MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Petugas Liturgi"


PETUGAS LITURGI MASA PRAPASKAH, PEKAN SUCI
DAN MINGGU PASKAH


HARI RABU ABU
Rabu, 1 Maret 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahandan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Anna
  2. Lingk. St. Ignatius
  3. Lingk. St. Bernadetha
Organis Bpk. Fidelis Harefa
Lektor I Sdri. Yosefin Situngkir
Lektor II Sdri. Yolanda Putri
Pemazmur Bpk. Marsel Selamat
Komentator Bpk. Gregorius Doni Senun
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh BidangLiturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Frederikus Sukadiman
  2. Bpk. Fidelis Harefa
MINGGU PALMA (I),
Sabtu, 8 April 2017, Gereja St. Yosef
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
WKRI
Organis Bpk. Wilhelmus Y. Ndoa
Lektor I Ibu Adriana Tamo Ina
Lektor II Ibu Rosalia Udes
Pemazmur Ibu Anna Seltina
Komentator WKRI
Petugas Tatib Disampaikan Melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan Melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan Melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh Bidang Liturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Eddy Suharsono
  2. Sdra. Victor Odja
MINGGU PALMA (II),
Minggu, 9 April 2017, GerejaKatedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Sisilia
  2. Lingk. St. Clara
  3. Lingk. St. Laurentius
Organis Sdri. Bertha Rina
Lektor I Sdri. Eleonora Gandesa Putri
Lektor II Sdra. Albeth Eko
Kisah Sengsara
  1. Sdra. Victor Odja
  2. Bpk.Yeremias Ragam
Pemazmur Bpk. F.X. Manesa
Komentator Sdri. Theresia Sinulingga
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu DisiapkanolehBidangLiturgiParoki
Pendamping Koor
  1. Sdra. Victor Odja
  2. Sdri. Bertha Rina
MISA KRISMA
Selasa, 11 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahandan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Yohanes
  2. Lingk. St. Antonius
  3. Lingk. St, Maria
Organis Bpk. Frederikus Sukadiman
Lektor I Ibu Patricia Erosa
Lektor II Sdri. Paulina Ware Dani
Pemazmur Sdri. Sisilia Malau
Komentator Bpk. Yakobus Dapa Toda
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh Bidang Liturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Silvester Adinuhgra
  2. Bpk. Frederikus Sukadiman
KAMIS PUTIH
Kamis, 13 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Petrus
  2. Lingk. St. Theresia
  3. Lingk. St. Yoseph
Organis Bpk. Ino Kondamaru
Lektor I Bpk. Yustinus Hendra
Lektor II Ibu Savera Mongi
Pemazmur Ibu CherlySeke
Duabelas Rasul Akan disampaikan melalui Warta Paroki
Komentator Ibu Anna Menur
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu DisiapkanolehBidangLiturgiParoki
Pendamping Koor
  1. Bpk. MarselSelamat
  2. Bpk. SilvesterAdinuhgra
HARI JUMAT AGUNG
Jumat, 14 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
  1. Lingk. St. Lukas
  2. Lingk. St. FransiskusXaverius
Organis Bpk. Wilhelmus Y Ndoa
Lektor I Ibu Yusti Nainggolan
Lektor II Fortunatus Mangu
Passio
  1. Pastor
  2. Bpk. Marsel Heriteluna
  3. Bpk, Frederikus Sukadiman
Pemazmur Bpk. FransicoSoares
Komentator Ibu Pioni Naviary
Petugas Tatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkanoleh Bidang Liturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. F.X. Manesa
  2. Bpk. Wilhelmus Y Ndoa
MALAM PASKAH - SABTU SUCI (I)
Sabtu, 15 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar OMK St. Ursula
Organis Sdr. Sanjai Sembiring
PujianPaskah Bpk. Yulianus Dani Nahar
Lektor I Ibu Agustiani Evodia
Lektor II Ibu Mariane Tinse
Lektor III Bpk. Benyamin Tunti
Lektor IV Sdri. Kristina Mensi
Pemazmur Sdr. Alalanda Ludus Saingan
Bpk. Stefanus Dh. Mangu
Bpk. Feliks Rodja
Komentator Sdri. Mentari Novia
PetugasTatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh Bidang Liturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Fr. Emil, Pr
  2. Sdr. Sanjai Sembiring
MALAM PASKAH - SABTU SUCI (II)
Sabtu, 15 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
Lingk. St. Arnoldus Janssen
Organis Bpk. Fidelis Harefa
PujianPaskah Bpk. MarselSelamat
Lektor I Ibu Stephani Tri Retnaningsih
Lektor II Sdri. Tiberty P. Dayman
Lektor III Ibu Nurhayati Ginting
Lektor IV Ibu Hertine Nyta Bahan
Pemazmur
  1. Ibu Emanuela Dara
  2. Ibu Ivone Christiana
  3. Ibu Henny Every
Komentator Sdra. Yoseph A.B. Punang
PetugasTatib Disampaikan melalui Warta Paroki
Yang Menerimakan Abu dan Pembagi Komuni Disampaikan melalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu Disiapkan oleh BidangLiturgi Paroki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Stefanus Dh. Mangu
  2. Bpk. Fidelis Harefa
MINGGU PASKAH PAGI
Sabtu, 16 April 2017, Gereja Katedral
Koor, Menyiapkan Persembahan dan Menghias Altar
Anak SEKAMI
Organis Fr. Emil, Pr
Lektor I Sdri. AjengPaskalia
Lektor II Sdra. Gregorius Michael
Pemazmur Ibu Diana Davi
Komentator Sdri. MentariNovia
PetugasTatib Disampaikanmelalui Warta Paroki
PembagiKomuni Disampaikanmelalui Warta Paroki
Misdinar Disampaikan melalui Warta Paroki
Nomor Lagu DisiapkanolehBidangLiturgiParoki
Pendamping Koor
  1. Bpk. Stefanus Dh. Mangu
  2. Bpk. Fidelis Harefa

Untuk Minggu Paskah Sore, Hari Raya Kenaikan, Hari Raya Pentakosta dan Jadwal Untuk Misa Inkulturasi akan diterbitkan kemudian.


Komentator dalam Perayaan Ekaristi bukanlah hal yang baru. Hanya saja, di beberapa tempat di Indonesia tidak diperkenalkan tugas ini sejak awal. Tentang komentator sendiri telah disebutkan dalam Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) 105 b, yang berbunyi sebagai berikut:
Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada
umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik. Petunjuk-petunjuk itu harus disiapkan dengan baik, dirumuskan dengan singkat dan jelas. Dalam menjalankan tugas itu komentator berdiri di depan umat, ditempat yang
kelihatan tetapi tidak di mimbar.
Komentator sangat berbeda dengan pemandu ibadat (caeremoniarius) seperti yang disebutkan dalam PUMR 106. Mengenai pemandu ibadat akan kami bahas pada artikel tersendiri. Sedangkan untuk komentator, dari pengertian di atas, dapat kita sebutkan beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai berikut:

  1. Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, seorang komentator bertugas untuk mengucapkan selamat datang kepada umat yang hadir, mengajak untuk siap masuk dalam suasana perayaan, mengingatkan untuk menghindari segala gangguan yang mungkin terjadi (menonaktifkan handphone, mengingatkan untuk tidak keluar masuk gereja selama perayaan dan hal-hal penting lainnya yang berhubungan dengan tata tertib perayaan.
  2. Menyampaikan tema perayaan agar seluruh umat mengetahui nama perayaan dan tema (misal: Hari Minggu Biasa VIII dengan intensi-intensi misa yang ada, dll)
  3. Memberitahukan kepada umat siapa pemimpin perayaan dan konselebran yang ikut dalam perayaan.
  4. Pada saat pengumpulan persembahan, komentator dapat menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan ketertiban pengedaran kantong persembahan.
  5. Sebelum menyambut komuni, komentator bertugas untuk memberitahukan siapa saja yang diperkenankan untuk menerima komuni. (Komuni tidak diperkenankan untuk diterima oleh mereka yang belum diterima secara resmi ke dalam Gereja Katolik, anak-anak yang belum menerima komuni pertama, umat yang berhalangan menurut aturan dalam Gereja Katolik).
  6. Komentator juga memberitahukan tempat-tempat penyambutan komuni (bila dibantu oleh beberapa pelayan komuni).
Beberapa hal di atas merupakan penjabaran dari tugas komentator yang disesuaikan untuk Gereja Katedral, Paroki St. Maria Palangka Raya.

Seorang komentator tidak menyampaikan informasi di mimbar yang ada di panti imam. Sebaiknya ada mimbar kecil yang khusus, dan tidak berada di panti imam. Tempat duduk komentator adalah di bangku umat paling depan. Komentator tidak menggunakan jubah seperti lektor dan pemazmur. Komentator cukup berpakaian rapi, sopan dan layak untuk sebuah perayaan.

Menjadi Pembaca Kitab Suci dalam Perayaan Ekaristi adalah salah satu tugas pelayanan dalam liturgi. Kata “lektor” berasal dari bahasa Latin lector-oris (kata benda) dan berkaitan dengan kata kerja lectere, lectitere yang merupakan bentukan dari kata kerja legere artinya membaca, membacakan. (AR. Yudono Suwondo, 2010, 8-9) Dalam Ensiklopedia Gereja Katolik III, 1973, kata lektor berisi dua makna:

  • Petugas pria awam yang dilantik secara tetap oleh uskup atau superior untuk memabacakan Kitab Suci (kecuali Injil) dan Mazmur kepada seluruh umat.
  • Warga umat, baik laki-laki maupun perempuan yang ditugasi membacakan Kitab Suci dalam perayaan liturgi (KHK kan. 230, 2). (J. Waskito, 1981, 23).
Menjadi lektor merupakan tugas yang diwakilkan. Maksudnya adalah bahwa lektor merupakan wakil dari seluruh umat untuk membaca Kitab Suci supaya naskah yang dibacakan dapat didengar oleh seluruh umat. Oleh karena itu, yang paling penting diketahui oleh seorang lektor adalah bahwa tugas yang dilaksanakan itu adalah membacakan, bukan sekedar membaca.

Agar seorang lektor dapat menjalankan tugas dengan baik, seorang lektor perlu memperhatikan syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Pertama- tama yang harus dimiliki seorang lektor adalah kemauan, yang meliputi kemauan bertugas, kemauan berlatih terus-menerus, dan ma u terus berkembang dalam iman;
  2. Sesudah memiliki kemauan, ia harus mempunyai kemampuan. Kemampuan yang dituntut seorang ector adalah kemampuan membacakan dan mengerti isi bacaan yang baru saja dibacakan. Setelah mempunyai kemampuan membaca dan mengerti isi bacaan, seorang ector dituntut untuk mengimani apa yang dibacakan;
  3. Selain membacakan untuk orang lain, seorang lector harus terlibat, mendengarkan bacaan itu sehingga ia sungguh- sungguh menjadi pewarta apa yang ia sendiri hayati dan imani;
  4. Selanjutnya, ia harus mempunyai semangat kerja sama di dalam diri lektor. Semangat kerja sama ini sangat penting di dalam Perayaan Ekaristi. Dengan semangat kerja sama ini, diharapkan dimensi kebersamaan, kasatuanm dalam Perayaan Ekaristi. Kerja sama ini dapat terwujud oleh lektor dengan sesama lektor, dengan tim liturgy gereja kampus, dengan pastor yang memimpin, dengan tim liturgy lainnya;
  5. Sebagai petugas atau pelayan umat, seorang lektor harus siap untuk mendapat masukan, kritikan, evaluasi, dan perbaikan- perbaikan yang bersifat membangun, bahkan tanggapan atau komentar yang sinis dari umat lain. Dengan kerendahan hati dan keterbukaan hati untuk mendengar dan memperhatikan masukan yang ada, seorang lektor akan semakin berkembang dan pelayanan gereja akan semakin ditingkatkan sehingga karya keselamatan Allah semakin dapat dirasakan dan dihayati semua umat beriman yang hadir dalam Perayaan Ekaristi yang sedang dirayakan bersama- sama;
  6. Yang terpenting dari semuanya itu adalah bahwa seorang lektor berusaha untuk selalu mencintai Kitab Suci.
Selain syarat-syarat di atas, seorang lektor harus memperhatikan hal-hal teknis dalam membaca Kitab Suci sebagai berikut:

Artikulasi

Membaca lambat adalah syarat mutlak untuk mengucapkan setiap kata dengan baik. Dalam pembicaraan yang cepat, pengucapan kata-kata sering salah dan beberapa kata sama sekali tertelan dan juga beberapa huruf dianaktirikan (hilang diantara huruf-huruf yang lain. Maka demi pengucapan yang baik, lector harus membaca agak lambat. Tetapi kita harus memperhitungkan juga bagaimana kondisi tempat kita berbicara.

Intonasi

Kalau bernyanyi, kita mengucapkan kata-kata dengan memakai suatu lagu. Lagu-lagu itu terdiri dari nada-nada yang dapat ditulis dengan angka. Angka lebih tinggi berarti: nada suara naik, angka lebih rendah berarti: nada suara turun. Menurut Rm.J.Waskito, SJ, yang dikemukakan oleh F.X.Priyanto, nada suara seorang lector ada dua yakni Arsis (kalimat yang tekanan kalimat terakhirnya dinaikan) dan Thesis (kalimat yang tekanan kalimat pada akhir kalimat diturunkan). 

Power dan Pemakaian Mike

Banyak gereja memakai pengeras suara, yaitu suatu pelengkap teknik yang terdiri dari mike (microphone), amplifier, dan loundspeaker, yang bertujuan untuk memperluas jangkauan suara pemimpin ibadat atau lektor. Seorang lektor harus tahu bagaimana pengeras suara dapat dimanfaatkan dengan baik. Banyak pengeras suara tidak memenuhi syarat, kadang- kadang lebih menggagu
daripada menolong, karena peralatannya kurang sesuai untuk ruang doa itu, atau karena salah pasang, atau karena alat-alat yang dipakai kurang bermutu. Maka seorang perlu memperhatikan beberapa hal berikut.
  • Apakah volume pengeras sura sesuai dengan suara anda? Mungkin pastor yang sedang sedang memimpin Perayaan Ekaristi kebetulan mempunyai suara yang lemah. Kalau demikian, mungkin sekali pengeras suara di gereja kampus disetel terlalu keras untuk suara anda. Padahal tidak mungkin mengubah volume pengeras suara setiap kali seorang lektor lain tampil ke mimbar.
  • Menentukan jarak Tetapi anda sendiri mengatur volume dengan mengambil posisi lebih dekat atau lebih jauh dari mike. Semakin jauh dari mike, semakin lemah suara pengeras dan sebaliknya. Kalau jarak anda dengan mike sudah tepat, jangan maju mundur lagi, tetapi pertahankan jarak yang sama, supaya suara yang keluar dari pengeras jagan pasang surut terus. 
  • Pengeras suara bukan siaran radio Secara teknis mungkin saja seorang lektor berbicara dengan suara lemah, seperti orang yang duduk-duduk di angkringan sambil minum teh. Asal dekat sekali dengan mike, suara lemah dapat menjadi cukup besar untuk didengar melalui pengeras. Cara bicara yang demikian adalah cocok intuk digunakan di depan mike di studio radio atau di TV.
Lektor sendiri hampir tidak dapat menentukan apakah akibat suara pemakaian olehnya. Maka itu membutuhkan koreksi dan petunjuk dari orang lain. Maka, lebih-lebih berhubungan dengan penakaian mike, berlakulah nasehat: jagan ragu-ragu minta kritik dari pendengar. 

Pause/Jeda

Unsur ini diperlukan untuk meresapkan pesan dari Kitab Suci bagi umat, juga untuk mengganti suasana. Pembacaan yang terlalu cepat dapat menimbulkan suasana tidak nyaman bagi pendengar. Oleh karena itu, agar pause/jeda dapat dimanfaatkan dengan baik, seorang lektor sangat tepat bila melakukan kontak dengan pendengar saat pause/jeda tersebut. Namun, dalam melakukan kontak, perhatikan teknik yang tepat untuk digunakan untuk menandai akhir dari bacaan yang baru dilalui. Sering terjadi, karena melakukan kontak dengan melihat pendengar pada saat jeda, seorang lektor kehilangan jejak bacaan sehingga membutuhkan waktu untuk mencari lagi untuk melanjutkan pembacaan.

Prasering

Frasering adalah pengelompokkan kata tetapi belum menjadi kalimat. Pada Buku Bacaan yang disediakan oleh Gereja, yakni Buku Lectionarium yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, pengelompokan kata sudah sangat jelas diatur dengan membuatnya dalam bentuk baris per baris. Namun, bila seorang lektor menggunakan Alkitab atau naskah lainnya, prasering ini harus lebih diperhatikan.

Penjiwaan

Penjiwaan itu mantab bila kelima kriteria di atas itu terpenuhi. Bila satu di antara lima kriteria di atas tidak tepenuhi, maka penjiwaan menjadi “kering”.

Agar tugas menjadi lektor dapat terlaksana dengan baik, seorang lektor harus mempersiapkan diri dengan melakukan latihan, dan lebih baik lagi bila melibatkan orang lain sebagai pendengar. Latihan seperti ini bertujuan agar sebelum menjalankan tugas, seorang lektor dapat menerima masukan dari orang lain.
=========

Sumber lengkap, dapat di download di sini.

Bahan Bacaan:

  1. AR. Yudono Suwondo, Pr dan Sudartomo Macaryus, Lektor, Jogjakarta: Kanisius, 2010
  2. J. Waskito, Menjadi Lektor, Yogyakarta: Kanisius, 1981.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget