MEDIA KAIROS

Didedikasikan Untuk Karya Kerasulan Awam Katolik Provinsi Kalimantan Tengah

Articles by "Suara Gembala"

Dokumen Foto dari penakatolik.com

DEPARTEMEN DOKUMENTASI DAN PENERANGAN KWI
Jl. Cut Meutia 10, Jakarta 10340; Tlp/Faks. (021) 325757
 
No : 01/DOKPEN/05/2002
Hal: Memakai nama "Katolik"
 
MEMAKAI NAMA "KATOLIK"
1. Pantas disyukuri bersama, bahwa akhir-akhir ini semakin nampak adanya orang-orang katolik yang tergerak oleh ajaran-ajaran Gereja Katolik.
2. Lebih dari pada itu, tidak hanya sendiri-sendiri sebagai individu, tetapi juga secara bersama-sama mereka melandaskan kegiatannya ituberdasarkan ajaran Gereja yang mutakhir, termasuk ajaran-ajaran sosial Gereja. Dengan demikian, hal itu dapat dipandang sebagai perwujudan cita-cita Gereja yang percaya bahwa Gereja mendapat tugas  untuk melaksanakan nilai-nilai luhur bagi keselamatan manusia. 
3. Khususnya di Indonesia, Konferensi Waligereja  Indonesia sangat mendukung inisitatif kaum awam tersebut. Hal itu tentu merupakan ambil bagian mereka dalam usaha mengatasi permasalahan bangsa berdasarkan nilai-nilai dan ajaran Gereja. Kerjasama melalui berbagai cara memang menjadi harapan orang-orang beriman di negeri yang sedang menanggung berbagai macam krisis ini.
4. Tetapi, mendasarkan kegiatan bersama  berdasarkan ajaran Gereja Katolik tidak serta merta membuat orang-orang katolik tersebut begitu saja dapat memakai nama "katolik" bagi kebersamaannya itu.
5. Selama ini nama "katolik" telah menjadi nama diri sebuah komunitas beragama yang kehadirannya meliputi hampir seluruh dunia. Maka membuat nama itu menjadi nama diri sebuah kebersamaan, entah itu paguyuban atau organisasi atau partai di sebuah tempat tertentu adalah sebuah tindakan yang mengena pada nama diri Gereja Katolik, yang pada hakekat dan
kenyataannya  adalah sebuah komunitas keagamaan dan bersifat universal.
6. Berhubung nama "katolik" itu selama ini telah menjadi nama diri Gereja Katolik Roma, maka nama tersebut tidak hanya menyangkut Gereja Katolik yang ada di sebuah wilayah tertentu saja. Karena itu, penggunaan nama tersebut diatur oleh Hukum Gereja.
7. Menurut Hukum Gereja yang berlaku sejak tahun 1983, pada pokoknya, penggunaan nama itu hanya boleh dilakukan dengan persetujuan otoritas gerejawi yang berwenang seperti dinyatakan pada kedua pasal ini:
Kanon 300:Janganlah satu perserikatan pun memakai nama "katolik" tanpa persetujuan otoritas gerejawi yang berwenang, menurut norma kanon 312. Kanon 312:# 1 Otoritas yang berwenang untuk mendirikan perserikatan-perserikatan publik ialah:1. Tahta Suci untuk perserikatan-perserikatan universal dan internasional.2. Konferensi Waligereja di wilayah masing-masing, untuk perserikatan nasional, yakni yang berdasarkan pendiriannya diperuntukkan bagi kegiatan yang meliputi seluruh negara.3. Uskup diosesan di wilayah masing-masing, tetapi Administrator diosesan tidak, untuk perserikatan-perserikatan diosesan, terkecuali perserikatan-perserikatan yang pendiriannya menurut priviligi apostolic direservasi bagi orang lain. # 2 Untuk mendirikan dengan sah perserikatan atau seksi perserikatan di keuskupan, meskipun berdasarkan previligi apostolik, dituntut persetujuan tertulis Uskup diosesan; tetapi persetujuan yang diberikan untuk mendirikan rumah tarekat religius berlaku juga untuk mendirika perserikatan yang khas untuk tarekat itu di rumah itu atau di gerejanya.
 
8. Jadi, sehubungan dengan penggunaan nama "katolik" diperlukan dua hal yang hakiki, yaitu persetujuan dari otoritas gerejawi yang berwenang (Kanon 300) dan persetujuan itu tertulis (Kanon 312).
 
9. Selama ini,  para Waligereja yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tidak pernah  menyatakan persetujuannya kepada siapa pun juga yang berkehendak untuk memakai nama "katolik" pada organisasi, paguyuban, perserikatan, partai  dan sebagainya,  yang sedang dibentuknya.
 
Hendaknya yang bersangkutan dan berkepentingan maklum adanya.
Jakarta, 26 April 2002.
 
 
Dikutip dan diperbanyak untuk kalangan sendiri oleh Keuskupan Palangka Raya, 16 Mei 2005
+ Mgr. A.M.Sutrisnaatmaka MSF.

Paroki pemekaran yang menjadi paroki kedua di ibu kota propinsi Kalimantan Tengah ini mendapat nama pelindung Yesus Gembala Baik (YGB). Tak terasa, paroki ini sudah menginjak usianya pada tahun kelima, sehingga diadakankah Perayaan Lustrum Perdana (I). Tepat pada tgl, 15 Agustus 2010, Dewan Paroki yang pertama diantik di Paroki Katedral sebagai tanda resmi dimulainya pemekaran paroki YGB. Seluruh umat bersyukur atas perkembangan yang terjadi dalam Gereja lokal Keuskupan Palangka Raya pada umumnya dan secara khusus umat di kota Palangka Raya.

Memang kadang bisa disalah-mengerti bahwa pemekaran diartikan sama dengan pemisahan. Itulah yang ditangkap beberapa umat ketika dalam khotbah HUT Paroki Katedral yang ke-40, saya menyampaikan gagasan perlunya pemekaran paroki di kota Tambun Bungai ini. Ketika itu saya melemparkan gagasan untuk memekarkan katedral menjadi dua paroki, sehingga di Palangka Raya, ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah ini ada dua paroki. Sebagai langkah awal, dibentuk tim dan diadakan macam-macam pembicaraan. Wacana demi wacana pembagian wilayah dua paroki dipaparkan dan mendapatkan macam-macam tanggapan. Sesudah dipertimbangkan macam-macam seginya, maka dimantapkanlah pembagian wilayah yang sampaikan sekarang berlaku untuk kedua paroki kota ini.

Jauh sebelum pembagian itu ditetapkan, Panitia sudah mencari lokasi  untuk mendirikan gereja, pastoran dan bangunan-bangunan lain yang diperlukan. Beberapa lokasi dijajaki. Persyaratan yang diajukan antara lain: lokasinya harus strategis, di pinggir jalan yang mudah dijangkau oleh kendaraan umum, luas tanah sekitar 2 Ha, dan untuk pembangunannya tak terlalu mahal, misalnya karena tanah rendah, rawa-rawa, sehingga perlu tanah timbunan banyak. Setelah mempertimbangkan beberapa kemungkinan, akhirnya didapatlah tanah yang berada di Jl. Tjilik Riwut Km 9. Pembelian dilaksanakan dengan saksama didampingi  oleh notaris. 

Setelah dibeli secara sah dan resmi dengan sertifikat yang sudah diselidiki di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) semua beres, ternyata masih bisa timbul masalah. Ada pihak yang menuntut sejumlah uang  karena merasa juga memiliki tanah tersebut. Bahkan pihak-pihak itu pernah mengirim somasi kepada uskup sampai tiga kali, ditembuskan ke pelbagai pihak sampai tingkat nasional, seperti Menteri Agama, Dirjen Bimas Katolik, juga Gubernur, Walikota, dll. Setelah mengadakan pertemuan para tokoh umat dan staf  BPN serta  pihak-pihak yang mengerti soal hukum pertanahan, akhirnya diputuskan agar somasi itu dibiarkan saja. Bahkan ada yang mengirim surat ke kantor walikota, agar IMB tidak dikeluarkan dengan alasan masalah kepemilikan tanah masih disengketakan. Setelah petugas yang memeriksa surat-surat kelengkapan yang menjadi syarat-syarat untuk IMB sudah terpenuhi, IMB yang ditunggu oleh tim kerja pembangunan Gereja YGB diterbitkan. Nomor IMB segera dipancangkan pada papan nama di lokasi pembangunan, dan sejak saat itu berhentilah somasi itu. 

Ketika dicari nama untuk paroki yang baru, ada banyak masukan diterima oleh Dewan Keuskupan dan Panitia Pemekaran. Tiap usulan dipertimbangkan, dan akhirnya disepakati bahwa digunakan nama Yesus Gembala Baik. Beberapa pertimbangan yang muncul: Katedral menggunakan nama pelindung Bunda Maria, Gereja di perumnas dengan nama Gereja St. Yosef, maka tepatlah kalau Gereja baru itu diberi nama pelindung Yesus, dengan gelar Gembala Baik. Nama itu belum dipakai oleh paroki lain di keuskupan Palangka Raya. Memang di tempat lain ada Gereja dengan nama pelindung Yesus, tapi dengan gelar Raja Semesta Alam (Nanga Bulik). 

Nama Yesus Gembala Baik juga dikaitkan dengan visi-misi Gereja baru itu. Gagasan yang muncul antara lain: Gereja ini dimaksudkan sebagai representasi umat beriman yang berkehendak untuk mengadakan dialog-ekumenis dengan saudara-saudari beriman lainnya, seperti Gereja-gereja Kristen, Muslim, Kaharingan, dll. Yesus menjadi Gembala Baik untuk semua umat beriman, yang tentunya semuanya berkehendak baik. 

Gereja Paroki YGB juga dimaksudkan untuk menjadi Gereja yang inkulturatif. Umat beriman pada Kristus yang tergabung dalam paroki ini diharapkan bisa menghargai budaya, adat-istiadat dan kebiasaan-kebiasaan yang ada di sekitar kita. Istilah yang menjadi kearifan lokal berbunyi: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itulah cermin kebersamaan hidup yang saling menghargai. Umat beriman diharapkan mampu menemukan nilai-nilai yang baik, luhur dan suci  pada unsur-unsur budaya lokal, tempat umat hidup bersama dengan orang-orang di sekitarnya. Dengan menghargai hal-hal yang ditemukan pada budaya dan agama setempat itulah, maka umat juga ikut mendukung budaya rumah betang, hidup bersama saling menghormati, tolong menolong, saling mengasihi dan saling mendukung di bawah satu atap yang sama yang disebut rumah betang.   

Untuk mewujudkan visi-misi itu, perlulah dipraktekkan semboyan Gereja sebagai umat beriman yang ramah lingkungan. Dua arti dimaksudkan dalam istilah ramah lingkungan, yaitu: pertama, pelestarian lingkungan hidup yang mewarnai gaya membangun lingkungan, penanaman pohon yang menghijaukan sekitar, pengelolaan sampah yang berdaya guna, seperti daur ulang sampah-sampah yang bisa dimanfaatkan lagi. Kedua, ramah lingkungan berarti bersikap ramah terhadap tetangga dan orang-orang di sekitarnya. Gaya pengaturan kompleks bangunan dan penataan ruang-ruang diharapkan bisa memberi suasana terbuka, menjadikan masyarakat di sekitar berani untuk datang, dimungkinkan adanya tempat untuk olah raga, bermain bagi anak-anak, dll. Di kompleks itu terjadi interaksi yang sehat dan ramah bagi siapa saja yang berkunjung, berkumpul, mengadakan acara-acara bersama, baik di kalangan umat sendiri maupun bersama umat dari agama lain dan siapa saja yang tinggal di dekatnya.

Tak terasa, pemekaran itu telah berjalan 5 tahun. Bangunan pertama yang sudah selesai dibangun terdiri dari: ruang serba guna yang sekaligus berfungsi sebagai tempat untuk beribadat, beberapa kamar dan ruangan untuk para pastor yang berkarya dan sejumlah fasilitas telah tersedia dan dimanfaatkan dengan baik. Konsolidasi dan penggalangan kesatuan umat dan membentuk paguyuban umat beriman secara teritorial kiranya sudah berjalan dengan baik sekali. Antara umat di pusat paroki dan lingkungan-lingkungannya dengan umat di stasi-stasi telah terjadi interaksi dan kerjasama yang erat dan kompak. 

Bangunan berikutnya yaitu gedung Gereja yang sedang dan terus dikerjakan. Kerjasama pastor paroki, pastor rekan, pengurus dewan paroki, ketua-ketua lingkungan dan stasi serta unsur-unsur lain kelihatan cukup intens dan menampakkan hasil-hasil yang nyata. Hal inilah yang perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan. Tentu saja masih ada yang perlu diusahakan lebih lanjut, seperti misalnya: kemandirian dalam pelbagai bidang: sumber daya manusia (panggilan untuk menjadi petugas tertahbis dan non tertahbis, biarawan-biarawati, masih perlu ditingkatkan), bidang finansial, bidang managerial yang makin transparan dan akuntabel. Pada kesempatan merayakan lustrum I ini layaklah seluruh umat bersyukur atas anugerah dan bimbingan Tuhan yang bijaksana terarah demi kemuliaan-Nya. Sekaligus menjadi momen untuk evaluasi dan introspeksi dalam menyongsong masa depan Gereja agar umat beriman makin berkenan kepada Allah dengan iman yang dewasa dan makin berdedikasi melayani umat pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Selamat dan proficiat atas Lustrum I Paroki Yesus Gembala Baik, Tuhan memberkati.

+ Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka MSF.
Uskup Palangka Raya.

Segenap Umat Katolik Indonesia yang terkasih,

Kita bersyukur karena salah satu tahap penting dalam Pemilihan Umum 2014 yaitu pemilihan anggota legislatif telah selesai dengan aman. Kita akan memasuki tahap berikutnya yang sangat penting dan menentukan perjalanan bangsa kita ke depan. Pada tanggal 9 Juli 2014 kita akan kembali memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin bangsa kita selama lima tahun ke depan. Marilah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden ini kita jadikan kesempatan untuk memperkokoh bangunan demokrasi serta sarana bagi kita untuk ambil bagian dalam membangun dan mengembangkan negeri tercinta kita agar menjadi damai dan sejahtera sesuai dengan cita-cita kemerdekaan bangsa kita.

Ke depan bangsa kita akan menghadapi tantangan-tantangan berat yang harus diatasi di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang baru, misalnya  masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial, pendidikan, pengangguran, tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Masalah dan tantangan lain yang tidak kalah penting adalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, kerusakan lingkungan hidup dan upaya untuk mengembangkan sikap toleran,  inklusif dan plural demi terciptanya suasana rukun dan damai dalam masyarakat. Tantangan-tantangan yang berat ini harus diatasi dengan sekuat tenaga dan tanpa henti. Kita semua berharap semoga di bawah kepemimpinan Presiden dan Wakil Presiden yang akan terpilih, bangsa Indonesia mampu menghadapi, mengatasi dan menyelesaikan masalah-masalah itu.

Kami mendorong agar pada saat pemilihan mendatang umat memilih sosok yang mempunyai integritas moral. Kita perlu mengetahui rekam jejak para calon Presiden dan Wakil Presiden, khususnya mengamati apakah mereka sungguh-sungguh mempunyai watak pemimpin yang melayani dan yang memperjuangkan nilai-nilai sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja: menghormati kehidupan dan martabat manusia, memperjuangkan kebaikan bersama, mendorong dan menghayati semangat solidaritas dan subsidiaritas serta memberi perhatian lebih kepada warga negara yang kurang beruntung. Kita sungguh mengharapkan pemimpin yang gigih memelihara, mempertahankan dan mengamalkan Pancasila. Oleh karena itu kenalilah sungguh-sungguh para calon sebelum menjatuhkan pilihan.

Agar pemilihan Presiden dan Wakil Presiden bisa berjalan dengan langsung, umum, bebas dan rahasia serta berkualitas, kita harus mau terlibat. Oleh karena itu kalau saudara dan saudari memiliki kesempatan dan kemampuan, sungguh mulia jika Anda bersedia ikut menjaga agar tidak terjadi kecurangan pada tahap-tahap pemilihan. Hal ini perlu kita lakukan melulu sebagai wujud tanggungjawab kita, bukan karena tidak percaya kepada kinerja penyelenggara Pemilu.

Kami juga menghimbau agar umat katolik yang terlibat dalam kampanye mengusahakan agar kampanye berjalan dengan santun dan beretika, tidak menggunakan kampanye hitam dan tidak menggunakan isu-isu  SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). Khususnya kami berharap agar media massa menjalankan jurnalisme damai dan berimbang. Pemberitaan media massa hendaknya mendukung terciptanya damai, kerukunan serta persaudaraan, mencerdaskan dan tidak melakukan penyesatan terhadap publik, sebaliknya menjadi corong kebaikan dan kebenaran.

Marilah kita berupaya sungguh-sungguh untuk mempertimbangkan dan menentukan pilihan dengan hati dan pikiran yang jernih. Konferensi Waligereja Indonesia menyerukan agar saudara-saudari menggunakan hak untuk memilih dan jangan tidak ikut memilih. Hendaknya pilihan Anda tidak dipengaruhi oleh uang atau imbalan-imbalan lainnya. Sikap demikian merupakan perwujudan ajaran Gereja yang menyatakan, “Hendaknya semua warga negara menyadari hak maupun kewajibannya untuk secara bebas menggunakan hak suara mereka guna meningkatkan kesejahteraan umum” (Gaudium et Spes 75).

Pada akhirnya, marilah kita dukung dan kita berikan loyalitas kita kepada siapa pun yang akan terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2014 – 2019. Segala perbedaan pendapat dan pilihan politik, hendaknya berhenti saat Presiden dan Wakil Presiden terpilih dilantik pada bulan Oktober 2014. Kita menempatkan diri sebagai warga negara yang baik, menjadi seratus prosen Katolik dan seratus prosen Indonesia, karena kita adalah bagian sepenuhnya dari bangsa kita, yang ingin menyatu dalam kegembiraan dan harapan, dalam keprihatinan dan kecemasan bangsa kita (bdk. Gaudium et Spes 1).

Marilah kita mengiringi proses pelaksanaan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dengan memohon berkat dari Tuhan, agar semua berlangsung dengan damai serta berkualitas dan dengan demikian terpilihlah pemimpin yang tepat bagi bangsa Indonesia. Semoga Bunda Maria, Ibu segala bangsa, senantiasa melindungi bangsa dan negara kita dengan doa-doanya.



Jakarta, 26 Mei 2014


Lihat versi PDF di sini.


JADILAH PEMILIH YANG CERDAS DENGAN BERPEGANG PADA HATI NURANI

Saudara-saudari, segenap umat Katolik Indonesia yang terkasih,
Bangsa kita sedang bersiap diri menyambut Pemilu legislatif untuk memilih DPR, DPD dan DPRD yang akan diselenggarakan tanggal 9 April 2014. Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, Pemilu menjadi peristiwa penting dan strategis karena merupakan kesempatan memilih calon legislatif dan perwakilan daerah yang akan menjadi wakil rakyat.

Hak dan Panggilan Ikut Serta Pemilu
Warga negara yang telah memenuhi syarat berhak ikut menentukan siapa yang akan mengemban kedaulatan rakyat melalui Pemilu. Mereka yang terpilih akan menempati posisi yang menentukan arah dan kebijakan negeri ini menuju cita-cita bersama, yaitu kesejahteraaan bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, selain merupakan hak, ikut memilih dalam Pemilu merupakan panggilan sebagai warga negara. Dengan ikut memilih berarti Anda ambil bagian dalam menentukan arah perjalanan bangsa ke depan. Penting disadari bagi para pemilih untuk tidak saja datang dan memberikan suara, melainkan menentukan pilihannya dengan cerdas dan sesuai dengan hati nurani. Dengan demikian, pemilihan dilakukan tidak asal menggunakan hak pilih, apalagi sekedar ikut-ikutan. Siapa pun calon dan partai apa pun pilihan Anda, hendaknya dipilih dengan keyakinan bahwa calon tersebut dan partainya akan mewakili rakyat dengan berjuang bersama seluruh komponen masyarakat mewujudkan cita-cita bersama bangsa Indonesia. Pertanyaannya adalah calon legislatif macam apa yang mesti dipilih dan partai mana yang mesti menjadi pilihan kita.

Kriteria Calon Legislatif
Tidak mudah bagi Anda untuk menjatuhkan pilihan atas para calon legislatif. Selain karena banyak jumlahnya, mungkin juga tidak cukup Anda kenal karena tidak pernah bertemu muka. Para calon legislatif yang akan Anda pilih, harus dipastikan bahwa mereka itu memang orang baik, menghayati nilai-nilai agama dengan baik dan jujur, peduli terhadap sesama, berpihak kepada rakyat kecil, cinta damai dan anti ekerasan
Caon legislatif yang jelas-jelas berwawasan sempit, mementingkan kelompok, dikenal tidak jujur, korupsi dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kedudukan tidak layak dipilih. Hati-hatilah dengan sikap ramah-tamah dan kebaikan yang ditampilkan calon legislatif hanya ketika berkampanye, seperti membantu secara material atau memberi uang.

Hendaklah Anda tidak terjebak atau ikut dalam politik uang yang dilakukan para caleg untuk mendapatkan dukungan suara. Perlulah Anda mencari informasi mengenai para calon yang tidak Anda kenal dengan pelbagai cara. Demi terjaga dan tegaknya bangsa ini, perlulah kita memperhitungkan calon legislatif yang mau berjuang untuk mengembangkan sikap toleran dalam kehidupan antarumat beragama dan peduli pada pelestarian lingkungan hidup. Pilihan kepada calon legislatif perempuan yang berkualitas untuk DPR, DPD dan DPRD merupakan salah satu tindakan nyata mengakui kesamaan martabat dalam kehidupan politik antara laki-laki dan perempuan, serta mendukung peran serta perempuan dalam menentukan kebijakan dan mengambil keputusan.

Kriteria Partai Politik
Kita bersyukur atas empat kesepakatan dasar dalam berbangsa dan bernegara yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika. Kita percaya bahwa hanya dengan mewujudkan keempat kesepakatan tersebut, bangsa ini akan mampu mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu, dalam memilih partai perlu memperhatikan sikap dan perjuangan mereka dalam menjaga keempat kesepakatan tersebut. Hal yang penting untuk menjadi pertimbangan kita adalah partai yang memiliki calon legislatif dengan kemampuan memadai dan wawasan kebangsaan yang benar. Partai yang memperjuangkan kepentingan kelompoknya apalagi tidak berwawasan kebangsaan, hendaknya tidak dipilih.

Pengawasan atas Jalannya Pemilu
Setiap warga negara diharapkan ikut memantau dan mengawasi proses dan jalan- nya Pemilu. Pengawasan itu bukan hanya pada saat penghitungan suara, melainkan selama proses Pemilu berlangsung demi terlaksananya Pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil (Luber Jurdil). Kita perlu mendorong dan memberikan dukungan kepada kelompok-kelompok dalam masyarakat yang dengan cermat mengikuti dan mengkritisi proses jalannya Pemilu. Hendaknya Anda mengikuti secara cermat proses penghitungan suara bahkan harus terus mengawasi pengumpulan suara dari tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) sampai ke tingkat kecamatan dan kabupaten agar tidak terjadi rekayasa dan kecurangan.

Pemilu yang Aman dan Damai
Amat penting bagi semua warga masyarakat untuk menjaga Pemilu berjalan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, damai dan berkualitas. Jangan sampai terjadi kekerasan dalam bentuk apapun, baik secara terbuka maupun terselubung, karena bila sampai terjadi kekerasan maka damai dan rasa aman tidak akan mudah dipulihkan. Perlu tetap waspada terhadap usaha- usaha memecah belah atau mengadu domba yang dilakukan demi tercapainya suatu target politik. Bila ada sesuatu yang bisa menimbulkan kerawanan, khususnya dalam hal keamanan dan persatuan ini, partisipasi segenap warga masyarakat untuk menangkalnya sangat diharapkan.

Calon Legislatif
Para calon legislatif, kami hargai Anda karena tertarik dan terpanggil terjun dalam dunia politik. Keputusan Anda untuk mempersem-bahkan diri kepada Ibu Pertiwi melalui jalan itu akan menjadi kesempatan untuk berkontribusi secara berarti bahkan maksimal bagi tercapainya cita-cita bangsa Indonesia. Karena itu, tetaplah memegang nilai-nilai luhur kemanusiaan, serta tetap berjuang untuk kepentingan umum dengan integritas moral dan spiritualitas yang dalam. Anda dipanggil dan diutus menjadi garam dan terang!

Saudara-saudari terkasih,
Ikutlah memilih. Dengan demikian Anda ikut serta dalam menentukan masa depan bangsa. Sebagai umat beriman, marilah kita mengiringi proses pelaksanaan Pemilu dengan doa memohon berkat Tuhan, semoga Pemilu berlangsung dengan damai dan berkualitas serta menghasilkan wakil-wakil rakyat yang benar-benar memperhatikan rakyat dan berjuang untuk keutuhan Indonesia. Dengan demikian cita-cita bersama, yaitu kebaikan dan kesejahteraan bersama semakin mewujud nyata.

Semoga Bunda Maria, Ibu segala bangsa, senantiasa melindungi bangsa dan negara kita dengan doa-doanya.
Jakarta, Januari 2014

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA
Sumber: www.mirifica.net

Tahbisan imam menjadi awal seseorang masuk ke tataran hirarki yang dimaksudkan untuk pelayanan pastoral. Tahbisan berasal dari bahasa Latin ordinatio, yang artinya “memasukkan seseorang ke dalam "ordo", yaitu kelompok yang dalam keseluruhan menjalankan fungsi tertentu, memiliki jabatan tertentu. Fungsi tersebut adalah fungsi pelayanan yang berdimensi tritugas, yaitu mengajar, menguduskan, dan mengembalakan umat beriman (LG 25, 26, 27). Tritugas inipun juga merupakan tindakan kolektif yaitu dalam kesatuan dengan dewan para uskup. Efek dan hasil dari tahbisan, yaitu dimasukkannya yang tertahbis ke dalam dewan para uskup, memungkinkan yang tertahbis menjalankan fungsinya secara resmi, mewakili Gereja semesta. Tahbisan imam, dilihat dari segi efeknya, tertahbis juga dimasukkan ke dalam kesatuan dengan para uskup, dan imam berindak sebagai “pembantu yang arif untuk uskupnya” (bdk. LG 28).

Petugas tertahbis memfokuskan pelayanannya pada perayaan sakramen-sakramen, utamanya Ekaristi, karena Ekaristi menjadi perayaan jemaat sebagai kesatuan. Tahbisan yang memberikan hak dan kewajiban menjalankan fungsi sakramental membedakan dengan petugas tak tertahbis, meski baik yang tertahbis maupun yang tak tertahbis bersama-sama menjadi pelaku dalam perayaan Ekaristi. Vatikan II juga telah memperluas arti dan makna perayaan Ekaristi sebagai perayaan umat, yang tidak lagi mempersempitnya pada tindakan konsekratoris (dengan kuasa Roh Kudus menjadikan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus) pelayan tertahbis. Dengan menekankan actuosa participatio (keikutsertaan aktif) seluruh umat, maka “batas wewenang dan hak” antara petugas tertahbis dan tak-tertahbis dalam perayaan Ekaristi menjadi semakin tipis. Namun tak dapat disangkal, bahwa pihak tertahbis tetap lebih berperanan.

Berdasarkan pokok-pokok ajaran Gereja itu maka seorang imam bisa menjadi idola, apabila ia menunjukkan kesetiaannya dalam segi-segi terkait:

  1. Kesetiaan dalam panggilan, tetap menjalankan imamatnya sampai akhir hayat; walau berat, penuh perjuangan dan penuh tantangan yang membawa resiko kehidupan, batu uji keunggulan seorang imam idola adalah: tetap setia pada imamatnya.
  2. Kesetiaan dalam tritugas pelayanan, sebagai fokus kegiatannya sehari-hari, terus memperdalam dan menghidupinya demi meningkatnya pelayanan tersebut. Pelayanan sakramental dan hal-hal yang berkaitan dengan iman harus menjadi pusat perhatian dan mendapat prioritas dalam menjalankan tugas-tugasnya. Hal-hal lain yang bisa membantu tugas pelayanan boleh saja dikerjakan, tetapi tidak boleh mengaburkan tugas pokoknya. Imam idola tidak boleh dan tidak bisa diukur dengan hebatnya khotbah, pandainya mencari dana untuk pembangunan, menarik bagi kaum muda atau kelompok kategorial lainnya, berhasilnya meningkatkan sosial-ekonomi umat, dll. Imam idola ditentukan oleh kesetiaannya menjalankan tugas pelayanan iman yang menjadi panggilan sesuai dengan tahbisannya.
  3. Kesetiaan dalam memenuhi janji tahbisannya yang diwujudnyatakan dalam pelaksanaan sebaik-baiknya dalam gaya hidup dan tindakan-tindakan kongkrit sehari-hari: ketaatan kepada uskup, pimpinan lainnya, hidup sederhana, mengutamakan kaum miskin, dan hidup dalam kemurnian (selibat) dan selaras dengan kaidah-kaidah yang sudah ada dalam tradisi Gereja Katolik.
Dengan demikian seorang imam idola bukanlah imam yang mendapatkan banyak "wah" karena prestasinya yang hebat karena memiliki bermacam-macam ketrampilan dan disukai, disanjung-sanjung oleh banyak umat. Bisa saja imam idola justru seorang imam yang sederhana, yang dengan tekun dan setia menjalankan tugas imamatnya dan tak banyak orang yang mengenalnya. Tepatlah kata-kata yang perlu dipegang teguh oleh semua imam: Anda dipanggil pertama-tama untuk menjadi imam yang setia dalam pelayan Gereja, bukan imam yang sukses di mata dunia, yang populer, yang disanjung-sanjung banyak umat. Imam idola yang sempurna adalah Kristus sendiri, Sang Imam Agung, yang taat kepada kehendak Bapa. Ia memberikan contoh teladan melayani sampai sehabis-habisnya demi keselamatan umat-Nya. Semua imam selayaknya mengidolakan imam Yesus Kristus yang menjadi pusat hidup imamatnya.

+ Mgr. A. M. Sutrisnaatmaka MSF,
Uskup Keuskupan Palangka Raya
Palangka, 10 Mei 2013.


Tantangan-tantangan Iman dalam era ini sungguh luar biasa. Salah satu di antaranya adalah sulitnya membangun komunitas iman yang kuat. Dalam pesannya di Hari Misi Sedunia 2013, Paus Fransiskus mengatakan bahwa di zaman kita ini tingkat mobilitas manusia semakin meningkat dan meluas. Hal ini sangat di dukung oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama fasilitas-fasilitas komunikasi yang semakin canggih. Percampuran budaya, pengalaman dan pengetahuan terjadi di dalamnya. Hal ini menyebabkan sulitnya mengetahui siapa-siapa saja yang tinggal menetap dalam sebuah komunitas. Untuk alasan pekerjaan, manusia pindah dari sebuah benua ke benua lain, pertukaran profesional dan budaya. Ini juga menjadi penyebab terjadinya pergerakan besar  di kalangan masyarakat. Karena alasan sibuk dan tidak menetap di satu tempat, orang-orang Katolik yang telah di baptis menjadi acuh tak acuh terhadap dimensi keagamaan.

Situasi di atas menjadi dasar bagi Bapa Suci untuk mengingatkan sebuah gaya pewartaan baru "new evangelization". Evangelisasi baru yang dimaksud adalah suatu gaya pewartaan yang diusahakan oleh semua pelaku pastoral, Uskup, Pastor, Diakon dan Tenaga Pastoral yang dipanggil untuk mewartakan Injil memasuki segala aspek kehidupan yang sedang bergulir saat ini. Dalam situasi yang kompleks ini dibutuhkan keberanian untuk menyuarakan, membangun dan mewartakan persekutuan, rekonsiliasi serta kabar suka cita Injil.

Dalam pesan itu, Bapa Suci juga mengingatkan agar Gereja menghidupkan dan memperdalam kesadaran misioner dari setiap orang Katolik yang dibaptis, setiap komunitas, dengan mengingatkan mereka tentang formasi misionaris lebih mendalam sehingga nilai-nilai Injil dapat diwartakan kepada seluruh bangsa. Ini adalah tugas kita sebagai orang yang telah menjadi anak-anak Allah. Dan boleh dikatakan, hal ini adalah konsekuensi dari sebuah pembaptisan. Semua orang yang telah dibaptis dalam Kristus mendapat bagian dalam tugas ini. Kita tidak boleh berpangku tangan, atau menunggu gerakan dari pihak-pihak tertentu saja. Kita harus terlibat aktif sebagai penerima delegasi tugas dari Kristus. Dengan gaya dan cara kita masing-masing, dengan memperhatikan nilai-nilai Injil dan Ajaran Gereja, kita harus bisa masuk dalam segala situasi yang sedang bergulir saat ini.

Pesan ini disampaikan sekedar mengingatkan kembali pesan Konsili Vatikan II yang telah terjadi 50 tahun yang lalu. Dan pada tahun ini, tepat pada perayaan Tahun Iman, kita diingatkan kembali tentang evangelisasi baru itu. Iman yang telah kita terima, tidak boleh dipertahankan sebagai milik sendiri, tetapi harus dibagikan untuk yang lain. Kita tidak boleh memaksakan dalam pewartaan kita, tetapi kita wajib mengusulkan nila-nilai kristiani itu ke hati setiap orang. **Kairos

Disarikan dari: Pesan Paus Fransiskus II pada Hari Misi Sedunia 2013. Lihat Versi Lengkapnya (English) di sini.

Pada tanggal 10 Juli 2013 yang lalu, Bapa Suci, Paus Fransiskus I menyampaikan pesan kepada Umat Muslim dalam rangka berakhirnya bulan Ramadhan. Pesan ini merupakan bukti bahwa hidup kita di dunia ini adalah "Hidup dalam Persaudaraan, persaudaraan universal" tanpa membedakan suku, agama, ras dan budaya. Pesan ini juga menegaskan kembali alasan mendasar Bapa Suci memilih nama seorang santo, yakni Fransiskus dari Assisi yang merupakan sosok pencinta Allah dan Alam semesta dalam Persaudaraan Sejati.

Sebagai konsekuensi sebuah Persaudaraan, Bapa Suci menekankan sebuah sikap "Saling menghargai satu sama lain". Dan cara untuk menanamkan sikap ini adalah melalui pendidikan. Mengenai hal ini, Bapa Suci mengatakan: "Mengenai pendidikan orang muda Muslim maupun Kristiani, kita harus membawa orang-orang muda kita untuk berpikir dan berbicara dengan penuh hormat tentang agama-agama lain dan para pengikut mereka, dan untuk menghindari sikap mengejek atau merendahkan keyakinan dan praktik keagamaan orang lain".

Dalam pesan itu, Bapa Suci juga menyampaikan bahwa dalam pandangan sosial dan kekeluargaan - dua dimensi yang penting bagi umat Muslim dan yang mana, sesuai penekanan Bapa Suci, dapat dilihat "paralel" dengan "iman dan praktik agama Kristen", yaitu: "kita dipanggil untuk menghormati dalam pribadi setiap orang terutam hidupnya, integritas fisiknya, martabatnya dan hak-haknya, reputasinya, kepemilikannya, identitas etnis dan budayanya, ide-idenya dan pilihan-pilihan politiknya. Dengan kata lain, kata Paus, "kita dipanggil untuk berpikir, berbicara dan menulis tentang orang lain dengan penuh hormat, bukan saja di hadapannya, tetapi selamanya dan di mana pun, menghindari kritik-kritik yang tidak adil atau fitnah". Dan di sini, Paus menegaskan, ada peranan dan tanggung-jawab yang besar dari para keluarga, sekolah-sekolah, pendidikan agama dan media.

Sikap saling menghargai hanya dapat terwujud bila hal itu terjadi secara "mutual", artinya ini tidak hanya satu arah, tetapi harus dilakukan bersama oleh kedua belah pihak. Tentu saja hal ini tidak berlaku hanya untuk Kristen-Muslim tapi juga untuk saudara-saudara kita yang lain. Hanya dengan sikap saling menghargai parsaudaraan yang tulus dan abadi dapat tumbuh.

Dari pesan Bapa Suci di atas, kita semua dapat belajar bagaimana harus hidup berdampingan dengan saudara-saudara yang berbeda dengan kita dari segi latar belakang, pendidikan, keyakinan dan budaya. Pendidikan kita harus lebih terarah kepada ajaran-ajaran yang dapat membangun persahabatan, bukan membangung jurang perbedaan satu sama lain. Barangkali, pesan ini dapat menjadi perhatian khusus bagi kita yang hidup di Indonesia. Bila membaca dan merenungkan lebih dalam pesan Bapa Suci ini, kita dapat melihat solusi yang baik dalam menyelesaikan masalah-masalah "intoleransi" yang akhir-akhir ini terjadi dan ditandai dengan beberapa peristiwa yang sangat menyedihkan dan memalukan. Bila ingin membaca pesan ini secara lengkap, anda dapat melihat di sini. **Kairos

Kita telah sepakat dan menyetujui serta mengakui bahwa kita beriman. Konsekuensi dari pengakuan itu adalah dengan ikut dan taat pada segala perintah-perintah yang telah diberikan kepada kita. Seperti kita ketahui bahwa kita memiliki hukum dalam beriman, di antara semuanya itu, hukum yang terutama adalah "kasih". Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.

Dalam Perayaan Ekaristi di Basilika Bunda Kita Yang Dikandung Tanpa Noda di Aparecida (Shrine of Our Lady of Aparecida, Brasil (24/7), Paus Fransiskus dalam homilinya mengingatkan umat beriman bahwa ada banyak godaan-godaan yang menggeregoti iman kita saat ini. Lebih tepat disebutkan dengan istilah berhala-berhala zaman sekarang. Berhala-berhala yang di maksud adalah uang, kesuksesan, kekuasaan dan kesenangan. (bdk. Homili Bapa Suci dalam teks Bahasa Inggris). Berhala-berhala ini telah menggantikan posisi Allah sehingga menimbulkan rasa kesepian dan kekosongan hati. Kesepian dan kekosongan hati membawa manusia pada keputusasaan berkepanjangan dan lupa untuk kembali kepada Allah yang adalah sumber harapan.

Paus Fransiskus, pada kunjungannya ke Brasil dalam rangka penyelenggaraan Hari Pemuda Sedunia dengan tegas mengingatkan bahwa Kaum Muda kita jauh lebih cepat terpengaruh sehingga lupa diri dan kehilangan masa depan. Oleh karena itu, orang tua dan Gereja harus memberi perhatian khusus, pendampingan dan dukungan untuk selalu mengarahkan mereka ke jalan Tuhan.

Meskipun homili ini disampaikan oleh Bapa Suci di Brasil dengan situasi yang sedang bergulir di sana, homili ini berlaku untuk semua umat beriman, termasuk kita yang ada di Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa berhala-berhala yang disebutkan di atas pun telah menggerogoti iman kita. Hal ini dapat dilihat indikasinya dalam setiap gerak, pelayanan dan tindakan-tindakan dalam hidup sehari-hari, dalam keluarga, lingkungan masyarakat, dalam Gereja dan bernegara. Begitu kuat berhala-berhala ini menarik perhatian kita sehingga lupa akan keutamaan yang harus kita perjuangkan.

Sebagai orang beriman, mari kita menjadi "mediator cahaya iman", meskipun kita mengalami derita dan kesulitan-kesulitan (bdk. Lumen Fidei, 57). Ini bukanlah madat atau candu yang membuat kita seolah-olah dininabobokan oleh istilah-istilah menarik yang menjanjikan masa depan yang abadi. Hal ini adalah sebuah keharusan bagi kita sebagai orang beriman. **Kairos

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget