MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Liturgi"

Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF
Uskup Keuskupan Palangka Raya
Dari pengamatan sepintas didapat kesan bahwa ada dua gejala mewarnai kenyataan iman umat akan Ekaristi. Pertama, kerap kita saksikan di beberapa gereja, perayaan Ekaristi dihadiri oleh banyak umat, baik pada hari Minggu maupun pada hari-hari biasa. Gejala ini umumnya dirasakan sebagai sesuatu yang menggembirakan. Orang lalu berkata: iman umat, khususnya yang berkaitan dengan Ekaristi cukup kuat. Banyak umat yang datang dikaitkan dengan kualitas iman mereka. Benarkah? Bahwa umat berbondong-bondong menghadiri perayaan Ekaristi kiranya belum menjamin kuat dan sehatnya iman yang disertai dengan pengertian yang tepat. Bisa jadi, pengertian yang ada dangkal dan motivasi egoisme, mengutamakan kepentingan diri di atas maksud gereja dalam merayakan Ekaristi; melulu mencari kesembuhan fisik, agar lulus ujian, naik pangkat, dan sebagainya.

Kedua, gejala sebaliknya: pada hari Minggu, gereja tidak penuh, apalagi pada hari-hari biasa. Padahal menurut statistik, jumlah umat di paroki itu lebih dari sekian ribu. Kemana yang sekian ratus umat pada hari Minggu itu? Mingkin ke gereja lain, kalau di kota itu ada beberapa gereja? Atau mungkin sama sekali tidak ke gereja. Ada sekian persen dari jumlah umat yang termasuk jemaat "Napas" (Natal Paskah). Terbukti dari membludaknya pengunjung gereja pada hari raya itu.

Spontan kita bertanya: apa sebabnya bisa begitu? Apakah Ekaristi kurang dipahami dan dimengerti maknanya, sehingga kurang dihayati? Ataukah Ekaristi cukup dipahami, namun tidak peduli pada penghayatannya? Yang lebih memprihatinkan lagi: kalau kebanyakan dari sedikit umat yang datang ke gereja ikut perayaan Ekaristi mempunyai pemahaman dan pengertian yang kurang tepat serta penghayatan yang kurang sehat. Memang tidak mudah mencari kaitan antara pengertian atau pemahaman dan penghayatan, apalagi kalau kita tidak mendasarkan keduanya pada pengkajian yang teliti dan kongkrit. Tulisan singkat ini hanya dimaksudkan untuk membantu merenungkan harapan seperti terungkap dalam ujud umum yang pernah dicanangkan oleh Gereja.

1. Ekaristi sebagai Puji Syukur, Korban serta Perdamaian

Konsili Vatikan II membuahkan hasil pertama berupa Konsili Liturgi (KL) yang dikeluarkan pada tanggal 4 Desember 1963. Konstitusi itu ingin mengadakan pengembangan dan pembaharuan Liturgi pada umumnya (bdk. Pendahuluan dan Bab I). Bab II secara khusus membahas "Misteri Ekaristi Tersuci". Dalam salah satu bagian dari bab itu ditegaskan: "...Gereja menjalankan usaha dengan prihatin, agar umat Kristen tidak menghadiri misteri iman ini sebagai orang luar atau penonton bisu, melainkan memahaminya dengan baik, melalui upacara dan doa, lalu berperan serta dalam kegiatan suci dengan sadar, saleh dan aktif; diajar oleh Sabda Allah, disegarkan oleh meja perjamuan Tubuh Tuhan, bersyukur kepada Allah, belajar mempersembahkan diri mereka sambil membawakan kurban tak bernoda, ... (KL. 48).

Kutipan ini menegaskan beberapa hal yang patut digaris-bawahi. Jelas kiranya konsili mengharapkan agar umat memahami misteri Ekaristi dengan baik. Sebenarnya agak rumit untuk dijelaskan bahwa "misteri" Ekaristi harus "dipahami dengan baik". Yang namanya "misteri" memang mengatasi daya tangkap dan akal budi manusia. "Misteri" mengandung sesuatu yang ilahi, yang dari atas, berasal dari Allah. Demikian itu berlaku untuk misteri Ekaristi. Pemahaman intelektual koqnitif pasti tidak memadai untuk mengerti Misteri Tersuci itu. Namun tidak berarti bahwa manusia di hadapan misteri itu tidak bisa berbuat apa-apa. Justru melalui perayaan, upacara, devosi, prosesi, doa dan bentuk-bentuk kebaktian lainnya, misteri dapat dihayati oleh orang beriman.

Bertolak dari kata "eucharistia" seperti misalahnya dipakai dalam 1 Kor. 11:24; Lk. 22:19, kita dapat memahami arti Ekaristi sebagai perayaan untuk mengucap "syukur". Latar belakang doa Yahudi mengungkapkan sikap dasar manusia di hadapan Allah sebagai ciptaan-Nya. Manusia merasa kagum akan Sang Pencipta yang telah menunjukkan karya agung-Nya kepada umat manusia.

Orang Israel mempunyai pengalaman akan Yahwe yang campur tangan dan membimbing sejarah keselamatan mereka. Kelimpahan hasil panen untuk hidup mereka, pembebasan dari perbudakan mesir, pemberian Hukum Taurat, penganugerahan tanah terjanji, semua itu merupakan tindakan Allah yang dialamai umat Israel dan patut disyukuri serta dirayakan dalam perjamuan Paskah. Demikian Yesus yang hidup dalam budaya dan agama Yahudi menjalankan ibadat perjamuan Paskah serta memakai doa-doa yang ada sambil menciptakan dan memberi makna baru terhadap apa yang dilakukannya.

Gereja Kristen Perdana mengambil titik awalnya pada Perjamuan Tuhan sebagai dasar untuk mengadakan Ekaristi. Itulah wasiat yang diberikan oleh Yesus. Mereka berkumpul untuk mengadakan peringatan akan wafat dan kebangkitan-Nya sambil menantikan kedatangan-Nya kembali. Di waktu selanjutnya, Gereja melestarikan dan memperkembangkan apa yang sekarang di sebut sebagai "Doa Syukur Agung". Pada doa itulah ucapan puji syukur dilambungkan serta doa permohonan untuk turun-Nya Roh Kudus disampaikan. Melalui Roh Kudus itu pula kehadiran Kristus diimani. Ajaran Gereja menegaskan bahwa kehadiran Kristus dalam Ekaristi disebabkan oleh perubahan seluruh substansi (transubstansiasi) roti menjadi tubuh dan seluruh substansi anggur menjadi darah (Konsili Trente 1551; DS 1652).

Ajaran Gereja juga menghubungkan perayaan Ekaristi (yang diistilahkan oleh konsili Trente "Missa" dengan kurban: bahwa Kristus mempersembahkan kurban dan bahwa hal ini harus diteruskan di dalam Gereja. Rumusan selanjutnya seperti ada DS 1743 menegaskan bahwa dalam kurban ilahi yang diadakan dalam misa hadir (ada) Kristus yang mengurbankan diri satu kali secara tak berdarah. Kurban itu merupakan kurban silih yang menjadikan manusia memperoleh belaskasihan dari Tuhan. Kurban silih itulah yang membawa perdamaian kembali dengan Allah bagi manusia yang diampuni dosanya, dihapuskan segala kejahatannya serta memperoleh penebusan. Maka dapat juga dikatakan bahwa misa kudus merupakan "kurban" yang dikurbankan, karena dalam misa sekarang ini terlaksana kurban Kristus yang dulu telah dikurbankan di kayu salib.

Sehubungan dengan paham Ekaristi sebagai kurban, Konsili Vatikan II (KL 47) memberi penegasan lebih lanjut: "dalam perjamuan terakhir, pada malam Ia diserahkan, Penyelamat kita mengadakan korban Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan demikian Ia mengabadikan korban salib untuk selamanya, dan mempercayakan kepada Gereja Mempelai-Nya yang terkasih kenangan wafat dan kebangkitan-Nya; sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paskah. Dalam perjamuan itu Kristus di sambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan datang". Dengan pengertian ini, kita dapat mengerti bahwa dalam Ekaristi terlaksana karya penebusan kita yaitu perdamaian manusia dengan Allah melalui salib Yesus.

2. Ekaristi sebagai Sumber, Pusat dan Puncak Seluruh Hidup Kristen

Kegiatan Liturgi utamanya merayakan sakramen Ekaristi diarahkan untuk menguduskan manusia, "membangun tubuh Kristus dan akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah. Sakramen tidak hanya mengandaikan iman, melainkan juga memupuk, meneguhkan dan mengungkapkannya dengan kata-kata dan benda. Maka disebut sakramen iman. Maka dari itu sangat pentinglah bahwa Umat beriman dengan mudah memahami arti lambang-lambang sakramen, dan dengan sepenuh hati sering menerima sakramen-sakramen, yang diadakan untuk memupuk hidup kristiani" (KL 59).

Kaitan erat antara berliturgi dan kegiatan hidup kristiani sehari-hari merupakan hal yang perlu diusahakan dan memang mendapat tekanan dalam ajaran Gereja. Pentingnya untuk ambil bagian dalam perayaan pertama-tama harus disadari sebagai ungkapan iman, penegasan identitas kita sebagai orang kristen. Tapi harus segera dilengkapi dengan pengertian bahwa melalui  perayaan liturgi itu iman kita sendiri diperkuat, dipupuk dan diperkembangkan agar iman menjadi semakin dewasa. Kedewasaan iman inilah yang pada gilirannya menjadikan seorang Kristen tangguh, militan, dapat memberi kesaksian yang vokal, dan berkualitas andal. Kedewasaan iman itulah yang menjadikan orang bisa lebih mandiri, lebih bersemangat dalam menjalankan karya perutusan, serta menjadikan dia seperti Yesus: "makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (LK 2:52).

Secara khusus, peranan Ekaristi dalam hidup seorang Kristen dilukiskan sebagai "sumber dan puncak hidup Kristen... Lalu sesudah dikuatkan dengan Tubuh Kristus dalam perayaan suci, mereka mengungkapkan secara konkrit kesatuan umat Allah" (LG art. 11). Ada dua hal yang kiranya perlu diperhatikan sehubungan dengan fungsi Ekaristi di dalam Gereja. Yang pertama dalam hubungan dengan hidup jemaat "ke dalam", Ekaristi menjadi pusat, sumber serta puncak" seluruh semangat pewartaan, sekaligus pusat pertemuan umat beriman.

Yang kedua, dalam kaitan dengan hidup jemaat "ke luar": menunaikan tugas di dalam masyarakat, menjalankan tugasnya sehari-hari. Karena Ekaristi adalah pusat dan puncak sakramen-sakramen di dalam Gereja, maka pengungkapan iman dalam Ekaristi bukan hanya bersifat perseorangan, melainkan menyangkut seluruh Gereja secara resmi. Sejauh mana hal ini akan berhasil atau terlaksana dalam kenyataan; kiranya akan tetap sangat dipengaruhi oleh pemahaman akan arti lambang-lambang sakramen dan makna Ekaristi itu sendiri. Tanpa pemahaman dan pengertian yang mendalam, kekayaan dan makna Ekaristi akan tetap tersembunyi dan kurang dihayati.

Penutup

Penghayatan yang sehat akan makna sakramen dan liturgi pada umumnya kiranya memerlukan kedewasaan iman pribadi yang ditunjang oleh pengertian dan pemahaman yang benar tentang pokok ajaran iman. Demikian pula hal-hal yang menyangkut iman akan Ekaristi. Agar penghayatan Ekaristi tidak jatuh dalam tindakan magis (asal ikut Ekaristi semua beres, doa-doanya dikabulkan, bisa menjadi kaya karena tepat menebak lotre, dll), perlulah kita bertolak kembali pada iman yang sejati.

St. Yohanes memberi bahan renungan yang sangat berharga mengenai makna Ekaristi untuk setiap pribadi yang beriman akan Kristus. Berdasarkan sabda Yesus, ditulisnya: "Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu adalah daging-Ku, yang akan kuberikan untuk hidup dunia..." (Yoh. 6:51; bdk. 57).

Hidup abadi setiap orang atau keselamatannya, itulah yang kiranya menjadi tujuan penghayatan Ekaristi bagi setia pribadi. Kita bersyukur bahwa Kristus telah mengorbankan hidup-Nya untuk keselamatan setiap orang melalui salib-Nya, yang mengalahkan maut dan menjadi sumber kemenangan atas dosa serta pendamaian dengan Allah.

Sedangkan dari segi penghayatan kebersamaan dan persatuan Gerejawi, St. Paulus mengajak kita merenung: "Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak adalah satu tubuh, karena kita mendapat bagian dalam roti yang satu itu" (Kor 10: 16-17). Berdasarkan bahan renungan ini, mungkin kita makin tergugah untuk mengusahakan kerukunan, perdamaian serta kesatuan di antara kita, umat Gereja-Nya. **Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF - (dalam "Segi-segi Hidup Beriman 1: Ekaristi, Tanda Kesatuan Gereja dan Sumber Cinta Bagi Sesama).





Tradisi musik Liturgi dalam Gereja Katolik telah berkembang berabad-abad, berakar dari budaya bangsa-bangsa yang dirumuskan dalam bentuk: amsal, sajak, mazmur, nyanyian rohani, dan kidung pujian. Perkembangan musik Liturgi mencapai puncaknya didukung Para Bapa Gereja dan komponis-komponis besar dalam sejarah, dan diakui mewarnai perkembangan seni musik universal.

Tradisi musik Liturgi dimaksud merupakan kekayaan Gereja Universal yang tinggi nilainya, terutama karena nyanyian-nyanyian kudus dapat mengungkapkan doa dan pujian secara lebih semarak, memupuk kesatuan umat, dan memperkaya upacara kudus dengan kemeriahan yang lebih agung, sehingga merupakan bagian mutlak dan integral dari perayaan Liturgi Suci. Oleh karena karena itu Gereja mengakui, memelihara dan berusaha mengembangkan semua bentuk kesenian sejati dan memasukkannya ke dalam Ibadat Ilahi dan mengajak para seniman agak hendaknya diresapi semangat Kristiani dan merasa diri terpanggil untuk mengolah musik suci dan menambah perbendaharaannya, serta lagu-lagu yang benar-benar menampilkan ciri musik suci untuk dinyanyikan oleh paduan suara dalam perayaan-perayaan Liturgi.

Pelestarian dan pengembangan musik liturgi perlu diarahkan bagi pembinaan iman umat untuk menjadikan kehidupan bersama sebagai perwujudan Liturgi itu sendiri. Dalam kesemarakannya, liturgi didasari pada penghayatan nilai-nilai kristiani dan panggilan kerasulan secara luas, yakni dengan mengembangkan liturgi perayaan menjadi liturgi kehidupan, agar Warta Ilahi tentang keselamatan dan cinta kasih dikenal dan diterima serta semakin menjangkau semua orang dari segala zaman di seluruh dunia dengan cara yang menggembirakan. Untuk itu Musik Liturgi Gereja perlu dilestarikan dan dikembangkan pula dalam semangat inkulturatif sesuai kekayaan khasanah budaya lokal dengan melibatkan dan memberdayakan secara luas dan terorganisir segenap potensi umat dalam keberagamaannya, sehingga menjadikannya sebagai perwujudan iman secara lebih nyata.

Harapan untuk mengembangkan musik Liturgi di wilayah Keuskupan Palangka Raya secara khsusus, perlu diwujudkan melalui kegiatan pembinaan dan pengembangan yang tanggungjawab pengelolaannya diemban oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan PESPARANI Katolik (LP3K), dengan berdasar pada Surat Keputusan (SK) Uskup Palangka Raya Nomor: 1/LP3K/IV/15/SK/USKUP/LP3K/PKY/III/2015. Sejalan dengan itu, pada 04 s.d. 06 November 2016 yang baru lalu, LP3K menyelenggarakan kegiatan pembinaan dan pengembangan musik liturgi Katolik bagi peserta yang berasal dari 23 paroki yang ada di Keuskupan Palangka Raya. Kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama LP3K dan Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantah Tengah sebagai wujud kerja sama antara Gereja Katolik dan Pemerintah.

Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari itu dilaksankan di Wisma Unio Keuskupan Palangka Raya, Jl. Bandeng Induk No. 4 Palangka Raya. Peserta yang hadir sebanyak 43 orang dan merupakan utusan dari paroki-paroki yang ada di Keuskupan Palangka Raya. Kegiatan dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RP. I Ketut Adihardana, MSF.

Pembinaan dan Pengembangan Musik Liturgi ini berlangsung dengan baik dan diisi dengan berbagai materi dari narasumber yang telah diundang oleh Panitia Penyelenggara. RP. I Ketut Adihardana, MSF menyampaikan beberapa hal tentang peranan musik dalam liturgi dan Ekaristi. RP. Antonius Garingsingan, MSF menyampaikan materi tentang sejarah musik liturgi, perkembangan dan teknik menjadi pelayan musik liturgi. Dr. F.X. Manesa, M.Pd selaku Ketua LP3K Keuksupan Palangka Raya memperkenalkan LP3K dan beberapa prgoram kerja yang harus dilaksanakan di masa mendatang. Drs. Wilhelmus Y. Ndroa, M.Pd, Pembias Katolik Kanwil Kemenag  Provinsi Kalimantan Tengah menyampaikan informasi tentang keberadaan LP3K di tingkat nasional. Pada kesempatan ini beliau juga menyampaikan bahwa LP3K harus mempersiapkan personil yang akan diutus pada kegiatan PESPARANI tingkat nasional yang akan dilaksanakan pertama kalinya di Keuskupan Ambon tahun 2018 yang akan datang.

Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan Perayaan Ekaristi oleh RP. Antonius Garingsingan, MSF, dilanjutkan dengan foto bersama. Semoga dengan kegiatan ini, para peserta yang hadir dapat menjadi pelayan musik liturgi di parokinya masing-masing. Bahkan diharapkan, mereka akan menjadi pelatih bagi umat yang lain sehingga keberadaan music liturgi tetap terpelihara sesuai dengan anjuran Gereja Katolik.

PALANGKA RAYA, LP3K -  Pada tanggal 5-7 Maret 2015 telah dilaksanakan penataran musik liturgi se-Keuskupan Palangka Raya.  Pertemuan berlangsung di Wisma Unio, Jl. Tjilik Riwut Km. 6. Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari 20 paroki di Keuskupan Palangka Raya dengan jumlah 67 orang peserta termasuk panitia.
Foto oleh Fidelis Harefa

Pertemuan dibuka dengan Perayaan Ekaristi pada tgl 5 Maret 2015 Pk. 18.00 WIB, yang dipimpin oleh Bapa Uskup, Mgr. Aloysius AM Sutrisnaatmaka, MSF, didampingi oleh Rm I Ketut Adi Hardana, MSF – selaku Ketua Panitia dan Rm Andreas Novem, OCarm – selaku Ketua Komisi Liturgi Keuskupan. Dalam kotbahnya, Bapa Uskup menekankan pentingnya musik liturgi dalam kaitannya dengan keseluruhan liturgi Gereja. Musik yang dipersiapkan dan dinyanyikan dengan baik dengan memperhatikan suasana perayaan yang dirayakan dapat membantu umat dalam merayakan liturgi dengan baik; dengan kata lain, dapat mengangkat jiwa umat kepada Allah. Maka tepatlah ungkapan yang mengatakan “qui bene cantat, bis orat”, siapa yang menyanyi dengan baik sama dengan berdoa dua kali.

Ada beberap hal penting yang menjadi simpulan dari pertemuan ini:
  1. Dalam sesi pengantar, Bapa Uskup menekankan 2 hal penting. Pertama: pengertian liturgi secara umum. Dalam bagian ini ditekankan bahwa liturgi adalah perayaan bersama (communal), bukan perayaan privat. Oleh karena itu, liturgi dirayakan secara bersama dalam kebersamaan dengan seluruh umat. Kedua, liturgi dalam pengertian yang sesungguhnya mengarahkan umat kepada kedekatan dengan Allah, dan dalam arti itu menguduskan umat; dari sisi lain, liturgi berfungi sebagai sarana pemuliaan Allah. Oleh karena itu, kalau memungkinkan, liturgi sedapat mungkin dirayakan dengan meriah, dengan iringan lagu-lagu liturgi yang sesuai dengan event yang dirayakan.
  2. Rm. A. Garin, MSF, sebagai nara sumber pada pertemuan ini menyampaikan pengantar umum tentang musik liturgi, peran dan tempat musik liturgi dalam keseluruhan liturgi Gereja, inkulturasi dan panorama praktik musik liturgi di paroki-paroki. Dalam bagian pengantar musik liturgi ditekankan perlunya memilih, mempersiapkan dan menyanyikan lagu yang dipakai dengan baik. Pilihan dan persiapan lagu yang baik akan membantu menciptakan keheningan dalam seluruh perayaan liturgi dan dengan demikian membantu umat menghayati liturgi dengan baik. Oleh karena itu, setiap lagu yang dipilih harus disesuaikan dengan masa dan event yang dirayakan, demikian juga cara menyanyikannya, harus sesuai dengan jiwa/roh dari setiap lagu. Bila roh dari lagu itu adalah gembira, maka cara menyanyikannya pun harus dengan riang gembira, dan bukan dengan sedih; demikian sebaliknya.
  3. Dalam kaitan dengan itu, juga disampaikan mengenai peran dan fungsi Dirigen dalam musik liturgi. Dirigen diharapkan berperan sebagai pemimpin yang mengarahkan anggota koor dan umat untuk menyanyikan lagu sesuai dengan birama dan tempo dari lagu yang bersangkutan. Karena perannya sebagai “pemimpin”, maka seorang Dirigen diharapkan tidak melakukan banyak gerakan yang tidak berfungsi dan tidak terkait dengan tugasnya sebagai pemimpin lagu.
  4. Dalam praktik liturgi, harus diakui bahwa masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hal penggunaan lagu dalam liturgi Gereja. Selain pemilihan lagu yang kurang tepat, cara menyanyikan tidak sejalan dengan roh dari lagu itu, juga pengucapan atau vocal yang tidak jelas. Dengan praktik semacam ini, lagu liturgi justru tidak membantu, tetapi justru “mengacaukan” kehikmadan perayaan yang sedang dirayakan. Untuk itu, sangat diharapkan bahwa lewat penataran musik liturgi ini, umat akan semakin terbantu untuk dapat merayakan liturgi dengan lebih baik, sehingga akan tercapai 2 maksud liturgi: pemuliaan Allah dan pengudusan Allah.
  5. Dalam sesi diskusi, Fidelis Harefa sebagai pemandu diskusi menyampaikan bahwa dalam memahami liturgi secara baik dan benar, sangat diharapkan umat meluangkan waktu untuk membaca banyak tentang liturgi mengingat sangat terbatasnya kesempatan sosialisasi tentang liturgi yang baik. Tentu saja hal ini erat hubungannya dengan kegiatan kerasulan liturgi yang sangat minim kepada umat. Dalam era teknologi yang semakin canggih, harusnya umat memanfaatkan media-media yang menyajikan banyak hal tentang liturgi sehingga dapat menambah wawasan dalam memahami liturgi secara baik dan benar.
Sebagai ahkir dari pertemuan, dilaksanakan MUSDA pembentukan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan PESPARANI Katolik sebagai tindak lanjut dari kegiatan penataran liturgi.

Sejarah Awal Istilah Liturgi

Secara etimologis istilah liturgi berasal dari bahasa Yunani, yaitu leitourgia (leitourgia). Kata leitourgia ini berasal dari dua kata, leitos (leitos) kata sifat dari laos (laos) yang berarti bangsa, masyarakat atau negara, dan ergon (ergon) yang berarti karya, fungsi atau pelayanan. Sehingga leitourgia berarti fungsi umum atau proyek negara. Leitourgia juga berarti kerja atau pelayanan yang dibaktikan bagi kepentingan bangsa oleh pribadi-pribadi. Dalam masyarakat Yunani kuno, kata leitourgia itu menunjukkan karya pembaktian yang tidak dibayar, sumbangan orang yang kaya atau pajak untuk masyarakat atau negara. Dalam perkembangan pada zaman hellenistik, kata leitourgia mempunyai arti yang lebih luas, termasuk pelayanan yang dilaksanakan oleh para budak kepada majikan mereka dan juga perbuatan-perbuatan kecil yang mereka laksanakan terhadap teman-teman. Jadi kata leitourgia pada mulanya mempunyai arti profan-politis, dan bukan kultis seperti yang dipahami pada masa ini. Dan pada abad ke 4 SM, kata leitourgia semakin diperluas mencakup berbagai macam karya pelayanan.


Istilah leitourgia mendapat arti kultis sejak abad ke 2 SM, yang berarti pelayanan ibadat. Kata ini dipakai dalam penerjemahan Kitab Suci dari bahasa Ibrani ke bahasa Yunani (Teks Septuaginta). Teks Septuaginta memakai kata liturgi sebayak 170 kali untuk menunjuk ibadat kaum Lewi. Ini sesuai dengan pengertian ibadat kamu Lewi sebagai institusi ilahi yang dipercayakan kepada bangsawan Israel, para imam kaum Lewi.

Dalam Perjanjian Baru, kata liturgi muncul sebanyak 15 kali dengan berbagai variasi arti. Istilah ini dipakai untuk menunjuk fungsi duniawi para pemerintah (Rm. 13:6), pelayanan imamat Perjanjian Lama Zakaria (Luk. 1:23), kurban persembahan atau imamat Kristus dengannya Dia menjadi leitourgos (Ibr. 8:1), kurban rohani orang-orang kristen (Rm 15:60, ibadat orang-orang Kristen “yang merayakan liturgi kepada Tuhan” di Antiokhia (Kis. 13:2). Penggunaan kata liturgi yang bervariasi juga mempunyai beberapa makna yang berbeda-beda. Kis. 13:2 adalah satu-satunya teks Perjanjian Baru yang menggunakan kata liturgi menurut arti yang biasa kita mengerti pada masa sekarang yakni untuk menunjuk ibadat atau doa kristiani. Dari sinilah muncul nama yang kemudian hari disebut liturgi kristen. Dan kesimpulannya menunjukkan bahwa kata liturgi dalam Perjanjian Baru dihubungkan dengan pelayanan kepada Allah dan sesama. Pelayanan kepada Allah dan sesama itu tidak terbatas pada kegiatan ibadat saja, tapi juga pada aneka bidang kehidupan lain. Akan tetapi istilah liturgi dalam Perjanjian Baru tidak menunjuk pada pelayanan kultus dari pemimpin jemaat Kristen, sebab pemahaman tentang imamat Perjanjian Baru tidak lagi berdasar pada imamat Perjanjian Lama. Bila dalam Perjanjian Lama imamat dihubungkan dengan imamat kaum Lewi, dalam Perjanjian Baru satu-satunya imam adalah Yesus Kristus. Perjanjian Baru mengenal satu imamat saja, yaitu imamat Yesus Kristus. Sedangkan imamat umum dan imamat khusus yang diterima umat Allah selalu merupakan partisipasi pada imamat Yesus Kristus.

Penulis-penulis Kristen pertama meneruskan arti liturgi sebagai ibadat atau doa kristiani. Uskup-uskup dan diakon-diakon melaksanakan liturgi para nabi dan para guru, sehingga kultus Kristen tetap berdasar pada kebudayaan Yahudi yang dipengaruhi oleh kultus kaum Lewi. Tetapi dalam kekristenan, istilah liturgi secara total mendapat arti baru dalam relasi dengan imamat Kristus.

Dalam Perkembangan Gereja Selanjutnya

Di Gereja Timur, liturgi dimengerti hanya sebatas menunjuk kultus orang kristen pada umumnya dan perayaan ekaristi pada khususnya. Akan tetapi di Gereja Barat yang berbahasa Latin, istilah liturgi lama tidak dipakai, dan diganti dengan istilah officia divina, opas divinum atau minister, obsequium, caeremonia, munus, servus, sacri dan ecclesia ritus.

Istilah liturgi kembali dikenal dalam Gereja Barat pada abad ke enam belas, karena pengaruh Gereja-gereja Reformasi yang memakai istilah liturgi dalam arti luas yaitu ibadat Gereja. Kata liturgi muncul pertama kali dalam dokumen resmi dalam bahasa Latin pada masa Paus Gregorius XVI (abad ke delapan belas) dan menjadi istilah resmi sejak Paus Pius X (1903 – 1914) dan Kitab Hukum Kanonik 1917. Kemudian Paus Pius XII (1947) menggunakan kata liturgi dalam ensiklik Mediator Dei dan Konsili Vatikan II membakukan istilah liturgi dalam konstitusi Sacrosanctum Consilium untuk menyebut perayaan iman.

Liturgi menurut Mediator Dei

Paus Pius XII dalam ensiklik Mediator Dei sebagai ensiklik peletak dasar liturgi suci memberikan definisi klasik yaitu liturgi sebagai ibadat umum (bersama) yang dihantar kepada Bapa oleh penyelamat kita sebagai Kepala atas Gereja sama seperti ibadat komunitas beriman dihantar kepada pendirinya dan melalui Dia kepada Bapa (no. 20). Dalam ensiklik ini ditekankan bahwa liturgi adalah kebaktian Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus. Kristus bertindak sebagai imam agung, satu-satunya pengantara kita kepada Bapa. Namun Kristus tidak bertindak sendirian, Dia bertindak bersama Gereja, Kristus sebagai Kepala atas tubuh-Nya dan di dalam Kristus seluruh tubuh ikut bertindak.

Liturgi menurut Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II tidak memberikan arti liturgi secara definitif, akan tetapi membuahkan pemahaman yang mendalam yang dirangkum dalam dokumen Konstitusi Sacrosanctum Concilium. SC 7 menyatakan liturgi sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; sebagai ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh Mistik Kristus, yakni Kepala beserta para anggotanya, sebagai karya Kristus sang Imam serta tubuh-Nya yakni Gereja. Nilai yang penting dan fundamental dari liturgi adalah kehadiran Kristus dalam ekaristi, dalam sakramen-sakramen, Sabda Allah dan dalam liturgi harian. Liturgi dipandang sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus, di dalamnya pengudusan manusia dilambangkan dengan tanda-tanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing.

Menurut SC 7, liturgi mempunyai dua tujuan yaitu pemuliaan Allah dengan secara sempurna (ascending structure) dan pengudusan mereka yang merayakan (descending structure). Manusia sendiri tidak bersifat pasif, tetapi dituntut untuk mendengar dan percaya. Karya Allah yang menyelamatkan dijawab dengan pujian seluruh Gereja bersama Kristus di dalamnya. Jadi, liturgi bisa diartikan sebagai tindakan Yesus Kristus, Imam Agung, bersama Gereja-Nya untuk keselamatan manusia dan pemuliaan Allah yang ada di surga. Dalam liturgi terjadilah dialog antara Allah dengan manusia.

Culmen et Fons

Dalam SC 10 yang diinspirasikan oleh Mediator Dei, liturgi diartikan sebagai puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja, dan sekaligus sumber segala daya kekuatannya. Gereja berusaha agar semua orang melalui iman dan baptis menjadi putra-putri Allah, berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah di tengah Gereja, ikut serta dalam Kurban dan menyantap perjamuan Tuhan. Inilah liturgi sebagai culmen atau puncak. Dari pihak lain, liturgi mendorong agar sesudah dipuaskan dengan sakramen-sakramen, Gereja menjadi sehati sejiwa dalam kasih, mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman. Liturgi menjadi fons atau sumber kekuatan untuk hidup sehari-hari.

Subyek Liturgi

Menurut SC 7, yang menjadi subyek atau pelaku liturgi adalah Kepala dan para anggota Tubuh Mistik Kristus, yaitu Yesus Kristus dengan Gereja. Sehingga liturgi merupakan tindakan Kristus sekaligus tindakan Gereja. Namun, agar aspek pneumatologis juga berperan di dalamnya, kiranya lebih tepat mengartikan liturgi sebagai perayaan misteri karya keselamatan Allah bagi manusia dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, sang Imam Agung bersama Gereja-Nya, dalam ikatan Roh Kudus.

Penutup

Liturgi merupakan suatu pertemuan personal, yaitu pribadi-pribadi manusia bertemu dengan ketiga Pribadi ilahi seturut peranan tiap-tiap Pribadi dalam sejarah keselamatan. Pribadi-pribadi manusia yang bersatu dalam Gereja memuliakan Allah Bapa yang menyelamatkan, bersama dengan Yesus Kristus sang Kepala Gereja dalam ikatan Roh Kudus. Liturgi menghadirkan kepada kita sejarah keselamatan, yang di dalamnya kasih Allah yang menyelamatkan kita alami dalam Putra-Nya melalui Roh Kudus. Melalui liturgi inilah, misteri Kristus diwartakan kepada semua orang agar dapat menghayati misteri tersebut dengan sepenuhnya. Dalam setiap liturgi, Roh Kuduslah yang sesungguhnya mengumpulkan semua umat di dalam satu tubuh untuk menuju keselamatan.

Penulis: Andro Sipayung
Sumber: https://andosipayung.wordpress.com/2013/12/28/pengertian-liturgi/

Daftar Pustaka


  1. Brevoort, Benitius, Dr. OFM Cap., Liturgi, Parapat: 1976.
  2. Budi Purnomo, Aloys, Pr., Merayakan Iman dalam Ibadah dan Doa Bersama, Medan: Penerbit Bina Media, 2000.
  3. Dokumen Konsili Vatikan II, terjemahan oleh R. Hardawiryana, SJ., Jakarta: Obor, 1993.
  4. Komisi Liturgi KWI, Liturgi: Gereja Merayakan Yesus Kristus, Suatu Pengantar Liturgi, Yogyakarta, 1989.
  5. Kusno, Suhendro, Arti dan Makna Liturgi, dalam majalah Ekawarta: Forum Komunikasi KWI, edisi Juni, no. 3/X/1990.
  6. Lang, Jovian P., OFM, Rev., Dictionary of the Lyturgy, New York: Catholic Book Publishing, 1989.
  7. Martasudjita, E., Pr., Pengantar Liturgi, Yogyakarta: Kanisius, 1999.
  8. Sembiring, Johannis, Lic. S. Lit., OFM Cap., Introduksi Liturgi (Diktat Kuliah), tanpa tahun.

Sejak awal mula Allah mengajarkan kepada kita hari untuk berdiam sejenak dari rutinitas kita. Ingat kisah penciptaan. Allah mengambil satu hari khusus untuk merangkum segala karya yang telah dilakukan-Nya.

Orang-orang Yahudi dalam Perjanjian Lama juga mengenal hari untuk “berhenti” sejenak, yang dinamakan hari Sabat. Berhenti dari rutinitas sehari-hari, dari segala sesuatu yang bersifat duniawi agar dapat meluangkan waktu bersama Dia, Sang pemberi segala Sesutu yang telah memungkinkan kita melakukan segala sesuatu. Dan itu dilakukan pada hari ketujuh atau hari Minggu. Oleh karenanya Gereja hingga saat ini juga menganjurkan agar umat beriman berhimpun, mendengarkan sabda Tuhan dan berdoa bersama pada hari Minggu. Para hari Minggu umat beriman wajib berkumpul untuk mendengarkan Sabda Allah dan ikut serta dalam perayaan Ekaristi (Konstitusi Liturgi No. 106).

Perayaan Sabda yang seringkali diikuti umat Katolik, menjadi tempat nomor dua setelah perayaan Ekaristi. Yang penting adalah persiapan hati untuk menerima komuni, begitu biasanya orang berseloroh…  Hal itu menunjukkan betapa perayaan Sabda belum benar-benar mendapatkan tempat di hati kita. Kita belum dapat menemukan nilai agung sebuah perayaan Sabda. Seolah-olah apa yang diperdengarkan atau dibacakan dalam ibadat atau perayaan itu adalah kata-kata yang kosong, yang tak bermakna. Sabda Allah itu penuh daya, artinya apa yang diungkapkan terwujud juga dalam realitas. Misalnya saja, ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Ia bersabda, “Jadilah terang!” Lalu terang itu jadi (Kej 1:3). Sabda Allah itu efektif, penuh daya. Maka tidak bisa dipungkiri dalam menghadapi berbagai macam persoalah hidup, kita butuh kekuatan rohani. Kekuatan itu akan kita dapatkan dari Sabda Allah sendiri, yang telah menjelma menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Oleh karenanya sukacita yang kita dapatkan pun nyata adanya.

Di dalam suatu perayaan, jika kita menginginkan Allah benar-benar hadir, maka kehdiran Allah itu pertama-tama adalah dalam Sabda. Sabda yang selalu diperdengarkan dan menjadi landasan dari misteri yang kita rayakan atau perayaan itu sendiri. Dari Sabda itulah kita mampu mengimani dengan nyata, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Yang merupakan juga wujud dari pewartaan nilai-nilai iman yang terkandung dalam Sabda itu.

Bagaimana hati para murid bersukacita bahkan lebih dari itu berkobar-kobar ketika mendengarkan Sabda Allah yang hadir dalam diri Yesus. Hal itu menjadi contoh yang jelas bagi kita. Semoga kita pun mampu seperti para murid itu. Memaknai sabda yang diperdengarkan. Sehingga perayaan Sabda bukan hanya sekedar urutan dalam perayaan yang harus dilalui tetapi benar-benar mewarnai suasana sepanjang hari itu. Sehingga kita juga merindukan hari untuk berkumpul bersama sebagai umat beriman untuk mendengarkan sabda-Nya, berdoa bersama dan mengamalkan karya kasih sebagai nilai pewartaan.

Hal pokok yang dapat kita ambil dari suatu perayaan sabda adalah pertama: Sabda Allah itu sendiri. Bila Injil dibacakan, saat itu pula Tuhan kita Yesus Kristus bersabda. Bila Tuhan bersabda, maka Dia juga berkarya untuk melaksanakan penyelamatan bagi kita. Kedua: tanggapan seluruh umat beriman. Sabda Allah itu sapaan dari Allah. Sapaan itu membutuhkan tanggapan dari kita, bisa berupa mazmur tanggapan, nyanyian selingan dan doa-doa kita. Semoga dengan memahami kedua hal yang pokok ini kita dapat merayakan Sabda dalam perayaan Ekaristi pada hari Minggu dengan penuh makna.

Diambil dari Bahan Katekese Liturgi
Bulang Liturgi Nasional 2008

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget