MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Paroki YGB"

Hidup penuh dengan tantangan bahkan rintangan/persoalan kerap kali menghadang dihadapan kita setiap saat sehingga kita merasakan hidup menjadi semakin berat, lalu apa yang harus dilakukan supaya hidup itu bisa dilalui dengan semangat dan penuh kedamaian, maka jangan tunda lagi, agar hidup tidak berat lagi....cepat sisipkan " K " pada BERAT maka akan menjadi BERKAT.

Lalu siapakah K itu sebenarnya??? K adalah KRISTUS Sang Causa Prima, sebab dari segala sebab, Sang Pencipta semesta alam, Alpha & Omega ( Awal & Akhir ) sekaligus sebagai Juru Selamat seluruh umat manusia tanpa kecuali. " Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku " (Yoh 14:6).

"Keluarga yang Melayani seturut Sabda Allah" demikian ajakan BKSN 2015 (Bulan Kitab Suci Nasional). Tanggalkan pangkat/derajat dan jabatan untuk saling melayani, semoga hidup yang terasa BERAT akan berubah menjadi BERKAT untuk diri sendiri, keluarga maupun orang lain.



Saya bangga menjadi bagian dari Keluarga Besar Yesus Gembala Baik, dalam perjalanan pelayanan gereja selama 5 (lima) tahun ini, saya merasa diperkaya dengan pengalaman iman yang belum pernah saya dapatkan. Sesekali bisa ikut bersama pastor atau frater dalam memberikan pelayanan ke stasi-stasi, sehingga saya bisa becermin pada kehidupan umat stasi dalam perjuangan mengembangkan gereja di tempat masing-masing.

Kadangkala saya juga tertegun pada semangat mereka dalam gotong royong misalnya, disitulah nampak bahwa pengorbanan total dilakukan oleh mereka, yach bagaimana tidak...mereka hanya punya waktu untuk mengahasilkan uang untuk makan hari ini, ketika mereka ambil bagian bergotong royong maka tidak ada waktu untuk mendapatkan uang sementara untuk besok mereka harus mencari lagi untuk makan esok. Lalu bila dibandingkan seandainya aku dalam sehari mendapat uang Rp. 150.000,- lalu kusumbangkan Rp. 100.000,- untuk gereja ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan pengorbanan mereka karena aku masih punya Rp. 50.000,- yang masih bisa kugunakan untuk makan.

Sungguh saya merasakan begitu besar ganjaran kasih Tuhan ketika kita mau meluangkan waktu untuk Tuhan. Proficiat untuk Paroki YGB yang merayakan Lustrum Unum 15 Agustus 2015, semoga semangat para gembalanya selalu berkobar-kobar untuk menemukan domba-domba yang tercecer dan selalu membutuhkan perhatian.

Menginjak usia lima tahun ini, Paroki YGB masih dalam proses pembenahan dan masih membutuhkan kerja keras dari umat terutama dalam menyelesaikan pembangunan gedung gereja. Disela-sela kesibukan pembangunan tersebut, Paroki YGB merayakan Lustrum Perdana dengan berbagai kegiatan yang sangat membangun persaudaraan umat. Berbagai perlombaan dilaksanakan untuk menghimpun umat dalam kegembiraan bersama. Rangkaian acara tersebut berpuncak pada tanggal 16 Agustus 2015 yang dilaksanakan di pusat paroki.

Kisah belum selesai. Pekerjaan belum selesai. Masih banyak yang harus dituturkan dan masih banyak yang sangat perlu dikerjakan. Kiranya, sejarah singkat ini dapat diteruskan dalam perjalanan waktu sehingga menjadi sebuah sejarah yang sempurna bersama kehadiran Sang Empunya Sejarah, Allah yang selalu menyertai umat-Nya.

Informasi Paroki Saat Ini

Pelindung         : Yesus Gembala Baik
Pastor Paroki         : Pastor Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD
          Pastor Damianus Ediwinarto, SJ
Keuskupan : Palangka Raya
Alamat Surat : Jl. Tjilik Riwut Km. 9,
Kelurahan : Bukit Tunggal
Nama Daerah : Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan
                                  Tengah 73112
Sejarah Dibentuk : 15 Agustus 2010

Statistik
Stasi          : 8 Stasi
Jumlah Lingkungan : 6 Lingkungan (sebelumnya 5 lingkungan)
Jumlah Imam : 2 Orang (sebelumnya 3 orang)
Jumlah Umat : 178 KK

Lingkungan
Sebaran jumlah Kepala Keluarga (KK) dalam lingkungan:
1. Lingkungan Markus : 27 KK
2. Lingkungan Matius : 35 KK
3. Lingkungan Mikael : 35 KK
4. Lingkungan Gabriel : 45 KK
5. Lingkungan Paulus : 36 KK (sekarang dibagi dua, yakni Paulus 1 dan Paulus 2).

Stasi
Sebelumnya semua stasi, terletak di Kabupaten Pulang Pisau, tersebar di dua kecamatan dan dikelompokkan menjadi 3 blok:
1. Kecamatan Kahayan Tengah seperti Bukit Rawi, Petuk Liti, Bukit Liti dan Tahawa;
2. Kecamatan Banama Tingang : Tumbang Tarusan, Pandawei, Bawan, Pangi dan Tangkahen;
3. Kecamatan Banama Tingang : Hanua, Ramang, Lawang Uru, Manen Paduran, Bereng Rambang
        Saat ini terdapat tambahan satu stasi baru yaitu Stasi Babugus yang terdapat di Kabupaten Kapuas.

Berawal dari bantuan 500 juta rupiah dari Pemerintah Kota Palangka Raya, Paroki YGB memulai pembangunan gedung gereja. Peletakan batu pertama gereja dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus 2012. Batu-batu pertama gereja ini diambil dari berbagai sumber, dari berbagai suku dayak  Kalimantan Tengah. Batu-batu tersebut  dihantar ke pusat paroki dengan melaksanakan ‘napak tilas’ dengan jarak 110 kilometer. Jarak sejauh itu ditempuh dengan berjalan kaki sambil berdoa. Perjalanan itu dimulai dari titik nol pada hari pertama, yakni di  Tangkahen (stasi paling ujung di Paroki YGB). Dari sanalah para pejalan kaki ini menggendong batu-batu pertama dan air dari berbagai sumber untuk digunakan sebagai materi pada peletakan batu pertama. Sambil melakukan perjalanan yang luar biasa ini, mereka mampir di setiap stasi untuk menjemput sumbangan stasi-stasi, menginap di jalanan dan di rumah-rumah umat. Hari ketiga, sesuai dengan rencana, rombongan semakin besar, biarawan-biarawati, tua muda, bahkan anak-anak, tiba di pusat paroki, bertepatan dengan upacara peletakan batu pertama gereja yang saat ini pembangunannya sedang berlangsung.

Pembangunan ini, masih harus dilanjutkan karena baru sampai tahap pondasi. Swadaya umat berupa 1.000 rit tanah urugan, dibantu oleh pemerintah kota dan berbagai kalangan lain. Dana sebesar 1 milyar sudah ada dan sedang dikelola untuk melanjutkan pembangunan ini. Diperkirakan, bangunan gereja ini selesai dengan biaya 7,5 M.

Paroki YGB di usia menuju lima tahun, terus-menerus membina diri dengan tenaga-tenaga pastoral awam intern, dan berusaha menyelesaikan pembangunan gedung untuk sarana peribadatan. Paroki YGB diabdikan untuk menjadi areal terbuka bagi segala suku dan agama dihimpun menjadi satu sambil memperhatikan budaya setempat. Cita-cita ini tertuang dalam visi dan misi yakni “menjadi gereja yang inkulturatif dan ekumenis.

Saat tulisan ini diluncurkan, pembangunan Gedung Gereja masih terus berlangsung. Gambar di atas adalah rekaman terakhir saat sejarah ini diluncurkan.

Paroki Yesus Gembala Baik  lahir tanpa gedung gereja, tanpa rumah pastoran, tanpa sekretariat, tanpa dana, tanpa sarana dan prasarana pastoral. Sesuai dengan lampiran SK Uskup Nomor SK/USKUP/30.PP/VII/2010,  pada saat dilahirkan, paroki ini diserahi umat sejumlah 178 KK menurut rincian jumlah KK di lingkungan paroki induk tanpa perincian jumlah jiwa di dalamnya.

Sejak berdirinya paroki, para pastor yang bertugas belum memiliki rumah tinggal (pastoran) sehingga mereka menempati rumah SVD Soverdi Palangka Wacana di Jl. Tjilik Riwut Km 5,5 Palangka Raya (depan kantor Walikota Palangka Raya). Rumah tinggal sementara tersebut sekaligus difungsikan sebagai Sekretariat Paroki. Karena belum memiliki gereja (gedung), perayaan liturgis / misa dipusatkan di Gereja Santo Yosep, Jl. Kakatua – Perumnas Palangka Raya, yang merupakan wilayah Paroki Katedral Palangka Raya. Sedangkan untuk misa harian menggunakan kapel rumah retret milik Soverdi Palangka Wacana.

Dalam pembicaraan tidak resmi bersama P. Frederikus  Parera, SVD, tercetuslah sebuah ungkapan yang ternyata sampai saat ini terbukti keberhasilannya. Beliau mengatakan bahwa yang paling pertama harus dilakukan dalam membenahi paroki baru ini adalah “menggembleng” manusianya. Maksudnya adalah bahwa kualitas SDM umat Paroki YGB harus dibina dulu agar kekompakkan dan kebersamaan tetap terpelihara. Tentu saja, dalam upaya pembinaan tersebut, kualitas keberimanan tetap menjadi perhatian utama sehingga segala yang dicita-citakan dapat tercapai dengan baik.

Ternyata, bukan hanya umat Paroki YGB yang memperhatikan keadaan awal paroki ini. Dukungan dari berbagai pihak pun datang bergantian. Dukungan moril dan materil pun mulai diterima. Kendaraan operasional, peralatan liturgis dan peralatan pendukung lainnya.  Ada yang mengantar komputer, kulkas, dan lain-lain, sehingga perlahan-lahan semakin banyak pihak yang berpartisipasi demi kemajuan paroki baru ini.

Sejak tahun 2003 Bapak uskup Palangka Raya, Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, MSF, sudah mencanangkan pemekaran Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya. Wacana pemekaran Paroki itu ditindaklanjuti dengan Surat No. 01/K-PK-02/04-05 tertanggal 01 April 2005 tentang Pengembangan/Pemekaran Paroki Katedral yang ditujukan kepada Dewan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya.

Setelah mempelajari isi surat bapak Uskup tersebut, Dewan Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya memberi Surat Tugas No. 18/DP/VII/2005 tanggal 26 Juli 2005 kepada bapak Albert C. Dahan untuk menjajaki segala sesuatu yang berkaitan dengan pemekaran Paroki Katedral St. Maria, termasuk personalia Panitia Pemekaran Paroki Katedral St. Maria. Berdasarkan usulan dari bapak Albert C. Dahan lewat suratnya tertanggal 31 Agustus 2005, Dewan Paroki Katedral St. Maria mengeluarkan Surat Keputusan tertanggal 26 September 2005 tentang pembentukan Kepengurusan/Tim Pengembangan /Pemekaran Paroki Katedral St. Maria Palangka Raya. Tim Pengembangan/Pemekaran mulai bekerja mencari tanah/lokasi untuk pembangunan gereja paroki yang baru.

Setelah menjajaki beberapa alternatif tanah yang ditawarkan, akhirnya diputuskan untuk membeli sebidang tanah seluas 20.662 m2 yang terletak di Km 9, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya. Transaksi jual beli tanah dilakukan oleh pihak Keuskupan dengan pemilik tanah pada tgl. 19 Mei 2008 di hadapan PPAT Pioni Noviari, SH. Selanjutnya dimantapkan persiapan untuk pemekaran Paroki Katedral yakni penetapan tanggal Deklarasi Lahirnya Paroki Baru yakni 15 Agustus 2010, Hari Raya SP Maria Diangkat Kesurga, yang didahului dengan penetapan batas Paroki (Jl. Tingang), pemilihan Pengurus Lingkungan dan Dewan Paroki.

Pada tanggal 15 Agustus 2010 dalam perayaan Ekaristi di Gereja Katedral St. Maria Palangka Raya, dideklarasikan Lahirnya Paroki Yesus Gembala Baik dengan Pastor Parokinya P. Laurentius Ketut Supriyanto, SVD dan dibantu oleh P. Frederikus Parera, SVD dan P. Damianus Ediwinarto, SJ. Dalam perayaan itu juga dilantik Pengurus Dewan Paroki yang perdana. Paroki Yesus Gembala Baik meliputi lima Lingkungan yakni Ling. Sto. Paulus, Sto.Mikael, Sto. Gabriel, Sto. Mateus dan Sto. Markus dan semua Stasi yang berada di wilayah bagian Utara Kabupaten Pulang Pisau yakni Wilayah Kecamatan Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah, dan Kecamatan Banama Tingang.

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Bapa yang maharahim atas berkat dan karunia-Nya, kita bersama-sama diperkenankan memasuki tahun kelima (Lustrum I) Paroki Yesus Gembala Baik (YGB) Palangka Raya. Berbagai suka duka telah mewarnai perjalanan paroki kita. Begitu banyak umat kita yang dengan caranya sendiri-sendiri telah berusaha untuk memberikan yang terbaik sesuai kemampuan, fungsi, tugas dan peran masing-masing.

Pada moment penting ini, kita semua diajak untuk berefleksi berhubungan dengan peran Gereja di masa-masa yang akan datang. Kita berharap, Gereja semakin dewasa dalam mengembangkan misinya secara langsung untuk pembangunan masyarakat Palangka Raya pada umumnya, dan umat katolik pada khususnya. Perjalanan 5 tahun tidaklah dilalui tanpa tantangan. Semua tantangan itu telah dilewati berkat penyertaan Tuhan.

Pada kesempatan yang baik ini, kami ingin melaporkan kepada Dewan Paroki serta kepada seluruh umat, bahwa kami Panitia telah bekerja sama dengan Seksi, Kelompok Kategorial serta beberapa Komunitas dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Berbagai kegiatan telah kita lalui sejak tanggal 25 juli 2015, baik kegiatan olah raga, donor darah dan kegiatan sosial lainnya.

Sebagai ungkapan syukur kita, atas semua rahmat Tuhan yang telah tercurah kepada seluruh umat di Paroki YGB, Lustrum I Paroki kita, bertepatan dengan pencanangan tahun 2015 sebagai “TAHUN LITURGI”. Maka dengan melibatkan beberapa Komunitas, pada puncak rangkaian kegiatan dipersembahkan MISA INKULTURASI secara penuh dengan harapan dapat menumbuhkan keakraban dan kedalaman persaudaraan, saling mengenal Budaya antar Umat, sebagai Keluarga Besar Paroki YGB.

Di tengah kegembiraan dan sukacita umat dalam merayakan Lustrum I paroki kita, hendaklah kita bermenung sejenak untuk merefleksi makna sebuah ulang tahun. Dalam berbagai makna, evaluasi hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Di satu sisi, ulang tahun dapat menjadi momentum untuk menilai kembali rentang waktu perjalananyang telah kita lalui bersama, baik keberhasilan maupun rintangan. Dengan memaknai kedua makna tersebut maka dalam merayakan Lustrum I ini kita tidak terperangkap pada kegiatan-kegiatan seremonial lahiriah belaka melainkan memanfaatkan moment ini untuk melihat sejauhmana keterlibatan dan peran kita masing-masing dalam membangun paroki ini menuju kedewasaan melaui doa dan karya kita.

Akhirnya atas nama Panitia Lustrum I Paroki YGB Palangka Raya, kami sampaikan terima kasih kepada para pastor, suster, ketua lingkungan dan seluruh umat yang telah turut memberikan bantuan dan perhatian dengan berbagai cara dan perannya masing-masing sehingga perayaan Lustrum I ini dapat berlangsung dengan lancar. Selamat HUT ke 5 Paroki YGB, Tuhan memberkati kita senantiasa.

Yohanes Bambang Wiguno
Ketua Panitia Lustrum I Paroki YGB



Pertama-tama, mewakili Pengurus Dewan Paroki dan seluruh umat Paroki Katedral Sta. Maria Palangka Raya, kami ucapkan Proficiat kepada para Pastor, pengurus Dewan Paroki dan seluruh umat Paroki Yesus Gembala Baik! Selamat merayakan Lustrum Pertama paroki Yesus Gembala Baik.

Usia 5 tahun, dibandingkan dengan usia manusia, dikatakan sudah melewati usia balita (bawah lima tahun) dan akan memasuki usia alita (atas lima tahun). Kata para ahli, usia balita merupakan fondasi untuk perkembangan kepribadian selanjutnya. Seperti apa perkembangan kepribadian seorang anak manusia selanjutnya sangat ditentukan oleh apa yang sudah dibentuk pada usia balita. Dalam analogi seperti itu, ketika Paroki Yesus Gembala Baik merayakan Lustrum pertama, boleh dikatakan paroki Yesus Gembala baik sudah selesai membangun fondasi yang koko untuk perkembangan selanjutnya dalam segala aspek.

Perayaan Lustrum pertama merupakan perayaan syukur atas karya Tuhan bersama seluruh umat membangun fondasi bagi perkembangan Paroki selanjutnya. Dibalik syukur atas apa yang sudah dilakukan Tuhan, terbentang sebuah tugas baru untuk bekerja keras membangun Paroki baik fisik maupun iman. Sambil melihat jejak-jejak karya Tuhan sepanjang lima tahun, Paroki Yesus Gembala baik dapat penuh optimis menatap masa depan.

Sebagai paroki induk yang telah bersama memekarkan Paroki Yesus Gembala Baik, kami pun ikut bergembira dan berbangga atas kemajuan yang sudah diraih dan kami doakan semoga Tuhan memberkati upaya para pastor, Dewan Paroki dan seluruh umat membangun Paroki sesuai dengan visi dan misi yang telah dicanangkan.

Proficiat! Selamat merayakan Lustrum pertama.

Rm. Alexius Dato'L, SVD

Paroki pemekaran yang menjadi paroki kedua di ibu kota propinsi Kalimantan Tengah ini mendapat nama pelindung Yesus Gembala Baik (YGB). Tak terasa, paroki ini sudah menginjak usianya pada tahun kelima, sehingga diadakankah Perayaan Lustrum Perdana (I). Tepat pada tgl, 15 Agustus 2010, Dewan Paroki yang pertama diantik di Paroki Katedral sebagai tanda resmi dimulainya pemekaran paroki YGB. Seluruh umat bersyukur atas perkembangan yang terjadi dalam Gereja lokal Keuskupan Palangka Raya pada umumnya dan secara khusus umat di kota Palangka Raya.

Memang kadang bisa disalah-mengerti bahwa pemekaran diartikan sama dengan pemisahan. Itulah yang ditangkap beberapa umat ketika dalam khotbah HUT Paroki Katedral yang ke-40, saya menyampaikan gagasan perlunya pemekaran paroki di kota Tambun Bungai ini. Ketika itu saya melemparkan gagasan untuk memekarkan katedral menjadi dua paroki, sehingga di Palangka Raya, ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah ini ada dua paroki. Sebagai langkah awal, dibentuk tim dan diadakan macam-macam pembicaraan. Wacana demi wacana pembagian wilayah dua paroki dipaparkan dan mendapatkan macam-macam tanggapan. Sesudah dipertimbangkan macam-macam seginya, maka dimantapkanlah pembagian wilayah yang sampaikan sekarang berlaku untuk kedua paroki kota ini.

Jauh sebelum pembagian itu ditetapkan, Panitia sudah mencari lokasi  untuk mendirikan gereja, pastoran dan bangunan-bangunan lain yang diperlukan. Beberapa lokasi dijajaki. Persyaratan yang diajukan antara lain: lokasinya harus strategis, di pinggir jalan yang mudah dijangkau oleh kendaraan umum, luas tanah sekitar 2 Ha, dan untuk pembangunannya tak terlalu mahal, misalnya karena tanah rendah, rawa-rawa, sehingga perlu tanah timbunan banyak. Setelah mempertimbangkan beberapa kemungkinan, akhirnya didapatlah tanah yang berada di Jl. Tjilik Riwut Km 9. Pembelian dilaksanakan dengan saksama didampingi  oleh notaris. 

Setelah dibeli secara sah dan resmi dengan sertifikat yang sudah diselidiki di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) semua beres, ternyata masih bisa timbul masalah. Ada pihak yang menuntut sejumlah uang  karena merasa juga memiliki tanah tersebut. Bahkan pihak-pihak itu pernah mengirim somasi kepada uskup sampai tiga kali, ditembuskan ke pelbagai pihak sampai tingkat nasional, seperti Menteri Agama, Dirjen Bimas Katolik, juga Gubernur, Walikota, dll. Setelah mengadakan pertemuan para tokoh umat dan staf  BPN serta  pihak-pihak yang mengerti soal hukum pertanahan, akhirnya diputuskan agar somasi itu dibiarkan saja. Bahkan ada yang mengirim surat ke kantor walikota, agar IMB tidak dikeluarkan dengan alasan masalah kepemilikan tanah masih disengketakan. Setelah petugas yang memeriksa surat-surat kelengkapan yang menjadi syarat-syarat untuk IMB sudah terpenuhi, IMB yang ditunggu oleh tim kerja pembangunan Gereja YGB diterbitkan. Nomor IMB segera dipancangkan pada papan nama di lokasi pembangunan, dan sejak saat itu berhentilah somasi itu. 

Ketika dicari nama untuk paroki yang baru, ada banyak masukan diterima oleh Dewan Keuskupan dan Panitia Pemekaran. Tiap usulan dipertimbangkan, dan akhirnya disepakati bahwa digunakan nama Yesus Gembala Baik. Beberapa pertimbangan yang muncul: Katedral menggunakan nama pelindung Bunda Maria, Gereja di perumnas dengan nama Gereja St. Yosef, maka tepatlah kalau Gereja baru itu diberi nama pelindung Yesus, dengan gelar Gembala Baik. Nama itu belum dipakai oleh paroki lain di keuskupan Palangka Raya. Memang di tempat lain ada Gereja dengan nama pelindung Yesus, tapi dengan gelar Raja Semesta Alam (Nanga Bulik). 

Nama Yesus Gembala Baik juga dikaitkan dengan visi-misi Gereja baru itu. Gagasan yang muncul antara lain: Gereja ini dimaksudkan sebagai representasi umat beriman yang berkehendak untuk mengadakan dialog-ekumenis dengan saudara-saudari beriman lainnya, seperti Gereja-gereja Kristen, Muslim, Kaharingan, dll. Yesus menjadi Gembala Baik untuk semua umat beriman, yang tentunya semuanya berkehendak baik. 

Gereja Paroki YGB juga dimaksudkan untuk menjadi Gereja yang inkulturatif. Umat beriman pada Kristus yang tergabung dalam paroki ini diharapkan bisa menghargai budaya, adat-istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang ada di sekitar kita. Istilah yang menjadi kearifan lokal berbunyi: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itulah cermin kebersamaan hidup yang saling menghargai. Umat beriman diharapkan mampu menemukan nilai-nilai yang baik, luhur dan suci  pada unsur-unsur budaya lokal, tempat umat hidup bersama dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan menghargai hal-hal yang ditemukan pada budaya dan agama setempat itulah, maka umat juga ikut mendukung budaya rumah betang, hidup bersama saling menghormati, tolong menolong, saling mengasihi dan saling mendukung di bawah satu atap yang sama yang disebut rumah betang.   

Untuk mewujudkan visi-misi itu, perlulah dipraktekkan semboyan Gereja sebagai umat beriman yang ramah lingkungan. Dua arti dimaksudkan dalam istilah ramah lingkungan, yaitu: pertama, pelestarian lingkungan hidup yang mewarnai gaya membangun lingkungan, penanaman pohon yang menghijaukan sekitar, pengelolaan sampah yang berdaya guna, seperti daur ulang sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan lagi. Kedua, ramah lingkungan berarti bersikap ramah terhadap tetangga dan orang-orang di sekitarnya. Gaya pengaturan kompleks bangunan dan penataan ruang-ruang diharapkan bisa memberi suasana terbuka, menjadikan masyarakat di sekitar berani untuk datang, dimungkinkan adanya tempat untuk olah raga, bermain bagi anak-anak, dll. Di kompleks itu terjadi interaksi yang sehat dan ramah bagi siapa saja yang berkunjung, berkumpul, mengadakan acara-acara bersama, baik di kalangan umat sendiri maupun bersama umat dari agama lain dan siapa saja yang tinggal di dekatnya.

Tak terasa, pemekaran itu telah berjalan 5 tahun. Bangunan pertama yang sudah selesai dibangun terdiri dari: ruang serba guna yang sekaligus berfungsi sebagai tempat untuk beribadat, beberapa kamar dan ruangan untuk para pastor yang berkarya dan sejumlah fasilitas telah tersedia dan dimanfaatkan dengan baik. Konsolidasi dan penggalangan kesatuan umat dan membentuk paguyuban umat beriman secara teritorial kiranya sudah berjalan dengan baik sekali. Antara umat di pusat paroki dan lingkungan-lingkungannya dengan umat di stasi-stasi telah terjadi interaksi dan kerjasama yang erat dan kompak. 

Bangunan berikutnya yaitu gedung Gereja yang sedang dan terus dikerjakan. Kerjasama pastor paroki, pastor rekan, pengurus dewan paroki, ketua-ketua lingkungan dan stasi serta unsur-unsur lain kelihatan cukup intens dan menampakkan hasil-hasil yang nyata. Hal inilah yang perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan. Tentu saja masih ada yang perlu diusahakan lebih lanjut, seperti misalnya: kemandirian dalam pelbagai bidang: sumber daya manusia (panggilan untuk menjadi petugas tertahbis dan non tertahbis, biarawan-biarawati, masih perlu ditingkatkan), bidang finansial, bidang managerial yang makin transparan dan akuntabel. Pada kesempatan merayakan lustrum I ini layaklah seluruh umat bersyukur atas anugerah dan bimbingan Tuhan yang bijaksana terarah demi kemuliaan-Nya. Sekaligus menjadi momen untuk evaluasi dan introspeksi dalam menyongsong masa depan Gereja agar umat beriman makin berkenan kepada Allah dengan iman yang dewasa dan makin berdedikasi melayani umat pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Selamat dan proficiat atas Lustrum I Paroki Yesus Gembala Baik, Tuhan memberkati.

+ Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka MSF.
Uskup Palangka Raya.

Usia lima tahun atau panca warsa atau lustrum I (prima) dies natalis Paroki Yesus Gembala Baik (YGB) jatuh pada tanggal 15 Agustus 2015. Hari kelahiran Paroki ini bertepatan dengan Perayaan Pelindung Paroki Induknya, yakni Paroki Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Pada tanggal yang bersamaan tersebut, kedua paroki yang berkedudukan di Kota Palangka Raya ini merayakan hari istimewa secara bersamaan.

Diintensikan untuk menjadi Gereja yang menghimpun segala macam golongan, budaya, latar belakang bahkan juga semua orang tanpa memandang agama, maka selama lima tahun, Paroki YGB berusaha menghidupi semangat Sang Pelindung Utama yakni Yesus Gembala Baik. Menjadi seperti Yesus Gembala Baik tentu bukan perkara mudah. Meneladani Yesus Gembala Baik itu menjadi panggilan dan upaya terus menerus bagi segenap Keluarga Besar YGB. 

Walau tak mungkin menyetarakan diri dengan Yesus Sang Gembala Baik,  dalam usia menginjak lima tahun, tanpa disadari, jejak-jejak Yesus Gembala Baik semakin nyata tertular kepada setiap anggota Keluarga YGB. Rupa nyata tertampak dalam bagaimana semangat Yesus Gembala Baik menjadi jiwa kehidupan menggereja. Sebagaimana Yesus sendiri, dari segenap Keluarga Besar YGB, muncullah semangat menghimpun mereka yang terlupakan, saling memelihara dan merawat dalam iman, saling meneguhkan dengan dialog terbuka, saling bantu dalam hal ekonomi, sehingga tidak diperbolehkan satupun anggota YGB yang merasa berjuang sendirian. Tidaklah salah bila paroki ini menyebut diri dengan Keluarga Besar, yang juga memiliki kegiatan rutin tahunan berupa “Pesta Keluarga”. Pesta yang jatuh pada setiap Pekan IV Paskah, bertepatan dengan Pesta Minggu Panggilan atau Minggu Gembala Baik, yang sekaligus menjadi ajang animasi panggilan khusus. Pesta Keluarga ini juga dilengkapi dengan piala bergilir antar lingkungan dan stasi yang diperebutkan menjelang Ulang Tahun Kelahiran Paroki ini. 

Lingkungan di pusat Paroki yang pada awalnya berjumlah lima (Matius, Markus, Gabriel, Mikael dan Paulus), kini sudah mekar menjadi enam lingkungan dengan mekarnya Lingkungan Paulus menjadi Paulus 1 dan Paulus 2. Lingkungan lain pun akan mekar karena jumlah umat masih sedang didata dan proses pemekaran lingkungan juga sedang berjalan. Masing-masing lingkungan memiliki akselerasi dan setiap lingkungan memiliki tanggung jawab memelihara saudaranya di satu atau dua stasi. Petuk Liti, Bukit Liti, Bereng Rambang, Manen Paduran, Lawang Uru, Hanua, Ramang, Bawan, Pandawei, Tumbang Tarusan, Pangi dan Tangkahen menjadi stasi-stasi tempat mampir dan merayakan ekaristi. Meskipun tidak semua desa atau stasi memiliki tempat ibadat, rumah-rumah keluarga juga menjadi tempat yang pantas untuk berkumpul. Kegiatan berkumpul bersama yang terjadi rutin di lingkungan, juga terjadi di beberapa stasi. Kini jumlah stasi bertambah  dengan ditemukannya pada 25 Desember 2014, sekelompok umat yang bermukim di perkebunan sawit di desa Bagugus dan Tabore kecamatan Mentangai, Kabupaten Kuala Kapuas. Seyogyanya wilayah ini termasuk dalam administrasi Paroki Santo Matius Kuala Kapuas. Sejak 25 Desember 2014, kelompok umat ini diserahkan untuk menjadi bagian Keluarga Besar YGB, setelah delapan tahun tak terjangkau pelayanan rohani.  Bertambahnya anggota keluarga ini menjadi kekuatan dan semangat nyata dari seluruh umat YGB yang mencari.

Menemani perkembangan Paroki ini sejak berdirinya bersama RD. Damianus Ediwinarta, kami bersyukur karena menjadi saksi nyata seluruh perkembangan jasmani dan rohani Keluarga Besar YGB hingga usia lima tahun ini. RP. Frederikus Pareira, SVD yang turut membidani lahirnya Paroki ini dari induknya dan memperkuat semangat umat di saat-saat awal berdirinya, juga memberi warna dasar bagi hidup Paroki ini, bersama dengan RP. Alexander Dato Lelangwayan, SVD dan Dewan Paroki Katedral Palangka Raya. 

Sejak awal berdiri, Paroki ini diperkuat oleh barisan para biarawan-biarawati: KSSY, TMM, PI, SFD, SND, MC, MSF dan SVD. Tentu ini menjadi kekuatan tersendiri dengan keterlibatan para biarawan-biarawati. Komunitas PI telah menarik diri ke Tamiyang Layang, namun kini anggota biara bertambah dengan kedatangan biarawati SMMI dari India yang akan menangani Rumah Sakit Keuskupan di pal 6. Kehadiran biarawan-biarawati menjadi pupuk bagi perkembangan umat mulai dari SEKAMI, Orang Muda Katolik, Legio Mariae, Misdinar, Dewasa, bahkan Lansia dan Warga Binaan. 

Juga pada awal berdirinya, Keluarga Besar YGB belum memiliki tempat ibadah dan rumah pusat yang tetap. Selama dua tahun pertama, gedung gereja Santo Yoseph di Perumnas dan Kapela SOVERDI Palangka Wacana menjadi tempat berkumpul dan aneka kegiatan. Keluarga Besar YGB juga berterima kasih kepada Societas Verbi Divini (SVD) yang sudah mengakomodir segala keperluan di saat tidak memiliki apa-apa sampai segala proses yang menyertai dalam urusan tanah dan pembangunan awal di pal 9 menunjukkan titik terang.

Pantaslah pada usia kelima, lustrum pertama Paroki YGB, kita para Dewan Paroki selama dua periode ini dan juga segenap panitia yang pernah ada, untuk saling berterima kasih karena saling memelihara, saling merawat dalam suka dan duka walau hanya ada ubi rebus dalam setiap perayaan besar karena sukacita bukanlah soal ubi rebus. Pun pula, terima kasih kepada Pemerintah Daerah melalui Pemerintah Kota Palangka Raya dan para donatur yang turut memberi perhatian pada perkembangan dan pembinaan iman umat. Masih terbentang usia yang panjang dan segala perjuangan untuk menjadi Keluarga Besar sebagaimana diintensikan pada awal berdirinya. 

Proficiat Keluarga Besar YGB. Selamat Ulang Tahun. Mari menjadi Gembala Baik bagi diri dan siapapun. Tuhan memberkati.

RP. Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD
Pastor Paroki YGB

Rangkaian kegiatan LUSTRU Paroki YGB, berbagai perlombaan diselenggarakan. Salah satu yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Agustus 2015 adalah Lomba Paduan Suara. Masing-masing lingkungan berusaha menampilkan yang terbaik. Berikut ini foto peserta lomba.

Lingk. St. Matius
Lingk. St. Markus
Lingk. St. Mikael
Lingk. St. Paulus I
Lingk. St. Paulus II

Dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan liturgi, terutama dalam tugas menjadi Lektor dan Pemazmur, Paroki YGB menyelenggarakan Lomba Lektor dan Pemazmur. Kegiatan dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan LUSTRUM Perdana Paroki YGB. Berikut adalah beberapa cuplikan foto yang dapat direkam oleh redaksi:
Peserta Lomba Mazmur
Peserta Lomba Lektor
Dewan Juri Lomba Lektor dan Mazmur
Peserta Lomba

Dalam rangka memeriahkan perayaan LUSTRUM Perdana Paroki Yesus Gembala Baik, terdapat beberapa kegiatan yang diselenggarakan oleh umat. Salah satu di antaranya adalah seperti terlihat pada foto-foto berikut ini.

Lingkungan St. Mikael VS Stasi-stasi
Team Lingkungan Paulus 2
Terlihat Kapten Team Lingkungan St. Markus

Membangun kebersamaan dan solidaritas dapat diwujudkan melelaui kerja bakti. Demikianlah umat Paroki YGB saling membantu antar umat terutama dalam pembangunan gereja. Semangat ini telah dipupuk sejak awal berdirinya paroki ini. Umat diajari untuk lebih mandiri.

Salah satu kegiatan yang baru-baru ini dilaksanakan adalah kerja bakit di Gereja St. Sisilia Tumbang Mahuroi, salah satu stasi yang terletak paling hulu Kahayan. Kerja bakti ini dilaksanakan pada tanggal 18-20 Juli 2015. Berikut cuplikan foto yang sempat direkam di lapangan.
Memperindah Gereja dengan cat
Menambal lantai yang sudah pecah
Menyederhanakan fungsi keramik dengan cat

Pembangunan gereja yang sedang berjalan membutuhkan sangat banyak kayu. Di kota Palangka Raya, tentu saja kayu bulat sebagai kayu andang penyanggah bangunan tergolong sangat mahal. Dan dapat dipastikan sangat membutuhkan dana besar untuk memperolehnya.

Berkat kerjasama umat, duit tidak perlu dikeluarkan untuk mendapatkan kayu bulat. Pada hari Minggu, 14 Juni 2015, sejumlah umat Paroki YGB kerja bakti mencari kayu bulat di hutan di lokasi Hanua, kurang lebih 80 km dari Kota Palangka Raya. Berikut cuplikan foto yang sempat terekam.
Istrahat sejenak mengumpulkan tenaga
Siap angkut menuju kota Palangka Raya


Tahun 2003, rencana pemekaran paroki Katedral mulai diwacanakan. Penjajagan, persiapan dilaksanakan dengan membentuk panitia pemekaran paroki. Setelah melewati masa pasang dan surut, akhirnya lahirlah paroki baru pemekaran dari Paroki Katedral “Santa Maria” Palangka Raya pada 15 Agustus 2010. Berdasarkan deklarasi uskup “declaratione parociae novae” tertanggal 15 Agustus 2010, paroki ini dilahirkan dengan nama “PAROKI YESUS GEMBALA BAIK” (Paroki YGB), yang berlokasi di Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Jl. Tjilik Riwut Km. 9 Palangka Raya.
Pada hari lahir paroki, sekaligus dilantik para pengurus Dewan Paroki Yesus Gembala Baik periode 2010 – 2013. Paroki ini lahir tanpa gedung gereja, tanpa rumah pastoran, tanpa sekretariat, tanpa dana, tanpa sarana dan prasarana pastoral.

1. Jumlah Umat

Sesuai dengan lampiran SK uskup nomer SK/USKUP/30.PP/VII/2010, pada saat dilahirkan, paroki ini diserahi umat sejumlah 178 KK dengan rincian jumlah KK di lingkungan pusat paroki tanpa perincian jumlah jiwa di dalamnya.
Jumlah KK di pusat paroki :
a. Lingkungan Markus 27 kk
b. Lingkungan Matius  35 kk
c. Lingkungan Mikael 35 kk
d. Lingkungan Gabriel 45 kk
e. Lingkungan Paulus 36 kk

2. Luas Wilayah

Wilayah paroki Yesus Gembala Baik (lampiran SK uskup nomer SK/USKUP/30.PP/VII/2010) meliputi wilayah Kelurahan Bukit Tunggal, berbatasan dengan Paroki Katedral oleh jalan Tingang, yang juga menjadi batas dengan Kelurahan Palangka. Selain itu, lingkungan Paulus yang tidak dibatasi Jl. Tingang, seluruhnya dimasukkan ke Paroki Yesus Gembala Baik.
Paroki YGB memiliki beberapa Stasi, yang dikelompokkan menjadi tiga blok, yakni:

  1. merangkum umat yang bermukim di kecamatan Kahayan Tengah seperti Bukit Rawi, Petuk Liti, Bukit Liti dan Tahawa, Kabupaten Pulang Pisau
  2. meliputi umat di Tumbang Tarusan, Pandawei, Bawan, Pangi dan Tangkahen, di kecamatan Banama Tingang (Bawan), Kabupaten Pulang Pisau.
  3. meliputi Hanua, Ramang, Lawang Uru, Manen Paduran, Bereng Rambang yang juga termasuk kecamatan Banama Tingang (Bawan), Kabupaten Pulang Pisau.

Dengan demikian, Paroki YGB berpusat di wilayah Kecamatan Jekan Raya, Kota Madya Palangka Raya, sementara itu, semua stasi terletak di Kabupaten Pulang Pisau, tersebar di dua kecamatan, Kecamatan Kahayan Tengah (Bukit Rawi) dan Kecamatan Banama Tingang (Bawan).

Batas-batas singgung dengan paroki lain :
- Barat : Paroki Kasongan
- Utara : Paroki Kuala Kurun
- Timur : Paroki Kapuas
- Selatan : Paroki Katedral dan Paroki Pulang Pisau

Meskipun paroki ini belum memiliki gedung gereja, namun stasi-stasi sudah memiliki kapela. Ada 5 kapela :
1. Kapela St. Petrus – stasi Petuk Liti
2. Kapela St. Arnoldus Janssen – stasi Hanua-Ramang
3. Kapela St. Maria – Lawang Uru
4. Kapela St. Klemens - Pandawei
5. Kapela Yohanes Rasul – stasi Tumbang Tarusan

3. Tenaga Pastoral

Dalam pelayanan umat baik sakramental maupun nonsakramental, penggembalaan umat di Paroki YGB pada saat kelahirannya dipercayakan kepada 3 tenaga imam tertahbis yakni:

1. P. Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD selaku Pastor Kepala Paroki
2. P. Frederikus Pareira, wakil ketua umum
3. P. Dominikus Edi Winarto, wakil ketua umum

Tenaga pastoral untuk paroki YGB belum memiliki Rumah Tinggal yang disebut sebagai pastoran. Untuk sementara ini, para pelayan pastoral bertempat tinggal di rumah SVD dengan alamat : SOVERDI PALANGKA WACANA, Jl. Tjilik Riwut Km 5,5 Palangka Raya (depan kantor Walikota Palangka Raya), telp. 3281616, kode pos 73112. Rumah Tinggal sementara ini sekaligus difungsikan sebagai Sekretariat Paroki YGB.

Sebagai tempat merayakan ekaristi rutin, paroki ini juga belum memiliki gedung gereja. Maka tempat perayaan liturgis dipusatkan di Gereja Santo Yosep, jl. Kakatua – Perumnas Palangka Raya, yang nota bene masih berstatus berdiri di wilayah Paroki Katedral – Palangka Raya. Sedangkan untuk perayaan ekaristi harian, paroki ini meminjam kapel rumah retret milik SOVERDI PALANGKA WACANA.

Selain tenaga tertahbis, paroki ini juga diperkaya dengan hadirnya beberapa rumah biara pria dan wanita. Kehadiran biara-biara ini turut mendukung karya pastoral paroki. biara-biara tersebut :
1. Suster KSSY
2. Suster MC
3. Suster SFD
4. Suster SND
5. Suster PI
6. Biara MSF
7. Biara SVD

4. Karya Pastoral

a. Pastoral Teritorial
Karya pastoral paroki baru ini masih di lingkup pastoral teritorial, dengan memperhatikan pelayanan sakramen-sakramen dan nonsakramen. Titik perhatian utama pastoral adalah ‘re-evangelisasi’ umat dengan katekisasi di tingkat lingkungan. Kegiatan pastoral rutin yang terjadi adalah :

  1. Pelayanan sakramen Ekaristi rutin; diselenggarakan di gereja Santo Yosep dan kapela SOVERDI PALANGKA WACANA.  
  2. Kunjungan lingkungan diadakan setiap minggu dengan durasi masing-masing lingkungan dikunjungi setiap 5 minggu sekali.
  3. Kunjungan dan misa di stasi-stasi diadakan setiap Sabtu dan Minggu

b. Pastoral kategorial
Karya pastoral kategorial belum terbentuk secara matang. Namun beberapa embrio telah disiapkan untuk pelayanan berdasarkan kategori seperti : Legio Maria, Orang Muda Katolik, Bina Iman Anak, Lansia, dan WKRI

5. Program Yang Telah Dikerjakan

Banyak hal hendak dikerjakan, namun beberapa bagian penting menjadi perhatian sejak awal berdirinya paroki ini sedang terjadi :

  1. Mendata umat dengan komputerisasi
  2. Re-evangelisasi umat di pusat paroki dan di stasi
  3. Lingkungan di pusat dan biara-biara mengasuh stasi dalam program “orang tua asuh bagi stasi”. 
Program ini dimaksudkan untuk saling membina diri bagi umat, saling meneguhkan, saling menguatkan baik secara rohani maupun secara materi. DARI umat, OLEH umat, dan UNTUK umat. Dari rapat pleno Dewan Paroki terbentuklah orang tua asuh bagi stasi dengan pembagian:
a. Lingkungan Matius menjadi orang tua asuh bagi umat di Tumbang Tarusan dan Pangi;
b. Lingkungan Markus menjadi orang tua asuh bagi umat di Petuk Liti ;
c. Lingkungan Paulus menjadi orang tua asuh bagi umat di Manen Paduran dan Lawang Uru;
d. Lingkungan Mikael menjadi orang tua asuh bagi umat di Hanua dan Ramang;
e. Lingkungan Gabriel menjadi orang tua asuh bagi umat di Pandawei dan Tangkahen.
-------------
VISI

Berdasarkan berbagai pemikiran, pertimbangan, memperhatikan situasi sosial dan budaya serta arah perkembangan iman umat, maka dalam rapat pleno Dewan Paroki Yesus Gembala Baik tanggal 26 September 2010, paroki ini meletakkan cita-cita jangka panjang dalam kalimat visi :

“GEREJA YANG INKULTURATIF DAN EKUMENIS”.

Cita-cita ini tidak lepas dari konteks budaya yang beragam dalam lingkungan umat sendiri, sekaligus membuka diri terhadap dialog dengan umat beriman lain terutama umat Kristen.

MISI

Visi ini dijabarkan dalam dua MISI utama paroki yakni :
MENGHAYATI IMAN KATOLIK DENGAN KERAGAMAN BUDAYA  YANG ADA
MEMBUKA DIRI DENGAN GEREJA LAIN MELALUI DIALOG

-------------

Susunan Pengurus Dewan Paroki Yesus Gembala Baik 2010 – 2013. 
(lampiran Surat Keputusan Keuskupan Palangka Raya; no. SK/Uskup/41-DP/VII/2010)

Ketua Umum           :  P. Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD
Wakil Ketua Umum :  P. Frederikus Pareira, SVD
                                   P. Damianus Edi Winarto

Ketua I : Aloysius Pati
Ketua II         : Andreas Palem
Sekretaris I : Bernardinus Realino Indra Cahya Wisnu Prabawa
Sekretaris II : Yohanes Darmaji
Bendahara I : Agnes Sri Yetty
Bendahara II : Sisilia Susilawati

Seksi-Seksi:

1. Seksi Pewartaan
Koordinator : Tadeus Marjuni Sugeng
Anggota : Sr. Wigberta Gapi, MC
 Petrus Gundur
 Yustina Manu

2. Seksi Litugi
Koordinator : Sr. Theodorin, PI
Matoldus Paskalis Nanga
Lusia Andhi Mawarti Rahayu
Sr. Theresiani Frida Fahik, SFD
Sr. Marciana Situmorang, SFD
Sr. Irene Sitanggang, KSSY

3. Seksi Sosial dan Duka
Koordinator : Aston Pakpahan
Anggota : Yohanes Wandeh
 Theresia Sutarni

4. Seksi Rumah Tangga
Koordinator : Veronika Rina Sulistyawati
Anggota : Imelda Robi
 Angelia Corbara Kenanga Dewi
 Sr. Mamerta Sinaga, KSSY

5. Seksi Pengelolaan Asset/Perlengkapan
Koordinator : Yoseph Benny Haryadi
Anggota : Viktorianus Topo Prayitno
 Yohanes Makmur Halim
 Yohanes Suryanto
6. Seksi Keamanan
Koordinator : Antonius Didik Kristiawan
Anggota : Hendrikus Lopez

Ketua-ketua Lingkungan:
1. Lingkungan St. Paulus : Philipus Neri Suminto
2. Lingkungan St. Mikael : Agustinus Primayudi
3. Lingkungan St. Gabriel : Egidius Supriatmadja
4. Lingkungan St. Matius : Dominikus Dwi Padma Susanta
5. Lingkungan St. Markus : A. Heru Purwanto

Ketua Stasi/Umat :
1. Stasi St. Petrus Petuk Liti : Marianus Maryono
2. Stasi St. Arnoldus Janssen Hanua : Mathias Jaya
3. Stasi St. Yohanes Rasul Tumbang Tarusan : Seth Untung Silas
4. Ketua Umat Lawang Uru : Yohanes Johnlianssen
5. Ketua Umat Manen Paduran : Marcianus Gratianus Mercy
6. Ketua Umat Pangi : Claudius Rantau
7. Ketua Umat Tangkahen : Yohanes Mari Riwayanti Stiawan
8. Ketua Umat Pandawei : Fransiskus Frantiony Yoyo

---------------

 Jumlah umat saat ini sedang di-up date. Hingga saat ini terhitung jumlah umat sebagai berikut:


NO.
LINGKUNGAN/STASI
KK
JIWA
PUSAT PAROKI
Lama update
1 Gabriel 45 48 190
2 Mikael 35 35
3 Matius 35 49 130
4 Markus 27 37
5 Paulus 36 44 132
STASI
6 Hanua – Ramang
7 Lawang Uru 9 41
8 Manen Paduran 4 15
9 Tumbang Tarusan 18 82
10 Pangi 5 20
11 Pandawei 9 37
12 Tangkahen 6 18
13 Petuk Liti 22 70
BIARA
KSSY 2
SFD 6
SND 1
MC 4
PI 2
MSF 1
SVD 4
Baptisan baru
7
Katekumen
-
JUMLAH
178

Persiapan.
Hari Jumat 10 Agustus 2012 pukul 19.00 WIB sebagian Tim 12 (Pastor Ketut, Dwi Patma, Wahyudi, Medi, Tanto) dari pusat paroki yang berada di Palangka Raya berangkat dari Gedung Serba Guna Tarung Barasih Jl. Tjilik Riwut Km 9 untuk menyerahkan berbekalan di beberapa etape yang direncanakan sebagai tempat singgah untuk istirahat, makan dan minum. Bahan perbekalan antara lain; beras, indomie, sarden, telur, minyak goreng, gula pasir, kopi dan teh. Tempat-tempat persinggahan tsb. antara lain; Petuk Liti, Balukon, Penda Haur, Manen Paduran, Hanua-Ramang.
Peserta Napak Tilas

Kegiatan Utama.
Hari Sabtu tanggal 11 Agustus 2012 dari titik Nol Tangkahen sebelum Napak Tilas 110 Km Paroki  “YGB” dimulai dengan misa pukul 04.00 WIB yang diikuti oleh Tim 12, serta 9 partisipan dari umat pusat paroki dan umat stasi Tangkahen di rumah keluarga Bapak Putri yang dipimpin oleh Pastor Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD, yaitu : Wahyudi, Dwi Patma,  Medi, Tanto, P. Ami, P. Putri,  P. Ari,  Mersi, Stephanus, P. Aldi, P. Lala, P. Maria, M. Pipin, Bu Wandeh, Helen, P. Bagus, Bagus, Ari,  Palem, M. Putri.

Setelah selesai misa Tim 12 dan 9 orang partisipan sebelum berangkat menyantap sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh keluarga Bapak Putri, sarapan pagi ini merupakan mukjizat yang pertama bahan bekal yang diserahkan dengan lauk sarden tapi berubah menjadi daging ayam, semoga Tuhan memberkati umat stasi Tangkahen dan secara khusus P. Putri sekeluarga . Setelah itu seluruh relawan bersiap-siap dengan mengenakan pakaian adat Dayak yang sudah disiapkan, lawung (ikat kepala) dan ikat pinggang warna kuning, mandau.

Start Napak Tilas 110 Km dimulai pukul 05.50 WIB dari Tangkahen dengan menyeberangi sungai Kahayan selama ± 7 menit dengan menggunakan feri kecil untuk memuat tim relawan berjumlah 21 orang ( Tim 12 dan 9 partisipan ). Yang dibawa batu, pasir dan air dari stasi Tangkahen. Perjalanan awal ini akan menuju ke desa Pangi. Barisan tim pejalan kaki menggunakan jalur kanan supaya aman.
Pukul 06.53 WIB sampai di Pangi, singgah di rumah P. Davit untuk serah terima Batu stasi Pangi yang akan dibawa ke Palangka Raya. Jarak yang ditempuh dari Tangkahen ke Pangi ± 7 km. Perjalanan dilanjutkan menuju ke desa Tumbang Tarusan.

Pukul 07.30 WIB sampai di Gereja St. Yohanes Rasul Tumbang Tarusan, di sini serah terima 2 buah batu yaitu dari stasi Pandawei dan stasi Tumbang Tarusan. Mulai dari Tumbang Tarusan tim relawan bertambah lagi 3 orang ( P. Noel, P. Tara dan P. Frin yang berusia 71 tahun) dengan demikian jumlah relawan sebanyak 24 orang. Jarak yang ditempuh dari Pangi ke Tumbang Tarusan ± 2 km. Perjalanan ini akan menuju ke desa Ramang.

Pukul 12.00 WIB sampai di Ramang etape istirahat pertama, serah terima batu patahu dari stasi Hanua kemudian istirahat untuk makan siang, makanan disediakan oleh P. Ami ketua umat Stasi Hanua-Ramang, menu makan siang sangat mengejutkan karena bahan makanan yang kita serahkan adalah lauk sarden tapi ternyata berubah menjadi daging babi, sungguh suatu mukjizat dari Tuhan melalui tangan keluarga P. Ami, Puji Syukur ya Tuhan, semoga Tuhan memberkati umat stasi Hanua-Ramang dan secara khusus untuk P. Ami sekeluarga. Ini merupakan mukjizat yang ke-2. Setelah makan siang tim relawan tidur siang sampai dengan pukul 15.00 WIB. Jarak yang ditempuh dari Tumbang Tarusan ke Ramang ± 11 km. Pukul 15.30 WIB perjalanan dimulai lagi untuk menuju desa Hanua di rute ini peserta relawan bertambah 4 orang ( M. Ami, Yeni dan M. Eman, P. Tolen) sehingga jumlah relawan menjadi 28 orang. Mengingat perjalanan yang masih panjang maka sejak start desa Ramang ke desa selanjutnya tim yang berjalan kaki mulai dibagi 2 kelompok untuk saling bergantian setiap menempuh jarak 5 km. Pada rute ini tim yang berjalan berjumlah 14 orang dan yang lain naik mobil. Perlu diketahui pula bahwa mulai perjalanan dari Tangkahen, Damang Adat Kaharingan desa Tumbang Tarusan ada di tengah-tengah barisan sampai di Ramang.

Pukul 16.30 WIB sampai di desa Hanua, di tempat ini pergantian personil yang berjalan kaki. Salut untuk kameramen Tanto yang tidak kenal lelah melakukan penyutingan perjalanan baik dari depan maupun dari belakang barisan, capek deeeh… Selamat datang Pak Wandeh dan selamat bergabung untuk melakukan pengawalan barisan tim pejalan kaki.
Pukul 17.30 WIB sampai di Lawang Uru, serah terima batu dan air dari stasi Lawang Uru, pergantian tim pejalan kaki dan personil relawan bertambah 2 orang (P. Pipin dan P. Rantau) sehingga jumlah relawan menjadi 31 orang. Perjalanan dilanjutkan menuju Manen Paduran. Dalam perjalanan ini kaki para tim pejalan kaki sebagian besar peserta sudah mulai lecet dan melepuh. Pak Palem mulai lempoh he…he… tapi semangatnya membara terus.

Pukul 18.30 WIB sampai di etape istirahat yang ke-2 yaitu stasi Manen Paduran di rumah P. Lili, perjalanan yang ditempuh sudah mencapai ± 44 km, perjalanan ini sudah melampaui target awal sehingga diputuskan malam ini tidak melanjutkan perjalanan melainkan istirahat tidur dan perjalanan malam dibatalkan. Demikian juga umat Stasi Manen Paduran menyediakan konsumsi yang sama seperti di tempat-tempat sebelumnya yang didapatkan menu daging ayam, ikan dan daging babi lagi-lagi sarden itu gak muncul lagi, apa ikan sardennya hidup lagi yaaa… Sungguh berkat Tuhan Allah benar-benar berlimpah untuk para tim relawan, semoga bekat-berkat yang lain pun akan senantiasa berlimpah untuk dimasa-masa yang akan datang untuk umat Paroki YGB pada umumnya juga untuk para relawan pada khususnya. Amiiiin. Pada malam hari ini peserta relawan ada yang datang dari pusat Paroki, yaitu: Yoseph, Donatus, Eko Priyono, Darmaji dan Aloysius Pati kedatangan mereka sungguh menambah semangat tim yang ada. Salut untuk P. Darmaji dan P. Pati ditengah-tengah kesibukan mereka masih berusaha untuk bergabung meskipun pada akhirnya harus kecewa karena yang pada malam ini diadakan perjalanan malam namun dibatalkan, maka pada malam itu juga kembali turun ke Palangka Raya karena keesokan pagi harinya harus menjalankan tugas masing-masing.

Hari Minggu tanggal 12 Agustus pukul 03.30 WIB, start dari Manen Paduran melintasi 2 (dua) desa Bereng Rambang dan desa Parahangan menuju Penda Haur, jumlah tim yang berjalan kaki secara bergantian berjumlah 34 orang. Selama sepertiga perjalanan 110 km banyak sekali kisah cerita lucu dalam bercanda dan berdoa, namun itu semua tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata hanya setiap pribadi relawan yang ikut dalam kisah perjalanan ini menjadi sesuatu kenangan yang tidak akan pernah terulang lagi selama hidupnya. Dan menjadi sebuah hiburan ketika beberapa orang mencemooh kegiatan ini sebagai kegiatan orang gila, orang yang kurang kerjaan dan lain sebagainya. Ini sebuah kisah nyata sebagai wujud keprihatianan dan perjuangan dalam doa untuk mewujudkan kepentingan orang banyak dan sebagai ziarah iman yang paling gampang bagi orang yang tidak punya apa-apa. Sungguh luuaaar biasa….dan sungguh-sungguh GILA. Senyuman, canda dan tawa menjadi jantung semangat para relawan yang pantang menyerah untuk menyelesaikan tugasnya sampai di tujuan. Hiduuup Pastor Ketut, yang tanpa lelah dan sabar mendampingi perjalanan religi ini.
Di daerah Parahangan barisan tim relawan yang jalan kaki menjadi pemandangan yang menyeramkan bagi penduduk di wilayah itu, mereka ketakutan ketika tim relawan melewatinya, penduduk yang sedang santai di luar rumah untuk bermandi cahaya mentari pagi bersama anak-anak mereka kemudian lari cepat-cepat untuk masuk rumah dan kemudian mengunci pintu dan menutup semua jendela rumah mereka rapat-rapat. Dikira kami ini adalah KAYAU atau akan membuat kerusuhan karena tim relawan menggunakan lawung warna kuning dengan mandau yang disandang. Untuk menghilangkan kegelisahan penduduk setempat kami (tim relawan) berhenti sejenak dan Pastor Ketut memberikan penjelasan yang secukupnya untuk menenangkan mereka.

Pukul 06.30 sampai di Penda Haur singgah di rumah Mama Feri untuk menerima santapan rohani dan santapan jasmani. Selamat datang Pastor Win yang mengendarai motor GL-nya, setelah beristirahat sebentar tim relawan minum teh dan kopi dilanjutkan dengan Misa Ekaristi yang dipimpin oleh Pastor Win yang dimulai pukul 07.30 WIB, sekali lagi para relawan harus berjuang melawan kantuk yang tidak tertahan untuk tetap mengikuti  perjamuan ekaristi, setelah misa dilanjutkan dengan sarapan pagi disaat yang sama ada salah satu umat stasi Hanua (Mama Yopi dan keluarga) yang sedang melintasi rute tim relawan berhenti sejenak juga memberikan minuman isotonik dan nasi bungkus sebanyak 30 bungkus untuk tambahan makanan, Puji Tuhan banyak sekali orang baik yang kami jumpai sepanjang perjalanan. Dan yang menarik Bu Wandeh menemukan seorang umat yang lama hilang dalam keadaan sakit dan lumpuh di pembaringan di samping rumah tempat penyelenggaraan misa pagi itu. Sekali lagi paroki Yesus Gembala Baik menemukan domba yang hilang.
Perjalanan dilanjutkan lagi pukul 09.35 WIB dari desa Penda Haur menuju desa Balukon yang sebelumnya akan melintasi 2 (dua) desa yaitu desa Tahawa dan desa Bahu Palawa, panas karena teriknya sinar matahari seakan semakin mengobarkan semangat untuk tetap bertahan, barisan tetap utuh, langkah kaki yang semakin pendek dan doa masing-masing relawan menyangga badan untuk tetap membawa batu, pasir dan air yang dibawa dari stasi-stasi Tangkahen, Pangi, Tumbang Tarusan, Hanua-Ramang, Lawang Uru dan Manen Paduran. Senyuman sebentar-sebentar mengembang diantara para relawan pada mereka yang saling berpandangan. Mulai rute ini Pastor Win mengawal perjalanan tim relawan.

Pukul 10.45 WIB sampai desa Balukon, diluar perkiraan yang seharusnya sampai pukul 12.00 WIB untuk istirahat dan makan siang di rumah P. Syerli akhirnya tim memutuskan hanya ada pergantian beberapa relawan untuk melakukan perjalanan berikutnya menuju desa Bukit Liti, sebelumnya akan melintasi desa Pamarunan terlebih dahulu, rute ini adalah perjalanan duapertiga jarak tempuh 110 km, terik sang surya membuat perjalanan relawan mulai tidak stabil jarak yang renggang antar relawan menjadi fokus untuk kebersamaan dalam rute ini, masih dengan semangat yang berkobar-kobar barisan sesekali kembali menjadi rapat, sesekali menjadi renggang dan sesekali menjadi rapat kembali. Sungguh menjadi sebuah refleksi bahwa hubungan antar pribadi harus saling menyemangati satu sama lain dalam kehidupan yang saling membutuhkan.

Pukul 12.15 WIB tiba di Bukit Liti di rumah Tukang Tambal Perempuan (mama Oping)  salah satu umat stasi Petuk Liti, di tempat ini menjadi persinggahan tim relawan untuk istirahat dan makan siang. Bahan makanan dari Balukon dikirim menuju Bukit Liti. Dengan demikian jarak yang telah ditempuh mencapai ± 82 km. Di persinggahan ini kami dikunjungi oleh Kapolsek Bukit Rawi, terima kasih untuk Pak Kapolsek yang telah ikut memantau perjalanan Napak Tilas ini. Dan di tempat yang sama telah datang juga Davit Komka dan Kevin beserta keluarga yang ikut menyemangati perjalanan ini. Tim relawan santap siang dengan menu yang penuh keajaiban kembali, ikan, daging ayam dan daging babi menjadi menu siang hari, terima kasih untuk umat di Balukon dan secara khusus keluarga P. Syerli yang telah bersusah payah menyiapkan makaan siang, jangan kecewa ya P. Syerli karena kami tidak jadi singgah di rumah, semoga Tuhan memberkati budi baik ini. Setelah makan tim relawan ada yang mandi dan ada yang tidur, sempat sesaat terjadi hujan dan petir saat itu.
Pukul 15.00 WIB rombongan dari pusat paroki Pastor Fredy, Bu Agnes, Bu Susi dan P. Darmaji tiba di Bukit Liti dengan membawa bahan makanan lagi, tim relawan makan lagi sore hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Petuk Liti. Pukul 16.00 WIB rombongan KOMKA yang dipimpin oleh Isna berjumlah 6 (enam) orang datang lagi menyusul untuk bergabung dalam perjalanan Bukit Liti ke Petuk Liti, umat stasi Petuk Liti 4 (empat) orang. Jumlah tim relawan pada rute ini berjumlah 45 orang.

Pukul 17.00 WIB perjalanan tiba di desa Petuk Liti, disambut oleh Ketua umat Stasi Petuk Liti P. Rako bersama umat, di tempat ini terjadi penyerahan batu dari Stasi Petuk Liti, berikutnya tim relawan mandi makan malam dan sekaligus tidur malam hari di beberapa rumah umat stasi Petuk Liti yaitu sebagian tim relawan di rumah P. Syerli yang baru selesai dibangun dan belum pernah ditempati dan sebagian di rumah P. Rako. Rombongan dari Palangka Raya yang dipimpin oleh Pastor Fredy kembali ke Palangka Raya pukul 17.30 WIB, terima kasih untuk rombongan Pastor Fredy yang telah mendampingi perjalanan rute Bukit Liti sampai Petuk Liti. Makan malam pukul 19.00 WIB di rumah P. Anto, lagi-lagi dengan menu yang istimewa yaitu daging ayam, pada jam yang sama umat dari stasi Hanua (P. Susi) mengantar juga nasi bungkus, buah semangka dan the gelas beberapa dos. Setelah makan rombongan KOMKA kembali ke Palangka Raya, terima kasih untuk rombongan KOMKA yang telah bergabung dalam  perjalanan rute Bukit Liti sampai Petuk Liti.

Hari Senin tanggal 13 Agustus 2012, start pukul 03.30 WIB rute Petuk Liti menuju Kathedral St. Maria Palangka Raya, diikuti tim relawan berjumlah 38 orang relawan (pertambahan personil P. Rako, P. Bungis, Mama Bungis, Mama Oping, Yohanes, Kevin dan David), rute ini akan melintasi desa Sigi, desa Bukit Rawi, desa  Danau Sanggalang, desa Tumbang Rungan, desa Pahandut Seberang, dengan jarak ± 20 km. Sampai di Bundaran Sigi barisan Napak Tilas mengelilingi satu kali. Pukul 05.30 WIB tim relawan istirahat di Bukit Rawi ± 30 menit dan melanjutkan perjalanan lagi menuju Danau Lais desa Danau Sanggalang.

Pukul 07.30 WIB sampai di Danau Lais tim Napak Tilas istirahat sebentar batu, pasir dan air  diturunkan di atas mobil ± 30 menit, sambil beristirahat dengan mendengarkan lagu adat dayak sebagian relawan menari pertanda kebahagiaan mereka untuk bisa meluangkan waktu untuk ikut bergabung dalam kegiatan religi ini.

Pukul 08.00 WIB bergerak kembali dari danau Lais pada rute ini jalan sangat sempit sehingga pengaturan lalu lintas menjadi perhatiah serius agar lalu lintas kendaraan tidak terganggu dan tetap berjalan lancar, barisan teratur, langkah-langkah kaki tetap mantap dan cepat meskipun tenaga sudah mulai terkuras, namun semangat perjuangan yang berkobar-kobar menuju titik nol Palangka Raya seperti mempunyai kekuatan yang dahsyat mendorong tim Napak Tilas untuk merangsek masuk Kota. Pukul 08.30 WIB wartawan senior Harian Kalteng Pos, P. Sensi bergabung dalam barisan tim Napak Tilas.

Pukul 10.15 tim Napak Tilas sampai di Pahandut Seberang tepatnya di tempat wisata Kum Kum, Voor Rijder Polda Kalteng mulai mengawal perjalanan menuju titik nol Palangka Raya, Pukul 11.15 WIB tim Napak Tilas memasuki pintu gerbang Gereja Kathedral St. Maria, batu, pasir dan air yang dibawa dari stasi-stasi diturunkan dan diletakkan di depan altar dalam gereja. Kemudian tim relawan makan siang dan istirahat.
Pukul 16,00 WIB, barisan mulai bergerak lagi menuju Biara SVD Jl. Tjilik Riwut Km 5,5, peserta relawan dari lingkungan-lingkungan pusat paroki dan biarawan-biarawati bergabung untuk masuk dalam barisan, tiba di Biara SVD pukul 17.05 WIB, batu, pasir dan air yang dibawa dari stasi-stasi diturunkan dan diletakkan di depan altar dalam Kapela Soverdi dan menginap semalam, termasuk para relawan dari stasi-stasi dan tim 12 yang menginap di Wisma Arnoldus Yansen.

Hari Selasa tanggal 14 Agustus 2012 pukul 16.00 WIB, barisan Napak Tilas bergerak lagi menuju Aula Keuskupan kemudian batu, pasir dan air diturunkan dan digabungkan dengan batu, pasir dan air dari Katingan, Barito dan batu dari Yerusalem, pukul 18.00 WIB misa ekaristi dipimpin oleh Bapak Uskup Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF setelah misa ramah tamah yang di jamu oleh Bapak Uskup dan sekaligus diperkenankan tim relawan bermalam di Aula Keuskupan. Terima kasih untuk Bapak Uskup atas akomodasi serta fasilitas yang diberikan kepada tim relawan. Pada hari yang sama pada surat kabar Harian Kalteng Pos, Napak Tilas 110 km menghiasi  rubrik pada salah satu halaman koran tersebut. Terima kasih Kalteng Pos semoga menjadi sosialisasi yang aktual untuk masyarakat Bumi Tambun Bungai.

Hari Rabu tanggal 15 Agustus 2012 bertepatan dengan hari ulang tahun Paroki Yesus Gembala Baik tim Napak Tilas 110 km Paroki YGB mulai bergerak kembali pada pukul 14.00 WIB start dari Aula Keuskupan Palangka Raya menuju Pusat Paroki Yesus Gembala Baik Jl. Tjilik Riwut Km 9, dengan langkah yang pasti tim membawa batu, pasir dan air yang akan digunakan sebagai peletakan batu pertama dari stasi-stasi terjauh akan masuk ke titik Finish namun itu bukan berarti akhir dari perjalanan perjuangan panjang sejauh 110 km. Barisan rute terakhir ini agak panjang dibandingkan barisan sejak awal dari titik nol km, karena selain Tim 12, relawan stasi, bergabung pula Biarawan-biarawati, anak-anak, remaja dan KOMKA yang ingin ambil bagian. Pada akhirnya pukul 13.15 WIB barisan ini memasuki pintu gerbang halaman pusat paroki Gedung Serba Guna Tarung Barasih dan terus masuk ke lokasi dimana tempat peletakan batu pertama dengan mengelilinginya sebanyak tiga kali, dilanjutkan dengan Misa Peletakan Batu Pertama yang dipimpin oleh Bp. Uskup Palangka Raya Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF dan menjadi titik awal peletakan batu pertama pembangunan Gereja Yesus Gembala Baik.
Perjalanan Napak Tilas 110 Km ini bukan merupakan gagah-gagahan atau menunjukkan kekuatan seseorang secara fisik melainkan mencoba memasuki suasana keprihatinan pada perjalanan suka dan duka berjalan pada Salib Kristus, ada sisi perjuangan, ada sisi pengorbanan yang terus menerus dalam membangun Gereja di Paroki Yesus Gembala Baik, yang menginspirasi serta mengandung filosofi yang mendalam yaitu :
1. “Satu tekad bulat secara bersama-sama berjuang membangun Gereja Yesus Gembala Baik (Hinje Hapakat Mampendeng Gereja Yesus Gembala Baik) seluruh umat Paroki Yesus Gembala Baik, baik yang di pusat paroki maupun yang tersebar di stasi-stasi, sekaligus menjadi sejarah Gereja”.
2. Sebagai bentuk ungkapan hati dan ziarah rohani bagi setiap pribadi yang mau dan berani dengan sukarela ambil bagian dalam Napak Tilas 110 Km, Tangkahen sampai Tjilik Riwut Km. 9 Palangka Raya Paroki Yesus Gembala Baik dengan berjalan kaki.
3. Barangsiapa menyediakan waktu untuk Tuhan maka ia akan mendapatkan kesempatan,
Barangsiapa memelihara nyawanya akan kehilangan nyawanya,
Barangsiapa mau memberi maka ia akan mendapatkan.

Penutup.
Dengan mengucap puji syukur kepada Allah Bapa di Surga karena Tuhan telah menyertai dan sungguh-sungguh Roh Kudus telah turun kepada masing-masing pribadi relawan, Napak Tilas 110 km dapat berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan dan para relawan dijauhkan dari sakit, semuanya tiba di titik Finish dalam keadaan selamat dan sehat.

Terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah terlibat dalam kegiatan ini :
1. Pastor Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD.
2. Pastor Edi Winarto, MSF.
3. Pastor Freddi Parera, SVD.
4. Dewan Paroki YGB.
5. Bapak Uskup Mgr. Aloysius M. Sutrisnaatmaka, MSF.
6. Para Ketua Umat Stasi dan umat stasi.
7. Para Ketua Lingkungan dan umat lingkungan.
8. Instansi Kepolisian terkait Polsek, Polres dan Polda Kalteng.
9. Umat secara langsung terlibat dalam rangkaian perjalanan bersejarah ini.
10. Dll.

Tahun 2003, rencana pemekaran paroki Katedral mulai diwacanakan. Penjajagan, persiapan dilaksanakan dengan membentuk panitia pemekaran paroki. Setelah melewati masa pasang dan surut, akhirnya lahirlah paroki baru pemekaran dari Paroki Katedral “Santa Maria” Palangka Raya pada 15 Agustus 2010. Berdasarkan deklarasi uskup “declaratione parociae novae” tertanggal 15 Agustus 2010, paroki ini dilahirkan dengan nama “PAROKI YESUS GEMBALA BAIK” (Paroki YGB), yang berlokasi di Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Jl. Tjilik Riwut Km. 9 Palangka Raya.
Pada hari lahir paroki, sekaligus dilantik para pengurus Dewan Paroki Yesus Gembala Baik periode 2010 – 2013. Paroki ini lahir tanpa gedung gereja, tanpa rumah pastoran, tanpa sekretariat, tanpa dana, tanpa sarana dan prasarana pastoral.

1. Jumlah Umat

Sesuai dengan lampiran SK uskup nomer SK/USKUP/30.PP/VII/2010, pada saat dilahirkan, paroki ini diserahi umat sejumlah 178 KK dengan rincian jumlah KK di lingkungan pusat paroki tanpa perincian jumlah jiwa di dalamnya.
Jumlah KK di pusat paroki :
a. Lingkungan Markus 27 kk
b. Lingkungan Matius  35 kk
c. Lingkungan Mikael 35 kk
d. Lingkungan Gabriel 45 kk
e. Lingkungan Paulus 36 kk

2. Luas Wilayah

Wilayah paroki Yesus Gembala Baik (lampiran SK uskup nomer SK/USKUP/30.PP/VII/2010) meliputi wilayah Kelurahan Bukit Tunggal, berbatasan dengan Paroki Katedral oleh jalan Tingang, yang juga menjadi batas dengan Kelurahan Palangka. Selain itu, lingkungan Paulus yang tidak dibatasi Jl. Tingang, seluruhnya dimasukkan ke Paroki Yesus Gembala Baik.
Paroki YGB memiliki beberapa Stasi, yang dikelompokkan menjadi tiga blok, yakni:

  1. merangkum umat yang bermukim di kecamatan Kahayan Tengah seperti Bukit Rawi, Petuk Liti, Bukit Liti dan Tahawa, Kabupaten Pulang Pisau
  2. meliputi umat di Tumbang Tarusan, Pandawei, Bawan, Pangi dan Tangkahen, di kecamatan Banama Tingang (Bawan), Kabupaten Pulang Pisau.
  3. meliputi Hanua, Ramang, Lawang Uru, Manen Paduran, Bereng Rambang yang juga termasuk kecamatan Banama Tingang (Bawan), Kabupaten Pulang Pisau.

Dengan demikian, Paroki YGB berpusat di wilayah Kecamatan Jekan Raya, Kota Madya Palangka Raya, sementara itu, semua stasi terletak di Kabupaten Pulang Pisau, tersebar di dua kecamatan, Kecamatan Kahayan Tengah (Bukit Rawi) dan Kecamatan Banama Tingang (Bawan).

Batas-batas singgung dengan paroki lain :
- Barat  : Paroki Kasongan
- Utara : Paroki Kuala Kurun
- Timur : Paroki Kapuas
- Selatan : Paroki Katedral dan Paroki Pulang Pisau

Meskipun paroki ini belum memiliki gedung gereja, namun stasi-stasi sudah memiliki kapela. Ada 5 kapela :
1. Kapela St. Petrus – stasi Petuk Liti
2. Kapela St. Arnoldus Janssen – stasi Hanua-Ramang
3. Kapela St. Maria – Lawang Uru
4. Kapela St. Klemens - Pandawei 
5. Kapela Yohanes Rasul – stasi Tumbang Tarusan

3. Tenaga Pastoral

Dalam pelayanan umat baik sakramental maupun nonsakramental, penggembalaan umat di Paroki YGB pada saat kelahirannya dipercayakan kepada 3 tenaga imam tertahbis yakni:

1. P. Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD selaku Pastor Kepala Paroki
2. P. Frederikus Pareira, wakil ketua umum
3. P. Dominikus Edi Winarto, wakil ketua umum

Tenaga pastoral untuk paroki YGB belum memiliki Rumah Tinggal yang disebut sebagai pastoran. Untuk sementara ini, para pelayan pastoral bertempat tinggal di rumah SVD dengan alamat : SOVERDI PALANGKA WACANA, Jl. Tjilik Riwut Km 5,5 Palangka Raya (depan kantor Walikota Palangka Raya), telp. 3281616, kode pos 73112. Rumah Tinggal sementara ini sekaligus difungsikan sebagai Sekretariat Paroki YGB.

Sebagai tempat merayakan ekaristi rutin, paroki ini juga belum memiliki gedung gereja. Maka tempat perayaan liturgis dipusatkan di Gereja Santo Yosep, jl. Kakatua – Perumnas Palangka Raya, yang nota bene masih berstatus berdiri di wilayah Paroki Katedral – Palangka Raya. Sedangkan untuk perayaan ekaristi harian, paroki ini meminjam kapel rumah retret milik SOVERDI PALANGKA WACANA.

Selain tenaga tertahbis, paroki ini juga diperkaya dengan hadirnya beberapa rumah biara pria dan wanita. Kehadiran biara-biara ini turut mendukung karya pastoral paroki. biara-biara tersebut :
1. Suster KSSY
2. Suster MC
3. Suster SFD
4. Suster SND
5. Suster PI
6. Biara MSF
7. Biara SVD

4. Karya Pastoral

a. Pastoral Teritorial
Karya pastoral paroki baru ini masih di lingkup pastoral teritorial, dengan memperhatikan pelayanan sakramen-sakramen dan nonsakramen. Titik perhatian utama pastoral adalah ‘re-evangelisasi’ umat dengan katekisasi di tingkat lingkungan. Kegiatan pastoral rutin yang terjadi adalah :

  1. Pelayanan sakramen Ekaristi rutin; diselenggarakan di gereja Santo Yosep dan kapela SOVERDI PALANGKA WACANA.  
  2. Kunjungan lingkungan diadakan setiap minggu dengan durasi masing-masing lingkungan dikunjungi setiap 5 minggu sekali.
  3. Kunjungan dan misa di stasi-stasi diadakan setiap Sabtu dan Minggu

b. Pastoral kategorial
Karya pastoral kategorial belum terbentuk secara matang. Namun beberapa embrio telah disiapkan untuk pelayanan berdasarkan kategori seperti : Legio Maria, Orang Muda Katolik, Bina Iman Anak, Lansia, dan WKRI

5. Program Yang Telah Dikerjakan

Banyak hal hendak dikerjakan, namun beberapa bagian penting menjadi perhatian sejak awal berdirinya paroki ini sedang terjadi :

  1. Mendata umat dengan komputerisasi
  2. Re-evangelisasi umat di pusat paroki dan di stasi
  3. Lingkungan di pusat dan biara-biara mengasuh stasi dalam program “orang tua asuh bagi stasi”. 
Program ini dimaksudkan untuk saling membina diri bagi umat, saling meneguhkan, saling menguatkan baik secara rohani maupun secara materi. DARI umat, OLEH umat, dan UNTUK umat. Dari rapat pleno Dewan Paroki terbentuklah orang tua asuh bagi stasi dengan pembagian:
a. Lingkungan Matius menjadi orang tua asuh bagi umat di Tumbang Tarusan dan Pangi;
b. Lingkungan Markus menjadi orang tua asuh bagi umat di Petuk Liti ;
c. Lingkungan Paulus menjadi orang tua asuh bagi umat di Manen Paduran dan Lawang Uru;
d. Lingkungan Mikael menjadi orang tua asuh bagi umat di Hanua dan Ramang;
e. Lingkungan Gabriel menjadi orang tua asuh bagi umat di Pandawei dan Tangkahen.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget