MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Opini"

Ilustrasi: Dari aiendyu.com
Tulisan ini bisa dinilai sebagai celoteh senggang. Boleh juga ditanggapi secara serius mengingat isinya menyentuh realitas-realitas yang terjadi selama ini. Agar tidak terjadi kesalahan tafsir, beberapa istilah saya tuliskan dalam huruf tebal, menunjukkan bahwa kata atau kalimat tersebut perlu dianalisa dulu sebelum ditanggapi.

Keterwakilan Rakyat

Saya mulai dari istilah "wakil" yang biasa dikenakan untuk wakil-wakil kita di DPR sana. Dalam bukunya "Contemporar Political Systems", Gilbert Abcarian mengelompokkan 4 tipe hubungan antara wakil dengan yang diwakili:
  1. Si wakil bertindak sebagai wali (trustee). Wakil bebas bertindak mengambil keputusan menurut pertimbangannya sendiri tanpa perlu berkonsultasi dahulu dengan yang diwakilinya.
  2. Wakil bertindak sebagai “utusan” (Delegate). Wakil bertindak sebagai utusan atau duta dari yang diwakilinya. Wakil selalu mengikuti instruksi dan petunjuk dari yang diwakilinya dalam melaksanakan tugas.
  3. Wakil bertindak sebagai “politico”. Wakil kadang-kadang bertindak sebagai wali dan ada kalanya bertindak sebagai utusan. Tindakan ini bergantung dari isi (materi) yang akan dibahas.
  4. Wakil bertindak sebagai “partisan”. Setelah wakil dipilih oleh pemilihnya maka lepaslah hubungannya dengan pemilihnya, mulailah hubungan terjalin dengan partai politik yang mencalonkannya dalam pemilihan tersebut.
Hal di atas adalah pandangan yang sudah dibukukan kemudian diteliti dan dianalisa oleh pemikir-pemikir berikutnya. Dari 4 tipe di atas, keterwakilan rakyat Indonesia dalam dunia politik kita lebih tepat pada tipe ke-4, yakni sebagai "partisan". Tipe ke-4 ini lebih sejalan dengan pandangan Plato, ketika beliau membantah pemikiran "demokrasi" di zamannya. Plato mengatakan bahwa demokrasi dapat dimengerti menjadi dua yakni:
  1. Sesuai dengan artinya "demos" (rakyat) dan "kratos" (kekuasaan), Plato mengatakan bahwa demokrasi adalah kekuasaan yang berasal dari rakyat. Pengertian ini menurut Plato sangat tepat karena tidaklah mungkin rakyat dalam jumlah banyak memerintah secara bersama-sama.
  2. Namun, di sisi lain, Plato juga membantah demokrasi karena kekhawatirannya akan munculnya pemikir-pemikir baru yang akan membuat pengertian baru. Menurut Plato, demokrasi dapat juga diartikan sebagai: kekuasaan yang berasal dari rakyat yang kemudian diwakilkan kepada komplotan, kerumunan, gerombolan, mafia, golongan. Dalam pengertian kedua ini, kehadiran rakyat di sana hanya sebagai simbol dan jembatan peralihan kekuasaan tersebut.
Pendapat kedua dari Plato sejalan dengan tipe ke-4 menurut Gilbert Abcarian. Namun, semua itu, tetaplah sebuah pendapat yang telah dibukukan. Akan tetapi perlu diingat bahwa sebelum mereka bukukan, pastilah mereka telah melakukan penelitian pada zamannya. Meskipun Aristoteles lebih dikenal sebagai filsuf yang memperkenalkan demokrasi untuk pertama kalinya, namun dalam deretan para filsuf ternama, mereka banyak mengemukakan pendapat tentang benda yang namanya "demokrasi".

Keterwakilan Rakyat Versi Realitas Indonesia

Lepas dari teori-teori di atas, kita perlu turun gunung dan melihat realitas yang terjadi. Kita kembali pada perbincangan di warung kopi atau celoteh-celoteh rakyat yang hanya menjadi penonton panggung politik kita:
  1. Sejatinya, keterwakilan rakyat itu sudah hampir sempurna. Rakyat suka berkelahi karena tidak ada pendidikan yang memadai, keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, dan itupun terwakili di DPR sana. DPR kita pun berkelahi juga.
  2. Cita-cita rakyat Indonesia adalah ingin hidup sejahtera baik secara finansial maupun dari segi kenyamanan hidup di negeri ini. Cita-cita itupun terwakili di sana. Ketika Anggota DPR kita sudah sejahtera dengan gaji yang besar, tunjangan yang besar, bersyukurlah karena rakyat pun sudah terwakili di sana.
  3. Rakyat miskin selalu mengharapkan bantuan. Minta ditolong dan mengharapkan ada subjek-subjek yang bergerak sebagai penolong. Itupun terwakili juga di sana. Di kalangan elit Anggota DPR kita pun, ada yang berteriak bila "subsidi" itu dicabut. Alasan primadona adalah "miskin".
  4. Rakyat selalu berjuang untuk membangun keadaan ekonominya dengan memulai bisnis baik sebagai kontraktor, devloper, pedagang, dan lain sebagainya. Itu juga terwakili di sana. Anggota DPR kita pun punya Badan Usaha yang mendapatkan peluang besar untuk memenangkan proyek-proyek negara untuk memperbaiki ekonomi mereka.
  5. Di beberapa tempat di Indonesia, kebiasaan berjudi itu masih ada. Tidak semua tapi banyak anggota DPR kita yang memulai karirnya dengan judi. Judi yang dimaksud adalah dengan mengeluarkan modal besar-besaran demi mendapatkan kursi. Semakin besar modal yang dicurahkan, semakin besar keuntungan yang akan mengalir setelah itu.
  6. Rakyat Indonesia senang berwisata dan bertamasya ke daerah-daerah tertentu untuk mendapatkan refreshing. Tidak usah ragu, itupun terwakili di sana dengan alasan "studi banding", para wakil kita mendapatkan pelayanan transportasi elit kesana-kemari, meskipun tujuan tidak jelas.
Yang Terlupakan

Pada seminar Sosialisasi Indeks Demokrasi Indonesia yang dilaksanakan di Swiss Bell Hotel, Palangka Raya baru-baru ini, para pembicara lebih banyak mengatakan bahwa Wawasan Kebangsaan sudah mulai hilang, bahkan Pancasila sebagai dasar negara pun nyaris terlupakan. Pemerintahan kita menganut faham demokrasi, tapi perlu ditekankan bahwa demokrasi yang dimaksud adalah DEMOKRASI PANCASILA, bukan demokrasi para filsuf dan bukan demokrasi para pemikir hebat. Maka, bila mencari solusi dari keterpurukan dunia politik kita, SANGAT TIDAK DIHARAPKAN para tokoh MEMBUAT PERUBAHAN, akan tetapi lebih diharapkan untuk GO BASIC, kembali ke dasar. Di sana telah dirumuskan dengan sempurna apa yang menjadi cita-cita bersama. Keterwakilan rakyat harus berdasar pada Pancasila, bukan pada kelicikan, kepiawaian membaca Undang-Undang yang kemudian diracik menjadi alasan rasionalisasi belaka. 

Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh (Galatia 5:25)

Saya bersharing sedikit tentang buah-buah Roh Kudus. Kadang kita berpikir bahwa buah-buah Roh Kudus akan secara otomat dihasilkan oleh pengakuan kita sebagai orang beriman. Ilustrasi berikut ini, barangkali bisa memberikan sedikit gambaran tentang buah-buah Roh Kudus itu.

J. Stuart Holdenn  memberikan suatu perumpamaan yang indah tentang buah-buah Roh Kudus. Ia berkata, "Saya memiliki rumah yang dikelilingi oleh kebun. Dalam kebun itu saya meiliki pemikiran tentang alam sekitar manusia. Misalnya, saya mengenal tanah dan apa yang akan dihasilkan oleh benih, juga berbagai jenis kembang dan buah. Saya telah membaca buku-buku pertanian, dan adalah sesuatu yang mengagumkan untuk tahu bahwa kebun itu memberikan hasilnya. Tetapi perhatikan, bunga dan buah dihasilkan hanya dengan bekerja, dengan ketaatan kepada hukum-hukum alam. Ketika kebun menghasilkan keindahan dan kelimpahan hasil, maka hal tersebut hanya bisa terjadi dengan kerja sama yang cermat dengan alam.

Orang Kristen pun demikian. Kita memang memiliki pikiran Kristus dan kita tahu benar bagaimana seharusnya kehidupan Kristen itu. Tetapi ingat, buah-buah Roh kudus hanya dapat dihasilkan jika kita secara tulus bekerja sama dengan Allah dalam ketaatan dan kepatuhan yang utuh, dengan membiarkan Roh kudus-Nya mengontrol kita, baik tubuh, jiwa dan roh kita.

Sekarang telah jelas, bahwa sekalipun kita memiliki pikiran Allah yang kemudian membuat kita memiliki pelayanan yang luar biasa, serta tahu dan sangat paham kebenaran firman, semua itu tidak bisa membuat kita memiliki buah-buah Roh kudus. Karena hanya melalui ketaatan dan kepatuhan yang utuh kepada Roh Kudus dan Allahlah buah-buah Roh Kudus itu dapat kita hasilkan.

Jadi kesimpulannya, buah-buah Roh Kudus hanya dapat dihasilkan dari ketaatan dan kepatuhan yang sungguh-sungguh, bukan karena besar kecilnya pelayanan kita atau juga karena karunia-karunia yang kita miliki.  Allah lah yang menumbuhkan buah-buah kebenaranmu, yaitu buah-buah Roh Kudus. (1 Korintus 9:10b). ** Yakobus Dapa Toda, S.S.

Karl Rahner, seorang teolog mengatakan bahwa masalah yang dihadapi manusia modern sekarang ini adalah bukan pertama-tama pada isi dari iman kepercayaan itu, atau dari dogma Gereja, akan tetapi pada ketidakmampuan orang itu sendiri untuk percaya, untuk membuka diri pada tuntunan Roh Ilahi. Kata Rahner di atas ada benarnya (ada salahnya juga karena isi iman dan dogma juga jadi problem).

Para medis mempunyai tugas pokok untuk memahami nilai-nilai manusiawi yang perlu dipertahankan dan dikembangkan dalam pelayanan medis. Pendasarannya terletak pada penghargaan nilai hidup manusia, mulai dari awal kehidupan sampai pada akhir kehidupan manusia. Dengan kata lain, mereka memiliki satu prinsip dasar yang harus dipegang teguh, yakni perikemanusiaan. Prinsip itu adalah pengkuan bahwa manusia harus diperlakukan secara manusiawi, diperlakukan sesuai dengan martabatnya, sesuai dengan dirinya sebagai manusia.


Dari segi biologis pun orang segera dapat melihat bahwa manusia itu berbeda dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Perbedaan itu terutama tampak pada susunan dan besarnya otak, susunan syaraf yang memerintah bagian-bagian tubuh, kehalusan dan susunan jari-jari tangan, susunan kromosom dan gen-gen pembawa sifat, ciri-ciri seksualitas manusia dan proses kehamilan dan perkembangan pribadi. Manusia itu suatu kesatuan yang utuh dan nilainya yang tertinggi terletak pada pribadinya seutuh-utuhnya, rohani-jasmani.

Dengan akalnya, manusia mampu membandingkan nilai-nilai. Ia mampu memahami mana nilai yang lebih tinggi, mana nilai yang lebih rendah. Akhirnya dari kenyataan bahwa manusia itu memiliki 'hati nurani' dan karenanya mampu bertindak secara 'moral' orang dapat menarik satu prinsip etis lain, yang biasa disebut prinsip otonomi moral.

Penghargaan terhadap nilai hidup manusia yang berperikemanusiaan tentu dimulai sejak awal kehidupan manusia itu sendiri dan berakhir hingga matinya. Pertanyaa sekarang adalah kapan mulai/awal kehidupan seseorang? Dan kapan kehidupan seseorang dapat dikatakan telah berakhir? Tenaga medis "tradisional" pada umumnya mengakui bahwa hidup manusia harus dilindungi sejak pembuahan (yakni pertemuan antara sperma dan telur dalam saluran telur). Itulah awal kehidupan seseorang. Memang tidak ada kepastian, bahwa zygote itu sudah ada sejak pembuahan. Tetapi ada keyakinan umum, bahwa amat mungkin hidup manusia sudah mulai sejak saat pembuahan.

Penghargaan akan nilai hidup manusia sebenarnya sudah harus dimulai sejak adanya keinginan kehamilan. Tenaga medis hendaknya bersedia membantu suami-isteri yang menginginkan kehamilan dengan persiapan yang sebaik mungkin. Calon suami-isteri dan suami-isteri muda pantas memdapat bimbingan dari tenaga medis tentang cara-cara yang baik untuk mempersiapkan kehamilan yang sehat. Calon isteri harus memahami dengan tepat perihal masa subur, sehingga bersama suami nanti dapat mengatur waktu yang paling tepat untuk merencanakan kehamilan yang sehat. Pengetahuan tentang daur haid wanita dan kesehatan seksual pria tidak hanya penting untuk mencegah kehamilan, melainkan juga penting untuk memungkinkan kehamilan yang sehat.

Lebih lanjut, penghargaan terhadap nilai hidup manusia itu dialami sejak seseorang lahir dan bertumbuh. Hal ini dapat dilihat bila seseorang datang dan mengeluh karena mengalami gangguan kesehatan. Pertama-tama tenaga medis harus menyadari bahwa orang itu diperlakukan sebagai manusia seutuhnya. Tenaga medis tidak boleh menghadapinya semata-mata sebagai barang atau hewan yang perlu ditangani. Dalam proses pemeriksaan dan penyembuhan, tenaga medis harus mendasarkan tindakan-tindakannya pada pemahaman yang utuh tentang nilai kesehatan dan penderitaan manusia.

Pada akhirnya, penghargaan terhadap nilai hidup manusia itu, harus berakhir pada saat berakhirnya kehidupan seseorang. Tenaga medis tidak dapat menghalangi akhir kehidupan seseorang. Meskipun nilai hidup manusia itu tinggi, namun tenaga medis dalam batas-batas dan pertimbangan-pertimbangan tertentu tidak bisa memperpanjang kehidupan manusia yang sudah dianggap berakhir. Kapan persisnya akhir dari kehidupan seseorang? Pada umumnya orang mengandaikan bahwa manusia akan mati pada usia yang cukup tua. Tetapi cukup banyak orang yang mati pada usia muda. Kecuali itu, tak dapat dipastikan, pada usia mana orang akan mati. Maka, tenaga medis tidak dapat menentukan saat berakhirnya kehidupan dari jumlah usia seseorang.

Sejak dulu sampai sekarang, orang-orang pada umumnya menyatakan bahwa nilai hidup seseorang berakhir pada saat ia tidak bernyawa lagi. Pernyataan ini menimbulkan soal: kapan nyawa mulai tidak ada? Jawaban yang bisa diberikan ialah: bila orang tersebut tidak bernafas lagi. Memang, jawaban ini dulu memuaskan kebanyakan orang, termasuk tenaga medis. Akan tetapi, jawaban serupa itu tidak begitu memuaskan tenaga medis lagi. Sebab, kini sudah ditemukan berbagai cara untuk membantu seseorang dapat bernafas lagi. Kecuali berhentinnya pernafasan, berhentinya detak jantung dulu juga dianggap sebagai pedoman bahwa hidup seseorang sudah berakhir. Akan tetapi, dewasa ini dikenal berbagai cara untuk meneruskan detak jantung, supaya hidup seseorang dapat diteruskan. Karena itu, tenaga medis modern memerlukan pedoman baru, kapankah kehidupan seseorang sungguh-sungguh berakhir.

Dewasa ini, kebanyakan ahli dalam bidang medis maupun etika berpendapat bahwa akhir kehidupan terutama ditentukan oleh berhentinya kerja otak. Sebab, hanya otaklah satu-satunya bagian tubuh manusia yang mendasari kehidupan yang khas manusiawi. Tanpa kerja otak, tubuh manusia tidak mampu melakukan tindakan-tindakan manusiawi lagi. Kalaupun nafas dan jantung seseorang masih berfungsi, ia tidak akan hidup lagi sebagai manusia, bila otaknya sudah mati. Jika mesin pernafasan diteruskan sesudah kematian otak, sampai kegiatan jantung berhenti dengan sendirinya, maka organ-organ dalam mulai mengurai.

Kadang-kadang, sebagai tanda, kaki dan tangan mulai membusuk. Membiarkan hal ini terjadi berarti melanggar hak pasien untuk meninggal secara terhormat. Selain itu juga memperpanjang kesedihan pasien yang sebenarnya tidak perlu. Manusia memiliki kekhasan yang unggul daripada ciptaan lainnya. Hal inilah yang mendasari para medis untuk menghargai hidup manusia. Seorang manusia diperhatikan tidak hanya sejak pertemuan sperma dengan telur dalam saluran telur, lebih awal lagi mulai ketika persiapan kehamilan.

Pada akhirnya, perhatian para medis akan seseorang itu berakhir pada saat kematian si pasien, yakni ketika otaknya telah mati. Dalam hal ini, para medis harus berjiwa besar melepaskan kepergian si pasien kepada penciptanya, dengan tidak lagi memasang alat-alat lain yang tidak memungkinkan bagi kesembuhannya. Akhirnya harus diakui bahwa misi para medis dalam menjunjung nilai hidup manusia adalah sangat tinggi, yakni mulai dari pembuahan (sebelumnya ada persiapan kehamilan) sampai kepada kematian. Hal ini terungkap dalam pernyataan Geneva yang dikeluarkan oleh World Medical Association: "Saya akan mempertahankan dan menjunjung tinggi rasa hormat terhadap hidup manusia dari saat pembuahan; dan bahkan di bawah ancaman sekalipun, saya tidak akan menggunakan pengetahuan medis saya secara bertentangan dengan hukum-hukum perikemanusiaan". Semoga para medis sungguh-sungguh menjadi pejuang-pejuang nilai hidup manusia. **Frieds Meko, SVD

Sungguh menarik dan menyenangkan melihat bagaimana di awal tahun ajaran baru, para siswa berlomba-lomba mendaftarkan diri di Lembaga Pendidikan ini dan itu. Semua ingin belajar. Belum lagi kalau orang tua dengan jelas-jeias memberikan dukungan. Di samping itu pula, amat membanggakan apabila menyaksikan orangtua-orangtua kita berbondong-bondong menanti giliran di depan Kantor SLTP atau SLTA untuk mendaftarkan anaknya masuk sekolah lanjutan.

Kenyataan seperti ini sungguh memberikan gambaran bahwa para orang tua dan anak sangat menyadari betapa pentingnya sekolah dan belajar. Mereka mempunyai segenggam harapan dan kepercayaan bahwa sekolah adalah tempat menempa kemampuan berpikir si anak. Orang tua jarang mempertanyakan sistem pendidikan karena ini dianggap  bukan urusan orang tua. Akibatnya, ada kesan orang tua yang meyakini bahwa sekolah tidak akan membawa anak mereka memasuki lorong-lorong ketidakpastian.

Keyakinan seperti ini agaknya laten. Tetapi apakah dianggap tabu kalau kita berbicara jujur tentang sistem pendidikan kita sekarang ini? Cukup jelas bahwa sistem pendidikan yang ada sekarang ini ditandai oleh penyeragaman dan pengaturan yang rapih, mulai dari kurikulum nasional, ujian negara, metode pengajaran sampai dengan seragam sekolah. Pengaturan seperti ini tentu didrop dari atas sebagai hasil kerja Elite Pendidikan.

Kadang disinyalir bahwa sistem pendidikan seperti ini tidak menjawab persoalan yang dihadapi peserta didik karena tidak bertolak dari situasi mereka sendiri. Suatu pendidikan ideal harus bertumpu pada lingkungan yang sedang dihidupi peserta didik sendiri dengan segala macam problem hidupnya. Untuk itu sebetulnya kita perlu memikirkan dan mengupayakan suatu sistem pendidikan yang menciptakan manusia yang sungguh menghadapi problem-problem hidupnya, karib dengan problem itu serta selalu berorientasi pada riset dan tidak hanya melulu menghafal sejumlah prinsip yang usang.

Pendidikan semacam ini juga harus dimasyarakatkan, sehingga dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan yang berorientasi seperti inilah yang dinamakan Pendidikan Populer. Pendidikan Populer ini digagaskan pertama kali oleh Matias Preiswerk dalam bukunya “In The Living Word“. Dalam buku ini, dijelaskan bahwa Pendidikan Populer dapat berorientasi pada pembahasan manusia seutuhnya. Tegasnya, Pendidikan Populer bertujuan mengubah tingkah laku manusia dalam hal akhlak dan kecerdasan sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau yang mudah dipahami masyarakat pada umumnya. Menurut J. Keladu, Pendidikan Populer identik dengan Pendidikan Pembebasan (Liverative Education). Keduanya bertujuan untuk menggerakkan masyarakat agar ikut aktif dalam perjuangan mereka sendiri dengan mengenal dan memahami situasi mereka sendiri.

Secara khusus Pendidikan Populer memberi kesadaran untuk lebih berorientasi kepada peran serta masyarakat atau peserta didik dalam mensinyalir dan mengevaluasi hidupnya dan berusaha mengatasi suatu sistem yang keruh oleh ketidakadilan. Titik tolaknya adalah Subyek Peserta. Karena itu juga Pendidikan Populer merupakan suatu bentuk proses sosialisasi praktis yang membawa kesadaran bagi peserta didik akan peran historisnya dalam konteks pembangunan secara menyeluruh. Dus ini berarti, adanya campur tangan dan dominasi dari Elite Politik Ideologis akan mengakibatkan proses konsientisasi itu terhalang. Akibatnya muncul mentalitas naif dan mentalis magis yang mengesampingkan kesadaran kritis pada setiap peserta didik, yang diharapkan dapat menganalisis realitas secara ilmiah dan menetapkan fakta-fakta secara proporsional.

Gagasan Pendidikan Populer ini, tentu mengundang sejuta persepsi. Orang pasti mempertanyakan urgensi penerapan Pendidikan Populer, apakah penerapannya dapat dimungkinkan oleh ruang lingkup dan realitas politis? Jawaban perlu digali dalam GBHN. Paling tidak dalam GBHN tahun 1978 maupun GBHN tahun 1983 telah ditegaskan arah pendidikan nasional sebagai usaha meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan, agar tumbuh manusia-manusia pembangun yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung-jawab atas pembangunan bangsa.

Penegasan yang ada dalam GBHN ini mengandaikan bahwa proses pendidikan itu dinamis, bertumpu pada kelenturan hakekat manusia Indonesia serta bertujuan menelusuri pengalaman sosial yang dialami oleh setiap warga negara. Dalam arti ini, sesungguhnya secara implisit gaung pendidikan populer telah tercantum dalam GBHN. Walaupun de facto, kita masih terbentur pada kenyataan bahwa kebanyakan orang masih melihat sekolah sebagai wadah yang cocok untuk memberantas keterbelakangan dan kebodohan. Bahkan ada yang melihat sekolah masih sebagai tempat dimana peserta didik ditempa sebagai “Pisau”, artinya sekolah semata-mata dilihat sebagai “bengkel tenaga kerja” yang siap pakai. Inilah problemanya. Tetapi unsur-unsur yang menjadi prioritas dalam Pendidikan Populer bisa menjadi pedoman dalam proses pendidikan umumnya termasuk pendidikan formal. Sebab dalam pendidikan terkandung ideal pembebasan subyek terdidik dan egosentrisme, budaya kebisuan dan kebiasaan monologal serta berusaha membuka cakrawala pemikiran yang lebih berorientasi pada realitas hidup sehari-hari. **P. Frieds Meko, SVD.

Saat duduk santai sesudah doa bersama di sebuah lingkungan, seorang ibu yang duduk di dekatku mengungkapkan pernyataan ‘berkabut’ yang sempat membuatku terkejut. “Sulit menemukan seorang Pastor di keuskupan kita ini. Imam sich banyak.”. Aku yang lagi tercenung menimpali secara sekedarnya, “Oh, ya?”.

Sepulang dari doa lingkungan, aku termenung di dalam kamar. Kata-kata ibu tadi terngiang-ngiang di benak. Menggugah aku? Entahlah. Tetapi yang pasti, aku menjadi tertarik. “Tentu ada sesuatu di baliknya,” aku membathin. Apa maksud sebenarnya dari pernyataan itu? Bukankah menyebut Pastor atau Imam berarti kita dengan sendirinya menunjuk pada orang yang sama yang ditahbiskan oleh Bapa Uskup untuk tugas imamat Tuhan kita Yesus Kristus? Mengapa ibu itu membedakannya? Bahkan kesannya, cenderung menonjolkan sapaan yang satu dan meminggirkan sapaan yang lain.

Dalam keheningan kamarku, tanpa sengaja aku meraih Alkitab dan membolak-balik lembar demi lembar untuk mencari rujukan pengertian kedua kata itu. Kata “Pastor” menurut guru bahasa Latinku di Seminari Menengah dulu berarti gembala. Sementara kata “Imam” sendiri sudah begitu jelas tertera di dalam Alkitab. Gambaran yang kuperoleh adalah sebagai berikut.

Gembala memiliki kisah yang cukup manis dalam Alkitab. Hal ini tidak heran karena sejarah nenek-moyang bangsa Israel sangat dikenal sebagai kisah para gembala. Kita bisa lihat bagaimana Abraham, Ishak, dan Yakub hidup. Begitu juga dengan Daud dalam petualangan masa mudanya sebelum menjadi raja Israel. Yesus dalam Injil Yohanes pun (Yoh 10:1-12) memberikan gambaran yang akurat dan lengkap mengenai kehidupan seorang gembala.

Gembala adalah orang yang hidup dekat dengan ternak. Ia adalah seorang pemelihara dan penjaga kambing domba. Ia mencurahkan seluruh diri dan hidup untuk mereka. Melindungi mereka dari serangan binatang buas. Membimbing mereka menuju sumber air ketika haus dan menuntun menuju hijaunya padang rumput waktu mereka lapar. Dengan demikian, seorang gembala adalah orang yang tidak pernah takut dan gentar terhadap resiko apapun atas jalan yang telah dipilih untuk ternaknya. Sekalipun hujan guntur angin badai membayangi dan menghadang perjalanannya, ia tidak akan pernah meninggalkan ternaknya. Ia melakukan semuanya itu sedemikian rupa, bukan hanya karena ia mengenal dan memahami mereka menurut namanya masing-masing, tetapi karena ia sungguh mencintai mereka. Di mata seorang gembala, prinsip kehidupannya adalah kedamaian, kegembiraan dan kebahagiaan ternaknya. Lantas, keselamatan kawanan gembalaan adalah di atas segalanya dalam hidupnya.

Sementara itu, imam merujuk pada kelompok atau orang yang dikhususkan untuk mempersembahkan persembahan kepada Allah. Dalam tradisi Yahudi, imam adalah pengantara umat dengan Allah di dalam ibadah di Bait Allah. Maksudnya, kurban persembahan umat disampaikan kepada Allah melalui imam. Perannya dalam kehidupan spiritualitas umat menjadi begitu penting karena imam mewakili umat untuk masuk ke ruang Maha Kudus. Di sana, imam tidak saja mempersembahkan kurban tetapi serentak juga berdoa memohon pengampunan dari Allah atas dosa dan kesalahan umat. Dalam tradisi Nasrani, peran ini tetap wariskan pada kelompok yang sama namun dijiwai oleh hidup Yesus Kristus, sang Imam Agung abadi. Menurut surat Ibrani, Kristus adalah Imam Agung abadi karena ketuntasan hidupNya. Ia tidak hanya bertindak sebagai pengantara umat kepada Allah yang disebutNya sebagai Bapa, melainkan juga menjadikan diriNya sebagai kurban penebus dosa di altar (Ibr. 4:14-5:10, 7:1-10:18). Inilah yang membuat kurban persembahanNya lebih mulia, tidak bercacat serta mendatangkan pengampunan dosa dan keselamatan kekal untuk semua umat manusia. Oleh karena itu, imam dipanggil untuk menjadi serupa dengan Kristus (Pastores Dabo Vobis, art. 12, bdk juga, Presbyterorum Ordinis art. 2).

Saya mungkin dapat memahami maksud dari pernyataan ibu tadi kalau dirunut dari konteks ini. Kata Pastor (gembala) lebih mengena pada kepedulian dan keterlibatan sosial untuk hidup umat (kawanan gembalaan). Sejauh mana kehadirannya menjawab kebutuhan dan masalah umat. Ini mengatakan soal aksi, tindakan praktis dalam pelayanan pastoral. Sedangkan kata Imam lebih menyentuh pada ibadah dan persembahan dalam kurban altar. Sejauh mana kehadirannya membawa hidup umat di hadapan Allah. Ini mengatakan soal kontemplasi, penghayatan ke-pengantara-annya dalam doa. Namun, sesunggunya kedua kata ini menegaskan satu hal yang sama. Sejauh mana keutuhan hidup Kristus sebagai Gembala dan Imam Agung yang diikutinya diwujudkan dalam hidup, diaktualkan dalam kata serentak perbuatan. Bukankah Yesus sendiri sudah mengingatkan kita bersama bahwa seringkali khotbah di mimbar lebih mudah daripada kesaksian hidup di tengah masyarakat dalam kisahNya tentang “Orang Samaria yang Baik Hati”. Sebab ketika terjadi ketimpangan dalam kenyataan “Surat Gembala” akan dibalik dengan “Surat Domba”. Bisa jadi “Litani serba salah sang Pastor” merupakan dalih yang aman untuk berlindung. Ataukah semangat inkarnasi Kristus telah menjadi “padang bayang kelabu” dalam menghayati RELASI kita satu sama lain? **Ehe Atatukan._

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget