KONGREGASI  KYM MENGELOLA PENDIDIKAN DI KOMPLEK CHRISTIAN CENTER, PURUK CAHU

KYM Berbagi Kasih dengan Masyarakat Murung Raya

Pada tgl 16 Januari 2014, Pk. 07. 00 WIB, Pimpinan Umum KYM, Sr. Aloysia Manihuruk dan Kepala bidang Pendidikan dalam Kongregasi KYM, Sr. Monika Urbana Siarait meluncur dengan mobil strada milik Bpk. Yulianus menuju ke Puruk Cahu. Kebetulan Bpk Yulianus mau pulang ke Puruk Cahu setelah mengunjungi keluarga di Palangkaraya, sekalian mengantar para suster yang belum pernah ke Puruk Cahu.
Dewan Keuskupan, diwakili oleh Pastor Sekretaris (Rm. I Ketut Adi Hardana, MSF) Ikut mengantar rombonngan sekaligus mewakili Bapa Uskup dalam pembicaraan dengan Yayasan Filia Gracia dan bertindak sebagai saksi dalam penandatanganan kerjasama (MoU) antara Yayasan Filia Gracia dengan Kongregasi KYM. Sementara 2 org Sr yang akan mulai bertugas di Puruk Cahu (Sr Elizabeth dan Sr Apolonia) berangkat ke Puruk Cahu pada hari yang sama dengan menggunakan tarvel karena mobil strada Bpk Yulianus hanya bisa membawa 3 org penumpang. Kedua rombongan tiba di Puruk Cahu hampir bersamaan, selisih 1, 5 jam. Rombongan dengan mobil strada tiba pada Pk. 16. 30 WIB; sementara rombongan dengan travel tiba pada Pk. 18. 00 WIB. Setelah dijamu oleh keluarga Bpk Yulianus, para Sr KYM bersama dengan Pastor Sekretaris dan Bpk. Yulianus menghadari pertemuan di Christian Center untuk merevisi draft MoU berkaitan dengan beberapa poin yang masih dirasa perlu mendapatkan penjelasan dari kedua belah pihak. Pertemuan revisi berakhir pada Pk. 23. 00 WIB.

Pada tgl 17 Januari 2014, terjadi peristiwa berserjarah di Puruk Cahu berkaitan dengan ditandanganinya kerjasama (MoU) dalam pengelolaan pendidikan antara Yayasan Filia Gracia dengan Kongregasi Sr KYM. Acara dihadiri oleh Bupati Murung Raya, Kepala Kejaksaan Negeri, Perwira Penghubung (Pabung) Kodim Muara Teweh, beberapa Kepala Dinas, Para anggota DPRD Puruk Cahu, Para Pendeta, Pastor Rekan paroki Puruk Cahu (P. Danang), wartawan dan tamu undangan lainnya. Acara diawali dengan ibadat oekumene di gereja dalam komplek Christian Center. Ibadat dan renungan dibawakan oleh Pendeta Edy Liverda, M.Si.Teol (Pendeta yang bertugas dalam kompleks Christian Center); doa safaat dibawakan oleh Sr Urbana, KYM.

Seusai Ibadat, acara dilanjutkan dengan sambuatan-sambutan yang disampaikan oleh Ketua yayasan Filia Gracia, Bpk. Guntur Dulin yang menyampaikan informasi perihal alasan pendirian Christian Center beserta kehadiran Yayasan Filia Gracia untuk mengelola pendidikan. Disadari, karena keterbatasan tenaga serta kurangnya pengalaman dalam hal mengelola pendidikan, mereka merasa tidak mampu; dan karena itu, kehadiran para Sr KYM yang bersedia mengulurkan tangan untuk mengelola pendidikan dirasakan sebagai solusi terbaik sehingga ke depan pendidikan di kompleks Christian Center akan berjalan lebih baik.

Sementara itu, pimpinan umum kongregasi Sr KYM, Sr. Aloysia Manuhuruk menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan yang diberikan oleh Pemda Murung Raya dan Yayasan Filia Gracia untuk mengelola pendidikan didalam kompleks Christian Center. Lebih jauh disampaikan bahwa para Sr KYM datang ke Puruk Cahu bukan karena mereka kekurangan pekerjaan di Siantar atau kelebihan tenanaga sehingga ada anggota yang menganggur; sebaliknya, mereka pun masih mengalami kekurangan tenaga, tetapi karena ada panggilan dari Tuhan serta kerinduan untuk berbagi, mereka menyediakan tenaga, diri dan waktu untuk membantu, agar mutu pendidikan di Kab. Murung Raya dapat berkembang lebih baik ke masa depan.

Bupati Murung Raya, Drs Perdie Yoseph, MA dalam sambutannya menyampaikan ucapan terimakasih kepada para Sr KYM yang jauh-jauh mau datang ke Puruk Cahu untuk membantu pengelolaan pendidikan. Lebih jauh disampaikan bahwa kompleks Christian Center, demikian juga rumah yang ditempati para Suster pasti masih jauh dari ideal yang diharapkan. Karena itu, secara perlahan akan dilakukan penataan di seluruh komnplek agar mendukung suasana belajar dan mengajar serta kegiatan lainnya di dalam komplek Christain Center.

Setelah acara sambutan selesai dilakukan acara penandatanganan kerjasama (MoU) antara Yayasan Filia Gracia dengan Kongregasi Sr KYM. Pendantanganan dilakukan oleh Ketua Yayasan Filia Gracia, Bpk. Guntur Dulin, SE dan Pimpinan Umum Kongregasi Sr KYM, Sr. Aloysia Mnuhuruk; dengan sejumlah saksi, antara lain Rm I Ketut Adi Hardana, MSF (Keuskupan) Sr. Urbana Sirait, KYM  (Kongregasi KYM), Pdt. Herry (Ketua Majelis Resort GKE Puruk Cahu) dan Pdt. Edy Liverda (Yayasan Filia Gracia). Setelah acara pendantanganan selesai dilanjutkan dengan acara foto bersama dan makan siang di kompleks Christian Center.

Rangkaian acara diakhiri dengan kunjungan Bupati dan rombongan ke rumah tinggal (sementara) para Sr KYM yang dirancang untuk rumah dinas para Guru yang mengajar di kompleks Christian Center. Karena kegiatan belajar mengajar belum penuh, sehingga kebutuhan akan Guru juga belum banyak, maka rumah tersebut belum terpakai. Untuk sementara para Sr KYM yang bertugas di sana dapat menggunakan rumah Guru tersebut sampai nanti dibangunkan rumah biara permanen untuk mereka.

Memang harus diakui bahwa rumah masih kosong, belum ada perabot dan perlatan rumah tanggga, termasuk dapur. Karena itu ke depan, sesuai dengan arahan Bupati, rumah tinggal para Sr akan segera dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan. Bapak Yulianus ditugaskan oleh Bupati untuk mendata keperluan para Suster dan melaporkannya kepada Bupati untuk selanjutnya akan dibelikan dengan dana bantuan pribadi. Para Sr akan menggunakan dua rumah: 1 rumah untuk tempat tinggal, dan 1 rumah untuk Kapel dan kamar tamu. Kendaraan berupa motor sudah langsung disediakan oleh Bupati dan sudah langsung dipakai oleh para Suster.

Untuk sementara 2 org Sr KYM (Sr. Elisabeth dan Sr. Apolonia) akan bertugas dalam pengelolaan sekolah (PAUD-SMA) dan asrama sambil menunggu kedatangan 2 org Sr KYM pada bulan Juni/Juli yang akan datang. Direncakan ke depan bahwa semua anak-anak yang sekolah di Kompleks Christian Center (SMP-SMA) akan diasramakan. Asrama untuk mereka sudah siap, baik untuk putra maupun putri; demikian juga sekolah. Sebagai catatan bahwa Christian Center sudah mengawali tahun ajaran sekolah 2013/2014 dengan membuka sekolah SMP dengan 3 org siswa dan SMA dengan 9 org siswa; dengan jumlah guru seluruhnya 9 org; sementara PAUD, TK dan SD belum dibuka. Dalam tahun ajaran baru 2014/2015 seluruh jenjang tersebut akan dibuka.

Sesuai dengan kesepakatan MoU yang ditandatangani, Sr KYM diberi kepercayaan penuh oleh pihak Yayasan Filia Gracia untuk mengelola (management) sekolah dan asrama tanpa intervensi dari pihak Yayasan Filia Gracia maupun pemerintah daerah. Pihak Yayasan akan bertanggungjawab dalam pengadaan dana serta perlengkapan lainnya untuk menunjang kelancaran proses belajar dan mengajar serta perekrutan tenaga pengajar dalam kerjasama dengan pihak pengelola (Sr. KYM).

Respon Positif Masyarakat

Informasi yang diperoleh dari umat dan masyarakat setempat, menunjukkan bahwa animo masyarakat terhadap kehadiran pihak Katolik (Sr. KYM) selaku pengelola sekolah dan asrama mendapat respon yang sangat positif dari kalangan masyarakat. Banyak orangtua yang selama ini ingin memasukkan anak-anak mereka ke sekolah dalam kompleks Christian Center akhirnya mengurungkan niat karena sistem pengelolaannya dinilai belum memadai; bahkan ada sejumlah orangtua yang sudah memasukkan anaknya, ingin menarik untuk di sekolahkan ke tempat lain.

Dengan kehadiran para Sr KYM yang sudah berpengalaman dalam hal pengelolaan sekolah dan asrama seperti yang mereka lakukan di Pematang Siantar kiranya dapat memberikan harapan serta optimisme baru bagi maju dan berkembangnya pendidikan di daerah Murung Raya. Inilah salah satu sumbangan Gereja dalam upaya ikut serta membangun masyarakat melalui pelayanan pendidikan. Lewat pendidikan Gereja ikutserta berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang siap bersaing dalam percaturan dunia, baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Sejarah telah mencatat bahwa sejak semula Gereja telah berperan secara aktif dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, baik melalui karya pendidikan, kesehatan maupun karya sosial ekonomi yang pada intinya bermuara kepada peningkatan kualitas hidup manusia dan pada pengejawantahan kehadiran Kerajaan Allah secara nyata di tengah-tengah umat.  

Pola Pendidikan yang membebaskan

Dalam kaitan dengan pendantanganan kerjasama dalam bidang pendidikan, kotbah yang disampaikan oleh Pdt. Edy Liverda juga dikaitkan dengan dunia pendidikan dengan mengemukakan visi dan misi Pemda Murung Raya: Murung Raya bebas dari 3 K: Kemiskinan, Kebodohan dan Keterbelakangan. Khususnya, berkaitan dengan pemberantasan kebodohan, dikutip seorang tokoh pendidikan dunia, yakni Paulo Preire yang sangat terkenal dengan moto pendidikannya: pendidikan yang membebaskan.

Pendidikan pada prinsipnya harus bersifat membebaskan, yakni membebaskan orang dari kebodohan, dari ketidaktahuan dan dari berbagai macam belenggu-belenggu lainnya yang bersifat “memperbudak” manusia. Karena itu, pola pendidikan yang dianut di Indonesia yang masih kuat mengedepankan pola “bank box”, dimana siswa dijejali dengan segudang ilmu pengetahuan oleh para Guru dan pada saat ujian para siswa diharuskan mampu mengeluarkan dari “bank box” pengetahuan yang sudah diberikan oleh para Guru agar dapat lulus. Dengan pola semacam itu anak-anak didik diperlakukan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa dan yang belum memiliki apa-apa, maka perlu “diisi, dijejali” dengan pelbagai macam ilmu supaya “bank box” itu penuh dan setiap saat bisa “ditarik” atau diambil bilamana diperlukan.  

Pola pendidikan semacam ini dinilai belum merupakan pola pendidikan yang sifatnya membebaskan; sebaliknya, justru bersifat memperbudak. Kreativitas dan kebebasan anak “dipasung” oleh keharusan untuk menguasai materi yang diberikan oleh para Guru tanpa diberi kesempatan untuk “meng-eksplorasi” dunia serta alam sekitar yang menjadi meliu penopang perkembangan anak didik. Prestasi anak didik “dimiskinkan” dengan keharusan serta kewajiban untuk menguasai materi - yang sinonim dengan menghafal - materi yang diberikan oleh para Guru tanpa pernah menyadari mengapa harus menghafalkan semuanya itu dan tidak didorong untuk mengembangkan sendiri gagasan atau ide pararel yang disampaikan oleh sang Guru.
Dengan pola pendidikan semacam ini, anak didik bersifat pasif, sebatas menerima apa yang diberikan oleh sang Guru. Kepintarannya dinilai sejauh mampu menguasai bahan yang diberikan oleh Guru dan harus mampu menjawab persis seperti yang dikehendaki oleh Guru; bila berbeda dalam menjelaskan meski arahnya menjawab persoalan yang dimaksud, maka anak didik akan dinilai sebagai  tidak menguasai bahan dan karena itu dinilai tidak pintar. Oleh karena itu, diharapkan sistim pendidikan yang akan dikembangkan di kompleks Christian Center dengan berbasis pengembangan kompetensi anak didik, dibawah pengelolaan para Sr KYM akan menjadi sebuah pola pendidikan alternatif yang bersifat membebaskan.

Pembebasan yang dimaksudkan di sini tidak hanya dalam pengertian pembebasan dari kebodohan intelektual, tapi juga pembebasan dari “kebodohan” spiritual, emosional dan sosial. Dengan demikian, dapat diharapkan akan terjadi sebuah pendidikan yang bersifat holistik, yang menyentuh dan “mengasah” ke-4 komponen dasar kecerdasan hidup manusia: spiritual, emosional, intelektual dan sosial. Bila pola pendidikan ini dapat berjalan di Christian Center, tentu kita berharap akan keluar output atau lulusan yang tidak hanya pintar secara intelektual, tapi juga cerdas secara spiritual, emosional dan sosial. Inilah bentuk sumbangan yang dapat kita harapkan akan muncul dari “kawah” Christian Center, Puruk Cahu. Inilah harapan yang kita gantungkan pada ”kawah” Chritian Center sebagai tempat penggemblengan bagi generasi masa depan bangsan dan Gereja.      

Tentu saja harus diakui bahwa karya yang baru dirintis oleh para Sr KYM masih perlu “ditata” dari segala sisi, baik dari sisi perekrutan tenaga pendidik, penyusunan program, perlengkapan sarana dan prasarana belajar dan penataan asrama. Adalah suatu idealisme yang ingin diwujudkan bahwa jika ingin memproleh output yang baik, maka sistem pendidikan 24 jam kiranya adalah sistem yang menjanjikan. Melalui metode pendidikan ini, yang biasa disebut pendidikan dengan pola asrama, anak-anak mendapatkan pendampingan dan pengawasan selama 24 jam dari para pendidik.

Lebih dari itu, anak-anak didik tidak hanya diberikan skill untuk “mengolah” otak (intelectual eksplore) lewat pelajaran-pelajaran formal yang diberikan oleh para Pendidik di sekolah, tetapi juga dilatih skill dalam hal pengolahan emosi (emotional menagement), pengolahan dan pematangan nilai-nilai religius (religious values) untuk nantinya diwujud nyatakan dalam kecerdasan sosial (social quotient); dengan demikian anak didik tidak hanya berkembang dalam hal kecerdasan intelektual, tapi juga dan lebih-lebih berkembang dalam hal kecerdasan emosional, dalam kemampuan mengontrol diri dan emosi; kecerdasan spiritual-semakin menjadi insan yang beriman dan bertaqwa; kecerdasan sosial yang mewujud dalam sikap berempati dan bersimpati kepada pihak lain, dalam sikap toleransi dengan kesediaan untuk menerima dan menghargai setiap perbedaan yang ada sebagai suatu keniscayaan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Harus diakui seperti dikeluhkan banyak orang, bahwa sistem pendidik di Indonesia hanya berhasil membantu mengembangkan kecerdasan intelektual para anak didik, tetapi gagal dalam mencerdaskan ke-3 unsur kecerdasan lainnya yang diperlukan oleh manusia bila ingin berkembang sebagai pribadi yang utuh. Tidak mengherankan, dari output semacam itu kita menjumpai banyak orang yang pintar (intelektual), tetapi miskin dalam sisi emosi, spiritual dan sosial, akibatnya kehadiran orang-orang semacam ini bukannya menjadi bagian dari pemecahan masalah, tetapi sebaliknya menjadi pembawa masalah.

Banyak kita jumpai orang pintar, tetapi asosial, tidak memiliki empati dan simpati terhadap orang lain. Segala sesuatu diukur dari kepentingan dirinya sendiri, tanpa pernah memikirkan kepentingan pihak lain. Maraknya kasus korupsi serta intoleransi yang semakin menguat dalam hidup bermasyarakat adalah sejumlah hal yang dapat dikatakan sebagai “buah-buah” dari pendidikan yang tidak seimbang itu.

Karena itu, kehadiran para Sr KYM dengan mengusung pola pendidikan berbasis asrama, dengan tekanan pada ke 4 sisi pembentukan manusia yang utuh diharapkan dapat membawa perubahan dan membawa hasil yang baik bagi kemajuan dunia pendidikan, khususnya di Murung Raya. Dari sistem pendidikan ini, kreativitas akan muncul dari tengah-tengah anak didik karena mereka diberi kesempatan untuk mengeksplorasi bakat-bakat atau talenta yang dimilikinya untuk diperkembangkan. Pendampingan yang intensif dari pendamping diharapkan mampu membaca “kekayaan” yang dimiliki dari masing-masing anak didik dan pada gilirannya mampu mengarahkan serta mendorong pengembangannya.

Dengan demikian ”bibit-bibit” yang dimiliki oleh setiap anak didik dapat berkembang dengan subur, tidak hanya bibit intelektual, tetapi juga bibit lainnya: kesenian (tari-tarian, olah vocal, paduan suara), olah raga dan perkebunan. Tentu saja dari pedampingan yang dilakukan oleh para suster diharapkan akan memunculkan ‘benih-benih’ panggilan untuk  menjadi  Suster diantara para siswi-siswi, dengan demikian akan semakin banyak tenaga-tenaga “pendidik” yang tersedia untuk mendampingi generasi muda memepersiapkan diri menyongsong masa depan dengan penuh harapan. Dengan kata lain, kehadiran para Suster KYM selain mengemban misi pendidikan, juga ikut “menebarkan” jala bagi penjaringan manusia-manusia zaman ini lewat sentuhan kasih serta perhatian yang diberikan kepada anak didik serta masyarakat Murung Raya. ** Rm. I Ketut Adi Hardana, MSF