuk mendapatkan suatu balasan (do ut des)!

Fr. Penta Lima
Calon Imam Keuskupan Palangka Raya
Rekoleksi Legio Mariae, 15 Oktober 2013

Suasana Rekoleksi
Foto: C. Wiwik Handayani
Sebagai ungkapan syukur atas Hari Ulang Tahun Legio Maria ke-92,  pada tanggal 15 Oktober 2013, 16 Presidium Legio Mariae dalam wilayah Dekenat Palangka Raya (Kuala Kapuas, Pulang Pisau, Kuala Kurun, Yesus Gembala Baik & Katedral St. Maria Palangka Raya) dan Dekenat Barito (Muara Teweh & PIR Butong) mengadakan temu muka yang di kemas dalam 3 acara yaitu Rekoleksi, Pertemuan Para Perwira dan Misa Syukur.

Rekoleksi Legio Maria yang diikuti oleh 95 legioner ini diselenggarakan di aula Sekolah Tinggi Pastoral Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya, mendalami tema “Bunda Maria Teladan Iman Para Legioner” dipimpin oleh Fr. Bernadinus Penta Putra Hennardi, Pr.  Dalam paparannya Fr. Penta mengajak para legioner untuk lebih mendalami bahwa para  Legioner memiliki jiwa Maria yang luhur.

Suasana Misa Syukur, diawalai dengan doa Tesera
Foto: C. Wiwik Handayani
Sementara di ruang pertemuan Seminari “Raja Damai”, diadakan pertemuan bersama 30 perwira dan 5 Pemimpin Rohani  yang dipimpin oleh ketua kuria Sdra. Yustinus Ruslim dan moderator Sdra. Wilhelmus Y. Ndoa. Pertemuan yang bertema “Legio Mariae, Tantangan dan Peluang” ini bertujuan untuk evaluasi sekaligus menjalin kebersamaan dalam meningkatkan kualitas dan komitmen para legioner sebagai dasar menjalankan sistem Legio Mariae. Dalam upaya menanggapi tantangan dan peluang, para peserta pertemuan menyampaikan tumbuh kembang serta tantangan yang dihadapi oleh masing-masing presidium. Dari sharing dan evaluasi berhasil dirumuskan rekomendasi diantaranya mengembangkan semangat kebersamaan dan  persaudaraan serta kerjasama agar presidium-presidium menjadi lebih hidup, berkualitas dengan demikian Kerasulan Legio Mariae cepat berkembang dan ada di setiap paroki.

Foto Bersama Presidium "Maria dari Fatima"
Trans Anjir Pulang Pisau
Foto: C. Wiwik Handayani
Usai rekoleksi dan pertemuan acara dilanjutkan Misa syukur HUT ke-92 Legio Mariae. Misa dipimpin oleh Rm. Alex Dato, SVD didampingi P. Al. Gonzaga Arjon, Pr, P. Kosmas Ambo, SMM, P. Damianus Juin, CP dan P. Lucius, SVD. Dalam kotbahnya P. Alex, SVD mengingatkan kembali akan sejarah berdirinya Legio Maria oleh Frank Duff pada tanggal 7 September 1921 yang patut disyukuri bersama. Legio Maria telah berkembang dengan pesat di seluruh dunia dan telah berkarya nyata sebagai sumbangan yang besar bagi karya kerasulan gereja.  Usai syahadat Para Rasul, pengucapan janji sekitar 50 anggota Legio Mariae yang telah memenuhi syarat keanggotaan dan belum mengucapkan janji. Misa yang dimeriahkan koor presidium “Maria Ratu Para Rasul” ini berakhir pk. 13.45 WIB. Harapan para legioner, acara seperti ini bisa diselenggarakan setiap tahun, selain jiwa yang  disegarkan, saling bertemu, tatap muka, sharing bersama menambah erat tali persaudaraan dan saling menguatkan sebagai legioner. *wi2k*



Legio Mariae merupakan kerasulan awam Katolik yang didirikan oleh Frank Duff di Dublin Irlandia 7 September 1921. Legio Maria kini telah berkembang pesat dan dapat ditemukan hampir di setiap negara di dunia serta mempunyai anggota aktif hampir 3 juta orang. Di Keuskupan Palangka Raya telah berdiri satu Kuria "Bunda Pemersatu" di Sampit membawahi 36 presidium, dengan jumlah anggota  305 orang anggota aktif  dan 42 orang anggota auksilier.

Di Palangka Raya Legio Maria pernah ada yang dibentuk pada tanggal 6 Maret 1988 dengan nama presidium “Ratu Para Rasul” pendirinya diantaranya P. Norbet Betan, SVD sebagai Pembimbing Rohani, Sr. Lidwina, SFD sebagai Ketua, Bpk. Yusuf Wahyu sebagai Wakil Ketua dan Anasthasia Wahyu (alm) sebagai Bendahara. Presidium ini juga menjalankan karya kerasulan paroki diantaranya mengunjungi umat yang sakit, mengantar komuni. Namun presidium ini hanya bertahan 1 tahun 2 bulan, pada tanggal 18 Mei 1989 tidak ada kegiatan lagi alias tidur panjang.

Berbekal restu dari Pastor Paroki Katedral P. Lukas Huvang Ajat, MSF dan Bapak Uskup Keuskupan Palangka Raya, maka sekelompok awam yang sebelumnya pernah aktif sebagai legioner diantaranya Wilhelmus Y. Ndoa, Yusuf Wahyu, Al. Sudirman, Yulianus Dani Nahar, Wiwik Handayani, Elisabeth (Sr. Elisabeth, SPC) mulai membentuk/menghidupkan kembali kerasulan doa dan karya Legio Mariae dibawah koordinasi Pastor Paroki, dengan nama Presidium “Maria Bunda Kita” yang ditandai dengan rapat perdana tanggal 03 Desember 2002, dan pastor pembimbing rohani pertama Rm. Agustinus Sunarya, SVD. Melalui Legio, kaum awam menjadi terbiasa untuk berkarya dalam paroki dalam persatuan yang erat dengan imam (Pastor paroki setempat). Seorang legioner sebaiknya selalu menjalankan tugas-tugasnya seperti yang tertuang dalam Buku Pegangan diantaranya:

  1. Rapat dan doa rutin satu minggu sekali. 
  2. Menjalankan tugas yang diberikan oleh perwira saat rapat dan dilaporkan pada rapat berikutnya. (lihat/baca karya Legio Mariae)
  3. Setiap hari mendoakan Katena Legionis. 
  4. Para legionerpun  diwajibkan mampu  menyimpan rahasia berkenaan dengan yang didengar dalam rapat maupun keterangan yang diperoleh dalam melakukan tugasnya. 

Dengan dimekarkannya paroki Katedral menjadi 2 paroki, presidium “Maria Bunda Kita” turut dimekarkan yaitu Presidium “Maria Bunda Penolong Abadi” paroki Yesus Gembala Baik. Kini di Paroki Katedral telah ada 4 presidium, 2 presidium Senior dan 2 presidium Yunior, dengan jumlah anggota 78 orang, dan auxilier 15 orang.

Karya Legio Mariae

Legio Mariae atas rekomendasi pastor Paroki Katedral kala itu (P. Lukas Huvang Ajat, MSF) dan Pastor Pembimbing Rohani (Rm. Agustinus Sunarya, SVD), mengawali karyanya:

  1. Mendata umat baik yang sakit, lansia/jompo, Keluarga Miskin dan keluarga yang bermasalah. Data ini disampaikan kepada Pastor paroki dan Pastor Pembimbing Rohani. Dengan data yang ada, banyak informasi tentang umat dapat diperoleh.
  2. Atas saran Pastor Pembimbing, maka karya Legio Maria lebih difokuskan pada pelayanan orang Sakit. Setelah mendapatkan data, ternyata informasi memberi keterangan bahwa ada umat sakit dan lansia/jompo yang hidupnya berada di tengah-tengah keluarga non Katolik yang belum terlayani dengan maksimal bahkan ada yang tidak terlayani.
  3. Kunjungan ke Lembaga  Pemasyarakatan di Jalan Tjilik Riwut km. 2,5 dan Rumah Tahanan km.4,5. Legioner bersama para suster, pastor, frater yang berkarya di wilayah paroki katedral datang berkunjung setiap minggu  untuk mengadakan ibadat dan pelayanan komuni kudus. 
  4. Karya-karya Legio Mariae tidak terbatas pada umat katolik saja, melainkan juga umat non katolik. Dalam tugasnya para legioner melayani umat yang sakit sampai pada memasuki pada sakrat maut dan memandikan jenazahnya.  Ke empat karya legio tersebut berjalan sampai dengan sekarang.
  5. Membentuk sekaligus mendampingi (pembinaan)  presidium-presidium baru di paroki-paroki (Dekenat Palangka Raya dan dekenat Barito) yang belum ada Legio Marianya. Atas usaha ini, sekarang telah terbentuk beberapa presidium seperti di Kuala Kapuas (2 presidium), Pulang Pisau (2 presidium), Muara Teweh (3 presidium), PIR Butong (3 presidium) Kuala Kurun (1 presidium). 
  6. Setiap minggu ke-3 dalam bulan dilaksanakan rapat kuria ke Sampit. 
  7. Setahun Sekali pertemuan/rekoleksi di alam terbuka. 
  8. Tiga bulan sekali misa bersama 5 presidium dalam kota. Kegiatan external diantaranya pemekaran/pembentukan presidium baru, menghadiri rapat kuria, pertemuan dewan legio regio kalimantan, Pertemuan Dewan Senatus, Rekoleksi/retret/pembinaan, dll.
Jadwal Doa dan Rapat


  1. Presidium Maria Bunda Kita Senior, dilaksanakan pada hari Selasa, Pk. 17.00 WIB di Sakristi gereja lama (Gedung Serba Guna sekarang)
  2. Presidium Maria Ratu Para Rasul Senior, dilaksanakan pada hari Rabu, Pk. 17.00 WIB di STIPAS.
  3. Presidium Bunda Maria yang tak Bernoda Yunior, dilaksanakan pada hari Jumat, Pk. 17.00 WIB di Seminari.
  4. Presidium Maria Ratu Para Imam Yunior, dilaksanakan pada hari Jumat, Pk. 17.00 WIB di Seminari.
  5. Presidium Maria Bunda Penolong Abadi - YGB Senior, dilaksanakan setiap hari Senin, Pk. 17.00 WIB di Kantor Komisi Keuskupan.
Kadangkala tidak mudah bagi legioner untuk melakukan karyanya. Begitu banyak hambatan atau tantangan baik itu berasal dari diri sendiri maupun situasi setempat. Menjadi legioner berarti ada ketulusan dan kegembiraan dalam sikap dan tindakan, tidak usah menghitung-hitung untuk memberikan yang terbaik, namun mempersembahkan semuanya kepadaTuhan. **C. Wiwik Handayani.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget