MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Sosbud"

Brigita Mika
Negara Indonesia terkenal dengan keanekaragamannya. Keanekaragaman ini terdiri dari berbagai macam suku, budaya, ras, bahasa dan sebagainya. Dari keanekaragaman ini, yang dapat dilihat dengan jelas adalah setiap suku memiliki berbagai macam tradisi dan budaya yang berbeda. Setiap suku memiliki budaya yang unik dan tentunya memiliki kelebihan dan keunggulannya masing-masing.

Pada zaman modern ini begitu banyak hal-hal baru yang kini hadir dan berkembang di negara Indonesia hingga kini mempengaruhi pola hidup masyarakat. Dalam perkembangan ini, keunggulan budaya sendiri pun secara perlahan ditinggalkan. Contoh nyata yang dapat kita lihat semakin tenggelamnya tarian tradisional.

Hal yang menjadi trend modis, yang sedang terjadi di masyarakat adalah banyaknya kaum muda lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat modern. Budaya asli kini dianggap sebagai masa lalu belaka yang tenggelam dimakan waktu. Bagi kaum muda, mengikuti hal-hal yang bersifat tradisional dianggap sebagai orang yang “jadul” dan “tidak gaul.” Maka, tidak mengherankan,  yang tampak dalam masyarakat sekarang adalah banyak orang yang bergaya dengan mengikuti gaya-gaya orang luar negeri.

Perkembangan mengikuti zaman memang hal yang baik karena dengan perkembangan tersebut tentunya memberi hal-hal yang baru di dalam masyarakat. Namun, perlu diingat, sebagai bangsa Indonesia, kita perlu mencintai tanah air dengan mencintai budaya kita sendiri dan mampu mengembangkannya. Dengan kecintaan kita terhadap budaya, kita membuktikan bahwa kita mencintai bangsa Indonesia.

Menanamkan nilai-nilai budaya bagi setiap individu sangatlah perlu sebagai bentuk pelestarian budaya. Tugas kita sebagai generasi penerus hendaknya melestarikan budaya dan bukan sebaliknya. Budaya sendiri merupakan bagian dari hidup kita, kita juga hidup dari dan dalam budaya. Budaya merupakan salah satu kekayaan yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia.

Nilai budaya adalah nilai yang tidak dapat dibeli dan tentu tidak akan pernah habis. Akan tetapi, nilai ini bisa saja semakin lama dapat hilang ditelan waktu karena perkembangan zaman. Maka, agar nilai budaya ini tidak hilang, perlu ditanamkan bagi setiap masyarakat, khususnya kaum muda juga anak-anak untuk melestarikan budaya. Pelestarian budaya dapat dilakukan di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.

Manusia dan budaya adalah satu-kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena budaya itu sendiri lahir dari manusia dan manusia juga hidup dari sebuah budaya. Hanya manusia yang mampu mengembangkan budaya dan tanpa budaya manusia tidak dapat hidup. Oleh karena itu, mengikuti perkembangan zaman bukan berarti kita meninggalkan budaya kita.

Kita bisa menjaga tradisi dengan tetap mengikuti perkembangan zaman. Misalnya dengan mengkolaborasikan atau menginkulturasi unsur tradisional ke dalam unsur modern. Seperti sebuah tarian tradisional dapat dibuat konsep yang menyeimbangkan dengan kebiasaan yang lebih modern. Dengan demikian, antara tradisioal dan modern tetap memiliki kedudukan yang sama di tengah masyarakat kita. **(Brigita Mika: Mahasiswi STIPAS Palangka Raya)

Logiskah bila kebakaran hutan dihubungkan dengan masa depan generasi kita? Sebenarnya, keadaan saat ini patut kita syukuri karena kita tidak berkekurangan. Keinginan manusia untuk memiliki harta berlimpah cenderung menjadikan adanya korban. Manusia cenderung ingin menimbun harta selama berada di dunia ini, meskipun dia ketahui bahwa tidak akan dibawa pergi ketika ajalnya telah tiba.

Ketika kita dilahirkan, kita menginjakkan kaki di bumi ini sebagai tempat kita mencari nafkah. Alam telah menyediakan untuk kita. Demikian anak dan cucu kita kelak, mereka dilahirkan dan menginjakkan kaki di bumi yang sama dengan kita sekarang ini. Lalu, apa yang disediakan untuk mereka kelak, bila saat ini telah kita musnahkan?

Seruan kesadaran telah digaungkan dengan berbagai cara. Namun keserakahan manusia ternyata tidak sanggup dibendung. Bencana demi bencana pun terjadi di negeri ini. Ketika bencana terjadi, semua menyalahkan Tuhan. Tapi ketika keadaan aman-aman saja, tidak pernah sadar bahwa masing-masing punya andil dalam mengundang bencana. Lalu, dengan cara apalagi yang harus dipakai untuk membangun komitmen bersama dan kesadaran dalam memberantas mafia-mafia keserakahan di muka bumi ini?


Gerakan-gerakan untuk mepertahankan kelestarian lingkungan telah diupayakan oleh berbagai pihak. Gereja Katolik Indonesia, secara khusus telah mengemas "pembangunan kesadaran masyarakat" terhadap pentingnya memelihara lingkungan melalui seruan pastoral dan topik-topik pendalaman iman. Namun, bila kita lihat hasilnya, terasa tidak ada tindak-lanjut yang signifikan dari gerakan-gerakan kita.


Hutan kita semakin hari semakin rusak oleh kepentingan golongan tertentu. Masyarakat kita menjadi pengungsi di negeri sendiri, menjadi buruh di daerah sendiri bahkan terlantar karena tidak memiliki tetmpat untuk membangun rumah tempat kediaman. Hal ini merupakan pernik-pernik refleksi untuk menemukan solusi demi kehidupan generasi kita berikutnya. Pasti ada yang salah dalam tindakan kita saat ini. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan, tapi mari bersama-sama mengurai benang kusut yang menjadi lingkaran setan dalam pengrusakan lingkungan yang sudah terjadi dan masih terus terjadi hingga saat ini. **Fidel Harefa.


MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget