MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Paroki St. Maria"

Stasi St. Antonius Kelampangan adalah salah satu Gereja kecil bagian dari pelayanan Paroki Katedral St. Maria Palangkaraya. Stasi ini terletak kira-kira 8-9 Km dari Kota Palangkaraya menuju ke selatan. Umat di stasi ini terdiri dari 6 KK saja, belum mengalami perkembangan selama 15 tahun terakhir. Perayaan Ekaristi untuk umat dilayani oleh Pastor dari Paroki Katedral sekali seminggu.

Mengawali kegiatan di Tahun 2018, Lingkungan St. Arnoldus Janssen, yang merupakan bagian dari Wilayah IV Paroki Katedral St. Maria mengadakan kunjungan ke Stasi Kelampangan. Menurut David Hartono, Ketua Lingkungan St. Arnoldus Janssen, kunjungan dilaksanakan dengan tujuan agar umat di Stasi St. Kelampangan tetap bersemangat dalam memajukan visi dan misi gereja. Umat Kelampangan tidak perlu merasa sendirian. Umat di Gereja Katedral merupakan saudara-saudri semua yang siap untuk mendukung dan memberi semangat.

Kunjungan bersama seluruh anggota Lingkungan Arnoldus ini dirayakan bersama dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Paroki Katedral, RD. Patrisius Alu Tampu. Turut hadir juga pengurus Dewan Paroki yakni Julius I.P. Situngkir sebagai Ketua II yang membidangi Bidang Liturgi dan Pewartaan, Fidelis Harefa Koordinator Bidang Liturgi dan Beyamin Tunti sebagai Koordinator Bidang Pewartaan. Dalam sambutan-sambutan yang disampaikan, David Hartono mengharapkan agar seluruh lingkungan yang ada di Wilayah Gereja Katedral melaksanakan kunjungan rutin  yang terjadwal. Penjadwalan akan diserahkan kepada Korbid Liturgi sehingga dengan itu, kunjungan tidak haya sekali-sekali tapi bisa terjadi sekali seminggu atau minimal sekali sebulan.

Dukungan terhadap ide ini dipertegas oleh Julius Situngkir dengan mengusulkan untuk melengkapi fasilitas di gereja Stasi Kelampangan. Lebih lanjut, Pastor Paroki pun mengapresiasi ide ini dengan memasukannya dalam daftar agenda rapat Dewan Pengurus Harian untuk ditindaklanjutin segera.

Kunjungan ini diakhiri dengan acara makan bersama dan penyerahan bingkisan tali asih antara Umat  Lingkungan St. Arnoldus Janssen dan Stasi St. Antonius Kelampangan.

PALANGKA RAYA, KAIROS.OR.ID - Pengkaderan pelayan liturgi dalam Gereja Katolik sangat perlu dilakukan terus-menerus. Sebab, apabila ada satu masa di mana pengkaderan kosong atau tidak dilaksanakan, maka akan ada satu masa ke depan yang juga kosong pelayan liturgi yang mumpuni.

Dalam upaya itu, Koordinator Bidang Liturgi Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, Fidelis Harefa mengajak siswa-siswi Katolik, baik dari sekolah Katolik maupun sekolah negeri untuk terlibat dalam pelayanan liturgi sejak dini. Ajakan ini disampaikan melalui guru agama Katolik yang ada di sekolah-sekolah di Kota Palangka Raya.

Ajakan tersebut mendapatkan respon yang luar biasa sehingga pada Minggu, 24 September 2017, keterlibatan siswa-siswi Katolik dalam pelayanan liturgi khususnya dari sekolah negeri dimulai oleh Siswa SMA Negeri 5 Palangka Raya. Mereka menjadi pelayan liturgi sebagai kelompok koor, penggerak umat dalam bernyanyi dan sebagai petugas persembahan.

Fidelis Harefa, ketika ditemui oleh Kairos, segera setelah perayaan ekaristi mengatakan: "Ada sekitar 5 sampai 10 tahun terakhir terdapat kekosongan kegiatan pengkaderan. Efeknya sangat kita rasakan sekarang. Bidang Liturgi mengalami kesulitan untuk memilih dan menentukan petugas liturgi". Adapun selama ini, siswa-siswi yang terlibat dalam pelayanan liturgi hanya siswa-siswi yang belajar di sekolah Katolik seperti Yayasan Siswarta Cabang Palangka Raya dan Yayasan St. Maria.

"SMA Negeri 5 telah memulai, diharapkan sekolah-sekolah negeri lainnya mempersiapkan diri untuk terlibat juga dalam pelayanan liturgi", lanjut Fidelis. Beliau mengatakan bahwa pengkaderan akan dilakukan terus-menerus, termasuk program perekrutan dan pelatihan tenaga organis gereja yang akan segera dilaksanakan.

Fidelis Harefa mengakhiri pembicaraan dengan Kairos dengan sebuah kalimat: "Kesuksesan suatu generasi adalah ketika mereka mampu menciptakan kader beru untuk kebutuhan masa depan". (lc)

PALANGKA RAYA, KAIROS.OR.ID - Sabtu dan Minggu, 16-17 September 2017, Misdinar St. Tarsisius Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya melaksanakan rekoleksi bersama dalam rangka menyambut anggota misdinar yang baru. Rekoleksi ini dilaksanakan di Kampus Baru STIPAS Tahasak Danum Pambelum dan diikuti oleh lima puluh tiga peserta. Rekoleksi Misdinar ini diadakan supaya anak misdinar yang baru lebih mengenal misdinar dalam sejarah maupun tata cara misdinar yang baik dan benar.

Kegiatan Rekoleksi yang berlangsung selama dua hari berturut-turut itu dipimpin oleh RD. Romanus Romas. Pada sesi pertama, kepada calon misdinar baru dijelaskan bagaimana tata cara misdinar yang baik dan benar, mulai dari sikap duduk,arah pandang,cara berjalan dan sebagainya.

Selanjutnya, acara rekoleksi ini diisi dengan renungan malam yang dipimpin oleh Mahasiswa STIPAS, dilanjutkan dengan doa Jalan Salib. Acara pada hari pertama diakhiri dengan acara api unggun. Dalam acara api unggun, seluruh peserta rekoleksi rekreasi bersama dengan bernyanyi dan bermain bersama secara terpimpin.

Keesokan harinya, acara rekoleksi dilanjutkan dan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Constatinus Gatot Wibowo. Segera setelah Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan kegiatan Outbond yang berguna untuk melatih semangat para misdinar dalam pelayanan seputar altar. Kegiatan outbond dikemas sedemikian rupa oleh panitia dengan melalui beberapa pos. Kesulitan-kesulitan yang dialami pada masing-masing pos berbeda-beda. Kegagalan dalam melewati pos tidak membuat para misdinar patah semangat, tetapi tetap ceria karena semua itu merupakan latihan.

Semoga kegiatan Rekoleksi Misdinar ini tetap dilaksanakan secara berkala dalam konteks kaderisasi, demi masa depan Gereja. Tuhan Yesus memberkati. (Dany dan Osi)

PALANGKA RAYA, KAIROS.OR.ID - Rasa syukur atas 72 tahun Kemerdekaan RI diperingati di seluruh tanah air. Setiap kali memperingati hari bersejarah ini, jiwa nasionalisme kita dikuatkan kembali melalui pemutaran ulang sejarah perjuangan para pahlawan dalam memperoleh kemerdekaan untuk bangsa tercinta ini. Karenanya, peringatan hari bersejarah ini merupakan peringatan bagi seluruh rakyat Indonesia, tak terbatas kalangan, golongan, suku, agama dan ras. Semuanya wajib untuk ambil bagian dalam mengisi kemerdekaan itu.




Di Keuskupan Palangka Raya, khususnya di Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, HUT Kemerdekaan diperingati dan dirayakan dalam Perayaan Ekaristi khusus. Perayaan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Agustus 2017, Pukul 17.00 WIB di Gereja Katedral St. Maria Palangka Raya. Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Uskup Palangka Raya, Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF, didampingi oleh enam orang pastor yang ikut berkonselebrasi. Perayaan Ekaristi yang berlangsung kurang lebih 90 menit dilayani oleh Anggota TNI dan POLRI. TNI dan POLRI melaksanan tugas liturgi sebagai Lektor, Pemazmur dan sebagai penggerak umat dalam bernyanyi (Koor).

Perayaan ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai sekolah yang ada di Palangka Raya. Juga dihadiri oleh perwakilan paguyuban dengan mengenakan pakaian adat masing-masing.









Sambungan dari tes katekese hari Rabu Abu

D. PEKAN SUCI

Pekan Suci dimulai pada Hari Minggu Palma, sampai dengan Hari Kamis menjelang Misa Perjamuan Malam Terakhir. “Hari-hari dalam Pekan Suci ini, dari Senin sampai dengan Kamis, diutamakan di atas semua Hari Raya”. Sakramen Baptis dan Krisma tidak boleh diberikan pada hari-hari ini.

Dalam Pekan Suci Gereja merayakan misteri keselamatan yang diwujudkan Kristus pada hari-hari terakhir hidup-Nya, sejak Ia sebagai Al Masih memasuki Yerusalem. Masa Prapaskah berlangsung sampai dengan Kamis pekan ini. Sedangkan, Ketiga Hari Paskah: dimulai dengan Misa Perjamuan Malam Terakhir, Jumat Agung dan Sabtu Paskah, dan memuncak dalam Perayaan Malam Paskah dan berakhir dengan Ibadat Sore Minggu Paskah.

Pekan Suci dimulai pada Hari Minggu Palma, yang menghubungkan perayaan kemenangan Kristus Raja dengan pewartaan penderitaan-Nya. Pengaitan kedua aspek misteri Paskah ini harus menjadi jelas dalam perayaan dan katekese.Sejak dulu, masuknya Kristus ke Yerusalem diperingati dalam prosesi meriah; para anak-anak Ibrani menyongsong-Nya dan menyerukan “Hosana”.
Dalam setiap Gereja hanya boleh diadakan satu kali prosesi, sebelum Misa, yang dihadiri kebanyakan kaum beriman.

Dalam Prosesi Palma ini, urutannya: misdinar, Imam baru kemudian umat mengikutinya masuk ke dalam gereja, sambil mengelu-elukan, menyerukan “Hosana”. Umat mengikuti Imam, bukan sebaliknya. Menjelang gerbang/pintu masuk gereja, sekumpulan anak-anak/jemaat menyongsong sambil membawa ranting-ranting palma, dll. Sambil menyerukan hosana. Imam langsung masuk Gereja-yang masih kosong-, menuju Sakristi atau kursi imam untuk berganti pakaian. Menanti umat siap, baru melanjutkan acara..

Urutan perarakan Minggu Palma :

  1. Misdinar Pembawa wiruq/dupa bernyala
  2. Misdinar Pembawa Salib Prosesi; tanpa selubung, dihias memakai daun Palem yang telah diberkati
  3. Mengapit Salib, ada 2 orang Pembawa lilin bernyala
  4. Pembawa Evangeliarium  (bila ada)
  5. Pembawa buku Kisah Sengsara  (bila ada)
  6. Imam Selebran
  7. Umat (diawali oleh Para Petugas Liturgi Awam)

Selama prosesi hendaknya dinyanyikan oleh kor dan umat, seperti Mazmur 24 (23) dan 47 (46), atau nyanyian lain untuk menghormati Kristus Raja. Kyrie ditiadakan, perarakan ditutup dengan Doa Pembuka.

Kisah sengsara Tuhan dibawakan dengan meriah, bisa dibacakan atau dinyanyikan secara tradisional oleh tiga orang yang mengambil alih peran Kristus, Penginjil dan Umat; dalam hal ini peran Kristus dikhususkan bagi imam.

Pada pewartaan Kisah Sengsara ini tidak dinyalakan lilin, dupa, salam bagi umat dan penandaan buku tidak diadakan; hanya para diakon sebelumnya mohon berkat imam, seperti pada Injil. (Bila yang bertugas awam, tidak perlu meminta berkat. Karena ritual berkat adalah khas untuk diakon (tertahbis) sebagai petugas biasa pembaca Injil. Sedangkan bila awam yang bertugas, sebagai petugas luar biasa pembaca Injil, untuk membedakan dengan yang tertahbis tidak meminta berkat terlebih dahulu kepada selebran.

Karena manfaat rohani kaum beriman Kisah Sengsara dibawakan seutuhnya dan bacaan-bacaan sebelumnya tak boleh dilewati. Dan Setelah pembacaan Kisah Sengsara harus diadakan Homili.                          ........ bersambung

RD. Patris Alu Tampu

A. RABU ABU

Awal Prapaskah dimulai pada Hari Rabu Abu, yang tidak punya vigili. Rabu Abu itu bisa diperpanjang  sampai Sabtu sesudah Rabu abu. Dalam hitungan Masa Prapaskah, hari-hari itu, yaitu Rabu Abu, Kamis sesudah Rabu Abu, Jumat sesudah Rabu Abu dan Sabtu sesudah Rabu Abu;  dihitung sebagai satu kesatuan hari menjelang hari pertama Masa Empatpuluh Hari. Saat itulah Ritual Pemberian Abu yang dilakukan pada Rabu Abu dapat dilakukan pada tiga hari sesudah Rabu itu, bukan mendahului pada hari Selasa sebelumnya.
 
Pada Rabu Abu kaum beriman dengan menerima abu, memasuki masa yang diperuntukkan bagi pemurnian jiwa. Tanda tobat ini, yang berasal dari Tradisi Alkitabiah dan Gereja; berarti bahwa manusia itu pendosa yang mengakukan dosanya terbuka di hadapan Allah; dengan demikian ia mengungkapkan kemauannya untuk bertobat, dibimbing pengharapan agar Tuhan berbelaskasih kepadanya. Dengan tanda ini mulailah jalan tobat yang bertujuan menerima Sakramen Tobat sebelum Hari Raya Paskah.
Rabu Abu harus dijalani sebagai Hari Tobat dalam seluruh Gereja, dengan pantang dan puasa
Susunan Liturgi Misa Rabu Abu:
- Ritus Pembuka:
- Liturgi Sabda:  Bacaan – Penerimaan Abu – Doa Umat
- Liturgi Ekaristi
- Ritus Penutup
Adapun cara Penerimaan Abu pada selebran:
1) Selebran bisa memberikan abu pada dirinya sendiri, dibagian kepala atau dahinya.
2) Selebran bisa menerima abu dari diakon atau asisten imam
Minggu Prapaskah I adalah permulaan Masa Suci terhormat 40 hari. Penghitungan 40 hari Masa Prapaskah dihitung dari Minggu I Prapaskah s/d Kamis Putih (Masa berakhirnya Prapaskah) sebelum Misa Perjamuan Tuhan pada sore hari.

B.  Tentang VIGILI (= berjaga-jaga, saat Tirakatan)

Vigili, diadakan pada sore/malam hari untuk persiapan hari Minggu atau hari Raya yang akan dirayakan pada hari berikutnya. Vigili ini dalam kalender liturgi, disebut Ibadat Sore I, bacaannya diambil dari Hari yang akan dirayakannya.
Rumusan Vigili :
1. Vigili Tanpa Rumus Khusus
Bacaannya sesuai dengan hari yang akan dirayakannya. Misalnya:
a) Misa Sabtu Sore, memakai bacaan hari Minggunya
b) Misa Tgl. 31 Desember: Bacaan mengikuti Tgl. 1 Januari, yaitu HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH  (Jadi fokus ibadat penekanannya tidak hanya tutup tahun, tapi terlebih mengupas Hari Raya yang akan dirayakannya).
2. Vigili Dengan Rumus Khusus
      Bacaannya disiapkan khusus, berbeda dari hari yang dipersiapkan atau yang akan dirayakan
      Misalnya :
    a) Misa Sore Menjelang Hari Raya Natal
    b) Misa Malam Paskah
c) Misa Sore Menjelang Hari Raya Pentakosta

C.  MINGGU-MINGGU PRAPASKAH

1. Masa Prapaskah bertujuan mempersiapkan umat untuk menyongsong Perayaan Paskah; sedangkan Pekan Suci bertujuan (khusus) untuk memperingati Sengsara Kristus mulai dari peristiwa Kristus masuk Yerusalem.
2. Minggu Prapaskah I adalah permulaan Masa Suci terhormat 40 hari. Dalam Perayaan Ekaristi minggu ini, bisa diungkapkan, misalnya dengan prosesi masuk yang diiringi nyanyian Litani para Kudus.
 (Note : Hitungan 40 hari Masa Prapaskah: Minggu Prapaskah I s/d Kamis Putih sore menjelang Peringatan Perjamuan Tuhan Malam Terakhir. Sedangkan mulai Kamis Putih malam s/d Sabtu Suci Sore adalah masa puasa/tobat Tri Hari Suci).
3. Pada Minggu Prapaskah ke-4 (Laetare) dan pada Hari Raya dan Pesta, orgel dan alat-alat musik lain dapat dimainkan dan altar dapat dihias dengan bunga-bunga. Pada Minggu ini dapat juga dipakai busana berwarna merah muda. Hal ini bisa dimaknai bahwa di tengah-tengah kesedihan, duka cita selalu masih ada pengharapan dari Tuhan Allah kita.
4. Sejak Minggu Prapaskah ke-5, dapat memberi selubung kepada salib-salib dan gambar-gambar dalam gereja. Salib-salib tetap terselubung sampai akhir Liturgi Jumat Agung, tetapi gambar-gambar sampai awal Perayaan Malam Paskah.
(Note: Usai Ibadat Jumat Agung, Salib-salib sudah tidak terselubung lagi tetapi selubung  pada gambar-gambar atau patung baru dibuka sesaat sebelum Misa Malam Paskah dimulai).
………………………………  Bersambung.

RD. Patris Alu Tampu

Rapat Kerja adalah rapat atau pertemuan seluruh personil yang telibat dalam suatu tim kerja. Tujuannya adalah untuk membahas segala hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas dalam satu periode tertentu. Dari pengertian ini, maka kegiatan yang dilaksanakan oleh Dewan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya pada hari Sabtu, 25 s.d. 26 Februari 2017 di Gedung Serba Guna Tjilik Riwut, komplek Gereja Katedral Palangka Raya merupakan rapat kerja seperti dimaksudkan di atas.
Media Kairos
Foto peserta Raker Dewan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya Periode 2017-2019
Dok. Yulius I.P. Situngkir

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh P. Patris Alu Tampu, Pr selaku Pastor Paroki. Selanjutnya, kegiatan ini diisi dengan pemaparan spiritualitas pelayanan oleh Rm. Anton Rosari, SVD. Pelayanan merupakan pekerjaan Tuhan, bukan pekerjaan pastor atau pekerjaan manusia. Seluruh yang terlibat dalam Dewan Paroki merupakan pribadi yang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Oleh karena itu sangat perlu untuk memahami spiritualitas pelayanan.

Setelah materi spiritualitas pelayanan, dilanjutkan dengan kegiatan identifikasi masalah sebagai bahan untuk menyusun program kerja. Pada sesi ini, Gregorius Doni Senun tampil sebagai pemateri. Dalam materi yang disampaikan, tercakup materi membuat rancangan anggaran untuk setiap kegiatan yang telah disusun dalam bentuk program kerja.

Rapat Kerja ini dihadiri oleh seluruh Dewan Paroki yang telah dilantik pada bulan Januari lalu, ditambah dengan utusan dari kelompok kategorial. Saat tulisan ini diterbitkan, rapat sedang berlangsung hingga besok, Minggu, 26 Februari 2017.

Tanya jawab tentang Dewan Pastoral Paroki (DPP) pernah dirilis oleh Media Kairos pada tanggal 18 November 2013 yang lalu. Silahkan baca artikelnya di sini. 


DPP masa bakti 2017-2019 di Paroki St. Maria Palangka Raya telah dilantik oleh Mgr. Aloysisus M. Sutrisnaatmaka, MSF pada Minggu, 29 Januari 2017. Personil DPP yang dilantik telah ditetapkan dengan Surat Keputusan Uskupa Palangka Raya Nomor: SK/USKUP/05-DP/I/2017.

Penetapan DPP berdasar pada Ketentuan Hukum Kanonik 536, 1 & 2, Anggaran Dasar Dewan Paroki yang tertuang dalam Vademecum Pasotral Keuskupan Palangka Raya dan juga atas Surat Permohonan Pastor Paroki Katedral St. Maria Palangka No. 15/SP-P.SK/DP.SM/2017. Berikut ini adalah susunan DPP Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya Periode 2017-2019.

Ketua Umum
RD. Patrisius Alu Tampu

Wakil Ketua Umum
RD. Constantius Gatot Wibowo

Ketua I
Dr. F.X. Manesa, M.Pd

Ketua II
Julius I.P. Situngkir, S.H.

Sekretaris I
Dominggos Neves, S.Hut, M.Si

Sekretaris II
Stefanus Dh. Mangu, S.E.

Bendahara I
Frans Martinus, S.E.

Bendahara II
Lamria Simamora, S.E, M.Si

B I D A N G  -  B I D A N G

Bidang Liturgi

Koordinator
Fidelis Harefa, S.H.

Seksi Misdinar
Katarina Ani Liani, S.E.
Sr. Hermina Beding, SSpS

Seksi Lektor dan Mazmur
Viktor Rinus Raja Odja, S.S.
Agustiani Evodia

Seksi Koor dan Organis
Silvester Adinugraha, S.S, M.Hum
Frederikus Sukadiman, S.Pd
Edy Dwi Suharsono

Bidang Pewartaan

Koordinator
Benyamin Tunti, S.Fil

Seksi Sekolah Minggu dan Sekami
Henny Every, S.Ag
Rosalia Udes, S.Ag
Sesilia Astuti, S.Ag
Tiur Tina Tobing, S.Ag

Seksi Litbang dan Komunikasi
Dr. Joni Pambelum, M.Si
Frida Smith, S.T, M.T
Timotius, S.Fil, M.Th
Ernes
Wilibrodus Mengandika Wicaksono

Seksi Kerasulan Keluarga
Dr. Paskalis Pendi Sinulingga, M.Si
Patrisius Manpul S.P.

Bidang Pelayanan

Koordinator
Gregorius Doni Senun, S.Pd

Seksi Pengembangan Ekonomi
Yohanes Cangking, S.E.

Seksi Sosial (Pelayanan Kepada Pengungsi, Orang Sakit dan Umat dari Luar Paroki)
dr. Theodorus Sapta Atmadja
dr. Herry Tjahyono
Carolina Wiwiek Handayani
Mariati Tukimun

Seksi Rumah Tangga (Pastoran dan Gereja)
Dra. Anna Seltina
Sesilia Sri Lingga
Veronika Sherlywati

Seksi Duka
Eduardus Beny Santoso, S.P, S.Pd
Aloysius Sudirman

Seksi Aset dan Pembangunan
Antonius Rosa Kridaleksana, S.T.
Hendra Wiriawan, S.T.

Bidang Persekutuan

Koordinator
Dr. Yosef Dudi, M.Si

Seksi Kerawam/HAK
Dr. Marselinus Heriteluna, M.Kes

Seksi Kepemudaan
Yulianus Dani Nahar, S.P.
Raden Yulius Winata, S.H.

K E T U A  -  K E T U A   L I N G K U N G A N

Lingk. St. Anna
Yohanes Nico Ilay, S.T.

Lingk. St. Ignatius
Tarsisius Budiono

Lingk. St. Bernadetha
Titin, S.T.

Lingk. St. Sisilia
Mateus Sutaryo

Lingk. St. Clara
Yustinus Hendra, S.St, M.T, M.Sc

Lingk. St. Yohanes
Dra. Mariane Tinse, M.Pd

Lingk. St. Laurentius
Laurus Yuserto, S.Pd

Lingk. St. Antonius
Mandau R.A. Kindangen

Lingk. St, Maria
Antonius Tukimun

Lingk. St. Theresia
Andreas Jonggur Sihombing, S.P.

Lingk. St. Lukas
Drs. F.A. Endro Suryanto, M.Or

Lingk. St. Fransiskus Xaverius
Arpete Pancar Gaman, S.Pd

Lingk. St. Arnoldus Jansesn
David Hartono

Lingk. St. Yosef
Andreas Rahmat Susiandi, S.T.

Lingk. St. Petrus
Andreas R. Djumianto, BBA

Stasi St. Antonius Klampangan
Antonius Supardjono

Pada tahun 1907 Misi Gereja Katolik mulai dirintis kembali di wilayah Kalimantan Timur tepatnya di Laham oleh para misionaris Ordo Kapusin yang berpusat di Pontianak–Kalimantan Barat. Ordo Kapusin merasakan daerah pelayanannya terlalu luas, maka pada tahun 1926 Ordo Kapusin menyerahkan wilayah Kalimantan Timur, Tengah dan Selatan kepada Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) .

Pada peristiwa penyerahan itu, wilayah Kalimantan Tengah dan Selatan disebut “Bagian Selatan” (Zuederafdeling). Tahun 1835 Zending Protestan sudah masuk ke daerah Kalimantan Selatan dan Tengah. Menurut sebuah perjanjian dalam Artikel 177 RR (Regerings Reglement) tentang Zending Ganda, tidak diperbolehkan misi Katolik dan sending Protestan berkarya bersama-sama pada satu daerah. Ternyata aturan ini tidak lagi diberlakukan lagi setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945.

Jika antara tahun 1907–1935 karya misi hanya berkembang pesat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, maka setelah Artikel 177 tidak berlaku lagi, wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah terutama di pedalaman sangat menarik perhatian para misionaris MSF (Keluarga Kudus). Pada awal tahun 1935 Kota Banjarmasin mendapat kunjungan oleh para pastor MSF dari Kalimantan Timur. Kunjungan-kunjungan itu lebih merupakan pelayanan atas beberapa umat Katolik yang tinggal di kota Banjarmasin dari berbagai bangsa terutama penduduk yang datang dari Eropa, Jawa dan Cina.


Tanggal 21 Mei 1938, Prefektur Apostolik Banjarmasin didirikan, setelah proses pendiriannya memakan waktu selama tujuh tahun. Wilayah Prefektur Apostolik ini meliputi Kalimantan Selatan, Timur dan Tengah dengan Prefektur Apostolik pertama P.Y Kusters, MSF. Sebelas tahun kemudian, yakni, pada tahun 1949 setelah kemerdekaan Indonesia, status Prefektur Apostolik ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik dengan Vikaris Apostolik dijabat oleh Mgr. J. Groen, MSF.

Dari Banjarmasin inilah, karya misi Gereja Katolik melebarkan sayapnya ke pedalaman Kalimantan Tengah di kalangan suku Dayak. Hingga tahun 1952 masih diadakan penjajakan-penjajakan. Namun sebelum mencapai kemungkinan pengembangan lebih lanjut karya misi Gereja Katolik di Kalimantan
Tengah, Mgr. Groen, MSF meninggal dunia pada tahun 1953. Sebagai penggantinya, pada tahun 1954 Pastor muda W. Demarteau, MSF yang baru berusia 34 tahun diangkat sebagai Vikaris Apostolik Banjarmasin.

Dalam kurun waktu 1952–1965 baru dibuka stasistasi sentral sebagai pusat pelayanan. Pada tahun 1954, Stasi pertama dibuka di Sungai Barito (Kalimantan Tengah) tepatnya di Muara Teweh. Stasi ini kemudian menjadi pusat pelayanan wilayah sungai Barito. Dari Muara Teweh berkembang ke Buntok (1965), Puruk Cahu (1966) lalu masuk sungai-sungai kecil antara lain, Teweh, Montalat, Ayuh dan sekitarnya.

Mgr. W. Demarteau, MSF
Foto dari: www.keukupan-banjarmasin.org

Mengingat wilayah karya Vikariat Apostolik Banjarmasin terlalu luas dan untuk mempermudah karya pastoral, maka Mgr. W. Demarteau, MSF selain membuka stasi-stasi baru sebagai pusat pelayanan, juga berusaha untuk menyelesaikan pemisahan Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan yang telah diusulkan oleh pendahulunya Mgr. Y. Groen, MSF.

Dengan data-data aktual tentang Kalimantan Timur yang dikumpulkan oleh Mgr. W. Demarteau, MSF dan setelah melalui berbagai proses yang melelahkan, akhirnya Roma menyetujui pemisahan Kalimantan Timur dari Vikariat Apostolik Banjarmasin. Pada tanggal, 25 Februari 1955 Vikariat Apostolik Samarinda didirikan dan Mgr. W.Demarteau, MSF diangkat menjadi Administrator Apostolik sampai dengan empat bulan kemudian tanggal 10 Juli 1955, P. J. Romeijn, MSF diangkat menjadi Vikaris Apostolik Samarinda yang pertama dan ditahbiskan di Wessenar Belanda pada tanggal 15 September 1955.

Setelah daerah misi Kalimantan Timur resmi menjadi Vikariat Apostolik yang baru, dan terlepas dari
Banjarmasin maka Mgr. W. Demarteau, MSF lebih berkonsentrasi untuk mengembangkan misi di pedalaman Kalimantan Tengah secara intensif. Pada tahun 1952 Sampit ditetapkan sebagai Stasi Pusat pelayanan di wilayah sungai Mentaya, Seruyan, Katingan dan sekitarnya. Pangkalan Bun dibuka
menjadi stasi pada tahun 1965 sebagai sentra pelayanan di daerah sungai Lamandau, Arut dan sekitarnya.

Dikutip dari Buku Kenangan 50 Tahun Paroki St. Maria Palangka Raya

Paroki Katedral St. Perawan Maria Palangka Raya tidaklah terbentuk tanpa proses sejarah yang mengawalinya. Sebelum menyandang sebutan “Paroki Katedral”, ada beberapa peristiwa penting yang mengisi perkembangannya. Peristiwa-peristiwa itu diawali dengan masuknya misi Katolik di Kalimantan Tengah.

Misi Katolik masuk Kalimantan Tengah melalui wilayah Banjarmasin-Kalimantan Selatan. Berawal dari kesepakatan antara pihak Portugis dan Sultan Banjarmasin pada tahun 1687, yang menjanjikan seorang misionaris untuk tinggal dan mendirikan Gereja Katolik di Banjarmasin. Janji Portugis terpenuhi ketika seorang Pastor dari Ordo Theatijn bernama Antonio Ventimiglia tiba di Banjarmasin dari Goa-India pada tanggal 02 Februari 1688 dengan menumpang sebuah kapal Portugis.

Di Banjarmasin, Pastor Ventimiglia berkenalan dan menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang Dayak Ngaju. Pastor Ventimiglia tidak terlalu lama menetap di Banjarmasin karena beliau tidak diperbolehkan oleh orang Portugis untuk menetap di sana. Jadi untuk sementara ia pergi ke Macao sambil menanti kapan secara pasti diizinkan untuk tinggal dan menetap di Banjarmasin.

Keinginan Pastor Ventimiglia untuk bermisi di Kalimantan baru terpenuhi ketika beliau diperbolehkan oleh pimpinannya dan penguasa Portugis di Macao. Pada tanggal 18 Januari 1689 beliau tiba di Banjarmasin dari Macao dengan menumpang sebuah kapal Portugis. Di atas kapal itu, Pastor Ventimiglia bertemu dengan seorang Dayak Ngaju yang adalah seorang budak belian orang Portugis. Ia diizinkan kembali ke tanah airnya-Kalimantan. Perjumpaan Pastor Ventimiglia dengan sang budak ini membangkitkan rasa solidaritas misioner dalam hatinya untuk memilih tinggal di antara orang Dayak dan melayani mereka, demi mengalami suatu kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.

Bagi Ventimiglia, Banjarmasin bukanlah sebuah tempat yang tepat untuk mewujudkan karya misinya.
Ia memilih untuk pergi melayani ke daerah-daerah pedalaman. Bersama sang budak yang dijumpai di
atas kapal dalam perjalanan dari Macao ke Banjarmasin, mereka naik perahu yang dilengkapi dengan sebuah altar untuk mempersembahkan korban misa, menyusuri sungai Barito dan masuk ke pedalaman sungai Kapuas. Disepanjang perjalanan Pastor Ventimiglia mengadakan kontak dan hubungan yang baik dengan penduduk asli, termasuk para tokoh masyarakat seperti para Temanggung (Tomungon) dan Damang (Daman) dan Raja Sindun.


Sejarah mencatat bahwa akibat jalinan hubungan yang sangat baik dengan penduduk asli, Pastor Ventimiglia berhasil membaptis 3000 orang asli (Dayak) manjadi Katolik. Kepiawian Pastor Ventimiglia dalam sistem pendekatan dan pola pergaulannya menyebabkan ia diterima baik di antara penduduk asli. Ia sendiri sangat mahir berbahasa penduduk setempat dan sangat menghargai budaya mereka. Disinyalir, pusat kegiatan Pastor Ventimiglia adalah kampong bernama Manusup, yang terletak di tepi sungai Kapuas, wilayah Kabupaten Kapuas.

Nampaknya karya misi Pastor Ventimiglia di antara orang-orang asli mengalami perkembangan baik. Oleh karena itu teman-temannya berusaha untuk membantu karya misi ini. Sangat disayangkan, usaha-usaha tersebut selalu mengalami hambatan. Sultan Banjarmasin tidak pernah mengizinkan para misionaris ini mudik ke pedalaman apalagi ke tempat karya misi Pastor Ventimiglia.

Di luar dugaan bahwa ternyata perkembangan karya dan keakraban Pastor Ventimiglia dengan penduduk asli membawa kecurigaan bagi Sultan Banjarmasin. Sultan tidak senang karena pada saat itu juga Sultan Banjarmasin mempunyai masalah dengan orangorang asli yang kebetulan akrab dengan Pastor Ventimiglia. Di samping itu juga, Sultan tidak menginginkan pengaruhnya di kalangan suku Dayak berkurang gara-gara kehadiran Pastor Ventimiglia.

Ternyata sikap Sultan juga didukung oleh para penguasa Portugis yang berkedudukan di Banjarmasin. Mereka tidak senang dengan kedekatan dan kegiatan Pastor Ventimiglia di atara orang-orang asli karena mereka tidak ingin kehilangan pengaruh ekonomis dan politis atas Kesultanan Banjarmasin. Untuk mengurangi pengaruh Pastor Ventimiglia di antara orang-orang asli, Sultan Banjarmasin memanggil Pastor Ventimiglia untuk dimintai keterangan sambil mengajak kerja sama. Namun maksud Sultan ini telah dibaca dan diketahui oleh Pastor Ventimiglia, karena itu ia memilih untuk tidak mengindahkan panggilan Sultan.

Tahun 1891 Pastor Ventimiglia meninggal dunia. Ada begitu banyak pendapat tentang akhir hidup Pastor Ventimiglia. Pendapat yang dominan mengatakan bahwa Pastor Ventimiglia dibunuh atas perintah Sultan Banjarmasin karena ia dianggap sebagai orang yang dapat menepis pengaruh Sultan atas orang-orang Dayak.

Meninggalnya Pastor Ventimiglia menyebabkan tatanan hidup umat mengalami keguncangan. Banyak umat yang telah dibabtis secara Katolik mundur secara perlahan-lahan dan kembali kepada kepercayaan dan kebudayaan asli mereka seperti semula. Hal ini dapat dimengerti karena mereka belum memahami secara mendalam tentang iman dan ajaran agama Katolik. Menurut beberapa Pendeta dari Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) dan para peneliti sejarah, sisa-sisa ajaran agama Katolik yang masih tertinggal dan melekat pada budaya Dayak adalah tanda salib. Lukisan tanda salib itu dinamai oleh orang Dayak Nagju “Rajah”, yang berkhasiat magis untuk menolak bala (malapetaka).

Dikutip dari Buku Kenangan 50 Tahun Paroki St. Maria Palangka Raya

P. Karl Klein, MSF
Pastor Karl Klein, MSF - adalah seorang misionaris asal Jerman dari Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus atau Congregatio Missionariorum a Sacra Familia (MSF). Biografi pastor ini belum diperoleh hingga peluncuruan tulisan ini. Kita berharap bahwa biografi para misionaris yang pernah berkarya di Keuskupan Palangka Raya dapat diperoleh dari sumber-sumber terpercaya (sedang dalam pencarian dokumen).

Yang dapat disebutkan di sini adalah bahwa Pastor Karl Klein, MSF merupakan pastor paroki pertama di Paroki St. Maria Palangka Raya. Beliau ditetapkan sebagai pastor paroki oleh Mgr. W. Demarteau, MSF bersamaan pada saat pemberkatan gedung (tempat Aula Nasareth saat ini) pada tanggal 01 Maret 1963. Tanggal ini kemudian didedikasikan sebagai Hari Ulang Tahun Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya.

Kehadiran P. Karl Kalein, MSF di Kota Palangka Raya pada masa itu sangat membantu perkembangan kehidupan iman umat, bukan hanya di kota Palangka Raya, tetapi juga di daerah-daerah sekitar yang sering dikunjungi seperti Pulang Pisau, Sungai Kayu, dan lain-lain. Dari Palangka Raya misi Gereja Katolik melebar ke Kuala Kapuas dan Kuala Kurun. Pada tahun 1965 dibuka karya misi yang baru di daerah Barito Selatan yaitu wilayah Tamiyang Layang dan Ampah.

Pada tahun 1964 P. Karl Klein, MSF mendirikan pastoran. Pastoran yang dibangun ini kemudian menjadi rumah suster-suster SFD. Bangunan tersebut telah dibongkar dan Pastoran yang baru, rumah Pastor saat ini, dibangun di tempat itu. Jumlah umat Katolik di Palangka Raya dan sekitarnya semakin berkembang sehingga gedung gereja yang ada sudah tidak dapat menampung lagi jumlah umat yang beribadat. Berdasarkan situasi ini, tercetuslah ide untuk membangun gereja baru. Pembangunan Gereja baru dimulai pada tahun 1965. Perayaan peletakan batu pertama dihadiri Mgr. W Demarteau,MSF, Bapak Tjilik Riwut dan disaksikan oleh Pastor Paroki dan segenap umatnya. Batu pertama tersebut diletakkan di sebuah tembok segi empat, di sebelah kanan altar dan di dalamnya juga diletakan dokumen pembangunan pendirian gereja.

Gedung gereja baru dirancang oleh Bruder Longinus MSF. Kepada bruder ini, Bapak Tjilik Riwut berpesan agar memasukkan unsur-unsur angka 17, 8 dan 45. Hal ini dapat dilihat pada jumlah tiang gereja yang berjumlah 17 (tujuh belas), bentuk gereja
merupakan segi (8) delapan dan tegel pertama altar berjumlah 45 (empat puluh lima) buah.Seluruh biaya pembangunan gereja ini ditanggung oleh Keuskupan Banjarmasin. Gedung gereja ini (sekarang Gedung Serba Guna Tjilik Riwut) diberkati dan diresmikan penggunaannya oleh Mgr. W.Demarteau, MSF pada tanggal 03 April 1967.

Pada masa Pastor Klein sebagai pastor paroki, yakni pada tahun 1967, dibangun gedung pendidikan yakni gedung SD Katolik St. Yohanes Don Bosco dan gedung SMP Katolik St. Paulus.

Pada tahun 1969, Pastor Karl Klein menyerahkan jabatan sebagai pastor paroki kepada Pastor Frans Yan, MSF.

Dikutip dari Buku Kenangan 50 Tahun Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya.

Pelatihan Lektor dan Pemazmur yang dilaksanakan pada tanggal 30-31 Juli 2016 yang lalu telah berhasil menambah barisan para Lektor dan Pemazmur di Paroki St. Maria Palangka Raya. Hal ini terbukti dengan mulai tampilnya para peserta pelatihan untuk menjadi petugas liturgi Hari Minggu.

Petugas Lektor dan Pemazmur 25 September 2016
Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya
Sumber Daya Manusia umat Katolik memang hanya bisa bermanfaat bila digali dan dikembangkan melalui pengkaderan. Kaderisasi melalui pelatihan adalah salah satu cara memberdayakan SDM yang ada dalam Gereja. Memberi kesempatan seluas-luasnya kepada umat untuk melayani liturgi menjadi inti dari pembagian tugas dan tanggung jawab sehingga secara bertahap, umat merasa benar-benar memiliki dan bertanggung jawab sebagai bagian dari Gereja, di mana mereka berada.

Di beberapa tempat, kaderisasi petugas liturgi kurang menjadi perhatian. Bahkan ada kesan bahwa yang menjadi petugas liturgi dikhususkan untuk mereka yang memiliki latar belakang sebagai Katekis, biarawan dan biarawati. Hal ini akan membuat Gereja menghadapi kesulitan di masa yang akan datang karena umat pasti ada yang datang dan ada yang pergi. Bila pengkaderan tidak diperhatikan, maka Gereja ke depan hanya dilayani oleh para kaum berjubah dan para hirarki.

Syukur, geliat pengkaderan sudah mulai terlihat, meskipun sekian tahun telah disusun dalam bentuk wacana saja. Kini, biar hanya sedikit yang ikut sebagai peserta, paling tidak Seksi Liturgi tidak kesulitan untuk memilih personil petugas pelayan liturgi setiap hari Minggu.

Dok. Paula Rimbunasi
Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan liturgi, Paroki St. Maria Palangka Raya menyelenggarakan pelatihan bagi pelayan liturgi, secara khusus Lektor dan Pemazmur. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu (30-31 Juli 2016). Pelatihan ini menggunakan Anggaran dari Paroki St. Maria Palangka Raya.

Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari itu didampingi oleh Seksi Liturgia Paroki St. Maria Palangka Raya terdiri dari Wilhelmus Y. Ndoa, Fidelis Harefa, Marsel Selamat, F.X. Manesa, Fred Sukadiman dan Benyamin Tunti. Dalam pelatihan tersebut, para peserta diharapkan dapat segera menjadi petugas liturgi di Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya.

Dok. Paula Rimbunasi
Usai pelatihan, Pastor Patris Alu Tampu, Pr, selaku Pastor Paroki mengusulkan agar peserta pelatihan ini membentuk sebuah kelompok kategorial dan menjadwalkan pertemuan rutin secara bersama. Tujuan adalah agar pelatihan ini dapat berkelanjutan dalam bentuk pembinaan terus-menerus melalui pertemuan bersama dalam kelompok.

Penghitungan Suara Pemilihan Ketua Lingkungan
St. Yohanes Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya
Pedoman ini adalah pedoman yang berlaku secara umum. Artinya, inilah yang menjadi garis besar yang dapat diperhatikan oleh setiap Ketua Lingkungan di mana-mana. Namun demikian, di setiap paroki pasti ada pengaturan lain disesuaikan dengan kebijakan pastoral. Misalnya, untuk Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, ada pedoman khusus yang telah dibukukan dan boleh diminta di sekretariat paroki.

Ketua Lingkungan diangkat dengan keputusan oleh Dewan Pastoral Paroki Harian dari antara calon-calon yang diusulkan melalui musyawarah umat lingkungan yang bersangkutan.

1. Susunan  Pengurus Lingkungan disesuaikan dengan kebutuhan, tetapi sebaiknya terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara dan beberapa ketua seksi tingkat Lingkungan.
2. Para Ketua Lingkungan dalam periode pelayanan tertentu seyogyanya dilantik oleh Pastor Kepala dalam suatu Perayaan Ekaristi.
3. Tugas-tugas Pengurus Lingkungan:

  • melakukan pendataan warga Lingkungan dengan tujuan supaya mereka makin terlayani;
  • mengatur penyelenggaraan ibadat bersama, pendalaman iman dan Ekaristi bagi warga Lingkungan;
  • mengusahakan terwujudnya semangat persaudaraan dan pelayanan antar warga Lingkungan dan dengan warga masyarakat sekitar;
  • mendorong warga Lingkungan agar berperanserta dalam kegiatan-kegiatan RT/RW setempat;
  • mengikutsertakan umat Lingkungan dalam peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga warga Lingkungan, seperti kelahiran, pembaptisan, pertunangan, perkawinan, sakit dan kematian;
  • mewujudkan solidaritas kepada warga Lingkungan yang menderita dan berkekurangan, yang sakit dan yang lanjut usia;
  • memperhatikan anak-anak supaya mereka mendapatkan pendidikan Katolik sejak dini dan memperhatikan kaum muda agar mereka didampingi dalam pembentukan nilai-nilai Kristiani;
  • bekerjasama dengan seluruh warga Lingkungan untuk menemukan ungkapan - ungkapan kreatif yang melibatkan semakin banyak warga;
  • mengusahakan agar warga Lingkungan yang belum bisa aktif tetap disapa dan dijadikan bagian dari persaudaraan Lingkungan.
4. Pengurus Lingkungan bertanggung jawab kepada Dewan Paroki Harian.

Selain memperhatikan kebijakan pastoral yang ditetapkan oleh Pastor Paroki, Ketua Lingkungan juga harus bekerjasama dengan anggota ligkungan agar Lingkungan dapat mengelola Kas Lingkungan untuk keperlua Lingkungan itu sendiri.**Kairos


Dalam rangka merayakan HUT Paroki ke-50, Panitia menyelenggarakan pendataan lingkungan-lingkungan
yang ada di wilayah Paroki St. Maria Palangka Raya. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan informasi
terbaru sebagai kelengkapan dokumen paroki. Data-data yang diminta telah diisi oleh ketua-ketua lingkungan dan paroki memperoleh data terbaru tentang keberadaan lingkungan di paroki ini.

Atas segala kerja sama dari Ketua Lingkungan untuk meng-update data umat di Paroki Katedral ini diucapkan banyak terima kasih. Sebagai apresiasi kita bersama dalam usaha ini, informasi pendataan terakhir ini dimuat dalam Buku Kenangan 50 Tahun. Namun, karena beberapa pertimbangan, dalam buku ini tidak dicantumkan seluruh informasi yang diperoleh berdasarkan formulir yang sudah diedarkan. Dalam buku ini, kami hanya memuat beberapa informasi penting saja. Selanjutnya mengenai kelengkapan informasi dapat diperoleh di sekretariat paroki.


Perayaan Ekaristi
Foto: Yusuf Wahyu Purwanto
Pada hari Minggu, 08 September 2013, bertepatan dengan Hari Raya Kelahiran Santa Perawan Maria, puncak perayaan HUT Ke-50 Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya dilaksanakan setelah melalui persiapan-persiapan yang matang. Perayaan ini dihadiri oleh seluruh umat Katolik di Palangka Raya dan para undangan.

Perayaan dilaksanakan dalam tiga bagian, yakni, pertama, Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF (Uskup Palangka Raya) dan dihadiri oleh seluruh pastor paroki di Keuskupan Palangka Raya, yang bertepatan sedang mengikuti Raker Kesukupan pada hari-hari sebelumnya. Seluruh pastor ikut ber-kon-selebrasi dalam perayaan ini. Dalam perayaan ini juga, P. Martin Anggut, SVD, P. Norbert Betan, SVD, P. Sunaryo, SVD dan P. Nevi, SVD (pastor-pastor yang pernah berkarya di Paroki Katedral) ikut ber-kon-selebrasi. Kedua, pemberkatan Pintu Gerbang Gereja yang dilaksanakan seusai Perayaan Ekaristi. Pintu Gerbang ini dibangun kembali (rehab) dalam rangka memeriahkan HUT Ke-50.
Pemberkatan Pintu Gerbang
Foto: Yusuf Wahyu Purwanto
Ketiga, Resepsi bersama umat yang dilaksanakan pada malam hari, mulai pukul 18.00 di Panggung Yayasan Siswarta Cabang Palangka Raya. Dalam acara ini, acara hiburan dari berbagai kelompok budaya ditampilkan untuk memeriahkannya. Juga, pada acara resepsi yang berlangsung selama 6 jam ini, dilaksanakan penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba dan pengundian kupon doorprize.
Pesta 50 Tahun yang dipersiapkan selama satu tahun itu telah mencapai puncaknya. Semua rencana yang telah dirancang sudah dilaksanakan. Apakah perjuangan Gereja sudah selesai? Kita berharap agar Pesta Emas Paroki ini menjadi batu loncatan baru bagi kita semua untuk mengembangkan Gereja di masa-masa yang akan datang. **Kairos

Laksana petir di siang bolong ketika berita duka menjelang HUT Ke-50 Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya, sampai kepada Redaksi Kairos. Mengapa tidak, seorang tokoh umat, yang sangat aktif dalam upaya perkembangan gereja di Palangka Raya meninggalkan kita untuk selamanya, baralih dari dunia ini dan pergi menghadap Sang Pencipta. Selasa, 03 September 2013, Bapak Albert Sihombing dipanggil Tuhan, tepatnya lima hari sebelum puncak perayaan HUT Paroki.

Bapak Albert Sihombing menyambut kedatangan Gubernur
pada saat peletakan batu pertama gereja katedral.
Bapak Albert Sihombing (Alm) adalah seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang konstruksi dan bergabung menjadi umat Katolik di Palangka Raya pada tahun 1979. Sesuai dengan bidangnya, seperti juga tokoh-tokoh umat Katolik lainnya, beliau menymbangkan tenaga, pikiran dan materi untuk perkembangan Gereja Katolik (khususnya dalam bidang pembangunan) yang sedang mempersiapkan HUTnya ke-50 ini. Pendek kata, bila kita berbicara tentang sejarah Gereja, nama beliau pastilah kita ingat.

Redaksi Kairos, yang juga terlibat dalam team penyusun Buku Kenangan HUT 50 Tahun sempat mengadakan wawancara terakhir dengan almarhum. Dalam wawancara yang berlangsung singkat itu (03/08/2013), almarhum bercerita dan bernostalgia tentang suka duka saat pembangunan Gereja Katedral yang saat ini berdiri kokoh. Saat pembangunan Gereja Katedral, almarhum dipercayakan sebagai penggambar denah gereja sekaligus terlibat sebagai Ketua II Panitia Pembangunan. Almarhum juga bercerita tentang pembangunan dua pintu gerbang gereja yang sedang dibongkar dan diperbaiki pada moment HUT 50 tahun ini. Pintu gerbang yang lama itu dibangun bertepatan dengan persiapan pentahbisan Uskup pertama, Mgr. Aloysius Husin, MSF. Hal ini tidak dilupakan karena ternyata pembangunan pintu gerbang ini meninggalkan bekas luka bakar di tubuh almarhum. Materi yang dipakai untuk pembangunan gerbang ini adalah sumbangan dari almarhum berupa kayu ulin dan materi pembangunan lainnya.

Saat peletakan batu pertama Gereja Katedral
"Setiap pembangunan, ada pengorbanan. Tanpa pengorbanan, tidak ada kemajuan". Demikianlah ungkapan singkat yang pernah diucapkan oleh almarhum, sebagai motto dalam pembangunan gereja. Beliau berkisah bahwa ada pro-kontra yang terjadi saat pembangunan gereja, terutama ketika bangunan-bangunan kecil disekitar gereja harus dirobohkan. Namun demikian, pro-kontra itu dapat diatasi dengan baik sehingga pada akhirnya, gereja yang sekarang kita pakai untuk beribadah dapat berdiri kokoh dengan megahnya.

Bapak Albert Sihombing sedang
menyampaikan sambutan.
Bukan hanya di Gereja. Ketika pelaksanaan Pesparawi dan Sekolah Katolik dipakai sebagai tempat penyelenggaraannya, almarhum juga mencoba memperbaiki sarana yang sampai saat ini masih tetap digunakan di Sekolah Katolik Yayasan Siswarta. Keterlibatan beliau dalam hidup menggereja mulai berkurang ketika kondisi kesehatan mulai berkurang dan mengalami sakit selama bertahun-tahun. Hingga pada akhirnya, beliau dipanggil oleh yang Kuasa menjelang pesta emas Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya. Gajah mati, meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan budi. Bapak Albert Sihombing telah meninggalkan kita dan meninggalkan kenangan baik untuk kita semua. Mari kita berdoa agar beliau diterima oleh Tuhan dalam kerajaan-Nya. Selamat jalan "Natua-tua nami, Amang nami, Albert Sihombing". **Kairos.

Minggu, 25 Agustus 2013, Pastor Paroki St. Maria Palangka Raya, Alexius Dato L, SVD mensosialisasikan perubahan nama Kelompok Lansia St. Sebastianus menjadi Kelompok Usia Terberkati St. Sebastianus. Dalam acara pertemuan singkat dengan anggota Usia Terberkati, P. Alex mengatakan bahwa pemilihan nama Usia Terberkati memberi nuansa dan semangat yang lebih teologis dibandingkan dengan nama Lansia yang memberi warna sedikit pesimis dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Menurut P. Alex, Usia Terberkati adalah suatu masa untuk menikmati rahmat Tuhan. Suatu masa untuk hidup tenang tanpa beban seperti masa-masa muda sehingga kedekatan dengan Tuhan semakin meningkat lewat doa. Usia Terberkati bukanlah usia yang tidak sanggup berbuat apa-apa. Mereka bisa berbuat lebih banyak melalui keteladanan, doa dan memberi nasehat kepada orang muda. Lebih daripada itu, perubahan nama ini juga sangat berdampak untuk membangkitkan semangat orang tua (anggota Usia Terberkati) agar dalam melewati hari-harinya mereka merasakan bahwa hidup itu (tanpa batas usia) sangat berarti di hadapan Tuhan.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget