MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Masa Adven"

Kita telah bersama-sama melewati pendalaman iman adven pekan pertama. Melalui tema “Janji Allah: Kebenarannya Bersinar seperti Cahaya” kita diajak untuk melihat kembali keberadaan diri kita. Berbagai macam masalah hidup, kesalahan dan dosa yang kita lakukan membuat kita merasa  hidup ini diliputi oleh kegelapan. Hal tersebut diperparah dengan keadaan negara kita yang akhir-akhir ini diliputi dengan berbagai masalah yang berbau SARA. Oleh karena itu, kita diajak untuk membuka pandangan agar dapat melihat janji Allah yang bersinar seperti cahaya. Cahaya yang dijanjikan Allah telah datang dan akan menerangi kegelapan hidup kita. Oleh karena itu, dalam pertemuan yang kedua ini kita semua diandaikan telah melihat siapa diri kita. Melihat kegelapan-kegelapan diri kita dan melihat cahaya yang datang menaungi kegelapan kita.

Tema pertemuan kedua pendalaman iman masa adven adalah “Menanggapi Sapaan Tuhan: Datang kepada Sang Terang.” Agar semakin mendalami tema ini, kita diajak untuk membaca dan merenungkan sabda Tuhan dari Injil Lukas 2:15-20. Sabda Tuhan ini akan membantu kita dalam menaggapi cahaya kasih Allah yang datang kepada kita. Penginjil Lukas mengisahkan bahwa para gembala yang mendengar kabar sukacita tentang kelahiran Yesus Sang Terang itu berkata “Mari kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Luk. 2:15). Para gembala tidak tinggal diam, seorang diantara mereka tergerak untuk mengajak para gembala lain untuk melihat apa yang telah dijanjikan kepada mereka. Ada ketergerakan hati untuk mecari dan menemui Sang Terang.

Lebih lanjut penginjil Lukas menegaskan bahwa para gembala itu “cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang terbaring di dalam palungan” (Luk. 2:16). Ketergerakan hati para gembala diwujudkan dengan segera datang menemui Sang Terang. Tanpa menunda-nunda mereka pergi mendekati dan menemui Sang Terang tersebut. Inilah sikap yang diungkapkan oleh para gembala yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, yang hanya bekerja seadanya, dan sering kali dikucilkan oleh masyarakat. Namun, mereka memiliki kepekaan yang mendalam akan sapaan Tuhan. Mereka membutuhkan cahaya yang dapat mengubah hidup dan memberikan sukacita, sehingga tanpa mengulur waktu mereka segera pergi menemui Sang Terang yang telah datang itu.

Setiap pribadi memiliki kegelapan yang dialami dalam kehidupannya. Berbagai masalah, pergulatan hidup dan kedosaan diri menjadikan kehidupan pribadi teras gelap. Sindiran, cemoohan, gosip dan pengucilan dari orang-orang disekitar juga menjadi kegelapan yang sangat menyakitkan. Diperparah lagi dengan situasi masyarakat dan negara yang senantiasa dihantui dengan isu-isu teror bom, SARA, korupsi dan berbagai masalah politik. Semua ini tentu membuat hidup di dunia ini terasa semakin gelap. Kebutuhan akan cahaya yang mampu menerangi dan memberikan kelegaan tentu sangat diharapkan. Namun, sering kali kita terbuai oleh semua masalah tersebut dan seola-olah merasa nyaman dan aman berada dalam kegelapan.

Kegelapan yang begitu besar sering kali menutup hati kita, sehingga tidak mampu mendengar sapaan Allah yang menjanjikan terang. Kita lebih senang mengurus hal-hal yang menjadi kesukaan atau hobi sehingga mengabaikan sapaan Allah. Kita sering kali mengikuti keinginan-keinginan daging yang kuat sehingga seolah-olah tidak punya waktu untuk mempersiapkan diri datang kepada cahaya yang telah hadir. Kita juga lebih menuruti rasa malu, minder, ego, takut dan gengsi untuk meninggalkan segala sisi gelap hidup kita. Tanpa disadari akhirnya kita menjadi terbiasa dan senang berada dalam kegelapan. Pada kesempatan ini marilah kita sungguh-sungguh melihat cahaya yang telah datang menaungi kegelapan hidup kita dan berusaha segera menanggapi kehadiran cahaya yang telah datang itu.

Terang telah datang, yang dibutuhkan adalah usaha untuk bangkit dan keluar dari kegelapan hidup yang membelenggu, lalu masuk dan menerima Sang Terang itu. Tanpa adanya usaha dari kita untuk datang, maka sia-sialah kehadiran Sang Terang ke dunia. Menerima terang berarti hidup kita akan dibaharui, kita akan memporoleh kebahagiaan dan keselamatan. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk dapat datang kepada Sang Terang itu, antara lain:

1. Membuka hati 
Hidup dalam di dunia dengan berbagai tawaran yang menggiurkan, mengharuskan kita untuk tahu bahwa segala hal yang ada di dunia ini sifatnya sementara. Kelekatan terhadap hal-hal duniawi dan masalah-masalah pribadi membuat hidup kita semakin terpuruk dan masuk dalam situasi kegelapan. Kita akan merasa bahwa tidak ada kebahagiaan yang akan datang. Tidak ada cahaya yang mampu menerangi kegelapan hidup kita. Oleh karena itu, kesadaran akan keberadaan diri membantu kita untuk menyadari adanya terang yang akan mengubah dan memperbaharui hidup kita. Kesadaran akan kegelapan membuat kita mampu membuka hati untuk menerima Sang Terang yang telah datang. Maka, bukalah hati bagi Sang Terang yang telah datang. Keluarlah dari kegelapan yang kian menjerat dengan kenikmatan dan kepuasan semu. Sukacita, kebahagiaan dan keselamatan telah menanti kita.

2. Mengenal Tuhan
Kita perlu mengenal secara mendalam terang yang hadir di tengah dunia yang gelap ini. Kristus adalah Sang Terang yang datang menerangi kegelapan. Kristus yang mengubah dan membaharui hidup manusia. Jika kita sungguh-sungguh mengenal-Nya tentu semakin mudah bagi kita untuk datang kepada-Nya. Oleh karena itu, bentuklah relasi pribadi yang mendalam dengan Kristus Sang Terang Abadi, sehingga kita mampu menerima Dia di dalam hati kita. Doa, membaca Kitab Suci, mengikuti kegiatan-kegiatan lingkungan dan paroki, Ekaristi menjadi sarana yang mempu membawa kita untuk semakin mengenal dan mencintai Kristus Sang Terang.

3. Bangkit dan Menyambut 
Mari bangun dan berjalan menuju terang abadi. Ulurkan tangan untuk menerima terang kehidupan yang membahagiakan dan menyelamatkan. Terang yang datang tidak akan membawa pengaruh yang besar jika tidak ada keterlibatan aktif dari kita untuk datang kepada-Nya. Bangkit dan menyambut Sang Terang memang tidak mudah. Kesombongan, gengsi, kemasalan dan kegoan kita sering kali menghambat usaha kita ini. Sakramen Tobat merupakan salah satu sarana yang baik untuk datang dan memberikan diri kepada Sang Terang, sehingga kita akan memperoleh sukacita dan kehidupan baru.
Semoga kita mampu melihat sisi gelap hidup kita masing-masing dan mulai mengenal Sang Terang. Segeralah bangkit dan mengambil langkah pasti untuk datang dan mengulurkan tangan menyambut terang kehidupan yang baru. Semoga kita semua mampu keluar dari kegelapan hidup masing-masing dan memperoleh sukacita dan keselamatan dalam Kristus Sang Terang Sejati.  **Victor.

Seperti kita ketahui bersama bahwa Masa Adven adalah masa mempersiapkan diri menyambut kedatangan Mesias, baik kedatangannya yang pertama (yang akan kita rayakan pada Hari Natal nanti) maupun kedatangan-Nya yang kedua (makna eskatologis). Seperti biasanya, selama Masa Adven, kita akan memasuki masa Pendalaman Iman Adven (PID) seperti sekarang sedang kita laksanakan di Keuskupan Palangka Raya. Tema Umum Adventus 2016 adalah seperti pesan Natal yang telah disepakati bersama oleh PGI dan KWI yakni: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, Di Kota Daud (Luk. 2:11). Tema ini akan kita dalam dalam 4 (empat) pertemuan dengan sub-tema sebagai berikut:
  1. Janji Allah: Kebenarannya Bersinar Seperti Cahaya
  2. Menanggapi Sapaan Tuhan: Datang Kepada Sang Terang
  3. Dipanggil Menjadi Terang Keselamatan Bagi Orang Lain
  4. Mengarahkan Langkah Kepada Tuhan dengan Bertobat
Inilah beberapa sub-tema yang akan menjadi bahan permenungan kita selama masa adven 2016. Artikel ini akan membahas secara khusus tema pertemuan pertama yaitu: Janji Allah: Kebenarannya Bersinar Seperti Cahaya.

Pendalaman iman pada pertemuan ini menggunakan Injil Lukas 2: 8-14 sebagai bacaan yang didalami bersama. Beberapa hal dapat dijelaskan tentang lambang atau simbol yang terdapat dalam bacaan tersebut:
  1. Kedatangan Tuhan, Sang Terang, oleh para malaikat pertama kali diwartakan kepada para gembala yang miskin pada waktu malam. Malam merupakan lambang kegelapan. Para gembala sering dipandang sebagai orang-orang berdosa yang tidak mengamalkan hukum Taurat, sehingga harus dijauhi dan disingkirkan.
  2. Sebagai orang-orang yang tersingkir dan terbuang, para gembala sangat merindukan kehadiran Tuhan, Sang Terang dalam hidup mereka. Dan kerinduan mereka selama ini terjawab pada malam itu. Para malaikat mewartakan kepada mereka bahwa Sang Terang yang mereka rindukan telah datang. [ref: PID 2016, Komisi Liturgi Keuskupan Palangka Raya].
Kembali ke judul pendalaman, Bersinar Seperti Cahaya yang adalah sama dengan terang mengandaikan satu hal yang berlawanan dengan itu, yakni, kegelapan sedang berkuasa. Dalam gelap, kita butuh terang. Dalam terang, tidak mungkin butuh terang. Oleh karena itu, jika iman kita mengakui bahwa Kristus Tuhan adalah terang bagi kita, maka kita pun harus melihat sisi gelap hidup kita yang butuh terang. Dalam pertanyaan refleksif yang di sediakan, kita diajak untuk melihat kegelapan yang sedang dirasakan secara pribadi, kegelapan apa yang sedang dirasakan dalam Gereja, masyarakat dan negara, kemudian kita harus membangun harapan bahwa Kristus akan hadir sebagai terang dalam semua kegelapan itu.

Meskipun pertemuan ini lebih banyak berbicara tentang simbol, lambang, ilustrasi, namun kiranya kita dapat mengidentifikasi sisi-sisi gelap hidup kita yang membutuhkan terang Kristus. Sebagai sebuah pendalaman iman, kita diajak untuk saling menguatkan melalui sharing iman. Kita tidak perlu terlibat dalam diskusi panjang yang tanpa jawaban, tetapi kita cukup saling menguatkan bahwa kita semua membutuhkan terang dalam sisi gelap hidup kita yang berbeda-beda untuk setiap orang.

Semoga pendalaman iman adven pertama ini membantu kita semua untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan-Nya, Sang Terang kehidupan. Amin.

Hidup sebagai keluarga Allah dalam lingkup keluarga, Gereja dan masyarakat merupakan tema pendalaman iman masa adventus 2015 di Keuskupan Palangka Raya. Tema ini didalami dan direnungkan selama tiga kali pertemuan. Dari pertemuan pertama sampai dengan pertemuan ketiga, kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Allah menginginkan bahwa yang menjadi ahli waris Abram adalah anak kandungnya, dan bukan hambanya. Demikian pula Allah menginginkan bahwa yang menjadi pewaris kerajaan surga adalah anak-anak Allah, bukan hamba-hambanya. Kita, umat beriman telah diangkat Allah menjadi anak-anaknya melalui pembaptisan. Oleh karena itu, semua yang telah dibaptis dalam persekutuan Gereja, telah diangkat dan diakui menjadi anak Allah sekaligus pewaris kerajaan Allah.
  2. Allah tidak menjanjikan kehidupan yang damai dan tenang bagi keturunan Abram. Allah mengatakan bahwa keturunan Abram akan mengalami penderitaan dan mereka akan diperbudak selama 40 tahun lamanya. Demikian pula, kita yang telah menjadi anak Allah, tidak akan luput dari segala cobaan dan tantangan. Kita akan menderita dan memikul salib seperti Putra-Nya sendiri.
  3. Karena kita hidup sebagai satu keluarga, yakni keluarga Allah, kita harus menjadikan cinta kasih sebagai nafas kebersamaan. Dalam I Korintus 13: 1-3 dikatakan: Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Artinya adalah bahwa hanya kasihlah yang mampu membuat rasa kekeluargaan itu bertahan. Tanpa kasih, kehidupan sebagai keluarga akan berantakan dan hancur.
  4. Apakah kita perlu khawatir dengan semua yang telah dinubuatkan? Bahwa kita akan mengalami penderitaan? Kita tidak perlu takut. Kebersatuan kita dengan Kristus, sebagai pokok anggur yang benar menjadikan kita tetap kuat. Dengan bersatu pada pokok anggur, kita sebagai ranting akan berbuah juga. Oleh karena itu, kendati Allah telah mengatakan bahwa sebagai anak Allah, kita akan mendapatkan cobaan, kita memiliki benteng yang kuat, yakni Yesus Kristus sebagai pokok anggur. Selama kita tetap bersatu dengan Dia, kita tidak takut bahaya apa pun.
Empat poin di atas menjadi kesimpulan singkat dari 3 pertemuan pendalaman iman adventus 2015. Kesimpulan ini merupakan ringkasan dari seluruh sharing umat beriman di lingkungan. Kiranya apa yang tidak terangkum di sini, menjadi tambahan perbendaharaan iman dan mencerdaskan iman kita semua.

Pada tanggal 23 Januari 2015 yang lalu, Paus Fransiskus menuliskan pesannya bertepatan dalam perayaan Hari Komunikasi Sedunia. Pesan Bapa Paus bertemakan "Keluarga Sebagai Tempat Istimewa Terjadinya Cinta Kasih. Pesan ini persisnya mengawali menjalani tahun 2015.

Di pengunjung tahun 2015, kita diingatkan kembali tentang pentingnya sebuah keluarga yang hidup dalam iman. Melalui pendalaman iman masa Advent dan sesuai dengan tema natal 2015, kita mendalami kembali makna dari sebuah keluarga kristiani. Berbicara tentang keluarga, kita dapat menarik inspirasi dari bagian Injil yang berhubungan kunjungan Maria kepada Elisabeth (Luk 1: 39-56). "Ketika Elizabeth mendengar salam Maria, bayi melompat dalam rahimnya, dan Elisabeth, penuh dengan Roh Kudus berseru dengan suara nyaring dan mengatakan, 'Sungguh diberkati engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu'." (ay. 41-42). Peristiwa ini lebih menunjukkan bagaimana kita berkomunikasi terkait dengan bahasa tubuh. Yang pertama menanggapi salam Maria adalah anak dalam rahim Elisabeth. Ini menegaskan kepada kita bahwa kita harus belajar, bahkan sebelum kita lahir pun, kita telah diberikan model atau pola dasar sebuah komunikasi. Rahim adalah rumah pertama kita sekaligus menjadi "sekolah" komunikasi, dimana kita mendengarkan, menanggapi kontak fisik di mana kita mulai membiasakan diri dengan dunia luar dalam lingkungan yang dilindungi, dengan suara meyakinkan dari detak jantung ibu. Pertemuan antara dua orang, (ibu dan anak) sehingga berhubungan erat sementara masih berbeda satu sama lain, pertemuan yang begitu penuh janji, dan menjadi pengalaman pertama komunikasi kita. Ini adalah pengalaman kita semua, karena masing-masing dari kita lahir dari seorang ibu.

Bahkan setelah lahir ke dalam dunia, kita pun masih dalam "rahim", yakni keluarga. Sebuah rahim terdiri dari berbagai orang yang saling terkait: keluarga adalah "di mana kita belajar untuk hidup dengan orang lain meskipun banyak perbedaan di antara kita" (Evangelii Gaudium, 66). Meskipun perbedaan jenis kelamin dan usia di antara mereka, anggota keluarga menerima satu sama lain karena ada ikatan di antara mereka. Semakin lebar kisaran dari hubungan ini, dan semakin besar perbedaan usia, semakin kaya pula kita merasakan keunikan lingkungan hidup kita. Dalam keluarga kita menyadari bahwa orang lain telah mendahului kita, mereka mempersiapkan bagi kita suatu kehidupan yang akan kita jalani ketika giliran kita tiba. Dalam keluarga, kita dapat memberi karena kita telah menerima. Lingkaran saleh ini adalah jantung dari kemampuan keluarga untuk berkomunikasi di antara para anggotanya dan dengan orang lain. Lebih umum, itu adalah model untuk semua komunikasi.

Doa adalah bentuk komunikasi yang paling mendasar. Ketika orang tua menidurkan anak-anak mereka yang baru lahir, mereka sering mempercayakan mereka kepada Tuhan, meminta supaya Tuhan melindungi mereka. Ketika anak-anak sedikit lebih tua, orang tua membantu mereka untuk membaca beberapa doa sederhana, mengajari mereka untuk berbuat kasih kepada sesama, seperti kakek-nenek, saudara, orang sakit yang menderita, dan semua mereka yang membutuhkan bantuan Allah. Semua ini kita pelajari dalam keluarga.

Dalam keluarga, kita belajar untuk merangkul dan mendukung satu sama lain, untuk membedakan arti dari ekspresi wajah dan saat hening, tertawa dan menangis bersama-sama dengan orang-orang yang tidak memilih satu lainnya belum begitu penting untuk satu sama lain. Hal ini sangat membantu kita untuk memahami arti komunikasi sebagai mengenali dan menciptakan kedekatan. Ketika kita mengurangi jarak dengan tumbuh lebih dekat dan menerima satu sama lain, kita mengalami rasa syukur dan sukacita.

Lebih daripada itu, keluarga adalah tempat kita sehari-hari mengalami kekurangan kita bersama orang lain, masalah besar dan kecil dalam kebersamaan dengan orang lain. Keluarga yang sempurna tidak ada. Kita tidak perlu takut ketidaksempurnaan, kelemahan atau bahkan konflik, melainkan belajar bagaimana untuk menangani mereka secara konstruktif. Keluarga, adalah tempat kita tetap mencintai satu sama lain meskipun diwarnai oleh kelemahan dan kedosaan kita, sehingga keluarga menjadi sekolah pengampunan. Pengampunan itu sendiri merupakan proses komunikasi. Ketika penyesalan diungkapkan dan diterima, menjadi mungkin untuk memulihkan dan membangun kembali komunikasi yang rusak. Seorang anak yang telah belajar di keluarga untuk mendengarkan orang lain, untuk berbicara dengan hormat dan untuk mengekspresikan pandangannya tanpa memandang rendah orang lain, akan menjadi kekuatan untuk dialog dan rekonsiliasi di masyarakat.

Keluarga, bukanlah subyek perdebatan atau medan untuk pertempuran ideologi. Sebaliknya, keluarga adalah sebuah lingkungan di mana kita belajar untuk berkomunikasi dalam pengalaman kedekatan. Keluarga adalah sebuah komunitas yang menyediakan bantuan, yang merayakan hidup dan berbuah. Setelah kita menyadari ini, kita sekali lagi akan dapat melihat bagaimana keluarga terus menjadi sumber daya manusia yang kaya, sebagai lawan dari masalah atau lembaga dalam krisis.

Inilah isi pesan Paus Fransiskus pada awal tahun 2015. Sekarang, dipengunjung tahun 2015, pesan ini dikristalkan kembali melalui Pendalaman Iman Masa Advent dan terlebih melalui tema perayaan Natal 2015. Keluarga menjadi fokus utama memulai segala sesuatu, bahkan sekarang ini yang kita sebut-sebut "revolusi mental" harus dimulai juga dari keluarga.

Keluarga adalah "Gereja Domestik" di mana setiap anggotanya dapat bertemu Tuhan dalam kebersamaan sebagai ayah, ibu, anak, suami, istri saudara dan saudari. Pesan ini pun dikristalkan dengan permenungan kita di mana kita tahu bahwa kita akan menjadi pewaris kerajaan Allah, karena kita sudah diangkat menjadi anak Allah dan bukan hamba. Bagaimana hak dan kewajiban sebagai anak, inilah yang harus kita alami dalam keluarga terlebih dahulu, sebagai sekolah pertama bagi kita.

-------------------------------------------
Bahan Bacaan:

  • Buku Pendalaman Iman Adven 2015 Keuskupan Palangka Raya;
  • MESSAGE OF HIS HOLINESS POPE FRANCIS FOR THE 49th WORLD COMMUNICATIONS DAY, 23 January 2015

Pendalaman Iman Masa ADVEN 2015 untuk pertemuan pertama mengetengahkan tema "Hidup Bersama Sebagai Keluarga Beriman Kepada Allah". Pada pertemuan pendalaman Iman Bulan Kitab Suci Nasional 2013 yang lalu, khususnya pada pertemuan pertama, Kairos telah menulis artikel juga dengan judul "BKSN 2013 (I): Keluarga yang Beriman". Perbedaan dari tema BKSN dengan tema PIMA (Pendalaman Iman Masa Advent) adalah terletak pada teks kitab suci yang dijadikan bahan permenungan. Namun, keduanya memilih tokoh yang sama yakni Abraham sebagai bapak segala orang beriman.

Oleh karena itu, selain mengulangi dan mengajak pembaca untuk melihat kembali tulisan pada BKSN 2013 seperti tersebut di atas, Kairos menambahkan beberapa point yang kiranya menjadi inti permenungan kita bersama dalam pertemuan pertama PIMA 2015 ini.

Pertemuan pertama akan menggunakan Kitab Kejadian 15: 1-21 sebagai bahan pendalaman. Dalam Kejadian 15:4 berbunyi: Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu."
Sesungguhnya, Allah menginginkan bahwa yang menjadi ahli waris Abraham adalah anak kandung Abraham sendiri, dan bukan hambanya.
Kalau Allah sendiri menginginkan bahwa yang menjadi pewaris Abraham adalah anak kandungnya, bagaimana dengan Kerajaan Allah? Siapa yang dikehendaki Allah menjadi pewaris kerajaan-Nya.
Sebagai umat beriman, kita patut bersyukur bahwa kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah dan akan menjadi pewaris kerajaan-Nya.

Inilah yang menjadi inti permenungan kita selama masa Advent ini. Kita telah menjadi keluarga Allah. Kita telah diangkat menjadi anak-anak-Nya. Anak-anak Allah harus berbuat dan hidup seturut kehendak Allah. Setia menjadi anak Allah, kita akan mencapai kehidupan sejati. Kehidupan sejati tidak bisa dicapai hanya dengan mengejar kemajuan material saja, tetapi juga harus diimbangi dengan kemajuan rohani.

Karenanya, masa Adven ini adalah masa khusus bagi kita untuk memupuk kembali kehidupan rohani kita sehingga kita layak disebut sebagai Anak Kandung Allah, dan bukan lagi sebagai hamba. Dengan demikian, kita akan layak ikut bersama-sama dalam perayaan iman, menyambut kedatangan Juruselamat kita, baik pada hari Natal nanti, maupun pada akhir zaman.


Pembaca yang budiman,
Memasuki masa ADVENT 2015, kita kembali melaksanakan pendalaman iman selama 3 kali pertemuan dengan tema: "Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah". Sebagai bentuk sharing demi perkembangan kita dalam iman, kami meminta waktu anda untuk mengisi questioner seputar tema pendalaman iman berikut ini:





Bagi anda yang tidak bisa mengakses di halaman ini, silahkan kunjungi link berikut untuk mengisi questioner di atas.
Questioner Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah

...It was the best of times, it was the worst times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch incredulity, it was the spring of hope, it was the winter of despair... (Charles Dickens)

Fr. Yan Taylor, SVD
Kata-kata yang ditulis oleh Charles Dickens di dalam karyanya  A Tale of Two Cities di atas merupakan ungkapan harapan sekaligus keprihatinannya yang besar akan situasi zamannya. Ucapan seorang pemikir besar kurang lebih dua abad yang lalu itu menjadi titik pijak kita untuk meneropong zaman kita ini.

Kita tentu "merasa biasa" dengan dunia kita yang kejam dan tak manusiawi. Kita juga mungkin terbiasa dengan  wajah manusia terluka dan terlunta diterpa oleh kejamnya hati yang tak berbelas. Penindasan atas nama agama atau kepentingan golongan tertentu mewabah sehingga “ yang lain” menjadi korban. Diskriminasi rasial yang menjamur tidak hanya pada level lokal, tetapi mencapai level nasional. Embel dari segala tindakan tersebut tak lain adalah kekerasan. Korupsi semakin meningkat, tanpa penyelesaian akhir yang klimaks. Sementara itu, Societas merasa dinina-bobokan dengan janji-janji muluk yang tak kunjung teralisir. Societas gerah!

Manusia kini tak ayal hanyalah merupakan produk dunia yang hilang. Kita pun bertanya, sampai kapankah aku dan zamanku - berdamai. Aku merasa rindu melihat dunia ini dihiasi lagi oleh bunga-bunga indah yang ditanam dan disiram oleh orang-orang yang bertanggung jawab. Aku sesungguhnya tak mengharap dunia ini dihiasi oleh bunga-bunga arwah - karena akibat peperangan dan konflik yang berkepanjangan. Aku pun berharap untuk melihat tangan-tangan yang dicipta oleh Tuhan untuk saling berjabat satu sama lain, bak Israel yang pulang dari tanah pengasingan dengan penuh sorak.Sungguh cita ini membeludak. Apa cita ini bisa menjadi cerita bagi anak - cucu kita yang masih muda belia? Kita berharap mudah-mudahan - generasi ini tidak terlunta oleh badai zaman.(Sebuah ungkapan hati)

Berubah dalam Proses

Kita meyakini bahwa dalam situasi apapun, kita menginginkan perubahan. Perubahan seperti apa yang kita inginkan? Berubah dari keterpurukan? Atau? Meski kita hendak beranjak berubah, kita pun harus berproses. Mengenai konsep proses, Pater Inna Reddy Edara,SVD melukiskannya demikian: “ The metaphor of a tree works as a paradigm for formation. Formation is similar to cultivating a tree”.

Formasi perubahan adalah ibaratnya merawat sebuah pohon. Saya kira, kita semua bisa membayangkan tentang tumbuhnya sebuah pohon. Berawal dari persemaian dan berujung pada dewasanya pohon tersebut. Banyak saat yang dilalui oleh sebuah pohon untuk bertumbuh. Menurut hemat saya, apa yang dilukiskan oleh Pater Reddy tentang sebuah pohon itu menjadi lambang pertumbuhan kita juga.

Kita bertumbuh dalam aneka tragedi dan kisah pilu sebagai anak bangsa dan Gereja. Tragedi dan kisah pilu yang menjadi bagian dari hidup kita membuat kita berefleksi atas hidup kita. Kita ingin mengatakan bahwa segala sesuatu belum berakhir. Kita perlu berbenah. Berbenah dari masa lalu kita. Kita bukan dilahirkan untuk mengubah tragedi-tragedi yang terjadi tetapi paling tidak sebagai warga Gereja, perlu tergerak hati untuk terlibat dalam pencarian yang sejati akan makna perubahan itu sendiri. Kita yang dulu terlibat dalam pencarian dangkal, akan makna hidup, kini perlu mengubah langkah dan pandangan kita agar bisa dengan jelas melihat matahari yang bersinar. Hal yang paling penting juga adalah bahwa membangun sikap saling menghargai satu sama lain sebagai satu saudara. Martabat manusia perlu diangkat tinggi, dan bukannya diinjak-injak.

Adven: Gerbang Harapan

Kita berada dalam sebuah masa yang oleh gereja menyebutnya sebagai masa adven.  Masa adven adalah masa di mana kita menyongsong perubahan. Kita ingin membuka gerbang hati kita untuk berubah dari segala masa lalu yang menindas dan memenjara. Kita ingin membenahi jalinan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Ini adalah harapan-harapan yang ingin kita wujudkan.

Semoga dalam kata-kata doa kita pun, terucap:  Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku (Mzm. 139:5-10). **Fr. Yan Taylor, SVD

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget