MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Lagu Liturgi"

Pembaca Kairos yang budiman,

Menjawab permintaan pembaca yang disampaikan melalui inbox di Facebook Messenger dan Email Redaksi, maka terhitung sejak tanggal 15 Januari 2017 sampai seterusnya, Media Kairos akan menyediakan Daftar Usulan Lagu Perayaan Misa Hari Minggu dan Hari Raya. Tujuannya adalah agar para pembaca yang terlibat aktif dalam memilih lagu-lagu perayaan Ekaristi dapat terbantu dalam menjalankan tugasnya.


Daftar yang disediakan oleh Media Kairos hanya berupa usulan alternatif atau sebagai pilihan yang boleh digunakan dan boleh tidak digunakan. Tim Kairos akan berusaha menyusun Daftar Usulan tersebut sesuai dengan petunjuk memilih lagu liturgi dalam Gereja Katolik.

Baca juga: Memilih Nyanyian Liturgi Hari Minggu


Berdasar pada permintaan pembaca, maka Media Kairos akan menyediakan daftar usulan lagu dengan menggunakan Buku Nyanyian Gereja Katolik, yakni, Madah Bakti dan Puji Syukur. Khusus untuk Madah Bakti, redaksi menggunakan Madah Bakti Edisi 2000 Sesuai TPE Baru dengan Tambahan Nyanyian Khusus untuk Regio Kalimantan. Walaupun demikian, Media Kairos akan berusaha menawarkan pilihan nomor lagu umum bagi pembaca di luar Regio Kalimantan.

Berikut ini adalah singkatan peristilahan yang akan digunakan oleh Media Kairos tentang Buku Nyanyian dan urutan lagu-lagu yang akan disediakan:

  1. Madah Bakti (MB)
  2. Puji Syukur (PS)
  3. Lagu Pembukaan (LP)
  4. Lagu Ordinarium (Kyrie, Gloria, Sanctus, Agnus Dei)
  5. Persiapan Persembahan (PP)
  6. Lagu Komuni (LK)
  7. Madah Syukur Sesudah Komuni (MS)
  8. Lagu Penutup (LT)

Daftar Usulan Lagu akan kami sediakan paling tidak 3 (tiga) bulan sebelum digunakan agar para petugas liturgi dapat mempersiapkan diri dengan melatih lagu-lagu tersebut.

Demikian untuk diketahui bersama. Terima kasih telah menjadi pembaca setia Kairos. Salam dari Redaksi.

Pemahaman yang benar tentang Liturgi akan memberi warna tersendiri dalam segala perayaan yang kita laksanakan. Pada tulisan-tulisan yang lalu, telah dijelaskan satu persatu tentang Liturgi. Kali ini, kita diajak untuk melihat perbedaan antara Lagu Liturgi dengan Lagu Rohani. Ada kalanya, kita memilih lagu-lagu dalam Perayaan Ekaristi berdasarkan cita rasa "lagunya enak", "meriah" dan kriteria lainnya.

Lagu Liturgi adalah lagu yang diciptkan khusus untuk liturgi. Lagu Rohani adalah lagu yang diciptakan untuk kegiatan non liturgis seperti pertemuan karismatik, hiburan rohani, lagu pentas dan lain-lain. Pusat Pelatihan Musik Liturgi (PML) memberikan beberapa gambaran perbedaan Lagu Liturgi dan Lagu Rohani sebagai berikut:

  • Lagu Rohani mirip dengan manisan, dapat dinikmati namun tak cukup untuk memberi makan pada badan kita. Lagu Liturgi mirip dengan makanan bergizi, tidak selalu enak, namun perlu agar badan kita sehat dan kuat.
  • Lagu Rohani lebih banyak berbicara tentang dirinya sendiri atau situasi manusia daripada ingin mendengar suara Tuhan. Lagu Liturgi mengutamakan Sabda Allah dan menjawabnya dalam melaksanakan kehendak Allah secara nyata.
  • Lagu Rohani mengutamakan pujian kepada Allah (sering hanya di bibir) tanpa ambil pusing tentang konsekuensinya. Lagu Liturgi berpangkal dari hormat kepada Allah, dari kepentingan Allah (Kerajaan Allah) dan pelaksanaannya.
  • Lagu Rohani tak jarang termasuk "kitsch" atau seni palsu yang memberi kesan seni namun ternyata murahan. Lagu Liturgi tak jarang merupakan suatu tantangan, lagu dan syair yang kurang enak di telinga merangsang suatu tanggapan dari kita, dan inilah seni yang sejati.
  • Lagu Rohani praktis selalu berbentuk bait (monolog). Lagu Liturgi memakai juga bentuk sahut-menyahut, aklamasi, bentuk khusus misalanya "Kemuliaan" (dialog.
Pembedaan-pembedaan di atas tentu berdasarkan kriteria. Kriteria-kriteria tersebut adalah sebagai berikut:

Kriteria Lagu Liturgi:
  1. Harus main peranan dalam liturgi, merupakan bagian Liturgi meriah yang penting atau integral. (SC 112).
  2. "Adalah Liturgi" atau "mengiringi liturgi".
  3. Mengikutsertakan umat karena Liturgi "memupuk kesatuan hati". (SC 113, 114, 121; MS 5, 15, 16)
  4. Syair terutama tentan penyelamatan Allah, maka diambil/diolah dari Kitab Suci atau dari teks Liturgi (SC 121).
  5. Syair sebagai pegangan untuk hidup sebagai orang Kristen; dipupuk iman para peserta dan hati mereka diangkat kepada Allah, untuk mempersembahkan penghormatan yang wajar kepada-Nya dan menerima rahmat-Nya secara lebih melimpah. (SC 33).
  6. Syair lebih penting daripada lagu. (SC 112)
  7. Khidmat, bermutu tinggi/seni sejati (Paus Pius X), merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. (SC 7).
  8. Bersifat Gerejani ("kami"/"kita") atau dengan kata lain "lagu umat".
  9. Liturgi dan lagu liturgi sering "menantang", memuat kejutan, karena Allah memang lain dengan manusia. Perbedaan ini menuntut konsentrasi/serius dan sikap sopan dari manusia.
Kriteria Lagu Rohani:
  1. Diciptakan untuk keperluan perorangan/devosi/pentas/pertemuan rohani/pendidikan (Sekolah Minggu) atau sebagai backgroun musik (MS 53).
  2. Syair berpangkal dari/dan membahas pengalaman atau perasaan manusia.
  3. Syairnya bebas (ungkapan sikap hati).
  4. Bersifat perorangan ("aku"/"saya").
  5. Tujuan untuk menghibur, melepaskan ketegangan.
  6. Dihindari tema yang berat ("salib", "menyangkal diri")
  7. Bagus namun sering tak bermutu.
  8. Melodi musik lebih penting daripada syair.
  9. "The singer" (penyanyi) jauh lebih penting dari pada lagu, "not the song". Dengan kata lain lebih bertujuan untuk komersial.
Kita sadar bahwa pengetahuan akan Liturgi tidaklah sama dan merata untuk seluruh umat. Oleh karena itu perlu diberi penjelasan agar ada keseragaman pengetahuan dalam hal ini. Sering kita melihat dalam Perayaan Ekaristi zaman ini, yang lebih ditonjolkan adalah "paduan suaranya" atau "kelompok koornya" bukanlah keterlibatan umat dalam liturgi. Jelas ini sangat jauh dari pengertian liturgi yang sesungguhnya. Semoga dengan tulisan ini kita semakin diperkaya lagi terutama bagaimana ber-Liturgi dengan baik.

Sumber: Panduan Menjadi Dirigen Yang Baik, PML Yogyakarta 2013.

1. Cara Memilih Nyanyian Liturgi Hari Minggu

  • Nyanyian Liturgi melayani seluruh umat beriman. Liturgi merupakan perayaan bersama, maka nyanyian itu  harus melayani kebutuhan seluruh umat beriman yang sedang berliturgi. Lagu yang merupakan selera pribadi atau kelompok tertentu (paduan suara) harus dihindarkan. Maka nyanyian yang dipilih harus menjawab kebutuhan atau kepentingan umat yang sedang berhimpun. Baik kelompok mayoritas dan terlebih minoritas, supaya sungguh menjadi perayaan bersama.
  • Nyanyian Liturgi bisa melibatkan partisipasi umat. Umat harus dapat ikut serta atau berpartisipasi dalam doa maupun dalam nyanyian. Maka nyanyian Liturgi yang dipilih harus dapat melibatkan peran umat, artinya umat dapat menyanyi sesuai dengan buku umat (misalnya Puji Syukur atau Madah Bakti atau yang lain yang berlaku di Keuskupan atau Paroki masing-masing). Dengan demikian peran dan partisipasi umat dalam Liturgi atau nyanyian tidak digusur.
  • Nyanyian Liturgi harus mengungkapkan iman akan misteri Kristus. Lagu atau nyanyian yang dipilih harus mampu membawa umat kepada pengalaman iman akan Kristus dan kepada perjumpaan dengan Kristus. Kristus yang hadir dalam Liturgi harus terungkap dalam nyanyian Liturgi. Isi, syair dan melodi nyanyian Liturgi harus sesuai dengan cita rasa iman umat dan bukan mengaburkannya. Misalnya ada melodi lagu tertentu yang memungkinkan umat mengasosiasikan dengan lagu profan tertentu.
  • Nyanyian Liturgi harus sesuai dengan masa dan tema Liturgi. Nyanyian Liturgi harus sesuai dengan masa Liturgi, seperti Masa Adven, Masa Natal, Masa Prapaskah, Masa Paskah dan Masa biasa. Buku-buku nyanyian Liturgi yang bersifat nasional seperti Puji Syukur, Madah Bakti sudah mencantumkan nyanyian-nyanyian sesuai masa-masa Liturgi, maka yang perlu diperhatikan adalah tema perayaan. Misalnya tema: Tobat, maka kita juga harus memilih lagu-lagu yang sesuai dengan tema tersebut.
  • Nyanyian Liturgi harus sesuai dengan hakikat masing-masing bagian. Pilihan nyanyian harus sesuai dengan tempat dan fungsi nyanyian itu dalam bagian Liturgi. Dalam buku Puji Syukur dan juga dalam Madah Bakti sudah ditempatkan beberapa nyanyian sesuai dengan bagian-bagian seperti dalam perayaan Ekaristi, sehingga nyanyian tertentu hanya cocok untuk bagian Pembuka dan bukan sebagai nyanyian Persiapan Persembahan, demikian dan seterusnya. Memang ada juga nyanyian yang sifatnya umum, maka kitapun dapat menggunakannya sesuai dengan pertimbangan akal sehat kita dengan melihat isi syair dan melodi lagunya sehingga kita dapat menempatkannya pada bagian tertentu.
  • Pilihan Nyanyian Liturgi perlu memperhatikan pertimbangan Pastoral dan Praktis. Tidak semua nyanyian yang sudah dipilih dan dilatih, harus dinyanyikan dalam perayaan Ekaristi meskipun misa atau pesta besar sekalipun. Hal ini berkenaan dengan kesiapan umat dalam menyanyikannya. Juga jika semua nyanyian atau lagu dinyanyikan maka perayaan Ekaristi menjadi lama. Itulah yang disebut pertimbangan praktis.

Pertimbangan Pastoral terutama pilihan nyanyian apakah sesuai dengan pelayanan iman seluruh umat beriman: apakah nyanyian tersebut sungguh dapat membantu umat untuk dapat berdoa dengan baik? Di samping itu, saat hening umat harus dijaga, jangan selalu diisi dengan nyanyian, sehingga perayaan Ekaristi terkesan ramai, mengganggu umat untuk hening.

2. Langkah Konkret Pemilihan Nyanyian Liturgi

Dalam memilih nyanyian liturgi ada pedoman pokok yang hendaknya dipegang: Nyanyian-nyanyian dalam ibadat dipilih berdasarkan kesesuaian kata-kata nyanyian itu dengan bacaan-bacaan dalam ibadat itu.

Berikut langkah konkret:

  1. Membaca bacaan Injil, bacaan pertama dan mazmur tanggapan; Dibaca secara berulang-ulang, merenungkan dan mencari istinya. Pada hari Raya dan hari Minggu, Gereja memilih bacaan pertama yang ada hubungannya dengan bacaan Injil, dan memilih mazmur tanggapan yang ada hubungannya dengan bacaan pertama yang ditanggapinya. Mazmur tanggapan itu menanggapi bacaan yang baru saja kita dengarkan, jadi bukan sembarang mazmur. Mazmur tanggapan itu menggarisbawahi bacaan pertama. Maka istilah: ‘Mazmur antar bacaan’ sudah tidak tepat lagi dan harus dihilangkan atau ditinggalkan.
  2. Memilih nyanyian pembuka, persiapan persembahan, madah syukur sesudah komuni dan nyanyian pengutusan sesuai dengan bacaan Injil, bacaan pertama dan mazmur tanggapan. Kalau sulit memilih atau menemukan empat nyanyian yang sesuai dengan isi bacaan-bacaan tersebut, maka sekurang-kurangnya kita memilih nyanyian pembuka dan nyanyian pengutusan atau penutup sesuai dengan isi bacaan-bacaan tersebut. Nyanyian persiapan persembahan dapat dipilih dari kelompok nyanian yang bertema persembahan. Nyanyian pengiring komuni atau madah syukur sesudah komuni dapat dipilih nyanyian yang bertemakan perjamuan atau soal tubuh dan darah Kristus.
  3. Pilihan nyanyian jangan terikat pada pengelompokkan seperti dalam buku Puji Syukur, Madah bakti, Kidung Adi atau yang lain yang digunakan di Paroki atau Keuskupan masing-masing, melainkan nyanyian-nyanyian itu bisa digunakan di bagian yang lain selain dalam pengelompokkan itu. Misalnya: Minggu Paskah V tahun B: Bacaan Injil dari Yohanes 15:1-8 tentang pokok anggur yang benar. Maka pilihan nyanyian untuk pembuka dan madah syukur sesudah komuni dapat dipilih “Yesus t’lah bersabda” (Puji Syukur no. 365 atau Madah Bakti no. 215 atau Kidung Adi no. 200) meskipun nyanyian tersebut dikelompokkan dalam kelompok “Pujian Sabda” (dalam Puji Syukur), nyanyian “Antar Bacaan” (dalam Madah Bakti), dan “Kidung Antara” (dalam Kidung Adi).
  4. Kalau tidak ada nyanyian yang sesuai dengan bacaan Injil, bacaan pertama, dan mazmur tanggapan pilihlah nyanyian yang sesuai dengan bacaan kedua.
  5. Dalam masa-masa khusus (misalnya Masa Prapaskah, Paskah dan lain-lain), nyanyian boleh diambil dari nyanyian umum atau masa biasa, asal syairnya sesuai dengan isi bacaan-bacaan yang digunakan. Sebaliknya nyanyian-nyanyian masa khusus juga dapat dipakai dalam masa biasa. Contoh: Nyanyian “Curahkan Rahmat Dalam Hatiku” (MB no, 423 atay PS no. 603 atau KA no 348) dapat digunakan dalam banyak kesempatan.
  6. Usahakan agar nyanyian-nyanyian dalam suatu ibadat bertangga nada sama, atau sejenis. Kalau isinya tidak sesuai dengan bacaan-bacaan, boleh dicari nyanyian dengan tangga nada yang bermacam-macam seperti nyanyian Gregorian, mayor/minor, pelog, slendro, pentatonic.
  7. Kalau bukan perayaan Ekaristi atau ibadat untuk menghormati Bunda Maria, nyanyian-nyanyian Maria sebaiknya tidak digunakan karena tema nyanyian harus senantiasa sesuai dengan tema Misa atau tema yang sesuai dengan bacaan-bacaan hari itu. Nyanyian-nyanyian devosional umumnya dapat dinyanyikan pada Misa khusus (berkaitan dengan perayaan devosi).
  8. Pilihan nyanyian dapat disesuaikan dengan Antifon-Antifon dalam perayaan Ekaristi (terutama antifon pembuka dan atau antifon komuni). 
  9. Sesudah mengadakan pemilihan nyanyian, perlu membuat daftar nyanyian dan dikomunikasikan dengan imam yang akan memimpin Ekaristi jauh-jauh sebelum perayaan Ekaristi berlangsung. Mengadakan latihan-latihan dengan kor, kalau perlu dengan umat (sebelum perayaan Ekaristi dimulai).

dari Bahan Katekese Liturgi
Bulan Liturgi Nasional 2008

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget